Anda di halaman 1dari 15

ISI

I. SKENARIO

Seorang anak mengalami kecelakaan mobil dan membutuhkan tranfusi darah. Orang tua
anak itu dan beberapa orang yang melihat kecelakaan tersebut kemudian menawarkan
diri untuk menyumbangkan darahnya. Mereka kemudian ikut k PMI setempat untuk
dilakukan tes golongan darah. Petugas di PMI mengambil darah mereka, kemudian
meneteskan cairan-cairan khusus ke darah yang telah diletakkan di plat kaca. Hasil tes
golongan darah sebagai berikut :

Yang diperiksa : Anti-A Anti-B Anti-Rh

Anak - - -

Ibu - Aglutinasi -

Ayah Aglutinasi - Aglutinasi

Orang 1 - - Aglutinasi

Orang 2 - - -

Orang tua anak ini sangat sedih karena menurut hasil pemeriksaan hanya satu orang
yang bisa menyumbangkan darah untuk kebutuhan tranfusi darah anak mereka.

II. IDENTIFIKASI MASLAH

Step 2 : define the problems and agree which phenomena require


explanation

1. 1.1 mengapa anak tersebut membutuhkan transfusi darah ?


1.2 Apa transfusi darah itu ?
1.3 Kapan seseorang membutuhkan tindakan mentransfusi darah ?
1.4 Apa syarat untuk melakukan transfusi darah ?
1.5 prosedur dalam melakukan transfusi darah ?

2. 1.1 bagaimana cara penggolongan darah ?

1
1.2 Mengapa sebelum transfusi darah dilakukan tes penggolongan darah
terlebih dahulu ?
1.3 Alat apa saja yang di gunakan dalam tes penggolongan darah ?

3 1.1 Cairan-cairan khusus apa saja yang di teteskan pada tes


penggolongan darah ?
1.2 Apa fungsi cairan khusus tersebut ?
1.3 Berapa tetes cairan khusus yang di teteskan ke dalam darah ?
1.4 Apakah jumlah tetesan mempengaruhi hasil tes penggolongan darah
?

4 1.1 berapa macam jenis golongan darah dan terkandung variabel apa
saja ?

5 1.1 Siapa yang dapat mendonorkan darah kepada anak tersebut ?


1.2 Mengapa hanya orang tersebut yang dapat mendonorkan darah
kepada anak tersebut ?

6 1.1 Mengapa darah ayah mengalami Aglutinasi dengan anti-A dan Anti-
Rh ?
1.2 Mengapa darah anak dan orang kedua tidak mengalami aglutinasi
dengan anti-A anti-B dan anti-Rh ?

7 1.1 mengapa darah ibu mengalami Aglutinasi dengan anti-B ?

8 1.1 mengapa orang satu mengalami aglutinasi dengan anti-Rh ?

 Step 3 : analyse the problems (brainstorming)

1 1.1 karena mengalami kecelakaan dan pendarahan/kehilangan banyak


darah
1.2 transfer darah dari pendonor ke resepien
1.3 saat seseorang mengalami kehilangan darah kurang dari batas
minimum
1.4 resipien : - kehilangan darah pada batas minimum

2
- kecocokan dengan pendonor

pendonor :- keadaan sehat

- berusaha 17-50 tahun


- tekanan darah normal
- Hb normal
- Wanita tidak sedang mengalami menstruasi

2 1.1 mengambil sampel darah lalu ditetesi cairan khusus tersebut pada
plat kaca

1.2 agar tidak terjadi aglutinasi pada darah pasien

1.3 plat kaca, pipet, cairan-cairan khusus dan pen jarum

3 1.1 serum anti-A , anti-B dan anti-Rh


1.2 untuk mengetahui jenis golongan darah
1.3 secukupnya
1.4 tidak mempengaruhi

4 4 jenis (A,B,AB,O)
- A = IA IA, IAIo
- B = IB IB,IB Io
- AB = IAIB
- O = IoIo

5 1.1 Orang Dua


1.2 Karena memiliki golongan darah yang sama

6 Karena tidak ada kesesuaian dengan anti-A, anti-B dan anti-Rh


7 Karena terjadi kesesuaian
8 Karena tidak terjadi kesesuaian dengan anti-Rh

III. HIPOTESIS

SKEMA HIPOTESIS 3

PMI
Pendonor
Tes golongan darah
Butuh Transfusi Darah

Ayah, Ibu, Orang !


Orang 2
TRANSFUSI Cocok
Tidak Cocok
Kehilangan banyak darah

Anak Kecelakaan Mobil

IV. LEARNING ISSUES

1. SistemPenggolongandarah
A. Cara penggolongandarah
B. Cara pemeriksaangolongandarah
C. Cara pewarisan golongan darah ke anak
2. Menjelaskan prinsip transfusi darah
3. Peraturanpemerintah yang mengatur tentang donor darh di PMI
- Syarat pendonor
4. RH
5. Antigen

V. LEARNING OUTCOMES

4
1. Saat ini dikenal sekitar 25 sistem penggolongan darah manusia. Namun terdapat tiga
sistem yang paling familier yaitu system AB0, Rh (Rhesus) dan Mn.
A. Cara Penggolongan Darah.
A. Sistem AB0
i. Sisteminipertama kali ditemukan oleh Landsteiner pada tahun 1900.
Sistem ini didasari oleh ada atau tidaknya antigen-antibodi di dalam
darah manusia.
1. Tipe A : Memilikiantibodi anti-B dalam plasma darahmanusianya.
2. Tipe B : Memilikiantibodi anti-A dalam plasma darahmanusianya.
3. Tipe AB : Tidak memiliki anti-A dan anti-B dalam plasma darah
manusianya.
4. Tipe 0 : Tidak memiliki substansi A atau B dalam plasma darah
manusianya.
ii. Di dalam transfusi darah, darah resipien (penerima) dan pendonor harus
memiliki kesamaan atau kecocokan, bila tidak akan terjadi aglutinasi
(penggumpalan) di dalam plasma darah.
1. Tipe A akan menggumpalkan darah tipe B atau 0.
2. Tipe B akan menggumpalkan darah tipe A atau 0.
3. Tipe AB dapat menerima darah dari semua tipe darah, karena
golongan darah ini tidak memiliki anti-A maupun anti-B, sehingga
disebut resipien universal.
4. Tipe darah 0 dapat mendonorkan darah kegolongan darah apapun,
karena golongan darah 0 tidak mempunyai substansi A maupun
substansi B, sehingga disebut donor universal.
B. Sistem Rhesus (Rh)
i. Kelompok antigen lain yang diwariskan dalam tubuh manusia. Sistem ini
ditemukan dan dinamai berdasarkan monyet Rhesus. Antigen Rh D
terpenting dalam reaksi imunitas tubuh.
ii. Penggolongan darah berdasarkan sistem Rhesus didasarkan pada ada
atau tidaknya faktor RhD.
1. Individu yang memiliki Rh D disebut Rh positif.
2. Jika faktor Rh D tidak ditemukan maka darah ini disebut Rh negatif.
3. Individu dengan Rh positif lebih banyak daripada individu dengan Rh
negatif.

5
iii. Sistem ini berbeda dengan golongan AB0, dimana tipe darah Rh negatif
tidak memiliki aglutinin dalam plasmanya.
iv. Jika seseorang dengan Rh negatif diberi transfusi oleh tipe darah Rh
positif maka aglutinin anti Rh akan diproduksi. Walaupun transfusi awal
biasanya tidak membahayakan, tetapi Rh positif selanjutnya akan
mengakibatkan aglutinasi pada sel darah merah resipien.
C. Sistem Mn
i. Sistem penggolongan darah Mn ditemukan oleh Landsteiner pada tahun
1927. Sistem penggolongan darah ini terbagi menjadi 3 golongan yaitu
M, Mn dan N. Dasar dari penggolongan darah ini adalah adanya antigen
M, MN dan N. Ekspresi antigen M ditentukan oleh gen IM, antigen MN
ditentukan oleh adanya gen IM IN, dan antigen N ditentukan oleh gen IN.

Sistem Penggolongan Darah MN.

Kemungkinan Macam
Fenotif Golongan Genotif Gamet
Darah

M IMIM IM

N ININ IN

MN IMIN IMIN

B. Cara Pemeriksaan Golongan Darah.


a. Alat dan Bahan yang digunakan :
1. Plat Kaca
2. Lidi
3. Darah
b. Tata cara / Prosedur
- Cara dengan kaca objek
1. Taruhlah di sebelah kiri kaca objek satu tetes serum anti-A dan satu
tetes serum anti-B di sebelah kanan.
2. Setetes darah di teteskan kepada serum itu dan dicampur dengan
ujung lidi
3. Goyangkan adanya aglutinasi dengan mata belaka dan benarkan
pendapat itu → buktikan dengan uji mikroskop.

6
- Cara dengan tabung
1. Buat suspensi sel darah dalam larutan garam, suspensi itu sebaiknya
mempunyai nilai hematokrit 2%.
2. Sediakan dua tabung (12*75mm) dalam rak, lalu tabung sebelah kiri
ditetesi satu tetes serum anti-A dan yang kanan ditetesi satu tetes
serum anti-B.
3. Tambahkan satu tetes dari suspensi sel darah kepada masing-masing
tabung dan campurkan.
4. Goyangkan selama satu menit pada 1000 rpm
5. Goyangkan tabung dengan hati-hati dan perhatikan adanya aglutinasi
secara mikroskopik.
6. Benar ada-tidaknya aglutinasi secara mikroskopik dengan memindahkan
setetes dari isi tabung keatas kaca objek.
C. Pewarisan golongan darah
Darah diwariskan melalui gen-gen yang dibawa oleh ayah dan ibu. Dimana dalam
sistem darah AB0 sering menggunakan kata alel. Dalam sistem AB0 sendiri terdapat
3 alel yaitu alel IA, IB dan i (I merupakan singkatan dari isoaglutinogen). Alel IA akan
bertanggung jawab untuk menghasilkan antigen A, lalu alel IB akan bertanggung
jawab untuk menghasilkan antigen B dan alel i tidak akan menghasilkan antigen jenis
apapun, sehingga jika seseorang mempunyai genotif IAIA maka bergolongan A, dan
begitu seterusnya.

Studi golongan darah AB0 menunjukkan dua hal penting yaitu,

Pertama, sistem golongan darah AB0 menunjukkan alel ganda. Alel ganda
merupakan adanya lebih dari dua alel dalam suatu gen yang berada pada suatu
populasi. Meskipun demikian, seorang individu maksimum hanya dapat membawa
dua alel yang berbeda, misalnya IAIA atau IA.

Kedua, pada keadaan heterozigot fenotif suatu alel tidak dapat mendominasi alel
lainnya (efek kodominan). Hal ini berarti kedua alel tersebut menyumbangkan efek
fenotifnya. Fenotif dapat dilihat dari kemampuan antigen (pada sel darah) yang
digumpalkan oleh berbagai antibodi (serum darah).

Sebagai contoh pewarisan sifat dapat diilustrasikan sebagai berikut.

I1 : P = IAIA ˃˂ IBIB I2 : P = IAIA ˃˂ IBI0

7
IA, IA IB, IB IA, IAIB ,I0

F1 = IAIB

IAI0 → 50% keturunan bergolongan F2 = IAIB → 50% keturunan bergolongan


darah A darah AB

Pewarisan sifat MN

Hasil studi genetik menunjukkan bahwa perkawinan diantara kedua orang tua yang
memiliki fenotif M hanya akan memiliki keturunan dengan fenotif M. Orang tua
dengan fenotif N hanya akan memiliki keturunan dengan fenotif N juga. Namun, bila
kedua orang tua memiliki fenotif M atau N, maka keturunannya akan memiliki fenotif
MN. Bila kedua orang tua memiliki fenotif MN, maka anak-anaknya akan memiliki
fenotif M, N atau MN.

Tabel pewarisan sifat M dan N

Tipe Antigen Yang Tidak


Tipe Antigen Orang Tua Tipe Antigen Pada Anak
Mungkin Pada Anak

M ˃˂ M M N, MN

N ˃˂ N N M, MN

M ˃˂ N MN M, N

MN ˃˂ MN M, N, MN -

N ˃˂ MN N, MN M

M ˃˂ MN M, MN N

(Sumber : Biologi, Aryulina, PhD , Choirul Muslim, PhD , SyalfinafManaf, M.S. , Dr.EndangWidiWinarni,
M.Pd)

2. Prinsip Transfusi Darah

Transfusi darah adalah memasukkan sel darah merah (darah segar, pack
red cell) ke dalam tubuh melauivena. Komponen darah yang biasa ditransfusikan
ke dalam tubuh seseorang adalah sel darah merah,trombosit, plasma, sel darah
putih. Transfusi darah adalah suatu pengobatan yang bertujuanmenggantikan
atau menambah komponen darah yang hilang atau terdapat dalam jumlah yang
tidakmencukupi. Tentu saja transfusi darah hanya merupakan pengobatan
simptomatik karena darah ataukomponen darah yang ditransffusikan hanya

8
dapat mengisi kebutuhan tubuh tersebut untuk jangkawaktu tertentu tergantung
pada umur fisiologi komponen yang ditransfusikan; walaupun umur
eritrositadalah 120 hari namun bila ditransfusikan pada orang lain maka
kemampuan transfusi tadimempertahankan kadar hemoglobin dalam tubuh
resipien hanya rata-rata satu bulan.

Uji Yang Dilakukan Sebelum Transfusi Darah

Sebelum melakukan transfusi darah perlu dilakukan beberapa uji untuk


menghindari hal-hal yang tidakdiinginkan. Uji tersebut meliputi1.
1. Pemeriksaan golong darah
2.  Reaksi silang
Tujuan pelaksanaan uji reaksi silang adalah sebagai berikut
 Memastikan di dalam serum resipien atau plasma donor tidak terdapat
antibody yang reaktif terhadap eritrosit donor atau resipien.
 Menghindari reaksi transfusi hemolitik.
 Memastikan efektivitas transfusi.
Medium reaksi pada reaksi silang meliputi : salin (NaCL 0,85%), albumin
(bovine albumin), dan Coom’s (anti-human globulin). Ada dua jenis reaksi silang,
yaitu:
 Reaksi silang mayorMendeteksi adanya antibody di dalam serum donor
yang dapat merusak eritrositresipien yang akan ditransfusikan
 Reaksi silang minorMendeteksi adanya antibodi di dalam plasma donor
yang dapat merusak eritrositresipien yang akan ditransfusikan.
Transfusi boleh dilakukan bila hasil reaksi mayor dan minor negatif.

Persiapan

Bahan dan Alat.


1. Untuk transfusi darah lengkap diperlukan darah merah pekat, darah merah
dicuci, plasma beku gunakan set transfusi khusus dengan penyaring/filter.
2. Untuk transfusi trombosit gunakan infus set khusus untuk trombosit
3. Kateter besar (18 atau 19G.
4. Sarung tangan sekali pakai.
5. Kapas alkohol.
6. Plester.
7. Manset tekanan darah.

9
8. Stetoskop
9. Termometer
10. Format persetujuan pemberian transfusi darah
11. Bila tersedia dapat digunakan alat pemompa darah elektronik untuk
transfusi darah.
12. Cairan NaCl 0,9%.

Prosedur Tindakan

1. Tetapkan bahwa klien telah menandatangani format persetujuan.


2. Buat jalur IV dengan kateter besar.
3. Gunakan selang penginfus yang memiliki filter, selang juga harus memiliki set
pemberian tipe Ydengan filter
4. Gantung wadah cairan salin normal 0,9% yang akan diberikan setelah infus
darah
5. Dapatkan riwayat transfusi klien.
6. Tinjau ulang program dokter
7. Periksa dengan tepat produk darah dan klien yang mendapat komponen
darah.
a) Periksa nama awal dan nama akhir klien dengan meminta klien
menyebutkan namanya bilamampu.
b) Periksa nomor identifikasi klien dan tanggal lahir pada selang dan
catatan klien.
c) Untuk darah lengkap, periksa golongan ABO dan tipe Rh.
d) Periksa ulang produk darah dengan program dokter.
e) Periksa tanggal kadaluwarsa pada kantong darah.
f) Lihat darah untuk adanya bekuan.
8. Ukur tanda vital darah klien dalam 30 menit sebelum pemberian transfusi.
Laporkan adanyapeningkatan suhu pada dokter.
9. Minta klien untuk melaporkan segera gejala berikut: menggigil, sakit kepala,
gatal, kemerahan,dan nyeri punggung.
10. Minta klien berkemih atau mengosongkan wadah penampung urine.
11. Cuci tangan dan kenakan sarung tangan.
12. Buka set pemberian darah.
13. Tusukkan kantong IV salin normal 0,9%.
14. Isi selang dengan salin normal 0,9%.

10
15. Ketika unit ini selesai, pertahankan kepatenan vena dengan menginfusikan
normal salin.
16. Buka klem pengatur pada slang Y yang disambungkan ke kantong salin dan
lepaskan klempengatur pada selang masuk yang tidak dipakai sampai selang
dari kantong salin normal terisi.
17. Tutup klem pada selang yang tidak digunakan.
18. Peras tempat ruang tetesan, biarkan filter terisi sebagian.
19. Buka klem pengatur bawah dan biarkan selang infus terisi salin.
20. Tutup klem pengatur bwaha setelah selang terisi salin.
21. Balik kantong darah 1-2 kali dengan perlahan untuk mendistribusikan sel
secara saksama, tusukwadah darah, buka klem pada selang masuk dan
selang bawah, kemudian isi selang secarasaksama dengan mengisi filter
dengan darah.
22. Sambungkan selang transfusi darah ke kateter IV dengan mempertahankan
sterilitas. Buka klembawah.
23. Pantau tanda vital klien.
24. Atur infus sesuai pesanan dokter (PRC biasanya diberikan 1,5-2 jam,
WBC diberikan 1-3 jam).
25. Setelah darah diinfuskan, bersihkan selang dengan normal salin0,9%.
26. Buang semua bahan dengan tepat.
27. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan.
28. Catat golongan dan jumlah komponen darah yang diberikan serta respons
klien terhadap terapidarah.

3. Peraturanpemerintah yang mengatur tentang donor darh di PMI


 Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
 Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
 Peraturan PemerintahNo. 65 tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan
Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)

 Peraturan PemerintahNo. 7 tahun 2011 tentang Pelayanan Darah

KEDUDUKAN PELAYANAN DARAH


 Pelayanan darah merupakan upayakesehatan dan Pemerintah menjamin
pembiayaannya(UU No. 36/2009 tentang Kesehatan )

11
 Pelayanan darah merupakanurusan wajib yang menjadi kewenangan
pemerintahan daerah(UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah )
- Syarat pendonor dan resipien donor darah
- Kriteria calon donor
 Berbadan sehat.
 Umur antara 17-60 tahun.
 Berat badan minimal 45 Kg
 Kadar hemoglobin (Hb) minimal 12,5 g%
 Tekanan darah sistolik antara 100-180 mmHg;
Tekanan darah diastolik antara 50-100 mmHg.
  Denyut nadi berkisar antara 50-100 X/menit, teratur, tanpa denyut
patologis.
 Tidak sedang : hamil, haid atau menyusui.
 Interval penyumbangan darah minimal 8 minggu dengan
penyumbangan maksimal 5 kalipertahun.(untuk keselamatan resipien)
 Kulit tempat penyadapan : sehat
 Riwayat transfusi sebelumnya > 6 bln.
 Tidak ada penyakit infeksi yang ditularkan melalui darah. Malaria
 Bukan alkohol, narkotik.
 Pengonsumsian Aspirin bila kurang dari 3 hari, tolak donor untuk
donor trombosit.
4. Rhesus (Rh)
Rhesus positif adalah seseorang yang mempunyai rh-antigen pada eritrositnya,
sedangkan rhesus negative adalah seseorang yang tidak mempunyai rh-antigen
pada eritrositnya. Antigen tersebut dinamakan antigen-D dan merupakan antigen
yang berperan penting dalam tranfusi. Tidak seperti pada A-B-O dimana seseorang
yang tidak mempunyai antigen A/B akan mempunyai antibody yang berlawanan
dalam plasmanya, maka system rhesus pembentukan antibody hampir selalu oleh
suatu eksposure apakah itu dari tranfusi atau kehamilan. Sistem golongan darah
rhesus merupakan antigen yang terkuat apabila dibandingkan dengan system
golongan darah lainnya. Dengan pemberian darah rhesus positif (D+) satu kali saja
sebanyak  0,1 ml secara parenteral pada individu yang mempunyai golongan darah
rhesus negative (D-), sudah dapat menimbulkan anti rhesus positif (anti-D)
walaupun golongan darah ABO nya sama.

12
Anti D merupakan antibody imun tipe IgG dengan berat molekul 160.000, daya
endap (sedimentation coefficient) 7 detik, thermo stabil dapat ditemukan selain
daalam serum juga cairan tubuh, seperti air ketuban, air susu, dan air liur. Imun
antibody IgG anti-D dapat melewati placenta dan masuk ke dalam sirkulasi janin,
sehingga janin dapat menderita penyakit hemolisis.
Pada system Rh-hr aglutinin spontan hampir tidak pernah terjadi. Sebagai
gantinya, orang pertama kali harus secara massif terkena sebagian antigen system,
biasanya dengan tranfusi darah kepada orang tersebut, sebelum ia akan membentuk
cukup agglutinin untuk menyebabkan reaksi tranfusi yang bermakna.

5. Antigen
Ditinjau dari golongan ini, manusia dikelompokkan menjadi 4 golongan.
Pengelompokan ini didasarkan atas ada tidaknya suatu zat tertentu di dalam sel
darah merah yaitu yang dikenal dengan nama aglutinogen (antigen) dan ada
tidaknya suatu zat tertentu di dalam plasma darah. Ada dua macam aglutinogen
yaitu aglutinogen A dan aglutinogen B, dan dua macam aglutinin yaitu aglutinin
A/alfa dan aglutinogen B/beta. (Wulangi, 1993)

Aglutinogen merupakan polisakarida dan terdapat tidak saja terbatas di dalam sel
darah merah tetapi juga di kelenjar ludah, pankreas, hati, ginjal, paru-paru, testis
dan semen. (Michael, 2009)

Seseorang disebut mempunyai golongan darah A, bila di dalam sel darah


merahnya terdapat aglutinogen A dan aglutinin B/beta ; golongan darah B, bila di
dalam sel darah merahnya terdapat aglutinogen B dan agglutinin A/alfa ; golongan
darah AB, bila mengandung aglutinogen A dan aglutinogen B, tetapi tidak memiliki
agglutinin A dan agglutinin B ; golongan darah O, bila di dalam sel darah merahnya
terdapat agglutinin A dan agglutinin B, tetapi tidak memiliki aglutinogen A dan
aglutinogen B.

Perlu dicatat disini bahwa golongan darah O yang tidak mempunyai aglutinogen
A dan aglutinogen B, merupakan golongan darah yang paling banyak dijumpai pada
hampir 47% penduduk dunia, sedangkan golongan darah AB adalah yang paling
sedikit dijumpai, hanya sekitar 3% dari jumlah penduduk dunia. (wulangi, 1993)

Bila suatu aglutinogen (misalnya A) terdapat di dalam sel darah merah tertentu,
maka aglutinin yang bersangkutan (anti A atau alfa) tidak boleh ada di dalam

13
plasma. Demikian pula, bila aglutinogen tidak terdapat di dalam sel darah merah,
aglutinin yang bersangkutan harus ada di dalam plasma.

Apa yang telah dijelaskan ini merupakan hukum Landsteiner. Kalau aglutinogen
bertemu dengan aglutinin yang bersangkutan (misalnya, aglutinogen A bertemu
dengan aglutinin/anti A atau aglutinogen B bertemu dengan aglutinin/anti B) maka
terjadilah aglutinasi, yaitu sel darah merah akan berkelompok dan diikuti oleh
“hemolisa”. Hemolisa adalah peristiwa keluarnya hemoglobin dari dalam sel darah
merah menuju ke cairan sekelilingnya. Keluarnya hemoglobin ini disebabkan karena
pecahnya membran sel darah merah. (Eckert, 1978)

Ada 2 macam hemolisa yaitu :

1. hemolisa osmotic.

Hemolisa osmotic terjadi karena adanya perbedaan yang besar antara


tekanan osmosis cairan di dalam sel darah merah dengan cairan di sekililing
sel darah merah

2. hemolisa kimiawi

Pada hemolisa kimiawi, membran sel darah merah dirusak oleh macam-
macam substansi kimia. Pada dasarnya membran sel darah merah terutama
terdiri dari lipida dan protein yang membentuk suatu lapisan yang disebut
lipoprotein. Jadi setiap substansi kimia yang dapat melarutkan lemak (pelarut
lemak) dapat merusak atau melarutkan membran sel darah merah.

Kehadiran aglutinin di dalam plasma darah sudah ada sejak lahir,


namun demikian kadar aglutinin akan berbeda menurut umur. Kadar
maksimum aglutinin tercapai pada umur 8 sampai 10 tahun, kemudian
menurun lagi pada umur berikutnya. Sebagaimana diketahui bahwa aglutinin
adalah gama globulin dan dibuat di dalam sel-sel yang juga menghasilkan
benda kebal. Globulin merupakan benda penolak yang dapat melawan antigen
yang masuk ke dalam tubuh. (Wilson, 1986)

VI. DAFTAR PUSTAKA

14
Cahyono, J. B. Suharjo B.. 2008. Membangun Budaya Keselamatan pasien Dalam
PraktikKedokteran. Yogyakarta: Kanisius. Diakses Tanggal 27 Oktober 2012
Firefly, Dianna. 2008. Online. http://www.faktailmiah.com/2011/03/08/hubungan-gen-
dan-golongan-darah.html. Diakses 28 Oktober 2012. Diakses Tanggal 22 Oktober 2012
Anonim. 2007. Manfaat Mengetahui Golongan Darah. http:// www.medicastore.com.
Diakses Tanggal 25 Oktober 2012
E l l s b u r y   D L ,   G e o r g e   C S .   D e h y d r a t i o n .   e M e d .   http://www.emedi
cine.com/CHILD/topic925.htm. Diakses Tanggal 25 Oktober 2012

15