Anda di halaman 1dari 38

BAB I

SKENARIO

Seorang anak laki – laki usia 9 tahun datang ke dokter gigi bersama ibunya,
mengeluh gigi kanan rahang bawah tiba – tiba sakit saat bermain bersama teman –
temannya. Dari anamnesa diketahui bahwa gigi tersebut sering terasa nyut – nyutan.
Pemeriksaan intraoral, didapat gigi 46 dan 85 karies profunda, tes vitalitas pulpa gigi 46
positif sedangkan gigi 85 negatif. Hasil foto rontgen, tampak gambaran karies profunda
pada gigi 46 dan akar bengkok ke distal sedangkan pada gigi 85 karies profunda
perforasi dan tampak resorbsi akar melebihi 1/3 panjang akar. Dokter gigi memutuskan
untuk melakukan perawatan pulpa pada kedua gigi tersebut. Setelah dilakukan anastesi
lokal, ruang pulpa gigi 46 dibuka sesuai dengan anatominya, seluruh jaringan pulpa
diangkat menggunakan jarum eksterpasi kemudian saluran akar dibentuk menggunakan
jarum file sedangan gigi 85, jaringan pulpa hanya dibuang pada bagian koronal saja.
Perawatan kedua gigi tersebut dilanjutkan pada kunjungan berikut.

1
BAB II
IDENTIFIKASI MASALAH

1. Apa ciri - ciri tes vitalitas positif / negatif?


2. Mengapa pada gigi 85 jaringan pulpa yang dibuang hanya bagian koronal?
3. Apa saja macam – macam tes vitalitas?
4. Perawatan apa yang sebaiknya dilakukan pada gigi 46 dan 85? Dan bagaimana
langkah – langkahnya dan alat – alat yang digunakan?
5. Mengapa gigi tersebut sering terasa nyut – nyutan?
6. Apa hubungan akar bengkok dengan perawatan yang akan dilakukan?
7. Apa perbedaan perawatan gigi sulung dan gigi permanen yang sama – sama terkena
karies profunda?
8. Mengapa perawatan dilanjutkan pada kunjungan berikutnya? Dan apa yang
dilakukan?
9. Faktor apa saja yang menyebabkan perforasi dan resorbsi akar?
10.Mengapa perawatan pulpa memerlukan anastesi lokal?
11.Apa saja macam – macam anastesi lokal?
12.Bagaimana gambaran radiologi gigi sebelum perawatan dan sesudah perawatan? Dan
cara pengambilan dan perhitungan saluran akar dan radiograf?
13.Bagaimana perbedaan struktur pulpa dan saluran akar pada gigi sulung dan
permanen?
14.Apakah ada perbedaan perawatan pada gigi yang sudah resorbsi akar dan yang
belum?
15.Mengapa pada gigi 46 seluruh jaringan pulpa diangkat padahal gigi masih vital?

2
BAB III
HIPOTESIS

Laki – Laki 9 tahun

Pemeriksaan Intraoral
dan Radiologi

Pulpitis Irreversibel

Gigi 46 Gigi 85

-Test vitalitas : (+) -Test vitalitas : (-)

-Pulpektomi : Tahap – -Pulpotomi : Tahap –


Tahap,Alat dan bahan Tahap,Alat dan bahan

Perawatan ke-2

3
BAB IV
LEARNING ISSUE

1. Pulpitis Irreversibel
a. Definisi
b. Gambaran Klinis
c. Gambaran histologis
d. Etiologi
e. Gejala
f. Macam - macam
2. Perawatan Saluran Akar (Pulpotomi dan Pulpektomi)
a. Definisi
b. Alat dan bahan
c. Indikasi dan Kontraindikasi
d. Langkah - langkah
e. Metode preparasi
3. Anatomi pulpa dan saluran akar pada gigi sulung dan permanen
4. Anastesi lokal
a. Macam – macam (teknik dan bahan)
b. Indikasi dan kontraindikasi

4
BAB V
LEARNING OUTCOMES

A. Pulpitis Irreversibel
a. Definisi
Pulpitis Ireversibel adalah inflamasi pulpa yang persisten (tetap) dan parah
yang tidak bisa pulih walaupun penyebabnya di hilangkan, pulpitis ini dapat
simtomatik maupun asimtomatik (tanpa gejala).
b. Gambaran Klinis
1. Sondase (+), menunjukkan letak lesi yang dalam (karies profunda) yang
memungkinkan lesi / terbukanya pulpa
2. Perkusi (-), menunjukkan tidak ada kelainan jaringan periodontal (periapeks)
3. Palpasi (-), menunjukkan tidak ada pembengkakan pada jaringan sekitar gigi
4. Vitalitas (+), menunjukkan gigi masih vital
5. Radiograf  kecenderungan tampak keterlibatan tanduk pulpa.
c. Gambaran Histologis
Gambaran Histolopatologi dan Patogenesis
Bila karies tidak diambil, perubahan inflamasi menjadi parah

Venula pasca kapiler memadat

Mempengaruhi sirkulasi dalam pulpa

Perubahan patologik Nekrosis

Daerah nekrotik menarik leukosit polimorfonuklear dengan kemotaksis

Inflamasi Akut

Fagositosis oleh leukosit polimorfonuklear pada daerah nekrosis

Leukosit polimorfonuklear mati (masa hidup pendek)

Leukosit polimorfonuklear mengeluarkan enzim lisosomal

Lisis beberapa stroma pulpa

Bersama debris selular, leukosit polimorfonuklear yang mati membentuk eksudat purulen (nanah)
5
Secara mikroskopis, terlihat daerah abses dan daerah nekrotik serta pada
karies lama dijumpai mikroorganisme bersama limfosit, sel plasma, dan makrofag.
Pada pusat abses tidak dijumpai mikroorganisme, karena aktivitas fagositik leukosit
polimorfonuklear.
d. Etiologi
1. Keterlibatan bacterial pulpa melalui karies
2. Kimiawi (erosi asam, bahan sterilisasi, tumpatan yang tidak berbasis, dan
desentisasi)
3. Thermal (arus galvanic, makanan dan minuman)
4. Mekanis (Trauma,atrisi,abrasi,abfraksi,dll)

e. Gejala

1. Nyeri spontan

2. Nyeri tajam (meningkat karena rangsangan panas/dingin)

3. Nyeri lama sampai berjam-jam karena perubahan tekanan intrapulpa

4. Rasa sakitnya menyebar

5. Rasa sakitnya berdenyut-denyut.

f. Macam – Macam
 Berdasarkan penjalarannya di bagi menjadi 2, yakni pulpitis ireversibel akut dan
kronis
 Untuk pulpitis ireversibel akut kecenderungan gejala meningkat dengan stimuli
panas atau dingin yang berkelanjutan
 Untuk pulpitis ireversibel kronis terbagi menjadi beberapa, antara lain:
1. Pulpitis ireversibel asimtomatik (terbukanya pulpa)
2. Pulpitis hiperpastik
3. Resorpsi interna

B. Perawatan Saluran Akar


1. Pulpotomi
a. Definisi
Pulpotomi adalah pemotongan jaringan pulpa pada bagian koronal yang
telah mengalami infeksi.
b. Tujuan

6
Mempertahankan vitalitas pulpa radikular dan membebaskan rasa sakit pada
pasien.
c. Indikasi dan Kontraindikasi
 Indikasi:
1. pulpa vital, bebas dari pernanahan atau tanda nekrosis lainnya
2. pulpa terbuka karena faktor mekanis selama preparasi kavitas yang kurang hati-
hati
3. pulpa terbuka karena trauma dan sudah lebih dari dua jam, tetapi belum
melebihi 24 jam, tanpa terlihat adanya infeksi pada bagian periapeks
4. gigi masih dapat diperbaiki dan minimal didukung lebih dari dua pertiga panjang
akar
5. tidak ada kehilangan tulang pada bagian interradikal
6. pada gigi posterior yang eksterpasi pulpa sulit dilakukan
7. apeks akar belum tertutup sempurna
8. usia tidak lebih dari 20 tahun

 Kontraindikasi:
1. sakit jika diperkusi dan palpasi
2. ada radiolusen pada daerah periapeks atau interadikular
3. mobilitas patologik
4. ada nanah pada pulpa yang terbuka
5. pada pasien yang kesehatannya kurang baik
6. pada pasien berusia di atas 20 tahun

d. Klasifikasi
 Pulpotomi Parsial
- Di lakukan Jika pulpa terbuka disebabkan preparasi kavitas
- Pulpa dalam kamar pulpa utuh

 Pulpotomi Servikal
- Pada servikal, keseluruhan pulpa pada kavum pulpa sampai orifice dibuang
(diletakan Kalsium Hidroksida pada lantai pulpa menutupi orifice)
-Dilakukan pada foramen apical masih belum sempurna pertumbuhannya.
 Pulpotomi Kalsium Hidroksida (meningkatkan penyembuhan pulpa)
Indikasi

7
1. Gigi permanen anak-anak yang melibatkan pulpa dengan apeks akarnya yang
belum terbentuk sempurna
2. Gigi yang sehat
3. Pulpa hiperemik/terinflamasi ringan, seperti gigi permanen anterior pada anak
dengan apeks terbuka lebar
4. Gigi posterior anak dengan apeks terbuka lebar, yang mempunyai pembukaan
karies kecil yang asimtomatik
5. Perforasi pulpa karena proses karies atau proses mekanis pada gigi sulung vital
6. Tidak ada pulpitis radikular
7. Tidak ada rasa sakit spontan maupun menetap
8. Panjang akar paling sedikit masih dua per tiga dari panjang keseluruhan
9. Tidak ada tanda resorpsi internal
10.Tidak ada kehilangan tulang radikular
11.Tidak ada fistula
12.Pendarahan setelah amputasi pulpa berwarna pucat dan mudah dikendalikan

Kontraindikasi
1. Foramen yang terbuka
2. Pulpitis irreversible
3. Sensitivitas yang luar biasa terhadap panas dan dingin, pulpagia kronis, sensitif
terhadap perkusi dan palpasi karena penyakit pulpa, perubahan radiografik
periradikular disebabkan karena perluasan penyakit pulpa ke dalam jaringan
periapikal.
4. Penyempitan kamar pulpa atau saluran akar (kalsifikasi)
5. Sakit spontan
6. Sakit pada malam hari
7. Sakit pada perkusi
8. Adanya pembengkakan
9. Fistula
10.Mobilitas patologis
11.Resorpsi akar eksternal patologis yang luas
12.Resorpsi internal dalam saluran akar
13.Radiolusensi di daerah periapikal dan interadikular
14.Kalsifikasi pulpa
15.Terdapat pus atau eksudat serosa pada tempat perforasi

8
16.Pendarahan yang tidak dapat dikendalikan dari pulpa yang terpotong

Prognosis Pulpotomi kalsium hidroksida:


1. Pembentukan suatu jembatan
2. Meskipun banyak pulpa menjadi normal kembali setelah suatu prosedur
pulpotomi, beberapa mengalami inflamasi kronis dan akhirnya menjadi nekrotik
 Pulpotomi Formokresol (mendisinfeksi dan memfiksasi jaringan pulpa)
Indikasi
1. Perawatan gigi sulung dengan pulpa terlibat, manifesti klinis: perubahan
inflamatori yang terbatas pada pulpa mahkota/pembukaan mekanis pada waktu
prosedur operatif
2. Gigi posterior permanen untuk perawatan pulpagia

Kontaindikasi
Gigi sulung yang luar biasa sensitive terhadap panas dan dingin, yang mempunyai
pulpagia kronis, sensitive terhadap perkusi atau palpasi karena suatu penyakit
pulpa, mempunyai perubahan radiografik karena perluasan penyakit pulpa, atau
mempunyai kamar pulpa/saluran akar menyempit
Prognosis Pulpotomi formokresol:
Dilakukan untuk mempertahankan integritas lengkung gigi, sampai tumbuhnya gigi
pengganti permanen.

1. Pulpektomi
a. Definisi
Pulpektomi adalah tindakan pengambilan seluruh jaringan pulpa dari seluruh
akar dan korona gigi
b. Indikasi
 Indikasi:
1. gigi sulung dengan infeksi yang melewati kamar pulpa, baik pada gigi vital,
nekrosis sbg maupun gigi sudah non vital.
2. saluran akar dapat dimasukan instrumen.
3. kelainan jaringan periapeks dalam gambaran radiologi kurang dari 1/3 apikal
d. Klasifikasi
 Pulpektomi Vital
- sering dilakukan pada gigi anterior dengan karies meluas kearah pulpa/ gigi yang
mengalami fraktur

9
- prosedur :
a. anastesi lokal
b. isolasi
c. preparat kavitas dengan bur bulat 3%
d. perdarahan dihentikan dengan H2O2
e. keringkan dengan paper point
f. pengisian saluran akar
g. menentukan panjang kerja, foto rontgen
 pulpektomi devital
- sering dilakukan pada gigi posterior yang pulpitis
- sering dilakukan pada gigi anterior pada pasien yang tidak tahan anastesi
- jarang pada gigi tetap dengan menggunakan bahan paraformaldehid seperti
toxavit dll.
- prosedur :
a. isolasi
b. preparasi kavitas dikeringkan
c. peletakan bahan devitalisasi
d. foto jarum endometer
e. keringkan dengan meletakan kapas steril
f. ditumpat
g. eksterpasi pulpa preparasi
 pulpektomi non vital
- sering pada gigi anterior yang mempunyai saluran akar 1
- sering pada gigi posterior dengan saluran akar lebih dari 1
- dengan diagnosis gangren pulpa/nekrosis
→ 3 kali kunjungan
Langkah – langkah :

 Kunjungan pertama
1. Pembuatan foto rontgen → mengetahui panjang dan jumlah akar
2. Pemberian anestesi local
3. Isolasi daerah operasi
4. Pembuangan jaringan karies dan atap pulpa → dengan bur fissure
5. Jaringan pulpa di kamar pulpa dibuang → dengan ekskavator / bur bulat
6. Pendarahan yang terjadi setelah pembuangan jaringan pulpa ditahan
dengan cotton pellet

10
7. Kamar pulpa dibersihkan dari sisa jaringan pulpa yang terlepas → dengan
jarum ekstirpasi  dikeringkan
8. Saluran akar diirigasi dengan akuades steril untuk menghilangkan kotoran
dan dikeringkan
9. Letakkan cotton pellet dibasahi trikresol formalin di kamar pulpa
10.Tutup tambalan sementara

 Kunjungan kedua (2 hari setelah kunjungan pertama)


1. Isolasi gigi
2. Buang tambalan sementara
3. Jaringan pulpa di ekstirpasi, lakukan reaming, filling dan irigasi
4. Berikan beechwood creosote dalam kamar pulpa
5. Tutup tambalan sementara

 Kunjungan ketiga (3 – 4 hari setelah kunjungan kedua)


1. Isolasi gigi
2. Buang tambalan sementara
3. Keringkan pulpa
4. Letakkan semen zinc fosfat
5. Restorasi gigi dengan tambalan permanen

11
d. Metode Preparasi
 Teknik Konvensional:

a. Teknik konvensional yaitu teknik preparasi saluran akar yang dilakukan pada
gigi dengan saluran akar lurus dan akar telah tumbuh sempurna.
b. Preparasi saluran akar menggunakan file tipe K
c. Gerakan file tipe K-flex adalah alat diputar dan ditarik. Sebelum preparasi
stopper file terlebih dahulu harus dipasang sesuai dengan panjang kerja gigi.
Stopper dipasang pada jarum preparasi setinggi puncak tertinggi bidang insisal.
Stopper digunakan sebagai tanda batas preparasi saluran akar.
d. Preparasi saluran akar dengan file dimulai dari nomor yang paling kecil.
Preparasi harus dilakukan secara berurutan dari nomor yang terkecil hingga
lebih besar dengan panjang kerja tetap sama untuk mencegah terjadinya step
atau ledge atau terdorongnya jaringan nekrotik ke apical.
e. Selama preparasi setiap penggantian nomor jarum preparasi ke nomor yang
lebih besar harus dilakukan irigasi pada saluran akar. Hal ini bertujuan untuk
membersihkan sisa jaringan nekrotik maupun serbuk dentin yang terasah.
Irigasi harus dilakukan secara bergantian anatar H2O2 3% dan aquadest steril,
bahan irigasi tyerakhir yang dipakai adalah aquadest steril.
f. Bila terjadi penyumbatan pada saluran akar maka preparasi diulang dengan
menggunakan jarum preparasi yang lebih kecil dan dilakukan irigasi lain. Bila
masih ada penyumbatan maka saluran akar dapat diberi larutan untuk
mengatasi penyumbatan yaitu larutan largal, EDTA, atau glyde (pilih salah
satu).
g. Preparasi saluran akar dianggap selelsai bila bagian dari dentin yang ter infeksi
telah terambil dan saluran akar cukup lebar untuk tahap pengisian saluran akar.

 Teknik Step Back

a. Yaitu teknik preparasi saluran akar yang dilakukan pada saluran akar yang
bengkok dan sempit pada 1/3 apikal.
b. Tidak dapat digunakan jarum reamer karena saluran akar bengkok sehingga
preparasi saluran akar harus dengan pull and push motion, dan tidak dapat
dengan gerakan berputar.

12
c. Dapat menggunakan file tipe K-Flex atau NiTi file yang lebih fleksibel atau
lentur.
d. Preparasi saluran akar dengan jarum dimulai dari nomer terkecil:
No. 15 s/d 25 = sesuai panjang kerja
File No. 25 : Master Apical File (MAF)
No. 30 = panjang kerja – 1 mm MAF
No. 35 = panjang kerja – 2 mm MAF
No. 40 = panjang kerja – 3 mm MAF
No. 45 = panjang kerja sama dengan no. 40 dst
e. Setiap pergantian jarum file perlu dilakukan pengontrolan panjang kerja dengan
file no. 25, untuk mencegah terjadinya penyumbatan saluran akar karena
serbuk dentin yang terasah.
f. Preparasi selesai bila bagian dentin yang terinfeksi telah terambil dan saluran
akar cukup lebar untuk dilakukan pengisian.

 Teknik Balance Force


a. Menggunakan alat preparasi file tipe R- Flex atau NiTi Flex
b. Menggunakan file no. 10 dengan gerakan steam wending, yaitu file diputar
searah jarum jam diikuti gerakan setengah putaran berlawanan jarum jam.
c. Preparasi sampai dengan no. 35 sesuai panjang kerja.
d. Pada 2/3 koronal dilakukan preparasi dengan Gates Glidden Drill (GGD)
- GGD #2 = sepanjang 3 mm dari foramen apical
- GGD #3 = sepanjang GGD #2 – 2 mm
- GGD #4 = sepanjang GGD #3 – 2 mm
- GGD #5 = sepanjang GGD #4 – 2 mm
- GGD #6 = sepanjang GGD #5 – 2 mm
e. Preparasi dilanjutkan dengan file no. 40 s/d no.45
f. Dilakukan irigasi
g. Keuntungan balance force :
Hasil preparasi dapat mempertahankan bentuk semula
Mencegah terjadinya ledge dan perforasi
Mencegah pecahnya dinding saluran akar
Mencegah terdorongnya kotoran keluar apeks

 Teknik Crown Down Presureless

13
a. Teknik disebut juga dengan teknik step down, merupakan modifikasi dari teknik
step back.
b. Menghasilkan hasil yang serupa yakni seperti corong yang lebar dengan apeks
yang kecil (tirus).
c. Bermanfaat pada saluran akar yang kecil dan bengkok di molar RA dan RB.
d. Saluran akar sedapat mungkin dibersihkan dengan baik sebelum instrument
ditempatkan di daerah apeks sehingga kemungkinan terjadinya ekstruksi dentin
ke jaringan periapeks dapat dikurangi.
e. Menggunakan instrument nikel-titanium, baik yang genggam maupun
digerakkan mesin.

 Teknik Step Down


Gigi Sulung
Teknik Konvensional
Prosedur Teknik Konvensional pada Gigi Sulung sama seperti Tehnik
Konvensional pada Gigi Permanen.

C. ANATOMI PULPA DAN SALURAN AKAR GIGI SULUNG DAN PERMANEN


1. Gigi Sulung
Ciri Umum Ruang Pulpa Gigi Desidui :
1. Kedalaman dentin antara ruang pulpa dan enamel lebih kecil, terutamapada gigi
molar sulung kedua bawah.
2. Tanduk pulpa yang sangat tipis dan menonjol tinggi pada molar, terutama yang
mesial.
3. Kamar pulpa relative > dari pada gigi permanen, karena dinding dentin yang
tipis mengelilinginya.
4. Saluran akar panjang, pada gigi molar, saluran akar sering tidak teratur dan
seperti pita.
5. Saluran akar molar sulung sangat divergen.
6. Enamel tipis.

Incisivus
Ciri-ciri :
- Kamar pulpa seperti kipas (di lihat dari labial)
- Relative lebih besar dari pada incisivus permanen dan meluas ke mesial

14
- Pulpa terletak lebih dekat di bawah enamel tipis
- Tanduk pulpa kurang runcing di banding incisivus permanen
- Kamar pulpa berbentuk baji pada labio-lingual
- Saluran akar lebar dan meluas dari pada incisivus permanen
- 1/3 apikal akar di perforasi oleh banyak saluran akar.

Caninnus
Ciri-ciri :
- Memiliki tanduk pulpa tunggal
- 1/3 apikal cenderung membengkok kearah distal
- Keseluruhan kamar pulpa meruncing rata pada atap kamar pulpa ke apeks akar
tanpa penyempitan.
- Saluran akar panjang dan berakhir pada foramen apical yang jelas dan banyak
apical tambahan.
- Dentin antara kamar pulpa dan lapisan enamel < dari gigi caninnus permanen.

Molar
Ciri-ciri :
- Kamar pulpa relative > dimensi luar mahkota.
- Dinding dentin dan enamel cukup tipis jarak antara tanduk pulpa dan permukaan
enamel.
- Kamar pulpa mempunyai tanduk pulpa yang sama jumlahnya dengan jumlah
cusp pada mahkota
- Saluran akar tidak teratur, sering berbentuk pita dan jauh lebuh rumit dari pada
molar permanen.

TAMBAHAN CIRI :
 Akar pada gigi sulung lebih panjang dan ramping bentuk seperti pita
 Mempunyai banyak saluran akar aksesori
 Pada molar saluran akarnya melebar
 Akar anterior lebih sempit mesio distal
 Akar akan resopsi

15
Figure 17-1 Comparative anatomy between primary (left) and permanent (right)
molars. Primary teeth are smaller in all dimensions; their enamel cap is thinner, with less
tooth structure protecting the pulp. Primary pulp horns are higher, particularly mesial.
The roots of primary molars are longer and more slender, are “pinched in” at the cervical
part of the tooth, and flare more toward the apex to accommodate permanent tooth
buds. All of these factors tend to increase the incidence of pulp involvement from caries
or complicate canal preparation and obturation. Reproduced with permission from Finn
SB.2

2. Gigi Permanen
 Komponen Sistem Pulpa
Ruang pulpa dibagi atas pulpa korona (kamar pulpa) dan pulpa akar
(saluran akar). Gambaran lainnya adalah tanduk pulpa, orifis, saluran akar
aksesori (lateral), dan foramen apikalis. Anatomi interna komponen pulpa ini
akan berubah dengan adanya pembentukan dentin sekunder atau sementum.

16
17
 Tanduk Pulpa
Tanduk pulpa adalah apa yang tidak ingin disentuh dokter gigi selama
prosedur restorasi tetapi benar benar dicari selama preparasi akses. Walaupun
tanduk pulpa berbeda ketinggian dan lokasinya, tanduk pulpa tunggal cenderung
berhubungan dengan tiap tonjol gigi posterior. Sementara tanduk pulpa mesial
dan distal cenderung terletak pada insisif. Secara umum, tanduk pulpa gigi
muda terletak tinggi tetapi pada gigi yang lebih tua ketinggiannya menurun
ke arah margin servikal. Kadang-kadang, tanduk pulpa demikian meluas ke arah
oklusal sehingga mudah terbuka oleh karies atau preparasi kavitas rutin.
Keabnormalan tanduk pulpa yang tinggi itu bisa terdeteksi pada radiograf bisa
pula tidak.
Selama preparasi akses, ketinggian dan lokasi tanduk pulpa dapat
ditentukan dengan Iebih akurat dengan mengukur jarak dari puncak tonjol
sampai tanduk pulpa atau atap kamar pulpa memakai bur dan henpis.

 Kamar Pulpa
Kamar pulpa terletak di tengah-tengah mahkota dan batang akar. Sekali lagi
diingatkan bahwa bentuk kamar pulpa, baik dalam arah longitudinal maupun dalam

18
dimensi potongan melintangnya, bergantung pada bentuk mahkota; konfigurasi ini
bervariasi sesuai proses penuaan dan/atau iritasi yang mengenainya.

 Saluran Akar

Saluran akar berada sepanjang akar, dimulai sebagai orifis berbentuk


corong dan keluar sebagai foramen apikalis. Secara signifikan, hampir semua saluran
akar berbentuk melengkung, terutama dalam arah fasial- lingual. Oleh karena
itu, pada radiograf proyeksi fasial, melengkungnya suatu saluran akar sering tidak
terdeteksi.
Bentuk saluran akar bervariasi sesuai dengan bentuk, lengkung, dan
besarnya akar, selain umur dan keadaan gigi. Sebagai patokan, jika dua saluran akar
terdapat dalam satu akar, bentuknya cenderung lebih oval. Pada akar fasial-lingual
yang dalam dengan kecekungan mesial atau distal (atau keduanya) (berbentuk
berpinggang atau seperti ginjal), saluran akar tunggalnya bisa berbentuk pin
bowling, ginjal, berpinggang, atau berbentuk pita. Apa pun bentuk sepertiga
servikalnya, di kurvatur apeks akar (dan saluran akar) cenderung menjadi lebih oval
namun mungkin bisa juga lebih mendatar.
Bentuk dan jumlah saluran akar di dalam akar mencerminkan kedalaman
fasial-lingual dan bentuk akar pada setiap ketinggian; makin dalam akarnya, makin
besar kemungkinannya terdapat dua saluran akar terpisah dengan tegas. Jika akar
menguncup ke arah sepertiga apeks, kemungkinan besar saluran akarnya akan
menuju ke satu arah dan keluar sebagai satu saluran akar.
Ketidakteraturan dan penyimpangan adalah hal yang biasa dijumpai,
terutama pada gigi posterior. Penyimpangan yang dijumpai bisa berupa bukit
dan lembah pada dinding saluran akar, komunikasi antar saluran (isthmus di
antara dua saluran), cul-de-sac, sirip, dan variasi lain. Penyimpangan ini biasanya
tidak dapat diakses oleh instrumen atau irigan.
Ingatlah bahwa kamar pulpa cenderung untuk terletak di pusat mahkota

19
sedangkan saluran akar terletak di tengah-tengah akar. Jika terdapat dua saluran
akar di dalam satu akar, masing-masing akan ter letak di tengah-tengah badan
akarnya sendiri-sendiri.

 SALURAN AKAR AKSESORI


Saluran akar aksesori (lateral) adalah cabang lateral dari saluran akar
utama yang membentuk hubungan antara pulpa dan periodontium. Saluran
akar ini mengandung jaringan ikat dan pembuluh serta dapat dijumpai di setiap
ketinggian sesudah furkasi ke arah apeks, walaupun cenderung lebih banyak
dijumpai di sepertiga apeks dan pada gigi posterior. Dengan kata lain, makin
ke apeks dan makin ke posterior letak giginya, makin besar kemungkinan
keberadaan saluran akar aksesorinya. Saluran akar aksesori tidak memberikan
kontribusi pada sirkulasi kolateral sehingga tidak berperan banyak dalam fungsi
pulpa dan bisa jadi merupakan cerminan dari anomali yang terjadi selama
pembentukan akar.
Saluran-saluran akar ini memang merupakan jalan bagi iritan dari pulpa ke
arab periodontium lateral. Saluran akar ini tidak dapat dibersihkan selama
prosedur pembersihan dan pembentukan saluran akar walaupun kadang-kadang
terobturasi dengan material obturasi selama pengisian saluran akar.

 REGIO APEKS
Apeks adalah terminal (ujung) dari akar. Apeks relatif lurus pada gigi
muda yang belum matang tetapi lama-kelamaan cenderung makin melengkung
ke arab distal. Kurvatur ini terjadi akibat aposisi sementum berkelanjutan dalam
arab apeksdistal sebagai respons atas erupsi berkelanju tan me sial-oklusal.
Perubahan pada regio apeks juga bisa terjadi akibat resorpsi dan aposisi
sementum yang tidak teratur. Jadi, anatomi apeks cenderung tidak seragam
dan tidak dapat diramalkan.

Foramen Apikalis:
Ukuran dan konfigurasinya bervariasi sesuai dengan kematangannya.
Sebelum matang, foramen ini terbuka lebar. Dengan berlalunya waktu dan adanya
deposisi dentin serta sementum, foramen akan mengecil dan membentuk
corong. Secara signifikan, foramen biasanya tidak keluar pada apeks akar sejati
(apeks anatomic) melainkan di suatu tempat lebih jauh sekitar 0,5 mm dan

20
jarang yang melebihi 1,0 mm dari apeks sejati. Derajat deviasi ini tidak bisa
diperhitungkan dan sangat bervariasi dari nilai rata-rata, terutama pada gigi
yang lebih tua dan telah mengalami aposisi sementum. Oleh karena itu, preparasi
saluran akar dan obturasinya berakhir sedikit sebelum apeks akar anatomik
seperti terlihat di radiograf. Biasanya, foramen apikalis tidak tampak dalam
radiograf. Peklinik bersandar pada nilai rata-rata atau berdasar hasil
pengukuran apex locator elektrik dalam menentukan panjang preparasi dan
obturasinya.

Variasi Anatomi:
Satu-satunya aspek yang konsisten dari regio apeks adalah inkonsistensinya.
Saluran akar bisa memutar atau melengkung, terpecah menjadi beberapa saluran dan
membentuk suatu delta disertai ramifikasi pada permukaan akar apeks, atau
menunjukkan ketidakteraturan di dalam dinding salurannya. Pada umumnya,
penyimpangan ini sukar dideteksi atau dinegosiasi dengan baik dan tidak bisa
dibersihkan (debrided) dan diobturasi dengan baik.
Pada umumnya dianggap bahwa di daerah apeks ini saluran akarnya
membulat. Ini tidak selamanya benar. Saluran akar sering berbentuk oval panjang
atau bahkan berbentuk pita ke arah apeks," Saluran akar yang. tidak bulat ini
tidak akan dapat dibesarkan sampan berbentuk bulat tanpa menyebabkan perforasi
atau melemahkan akarnya.

Konstriksi Apeks:
Keberadaan konstriksi apeks tidak dapat diramalkan dan bentuk anatomis ini hanya
merupakan dugaan saja yakni bahwa pertautan sementum-dentin membentuk
konstriksi apeks; ini adalah suatu konsep yang keliru. Kenyataannya, secara klinis,
pertautan sukar di tentukan secara akurat," dan masuknya sementum ke dalam
saluran akar pun berbeda-beda. Jika konstriksi apeks ada, keberadaannya tidak tampak
dalam radiograf dan biasanya tidak dapat dideteksi dengan perabaan, oleh peklinik yang
paling ahli sekalipun.

21
22
PANJANG GIGI JUMLAH JUMLAH
GIGI
RATA-RATA AKAR SALURAN AKAR

Insisivus sentral
21,8 mm 1 1
maksiler

Insisivus lateral
23,1 mm 1 1
maksiler

Kaninus maksiler 26 mm 1 1

Premolar pertama
21,5 mm 2 2
maksiler

Premolar kedua
21,6 mm 1 1
maksiler

Molar pertama
21,3 mm 3 4
maksiler

Molar kedua maksiler 21,7 mm 3 3

23
Molar ketiga maksiler 17,1 mm

Insisivus sentral
20,8 mm 1 1
mandibular

Insisivus lateral
22,6 mm 1 1
mandibular

Kaninus mandibular 25 mm 1 1

Premolar pertama
21,9 mm 1 1
mandibular

Premolar kedua
22,3 mm 1 1
mandibular

Molar pertama
21,9 mm 2 3
mandibular

Molar kedua
22,4 mm 2 3
mandibular

Molar ketiga
18,5 mm
mandibular

 Anatomi kavitas pulpa

Insisivus 1 maksila

24
Insisivus 2 maksila

Kaninus maksila

Premolar 1 maksila

25
26
Premolar 2 maksila

Molar 1 maksila

27
Molar 2 maksila

28
Insisivus 1 & 2 mandibula

29
Kaninus mandibula

Premolar 1 mandibula

30
Premolar 2 mandibula

31
Molar 1 mandibula

32
Molar 2 mandibula

33
D. ANASTESI LOKAL

34
a. Definisi
Anestesi lokal menurut Kamus Kedokteran Dorland adalah agen, misalnya
lidokain, prokain, atau tetrakain, yang menimbulkan anestesi dengan
melumpuhkan ujung saraf sensorik atau serabut saraf pada tempat pemberian
obat. Konduksi impuls saraf disekat dengan menghentikan masuknya natrium ke
dalam sel saraf.
b. Macam - Macam
a. Anestesi Infiltrasi
Definisi
Anestesi infiltrasi merupakan injeksi suatu anestesi lokal ke dalam jaringan lunak
pada daerah apeks akar.
Indikasi
- Pengambilan pulpa gigi
- Pencabutan sebuah gigi
- Pasien kardiovaskuler dengan pemberian secara hati-hati dan ada aspirasi terlebih
dahulu
Kontraindikasi
Injeksi palatal untuk gigi maxilla karena adanya inervasi pulpa oleh serabut dari
ligamen periodontal. Alternatif anestesinya memakai anestesi dengan injeksi
subperiosteal yaitu dengan memasukkan jarum dekat apeks gigi tepat di bawah
periosteum dan perlahan dimasukkan 0,5 ml larutan anestetik.
Bahan yang dipakai
- Lidocaine (Xylocaine) 2% dengan 1:100.000 epinephrine
- Umumnya 1 karpul larutan anestetik sudah cukup, yaitu 1,8 mm
- Pemakaian untuk ekstirpasi pulpa lebih banyak daripada untuk ekstraksi gigi
Cara
Jarum dimasukkan ke dalam lipatan mukobuccal agak mesial dari gigi yang akan
dianestesi dan dibawa ke arah apeks akar sampai tulang ditemukan.
b. Anestesi Blok/Konduksi
1. Blok Alveolar Inferior
Indikasi
- Mandibular posterior mulut
- Pengambilan pulpa pada gigi premolar dan molar (gigi posterior)
Cara Kerja

35
- Adanya konduksi dari saraf alveolar inferior dan saraf buccal; anestesi blok ini
lebih efektif untuk menganestesi kedua saraf tersebut karena letak saraf buccal
adalah di atas level saraf alveolar inferior.
- Caranya adalah dengan memasukkan jarum sekitar ½ inchi lebih tinggi dari
tempat injeksi konvensional.
- Injeksi awal efektif karena ada gejala pada bibir.
2. Blok Mandibular Gow-Gate
- Anestesi dimasukkan pada aspek lateral leher kondilus di bawah insersi otot
pterigoid lateral dan bukan pada sulkus mandbular.
- Keberhasilan lebih tinggi dari teknik konvensional.
- Permulaan anestesi lebih lama.
- Dipakai jika teknik konvensional gagal.
3. Blok Anestesi Regional
- Blok alveolar superior posterior
- Blok infraorbital
Indikasi jika anestesi infiltrasi kurang
- Blok palatin besar
memadai
- Blok nasopalatin
- Blok maksiler (divisi kedua)
c. Teknik Keadaan Pulpa jika Ter-Inflamasi
Larutan anestesi tidak efisien pada daerah yang terinflamasi, karena kenaikan
aktivitas saraf perifal atau penurunan pH jaringan yang memungkinkan sedikit
molekul anestesi mencapai saraf. Karena itu dapat diatasi dengan:
1. Anestesi Intrapulpal
Indikasi
Pada anestesi infiltrasi atau blok dengan masih adanya sensitifitas pada gigi.
Cara Kerja
Cara 1 : Injeksi langsung ke dalam badan pulpa yang terbuka (hanya pada
pembukaan pulpa yang cukup besar dan mampu menerima jarum
hipodermik. Namun, karena pembukaan yang terlalu besar terjadi
penyemburan larutan kembali. Jika gagal dapat dilakukan dengan cara
kedua.
Cara 2 : Jarum dimasukkan ke dalam saluran akar sampai jarum terjepit dan
kemudian menyemprotkan larutan anestetik ke dalam pulpa radikular.
Perlu pembengkokan jarum agar masuk ke saluran akar. Dapat dipakai

36
1-2 tetes larutan anestetik. Keberhasilannya bergantung pada rapat
tidaknya jarum terpasang dan masuk ke dalam pulpa.
2. Injeksi Ligamen Periodontal/Intraligamenter
Definisi
Suatu injeksi intraoseus dengan pemberian anestetik pada ruang meduler dekat
dengan ligamen periodontal, serta dapat menutup saraf pulpa.
Efek
- Pengurangan sementara tekanan darah
- Kenaikan cepat jatung (kontraindikasi pada penyakit kardiovaskuler)
- Kerusakan ligamen minimal, hanya sebatas daerah krista di mana jarum masuk
Teknik dan cara kerja
- Alat semprit khusus dengan volume pengeluaran 0,14-0,22 ml dan tanpa
mematahkan kapsul anestetik
- Jarum pendek 27/30 gauge dimasukkan di sebelah proksimal sepanjang akar
gigi (pada gigi posterior, jarum ditekuk hingga sesuai dan ditekan sehingga
mengeluarkan sekitar 0,2 ml ke arah intraligamen sepanjang akar mesial dan
distal gigi berakar banyak)
- Ketahanan lama obat:
 Lidokain dan epinephrine 1:50.000 rata-rata tahan selama 27 menit
 Lidokain saja rata-rata tahan selama 1 menit

37
DAFTAR PUSTAKA

Grossman, Louis I. 1995. Ilmu Endodontik dalam Praktek. Jakarta: EGC.


Richard E.Walton, Louis I. 2008. Prinsip & Praktik Ilmu Endodontik . Jakarta: EGC
Tarigan, Rasinta. 2004. Perawatan Pulpa Gigi (Endodonti). Jakarta: EGC.

38