Anda di halaman 1dari 30

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. Yang telah melimpahkan nikmat
serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “KMB
: Infark Miokard Akut dan Angina Perktoris” dengan baik tepat pada waktunya.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi.
Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat
bantuan dan dorongan bimbingan dosen pengampuh Ibu Epi Rustiawati, M.Kep.Sp.KMB

Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan


baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki
kami. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini. Dalam penulisan makalah ini kami ucapkan
terima kasih.

Serang, 28 Agustus 2019

Penyusun

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar..............................................................................................................1
Daftar Isi......................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................3

1.1 Latar Belakang....................................................................................................3


1.2 Tujuan................................................................................................................. 4

BAB II TINJAUAN TEORITIS...................................................................................5

2.1 Definisi Infark Miokard Akut dan Angina Pektoris........................................................5


2.2 Etiologi Infark Miokard Akut dan Angina Pektoris........................................................6
2.3 Patofisiologi Infark Miokard Akut dan Angina Pektoris................................................8
2.4 Manifestasi Klinis IMA dan Angina Pektoris.................................................................10
.................................................................................................................................................
Klasifikasi Infark Miokard Akut.....................................................................................10
Pola Angina Pektoris......................................................................................................12
2.5 Komplikasi Infark Miokard Akut (IMA)........................................................................13
2.6 Pemeriksaan Penunjang IMA dan Angina Pektoris........................................................13
2.7 Penatalaksanaan IMA dan Angina Pektoris....................................................................14
2.8 Konsep Asuhan Keperawatan.........................................................................................15

BAB III STUDI KASUS.............................................................................................................21

BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN......................................................................................22

4.1 Pengkajian.........................................................................................................................22
4.2 Diagnosa Keperawatan......................................................................................................26
4.3 Intervensi/Perencanaan......................................................................................................26
BAB V PENUTUP.......................................................................................................................29

5.1 Kesimpulan.......................................................................................................................29
5.2 Saran..................................................................................................................................29

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................................30

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jantung membutuhkan keseimbangan antara permintaan dan ketersediaan oksigen
sehingga dapat berfungsi dengan baik. Integritas arteri coroner merupakan factor penentu
suplai oksigen ke otot jantung. Gangguan apapun yang mengurangi besar lumen dari salah
satu arteri koroner dapat menurunkan aliran darah dan penghantaran oksigen ke daerah
miokardium yang disuplai oleh arteri tersebut, dan mengakibatkan angina (nyeri dada)
sindrom koroner akut, infark miokard akut (IMA), dan kematian jantung mendadak.
Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab utama dari sindrom ini dan
merupakan pembunuh tunggal terbesar pada pria dan wanita di amerika serikat. Sindrom
klinis yang berhubungan dengan PJK sudah dikenal dengan baik oleh kebanyakan orang
amerika.
Sindrom koroner akut merujuk pada manifestasi klinis yang sesuai dengan IMA. IMA
juga dikenal sebagai serangan jantung, oklusi koroner, atau hanya “koroner”, yang
merupakan kondisi mengancam jiwa yang ditandai dengan pembentukan area nekrotik local
didalam miokardium. IMA biasanya mengikuti oklusi mendadak dari arteri koroner dan henti
mendadak dari aliran darah dan oksigen ke otot jantung.oleh karena otot jantung harus
berfungsi terus-menerus, penyumbat darah ke otot serta munculnya area nekrotik merupakan
sesuatu yang fatal.
Angina pectoris adalah nyeri dada yang terjadi akibat iskemia miokardium (suplai darah
yang tidak adekuat ke miokardium). Menurut penelitian Framingham Heart Study, sekitar
400.000 kasus baru angina terjadi tiap tahunnya. Angina juga dapat terjadi pada klien dengan
arteri koroner normal, tetapi lebih jarang terjadi. Klien dengan stenosis aorta, hipertensi, dan
kardiomiopati hipertrofi juga dapat mengalami angina pectoris.
Di ASEAN salah satu negaranya yakni Indonesia menduduki peringkat ke dua dengan
jumlah 371,000 jiwa (WHO,2014). Penyakit kardiovaskuler menempati urutan pertama hasil
Riset Kesehatan Dasar Indonesia. IMA merupakan penyebab utama kematian di Amerika dan

3
berperan pada kurang lebih 529.000 kematian tiap tahun. Tiap tahun sekitar 1,1 juta orang
amerika mengalami IMA. Tiap 29 detik seseorang di Amerika mengalami kejadian koroner
dan kurang lebih tiap 1 menit seseorang meninggal karena kejadian koroner. Sekitar 250.000
orang meninggal tiap tahun sebelum mampu mencapai rumah sakit. Berdasarkan data
penelitian Framingham, sekitar 45% dari semua kasus IMA terjadi pada orang lebih muda
dari usia 65 tahun dan 5% terjadi pada orang yang lebih muda dari 40 tahun. 85% yang
meninggal karena IMA berusia 65 tahun atau lebih.
1.2 Tujuan
1.2.1 Mengetahui Definisi dari Infark Miokard Akut dan Angina Pektoris
1.2.2 Mengetahui Etiologi dari infark Miokard Akut dan Angina Pektoris
1.2.3 Mengetahui Patofisiologi Infark Miokard Akut dan Angina Pektoris
1.2.4 Mengetahui Manifestasi Infark Miokard Akut dan Angina Pektoris
1.2.5 Mengetahui Klasifikasi Infark Miokard Akut
1.2.6 Megetahui Pola dari Angina Pektoris
1.2.7 Mengetahui Komplikasi dari Infark Miokard Akut dan Angina Pektoris
1.2.8 Mengetahui Pemeriksaan Penunjang dari IMA dan Angina Pektoris
1.2.9 Mengetahui Penatalaksanaan dari IMA dan Angina Pektoris
1.2.10 Mengetahui Konsep Asuhan Keperawatan
1.2.11 Mengetahui dan Mempelajari Kasus Infark Miokard Akut
1.2.12 Mengetahui dan Mempelajari Asuhan Keperawatan Pada Pasien Infark Miokard
Akut
1.3

4
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Definisi

Infark Miokard Akut

Infark Miokard Akut (IMA) adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh karena
sumbatan pada arteri koroner. Sumbatan akut terjadi oleh karena adanya aterosklerotik pada
dinding arteri koroner sehingga menyumbat aliran darah ke jaringan otot jantung (Black &
Joyce, 2014).

Sindrom koroner akut merujuk pada manifestasi klinis yang sesuai dengan IMA. IMA
juga dikenal sebagai serangan jantung, oklusi coroner , atau hanya coroner, yang merupakan
kondisi mengancam jiwa yang di tandai dengan pembentukan area nekrotik local di dalam
miokardium. IMA biasanya mengikuti oklusi mendadak dari arteri coroner dan henti
mendadak dari aliran darah dan oksigen ke otot jantung. Oleh karena otot jantung harus
berfungsi terus menerus , penyumbatan darah ke otot serta munculnya area nekrotik
merupakan sesuatu yang fatal. ( Joyce M. Black, 2014 ).

Infark Miokard Akut (IMA) adalah kematian jaringan otot jantung (miokard) yang
disebabkan oleh insufisiensi suplai atau banyaknya darah baik relatif maupun secara absolut
(Muwarni, 2011).

Angina Pectoris

Angina Pektoris adalah nyeri dada yang terjadi akibat iskemia miokardium (suplai darah
yang tidak adekuat ke miokardium) ( Joyce M Black, 2014).

Angina pectoris adalah nyeri dada yang terjadi akibat kurangnya aliran darah yang
teroksigenasi ke otot jantung. (Marlene Hurst, 2018). Kondisi ini biasanya berhubungan
dengan PAK, tetapi dapat disebabkan spasme coroner atau setiap kondisi yang menciptakan
peningkatan kebutuhan oksigen pada miokardium ketika suplai darah atau oksigen
berkurang. PAK terbentuk selama beberapa waktu saat palk lemak (atheroma) terbentuk dan

5
mempersempit ateri coroner, yang mengurangi jumlah aliran darah ke otot jantung. Pada
saat tenosis (penyempitan) arteri coroner meningkat, arteri menjadi kurang dapat menyuplai
darah dalam jumlah yang cukup ke otot jantung, terutama pada kondisi stress, aktivitas
berat, atau olahraga. (Marlene Hurst. 2018)

2.2 Etiologi

Infark Miokard Akut

Menurut Amin Hardhi (2015), etiologi dari infark miokard akut dapat dikelompokan
sebagai berikut :

1) Suplai oksigen ke miokard berkurang yang disebabkan oleh 3 faktor :


a) Faktor pembuhuh darah diantaranya adalah aterosklerosis, spasme, arteritis
b) Faktor sirkulasi diantaranya adalah hipotensi, stenosis aorta, insufisiensi
c) Faktor darah diantaranya adalah anemia, hipoksemia, polisitemia
2) Curah jantung yang mengikat dapat terjadi pada aktifitas berlebihan, kondisi emosi,
makan terlalu banyak
3) Kebutuhan oksigen miokard meningkat pada kondisi kerusakan miokard,
hipertropimikard, hipertensi diastolic, hipertiroidisme

Faktor predisposisi infark miokard

1) Faktor resiko biologis yang tidak dapat diubah :


a) Usia lebih dari 40 tahun
b) Jenis kelamin : insiden pada pria tinggi, sedangkan pada wanita meningkat setelah
menopause.
c) Hereditas
d) Ras : lebih tinggi insiden pada kulit hitam
2) Faktor resiko yang dapat diubah :
a) Mayor
Hyperlipidemia, hipertensi, merokok, diabetes, obesitas, diet tinggi lemak jenuh,
kalori.
b) Minor
6
Inaktifitas fisik, pola kepribadian tipe A (emosional, agresif, ambisius, kompetitif),
stress psikologis berlebihan (Amin, Hardhi, 2015).

Angina Pectoris

Faktor Resiko :

a. Obesitas
b. Hipertensi
c. Hyperlipidemia
d. Merokok
e. Emosi
f. Diabetes mellitus
g. Kurang latihan jasmani

Faktor presifitasi :

a. Stress
b. Kerja fisik terlalu berat
c. Hawa dingin
d. Hawa terlalu panas dan lembab
e. Maknan terlalu kenyang

Faktor yang memperberat :

a. Obesitas
b. Hipertensi
c. Anemia
d. Hipertiroidisme
e. Aritmia
f. PPOK
g. Obat – obatan : amfetamin.

7
2.3 Patofisiologi

Infark Miokard Akut

Penyempitan arteri koroner Adanya obstruksi dari embolus


kronis dari aterosklerosis atau trombus

Penurunan suplai oksigen ke otot


jantung

Kerusakan jaringan miokard

Kematian jaringan miokard

Kurang
MIOKARD INFARK Cemas
pengetahuan

Nyeri Perasaan tertindih Mual Pusing Dyspnea


beban yang berat

Nyeri Resiko tinggi terhadap Resiko tinggi terhadap Intoleransi


perubahan perfusi penurunan curah aktivitas
jaringan jantung

(Manurung, nixson, 86 : 2016)

8
Angina Pectoris

Faktor risiko Faktor presipitasi Faktor yang memperberat

Penyempitan pembuluh darah arteri koronari

Aliran darah ke miokard menjadi kurang

Ketidak seimbangan suplai oksigen ke miokard

Ischemia miokard

ANGINA PEKTORIS

Sakit pada daerah Dsipnea Kelemahan Gelisah Ketakutan


dada

Nyeri Penurunan curah Ansietas Kurang pengetahuan


jantung

(Manurung, nixson, 96 : 2016)

9
2.4 Manifestasi Klinis

Infark Miokard Akut

Manifestasi klinis dari infark miokard akut adalah :

1) Nyeri dada yang sering terjadi secara mendadak dan terus tidak teraba biasanya diatas
region sternal bawah dan abdomen bagian atas ini gejala utama.
2) Keparahan nyeri dapat meningkat secara menetap sampai nyeri tidak dapat tertahankan
lagi.
3) Nyeri ini sangat sakit seperti di tusuk-tusuk yang dapat menjalar ke bahu dan terus ke
bawah menuju lengan (biasanya lengan kiri).
4) Nyeri mulai secara spontan (tidak terjadi setelah kegiatan atau gangguan emosional)
menetapkan selama beberapa jam atau hari, dan tidak hilang dengan bantuan istirahat
atau nitrogeliserin (NGT)
5) Nyeri dapat menjalar ke rahang dan leher.
6) Nyeri sering disertai dengan sesak napas, pucat, dingin, diaphoresis berat, pening atau
kepala terasa melayang serta muntah (Margaret, 2012).
7) Nyeri dada, perut, punggung, atau lambung untuk khas.
8) Nyeri dan pusing
9) Sesak napas dan kesulitan napas
10) Kecemasan, kelelahan atau kelemahan yang tidak dapat dijelaskan
11) Palpitasi, keringat dingin dan pucat (Joyce, 2014)

Klasifikasi IMA

Secara morfologis infark miokard akut (IMA) dibedakan atas dua jenis yaitu : Infark
Miokard Akut (IMA) transmural, yang mengenai seluruh dinding miokard dan terjadi pada
daerah distribusi suatu arteri koroner (Price, 2005)

1. Infark Miokard Akut (IMA) sub-endokardial dimana nekrosis hanya terjadi pada bagian
dalam dinding ventrikel dan umumnya berupa bercak-bercak dan tidak konfluens.
2. Infark Miokard Akut (IMA) sub-endokardial dapat regional (terjadi pada distribusi satu
arteri koroner) atau difusi (terjadi pada distribusi lebih dari satu arteri koroner).

10
Berdasarkan kelainan gelombang ST (Sudoyo, 2006)

1. STEMI
Infark Miokard Akut (IMA) dengan elevasi segmen ST (ST elevasion
myocardialinfarcion = STEMI) merupakan bagian dari spectrum sindrom koroner akut
(SKA) yang terdiri dari angina pectoris tak stabil, infark miokard akut (IMA) tanpa
elevasi ST, dan Infark Miokard Akut (IMA) dengan elevasi akut.
2. NSTEMI
Angina pectoris tak stabil (unstable angina = UA) dan miokard akut tanpa elevasi ST
(Non ST elevation myocardial infarction = NSTEMI) diketahui merupakan suatu
kesinambungan dengan kemiripan patofisiologis dan gambaran klinis sehingga pada
prinsipnya penatalaksanaan keduanya tidak berbeda. Diagnose NSTEMI ditegakkan jika
pasien dengan manifestasi klinis UA menunjukkan bukti adanya nekrosis miokard
berupa peningkatan biomarker jantung.

Angina Pectoris

Angina merupakan sindrom klinis yang dicirikan oleh rasa tidak nyaman di jantung, rahang,
bahu, punggung, atau lengan.angina pectoris menghasilkan serangan nyeri substernal atau
precordial yang paroksismal dan transien dengan karakteristik sebagai berikut.

a. Onset
Angina dapat muncul dengan cepat atau lambat. Beberapa klien mengabaikan nyeri dada,
berpikir bahwa nyeri akan hilang sendiri atau itu karena proses pencernaan. Tanyakan apa
yang klien lakukan saat nyeri dimulai
b. Lokasi
Hampir 90% klien mengalami nyeri retrosternum atau sedikit ke sisi kiri dari sternum.
c. Penjalaran
Nyeri biasanya menjalar ke bahu dan lengan atas kiri serta dapat berlanjut kebagian
dalam lengan kiri hingga siku, pergelangan tangan, dan jari keempat atau kelima. Nyeri
juga dapat menjalar ke bahu kanan, leher, rahang, atau daerah epigastrik. Kadang kala
nyeri dapat terasa hanya pada area-area penjalaran dan malah tidak terasan pada dada.
d. Durasi

11
Angina biasanya berlangsung kurang dari 5 menit. Namun, serangan yang dipicu oleh
aktivitas makanan berat atau kemarahan ekstrem dapat berlangsung hingga 15 – 20 menit.
e. Sensasi
Klien menjelaskan rasa nyeri angina seperti diremas, terbakar, tertindih, tersedak, ngilu,
atau seperti mau meledak. Klien sering merasakan nyeri terasa seperti ada udara dalam
saluran cerna, nyeri ulu hati, atau begah. Klien tidak menjelaskan nyeri angina sebagai
nyeri yang tajam seperti pisau.
f. Keparahan
Nyeri angina biasanya ringan atau sedang saja. Sering kali disebut sebagai “rasa tidak
nyaman”, bukna “nyeri”. Sangat jarang nyeri disebut sebagai “parah”
g. Ciri yang berhubungan
Manifestasi lain yang dapat menyertai nyeri antara lain dyspnea, pucat, berkeringat, mau
pingsan, palpitasi, pusing, dan gangguan pencernaan.
h. Faktor pereda dan pemicu
Angina dipicu oleh aktivitas terus-menerus dan kebanyakan serangan angina menghilang
dengan cepat dengan pemberian nitrogliserin dan istirahat. Pola khas “nyeri saat aktivitas
berat, hilang saat istirahat” merupakan petunjuk utama diagnosis angina pectoris.
i. Terapi
Terapi untuk menurunkan kebutuhan jantung, seperti istirahat, atau terapi yang mampu
mendilatasi srteri koroner umumnya akan mengurangi rasa nyeri. Klien mungkin telah
menggunakan nitrogliserin dan klien harus ditanya apakah angina berkurang.

Pola Angina

Angina pectoris dapat dibagi kedalam pola brikut.

a) Angina stabil
- Rasa tidak nyaman sering menyebar ke leher, bahu dan punggung
- Sesak pada saat beraktifitas, kelelahan
- Merasa tidak nyaman pada sternum seperti rasa tertekan
b) Angina tak stabil
- Ciri khas ketidaknyamanan di dada pada angina ini berupa : nyeri dada retrosternal
atau perkordial yang tertekan, sering menyebar ke leher, lengan kiri, dan bahu.

12
- Mual, muntah, palpitasi dan sesak napas
- Gejala terjadi pada saat istirahat atau pada saat beraktifitas ringan
c) Angina varians
- Ketidaknyamanan retrosternal mungkin menyebar ke lengan, leher atau rahang
biasanya terjadi pada saat istirahat, sering terjadi pada waktu pagi.

2.5 Komplikasi Infark Miokard Akut (IMA)

1) Kerusakan jantung
2) Gagal jantung kongestif dan syok kardiogenik
3) Tromboemboli
4) Aritmia
5) Rupture miokardium

2.6 Pemeriksaan Penunjang

Infark Miokard Akut

EKG : Menunjukkan peninggian gelombang S-T

Enzim jantung : CPK-MB meningkat, AST (aspartate aminotransferase) meningkat

Elektrolit : Hipokalemia/hyperkalemia.

Sel darah putih : Leukosit (10.000-20.000).

GDA : Hipoksia

Kolesterol : Meningkat

Ekokardiogram

Angiografi koroner: Menggambarkan penyempitan arteri koroner.

Angina Pectoris

a. Enzim/isoenzim jantung : meningkat, menunjukkan kerusakan miokard


b. Elektro kardio gram (EKG) :

13
Biasanya normal, bila klien istirahat tetapi datar atau depresi pada segmen ST
gelombang T menunjukkan iskemia. Peninggian ST atau penurunan lebih sari 1mm
selama nyeri tanpa abnormalitas bila bebas nyeri menunjukkan iskemia miokard
transien. Disritmia dan blok jantung juga ada.
c. Foto dada :
Biasanya normal, namun infiltrasi mungkin ada menunjukkan dekompensasi jantung
atau komplikasi paru.
d. PCO2 Kalium dan laktat miokard
Mungkin meningkat selama serangan angina (semua berperan dalam iskemia miokard
dan dapat menimbulkannya).
e. Kolesterol/trigliserida :
Mungkin meningkat.

2.7 Penatalaksanaan

Infark Miokard Akut

a. Farmakoterapi
1) Antikoagulan (untuk memecahkan pembekuan baru)
2) Nitrat (untuk mempertahankan vaodilatasi mengurangi afterload dan preload).
3) Agen penghambat saluran kalsium (untuk meningkatkan vasodilatasi dan
mengurangi konstraksi miokard)
4) Penyekat beta-adrenergik (untuk mengurangi kontraktilitas miokard, sehingga
kebutuhan oksigen terpenuhi).
5) Agen Trombolitik (untuk pembekuan darah)
b. Pembedahan
Untuk sakit yang menetap, kronis dan nyeri dada yang berat diperlukan tandur baypass
koroner atau angioplasty koroner transluminal perkutan.
c. Modifikasi diet
Mengurangi natrium dan kolesterol

Angina Pectoris

a. Pengobatan

14
Tujuan pengobatan angina pectoris ialah untuk :
1. Menghilangkan sakit dada
2. Memperbaiki kualitas hidup
3. Memperpanjang umur

Seperti : Nitrat, propranolol, metoprolol, nadolol, atenolol, pindolol, diltiazem,


verapamil, nifedipin.

b. Pembedahan
Tindakan intervensi untuk melebarkan daerah penyempitan dengan memakai balon atau
alat-alat.
c. Faktor risiko harus diperbaiki
d. Gaya hidup yang sehat atau baik
Penyesuaian gaya hidup untuk menghindari faktor presipitas maupun faktor lain yang
dapat memperberat.

2.8 Konsep Asuhan Keperawatan

Infark Miokard Akut

a. Pengkajian
1. Identitas Klien
Resiko penyakit jantung koroner yaitu laki-laki umur diatas 35 tahun dan wanita lebih
dari 50 tahun (William C Shoemarker, 2011)
2. Keluhan utama
Penderita menyatakan nyeri pada dada dan di sertai dengan sesak napas, pucat dingin,
diaphoresis berat, pening atau kepala merasa melayang disertai muntah (rendy, 2011)
3. Riwayat penyakit
Pada pasien infark miokard akut mengeluh nyeri pada bagian dada yang dirasakan
lebih dari 30 menit, nyeri dapat menyebar sampai lengan kiri, rahang dan bahu yang
disertai mual, muntah, badan lemah dan pusing (Ni Luh Gede Y, 2011)
4. Pemeriksaan fisik
Didapatkan tanda-tanda vital, suhu tubuh meningkat dan menurun, nadi meningkat
lebih dari 20 x/menit (Huda Nurarif, Kusuma, 2015)

15
Aktivitas atau Istirahat
Gejala : Kelelahan, kelemahan, tidak dapat tidur, polo hidup tidak menetap,
jadwal olahraga tidak teratur.
Tanda : Takikardia, dyspnea pada istirahat/aktivitas.
Sirkulasi
Gejala : Riwayat IM sebelumnya, penyakit arteri coroner, GJK, masalah TD,
DM.
Tanda TD : Dapat normal atau naik/turun, perubahan postural dicatat dari tidur
sampai duduk.
Nadi : Dapat normal; penuh/takuat atau lemah/kuat kualitasnya dengan
pengisian kapiler lambat; tidak teratur (disritmia) mungkin terjadi.
Bunyi jantung : Bunyi jantung ekstra mungkin menunjukkan gagal jantung/penurunan
kontraktilitas, irama jantung dapat teratur/tidak teratur, kulit pucat atau
sianosis.
Integritas ego
Gejala : Menyangkal gejala, takut mati, perasaan ajal sudah dekat, marah pada
penyakit, kuatir tentang keluarga, kerja, keuangan.
Tanda : Menolak, menyangkal, cemas, kurang kontak mata, gelisah, marah,
perilaku menentang, focus pada diri sendiri.
Eliminasi
Tanda : Normal atau bunyi usus menurun.
Makanan/Cairan
Gejala : Mual, kehilangan nafsu makan, bersendawa, nyeri ulu hati/terbakar.
Tanda : Penurunan turgor kulit, muntah, perubahan berat badan.
Hygiene
Gejala/tanda : Kesulitan melakukan tugas perawatan.
Neurosensori
Gejala : Pusing, berdenyut selama tidur atau saat bangun (duduk atau istirahat).
Tanda : Perubahan mental, kelemahan.
Nyeri

16
Gejala : Nyeri pada dada yang timbulnya mendadak, tidak hilang dengan
istirahat atau nitrogliserin.
Lokasi : Tipikal pada dada anterior, substernal, dapat menyebar ke tangan,
rahang, wajah. Tidak tertentu lokasinya seperti : epigastrium, siku,
rahang, abdomen, punggung, leher.
Kualitas : Menyempit, berat, menetap, tertekan, seperti dapat dilihat.
Intensitas : Biasanya 10 pada skala 1 – 10; mungkin ‘pengalaman nyeri paling
buruk yang pernah dialami’.
Tanda : Wajah meringis, perubahan postur tubuh, menangis, merintih,
meregang, mengeliat, menarik diri, kehilangan kontak mata, perubahan
irama/frekuensi jantung, TD, pernafasan, warna kulit, kesadaran.
Pernafasan
Gejala : Dyspnea dengan/tanpa kerja, diapnea nocturnal, batuk dengan/tanpa
produksi sputum, riwayat merokok, penyakit pernafasan kronis.
Tanda : Peningkatan frekuensi pernafasan, nafas sesak/kuat, pucat atau sianosis,
bunyi nafas : bersih atau krekels/mengi, sputum : bersih, merah muda
kental.
Interaksi social
Gejala : Stress saat ini, kerja, keluarga, kesulitan koping dengan stressor yang
ada.
Tanda : Kesulitan istirahat dengan tenang, respon terlalu emosi, menarik diri
dari keluarga.
b. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri
coroner.
2) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai oksigen miokard
dan kebutuhan.
3) Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
4) Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan
frekuensi, irama, konduksi elektrikal.

17
5) Risiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan
penurunan/penghentian aliran darah.
6) Risiko tinggi terhadap kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan
perfusi organ.
7) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
c. Intervensi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan 1
Tujuan : nyeri hilang/berkurang.
KH: Melaporkan nyeri hilang atau terkontro.
Intervensi :
1. Selidiki keluhan nyeri
2. Perhatikan petunjuk nonverbal dari ketidaknyamanan misal; berbaring dengan
gelisah, menangis.
3. Kaji karakteristik nyeri.
4. Berikan lingkungan yang tenang.
5. Ajarkan tindakan kenyamanan.
6. Berikan aktivitas hiburan yang tepat.
7. Kolaborasi dalam pemberian anti nyeri

Diagnosa Keperawatan 2

Tujuan : aktivitas dapat ditoleransi.

KH: melaporkan tidak adanya angina, mendemonstrasikan peningkatan toleransi aktivitas


yang dapat diikuti.

Intervensi :

1. Catatan frekuensi jantung, irama, perubahan TD sebelum, selama, sesudah aktivitas


sesuai indikasi.
2. Tingkatkan istirahat. Batasi aktivitas.
3. Batasi pengunjung.
4. Jelaskan pola peningkatan aktivitas secara bertahap.

18
Angina Pectoris

a. Pengkajian
Aktivitas/istirahat
Gejala : Pola hidup monoton, kelemahan,perasaan tidak berdaya setelah
latihan,kelelahan, nyeri dada bila bekerja, menjadi terbangun bila nyeri.
Tanda : Dyspnea saat kerja,
Sirkulasi
Gejala : Riwayat penyakit jantung, hipertensi, kegemukan.
Tanda : Takikardia, disritmia,tekanan datrah normal, meningkat atau menurun,
bunyi jantung; mungkin normal, kulit atau membrane mukosa lebab.
Dingin, pucat pada adanya vasokontriksi.
Makanan/cairan
Gelaja : Mual, nyeri ulu hati/epigastrium saat makan, diet tinggi
kolesterol/lemak, garam, kafein, minuman keras.
Tanda : Ikat pinggang sesak, distensigaster.
Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : Nyeri dada substrenal, anterior yang menyebar ke rahang, leher, bahu
dan esktermitas atas ( lebih pada kiri dari pada kanan ) ,
Durasi : Biasanya kurang dari 15 menit, kadang – kadang lebih dari 30 menit
( rata – rata 3 menit ).
Kualitas : Ringan samapi sedang, tekanan berat, tertekan, terjepit, terbakar.Faktor
pencetus : nyeri sehubungan dengan kerja fisik atau emosi besar, seperti
marah atau hasrat seksual, oalahraga pada suhu ekstrim, faktor
penghilang : nyeri mungkin responsive terhadap mekanisme penghilang
tertentu ( contoh ; istirahat, obat antiangina ), nyeri dada baru atau terus
menerus yang telah berubah frekuensi, durasinya, karakter atau dapat di
perkirakan ( contoh ; tidak stabil, berfariasi ).
Tanda : Wajah berkerut, meletakan pergelangan tangan pada midsternum,
memijat tangan kiri, tegangan otot, gelisah, respon otomatis : contoh,
takikardia, perubahan TD.
Integritas Ego

19
Gejala : Sterssor kerja, keluarga dan lain-lain
Tanda : Ketakutan, mudah marah.
Pernapasan
Gejala : Dispnea saat kerja, riwayat meroko.
Tanda : Meningkat pada frekuensi /irama dan gangguan kedalaman.
b. Diagnosis keperawatan
1) Nyeri berhubungan dengan gangguan suplai oksigen pada aliran darah koroner
jantung
2) Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan ionotropik jantung
3) Cemas berhubungna dengan perubahan status kesehatan.
4) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
c. Intervensi keperawatan
Diagnosa Keperawatan 1
Tujuan : Nyeri hilang/berkurang
KH: Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol.
Intervensi :
1. Selidiki keluhan nyeri
2. Perhatikan petunjuk non verbal dari ketidak nyamanan misal; berbaring dengan
gelisah, menangis
3. Kaji karakteristik nyeri
4. Berikan lingkungan yang tenang
5. Ajarkan tindakan kenyamanan
6. Berikan aktivitas hiburan yang tepat
7. Kaloborasi dalam pemberian anti nyeri

20
BAB III
STUDI KASUS

Tn. F usia 21 tahun dibawa ke IGD di RSUD Serang dengan diagnosis Infark Miokard Akut
(IMA). Hasil pengkajian klien mengalami keluhan nyeri dada dan sesak. Rasa nyeri dada
menjalar ke bahu dan terus ke bawah lengan kiri, rasa nyeri yang dirasakan oleh klien seperti
ditusuk-tusuk, dan hilang timbul. Rasa nyeri yang dirasakan klien timbul ketika melakukan
aktivitas dan tidak hilang dengan istirahat. GCS : 4 5 6 CRT:< 2 detik, SPO2 : 98%, TD : 130/80
mmHg, N : 80 x/menit, RR : 28 x/menit, S : 36 o C

21
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN

4.1 Pengkajian
1. Identitas Klien
Nama : Tn.F
Umur : 21 Tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Karyawan
Status Perkawinan : Belum Menikah
Alamat : Walantaka, Serang
Suku/Bangsa : Indonesia
Tanggal MRS : 27 Agustus 2019
Tanggal Pengkajian : 28 Agustus 2019
Jam Pengkajian : 11.00 WIB
No.RM : 407XXXX
Diagnose masuk : Infark Miokard Akut (IMA)
Identitas Penanggung Jawab
Nama : Ny. M
Hubungan : Istri
Pekerjaan : PNS
Agama : Islam
Alamat : Walantaka, Serang
2. Riwayat Penyakit
Keluhan Utama : Klien menyatakan nyeri dada dan sesak
Riwayat Penyakit Sekarang : Klien mengatakan saat dirumah pukul 22.00 WIB klien
mengatakan nyeri dada yang menjalar ke bahu dan ke
bawah lengan kiri dan tidak hilang saat beristirahat.
Klien pun merasakan sesak. Pukul 14.00 WIB klien
dibawa ke IGD RSUD Serang.

22
P : Nyeri timbul saat beraktivitas
Q: Nyeri seperti di tusuk-tusuk
R: Nyeri timbul didada yang menjalar ke bahu dan
bawah lengan kiri
S: Skala Nyeri 6
T: Nyeri hilang timbul
Riwayat Penyakit Dahulu : Klien mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit
dahulu.
Riwayat Keluarga : Klien mengatakan tidak mempunyai penyakit keturunan
Riwayat Alergi : Klien mengatakan tidak mempunyai riwayat alergi
3. Perubahan Pola Kesehatan (Pendekatan Sistem)
Pola Nutrisi : Di rumah : klien makan 1 porsi sedang sebanyak 3 kali
sehari
Di rumah sakit : klien makan 3 kali sehari 1 porsi habis
Pola Eliminasi : Di rumah : klien BAB 1 kali dalam 2 hari, BAK 2-3 kali
sehari
Di rumah sakit : BAB 1 kali dalam 2 hari, BAK 780cc
dalam 24 jam
Pola Istirahat – Tidur : Di rumah : tidur malam mulai pukul 22.00-04.00 WIB
Di rumah sakit : tidur malam mulai pukul 21.00-02.00
WIB, tidur siang pukul 11.00-12.00 WIB sering
terbangun
Pola Aktivitas : Di rumah : mandiri
Di rumah sakit : istirahat total, aktivitas dibantu perawat
dan keluarga
Pola Reproduksi Seksual : Klien belum menikah
Pola Penanggulangan Stres : Saat ada masalah klien selalu membicarakan bersama
dengan orang tuanya
4. Pemeriksaan Fisik (Pendekatan system)
Suhu : 36 oC
Nadi : 80 x/menit

23
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Respiratori Rate : 28 x/menit
SPO2 : 98%
Glascow Coma Scale :456
Kesadaran : Composmentis
Keadaan Umum : Lemah
GDA : 176 mg/dl
Pemeriksaan Fisik
B1 breathing : Inspeksi : bentuk dada simetris, nafas pendek dan cepat
RR : 28 x/menit
Palpasi : nyeri tekan epigastrium
Perkusi : sonor (paru-paru kanan dan kiri normal)
Auskultasi : suara napas normal (vesikuler), tidak ada
suara napas tambahan
B2 blood : Inspeksi : bentuk dada simetris
Palpasi : nyeri tekan epigastrium, Nadi 80 x/menit,
Auskultasi : tidak ada bunyi napas tambahan, tekanan
darah 130/80 mmHg, S1 S2 tunggal
B3 brain : Inspeksi : kesadaran 4 5 6, composmentis keadaan umum
lemah
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
B4 bladder : Inspeksi : terpasang kateter
Palpasi : tidak ada nyeri tekan dibagian suprapubik
B5 bowel : Inspeksi : bentuk simetris
Palpasi : nyeri tekan bagian epigastrium
Perkusi : timphani
Auskultasi : bising usus normal
B6 bone : Inspeksi : tidak ada oedema, terpasang infus RL sebelah
kanan

5 5
5 5

24
Palpasi: tidak ada nyeri tekan

Data psikososial spiritual : Klien mengatakan sering mengikuti pengajian dan arisan
disekitar lingkungan rumah.
5. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan EKG 12 lead
Pemeriksaan Thorax AP
6. Pemeriksaan laboratorium
Kalium 3,92
Darah lengkap otomatis
Hemoglobin 15,4
Lekosit 8,400
Hematocrit 47,5
Eritrosit 5.440.000
Trombosit 422.000
Kimia klinik
Glukosa sewaktu 176
Kreatinin serum 0,97
Urea 18,9
SGOT 24
SGPT 22
Natrium 140
Klorida 108
7. Terapi Obat
Infus RL 500cc/24 jam
Injeksi furosemide 1x40 mg
Injeksi pumpicel 1x40 mg
Injeksi arixtra 1x2,5 mg
Peroral :
ISDN 3x5 mg

25
ASA 1x80 mg
CPG 1x75 mg
8. Analisa data

Data Etiologi Masalah Keperawatan


DS : klien menyatakan Penyempitan arteri koroner Nyeri
nyeri dada dan sesak kronis dari aterosklerosis

DO : Penurunan suplai oksigen


ke otot jantung
Keadaan umum : lemah
Kesadaran : composmentis
Kerusakan jaringan
GCS : 4 5 6 CRT:< 2 detik
miokard
SPO2 : 98%
TTV
TD : 130/80 mmHg
Kematian jaringan miokard
N : 80 x/menit
RR : 28 x/menit
S : 36 o C
P : Nyeri timbul saat Perasaan tertindih beban
yang berat
beraktivitas
Q : Nyeri seperti ditusuk-
tusuk
R : Nyeri timbul didada Nyeri

yang menjalar ke bahu dan


kebawah lengan kiri
S : skala nyeri 6
T : Nyeri hilang timbul
DS : klien menyatakan Adanya obstruksi dari Intoleransi Aktivitas
nyeri dada dan sesak embolus atau thrombus

DO : Penurunan supali oksigen


Keadaan umum : lemah ke otot jantung

26
Kesadaran : composmentis
GCS : 4 5 6 CRT:< 2 detik Kerusakan jaringan
SPO2 : 98% miokard
TTV
TD : 130/80 mmHg Kematian jaringan miokard
N : 80 x/menit
RR : 28 x/menit Dispnea
S : 36 o C
P : Nyeri timbul saat Intoleransi aktivitas
beraktivitas
Q : Nyeri seperti ditusuk-
tusuk
R : Nyeri timbul didada
yang menjalar ke bahu dan
kebawah lengan kiri
S : skala nyeri 6
T : Nyeri hilang timbul

4.2 Diagnosis Keperawatan

Nyeri akut berhubungan dengan ketidak seimbangan suplai darah dan oksigen dengan
kebutuhan miokardium

4.3 Intervensi

Diagnosis Tujuan Intervensi


Nyeri Nyeri Hilang/Berkurang 1) Selidiki keluhan nyeri
2) Perhatikan petunjuk nonverbal dari
Kriteria hasil : ketidak nyamanan misal ; berbaring
Melaporkan nyeri hilang dengan gelisah, menangis
atau terkontrol 3) Kaji karakteristik nyeri
4) Berikan lingkungan yang tenang
5) Ajarkan tindakan kenyamanan.

27
6) Berikan aktivitas hiburan yang tepat
7) Kolaborasi dalam pemberian anti nyeri
Intoleransi Aktivitas dapat ditoleransi 1) Catat frekuensi jantung, irama,
Aktivitas perubahan TD sebelum, selama, sesudah
Kriteria Hasil : aktivitas sesuai indikasi.
Melaporkan tidak adanya 2) Tingkatkan istirahat. Batasi aktivitas
angina, mendemonstrasikan 3) Batasi pengunjung
peningkatan toleransi 4) Jelaskan pola peningkatan aktivitas
aktivitas yang dapat diikuti. secara bertahap

BAB V

28
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Infark Miokard Akut (IMA) adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh karena
sumbatan pada arteri koroner. Sumbatan akut terjadi oleh karena adanya aterosklerotik pada
dinding arteri koroner sehingga menyumbat aliran darah ke jaringan otot jantung (Black &
Joyce, 2014). Iskemia yang berlangsung lebih dari 30 – 45 menit akan menyebabkan
kerusakkan seluler yang irreversibel dan kematian otot atau nekrosis. Bagian miokardium
yang mengalami infark atau nekrosis akan berhenti berkontraksi secara permanen.

Angina pectoris adalah nyeri dada yang terjadi akibat kurangnya aliran darah yang
teroksigenasi ke otot jantung. (Marlene Hurst, 2018). Angina pektoris bersifat transien,
berlangsung hanya sekitar 3-5 menit. Jika aliran darah di perbaiki, maka tidak terjadi
kerusakan miokardium permanen.

5.2 Saran

Dengan makalah ini saya harap agar mahasiswa dapat mengetahui tentang keperawatan
medical bedah Infark Miokard dan Angina Pektoris. Meskipun hasilnya dari materi masih
banyak yang harus diperbaiki.

29
DAFTAR PUSTAKA

SDKI DPP PPNI, Tim Pokja. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Edisi 1. Jakarta
Selatan : Dewan Pengurus Pusat.

SIKI DPP PPNI, Tim Pokja. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Edisi 1. Jakarta
Selatan : Dewan Pengurus Pusat.

Herdman & Kamitsuru. (2015). Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi. Jakarta : EGC.

Black, M Joyce & Hawk, Hokanson Jane. (2014). Keperawatan Medikal Bedah Manajemen
Klinis Untuk Hasil Yang Diharapkan Edisi 8 Buku 3. Singapore : Elsevier.

Manurung, Nixson. (2016). Aplikasi Asuhan Keperawatan Sistem Kardiovaskuler. Jakarta : TIM

Pranata, Andi Eka & Prabowo, eko. (2017). Keperawatan Medikal Bedah Dengan Gangguan
Sistem Kardiovaskuler. Yogyakarta : Nuha Medika

30