Anda di halaman 1dari 71

A.

Pengertian Metodologi Penelitian Pendidikan Biologi (MPPB)


Untuk memahami pengertiannya, istilah Metodologi Penelitian Pendidikan
Biologi, yang panjang ini, perlu dipecah ke dalam komponen-komponennya.
Metodologi Penelitian Pendidikan Biologi atau MPPB dapat dipecah menjadi tiga
pragmen, ialah metodologi, penelitian, dan pendidikan biologi. Secara terpilah,
masing-masing pragmen diuraikan berikut.

1. Metodologi
Metodologi merupakan berbagai prinsip atau peraturan dasar mengenai
prosedur yang penting, yang digunakan oleh pelaku kajian dalam suatu disiplin ilmu.
Dengan demikian, metodologi tidak saja berkenaan dengan cara atau prosedur,
melainkan juga mencakup definisi, instrumen, dan prinsip-prinsip lain dalam
mengerjakan, atau melakukan kajian tertentu. Cakupan atau wilayah kajian, waktu
melakukan kajian, dan aspek yang dikaji adalah merupakan contoh metodologi,
disamping cara dan langkah-langkah pengkajian.
Kothari C.R (2004) memposisikan metodologi sebagai cabang ilmu logika yang
berkaitan dengan prinsip umum pembentukan pengetahuan (knowledge). Terkait
dengan posisi ini, metododologi banyak membahas mengenai metode dan teknik
terkait dengan pembentukan pengetahuan. Namun demikian, metodologi sering
disederhanakan sebagai sistem/urutan langkah untuk mengerjakan sesuatu. Bahkan
beberapa sumber menyamakan metodologi sebagai sistem metode.
Meskipun, secara umum, metodologi dapat digunakan untuk semua cabang
ilmu, namun, berbagai metode untuk pengukuran sering dikembangkan secara
spesifik, sesuai dengan kebutuhan bidang ilmu tertentu. Sebagai contoh pengukuruan
aspek kemampuan kognitif peserta didik bersifat sangat spesifik, dan berbeda sangat
jauh dengan prinsip atau langkah dalam pengukuran panjang suatu benda; diperlukan
upaya-upaya khusus. Upaya penjaminan dan peningkatan presisi pengukuran
kuantitatif yang melibatkan perubahan atau penemuan cara pengukuran, sering
disebut sebagai teknik (technique).
Metodologi, dalam pengkajian di bidang ilmu (science) sering dikaitkan dengan
pendekatan ilmiah, ini artinya macam langkah, prosedur, dan prinsip-prinsip yang
dimuat di dalam metodologi dikaitkan dengan sifat-sifat ilmu (Kothari C.R, 2004).
Dengan demikian, metodologi yang digunakan dalam Ilmu mempunyai sebutan
khusus, yang kemudian dikenal sebagai metode ilmiah. Metode Ilmiah (Scientific

1
Method) sendiri, adalah merupakan prinsip dan proses empiris penemuan dan
peragaan yang berkait dengan karakteristik penyelidikan ilmiah, yang secara umum
melibatkan pengamatan fenomena, formulasi hipotesis yang berkenaan dengan
fenomena yang diamati, eksperimentasi untuk membuktikan kebenaran atau
kesalahan hipotesis, dan menarik kesimpulan yang mengkonfirmasikan atau
memodifkasi hipotesis. Dalam metode ilmiah, statistika menjadi sarana yang
menyediakan alat/cara pengumpulan data, formulasi hipotesis, pengujian hipotesis
dan penarikan kesimpulan.

2. Penelitian
Penelitian merupakan proses mencari pengetahuan secara sistimatis, rasional,
dan objektif menggunakan metode ilmiah serta aturan yang berlaku. Penelitian
merupakan suatu usaha sistematis dan objektif untuk menemukan sesuatu yang dapat
dipercaya. Berbagai produk ilmu seperti konsep, prinsip, dan teori, serta prosedur-
prosedur keilmuan yang baru dapat ditemukan melalui penelitian. Penelitian dilakukan
untuk menemukan atau penemuan, berarti data yang diperoleh dari penelitian itu
adalah data yang betul-betul baru yang sebelumnya belum pernah diketahui. Hasil
penelitian dapat membantu memahami sesuatu, berarti memperjelas suatu fenomena
atau informasi yang tidak diketahui sebelumnya dan atau menghasilkan fakta-fakta
atau konsep-konsep baru.
Penelitian juga bekerja pada produk ilmu dan prosedurnya yang sudah ada.
Melalui penelitian, produk-produk ilmu dan prosedurnya dapat direvisi, diverifikasi,
dan disempurnakan. Data-data baru dari tempat dan waktu berbeda, dapat digunakan
untuk membuktikan reliabilitas, kehandalan, atau kebenaran temuan, konsep, prinsip,
atau prosedur yang telah ada sebelumnya. Sehingga penelitian merupakan proses
verifikasi atau pembuktian, terhadap keragu-raguan atas informasi atau pengetahuan
tertentu yang telah ada. Perubahan konteks akibat perbedaan ruang dan waktu,
memungkinkan terjadinya keraguan akan kebenaran keilmuan, yang perlu dijawab
melalui kegiatan verifikatif ini.
Selain untuk mencari, menemukan, menambah pengetahuan, dan
memverifikasi, penelitian juga merupakan suatu usaha yang sistematis dan
terorganisasi untuk memecahkan suatu permasalahan. Dalam definisi ini, penelitian
merupakan proses penerapan konsep, prinsip, atau prosedur yang sudah ada guna
meminimalkan atau menghilangkan masalah yang dihadapi.
Indriantoro & Supomo, (1999: 16), mendefinisikan penelitian sebagai refleksi
dari keinginan untuk mengetahui sesuatu berupa fakta-fakta atau fenomena alam.
Perhatian atau pengamatan awal terhadap fakta atau fenomena merupakan awal dari
kegiatan penelitian yang menimbulkan suatu pertanyaan atau masalah. Penelitian

2
pada dasarnya merupakan pekerjaan sistematis dengan tujuan untuk memperoleh
pengetahuan yang bemanfaat untuk menjawab pertanyaan atau memecahkan
masalah dalam kehidupan seharihari (Indriantoro & Supomo, 1999: 16).
Menurut Tejo Yuwono (1991), metodologi penelitian adalah ilmu tentang
kerangka kerja melaksanakan penelitian yang bersistem. Bersistem di sini mempunyai
makna bahwa penelitian dikerjakan secara kontekstual. Konteks penelitian tersusun
atas unsur-unsur a) filsafat, yang menjadi pangkal beranjak pemikiran, b) berpikir, yang
membangun gagasan dasar dan konsep, c) nalar, menjalankan proses pemahaman
persoalan yang menjadi buah telaah, dan selanjutnya menjalankan proses penarikan
kesimpulan, d) takrif, yang membuat batasan pengertian tentang lambang sebagai
abstraksi objek, atau tentang konsep sebagai abstraksi ujud, dan e) asumsi, yang
menjadi latar belakang hipotesis dan mengisi hipotesis dengan suatu implikasi
tertentu.

3. Pendidikan Biologi (PB)


Pendidikan biologi merupakan disiplin ilmu tersendiri, setara dengan
pendidikan fisika, pendidikan matematika, pendidikan kimia, biologi, kedokteran, dsb.
Sebagai disiplin ilmu, pendidikan biologi mempunyai objek, persoalan, dan metode
pemecahan persoalan tertentu yang sering sangat spesifik, sehingga sekaligus menjadi
ciri khas keilmuan pendidikan biologi.
Sebagai disiplin keilmuan tersendiri, Pendidikan Biologi jelas tidak sama
dengan biologi, tidak sama pula dengan pendidikan. Kawasan Pendidikan Biologi
distrukturisasikan berikut.

• Pengorganisasian bio sbg


• Belajar dari makhluk hidup bahan ajar
• Belajar untuk hidup • Penyusunan prog instruks
• Belajar meningkatkan hidup
• Penyajian materi

• Pembelajaran dg berbagai
metode/model
• Pembel. dg berbagai sumb. belj.
• Pembel. dg. Berbagai media Ket: TPB= Teknologi Pendidikan
(Biologi)

Gambar 1. Struktur Keilmuan Pendidikan Biologi (Dimodifikasi dari Djohar (2000)

3
Dari struktur tersebut, terlihat bahwa kawasan atau lingkup Pendidikan
Biologi merupakan interaksi antara unsur biologi, siswa, dan teknologi pendidikan.
Pendidikan Biologi tidak hanya berbicara mengenai biologi, mengenai biologi kaitannya
dengan TPB, atau biologi kaitannya dengan peserta didik, tidak cukup juga berbicara
mengenai unsur peserta didik kaitannya dengan teknologi pendidikan, melainkan
berbicara mengenai kemampuan tertentu siswa kaitannya dengan materi biologi dan
menggunakan teknologi pendidikan tertentu, atau berbicara mengenai biologi dan
teknologi pendidikan serta peruntukannya bagi unsur tertentu siswa. Pendidikan
Biologi juga dapat mempertanyakan mengenai teknologi pendidikan tertentu untuk
membantu siswa menguasai materi tertentu biologi. Interaksi antara unsur biologi,
siswa, dan teknologi pendidikan ini, merupakan objek kajian Pendidikan Biologi.

Jadi, dalam MPPB bukan saja dibahas mengenai metode-metode penelitian di


bidang pendidikan biologi, melainkan juga prinsip-prinsip dan peraturan-peraturan
terkait dengan penelitian di bidang ini. Dengan kata lain, MPPB dapat diartikan
sebagai matakuliah yang membahas mengenai peraturan dasar, prinsip, atau sistem
metode penerapan pendekatan ilmiah dalam rangka menemukan pengetahuan baru
dan atau memecahkan persoalan-persoalan di bidang pendidikan biologi (PB).

B. Persoalan-persoalan yang dipecahkan dalam MPPB


Persoalan yang dipecahkan melalui MPPB terkait dengan objeknya, ialah
interaksi antara unsur biologi, siswa, dan teknologi pendidikan. Kondisi riil/aktual yang
terjadi pada komponen-komponen PB dan interaksinya, kaitannya dengan kondisi
idealnya, dapat dilihat kesenjangannya. Kesenjangan antara kondisi aktual dan dan
ideal dari komponen-komponen PB tersebut merupakan permasalahan yang dapat
dipecahkan melalui MPPB.
Dari Gambar 2 tentang kaitan biologi dan pendidikan biologi berikut, kegiatan
penting, ialah strukturisasi materi biologi menjadi bahan ajar melalui pembuatan peta
konsep dan identifikasi konsep-konsep esensial, memberikan peluang munculnya
berbagai persoalan penelitian. Demikian juga kegiatan proses instruksional,
menumbuhkan berbagai ide penelitian, mengingat berbagai persoalan yang dapat
teridentifikasi dalam proses ini.

4
PENDIDIKAN BIOLOGI

BIOLOGI DALAM PENDIDIKAN

K BT S AT

BI0 STR PK KE BA PI HASIL

SD Inst.
SLTP L
P M
SLTA

STRUKTURISASI PROSES INSTRUKS.


Keterangan :
: Biologi STR : Strukturisasi Inst. : Instruksional K : Kurikulum
PK : Peta Konsep S : Siswa dan Karakteristiknya BT : Buku Teks
: Intervensi KE : Konsep Esensial P : Pendekatan dan Proses AT : Aspek Tujuan
BA : Bahan Ajar M : Media
: Kegiatan PI : Proses Instruksional L : Lingkungan

Gambar 2. Kaitan Biologi dan Pendidikan Biologi (Dimodifikasi dari Djohar (2000)

Referensi dan Rujukan


Ary Donald, Jacobs, L.C, Razavich, A. 1982. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan.
(Terjemahan oleh Arief Furchan). Surabaya: Usaha Nasional.
Kothari C.R. 2004. Research Methodology: Methods and Techniques. Delhi: New Age
International Ltd
Nur Indriantoro dan Bambang Supomo. 1999. Metodologi Penelitian Bisnis untuk
Akuntansi dan. Manajemen. Edisi Pertama. Yogyakarta: Penerbit BPFE.
Singarimbun Masri & Sofyan Effendi. 1987. Metodologi Penelitian Survai. Yogyakarta:
LP3ES
Sukardi. (2008). Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta:
Bumi Aksara.
Tejo Yuwono. 18991. Metodologi Penelitian dan Beberapa Implikasinya dalam
Penelitian Geografi. Makalah Seminar Aplikasi Penelitian Geografi untuk
Perencanaan Pengembangan Wilayah. Yogyakarta:
Wiersma,William. (1995). Research Methods in Education: an Introduction. Boston:
Allyn and Bacon.

5
A. Lingkup atau Jenis-jenis Penelitian
Ada berbagai macam atau jenis penelitian. Karena banyaknya, penyebutan,
penamaan, dan penggunaan jenis-jenis penelitian ini sering overlap. Berikut akan
diuraikan pembagian jenis atau macam penelitian ini menurut sumbangannya pada
ilmu, tujuan/kegunaannya, metode, jenis datanya. dan menurut tingkat eksplanasinya.

1. Jenis Penelitian menurut Sumbangannya pada Ilmu


Menurut sumbangan hasilnya terhadap ilmu, penelitian terdiri dari tiga jenis,
ialah: eksploratoris, konstruktif, dan empiris.

a. Penelitian Eksploratoris (Exploratory Research)


Penelitian eksploratoris diarahkan untuk mengkaji fenomena-fenomena atau
permasalahan-permasalahan di bidang ilmu tertentu. Melalui proses penelitian ini,
permasalahan dapat diidentifikasi dan distrukturisasi dengan baik. Penelitian
eksploratoris dapat disebut sebagai sebuah jenis metode penelitian dasar yang
bergantung pada bahan sekunder, seperti dokumen-dokumen yang telah ada.
Penelitian ini belum menargetkan hasil berupa kesimpulan, karena akar permasalahan
belum dapat dideskripsikan dengan baik. Jenis penelitian ini digunakan untuk
merumuskan agenda penelitian (rancangan dan jadwal kegiatan), pemilihan atau
penentuan subjek, dan pengumpulan informasi.

b. Penelitian Konstruktif (Constructive Research)


Penelitian konstruktif digunakan untuk memberikan berbagai solusi untuk
suatu problem tertentu. Jenis penelitian ini banyak digunakan dalam penelitian ilmu
komputer. Di mana kesimpulan-kesimpulan akhirnya harus terdefinisi dengan jelas.
Kata construct dapat berupa berbabagai pengembangan baru yang dibangun oleh
penelitian ini, baik berupa prosedur atau algorithm, software, teori, maupun model.
Pengembang biasanya dapat bekerja dari rumah dan melakukan penelitian konstruktif
untuk merumuskan program-program dan aplikasi-aplikasi.

c. Penelitian Empiris (Empirical Research)


Di dalam penelitian ilmiah, seluruh temuan atau kesimpulan harus bersifat
empiris, yang harus didasarkan bukti-bukti yang tersedia dan didukung oleh fakta.
Oleh karenannya, penelitian empiris mengandung informasi yang diperoleh atau
berasal dari pengalaman (empiris). Jenis penelitian empiris bisa hanya berupa

6
observasi sederhana untuk memberikan fakta-fakta yang rinci bagi studi kasus sampai
dengan berupa peneltian untuk menguji teori tertentu melalui eksperimen dalam
konteks-konteks yang lebih realistik. Penelitian empiris dapat diarahkan untuk
menghasilkan bukti-bukti empiris sebagai solusi bagi suatu problem.

2. Jenis Penelitian menurut Tujuan/Kegunaannya


a. Penelitian murni, ialah penelitian yang dilakukan atau diarahkan sekedar untuk
memahami masalah keilmuan secara mendalam dan hasil penelitian tersebut
untuk pengembangan ilmu itu sendiri atau berupa penelitian untuk menghasilkan
prosedur terkait dengan proses keilmuan.
b. Penelitian terapan, ialah penelitian yang diarahkan untuk mendapatkan informasi
yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah atau menghasilkan sesuatu
yang diperlukan manusia.

3. Jenis Penelitian menurut Metode (Pendekatan)


a. Penelitian observasi, ialah penelitian yang bertujuan mendeskripsikan objek,
menurut keadaan sebenarnya, tanpa melakukan intervensi apapun terhadap objek
ini. Dari penelitian ini dapat diperoleh kesimpulan berupa kejadian-kejadian
relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan antar-variabel.
b. Penelitian ex post facto, ialah suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti
peristiwa yang telah terjadi dan kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui
faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya kejadian tersebut.
c. Penelitian eksperimen, ialah suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh
variabel tertentu terhadap variabel yang lain dalam kondisi yang terkontrol secara
ketat. Melalui penelitian ini dapat dikaji keefektifan suatu faktor terhadap suatu
variabel tertentu yang melekat pada objek.
d. Penelitian naturalistik sering juga disebut metode kualitatif yaitu metode
penelitian yang digunakan untuk menganalisis suatu fenomena pada kondisi objek
alamiah, yang berangkat dari fakta-fakta.
e. Penelitian kebijakan (policy research), ialah suatu proses penelitian yang
dilakukaan terhadap masalah-masalah sosial yang mendasar, sehingga temuannya
dapat direkomendasikan kepada pembuat keputusan untuk bertindak dalam
menyelesaikan masalah.
f. Penelitian tindakan (action research), ialah penelitian yang bertujuan untuk
mengembangkan kinerja dan metode kerja yang paling efisien. Contoh: penelitian
tindakan kelas untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran pada
matapelajaran tertentu dalam jenjang pendidikan tertentu.
g. Penelitian evaluasi, ialah penelitian yang berfungsi untuk menjelaskan fenomena
suatu kejadian, proses dan produk. Penelitian ini juga sering dilakukan untuk

7
melihat kekurangan dan atau kelebihan suatu program yang sudah berjalan
terutama dengan menggunakan data-data produk dari program tersebut.
h. Penelitian sejarah (historis), ialah penelitian yang berkenaan dengan analisis yang
logis terhadap kejadian-kejadian yang berlangsung di masa lalu.
i. Penelitian dan pengembangan (R&D), ialah penelitian yang dilakukan bukanlah
untuk menemukan teori, melainkan penelitian yang bertujuan untuk menghasilkan
atau mengembangkan suatu produk.

4. Jenis Penelitian menurut Jenis Data dan Analisisnya


a. Penelitian kualitatif, ialah peneltian yang menggunakan data kualitatif (data yang
berbentuk data, kalimat, skema, dan gambar), dan tidak menggunakan uji-uji
statistik untuk menganalisis data
b. Penelitian kuantitatif, ialah penelitian yang menggunakan data kuantitatif (data
yang berbentuk angka atau data yang diangkakan. dan menggunakan uji-uji
statistik untuk menganalisis data.

5. Jenis Penelitian menurut Tingkat Eksplanasinya


a. Penelitian deskriptif, ialah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai
variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independent) tanpa membuat
perbandingan, atau menghubungkan antara varibel yang satu dengan yang lain.
Contoh: penelitian yang berusaha menjawab bagaimanakah profil guru biologi,
bagaimanakah etos kerja dan prestasi kerja guru biologi bersertifikat guru
profesional di Kabupeten X.
b. Penelitian komparatif, ialah suatu penelitian yang bersifat membandingkan.
Contoh: adakah perbedaan profil presiden Indonesia dari waktu ke waktu, adakah
perbedaan kemampuan kerja di laboratorium antara lulusan MAN dengan SMA.
c. Penelitian asosiatif, ialah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan
dua variabel atau lebih. Contoh: adakah hubungan antara tingkat kesulitan materi
pelajaran biologi dengan kinerja guru biologi.

B. Metode-Metode (Pendekatan) Penelitian dalam Pendidikan (Biologi)


Pada dasarnya metode atau pendekatan penelitian dalam bidang pendidikan,
termasuk pendidikan biologi, sama dengan pada dunia non-kependidikan. Namun,
beberapa metode yang biasa atau banyak digunakan pada penelitian di bidang murni
tidak biasa digunakan pada penelitian di bidang pendidikan. Beberapa metode juga
mempunyai modifikasi baik sekedar istilah sampai dengan ke beberapa aspek
metodologis. Metode penelitian yang biasa digunakan dalam penelitian di bidang
pendidikan biologi, yang akan dibahas secara lebih rinci dalam diktat ini adalah sebagai
berikut.

8
a. Penelitian survei, ialah penelitian sampling yang menggunakan angket sebagai
instrumen utamanya. Dari penelitianini dapat diperoleh kesimpulan berupa
kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan antar-variabel.
Contoh: penelitian untuk mengungkap tanggapan siswa terhadap kegiatan
outdoor sebagai salah satu bentuk kegiatan pembelajaran biologi di SMA.
b. Penelitian ex post facto, ialah suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti
peristiwa yang telah terjadi dan kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui
factor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya kejadian tersebut.
c. Penelitian eksperimen, ialah suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh
variabel tertentu terhadap variabel yang lain dalam kondisi yang terkontrol secara
ketat. Terdapat tiga bentuk metode eksperimen yaitu pre-experimental, quasi
experimental, dan true experimental.
d. Penelitian tindakan (action research), ialah penelitian yang bertujuan untuk
mengembangkan kinerja dan metode kerja yang paling efisien. Contoh: penelitian
tindakan kelas untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran pada
matapelajaran tertentu dalam jenjang pendidikan tertentu.
e. Penelitian dan pengembangan (R&D), ialah penelitian yang dilakukan bukanlah
untuk menemukan teori, melainkan penelitian yang bertujuan untuk menghasilkan
atau mengembangkan suatu produk.

Referensi dan Rujukan


Ary Donald, Jacobs, L.C, Razavich, A. 1982. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan.
(Terjemahan oleh Arief Furchan). Surabaya: Usaha Nasional.
Paul Suparno. (2007). Metode Penelitian Pendidikan Fisika. Yogyakarta: Universitas
Sanata Dharma.
Singarimbun Masri & Sofyan Effendi. 1987. Metodologi Penelitian Survai. Yogyakarta:
LP3ES
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D. Bandung: Alfabeta.
Sukardi. (2008). Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta:
Bumi Aksara.
Sumanto. 1996. Metodologi Penelitian Sosial dan pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset
Tejo Yuwono. 18991. Metodologi Penelitian dan Beberapa Implikasinya dalam
Penelitian Geografi. Makalah Seminar Aplikasi Penelitian Geografi untuk
Perencanaan Pengembangan Wilayah. Yogyakarta:
Wiersma,William. (1995). Research Methods in Education: an Introduction. Boston:
Allyn and Bacon.

9
A. Pendahuluan
Mengingat metodologi penelitian tidak saja membahas mengenai prosedur
penelitian, namun juga peraturan, prinsip, dan konsep-konsep penting yang digunakan
oleh pelaku kajian dalam suatu disiplin ilmu, maka beberapa prinsip dan konsep ini
perlu dibahas sebelum membahas metode-metode penelitian secara lebih mendalam.
Peraturan, prinsip, dan konsep-konsep penting ini secara operasional digunakan oleh
peneliti di dalam melakukan proses penelitiannya (Gambar 2).
Dalam bab ini akan dibahas beberapa prinsip dan istilah yang sering harus
ditetapkan dan didefinisikan terlebih dahulu dalam suatu metode penelitian, ialah
populasi, sampel, dan teknik sampling, kemudian juga akan diurai pengertian, makna,
dan contoh-contoh dari variabel.

Problem Discovery Discovery and


and Definition Definition

and so on
Research
Design Conclusions and
Report

Sampling
Data Processing
and Analysis
Data
Gathering

Gambar 2. Proses Penelitian (diadaptasi dari Uma S., 1992; Donal R. Cooper, 2001)

B. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi kejadian yang terdiri atas objek/subjek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi bukan hanya makhluk
hidup, seperti pengertian populasi dalam tingkatan organisasi kehidupan (dalam
biologi), tetapi juga objek/benda-benda dan peristiwa alam yang menjadi interes
peneliti. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang
dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dipelajari oleh objek atau
subjek itu. Menurut Babbie (1983), populasi adalah elemen yang hidup dan tinggal

10
bersama-sama dan secara teoritis menjadi target hasil penelitian. Selanjutnya menurut
Sukardi (2008: 53), populasi adalah semua anggota kelompok manusia, binatang,
peristiwa, atau benda yang tinggal bersama dalam satu tempat dan secara terencana
menjadi target kesimpulan dari hasil akhir suatu penelitian. Populasi dapat berupa
guru, siswa, kurikulum, fasilitas, lembaga sekolah, hubungan sekolah dan masyarakat,
karyawan perusahaan, jenis tanaman hutan, jenis padi, kegiatan marketing, hasil
produksi dan sebagainya. Jika yang ingin diteliti faktor-faktor yang mempengaruhi
kinerja guru biologi SMA seKabupaten Bantul misalnya, maka populasinya adalah
seluruh guru biologi SMA di Kabupaten Bantul, atau jika ingin meneliti kualitas
penampilan seorang dosen jurusan pendidikan biologi ketika memberikan pelatihan
teknik laboratorium pada para guru, maka populasinya adalah seluruh guru yang
pernah mengikuti pelatihan tersebut.
Populasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu populasi target dan
populasi akses. Populasi target adalah populasi yang direncanakan dalam suatu
penelitian. Populasi target ini dapat berupa jumlah guru atau jumlah objek yang
ditetapkan oleh peneliti atau yang berada secara pasti di suatu wilayah. Orang-orang
atau benda yang dapat ditemui ketika dalam penentuan jumlah populasi berdasarkan
keadaan yang ada disebut populasi akses atau populasi yang dapat ditemui. Populasi
target dan populasi akses yang paling baik adalah sama besar, tetapi peneliti juga
dapat mencapai hasil baik, jika populasi akses yang dicari mencapai 80% sampai 100%
dari populasi target.

B. Sampel
Sampel atau cuplikan adalah bagian dari jumlah dan atau karakteristik yang
dimiliki oleh suatu populasi. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin
mempelajari semua yang ada pada populasi, karena keterbatasan dana, tenaga, dan
waktu maka peneliti dapat menggunakan sampel, sebagai cuplikan jumlah, yang
diambil dari populasi itu. Salah satu syarat yang harus dipenuhi sampel adalah bahwa
sampel harus representatif dari populasi. Populasi yang dapat diambil sampelnya
adalah populasi akses, yaitu sejumlah anggota populasi yang ditemui di lapangan.
Syarat yang paling penting untuk diperhatikan dalam mengambil sampel ada dua
macam, yaitu jumlah anggota sampel (ukuran sampel) mencukupi ukuran sampel
minimal dan profil sampel representatif terhadap profil populasinya. Untuk itu perlu
dipilih teknik pengambilan sampel (teknik sampling) yang tepat. Subjek/objek pada
sampel yang diteliti, hasilnya dianalisis, disimpulkan, dan kesimpulan itu berlaku untuk
seluruh populasi (populasi target dan populasi akses).

11
Berikut ini adalah gambar diagram posisi dan alur pemikiran antara populasi
target, populasi akses, dan sampel.

Sampel

Populasi Populasi
Akses Target

Sampel

Gambar 3. Hubungan Populasi dan Sampel

C. Menentukan Ukuran Sampel


Jumlah anggota sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel (n). Jumlah
sampel yang diharapkan 100% mewakili populasi adalah sama dengan anggota
populasi itu sendiri. Jadi misalnya jumlah anggota populasi adalah 2.000 dan hasil
penelitian itu akan diberlakukan untuk 2.000 orang tersebut tanpa ada kesalahan,
maka ukuran sampel yang diambil sama dengan ukuran populasi tersebut yaitu 2.000
orang. Makin besar ukuran sampel mendekati populasi maka peluang kesalahan
generalisasi semakin kecil dan sebaliknya makin kecil ukuran sampel menjauhi populasi
maka makin besar kesalahan generalisasi.
Jika ukuran populasi terlalu besar, maka peneliti dapat mengambil sebagian
dari ukuran total populasi, sebagai sampel atau cuplikan. Sedangkan untuk ukuran
populasi kecil, sebaiknya seluruh populasi digunakan sebagai sampel, semua digunakan
sumber pengambilan data. Sebagian dari populasi yang terpilih untuk penelitian,
jumlahnya harus memenuhi syarat mewakili populasi yang ada.
Berapa ukuran sampel (jumlah anggota sampel) yang paling tepat digunakan
dalam penelitian? Jawabannya bahwa ada kaidah statistik dalam menentukan jumlah
subjek penelitian. Kaidah tersebut adalah semakin besar ukuran sampel yang
digunakan dalam studi/penelitian semakin kuat dan merefleksikan keadaan populasi
yang ada. Jika keadaan populasi homogen atau mempunyai karakteristik sama maka
ukuran sampel dapat lebih kecil. Sebagai contoh dalam penelitian eksperimen, seorang
mahasiswa Prodi Biologi dapat mengambil beberapa bahan seperti biji kedelai, anak
ayam leghorn (COD), atau lembar daun lamtoro sebagai sampel penelitian. Mereka
dapat mengambil beberapa biji/ekor/lembar saja karena sudah ketentuan bahwa
bahan adalah homogen untuk satu jenis material sehingga syarat representatif
terhadap populasi sudah dapat dipenuhi.

12
Untuk penelitian sosial (termasuk pendidikan dan politik) yang berkaitan
dengan masyarakat yang mempunyai karakteristik heterogen, pengambilan sampel
lebih sulit, harus memenuhi dua syarat yaitu besar/ukuran sampel minimal dan
keterwakilan, akibat heterogenitas anggota populasi penelitian-penelitian sosial ini.
Walaupun pemakaian jumlah subjek yang besar itu sangat dianjurkan, namun
seorang peneliti mempunyai tiga keterbatasan yaitu waktu yang sempit, kemampuan
menganalisis terbatas, dan keterbatasan biaya guna menyelesaikan proses penelitian
secara komprehensif. Kondisi yang demikian menuntut peneliti untuk mencari
alternatif lain, agar penelitian efisien, terjangkau, dan fisibel, tetapi tetap memenuhi
aturan statistik; ialah menentukan ukuran sampel minimal.
Berikut ini adalah beberapa cara untuk menentukan ukuran sampel minimal,
untuk penelitian.

1. Dengan Menggunakan Persentase


Penjelasan di bagian terdahulu menunjukkan bahwa semakin besar ukuran
sampel semakin baik kualitas data yang akan diperoleh. Apabila subjeknya kurang dari
100, sebaiknya diambil semua sehingga penelitian merupakan penelitian populasi atau
sensus. Tetapi apabila jumlah subjeknya (populasi) besar, ukuran sampel dapat
ditentukan dengan persentase, seperti 10%, 15%, 20%, 25% atau lebih. Pilihan ini
sangat tergantung dari: 1) kemampuan peneliti (waktu, tenaga, dan biaya), 2) sempit
dan luasnya wilayah pengamatan, karena menyangkut banyak sedikitnya data yang
diperoleh, 3) besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti.

2. Dengan Menggunakan Rumus Statistik dan Tabel Teknis


Penggunaan dasar persentase untuk menentukan ukuran sampel memang
sangat kasar, kurang memperhitungkan tingkat kesalahan. Slovin (Uma Sekaran, 1992;
Nugraha S., 2007: 6-10) mengembangkan rumus statistik untuk menghitung ukuran
minimal sampel dari suatu populasi yang sudah memperhitungkan taraf kesalahan.
Temuan Slovin ini dirumuskan berikut.

N
n = 
N.d2 + 1

di mana:
n = ukuran sampel
N = ukuran populasi
d = derajat ketepatan atau kesalahan pendugaan

13
Berangkat dari rumus Slovin tersebut, Krejcie dan Morgan (Uma Sekaran, 1992)
menyusun tabel statistik untuk membantu para peneliti dalam menghitung atau
menentukan ukuran sampel penelitiannya. Tabel yang selanjutnya terkenal sebagai
Tabel Krejcie dan Morgan ini disajikan sebagai tabel 1 berikut.

Tabel 1. Tabel Krejcie dan Morgan untuk Menentukan Ukuran Sampel Minimal dari
suatu Populasi

Populasi Sampel Populasi Sampel Populasi Sampel


(N) (n) (N) (n) (N) (n)
10 10 220 140 1200 291
15 14 230 144 1300 297
20 19 240 148 1400 302
25 24 250 152 1500 306
30 28 260 155 1600 310
35 32 270 159 1700 313
40 36 280 162 1800 317
45 40 290 165 1900 320
50 44 300 169 2000 322
55 48 320 175 2200 327
60 52 340 181 2400 331
65 56 360 186 2600 335
70 59 380 191 2800 338
75 63 400 196 3000 341
80 66 420 201 3500 346
85 70 440 205 4000 351
90 73 460 210 4500 354
95 76 480 214 5000 357
100 80 500 217 6000 361
110 86 550 226 7000 364
120 92 600 234 8000 367
130 97 650 242 9000 368
140 103 700 248 10000 370
150 108 750 254 15000 375
160 113 800 260 20000 377
170 118 850 265 30000 379
180 123 900 269 40000 380
190 127 950 274 50000 381
200 132 1000 278 75000 382
210 136 1100 285 1000000 384

14
Rumus Slovin dan Tabel Kresjie & Morgan tersebut belum memperhatikan
besar derajat ketepatan atau kesalahan pendugaan yang bisa diterima untuk sampel
yang akan diteliti. Issac & Michael (Sukardi, 2004: 55; Nugraha S., 2007)
mengembangkan rumus statistik untuk menentukan ukuran minimal sampel dari
populasi tertentu dengan tingkat kesalahan 1%, 5%, dan 10%. Rumus yang dianjurkan,
untuk menentukan ukuran sampel minimal dari populasi yang diketahui ukurannya
adalah:

2
λ
.N.P.(I – P)
n = ───────────
d2 (N-I) + λ2 P (I – P)

di mana: n = Ukuran sampel


N= Ukuran populasi
P = Proporsi populasi sebagai dasar asumsi pembuatan tabel. Harga ini
diambil P = 0,50.
d = Derajat ketepatan yang direfleksikan oleh kesalahan yang dapat
ditoleransi dalam fluktuasi proporsi sampel (P), d umumnya diambil
0,05
2
λ = Nilai tabel chi-square untuk satu derajat kebebasan (dk) relatif level
konfiden yang diinginkan X2 = 3,841 tingkat kepercayaan 0,95.

Berangkat dari rumus tersebut, Isaac & Michael juga mengembangkan tabel
teknis. Tabel ini dapat digunakan sebagai salah satu acuan penentuan ukuran sampel
minimal dari populasi berukuran mulai dari 10 sampai 1.000.000, dengan taraf
kesalahan 1%, 5 %, dan 10 %. Tabel Isaac & Michael ini ditunjukkan sebagai Tabel 2
berikut.

Tabel 2. Tabel Isaac & Michael untuk Menentukan Ukuran Sampel Minimal dari
Populasi dengan α 1%, 5 %, dan 10 %

n n N
N N N
1% 5% 10% 1% 5% 10% 1% 5% 10%
10 10 10 10 280 197 151 138 2800 537 310 247
15 15 14 14 290 202 158 140 3000 543 312 248
20 19 19 19 300 207 161 143 3500 558 317 251
25 24 23 23 320 216 167 147 4000 569 320 254
30 29 28 27 340 225 172 151 4500 578 323 255
35 33 32 31 360 234 177 155 5000 586 326 257
40 38 36 35 380 242 182 158 6000 598 329 259
45 42 40 39 400 250 186 162 7000 606 332 261

15
Tabel 2. Lanjutan Tabel Isaac & Michael

n N N
N N N
1% 5% 10% 1% 5% 10% 1% 5% 10%
50 47 44 42 420 257 191 165 8000 613 334 263
55 51 48 46 440 265 195 168 9000 618 335 263
60 55 51 49 460 272 198 171 10000 622 336 263
65 59 55 53 480 279 202 173 15000 635 340 266
70 63 58 56 500 285 205 176 20000 642 342 267
80 71 65 62 600 315 221 187 40000 563 345 269
85 75 68 65 650 329 227 191 50000 655 346 269
90 79 72 68 700 341 233 195 75000 658 346 270
95 83 75 71 750 352 238 199 100000 659 347 270
100 87 78 73 800 363 243 202 150000 661 347 270
110 94 84 78 850 373 247 205 200000 661 347 270
120 102 89 83 900 382 251 208 250000 662 348 270
130 109 95 88 950 391 255 211 300000 662 348 270
140 116 100 92 1000 399 258 213 350000 662 348 270
150 122 105 97 1050 414 265 217 400000 662 348 270
160 129 110 101 1100 427 270 221 450000 663 348 270
170 135 114 105 1200 440 275 224 500000 663 348 270
180 142 119 108 1300 450 279 227 550000 663 348 270
190 148 123 112 1400 460 283 229 600000 663 348 270
200 154 127 115 1500 469 286 232 650000 663 348 270
210 160 131 118 1600 477 289 234 700000 663 348 270
220 165 135 122 1700 485 292 235 750000 663 348 271
230 171 139 125 1800 492 294 237 800000 663 348 271
240 176 142 127 1900 498 297 238 850000 663 348 271
250 182 146 130 2000 510 301 241 900000 663 348 271
260 187 149 133 2200 520 304 243 950000 663 348 271
270 192 152 135 2600 529 307 245 1000000 664 349 272

(Sumber: Sugiyono, 2009: 87)

Dalam Tabel tersebut terlihat bahwa makin besar taraf kesalahan maka akan
semakin kecil ukuran sampel. Sebagai contoh (lihat tabel 2) untuk populasi 500, pada
taraf kesalahan 1% ukuran sampelnya 285, untuk taraf kesalahan 5%, ukuran
sampelnya 205, dan untuk taraf kesalahan 10%, ukuran sampelnya 176. Dari tabel
tersebut juga terlihat bahwa bila ukuran populasi 10.000 maka ukuran sampelnya

16
berturut-turut untuk kesalahan 1% = 664, untuk kesalahan 5% = 349, dan untuk
kesalahan 10% = 272.
Penentuan ukuran sampel menurut cara ini, didasarkan atas asumsi bahwa
sampel berdistribusi normal (populasi heterogen). Bila sampel tidak berdistribusi
normal atau populasi homogen maka cara tersebut tidak perlu dipakai. Misalnya untuk
benda (logam) homogen, ukuran sampel sekecil apapun sudah bisa mewakili. Contoh
menentukan ukuran sampel, adapun penelitian yang dilakukan adalah untuk
mengetahui tanggapan mahasiswa baru UNY terhadap kebijakan rektor mengenai tata
cara berpakaian. Kelompok mahasiswa ini terdiri 5.000 orang mahasiswa baru 2011,
yang dapat dikelompokan menjadi beberapa kelompok menurut jalur PMB, ialah: Jalur
SNMPTN = 2500 mahasiswa, jalur SM = 2000 orang, jalur PKS = 400 orang, dan jalur
kerjasama = 100 orang (populasi berstrata).
Dengan menggunakan tabel 1 tersebut, bila ukuran populasi 5.000 orang,
kesalahan yang dipilih 5%, maka ukuran sampel 326. Karena Populasi berstrata maka
sampel juga berstrata. Stratanya ditentukan menurut jalur PMB. Dengan demikian
masing-masing sampel untuk jalur PMB harus proporsional sesuai dengan populasi.
Jadi ukuran sampel dapat ditentukan sebagai berikut:
SNMPTN = 2500/5000 x 326 = 163
SM = 2000/5000 x 326 = 130.4 dibulatkan = 130
PKS= 400/5000 x 326 = 26.08 dibulatkan = 26
Kerjasama = 100/5000 x 326 = 6.52 dibulatkan = 7

Tabel 3. Ukuran Populasi dan Sampel


No Jalur Populasi Sampel
1. NMPTN 2500 163
2. SM 2000 130
3. PKS 400 26
4. Kerjasama 100 7
Total 5000 326

Jadi ukuran sampelnya adalah 163 + 130 + 26 + 7 = 326; ada 326 mahasiswa yang akan
menjadi objek/sasaran/responden dalam penelitian ini.

3. Dengan Nomogram Harry King.


Nomogram Harry King, ukuran populasi maksimum 2.000, dengan taraf
kesalahan yang bervariasi, mulai 0.3% sampai dengan 15%, dan faktor pengali yang
disesuaikan dengan taraf kesalahan yang ditentukan (lihat grafik). Dalam nomogram

17
terlihat conf. Int. (interval kepercayaan) untuk 80% faktor pengali 0,780; untuk 85%
faktor pengali 0,785; untuk 95% faktor pengali 1,195; dan untuk 99% faktor pengali
1,573. Sebagai contoh, dari populasi berukuran 200, dengan tingkat kepercayaan
sampel terhadap populasi (yang dikehendaki) sebesar 95% atau tingkat kesalahan 5%,
maka ukuran sampel yang diambil adalah 0,58 x 200 x 1,195 = 138,62 orang atau
dibulatkan 139 orang. Untuk lebih jelas, lihat grafik nomogram Harry King berikut.

18
UKuran Populasi
Persentase populasi yang
Persentase populasi

diambil sebagai sampel


4 yang diambil sebagai

Taraf kesalahan
di atas 15%
100

150

(%) 200
90
NOTE: 300
Chart shows 90% confidence
Values only: multiple the determine
400
R or E value by
multiplication factors bellow for 500
Other confidence intervals 600
Conf. Int. Mult. Fact. 700
80% 0.780 800
85% 0.875 900
95% 1.195
99% 1.573

Taraf kesalahan yang


dikehendaki (%)`

Gambar 4. Nomogram Harry King (dimodifikasi dari Sugiyono, 2009: 89)

D. Teknik Sampling
Teknik sampling adalah merupakan cara pengambilan sampel dari populasi.
Untuk menentukan ukuran sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat
berbagai teknik sampling yang digunakan. Teknik sampling pada dasarnya dapat
dikelompokkan menjadi dua yaitu: Probability Sampling dan Nonprobability Sampling.

1. Probability Sampling
Ada empat macam teknik pengambilan sampel dengan probability sampling
(probabilitas sampling). Keempat teknik pengambilan sampel tersebut yaitu: cara acak,
stratifikasi, klaster, dan sistematis.

a. Sampling Acak Sederhana (Simple Random Sampling)


Pada teknik sampling ini, secara teoritis semua anggota dalam populasi
mempunyai probabilitas atau kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel.
Untuk mendapat responden yang hendak dijadikan sampel, satu hal yang harus

19
diketahui oleh para peneliti adalah jumlah responden yang ada dalam populasi.
Pengambilan anggota sampel dari populasi secara acak tanpa memperhatikan strata
yang ada dalam populasi. Cara ini dilakukan dengan menganggap anggota populasi
adalah homogen/relatif homogen (lihat gambar).

Populasi (relatif) Sampel yg


homogen diambil secara representatif
acak

Gambar 5. Pengambilan sampel representatif

Teknik pemilihan secara acak (random sampling) dapat dilakukan dengan


manual atau tradisional dan dengan menggunakan tabel random.

1) Cara tradisional
Teknik ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagi berikut:
a) indentifikasi ukuran total populasi
b) tentukan jumlah respoden/sampel dari populasi yang dapat ditemui
c) daftar senua anggota dalam populasi masukan dalam kotak yang telah diberi
lubang penarikan
d) kocok kotak dan keluarkan lewat lubang
e) nomor anggota yang keluar adalah mereka yang ditunjuk sebagai sampel
dalam penelitian
f) lakukan terus sampai jumlah yang diinginkan tercapai.

2. Menggunakan Tabel Bilangan Acak (Random Number Table)


Proses pemilihan subjek dilakukan dengan menggunakan tabel bilangan acak
yang telah diakui manfaatnya dalam teori penelitian. Tabel ini terdiri dari kolom dan
baris dengan angka-angka acak yang dibuat oleh komputer. Cara ini dapat dilakukan
dengan langkah-langkah taktis sebagi berikut:
a) Kenali total anggota populasi/ukuran populasi (untuk populasi berhingga,
misalnya 300)
b) Tentukan ukuran sampel yang diinginkan (misalnya 50)
c) Daftar semua anggota yang masuk sebagai populasi, berikan semua anggota
dengan nomor kode yang sesuai, misalnya 000 – 299 (populasi berukuran 300).
d) Pilih angka secara acak (misalnya dengan mata tertutup menjatuhkan ujung
pensil ke tabel). Cermati angka yang terdekat dengan bekas ujung pensil,
sebagai titik awal, misalnya angka 9 (baris ke 5 kolom ke 6).

20
e) Untuk ukuran populasi 300 (ratusan), gunakan tiga digit/angka ke belakang dari
titik awal tersebut (dalam hal ini angka 926 sebagai angka pertama), berikutnya
angka kedua adalah 3 digit yang ada tepat di bawahnya (417), dst. Daftarlah
semua angka 3-digitan ini ke bawah dan ke kanan.
f) Tandai/Pilih 3-digitan yang bernilai kurang dari 300. Semua angka 3digitan yang
bernilai kurang dari 300 merupakan angka terpilih (anggota sampel). Misalnya
untuk populasi berukuran 300 tersebut, maka angka terpilih 278 masuk sebagai
individu sampel, sedang angka 375 tidak masuk sebagai individu sampel.
g) Lakukan pengambilan 3-digitan tersebut sampai memperoleh sejumlah angka
terpilih sesuai ukuran sampel yang diinginkan (misalnya 50).

Tabel 2. Tabel Bilangan Acak (Random Number Table)

b. Sampling Stratifikasi (Stratified Sampling)


Dalam penelitian pendidikan maupun penelitian sosial lainnya, seringkali
ditemui kondisi populasi yang ada terdiri dari beberapa lapisan atau strata dengan
karakteristik yang berbeda. Di masyarakat populasi berupa kelompok masyarakat yang
terdiri dari petani, pedagang, tukang, pegawai negeri, pegawai swasta, dan lain
sebagainya. Keadaan populasi yang demikian akan tidak tepat dan tidak terwakili, jika
digunakan teknik acak. Teknik yang paling tepat dan mempunyai akurasi tinggi adalah

21
teknik sampling dengan cara stratifikasi. Teknik stratifikasi ini harus digunakan sejak
awal peneliti mengetahui bahwa kondisi populasi terdiri atas beberapa anggota yang
memiliki stratifikasi atau lapisan yang berbeda antara satu dengan lainnya.Teknik
stratifikasi mempunyai langkah-langkah untuk menentukan sampel yang diinginkan
yaitu:
a) Kenali ukuran total populasi
b) tentukan ukuran sampel yang diinginkan
c) daftar semua anggota yang termasuk sebagi populasi
d) pisahkan anggota populasi sesuai dengan karakteristik strata yang dimiliki
e) pilih sampel dengan menggunakan prinsip acak seperti yang diketahui pada
random sampling
f) lakukan langkah pemilihan pada setiap lapisan/strata yang ada, sampai ukuran
sampel tercapai.

c. Sampling Klaster (Cluster Sampling)


Teknik klaster atau area ini memiliki sampel bukan didasarkan pada individu
tetapi lebih didasarkan pada kelompok, daerah, atau kelompok subjek yang secara
alami berkumpul bersama. Teknik klaster sering digunakan oleh peneliti di lapangan
yang wilayah penelitiannya sangat luas. Teknik sampling area ini sering digunakan
melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap
berikutnya menentukan orang-orang/subjek-subjek yang ada pada daerah itu secara
acak. Teknik klaster mempunyai beberapa langkah sebagai berikut:
a) Kenali populasi yang hendak digunakan dalam penelitian
b) tentukan besar sampel yang diinginkan
c) tentukan dasar logika untuk menentukan klaster
d) perkirakan jumlah rata-rata subjek yang ada pada setiap klaster
e) daftar semua subjek dalam setiap klaster dengan membagi antara ukuran sampel
dengan klaster yang ada
f) secara random pilih jumlah anggota sampel yang diinginkan untuk setiap klaster
ukuran sampel adalah jumlh klaster dikalikan jumlah anggota populasi per klaster.

d. Sampling Sistematis (Systematic Sampling)


Sampling sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari
anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri
dari 40 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut yaitu nomor 1 sampai dengan
nomor 40. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja,
atau kelipatan dari bilangan tertentu. Misalnya kelipatan bilangan tiga, maka sampel

22
yang diambil adalah nomor 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 27, 30, 33, 36, dan 39. Tetapi
angka pertama ditentukan secara acak (tidak selalu dari 3, bisa juga dari 6, 9, bahkan
dari 5, 4, 2, dan 1.

2. Nonprobability Sampling
Nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak
memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk
dipilih menjadi sampel. Teknik pemilihan sampel ini meliputi: sampling kuota, sampling
aksidental, sampling purposif, dan sampling snowball.

1. Sampling Kuota (Quota Sampling)


Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang
mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Sebagai contoh
penelitian tentang pendapat masyarakat terhadap prosedur pendaftaran mahasiswa
baru di UNY. Misalnya ukuran sampel yang ditentukan 500 orang calon mahasiswa
baru UNY. Bila pengumpulan data belum sampai 500 orang, maka penelitian
dipandang belum selesai, karena belum memenuhi kuota yang ditentukan.Sampling
kuota ini banyak digunakan dalam dunia pers, seperti mereka ingin mendapatkan
tingkat popularitas seorang pemimpin, atau mereka ingin mengetahui kinerja suatu
badan yang dibentuk oleh pemerintah, dan sebagainya.

2. Sampling aksidental (Accidental Sampling)


Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan
atau accidental sampling. Siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti
dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang/subjek itu cocok sebagai
sumber data. Misalnya seorang peneliti berdiri di pintu gerbang utama kampus UNY,
dan menanyakan setiap mahasiswa UNY yang kebetulan lewat dipintu gerbang
tersebut dari jam 8.00 sampai jam 10.00 pagi. Pekerjaan itu diulangi beberapa hari
dengan waktu dan tempat yang sama sampai informasi yang dicari dirasakan telah
menjawab permasalahan penelitian yang direncanakan.

3. Sampling Purposif (Purposive Sampling)


Sampling purposif adalah teknik penentuan sampel berdasarkan pada tujuan
tertentu. Sebagai contoh, peneliti memilih guru biologi SMA untuk memperoleh
informasi tentang keefektifan praktik laboratorium di sekolahnya masing-masing.
Sampel ini lebih cocok digunakan pada penelitian kualitatif, atau penelitian yang tidak
melakukan generalisasi.

23
4. Sampling Snowball (Snowball Sampling)
Sampling snowball adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula ukurannya
kecil, kemudian membesar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih seseorang
menjadi anggota sampel, misalnya responden A dan dijadikan sebagai narasumber.
Setelah selesai ditanya, responden A merekomendasi B dan C, B ditanya oleh peneliti
kemudian merekomendasi D, E. Sedang responden C, memberikan rekomendasi
kepada F, G. Begitu seterusnya sehingga peneliti memperoleh ukuran sampel sesuai
dengan yang direncanakan. Gambar berikut merupakan bagan snowball sampling.

B C

D E F G

H I J K L M N O

Gambar 6. Snowball Sampling

D. Variabel
1. Pengertian Variabel dan Macamnya
Variabel berasal dari kata “vary” dan “able” yang berarti “berubah” dan
“dapat”. Jadi, secara harfiah variabel berarti dapat berubah, sehingga setiap variabel
dapat diberi nilai dan nilai itu berubah-ubah. Nilai tersebut bisa kuntitatif (terukur dan
atau terhitung, dapat dinyatakan dengan angka) juga bisa kualitatif (jumlah dan derajat
atributnya yang dinyatakan dengan nilai mutu).
Variabel merupakan element penting dalam masalah penelitian. Dalam
statistik, variabel didefinisikan sebagai konsep, kualitas, karakteristik, atribut, atau
sifat-sifat dari suatu objek (misalnya orang, benda, dan tempat) yang nilainya berbeda-
beda antara satu objek dengan objek lainnya dan sudah ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan ditarik kesimpulannya.
Karakteristik adalah ciri tertentu pada obyek yang kita teliti, yang dapat
membedakan objek tersebut dari objek lainnya, sedangkan objek yang karakteristiknya
sedang kita amati dinamakan satuan pengamatan dan angka atau ketegori (nilai mutu)
tertentu dari suatu objek yang kita amati dinamakan variate (nilai). Kumpulan nilai
yang diperoleh dari hasil pengukuran atau penghitungan suatu variabel dinamakan
dengan data.
Karakteristik yang dimiliki suatu pengamatan keadaannya berbeda-beda
(berubah-ubah) atau memiliki gejala yang bervariasi dari satu satuan pengamatan ke
satu satuan pengamatan lainnya, atau, untuk satuan pengamatan yang sama,

24
karakteristiknya berubah menurut waktu atau tempat. Apabila karakteristik setiap
satuan pengamatan semuanya sama, tidak beragam, maka bukan lagi merupakan
variabel, melainkan konstanta.
Sebagai contoh, apabila kita sedang mempelajari sekelompok anak-anak, maka
anak-anak ini sebuah konsep, bukan variabel. Apabila kita tertarik untuk mengukur
tinggi badannya, berat, usia, menentukan jenis kelamin, dan sebagainya, berarti kita
sudah berbicara tentang variabel, karena nilainya bisa beragam dari anak ke anak.
Untuk kepentingan penelitian, sebuah konsep perlu dijabarkan menjadi satu atau
beberapa variabel.
Misalnya saja tentang konsep anak-anak tadi, di antara sekian karakteristik
yang bisa diukur, kita lebih tertarik untuk mengukur tinggi beratnya, maka:
• Konsep: adalah anak-anak.
• Karakteristik: karakteristik yang sedang kita amati adalah tinggi badan anak.
• Variabel: karena berat setiap anak bisa bervariasi, maka tinggi badan merupakan
variabel.
• Satuan pengamatan: satuan pengamatannya adalah masing-masing Anak (setiap
individu),
• Nilai (variate/data): tinggi badan yang terukur dari setiap anak dinamakan
variate atau nilai.
Contoh kasus lain misalnya, jika kita sedang mempelajari sekelompok tanaman
tomat (konsep), variabel-variabel berikut mungkin menjadi pertimbangan kita: tinggi,
lebar, jumlah daun, dan jumlah buah, dan berat tomat. Contoh variabel lainnya
adalah warna mata, IQ, tingkat pendidikan, status sosial, metode mengajar, jenis
pupuk, jenis varietas, jenis obat, semuanya adalah variabel karena karakteristiknya
berbeda-beda.
Karakteristik dari suatu variabel harus beragam atau berubah-ubah. Sebaliknya,
jika karakteristik semuanya sama, maka satuan pengamatan tersebut bukan lagi
variabel, melainkan konstanta. Konstanta adalah angka tertentu yang nilainya selalu
tetap pada semua kondisi, misalnya kecepatan cahaya, gaya gravitasi, dsb. Namun
demikian, suatu variabel bisa saja menjadi konstanta apabila nilainya di buat sama.
Misalnya, jenis kelamin adalah variabel, namun apabila satuan pengamatan yang kita
amati hanya dibatasi pada jenis kelamin perempuan saja, maka jenis kelamin berubah
menjadi konstanta, karena nilainya sama pada semua kondisi.
Konsep-konsep yang sudah diterjemahkan menjadi satuan yang sudah kita
anggap lebih operasional (variabel dan konstruk), biasanya belum sepenuhnya siap
untuk diukur. Karena variabel dan konstruk tersebut memiliki alternatif dimensi yang

25
bisa diukur dengan cara berlainan. Contoh tentang variabel usia/umur. Cara
pengukuran variabel tersebut bisa saja berbeda, pertama mungkin Anda mengukur
usianya langsung secara numerik, misalnya 4, 12.5, 18, 31 tahun dst, atau bisa saja
Anda mengukur berdasarkan kategori, misalnya Balita (0-5 th), Anak-anak (5 – 14),
Remaja (14 – 24), Dewasa (25 – 54), Tua (55-64), dan Lansia (>65) tahun.
Definisi operasional, sering diperlukan untuk menjelaskan variabel. Definisi
operasional adalah aspek penelitian yang memberikan informasi atau petunjuk kepada
kita tentang bagaimana caranya mengukur suatu variabel. Informasi ilmiah yang
dijelaskan dalam definisi operasional sangat membantu peneliti lain yang ingin
melakukan penelitian dengan menggunakan variabel yang sama, karena berdasarkan
informasi itu, ia akan mengetahui bagaimana caranya melakukan pengukuran terhadap
variabel yang dibangun berdasarkan konsep yang sama. Dengan demikian, ia dapat
menentukan apakah tetap menggunakan prosedur pengukuran yang sama atau
diperlukan pengukuran yang baru.

2. Pembagian Variabel
Variabel bisa dibagi berdasarkan: Perananan, cara pengukuran, dan bisa
tidaknya diukur secara langsung.

a. Berdasarkan Fungsi/Peranannya dalam Penelitian


Dalam penelitian kuantitatif, variabel yang telah didefinisikan secara
operasional, biasanya dibagi menjadi variabel bebas (independen: aktif atau atribut),
variabel tergantung (dependent variable), dan variabel asing/ekstra/tambahan
(extraneous) yang bukan merupakan subjek dari penelitian yang sedang dipelajari dan
berada di luar pengamatan/kajian utama penelitian. Pemahaman tentang variabel
extraneous ini sangat penting, karena variabel ini bisa saja bersaing dengan Variabel
Bebas dan bisa mengacaukan/membingungkan dalam menjelaskan pola hubungan
antara Variabel Bebas dan variabel dependent. Oleh karena itu, dalam menentukan
hubungan sebab akibat, kita seharusnya mengidentifikasi ada tidaknya variabel
extraneous yang terbukti dapat mempengaruhi variabel dependent. Apabila ada,
maka variabel ekstraneous tersebut disebut dengan variabel confounding. Variabel
confounding sebaiknya di kontrol atau dimasukkan ke dalam model. Apabila tidak, kita
tidak akan yakin bahwa perubahan variabel tergantung tersebut hanya disebabkan
oleh variabel bebas saja.
Untuk memahami variabel-variabel dalam penelitian, sebagai contoh kasus,
apabila kita ingin melihat pengaruh pemberian dosis pupuk yang berbeda terhadap
pertumbuhan tanaman, maka:

26
Variabel => Pertumbuhan tanaman
Tergantung
Variabel Bebas => Dosis Pupuk
Variabel => Varietas/Kultivar
Extraneous Jenis Pupuk
Tingkat Kesuburan Tanah
Jenis Tanah
Ukuran Petak/Pot
Penyinaran Matahari
Temperatur
Kelembaban
Kandungan Air Tanah
Serangan Hama/Penyakit
dsb..

b. Berdasarkan Cara (Skala) Pengukuran


Berdasarkan cara pengukuran atau skala pengukuran, variable dibedakan dua
kelompok, ialah variable kuantitatif dan variable kualitatif.
1). Kuantitatif (diskrit/kontinyu)
o Rasio (ada nol mutlak, artinya nol bermakna tidak ada)
Contoh: jumlah anak hewan mamalia
o Interval (angka nol arbriter, merupakan nilai bagian dari skala).
Contoh: suhu tubuh manusia
2). Kualitatif
o Ordinal, artinya nilai variabel berjenjang atau ada tingkatan
Contoh: tanggapan siswa terhadap model pembelaj. biologi yang diterapkan guru
o Nominal, artinya nilai variabel tidak berjenjang atau tidak ada tingkatan.
Contoh: jenis kelamin.

Var. Kualitatif
(Nominal, Ordinal)

Variabel

Var. Kuantitatif
Diskret
(Interval, Rasio)

Kontinu

Gambar 7. Posisi variabel menurut skala Pengukurannya

27
c. Berdasarkan bisa/tidaknya diukur secara langsung
Berdasarkan suatu variable dapat langsung diukur/diamati atau tidak, variable
dibedakan dibedakan sebagai variabel teramati dan variabel laten
1). Variabel teramati (observed variable)

o Dapat langsung diamati/diukur

o Contoh: umur, jenis kelamin, berat badan

2). Variabel laten (latent variable)

o Tidak dapat langsung diamati/diukur

o Contoh: pertumbuhan tanaman, kepuasan pelanggan, kesehatan

o Umumnya diukur dengan menggunakan indikator yang berupa variabel teramati,


biasanya lebih dari dua variabel indikator.

d. Jabaran beberapa Jenis Variabel


1). Variabel Bebas
Variabel bebas adalah variabel yang merupakan penyebab atau yang
mempengaruhi variabel tergantung atau yang menyebabkan terjadinya variasi bagi
variabel tergantung. Apabila variabel bebas berubah, maka variabel tergantung juga
akan berubah. Variabel bebas merupakan variabel yang faktornya diukur, dimanipulasi,
atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungannya dengan suatu gejala yang
diobservasi. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Variabel Bebas disebut juga
sebagai peubah bebas dan sering juga disebut dengan variable bebas, stimulus, faktor,
treatment, predictor, input, atau antecedent.
Sebagai contoh, pengaruh metode mengajar terhadap Prestasi siswa. =>
Variabel Bebas adalah Metode Mengajar.
Metode mengajar dan pupuk organik bisa dimanipulasi atau ditentukan oleh
peneliti. Tidak semua Variabel Bebas bisa dimanipulasi, misalnya attribute yang sudah
melekat pada suatu objek. Contohnya: Jenis Kelamin, Usia, Kemiringan lereng, dan
ketinggian tempat.

28
Var. intervening/

Variabel dalam
mediator

penelitian
Var. bebas Var. tergayut

Var. moderator

Variabel di luar Var. Extraneous


penelitian
Galat random

dimasukkan ke Var. kontrol


dikontrol
dalam model

Gambar 8. Posisi dan Hubungan Variabel Bebas dan variabel Tergayut

2).Variabel Tergantung.
Variable dependent merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi
akibat dari Variabel Bebas. Variabel dependent, dalam bahasa Indonesia sering
disebut sebagai peubah tak bebas, variabel tergantung, tergantung, respons, variabel
output, kriteria, atau konsekuen.
Variabel ini merupakan fokus utama dari penelitian. Variabel inilah yang
nilainya diamati dan diukur untuk menentukan pengaruh dari Variabel Bebas. Nilainya
bisa beragam dan tergantung pada besarnya perubahan Variabel Bebas. Artinya,
setiap terjadi perubahan (penambahan/pengurangan) sekian kali satuan variabel
independen, diharapkan akan menyebakan variabel dependen berubah (naik/turun)
sekian satuan juga. Secara matematis, hubungan tersebut mungkin bisa digambarkan
dalam bentuk persamaan Y = a + bX. Misalnya, Y = Hasil (ton) dan X = pupuk Urea (kg),
maka setiap pupuk urea dinaikkan/atau diturunkan sebesar b (kg), maka hasil
naik/turun sebesar b (ton) dan apabila tidak di berikan pupuk (b=0), maka hasilnya
adalah sebesar a (ton). Pola hubungan antara kedua variabel tersebut bisanya di kaji
dalam penelitian asosiasi atau prediksi, biasanya diuji dengan menggunakan Analisis
Regresi. Berbeda dengan contoh pengaruh metode mengajar terhadap keberhasilan
siswa, skala pengukuran Variabel Bebasnya bukan merupakan variabel interval atau
rasio, sehingga untuk melihat pengaruh dari variabel independet terhadap variabel
Tergantung lebih tepat dengan menggunakan Analisis Varians (ANOVA). Dengan
Anova tersebut kita bisa menentukan ada tidaknya perbedaan diantara metode
mengajar, dan apabila ada, kita bisa menentukan metode mengajar yang lebih baik
atau terbaik.

29
3). Varibel Moderator
Variabel moderator merupakan variabel khusus dari Variabel Bebas. Dalam
analisis hubungan yang menggunakan minimal dua variabel, yakni satu variabel
dependen dan satu atau beberapa variabel independen, adakalanya hubungan di
antara kedua variabel tersebut dipengaruhi oleh variabel ketiga, yaitu faktor-faktor lain
yang tidak dimasukkan dalam model statistik yang kita gunakan. Variabel tersebut
dinamakan dengan variabel moderator. Variabel moderator ini adalah variabel lain
yang bisa memperkuat atau memperlemah hubungan antar-variabel independen
(bebas) dan variabel dependen (tak bebas). Dalam Analisis Varians (Anova), pengaruh
dari variabel moderator ini bisa direfresentasikan sebagai pengaruh interaksi antara
Variabel Bebas (faktor) utama dengan variabel moderator (Baron and Kenny, 1986: p.
1174). Variabel ini bisa diukur, dimanipulasi, atau dipilih oleh peneliti untuk
mengetahui apakah keberadaannya akan mempengaruhi hubungan antara variabel
bebas dan variabel tergantung. Secara skematis, hubungan di antara ketiga variabel
tersebut bisa diskemakan seperti pada gambar berikut:

Var. Bebas Var. Tergayut

Var. Moderator

Var. Bebas

Var. Moderator Var. Tergayut

Var. Bebas dan


Moderator

Gambar 9. Posisi dan Hubungan Variabel Moderator dengan Variabel Lain

Dalam hal ini, variabel moderator berpengaruh nyata (memiliki kontribusi yang
signifikan) terhadap kemampuan variabel independen dalam mempengaruhi variabel
dependen.

4). Variabel Intervening/mediator.


Variabel Bebas dan moderator merupakan variable-variabel kongkrit. Variable
tersebut dapat dimanipulasi oleh peneliti dan pengaruhnya dapat dilihat atau
diobservasi. Lain halnya dengan variable intervening, variable tersebut bersifat
hipotetikal artinya secara kongkrit pengaruhnya tidak kelihatan, tetapi secara teoritis
dapat mempengaruhi hubungan antara Variabel Bebas dan dependent yang sedang
diteliti.

30
Penelitian yang melibatkan variabel intervening (mediator/mediating/mediasi/
pengganggu) sangat umum dalam bidang sosiologi dan psikologi, seperti ilmu-ilmu
perilaku dan penelitian non eksperimental lainnya. Untuk peneliti di bidang eksakta
(terutama dalam penelitian eksperimental), mungkin tidak terlalu banyak yang
mengenal atau melibatkan variabel ini, karena bersifat abstrak dan tidak bisa diukur.
Lihat saja pernyataan Tuckman (1988) berikut ini:
“… an intervening variable is that factor that theoretically affect the observed
phenomenon but cannot be seen, measure, or manipulate…”.
Variabel moderator dengan variabel intervening sering overlap, dan terkesan sulit
dibedakan. Tuckman (1988) mendefinisikan Intervening Variable sebagai variabel yang
secara teoritis mempengaruhi hubungan antara Variabel Bebas dengan Variabel
tergayut, tetapi tidak dapat dilihat, diukur, dan dimanipulasi; pengaruhnya harus
disimpulkan dari pengaruh-pengaruh Variabel Bebas dan atau variabel moderat
terhadap gejala yang sedang diteliti.
Variabel ini merupakan variabel antara (penyela) yang terletak diantara
Variabel Bebas dan Variabel dependent. Variabel ini bisa digunakan dalam
menjelaskan proses hubungan antara Variabel Bebas dengan variabel dependent,
misalnya X → T → Y, dimana T adalah variabel intervening yang digunakan untuk
menjelaskan pola hubungan antara IV dan DV. Terminologi terakhir, yaitu sebagai
variabel antara, konsiten dengan metodologi dan definisi dalam Analisis Struktural
Equation Modelling (SEM). Misalnya, X adalah usia dan Y adalah kemampuan
membaca, hubungan sebab akibat antara X dan Y bisa dijelaskan oleh variabel
Intervening T, misalnya Pendidikan. Dengan demikian, Usia (X) tidak secara langsung
mempengaruhi kemampuan membaca (Y), tapi terlebih dahulu melalui variabel
intervening, pendidikan (T), atau dengan kata lain, X mempengaruhi T dan selanjutnya
T mempengaruhi Y.

Var. Intervening/
Var. Bebas Var. Tergayut
Mediator

Var. Intervening/
Mediator

Var. Bebas Var. Tergayut

pengaruh langsung= √
pengaruh langsung= αβ
pengaruh langsung= √ + αβ

Gambar 10. Posisi dan Hubungan Variabel Intervening dengan Variabel Lain

31
5). Hubungan ke-4 Variabel:

Var. Intervening/
Mediator

Variabel Bebas Var. Tergayut

Var. Moderator

Gambar 11. Posisi dan Hubungan Variabel Bebas, Variabel Tergayut, Variabel
Intervening, dan Variabel Moderator

Terdapat beberapa literatur yang mengatakan ada variabel lain selain variabel
yang sudah disebutkan di atas, yaitu Variabel Kontrol. Variabel kontrol adalah variabel
yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga pengaruh Variabel Bebas terhadap
variabel Tergantung tidak dikacaukan oleh pengaruh faktor lain yang tidak kita diamati.
Dengan kata lain, variabel lain yang dapat mempengaruhi hubungan antara Variabel
Bebas dengan variabel dependent, berusaha dihilangkan atau di netralkan atau di
kontrol atau diseragamkan! Dengan demikian, diharapkan variabel yang memberi
keragaman terhadap variabel Tergantung hanyalah Variabel Bebas yang ingin dipelajari
pengaruhnya, yang dikenal dengan perlakuan atau treatment!

DAFTAR PUSTAKA

Suharsimi Arikunto, 2006. Prosedur Penelitian: suatu Pendekatan Praktik. Ed. Rev.VI.
Jakarta: Rineka Cipta.
Cohen, Jacob. 1977. Statistical Power Analysis for The Behavioral Sciences. Rev. Ed..
New York: Academic Press.
Donal R. Cooper & Pamela S. Schindler. 2001. Business Risearch Methods. 7th edition
USA: McGraw Hill, Inc.
Issack Stephen dan Micheal William. 1982. Hand Book Reaserch and Evaluation.
California: EDITS Publisher San Diago.
Krejcie, Robert V., Morgan, Daryle W. 1970. Determining Sample Size for Research
Activities. Educational and Psychological Measurement.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D. Bandung: Alfabeta.

32
Sukardi. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta:
Bumi Aksara.
Suparmo, Paul. 2007. Metode Penelitian Pendidikan Fisika. Yogyakarta: Universitas
Sanata Dharma
Tuckman, B. W. 1988. Conducting Educational Research . 3rd ed. New York: Harcourt
Brace Jovanovich.
Uma Sekaran. 1992. Research Methods for Business: A Skill Building Approach. 2th
Edition. New York, USA: John Wiley & Son, Inc.
Wiersma,William. 1995. Research Methods in Education: An Introduction. Boston: Allyn
and Bacon.

33
A. Pendahuluan
Group Comparison Research
Causal-Comparative
(Ex post facto)
Research

A. Pendahuluan
Dalam bidang biologi atau ilmu non-kependidikan, penelitian survei dapat
disepadankan atau disinonimkan dengan penelitian observasi, sehingga dapat juga
disebut sebagai penelitin observatif. Sesuai dengan nama dan penggolongannya,
tujuan penelitian survei adalah untuk memperoleh gambaran atau deskripsi secara
lebih rinci (mendetail) dari hal atau objek yang diteliti, tanpa melakukan intervensi
apapun terhadap objek. Dalam penelitian ini, peneliti langsung melakukan pendataan
pada objek yang diteliti.
Data yang ingin dikumpulkan dalam penelitian survei, sering merupakan
laporan atau informasi lisan atau tertulis dari objek yang diteliti atau responden.
Dalam hal ini, penelitian survei dicirikan adanya self-report dari responden atau objek
yang diteliti. Misalnya, untuk menyelidiki prestasi belajar biologi dari siswa-siswa di
suatu sekolah atau wilayah dikaitkan dengan perilaku masing-masing siswa dalam
belajar biologi, peneliti melakukan survei dengan menggunakan siswa sebagai
responden. Peneliti cukup mewawancarai atau memberikan angket kepada sejumlah
siswa ini untuk mengetahui bagaimana deskripsi para siswa ini dalam belajar biologi.
Jadi peneliti tidak perlu secara langsung mendata dengan mengamati setiap perilaku
siswa ketika sedang belajar biologi.
Di dalam penelitian survei, baik variabel-variabel yang diteliti/diselidiki maupun
variabel-variabel yang tidak diselidiki dibiarkan apa adanya. Dengan kata lain, dalam
penelitian ini, peneliti tidak manipulasi atau intervensi atau melakukan pengubahan
terhadap variabel-variabel penelitiannya.

34
Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi (1987) mendefinisikan penelitian survei
sebagai penelitian yang dilakukan pada sampel populasi dan menggunakan kuisioner
sebagai instrumen utama untuk pengumpulan data. Dalam hal ini, objek untuk
penelitian survei, ialah berupa konsep dan atau fenomena sosial, menyangkut orang
dalam jumlah sangat banyak, atau menyangkut suatu populasi orang tertentu, dan
oleh karenanya perlu dilakukan sampling. Hasil pengamatan kondisi objek dalam
sampel ini dipandang representatif bagi kondisi populasi. Dalam kata lain, konsep atau
fenomena sosial tersebut, dapat diterangkan berdasarkan kondisi sampel sosial ini.
Dalam kenyataannya, tidak selalu perlu melakukan pengamatan pada semua anggota
sosial masyarakat, dalam upaya mengungkap fenomena yang terjadi dalam sosial
tersebut, selagi informasi dan tanggapan dapat diwakili dari beberapa anggota sosial,
yang terjaring sebagai sampel informan atau responden.
Konsep-konsep atau fenomena sosial yang perlu diteliti, dapat saja terkait
dengan suatu variabel tunggal, dapat juga menyangkut dua atau lebih variabel yang
dapat dilihat terpisah atau saling keterkaitan dari dua atau lebih variabel. Dalam hal
penelitian dengan variabel tunggal, peneliti melakukan deskripsi atas suatu variabel
tersebut dengan melakukan investigasi terhadap variabel yang bersangkutan. Sebagai
contoh, seorang peneliti hanya akan menyelidiki bagaimana tingkat minat siswa belajar
biologi. Peneliti dalam sekali penelitian survei dapat juga melihat gambaran fenomena
terkait dengan 2 atau lebih variabel, tanpa berkeinginan melihat hubungan antar
variabel ini. Sebagai contoh, seorang peneliti ingin mengetahui kemampuan dasar
siswa di suatu sekolah dan tingkat sosial ekonomi orang tua siswa di sekolah tersebut,
tanpa bermaksud melihat hubungan antara 2 variabel ini. Dalam kasus yang lain,
peneliti dapat saja memperoleh deskripsi hubungan antar dua atau lebih variabel,
misal seorang peneliti ingin menyelidiki apakah ada perbedaan minat dan hasil belajar
biologi pada siswa dengan kondisi sosial ekonomi orang tua yang berbeda. Dalam hal
terakhir ini seorang peneliti, melalui penelitian survei dapat mengetahui trend atau
kecenderungan hubungan antara dua atau lebih variabel dalam suatu sosial. Kekuatan
dan kebermaknaan hubungan (yang masih bersifat trend) ini baru dapat diketahui
melalui penelitian eksperimental terkait variabel-variabel ini.

Daftar Pustaka
Ary, Donald, et al. 1982. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan (Terjemahan oleh
Arief Furchan).. Surabaya: Usaha Nasional.
Cavendish. S. 1990. Observation activities. London: Paul Chapman Publishing Ltd.

35
Hewit, P.G. et al. 2006. Conceptual Integrated Science. San Francisco: Pearson; Addison
Wesley.
Sumanto. 1996. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset
Sugiyono. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Bandung: Rosda
Karya.

36
A. Pendahuluan
Salah satu kegiatan, langkah, atau prosedur untuk memperoleh kebenaran
ilmiah adalah penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen tidak saja dapat dilakukan
dalam bidang-bidang sains, melainkan juga dalam bidang pendidikan. Karakteristik dan
kondisi objektif dalam bidang pendidikian, yang melibatkan orang sebagai subjek dan
sekaligus objek, sering menuntut metodologi penelitian eksperimen yang spesifik,
yang berbeda dari metodologi penelitian eksperimen dalam bidang-bidang sains.
Namun demikian, dalam bidang pendidikanpun, penelitian eksperimen tetap
dipandang handal dalam upaya memperoleh kebenaran ilmiah.

B. Karakteristik Penelitian Eksperimen


Berbeda dengan metode penelitian observasi, yang sama-sama tergolong
sebagai penelitian positivistik, metode penelitian eksperimen atau percobaan,
bertujuan untuk mengetahui akibat dari suatu variabel bebas (independent variable(s))
terhadap variabel tergantung/tergayutnya (dependent variable). Hubungan antara
variabel bebas dengan variabel tergayut dalam suatu eksperimen adalah hubungan
sebab-akibat. Dengan kata lain, variabel bebas sebagai prediktor/penduga dan
variabel tergayutnya sebagai variabel respons.
Di dalam kegiatan penelitian eksperimen, variabel bebas dimanipulasi atau
diubah-ubah atau diintervensi secara sengaja oleh peneliti, agar terjadi variasi
nilai/harga yang ditunjukkan oleh variabel tergayut/terikatnya. Perbedaan atau variasi
nilai dalam variabel bebas ini dibuat dengan harapan ada memberikan perbedaan
pengaruh bagi variabel tergayutnya. Dengan demikian, variabel bebas dalam penelitian
eksperimen berkedudukan sebagai faktor perlakuan (treatment).
Dalam upaya untuk meyakinkan atau memastikan bahwa adanya variasi harga
pada variabel tergayut adalah benar-benar sebagai akibat dari variabel bebas, bukan
oleh variabel lain yang ikut bekerja, maka variabel-variabel selain variabel bebas dan
variabel tergayutnya harus dikendalikan atau dikontrol. Karena berbagai keterbatasan,
pada umumnya sulit atau tidak mungkin peneliti melakukan pengontrolan pada
seluruh variabel di luar variabel bebas dan variabel tergayut, secara sepenuhnya,
melainkan terutama mengontrol variabel-variabel yang diduga dapat mengganggu
atau menekan hasil eksperimen. Variabel-variabel yang harus dikontrol ini sering
disebut sebagai variabel pengganggu. Pengontrolan terhadap variabel pengganggu

37
dilakukan dengan cara membuat kondisi dari variabel yang bersangkutan harus dibuat
seragam/homogen, bahkan bila mungkin dibuat sepenuhnya sama satu dengan yang
lainnya. Dengan demikian, melalui penyeragaman/penyamaan, variabel-variabel
pengganggu tersebut akan diubah menjadi variabel-variabel kendali atau variabel-
variabel kontrol.
Paling tidak ada 4 macam karakteristik penelitian eksperimen, ialah:
• Pemberian perlakuan (treatment) dengan cara memanipulasi satu atau lebih
variabel bebas,
• Pengontrolan variabel pengganggu
• Pengacakan unit eksperimen dalam pemberian macam/taraf perlakuan
• Pengamatan variabel respon.
Untuk lebih memahami bagaimana cara melakukan penelitian eksperimen,
berikut ini disajikan contoh.

C. Contoh (Sinopsis) Penelitian Eksperimen dalam Bidang Pendidikan


Misalnya kita ingin mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD (Students Teams Achievement Divisions) terhadap
pemahaman siswa pada konsep bilangan pecahan (mapel matematika). Permasalahan
pokok dalam eksperimen ini adalah bagaimana sebenarnya pengaruh model pembe-
lajaran ini terhadap kemampuan siswa memahami konsep bilangan pecahan.
Dari permasalahan tersebut perlu diperhatikan langkah-langkah berikut:
1. Menetapkan variabel bebas dan variabel tergayut. Sebagai variabel bebas dari
eksperimen ini yang digunakan sebagai perlakuan/treatment adalah model
pembelajaran. Sebagai variabel tergayutnya adalah tingkat pemahaman konsep
bilangan pecahan.
2. Menetapkan taraf/kategori perlakuan sebagai variabel bebas. Misalnya dalam
hal contoh, model pembelajaran yang akan dicobakan hanya satu macam, ialah
model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Sehingga banyaknya macam/kategori
perlakuan hanya terdiri dari dua, ialah model pembelajaran kooperatif tipe STAD
dan model pembelajaran non-kooperatif tipe STAD.
3. Menetapkan kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Dari dua kelas yang
ada, salah satu kelas diberi pembelajaran model kooperatif tipe STAD. Kelompok
ini merupakan kelompok perlakuan. Sedangkan kelompok yang lain, merupakan
kelompok kontrol, diberi pembelajaran dengan model non-kooperatif tipe STAD.
Dalam banyak versi, model pembelajaran yang digunakan di kelompok kontrol
ini sering disebut dengan model pembelajaran konvensional, ialah model
pembelajaran yang selama ini digunakan.

38
4. Mengidentifikasi dan menetapkan macam-macam variabel pengganggu dalam
eksperimen; Misalnya: guru pengampu matapelajaran matematika, macam buku
atau LKS yang digunakan, media yang digunakan, waktu/jam pelajaran, dsb.
5. Menetapkan cara melakukan pengontrolan variabel pengganggu, yaitu dengan
menyamakan/ menyeragamkan kondisinya; Misalnya dalam hal guru pengampu
mata pelajaran, untuk semua kelompok penelitian dibuat sama, artinya diampu
oleh guru yang sama.
6. Melakukan pengacakan unit eksperimen untuk menentukan macam/taraf
perlakuan, dalam bidang pendidikan adalah sangat sulit atau dapat dikatakan
tidak mungkin dilakukan. Pembagian siswa ke dalam dua kelas atau kelompok
penelitian (kelompok perlakuan dan kelompok kontrol) tersebut secara acak,
dapat dikatakan sangat sulit dilakukan. Solusinya, adalah tanpa melakukan
pengacakan, melainkan menggunakan dua kelas yang sudah ada, satu untuk
kelompok perlakuan dan lainnya untuk kelompok kontrol.
7. Menetapkan jenis data yang harus dikumpulkan, ialah berupa parameter-
pameter pemahaman konsep; misalnya nilai tes dan nilai pengerjaan tugas
terkait penguasaan konsep bilangan pecahan.
8. Menetapkan waktu penelitian, durasi di mana eksperimen akan dihentikan,
misalnya selama 4 minggu atau selama materi bilangan pecahan diagendakan
dalam silabus atau program semester.
9. Menentukan cara pengamatan atau pengukuran terhadap parameter penguasan
konsep, misalnya melalui tes objektif.
10. Melakukan pengukuran (testing) dan pencatatan data secara cermat pada semua
unit eksperimen pada waktu yang telah ditetapkan, di dua kelas tersebut.
11. Mengorganisasi dan menganalisis data yang telah dikumpulkan; dengan cara
membandingkan nilai rata-rata dari parameter yang diamati atau diukur nilainya.
Cara analisis data ini dari cara yang sederhana, (ialah membandingkan besarnya
rata-rata antarkelompok perlakuan termasuk kelompok kontrolnya) sampai
dengan cara yang efektif, (ialah dengan melakukan uji statistik).
12. Membuat kesimpulan (simpulan) hasil eksperimen, kelompok atau kelas yang
mana yang lebih tinggi rata-rata nilai tes-nya, apakah kelompok eksperimen atau
kelompok kontrol, atau sama saja.

D. Disain untuk Penelitian Eksperimen dalam Bidang Pendidikan


Ada tiga macam disain eksperimen, dalam bidang pendidikan, yang
menunjukkan tingkatan “kemurnian” eksperimen, ialah Pra-Eksperimen (Pre-

39
Experimental Design), Eksperimen Semu (Quasi Experimental Design), Eksperimen
murni (True Experimental Design). Pra-eksperimen merupakan eksperimen dengan
derajad kemurnian paling rendah atau paling lemah. Sedangkan eksperimen murni
merupakan eksperimen dengan derajad kemurnian tertinggi. Eksperimen murni
dikatakan mempunyai derajad kemurnian tertinggi, artinya memenuhi semua sifat
atau karakteristik eksperimen, dari pemberian perlakuan, pengontrolan, pengacakan,
sampai dengan pengamatan variabel respon. Eksperimen semu ditandai dengan
adanya sebagian sifat yang tidak dipenuhi, umumnya sifat pengacakan. Sedangkan pra-
eksperimen mengandung lebih banyak ketidakcukupan ciri atau sifat eksperimen,
terutama terkait pengontrolan variabel pengganggu dan pengacakan.
Secara lebih rinci, rancangan-rancangan penelitian eksperimen dalam
pendidikan adalah sebagai berikut.

1. Pra-Experimental Design
a. One Group Prestest-Posttest Design

Pretes Treatment Postes

Y1 √ Y2

b. Two Groups Static Design

Kelompok Treatment Postes


E √ Y21
C - Y22

2. True-Experimental Design
a. Two Randomized Groups Posttest Design

Kelompok Treatment Postes


E (R) √ Y21
C (R) - Y22

b. Two Randomized Groups Pretest-Posttest Design

Kelompok Pretes Treatment Postes


E (R) Y11 √ Y21
C (R) Y12 - Y22

40
3. Quasi-Experimental Design

Kelompok Pretes Treatment Postes


E Y11 √ Y21
C Y12 - Y22

Keterangan: E=Kelompok eksperimen atau kelompok perlakuan


C=Kelompok kontrol
√=Ada
Y= Nilai pengamatan/hasil pengukuran

Eksperimen semu (quasi experiment) merupakan disain penelitian eksperimen


dalam bidang pendidikan/pembelajaran yang paling banyak diguanakan/dipilih.
Rancangan ini dipandang paling lazim, karena peneliti sudah mampu memberikan
perlakuan, mengontrol variabel pengganggu, dan melakukan pengamatan, meskipun
tidak melakukan pengacakan unit eksperimen dalam menentukan taraf perlakuan
untuk masing-masing unit eksperimen. Dengan istilah lain, dengan rancangan ini,
peneliti telah mampu menjaga validitas internal penelitiannya. “Kelemahan”
rancangan penelitian eksperimen semu dapat diminilasisasi dengan penerapan teknik
analisis data yang relevan, misalnya penggunaan uji statistik anakova (analisis
kovarians).

E. Komparasi Prosedur Penelitian Eksperimen Murni dengan Kuasi

POPULASI PENELITIAN KONTEKS PEMBELAJARAN


random
SUBJEK
SUBJEK PENELITIAN
PENELITIAN

PERLAKUAN
PERLAKUAN

PENGUMP. DATA
PENGUMP. DATA

ANALISIS DATA
ANALISIS DATA

TRUE EXPERIMENTAL QUASI EXPERIMENTAL

41
Rujukan dan Referensi

Ahmad Ansori Mattjik dan Made Sumertajaya. 2000. Perancangan percobaan: dengan
aplikasi SAS dan minitab. Bogor: IPB Press.

Ary Donald, Jacobs, L.C, & Razavich, A. 1982. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan.
(Terjemahan oleh Arief Furchan). Surabaya: Usaha Nasional.

Bambang Subali dan Paidi. 2004. Observasi dan Eksperimen untuk Penemuan Konsep
Sains Sebagai Alternatif Pengalaman Belajar Siswa SMU. Makalah Pelatihan
Guru-guru MIPA di LPMP, 2004.

Bausell, R.B. 1994. Conductng meaningfull experiments: 40 steps becoming a scientist.


Thousand Oaks: Sage Publications.

Cox. D.R. 1958. Planning of experiments. New York: John Wiley and Sons, Inc.

Moh Nazir. 1983. Metode penelitian. Jakarta: galia Indonesia.

Singarimbun Masri & Sofyan Effendi. 1987. Metodologi Penelitian Survai. Yogyakarta:
LP3ES

Sumanto. 1996. Metodologi Penelitian Sosial dan pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset

42
Problem di kelas

Peningkatan/Perbaikan

Kondisi Awal PTK Kondisi Akhir

Gambar 12. Sinopsis PTK

A. Pendahuluan

Penyelesaian permasalahan dalam kelas-pembelajaran, merupakan hak


sekaligus kewajiban seorang guru pengampunya. Salah satu cara penyelesaian
permasalahan kelas-pembelajaran, yang saat ini dipandang sangat tepat, adalah
dengan mengimplementasikan penelitian tindakan kelas (PTK). Pemanfaatan PTK guna
penyelesaian masalah kelas-pembelajaran ini dipandang sangat tepat, karena
terkandung beberapa manfaat. Pertama, pelaksanaan PTK yang terencana dan
terkendali secara baik, akan meningkatkan kinerja guru dalam mengelola
pembelajaran yang berkualitas. Dengan kata lain, pelaksanaan PTK akan meningkatkan
kompetensi guru, yang saat ini sedang menjadi isu utama dalam dunia pendidikan
nasional, khususnya pada kompetensi pedagogis dan profesional. Kedua, penyelesaian
masalah kelas-pembelajaran akan memberikan perbaikan pada kualitas proses
pembelajaran. Ketiga, perbaikan peran guru dalam pembelajaran, akan meningkatkan
kualitas belajar pada para siswa, yang pada muaranya akan mendongkrak prestasi
belajar mereka. Perbaikan hasil belajar dari para siswa, secara akumulatif, akan
mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas pendidikan nasional. Di
samping itu, jika PTK direncana, dilaksanakan, dan dilaporkan dengan baik, berpotensi
menjadi bahan penyusunan karya ilmiah guru, baik untuk portofolio sertifikasi maupun
kenaikan pangkat ke IVb, IVc, dst.

43
Sekalipun PTK diyakini mampu memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan
nasional, mendongkrak prestasi siswa, memperbaiki kualitas guru, dan membantu
para guru dalam program sertifikasi dan kenaikan pangkat, namun sampai dengan
awal tahun 2008, di mana program sertifikasi telah memasuki tahun kedua, belum
semua guru memanfaatkannya. Banyak faktor yang mengakibatkan hal ini, antara lain
faktor-faktor yang terkait dengan para guru sendiri, misalnya sense adanya masalah,
budaya meneliti, dan pemahaman terhadap PTK (Paidi, 2008).
Perasaan, sense, atau kesadaran adanya berbagai problem dalam kelas-
pembelajaran belum dimiliki oleh semua guru. Sebagian guru kurang menyadari (atau
kurang mempedulikan) adanya berbagai permasalahan dalam kelas-pembelajaran
yang diampunya. Kelas yang gaduh, adanya siswa yang kurang berminat belajar,
adanya siswa yang tidak memahami materi pelajaran, dsb, terkadang dianggap hal
biasa dalam suatu kelas; bukan masalah, atau bukan guru penyebab serta yang harus
bertanggung jawab mengatasinya. Kepekaan dan kemampuan mengidentifikasi
permasalahan dalam kelas, tampaknya perlu dilatih atau dibiasakan untuk mengatasi
faktor penghambat ini.
Iklim, kebiasaan, dan budaya meneliti di kalangan guru atau dalam komunitas
sekolah belum optimal. Pandangan dan persepsi bahwa guru hanya mempunyai
tanggung jawab tunggal, ialah memfasilitasi siswa belajar (atau ‘mengajar’), barangkali
yang menyebabkan belum optimalnya iklim meneliti di kalangan guru. Sebuah slogan
yang bersifat paradoks untuk tumbuhnya budaya meneliti, yang berkembang di suatu
komunitas guru (sekolah), adalah: tuntas materi dan tertib administrasi. Guru yang
mampu menuntaskan materi pelajaran dalam jadwal pelajarannya, dan yang
mengadministrasi kegiatannya dengan baik, adalah bukan keliru. Namun, ini kurang
cukup untuk menjawab tantangan dan tuntutan ke depan, bahwa guru harus
kompeten, guru harus profesional untuk mencetak lulusan yang berkualitas,
mempunyai daya saing kompetitif dan komparatif. Keteladanan dan pemberian
contoh-contoh riil keberhasilan pelaksanaan PTK, tampaknya perlu diupayakan di
sekolah.
Faktor lainnya adalah (perasaan) kurangnya pemahaman atau penguasaan
PTK itu sendiri. Banyak guru yang merasa belum mempunyai kesiapan menerapkan
PTK di kelas tanpa adanya bimbingan atau kolaborasi dengan pihak lain (khususnya
dosen LPTK). Bagaimana memulai PTK?; bagaimana merencanakan PTK?; bagaimana
melaksanakan PTK?; bagaimana melaporkan PTK; bagaimana caranya agar hasil PTK
bernilai karya ilmiah; dsb. adalah contoh-contoh pertanyaan guru, yang
mengisyaratkan masih adanya kekurangpahaman, kekurangsiapan, atau mungkin

44
hanya keraguan guru untuk melakukan PTK. Sharing ide, wawasan, dan pengalaman
antar guru, atau guru dengan pihak lain mengenai apa, mengapa, dan bagaimana PTK,
tampaknya juga perlu dikembangkan di sekolah atau dalam forum MGMP.

B. Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas


Sejak tahun 1970, Sanford (Tantra, 2006) telah mengusulkan penelitian
tindakan (termasuk dalam hal ini adalah PTK), sebagai suatu kegiatan siklis yang
bersifat menyeluruh, yang terdiri dari analisis, penemuan fakta, konseptualisasi,
perencanaan, pelaksanaan, dan penemuan fakta tambahan, serta evaluasi. Definisi
penelitian tindakan yang lebih lengkap dan menggambarkan sifat atau karakteristik
dari penelitian tindakan dikemukakan oleh Kemmis (Tantra, 2006). Ia lebih condong
bahwa penelitian tindakan merupakan sebuah inkuiri yang bersifat reflektif mandiri
yang dilakukan oleh partisipan dalam situasi sosial termasuk kependidikan dengan
maksud untuk meningkatkan kemantapan rasionalitas dari (a) praktik-praktik sosial
maupun kependidikan, (b) pemahaman terhadap praktik-praktik tersebut, dan (c)
situasi pelaksanaan praktik-praktik pembelajaran.
Bila digabungkan definisi yang dikemukakan oleh Sanford dan Kemmis di atas,
diperoleh batasan yang lebih jelas mengenai penelitian tindakan kelas, ialah sebagai
sebuah proses investigasi terkendali yang berulang (siklis) dan bersifat reflektif
mandiri, yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap sistem,
proses, isi, atau situasi kelas-pembelajaran. Proses siklis kegiatan dalam penelitian
tindakan dapat diskemakan berikut (diadaptasi dari Kemmis & Taggart, 1988)
Problem

Refleksi Rencana
(R1) Tindakan (P1)

Observasi Pelaksanaan
(O1) Tindakan (A1)

Perbaikan
Rencana
Refleksi (R2)
Tindakan (P2)

Observasi Pelaksanaan
(O2) Tindakan (A2)

dst.

Gambar 13. Siklus Tindakan PTK (dimodifikasi dari Kemmis & Taggart, 1988)

45
Dari gambar skematis tersebut, tampak bahwa siklus aktivitas dalam
penelitian tindakan kelas diawali dari adanya identifikasi problem kelas, kemudian
perencanaan tindakan (planning), penerapan tindakan (action atau implementing),
observasi (observing), dan refleksi (reflection atau reflecting). Tercakup dalam tahapan
refleksi, adalah evaluasi baik proses dan hasil pembelajaran dan analisis data yang ada
dalam tiap siklus, serta tindak lanjutnya.

D. TUJUAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS


Penelitian tindakan kelas secara umum dapat diarahkan pada pencapaian sasaran
sebagai berikut.
a. Meningkatkan kinerja guru (memberdayakan guru)
b. Meningkatkan kualitas proses pembelajaran
c. Meningkatkan kualitas hasil belajar, atau kemampuan (tertentu) siswa
d. Menumbuh-kembangkan budaya meneliti para guru agar lebih proaktif mencari
solusi terhadap permasalahan pembelajaran, dan
e. Meningkatkan jiwa kesejawatan antara guru-guru, guru-kepsek, guru-dosen, dsb.,
khususnya dalam rangka pemecahan masalah pembelajaran.

E. KARAKTERISTIK PENELITIAN TINDAKAN KELAS


Penelitian tindakan kelas memiliki tiga ciri pokok, yaitu: 1) praktis, 2)
kolaboratif, dan 3) reflektif (Tantra, 2006; Parjono dkk., 2007; Corebima, 2007).
1. Praktis.
PTK berangkat dari permasalahan pembelajaran riil yang sehari-hari dihadapi
oleh guru dan siswa. Jadi, kegiatan penelitian didasarkan pada pelaksanaan tugas
(practice driven) dan pengambilan tindakan untuk memecahkan masalah yang
dihadapi (action driven). Masalah yang menjadi fokus adalah permasalahan yang
spesifik dan kontekstual, sehingga tidak terlalu merisaukan tentang kerepresentatifan
sampel dalam rangka generalisasi. Tujuan penelitian tindakan kelas bukanlah untuk
menemukan pengetahuan baru yang dapat diberlakukan secara meluas. Tujuan
penelitian tindakan adalah untuk memperbaiki praksis secara langsung, di sini dan
sekarang (Raka Joni, 1998; Corebima, 2007).
PTK menggunakan metodologi yang agak longgar, khususnya dalam kalibrasi
atau validasi instrumen penelitian. Namun demikian, penelitian tindakan tetap
menerapkan metodologi yang dapat diterima secara keilmuan, dalam hal
pengumpulan data yang menekankan pada objektivitas. Pengungkapan kebenaran
dilakukan secara cermat dan objektif sehingga kebenaran ilmiahnya dapat
dipertanggungjawabkan. Kepraktisan PTK tetap bonafide, karena proses penelitian

46
dilakukan melalui perencanaan kolaboratif, observasi, analisis-evaluatif, dan refleksi
yang sistematik dan mendalam (Parjono dkk., 2007; Corebima, 2007).

2. Kolaboratif
Upaya perbaikan proses dan hasil pembelajaran tidak dapat dilakukan sendiri
oleh seorang guru, tetapi ia harus berkolaborasi dengan pihak lain yang juga kompeten
dan relevan, misalnya: dosen, kepsek, pengawas, mahasiswa, widyaiswara, atau
dengan guru lain. PTK merupakan upaya bersama dari berbagai pihak untuk
mewujudkan perbaikan yang diinginkan. Kolaborasi ini dilakukan dalam keseluruhan
proses; sejak perencanaan, pelaksanaan PTK, observasi-evaluasi, dan refleksi, sampai
dengan penyusunan laporan hasil penelitian yang bernilai karya.

3. Reflektif
PTK memiliki ciri khusus lainnya, ialah sikap reflektif yang berkelanjutan.
Berbeda dengan pendekatan penelitian lain, misalnya eksperimental, PTK lebih
menekankan pada proses refleksi terhadap proses dan hasil penelitian secara terus
menerus. Hal ini perlu untuk mendapatkan penjelasan dan justifikasi tentang
kemajuan, peningkatan, kemunduran, kekurang-efektifan, dan sebagainya dari
pelaksanaan sebuah tindakan untuk dapat dimanfaatkan guna memperbaiki proses
tindakan pada siklus kegiatan lainnya.
Karakteristik PTK jelas terlihat bila dibandingkan dengan jenis penelitian lain,
misalnya penelitian eksperimen (Corebima, 2007). Tabel berikut menampilkan
sebagian komparasi ini.

Tabel 1. Komparasi PTK dengan jenis penelitian lain

No Aspek Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Jenis Penelitian Lain


1. Tujuan Memperbaiki kinerja secara langsung Verifikasi dan menemukan
(di sini dan sekarang) bukan pengetahuan yang dapat
menemukan pengetahuan baru yang digeneralisasi
berlaku umum
2. Sumber Diagnosis keadaan atau permasalahan Induksi-Deduksi
Masalah praktis dalam kelas-pembelajaran
3. Keterlibatan Peneliti juga menjadi bagian yang Peneliti tidak menjadi bagian
Peneliti diteliti yang diteliti
4. Metode Tidak ketat, instrumen tidak harus Standar yang mengacu
standar, tetapi objektivitas dan kepada objektifitas; kejujuran
kejujuran tetap dijaga. diutamakan
5. Hasil Utama Pembelajaran dan kinerja guru menjadi Tambahan pengetahuan dan
lebih baik. metode baru.

47
F. PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Penelitian tindakan bertujuan untuk mengungkap penyebab masalah dan
sekaligus memberikan solusi terhadap masalah. Upaya tersebut dilakukan secara
terkendali dan kolaboratif. Langkah-langkah pokok yang umumnya ditempuh
(khususnya pada siklus-1), adalah: 1) penentuan masalah dan perencanaan tindakan,
2) pelaksanaan tindakan perbaikan dan observasi, 3) refleksi yang mencakup analisis
data, interpretasi, dan perencanaan tindak lanjut.

1. Penentuan masalah dan perencanaan tindakan


Tidak semua bentuk masalah yang menyangkut siswa tepat dipecahkan melalui
PTK. Masalah yang diteliti dalam PTK adalah masalah khusus, ialah masalah akademis,
terkait matapelajaran, guru pengampu, dan siswa peserta pembelajaran matapelajaran
ini. Lebih efisien apabila masalah akademis ini yang tergolong sulit/rumit, yang
memerlukan analisis menggunakan dasar-dasar yang ilmiah, pengalaman, dan keahlian
tertentu untuk dapat memecahkan masalah ini. Analisis ini sejak mengidentifikasi
masalah, akar masalah atau faktor penyebab munculnya masalah, pencarian alternatif
solusi, sampai dengan pemaknaan dampak solusi yang dipilih sebagai tindakan.

a. Identifikasi Masalah
Sebelum ada masalah yang ditetapkan, maka perlu ditumbuhkan sikap dan
keberanian untuk mempertanyakan kualitas pembelajaran yang selama ini dilcapai.
Sikap demikian sangat diperlukan untuk menumbuhkan kemauan untuk memperbaiki
diri. Pertanyaan-pertanyaan dapat diarahkan pada: Apakah kualitas siswa yang
mengikuti pelajaran cukup baik? Apakah proses pembelajaran yang dilakukan sudah
cukup efektif? Apakah sarana pembelajaran cukup memadai? Apakah hasil
pembelajaran cukup berkualitas? Dsb.
Selanjutnya dilakukan identifikasi terhadap masalah. Pada tahap ini, yang paling
penting adalah menemukan dan mengenali (menemukenali) permasalahan atau
keadaan dalam kelas-pembelajaran yang tidak seperti yang semestinya. Dengan kata
lain dalam tahap ini kita menemukenali adanya kesenjangan antara harapan dengan
kenyataan terkait dengan kelas-pembelajaran.

b. Analisis Masalah
Untuk lebih mempermudah menemukan solusinya, permasalahan perlu
dianalisis. Dari permasalahan itu kita perlu cari akar permasalahannya.

48
c. Pemilihan dan Penentuan Macam Tindakan
Setelah akar permasalahan diketahui, maka memungkinkan untuk memilih dan
menentukan dari macam tindakan (treatment) yang ada. Treatment itu sendiri bisa
berasal dari hasil eksperimen, pendapat para ahli, atau pengalaman praktisi.

d. Perumusan Masalah
Selanjutnya, dari akar-akar permasalahan serta tindakan yang dipilih, perlu
dirumuskan sebagai pertanyaan-pertanyaan yang jelas, spesifik, dan operasional
untuk memperoleh pemilihan langkah-langkah strategis yang tepat. Contoh rumusan
masalah yang mengandung tindakan alternatif yang ditempuh: Bagaimana
pengimplementasian strategi pembelajaran biologi berbasis masalah untuk
meningkatkan kemampuan siswa SMKN 1 Pandak dalam memecahkan masalah-
masalah Biologi?

e. Perumusan Hipotesis Tindakan


Setelah masalah dirumuskan secara operasional, maka (kalau perlu) bisa
dirumuskan hipotesis tindakan, ialah dugaan terkait tindakan yang diambil sehubungan
dengan tindakan (treatment) yang akan diterapkan untuk memecahkan permasalahan
tersebut. Alternatif tindakan ini merupakan langkah operasional treatment yang
diyakini mampu memecahkan permasalahan. Hipotesis tindakan juga sering diartikan
sebagai dugaan mengenai perubahan-perubahan yang akan terjadi jika suatu langkah
tindakan (treatment) dilakukan.
Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis dalam
penelitian eksperimental. Hipotesis tindakan umumnya dirumuskan dalam bentuk
keyakinan tindakan yang diambil akan dapat memperbaiki suatu sistem, proses, atau
hasil belajar. Contoh: “Implementasi Strategi pembelajaran Biologi yang berbasis
masalah mampu meningkatkan kemampuan siswa SMKN 1 Pandak dalam
memecahkan masalah-masalah Biologi”.

f. Penyiapan perangkat pembelajaran dan penilaian


Sebelum pelaksanaan tindakan, maka perlu adanya perencanaan sebagai
tindakan persiapan. Beberapa hal perlu direncanakan secara baik, antara lain:
• Membuat RPP yang berisikan langkah-langkah kegiatan dalam pembelajaran
sebagai jabaran dari inovasi atau treatment yang dipilih beserta perangkat
pembelajaran lainnya yang mendukung terlaksananya tindakan.

49
• Mempersiapkan instrumen penelitian, misalnya untuk mengobservasi proses dan
untuk mengukur hasil pembelajaran.

g. Penentuan Indikator Keberhasilan


Akan sangat memudahkan bagi peneliti dalam menetapkan kecukupan langkah
sehubungan dengan tindakan yang diterapkan, adalah penentuan indikator
keberhasilan atau indikator kinerja. Istilah peningkatan atau perbaikan yang menjadi
kata-kata kunci tujuan PTK sering dimaknai kurang jelas batasannya. Oleh karenanya
perlu dibatasi sewajarnya. Seberapa peningkatan atau perbaikan yang dipandang
cukup, sehingga PTK bisa diakhiri, perlu dirumuskan secara tegas. Misalnya: Ada
peningkatan sebanyak 20% siswa yang mempunyai kemampuan baik dalam
memecahkan masalah-masalah Biologi.

2. Pelaksanaan Tindakan dan Observasi

a. Pelaksanaan Tindakan (Implementasi)


Jika semua tindakan dipersiapkan, maka skenario tindakan dapat dilaksanakan
dalam situasi pembelajaran yang aktual. Kegiatan pelaksanan tindakan perbaikan
merupakan tindakan pokok dalam siklus penelitian tindakan. Pada saat pelaksanaan
tindakan, kegiatan mengobservasi dan interpretasi dilakukan secara berbarengan
dengan kegiatan refleksi. Penggabungan kegiatan tindakan, observasi, interpretasi, dan
refleksi merupakan suatu kenyataan proses pembelajaran yang utuh.

b. Observasi
Secara umum, observasi merupakan upaya untuk merekam proses yang terjadi
selama pembelajaran berlangsung. Mengingat kegiatan observasi menyatu dalam
pelaksanaan tindakan, maka perlu dikembangkan sistem dan prosedur observasi yang
mudah dan cepat dilakukan. Sering juga perlu melibatkan observer tersendiri.
3. Refleksi
Kegiatan refleksi mengarah kepada perenungan dan pengkajian mendalam
mengenai apa yang telah dipikirkan, diamati, dan atau dilakukan, serta yang perlu
dilakukan selanjutnya. Kegiatan ini akan lebih tepat dan terarah apabila didahului
dengan analisis data yang diperoleh dalam tahapan implementasi dan observasi.

a. Analisis Data.
Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: reduksi data, paparan data,
dan penyimpulan hasil analisis (Mills, 2003; Striner, 2004; Parjono dkk., 2007).

50
1) Reduksi Data. Reduksi data adalah proses penyederhanaan data yang dilakukan
melalui seleksi, pengelompokkan, dan pengorganisasian data mentah menjadi
sebuah informasi bermakna.
2) Paparan Data. Pemaparan data merupakan suatu upaya menampilkan data secara
jelas dan mudah dipahami misalnya dalam bentuk tabel, grafik, dsb.

b. Interpretasi
Data yang telah dianalisis perlu dimaknai, dikaitkan dengan tujuan penelitian.
Bagaimana posisi tujuan penelitian (target atau masalah yang ingin dipecahkan)
dengan perolehan yang ada? Apakah perolehan ini sudah bisa dianggap cukup? Kalau
belum, langkah strategis apa yang perlu dilakukan? Apakah langkah-langkah yang telah
dilakukan perlu disempurnakan? Atau apakah ada perangkat-perangkat yang perlu
ditambahkan?, dsb. adalah merupakan contoh-contoh pertanyaan reflektif.

c. Penetapan Langkah Tindak Lanjut


Hasil refleksi ini kemudian digunakan untuk menetapkan langkah selanjutnya
dalam upaya untuk menghasilkan perbaikan atau mencapai indikator yang telah
ditetapkan. Bila hasil perbaikan yang diharapkan belum tercapai pada siklus 1, maka
diperlukan langkah lanjutan pada siklus 2. Banyaknya siklus tidak dapat ditetapkan,
namun sangat ditentukan oleh ketercapaian indikator keberhasilan yang ada.

G. Instrumen-Instrumen dalam Penelitian Tindakan Kelas


Instrumen yang diperlukan dalam penelitian tindakan sangat sejalan dengan
prosedur dan langkah penelitian tindakan kelas itu sendiri. Ditinjau dari hal tersebut,
maka instrumen-instrumen itu menurut Tantra (2006), dapat dikelompokkan menjadi
3 (tiga), yaitu: instrumen untuk mengobservasi guru (observing teacher),
mengobservasi kelas (observing classroom), dan mengobservasi aktivitas atau
kemampuan siswa (observing students) (Reed dan Bergermann,1992; Mills, 2003).

1. Pengamatan terhadap Perilaku Guru (Observing Teacher)


Observasi merupakan alat yang efektif untuk mempelajari tentang metode dan
strategi yang diimplementasikan guru di kelas, misalnya, tentang keruntutan langkah-
langkah dalam menerapkan strategi pembelajaran tertentu, pengelolaan kelas, respon
siswa terhadap lingkungan kelas, dsb. Contoh bentuk instrumen observasi adalah
observasi anekdotal (anecdotal record) dan lembar keterlaksanaan inovasi
pembelajaran.
Observasi anekdotal memfokuskan pada hal-hal spesifik yang terjadi di dalam
kelas atau catatan tentang aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran. Observasi

51
anekdotal mencatat kejadian di dalam kelas secara informal dalam bentuk naratif.
Sejauh mungkin, catatan itu memuat deskripsi rinci dan lugas peristiwa yang terjadi di
kelas. Observasi anekdotal tidak mempersyaratkan pengamat memperoleh latihan
secara khusus. Suatu observasi anekdotal yang baik setidaknya memiliki empat ciri,
yaitu: 1) pengamat harus mengamati keseluruhan sekuensi peristiwa yang terjadi di
kelas, 2) tujuan, batas waktu dan rambu-rambu pengamatan jelas, 3) hasil pengamatan
dicatat lengkap dan hati-hati, dan 4) pengamatan harus dilakukan secara objektif.
Beberapa model pengamatan anekdotal diusulkan oleh Reed dan Bergermann
(1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain: a) Catatan Anekdotal Peristiwa
dalam Pembelajaran, b) Observasi Anekdotal Interaksi Guru-Siswa, c) Lembar
Observasi Model Pengelolaan Kelas, f) Lembar Observasi Keterampilan Bertanya, g)
Catatan Anekdotal Keruntutan Pembelajaran, dsb.

2. Pengamatan terhadap Kelas (Observing Classroom)


Pengamatan anekdotal dapat dilengkapi sambil melakukan pengamatan
terhadap segala kejadian yang terjadi di kelas. Pengamatan ini sangat bermanfaat
karena dapat mengungkapkan praktik-praktik pembelajaran yang menarik di kelas.
Disamping itu, observasi demikian dapat menunjukkan strategi yang digunakan guru
dalam menangani kendala dan hambatan pembelajaran yang terjadi di kelas. Observasi
kelas meliputi deskripsi tentang lingkungan fisik kelas, tata letak, dan pengelolannya.
Beberapa model pengamatan kelas diusulkan oleh Reed dan Bergermann
(1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain: a) Format Peta Kelas, dan b)
Observasi Kelas Terstruktur.

3. Pengamatan Perilaku/Kemampuan Siswa (Observing Students).


Observasi terhadap perilaku siswa dapat mengungkapkan berbagai hal yang
menarik. Siswa dapat diamati secara individual atau bekelompok sebelum, saat
berlangsung, dan sesudah usai pembelajaran. Perubahan pada setiap individu juga
dapat diamati, dalam kurun waktu tertentu, mulai dari sebelum dilakukan tindakan,
saat tindakan diimplementasikan, dan setelah satu atau dua siklus tindakan, dsb.
Beberapa model pengamatan terhadap perilaku siswa diusulkan oleh Reed
dan Bergermann (1992) dan Stringer (2004) yang dapat digunakan dalam PTK, antara
lain: a) Tes Diagnostik, b) Catatan Aaktivitas/Perilaku Siswa, c) Sistem Koding Partisipasi
Siswa, d) Pedoman Wawancara untuk pendalaman atau triangulasi, e) dan instrumen-
instrumen tes.

52
H. Analisis Data Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dikategorikan sebagai penelitian kualitatif,
sehingga data kualitatif merupakan data yang sangat penting, di samping data
kuantitatif. Data kualitatif ini diperoleh sebagai hasil deskripsi dari praktik
pengimplementasian treatment sebagai tindakan serta aspek-aspek kondisi sasaran
atau lingkungan belajar selama treatment diimplementasikan (Ernie Stringer, 2003 ;
Geoferry E. Mills, 2004). Jadi, data lebih banyak berbicara mengenai deskripsi proses
pengimplementasian tindakan itu sendiri. Data-data semacam ini memerlukan
penanganan tersendiri untuk bisa dimaknai. Seperti pada penelitian jenis lainnya, pada
PTK, data-data yang telah terkumpul perlu diolah dan diinterpretasikan. Pengolahan
(analiais) dan interpretasi ini dilakukan agar data-data ini menjadi (lebih) bermakna.
Data hasil PTK tidak perlu (tidak boleh) dianalisis secara inferensial, melainkan
cukup dengan analisis deskriptif, baik deskriptif kualitatif maupun deskriptif kuantitatif.
Untuk analisis deskriptif kualitatif, Tantra (2006) mengusulkan 2 langkah sederhana,
yaitu reduksi dan pemaparan data. Reduksi data merupakan proses penyederhanaan
data yang dilakukan melalui seleksi, pengelompokan, dan pengorganisasian data
mentah menjadi sebuah informasi bermakna. Data dan/atau informasi yang relevan ini
sebaiknya terkait langsung dengan pelaksanaan atau proses pemberian tindakan PTK
yang akan diolah untuk bahan evaluasi. Sedangkan pemaparan data merupakan suatu
upaya menampilkan data secara jelas dan mudah dipahami dalam bentuk paparan
naratif atau perwujudan lainnya yang dapat memberikan gambaran jelas tentang
proses tindakan yang dilakukan.
Data kuantitatif PTK merupakan hasil pengukuran kemampuan-kemampuan
tertentu sebagai dampak pengimplementasian tindakan, lebih berbicara dampak
tindakan PTK. Data-data semacam ini memerlukan penanganan yang berbeda
dibandingkan dengan data deskripsi-kualitatif tersebut, agar angka-angka ini menjadi
lebih bermakna. Cara yang umum dilakukan misalnya melalui pembuatan tabel,
diagram, atau tabel-tabel distribusi frekuensi, atau pembandingan nilai ukuran
pemusatan (mean, median, modus) dan ukuran penyebaran (simpangan baku, variansi,
dsb.). Tabel, diagram, dan tabel-tabel ini juga diarahkan untuk menampilkan gambaran
komparatif atau pembandingan. Pembandingan bisa dilakukan antara kondisi setelah
PTK dengan sebelum PTK; antara kondisi akhir siklus I dengan awal siklus I, dsb. Untuk
materi-materi pelajaran, antar siklus PTK, yang relatif setara tingkat kesukarannya, bisa
dilakukan juga pembandingan, misalnya pembandingan penguasaan materi antara
hasil siklus II dengan hasil siklus I. Dalam hal ini, antar siklus memang harus berbeda
materinya, mengikuti struktur materi dalam silabus masing-masing. Jelasnya,
pembandingan pada PTK adalah antara kondisi setelah dengan sebelum.

53
Pembandingan ini deskriptif, artinya tidak melalui uji inferensial (tidak perlu dicari
signifikansi perbedaannya).

I. Langkah-Langkah Taktis: Sebuah Alternatif


Sebagai alternatif langkah yang lebih mudah bagi para guru yang berminat
memulai melakukan PTK dan membuat karya ilmiah dari PTK, berikut ini disampaikan
langkah-langkah taktis (suatu tip atau trik). Langkah-langkah taktis ini, sejak sebelum
PTK sampai dengan pasca-PTK.
1. Langkah-langkah Awal Guru, sebelum PTK Dilakukan (Pra-PTK)
a. Menemukenali permasalahan yang perlu dipecahkan dari kelas pembelajaran yang
diampunya dengan menunjukkan fakta-fakta yang belum sesuai dengan harapan
b. Mengajak kolaborator (guru lain, kepsek, pengawas dari dinas pendidikan, dosen
LPTK, dsb.) yang dapat diajak bekerjasama untuk kepentingan 2 pihak
c. Mencari pembimbing seorang dosen LPTK atau widyaiswara (untuk karya ke IVb)
d. Menganalisis permasalahan (menemukan akar atau faktor penyebab permasalahan)
e. Menemukan macam/alternatif tindakan
f. Menentukan materi pembelajaran (KD/subKD, MP/subMP)
g. Menyusun rencana atau proposal PTK (menurut format tertentu), bila dituntut.

2. Langkah-langkah dalam PTK (Siklus-1)


a. Merencanakan Tindakan (Planning),
1) Mencermati rencana awal tindakan atau proposal yang sudah disusun
2) Menyiapkan perangkat pembelajaran relevan, misalnya:
- Penyusunan Silabus dan RPP relevan
- Penyusunan LKS relevan
- pengorganisasian bahan ajar (modul, ringkasan, dsb)
- Penyiapan Media pembelajaran (jika diperlukan)
- Penyusunan instrumen observasi dan penilaian
- Penentuan Jadwal.
b. Melaksanakan Tindakan (Acting/Implementing),
c. Mengobservasi (Monitoring/Observing),
d. Melakukan Refleksi (Reflecting)
1) Analisis data
2) interpretasi
3) langkah tindak lanjut

2. Langkah-langkah dalam PTK (Siklus-2)


a. Memperbaiki Rencana Tindakan (Planning),
1) Mengenali rekomendasi hasil refleksi siklus-1

54
2) Menetapkan langkah atau strategi baru (bila diperlukan) dalam mengimple-
mentasi tindakan yang telah dipilih sejak siklus-1
3) Menyiapkan perangkat pembelajaran, bila diperlukan yang baru
b. Melaksanakan Tindakan (Acting/Implementing),
c. Mengobservasi (Monitoring/Observing),
d. Melakukan Refleksi (Reflecting)
1) Analisis data
2) interpretasi
3) Menentukan langkah tindak lanjut (selesai atau siklus-3)
3. Langkah-langkah Akhir, setelah PTK Dilakukan (Pasca-PTK).
a. Membuat laporan PTK (menurut format yang ada),
b. Melakukan diseminasi hasil PTK (seminar hasil PTK), khususnya untuk PTK yang
dibiayai pemerintah atau lembaga lain,
c. Menyusun artikel untuk jurnal, majalah ilmiah, dsb., atau makalah untuk seminar,
dsb., menggunakan format menurut aturan jurnal/majalah ilmiah, atau penyeleng-
gara seminar.
J. Contoh Format Proposal PTK
Tidak ada format yang baku untuk proposal PTK. Format sangat tergantung
sponsor atau pemberi dana. Format juga sering ditentukan oleh otoritas terkait
penggunaan proposal PTK (misalnya Dinas Pendidikan dan LPMP terkait). Berikut ini
disajikan salah format, yang dimodifikasi dari format proposal untuk PLPG 2011.

1. JUDUL
2. LATAR BELAKANG MASALAH
3. IDENTISIKASI DAN PERUMUSAN MASALAH
4. CARA PEMECAHAN MASALAH
5. TUJUAN PENELITIAN DAN MANFAAT PENELITIAN
6. KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
7. RENCANA PENELITIAN
Setting penelitian (karakteristik subjek penelitian, tempat dan waktu penelitian)
Variabel yang Diselidiki
Rencana Tindakan dan Jabaran dari Siklus ke Siklus Tindakan
Analisis Data
Indikator kinerja (Indikator Keberhasilan)
8. TIM PENELITI DAN TUGASNYA
9. JADWAL PENELITIAN
10. DAFTAR PUSTAKA
11. LAMPIRAN

55
Daftar Pustaka
Corebima, A.D. 2007. Penelitian adalah Kebutuhan Guru Masa Depan. Makalah Diklat
Guru Mapel Biologi yang diselenggarakan oleh MGMP Biologi SMA Kab. Sleman
bekerjasama dengan FMIPA UNY, tanggal 1-3 Desember 2007, di SMAN 1
Ngaglik, Sleman.
Subdit Dikdas & PLB. 2008. Pedoman Block Grant Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:
Direktorat Profesi Pendidik, Ditjen PMPTK, Depdiknas.
Kemmis, S.(1982). Action research in retrospect and prospect. In C.Henry, C.Cook,
Kemmis, R. & McTaggart. (1988), The Action Research Reader Action Research and
the Critical Analysis of Pedagogy. Geelong: Deakin University, pp 11-29.
McTaggart. (1993). Action research and parent participation: Contradictions, concerns
and consequences, Curriculum Perspectives, 4(2), 7-14.
Mills, G.E. 2003. Action Research: A Guide for the Teacher Researcher. 2nd Edition. New
jersey: Pearson Merrill Prentice Hall.
Paidi. 2005. Pengolahan dan Pemaknaan Data Penelitian Tindakan Kelas. Makalah
disampaikan pada Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas Bagi Guru-guru SMAN 2
Yogyakarta, tanggal 3-4 Desember 2005, di SMAN 2 Yogyakarta
Paidi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Materi Diklat Sertifikasi Guru. Yogyakarta: Lem-
baga Penelitian & P3AI UNY.
Paidi. 2008a. Penelitian Tindakan Kelas: Sebuah Alternatif Cara Peningkatan Kualitas
Pembelajaran. Makalah disampaikan pada Kegiatan Workshop SSN (Sekolah
Standar Nasional) di SMAN 1 Ngaglik, Sleman, tanggal 21-22 Januari 2008.
Paidi. 2008b. Penelitian Tindakan Kelas: Potensi dan Prosedur Tekniknya bagi Guru.
Makalah Seminar dan Workshop PTK yang diselenggarakan oleh STIKES
Muhammadiyah Gombong, di Gombong-Kebumen, 30 Maret 2008.
Parjono, Paidi, dkk. 2007. Panduan Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Lembaga
Penelitian UNY.
Raka Joni, T. (1998). Penelitian Tindakan Kelas: Beberapa Permasalahannya. Jakarta:
PCP PGSM Ditjen Dikti.
Reed, A.J.S. & Bergemann, V.E. (1992). A Guide to Observation and Participation : In
the Classroom. Connecticut: The Dushkin Publishing Group, Inc..
Stringer Ernie. 2004. Action Research in Education. New Jersey: Pearson-Merrill
Prentice Hall
Tantra, Dewa Komang. 2006. Konsep Dasar dan Karakteristik Penelitian Tindakan
Kelas. Makalah Pelatihan Metodologi Penelitian untuk Peningkatan Kualitas
Pembelajaran (PPKP) dan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi Dosen-Dosen LPTK
se-Indonesia” yang diselenggarakan oleh Direktorat Ketenagaan, Ditjen DIKTI,
Depdiknas, tanggal 5–9 April 2006.

56
A. Pendahuluan
Ada satu metode penelitian lagi yang perlu dibahas MPPB ini, ialah penelitian
dan pengembangan atau research and development (R&D). Penelitian dan
Pengembangan merupakan penelitian yang dilakukan bukanlah untuk menemukan
teori, melainkan penelitian yang bertujuan untuk menghasilkan atau mengembangkan
suatu produk. Produk penelitian dalam R&D tentu saja berupa perangkat
pembelajaran atau produk-produk terkait kegiatan pendidikan dan pembelajaran,
bahkan juga bisa berupa prosedur-tertentu, yang terkait kegiatan pendidikan dan
pembelajaran ini, yang sebelumnya belum ada atau belum layak, yang sangat
mendesak keberadaannya. Rancangan penelitian pengembangan bertujuan untuk
mengembangkan suatu produk berdasarkan kebutuhan yang terdiri dari hasil analisis
data suatu penelitian yang dilakukan sebelumnya. Rancangan semacam ini juga dikenal
sebagai rancangan R & D (Research and Development) (Kasihani & Adi Rakhmat, 2006).
Pengembangan perangkat pembelajaran adalah serangkaian proses atau
kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan suatu perangkat pembelajaran
berdasarkan teori pengembangan yang telah ada. Menurut van den Akker dan Plomp
(Hadi, 2001: 4) penelitian dan pengembangan berdasarkan dua tujuan yaitu (1)
pengembangan untuk mendapatkan prototipe produk, (2) perumusan saran-saran
metodologis untuk pendesainan dan evaluasi prototipe tersebut.
Richey and Nelson (Hadi, 2001: 4) mendefiniskan Penelitian pengembangan
sebagai suatu pengkajian sistematis terhadap pendesainan, pengembangan dan
evaluasi program, proses dan produk pembelajaran yang harus memenuhi kriteria
validitas, praktikalitas dan efektivitas. Suatu produk atau program dikatakan valid
apabila ia merefleksikan jiwa pengetahuan (state-of-the-art knowledge). Ini yang kita
sebut sebagai validitas isi; sementara itu komponen-komponen produk tersebut harus
konsisten satu sama lain (validitas konstruk). Selanjutnya suatu produk dikatakan
praktikal apabila produk tersebut menganggap bahwa ia dapat digunakan (usable).
Kemudian suatu produk dikatakan efektif apabila ia memberikan hasil sesuai dengan
tujuan yang telah ditetapkan oleh pengembang.
Produk R&D dalam kaitannya dengan pendidikan dan pembelajaran bisa berupa
kurikulum, model, sistem managemen, sistem pembelajaran, bahan/media
pembelajaran dan lain-lain. Untuk lebih memahami hakikat dari jenis penelitian dan
pengembangan (research and development) perlu dikemukakan tiga hal yang saling
berkaitan dan berhubungan satu sama lain dalam upaya pemecahan masalah-masalah

57
pendidikan/pembelajaran. Tiga hal tersebut adalah penelitian (research), evaluasi
(evaluation) dan pengembangan (development). Gephart (1972 : 3) menjelaskan
tentang tiga hal tersebut bahwa proses penelitian tujuannya untuk menemukan/
mengetahui sesuatu (need to know), proses evaluasi bertujuan untuk menentukan
pilihan (need to choose), dan proses pengembangan bertujuan untuk menemukan
suatu cara/metode yang effektif (need to do). Perlu penulis ditambahkan di sini bahwa
dalam evaluasi terkandung kegiatan yang bertujuan untuk menyediakan informasi
tentang sesuatu hal yang bersifat ilmiah, yang dapat dijadikan dasar dalam
pengambilan keputusan

B. Contoh R&D
Salah satu model model R&D yang dipandang lebih generik sifatnya adalah
model ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE muncul pada
tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda. Salah satu fungsi ADDIE
yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program
pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri. Sehingga
dapat membantu instruktur pelatihan dalam pengelolaan pelatihan dan pembelajaran.

Model ini menggunakan 5 tahap atau langkah pengembangan yakni :


1. Analysis (analisis)
2. Design (disain / perancangan)
3. Development (pengembangan)
4. Implementation (implementasi/eksekusi)
5. Evaluation (evaluasi/ umpan balik)

Langkah 1: ANALISIS (ANALYSIS)


Tahap analisis merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari
oleh peserta belajar, yaitu melakukan needs assessment (analisis kebutuhan),
mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis tugas (task analysis).
Oleh karena itu, output yang akan kita hasilkan adalah berupa karakteristik atau profile
calon peserta belajar, identifikasi kesenjangan, identifikasi kebutuhan dan analisis
tugas yang rinci didasarkan atas kebutuhan.

Langkah 2: DESAIN (DESIGN)


Tahap ini dikenal juga dengan istilah membuat rancangan (blue-print). Ibarat
bangunan, maka sebelum dibangun gambar rancang bangun (blue-print) diatas kertas
harus ada terlebih dahulu. Apa yang kita lakukan dalam tahap desain ini? Pertama
merumuskan tujuan pembelajaran yang SMAR (specific, measurable, applicable, dan
realistic). Selanjutnya menyusun tes , dimana tes tersebut harus didasarkan pada

58
tujuan pembelajaran yag telah dirumuskan tadi. Kemudian tentukanlah strategi
pembelajaran yang tepat harusnya seperti apa untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam
hal ini ada banyak pilihan kombinasi metode dan media yang dapat kita pilih dan
tentukan yang paling relevan. Disamping itu, pertimbangkan pula sumber-sumber
pendukung lain, misalnya sumber belajar yang relevan, lingkungan belajar yang seperti
apa seharusnya, dan lain-lain. Semua itu tertuang dalam sautu dokumen bernama
blue-print yang jelas dan rinci.

Langkah 3: PENGEMBANGAN (DEVELOPMENT)


Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print alias desain tadi menjadi
kenyataan. Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa multimedia
pembelajaran, maka multimedia tersebut harus dikembangkan. Atau diperlukan modul
cetak, maka modul tersebut perlu dikembangkan. Begitu pula halnya dengan
lingkungan belajar lain yang akan mendukung proses pembelajaran semuanya harus
disiapkan dalam tahap ini. Satu langkah penting dalam tahap pengembangan adalah uji
coba sebelum diimplementasikan. Tahap uji coba ini memang merupakan bagian dari
salah satu langkah ADDIE, yaitu evaluasi. Lebih tepatnya evaluasi formatif, karena
hasilnya digunakan untuk memperbaiki sistem pembelajaran yang sedang kita
kembangkan.

Langkah 4: IMPLEMENTASI (IMPLEMENTATION)


Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan sistem pembelajaran
yang sedang kita buat. Artinya, pada tahap ini semua yang telah dikembangkan diinstal
atau diset sedemikian rupa sesuai dengan peran atau fungsinya agar bisa
diimplementasikan. Misal, jika memerlukan software tertentu maka software tersebut
harus sudah diinstal. Jika penataan lingkungan harus tertentu, maka lingkungan atau
seting tertentu tersebut juga harus ditata. Barulah diimplementasikan sesuai skenario
atau desain awal.

Langkah 5: EVALUASI (EVALUATION)


Evaluasi adalah proses untuk melihat apakah sistem pembelajaran yang sedang
dibangun berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak. Sebenarnya tahap evaluasi
bisa terjadi pada setiap empat tahap di atas. Evaluasi yang terjadi pada setiap empat
tahap diatas itu dinamakan evaluasi formatif, karena tujuannya untuk kebutuhan
revisi. Misal, pada tahap rancangan, mungkin kita memerlukan salah satu bentuk
evaluasi formatif misalnya review ahli untuk memberikan input terhadap rancangan
yang sedang kita buat. Pada tahap pengembangan, mungkin perlu uji coba dari produk
yang kita kembangkan atau mungkin perlu evaluasi kelompok kecil dan lain-lain.

59
jadi kesimpulannya.
Dengan adanya model instruksional berdasarkan ADDIE ini, jelas sangat
membantu pengembangan material dan program pelatihan yang tepat sasaran, efektif,
maupun dinamis. Aplikasi teori SDM maupun perilaku seperti social learning,
pembelajaran aktif (active learning), pembelajaran jarak jauh (distance learning),
paham konstruktif (constructivism), aliran strength based (positive-based
management), aliran perilaku manusia (behaviourism), maupun paham kognitif
(cognitivism) akan sangat membantu pengembangan material pelatihan bagi
instruktur. Bila diamati secara teliti ADDIE ini mempunyai sifat pendekatan Teknologi
Pendidikan, yaitu:
1. Pendekatan isomorfi, yaitu yang mengunakan berbagai kajian atau bidang
keilmuan kedalam suatu kebulatan tersendiri
2. pendekatan sistematik, yaitu cara yang berurutan dan terarah dalam usaha
memecahkan persoalan, yaitu berawal dari analisis dan diakhiri dengan
evaluasi dan begitu seterusnya.
3. pendekatan sinergistik, yaitu yang menjamin adanya nilai tambah dari
keseluruhan kegiatan dibanding dengan bila kegiatan itu dijalankan sendiri-
sendiri.
4. sistemik, yaitu pengkajian secara menyeluruh (satu kesatuan).

C. Contoh lain R&D


Berikut akan diuraikan model-model lain selain ADDIE untuk penelitian dan
pengembangan, yang relevan untuk kegiatan pendidikan dan pembelajaran.

1. Model Pengembangan Perangkat menurut Kemp


Menurut Kemp (Trianto, 2007: 53) Pengembangan perangkat merupakan suatu
lingkaran yang kontinum. Tiap-tiap langkah pengembangan berhubungan langsung
dengan aktivitas revisi. Pengembangan perangkat ini dimulai dari titik manapun sesuai
di dalam siklus tersebut.
Pengembangan perangkat model Kemp memberi kesempatan kepada para
pengembang untuk dapat memulai dari komponen manapun. Namun karena
kurikulum yang berlaku secara nasional di Indonesia dan berorientasi pada tujuan,
maka seyogyanya proses pengembangan itu dimulai dari tujuan. Secara umum model
pengembangan model Kemp ditunjukkan pada gambar berikut:

60
Gambar 14. Model Pengembangan Sistem Pembelajaran menurut Kemp

Model pengembangan sistem pembelajaran ini memuat pengembangan perangkat


pembelajaran. Terdapat sepuluh unsur rencana perancangan pembelajaran. Kesepuluh
unsur tersebut adalah:
a. Identifikasi masalah pembelajaran, tujuan dari tahapan ini adalah
mengidentifikasi antara tujuan menurut kurikulum yang berlaku dengan fakta
yang terjadi di lapangan baik yang menyangkut model, pendekatan, metode,
teknik maupun strategi yang digunakan guru.
b. Analisis Siswa, analisis ini dilakukan untuk mengetahui tingkah laku awal dan
karateristik siswa yang meliputi ciri, kemampuan dan pengalaan baik individu
maupun kelompok.
c. Analisis Tugas, analisis ini adalah kumpulan prosedur untuk menentukan isi
suatu pengajaran, analisis konsep, analisis pemrosesan informasi, dan analisis
prosedural yang digunakan untuk memudahkan pemahaman dan penguasaan
tentang tugas-tugas belajar dan tujuan pembelajaran yang dituangkan dalam
bentuk Rencana Program Pembelajaran (RPP) dan lembar kegiatan siswa (LKS)
d. Merumuskan Indikator, Analisis ini berfungsi sebagai (a) alat untuk mendesain
kegiatan pembelajaran, (b) kerangka kerja dalam merencanakan mengevaluasi
hasil belajar siswa, dan (c) panduan siswa dalam belajar.
e. Penyusunan Instrumen Evaluasi, Bertujuan untuk menilai hasil belajar, kriteria
penilaian yang digunakan adalah penilaian acuan patokan, hal ini dimaksudkan
untuk mengukur ketuntasan pencapaian kompetensi dasar yang telah
dirumuskan.

61
f. Strategi Pembelajaran, Pada tahap ini pemilihan strategi belajar mengajar
yang sesuai dengan tujuan. Kegiatan ini meliputi: pemilihan model,
pendekatan, metode, pemilihan format, yang dipandang mampu memberikan
pengalaman yang berguna untuk mencapai tujuan pembelajaran.
g. Pemilihan media atau sumber belajar, Keberhasilan pembelajaran sangat
tergantung pada penggunaan sumber pembelajaran atau media yang dipilih,
jika sumber-sumber pembelajaran dipilih dan disiapkan dengan hati-hati, maka
dapat memenuhi tujuan pembelajaran.
h. Merinci pelayanan penunjang yang diperlukan untuk mengembangkan dan
melaksanakan dan melaksanakan semua kegiatan dan untuk memperoleh atau
membuat bahan.
i. Menyiapkan evaluasi hasil belajar dan hasil program.
j. Melakukan kegiatan revisi perangkat pembelajaran, setiap langkah rancangan
pembelajaran selalu dihubungkan dengan revisi. Kegiatan ini dimaksudkan
untuk mengevaluasi dan memperbaiki rancangan yang dibuat.

2. Model Pengembangan Pembelajaran Menurut Dick & Carey


Perancangan pengajaran menurut sistem pendekatan model Dick & Carey, yang
dikembangkan oleh Walter Dick & Lou Carey (Trianto, 2007). Model pengembangan ini
ada kemiripan dengan model yang dikembangkan Kemp, tetapi ditambah dengan
komponen melaksanakan analisis pembelajaran, terdapat beberapa komponen yang
akan dilewati di dalam proses pengembangan dan perencanaan tersebut. Urutan
perencanaan dan pengembangan ditunjukkan pada gambar 4 berikut:

62
Melakukan analisis Identifikasi
Pembelajaran Kemampuan Awal

Revisi
Pembelajaran
Pengembangan Strategi
Pembelajaran

Pengembangan dan Memilih


Perangkat Pembelajaran

Gambar.
GambarModel Perancangan
15. Model dandan
Perancangan Pengembangan Pengajaran
Pengembangan Menurut
Pembelajaran Dick Dick
menurut & Carey
&
(Trianto, 2007a: 62) Carey

Dari model di atas dapat digambarkan sebagai berikut:


a. Identifikasi Tujuan (Identity Instruyctional Goals). Tahap awal model ini adalah
menentukan apa yang diinginkan agar siswan dapat melakukannya ketika
mereka telah menyelesaikan program pengajaran. Definisi tujuan pengajaran
mungkin mengacu pada kurikulum tertentu atau mungkin juga berasal dari
daftar tujuan sebagai hasil need assesment., atau dari pengalaman praktek
dengan kesulitan belajar siswa di dalam kelas.
b. Melakukan Analisis Instruksional (Conducting a goal Analysis). Setelah
mengidentifikasi tujuan pembelajaran, maka akan ditentukan apa tipe belajar
yang dibutuhkan siswa. Tujuan yang dianalisis untuk mengidentifikasi
keterampilan yang lebih khusus lagi yang harus dipelajari. Analisis ini akan
menghasilkan carta atau diagram tentang keterampilan-keterampilan/ konsep
dan menunjukkan keterkaitan antara keterampilan konsep tersebut.
c. Mengidentifikasi Tingkah Laku Awal/ Karakteristik Siswa (Identity Entry
Behaviours, Characteristic) Ketika melakukan analisis terhadap keterampilan-
keterampilan yang perlu dilatihkan dan tahapan prosedur yang perlu dilewati,

63
juga harus dipertimbangkan keterampilan apa yang telah dimiliki siswa saat
mulai mengikuti pengajaran. Yang penting juga untuk diidentifikasi adalah
karakteristik khusus siswa yang mungkin ada hubungannya dengan rancangan
aktivitas-aktivitas pengajaran
d. Merumuskan Tujuan Kinerja (Write Performance Objectives) Berdasarkan
analisis instruksional dan pernyataan tentang tingkah laku awal siswa,
selanjutnya akan dirumuskan pernyataan khusus tentang apa yang harus
dilakukan siswa setelah menyelesaikan pembelajaran.
e. Pengembangan Tes Acuan Patokan (developing criterian-referenced test items).
Pengembangan Tes Acuan Patokan didasarkan pada tujuan yang telah
dirumuskan, pengebangan butir assesmen untuk mengukur kemampuan siswa
seperti yang diperkirakan dalam tujuan
f. Pengembangan strategi Pengajaran (develop instructional strategy). Informasi
dari lima tahap sebelumnya, maka selanjutnya akan mengidentifikasi yang akan
digunakan untuk mencapai tujuan akhir. Strategi akan meliputi aktivitas
preinstruksional, penyampaian informasi, praktek dan balikan, testing, yang
dilakukan lewat aktivitas.
g. Pengembangan atau Memilih Pengajaran (develop and select instructional
materials). Tahap ini akan digunakan strategi pengajaran untuk menghasilkan
pengajaran yang meliputi petunjuk untuk siswa, bahan pelajaran, tes dan
panduan guru.
h. Merancang dan Melaksanakan Evaluasi Formatif (design and conduct formative
evaluation). Evaluasi dilakukan untuk mengumpulkan data yang akan
digunakan untuk mengidentifikasi bagaimana meningkatkan pengajaran.
i. Menulis Perangkat (design and conduct summative evaluation). Hasil-hasil pada
tahap di atas dijadikan dasar untuk menulis perangkat yang dibutuhkan. Hasil
perangkat selanjutnya divalidasi dan diujicobakan di kelas/ diimplementasikan
di kelas.
j. Revisi Pengajaran (instructional revitions). Tahap ini mengulangi siklus
pengembangan perangkat pengajaran. Data dari evaluasi sumatif yang telah
dilakukan pada tahap sebelumnya diringkas dan dianalisis serta
diinterpretasikan untuk diidentifikasi kesulitan yang dialami oleh siswa dalam
mencapai tujuan pembelajaran. Begitu pula masukan dari hasil implementasi
dari pakar/validator.

3. Model Pengembangan 4-D


Model pengembangan 4-D (Four D) merupakan model pengembangan
perangkat pembelajaran. Model ini dikembangkan oleh S. Thagarajan, Dorothy S.
Semmel, dan Melvyn I. Semmel. Model pengembangan 4D terdiri atas 4 tahap utama

64
yaitu: (1) Define (Pendefinisian), (2) Design (Perancangan), (3) Develop
(Pengembangan) dan Disseminate (Penyebaran), atau diadaptasi Model 4-P, yaitu
Pendefinisian, Perancangan, Pengembangan, dan Penyebaran seperti pada gambar 5
berikut.

Gambar Gambar
Model Pengembangan PerangkatPerangkat
16. Model Pengembangan Pembelajaran 4-D Thigarajan
Pembelajaran 4-D (4-P) (Trianto,
2007a: 66)

Secara garis besar keempat tahap tersebut sebagai berikut.


1. Tahap Pendefinisian (define). Tujuan tahap ini adalah menentapkan dan
mendefinisikan syarat-syarat pembelajaran di awali dengan analisis tujuan dari
batasan materi yang dikembangkan perangkatnya. Tahap ini meliputi 5 langkah
pokok, yaitu: (a) Analisis ujung depan, (b) Analisis siswa, (c) Analisis tugas. (d)
Analisis konsep, dan (e) Perumusan tujuan pembelajaran.

65
2. Tahap Perencanaan (Design). Tujuan tahap ini adalah menyiapkan prototipe
perangkat pembelajaran. Tahap ini terdiri dari empat langkah yaitu, (a)
Penyusunan tes acuan patokan, merupakan langkah awal yang
menghubungkan antara tahap define dan tahap design. Tes disusun
berdasarkan hasil perumusan Tujuan Pembelajaran Khusus (Kompetensi Dasar
dalam kurikukum KTSP). Tes ini merupakan suatu alat mengukur terjadinya
perubahan tingkah laku pada diri siswa setelah kegiatan belajar mengajar, (b)
Pemilihan media yang sesuai tujuan, untuk menyampaikan materi pelajaran, (c)
Pemilihan format. Di dalam pemilihan format ini misalnya dapat dilakukan
dengan mengkaji format-format perangkat yang sudah ada dan yang
dikembangkan di negara-negara yang lebih maju.
3. Tahap Pengembangan (Develop). Tujuan tahap ini adalah untuk menghasilkan
perangkat pembelajaran yang sudah direvisi berdasarkan masukan dari pakar.
Tahap ini meliputi: (a) pembuatan draft, (b) validasi perangkat oleh para pakar
diikuti dengan revisi, (c) simulasi yaitu kegiatan mengoperasionalkan rencana
pengajaran, dan (d) uji coba terbatas dengan siswa yang sesungguhnya. Hasil
tahap (c) dan (d) digunakan sebagai dasar revisi. Langkah berikutnya adalah uji
coba lebih lanjut dengan siswa yang sesuai dengan kelas sesungguhnya.
4. Tahap penyebaran (Disseminate). Pada tahap ini merupakan tahap penggunaan
perangkat yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas misalnya di
kelas lain, di sekolah lain, oleh guru yang lain. Tujuan lain adalah untuk menguji
efektivitas penggunaan perangkat di dalam KBM.

4. Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)


Model pengembangan PPSI dilakukan untuk rancangan pembelajaran
sebagaimana bagan berikut.

66
Gambar
Gambar Model 17. Model Pengembangan
pengembangan Pembelajaran
PPSI (Sasongko, 2004:57) menurut PPSI

Secara garis besar, model pengembangan PPSI mengikuti pola dan siklus
pengembangan yang mencakup: (1) perumusan tujuan, (2) pengembangan alat
evaluasi, (3) kegiatan belajar, (4) pengembangan program kegiatan, (5) pelaksanaan
pengembangan. Sesuai bagan di atas, perumusan tujuan menjadi dasar bagi
penentuan alat evaluasi pembelajaran dan rumusan kegiatan belajar. Rumusan
kegiatan belajar lebih lanjut menjadi dasar pengembangan program kegiatan, yang
selanjutnya adalah pelaksanaan pengembangan. Hasil pelaksanaan tentunya
dievaluasi, dan selanjutnya hasil evaluasi digunakan untuk merevisi pengembangan
program kegiatan, rumusan kegiatan belajar, dan alat evaluasi.
Dari ketiga model pengembangan sistem pembelajaran dan satu model
pengembangan perangkat pembelajaran yang telah dibahas, menunjukkan bahwa
keempatnya memiliki beberapa perbedaan, namun juga memiliki persamaan. Justru
dengan adanya perbedaan itu menyebabkan masing-masing memiliki kelebihan dan
kekurangan.
Persamaan dari keempat model tersebut antara lain bahwa pada dasarnya
ketiganya terdiri atas empat tahap pengembangan, yaitu: (a) pendefinisian, (b)
perancangan, (c) pengembangan dan (d) penyebaran. Kelebihan dari model Kemp
antara lain: (a) Diagram pengembangannya berbentuk bulat telur yang tidak memiliki
titik awal tertentu, sehingga dapat memulai perancangan secara bebas, (b) Bentuk

67
bulat telur itu juga menunjukkan adanya saling ketergantungan di antara unsur-unsur
yang terlibat, (c) Dalam setiap unsur ada kemungkinan untuk dilakukan revisi, sehingga
memungkinkan terjadinya sejumlah perubahan dari segi isi maupun perlakuan
terhadap semua unsur tersebut selama pelaksanaan program.
Keunggulan model Dick dan Carey ini terletak pada analisis tugas yang tersusun
secara terperinci dan tujuan pembelajaran khusus secara hirarkis. Disamping itu
adanya uji coba yang berulang kali menyebabkan hasil yang diperoleh sistem dapat
diandalkan. Kelemahan model ini adalah uji coba tidak diuraikan secara jelas kapan
harus dilakukan dan kegiatan revisi baru dilaksanakan setelah diadakan tes formatif.
Sedangkan pada tahap-tahap pengembangan tes hasil belajar, strategi pembelajaran
maupun pada pengembangan dan penilaian bahan pembelajaran tidak nampak secara
jelas ada tidaknya penilaian pakar (validasi)
Kelebihan dari model 4-D dan PPSI antara lain: (a) lebih tepat digunakan
sebagai dasar untuk mengembangkan perangkat pembelajaran bukan untuk
mengembangkan sistem pembelajaran, (b) uraiannya tampak lebih lengkap dan
sistematis, (c) dalam pengembangannya melibatkan penilaian ahli, sehingga sebelum
dilakukan uji coba di lapangan perangkat pembelajaran telah dilakukan revisi
berdasarkan penilaian, saran dan masukan para ahli.
Kekurangan model Kemp bila dibandingkan dengan model 4-D antara lain: (1)
Kedua model itu merupakan pengembangan sistem pembelajaran, (2) kedua model
itu kurang lengkap dan kurang sistematis, terutama model Kemp dan (3) kedua model
itu tidak melibatkan penilaian ahli, sehingga ada kemungkinan perangkat
pembelajaran yang dilaksanakan terdapat kesalahan.
Namun demikian pada model 4-D ini juga terdapat kekurangan, salah satunya
adalah tidak adanya kejelasan mana yang harus didahulukan antara analisis konsep
dan analisis tugas.
Modifikasi terhadap model 4-D, dilakukan antara lain dengan cara: (a)
Memperjelas urutan kegiatan yang semula tidak jelas urutannya, (b) Mengganti istilah
yang memiliki jangkauan lebih luas dan biasa digunakan oleh guru di lapangan, (c)
Menambahkan kegiatan yang dianggap perlu dalam pengembangan perangkat
pembelajaran dan instrumen penelitian yang akan dilakukan, (d) Mengurangi tahap
atau kegiatan yang dianggap tidak perlu.

5. Model Borg dan Gall


Tahap-tahap penelitian dan pengembangan yang dikemukakan Borg dan Gall
dapat disederhanakan menjadi empat langkah utama. Keempat langkah utama
tersebut adalah studi pendahuluan, perencanaan, uji coba, validasi, dan pelaporan.

68
Tahap studi pendahuluan, yang merupakan kegiatan research and information
collecting memiliki dua kegiatan utama, yaitu studi literatur (mengkaji pustaka dan
hasil penelitian terdahulu) dan studi lapangan. Hasil dari kegiatan ini adalah
diperolehnya profil implementasi sistem pembelajaran, khususnya yang berkaitan
dengan kegiatan atau obyek pembelajaran yang hendak ditingkatkan mutunya.
Tahap pengembangan, sebagai gabungan dari tahap planning and development
of the preliminary form of product mengandung kegiatan-kegiatan; penentuan tujuan,
menentukan kualifikasi pihak-pihak yang terlibat dalam penelitian dan pengembangan
(misalnya; peneliti dan guru), merumuskan bentuk partisipasi pihak-pihak yang terlibat
dalam penelitian dan pengembangan, menentukan prosedur kerja, dan uji kelayakan.
Hasil dari kegiatan ini adalah diperolehnya draft desain model yang siap untuk
diujicobakan.
Tahap uji lapangan mengandung tahap-tahap preliminary field testing, main
product revision,main field testing, dan product revision memiliki kegiatan utama yaitu
uji coba, baik uji coba terbatas (preliminary field test) maupun uji coba lebih luas (main
field test). Di samping itu, tahap ini mengandung pula kegiatan untuk merevisi
terhadap hasil setiap uji coba model sistem pembelajaran tersebut. Kegiatan uji coba
ini dilakukan secara siklis (desain, implementasi, evaluasi, dan penyempurnaan) sampai
ditemukan model sistem pembelajaran yang siap untuk divalidasikan. Kegiatan
selanjutnya adalah melakukan validasi, yang terdiri atas kegiatan operational field
testing dan final product revision dengan tujuan untuk menguji model melalui
eksperimentasi model kepada sejumlah sekolah. Hasil eksperimentasi ini menjadi
bahan pertimbangan dalam membuat rekomendasi tentang efektivitas dan
adaptabilitas model pembelajaran dalam konteks sistem pendidikan nasional.
Tahap diseminasi, yang diartikan sebagai tahap dissemination and
implementation mengandung kegiatan sosialisasi dan distribusi. Kegiatan ini
diwujudkan dalam bentuk sosialisasi terhadap produk hasil pengembangan kepada
calon pengguna dan pihak-pihak yang terkait di bidang pendidikan. Visualisasi kelima
langkah kegiatan R&D sebagai berikut.

69
Gambar 18. Model Pengembangan Pembelajaran menurut Borg & Gall

Daftar Referensi
Bachman, Edmund. 2005. Creative thinking roadmap (terjemahan). Jakarta: Prestasi
Pustaka.
Borg, Walter, R & Gall, Meredith, D,. 1983. Educational research: An introduction.
New York: Longman Inc.
Kasiani K.E & Adi Rakhmat. 2006. Implementasi Penelitian untuk Peningkatan Kualitas
Pembelajaran. Makalah Pelatihan Metodologi Penelitian PPKP dan PTK. Jakarta:
Diynaga, Dikti, Kemdiknas.
Masrun, dkk. 1986. Kemandirian sebagai Kualitas Pendidikan Manusia Indonesia.
Makalah Seminar Nasional Ilmu-Ilmu Sosial HIPIS Ujung Pandang, 15—19
Desember.
Riley, Kathryn A., & Nuttall, Dersmond, L,. 1994. Measuring quality education
indicators. London: The Falmer Press.
Slamet. 1993. Kemampuan Dasar Kerja Yang Dihubungkan Pada PJP II. Makalah
Seminar Perkembangan Teknologi, Ketengakerjaan, dan Arah Kebijakan
Pendidikan Nasional di IKIP Yogyakarta, 11—12 Oktober.
Squires, David, A., Huitt, William, G., and Segars, John, K,. 1983. Effective schools and
classrooms: a research-based perspective. North Washington Street Alexandria,
Virginia: ASCD.

70
Tilaar. 1998. Beberapa agenda reformasi pendidikan nasional dalam perspektif abad
21. Magelang: Tera Indonesia.
Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik
Surabaya: Prestasi Pustaka Publisher.
Zamroni. 2000. Paradigma pendidikan masa depan. Yogyakarta: PT. Bayu Indra
Grafika.

71