PENDAHULUAN Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan

yang bebas, merdeka, bersatu, berdaulat, adi l dan makmur maka rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 dan membentuk pemerintahan negara Indonesia untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupaketertin bangsa, serta ikut serta melakasanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Tujuan nasional Negara Republk Indonesia, seperti dinyatakan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, diwujudkan melalui pelaksanaan penyelenggaraan negara yang berkedaulatan rakyat dan demokratis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa, berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Untuk mewujudkan tujuan nasional tersebut danbangsa Indonesia melaksanakan pembangunan secara terencana dan bertahap. Situasi tersebut mengharuskan bangsa Indonesia untuk mengkaji ulang ketetapan dan langkah-langkah pembangunan nasional selama ini. Ketetapan Mejalis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IV/MPR/1999 Tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara Tahun 1999-2004, dinyatakan Visi dan Misi Indonesia, yaitu sebagai berikut: VISI ³Untuk mewujudkan visi bangsa Indonesia Itu, ditetapkan Misi yaitu: 1. Pengalaman Pancasila secara konsisten dan kehidupan bermasyarakat , berbangsa dan bernegara. 2. Penegakkan kedaulatan rakyat dalam segala aspek kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 3. Peningkatan pengalaman ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. 4. Penjaminan kondisi aman, damai, tertib dan ketenteraman masyarakat.

5. Perwujudan system hokum nasional, yang menjamin tegaknya supremasi. 6. Perwujudan kehidupan social budaya yang berkepribadian, dinamis, kreatif dan berdaya tahan terhadap pengaruh globalisasi. 7. Pemberdayaan masyarakat dan seluruh kekuatan ekonomi nasional. Tahun 1978 Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia

mengeluarkan Ketetapan MPR No. III/MPR/1978 tentang dan Hubungan Tata Kerja Lembaga Tertinggi Negara dengan/atau Lembaga-Lembaga Tertinggi Negara. Tata cara keprotokolan di Indonesia diatur dengan undang-undang, yaituUndang-Undang Nomor 8 Tahun 1987 tentang Protokol dan

penjabarannya dengan Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 1990 Tentang Ketentuan Mengenai Tata Tempat, Tata Upacara dan Tata Penghormatan. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1987 tentang Portokol tersebut adalah dalam usaha mencapai pengaturan protokol yang tumbuh dan berkembang berdasarkan nila sosial dan budaya bangsa Indonesia. Pada dasanya Undang-Undang Protokol dimaksud adalah untuk mengatur pemberian penghormatan dan perlakuan terhadap seseorang dalam suatu acara yang meliputi tata tempat, tata upacara, dan tata penghormatan serta pemberian penghormatan dan perlakuan sesuai dengan kedudukan dan martabat jabatan seseorang di dalam Negara, pemerintah dan masyarakat. Juga mengatur tata penghormatan terhadap bendera kebangsaan, lagu kebangsaan, pataka dan jenazah. PARADIGMA KEPROTOKOLAN DI ERA REFORMASI yaitu

memperlakukan seseorang dan lambang sesuai dengan n ketentua dengan mengingat segi kelayan ³fitted´ dan kepantasan ³proper´. Pernyataan Visi Protokol ³Protokol pencipta siituasi yang menyenangkan, harmonis dalam kegiatan.´

Diteruskan Misi Protokol yaitu: 1. Mengaplikasikan keprotokolan dan setiap peraturan perundang-undangan yang di bidang berkaitan

peraturan

perundang-undangan

dengannya secara tertib dan fleksibel. 2. Memperluas Lambang Kehormatan Negara Kesatuan Republik

Indonesia(NKRI) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, sesuai dengan kedudukannya sebagai lambang kedaulatan negara. 3. Memberikan penghormatan terhadap Pejabat Negara, Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat tertentu di dalam tata tempat dan tata upacara pada acara kenegaraan atau acara resmi dengan mengingat peraturan perundang-undangan yang ada dan memperhatikan segi kelayakan (filtted) dan kepantasanya (proper). 4. Menjadikan tugas pekerjaan sebagai ³ibadah´. 5. Membentuk dan mengembangkan mindset yaitu pola pikir, pola sikap dan pola tindak agar terwujud azas kesgeragaman dalam penyelenggaraan tata cara keprotokolan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indoesia. 6. Membudayakan sikap disiplin, ramah peduli dan senantiasa

mengekspresikan komunikasi untuk menunjang kelancaran tugas. Segenap insane protokol menghayati benar paradigma kepemimpinan yang menurut Edward Murrow adalah sebagai berikut: ³Bila anda ingn menghimbau hendaknya anda bisa dpercaya, Bilamana anda ingin dipercaya, hendaknya anda professional, dan Jika anda ingin dianggap professional, hendaknya anda mampu bekerja benar dan bekerja dengan benar´. Peraturan perudang-undangan sebagai dasar penyelenggaraan tata cara keprotokolan meliputi 2 hal, yakni; 1. Peraturan perundang-undangan yang mengatur khusus tentang tata cara keprotokolan, dan

To Survival. Sebagai manusia yang ³tahu diri´ oleh karenanya a cenderung memiliki ³harga diri´ yang pada tingkat implementasinya ia akan selalu ³peduli terhadap dirinya´. but his plan.S Al-Ankabut ayat (6) :Waman jahada fainnamaa yujahidu inafsihi. he exist. karena itu manusia bukan sekedar aktivitik melainkan juga yang siap untuk mengambil inisiatif. Ruang Lingkup dan Subtansi Undang-Undang Protokol. dan Tata Pakaian. ³KEPROTOKOLAN DI INDONESIA´ yang subtansinya meliputi: Citra Budaya dan Perkembangan Protokol Dari Masa Ke Masa. memiliki tahapan-tahapan yang harus diwujudkan yakni To Live. Menusia dengan citra dirinya di dalam kehidupa ini. makanya harus selalu diingat. Tata Penghormatan. Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tata cara keprotokolan. Tujuan Masalah Keprotokolan.2. b. Pokok ± pokok pengertian Protokol. JP Sartre : Man is nothing else. only to the extend (memberikan) that the fulfils (pemenuhan) him self. serta pengertian mengenai Tata Tempat. dan To Exist. Tata Upacara. filosofi dasar sebagai berikut: a. II CITRA BUDAYA DAN PERKEMBANGAN PROTOKOL DAR MASA KE MASA A. KEPROTOKOLAN CITRA BUDAYA BANGSA Citra manusia adalah sebagai makhluk yang potensial baik. Maka untuk mewujudkan citra dirinya melalui ijtihad dan ikhtiar.´ . Ini mengandung arti bahwa manusia ini senantiasa memperhatikan setiap perlakuan terhadap dirinya dan ia memiliki komitmen. Dan barangsiapa berupaya maka sesungguhnya ia berupaya untuk dirinya. Q.

substansinya ialah ³kegotongroyongan´ A. Dalam kontek system sosial budaya Indonesia. Sistem sosial budaya Indonesia terbentuk bukan dengan sendirinya. Perkembangan Protokol di Barat Kongres Westphalia ( 1642-1648) telah memberikan dorongan yang kuat bagi tumbuhnya diplomasi modern. melainkan hasil dari interaksi yang berlangsung lama baik dengan lingkungan internal dan eksternal. ³seating arrangement´ tahu 1645 Kongres Westphilia. A. . Dengan budaya akan makin yakin jati diri kita sebagai suatu masyarakat yang menuju ke pembentukan suatu nation. Faktor Budaya adalah sebagai potensi dan penggerak seluruh kiprah dan kiat dalam membangun. to behave in conformity with universal standards. dan dengan begitu system sosial budaya Indonesia akan menyempurnakan dirinya terus menerus sehingga tetap adaptable dengantuntutan dan dinamika pembangunan yang berlangsung. yaitu budaya dianggap sebagai penghalang. dan tidak sebaliknya.(Mohammad Sobary /Sosiolog). PERKEMBANGAN PROTOKOL DARI MASA KE MASA 1. dan sejalan dengan itu tumbuh protokol.To the right thing at the right moment on the right place´. Sistem Sosial Budaya Bangsa Indonesia Kebhinekaan adalah khasanah kesejarahan Indonesia. Pembangunan nasional adalah serangkaian perubahan sosial (social changes) yang akan terus berlangsung. sedangkana Tunggal Ika terwujud dalam cita-cita kemerdekaan Indonesia. Ia selalu berupaya untuk to act.

Pada Zaman Kerajaan Majapahit: Telah dikenal peraturan keprotokanlan yang disebut ³Satyakrama´ yang intisarinya ialah ketentuan tentang pangkat dan tingkatan dalam jabatan-jabatan di kerajaan. e.Misalnya: a. Didalam Ukiran Relief yang terdapat di Candi Borobudur dapat pula kita temukan bagian-bagian yang menggambarkan unsur-unsur atau kebiasaan protocol pada masa itu. d. Hubungan Anatara Negara: Hubungan kerajaan satu dengan Negara-negara lainnya. Di Dalam Cerita Wayang Kulit dari naskah Mahabrata maupun Ramayana kita temui bagian-bagian cerita/parwa yang menggambarkan dengan jelas terdapatnya unsur-unsur protocol. d. Dharmadylaksa dan Saptapati. Perkembangan Protokol di Indonesia Pada zaman ini telah mengenal norma-norma protocol. dapat pula kita jumpai pembedaan pangkat-pangkat pejabat pada masa itu terdiri dari 4 tingkatan yaitu Mantiri Katrini. Perjanjian Utrecht diselsaikan dalam waktu dua tahun. Kongres Wina (1815) selesai dalam waktu 16 bulan. Panca Riwilwatika. b. 2. f. c. Saraga X. Hubungan Kawula-Gusti: Hubungan antara yang memerintah dengan yang diperntah antara sang Raja dengan para Nayaka serta pengawa-pengawanya. Perjanjian perdamaian Dengan Jepang (1951) dapat teselenggara dan selesai hanya dalam waktu 4 hari saja. yaitu: a. Dalam Nagarakertagama. c. . Dalam Inskripsi Trowulan (Jawa Timur): yang bertarikh 1280 Caka atau 1385 M dapat dijumpai perkataan ³Yathakrama´ yang mempunyai arti serupa dengan Satyathakarma. Perrundingan Paris(1919) selseai dalam waktu 6 bulan. b. g.

pemerintah dan masyarakat dalam hal yang bersangkutan. Penghormatan dan perlakuan terhadap seseorang itu diberikan kepada yang berhak sesuai dengan kedudukan jabaan/sosialnya di dalam Negara. Lambang kehormatan Negara adalah Lambang Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI) yaitu Lambang Negara ³Garuda Pancasila´. y y Pertama: Melakasanakan tugas jabatan. Tata Upacara dan Tata Penghormatan. Gambar Presiden dan wakil Presiden Republik Indonesia dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. yang bersangkutan memperoleh hak ³preseance´ sesuai dengan kedudukan jabatan/sosiaalnya. Tentang kehormatan diri/jabatan telah diatur dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1987 tentang protokol yang dijabarkan dengan Peraturan Pemerintah Nmor 62 Tahun 1990 tentang ketentuan keprotokolan Mengenai Tata Tempat. Kedua: Menghadiri suatu acara yang bersifat acara kenegaraan atau acara resmi. Sebelmnya hanya diatur dengan sebuah Keputusan Presiden Nomor 265 Tahun 1968 tentang kedudukan Protokoler Pejabat. Bendera Kebangsaan Republik Indonesia ³Sang Merah Putih´.Segi-segi kehormatan diri dan kerajaan. III TINJAUAN MASALAH KEPROTOKOLAN Kata ³Seseorang´ menurut peraturan keprotokolan adalah terdiri dari Pejabat Negara. . Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat tertentu beserta isteri atau suami dari yan bersangkutan.

jika meninggal dunia maka akan memperoleh penghormatan jenzah berupa penantaran.y Ketiga: Terhadap pejabat Negara tertentu (Presiden dan Wakil Presiden) dalam menjalankan tugas jabatan mengadakan kunjungan dan menghadiri suatu upacara. dan (d) to achieve one¶s purpose/mencapai tujuan tertentu. Kata manage berasal dari bahasa italia´Managgio´ atau managgiare. karena sebagai bekal utama untuk pengembangan diri´. Keiatan pelayanan tersebut sudah tentu melibatkan sekelompok manusia dan tim kerja maka diperlukan suatu manajemen keprotokolan. Manage diberi arti (a) to direct and control/membimbng dan mengawasi . . Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM) menurut Glosari P-4 (997) ialah ³Serangkaian hak dasar yang secara kodrati melekat dalam hakikat manusia yang pada prinsipnya adalah pemberian Tuhan Yang Maha Esa yang tidak boleh dirampas oleh siapapun. tata upacara dan tata penghormatan dalam suatu upacara yang bersifat acara kenegaraan atau acara resmi. (b) to treat with care/memperlakukan dengan seksama. pemakaman dan bentuk penghormatann perkabungan berupa pengibaran setengah tiang. (c) to carry on business or affairs/ mengurus persoalan-persoalan. Managemen Keprotokolan diperlukan agar dapat menghasilkan sesuatu hasil yang bermutu dan sebuah proses sehingga dapat memberikan kepuasan ³satisfaction´ terhadap semua pihak. persmayatan. Keprotokolan pada intinya merupakan kegiatan pelayanan´service´ yang berkaitan dengan pengaturan tata tempat. y Keempat:Bahkan terhadap pejabat Negara. Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat tertentu. dalam bahasa latin disebut ³Manus´ yang berarti tangan. penjemputan.

dalam Kamus Bahasa Indonesia (1989) kata kriteri mengandung arti ukuran/patokan untuk menenutkan sesuatu.1999) demikian criteria pelayanan adalah ukuran/patokan untuk memberikan pelayanan. dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaransasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumer daya lain. Pelayanan harus selalu berorientasi terhadap pengontrol yaitu control by proses.(Management adalah sebuah proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan.MSi. Kriteria Pelayanan Keprotokolan. 5. expectation/harapan. Pelayanan harus sesuai atau memenuhi persyaratan yang ditentukan (standard operating procedur e disingkat SOP) 2. dan needs/kebutuhan. Mempertahankan faktor dignity/martabat. Muhammad Ryaas Rasyid dalam bukuya ³fungsi-fungsi pemerintah´ (1999) mengungkapkan bahwa untuk mewujudkan semua itu pemerintah melaksankan beberapa fungsi yaitu: . tujuannya adalah untuk mempertahankan eksistensi dan menciptakan kepuasan. Operasionalisasi pelayanan harus didasarkan kepada perencanaan manajeral dan perencanaan konten. wish/keinginan. George R Teryy dalam bukunya ³Principles of Management´ (1961:32). penggerakan. 4.B.´Pelayanan Prima´. sedangkan kata pelayanan berarti ³ suatu proses bantuan kepada orang lain dengan cara-cara tertentu yang memerlukan kepekaan dan hubungan interpersonal agar terciptanya kepuasan dan Dengan keberhasilan´(Drs. 3. Perilaku pelayanan harus berorientasi terhadap emotional/perasaan. yang meliputi 5 prinsip yaitu: 1. pengorganisasian.Boediono.Agar dapat menghasilkan sesuatu yang bermutu ³excellent´ dalam proses maupun produknya agar memberikan kepuasan terhadap semua pihak. control by out put dan control by out come. perencanaan.

Fungsi Pelayanan Perspektif lain digunakan dalam memahami fungsi-fungsi pemerintah ialah perspektif besar kecilnya peranan pemerintah dalam kehidupan masyarakat suatu Negara. Fungsi Pengaturan 2. Wawasan kebangsaaan pada esensi adalah ³integrasi nasional´ atau setidak-tidaknya merupakan unsur atau aspek terpenting dari interegasi nasional. Fungsi Pemberdayaan 3. Terdapat Tiga Faktor Penting yang merupakan tujuan diterbitkannya undang-undang protocol tersebut: Pertama: Sikap perlakuan yang bersifat meliputi aspek tata tempat. Wawasan Kebangsaan secara sederhana dapat didefinisikan sebagai cara pandang kesatauan kebangsaan Indonesia. tata upacara. Ketiga : Penyelenggaraan keprotokolan ditetapkan Tata Bendera Kebangsaan dan Tata Lagu Kebangsaan sesuai dengan kedudukannya sebagai Lambang Kehormatan/Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Paradigma Keprotokolan yakni ³ Memperlakukan sesuatu berpedoman ketentuan yang ada dengan memperhatikan segi fitted (cocok) dan proper (pantas)´. .1. pemerntahan dan kedudukannya dalam masyarakat. tata penghormatan dan tata pekkaian yang harus diberikan kepada atau dilaksanakan oleh seseorang dalam acara kenegaraanatau acara resmi. Terbetuknya intergrasi nasional yang kokoh akan banyak tergantung pada wawasan kebangsaan akan semakin manatap pulalah intregasi nasional. Kedua : Ekspresi dari sebuah ³sikap pengakuan´ tentang status dan kedudukan protocol sesorang sesuai dengan jabatannya dalam Negara.

Manakala kata protokol diberi kata awalan atau akhiran. A.Kata Protokol berkembang pengertiannya menjadi: 1. Peraturan upacara di Istana Kepala Negara atau berkenaan dengan penyambutan Tamu-tamu Negara. Catatan Resmi 3. Dokumen Persetujuan 2. arti dan pengertiannya bebeda. misalnya:  Protokoler  Keprotokolan  Tata Cara Keprotokolan . Naskah persetujuan pemulaan.IV POKOK-POKOK PENGERTIAN PROTOKOL Perspektif kata protokol memperlambangkan hal-hal yang berkaitan dengan segisegi ³the pride´ atau kebanggaan . Makna dan arti Protokol Protokol artinya adalah Surat resmi hasil perundingan. Perjanjian Internasional 4. dan ³superiority´ atau keutamaan. Sesorang yang memangku jabatan di bidang keprotokolan.(Badan Litbang Deplu. maka dirinya adalah merupakan barometer dimana ia bekiprah yang diwarnai dan mewarnai kepribadian pimpinan intitusinya. Protos Kolla dapat diartikan ³Lembar pertama yang melekat pada suatu dokumen yang berisi persetujuan baik yang bersifat nasional maupun internasional´. 1980).Protokol berasal dari Bahasa Yunani yaitu 2 suku kata yakni´Protos´ aritnya yang pertama dan ³kola´ mengandung arti melekatkan. Dokumen yang berisi hak-hak dan kewajiban 5.

3. A. Definisi Protokol Protokol adalah ³Serangkaian aturan dalam acara kenegaraan. Kumpulan tata cara pengaturan upacara yang dturuti oleh semua pergaulan 2. Lima Dimensi Pengertian Protokol Pengertian kata protokol memiliki 5 dimensi pengertian. acara resmi yang meiputi aturan yang mengenai tata tempat. tata upacara dan tata penghormatan kepada seseorang sesuai dengan santun dan pedoman di dalam pergaulan jabatan/kedudukan dalam negara. yaiitu: 1. pmerintah atau masyarakat´. Menyangkut figure protokol profesi dan/atau protokol fungsi. kelonggaran dan kekebalan diplomatic 4. 2. B. V RUANG LINGKUP DAN SUBSTANSI UNDANG-UNDANG PROTOKOL . Protokol Pejabat  Pejabat Protokol  Kedudukan Protokol  Protokol Upacara 1. Berdasarkan dengan penyelenggaraan sesuatu kegiatan acara. Berkaitan dengan dokumen perjanjian internasional. tata karma. 5. dan aturan/rimus-rumus tertentu. Berhubungan dengan perlakuan terhadap seseorang atau lambang kehoramatan negara. Tata tertib/sopan internasional 3. Dokumen yang berisi hak . Petugas yang melaksanakan serta bertanggung jawab Dalam Protokol Upacara terdapat 3 unsur yaitu tata cara. kewjiban.

tercermin di dalam banyaknya macam acara yang harus dilaksanakan. Penerimaan tamu Pimpinan (audiensi) 2. Penghormatan dan perlakuan terhadap Lambang-lambang Kehormatan/Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Penghormatan Jenazah dengan menggunakan Bendera Kebangsaan Republik Indonesia terhadap Pejabat Negara. Penghormatan dengan menggunakan Bendera Kebangsaan dan Lagu Kebangsaan Republik Indonesia terhadap seseorang yang bersetatus sebagai Pejabat Negara tertentu. Pejabat Pemerintah. yaitu seperti . Pemberian perlindungan. B. karena menyangkut dignity atau harga diri seseorang dan luas ruang lingkupny. yaitu sebagai berikut : 1. Kunjungan tamu dari dalam dan atau dari luar negeri. ketertiban dn keamanan terhadap seseorang yang berkedudukan sebagai Pejabat Negara. Tooh Masyarakat tertentu (tomatsu). 4. 7. . Ruang Lingkup Keprotokolan Figur Protokol yaitu Protokol Profesi dan Protokol Fungsi memikul beban tugas yang amat strategis. Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat tertentu. 6. Ruang Lingkup Undang-Undang Protokol Ruang lingkup dari Undang-Undang protocol ini meliputi tujuh prinsip pengaturan. 2. 5. Ketentuan protokol bagi Kepala Perwakilan asing di Negara Kesatuan Republik Indonesia. 1. Penghormatan dan perlakuan terhadap seseorang yang berkedudukan sebagai Pejabat Negara.A. Penyambutan terhadap kunjungan yang bersifat kunjungan kenegaraan (state visit) atau kunjungan yang bersifat resmi (official visit). Luasnya ruang lingkup tugas protocol yang menyangkut segi-segi keupacaraan. 3.

Upacara apel bendera f. Kunjungan Kenegaraan (state visit). Pelantikan Pejabat Struktural dan Pejabt Fungsional i. Penanda tanganan kerjasama (MoU atau LoL) k. Ketentuan umum yang meliputi definisi dari ³enam perkataan´ keprotokolan yaitu : Protokol. 4. Kunjungan Kerja (walking visit). Penganugerahan Tanda Kehormatan Republik Indonesia. Peringatan Hari-hari Besar Nasional b. a. Kunjungan Muhbah. Pengaturan rapat/sidang. Credentials (penyerahan Surat Kepercayaan) dari Duta Besar Negara Sahabat j. Materi Pokok Undang-Undang Protokol 1. Acara Resmi. Peresmian pembukaan/penutupan seminar. Kunjungan Pimpinan dari dalam/luar negeri. Tokoh Masyarakat tertentu. lokakarya. Peresmian proyek-proyek pembangunan e. Pejabat Pemerintah. Peresmian pembukaan/penutupan Lomba Olah Raga dll m. Peringatan Hari Ulang Tahun Organisasi d. Tata Tempat. konperensi dan lain-lain nyang sejenis l. Penyelenggaraan upacara-upacara yang memerlukan persiapan yang mantap oleh protokol.3. Peresmian pembukaan/penutupan penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pelatihan o. 5. kongres. Pelantikan Pejabat Negara g. Pejabat Negara. yaitu . dll C. Peringatan Hari-hari Besar Keagamaan c. Tata Upacara. Kegiatan-kegiatan lain yang bernuansa ceremonial p. Peresmian Keanggotaan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah h. . Kunjungan Resmi (official Visit). Acara Kenegaraan. Tanda Penghargaan dan lain-lain n. dan Tata Penghormatan.

Acara Resmi 3. Tomatsu Tingkat Daerah 8. Tokoh Masyarakat Tertentu (Tomatsu) 6. Acara kenegaraan 2. Substansi Tata Tempat yaitu. Perlakuan dan penghormatan terhadap Lambang Kehormatan Negara Kesatuan Republik Indonesia D. Tata Penghormatan E. Tomatsu Tingkat Nasional 7. Substansi Tata Upacara 4. Ketentuan ³Jajar Kehormatan´ (Receiving Line) g.2. Pejabat Negara 4. Tata Tempat dalam perjamuan resmi e. Aturan dasar Tata Tempat b. Jabatan Struktural. Presence . Tata Tempat 9. dan rotation 1. Pejabat Pemerintah. Tata Upacara 10. Substansi Tata Penghormatan 5. Inti Pengaturan Keprotokolan ³Pengaturan Keprotokolan yang meliputi preseance. a. Ketentuan bagi seseorang dengan preseance utama f. Tata Letak Lambang-lambang Kehormatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam upacara 3. Jabatan Fungsional 5. Definisi 8 Perkataan Materi Keprotokolan 1. Penetapan Klasifikasi Tokoh Masyarakat d. Penetapan Tata Tempat (Preseance) c.

Orang Palng Utama (OPU) atau VVIP 2. Treatment (Perlakuan) Kedudukan Protokol F. Ikut menentukan terciptanya suasana yang mempengaruhi keberhasilan suatu usaha. ketertiban. Terciptanya pemberian perlindungan. yaitu. Terciptanya suatu upacara yang khidmat. VI PERLAKUAN DAN PENGGUNAAN . Rotation 3. Tradisi adat istiadat dan kebiasaan setempat 4. Aixia ± Chapelle 1818. terciptanya ketertiban. perlindungan. tapi bila anda melakukan sesuatu yang salah tidak dilupakan. tertib. Sumber-sumber Keprotokolan 1. walaupun membatasi gerak pribadi. norma) tidak ada yang mengingat. Jika anda melakukan sesuatu yang benar (sesuai ketentuan kaidah. 1. ³if you do the right thing no one remember. Peraturan perundang-undangan di bidang keprotokolan dan peraturan perundang-undangan 3.Ialah hak protokoler yang diberikan kepada seseorang atau lambang untuk memperoleh penghormatan dan perlakuan. but if you do the wrong thing no one forgotten´. Vienna Convention on Consular Relations 1963 2. Menciptakan tata pergaulan yang mendekatkan satu sama lain. Out Come Keprotokolan Aturan protocol diaplikasikan dan diimplementasikan dala suatu kegiatan acara memiliki dampak positif. 3. rasa aman menjalani tugas 5. 2. 4. keamanan dan fasilitas sebagaimana mestinya sesuai dengan kedudukan jabatannya. Azas timbale balik (reciprocity) G. lancer. Persetujuan Internasional yaitu Kongres Wna 1815.

Kejaksaan Agung dan Dewan Pengawaes Keuangan. pada waktu Bendera Kebangsaan dikibarkan/diturunkan dilakukan pemberian penghormatan. b. Wakil Presiden. c. Kedudukan Lambang Negara b. Kementerian. y y Tata Penghormatan Terhadap Bendera Kebangsaan Ukuran Bendera Kebangsaan . maka bendera itu dinaikan dulu sampai ujung tiang. Dewan Perwailan Rakyat. dihentikan sebentar dan kemudian diturunkan. (Pasal 20 ayat (2) PP No. Mahkamah Agung.LAMBANG-LAMBANG KEHORMATAN NEGARA KESATUAN REPUBLIk INDONESIA 1. Lambang Negara Republik Indonesia a. Bendera tidak boleh menyinggung tanah c. Ketentuan Lain 2. Pemasangan Lambang Negara Di dalam Gedung d. Dewan Nasional. Gedung Kabinet Presiden. Jika bendera kebangsaan hendak dipasang setengah tiang. Pemasangan Lambang Negara Penggunaan Lambang Negara dibagian luar gedung hanya dibolehkan dipasang di muka sebelah luar gedung Rumah Jabatan (ambtswoning) Presiden. Bendera Kebangsaan Merah Putih dipasang pada sebuah taiang bendera dan diletakan di sebelah kanan mimbar . (Pasal 20 ayat (1) PP 62. Konstituante. Bendera Kebangsaan Republik Indonesia y Tata Letak Bendera Kebangsaan Di Dalam Ruangan Upacara Bukan upacara bendera. Bendera kebangsaan dikabarkan sampai saat matahari terbenam. maka bendara itu dinaikkan dulu sampai ke ujung tiang. dan Kepala Daerah. y Tata Pengibaran Bendera Kebangsaan a. Pemasangan di luar gedung dibatasi hanya pada gedung-gedung tersbut. 62 Th 1990). Menteri.

62/90) 1) Pada waktu mengiringi pengibaran/penurunan Bendera Kebangsaan Merah Putih tidak dibbenarkan menggunakan music dari tape recorder atau piringan 2) Pengibaran/ penrunan Bendera Kebangsaan diiringi dengan nyanyian bersama lagu Kebangsaan Indonesia Raya 3) Lagu Kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan/dinyanyikan pada waktu dan untuk. untuk menghormati Bendera itu. seperti halnya kaum Ningrat.3. Kedudukan sosialnya di dalam masyarakat 5. Pernikahan. 2. Pemilinhan atau pengangkatan untuk suatu jabatan atau kedudukan. Pemberian penghormatan dengan menggunakan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya b. 3. 44 Th 1958). Tata lagu Kebangsaaan Indonesia Raya (Psl 21 PP No. 4. 1. Pengertian dan Definisi Tata Tempat VIP = Very Important Person bahwa preseance itu dapat diperoleh oleh seorang antara lain karena hal-hal sebagai berikut. d) Sebagai pernyataan perasaan nasional. atau mewarisi Kerajaan karena keturunan. (Pasaal 4 PP No. Dinobatkan. a) Menghormat Kepala Negara/Wakil Kepala Negara b) Pengibaran/penurunan Bendera Kebangsaan yang diadakan dalam upacara. Penghormatan Terhadap Lagu Kebngsaan Indonesia Raya VII TATA TEMPAT ³PRESEANCE/PRECEDENCE´ A. Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 4. c) Menghormati negara asing. Kelahiran. e) Dalam rangka pendidikan dan pengajaran. seperti halya istri atau suami dari pejabat negara . c. Arti. Lagu Kebangsaan Republik Indonesia a.

c. 2. Kepala Staf Angkatan dan KAPOLRI. Ketua Umum DPP Partai Politik 5. dan Penjelasan Psl 7 Keterangan Tertinggi/Tinggi PP No. Menteri Negara. Utama. 62 Th 1990. 62 Th 1990.Definisi Tata Tempat Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 1990 adalah ³Aturan mengenai urutan tempat bagi Pejabat Negara. Pemimpin LPND dan Pejabat . 8 Th 1987 dan Lembaga Nomor 1-6 berdasarkan Psl 4 ayat (2) UU No. Perintis Indonesia Kebangsaan/Kemerdekaan Hurup a-e sesuai Psl 4 ayat (4) UU No. kedudukan setingkat dengan Menteri Negara. Pemilik Tanda Kehormatan RI bentuk BIntang (Adipura. Pejabat Pemerintah. 6. b. Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara. dan Tokoh Masyarakat tertentu dalam acara kenegaraan atau acara resmi´. Presiden Republik Indonesia. Wakil Presiden Republik Indonesia. B. Wakil Ketuua Lembaga Tertinggi/Tinggi Negrara. Ketua Anggota Muda Mahkamah Agung. Dasar Penetapan Dan Susunan Preceance Preseance Negara Preseance Negara/Preceance Tingkat Nasional (Psl 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1987) Pejabat Negara. a. Duta Besar RI. Pratama dan Bintang RI Nararya. Pejabat yang diberi Psl 8 PP No. Ketuan Negara. Mantan Presiden/Wakil Presiden RI 3. 8 Th 1987. 4. dan Tokoh Masyarakat Tertentu 1. Pejabat Pemerintah. Panglima ABRI/TNI. Hakim Agung pada MA d.

4.Peemerintah Tertentu. Preseance Propinsi Psl 1 ayat (2)PP 62/1990. Psl 1 ayat (2) PP No. Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia. Ketua Majelis Ulama Inndonesia (MUI). No. 8 Th 1974 1999. 5 Th 1974 dan UU NO. PP No. 84 dan No. 43 Th UU No. Ketua Pesidium Wali-Wali Gereja Indonesia. No. Ketua Parisada Hindu Dharma dan Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia. 22. e. 62/1990 dan mengacu pada Mengacu pada UU No. 100 Th 2000 .

Daerah 8. Tinggi. Ketua DPRD I. Ketua Pengadilan Negeri. 5. Ketua DPRD Kabuppaten/Kota. 4. Wakil Gubernur. Pang Militer/Komandan Resort Militer. Tomastu Tingkat Propinsi (Ketua Pemuka DPD Parpol. Komandan Militer/setingkat. Anggota DPRD Propinsi. 4. Kepala Kejaksaan Negeri. Komandan Tertinggi Kesatuam Angkatan Pengadilan dan POLRI. Kepala Wakil Ketua DPRD Propinsi. Tertinggi Angkata Ketua dan Daerah 2. Pejabat Pemerintah tertentu Resort Tokoh Agama/Adat Setepmat. Wakil Ketua DPRD Sekertaris Daerah (Esalon lla) Tokoh MasyarakatTertentu Tingkat Kabupaten/Kota . Esalon IV/Setingkat. Esalon II/Setingkat. 3. Komandan Tertinggi Kesatuan Angkatan dan POLRI. Wakil Gubernur. lainnya setingkat Asisten. PENGTI. dan Tokoh lain yang ditentukan Pemda) Tingkat 6. Kejaksaan Tinggi. Preseance Tingkat Kabupaten/Kota Bupati/Walikota. KAJATI. Sekwilda TK I. Sekda Prop (Eselon lb) Kariwil/LPND. Ketua Kepala Komandan Kesatuan POLRI. Kepala Kejakasaan Negeri Wakil Bupati /Wakil Walikota. Esalon III/Setingkat. Wakil Ketua DPRD Tingkat I. Gubernur. Gubernur KDH.x) Dam/Dan Rem. 7. Walikotamadya. Masyarakat Daerah. 3.x) Komandan Distrik. Panglima 1. 2. 9. Ketua DPRD. 5.1. Ketua Pengadilan Negeri.

PanglimRI/TNI. Hakim Agung pada MA Pemilik Tanda Kehormatan RI berbentuk Bintang (Adipura. Utama. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Pemimpin LPND dan Pejabat Peemerintah Ia / setingkat Ketua Majelis Ulama Inndonesia (MUI). Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia. maka preseance diberikan Kepada Wakil Bupati/Wakil Walikota dan Wakil Ketua DPRD II yang Menghadiri suatu acaara. setingkat Menteri Negara. PROPINSI. Ketua Parisada Hindu Dharma dan Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia. . Kepala Staf Angkatan dan KAPOLRI Ketua Umum Dewan Pemimpin Pusat Partai Politik Ketua Muda MA. Ketua Pesidium Wali-Wali Gereja Indonesia. Duta Besar RI. Pratama dan Bintang RI Nararya) Gubernur. Pemuka Agama/Adat Setempat) Anggota DPRD Kabupaten/Kota Pejabat Eselon IIb (Kepala Dinas dll) / setngkat Pejabat Eselon IIIa (Kepala Bagian dll) / setngkat Pejabat Eselon IIIb (Camat dll) / setngkat Pejabat Eselon IVa (Lurah dll) / setngkat Pejabat Eselon IVb (Sekertaris Kelurahan dll) / setngkat x) Jika Bupati/Walikota dan Ketua DPRD II berhalangan. Preseance Nasional ³Piramidal Preseance´ ³PIRAMIDAL PRESEANCE´ PEJABAT NEGARA. Anggota Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara. Wakil Ketua Tertinggi/Tinggi Negara. PEJABAT PEMERINTAH DAN TOMASTU TNGKAT NASIONAL. KABUPATEN/KOTA Presiden Republik Indonesia Wakil Presiden Republik Indonesia Mantan Presiden/Wakil Presiden RI Ketua lembaga Tertnggi/Tinggi Negara Perintis Kebangsaan/Kemerdekaan Indonesia Menteri Negara.(Ketua DPD Partai Politik. Panglima Komando Daerah Militer/Komandan Resort Militer.

 Preseance Isteri atau Suami yang mendampingi Suami atau . Ketentuan Lain Preseance Ketentuan Preseance Keterangan  Peseance Mentri Negara. Pemuka Agama/Adat Setempat) Anggota DPRD Kabupaten/Kota Kelompok Pejabat Eselon IIb / setngkat Kelompok Pejabat Eselon IIIa / setngkat Kelompok Pejabat Eselon IIIb / setngkat Kelompok Pejabat Eselon IVa / setngkat Kelompok Pejabat Eselon IVb / setngkat C. (Eselon lb) / setingkat. Pemuka Agama/Adat Setepmat) Anggota DPRD Propinsi Dan Dim. Ketua DPRD Kabuppaten/Kota Tokoh Masyarakat Tertentu Tingkat Propinsi (Ketua DPD Parpol. ditetapkan berdasarkan Keputusan Penjelasan Pasal 7 PP 62 Presiden Republik Indonesia tentang pembentukan Kabinet Urutannya adalah Menteri coordinator. Ketua Pengadilan Tinggi. Menteri yang memimpin Departemen. Menteri Non Departemen. Ketua Pengadilan Negeri. Bupati/Walikota. Kepala Kejaksaan Negeri Wakil Bupati /Wakil Walikota. Dan TI Kesatuan Angkatan dan POLRI Tingkat Kab/Kota.Komandan Tertinggi Kesatuam Angkatan dan POLRI Tingkat Propinsi. Kelompok Esalon lla/setingkat Tokoh MasyarakatTertentu Tingkat Kabupaten/Kota (Ketua DPD Partai Politik. Kepala Kejaksaan Tinggi Wakil Gubernur. Wakil Ket ua DPRD Kabupaten/ Kota. Pejabat yang diberi kedudukan setingkat Menteri Negara. Wakil Ketua DPRD Propinsi Sekertaris Daerah Propinsi.

pejabat pemerintah dan tomastu. maka isteri atau suami tersebut memperoleh preseance setingkat suami/istrinya. maka baginya berlaku tata tempat yang No. Pejabat Pemerintah atau Tomastu berhalang hadir pada suatu upacara. artinya preseance isteri/suami setelah Pasal 10 PP 62 dan Pedoman Keprotokolan suami/isternya manakala isteri atau suami dari Pejabat Negara.  Preseance Pejabat Yang Mewakili. Contohnya seorang Menteri Negara yang juga menjabat sebagai Ketua Umum DPP partai Politik. urutannya lebih dahulu. Berdasarkan hal tersebut. Dalam hal pejabat Negara. maka preseance KDH dapat diisi oleh Wakil KDH  Wakil Ketua DPRD bukan mewakili Ketua DPRD melainkan Wakil ³Vice´ (Pimpinan DPRD I dan Pimpinan DPRD II bersifat kolektif). Preseance bagi pejabat yang mewakili memperoleh preseance sesuai dengan kedudukan jabatannya. 22 Tahun 1999. Pejabat Pemerintah dan Tomastu menghadiri suatu upacara tanpa kehadiran suami atau isteri yang berstatus sebagai pejabat negara. maka tempatnya tidak diisi oleh pejabat yang mewakili ³representative´. Pejabat Pemerintah dan Tomastu dalam acara kenegaraan atau acara resmi memperoleh preseance sesuai dengan urutan tata tempat suami/isterinya. apabila ybs . Berdasarkan hal tersebut. maka preseance Ketua DPRD dapat diisi oleh Wakil Ketua DPRD. Dalam hal ini Pejabat Negara dan Pejabat Pemerintah memangku jabatan lebih dari satu yang Psl 30 dan 57 ayat (3) UU tidak sama tingkatnya. maka baginya berlaku preseance Menteri menghadiri suatu upacara.  Wakil Kepala Daerah Nasional dari Sekretariat Negara RI Th 1996 di Jakarta bukan mewakili Kepala Pasal II PP 62 Daerah melainkan Wakil ³Vice´ melaksanakan tugas.Isterinya yang berstatus sebagai Pejabat Negara. Lain halnya dengan Wakil ³Vice´ seperti halnya dengan. wewewnang KDH apabila KDH berhalangan.  Preseance Berjabat Rangkap.

Pertama. Lambang Negara ³Garuda Pancasila´. Tetapi kalau acara resmi tersebut Pasal 12 PP 62 diselenggarakan oleh Daerah itu sendiri dan dihadiri oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden. 62/1990 Keempat.  Preseance Lambang Kehormatan NKRI Tata Urutan Lambang Kehormatan/Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah. maka yang mendampingi sebagai tuan rumah acara adalah Menteri/Kepala LPND ybs. Acara resmi yang diselenggarakan oleh Instansi Tingkat Pusat (Departemen/LPND) dan diadakan di Daerah dan dihadiri oleh Presiden atau Wakil Presiden RI.  Preseance Pejabat RI dengan Pejabat Perwakilan Asing. Tata tempat Pejabat yang menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan acara resmi baik yang diadakan di Pusat atau di Daerah pada prinsipnya memperoleh preseance mendampingi Pejabat Tertinggi yang bertindak sebagai Pasal 24 dan 31 Undangundang Nomor 4 Tahun 1999. tetapi mendapat tempat pertama dalam golongan yang setingkat lebih rendah itu. Dalam . Kedua. Pembina/Inspektur Upacara.  Preseance Mantan Pejabat Negara/Pejabat Pemerintah memperoleh preseance setingkat lebih rendah dari pada yang masih berdinas aktif. Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia dan Psl 9 dan Penjelasan dari PP No. Apabila yang menjadi tuan rumah pihak RI. maka Pejabat Perwakilan Asing memperoleh preseance pertama. Lagu Kebangsaan ³Indonesia Raya´. Pelaksanaan pengaturannya dengan cara berselang. Bendera Kebangsaan ³Sang Merah Putih´.  Tata Letak Bendera Kebangsaan sang Merah Putih. maka yang mendampingi sebagai tuan rumah adalah Gubernur atau Bupati yang bersangkutan. Ketiga. Preseance Tuan Rumah. kemudian apabila yang menjadi tuan rumah pihak Pemerintah Asing maka Pejabat RI memperoleh preseance pertama (Menlu RI mengalahkan urutan tempat Dubes RI maupun Dubes Asing.

.acara kenegaraan/acara resmi bukan upacara bendera. Penjelasan Pasal 7 PP 62 Penjelasan Pasal 7 PP No. LN. Pasal 35 UUd 1945 dan PP No. BK.I. 43 Tahun 1958. 40 Th 1958. Psl 3 ayat (3) UUDS R. 66 Th 1951 dan Pasal 5 PP No. PP No. 62 Th 1990 . Bendera Kebangsaan Sang Merah Putih dipasang pada sebuah tiang bendera dan diletakkan di sebelah kanan mimbar.

Rumus jumlah ganjil (angka ganjil di sebelah kiri) \ (3) (1) (2) atau (5) (3) (1) (2) (4) Rumus jumlah ganap (angka ganjil di sebelah kiri) (4) (2) (1) (3) atau (6) (4) (2) (1) (3) (5) Kedua: First Row/baris pertama terdiri dari sight right dan sight left (sayap kanan dan kiri baris utama). Tap MPR. 62 Tahun 1990. Sedangkan Definisi Tata Upacara berdasarkan Pasal I ayat (6) Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 1990 adalah ³Aturan untuk melaksanakanupacara dalam acara kenegaraan atau acara resmi" . Setting Arrangemmusent Pertama: Front Row (Baris Utama).RI dan Psl 5 PP No. Psl 4 PP No. 43 Th 1958. D. XXXXXXXX First Row (Left) XXXXXX Font Row XXXX XXXX First Row (Right) VIII TATA UPACARA A. Pengertian dan Definisi Tata Upacara Tata Upcara menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia mempunyai arti ³Sesuatu atuan/peraturan sebagai dasar untuk dijadikan pedoman menyusun tata tertib dalam menyelenggarakan sesuatu perbuatan yang pasti menurut adat kebiasaan´. LKIR. 44 Th 1958. Psl 3 (2) UUDS RI. Psl 20 ayat (2) PP No.Pres/Wk Pres.

Pedoman Tata Upacara a. Melakukan koordinasi. Senantiasa memelihara citra institusi. Penyelenggaraan dan pelaku upacara harus mewujudkan budaya ³saling menghormati´ e. . Langkah-langkah Persiapa No Jam Acara Uraian Acara Pemb. H Jam J-I) 4. monitoring. d. Monitoring. Aturan Uapacara 1. 2. mengaplikasikan dan mengimplementasikan segala ketentuan keprotokolan berdasarkan peraturan perundangundangan di bidang keprotokolan dan juga yang berkaitan dengan bidang keprotokolan serta menjunjung tinggi nilai sosial dan budaya bangsa. Antisipasi) 3. Tata Cara 2. dan penelitian ulang. b. Bentuk Upacara Bukan Upacara Bendera dalam acara kenegaraan b. Bentuk Upacara 1. Memperhayikan. Melaksanakan KORDIMAN (Koordinasi. Kelengkapan Upacara c. Menegakkan disiplin upacara serta pelaksanaan acara harus tetap berpedoman kepada juklak upacara yang telah disepakati. antisipasi. Menerapkan aturan/rumus E. Kegiatan Ket. Sifat Acara 1. Mengadakna Cek dan Re-cek (H-I. Tata Krama 3. Pengendalian 2. Pelaksanaan Upacara 1. Pasaca upacara melakukan Evaluasi F. Upacara Bukan Upacara Bendera a. Unsure Penting Tata Upacara 1. Perlengkapan Upacara b. Acara Resmi 3. Dipersamakan Dengan Acara Resmi D. Acara Kenegaraan 2. c. Upacara Bendera 2. Berdoa Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa 5. Bentuk Upacara Buakan Upacara Bendera dalam acara resmi C. Penyelenggaraan Upacara Upaya Penyelenggaraan Upacara dimaksud terdiri dari.B. a.

Penyelenggaraan upacara pelantikan pejabat 2. Prinsip Upacara Pelanntikan Pejabat Struktural/Fungsional 1. Pejabat yang akan mengambil sumpah/janji dan melantik 3.G. Tahapan Acara Acara Pendahuluan Acara Pokok Acara Penutup Acara Tambahan H. Pelaksanaan Pelantikan Pejabat .

Penyerahan dan penerimaan Buku Memori Pelaksanaan Tugas Jabatan. Pengukuh Sumpah. Untuk melaksanakan upacara bendera dalam acara kenegaraan atau acara resmi diperlukan Kelengkapan Upacara. Penyampaian Ucapan selamat dilanjutkan ramah-tamah. b. Pembacaan Keputusan oleh pejabat yang berkompeten b. Terminologi 7. 14. Lagu Kebangsaan . Sumpah/Janji Jabatan 9. Prinsip-prinsip Upacara Bendera 1. Tempat Upacara 5. Pelaksanaan upacara bendera dalam kenegaraan atau acara resmi meliputi pula tata Bendera Kebangsaan. d. Pernyataan pelantikan. Kalimat Sumpah/Janji Jabatan 8. Penetapan Pakaian Upaacara 6. c.4. f. 15. Penyerahan Petikan Surat Keputusan Pengangkatan. Penanda tanganan Berita acara pengambilan sumpah/janji. Sertijab 12. Pada waktu pelaksanaan acara pengambilan sumpah/janji jabatan dan pernyataan pelantikan 11. Susunan acara Upacara Pelantikan pada umumnya terdiri dari : a. Penyerahan Piagam Penghargaan Kepada Mantan Pejabat. Serah terima jabatan dihadapakan Pelantik urutannya terdir dari Penanda tanganan berita acara sertijab. Pelaksanaan Upacara Bendera a. Penyelenggaraan upacara pelantikan harus wajar tidak boleh menimbulkan kesan berlebihan ³Mewah´ I. Surat Menteri Agama 13. Perlengkapan Upacara dan Urutan acara dalam upacara (Pasal 16 Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1990). Saksi dan Rohaniwan 10. 62). Pembacaan Doa. Rohaniwan dan Pembaca Doa dari Kantor Departemen Agama setempat. Pengibaran/Penurunan Bendera Kebangsaan dalam upacara bendera. g. e. c. diiringi dengan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya oleh korp music/paduan suara/menyanyi bersama oleh segenap peserta upacara (Psl 16 ayat (2) dan (3) PP No. Pelantikan terdiri dari pengambilan sumpah/janji jabatan. 16. Pejabat yang akan dilantik harus hadir (tidak dapat diwakilkan). Serah Terima Jabatan. Sambutan Pelantik.

. 3. Penentuan segala sesuatu yang berkaitan dengan kelengkapan. 5. Pertemuan internal komponen dan/atau inter komponen. Prinsip-prinsip Upacara Peresmian 1. 3. Keamanan dan Pengamanan. Kebutuhan administrasi. Menyusun pembagian tugas. Upacara bendera dalam acara resmi dilaksanakan sesuai tahapan acara yaitu . Acara Penutup.62 Th. Formasi bubar. Bendera Kebangsaan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya Pakaian Upacara Susunan Acara Upacara Bendera Acara Pendahuluan/Persiapan Acara Pokok Acara Penutup terdiri dari . kerjakan. Penyediaan ruangan-ruangan acara. Penyiapan benda-benda sebagai symbol peresmian. 11. Komandan Barisan memberikan penghormatan perorangan kepada Komandan Upacaara. Pembuatan Perkiraan Keadaan c. dan pelayanan pers. Pengwasan yang ketat Mempersiapkan/melaksanakan/mengkonsumsikan hal-hal sbb : 1. Publikasi. Menginvestarisasikan segala hal yang berhubungan dengan kegiatan. Acara Pendahuluan/Persiapan. 9. Perencanaan yang matang : Didalam perencanaan terdapat proses : a. sesuai rencaana. Koordinasi yang baik 3. 6. Penjemputan dan Prosesi Penyambutan (bila diperlukan). 4. Para Komandan Barisan menirukan kata-kata ³kerjakan´. 5. d. Komandan Barisan membubarkan barisan upacara.1990). 2. Acara Pokok. 8. 7. J. 2. dan Acara Tambahan. dokumentasi.2. Penentuan Sasaran b.. pemberitaan. Perlengkapan upacara. Komandan Upacara memberikan perintah ³Para Komandan Barisan. 10. Pembuatan Program. dan Pakaian Upacara (Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. Pembuatan Rencana yang harus memenuhi syarat-syarat d. Pelaksanaan yang mantap dan bertanggung jawab 4. 4.

pemadaman api. Memperhatikan masalah ketepatan jalannya acara. Tata Letak Bendera Kebangsaaan Di Dalam Ruangan Upacara Di sebelah kanan mimbar. 13. Arti. IX TATA PENGHORMATAN A. gangguan cuaca dan lain sebagainya. BENDERA KEBANGSAAN REPUBLIK INDONESIA a. 14. Pengertian dan Definisi Tata Penghormatan 1. Antisipasi mengenai kelistrikan.12. B. Mempersiapkan langkah-langkah yang perlu dan tepat 15. Jenis-jenis Pakaian Sipil Dan Perunutukannya 1) Pakaian Sipil Harian (PSH) 2) Pakaian Sipil Resmi (PSR) 3) Pakaian Sipil Lengkap (PSL) 4) Pakaian Sipil Dasi Hitam (PSDH) 5) Pakaian Sipil Nasional (PSN) 1) Pakaian Dinas Harian (PDH) 2) Pakaian Dinas Upacara (PDU) 3) Pakaian Dinas Lapangan (PDL) C. Penyerasian Penggunaan Pakaian Sipil & TNI -POLRI SIPIL UPACARA . Menyusun acara upacara peresmian.

2000 ³Paradigma Keprotokolan´. Tata Upacara. . Jakarta. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 1990 Tentang Ketentuan Keprotokolan Mengenai Tata Tempat. Badan Penelitian Dan Pengembangan Departemen Luar Negeri ³Buku Tertib Diplomatik dan Tertib Protokol´. . 5. 2. dan Tata Penghormatan. Jl Arcamanik Endah No. Komplek Perumahan Taman Golf Arcamanik. Keputusan Presiden Nomor 265 Tahun 1968 Tentang Kedudukan Protokolar Pejabat. Habdullah Zaenal Arifien. 4.Daftar Pustaka 1. Undang-undang Nomor 8 tahun 1987 Tentang Protokol. 7 Bandung 40293 (022) 7275288.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful