Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

Kemajuan teknologi dalam bidang transportasi membuat segala aktivitas


manusia menjadi lebih mudah dan efisien. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan
antara pertambahan jumlah kendaraan dengan pertambahan prasarana jalan yang
dapat memberikan dampak kecelakaan lalu lintas.
WHO ( 2009) melaporkan setiap tahun di seluruh dunia terjadi lebih dari 1,2
juta orang meninggal di jalan raya dan sebanyak 20-50 juta orang mengalami cedera
tidak fatal. Lebih dari 90% dri kematian tersebut terjadi di Negara berpendapatan
rendah dan menengah. Data Kepolisian RI tahun 2009 menyebutkan sepanjang
tahun tersebut terjadi sedikitnya 57.726 kasus kecelakaan di jalan raya. Artinya,
dalam 9,1 menit sekali terjadi satu kasus kecelakaan (Departemen Perhubungan,
2010). Data Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa pada tahun 2015 jumlah
kasus kecelakaan lalu lintas mencapai 98,9 ribu kasus. Sementara itu, penyebab
paling sering dari fraktur antebrachii adalah kecelakaan lalu lintas (American
Academy of Orthopaedic Surgeons, 2011).
Fraktur atau yang biasa disebut patah tulang adalah hilangnya kontinuitas
tulang yang dapat terjadi akibat trauma, stres berulang (terutama pada atlet / penari),
serta kelainan akibat kelainan pada tulang (fraktur patologis, misalnya pada
osteoporosis). Apabila tidak terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur
dengan udara luar atau permukaan kulit, disebut fraktur tertutup, sedangkan jika
fragmen fraktur tersebut merobek kulit sehingga memungkinkan terjadi kontaminasi
dan infeksi disebut fraktur terbuka (Solomon et al,2010).
Penanganan fraktur disesuaikan dengan jenis fraktur tersebut, terbagi
menjadi dua macam yaitu konservatif atau tanpa pembedahan dan dengan
pembedahan (Paneru et al, 2010).
Fraktur mempunyai dampak yang mendalam pada aspek kehidupan pasien
yang mengalaminya. Terjadinya fraktur akan berpengaruh besar terhadap aktifitas
penderita khususnya gangguan mobilisasi dan fungsi anggota gerak yang mengalami
cedera, baik yang disebabkan oleh patah tulangnya maupun dikarenakan kerusakan
jaringan lunak disekitar patahan, infeksi atau karena luka bekas operasi. Sehingga
menyebabkan penurunan kualitas hidup sehari-hari penderita.
Seorang dokter harus belajar mengenal adanya trauma ini, menjelaskan
anatomi trauma dan melindungi penderita dari kecacatan selanjutnya dan dapat
melakukan tindakan untuk mencegah komplikasi, terutama yang berkaitan dengan
cidera atau fraktur pada tulang femur.
BAB II

LAPORAN KASUS

I. Identitas Pasien
Nama : Tn. Hajar
Umur : 57 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Pekerjaan : swasta
Alamat : Cempaka, Kotawaringin Timur
No. RM : 001093xx
Tanggal pemeriksaan : 08-11-2019

II. Anamnesis
A. Keluhan Utama
Nyeri pada kaki kanan .
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Keluhan dirasakan setelah OS mengalami tabrakan jam 5 jam yang lalu,
dimana OS yang mengendarai Sepeda Motor ditabrak oleh Mobil dari arah
samping dan badan pasien tertindih sepeda motor. Setelah tabrakan OS
mengatakan pingsan hingga dibawa ke IGD RSUD Murjani. Pasien sadar
dan mengatakan kaki kanan sangat nyeri, dan bertambah berat saat
digerakkan. OS juga merasakan nyeri kepala dan mual, nyeri perut (-), luka
terbuka pada kaki kanan.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada
D. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada
E. Riwayat Penggunaan Obat
Tidak ada
F. Riwayat Alergi
Tidak ada
III. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : tampak sakit sedang
b. Kesadaran : compos mentis
c. GCS : E4 V5 M6
d. Tanda Vital :
Tek. Darah : 90/60 mmHg Respirasi : 20 x/menit
Nadi : 70 x/menit Suhu : 36,5oC

e. Status generalis
Kepala Normochepali, konjungtiva anemis (-), Sklera
ikterik(-), Regio Occipital Hematom (+) 10 cm
Leher Pembesaran limfonodi (-), Nyeri tekan
limfonodi(-), Pembesaran tiroid(-)
Thoraks Pengembangan paru simetris,Nyeri tekan (-)
Fremitus normal, Perkusi sonor kedua lapang
paru
Jantung Batas jantung dalam batas normal, Suara
jantung S1-S2 murni, regular, Bunyi tambahan
(-)
Abdomen Tidak ada lesi, Distensi(-), Auskultasi : Bising
usus positif, Perkusi : timpani
Ekstremitas Akral hangat , Kapilari refill <2 detik, Nadi
teraba kuat, Sianosis (-), Edema (+), Cubiti
dextra: Vulnus eskoriatum

f. Status Lokalis
Regio Kruris dekstra
Look              :  Edem (+) , eritem (+) deformitas (+) pada sepertiga
tengah, pemendekan ( –), sianosis (-) pada bagian
distal.
Feel              : Nyeri tekan (+) , suhu rabaan hangat, , krepitasi (+),
Move            : Nyeri gerak aktif (+), nyeri gerak pasif (+), ROM sulit
dinilai
IV. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Parameter Hasil Nilai rujukan
Hemoglobin 11,5gr/dl 14-18 gr/dl
Hematokrit 36 % 40-48 %
Trombosit 386ribu/ul 150-440 ribu/ul
Leukosit 18,8 ribu/ul 4-11,5 ribu/ul
Eosinofil 1,5 % 2-4 %
Basofil 0,2 % 0-1 %
Segmen neutrophil 65,8 % 50-70 %
Limfosit 30,9 % 18-42 %
Monosit 6,5 2-8
Eritosit 4,39 juta/ul 4,5-6,20 juta
MCV 82 fL 80-94
MCH 26,2 pg 26-32
MCHC 31,9 g/dl 32-36
Golongan darah A
Ureum 27mg/dl 10-50 mg/dl
Kreatinin 0,8 mg/dl 0,5-1,5 mg/dl
GDS 122mg/dl 70-140 mg/dl

Rontgen kesan : Fr. Kominutif 1/3 medial os tibia dextra et Fr. 1/3 medial os fibula
dextra.

V. Diagnosis Kerja
CKR
Open Fraktur cruris dextra 1/3 medial
Multiple Vulnus ekskoriatum
VI. Rencana Terapi
 O2 3 l/m
 Infus RL guyur 500 mlmaintenance 20 tpm
 Injeksi ketorolac 2x I amp
 Injeksi ondansetron 2x1 amp
 Inj asam traneksamat 500mg 3x1 amp
 Inj cinam 3x1,5 gram
 Reposisi dan imobilisasi ( pemasangan bidai )
 Wound dressing
 ORIF
VII. Prognosis
- Quo Ad Vitam : dubia ad bonam
- Quo Ad Functionam : dubia ad bonam
- Quo Ad Sanationam : dubia ad Bonam

BAB III
DASAR TEORI

III.1 Anatomi dan Fisiologi Sistem Muskuloskeletal


Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan bertanggung
jawab terhadap pergerakan. Komponen utama sistem muskuloskeletal adalah
jaringan ikat yang terdiri dari tulang, sendi, otot rangka, tendon, ligamen, fascia, dan
jaringan khusus yang menghubungkan struktur-struktur ini (Hedge, 2013).
Tulang adalah jaringan yang kuat dan tangguh yang memberi bentuk pada
tubuh. Skelet atau kerangka adalah rangkaian tulang yang mendukung dan
melindungi organ lunak, terutama dalam tengkorak dan panggul. Tulang
membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat untuk
melekatnya otot-otot yang menggerakan kerangka tubuh. Tulang juga merupakan
tempat primer untuk menyimpan dan mengatur kalsiumdan fosfat (Price dan
Wilson, 2006).
Berikut adalah gambar anatomi tulang manusia :
Gambar 1: Anatomi Tulang
Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat
untuk melekatnya otot- otot yang menggerakan kerangka tubuh. Tulang juga
merupakan tempat primer untuk menyimpan dan mengatur kalsium dan fhosfat.
Tulang rangka orang dewasa terdiri atas 206 tulang. Tulang adalah jaringan hidup
yang akan suplai syaraf dan darah. Tulang banyak mengandung bahan kristalin
anorganik (terutama garam- garam kalsium ) yang membuat tulang keras dan kaku.,
tetapi sepertiga dari bahan tersebut adalah fibrosa yang membuatnya kuat dan elastis
(Price dan Wilson, 2006).
III.2 Anatomi Tulang Ekstremitas Bawah
Tulang ekstrimitas bawah atau anggota gerak bawah dikaitkan pada batang
tubuh dengan perantara gelang panggul terdiri dari 31 pasang antra lain: tulang
koksa, tulang femur, tibia, fibula, patella, tarsalia, meta tarsalia, dan falang (Price
dan Wilson, 2006)
Tibia dan fibula adalah dua tulang yang menyusun regio cruris pada manusia.
Tibia, atau tulang kering berukuran lebih besar dan terletak lebih medial dari fibula.
Di bagian akhir proksimal tibia berartikulasi dengan femur dan di bagian akhir distal
beratikulasi dengan fibula dan tulang talus pergelangan kaki. Tibia dan fibula seperti
ulna dan radius, dihubungkan oleh membrane interosesseus.
Ujung proksimal tibia diperluas menjadi condylus lateral dan condylus medial.
Ke dua struktur ini berartikulasi dengan condylus femur membentuk tibiofemoral
joints. Permukaan inferior dari condylus lateralis berartikulasi dengan caput fibula.
Permukan superior condylus lateral dan medial sedikit cekung, keduanya dipisahkan
oleh eminensia interkondilaris. Pada facies anterior tibia terdapat peninggian disebut
tuberositas tibia, yang merupakan tempat melekatnya ligamentum patella. Inferior
tuberositas tibia terdapat struktur yang disebut margo anterior, yang terasa sebagai
punggungan tajam (sharp ridge) dari permukaan kulit.
Tungkai bawah terbagi menjadi 4 komparetemn yang dibentuk leh otot dan
fascia. Fascia merupakan lapisan jaringan fibrosa yang membungkus otot. Fasci aini
membagi otot dalam tungkai bawah menjadi 4 kelompok , yaitu kelompok otot bagian
depan( kompartemen anterior), kompolan otot bagian samping ( kompartemen
lateral), kelompok otot bagian belakang ( kompartemen posterior)yang terbagi
menjadi bagian dalam ( deep posterior compartement) dan bangian luar ( superficial
posterior compartement). Setiap kompartemen memiliki fungsi masing- masinh
dimana , kompartemen depan terdiri dari kelompok otot ekstensor untuk gerakan
ekstensi, kompartemen lateral untuk gerakan eversi dan kompartemen posterior dibagi
menjadi kompartemen dalam dan superfisial yang memiliki fungsi seperti pad atabel
berikut ( Aprianto P, 2017)
III.3 Fisiologi Tulang
Tulang tersusun atas sel matriks, protein, dan deposit mineral. Sel-selnya
terdiri dari 3 jenis dasar yaitu (Laurale, 2014) :
 Osteoblast
Membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe 1 dan proteoglikan
sebagai matriks tulang atau jaringan osteoid melalui suatu proses yang disebut
osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblas
menyekresikan sejumlah besar fosfatase alkali yang memegang peranan
penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat kedalam matriks tulang.
 Osteosit
Setiap osteoblas secara bertahap dikelilingi oleh produk sekresinya sendiri dan
menjadi osteosit yang terselubung sendiri-sendiri dalam ruang yang disebut
lakuna. Sehingga osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai
suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat.
 Osteoklas
Osteoklas adalah sel berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks
tulang dapat diabsorpsi. Osteoklas menyekresi kolagenase dan enzim lain dan
proton pompa ke dalam kantong subselular, yang menciptakan lingkungan
asam untuk melarutkan hidroksiapatit dan pencernaan kolagen setempat
(Mescher, 2011).

Fungsi Tulang (Iqbal, 2010) :


 Fungsi Mekanis
- Perlindungan
Tulang sangat penting untuk melindungi organ penting dan rapuh
dalam tubuh. Misalnya otak dilindungi tengkorak dan jantung
dilindungi tulang rusuk.
- Bentuk
Karena sifatnya yang kaku, tulang berperan sebagai kerangka kerja
disekitar tubuh yang ditopang. Jadi tulang bertanggung jawab atas
wujud dan bentuk tubuh manusia.
- Gerakan
Bekerja dengan otot rangka, tendon, ligamen dan sendi, tulang
memungkinkan terjadinya pergerakan tubuh. Tulang memberikan suatu
sistem pengungkit yang di gerakan oleh otot-otot yang melekat
padanya.
- Transduksi Suara
Tulang juga berperan penting dalam penghantaran suara sehingga kita
dapat mendengar suara.
 Fungsi Sintetis
- Sintesis Sel Darah
Sumsum tulang merah sebagai tempat sel induk hemopoietik yang
mampu menghasilkan sel darah merah, sel darah putih dan trombosit.
 Fungsi Metabolik
- Penyimpanan Mineral
Tulang berperan sebagai tempat penyimpanan mineral. Contoh mineral
yang paling banyak adalah kalsium yaitu sebesar 99% dan fosfor 90%
dari tubuh.
- Penyimpanan Lemak
Lemak disimpan dalam sumsum tulang kuning yang merupakan
cadangan energi jika dibutuhkan.
- Keseimbangan Asam Basa
Tulang menjaga keseimbangan pH tubuh dengan menyerap atau
melepaskan garam alkali.
- Organ Endokrin
Penumpukan lemak dan kadar gula darah juga dikendalikan oleh tulang
melalui pelepasan hormon osteocalcin, yang dikenal untuk
meningkatkan produksi insulin dan membantu mengurangi
penyimpanan lemak yang berlebihan (Oldknow et al, 2015).
III.4 Fraktur
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang
dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Kekuatan, sudut,
tenaga, keadaan tulang, dan jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah
fraktur yang terjadi lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila
seluruh tulang patah, sedangkan fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh
ketebalan tulang (Sylvia A. Price, 2006).
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan
epifisis, baik yang bersifat total maupun parsial. Fraktur tidak selalu disebabkan oleh
trauma berat; kadang-kadang trauma ringan saja dapat menimbulkan fraktur bila
tulangnya sendiri terkena penyakit tertentu. Juga trauma ringan yang terus menerus
dapat menimbulkan fraktur. Fraktur patologik adalah fraktur yang terjadi pada tulang
yang sebelumnya telah mengalami proses paotologik, misalnya tumor tulang primer
atau sekunder, mieloma multipel, kista tulang, osteomielitis, dan sebagainya. Trauma
ringan saja sudah dapat menimbulakan fraktur Fraktur stress disebabkan oleh trauma
ringan tetapi terus menerus, misalnya fraktur fibula pada pelari jarak jauh, frkatur
tibia pada penari balet, dan sebagainya (Rasad, 2006).
Pada beberapa keadaan trauma muskuloskeletal, sering fraktur dan dislokasi
terjadi bersamaan. Dislokasi atau luksasio adalah kehilangan hubungan yang normal
antara kedua permukaan sendi secara komplit/lengkap. Fraktur dislokasi diartikan
dengan kehilangan hubungan yang normal antara kedua permukaan sendi disertai
fraktur tulang persendian tersebut (Jeffrey M. Spivak et al., 1999).
Fraktur pada ekstremitas bawah termasuk fraktur tibia dan fibula. Dari kedua
tulang ini tibia merupakan tulang yang menopang berat tubuh, namun fraktur tibia
biasa disertai dengan fraktur fibula dikarenakan tekanan ditransmisikan melalui
membran interoseus ke fibula. Penyebab fraktur umumnya karena adanya trauma
langung saat pasien jatuh, atau kecelakaan sepeda motor.
Pada kruris hanya terdapat kulit dan jarigan subkutis yang tipis pada bagian
anterior dan medial tibia, sehingga menyebabkan banyaknya kejadian fraktur pada
region ini adalah fratur terbuka. Sebaliknya fibula ditutupi oleh jaringan lunak pada
seluruh bagian tulang kecuali malleolus lateral.
Tibia dan fibula berartikulasi pada bagian proksimal tibia-fiblar sydesmosis.
Fraktur pada tibia dapat meliputi tibial plateu, tibial tubercle, tibial eminence,
proksimal tibia, tibial shaft dan tibial plafond. (Mills JT et all, 2017)
III.4.1 Etiologi
Umumnya fraktur disebabkan oleh trauma atau aktivitas fisik dimana terdapat
tekanan yang berlebihan pada tulang. Fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki
daripada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan
olahraga, pekerjaan atau luka yang disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor
(Muttaqin, 2008).

Etiologi dari fraktur menurut Price dan Wilson (2006) ada 3 yaitu:

a. Trauma
 Trauma langsung
Dapat menyebabkan tulang patah pada titik terjadinya trauma tersebut, misalnya
tulang kaki terbentur bumper mobil, maka tulang akan patah tepat di tempat
terjadinya benturan. Patah tulang demikian sering bersifat terbuka, dengan garis patah
melintang atau miring.
 Trauma tidak langsung
Menyebabkan patah tulang di tempat yang jauh dari tempat terjadinya trauma.
Contohnya bila seorang jatuh dari ketinggian dengan tumit kaki terlebih dahulu. Yang
patah selain tumit, terjadi pula patah tulang tibia dan kemungkinan pula patah tulang
paha dan tulang belakang.
 Kekerasan akibat tarikan otot
Kekerasan tarikan otot dapat menyebabkan dislokasi dan patah tulang. Patah tulang
akibat tarikan otot biasanya jarang terjadi. Contohnya patah tulang akibat tarikan otot
adalah patah tulang olekranon, karena otot triseps dan biseps mendadak berkontraksi.
b. Fraktur beban atau stress fracture (kelelahan)
Fraktur ini terjadi pada orang yang melakukan aktivitas berulang-ulang pada
suatu daerah tulang atau menambah tingkat aktivitas yang lebih berat dari biasanya.
Tulang akan mengalami perubahan struktural akibat pengulangan tekanan pada
tempat yang sama, atau peningkatan beban secara tiba-tiba pada suatu daerah tulang
maka akan terjadi retak tulang. Misalnya pada atlet, penari dan militer.
c. Fraktur patologik
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal karena lemahnya suatu tulang
akibat penyakit infeksi, penyakit metabolisme tulang misalnya osteoporosis dan tumor
pada tulang. Sedikit saja tekanan pada daerah tulang yang rapuh maka akan terjadi
fraktur.
III.4.2 Epidemiologi fraktur kruris
Fraktur kruris merupakan suatu istilah untuk patah tulang tibia dan fibula yang
biasanya terjadi pada bagian proksimal, diafisis, atau persendian pergelangan kaki.
Berdasarkan penelitian di rumah sakit di Indonesia pada tahun 2013. Pada tahun 2013
jumlah klien yang mengalami fraktur terutama di daerah kaki bagian bawah distal
yaitu laki –laki 11,353 dan wanita 8.319 klien, sedangkan insidensinya pada laki- laki
yaitu 152 per 100.000 klien dan 120 per 100.000 klien perempuan. Insiden tertinggi
dan faktor resiko yaitu pada 10-14 tahun pada tahun 2014, klien laki-laki dan diatas
85 tahun pada wanita. Insiden fraktur di Indonesia diperkirakan pada usia 50 tahun
keatas akan meningkat 81% dibandingkan dengan 11% pada usia dibawah 50 tahun.
Pada kelompok usia tua jumlah laki-laki lebih berisiko tinggi 4,7 kali dari wanita.
Pada kecelakaan kendaraan bermotor, pengemudi lebih sering mengalami
fraktur tibia fibula dibandingkan dengan penumpangnya, terutama tanpa airbag depan.
Prevalensi pada anak- anak fraktur tibia dan fibula terjadi karena bermain skateboard,
roller skating,dan mengendarai skooter. Fraktur tibia fibula sering terjadi pada anak
laki-laki dengan usia 11-14 tahun, sedangkan anak perempuan sering pada usia 8-11
tahun. Pada usia tua biasanya menderita trauma minimal dan mempunyai faktor resiko
osteoporosis.fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya remuk, gerakan
punter mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem ( Lukman, 2009)
Fraktur tibia merupakan fraktur tulang panjang terbanyak . dimana insiden
dari fraktur terbuka tulang panjang sekitar 115 per 100.000 orang, dengan 40% terjadi
di ektremitas bawah. Fraktur tersering pada ektremitas bawah terjadi pada diafisis
tibia. Dan terjarang adalah isolated midshaft dan proksimal fibula.
Pada orang tua fraktur plateu tibia sering terjadi setelah terjadi trauma dengan
energy kecil, fraktur ini dapat merupakan komplikasi dari osteoporosis, osteoatritis
dan komorbiditas penyakit lain. ( Mills TJ et al , 2017 )
III.4.3 Klasifikasi Umum Fraktur
 Menurut Bentuk Garis Fraktur dan Hubungan dengan Mekanisme
Trauma
- Fraktur Tranversal : Fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan
merupakan akibat trauma angulasi atau langsung
- Fraktur Oblik : Fraktur yang arah garis patahan membentuk sudut
terhadap sumbu tulang dan merupakan akibat dari trauma angulasi juga
- Fraktur Butterfly : Potongan tulang fraktur berbentuk kupu-kupu akibat
gaya langsung, tidak langsung, atau rotasi pada tulang
- Fraktur Spiral : Fraktur yang arah patahnya spiral yang disebabkan
oleh trauma rotasi
- Fraktur Kompresi : Fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi
yang mendorong tulang kepermukaan lain
- Fraktur Avulsi: Farktur yang disebabkan karena trauma tarikan atau
traksi otot pada insersinya tulang


Menurut Derajat Kerusakan Tulang
- Fraktur lengkap (Komplit)
Dikatakan lengkap bila patahan tulang terpisah satu dengan yang
lainya, atau garis fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari
tulang dan fragmen tulang biasanya berubah tempat.
- Fraktur tidak lengkap (Inkomplit)
Bila antara patahan tulang masih ada hubungan sebagian. Salah satu
sisi patah yang lainya biasanya hanya bengkok yang sering disebut
greenstick fracture.
Menurut Price dan Wilson (2006) kekuatan dan sudut dari tenaga
fisik, keadaan tulang, dan jaringan lunak di sekitar tulang akan
menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak
lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah,
sedangkan pada fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh
ketebalan tulang.
 Menurut Jumlah Garis Patahan
Menurut jumlah garis patahan ada 3 antara lain:
- Fraktur Komunitif : fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan
saling berhubungan
- Fraktur Segmental : fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi
tidak berhubungan
- Fraktur Multipel : fraktur diman garis patah lebih dari satu tapi tidak
pada tulang yang sama

 Menurut Ada Tidaknya Pergeseran


- Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap tetapi kedua
fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.
- Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang
juga disebut lokasi fragmen (Helmi, 2011)

 Menurut Hubungan dengan Jaringan Ikat Sekitarnya


- Fraktur Terbuka
Fraktur terbuka adalah fraktur yang terjadi hubungan dengan dunia luar
atau rongga tubuh yang tidak steril, sehingga mudah terjadi
kontaminasi bakteri dan dapat menyebabkan komplikasi infeksi.
Klasifikasi fraktur terbuka paling sering digunakan menurut Gustillo
dan Anderson (1976), yang menilai fraktur terbuka berdasarkan
mekanisme cedera, derajat kerusakan jaringan lunak, konfigurasi
fraktur dan derajat kontaminasi. Klasifikasi Gustillo ini membagi
fraktur terbuka menjadi tipe I,II dan III.
Klasifikasi Fraktur terbuka menurut Gustillo dan Anderson (1984)
Tipe Batasan
I Laserasi < 1 cm
Kerusakan jaringan lunak sedikit dan tidak berarti
Biasanya luka tersebut akibat tusukan fragmen fraktur
Luka relatif bersih
II Laserasi >1 cm
Tidak banyak kerusakan jaringan yang berat atau avulsi
Ada kontaminasi
III Luka lebar dan rusak hebat pada kulit dan jaringan lunak dan putus atau
hancurnya struktur neurovaskuler
Kontaminasi hebat
Termasuk fraktur segmental terbuka, trauma amputasi, luka tembak
dengan kecepatan tinggi
• IIIA : fragmen fraktur masih dibungkus oleh jaringan lunak
• IIIB : fragmen fraktur tidak dibungkus oleh jaringan lunak sehingga
tulang terlihat jelas atau bone expose, terdapat pelepasan periosteum
atau periosteal striping
• IIIC : trauma pada arteri yang membutuhkan repair agar kehidupan
bagian distal dapat dipertahankan tanpa memandang derajat
kerusakan jaringan lunak

- Fraktur Tertutup
Terjadinya diskontuinitas dari jaringan tulang dimana tidak ada luka yang
menghubungkan tulang patah dengan udara luar. Fraktur tertutup
diklasifikasikan oleh Oestern and Tscherne :
 Grade 0 : fraktur sederhana tanpa/disertai dengan cedera jaringan lunak yang
sedikit dan dapat diabaikan
 Grade 1: fraktur disertai dengan abrasi superficial atau kontusio pada kulit dan
jaringan subkutan
 Grade 2: fraktur yang lebih berat dibanding derajat 1 yang disertai dengan
kontusio dan pembengkakan jaringan lunak
 Grade 3: fraktur berat disertai dengan cedera jaringan lunak yang berat dapat
disertai crush syndrome, sindrom kompartemen ataupun cedera vaskular
(Brunicardi,2008)
G ambar 10. Derajat Fraktur Tertutup Menurut Klasifikasi

a. Klasifikasi radiologis
Klasifikasi ini berdasarkan atas :
- Lokalisasi
 Diafisial
 Metafisial
 Intra-artikuler
 Fraktur dengan dislokasi

Gambar 2. klasifikasi fraktur menurut lokalisasi


a. Fraktur diafisis c. Dislokasi dan fraktur
b. Fraktur metafisis d. Fraktur intra-artikuler
- Klasifikasi Fraktur Kruris
1. Fraktur Plateu
Plateu os tibia yaitu merupakan bagian ujung proksimal dari tibia yang terbagi
menjadi medial yang berbentuk konkaf dan lateral yang konveks. Plateu
melakukan artikulasi dengan condilus femoralis untuk membentuk sendi lutut.
Fraktur plateu disebabkan karena kompresi langsung secara aksial yang terjadi
sebagian besar dengan posisi valgus.
Klasifikasi fraktur plateu tibia menurut Schatzer :
Tipe I : fraktur pada kondilus tibia lateral
Tipe II : peremukan kominutif pada kondilus lateral dengan depresi pada
fragmen. Paling sering terjadi pada orangtua dengan osteoporosis.
Tipe III : peremukan kominutif dengan fragmen luar yang utuh
Tipe IV: fraktur pada kondilus tibia medial, kadang disertai dengan perobekan
ligamentum kolateral lateral
Tipe V : fraktur pada kedua kondilus dengan batang tibia yang melesak
diantaranya
TIpe VI: kombinasi fratur kondilus dan subkondilus, biasanya karena daya aksial
yang hebat.

2. Fraktur Tubercle
Terlepasnya tuberositas tibia yang disebabkan karena adanya tarikan mendadak pada
tuberositas tibia karnea kontraksi yang kuat dari otot quadriceps.
Klasifikasi menurut Odgen:
Tipe I : fraktur pada tuberositas tibia dekat dengan insersi tendo patella
Tipe II: fraktur pada bagian lebih proksimal antara epifisis tibia dan tuberositas tibia
Tipe III: fraktur koronal luas da
3. Fraktur Shaft
Merupakan fraktur tulang panjang terbanyak. Berdasarkan mekanisme
terjadiny afraktur dapat dibagi menjadi dua yaitu bentuk energi rendah dan bentuk
energi tinggi. Pada trauma karena energi rendah dapat terjadi torional injuri, fraktur
spiral ( indirek trauma), fraktur fibula pada level yang berbeda dan kerusakan jaringan
lunak grade 0/I. pada trauma karena energi tinggi dapat terjadi fraktur transfersal atau
oblik pendek dan kadang terjadi fraktur kominutif, fraktur fibula pada level yang
sama, kerusakan jaringan lunak berat grade II/III dan open
fraktur.
4. Plafond/pilon fraktur
Merupakan fraktur yang melibatkan bagian distal tibia. Terjadi karena energy
axial tinggi, ditandai dengan adanya impaksi articular, tulang metafisis remuk,
kerusakan jaringan lunak grade II/III.
III.4.4 Patofisiologi fraktur
Fraktur dibagi menjadi fraktur terbuka dan fraktur tertutup. Tertutup bila tidak
terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. Sedangkan fraktur
terbuka bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar oleh
karena perlukaan di kulit (Smelter dan Bare,2002).
Sewaktu tulang patah perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah ke
dalam jaringan lunak sekitar tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya
mengalami kerusakan. Reaksi perdarahan biasanya timbul hebat setelah fraktur.
Sel- sel darah putih dan sel anast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran
darah ketempat tersebut aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru
umatur yang disebut callus. Bekuan fibrin direabsorbsidan sel- sel tulang baru
mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati. Insufisiensi pembuluh
darah atau penekanan serabut syaraf yang berkaitan dengan pembengkakan yang
tidak di tangani dapat menurunkan asupan darah ke ekstrimitas dan
mengakibatkan kerusakan syaraf perifer. Bila tidak terkontrol pembengkakan akan
mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah total dan berakibat
iskemia mengakibatkan rusaknya serabut syaraf maupun jaringan otot.
Komplikasi ini di namakan sindrom compartment (Brunner dan Suddarth, 2002 ).
III.4.5 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas,
pemendekan ekstremitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan warna.
a. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung
bergerak tidak alamiah bukan seperti normalnya, pergeseran fraktur
menyebabkan deformitas, ekstremitas yang mengalami fraktur dapat
diketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas yang normal.
Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot
bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot.
b. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang di
imobilisasi, spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai
alamiah yang di rancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen
tulang.
c. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena
kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur.
d. Saat ekstremitas di periksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang
yang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu
dengan yang lainya.
e. Pembengkakan dan perubahan warna local pada kulit terjadi sebagai
akibat dari trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini
biasanya baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera
(Courtney, 2008).
III.4.6 Diagnosis Klinis

1.1. Anamnesis
Gejala dan tanda klasik fraktur adalah adanya riwayat trauma, rasa
nyeri dan bengkak pada bagian tulang yang patah, deformitas, nyeri tekan,
krepitasi, gangguan fungsi muskuloskeletal akibat nyeri, putus kontinuitas
tulang, gangguan neurovaskuler. Apabila gejala klasik tersebut ada, secara
klinis diagnosa fraktur dapat ditegakkan walaupun jenis konfigurasinya belum
dapat ditentukan. Anamnesis dilakukan untuk menggali riwayat mekanisme
cedera (posisi kejadian) dan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan
cedera tersebut. Riwayat cedera atau fraktur sebelumnya, riwayat sosial
ekonomi, pekerjaan, obat-obatan yang dikonsumsi pasien, merokok, riwayat
alergi dan riwayat osteoporosis serta penyakit lain.( Syamsuhidayat, 2014)

1.2. Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik dilakukan tiga hal penting, yakni


 inspeksi / look: (1) warna dan perfusi, (2) luka, (3) deformitas
(angulasi, pemendekan), (4) pembengkakan, (5) perubahan warna atau
memar.
 Palpasi / feel: (1) suhu, (2) nyeri tekan, (3) krepitasi, (4) sensibilitas:
baik/tidak, (5) pemeriksaan sirkulasi atau vaskuler: pulsasi arteri dan
capillary refill time. Status neurologis dan vaskuler di bagian distalnya
perlu diperiksa. Lakukan palpasi pada daerah ekstremitas tempat
fraktur tersebut, meliputi persendian diatas dan dibawah cedera, daerah
yang mengalami nyeri, efusi, dan krepitasi. Neurovaskularisasi bagian
distal fraktur meliputi: pulsasi aretri, warna kulit, pengembalian cairan
kapler, sensasi.
 Movement : Penilaian ini terutama menilai Range of Movement serta
menilai gerak aktif dan pasif dari sendi. Pemeriksaan gerakan / moving
dinilai apakah adanya keterbatasan pada pergerakan sendi yang
berdekatan dengan lokasi fraktur.
Pemeriksaan trauma di tempat lain meliputi kepala, toraks, abdomen,
pelvis. Sedangkan pada pasien dengan politrauma, pemeriksaan awal
dilakukan menurut protokol ATLS. Langkah pertama adalah menilai
airway, breathing, dan circulation. Perlindungan pada vertebra dilakukan
sampai cedera vertebra dapat disingkirkan dengan pemeriksaan klinis dan
radiologis.

1.3. Pemeriksaan penunjang

 Laboratorium meliputi darah rutin, faktor pembekuan darah, golongan darah,


dan urinalisa.

 Pemeriksaan radiologis untuk lokasi fraktur harus menurut rule of two: dua
gambaran, anteroposterior (AP) dan lateral, memuat dua sendi di proksimal
dan distal fraktur, memuat gambaran foto dua ekstremitas, yaitu ekstremitas
yang cedera dan yang tidak terkena cedera (pada anak) dan dua kali, yaitu
sebelum tindakan dan sesudah tindakan (Sjamsuhidayat,2014) (ATLS,2012)
III.4.7 Penatalaksanaan Fraktur
Penanganan fraktur adalah mengembalikan posisi patahan tulang ke posisi
semula (reposisi) dan mempertahankan posisi itu selama masa penyembuhan
patah tulang (imobilisasi) (Sjamsuhidajat, 2014).
a. Reposisi
Tindakan reposisi dengan cara manipulasi diikuti dengan imobilisasi
dilakukan pada fraktur dengan dislokasi fragmen yang berarti seperti pada
fraktur radius distal. Reposisi dengan traksi dilakukan terus-menerus selama
masa tertentu, misalnya beberapa minggu, kemudian diikuti dengan
imobilisasi. Tindakan ini dilakukan pada fraktur yang bila direposisi secara
manipulasi akan terdislokasi kembali dalam gips. Cara ini dilakukan pada
fraktur dengan otot yang kuat, misalnya fraktur femur.
Reposisi dilakukan secara non-operatif diikuti dengan pemasangan
fiksator tulang secara operatif, misalnya reposisi patah tulang pada fraktur
kolum femur. Fragmen direposisi secara non-operatif dengan meja traksi,
setelah tereposisi, dilakukan pemasangan prosthesis secara operatif pada
kolum femur(Sjamsuhidajat, 2014).
Reposisi diikuti dengan imobilisasi dengan fiksasi luar (OREF)
dilakukan untuk fiksasi fragmen patahan tulang, dimana digunakan pin baja
yang ditusukkan pada fragmen tulang, kemudian pin baja disatukan secara
kokoh dengan batangan logam di kulit luar. Beberapa indikasi pemasangan
fiksasi luar antara lain fraktur dengan rusaknya jaringan lunak yang berat
(termasuk fraktur terbuka), dimana pemasangan internal fiksasi terlalu
berisiko untuk terjadi infeksi, atau diperlukannya akses berulang terhadap luka
fraktur di sekitar sendi yang cocok untuk internal fiksasi namun jaringan lunak
terlalu bengkak untuk operasi yang aman, pasien dengan cedera multiple yang
berat, fraktur tulang panggul dengan perdarahan hebat, atau yang terkait
dengan cedera kepala, fraktur dengan infeksi (Sjamsuhidajat, 2014).
Reposisi secara operatif dikuti dengan fiksasi patahan tulang dengan
pemasangan fiksasi interna (ORIF), misalnya pada fraktur femur, tibia,
humerus, atau lengan bawah. Fiksasi interna yang dipakai bisa berupa pen di
dalam sumsum tulang panjang, bisa juga plat dengan skrup di permukaan
tulang. Keuntungan reposisi secara operatif adalah dapat dicapai reposisi
sempurna, dan bila dipasang fiksasi interna yang kokoh, sesudah operasi tidak
diperlukan pemasangan gips lagi dan segera bisa dilakukan imobilisasi.
Indikasi pemasangan fiksasi interna adalah fraktur tidak bisa di reduksi kecuali
dengan operasi, fraktur yang tidak stabil dan cenderung terjadi displacement
kembali setelah reduksi fraktur dengan penyatuan yang buruk dan perlahan
(fraktur femoral neck), fraktur patologis, fraktur multiple dimana dengan
reduksi dini bisa meminimkan komplikasi, fraktur pada pasien dengan
perawatan yang sulit (paraplegia, pasien geriatri) (Sjamsuhidajat, 2010).
b. Imobilisasi
Pada imobilisasi dengan fiksasi dilakukan imobilisasi luar tanpa reposisi,
tetapi tetap memerlukan imobilisasi agar tidak terjadi dislokasi fragmen. Contoh cara
ini adalah pengelolaan fraktur tungkai bawah tanpa dislokasi yang penting.
Imobilisasi yang lama akan menyebabkan mengecilnya otot dan kakunya sendi. Oleh
karena itu diperlukan upaya mobilisasi secepat mungkin
c. Rehabilitasi
Rehabilitasi berarti upaya mengembalikan kemampuan anggota yang cedera
atau alat gerak yang sakit agar dapat berfungsi kembali seperti sebelum mengalami
gangguan atau cedera (Sjamsuhidajat, 2010).

Penatalaksanaan Fraktur Kruris :


Jika fraktur terjadi pada tibia sekaligus pada fibula maka yang diperhatikan
adalah reposisi tibia. Fraktur tertutup tibia dan fibula dengan garis fraktur transerval
atau miring yang stabil, cukup dimobilisasi dengan gips dari jari kaki sampai puncak
paha dengan posisi lutut faal, yaitu fleksi rigan untuk mengatasi rotasi pada daerah
fragmen. Penyambungan pada tulang diafisis biasanya membutuhkan waktu 3-4
bulan. Jika fraktur cenderung tidak berdislokasi maka tungkai diperbolehkan untuk
menopang berat badan.
Fraktur kruris yang garis frakturnya miring dan spiral merupakan fraktur yang
tidak stabil karena cenderung membengkok atau memendek sesudah dilakukan
reposisi tertutup, sehingga sebaiknya ditangani dengan ORIF atau OREF. Fraktur
dengan dislokasi fragmen dan tidak stabil membutuhkan traksi kalkaneus kontinu.
Setelah terbentuk kalus fibrosis , dipasang gips sepanjang tngkai dari jari hingga paha.
Pada fraktur tibia tanpa disertai fraktur fibula, fibula yang utuh menghalangi
kompresi yang cukup pada sumbu tibia. Pada kondisi ini dilakukan fiksasi interna,
dimana fibula digergaji secara miring sehingga dapat terjjadi pertemuan kedua ujung
tibia sehingga cukup memberikan tekanan sumbu.
Pada fraktur fibula tunggal, penangannya cukup diberikan analgetik, umunnya
tidak dilakukan reposisi dan imobilisasi. Cukup istrihat dengan tungkai ditigggikan,
sampai hematom direabsorbsi dan latihan jalan akan menghasilkan penyembuhan
tanpa gangguan. ( Sjamsuhidayat,2014)

Traksi
Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk
menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Tujuan traksi adalah untuk
menangani fraktur, dislokasi atau spasme otot dalam usaha untuk memperbaiki
deformitas dan mempercepat penyembuhan. Traksi menggunakan beban untuk
menahan anggota gerak pada tempatnya. Traksi longitudinal yang memadai
diperlukan selama 24 jam untuk mengatasi spasme otot dan mencegah pemendekan,
dan fragmen harus ditopang di posterior untuk mencegah pelengkungan. Traksi pada
anak-anak dengan fraktur femur harus kurang dari 12 kg, jika penderita yang gemuk
memerlukan beban yang lebih besar.Terdapat beberapa jenis traksi yang dapat
digunakan pada pasien dengan fraktur, yaitu:
a. Skin Traksi
Skin traksi digunakan untuk penanganan patah tulang pada pasien anak dan
dewasa yang membutuhkan kekuatan tarikan sedang, dengan beban tidak lebih
dari lima kilogram serta lama pemasangan tidak lebih dari 3-4 minggu karena
dapat menyebabkan iritasi kulit. Adapun beberapa jenis skin traksi menurut
Smeltzer & Bare (2002).antara lain:
 Traksi buck
Ektensi buck (unilateral/bilateral) adalah bentuk traksi kulit dimana tarikan
diberikan pada satu bidang bila hanya imobilisasi parsial atau temporer yang
diinginkan. Traksi buck digunakan untuk memberikan rasa nyaman setelah
cidera pinggul sebelum dilakukan fiksasi dengan intervensi bedah.
 Traksi Russell
Traksi Russel dapat digunakan pada fraktur plato tibia, menyokong lutut yang
fleksi pada penggantung dan memberikan gaya tarik horizontal melalui pita
traksi balutan elastis ketungkai bawah.
 Traksi Dunlop
Traksi Dunlop adalah traksi pada ektermitas atas. Traksi horizontal diberikan
pada lengan bawah dalam posisi fleksi.
 Traksi kulit Bryant
Traksi ini sering digunakan untuk merawat anak kecil yang mengalami patah
tulang paha. Traksi Bryant sebaiknya tidak dilakukan pada anakanak yang
berat badannya lebih dari 30 kg apabila batas ini dilampaui maka kulit dapat
mengalami kerusakan berat.
b. Skletal Traksi
Traksi langsung pada tulang dengan menggunakan pins, wires, screw
untuk menciptakan kekutan tarikan besar (9-14 kilogram) serta waktu yang
lebih dari empat minggu, serta memiliki tujuan tarikan ke arah longitudinal
serta mengontrol rotasi dari fragmen tulang. Pada patah tulang panjang
digunakan steinmann pins (2-4,8mm) atau kirschner wires (7-15mm) yang
penggunaannya ditentukan oleh densitas tulang serta kekuatan tarikan yang
dibutuhkan. Beberapa tempat pemasangan pin seperti proksimal tibia, kondilus
femur, olekranon, kalkaneus, trokanter mayor atau bagian distal metakarpal
lalu diberi pemberat (Sjamsuhidajat, 2014).

III.4.8 Proses Penyembuhan Fraktur


Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. Fraktur
merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan membentuk
tulang baru diantara ujung patahan tulang. Tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel
tulang. Ada lima stadium penyembuhan tulang, yaitu:
 Pembentukan Hematoma
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur. Sel-sel darah
membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya
kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini berlangsung 24 – 48 jam dan perdarahan
berhenti sama sekali.
 Proliferasi Seluler
Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago
yang berasal dari periosteum, endosteum, dan bone marrow yang telah mengalami
trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang
lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis.
Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen
tulang yang patah. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai,
tergantung frakturnya.
 Pembentukan Kalus
Sel–sel yang berkembang memiliki potensi kondrogenik dan osteogenik, bila
diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga
kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai
berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. Massa sel yang tebal dengan
tulang yang imatur dan kartilago, membentuk kallus atau bebat pada permukaan
endosteal dan periosteal. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang ) menjadi
lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah
fraktur menyatu.
 Konsolidasi
Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah menjadi
lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan osteoclast menerobos
melalui reruntuhan pada garis fraktur dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi
celah-celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses
yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa
beban yang normal.
 Remodelling
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset
tulang yang padat. Selama beberapa bulan atau
tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh
proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-
menerus. Lamellae yang lebih tebal diletakkan pada
tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang
tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum
dibentuk, dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip
dengan normalnya ( Mutaqin,2005) (Solomon,
2010) (Sjamsuhidayat,2011).

III.4.9 Komplikasi
Komplikasi fraktur dibagi menjadi komplikasi segera, komplikasi dini, dan
komplikasi lambat.:
1. Komplikasi segera:
 Trauma kulit dapat berupa kontusio, abrasi, laserasi, atau luka tembus.
 Perdarahan : Vascular yang treputus karena trauma menyebabkan
perdarahan dan kontusio.
 Cedera organ dalam pada fraktur kosta, atau fraktur pelvis
 Syok dapat terjadi karena adanya perdarahan (banyak kehilangan darah
eksternal maupun yang tidak kelihatan yang bias menyebabkan
penurunan oksigenasi) dan kehilangan cairan ekstra sel ke jaringan yang
rusak, dapat terjadi pada fraktur ekstrimitas, thoraks, pelvis dan vertebra.
2. Komplikasi dini :
 .Sindroma Kompartement
Sindrom kompartemen sering ditemukan pada patah tulang tungkai
bawah tahap dini.
Merupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang
dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Ini bisa disebabkan
karena penurunan ukuran kompartement otot karena fasia yang
membungkus otot terlalu ketat, penggunaan gibs atau balutan yang
menjerat ataupun peningkatan isi kompatement otot karena edema atau
perdarahan sehubungan dengan berbagai masalah (misalnya : iskemi,dan
cidera remuk).
 Infeksi
Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada
trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke
dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bias juga
karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
 Avaskuler nekrosis
Avaskuler nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak
atau terganggu yang bias menyebabkan nekrosis tulang dan di awali
dengan adanya Volkman’s Ischemia (Smeltzer dan Bare, 2001).
 Emboli lemak dimana saat terjadi fraktur globula lemak dapat masuk
kedalam pembuluh darah karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi
dari tekanan kapiler atau karena katekolamin yang di lepaskan oleh
reaksi stress pasien akan memobilisasi asam lemak dan memudahkan
terjasinya globula lemak pada aliran darah
3. Komplikasi lama :
 Delayed Union (Penyatuan Tertunda)
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai
dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini
disebabkan karena penurunan supai darah ke tulang.
 Non Union (Tak Menyatu)
Penyatuan tulang tidak terjadi, cacat diisi oleh jaringan fibrosa. Kadang-
kadang dapat terbentuk sendi palsu pada tempat ini. Faktor-faktor yang
dapat menyebabkan non union adalah tidak adanya imobilisasi,
interposisi jaringan lunak, pemisahan lebar dari fragmen contohnya
patella dan fraktur yang bersifat patologis..
 Malunion
Kelainan penyatuan tulang yang buruk menimbulkan deformitas,
angulasi atau pergeseran (Dandy,2009).
BAB V

KESIMPULAN

Fraktur atau yang biasa disebut patah tulang adalah hilangnya kontinuitas
tulang yang dapat terjadi akibat trauma, stres berulang (terutama pada atlet / penari),
serta kelainan akibat kelainan pada tulang (fraktur patologis, misalnya pada
osteoporosis).
Penanganan fraktur disesuaikan dengan jenis fraktur tersebut. Terbagi menjadi
dua macam yaitu konservatif (tanpa pembedahan) dapat berupa reposisi tertutup
kemudian difiksasi eksterna menggunakan gips atau dengan pembedahan misalnya
pemasangan fiksasi interna untuk mengembalikan posisi tulang fraktur dan dislokasi,
yang dikenal dengan Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) atau pembedahan
dengan fiksasi eksterna bernama Open Reduction and External Fixation (OREF).
Setelah mendapat terapi yang tepat, tulang yang fraktur dapat mengalami
proses penyembuhan berupa pembentukan tulang baru sehingga patahan tulang dapat
menyambung kembali. Jika terjadi kesalahan dalam terapi maupun proses
penyembuhan, kemungkinan akan muncul komplikasi baik dari awal ataupun di akhir.
Dalam proses penyembuhan ini harus diimbangi dengan latihan pengembalian
aktivitas fungsional ekstremitas secara bertahap.
DAFTAR PUSTAKA

American Academy of Orthopaedic Surgeons. (2011) Adult Forearm Fracture. [Online].

Available from: http://orthoinfo.aaos.org/ [Accessed 23/12/2016].

American College Of Surgeons Committee On Trauma. (2012) Advanced Trauma Life

Support for Doctors. Student Course Manual 9th Edition.

Brunicardi FC, Anderson DK, Billiar TR Dunn DL, Huter JG, Pollock RE. (2008)

Orthopaedics. Dalam: Brunicardi FC, Anderson DK, Billiar TR Dunn DL, Huter JG,

Pollock RE. Schwartz's Principle of Surgery. The McGraw-Hill Companies: USA.

Clarke, B. (2008) Normal Bone Anatomy and Physiology. Clinical Journal of the American

Society of Nephrology; vol 8: S131-S139.

Dandy,D.J & Edward D.J. (2009) Essential Orthopedic and Trauma. Ed 5. China: Churchill

Livingstone Elsevier.

Dina Kartika. (2005) Chirurgica. Yogyakarta: Tosca Enterprise.

Direktorat Jenderal Perhubungan Darat. (2010) Kecelakaan Jalan Raya di Indonesia Terjadi

Setiap 9,1 Menit. [Online]. Available from: http://hubdat.dephub.go.id/ [Accessed

23/12/2017].

Faiz, Omar dan Moffat, David. 2004. At a Glance Anatomi. Jakarta: Erlangga.

Gerald,Tortora. 2008. Prinsip Anatomi dan Fisiologi Tubuh Manusia. Jakarta: EGC

Hedge, A. (2013) Structure and Function of the Musculoskeletal System. [Online]. Available

from: http://ergo.human.cornell.edu/ [Accessed 23/12/2017].

Keith L Moore. 2012. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta: EGC Mescher, A.L. (2011) Histologi

Dasar Junqueira. Ed 12. Jakarta: EGC.

Mansjoer, Arif. dkk. (2000) Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta: Media Aesculapius.

FKUI.
Muttaqin, Arif. (2005) Ringkasan Buku Ajar: Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem

Muskuloskletal. Edisi 1.

Paulsen, F., Waschke, J. (2013) Sobotta Atlas Anatomi Manusia. Ed 23. Jakarta: EGC.

Price, Sylvia dan Wilson, Lorraine. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses

Penyakit. Vol:2. Jakarta: EGC

Sherwood, Laurale. (2014) Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Ed 8. Jakarta: EGC.

Sjamsuhidayat, de Jong. 2014. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed 3. Jakarta: Penerbit Buku

Kedokteran ECG.

Solomon, L., Warwick, D., Nayagam, S. (2010) Apley’s System of Orthopaedics and
Fractures.9th Edition. London: Hodder Education. 2010. p687-732.