Anda di halaman 1dari 132

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT

DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG


Jalan Sutan Syahrir Nomor 5 Telp. (0532) 21034, 22283
PANGKALAN BUN 74112

SPESIFIKASI TEKNIS

K/L/D/I : Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat

SKPD : Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan


Ruang Kabupaten Kotawaringin Barat

Nama PA : Dr.Juni Gultom, ST., MTP

Nama KPA/PPK : SAMUEL, SST.,MT.

Kegiatan : Peningkatan Jalan

Pekerjaan : Peningkatan Jalan Simpang Dinamika –


Pangkalan Banteng (Pangkalan Banteng)

Nilai Pagu : Rp. 2.217.848.500,-

Nilai HPS : Rp. 2.217.848.500,-

Tahun Anggaran
2021
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

DIVISI I

UMUM

SEKSI 1.1

RINGKASAN PEKERJAAN

1.1.1 LINGKUP PEKERJAAN

1) Lingkup pekerjaan dari Kontrak ini meliputi pelaksanaan pekerjaan jalan dan/atau
jembatan (termasuk pekerjaan pendukungnya), pada ruas jalan dan/atau jembatan
tertentu. Pekerjaan-pekerjaan yang dicakup di dalam Spesifikasi ini dibagi tiga
kelompok, Pekerjaan “Utama”, Pekerjaan “Pengembalian Kondisi dan Minor”, dan
Pekerjaan “Pemeliharaaan Rutin”.

2) Kegiatan Pemeliharaan Rutin harus dimulai sejak tanggal mulai kerja sampai dengan
Serah Terima Pekerjaan Sementara (Provisional Hand Over). Kegiatan-kegiatan ini
meliputi pekerjaan yang bersifat untuk mencegah setiap kerusakan jalan dan/atau
jembatan lebih lanjut namun tidak dimaksudkan untuk mengembalikan kondisi jalan
dan/atau jembatan ke kondisi semula atau ke kondisi yang lebih baik dari semula.

3) Pekerjaan Pengembalian Kondisi harus dimulai paling lambat 30 hari sejak tanggal
mulai kerja dan dalam periode mobilisasi dan dimaksudkan untuk mengembalikan
jalan lama dan jembatan minor yang ada ke suatu kondisi yang dapat digunakan,
konsisten dengan kebutuhan normal untuk jalan dan/atau jembatan menurut jenisnya.

4) Pekerjaan Utama akan diterapkan pada ruas jalan termasuk pekerjaan jembatan minor
yang pengembalian kondisinya telah selesai dan dimaksudkan untuk meningkatkan
kondisi jalan termasuk jembatan minor ke kondisi yang lebih baik daripada
sebelumnya. Pekerjaan Utama juga diterapkan untuk pembangunan jalan dan
jembatan baru atau penggantian jembatan lama. Pekerjaan semacam ini umumnya
memperbaiki kerataan maupun bentuk permukaan jalan dan/atau meningkatkan
proyeksi umur struktur perkerasan pada ruas jalan tersebut.

5) Lingkup Kontrak ini juga mengharuskan Penyedia Jasa untuk melakukan survei la-
pangan yang cukup detil selama periode mobilisasi agar Direksi Pekerjaan dapat
melaksanakan revisi minor dan menyelesaikan detil pelaksanaan pekerjaan sebelum
operasi pelaksanaan pekerjaan sebagaimana yang disyaratkan dalam Pasal 1.1.3 dari
Spesifikasi ini.

6) Penyedia Jasa harus melaksanakan semua pekerjaan yang diperlukan dan


memperbaiki cacat mutu selama Periode Kontrak yang harus diselesaikan sebelum
berakhirnya waktu yang diberikan untuk memperbaiki cacat mutu, termasuk pekerjaan
Pemeliharaan Rutin yang dilaksanakan selama Periode Pelaksanaan.

7) Lingkup pekerjaan termasuk, tetapi tidak terbatas, seluruh pekerjaan yang terkait
dengan :
(a) Penanganan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Konstruksi (termasuk
penyuluhan HIV/AIDs, jika disebutkan dalam Kontrak) yang dituangkan
dalam RK3K (Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi),

1-1
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

(b) Pengamanan Lingkungan Hidup, dan


(c) Manajemen Mutu.

1.1.2 KLASIFIKASI PEKERJAAN KONSTRUKSI

1) Umum

Dalam Lingkup pekerjaan dari Kontrak ini, tiga kelompok pekerjaan yang berbeda
yaitu pekerjaan utama, pekerjaan pengembalian kondisi dan minor, dan pekerjaan
pemeliharan rutin, dapat terdiri dari, tetapi tidak terbatas pada, salah satu atau semua
klasifikasi pekerjaan yang terdaftar di bawah ini.

2) Pekerjaan Utama

a) Pelapisan Struktural
i) Overlay dengan lapisan aspal yang terdiri dari perataan dan perkuatan
yang ditunjukkan dalam Gambar.
ii) Pekerjaan penghamparan Lapis Pondasi Agregat untuk rekonstruksi
ruas jalan terdiri dari Lapisan Pondasi dan diikuti dengan salah satu
jenis pelapisan permukaan yang disebutkan di atas.

b) Pelapisan Non Struktural


i) Overlay dengan lapisan beraspal, seperti Lapis Tipis Aspal Pasir
(LATASIR), Hot Rolled Sheet Wearing Course (HRS-WC) Asphalt
Concrete Wearing Course (AC-WC), Slurry Seal atau Campuran Dingin
lainnya untuk meratakan permukaan dan menutup perkerasan lama
yang stabil dengan atau tanpa lapis perata.

c) Pelaburan Non Struktural


i) Pelaburan memakai Laburan Aspal Satu Lapis (BURTU) atau Laburan
Aspal Dua Lapis (BURDA) pada perkerasan jalan lama dengan lalu
lintas rendah, dimana permukaan perkerasan tersebut cukup rata dan
mempunyai punggung jalan (camber) yang memenuhi.

d) Pengerikilan Kembali Jalan Tanpa Berpenutup Aspal/Bahan berpengikat


Lainnya

i) Pengerikilan kembali untuk mengganti kerikil yang hilang oleh lalu


lintas dan meningkatkan kekuatan struktur perkerasan kerikil yang ada
pada ruas jalan yang lemah.
ii) Tata cara pengerikilan kembali (re-graveling and balding).

e) Penambahan / Rekonstruksi Bahu Jalan Sepanjang Jalan Berpenutup Bahan


Berpengikat

i) Bahu jalan berpenutup.

ii) Bahu jalan tanpa penutup.

f) Penambahan atau Rekonstruksi Bangunan Pelengkap

i) Selokan tanah.

1-2
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

ii) Selokan dan drainase yang dilapisi.


iii) Gorong-gorong.
iv) Pekerjaan galian dan timbunan.
v) Peninggian elevasi tanah dasar.
vi) Pekerjaan struktur lainnya.
vii) Pekerjaan perlindungan talud, seperti pasangan batu kosong dan
bronjong.
viii) Re-alinyemen horisontal minor.

g) Pekerjaan Pembangunan Jembatan Baru atau Penggantian Jembatan Lama

i) Pekerjaan pondasi, seperti sumuran, tiang pancang, dan sebagainya.


ii) Pekerjaan bangunan bawah, seperti abutment dan pier jembatan.
iii) Pekerjaan bangunan atas, seperti gelagar beton bertulang atau beton
pratekan atau baja.

3) Pekerjaan Pengembalian Kondisi dan Minor

a) Pengembalian Kondisi Perkerasan

i) Penambalan perkerasan yang berlubang-lubang atau rusak berat.

ii) Penutupan lubang-lubang besar pada perkerasan berpenutup bahan


berpengikat.

iii) Perbaikan tepi perkerasan berpenutup bahan berpengikat.

iv) Pelaburan setempat pada perkerasan berpenutup bahan berpengikat


yang retak - retak.

v) Pekerjaan perataan setempat baik pada jalan dengan atau tanpa penutup
bahan berpengikat untuk mengisi bagian yang ambles.

vi) Perataan berat setempat pada jalan tanpa penutup aspal untuk menghi-
langkan ketidakrataan permukaan dan mempertahankan bentuk
permukaan semula.

b) Pengembalian Kondisi Bahu Jalan

i) Pengembalian kondisi bahu jalan yang berlubang-lubang atau rusak


berat.

ii) Pengupasan bahu jalan yang lebih tinggi dari permukaan perkerasan
yang telah selesai dikerjakan sehingga mencapai ketinggian yang benar.

c) Pengembalian Kondisi Selokan, Saluran Air, Timbunan, Galian dan


Penghijauan

i) Penggalian dan pembentukan kembali saluran drainase tanpa pelapisan


(unlined) yang runtuh atau alinyemen yang jelek pada lokasi tertentu
agar kemampuan operasional sistem drainase dapat dikembalikan

1-3
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

seperti semula akan diklasifikasikan sebagai pekerjaan utama menurut


uraian pekerjaan 2) f) di atas.
ii) Perbaikan pada saluran yang dilapisi (lined) dan gorong-gorong
termasuk rekonstruksi seluruh atau sebagian dari ruas yang rusak akan
diklasifikasikan sebagai pekerjaan utama menurut uraian pekerjaan 2) f)
di atas.
iii) Pekerjaan galian minor atau penimbunan yang diperlukan untuk
membentuk ulang dan meratakan kembali timbunan atau galian yang
ada, dimana timbunan atau galian tersebut yang mengalami kelongsoran
atau erosi.
iv) Stabilisasi dengan tanaman pada timbunan atau galian yang terekspos.
v) Penanaman semak atau pohon baru sebagai pengganti tanaman lama
yang ditebang untuk pelebaran jalan atau untuk tujuan lainnya.

d) Perlengkapan Jalan dan Pengatur Lalu Lintas

i) Pengecatan Marka Jalan.


ii) Penyediaan dan pemasangan Rambu Jalan, Patok Pengarah, dan Patok
Kilometer.
iii) Penyediaan dan pemasangan Rel Pengaman.
iv) Penyediaan dan pemasangan Paku Jalan dan Mata Kucing.
v) Penyediaan dan pemasangan Kerb dan Trotoar.
vi) Penyediaan dan pemasangan Lampu APILL (Alat Pengendali Isyarat
Lalu Lintas) dan Lampu Penerangan Jalan.

e) Pengembalian Kondisi Jembatan

Perbaikan terbatas atau penggantian bagian-bagian dari struktur atas jembatan


yang menunjukkan tanda-tanda kerusakan struktural atau non-struktural.
Perbaikan dapat dilakukan terhadap struktur jembatan beton, baja atau kayu.

4) Pekerjaan Pemeliharaan Rutin

a) Perkerasan Lama

i) Penambalan lubang kecil dan pelaburan setempat pada permukaan


perkerasan berpenutup, dimana luas lokasi yang retak kurang dari 10 %
terhadap luas total perkerasan.

ii) Perataan ringan secara rutin dengan motor grader pada jalan tanpa
penutup bahan berpengikat untuk mengendalikan terjadinya lubang atau
keriting (corrugations).

b) Bahu Jalan Lama dan Pemotongan Rumput

i) Penambalan lubang pada bahu jalan lama tanpa penutup.

ii) Penambalan lubang dan pelaburan retak pada bahu jalan lama
berpenutup.

1-4
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

iii) Pemotongan rumput pada Ruang Milik Jalan (RUMIJA).

c) Selokan, Saluran Air, Galian dan Timbunan

i) Pembersihan dan pembuangan lumpur secara rutin pada selokan dan


saluran yang ada.

ii) Pembuangan semua sampah dari sistem drainase yang ada setelah hujan
lebat.
iii) Pemotongan rumput secara rutin dan pengendalian pertumbuhan
tanaman pada galian, timbunan, lereng, dan berm, serta ambang
pengaman jalan dikedua sisi jalan selebar RUMIJA.

d) Perlengkapan Jalan

i) Pengecatan ulang semua rambu dan marka jalan, patok tanda dan
lainnya yang tidak terbaca.

ii) Pembersihan rutin terhadap semua perlengkapan jalan dan APILL.

iii) Perbaikan minor terhadap masing-masing jenis perlengkapan jalan.

e) Bangunan Pelengkap

i) Pemeriksaan dan pembersihan rutin pada semua komponen struktur


bangunan pelengkap jalan antara lain jembatan, terowongan, gorong-
gorong, dinding penahan tanah, saluran samping diperkeras.

ii) Pemeriksaan dan pembersihan rutin kotoran dari semua saluran air
dimana penggerusan terhadap timbunan atau pondasi bangunan
pelengkap termasuk jembatan dapat terjadi jika tidak dibersihkan.

iii) Pemeriksaan dan pembersihan rutin semua kotoran dan sampah dari
lubang-lubang drainase lantai jembatan dan pipa-pipa saluran.

1.1.3 KETENTUAN KAJIAN TEKNIS

1) Umum

Sebelum pekerjaan survei dimulai Penyedia Jasa harus mempelajari Gambar Rencana
untuk dikonsultasikan dengan Direksi Pekerjaan, dan harus memastikan dan
memperbaiki setiap kesalahan atau perbedaan yang terjadi, terutama yang
berhubungan dengan pekerjaan ini. Penyedia Jasa dan Direksi Pekerjaan harus
mencapai kesepakatan dalam menentukan ketepatan setiap perubahan yang dibuat
dalam revisi minor Gambar.

Kuantitas dalam Daftar Kuantitas dan Harga dapat diubah oleh Direksi Pekerjaan
setelah revisi minor terhadap seluruh rancangan telah selesai, dimana revisi minor ini
harus berdasarkan data survei lapangan yang dikumpulkan oleh Penyedia Jasa sebagai
bagian dari Lingkup perkerjaan dalam Kontrak.

1-5
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

2) Survei Lapangan oleh Penyedia Jasa

Selama periode mobilisasi pada saat dimulainya Kontrak, Penyedia Jasa harus
melaksanakan survei lapangan yang lengkap terhadap kondisi fisik dan struktur
pekerjaan yang akan dilaksanakan. Ketentuan survei lapangan yang lengkap dan detil
terdapat dalam Seksi 1.9, Kajian Teknis Lapangan.

Setelah pekerjaan survei lapangan ini selesai, Penyedia Jasa harus menyiapkan dan
menyerahkan laporan lengkap dan detil dari hasil survei ini kepada Direksi Pekerjaan,
tidak lebih dari tanggal yang ditentukan dalam Pasal 1.1.4 dari Spesifikasi ini.

3) Revisi oleh Direksi Pekerjaan

Detil pelaksanaan yang lengkap pada setiap mata pekerjaan dalam Lingkup Kontrak
ini akan diterbitkan secara bertahap untuk Penyedia Jasa dan bilamana detil
pelaksanaan ini telah disiapkan, dapat mencakup, tetapi tidak boleh terbatas pada
revisi minor.

1.1.4 URUTAN PEKERJAAN

1) Lingkup pekerjaan dalam Kontrak ini mensyaratkan bahwa kegiatan tertentu harus
diselesaikan secara berurutan menurut rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.
Kecuali jika ditentukan lain oleh Direksi Pekerjaan, tanggal yang menjadi rencana
utama bagi kegiatan yang kritis adalah sebagai berikut:
a) Survei lapangan termasuk peralatan : 30 hari setelah serah terima
pengujian yang diperlukan dan lapangan kepada Penyedia Jasa.
penyerahan laporan oleh Penyedia
Jasa.

b) Revisi Minor oleh Direksi Pekerjaan : 60 hari setelah serah terima


telah selesai. lapangan kepada Penyedia Jasa,
walau keluarnya detil pelaksanaan
dapat bertahap setelah tanggal ini.

c) Pekerjaan pengembalian kondisi : 60 hari setelah setelah serah terima


perkerasan dan bahu jalan selesai. lapangan kepada Penyedia Jasa.

d) Pekerjaan minor pada selokan, : 90 hari setelah serah terima


saluran air, galian dan timbunan, lapangan kepada Penyedia Jasa.
pemasangan perlengkapan jalan
dan pekerjaan pengembalian
kondisi bangunan pelengkap jalan.

e) Pekerjaan drainase selesai. : Sebelum dimulainya setiap tahapan


pekerjaan perkerasan.

2) Diagram yang menjelaskan lingkup dan urutan kegiatan dalam pekerjaan dari berbagai
pekerjaan utama diberikan dalam Lampiran 1.1.A pada akhir Seksi ini.

1-6
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

1.1.5 PEMBAYARAN PEKERJAAN

1) Penyedia Jasa harus melaksanakan Pekerjaan sesuai dengan detil yang diberikan
dalam Gambar, dan sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, dimana
sebagian besar pekerjaan tersebut akan dibayar menurut sistem Harga Satuan.
Pembayaran kepada Penyedia Jasa harus dilakukan berdasarkan kuantitas aktual yang
diukur pada masing-masing Mata Pembayaran dalam Kontrak yang telah dilaksanakan
sesuai dengan Seksi yang berkaitan dari Spesifikasi ini, baik cara pengukuran maupun
pembayarannya. Pembayaran juga akan dilakukan berdasarkan pengukuran dan
pembayaran Lump Sum untuk mata pembayaran Mobilisasi, Manajemen dan
Keselamatan Lalu Lintas, dan Pekerjaan Pemeliharaan Rutin, serta pengukuran dan
pembayaran untuk pekerjaan yang diperintahkan atas dasar Pekerjaan Harian.

2) Pembayaran yang diberikan kepada Penyedia Jasa harus mencakup kompensasi penuh
untuk seluruh biaya yang dikeluarkan seluruh pekerja, bahan, peralatan konstruksi,
pengorganisasian pekerjaan, biaya tak terduga, keuntungan, retribusi, pajak,
pengamanan pekerjaan yang telah selesai dikerjakan, pembayaran kepada pihak ketiga
untuk tanah atau untuk penggunaan atas tanah atau untuk kerusakan bangunan
(property) maupun untuk semua biaya pekerjaan tambah yang tidak dibayar secara
terpisah, dan lain-lain biaya yang diperlukan atau lazim dipakai untuk pelaksanaan
dan penyelesaian yang sebagaimana mestinya dari Pekerjaan tersebut.

1-7
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

SEKSI 1.2

MOBILISASI

1.2.1 UMUM

1) Uraian

Lingkup kegiatan mobilisasi yang diperlukan dalam Kontrak ini akan tergantung pada
jenis dan volume pekerjaan yang harus dilaksanakan, sebagaimana disyaratkan di
bagian-bagian lain dari Dokumen Kontrak, dan secara umum harus memenuhi berikut:

a) Ketentuan Mobilisasi untuk semua Kontrak

i) Penyewaan atau pembelian sebidang lahan yang diperlukan untuk base


camp Penyedia Jasa dan kegiatan pelaksanaan.

ii) Mobilisasi semua Personil Penyedia Jasa sesuai dengan struktur organisasi
pelaksana yang telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan termasuk para
pekerja yang diperlukan dalam pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan
dalam Kontrak termasuk, tetapi tidak terbatas, Koordinator Manajemen
dan Keselamatan Lalu Lintas (KMKL) sesuai dengan ketentuan yang
disyaratkan dalam Seksi 1.8, Personil Ahli K3 atau Petugas K3 sesuai
dengan ketentuan yang disyaratkan dalam Seksi 1.19 dari Spesifikasi ini,
dan Manajer Kendali Mutu (Quality Control Manager, QCM) sesuai
dengan ketentuan yang disyaratkan dalam Seksi 1.21 dari Spesifikasi ini.

iii) Mobilisasi dan pemasangan peralatan sesuai dengan daftar peralatan yang
tercantum dalam Penawaran, dari suatu lokasi asal ke tempat pekerjaan
dimana peralatan tersebut akan digunakan menurut Kontrak ini.

iv) Penyediaan dan pemeliharaan base camp Penyedia Jasa, jika perlu
termasuk kantor lapangan, tempat tinggal, bengkel, gudang, ruang
laboratorium beserta peralatan ujinya, dan sebagainya.

v) Perkuatan jembatan lama untuk pengangkutan alat-alat berat.

vi) Mobilisasi personil dan peralatan dapat dilakukan secara bertahap sesuai
dengan kebutuhan lapangan namun ketentuan ini hanya berlaku untuk
pentahapan mobilisasi peralatan utama dan personel terkaitnya dan harus
sudah diatur jadwalnya terlebih dahulu saat tahap pengadaan jasa
pemborongannya. Pengaturan mobilisasi secara bertahap ini tidak
menghapuskan denda sesuai Pasal 1.2.3.2) akibat keterlambatan
mobilisasi setiap tahapannya sesuai jadwal yang disepakati dan
merupakan bagian yang tidak terpisah dari Kontrak.
Setiap tahapan Mobilisasi Peralatan Utama harus terlebih dulu diajukan
permohonan mobilisasinya oleh Penyedia jasa kepada Direksi pekerjaan
paling sedikit 30 hari sebelum tanggal rencana awal mobilisasi setiap
peralatan utama tersebut. Direksi pekerjaan perlu melakukan monitoring/
harian atas rencana mobilisasi hingga terlaksananya mobilisasi peralatan
utama beserta personil operator terkait dengan lengkap dan baik.

1-8
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Dalam segala hal, mobilisasi personil dan peralatan utama yang dilakukan
secara bertahap dan terjadwal tidak boleh melampaui dua pertiga periode
pelaksanaan konstruksinya.
Ketentuan periode mobilisasi Fasilitas dan Pelayanan Pengendalian Mutu tetap
sesuai Pasal 1.2.1.3) paragraph pertama di bawah ini.

b) Ketentuan Mobilisasi Kantor Lapangan dan Fasilitasnya untuk Direksi Pekerjaan


Kebutuhan ini akan disediakan dalam Kontrak lain.

c) Ketentuan Mobilisasi Fasilitas Pengendalian Mutu


Penyediaan dan pemeliharaan laboratorium uji mutu bahan dan pekerjaan di
lapangan harus memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam Seksi 1.4 dari
Spesifikasi ini. Gedung laboratorium dan peralatannya, yang dipasok menurut
Kontrak ini, akan tetap menjadi milik Penyedia Jasa pada waktu kegiatan
selesai.

d) Kegiatan Demobilisasi untuk Semua Kontrak

Pembongkaran tempat kerja oleh Penyedia Jasa pada saat akhir Kontrak,
termasuk pemindahan semua instalasi, peralatan dan perlengkapan dari tanah
milik Pemerintah dan pengembalian kondisi tempat kerja menjadi kondisi seperti
semula sebelum Pekerjaan dimulai.

2) Pekerjaan Seksi Lain yang Berkaitan dengan Seksi Ini

a) Syarat-syarat Kontrak : Pasal-pasal yang


berkaitan
b) Kantor Lapangan dan Fasilitasnya : Seksi 1.3
c) Pelayanan Pengujian Laboratorium : Seksi 1.4
d) Kajian Teknis Lapangan : Seksi 1.9
e) Jadwal Pelaksanaan : Seksi 1.12
f) Pekerjaan Pembersihan : Seksi 1.16
g) Pengamanan Lingkungan Hidup : Seksi 1.17
h) Keselamatan dan Kesehatan Kerja : Seksi 1.19
i) Ketentuan-ketentuan tersendiri lainnya seperti didefinisikan dalam Seksi lain yang
berhubungan dalam Spesifikasi ini.

3) Periode Mobilisasi

Kecuali ditentukan lain dalam Kontrak maka mobilisasi dari seluruh mata pekerjaan
yang terdaftar dalam Pasal 1.2.1.(1) harus diselesaikan dalam jangka waktu 60 hari
terhitung mulai tanggal mulai kerja, kecuali penyediaan Fasilitas dan Pelayanan
Pengendalian Mutu yang terdiri dari tenaga ahli, tenaga terampil, dan sumber daya uji
mutu lainnya yang siap operasional, harus diselesaikan dalam waktu paling lama 45 hari.

Setiap kegagalan Penyedia Jasa dalam memobilisasi Fasilitas dan Pelayanan


Pengendalian Mutu sebagimana disebutkan di atas, akan membuat Direksi Pekerjaan
melaksanakan pekerjaan semacam ini yang dianggap perlu dan akan membebankan
seluruh biaya tersebut ditambah sepuluh persen pada Penyedia Jasa, dimana biaya
tersebut akan dipotongkan dari setiap pembayaran yang dibayarkan atau akan
dibayarkan kepada Penyedia Jasa menurut Kontrak ini. Bahkan, pemotongan
sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 1.2.3.2) tetap berlaku.

1-9
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

4) Pengajuan Kesiapan Kerja

Penyedia Jasa harus menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan suatu program mobilisasi
menurut detil dan waktu yang disyaratkan dalam Pasal 1.2.2 dari Spesifikasi ini.
Bilamana perkuatan bangunan pelengkap antara lain jembatan lama atau pembuatan
jembatan darurat atau pembuatan timbunan darurat pada jalan yang berdekatan dengan
proyek, diperlukan untuk memperlancar pengangkutan peralatan, instalasi atau bahan
milik Penyedia Jasa, detil pekerjaan darurat ini juga harus diserahkan bersama dengan
program mobilisasi sesuai dengan ketentuan Seksi 10.2 dari Spesifikasi ini.

1.2.2 PROGRAM MOBILISASI

1) Dalam waktu paling lambat 7 hari setelah Surat Perintah Mulai Kerja, Penyedia Jasa
harus melaksanakan Rapat Persiapan Pelaksanaan (Pre Construction Meeting) yang
dihadiri Pengguna Jasa, Direksi Pekerjaan, Direksi Teknis (bila ada), dan Penyedia Jasa
untuk membahas semua hal baik yang teknis maupun yang non teknis dalam kegiatan ini.
Agenda dalam rapat harus mencakup namun tidak terbatas pada berikut ini:

a) Pendahuluan
b) Sinkronisasi Struktur Organisasi:
i) Struktur Organisasi Pengguna Jasa.
ii) Struktur Organisasi Penyedia Jasa.
iii) Struktur Organisasi Direksi Pekerjaan.
c) Masalah-masalah Lapangan:
i) Ruang Milik Jalan (RUMIJA).
ii) Sumber-sumber Bahan.
iii) Lokasi Base Camp.
d) Wakil Penyedia Jasa.
e) Pengajuan.
f) Persetujuan.
g) Dokumen Penyelesaian Pekerjaan/Penyerahan Pertama Pekerjaan Selesai.
h) Rencana Kerja:
i) Bagan Jadwal Pelaksanaan kontrak yang menunjukkan waktu dan
urutan kegiatan utama yang membentuk Pekerjaaan.
ii) Rencana Mobilisasi.
iii) Rencana Relokasi.
iv) Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K).
v) Program Mutu dalam bentuk Rencana Mutu Kontrak (RMK).
vi) Rencana Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas (RMKL).
vii) Rencana Inspeksi dan Pengujian.
viii) Dokumen Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (jika
ada), Dokumen Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
(jika ada), atau sekurang-kurangnya standar dan prosedur pengelolaan
lingkungan yang berlaku khusus untuk kegiatan tersebut.

1 - 10
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

i) Komunikasi dan korespondensi.


j) Rapat Pelaksanaan dan jadwal pelaksanaan pekerjaan.
k) Pelaporan dan pemantauan.

Standar Prosedur Pelaksanaan (SOP) rapat persiapan pelaksanaan mengacu pada SOP
Rapat Persiapan Pelaksanaan Bina Marga Nomor: DJBM/SMM/PP/15 tanggal 19 Juli
2012 dan perubahan-perubahannya, bila ada.

2) Dalam waktu 14 hari setelah Rapat Persiapan Pelaksanaan, Penyedia Jasa harus
menyerahkan Program Mobilisasi (termasuk program perkuatan bangunan pelengkap
antara lain jembatan, bila ada) dan Jadwal Kemajuan Pelaksanaan kepada Direksi
Pekerjaan untuk dimintakan persetujuannya.

3) Program mobilisasi harus menetapkan waktu untuk semua kegiatan mobilisasi yang
disyaratkan dalam Pasal 1.2.1.1) dan harus mencakup informasi tambahan berikut:

a) Lokasi base camp Penyedia Jasa dengan denah lokasi umum dan denah detil di
lapangan yang menunjukkan lokasi kantor Penyedia Jasa, bengkel, gudang,
mesin pemecah batu, instalasi pencampur aspal, atau instalasi pencampur mortar
beton, dan laboratorium bilamana fasilitas tersebut termasuk dalam Lingkup
Kontrak.

b) Jadwal pengiriman peralatan yang menunjukkan lokasi asal dari semua peralatan
yang tercantum dalam Daftar Peralatan yang diusulkan dalam Penawaran,
bersama dengan usulan cara pengangkutan dan jadwal kedatangan peralatan di
lapangan.

c) Setiap perubahan pada peralatan maupun personil yang diusulkan dalam


Penawaran harus memperoleh persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

d) Suatu daftar detil yang menunjukkan struktur yang memerlukan perkuatan agar
aman dilewati alat-alat berat, usulan metodologi pelaksanaan dan jadwal tanggal
mulai dan tanggal selesai untuk perkuatan setiap struktur.

e) Suatu jadwal kemajuan yang lengkap dalam format bagan balok (bar chart)
yang menunjukkan tiap kegiatan mobilisasi utama dan suatu kurva kemajuan
untuk menyatakan persentase kemajuan mobilisasi.

1.2.3 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Pengukuran

Pengukuran kemajuan mobilisasi akan ditentukan oleh Direksi Pekerjaan atas dasar
jadwal kemajuan mobilisasi yang lengkap dan telah disetujui seperti yang diuraikan
dalam Pasal 1.2.2.2) di atas.

2) Dasar Pembayaran
Mobilisasi harus dibayar atas dasar lump sum menurut jadwal pembayaran yang
diberikan di bawah, dimana pembayaran tersebut merupakan kompensasi penuh untuk
penyediaan dan pemasangan semua peralatan, dan untuk semua pekerja, bahan, perkakas,
dan biaya lainnya yang perlu untuk menyelesaikan pekerjaan yang diuraikan dalam Pasal
1.2.1.1) dari Spesifikasi ini. Walaupun demikian Direksi Pekerjaan dapat, setiap saat

1 - 11
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

selama pelaksanaan pekerjaan, memerintahkan Penyedia Jasa untuk menambah peralatan


yang dianggap perlu tanpa menyebabkan perubahan harga lump sum untuk Mobilisasi.

Pembayaran biaya lump sum ini akan dilakukan dalam tiga angsuran sebagai berikut:
a) 50 % (lima puluh persen) bila mobilisasi 50 % selesai, dan fasilitas serta
pelayanan pengujian laboratorium telah lengkap 100% dimobilisasi.
b) 20 % (dua puluh persen) bila semua peralatan utama berada di lapangan dan
diterima oleh Direksi Pekerjaan.
c) 30 % (tiga puluh persen) bila demobilisasi selesai dilaksanakan.

Bilamana Penyedia Jasa tidak menyelesaikan mobilisasi sesuai dengan salah satu dari
kedua batas waktu yang disyaratkan dalam Pasal 1.2.1.3) atau keterlambatan setiap
tahapan mobilisasi peralatan utama dan personil yang terkait terhadap jadwalnya sesuai
Pasal 1.2.1.1).a).vi), maka jumlah yang disahkan Direksi Pekerjaan untuk pembayaran
adalah persentase angsuran penuh dari harga lump sum Mobilisasi dikurangi sejumlah
dari 1 % (satu persen) nilai angsuran untuk setiap keterlambatan satu hari dalam
penyelesaian sampai maksimum 50 (lima puluh) hari.

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran

1.2 Mobilisasi Lump Sum

1 - 12
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

SEKSI 1.8

MANAJEMEN DAN KESELAMATAN LALU LINTAS

1.8.1 UMUM

1) Uraian

a) Penyedia Jasa harus menyediakan perlengkapan jalan1 sementara dan Tenaga


Manajemen Keselamatan Lalu Lintas untuk mengendalikan dan melindungi para
pekerja2, dan pengguna jalan yang melalui daerah konstruksi, termasuk lokasi
sumber bahan dan rute pengangkutan, sesuai dengan spesifikasi yang tertuang
dalam seksi ini dan sesuai dengan rencana detail manajemen dan keselamatan
lalu lintas yang telah disusun atau atas perintah Direksi Pekerjaan3.
b) Penyedia Jasa harus menyediakan, memasang dan memelihara perlengkapan
jalan sementara dan harus menyediakan petugas bendera (flagmen) dan/atau alat
pemberi isyarat lalu lintas lainnya sepanjang ZONA kerja saat diperlukan selama
Periode Kontrak. Manajemen lalu lintas harus dilakukan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
c) Pengaturan lalu litas selama masa konstruksi harus dituangkan dalam Rencana
Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas (RMKL) yang disusun oleh Penyedia
Jasa berdasarkan tahapan dan metoda pelaksanaan pekerjaan. RMKL harus
memenuhi ketentuan-ketentuan dan panduan dari Direktorat Jenderal Bina
Marga dan peraturan terkait lainnya yang berlaku. Jumlah dan jenis
perlengkapan jalan sementara yang disediakan harus sesuai dengan Rencana
Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas seperti yang diberikan dalam lampiran
1.8.B.
d) Semua pengaturan lalu lintas yang disediakan dan dipasang oleh Penyedia Jasa
harus dikaji oleh Direksi Pekerjaan agar sesuai dengan ukuran, lokasi,
reflektifitas (daya pantul), visibilitas (daya penglihatan), kecocokan, dan
penggunaan yang sebagaimana mestinya sesuai dengan kondisi kerja yang
khusus.
e) Bilamana jembatan lama tidak dapat difungsikan sebagai jembatan sementara
atau yang disebutkan lain dalam Gambar, maka dapat dilakukan penyediaan dan
pemasangan jembatan sementara tersendiri.

2) Pekerjaan Seksi Lain yang Berkaitan dengan Seksi Ini

a) Syarat-syarat Kontrak : Pasal-pasal yang


berkaitan
b) Transportasi dan Penanganan : Seksi 1.11
c) Pekerjaan Pembersihan : Seksi 1.16
d) Pengamanan Lingkungan Hidup : Seksi 1.17
e) Keselamatan dan Kesehatan Kerja : Seksi 1.19
f) Pengembalian Kondisi Perkerasan Lama : Seksi 8.1
g) Pemeliharaan Rutin Perkerasan, Bahu Jalan, Drainase, : Seksi 10.1
Perlengkapan Jalan dan Jembatan
h) Pemeliharaan Jalan Samping dan Jembatan : Seksi 10.2

1
Perlengkapan jalan sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.32 Tahun 2011 tentang Manajemen dan Rekayasa, Analisis Dampak serta
Manajemen Kebutuhan Lalu Lintas.
2
Termasuk karyawan Penyedia Jasa dan Direksi Pekerjaan yang melaksanakan tugas terkait dengan lingkup kontrak.
3
Lihat Seksi 1.8.2 butir 3) Alinea Kedua.

1 - 13
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

1.8.2 RENCANA MANAJEMEN DAN KESELAMATAN LALU LINTAS

1) Urutan Pekerjaan dan Rencana Manajemen Lalu Lintas


Penyedia Jasa harus menjaga seluruh kegiatan pekerjaan sepanjang jalan dalam
kondisi sedemikian hingga agar lalu lintas dapat terbuka dengan selamat dan seluruh
pekerja, dan pengguna jalan terlindungi.

Sebelum memulai pekerjaan apapun, Penyedia Jasa harus menyiapkan dan


mengajukan kepada Direksi Pekerjaan, Rencana Manajemen dan Keselamatan Lalu
Lintas (RMKL) untuk pengoperasiannya selama periode pelaksanaan. RMKL harus
berdasarkan analisa arus lalu lintas tingkat makro dan juga mikro dan tidak hanya
terfokus di daerah konstruksi. RMKL harus disusun oleh Tenaga Ahli Keselamatan
Jalan dari Penyedia Jasa, disampaikan pada saat rapat persiapan pelaksanaan
pekerjaan konstruksi (PCM) dan mendapatkan persetujuan dari Direksi Pekerjaan.
RMKL harus dimutakhirkan secara regular berdasarkan kondisi tempat pekerjaan.
RMKL harus memperhitungkan Prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (lihat
Seksi 1.19 Spesifikasi Umum).
RMKL harus memperhitungkan dan menyediakan fasilitas khusus untuk pejalan kaki
dan kendaraan tidak bermotor jika dibutuhkan.

2) Pembagian Zona Pekerjaan Jalan


Zona Pekerjaan Jalan dibagi menjadi empat zona berdasarkan fungsinya (sesuai
dengan Instruksi Dirjen Bina Marga No. 02/IN/Db/2012 tentang Panduan Teknis
Rekayasa Keselamatan Jalan) sebagaimana ditunjukkan pada gambar pada Lampiran
1.8.A. Zona tersebut adalah:
1. Zona peringatan dini adalah segmen jalan dimana pengguna jalan diinformasikan
tentang akan adanya pekerjaan jalan dan apa yang harus dilakukan.
2. Zona pemandu transisi adalah segmen jalan dimana pengemudi dipandu untuk
menurunkan kecepatan dan masuk ke lintasan yang benar.
3. Zona kerja adalah segmen jalan dimana pekerjaan dilaksanakan dan terdapat
pekerja, peralatan, perlengkapan, serta material.
4. Zona terminasi adalah segmen jalan dimana lalu lintas dituntun kembali ke kondisi
normal setelah melalui lokasi pekerjaan.
Bilamana pekerjaan belum selesai, dan jalan atau lajur dibuka untuk lalu lintas umum,
Penyedia Jasa wajib memasang marka sementara (pre marking), dan rambu sementara
atau perlengkapan jalan lainnya yang dibutuhkan untuk menjamin keselamatan
pengguna jalan.

3) Implementasi Pekerjaan Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas


Jika pada setiap saat, Direksi Pekerjaan menetapkan bahwa ketentuan yang
sebagaimana mestinya untuk pengendalian lalu lintas yang berkeselamatan tidak
disediakan, tidak dipelihara atau tidak dilaksanakan sesuai lingkup dari RMKL,
Direksi Pekerjaan dapat membatasi operasi Penyedia Jasa yang mempengaruhi situasi
semacam ini sampai penyesuaian yang diperlukan telah dilaksanakan. Direksi
Pekerjaan dapat juga menangguhkan seluruh pekerjaan sampai penyesuaian tersebut
dicapai.
Bilamana keselamatan pengguna jalan atau pekerja diabaikan secara serius dan
dengan sengaja oleh Penyedia Jasa, Direksi Pekerjaan dapat melakukan tindakan

1 - 14
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

perbaikan yang sepadan dan memotong biaya dari hak Penyedia Jasa sebagai
kompensasi kerugian dari jumlah yang dibayarkan kepada Penyedia Jasa.
Semua pekerja paling sedikit berusia 18 tahun, dan pekerja harus mengenakan baju
yang reflektif, sepatu boot dan helm kerja pada setiap saat selama jam kerja di dalam
daerah kerja.
Pelaksanaan pengaturan lalu lintas perlu berkoordinasi dengan pihak Kepolisian
dan/atau Dinas Lalu-Lintas dan Angkutan Jalan setempat.
Pekerjaan pada malam hari harus diterangi dengan lampu dan atau sistem reflektif
yang disetujui Direksi Pekerjaan. Sistem penerangan harus ditempatkan dan
dioperasikan sedemikian hingga agar sorot cahaya tidak mengganggu pengguna jalan
pada lokasi tersebut. Lampu pijar tidak diperkenankan untuk digunakan.
Pada saat pelaksanaan konstruksi, Direksi Pekerjaan wajib memeriksa dan mengawasi
pelaksanaan keselamatan lalu lintas di lokasi pekerjaan dengan membuat formulir
pemantauan kesesuaian berdasarkan RMKL yang telah disepakati pada saat rapat
persiapan pelaksanaan pekerjaan konstruksi termasuk di dalamnya adalah
kelengkapan perlengkapan jalan sementara.

4) Koordinasi Antara Berbagai Kontrak-kontrak Pekerjaan Sipil

Penyedia Jasa akan diberitahu setiap pekerjaan sipil lainnya yang terdaftar dalam
Lampiran 1.8.A yang dijadwalkan untuk dilaksanakan selama Periode Pelaksanaan.

5) Pemeliharaan Perlengkapan Jalan Sementara

Penyedia Jasa harus menyediakan personil untuk melakukan pengawasan


berkesinambungan terhadap operasi pengendalian lalu lintasnya. Personil tersebut
harus tersedia baik siang maupun malam untuk menanggapi panggilanjika ada
kerusakan antara lain terhadap barikade, lampu, rambu-rambu, dan sebagainya baik
karena vandalisme atau kecelakaan lalu lintas.

Penyedia Jasa harus memberitahu identitas personil tersebut kepada Direksi Pekerjaan
maupun pejabat lalu lintas setempat (termasuk polisi) di tempat kerja.

6) Bahan dan Peralatan

Penyedia Jasa harus menyediakan perlengkapan jalan sementara sesuai RMKL atau
sesuai perintah Direksi Pekerjaan bila dianggap perlu. Perlengkapan jalan sementara,
dapat berupa :
1. alat pemberi isyarat lalu lintas sementara;
2. rambu lalu lintas sementara;
3. marka jalan sementara;
4. alat penerangan sementara;
5. alat pengendali pemakai jalan sementara, terdiri atas
- alat pembatas kecepatan; dan
- alat pembatas tinggi dan lebar kendaraan.
6. alat pengaman pemakai jalan sementara, terdiri atas:
- pagar pengaman/Penghalang lalu lintas;
- cermin tikungan;
- tanda patok tikungan (delineator);
- pulau-pulau lalu lintas;
- pita penggaduh (rumble strip); dan
- Traffic Cones.

1 - 15
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Penyediaan dan penempatan alat pemberi isyarat lalu lintas dan rambu lalu lintas
sementara sekurang-kurangnya harus sesuai dengan pedoman Perambuan Sementara
untuk Pekerjaan Jalan No. Pd-T-12-2003, Instruksi Dirjen Bina Marga No.
02/IN/Db/2012 tentang Panduan Teknis Rekayasa Keselamatan Jalan: Panduan
Teknis 3: Keselamatan di Lokasi Pekerjaan Jalan, dan Peraturan Menteri Perhubungan
No. PM 13/2014 tentang Rambu Lalu lintas.

Bentuk-bentuk zona pekerjaan jalan seperti yang disebutkan dalam Lampiran 1.8 A
dan estimasi jumlah dan jenis alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, marka jalan sementara,
dan rambu lalu lintas sementara terlebih dulu diinformasikan oleh Pengguna jasa pada
dokumen pengadaan jasa pemborongan beserta Adendumnya pada saat pengadaan
berlangsung.

Semua bahan dan peralatan yang disediakan untuk implementasi kegiatan-kegiatan


manajemen dan keselamatan lalu lintas harus disediakan oleh Penyedia Jasa dan tetap
menjadi miliknya pada akhir periode kontrak.

Perlengkapan jalan sementara yang rusak oleh sebab apapun selama periode
pelaksanaan harus diperbaiki atau diganti segera, termasuk pengecatan jika perlu oleh
Penyedia Jasa dengan biaya sendiri.

Bilamana tidak diperlukan lagi, perlengkapan jalan sementara harus disingkirkan dari
daerah kerja.

Perlengkapan jalan sementara harus dibuat sedemikian hingga tidak merusak


kendaraan yang melalui atau melukai pengguna jalan jika tertabrak dan harus tetap
stabil dan berdiri di tempat ketika diterpa angin maupun getaran akibat LL kendaraan
lewat.

7) Koordinator Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas

Penyedia Jasa harus menyediakan tenaga Koordinator Manajemen dan Keselamatan


Lalu Lintas (KMKL) yang memadai, dengan pengalaman yang sesuai minimum 3
tahun dalam tugas-tugas semacam ini dan staf yang diperlukan (jumlah minimum 2
orang) yang dibawahinya untuk seluruh pengendalian dan pelaksanaan dari
manajemen dan keselamatan lalu lintas, termasuk koordinasi dengan pejabat lalu
lintas setempat yang bertanggungjawab sesuai yuridiksi Daerah Kerja, sedemikian
hingga dapat memperkecil halangan, risiko keselamatan dan memperlancar arus lalu
lintas yang melalui daerah pekerjaan konstruksi dan melalui jalan-jalan pengalihan
yang sesuai dan disetujui. Pemilihan KMKL harus disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

KMKL harus secara aktif berpartisipasi dalam semua rapat reguler maupun khusus
dengan Direksi Pekerjaan. KMKL harus siap dihubungi pada setiap saat (24 jam per
hari, 7 hari per minggu) melalui komunikasi bergerak untuk mengatasi kesulitan-
kesulitan, keadaan darurat, dan hal-hal lain terkait lalu lintas dan manajemen
keselamatan selama Periode pelaksanaan.

KMKL adalah individu yang bertanggungjawab atas semua permintaan Direksi


Pekerjaan yang terkait dengan hal-hal manajemen dan keselamatan lalu lintas.
KMKL mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan dan berkoordinasi dengan
personil Penyedia Jasa untuk hal-hal manajemen dan keselamatan lalu lintas.

Tugas-tugas KMKL harus mencakup berikut ini:

a) Memahami persyaratan kontraktual, termasuk denah, spesifikasi, dan


lingkungan di mana pekerjaan sipil akan dilaksanakan;

1 - 16
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

b) Menginspeksi rutin terhadap kondisi dan keefektifan dari pengaturan lalu


lintas yang digunakan dalam kegiatan dan memastikan bahwa perlengkapan
tersebut berfungsi sebagaimana mestinya, bersih, dapat dilihat dan memenuhi
spesifikasi, denah, serta peraturan-peraturan setempat;

c) Meninjau dan mengantisipasi kebutuhan atas pengaturan lalu lintas yang


sesuai, memberi pendapat kepada Direksi Pekerjaan tentang hal-hal terkait,
dan memastikan bahwa RMKL telah diimplementasikan untuk pergerakan
lalu lintas yang aman dan efisien;

d) Mengkoordinasikan pemeliharaan dari pengoperasian lalu lintas dengan


Direksi Pekerjaan;

e) Melakukan rapat keselamatan lalu lintas dengan Penyedia Jasa sebelum


pelaksanaan dimulai, dan rapat berkala yang dianggap perlu atau sebagaimana
diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Direksi Pekerjaan harus diberitahu
sebelumnya untuk menghadiri rapat-rapat ini.

8) Penutupan Jalan yang Tidak Sah

Semua penutupan dini/lambat atas jalan atau lajur di luar waktu yang ditetapkan
(Lampiran 1.8.B, Tabel 1.8.B.2) dapat dikategorikan sebagai penutupan jalan yang
tidak sah.

Semua penutupan total jalan tanpa suatu jalan pengalihan yang pantas harus
dipandang sebagai penutupan jalan yang tidak sah dan Penyedia Jasa harus
menanggung segala tuntutan yang timbul dari pihak ketiga.

9) Akses Menuju Daerah Kerja

Penyedia Jasa harus menggunakan sebuah Kendaraan Penghantar ketika memasuki


atau meninggalkan daerah kerja sampai jalan tersebut dibuka untuk lalu lintas.
Penyedia Jasa harus menyediakan fasilitas yang sama untuk Personil Direksi
Pekerjaan dan Pengguna Jasa.

Manuver ini (memasuki dan meninggalkan daerah kerja) harus dilaksanakan dengan
selamat sehingga memperkecil risiko terhadap para pekerja dan pengguna jalan.

10) Kejadian Khusus dan Hari Libur

Tabel 1.8.B.4 pada Lampiran 1.8 B mengidentifikasi kejadian khusus dimana selama
waktu itu Direksi Pekerjaan mencadangkan haknya untuk tidak mengijinkan
penutupan jalan. Penyedia Jasa harus mempertimbangkan kejadian semacam ini
dalam rencana kerjanya.

Bilamana terjadi Kejadian Kahar, Direksi Pekerjaan dapat juga membatalkan


penutupan jalan.

11) Penutupan Lajur/Jalan dengan Menggunakan Tanda Visual

Penutupan lajur dengan menggunakan tanda visual harus dilakukan sesuai dengan
detil-detil dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan.

1 - 17
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

12) Penutupan Jalan Keluar/Masuk pada Jalan Umum

Penutupan jalan keluar/masuk pada jalan umum harus dilakukan sesuai dengan detil-
detil dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

13) Penutupan Jalan Keluar/Masuk pada Jalan dalam Kota

Penutupan jalan keluar/masuk pada jalan dalam kota harus dilakukan sesuai dengan
detil-detil dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan.

14) Rambu Lalu Lintas dan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas Tambahan

Atas permintaan Direksi Pekerjaan, Penyedia Jasa harus menyediakan tambahan


rambu-rambu lalu lintas sementara atau alat pemberi isyarat lalu lintas. Peralatan
tersebut harus sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan.
Penyedia Jasa harus menyediakan peralatan tersebut dalam waktu 48 jam dan
memasang serta memelihara peralatan tersebut selama Periode Pelaksanaan.

1.8.3 URAIAN PERLENGKAPAN MINIMAL JALAN SEMENTARA

1) Rambu-rambu Konstruksi dan Pengalihan

Istilah “Rambu-rambu Daerah Konstruksi” harus mencakup semua rambu-rambu


sementara yang diperlukan untuk arah lalu lintas umum yang melalui dan sekitar
pekerjaan selama pelaksanaan pekerjaan. Rambu-rambu ini ditunjukkan dan dirujuk
dalam Gambar.

Rambu-rambu daerah konstruksi harus dipasang pada lokasi yang ditunjukkan dalam
denah sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

Rambu-rambu daerah konstruksi dirancang sebagai rambu tetap yang dipasang pada
denah dan rambu-rambu daerah konstruksi dirancang sebagai rambu portabel pada
denah harus memenuhi semua ketentuan dalam Seksi 8.4 “Perlengkapan Jalan dan
Pengatur Lalu Lintas”.

Rambu-rambu daerah konstruksi yang tidak dirancang sebagai rambu tetap atau
portabel pada denah akan menjadi pilihan Penyedia Jasa, apakah tetap atau portabel.

Semua rambu daerah konstruksi harus memenuhi ketentuan-ketentuan dimensi, warna


dan tanda dalam denah dan spesifikasi ini.

Rambu-rambu daerah konstruksi harus terlihat dengan jarak 150 meter dan terbaca
dengan jarak 90 meter pada cuaca cerah siang hari dan pada malam hari dengan kuat
penerangan lampu dengan berkas cahaya rendah, oleh orang-orang dengan visi atau
dikoreksi sampai 20/20.

Penyedia Jasa mungkin diperlukan untuk menutupi rambu-rambu tertentu selama


kemajuan pekerjaan. Tutup untuk rambu-rambu daerah konstruksi haruslah dengan
ukuran dan ketebalan yang cukup untuk menutup seluruh informasi sedemikian
hingga informasi tersebut tersebut tidak terlihat baik selama siang maupun malam
hari. Tutup harus diikat dengan kencang untuk mencegah pergerakan yang disebabkan
oleh angin.

1 - 18
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Penyedia Jasa harus membersihkan semua panel dari rambu daerah konstruksi pada
saat pemasangan dan sesering mungkin setelah itu sebagaimana jika Direksi Pekerjaan
menetapkan perlu, tetapi paling sedikit setiap 4 bulan sekali.

Rambu yang digunakan dengan lembar bahan yang disebutkan akan dipandang
memenuhi syarat jika rambu tersebut memenuhi ketentuan-ketentuan untuk
keterlihatan dan keterbacaan dan warnanya memenuhi ketentuan-ketentuan yang
diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Perbedaan menyolok warna reflektif antara
siang dan malam akan menjadi dasar untuk menolak rambu-rambu tersebut.

Untuk menyediakan rambu-rambu tersebut dengan memadai atas perubahan kondisi


lalu lintas dan kerusakan yang disebabkan oleh lalu lintas umum atau sebaliknya,
Penyedia Jasa harus siap menyediakan panel dengan waktu pemberitahuan yang
singkat, tiang dan perangkat keras tiang tetap atau tiang rambu portabel dari tambahan
rambu-rambu daerah konstruksi. Penyedia Jasa harus memelihara inventaris barang-
barang yang umum diperlukan di tempat kerja dan menyediakan barang-barang
tersebut dalam waktu pemberitahuan yang singkat.

a) Rambu-rambu Tetap
Rambu-rambu tetap harus dengan tiang kayu dengan cara yang sama
sebagaimana ditunjukkan dalam denah atau sebagaimana diperintahkan oleh
Direksi Pekerjaan untuk pemasangan rambu-rambu pada tepi jalan, kecuali
berikut ini :
(i). Pengaku dan rangka pada bagian belakang panel dari rambu tidak
diperlukan.
(ii). Tinggi dari dasar dari panel diatas tepi jalur lalu lintas paling sedikit 1,5
meter kecuali jika rambu ditempatkan pada jalur pejalan kaki dan sepeda
maka tinggi dari dasar panel rambu diatas tepi jalur lalu lintas paling
sedikit harus 2,1 meter.
(iii). Tiang rambu-rambu daerah konstruksi dapat dipasang tepat diatas
penunjang sementara rambu-rambu yang berbentuk datar sebagaimana
disetujui oleh Direksi Pekerjaan, atau rambu-rambu yang dapat dipasang
pada tiang listrik yang ada atau penunjang lainnya sebagaimana yang
disetujui Direksi Pekerjaan. Bilamana rambu-rambu daerah konstruksi
dipasang pada tiang listrik yang ada, maka tidak boleh dibuat lubang pada
tiang yang menunjang rambu tersebut.
(iv). Tiang yang tertanam harus 0,8 meter dan lubang tiang harus ditimbun
kembali di sekeliling tiang dengan beton semen yang dibuat dari campuran
agregat dan semen dengan mutu komersial yang mengandung semen tidak
kurang dari 168 kilogram per kubik.

Ukuran tiang dan jumlah tiang haruslah sebagaimana yang ditunjukkan dalam
Gambar, kecuali jika rambu-rambu tetap dipasang dan jenis rambu yang dipasang
tidak ditunjukkan dalam Gambar, ukuran tiang dan jumlah tiang harus ditentukan
oleh Direksi Pekerjaan. Tiang haruslah dari kayu yang baik mutunya dan tidak
cacat, sesuai untuk tujuan yang dimaksud.
Panel-panel rambu untuk rambu tetap haruslah terdiri dari lembaran plywood.
Tanda dan tepi dapat dilakukan dengan proses sablon. Ukuran dan jarak huruf-
huruf dan lambang-lambang haruslah sebagaimana yang dilukiskan dalam lembar
spesifikasi rambu-rambu yang diterbitkan oleh Pengguna Jasa.

1 - 19
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

b) Rambu Portabel
Masing-masing rambu portabel haruslah terdiri dari dasar, penunjang atau
kerangka dan panel rambu. Unit-unit ini harus dapat dikirim ke lapangan untuk
digunakan dan ditempatkan untuk pengoperasian yang segera.
Panel-panel rambu untuk rambu portabel haruslah terdiri dari lembaran plywood.
Penunjang atau kerangka rambu harus mampu menunjang panel dengan dimensi
maksimum 120 cm, dalam posisi tegak lurus dengan pusat dari panel rambu dan
jarak minimum panel diatas perkerasan adalah 1,2 meter.
Jika rambu portable berpindah tempat atau terguling, oleh sebab apapun, selama
kemajuan pekerjaan, Penyedia Jasa harus segera mengganti rambu-rambu itu
pada lokasi awal dari rambu-rambu tersebut.
c) Rambu Elektronik
Rambu elektronik yang digunakan atau dipasang harus sesuai dengan peraturan
dan ketentuan yang dikeluarkan oleh kementerian teknis terkait.
Semua rambu yang digunakan pada pekerjaan konstruksi dan pada jalan sementara
mengacu kepada Peraturan Menteri Perhubungan No.13 Tahun 2014 dengan
spesifikasi teknis yang diterbitkan oleh kementerian teknis terkait.

2) Penghalang Lalu Lintas

Penghalang lalu lintas harus terbuat dari “jenis plastik” yang baru sebagaimana yang
ditunjukkan dalam denah. Penghalang dengan beton pracetak hanya diperbolehkan
dengan ijin khusus dari Direksi Pekerjaan.

Penghalang lalu lintas harus digunakan untuk memandu lalu lintas untuk tidak
melintasi perkerasan yang baru dihampar dan dipasang pada lokasi yang ditunjukkan
dalam denah atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

Penghalang lalu lintas yang dirancang sebagai “jenis plastik” dalam Gambar harus
memenuhi ketentuan-ketentuan dalam Seksi 8.4 “Perlengkapan Jalan dan Pengatur
Lalu Lintas”.

Penghalang lalu lintas harus memenuhi ketentuan dimensi dan warna yang terdapat
dalam Gambar dan Spesifikasi ini.

a) Penghalang Lalu Lintas, Jenis Plastik


Penghalang lalu lintas, jenis plastik harus digunakan untuk pengalih lalu lintas
dari perkerasan aspal beton yang baru.
Penghalang lalu lintas, jenis plastik harus cukup berat agar dapat tetap stabil
jika terdapat angin atau pusaran angin akibat lewatnya lalu lintas. Penghalan ini
harus dipasang rapat dan saling mengunci satu dengan yang lain sesuai manual
dari pabrik.
Pemberat yang digunakan untuk penghalang lalu lintas, jenis plastik haruslah air
dan terisi sesuai dengan ketentuan pabrik.

3) Marka Jalan Sementara

Bahan untuk marka jalan sementara dapat berupa pita rekat (road marking tape) yang
berwarna putih / kuning atau paku jalan dengan mata kucing. Sebelum melakukan
pemasangan penyedia jasa harus menunjukkan contoh bahan marka sementara untuk
mendapat persetujuan dari direksi pekerjaan.

1 - 20
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Pemasangan Marka sementara berupa pita rekat tidak diperkenankan pada kondisi
perkerasan basah.

Penggunaan paku jalan dengan mata kucing diperbolehkan sebagai alternatif untuk
pengarah smentara pada pekerjaan jalan, ukuran paku jalan yang disarankan adalah
100 x 50 mm dan terbuat dari polysterin hijau/kuning yang berpendar dengan
dilengkapi pinil reflektor berperekat dengan interval pemasangan disesuaikan dengan
pemasangan paku permanen.

Penyedia jasa harus mengganti marka sementara baik berupa pita rekat ataupun paku
jalan yang terkelupas atau lepas.

Marka jalan sementara harus dilaksanakan pada setiap pelapisan perkerasan sebelum
jalan dibuka untuk lalu lintas umum. Pada pelapisan ulang perkerasan aspal beton,
marka sementara harus dilaksanakan sesegera mungkin setelah suatu lapisan telah
dihampar. Marka sementara pada permukaan akhir harus dibuang sebelum marka
permanen dilaksanakan.

Semua garis menerus dan marka jalan konstruksi yang berpotongan harus dibuang
sampai benar-benar bersih dengan pengaus pasir atau cara lain yang disetujui dan
tidak merusak permukaan atau tekstur perkerasan. Pola pembuangan harus dalam
bentuk yang tidak sama sehingga tidak menyisakan bekas marka yang dibuang dengan
menggunakan pengausan secara diagonal dan termasuk beberapa daerah permukaan
sekitarnya. Kerusakan yang terjadi pada permukaan harus diperbaiki dengan biaya
Penyedia Jasa dengan metoda yang dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan.
Penumpukan pasir atau bahan lainnya yang mengakibatakan bahaya terhadap lalu
lintas harus dibuang. Pada saat selesai, permukaan aspal yang diauskan dengan pasir
harus dilapisi tipis dengan ter emulsi atau bahan sejenis yang disetujui.

4) Lain-lain

Penyedia Jasa harus menyediakan pengatur lalu lintas dan pelayanan berikut untuk
pengendalian dan pemeliharaan lalu lintas yang melalui daerah konstruksi dengan
sub-komponen yang berbeda sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar.

1.8.4 PEKERJAAN JALAN ATAU JEMBATAN SEMENTARA

1) Umum

Penyedia Jasa harus menyediakan memelihara, dan membongkar semua jalan, jembatan,
jalan masuk dan sejenisnya yang diperlukan oleh Penyedia Jasa untuk menghubungkan
Penyedia Jasa dengan jalan umum pada saat Penyelesaian Pekerjaan.

Jalan dan/atau jembatan (jika ada) sementara ini harus dibangun sampai diterima Direksi
Pekerjaan, meskipun demikian Penyedia Jasa tetap harus bertanggungjawab terhadap
setiap kerusakan yang terjadi atau disebabkan oleh jalan dan/atau jembatan (jika ada)
sementara ini.

2) Lahan yang Diperlukan

Sebelum membuat jalan atau jembatan sementara, Penyedia Jasa harus melakukan
semua pengaturan yang diperlukan, bila diperlukan termasuk pembayaran kepada
pemilik tanah yang bersangkutan atas pemakaian tanah itu dan harus memperoleh
persetujuan dari pejabat yang berwenang dan Direksi Pekerjaan. Setelah pekerjaan
selesai, Penyedia Jasa harus membersihkan dan mengembalikan kondisi tanah itu ke

1 - 21
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

kondisi semula sampai diterima oleh Direksi Pekerjaan dan pemilik tanah yang
bersangkutan.

3) Peralatan Penyedia Jasa Lain yang Lewat


Penyedia Jasa harus melakukan semua pengaturan agar Pekerjaan yang sudah dilak-
sanakan dapat dilewati dengan aman oleh Peralatan Konstruksi, bahan dan karyawan
Penyedia Jasa lain yang melaksanakan pekerjaan di dekat lokasi kegiatan. Untuk
keperluan ini, Penyedia Jasa dan Penyedia Jasa lain yang melaksanakan pekerjaan di
dekat lokasi kegiatan, harus menyerahkan suatu jadwal transportasi yang demikian
kepada Direksi Pekerjaan untuk mendapat persetujuannya, paling sedikit 15
(limabelas) hari sebelumnya.

4) Jalan Alih Sementara atau Detour


Jalan alih sementara atau detour harus dibangun sebagaimana yang diperlukan untuk
kondisi lalu lintas yang ada, dengan memperhatikan ketentuan keselamatan dan
kekuatan struktur. Semua jalan alih yang demikian tidak boleh dibuka untuk lalu lintas
umum sampai alinyemen, pelaksanaan, drainase dan pemasangan rambu lalu lintas
sementara telah disetujui Direksi Pekerjaan. Selama digunakan untuk lalu lintas umum
Penyedia Jasa harus memelihara pekerjaan yang telah dilaksanakan, drainase dan
rambu lalu lintas sampai diterima oleh Direksi Pekerjaan.

5) Jalan Samping (Ramp) Sementara untuk Lalu Lintas


Penyedia Jasa harus membangun dan memelihara jembatan dan jalan samping
sementara untuk jalan masuk umum dari dan ke jalan raya pada semua tempat
bilamana jalan masuk tersebut sudah ada sebelum Pekerjaan dimulai dan pada tempat
lainnya yang diperlukan atau diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

1.8.5. PEMELIHARAAN UNTUK KESELAMATAN LALU LINTAS

1) Jalan Alih Sementara dan Pengendalian Lalu Lintas


Semua jalan alih sementara dan pemasangan pengendali lalu lintas yang disiapkan
oleh Penyedia Jasa selama pelaksanaan Pekerjaan harus dipelihara agar tetap aman
dan dalam kondisi pelayanan yang memenuhi ketentuan dan dapat diterima Direksi
Pekerjaaan sehingga menjamin keselamatan lalu lintas dan bagi pemakai jalan umum.

2) Pembersihan Penghalang
Selama pelaksanaan pelaksanaan, Penyedia Jasa harus menjamin bahwa perkerasan,
bahu jalan lokasi yang berdekatan dengan Ruang Milik Jalan harus dijaga agar bebas
dari bahan pelaksanaan, kotoran dan bahan yang tidak terpakai lainnya yang dapat
mengganggu atau membahayakan lalu lintas yang lewat. Pekerjaan juga harus dijaga
agar bebas dari setiap parkir liar atau kegiatan perdagangan kaki lima kecuali untuk
daerah-daerah yang digunakan untuk maksud tersebut.

1.8.6. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Pengukuran

Pengukuran Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas dilakukan berdasarkan


gabungan mobilisasi, demobilisasi dan pembayaran bulanan. Untuk pengukuran dari
pembayaran bulanan maka disyaratkan bahwa semua ketentuan harus dipenuhi.
Bilamana Penyedia Jasa tidak memenuhi semua dari ketentuan-ketentuan dari Pasal

1 - 22
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

ini maka jenis pekerjaan yang tersebut tidak akan dibayar bulan yang bersangkutan
untuk Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas.

Pengukuran Jembatan Sementara dilakukan berdasarkan gabungan mobilisasi dan


demobilisasi.

2) Dasar Pembayaran

Pekerjaan Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas dan Pekerjaan Jembatan


Sementara harus dibayar atas dasar lump sum termasuk pemenuhan kuantifikasi pada
Lampiran 1.8.B menurut jadwal pembayaran yang terdapat di bawah ini. Jumlah ini
harus dipandang sebagai kompensasi penuh untuk penyediaan, semua bahan, semua
peralatan, pekerja, perkakas, dan biaya lainnya yang perlu untuk pemasangan dan
pemeliharaan semua pemasangan sementara, untuk pengendalian lalu lintas selama
Periode Kontrak dan untuk pembersihan halangan apapun yang perlu untuk
menyelesaikan pekerjaan yang diuraikan dalam pasal 1.8.1.1) dan pasal 1.8.2 dari
Spesifikasi ini. Akan tetapi, selama Periode Pelaksanaan Direksi Pekerjaan dapat
memerintahkan Penyedia Jasa untuk menyediakan tambahan peralatan sebagaimana
yang dianggap perlu tanpa perubahan harga lump sum untuk Manajemen dan
Keselamatan Lalu Lintas.

Tahapan pembayaran biaya Lump Sum untuk Pekerjaan Manajemen dan Keselamatan
Lalu Lintas sebagai berikut:

 25 % (dua puluh lima persen) bilamana semua jenis peralatan utama untuk
Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas telah berada di lapangan, diterima dan
disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

 75 % (tujuh puluh lima persen) harus dibayar secara angsuran atas dasar bulanan,
secara proporsional berdasarkan kemajuan penerapan Rencana Manajemen
dan Keselamatan Lalu Lintas yang dapat disetujui Direksi Pekerjaan.

Tahapan pembayaran biaya Lump Sum untuk Jembatan Sementara adalah sebagai
berikut :

 75 % (dua puluh lima persen) bilamana semua Jembatan Sementara telah


terpasang di lapangan, diterima dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

 25 % (tujuh puluh lima persen) bilamana Jembatan Sementara telah dibongkar


dan lokasinya telah dibersihkan dan dikembalikan kedalam kondisi asal.

Jika Penyedia Jasa gagal untuk melaksanakan pengoperasian Manajemen dan


Keselamatan Lalu Lintas sebagaimana yang disebutkan dalam Seksi dari Spesifikasi
ini, Penyedia Jasa harus dibebani seluruh biaya aktual untuk semua pengoperasian
manajemen dan keselamatan lalu lintas yang dilaksanakan oleh Direksi Pekerjaan atau
pihak-pihak lain sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran

1.8.(1) Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas Lump Sum

1 - 23
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

SEKSI 1.19

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

1.19.1 UMUM

1) Uraian Pekerjaan

a) Seksi ini mencakup ketentuan-ketentuan penanganan keselamatan dan


kesehatan kerja (K3) konstruksi kepada setiap orang yang berada di tempat
kerja yang berhubungan dengan pemindahan bahan baku, penggunaan
peralatan kerja konstruksi, proses produksi dan lingkungan sekitar tempat
kerja.

b) Penanganan K3 mencakup penyediaan sarana pencegah kecelakaan kerja dan


perlindungan kesehatan kerja konstruksi maupun penyediaan personil yang
kompeten dan organisasi pengendalian K3 Konstruksi sesuai dengan tingkat
risiko yang ditetapkan oleh Pengguna Jasa.

c) Penyedia Jasa harus mengikuti ketentuan-ketentuan pengelolaan K3 yang


tertuang dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 09/PRT/M/2009 tentang
Pedoman Sistem Manjemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)
Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dan Pedoman Pelaksanaan K3 untuk
Konstruksi Jalan dan Jembatan No. 004/BM/2006 serta peraturan terkait lainnya.

2) Pekerjaan Seksi Lain yang Berkaitan dengan Seksi Ini

a) Syarat-syarat Kontrak : Pasal-pasal yang berkaitan


b) Mobilisasi : Seksi 1.2
c) Kantor Lapangan dan Fasilitasnya : Seksi 1.3
d) Penutupan Kontrak : Seksi 1.14
e) Pasal-pasal yang berkaitan dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk setiap
Seksi dalam Spesifikasi ini.

1.19.2 SISTEM MANAJEMEN K3 KONSTRUKSI

a) Penyedia Jasa harus membuat, menerapkan, dan memelihara prosedur untuk


identifikasi bahaya, penilaian risiko dan pengendaliannya secara
berkesinambungan sesuai dengan Rencana K3 Konstruksi (RK3K) yang telah
disetujui oleh Direksi Pekerjaan sebagaimana dijelaskan dalam Seksi 1.2
Mobilisasi.
b) Penyedia Jasa wajib melengkapi RK3K dengan rencana penerapan K3 Konstruksi
untuk seluruh tahapan pekerjaan.
c) Penyedia Jasa wajib mempresentasikan RK3K pada rapat persiapan pelaksanaan
pekerjaan konstruksi untuk disahkan dan ditanda tangani oleh pengguna jasa
sesuai ketentuan Permen PU No. 05/PRT/M/2014 tentang Pedoman SMK3
Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum.
d) Penyedia Jasa harus melibatkan Ahli K3 Konstruksi pada paket pekerjaan dengan
risiko K3 tinggi atau sekurang-kurangnya Petugas K3 Konstruksi pada paket
pekerjaan dengan risiko K3 sedang dan kecil. Ahli K3 Konstruksi atau Petugas
K3 bertugas untuk merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi Sistem
Manajemen K3 Konstruksi. Tingkat risiko K3 ditetapkan oleh Pengguna Jasa.

1 - 24
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

e) Penyedia Jasa harus membentuk Panitia Pembina K3 (P2K3) bila:

i) Mengelola pekerjaan yang mempekerjakan pekerja dengan jumlah paling


sedikit 100 orang atau nilai kontrak di atas Rp 100.000.000.000,- (seratus
milyar rupiah) atau sesuai dg ketentuan yg berlaku.
ii) Mengelola pekerjaan yang mempekerjakan pekerja kurang dari 100
orang, akan tetapi menggunakan bahan, proses dan instalasi yang
mempunyai risiko yang besar akan terjadinya peledakan, kebakaran,
keracunan dan penyinaran radioaktif.

P2K3 (Panitia Pembina K3) adalah badan pembantu di perusahaan dan tempat
kerja yang merupakan wadah kerjasama antara pengusaha dan pekerja untuk
mengembangkan kerja sama saling pengertian dan partisipasi efektif dalam
penerapan keselamatan dan kesehatan kerja. Unsur P2K3 terdiri dari Ketua,
Sekretaris dan Anggota. Ketua P2K3 adalah pimpinan puncak organisasi
Penyedia Jasa dan Sekretaris P2K3 adalah Ahli K3 Konstruksi.

f) Penyedia Jasa harus membuat Laporan Rutin Kegiatan P2K3 ke Dinas Tenaga
Kerja setempat dan tembusannya disampaikan kepada Direksi Pekerjaan.

g) Penyedia Jasa harus melaksanakan Audit Internal K3 Konstruksi Bidang


Pekerjaan Umum.

h) Penyedia Jasa harus melakukan tinjauan ulang terhadap RK3K (pada bagian yang
memang perlu dilakukan kaji ulang) setiap bulan secara berkesinambungan
selama pelaksanaan pekerjaan konstruksi berlangsung.

i) Direksi Pekerjaan dapat sewaktu-waktu melaksanakan inspeksi K3 Konstruksi.

1.19.3 K3 KANTOR LAPANGAN DAN FASILITASNYA

1) Fasilitas Pencucian

Penyedia Jasa harus menyediakan fasilitas pencucian yang memadai dan sesuai dengan
pekerjaan yang dilakukan untuk seluruh pekerja konstruksi. Fasilitas pencucian termasuk
penyediaan air panas dan zat pembersih untuk kondisi berikut ini:
- Jika pekerja berisiko terpapar kontaminasi kulit yang diakibatkan oleh zat
beracun, zat yang menyebabkan infeksi dan iritasi atau zat sensitif lainnya;
- Jika pekerja menangani bahan yang sulit dicuci dari kulit jika menggunakan air
dingin;
- Jika pekerja harus membersihkan seluruh badannya;
- Jika pekerja terpapar pada kondisi panas atau dingin yang berlebih, atau bekerja
pada kondisi basah yang tidak biasa sehingga menyebabkan para pekerja harus
membersihkan seluruh badannya, maka Penyedia Jasa harus menyediakan
pancuran air (shower) dengan jumlah yang memadai;
- Untuk kondisi normal, Penyedia Jasa harus menyediakan pancuran air untuk
mandi dengan jumlah sekurang-kurangnya satu untuk setiap 15 orang.

2) Fasilitas Sanitasi

a) Penyedia Jasa harus menyediakan toilet yang memadai baik toilet khusus pria
maupun toilet khusus wanita yang diperkerjakan di dalam atau di sekitar tempat
kerja serta tempat sampah dengan kapasitas yang memadai.

1 - 25
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

b) Jika Penyedia Jasa mempekerjakan lebih dari 15 orang tenaga kerja, maka
persyaratan minimumnya adalah:

i) Satu peturasan untuk jumlah pekerja 15 orang, apabila jumlah pekerja


lebih dari 15 orang sampai dengan tambahan 30 orang maka harus
ditambah satu peturasan;

ii) Satu kloset untuk jumlah pekerja kurang dari 15 orang, apabila jumlah
pekerja lebih dari 15 orang sampai dengan tambahan 30 orang maka
harus ditambah satu kloset.

c) Jika Penyedia Jasa mempekerjakan wanita, toilet harus disertai fasilitas


pembuangan pembalut wanita.

d) Toilet pria dan wanita harus dipisahkan dengan dinding tertutup penuh. Toilet
harus mudah diakses, mempunyai penerangan dan ventilasi yang cukup, dan
terlindung dari cuaca. Jika toilet berada di luar, harus disediakan jalur jalan kaki
yang baik dengan penerangan yang memadai di sepanjang jalur tersebut. Toilet
harus dibuat dan ditempatkan sedemikian rupa sehinga dapat menjaga privasi
orang yang menggunakannya dan terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan.

e) Penyedia Jasa dapat menyediakan satu toilet jika: setiap jumlah pria dan setiap
jumlah wanita kurang dari 10 orang; toilet benar-benar tertutup; mempunyai kunci
dalam; tersedia fasilitas pembuangan pembalut wanita; tidak terdapat urinal di
dalam toilet tersebut.
f) Dalam segala hal toilet harus menyediakan se-kurang2nya air bersih dengan debit
yang cukup dan lancar, plumbing system yang memisahkan air bersih dan air
kotor serta pembuangannya melalui saluran drainase dengan sanitasi baik.

3) Air Minum

Penyedia Jasa harus menyediakan pasokan air minum yang memadai bagi seluruh pekerja
dengan persyaratan:
- Mudah diakses oleh seluruh pekerja dan diberi label yang jelas sebagai air
minum;
- Kontainer untuk air minum harus memenuhi standar kesehatan yang berlaku;
- Jika disimpan dalam kontainer, kontainer harus: bersih dan terlindungi dari
kontaminasi dan panas; harus dikosongkan dan diisi air minum setiap hari dari
sumber yang memenuhi standar kesehatan.

4) Fasilitas Pertolongan Pertama pada Kecelakaan(P3K)


a). Peralatan P3K harus tersedia dalam seluruh kendaraan konstruksi dan di tempat
kerja. Standar isi kotak P3K tercantum dalam Lampiran II Peraturan Menteri
Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No. PER. 15 / MEN / VIII /
2006 tentang Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan di Tempat Kerja.
b). Di tempat kerja harus selalu terdapat pekerja yang sudah terlatih dan/atau
bertanggung jawab dalam Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.

5) Akomodasi untuk Makan dan Baju

a) Akomodasi yang memadai bagi pekerja harus disediakan oleh Penyedia Jasa
sebagai tempat untuk makan, istirahat, dan perlindungan dari cuaca.

1 - 26
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

b) Akomodasi tersebut harus mempunyai lantai yang bersih, dilengkapi meja dan
kursi, serta furnitur lainnya untuk menjamin tersedianya tempat istirahat makan
dan perlindungan dari cuaca.

c) Tempat sampah harus disediakan, dikosongkan dan dibersihkan secara periodik.

d) Tempat ganti baju untuk pekerja dan tempat penyimpanan pakaian yang tidak
digunakan selama bekerja harus disediakan. Setiap pekerja harus disediakan
lemari penyimpan pakaian (locker).

6) Penerangan

a) Penerangan harus disediakan di seluruh tempat kerja, termasuk di ruangan, jalan,


jalan penghubung, tangga dan gang. Semua penerangan harus dapat dinyalakan
ketika setiap orang melewati atau menggunakannya.

b) Penerangan tambahan harus disediakan untuk pekerjaan detil, proses berbahaya,


atau jika menggunakan mesin.

c) Penerangan darurat yang memadai juga harus disediakan.

7) Pemeliharaan Fasilitas

Penyedia Jasa harus menjamin terlaksananya pemeliharaan fasilitas-fasilitas yang


disediakan dalam kondisi bersih dan higienis, serta dapat diakses secara nyaman oleh
pekerja.

8) Ventilasi

a) Seluruh tempat kerja harus mempunyai aliran udara yang bersih.

b) Pada kondisi tempat kerja yang sangat berdebu misalnya tempat pemotongan
beton, penggunaan bahan kimia berbahaya seperti perekat, dan pada kondisi
lainnya, Penyedia Jasa harus menyediakan alat pelindung nafas seperti
respirator dan pelindung mata.

1.19.4 KETENTUAN BEKERJA PADA TEMPAT TINGGI

1) Bekerja di tempat kerja yang tinggi harus dilakukan oleh pekerja yang mempunyai
pengetahuan, pengalaman dan mempunyai sumberdaya yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan pekerjaan dengan selamat.

2) Keselamatan kerja untuk bekerja pada tempat tinggi dapat menggunakan satu atau
beberapa pelindung sebagai berikut: terali pengaman lokasi kerja, jaring pengaman,
sistem penangkap jatuh.

3) Pengamanan di sekeliling pelataran kerja atau tempat kerja

a) Terali pengaman lokasi kerja harus dibuat sepanjang tepi lantai kerja atau
tempat kerja yang terbuka sesuai dengan pasal 4 sub seksi ini.

b) Jika pelataran kerja atau tempat kerja berada di atas jalan umum dan jika ada
bahaya material atau barang lain jatuh pada pengguna jalan, maka daerah di

1 - 27
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

bawah pelataran kerja atau tempat kerja harus dibebaskan dari akses orang atau
dapat digunakan jaring pengaman.

4) Terali pengaman lokasi kerja

Jika terali pengaman lokasi kerja digunakan di sekeliling bangunan, atau bukaan di
atap, lantai, atau lubang lift, maka terali pengaman harus memenuhi syarat:
- 900 – 1100 mm dari pelataran kerja;
- Mempunyai batang tengah (mid-rail);
- Mempunyai papan bawah (toeboard) jika terdapat risiko jatuhnya alat kerja
atau material dari atap/tempat kerja.

5) Jaring pengaman

a) Pekerja yang memasang jaring pengaman harus dilindungi dari bahaya jatuh.
Sebaiknya digunakan kendaraan khusus (mobile work platform) saat memasang
jaring pengaman. Akan tetapi jika peralatan mekanik tersebut tidak tersedia
maka pekerja yang memasang jaring harus dilindungi dengan tali pengaman
(safety harness) atau menggunakan perancah (scaffolding).

b) Jaring pengaman harus dipasang sedekat mungkin pada sisi dalam area kerja.

c) Jaring pengaman harus dipasang dengan jarak bersih yang cukup dari
permukaan lantai/tanah sehingga jika seorang pekerja jatuh pada jaring tidak
akan terjadi kontak dengan permukaan lantai/tanah.

6) Sistem pengaman jatuh individu (individual fall arrest system)

a) Sistem pengaman jatuh individu (individual fall arrest system) termasuk sistem
rel inersia (inertia reel system), safety harness dan tali statik. Pekerja yang
diharuskan menggunakan alat ini harus dilatih terlebih dahulu.

b) Jenis sabuk pinggang tidak boleh digunakan untuk pekerjaan atap.

c) Pekerja yang menggunakan safety harness tidak diperbolehkan bekerja sendiri.


Pekerja yang jatuh dan tergantung pada safety harness harus diselamatkan
selama-lamanya 20 menit sejak terjatuh.

d) Perhatian harus diberikan pada titik angker untuk tali statik, jalur rel inersia,
dan/atau jaring pengaman.

7) Tangga

Jika tangga akan digunakan, maka Penyedia Jasa harus:


- Memilih jenis tangga yang sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan;
- Menyediakan pelatihan penggunaan tangga;
- Mengikat bagian atas dan bawah tangga untuk mencegah kecelakaan akibat
bergesernya tangga;
- Tempatkan tangga sedekat mungkin dengan pekerjaan;
- Jika tangga digunakan untuk naik ke lantai kerja di atas, pastikan bahwa tangga
berada sekurang-kurangnya 1m di atas lantai kerja;

1 - 28
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

8) Perancah (scaffolding)

a) Perancah dengan tinggi lebih dari 5 m dari permukaan hanya dapat dibangun
oleh orang yang mempunyai kompetensi sebagai scaffolder.

b) Seluruh perancah harus diinspeksi oleh orang yang berkompeten pada saat:
sebelum digunakan, sekurang-kurangnya seminggu sekali saat digunakan,
setelah cuaca buruk atau gangguan lain yang dapat mempengaruhi
stabilitasnya, jika perancah tidak pernah digunakan dalam jangka waktu lama.
Hasil inspeksi harus dicatat, termasuk kerusakan yang diperbaiki saat inspeksi.
Catatan tersebut harus ditandatangani oleh orang yang melakukan inspeksi.

c) Orang yang melakukan inspeksi harus memastikan bahwa:


- Tersedia akses yang cukup pada lantai kerja perancah.
- Semua komponen tiang diletakkan di atas pondasi yang kuat dan
dilengkapi dengan plat dasar. Jika perlu, gunakan alas kayu atau cara
lainnya untuk mencegah tiang bergeser dan/atau tenggelam.
- Perancah telah terhubung dengan bangunan/struktur dengan kuat
sehingga dapat mencegah runtuhnya perancah dan menjaga agar
ikatannya cukup kuat.
- Jika beberapa pengikat telah dipindahkan sejak perancah didirikan,
maka ikatan tambahan atau cara lainnya untuk mengganti harus
dilakukan.
- Perancah telah diperkaku (bracing) dengan cukup untuk menjamin
stabilitas.
- Tiang, batang, pengaku (bracing), atau strut belum diindahkan.
- Papan lantai kerja telah dipasang dengan benar, papan harus bersih dari
cacat dan telah tersusun dengan baik.
- Seluruh papan harus diikat dengan benar agar tidak terjadi pergeseran.
- Tersedia pagar pengaman dan toeboard di setiap sisi dimana suatu
orang dapat jatuh.
- Jika perancah didesain dan dibangun untuk menahan beban material,
pastikan bahwa bebannya disebarkan secara merata.
- Tersedia penghalang atau peringatan untuk mencegah orang
menggunakan perancah yang tidak lengkap.

1.19.5 ELEKTRIKAL

1) Pasokan listrik

Alat elektrik portabel yang dapat digunakan di situasi lembab hanyalah alat yang
memenuhi syarat:
- Mempunyai pasokan yang terisolasi dari earth dengan voltase antar konduktor
tidak lebih dari 230 volt.
- Mempunyai sirkuit earth yang termonitor dimana pasokan listrik pada alat
akan secara otomatis terputus jika terjadi kerusakan pada earth.
- Alat mempunyai insulasi ganda.
- Mempunyai sumber listrik yang dihubungkan dengan earth sedemikian rupa
sehingga voltase ke earth tidak akan melebihi 55 volt AC; atau
- Mempunai alat pengukur arus sisa (residual).

1 - 29
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

2) Supply Switchboard sementara

Seluruh supply switchboard yang digunakan di lokasi pekerjaan harus menjadi


perhatian utama dan harus:
- Jika ditempatkan di luar ruangan, harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak
akan terganggu oleh cuaca.
- Dilengkapi dengan pintu dan kunci. Pintu harus dirancang dan dan ditempel
sedemikian rupa sehingga tidak akan merusak kabel lentur yang tersambung
dengan panel dan harus dapat melindungi switch dari kerusakan mekanis. Pintu
harus diberi tanda: HARAP SELALU DITUTUP.
- Mempunyai slot yang terinsulasi di bagian bawah.
- Ditempelkan pada dinding permanen atau struktur yang didesain khsus untuk
ini.
- Jika ditempel, pastikan menempel dengan baut.

3) Inspeksi peralatan

Seluruh alat dan perlengkapan kelistrikan harus diinspeksi sebelum digunakan untuk
pertama kali dan setelahnya sekurang-kurangnya tiap tiga bulan. Seluruh alat dan
perlengkapan kelistrikan harus mempunyai tanda identifikasi yang menginformasikan
tanggal terakhir inspeksi dan tanggal inspeksi selanjutnya.

4) Jarak bersih dari saluran listrik

Alat crane, excavator, rig pengebor, atau plant mekanik lainnya, struktur atau perancah
tidak boleh berada kurang dari 4 m di bawah saluran listrik udara tanpa ijin tertulis dari
pemilik saluran listrik.

1.19.6 MATERIAL DAN KIMIA BERBAHAYA

1) Alat Pelindung Diri

Penyedia Jasa bertanggung jawab untuk menyediakan alat pelindung diri bagi
pekerjanya dengan ketentuan:
- Seluruh pekerja dan personil lainnya yang terlibat harus dilatih cara
penggunaan alat pelindung diri dan harus memahami alasan penggunaannya.
- Jika dipandang tidak praktis untuk melindungi bagian atas dan jika ada risiko
terluka dari objek jatuh, maka Penyedia Jasa menyediakan helm pelindung dan
seluruh personil yang terlibat di lapangan harus menggunakannya.
- Perlindungan mata harus digunakan jika terdapat kemungkinan kerusakan mata
akibat pekerjaan las, atau dari serpihan material seperti potongan gergaji kayu,
atau potongan beton.
- Sepatu yang digunakan harus mampu melindungi kaki pekerja. Gunakan sepatu
dengan ujung besi di bagian jari kaki.
- Pelindung kebisingan harus digunakan jika tingkat kebisingan tinggi.
- Sarung tangan akan diperlukan pada beberapa pekerjaan.
- Perlindungan pernafasan harus disediakan untuk pekerja yang terekspos pada
bahaya seperti asbes, asap dan debu kimia.

2) Bahaya pada Kulit

- Setiap pekerja harus melapor jika mendapatkan masalah kulit, terutama di


tangan akibat penggunaan bahan berbahaya.

1 - 30
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

- Tangan dan mata pekerja harus dilindungi terhadap kontak dengan semen.
Usahakan kontak dengan semen seminimum mungkin. Penggunaan krim
pelindung dapat mengurangi risiko kerusakan kulit.
- Sedapat mungkin, pakaian pelindung harus digunakan selama pekerjaan.
Pakaian ini termasuk baju lengan panjang, sarung tangan dan sepatu pelindung.
- Penyedia Jasa harus menyediakan fasilitas untuk mencuci badan dan mengganti
pakaian seperti tertulis pada seksi 1.19.3.
- Alat pelindung pernapasan harus digunakan selama proses pemeraman beton
dimana debu mulai terbentuk.

3) Penggunaan Bahan Kimia

a) Penyedia Jasa harus mempunyai prosedur yang mengatur tata cara menangani
bahan kimia atau zat berbahaya dengan sehat, tata cara penyimpanan, tata cara
pembuangan limbah.

b) Seluruh bahan kimia harus disimpan di kontainer asalnya dalam suatu tempat
yang aman dan berventilasi baik.

c) Seluruh pekerja harus dilatih jika menangani bahan kimia atau zat berbahaya
termasuk tindakan darurat yang perlu dilakukan jika terjadi masalah.
d) Penyedia jasa yang menggunakan material mengandung B3 pada pekerjaan
jalan dan/atau jembatan wajib menyusun dokumen pengelolaan, termasuk di
dalamnya adalah pengangkutan, penyimpanan, pengumpulan, pemanfaatan,
dan/atau pengolahan material tersebut, dan diajukan kepada Kementerian
Lingkungan Hidup atau BLHD.
e) Daftar B3 yang dapat dipergunakan, dilarang, maupun terbatas penggunaannya
mengacu pada Lampiran I dan II Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001
tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.

4) Asbestos

a) Seluruh pekerja yang terlibat harus menggunakan pakaian overall sekali pakai
atau overall yang dapat dicuci ulang.

b) Perlengkapan pernafasan harus selalu digunakan.

c) Gunakan jaring dengan lembar yang tidak lulus udara. Lakukan uji udara
sebelum menggunakan daerah kerja.

6) Pemotongan dan pengelasan dengan gas bertekanan tinggi

a) Penyedia Jasa harus memperhatikan potensi bahaya sebagai berikut:


- Kebakaran akibat kebocoran bahan bakar (propana, asetilen), biasanya
dari kerusakan pada selang atau pada sambungan selang.
- Ledakan tabung akibat kebocoran oksigen dari selang atau alat pijar
pemotong.
- Menghisap asap berbahaya dari pengoperasian las.
- Kebakaran dari material yang mudah terbakar di sekeliling tempat las.

b) Penanganan tabung
- Tabung tidak boleh digelindingkan di permukaan tanah atau ditangani
dengan kasar. Jika memungkinkan, gunakan troli dengan mengikat
tabung dengan rantai.

1 - 31
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

- Tabung tidak boleh ditempatkan berdiri bebas sendiri untuk mencegah


jatuhnya tabung.
- Tabung harus diberi waktu beberapa saat ketika diposisikan berdiri
sebelum digunakan.

c) Penyimpanan
- Seluruh selang dan aksesoris pemotong harus dibuka ketika pekerjaan
selesai dan disimpan jauh dari tabung.
- Tabung harus disimpan dalam posisi jauh dari bahan mudah terbakar
dan sumber api.

d) Peralatan
- Hanya selang yang memenuhi standar yang dapat digunakan. Selang
harus diperiksa setiap hari untuk memeriksa tanda kerusakan.
- Selang yang digunakan harus sependek mungkin. Jika selang harus
disambung akibat adanya bagian yang rusak, gunakan hose coupler dan
hoseclamps.
- Jika terjadi kebocoran dan tidak bisa dihentikan, tabung harus
dipindahkan ke tempat aman dan dalam udara terbuka dan segera
kontak suppliernya.

e) Peralatan pemadam kebakaran dan alat pelindung


- Bahan mudah terbakar harus dipindahkan dari daerah kerja dan alat
pemadam yang memadai harus disediakan oleh Penyedia Jasa.
- Pekerja harus menggunakan pelindung mata dan pakaian pelindung
untuk melindungi dari api.

1.19.7 PENGGUNAAN ALAT-ALAT BERMESIN

1) Umum

Seluruh alat-alat bermesin harus dilengkapi dengan manual penggunaan dan


keselamatan yang salinannya dapat diakses secara mudah oleh operator atau pengawas
lapangan.

2) Alat Pemaku dan Stapler Otomatis dan Portabel

Jika Penyedia Jasa menggunakan pemaku dan stapler otomatis dan portabel, maka
ketentuan keselamatan di bawah ini harus dipenuhi:

a) Alat tidak boleh diarahkan pada orang, walaupun alat tersebut memiliki
pengaman.

b) Pemicu pada alat pemaku dan stapler tidak boleh ditekan kecuali ujung alat
diarahkan pada suatu permukaan benda yang aman.

c) Perhatian khusus harus diberikan jika memaku di daerah tepi suatu benda.

d) Jika sumber tenaga alat pemaku dan stapler otomatis menggunakan tenaga
pnematik, tidak diperkenankan menggunakan sumber gas yang berbahaya dan
mudah terbakar.

e) Alat yang rusak tidak boleh digunakan.

1 - 32
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

f) Pelindung pendengaran dan pelindung mata yang sesuai harus digunakan saat
menggunakan alat tersebut.

3) Alat portabel bermesin (Portable Power Tools)

a) Gergaji mesin, mesin pengaduk beton, alat pemotong beton dan alat bermesin
lainnya harus dilengkapi dengan alat pengaman sepanjang waktu.

b) Penyedia Jasa harus memenuhi ketentuan keselamatan berikut:


- Setiap operator harus telah dilatih untuk menggunakan alat-alat
tersebut di atas.
- Gunakan hanya alat dan metoda yang tepat untuk setiap jenis pekerjaan
yang dilakukan.
- Alat atau mesin yang rusak tidak boleh digunakan.
- Alat pemotong harus terjaga ketajamannya.
- Pelindung pendengaran dan pelindung mata yang sesuai harus
digunakan saat menggunakan alat tersebut.
- Daerah di sekitar alat atau mesin harus bersih.
- Kabel penyambung (extension) harus ditempatkan sedemikian rupa
agar terhindar dari kerusakan dari peralatan dan material.
- Penerangan tambahan harus diberikan ketika menggunakan alat atau
mesin tersebut.

4) Alat kerekan (hoist) pengangkat material dan orang

a) Alat pengangkat material dan orang harus didirikan oleh orang yang
berkompeten.

b) Operator harus orang yang terlatih dan diberikan izin khusus untuk
mengoperasikan alat.

c) Alat pengangkat harus berada di atas pondasi yang kokoh dan diikat pada
bangunan atau struktur.

d) Akses untuk operator dan personil yang melakukan pemeliharaan harus aman.

e) Keranjang alat pengangkat mempunyai ketinggian minimum 2 m, dengan sisi


dan pintu tertutup penuh (solid) atau ditutup dengan ram kawat dengan
diameter kawat minimum 3 mm dan dengan bukaan maksimum 9 mm.
Keranjang alat pengangkat harus ditutup dengan atap sekurang-kurangnya dari
papan kayu atau plywood dengan tebal minimal 18 mm.

f) Tinggi pintu keranjang minimum 2 m dan mempunyai kunci yang aman. Pintu
solid harus mempunyai panel yang tembus pandang.

g) Jarak dari lantai keranjang ke permukaan tanah tidak boleh lebih dari 50 mm.

h) Kerangjang alat pengangkat harus mempunyai mekanisme pengunci elektro-


mekanik yang hanya dapat dibuka dari keranjang dan hanya dapat dibuka
ketika keranjang berada di permukaan tanah serta dapat mencegah
beroperasinya alat pengangkat ketika keranjang sedang dibuka.

i) Pengangkatan dikendalikan di dalam keranjang alat pengangkat.

j) Semua bagian dari metal harus dihubungkan ke bumi (earth).

1 - 33
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

k) Alat penyelamat harus ada untuk menghentikan keranjang jika jatuh atau
bergerak terlalu cepat.

l) Keterangan pabik pembuat, model dan kapasitas beban harus ditempel dalam
keranjang.

m) Harus tersedia suatu mekanisme untuk keadaan darurat dan untuk


mengeluarkan orang yang terjebak dalam keranjang.

n) Harus tersedia alarm darurat di dalam keranjang.

o) Jika memungkinkan, sediakan alat komunikasi antara operator dan personil


yang bekerja.

5) Crane dan Alat Pengangkat

a) Tidak dibenarkan melakukan pekerjaan pemindahan atau pengangkatan


barang/material dengan risiko gangguan fisik terhadap pekerja tanpa
menggunakan alat pengangkat.

b) Pekerjaan pemindahan atau pengangkatan barang-barang/material dengan


perbedaan ketinggian lebih dari 5 m dan berat lebih dari 500 kg harus
menggunakan crane, excavator atau forklift.

c) Crane harus diperiksa setiap minggu, dan diperiksa secara menyeluruh setiap
12 bulan oleh orang yang berkompeten. Hasil inspeksi harus dicatat.

d) Harus tersedia sertifikat pengujian alat yang terbaru.

e) Operator harus terlatih, kompeten dan berusia di atas 18 tahun.

f) Alat kendali (tuas, saklar, dan sebagainya) harus diberi keterangan yang jelas.

g) Sebelum dilakukan pengangkatan, beban yang dapat diangkat hanya ditentukan


oleh operator.

h) Setiap jib crane dengan kapasitas lebih dari 1 ton harus mempunyai indikator
beban aman (safe load indicator) yang diperiksa setiap minggu.

i) Crane harus didirikan di atas pondasi yang kokoh.

j) Harus disediakan ruang yang cukup untuk pelaksanaan pengangkatan yang


aman.

k) Asisten operator harus dilatih untuk memberikan sinyal pada operator dan
untuk mengikatkan beban secara benar dan mengetahui kapasitas pengangkatan
crane.

l) Crane harus secara rutin menjalani pemeliharaan menyeluruh.

m) Gigi pengangkat harus dalam kondisi baik dan telah diperiksa secara
menyeluruh.

1 - 34
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

1.19.8 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Pembayaran yang diberikan kepada Penyedia Jasa harus mencakup seluruh biaya untuk
penanganan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) termasuk biaya untuk Ahli K3
Konstruksi pada paket pekerjaan yang mempunyai risiko K3 tinggi atau Petugas K3
Konstruksi pada setiap paket pekerjaan yang mempunyai risiko K3 sedang dan kecil. Ahli
K3 adalah seseorang yang mempunyai sertifikat dari yang berwenang dan sudah
berpengalaman sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dalam pelaksanaan K3 Konstruksi
Bidang Pekerjaan Umum yang dibuktikan dengan referensi pengalaman kerja. Petugas K3
adalah petugas di dalam organisasi Penyedia Jasa yang telah mengikuti
pelatihan/sosialisasi K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum.

2) Perhitungan biaya penangananan K3 tersebut sudah merupakan satu kesatuan dengan


biaya pelaksanaan konstruksi, yang diperhitungkan dalam masing-masing Harga Satuan
atau Biaya Tak Terduga (Overhead) sebagaimana peraturan yang berlaku pada setiap jenis
pekerjaan yang mengandung risiko K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum.

3) Tanpa mengabaikan ketentuan-ketentuan dari Syarat-syarat Umum dan Syarat-syarat


Khusus Kontrak, Direksi Pekerjaan akan memberi surat peringatan secara bertahap kepada
Penyedia Jasa apabila Penyedia Jasa menyimpang dari ketentuan yang berkaitan dengan
Pedoman SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dengan cara memberi surat
peringatan ke-1 dan ke-2. Apabila peringatan ke-2 tidak ditindaklanjuti, maka
Pengguna Jasa akan mengurangi pembayaran semua item pekerjaan sebesar 1% (satu
persen) dari tagihan bulanan (Monthly Certificate of Payment) Penyedia jasa sebelum
dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) hingga rencana SMK3 Konstruksi dapat
terpenuhi sesuai jadwalnya.

1 - 35
DIVISI 3

PEKERJAAN TANAH

SEKSI 3.3

PENYIAPAN BADAN JALAN

3.3.1 UMUM

1) Uraian

a) Pekerjaan ini mencakup penyiapan, penggaruan dan pemadatan permukaan


tanah dasar atau permukaan jalan kerikil lama untuk penghamparan Lapis
Pondasi Agregat, Lapis Pondasi Jalan Tanpa Penutup Aspal, Lapis Pondasi
Semen Tanah atau Lapis Pondasi Beraspal di daerah jalur lalu lintas
(termasuk jalur tempat perhentian dan persimpangan) yang tidak ditetapkan
sebagai Pekerjaan Pengembalian Kondisidan di daerah bahu jalan baru
yang bukan diatas timbunan baru akibat pelebaran lajur lalu lintas.

b) Menurut Seksi dari Spesifikasi ini pembayaran tidak boleh dilakukan


terhadap Pengembalian Kondisi Perkerasan Lama yang diuraikan dalam
Seksi 8.1 maupun Pengembalian Kondisi Bahu Jalan Lama pada Jalan
Berpenutup Aspal yang diuraikan dalam Seksi 8.2.

c) Untuk jalan kerikil, pekerjaan dapat juga mencakup perataan berat dengan
motor grader untuk perbaikan bentuk dengan atau tanpa penggaruan dan
tanpa penambahan bahan baru.

d) Pekerjaan ini meliputi galian minor atau penggaruan serta pekerjaan


timbunan minor yang diikuti dengan pembentukan, pemadatan, pengujian
tanah atau bahan berbutir, dan pemeliharaan permukaan yang disiapkan
sampai bahan perkerasan ditempatkan diatasnya, yang semuanya sesuai
dengan Gambar dan Spesifikasi ini atau sebagaimana yang diperintahkan
oleh Direksi Pekerjaan.

2) Pekerjaan Seksi Lain yang Berkaitan dengan Seksi Ini

a) Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas : Seksi 1.8


b) Kajian TeknisLapangan : Seksi 1.9
c) Pengamanan Lingkungan Hidup : Seksi 1.17
d) Keselamatan dan Kesehatan Kerja : Seksi 1.19
e) Galian : Seksi 3.1
f) Timbunan : Seksi 3.2
g) Pelebaran Perkerasan dan Bahu Jalan : Seksi 4.1
h) Bahu Jalan : Seksi 4.2
i) Lapis Pondasi Agregat : Seksi 5.1
j) Pondasi Jalan Tanpa Penutup Aspal : Seksi 5.2
k) Lapis Pondasi Semen Tanah : Seksi 5.4
l) Campuran Aspal Panas : Seksi 6.3
m) Pengembalian Kondisi Perkerasan Lama : Seksi 8.1
n) Pengembalian Kondisi Bahu Jalan Lama Pada Jalan : Seksi 8.2
Berpenutup Aspal
o) Pemeliharaan Jalan Samping Dan Jembatan : Seksi 10.2

3-1
3) Toleransi Dimensi

a) Ketinggian akhir setelah pemadatan tidak boleh lebih tinggi 2 sentimeter


atau lebih rendah 3 sentimeter dari yang disyaratkan atau disetujui.

b) Seluruh permukaan akhir harus cukup halus dan rata serta memiliki
kelandaian yang cukup, untuk menjamin berlakunya aliran bebas dari air
permukaan.

4) Standar Rujukan

Standar rujukan yang relevan adalah yang diberikan dalam Pasal 3.2.1.(4) dari
Spesifikasi ini.

5) Pengajuan Kesiapan Kerja

a) Pengajuan yang berhubungan dengan Galian, Pasal 3.1.1.(4), dan


Timbunan, Pasal 3.2.1.(5) harus dibuat masing-masing untuk seluruh
Galian dan Timbunan yang dilaksanakan untuk Penyiapan Badan Jalan.

b) Penyedia Jasa harus menyerahkan dalam bentuk tertulis kepada Direksi


Pekerjaan segera setelah selesainya suatu ruas pekerjaan dan sebelum setiap
persetujuan yang dapat diberikan untuk penghamparan bahan lain di atas
tanah dasar atau permukaan jalan, berikut ini :

i) Hasil pengujian kepadatan seperti yang disyaratakan dalam Pasal


3.3.3.(2) di bawah ini.

ii) Hasil pengujian pengukuran permukaan dan data survei yang


menun-jukkan bahwa toleransi permukaan yang disyaratkan dalam
Pasal 3.3.1.(3) dipenuhi.

6) Jadwal Kerja

a) Gorong-gorong, tembok kepala dan struktur minor lainnya di bawah elevasi


tanah dasar atau permukaan jalan, termasuk pemadatan sepenuhnya atas
bahan yang dipakai untuk penimbunan kembali, harus telah selesai sebelum
dimulainya pekerjaan pada tanah dasar atau permukaan jalan. Seluruh
pekerjaan drainase harus berada dalam kondisi berfungsi sehingga
menjamin keefektifan drainase, dengan demikian dapat mencegah
kerusakan tanah dasar atau permukaan jalan oleh aliran air permukaan.

b) Bilamana permukaan tanah dasar disiapkan terlalu dini tanpa segera diikuti
oleh penghamparan lapis pondasi bawah, maka permukaan tanah dasar
dapat menjadi rusak. Oleh karena itu, luas pekerjaan penyiapan tanah dasar
yang tidak dapat dilindungi pada setiap saat harus dibatasi sedemikian rupa
sehingga daerah tersebut yang masih dapat dipelihara dengan peralatan
yang tersedia dan Penyedia Jasa harus mengatur penyiapan tanah dasar dan
penempatan bahan perkerasan dimana satu dengan lainnya berjarak cukup
dekat.

7) Kondisi Tempat Kerja

Ketentuan dalam Pasal 3.1.1.(7) dan 3.2.1.(7), yang berhubungan dengan kondisi
tempat kerja yang disyaratkan, masing-masing untuk Galian dan Timbunan, harus

3-2
juga berlaku bilamana berhubungan dengan semua pekerjaan Penyiapan Badan
Jalan, bahkan pada tempat-tempat yang tidak memerlukan galian maupun timbunan.

8) Perbaikan Terhadap Penyiapan Badan Jalan yang Tidak Memenuhi Ketentuan

a) Ketentuan yang ditentukan dalam Pasal 3.1.1.(8) dan 3.2.1.(8) yang


berhubungan dengan perbaikan Galian dan Timbunan yang tidak
memenuhi ketentuan, harus juga berlaku bilamana berhubungan dengan
semua pekerjaan Penyiapan Badan Jalan, bahkan untuk tempat-tempat yang
tidak memerlukan galian atau timbunan.

b) Penyedia Jasa harus memperbaiki dengan biaya sendiri atas setiap alur
(rutting) atau gelombang yang terjadi akibat kelalaian pekerja atau lalu
lintas atau oleh sebab lainnya dengan membentuk dan memadatkannya
kembali, menggunakan mesin gilas dengan ukuran dan jenis yang
diperlukan untuk pekerjaan perbaikan ini.

c) Penyedia Jasa harus memperbaiki, dengan cara yang diperintahkan oleh


Direksi Pekerjaan, setiap kerusakan pada tanah dasar yang mungkin terjadi
akibat pengeringan, retak, atau akibat banjir atau akibat kejadian alam
lainnya.

9) Pengembalian Bentuk Pekerjaan Setelah Pengujian

Ketentuan dalam Pasal 3.2.1.(9) harus berlaku.

10) Pengendalian Lalu Lintas

a) Pengendalian Lalu Lintas harus memenuhi ketentuan dalam Seksi 1.8


Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas.

b) Penyedia Jasa harus bertanggungjawab atas seluruh konsekuensi dari lalu


lintas yang diijinkan melewati tanah dasar, dan Penyedia Jasa harus
melarang lalu lintas yang demikian bilamana Penyedia Jasa dapat
menyediakan sebuah jalan alih (detour) atau dengan pelaksanaan setengah
lebar jalan.

3.3.2 BAHAN

Tanah dasar dapat dibentuk dari Timbunan Biasa, Timbunan Pilihan, Lapis Pondasi
Agregat atau Drainase Porous, atau tanah asli di daerah galian. Bahan yang
digunakan dalam setiap hal haruslah sesuai dengan yang diperintahkan Direksi
Pekerjaan, dan sifat-sifat bahan yang disyaratkan untuk bahan yang dihampar dan
membentuk tanah dasar haruslah seperti yang disyaratkan dalam Spesifikasi.

3.3.3 PELAKSANAAN DARI PENYIAPAN BADAN JALAN

1) Penyiapan Tempat Kerja

a) Pekerjaan galian yang diperlukan untuk membentuk tanah dasar harus


dilaksanakan sesuai dengan Pasal 3.1.2.(1) dari Spesifikasi ini.

3-3
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

b) Seluruh Timbunan yang diperlukan harus dihampar sesuai dengan Pasal


3.2.3 dari Spesifikasi ini.

2) Pemadatan Tanah Dasar

a) Tanah dasar harus dipadatkan sesuai dengan ketentuan yang relevan dari
Pasal 3.2.3.(3) dari Spesifikasi ini.

b) Ketentuan pemadatan dan jaminan mutu untuk tanah dasar diberikan dalam
Pasal 3.2.4 dari Spesifikasi ini.

3) Daya Dukung Tanah Dasar di Daerah Galian

Tanah Dasar pada setiap tempat haruslah mempunyai daya dukung minimum
sebagaimana yang diberikan dalam Gambar, atau sekurang-kurangnya mempunyai
CBR minimum 6 % jika tidak disebutkan.

3.3.4 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Pengukuran untuk Pembayaran

Daerah jalur lalu lintas lama yang mengalami kerusakan parah, dimana operasi
pengembalian kondisi yang disyaratkan dalam Seksi 8.1 atau Seksi 8.2 dari
Spesifikasi ini dipandang tidak sesuai, akan digolongkan sebagai daerah yang
ditingkatkan dan persiapan tanah dasar akan dibayar menurut Seksi ini sebagai
daerah yang persiapan permukaan tanah dasarnya telah diterima oleh Direksi
Pekerjaan.

2) Dasar Pembayaran

Kuantitas dari pekerjaan Penyiapan Badan Jalan, diukur seperti ketentuan di atas,
akan dibayar per satuan pengukuran sesuai dengan harga yang dimasukkan dalam
Daftar Kuantitas dan Harga untuk Mata Pembayaran seperti terdaftar di bawah ini,
dimana harga dan pembayaran tersebut sudah mencakup kompensasi penuh untuk
seluruh pekerjaan dan biaya lainnya yang telah dimasukkan untuk keperluan
pembentukan pekerjaan penyiapan tanah dasar seperti telah diuraikan dalam Seksi
ini.

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran

3.3.(1) Penyiapan Badan Jalan Meter Persegi


SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

DIVISI 4
PELEBARAN PERKERASAN DAN BAHU JALAN
SEKSI 4.1
PELEBARAN PERKERASAN

4.1.1 UMUM

1) Uraian

a) Pekerjaan ini harus mencakup penambahan lebar perkerasan lama sampai


lebar jalur lalu lintas yang diperlukan dalam rancangan, yang ditunjukkan
pada Gambar atau yang diperintahkan Direksi Pekerjaan. Pekerjaan harus
mencakup penggalian dan pembuangan bahan yang ada, penyiapan tanah
dasar, dan penghamparan serta pemadatan bahan dengan garis dan dimensi
yang diberikan dalam Gambar atau yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
Pekerjaan harus sudah selesai sebelum pelaksanaan dari pelapisan lapis perata.
b) Pelebaran perkerasan harus dilaksanakan seperti yang ditunjukkan dalam
Gambar. Penentuan pelebaran perkerasan apakah satu sisi maupun dua sisi harus
dilakukan dengan mempertimbangkan Ruang Milik Jalan (Rumija) yang
tersedia, bangunan tetap dan lingkungan yang ada termasuk pembebasan tanah
(jika ada) sehingga dapat menciptakan suasana aman bagi pemakai jalan seperti
kebebasan samping yang cukup dengan disediakannya lebar bahu jalan yang
memenuhi standar teknis.
c) Bilamana alinyemen jalan lama tidak memenuhi ketentuan minimum dari fungsi
jalan tersebut (arteri, kolektor, dan lokal), maka pelebaran perkerasan harus
dilaksanakan dengan perbaikan alinyemen sedemikian hingga sumbu jalan
menjadi lebih lurus dan lengkung pada tikungan maupun pada puncak tanjakan
dapat dikurangi.

2) Pekerjaan Seksi Lain yang Berkaitan dengan Seksi Ini:

a) Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas : Seksi 1.8


b) Kajian Teknis Lapangan : Seksi 1.9
c) Pengamanan Lingkungan Hidup : Seksi 1.17
d) Keselamatan dan Kesehatan Kerja : Seksi 1.19
e) Galian : Seksi 3.1
f) Penyiapan Badan Jalan : Seksi 3.3
g) Bahu Jalan : Seksi 4.2
h) Lapis Pondasi Agregat : Seksi 5.1
i) Lapis Pondasi Semen Tanah : Seksi 5.4
j) Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat : Seksi 6.1
k) Laburan Aspal Satu Lapis (BURTU) dan Laburan Aspal : Seksi 6.2
Dua Lapis (BURDA)
l) Campuran Aspal Panas : Seksi 6.3
m) Lasbutag dan Latasbusir : Seksi 6.4
n) Campuran Aspal Dingin : Seksi 6.5
o) Lapis Perata Penetrasi Macadam : Seksi 6.6
p) Pengembalian Kondisi Perkerasan Lama : Seksi 8.1
q) Pengembalian Kondisi Bahu Jalan pada Perkerasan : Seksi 8.2
Berpenutup Aspal
r) Pengembalian Kondisi Selokan, Saluran Air, Galian, : Seksi 8.3

4-1
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Timbunan dan Penghijauan.

3) Toleransi Dimensi

a) Ketentuan yang disyaratkan dalam Seksi 5.1 untuk Lapis Pondasi Agregat dan
Seksi 5.4 untuk Lapis Pondasi Semen Tanah, harus berlaku.

b) Rentang tebal lapisan yang diijinkan dihampar dalam satu kali operasi harus
seperti yang ditentukan di Seksi lain dalam Spesifikasi ini untuk bahan yang
bersangkutan.

4) Standar Rujukan, Pengajuan Kesiapan Kerja, Cuaca yang Diijinkan untuk Bekerja,
Perbaikan Terhadap Pekerjaan Pelebaran Perkerasan yang Tidak Memenuhi Ketentuan
dan Pengembalian Bentuk Pekerjaan Setelah Pengujian

Ketentuan yang disyaratkan dalam Seksi 5.1 untuk Lapis Pondasi Agregat, Seksi 5.4
untuk Lapis Pondasi Semen Tanah, dan Seksi 6.3 untuk Campuran Aspal Panas harus
berlaku, sesuai dengan bahan yang bersangkutan. Pada pelebaran yang sempit sesuai
Seksi 4.1.3.(4). dan rentang tebal lapis yang diijinkan pada setiap penghamparan,
harus memperhatikan kemampuan alat pemadat (Roller) dan memenuhi kriteria bahan
yang digunakan.

4.1.2 BAHAN

Pekerjaan pelebaran perkerasan akan dilaksanakan dengan menggunakan timbunan


(bila ditunjukkan dalam Gambar), Lapis Pondasi Agregat atau Lapis Pondasi Semen
Tanah, dan Lapisan Beraspal, bersama dengan Lapis Resap Pengikat yang diperlukan,
seperti yang ditunjukkan dalam Gambar, atau sebagaimana yang diperintahkan oleh
Direksi Pekerjaan. Bahan tersebut harus memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam
Seksi 3.2, 5.1, 5.4, 6.1 dan 6.3 dari Spesifikasi Umum, yang berlaku sesuai dengan
bahan yang bersangkutan.

4.1.3 PERSIAPAN UNTUK PELEBARAN PERKERASAN

1) Lebar Galian dan Penggalian Bahan yang Ada

a) Galian untuk Pelebaran Perkerasan harus mampu menyediakan ruang gerak


yang cukup untuk alat penggilas (roller) normal untuk memadatkan badan jalan
(sub-grade). Lebar galian untuk pelebaran selebar 1,2 m dipandang sebagai
pelebaran praktis minimum. Detail pelebaran akan ditunjukkan dalam Gambar.

b) Bahan yang ada harus digali hingga kedalaman yang ditunjukkan dalam Gambar
atau yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Kecuali jika disetujui oleh
Direksi Pekerjaan, maka bahan galian tidak boleh digunakan kembali sebagai
bahan untuk pekerjaan Pelebaran Perkerasan.

2) Pencampuran Bahan Berbutir yang Baru dan Lama

Pencampuran di tempat antara bahan berbutir yang baru dengan lama umumnya tidak
diperkenankan. Meskipun demikian, bilamana bahu jalan lama tampak atau diketahui
terbuat dari bahan agregat yang baik, maka Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan
Penyedia Jasa menggali lubang uji (test pit) untuk memastikan mutu bahu jalan lama
dan selanjutnya dapat menyetujui penggaruan bahan yang ada hingga kedalaman

4-2
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

rancangan, dicampur dengan bahan yang baru sebagaimana diperlukan dan dipadatkan
kembali. Bilamana telah dilaksanakan dengan cara ini, Pekerjaan Pelebaran
Perkerasan tetap harus memenuhi semua toleransi dimensi dan mutu yang disyaratkan
dalam Seksi ini.

3) Pemangkasan Tepi Jalur Lalu Lintas

Tepi perkerasan jalur lalu lintas yang terekspos harus dipangkas sampai mencapai
bahan yang keras (sound), yang tidak lepas atau retak atau ketidakstabilan lainnya,
untuk membentuk permukaan vertikal yang bersih, memenuhi ketentuan dalam Pasal
8.1.3 dari Spesifikasi Umum.

4) Lebar Pekerjaan Pelebaran

a) Lebar pelebaran perkerasan harus cukup untuk pelebaran jalur lalu lintas
sesuai dengan lebar rancangan, sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar
atau sebagaimana diperintahkan Direksi Pekerjaan, serta pelebaran tambahan
yang cukup sehingga memungkinkan tepi setiap lapisan yang dihampar
bertangga terhadap lapisan di bawahnya atau terhadap perkerasan lama.
Susunan bertangga ini diperlukan untuk memungkinkan penggilasan yang
sedikit ke luar dari tepi hamparan dan untuk memperoleh daya dukung
samping yang memadai, dan harus dibuat berturut-turut selebar 5 cm untuk
setiap pelapisan (overlay) yang dihampar.

b) Pelebaran perkerasan yang diperlukan seperti yang ditunjukkan pada Gambar


untuk setiap ruas jalan hanya merupakan nilai rata-rata saja dan lebar pelebaran
aktual yang diperlukan dari meter ke meter sepanjang jalan bervariasi sebagai-
mana yang diperlukan dan sebagaimana yang diperintahkan Direksi Pekerjaan
dengan tujuan untuk mencapai lebar rancangan rata-rata pada setiap titik.

5) Penyiapan Bentuk Permukaan

a) Formasi galian pada lokasi Pelebaran Perkerasan harus disiapkan, dipadatkan


dan diuji sebagaimana disyaratkan untuk Penyiapan Badan Jalan dalam Seksi 3.3
dari Spesifikasi Umum. Penyedia Jasa harus memelihara permukaan tersebut
dalam keadaan kadar air optimum dan stabil sampai penghamparan bahan yang
diperlukan untuk pelebaran perkerasan, yang harus diisi dengan bahan tersebut
sesegera mungkin setelah pekerjaan penggalian.

b) Formasi yang disiapkan harus diperiksa oleh Direksi Pekerjaan sesaat sebelum
penghamparan bahan yang diperlukan untuk pelebaran perkerasan dan bahan
tersebut tidak boleh dihampar sebelum pekerjaan penyiapan badan jalan
disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

6) Penebangan Pohon untuk Pelebaran Jalan

Penebangan pohon hanya akan dilaksanakan bilamana mutlak diperlukan untuk


pelaksanaan pelebaran jalan, baik pada jalur lalu lintas maupun pada bahu jalan.
Pohon-pohon yang sudah ditebang harus diganti dengan cara penanaman pohon baru
di daerah berm (di luar bahu jalan). Penebangan pohon tidak boleh dilaksanakan
bilamana kestabilan lereng lama menjadi terganggu.

Pengukuran dan pembayaran untuk penebangan dan pembuangan pohon sesuai


dengan perintah Direksi Pekerjaan dan penanaman pohon baru diuraikan dalam Seksi
8.2 dan 8.3 dari Spesifikasi Umum.

4-3
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

4.1.4 PENGHAMPARAN & PEMADATAN BAHAN PELEBARAN PERKERASAN

1) Penghamparan dan Pemadatan Lapis Pondasi Agregat

a) Ketentuan yang disyaratkan dalam Pasal 5.1.3 dalam Spesifikasi Umum harus
berlaku kecuali bahwa frekuensi pengujian pengendalian mutu harus diting-
katkan sedemikian rupa sehingga tidak kurang dari lima pengujian indeks
plastisitas (plasticity index), lima pengujian gradasi butiran, dan satu pengujian
kepadatan kering maksimum harus dilakukan untuk tiap 500 meter kubik bahan
yang dibawa ke lapangan.

b) Bilamana Lapis Pondasi Agregat telah dicampur dengan bahan lama, maka
frekuensi minimum dari pengujian yang disyaratkan dalam (a) di atas harus
diterapkan pada tiap bahan baru yang dibawa ke lapangan, dan sebagai tambahan
harus diterapkan juga pada bahan yang telah dicampur di lapangan. Untuk
pengujian tambahan, Penyedia Jasa harus mengambil contoh dari bahan yang
telah dicampur sampai kedalaman rancangan pada lokasi yang ditunjukkan oleh
Direksi Pekerjaan.

c) Frekuensi pengujian pengendalian kepadatan dan kadar air paling sedikit harus
satu pengujian (SNI 03-2828-1992) untuk setiap 50 m pekerjaan pelebaran pada
masing-masing sisi dari jalan (jika diterapkan pelebaran dua sisi), diukur
sepanjang sumbu jalan.

2) Memproduksi, Menghampar, Memadatkan, dan Pengujian Bahan Perkerasan pada


Pekerjaan Pelebaran

Ketentuan yang disyaratkan pada Seksi lain dalam Spesifikasi ini yang berhubungan
dengan Produksi, Penghamparan, Pemadatan dan Pengujian Bahan Perkerasan harus
berlaku dengan perkecualian berikut ini:

a) Sebelum bahan dihampar, lapis resap pengikat yang sesuai harus disemprotkan pada
lapis pondasi yang sudah dipersiapkan dan lapis perekat yang sesuai juga harus
disemprot pada permukaan vertikal dari tepi perkerasan lama.
b) Pada pelebaran yang agak sempit, penghamparan dapat dilakukan dengan cara
manual, tetapi dalam batas-batas temperatur seperti penghamparan dengan mesin.
Pemadatan harus dilakukan menggunakan alat pemadat mekanis atau alat pemadat
bergerak bolak balik yang disetujui. Alat pemadat kecil yang bermesin sendiri dapat
digunakan bilamana lebar pekerjaan pelebaran cukup untuk menampung seluruh
lebar roda alat pemadat.
c) Pengujian kepadatan dari bahan lapisan beraspal terhampar yang ditentukan dengan
pengujian benda uji inti (core), harus dilaksanakan dengan frekuensi tidak kurang
dari satu pengujian setiap 50 m pekerjaan pelebaran untuk masing-masing sisi jalan
(jika diterapkan pelebaran dua sisi), diukur sepanjang sumbu jalan.

4.1.5 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

Tidak ada mata pembayaran dalam Seksi 4.1 ini. Pengukuran terhadap penggalian bahan
yang ada, penyiapan badan jalan, pemasokan, penghamparan, pemadatan, dan
penyelesaian pekerjaan Pelebaran Perkerasan, haruslah dipandang seluruhnya dibayar
menurut berbagai Mata Pembayaran yang terdapat dalam Seksi-seksi lain yang relevan.

4-4
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

SEKSI 4.2

BAHU JALAN

4.2.1 UMUM

1) Uraian

Pekerjaan ini harus terdiri dari pemasokan, pengangkutan, penghamparan dan pemadatan
bahan bahu jalan pada tanah dasar yang telah disiapkan atau permukaan lainnya yang
disetujui dan pelaburan (sealing) jika diperlukan, untuk pelaksanaan bahu jalan baru atau
peningkatan bahu jalan sesuai dengan garis, kelandaian dan dimensi yang ditunjukkan
pada Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

2) Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini

a) Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas : Seksi 1.8


b) Rekayasa Lapangan : Seksi 1.9
c) Bahan dan Penyimpanan : Seksi 1.11
d) Pengamanan Lingkungan Hidup : Seksi 1.17
e) Keselamatan dan Kesehatan Kerja : Seksi 1.19
f) Penyiapan Badan Jalan : Seksi 3.3
g) Lapis Pondasi Agregat : Seksi 5.1
h) Perkerasan Beton : Seksi 5.3
i) Lapis Pondasi Semen Tanah : Seksi 5.4
j) Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat : Seksi 6.1
k) Laburan Aspal Satu Lapis (BURTU) dan Laburan Aspal : Seksi 6.2
Dua Lapis (BURDA)
l) Campuran Beraspal Panas : Seksi 6.3
m) Pengembalian Kondisi Jalan Lama : Seksi 8.1
n) Pengembalian Kondisi Bahu Jalan Lama pada Jalan Ber- : Seksi 8.2
penutup Aspal
o) Pemeliharaan Rutin Perkerasan, Bahu Jalan, Drainase, : Seksi 10.1
Perlengkapan Jalan dan Jembatan
p) Pemeliharaan Jalan Samping dan Jembatan : Seksi 10.2

3) Toleransi Dimensi

a) Untuk bahu jalan dengan laburan aspal, toleransi elevasi dan kerataan yang
disyaratkan dalam Pasal 5.1.1.(3), harus berlaku.

b) Untuk bahu jalan dengan perkerasan semen, toleransi elevasi dan kerataan yang
disyaratkan dalam Pasal 5.3.1.(3), harus berlaku

c) Untuk bahu jalan semen tanah, toleransi elevasi dan kerataan yang disyaratkan
dalam Pasal 5.4.1.(3), harus berlaku.

d) Untuk bahu jalan dengan campuran beraspal panas, toleransi elevasi dan
kerataan yang disyaratkan dalam Pasal 6.3.1.(4), harus berlaku

e) Untuk bahu jalan tanpa laburan aspal, permukaan akhir yang telah dipadatkan
tidak boleh berbeda lebih dari 1,5 cm di bawah atau di atas elevasi rancangan,
pada setiap titik.

4-5
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

f) Permukaan akhir bahu jalan, termasuk setiap pelaburan atau perkerasan lainnya
yang dihampar diatasnya, tidak boleh lebih tinggi maupun lebih rendah 1,0 cm
terhadap tepi jalur lalu lintas yang bersebelahan.

g) Lereng melintang tidak boleh bervariasi lebih dari 1,0 % dari lereng melintang
rancangan.

4) Standar Rujukan

Ketentuan yang disyaratkan dalam Pasal 5.1.1.(4), 5.3.1.(4), 5.4.1.(4), 6.1.1.(3), 6.2.1.(3)
dan 6.3.1.(5) masing-masing untuk Lapis Pondasi Agregat, Perkerasan Beton, Lapis
Pondasi Semen Tanah, Lapis Resap Pengikat, Burtu, dan Campuran Beraspal Panas
harus berlaku.

5) Pengajuan Kesiapan Kerja

Ketentuan yang diyaratkan dalam Pasal 5.1.1.(5), 5.3.1.(5), 5.4.1.(5), 6.1.1.(6), 6.2.1.(7)
dan 6.3.1.(6) masing-masing untuk Lapis Pondasi Agregat, Perkerasan Beton, Lapis
Pondasi Semen Tanah, Lapis Resap Pengikat, Burtu, dan Campuran Beraspal Panas
harus berlaku.

6) Cuaca Yang Diijinkan Untuk Bekerja

Ketentuan yang disyaratkan dalam Pasal 5.1.1.(6), 5.3.1.(6), 5.4.1.(6), 6.1.1.(4), 6.2.1.(4)
dan 6.3.1.(7) masing-masing untuk Lapis Pondasi Agregat; Perkerasan Beton, Lapis
Resap Pengikat, Burtu, dan Campuran Beraspal Panas harus berlaku.

7) Perbaikan Bahu Jalan Yang Tidak Memenuhi Ketentuan

Harus berlaku ketentuan yang disyaratkan dalam Pasal 5.1.1.(7), 5.3.1.(7), 5.4.1.(7),
6.1.1.(5), 6.2.1.(5) dan 6.3.1.(8) masing-masing untuk Lapis Pondasi Agregat,
Perkerasan Beton, Lapis Pondasi Semen Tanah, Lapis Resap Pengikat, Burtu, dan
Campuran Beraspal Panas harus berlaku.

8) Pemeliharaan Pekerjaan Yang Telah Diterima

Tanpa mengurangi kewajiban Penyedia Jasa untuk melaksanakan perbaikan terhadap


pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan atau gagal sebagaimana disyaratkan dalam
Pasal 4.2.1.(7) di atas, Penyedia Jasa juga harus bertanggungjawab atas pemeliharaan
rutin dari semua bahu jalan yang sudah selesai dikerjakan dan diterima selama Periode
Pelaksanaan.

9) Pengembalian Bentuk Pekerjaan Setelah Pengujian

Ketentuan yang disyaratkan dalam Pasal 5.1.1.(8), 5.3.1.(8), Pasal 5.4.1.(7) dan 6.3.1.(9)
untuk Lapis Pondasi Agregat, Perkerasan Beton, Lapis Pondasi Semen Tanah, dan
Campuran Beraspal Panas harus berlaku.

10) Pengendalian Lalu Lintas

a) Pengendalian Lalu Lintas harus sesuai dengan ketentuan Seksi 1.8 Manajemen
dan Keselamatan Lalu Lintas.

4-6
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

b) Penyedia Jasa harus bertanggung jawab atas semua akibat yang ditimbulkan
oleh lalu lintas yang melewati bahu jalan yang baru selesai dikerjakan dan bila
perlu Penyedia Jasa dapat melarang lalu lintas yang demikian ini dengan
menyediakan jalan alih (detour) atau pelaksanaan setengah badan jalan.

4.2.2 BAHAN

Ketentuan bahan yang disyaratkan dalam Divisi 5 dan Divisi 6 berlaku juga untuk Seksi
ini. Lapis Pondasi Agregat Kelas S hanya digunakan untuk bahu jalan tanpa penutup.

4.2.3 PELAKSANAAN DAN PEMADATAN

a) Persiapan tempat untuk penghamparan bahan-bahan bahu jalan, termasuk galian


pada bahan yang ada, pencampuran bahan yang baru dan lama (bilamana
diijinkan oleh Direksi Pekerjaan), pemangkasan tepi perkerasan pada jalur lalu
lintas lama, dan penyiapan formasi sebelum bahan dipasang, harus dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan Pasal 8.1.3 dan Seksi 8.2 dari
Spesifikasi ini.

b) Pelaksanaan bahan bahu jalan harus memenuhi ketentuan yang disyaratkan


pada Pasal 5.1.3, 5.3.5, 5.4.5, 6.1.4, 6.2.5 dan 6.3.6 dari Spesifikasi ini, masing-
masing untuk Lapis Pondasi Agregat, Perkerasan Beton, Lapis Pondasi Semen
Tanah, Lapis Resap Pengikat, Burtu dan Campuran Beraspal Panas.

4.2.4 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Cara Pengukuran

Ketentuan yang disyaratkan dalam Divisi 5 dan Divisi 6 berlaku pada Seksi ini.

2) Pengukuran Untuk Pekerjaan Yang Diperbaiki

Ketentuan yang disyaratkan dalam Divisi 5 dan Divisi 6 berlaku pada Seksi ini

3) Dasar Pembayaran

Kuantitas yang ditentukan dengan cara di atas, harus dibayar menurut Harga Kontrak per
satuan pengukuran masing-masing untuk setiap mata pembayaran yang terdaftar di
bawah ini dan terdapat dalam Daftar Kuantitas dan Harga, dimana harga dan pembayaran
harus merupakan kompensasi penuh untuk perolehan, pemasokan, penghamparan,
pemadatan, penyelesaian akhir dan pengujian bahan, pemeliharaan permukaan akibat
beban lalu lintas, dan semua biaya lain yang diperlukan atau seharusnya untuk
penyelesaian yang sebagaimana mestinya pada pekerjaan yang diuraikan dalam Seksi ini

4-7
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran

4.2.(2b) Lapis Pondasi Agregat Kelas S Meter Kubik

4-8
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

DIVISI 5
PERKERASAN BERBUTIR DAN PERKERASAN BETON SEMEN

SEKSI 5.1
LAPIS PONDASI AGREGAT

5.1.1 UMUM

1) Uraian

Pekerjaan ini harus meliputi pemasokan, pemrosesan, pengangkutan, penghamparan,


pembasahan dan pemadatan agregat di atas permukaan yang telah disiapkan dan telah
diterima sesuai dengan detil yang ditunjukkan dalam Gambar atau sesuai dengan
perintah Direksi Pekerjaan, dan memelihara lapis pondasi agregrat yang telah selesai
sesuai dengan yang disyaratkan. Pemrosesan harus meliputi, bila perlu, pemecahan,
pengayakan, pemisahan, pencampuran dan operasi lainnya yang perlu untuk
menghasilkan suatu bahan yang memenuhi ketentuan dari Spesifikasi ini.

2) Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini

Pekerjaan Seksi lain yang berkaitan dengan Seksi ini tetapi tidak terbatas berikut ini :

a) Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas : Seksi 1.8


b) Kajian TeknisLapangan : Seksi 1.9
c) Bahan dan Penyimpanan : Seksi 1.11
d) Pengamanan Lingkungan Hidup : Seksi 1.17
e) Keselamatan dan Kesehatan Kerja : Seksi 1.19
f) Penyiapan Badan Jalan : Seksi 3.3
g) Pelebaran Perkerasan : Seksi 4.1
h) Bahu Jalan : Seksi 4.2
i) Lapis Pondasi Agregat Semen : Seksi 5.5
j) Campuran Beraspal Panas : Seksi 6.3
k) Pemeliharaan Jalan Samping dan Jembatan : Seksi 10.2

3) Toleransi Dimensi dan Elevasi

a) Permukaan lapis akhir harus sesuai dengan Tabel 5.1.1.(1), dengan toleransi
di bawah ini :

Tabel 5.1.1.(1) Toleransi Elevasi Permukaan Relatif Terhadap Elevasi Rencana


Bahan dan Lapisan Pondasi Agregat Toleransi Elevasi Permukaan
relatif terhadap elevasi rencana
Lapis Pondasi Agregat Kelas B digunakan sebagai + 0 cm
Lapis Pondasi Bawah (hanya permukaan atas dari -2 cm
Lapisan Pondasi Bawah).
Permukaan Lapis Pondasi Agregat Kelas A untuk + 0 cm
Lapis Resap Pengikat atau Pelaburan (Perkerasan -1 cm
atau Bahu Jalan)
Bahu Jalan Tanpa Penutup Aspal dengan Lapis Memenuhi
Pondasi Agregat Kelas S (hanya pada lapis Pasal 4.2.1.3
permukaan).
Catatan :
Lapis Pondasi Agregat A dan B diuraikan dalam Pasal 5.1.2 dari Spesifikasi ini.

5-1
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

b) Pada permukaan semua Lapis Pondasi Agregat tidak boleh terdapat


ketidakrataan yang dapat menampung air dan semua punggung (camber)
permukaan itu harus sesuai dengan yang ditunjukkan dalam Gambar.

c) Tebal total minimum Lapis Pondasi Agregat tidak boleh kurang satu
sentimeter dari tebal yang disyaratkan.

d) Tebal minimum Lapis Pondasi Agregat Kelas A tidak boleh kurang satu
sentimeter dari tebal yang disyaratkan.

e) Pada permukaan Lapis Pondasi Agregat Kelas A yang disiapkan untuk lapisan
resap pengikat atau pelaburan permukaan, bilamana semua bahan yang
terlepas harus dibuang dengan sikat yang keras, maka penyimpangan
maksimum pada kerataan permukaan yang diukur dengan mistar lurus
sepanjang 3 m, diletakkan sejajar atau melintang sumbu jalan, maksimum satu
sentimeter.

4) Standar Rujukan

SNI 03-4141-1996 : Metode Pengujian Gumpalan Lempung dan Butir-butir


Mudah Pecah dalam Agregat.
SNI 03-6889-2002 : Tata Cara Pengambilan Contoh Agregat
SNI 1743 : 2008 : Cara Uji Kepadatan Berat Untuk Tanah.
SNI 1967 : 2008 : Cara Uji Penentuan Batas Cair Tanah.
SNI 1966 : 2008 : Cara Uji Penentuan Batas Plastis dan Indeks Plastisitas
Tanah.
SNI 2417 : 2008 : Cara Uji Keausan Agregat dengan Mesin Abrasi Los
Angeles.
SNI 1744: 2012 : Metode Uji CBR Laboratorium.
SNI 7619: 2012 : Metod Uji Penentuan Persentase Butir Pecah pada Agregat
Kasar

British Standards :

British Standard BS812 : Method of Sampling and Testing of Mineral


Aggregates, Sands and Fillers.

5) Pengajuan Kesiapan Kerja

a) Penyedia Jasa harus menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan berikut di bawah


ini paling sedikit 21 hari sebelum tanggal yang diusulkan dalam penggunaan
setiap bahan untuk pertama kalinya sebagai Lapis Pondasi Agregat :

i) Dua contoh masing-masing 50 kg bahan, satu disimpan oleh Direksi


Pekerjaan sebagai rujukan selama Waktu untuk Penyelesaian.

ii) Pernyataan perihal asal dan komposisi setiap bahan yang diusulkan
untuk Lapis Pondasi Agregat, bersama dengan hasil pengujian
laboratorium yang membuktikan bahwa sifat-sifat bahan yang
ditentukan dalam Pasal 5.1.2.(5) terpenuhi.

b) Penyedia Jasa harus mengirim berikut di bawah ini dalam bentuk tertulis
kepada Direksi Pekerjaan segera setelah selesainya setiap ruas pekerjaan dan

5-2
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

sebelum persetujuan diberikan untuk penghamparan bahan lain di atas Lapis


Pondasi Agregat:

i) Hasil pengujian kepadatan dan kadar air seperti yang disyaratkan


dalam Pasal 5.1.3.(4).

ii) Hasil pengujian pengukuran permukaan dan data hasil survei


pemeriksaan yang menyatakan bahwa toleransi yang disyaratkan
dalam Pasal 5.1.1.(3) dipenuhi.

6) Cuaca Yang Diijinkan Untuk Bekerja

Lapis Pondasi Agregat tidak boleh ditempatkan, dihampar, atau dipadatkan sewaktu
turun hujan, dan pemadatan tidak boleh dilakukan segera setelah hujan atau bila kadar air
bahan jadi tidak berada dalam rentang yang ditentukan dalam Pasal 5.1.3.(3).

7) Perbaikan Terhadap Lapis Pondasi Agregat Yang Tidak Memenuhi Ketentuan

a) Lokasi hamparan dengan tebal atau kerataan permukaan yang tidak memenuhi
ketentuan toleransi yang disyaratkan dalam Pasal 5.1.1.(3), atau yang
permukaannya menjadi tidak rata baik selama pelaksanaan atau setelah
pelaksanaan, harus diperbaiki dengan membongkar lapis permukaan tersebut
dan membuang atau menambahkan bahan sebagaimana diperlukan, kemudian
dilanjutkan dengan pembentukan dan pemadatan kembali, atau dalam hal
Lapisan Pondasi Agregat yang tidak memenuhi ketentuan telah dilapisi
dengan Lapisan diatasnya. Kekurangan tebal dapat dikompensasi dengan
Lapisan diatasnya dengan tebal yangsesuai dengan sifat bahan dan
mempunyai kekuatan yang sama dengan tebal yang kurang.

b) Lapis Pondasi Agregat yang terlalu kering untuk pemadatan, dalam hal
rentang kadar air seperti yang disyaratkan dalam Pasal 5.1.3.(3) atau seperti
yang diperintahkan Direksi Pekerjaan, harus diperbaiki dengan menggaru
bahan tersebut yang dilanjutkan dengan penyemprotan air dalam kuantitas
yang cukup serta mencampurnya sampai rata.

c) Lapis Pondasi Agregat yang terlalu basah untuk pemadatan seperti yang
ditentukan dalam rentang kadar air yang disyaratkan dalam Pasal 5.1.3.(3)
atau seperti yang diperintahkan Direksi Pekerjaan, harus diperbaiki dengan
menggaru bahan tersebut secara berulang-ulang pada cuaca kering dengan
peralatan yang disetujui disertai waktu jeda dalam pelaksanaannya. Alternatif
lain, bilamana pengeringan yang memadai tidak dapat diperoleh dengan cara
tersebut di atas, maka Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan agar bahan
tersebut dibuang dan diganti dengan bahan kering yang memenuhi ketentuan.

d) Perbaikan atas Lapis Pondasi Agregat yang tidak memenuhi kepadatan atau
sifat-sifat bahan yang disyaratkan dalam Spesifikasi ini harus seperti yang
diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan dan dapat meliputi pemadatan
tambahan, penggaruan disertai penyesuaian kadar air dan pemadatan kembali,
pembuangan dan penggantian bahan, atau menambah suatu ketebalan dengan
bahan tersebut.

5-3
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

8) Pengembalian Bentuk Pekerjaan Setelah Pengujian

Seluruh lubang pada pekerjaan yang telah selesai dikerjakan akibat pengujian kepadatan
atau lainnya harus segera ditutup kembali oleh Penyedia Jasa dengan bahan Lapis
Pondasi Agregat, diikuti pemeriksaan oleh Direksi Pekerjaan dan dipadatkan sampai
memenuhi kepadatan dan toleransi permukaan dalam Spesifikasi ini.

5.1.2 BAHAN

1) Sumber Bahan

Bahan Lapis Pondasi Agregat harus dipilih dari sumber yang disetujui sesuai dengan
Seksi 1.11 Bahan dan Penyimpanan, dari Spesifikasi ini.

2) Kelas Lapis Pondasi Agregat

Terdapat tiga kelas yang berbeda dari Lapis Pondasi Agregat yaitu Kelas A, Kelas B
dan Kelas S. Pada umumnya Lapis Pondasi Agregat Kelas A adalah mutu Lapis
Pondasi Atas untuk lapisan di bawah lapisan beraspal, dan Lapis Pondasi Agregat
Kelas B adalah untuk Lapis Pondasi Bawah. Lapis Pondasi Agregat Kelas S
digunakan untuk bahu jalan tanpa penutup.

3) Fraksi Agregat Kasar

Agregat kasar yang tertahan pada ayakan 4,75 mm harus terdiri dari partikel atau
pecahan batu yang keras dan awet yang memenuhi persyaratan dalam Tabel 5.1.2.(2).
Bahan yang pecah bila berulang-ulang dibasahi dan dikeringkan tidak boleh
digunakan.

4) Fraksi Agregat Halus

Agregat halus yang lolos ayakan 4,75 mm harus terdiri dari partikel pasir alami atau batu
pecah halus dan partikel halus lainnya yang memenuhi persyaratan dalam Tabel
5.1.2.(2).

5) Sifat-sifat Bahan Yang Disyaratkan

Seluruh Lapis Pondasi Agregat harus bebas dari bahan organik dan gumpalan
lempung atau bahan-bahan lain yang tidak dikehendaki dan setelah dipadatkan harus
memenuhi ketentuan gradasi (menggunakan pengayakan secara basah) yang diberikan
dalam Tabel 5.1.2.(1) dan memenuhi sifat-sifat yang diberikan dalam Tabel 5.1.2.(2).

6) Pencampuran Bahan Untuk Lapis Pondasi Agregat

Pencampuran bahan untuk memenuhi ketentuan yang disyaratkan harus dikerjakan di


lokasi instalasi pemecah batu atau pencampur yang disetujui, dengan menggunakan
pemasok mekanis (mechanical feeder) yang telah dikalibrasi untuk memperoleh aliran
yang menerus dari komponen-komponen campuran dengan proporsi yang benar.
Dalam keadaan apapun tidak dibenarkan melakukan pencampuran di lapangan.

5-4
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Tabel 5.1.2.(1) Gradasi Lapis Pondasi Agregat

Ukuran Ayakan Persen Berat Yang Lolos


ASTM (mm) Kelas A Kelas B Kelas S
2” 50 100
1 ½” 37,5 100 88 - 95 100
1“ 25,0 79 - 85 70 - 85 77 - 89
3/8” 9,50 44 - 58 30 - 65 41 - 66
No.4 4,75 29 - 44 25 - 55 26 - 54
No.10 2,0 17 - 30 15 - 40 15 - 42
No.40 0,425 7 - 17 8 - 20 7 - 26
No.200 0,075 2-8 2-8 4 - 16

Tabel 5.1.2.(2) Sifat-sifat Lapis Pondasi Agregat


Sifat – sifat Kelas A Kelas B Kelas S
Abrasi dari Agregat Kasar (SNI 2417:2008) 0 - 40 % 0 - 40 % 0 - 40 %
Butiran pecah, tertahan ayakan 3/8” (SNI 1)
7619: 2012) 95/90 55/502) 55/502)
Batas Cair (SNI 1967:2008) 0 - 25 0 - 35 0 - 35
Indek Plastisitas (SNI 1966:2008) 0-6 0 - 10 4 - 15
Hasil kali Indek Plastisitas dng. % Lolos maks.25 - -
Ayakan No.200
Gumpalan Lempung dan Butiran-butiran
Mudah Pecah (SNI 03-4141-1996) 0-5% 0-5% 0-5%
CBR rendaman (SNI 1744: 2012) min.90 % min.60 % min.50 %
Perbandingan Persen Lolos Ayakan No.200
dan No.40 maks.2/3 maks.2/3 -
Catatan :
1) 95/90 menunjukkan bahwa 95% agregat kasar mempunyai muka bidang pecah satu atau lebih dan
90% agregat kasar memounyai muka bidang pecah dua atau lebih.
2) 55/50 menunjukkan bahwa 55% agregat kasar mempunyai muka bidang pecah satu atau lebih dan
50% agregat kasar memounyai muka bidang pecah dua atau lebih

5.1.3 PENGHAMPARAN DAN PEMADATAN LAPIS PONDASI AGREGAT

1) Penyiapan Formasi untuk Lapis Pondasi Agregat

a) Bilamana Lapis Pondasi Agregat akan dihampar pada perkerasan atau bahu
jalan lama, semua kerusakan yang terjadi pada perkerasan atau bahu jalan
lama harus diperbaiki terlebih dahulu sesuai dengan Seksi 8.1 dan 8.2 dari
Spesifikasi ini.

b) Bilamana Lapis Pondasi Agregat akan dihampar pada suatu lapisan


perkerasan lama atau tanah dasar baru yang disiapkan atau lapis pondasi yang
disiapkan, maka lapisan ini harus diselesaikan sepenuhnya, sesuai dengan
Seksi 3.3, 4.1, 4.2 atau 5.1 dari Spesifikasi ini, sesuai pada lokasi dan jenis
lapisan yang terdahulu.

c) Lokasi yang telah disediakan untuk pekerjaan Lapisan Pondasi Agregat,


sesuai dengan butir (a) dan (b) di atas, harus disiapkan dan mendapatkan

5-5
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

persetujuan terlebih dahulu dari Direksi Pekerjaan paling sedikit 100 meter ke
depan dari rencana akhir lokasi penghamparan Lapis Pondasi pada setiap saat.
Untuk perbaikan tempat-tempat yang kurang dari 100 meter panjangnya,
seluruh formasi itu harus disiapkan dan disetujui sebelum lapis pondasi
agregat dihampar.

d) Bilamana Lapis Pondasi Agregat akan dihampar langsung di atas permukaan


perkerasan aspal lama, yang menurut pendapat Direksi Pekerjaan dalam
kondisi tidak rusak, maka harus diperlukan penggaruan atau pengaluran pada
permukaan perkerasan aspal lama agar meningkatkan tahanan geser yang
lebih baik.

2) Penghamparan

a) Lapis Pondasi Agregat harus dibawa ke badan jalan sebagai campuran yang
merata dan harus dihampar pada kadar air dalam rentang yang disyaratkan
dalam Pasal 5.1.3.(3). Kadar air dalam bahan harus tersebar secara merata.

b) Setiap lapis harus dihampar pada suatu operasi dengan takaran yang merata
agar menghasilkan tebal padat yang diperlukan dalam toleransi yang
disyaratkan. Bilamana akan dihampar lebih dari satu lapis, maka lapisan-
lapisan tersebut harus diusahakan sama tebalnya.

c) Lapis Pondasi Agregat harus dihampar dan dibentuk dengan salah satu
metode yang disetujui yang tidak meyebabkan segregasi pada partikel agregat
kasar dan halus. Bahan yang bersegregasi harus diperbaiki atau dibuang dan
diganti dengan bahan yang bergradasi baik.

d) Tebal padat maksimum tidak boleh melebihi 20 cm, kecuali digunakan


peralatan khusus yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

3) Pemadatan

a) Segera setelah pencampuran dan pembentukan akhir, setiap lapis harus


dipadatkan menyeluruh dengan alat pemadat yang cocok dan memadai dan
disetujui oleh Direksi Pekerjaan, hingga kepadatan paling sedikit 100 % dari
kepadatan kering maksimum modifikasi (modified) seperti yang ditentukan
oleh SNI 1743 : 2008, metode D.

b) Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan agar digunakan mesin gilas beroda


karet digunakan untuk pemadatan akhir, bila mesin gilas statis beroda baja
dianggap mengakibatkan kerusakan atau degradasi berlebihan dari Lapis
Pondasi Agregat.

c) Pemadatan harus dilakukan hanya bila kadar air dari bahan berada dalam
rentang 3 % di bawah kadar air optimum sampai 1 % di atas kadar air
optimum, dimana kadar air optimum adalah seperti yang ditetapkan oleh
kepadatan kering maksimum modifikasi (modified) yang ditentukan oleh SNI
1743 : 2008, metode D.

d) Operasi penggilasan harus dimulai dari sepanjang tepi dan bergerak sedikit
demi sedikit ke arah sumbu jalan, dalam arah memanjang. Pada bagian yang
ber”superelevasi”, penggilasan harus dimulai dari bagian yang rendah dan
bergerak sedikit demi sedikit ke bagian yang lebih tinggi. Operasi penggilasan

5-6
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

harus dilanjutkan sampai seluruh bekas roda mesin gilas hilang dan lapis
tersebut terpadatkan secara merata.

e) Bahan sepanjang kerb, tembok, dan tempat-tempat yang tak terjangkau mesin
gilas harus dipadatkan dengan timbris mekanis atau alat pemadat lainnya yang
disetujui.

4) Pengujian

a) Jumlah data pendukung pengujian bahan yang diperlukan untuk persetujuan


awal harus seperti yang diperintahkan Direksi Pekerjaan, namun harus
mencakup seluruh jenis pengujian yang disyaratkan dalam Pasal 5.1.2.(5)
minimum pada tiga contoh yang mewakili sumber bahan yang diusulkan,
yang dipilih untuk mewakili rentang mutu bahan yang mungkin terdapat pada
sumber bahan tersebut.

b) Setelah persetujuan mutu bahan Lapis Pondasi Agregat yang diusulkan,


seluruh jenis pengujian bahan harus diulangi lagi, bila menurut pendapat
Direksi Pekerjaan, terdapat perubahan mutu bahan atau metode produksinya.

c) Suatu program pengujian rutin pengendalian mutu bahan harus dilaksanakan


untuk mengendalikan ketidakseragaman bahan yang dibawa ke lokasi peker-
jaan. Pengujian lebih lanjut harus seperti yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan tetapi untuk setiap 1000 meter kubik bahan yang diproduksi paling
sedikit harus meliputi tidak kurang dari lima (5) pengujian indeks plastisitas,
lima (5) pengujian gradasi partikel, dan satu (1) penentuan kepadatan kering
maksimum menggunakan SNI 1743 : 2008, metode D. Pengujian CBR harus
dilakukan dari waktu ke waktu sebagaimana diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan.

d) Kepadatan dan kadar air bahan yang dipadatkan harus secara rutin diperiksa,
mengunakan SNI 2827 : 2008. Pengujian harus dilakukan sampai seluruh
kedalaman lapis tersebut pada lokasi yang ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan,
tetapi tidak boleh berselang lebih dari 200 m.

5.1.4 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Pengukuran untuk Pembayaran

a) Lapis Pondasi Agregat harus diukur sebagai jumlah meter kubik dari bahan
yang sudah dipadatkan, lengkap di tempat dan diterima. Volume yang diukur
harus didasarkan atas penampang melintang yang ditunjukkan pada Gambar
bila tebal yang diperlukan merata, dan pada penampang melintang yang
disetujui Direksi Pekerjaan bila tebal yang diperlukan tidak merata, dan
panjangnya diukur secara mendatar sepanjang sumbu jalan.

b) Pekerjaan penyiapan dan pemeliharaan tanah dasar yang baru atau


perkerasan lama dan bahu jalan lama dimana Lapis Pondasi Agregat akan
dihampar tidak diukur atau dibayar menurut Seksi ini, tetapi harus dibayar
terpisah dari harga penawaran yang sesuai untuk Penyiapan Badan Jalan dan
Pengembalian Kondisi Perkerasan Lama atau Bahu Jalan yang ada menurut
Seksi 3.3, 8.1 dan 8.2 dari Spesifikasi ini.

5-7
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

2) Pengukuran dari Pekerjaan Yang Diperbaiki

Bilamana perbaikan dari Lapis Pondasi Agregat yang tidak memenuhi ketentuan telah
diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan sesuai dengan Pasal 5.1.1.(7), kuantitas yang
akan diukur untuk pembayaran haruslah kuantitas yang akan dibayar seandainya
pekerjaan semula telah diterima. Tidak ada pembayaran tambahan yang dilakukan
untuk pekerjaan tambahan tersebut atau juga kuantitas yang diperlukan untuk
pekerjaan perbaikan tersebut.

Bila penyesuaian kadar air telah diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan sebelum
pemadatan, tidak ada pembayaran tambahan yang dilakukan untuk penambahan air
atau pengeringan bahan atau untuk pekerjaan lainya yang diperlukan untuk
mendapatkan kadar air yang memenuhi ketentuan.

3) Dasar Pembayaran

Kuantitas yang ditentukan, sebagaimana diuraikan di atas, harus dibayar pada Harga
Satuan Kontrak per satuan pengukuran untuk masingmasing Mata Pembayaran yang
terdaftar di bawah ini dan termasuk dalam Daftar Kuantitas dan Harga, yang harga serta
pembayarannya harus merupakan kompensasi penuh untuk pengadaan, pemasokan,
pemadatan, penyelesaian akhir dan pengujian bahan, pemeliharan permukaan akibat
dilewati oleh lalu lintas, dan semua biaya lain-lain yang diperlukan atau lazim untuk
penyelesaian yang sebagaimana mestinya dari pekerjaan yang diuraikan dalam Seksi ini.

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran

5.1.(1) Lapis Pondasi Agregat Kelas A Meter Kubik

5.1.(2) Lapis Pondasi Agregat Kelas B Meter Kubik


SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

DIVISI 6

PERKERASAN ASPAL

SEKSI 6.1

LAPIS RESAP PENGIKAT DAN LAPIS PEREKAT

6.1.1 UMUM

1) Uraian

Pekerjaan ini harus mencakup penyediaan dan penghamparan bahan aspal pada
permukaan yang telah disiapkan sebelumnya untuk pemasangan lapisan beraspal
berikutnya. Lapis Resap Pengikat harus dihampar diatas permukaan pondasi tanpa
bahan pengikat Lapis Pondasi Agregat, sedangkan Lapis Perekat harus dihampar di
atas permukaan berbahan pengikat (seperti : Lapis Penetrasi Macadam, Laston,
Lataston dan diatas Semen Tanah, RCC, CTB, Perkerasan Beton, dll).

2) Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini

a) Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas : Seksi 1.8


b) Kajian Teknis Lapangan : Seksi 1.9
c) Bahan dan Penyimpanan : Seksi 1.11
d) Pengamanan Lingkungan Hidup : Seksi 1.17
e) Keselamatan dan Kesehatan Kerja : Seksi 1.19
f) Pelebaran Perkerasan : Seksi 4.1
g) Bahu Jalan : Seksi 4.2
h) Lapis Pondasi Agregat : Seksi 5.1
i) Lapis Pondasi Semen Tanah : Seksi 5.4
j) Campuran Aspal Panas : Seksi 6.3
k) Campuran Aspal Dingin : Seksi 6.5
l) Pengembalian Kondisi Perkerasan Lama : Seksi 8.1
m) Pengembalian Kondisi Bahu Jalan Lama pada Jalan Ber- : Seksi 8.2
penutup Aspal

3) Standar Rujukan

Standar Nasional Indone sia (SNI) :


SNI 03-3642-1994 : Metode Pengujian Kadar Residu Aspal Emulsi dengan
Penyulingan.
SNI 03-3643-1994 : Aspal Emulsi Tertahan Saringan No.20
SNI 03-3644-1994 : Metode Pengujian Jenis Muatan Partikel Aspal Emulsi
SNI 03-6721-2002 : Metode Pengujian Kekentalan Aspal Cair dan Aspal
Emulsi dengan Alat Saybolt
RSNI M-04-2004 : Cara Uji Kelarutan Aspal
SNI 4799 : 2008 : Spesifikasi Aspal Cair Tipe Penguapan Sedang
SNI 2432:2011 : Cara Uji Daktilitas Aspal
SNI 2434:2011 : Cara Uji Titik Lembek Aspal dengan Alat Cincin dan Bola
(Ring and Ball)
SNI 2488:2011 : Cara Uji Penetrasi Aspal
SNI 4798 : 2011 : Spesifikasi Aspal Emulsi Kationik
SNI 6832:2011 : Spesifikasi Aspal Emulsi Anionik

6-1
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

AASHTO :
AASHTO M20-70 (2004) : Penetration Graded Asphalt Cement
AASHTO T59-01 (2005) : Testing Emulsified Asphalts

British Standards :
BS 3403 : Industrial Tachometers

4) Kondisi Cuaca Yang Diijinkan Untuk Bekerja

Lapisan Resap Pengikat harus disemprot hanya pada permukaan yang kering atau
mendekati kering, dan Lapis Perekat harus disemprot hanya pada permukaan yang
benar-benar kering. Penyemprotan Lapis Resap Pengikat atau Lapis Perekat tidak
boleh dilaksanakan waktu angin kencang, hujan atau akan turun hujan.

5) Mutu Pekerjaan dan Perbaikan dari Pekerjaan Yang Tidak Memenuhi Ketentuan

Lapisan yang telah selesai harus menutup keseluruhan permukaan yang dilapisi dan
tampak merata, tanpa adanya bagian-bagian yang beralur atau kelebihan aspal.

Untuk Lapis Perekat, harus melekat dengan cukup kuat di atas permukaan yang
disemprot. Untuk penampilan yang kelihatan berbintik-bintik, sebagai akibat dari
bahan aspal yang didistribusikan sebagai butir-butir tersendiri dapat diterima asalkan
penampilannya kelihatan rata dan keseluruhan takaran pemakaiannya memenuhi
ketentuan.

Untuk Lapis Resap Pengikat, setelah proses pengeringan, bahan aspal harus sudah
meresap ke dalam lapis pondasi, meninggalkan sebagian bahan aspal yang dapat
ditunjukkan dengan permukaan berwarna hitam yang merata dan tidak berongga
(porous). Tekstur untuk permukaan lapis pondasi agregat harus rapi dan tidak boleh
ada genangan atau lapisan tipis aspal atau aspal tercampur agregat halus yang cukup
tebal sehingga mudah dikupas dengan pisau.

Perbaikan dari Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat yang tidak memenuhi
ketentuan harus seperti yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, termasuk
pembuangan bahan yang berlebihan, penggunaan bahan penyerap (blotter material),
atau penyemprotan tambahan seperlunya. Setiap kerusakan kecil pada Lapis Resap
Pengikat harus segera diperbaiki menurut Seksi 8.1 dan Seksi 8.2 dari Spesifikasi
ini. Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan agar lubang yang besar atau kerusakan
lain yang terjadi dibongkar dan dipadatkan kembali atau penggantian lapisan
pondasi diikuti oleh pengerjaan kembali Lapis Resap Pengikat.

6) Pengajuan Kesiapan Kerja

Penyedia Jasa harus mengajukan hal-hal berikut ini kepada Direksi Pekerjaan :

a) Lima liter contoh dari setiap bahan aspal yang diusulkan oleh Penyedia Jasa
untuk digunakan dalam pekerjaaan dilengkapi sertifikat dari pabrik
pembuat-nya dan hasil pengujian seperti yang disyaratkan dalam Pasal
1.11.1.(3).(c), diserahkan sebelum pelaksanaan dimulai. Sertifikat tersebut
harus menjelas-kan bahwa bahan aspal tersebut memenuhi ketentuan dari
Spesifikasi dan jenis yang sesuai untuk bahan Lapis Resap Pengikat atau
Lapis Perekat, seperti yang ditentukan pada Pasal 6.1.2 dari Spesifikasi ini.

6-2
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

b) Catatan kalibrasi dari semua instrumen dan meteran pengukur dan tongkat
celup ukur untuk distributor aspal, seperti diuraikan dalam Pasal 6.1.3.(3)
dan 6.1.3.(4) dari Spesifikasi ini, yang harus diserahkan paling lambat 30
hari sebelum pelaksanaan dimulai. Tongkat celup ukur, alat instrumen dan
meteran pengukur harus dikalibrasi sampai memenuhi akurasi, toleransi
ketelitian dan ketentuan seperti diuraikan dalam Pasal 6.1.3.(4) dari
Spesifikasi ini dan tanggal pelaksanaan kalibrasi harus tidak melebihi satu
tahun sebelum pelaksanaan dimulai.

c) Grafik penyemprotan harus memenuhi ketentuan Pasal 6.1.3.(5) dari


Spesifikasi ini dan diserahkan sebelum pelaksanaan dimulai.

d) Contoh-contoh bahan yang dipakai pada setiap hari kerja harus dilaksanakan
sesuai dengan Pasal 6.1.6 dari Spesifikasi ini. Laporan harian untuk
pekerjaan pelaburan yang telah dilakukan dan takaran pemakaian bahan
harus memenuhi ketentuan Pasal 6.1.6 dari Spesifikasi ini.

7) Kondisi Tempat Kerja

a) Pekerjaan harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga masih


memungkinkan lalu lintas satu lajur tanpa merusak pekerjaan yang sedang
dilaksanakan dan hanya menimbulkan gangguan yang minimal bagi lalu
lintas.

b) Bangunan-bangunan dan benda-benda lain di samping tempat kerja


(struktur, pepohonan dll.) harus dilindungi agar tidak menjadi kotor karena
percikan aspal.

c) Bahan aspal tidak boleh dibuang sembarangan kecuali ke tempat yang


disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

d) Penyedia Jasa harus melengkapi tempat pemanasan dengan fasilitas


pencegahan dan pengendalian kebakaran yang memadai, juga pengadaan
dan sarana pertolongan pertama.

8) Pengendalian Lalu Lintas

a) Pengendalian lalu lintas harus memenuhi ketentuan Seksi 1.8, Manajemen


dan Keselamatan Lalu Lintas dan Pasal 6.1.5 dari Spesifikasi ini.

b) Penyedia Jasa harus bertanggung jawab terhadap dampak yang terjadi bila
lalu lintas yang dijinkan lewat di atas Lapis Resap Pengikat atau Lapis
Perekat yang baru dikerjakan,.

6.1.2 BAHAN

1) Bahan Lapis Resap Pegikat

a) Bahan aspal untuk Lapis Resap Pengikat haruslah salah satu dari berikut ini:

i) Aspal emulsi reaksi sedang (medium setting) atau reaksi lambat


(slow setting) yang memenuhi SNI 03-4798-1998. Umumnya hanya
aspal emulsi yang dapat menunjukkan peresapan yang baik pada

6-3
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

lapis pondasi tanpa pengikat yang disetujui. Aspal emulsi harus


mengandung residu hasil penyulingan minyak bumi (aspal dan
pelarut) tidak kurang dari 60 % dan mempunyai penetrasi aspal
tidak kurang dari 80/100. Direksi Pekerjaan dapat mengijinkan
penggunaan aspal emulsi yang diencerkan dengan perbandingan 1
bagian air bersih dan 1 bagian aspal emulsi dengan syarat tersedia
alat pengaduk mekanik yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

ii) Aspal semen Pen.80/100 atau Pen.60/70, memenuhi AASHTO


M20, diencerkan dengan minyak tanah (kerosen). Proporsi minyak
tanah yang digunakan sebagaimana diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan, setelah percobaan di atas lapis pondasi atas yang telah
selesai sesuai dengan Pasal 6.1.4.(2). Kecuali diperintah lain oleh
Direksi Pekerjaan, perbandingan pemakaian minyak tanah pada
percobaan pertama harus dari 80 – 85 bagian minyak per 100 bagian
aspal semen (80 pph – 85 pph) kurang lebih ekivalen dengan
viskositas aspal cair hasil kilang jenis MC-30).

b) Pemilihan jenis aspal emulsi yang digunakan, kationik atau anionik, harus
sesuai dengan muatan batuan lapis pondasi. Gunakan aspal emulsi kationik
bila agregat untuk lapis pondasi adalah agregat basa (bermuatan negatif) dan
gunakan aspal emulsi anionik bila agregat untuk lapis pondasi adalah
agregat asam (bermuatan positif). Bila ada keraguan atau bila bila aspal
emulsi anionik sulit didapatkan, Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan
untuk menggunakan aspal emulsi kationik.

c) Bilamana lalu lintas diijinkan lewat di atas Lapis Resap Pengikat maka
harus digunakan bahan penyerap (blotter material) dari hasil pengayakan
kerikil atau batu pecah, terbebas dari butiran-butiran berminyak atau lunak,
bahan kohesif atau bahan organik. Tidak kurang dari 98 persen harus lolos
ayakan ASTM 3/8” (9,5 mm) dan tidak lebih dari 2 persen harus lolos
ayakan ASTM No.8 (2,36 mm).

2) Bahan Lapis Perekat

a) Aspal emulsi reaksi cepat (rapid setting) yang memenuhi ketentuan SNI 03-
6932-2002 atau SNI 03-4798-1998. Direksi Pekerjaan dapat mengijinkan
penggunaan aspal emulsi yang diencerkan dengan perbandingan 1 bagian air
bersih dan 1 bagian aspal emulsi dengan syarat tersedia alat pengaduk
mekanik yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan..

b) Aspal semen Pen.60/70 atau Pen.80/100 yang memenuhi ketentuan


AASHTO M20, diencerkan dengan 25 - 30 bagian minyak tanah per 100
bagian aspal (25 pph – 30 pph).

c) Aspal emulsi modifikasi reaksi cepat (rapid setting) harus bahan styrene
butadiene rubber latex atau polycholoprene latex sesuai dengan AASHTO
M316-99 (2003) Tabel 1 CRS-2L dengan kandungan karet kering minimum
60%. Kadar bahan modifikasi (polymer padat) dalam aspal emulsi haruslah
min 2,5% terhadap berat residu aspal. Dalam kondisi apapun, aspal emulsi
modifikasi tidak boleh diencerkan di lapangan. Aspal emulsi modifikasi
reaksi cepat (rapid setting, CRS-1) yang digunakan harus memenuhi Tabel
6.1.2.(1).

6-4
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Tabel 6.1.2.(1). Persyaratan Aspal Emulsi Modifikasi untuk Tack Coat

No Sifat Standar Satuan Batasan

Pengujian pada Aspal Emulsi


1 Viskositas Saybolt Furol pada 50oC SNI 03-6721-2002 Detik 100 - 400
2 Stabilitas Penyimpanan dalam 24 jam AASHTO T59-01(2005) % berat Maks. 1
3 Tertahan saringan No. 20 SNI 03-3643-1994 % berat Maks. 0,1
4 Muatan ion SNI 03-3644-1994 - Positif
5 Kemampuan mengemulsi kembali AASHTO T59-01(2005) % berat Min.40
6 Kadar residu dengan destilasi SNI 03-3642-1994 % berat Min.65

Pengujian pada Residu Hasil Penguapan


7 Penetrasi SNI 06-2456-1991 0,1 mm 100 - 175
8 Daktilitas 4°C, 5 cm/menit SNI 06-2432-1991 cm Min.30
9 Daktilitas 25°C, 5 cm/menit SNI 06-2432-1991 cm Min.125
10 Kelarutan dalam Tricloroethylene AASHTO T44-03 % berat Min.97,5*
Catatan :
* : Jika kelarutan residu kurang dari 97,5%, aspal pengikat dasar untuk emulsi yang harus diuji.
Kelarutan aspal pengikat dasar harus lebih besar dari 99%.

d) Bila lapis perekat dipasang di atas lapis beraspal atau berbahan pengikat
aspal, gunakan aspal emulsi kationik. Bila lapis perekat dipasang di atas
perkerasan beton atau berbahan pengikat semen, gunakan aspal emulsi
anionik. Bila ada keraguan atau bila bila aspal emulsi anionik sulit
didapatkan, Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan untuk menggunakan
aspal emulsi kationik.

6.1.3 PERALATAN

1) Ketentuan Umum

Penyedia Jasa harus melengkapi peralatannya terdiri dari penyapu mekanis dan atau
kompresor, distributor aspal, peralatan untuk memanaskan bahan aspal dan peralatan
yang sesuai untuk menyebarkan kelebihan bahan aspal.

2) Distributor Aspal - Batang Semprot

a) Distributor aspal harus berupa kendaraan beroda ban angin yang bermesin
penggerak sendiri, memenuhi peraturan keamanan jalan. Bilamana dimuati
penuh maka tekanan ban pada pengoperasian dengan kecepatan penuh tidak
boleh melampaui tekanan yang direkomendasi pabrik pembuatnya.

b) Alat penyemprot, harus dirancang, diperlengkapi, dipelihara dan


dioperasikan sedemikian rupa sehingga bahan aspal dengan panas yang
sudah merata dapat disemprotkan secara merata dengan berbagai variasi
lebar permukaan, pada takaran yang ditentukan dalam rentang 0,15 sampai
2,4 liter per meter persegi.

c) Distributor aspal harus dilengkapi dengan batang semprot sehingga dapat


mensirkulasikan aspal secara penuh yang dapat diatur ke arah horisontal dan
vertikal. Batang semprot harus terpasang dengan jumlah minimum 24 nosel,
dipasang pada jarak yang sama yaitu 10 ± 1 cm. Distributor aspal juga harus
dilengkapi pipa semprot tangan.

6-5
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

3) Perlengkapan

Perlengkapan distributor aspal harus meliputi sebuah tachometer (pengukur


kecepatan putaran), meteran tekanan, tongkat celup yang telah dikalibrasi, sebuah
termometer untuk mengukur temperatur isi tangki, dan peralatan untuk mengukur
kecepatan lambat. Seluruh perlengkapan pengukur pada distributor harus dikalibrasi
untuk memenuhi toleransi yang ditentukan dalam Pasal 6.1.3.(4) dari Spesifikasi ini.
Selanjutnya catatan kalibrasi yang teliti dan memenuhi ketentuan tersebut harus
diserahkan kepada Direksi Pekerjaan.

4) Toleransi Peralatan Distributor Aspal

Toleransi ketelitian dan ketentuan jarum baca yang dipasang pada distributor aspal
dengan batang semprot harus memenuhi ketentuan berikut ini :

Ketentuan dan Toleransi Yang Dijinkan


Tachometer pengukur : ± 1,5 persen dari skala putaran penuh sesuai ketentuan
kecepatan kendaraan BS 3403

Tachometer pengukur : ± 1,5 persen dari skala putaran penuh sesuai ketentuan
kecepatan putaran pompa BS 3403

Pengukur suhu : ± 5 ºC, rentang 0 - 250 ºC, minimum garis tengah


arloji 70 mm
Pengukur volume atau : ± 2 persen dari total volume tangki, nilai maksimum
tongkat celup garis skala Tongkat Celup 50 liter.

5) Grafik Penyemprotan dan Buku Petunjuk Pelaksanaaan

Distributor aspal harus dilengkapi dengan Grafik Penyemprotan dan Buku Petunjuk
Pelaksanaan yang harus disertakan pada alat semprot, dalam keadaan baik, setiap
saat.

Buku petunjuk pelaksanaan harus menunjukkan diagram aliran pipa dan semua
petunjuk untuk cara kerja alat distributor.

Grafik Penyemprotan harus memperlihatkan hubungan antara kecepatan dan jumlah


takaran pemakaian aspal yang digunakan serta hubungan antara kecepatan pompa
dan jumlah nosel yang digunakan, berdasarkan pada keluaran aspal dari nosel.
Keluaran aspal pada nosel (liter per menit) dalam keadaan konstan, beserta tekanan
penyemprotanya harus diplot pada grafik penyemprotan.

Grafik Penyemprotan juga harus memperlihatkan tinggi batang semprot dari


permukaan jalan dan kedudukan sudut horisontal dari nosel semprot, untuk
menjamin adanya tumpang tindih (overlap) semprotan yang keluar dari tiga nosel
(yaitu setiap lebar permukaan disemprot oleh semburan tiga nosel).

6) Kinerja Distributor Aspal

a) Penyedia Jasa harus menyiapkan distributor lengkap dengan perlengkapan


dan operatornya untuk pengujian lapangan dan harus menyediakan tenaga-

6-6
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

tenaga pembantu yang dibutuhkan untuk tujuan tersebut sesuai perintah


Direksi Pekerjaan. Setiap distributor yang menurut pendapat Direksi
Pekerjaan kinerjanya tidak dapat diterima bila dioperasikan sesuai dengan
Grafik Takaran Penyemprotan dan Buku Petunjuk Pelaksanaan atau tidak
memenuhi ketentuan dalam Spesifikasi dalam segala seginya, maka
peralatan tersebut tidak diperkenankan untuk dioperasikan dalam pekerjaan.
Setiap modifikasi atau penggantian distributor aspal harus diuji terlebih
dahulu sebelum digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan.

b) Penyemprotan dalam arah melintang dari takaran pemakaian aspal yang


dihasilkan oleh distributor aspal harus diuji dengan cara melintaskan batang
semprot di atas bidang pengujian selebar 25 cm x 25 cm yang terbuat dari
lembaran resap yang bagian bawahnya kedap, yang beratnya harus
ditimbang sebelum dan sesudah disemprot. Perbedaan berat harus dipakai
dalam menentukan takaran aktual pada tiap lembar dan perbedaan tiap
lembar terhadap takaran rata-rata yang diukur melintang pada lebar penuh
yang telah disemprot tidak boleh melampaui 15 persen takaran rata-rata.

c) Ketelitian yang dapat dicapai distributor aspal terhadap suatu takaran


sasaran pemakaian alat semprot harus diuji dengan cara yang sama dengan
pengujian distribusi melintang pada butir (b) di atas. Lintasan penyemprotan
minimum sepanjang 200 meter harus dilaksanakan dan kendaraan harus
dijalankan dengan kecepatan tetap sehingga dapat mencapai takaran sasaran
pemakaian yang telah ditentukan lebih dahulu oleh Direksi Pekerjaan.
Dengan minimum 5 penampang melintang yang berjarak sama harus
dipasang 3 kertas resap yang berjarak sama, kertas tidak boleh dipasang
dalam jarak kurang dari 0,5 meter dari tepi bidang yang disemprot atau
dalam jarak 10 m dari titik awal penyemprotan. Takaran pemakaian, yang
diambil sebagai harga rata-rata dari semua kertas resap tidak boleh berbeda
lebih dari 5 persen dari takaran sasaran. Sebagai alternatif, takaran
pemakaian rata-rata dapat dihitung dari pembacaan tongkat ukur yang telah
dikalibrasi, seperti yang ditentukan dalam Pasal 6.1.4.(3).(g) dari Spesifikasi
ini. Untuk tujuan pengujian ini minimum 70 persen dari kapasitas distributor
aspal harus disemprotkan.

7) Peralatan Penyemprot Aspal Tangan (Hand Sprayer)

Bilamana diijinkan oleh Direksi Pekerjaan maka penggunaan perlatan penyemprot


aspal tangan dapat dipakai sebagai pengganti distributor aspal.

Perlengkapan utama peralatan penyemprot aspal tangan harus selalu dijaga dalam
kondisi baik, terdiri dari :

a) Tangki aspal dengan alat pemanas;

b) Pompa yang memberikan tekanan ke dalam tangki aspal sehingga aspal


dapat tersemprot keluar;

c) Batang semprot yang dilengkapi dengan lubang pengatur keluarnya aspal


(nosel).

Agar diperoleh hasil penyemprotan yang merata maka Penyedia Jasa harus
menyediakan tenaga operator yang terampil dan diuji coba dahulu kemampuannya
sebelum disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

6-7
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

6.1.4 PELAKSANAAN PEKERJAAN

1) Penyiapan Permukaan Yang Akan Disemprot Aspal

a) Apabila pekerjaan Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat akan


dilaksanakan pada permukaan perkerasan jalan yang ada atau bahu jalan
yang ada, semua kerusakan perkerasan maupun bahu jalan harus diperbaiki
menurut Seksi 8.1 dan Seksi 8.2 dari Spesifikasi ini.

b) Apabila pekerjaan Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat akan


dilaksanakan pada perkerasan jalan baru atau bahu jalan baru, perkerasan
atau bahu itu harus telah selesai dikerjakan sepenuhnya, menurut Seksi 4.1,
4.2, 5.1, 5.4, 6.3, 6.4, atau 6.6 dari Spesifikasi ini yang sesuai dengan lokasi
dan jenis permukaan yang baru tersebut.

c) Untuk lapis resap pengikat, jenis aspal emulsi yang digunakan harus
mengacu pada Pasal 6.1.2.(1). dan Untuk lapis perekat, jenis aspal emulsi
yang digunakan harus mengacu pada Pasal 6.1.2.(2).

d) Permukaan yang akan disemprot itu harus dipelihara menurut standar butir
(a) dan butir (b) di atas sebelum pekerjaan pelaburan dilaksanakan.

e) Sebelum penyemprotan aspal dimulai, permukaan harus dibersihkan dengan


memakai sikat mekanis atau kompresor atau kombinasi keduanya.
Bilamana peralatan ini belum dapat memberikan permukaan yang benar-
benar bersih, penyapuan tambahan harus dikerjakan manual dengan sikat
yang kaku.

f) Pembersihan harus dilaksanakan melebihi 20 cm dari tepi bidang yang akan


disemprot.

g) Tonjolan yang disebabkan oleh benda-benda asing lainnya harus


disingkirkan dari permukaan dengan memakai penggaru baja atau dengan
cara lainnya yang telah disetujui atau sesuai dengan perintah Direksi
Pekerjaan dan bagian yang telah digaru tersebut harus dicuci dengan air dan
disapu.

h) Untuk pelaksanaan Lapis Resap Pengikat di atas Lapis Pondasi Agregat


Kelas A, permukaan akhir yang telah disapu harus rata, rapat, bermosaik
agregat kasar dan halus, permukaan yang hanya mengandung agregat halus
tidak akan diterima.

i) Pekerjaan penyemprotan aspal tidak boleh dimulai sebelum perkerasan telah


disiapkan dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan.

2) Takaran dan Temperatur Pemakaian Bahan Aspal

a) Penyedia Jasa harus melakukan percobaan lapangan di bawah pengawasan


Direksi Pekerjaan untuk mendapatkan tingkat takaran yang tepat (liter per
meter persegi) dan percobaan tersebut akan diulangi, sebagaimana diperin-
tahkan oleh Direksi Pekerjaan, bila jenis dari permukaan yang akan
disemprot atau jenis dari bahan aspal berubah. Biasanya takaran pemakaian
yang didapatkan akan berada dalam batas-batas sebagai berikut :

6-8
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Lapis Resap Pengikat : 0,4 sampai 1,3 liter per meter persegi untuk Lapis
Pondasi Agregat tanpa bahan pengikat

Lapis Perekat : Sesuai dengan jenis permukaan yang akan mene-


rima pelaburan dan jenis bahan aspal yang akan
dipakai. Lihat Tabel 6.1.4.(1) untuk jenis takaran
pemakaian lapis aspal.

b) Temperatur penyemprotan harus sesuai dengan Tabel 6.1.4.(1), kecuali


diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan. Temperatur penyemprotan untuk
aspal cair yang kandungan minyak tanahnya berbeda dari yang ditentukan
dalam daftar ini, temperaturnya dapat diperoleh dengan cara interpolasi.

Tabel 6.1.4.(1) Takaran Pemakaian Lapis Perekat

Takaran (liter per meter persegi) pada


Jenis Aspal Permukaan Baru Permukan Permukaan
atau Aspal atau Porous dan Berbahan
Beton Lama Terekpos Pengikat
Yang Licin Cuaca Semen
Aspal Cair 0,15 0,15 - 0,35 0,2 – 1,0
Aspal Emulsi 0,20 0,20 - 0,50 0,2 – 1,0
Aspal Emulsi yang 0,40 0,40 - 1,00 0,4 – 2,0
diencerkan (1:1)
Aspal Emulsi 0,20 0,20 - 0,50 0,2 – 1,0
Modifikasi

Tabel 6.1.4.(2) Temperatur Penyemprotan

Jenis Aspal Rentang Suhu Penyemprotan


Aspal cair, 25-30 pph minyak tanah 110 ± 10 ºC
Aspal cair, 80-85 pph minyak tanah 45 ± 10 ºC
(MC-30)
Aspal emulsi, emulsi modifikasi atau Tidak dipanaskan
aspal emulsi yang diencerkan

c) Frekuensi pemanasan yang berlebihan atau pemanasan yang berulang-ulang


pada temperatur tinggi haruslah dihindari. Setiap bahan yang menurut
pendapat Direksi Pekerjaan, telah rusak akibat pemanasan berlebihan harus
ditolak dan harus diganti atas biaya Penyedia Jasa.

3) Pelaksanaan Penyemprotan

a) Batas permukaan yang akan disemprot oleh setiap lintasan penyemprotan


harus diukur dan ditandai. Khususnya untuk Lapis Resap Pengikat, batas-
batas lokasi yang disemprot harus ditandai dengan cat atau benang.

b) Agar bahan aspal dapat merata pada setiap titik maka bahan aspal harus
disemprotkan dengan batang penyemprot dengan kadar aspal yang
diperintahkan, kecuali jika penyemprotan dengan distributor tidaklah praktis
untuk lokasi yang sempit, Direksi Pekerjaan dapat menyetujui pemakaian
penyemprot aspal tangan (hand sprayer).

6-9
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Alat penyemprot aspal harus dioperasikan sesuai grafik penyemprotan yang


telah disetujui. Kecepatan pompa, kecepatan kendaraan, ketinggian batang
semprot dan penempatan nosel harus disetel sesuai ketentuan grafik tersebut
sebelum dan selama pelaksanaan penyemprotan.

c) Bila diperintahkan, bahwa lintasan penyemprotan bahan aspal harus satu


lajur atau setengah lebar jalan dan harus ada bagian yang tumpang tindih
(overlap) selebar 20 cm sepanjang sisi-sisi lajur yang bersebelahan.
Sambungan memanjang selebar 20 cm ini harus dibiarkan terbuka dan tidak
boleh ditutup oleh lapisan berikutnya sampai lintasan penyemprotan di lajur
yang bersebelahan telah selesai dilaksanakan. Demikian pula lebar yang
telah disemprot harus lebih besar dari pada lebar yang ditetapkan, hal ini
dimaksudkan agar tepi permukaan yang ditetapkan tetap mendapat
semprotan dari tiga nosel, sama seperti permukaan yang lain.

d) Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi dengan bahan yang
cukup kedap. Penyemprotan harus dimulai dan dihentikan sampai seluruh
batas bahan pelindung tersemprot, dengan demikian seluruh nosel bekerja
dengan benar pada sepanjang bidang jalan yang akan disemprot.

Distributor aspal harus mulai bergerak kira-kira 5 meter sebelum daerah


yang akan disemprot dengan demikian kecepatan lajunya dapat dijaga
konstan sesuai ketentuan, agar batang semprot mencapai bahan pelindung
tersebut dan kecepatan ini harus tetap dipertahankan sampai melalui titik
akhir.

e) Sisa aspal dalam tangki distributor harus dijaga tidak boleh kurang dari 10
persen dari kapasitas tangki untuk mencegah udara yang terperangkap
(masuk angin) dalam sistem penyemprotan.

f) Jumlah pemakaian bahan aspal pada setiap kali lintasan penyemprotan harus
segera diukur dari volume sisa dalam tangki dengan meteran tongkat celup.

g) Takaran pemakaian rata-rata bahan aspal pada setiap lintasan penyemprotan,


harus dihitung sebagai volume bahan aspal yang telah dipakai dibagi luas
bidang yang disemprot. Luas lintasan penyemprotan didefinisikan sebagai
hasil kali panjang lintasan penyemprotan dengan jumlah nosel yang
digunakan dan jarak antara nosel. Takaran pemakaian rata-rata yang dicapai
harus sesuai dengan yang diperintahkan Direksi Pekerjaan menurut Pasal
6.1.4.(2).(a) dari Spesifikasi ini, dalam toleransi berikut ini :
Toleransi 1 % dari volume tangki
takaran = + (4 % dari takaran yg diperintahkan + ---------------------------- )
pemakaian Luas yang disemprot

Takaran pemakaian yang dicapai harus telah dihitung sebelum lintasan


penyemprotan berikutnya dilaksanakan dan bila perlu diadakan penyesuaian
untuk penyemprotan berikutnya .

h) Penyemprotan harus segera dihentikan jika ternyata ada ketidaksempurnaan


peralatan semprot pada saat beroperasi.

i) Setelah pelaksanaan penyemprotan, khususnya untuk Lapis Perekat, bahan


aspal yang berlebihan dan tergenang di atas permukaan yang telah disemprot

6 - 10
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

harus diratakan dengan menggunakan alat pemadat roda karet, sikat ijuk
atau alat penyapu dari karet.

j) Tempat-tempat yang disemprot dengan Lapis Resap Pengikat yang menun-


jukkan adanya bahan aspal berlebihan harus ditutup dengan bahan penyerap
(blotter material) yang memenuhi Pasal 6.1.2.(1).(b) dari Spesifikasi ini
sebelum penghamparan lapis berikutnya. Bahan penyerap (blotter material)
hanya boleh dihampar 4 jam setelah penyemprotan Lapis Resap Pengikat.

k) Tempat-tempat bekas kertas resap untuk pengujian kadar bahan aspal harus
dilabur kembali dengan bahan aspal yang sejenis secara manual dengan
kadar yang hampir sama dengan kadar di sekitarnya.

6.1.5 PEMELIHARAAN DAN PEMBUKAAN BAGI LALU LINTAS

1) Pemeliharaan Lapis Resap Pengikat

a) Penyedia Jasa harus tetap memelihara permukaan yang telah diberi Lapis
Resap Pengikat atau Lapis Perekat sesuai standar yang ditetapkan dalam
Pasal 6.1.1.(5) dari Spesifikasi ini sampai lapisan berikutnya dihampar.
Lapisan berikutnya hanya dapat dihampar setelah bahan resap pengikat telah
meresap sepenuhnya ke dalam lapis pondasi dan telah mengeras dalam
waktu paling sedikit 48 jam setelah penyemprotan atau sebagaimana yang
diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

Untuk Lapis Resap Pengikat yang akan dilapisi Burtu atau Burda, waktu
penundaan harus sebagaimana yang diperintahkan Direksi Pekerjaan
minimum dua hari dan tak boleh lebih dari empat belas hari, tergantung dari
lalu lintas, cuaca, bahan aspal dan bahan lapis pondasi yang digunakan.

b) Lalu lintas tidak diijinkan lewat sampai bahan aspal telah meresap dan
mengering serta tidak akan terkelupas akibat dilewati roda lalu lintas. Dalam
keadaan khusus, lalu lintas dapat diijinkan lewat sebelum waktu tersebut,
tetapi tidak boleh kurang dari empat jam setelah penghamparan Lapis Resap
Pengikat tersebut. Agregat penutup (blotter material) yang bersih, yang
sesuai dengan ketentuan Pasal 6.1.2.(1).(b) dari Spesifikasi ini harus
dihampar sebelum lalu lintas diijinkan lewat. Agregat penutup harus
disebar dari truk sedemikian rupa sehingga roda tidak melindas bahan aspal
yang belum tertutup agregat. Bila penghamparan agregat penutup pada lajur
yang sedang dikerjakan yang bersebelahan dengan lajur yang belum
dikerjakan, sebuah alur (strip) yang lebarnya paling sedikit 20 cm sepanjang
tepi sambungan harus dibiarkan tanpa tertutup agregat, atau jika sampai
tertutup harus dibuat tidak tertutup agregat bila lajur kedua sedang
dipersiapkan untuk ditangani, agar memungkinkan tumpang tindih (overlap)
bahan aspal sesuai dengan Pasal 6.1.4.(3).(d) dari Spesifikasi ini. Pemakaian
agregat penutup harus dilaksanakan seminimum mungkin.

2) Pemeliharaan dari Lapis Perekat

Lapis Perekat harus disemprotkan hanya sebentar sebelum penghamparan lapis


aspal berikut di atasnya untuk memperoleh kondisi kelengketan yang tepat.
Pelapisan lapisan beraspal berikut tersebut harus dihampar sebelum lapis aspal
hilang kelengketannya melalui pengeringan yang berlebihan, oksidasi, debu yang
tertiup atau lainnya. Sewaktu lapis aspal dalam keadaan tidak tertutup, Penyedia Jasa

6 - 11
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

harus melindunginya dari kerusakan dan mencegahnya agar tidak berkontak dengan
lalu lintas. Pemberian kembali lapis perekat (retackcoating) harus dilakukan bila
lapis perekat telah mengering sehingga hilang atau berkurang kelengketannya.

Pengeringan lapis perekat yang basah akibat hujan turun dengan tiba-tiba dengan
menggunakan udara bertekanan (compressor) dapat dilakukan sebelum lapis
beraspal dihampar hanya bila lamanya durasi hujan kurang dari 4 jam. Pemberian
kembali lapis perekat (retackcoating) harus dilakukan bila lapis perekat terkena
hujan lebih dari 4 jam.

6.1.6 PENGENDALIAN MUTU DAN PENGUJIAN DI LAPANGAN

a) Contoh aspal dan sertifikatnya, seperti disyaratkan dalam Pasal 6.1.1.(6).(a)


dari Spesifikasi ini harus disediakan pada setiap pengangkutan aspal ke
lapangan pekerjaan.

b) Dua liter contoh bahan aspal yang akan dihampar harus diambil dari
distributor aspal, masing-masing pada saat awal penyemprotan dan pada saat
menjelang akhir penyemprotan.

c) Distributor aspal harus diperiksa dan diuji, sesuai dengan ketentuan Pasal
6.1.3.(6) dari Spesifikasi ini sebagai berikut :

i) Sebelum pelaksanaan pekerjaan penyemprotan pada Kontrak


tersebut;

ii) Setiap 6 bulan atau setiap penyemprotan bahan aspal sebanyak


150.000 liter, dipilih yang lebih dulu tercapai;

iii) Apabila distributor mengalami kerusakan atau modifikasi, perlu


dilakukan pemeriksaan ulang terhadap distributor tersebut.

d) Gradasi agregat penutup (blotter material) harus diajukan kepada Direksi


Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan sebelum agregat tersebut
digunakan.

e) Catatan harian yang terinci mengenai pelaksanaan penyemprotan


permukaan, termasuk pemakaian bahan aspal pada setiap lintasan
penyemprotan dan takaran pemakaian yang dicapai, harus dibuat dalam
formulir yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

6.1.7 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Pengukuran Untuk Pembayaran

a) Kuantitas dari bahan aspal yang diukur untuk pembayaran adalah nilai
terkecil di antara berikut ini : jumlah liter pada 15ºC untuk aspal cair dan
15,6ºC untuk aspal emulsi dan aspal emulsi modifikasi menurut takaran
yang diperlukan sesuai dengan Spesifikasi dan ketentuan Direksi Pekerjaan,
atau jumlah liter aktual pada 15ºC untuk aspal cair dan 15,6ºC untuk aspal
emulsi dan aspal emulsi modifikasi yang terhampar dan diterima. Gunakan
Lampiran 6.1 untuk konversi suhu pelaksanaan di lapangan ke suhu standar
15ºC Pengukuran berdasarkan volume harus diambil saat bahan berada

6 - 12
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

pada temperatur keseluruhan yang merata dan bebas dari gelembung udara.
Air yang ditambahkan kedalam aspal emulsi atau kandungan air yang sudah
ada dalam aspal emulsi yang diencerkan (1:1) tidak akan diukur untuk
pembayaran. Kuantitas dari aspal yang digunakan harus diukur setelah
setiap lintasan penyemprotan untuk distributor aspal atau setiap hari
produksi untuk penyemprot aspal tangan (hand sprayer).

b) Setiap agregat penutup (blotter material) yang digunakan harus dianggap


termasuk pekerjaan sementara untuk memperoleh Lapis Resap Pengikat
yang memenuhi ketentuan dan tidak akan diukur atau dibayar secara
terpisah.

c) Pekerjaan untuk penyiapan dan pemeliharaan formasi yang di atasnya diberi


Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat, sesuai dengan Pasal 6.1.4.(a) dan
6.1.4.(b) tidak akan diukur atau dibayar di bawah Seksi ini, tetapi harus
diukur dan dibayar sesuai dengan Seksi yang relevan yang disyaratkan untuk
pelaksanaan dan rehabilitasi, sebagai rujukan di dalam Pasal 6.1.4 dari
Spesifikasi ini.

d) Pembersihan dan persiapan akhir pada permukaan jalan sesuai dengan Pasal
6.1.4.(3).(d) sampai 6.1.4.(3).(g) dari Spesifikasi ini dan pemeliharaan
permukaan Lapis Resap Pengikat atau Lapis Perekat yang telah selesai
menurut Pasal 6.1.5 dari Spesifikasi ini harus dianggap merupakan satu
kesatuan dengan pekerjaan Lapis Resap Pengikat atau Lapis Perekat yang
memenuhi ketentuan dan tidak boleh diukur atau dibayar secara terpisah.

2) Pengukuran Untuk Pekerjaan Yang Diperbaiki

Bila perbaikan pekerjaan Lapis Resap Pengikat atau Lapis Perekat yang tidak
memenuhi ketentuan telah dilaksanakan sesuai perintah Direksi Pekerjaan menurut
Pasal 6.1.1.(5) di atas, maka kuantitas yang diukur untuk pembayaran haruslah
merupakan pekerjaan yang seharusnya dibayar jika pekerjaan yang semula diterima.
Tidak ada pembayaran tambahan yang akan dilakukan untuk pekerjaan tambahan,
kuantitas maupun pengujian yang diperlukan oleh perbaikan ini.

3) Dasar Pembayaran

Kuantitas yang sebagaimana ditetapkan di atas harus dibayar menurut Harga Satuan
Kontrak per satuan pengukuran untuk Mata Pembayaran yang tercantum di bawah
ini dan dalam Daftar Kuantitas dan Harga, dimana pembayaran tersebut harus
merupakan kompensasi penuh untuk pengadaan dan penyemprotan seluruh bahan,
termasuk bahan penyerap (blotter material), penyemprotan ulang, termasuk seluruh
pekerja, peralatan, perlengkapan, dan setiap kegiatan yang diperlukan untuk
menyelesaikan dan memelihara pekerjaan yang diuraikan dalam Seksi ini.

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pengukuran

6.1.(1a) Lapis Resap Pengikat - Aspal Cair Liter

6 - 13
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

SEKSI 6.3

CAMPURAN BERASPAL PANAS

6.3.1 UMUM

1) Uraian

Pekerjaan ini mencakup pengadaan lapisan padat yang awet berupa lapis perata,
lapis pondasi, lapis antara atau lapis aus campuran beraspal panas yang terdiri dari
agregat dan bahan aspal yang dicampur secara panas di pusat instalasi pencampuran,
serta menghampar dan memadatkan campuran tersebut di atas pondasi atau
permukaan jalan yang telah disiapkan sesuai dengan Spesifikasi ini dan memenuhi
garis, ketinggian dan potongan memanjang yang ditunjukkan dalam Gambar.

Semua campuran dirancang dalam Spesifikasi ini untuk menjamin bahwa asumsi
rancangan yang berkenaan dengan kadar aspal, rongga udara, stabilitas, kelenturan
dan keawetan sesuai dengan lalu-lintas rencana.

2) Jenis Campuran Beraspal

Jenis campuran dan ketebalan lapisan harus seperti yang ditentukan pada Gambar.

a) Lapis Tipis Aspal Pasir (Sand Sheet, SS) Kelas A dan B

Lapis Tipis Aspal Pasir (Latasir) yang selanjutnya disebut SS, terdiri dari
dua jenis campuran, SS-A dan SS -B. Pemilihan SS-A dan SS-B tergantung
pada tebal nominal minimum. Latasir biasanya memerlukan penambahan
filler agar memenuhi kebutuhan sifat-sifat yang disyaratkan.

b) Lapis Tipis Aspal Beton (Hot Rolled Sheet, HRS)

Lapis Tipis Aspal Beton (Lataston) yang selanjutnya disebut HRS, terdiri
dari dua jenis campuran, HRS Pondasi (HRS-Base) dan HRS Lapis Aus
(HRS Wearing Course, HRS-WC) dan ukuran maksimum agregat masing-
masing campuran adalah 19 mm. HRS-Base mempunyai proporsi fraksi
agregat kasar lebih besar daripada HRS-WC.

Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, maka campuran harus


dirancang sampai memenuhi semua ketentuan yang diberikan dalam
Spesifikasi. Dua kunci utama adalah :

i) Gradasi yang benar-benar senjang.


Agar diperoleh gradasi yang benar – benar senjang, maka selalu
dilakukan pencampuran pasir halus dengan agregat pecah mesin.

ii) Sisa rongga udara pada kepadatan membal (refusal density) harus
memenuhi ketentuan yang ditunjukkan dalam Spesifikasi ini.

Lataston bergradasi semi senjang sebagai pengganti Lataston bergradasi


senjang hanya boleh digunakan pada daerah dimana pasir halus yang
diperlukan untuk membuat gradasi yang benar-benar senjang tidak dapat
diperoleh dan disetujui terlebih dahulu oleh Direksi Pekerjaan.

6 - 14
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

c) Lapis Aspal Beton (Asphalt Concrete, AC)

Lapis Aspal Beton (Laston) yang selanjutnya disebut AC, terdiri dari tiga
jenis campuran, AC Lapis Aus (AC-WC), AC Lapis Antara (AC-Binder
Course, AC-BC) dan AC Lapis Pondasi (AC-Base) dan ukuran maksimum
agregat masing-masing campuran adalah 19 mm, 25,4 mm, 37,5 mm. Setiap
jenis campuran AC yang menggunakan bahan Aspal Polimer atau Aspal
dimodifikasi dengan Aspal Alam disebut masing-masing sebagai AC-WC
Modified, AC-BC Modified, dan AC-Base Modified.

3) Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini.

a) Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas : Seksi 1.8


b) Kajian TeknisLapangan : Seksi 1.9
c) Bahan dan Penyimpanan : Seksi 1.11
d) Pengamanan Lingkungan Hidup : Seksi 1.17
e) Keselamatan dan Kesehatan Kerja : Seksi 1.19
f) Bahu Jalan : Seksi 4.2
g) Perkerasan Berbutir : Seksi 5
h) Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat : Seksi 6.1
i) Pengembalian Kondisi Perkerasan Lama : Seksi 8.1
j) Pemeliharaan Rutin Perkerasan, Bahu Jalan, Drainase : Seksi 10.1
Perlengkapan Jalan dan Jembatan

4) Tebal Lapisan dan Toleransi

a) Tebal setiap lapisan campuran beraspal bukan perata harus diperiksa dengan
benda uji "inti" (core) perkerasan yang diambil oleh Penyedia Jasa sesuai
petunjuk Direksi Pekerjaan. Benda uji inti (core) paling sedikit harus
diambil dua titik pengujian per penampang melintang per lajur dengan jarak
memanjang antar penampang melintang yang diperiksa tidak lebih dari 100
m.

b) Tebal aktual hamparan lapis beraspal di setiap segmen, didefinisikan sebagai


tebal rata-rata yang memenuhi syarat toleransi yang ditunjukkan pada Pasal
6.3.1.(4).(f) dari semua benda uji inti yang diambil dari segmen tersebut.

c) Segmen adalah panjang hamparan yang dilapis dalam satu hari produksi
AMP.

d) Tebal aktual hamparan lapis beraspal bukan perata, harus sama atau lebih
besar dari tebal rancangan yang ditentukan dalam Gamba. Bilamana tebal
lapisan beraspal dalam suatu segmen terdapat benda uji inti yang tidak
memenuhi persyaratan sebagaimana yang disebutkan diatas maka sub-
segmen yang tidak memenuhi syarat harus dibongkar atau dilapis kembali
dengan tebal nominal minimum yang dipersyaratkan dalam Tabel 6.3.1.(1)
dan harus memenuhi ketentuan kerataan yang disyaratkan dalam Pasal
6.3.7.(1).(c). Tebal setiap titik dari masing-masing jenis campuran beraspal
bukan perata tidak boleh kurang dari tebal rancangan seperti yang
ditunjukkan dalam Gambar dengan toleransi masing-masing jenis campuran
yang disyaratkan dalam Pasal 6.3.1.(4).(f).

6 - 29
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

e) Tebal aktual hamparan campuran beraspal perata dapat kurang atau lebih
tebal dari tebal perkiraan yang ditunjukkan dalam Gambar karena adanya
perbaikan bentuk.

f) Toleransi tebal untuk tiap lapisan campuran beraspal :


 Latasir tidak lebih dari 2,0 mm,
 Lataston Lapis Aus tidak lebih dari 3,0 mm
 Lataston Lapis Pondasi tidak lebih dari 3,0 mm
 Laston Lapis Aus tidak lebih dari 3,0 mm
 Laston Lapis Antara tidak lebih dari 4,0 mm
 Laston Lapis Pondasi tidak lebih dari 5,0 mm

Tabel 6.3.1.(1) Tebal Nominal Minimum Campuran Beraspal

Tebal Nominal
Jenis Campuran Simbol
Minimum (cm)
Latasir Kelas A SS-A 1,5
Latasir Kelas B SS-B 2,0
Lataston Lapis Aus HRS-WC 3,0
Lapis Pondasi HRS-Base 3,5
Laston Lapis Aus AC-WC 4,0
Lapis Antara AC-BC 6,0
Lapis Pondasi AC-Base 7,5

g) Untuk semua jenis campuran, berat aktual campuran beraspal yang


dihampar harus dipantau dengan menimbang setiap muatan truk yang
meninggalkan pusat instalasi pencampur aspal. Untuk setiap ruas pekerjaan
yang diukur untuk pembayaran, bilamana berat aktual bahan terhampar yang
dihitung dari timbangan adalah kurang ataupun lebih lima persen dari berat
yang dihitung dari ketebalan rata-rata benda uji inti (core), maka Direksi
Pekerjaan harus mengambil tindakan untuk menyelidiki sebab terjadinya
selisih berat ini sebelum menyetujui pembayaran bahan yang telah
dihampar. Investigasi oleh Direksi Pekerjaan dapat meliputi, tetapi tidak
terbatas pada hal-hal berikut ini :

i) Memerintahkan Penyedia Jasa untuk lebih sering mengambil atau


lebih banyak mengambil atau mencari lokasi lain benda uji inti
(core);

ii) Memeriksa peneraan dan ketepatan timbangan serta peralatan dan


prosedur pengujian di laboratorium

iii) Memperoleh hasil pengujian laboratorium yang independen dan


pemeriksaan kepadatan campuran beraspal yang dicapai di
lapangan.

iv) Menetapkan suatu sistem perhitungan dan pencatatan truk secara


terinci.

Biaya untuk setiap penambahan atau meningkatnya frekwensi pengambilan


benda uji inti (core), untuk survei geometrik tambahan ataupun pengujian
laboratorium, untuk pencatatan muatan truk, ataupun tindakan lainnya yang

6 - 30
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

dianggap perlu oleh Direksi Pekerjaan untuk mencari penyebab


dilampauinya toleransi berat harus ditanggung oleh Penyedia Jasa sendiri.

h) Perbedaan kerataan permukaan lapisan aus (HRS-WC dan AC-WC) yang


telah selesai dikerjakan, harus memenuhi berikut ini :

i) Kerataan Melintang

Bilamana diukur dengan mistar lurus sepanjang 3 m yang diletakkan


tepat di atas permukaan jalan tidak boleh melampaui 5 mm untuk
lapis aus dan lapis antara atau 10 mm untuk lapis pondasi.
Perbedaan setiap dua titik pada setiap penampang melintang tidak
boleh melampaui 5 mm dari elevasi yang dihitung dari penampang
melintang yang ditunjukkan dalam Gambar.

ii) Kerataan Memanjang

Setiap ketidakrataan individu bila diukur dengan Roll Profilometer


tidak boleh melampaui 5 mm.

i) Bilamana campuran beraspal dihamparkan sebagai lapis perata maka tebal


lapisan tidak boleh melebihi 2,5 kali tebal nominal yang diberikan dalam
Tabel 6.3.1.(1) dan tidak boleh kurang dari diameter maksimum partikel
yang digunakan.

5) Standar Rujukan

Standar Nasional Indonesia :

SNI 06-2440-1991 : Metoda Pengujian Kehilangan berat Minyak dan Aspal


dengan Cara A
SNI 03-3426-1994 : Survai Kerataan Permukaan Perkerasan Jalan Dengan
Alat Ukur NAASRA
SNI 03-3640-1994 : Metode Pengujian Kadar Aspal Dengan Cara Ekstraksi
Menggunakan Alat Soklet
SNI 03-4141-1996 : Metode Pengujian Gumpalan Lempung Dan Butir-
Butir Mudah Pecah Dalam Agregat
SNI 03-4428-1997 : Metode Pengujian Agregat Halus Atau Pasir Yang
Mengandung Bahan Plastis Dengan Cara Setara Pasir
SNI 06-6399-2000 : Tata Cara Pengambilan Contoh Aspal
SNI 03-6441-2000 : Metode Pengujian Viskositas Aspal Minyak dengan
Alat Brookfield Termosel
SNI 03-6723-2002 : Spesifikasi Bahan Pengisi untuk Campuran Beraspal.
SNI 03-6757-2002 : Metode Pengujian Berat Jenis Nyata Campuran
Beraspal dipadatkan Menggunakan Benda Uji Kering
Permukaan Jenuh
SNI 03-6819-2002 : Spesifikasi Agregat Halus Untuk Campuran Perkerasan
Beraspal
SNI 03-6835-2002 : Metode Pengujian Pengaruh Panas dan Udara terhadap
Lapisan Tipis Aspal yang Diputar

6 - 31
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

SNI 03-6877-2002 : Metode Pengujian Kadar Rongga Agregat Halus yang


tidak dipadatkan
SNI 03-6893-2002 : Metode Pengujian Berat Jenis Maksimum Campuran
Beraspal
SNI 03-6894-2002 : Metode Pengujian Kadar Aspal Dan Campuran
Beraspal Cara Sentrifius
SNI 04-7182-2006 : Metode Uji Standar untuk Bilangan Asam
SNI 1969 : 2008 : Cara Uji Berat Jenis Dan Penyerapan Air Agregat Kasar
SNI 1970 : 2008 : Cara Uji Berat Jenis Dan Penyerapan Air Agregat Halus
SNI 2417 : 2008 : Cara Uji Keausan Agregat Dengan Mesin Abrasi Los
Angeles
SNI 2490 : 2008 : Cara Uji Kadar Air dalam Produk Minyak Bumi dan
Bahan mengandung Aspal dengan Cara Penyulingan
SNI 3407 : 2008 : Cara Uji Sifat Kekekalan Bentuk batu dengan
menggunakan Larutan Natrium Sulfat atau Magnesium
Sulfat.
SNI 3423 : 2008 : Cara Uji Analisis Ukuran Butir Tanah
SNI 2432:2011 : Cara Uji Daktilitas Aspal
SNI 2433:2011 : Cara Uji Titik Nyala dan Titik Bakar dengan alat
Cleveland Open Cup
SNI 2434:2011 : Cara Uji Titik Lembek Aspal dengan Alat Cincin dan
Bola (Ring and Ball)
SNI 2439:2011 : Cara Uji Penyelimutan dan Pengelupasan pada
Campuran Agregat-Aspal
SNI 2441 : 2011 : Cara Uji Berat Jenis Aspal Padat
SNI 2456 : 2011 Cara Uji Penetrasi Bahan-Bahan Bitumen
SNI ASTM C117 : 2012 : Metode Uji Bahan Yang lebih Halus dari Saringan 75
µm (No.200) dalam Agregat Mineral dengan Pencucian
SNI ASTM C136 : 2012 : Cara Uji untuk Analisis Saringan Agregat Halus dan
Agregat Kasar
SNI 6721 : 2012 : Metode Pengujian Kekentalan Aspal Cair dan Aspal
Emulsi dengan Alat Saybolt Furol
SNI 6753 : 2008 : Cara Uji Ketahanan Campuran Beraspal Panas
Terhadap Kerusakan Akibat Perendaman.
SNI 7619 : 2012 : Metode Uji Penentuan Persentase Butir Pecah pada
Agregat Kasar.

AASHTO :

AASHTO T96-02 (2006) : Resistance to Degradation of Small-Size Coarse


Aggregate by Abrasion and Impact in the Los
Angeles Machine.
AASHTO T195-67 (2007) : Standard Method of Test for Determining Degree of
Particle Coating of Bituminous-Aggregate Mixtures
AASHTO T283-07 : Resistance of Compacted Bituminous Mixture to
Moisture Induced Damaged

6 - 32
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

AASHTO T301-99 (2003) : Elastic Recovery Test of Bituminous Materials By


Means of a Ductilometer

ASTM :

ASTM D2042-01 : Standard Test Method for Solubility of Asphalt


Materials in Trichloroethylene.
ASTM D2073-07 : Standard Test Methods for Total, Primary, Secondary,
and Tertiary Amine Values of Fatty Amines by
Alternative Indivator Method
ASTM D3625 (2005) : Standard Practice for Effect of Water on Bituminous-
Coated Aggregate Using Boiling Water
ASTM D4791-99 : Standard Test Method for Flat or Elongated Particles
in Coarse Aggregate
ASTM D5581-07a : Test Method for Resistance to Plastic Flow of
Bituminous Mixture using Marshall Apparatus (6
inch-diameter Specimen).
ASTM D6927-06 : Standard Test Methods for Marshall Stability and
Flow of Bituminous Mixtures

Lainnya :

BS 598 Part 104 (1989) : The Compaction Procedure Used in the Percentage
Refusal Density Test.

6) Pengajuan Kesiapan Kerja

Sebelum dan selama pekerjaan, Penyedia Jasa harus menyerahkan kepada Direksi
Pekerjaan :

a) Contoh dari seluruh bahan yang disetujui untuk digunakan, yang disimpan
oleh Direksi Pekerjaan selama periode Kontrak untuk keperluan rujukan;

b) Setiap bahan aspal yang diusulkan Penyedia Jasa untuk digunakan, berikut
keterangan asal sumbernya bersama dengan data pengujian sifat-sifatnya,
baik sebelum maupun sesudah Pengujian Penuaan Aspal (RTFOT sesuai
dengan SNI 03-6835-2002 atau TFOT sesuai dengan SNI 06-2440-1991);

c) Laporan tertulis yang menjelaskan sifat-sifat hasil pengujian dari seluruh


bahan, seperti disyaratkan dalam Pasal 6.3.2;

d) Laporan tertulis setiap pemasokan aspal beserta sifat-sifat bahan seperti


yang disyaratkan dalam Pasal 6.3.2.(6);

e) Hasil pemeriksaan peralatan laboratorium dan pelaksanaan.

f) Rumusan campuran kerja (Job Mix Formula, JMF) dan data pengujian yang
mendukungnya; seperti yang disyaratkan dalam Pasal 6.3.3, dalam bentuk
laporan tertulis;

g) Pengukuran pengujian permukaan seperti disyaratkan dalam Pasal 6.3.7.(1)


dalam bentuk laporan tertulis;

6 - 33
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

h) Laporan tertulis mengenai kepadatan dari campuran yang dihampar, seperti


yang disyaratkan dalam Pasal 6.3.7.(2);

i) Data pengujian laboratorium dan lapangan seperti yang disyaratkan dalam


Pasal 6.3.7.(4) untuk pengendalian harian terhadap takaran campuran dan
mutu campuran, dalam bentuk laporan tertulis;

j) Catatan harian dari seluruh muatan truk yang ditimbang di alat penimbang,
seperti yang disyaratkan dalam Pasal 6.3.7.(5);

k) Catatan tertulis mengenai pengukuran tebal lapisan dan dimensi perkerasan


seperti yang disyaratkan dalam Pasal 6.3.8.

7) Kondisi Cuaca Yang Dijinkan Untuk Bekerja

Campuran hanya bisa dihampar bila permukaan yang telah disiapkan keadaan kering
dan diperkirakan tidak akan turun hujan.

8) Perbaikan Pada Campuran beraspal Yang Tidak Memenuhi Ketentuan

Bilamana persyaratan kerataan hasil hamparan tidak terpenuhi atau bilamana benda
uji inti dari lapisan beraspal dalam satu sub-segmen tidak memenuhi persyaratan
tebal atau kepadatan sebagaimana ditetapkan dalam spesifikasi ini, maka panjang
yang tidak memenuhi syarat harus dibongkar atau dilapis kembali dengan tebal
lapisan nominal minimum yang di syaratkan dalam Tabel 6.3.1.(1) dengan jenis
campuran yang sama dan harus memenuhi ketentuan kerataan yang disyaratkan
dalam Pasal 6.3.7.(1).(c). Panjang yang tidak memenuhi syarat ditentukan dengan
benda uji tambahan sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan dan selebar
satu hamparan.

Bila perbaikan telah diperintahkan maka jumlah volume yang diukur untuk
pembayaran haruslah volume yang seharusnya dibayar bila pekerjaan aslinya dapat
diterima. Tidak ada waktu dan atau pembayaran tambahan yang akan dilakukan
untuk pekerjaan atau volume tambahan yang diperlukan untuk perbaikan.

9) Pengembalian Bentuk Pekerjaan Setelah Pengujian

Seluruh lubang uji yang dibuat dengan mengambil benda uji inti (core) atau lainnya
harus segera ditutup kembali dengan bahan campuran beraspal oleh Penyedia Jasa
dan dipadatkan hingga kepadatan serta kerataan permukaan sesuai dengan toleransi
yang diperkenankan dalam Seksi ini.

10) Lapisan Perata

Atas persetujuan Direksi Pekerjaan, maka setiap jenis campuran dapat digunakan
sebagai lapisan perata. Semua ketentuan dari Spesifikasi ini harus berlaku kecuali :

Bahan harus disebut HRS-WC(L), HRS-Base(L), AC-WC(L), AC-BC(L) atau AC-


Base(L) dsb.

6 - 34
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

6.3.2 BAHAN

1) Agregat – Umum

a) Agregat yang akan digunakan dalam pekerjaan harus sedemikian rupa agar
campuran beraspal, yang proporsinya dibuat sesuai dengan rumusan
campuran kerja (lihat Pasal 6.3.3), memenuhi semua ketentuan yang
disyaratkan dalam Tabel 6.3.3.(1a) sampai dengan Tabel 6.3.3.(1d),
tergantung campuran mana yang dipilih.

b) Agregat tidak boleh digunakan sebelum disetujui terlebih dahulu oleh


Direksi Pekerjaan. Bahan harus ditumpuk sesuai dengan ketentuan dalam
Seksi 1.11 dari Spesifikasi ini.

c) Sebelum memulai pekerjaan Penyedia Jasa harus sudah menumpuk setiap


fraksi agregat pecah dan pasir untuk campuran beraspal, paling sedikit untuk
kebutuhan satu bulan dan selanjutnya tumpukan persediaan harus
dipertahankan paling sedikit untuk kebutuhan campuran beraspal satu bulan
berikutnya.

d) Dalam pemilihan sumber agregat, Penyedia Jasa dianggap sudah


memperhitungkan penyerapan aspal oleh agregat. Variasi kadar aspal akibat
tingkat penyerapan aspal yang berbeda, tidak dapat diterima sebagai alasan
untuk negosiasi kembali harga satuan dari Campuran beraspal.

e) Penyerapan air oleh agregat maksimum 3 %.

f) Berat jenis (spesific gravity) agregat kasar dan halus tidak boleh berbeda
lebih dari 0,2.

2) Agregat Kasar

a) Fraksi agregat kasar untuk rancangan campuran adalah yang tertahan ayakan
No.4 (4,75 mm) yang dilakukan secara basah dan harus bersih, keras, awet
dan bebas dari lempung atau bahan yang tidak dikehendaki lainnya dan
memenuhi ketentuan yang diberikan dalam Tabel 6.3.2.(1a).

b) Fraksi agregat kasar harus dari batu pecah mesin dan disiapkan dalam
ukuran nominal sesuai dengan jenis campuran yang direncanakan seperti
ditunjukan pada Tabel 6.3.2.(1b).

c) Agregat kasar harus mempunyai angularitas seperti yang disyaratkan dalam


Tabel 6.3.2.(1a). Angularitas agregat kasar didefinisikan sebagai persen
terhadap berat agregat yang lebih besar dari 4,75 mm dengan muka bidang
pecah satu atau lebih berdasarkan uji menurut SNI 7619 : 2012 dalam
Lampiran 6.3.C.

d) Agregat kasar untuk Latasir kelas A dan B boleh dari kerikil yang bersih.

e) Fraksi agregat kasar harus ditumpuk terpisah dan harus dipasok ke instalasi
pencampur aspal dengan menggunakan pemasok penampung dingin (cold
bin feeds) sedemikian rupa sehingga gradasi gabungan agregat dapat
dikendalikan dengan baik.

6 - 35
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Tabel 6.3.2.(1a) Ketentuan Agregat Kasar

Pengujian Standar Nilai


Kekekalan bentuk agregat natrium sulfat Maks.12 %
SNI 3407:2008
terhadap larutan magnesium sulfat Maks.18 %
Campuran AC 100 putaran Maks. 6%
Abrasi dengan Modifikasi 500 putaran Maks. 30%
mesin Los SNI 2417:2008
Angeles1) Semua jenis 100 putaran Maks. 8%
campuran aspal
bergradasi lainnya 500 putaran Maks. 40%
Kelekatan agregat terhadap aspal SNI 2439:2011 Min. 95 %
Butir Pecah pada Agregat Kasar SNI 7619:2012 95/90 *)
ASTM D4791
Partikel Pipih dan Lonjong Maks. 10 %
Perbandingan 1 : 5
Material lolos Ayakan No.200 SNI 03-4142-1996 Maks. 2 %
Catatan :
*) 95/90 menunjukkan bahwa 95% agregat kasar mempunyai muka bidang pecah satu atau lebih dan 90%
agregat kasar mmepunyai muka bidang pecah dua atau lebih.

Tabel 6.3.2.(1b) Ukuran Nominal Agregat Kasar Penampung Dingin untuk Campuran Aspal
Ukuran nominal agregat kasar penampung dingin (cold
Jenis Campuran bin) minimum yang diperlukan (mm)
5 - 10 10 - 14 14 - 22 22 - 30
Lataston Lapis Aus Ya Ya
Lataston Lapis Pondasi Ya Ya
Laston Lapis Aus Ya Ya
Laston Lapis Antara Ya Ya Ya
Laston Lapis Pondasi Ya Ya Ya Ya

3) Agregat Halus

a) Agregat halus dari sumber bahan manapun, harus terdiri dari pasir atau hasil
pengayakan batu pecah dan terdiri dari bahan yang lolos ayakan No.4 (4,75
mm).

b) Fraksi agregat halus pecah mesin dan pasir harus ditempatkan terpisah
dari agregat kasar.

c) Agregat pecah halus dan pasir harus ditumpuk terpisah dan harus dipasok ke
instalasi pencampur aspal dengan menggunakan pemasok penampung dingin
(cold bin feeds) yang terpisah sehingga gradasi gabungan dan presentase
pasir didalam campuran dapat dikendalikan dengan baik.

d) Pasir alam dapat digunakan dalam campuran AC sampai suatu batas yang
tidak melampaui 15% terhadap berat total campuran.

6 - 36
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Agregat halus harus merupakan bahan yang bersih, keras, bebas dari lempung, atau
bahan yang tidak dikehendaki lainnya. Batu pecah halus harus diperoleh dari batu
yang memenuhi ketentuan mutu dalam Pasal 6.3.2.(1).
Untuk memperoleh agregat halus yang memenuhi ketentuan diatas :
i) bahan baku untuk agregat halus dicuci terlebih dahulu secara
mekanis sebelum dimasukkan kedalam mesin pemecah batu.
ii) digunakan scalping screen dengan proses berikut ini :
- fraksi agregat halus yang diperoleh dari hasil pemecah batu
tahap pertama (primary crusher) tidak boleh langsung
digunakan.
- agregat yang diperoleh dari hasil pemecah batu tahap pertama
(primary crusher) harus dipisahkan dengan vibro scalping
screen yang dipasang di antara primary crusher dan secondary
crusher.
- material tertahan vibro scalping screen akan dipecah oleh
secondary crusher, hasil pengayakannya dapat digunakan
sebagai agregat halus.
- material lolos vibro scalping screen hanya boleh digunakan
sebagai komponen material Lapis Pondasi Agregat.

e) Agregat halus harus memenuhi ketentuan sebagaimana ditunjukkan pada


Tabel 6.3.2.(2).

Tabel 6.3.2.(2) Ketentuan Agregat Halus

Pengujian Standar Nilai


Nilai Setara Pasir SNI 03-4428-1997 Min 60%
Angularitas dengan Uji Kadar Rongga SNI 03-6877-2002 Min. 45
Gumpalan Lempung dan Butir-butir SNI 03-4141-1996 Maks 1%
Mudah Pecah dalam Agregat
Agregat Lolos Ayakan No.200 SNI ASTM C117: 2012 Maks. 10%

4) Bahan Pengisi (Filler) Untuk Campuran Beraspal

a) Bahan pengisi yang ditambahkan (filler added) terdiri atas debu batu kapur
(limestone dust, Calcium Carbonate, CaCO3), atau debu kapur padam yang
sesuai dengan AASHTO M303-89 (2006), semen atau mineral yang berasal
dari Asbuton yang sumbernya disetujui oleh Direksi Pekerjaaan. Jika
digunakan Aspal Modifikasi dari jenis Asbuton yang diproses maka bahan
pengisi yang ditambahkan (filler added) sudah memperhitungkan kadar filler
yang terkandung dalam Asbuton tersebut.

b) Bahan pengisi yang ditambahkan harus kering dan bebas dari gumpalan-
gumpalan dan bila diuji dengan pengayakan sesuai SNI ASTM C136: 2012
harus mengandung bahan yang lolos ayakan No.200 (75 micron) tidak
kurang dari 75 % terhadap beratnya kecuali untuk mineral Asbuton. Mineral
Asbuton harus mengandung bahan yang lolos ayakan No.100 (150 micron)
tidak kurang dari 95% terhadap beratnya.
c) Bilamana kapur tidak terhidrasi atau terhidrasi sebagian, tidak digunakan
sebagai bahan pengisi. Kapur yang seluruhnya terhidrasi yang dihasilkan
dari pabrik yang disetujui dan semen yang memenuhi persyaratan yang

6 - 37
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

disebutkan pada Pasal 6.3.2.(2b) diatas, dapat digunakan maksimum 2%


terhadap berat total agregat.
d) Semua campuran beraspal harus mengandung bahan pengisi yang
ditambahkan (filler added) min. 1% dari berat total agregat.

5) Gradasi Agregat Gabungan

Gradasi agregat gabungan untuk campuran aspal, ditunjukkan dalam persen terhadap
berat agregat dan bahan pengisi, harus memenuhi batas-batas yang diberikan dalam
Tabel 6.3.2.(3). Rancangan dan Perbandingan Campuran untuk gradasi agregat
gabungan harus mempunyai jarak terhadap batas-batas yang diberikan dalam Tabel
6.3.2.(3).

Tabel 6.3.2.(3) Amplop Gradasi Agregat Gabungan Untuk Campuran Aspal

% Berat Yang Lolos terhadap Total Agregat dalam Campuran


Ukuran Latasir (SS) Lataston (HRS) Laston (AC)
Ayakan
(mm) Gradasi Senjang3 Gradasi Semi Senjang 2
Kelas A Kelas B WC Base WC Base WC BC Base
37,5 100
25 100 90 - 100
19 100 100 100 100 100 100 100 90 - 100 76 - 90
12,5 90 - 100 90 - 100 87 - 100 90 - 100 90 - 100 75 - 90 60 - 78
9,5 90 - 100 75 - 85 65 - 90 55 - 88 55 - 70 77 - 90 66 - 82 52 - 71
4,75 53 - 69 46 - 64 35 - 54
2,36 75 - 100 50 – 723 35 - 553 50 – 62 32 - 44 33 - 53 30 - 49 23 - 41
1,18 21 - 40 18 - 38 13 - 30
0,600 35 - 60 15 - 35 20 – 45 15 - 35 14 - 30 12 - 28 10 - 22
0,300 15 – 35 5 - 35 9 - 22 7 - 20 6 - 15
0,150 6 - 15 5 -13 4 - 10
0,075 10 - 15 8 – 13 6 - 10 2-9 6 – 10 4-8 4-9 4-8 3- 7

Catatan:
1. Untuk HRS-WC dan HRS-Base yang benar-benar senjang, paling sedikit 80% agregat lolos ayakan No.8 (2,36 mm)
harus lolos ayakan No.30 (0,600 mm). Lihat Tabel 6.3.2.4 sebagai contoh batas-batas “Bahan Bergradasi Senjang” di
mana bahan yang lolos No. 8 (2,36 mm) dan tertahan pada ayakan No.30 (0,600 mm).
2. Untuk semua jenis campuran, rujuk Tabel 6.3.2.(1).(b) untuk ukuran agregat nominal maksimum pada tumpukan
bahan pemasok dingin.
3. Apabila tidak ditetapkan dalam Gambar, penggunaan pemilihan gradasi sesuai dengan petunjuk Direksi Pekerjaan
dengan mengacu pada panduan Seksi 6.3 ini.

Tabel 6.3.2.(4) : Contoh Batas-batas “Bahan Bergradasi Senjang”

Ukuran Ayakan Alternatif 1 Alternatif 2 Alaternatif 3 Alternatif 4


% lolos No.8 40 50 60 70
% lolos No.30 paling sedikit 32 paling sedikit 40 paling sedikit 48 paling sedikit 56
% kesenjangan 8 atau kurang 10 atau kurang 12 atau kurang 14 atau kurang

6) Bahan Aspal Untuk Campuran Beraspal

a) Bahan aspal berikut yang sesuai dengan Tabel 6.3.2.(5) dapat digunakan.
Bahan pengikat ini dicampur dengan agregat sehingga menghasilkan
campuran beraspal sebagaimana mestinya sesuai dengan yang disyaratkan

6 - 38
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

dalam Tabel 6.3.3.(1a), 6.3.3.(1b), 6.3.3.(1c) dan 6.3.3.(1d) mana yang


relevan, sebagai-mana yang disebutkan dalam Gambar atau diperintahkan
oleh Direksi Pekerjaan. Pengambilan contoh bahan aspal harus dilaksanakan
sesuai dengan SNI 06-6399-2000 dan pengujian semua sifat-sifat
(properties) yang disyaratkan dalam Tabel 6.3.2.(5) harus dilakukan.
Bilamana jenis aspal modifikasi tidak disebutkan dalam Gambar maka
Penyedia Jasa dapat memilih Aspal Tipe II dalam Tabel 6.3.2.(5) dibawah
ini.

Tabel 6.3.2.(5) Ketentuan-ketentuan untuk Aspal Keras

Tipe I Tipe II Aspal yang


Metoda Aspal Dimodifikasi
No. Jenis Pengujian
Pengujian Pen.60- A(1) B
70 Asbuton yg Elastomer
diproses Sintetis
1. Penetrasi pada 25C (0,1 mm) SNI 06-2456-1991 60-70 Min.50 Min.40

2. Viskositas Dinamis 60C (Pa.s) SNI 06-6441-2000 160 - 240 240 - 360 320 - 480

3. Viskositas Kinematis 135C (cSt) SNI 06-6441-2000 ≥ 300 385 – 2000 < 3000

4. Titik Lembek (C) SNI 2434:2011 > 48 > 53 > 54

5. Daktilitas pada 25C, (cm) SNI 2432:2011 > 100 > 100 > 100

6. Titik Nyala (C) SNI 2433:2011 > 232 > 232 > 232

7. Kelarutan dalam Trichloroethylene (%) AASHTO T44-03 > 99 > 90(1) > 99

8. Berat Jenis SNI 2441:2011 > 1,0 > 1,0 > 1,0

9. Stabilitas Penyimpanan: Perbedaan Titik ASTM D 5976 part 6.1 - < 2,2 < 2,2
Lembek (C)

10. Partikel yang lebih halus dari 150 micron Min. 95(1) -
(m) (%)

Pengujian Residu hasil TFOT (SNI-06-2440-1991) atau RTFOT(SNI-03-6835-2002) :

11. Berat yang Hilang (%) SNI 06-2441-1991 < 0,8 < 0,8 < 0,8

12. Viskositas Dinamis 60C (Pa.s) SNI 03-6441-2000 < 800 < 1200 < 1600

13. Penetrasi pada 25C (%) SNI 06-2456-1991 > 54 > 54 ≥ 54

14. Daktilitas pada 25C (cm) SNI 2432:2011 > 100 > 50 ≥ 25

15. Keelastisan setelah Pengembalian (%) AASHTO T 301-98 - - > 60

Catatan :
1. Hasil pengujian adalah untuk bahan pengikat (bitumen) yang diektraksi dengan menggunakan
metoda SNI 2490 : 2008. Sedangkan untuk pengujian kelarutan dan gradasi mineral dilaksanakan
pada seluruh bahan pengikat termasuk kandungan mineralnya.
2. Pabrik pembuat bahan pengikat Tipe II dapat mengajukan metoda pengujian alternatif untuk
viskositas bilamana sifat-sifat elastomerik atau lainnya didapati berpengaruh terhadap akurasi
pengujian penetrasi, titik lembek atau standar lainnya.
3. Viscositas di uji juga pada temperatur 100C dan 160C untuk tipe I, untuk tipe II pada
temperatur 100 C dan 170 C.

6 - 39
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

4. Jika untuk pengujian viskositas tidak dilakukan sesuai dengan AASHTO T201-03 maka hasil
pengujian harus dikonversikan ke satuan cSt.

b) Contoh bahan aspal harus diekstraksi dari benda uji sesuai dengan cara SNI
03-3640-1994 (metoda soklet) atau SNI 03-6894-2002 (metoda sentrifus)
atau AASHTO T 164-06 (metoda tungku pengapian). Jika metoda sentrifitus
digunakan, setelah konsentrasi larutan aspal yang terekstraksi mencapai 200
mm, partikel mineral yang terkandung harus dipindahkan ke dalam suatu alat
sentrifugal.Pemindahan ini dianggap memenuhi bilamana kadar abu dalam
bahan aspal yang diperoleh kembali tidak melebihi 1 % (dengan pengapian).
Jika bahan aspal diperlukan untuk pengujian lebih lanjut maka bahan aspal
itu harus diperoleh kembali dari larutan sesuai dengan prosedur SNI 03-
6894-2002.

c) Aspal Tipe I dan Tipe II harus diuji pada setiap kedatangan dan sebelum
dituangkan ke tangki penyimpan AMP untuk penetrasi pada 25 oC (SNI 06-
2456-1991) Tipe II juga harus diuji untuk stabilitas penyimpanan sesuai
dengan ASTM D5976 part 6.1 dan dapat ditempatkan dalam tangki
sementara sampai hasil pengujian tersebut diketahui. Tidak ada aspal yang
boleh digunakan sampai aspal tersebut telah diuji dan disetujui.

7) Bahan Anti Pengelupasan

Bahan anti pengelupasan hanya digunakan jika Stabilitas Marshall Sisa (IRS – Index
of Retained Stability) atau nilai Indirect Tensile Strength Ratio (ITSR) campuran
beraspal sebelum ditambah bahan anti pengelupasan lebih besar dari yang
disyaratkan. Stabilitas Bahan anti pengelupasan (anti striping agent) harus
ditambahkan dalam bentuk cairan di timbangan aspal AMP dengan mengunakan
pompa penakar (dozing pump) sesaat sebelum dilakukan proses pencampuran basah
di pugmil. Penambahan bahan anti pengelupasan ke dalam ketel aspal hanya
diperkenankan atas persetujuan Direksi Pekerjaan. Kuantitas pemakaian aditif anti
striping dalam rentang 0,2% - 0,4% terhadap berat aspal. Bahan anti pengelupasan
harus digunakan untuk semua jenis aspal tetapi tidak boleh digunakan pada aspal
modifikasi yang bermuatan positif. Persyaratan bahan anti pengelupasan haruslah
memenuhi Tabel 6.3.2.(6) dan kompabilitas dengan aspal disyaratkan dalam Tabel
6.3.2.(7).

Tabel 6.3.2.(6) Ketentuan Bahan Anti Pengelupasan Mengandung Amine

No. Jenis Pengujian Standar Nilai


1 Titik Nyala (Claveland Open Cup), °C SNI 2433:2011 min.180
2 Viskositas, pada 25ºC (Saybolt Furol), SNI 03-6721-2002 >200
detik
3 Berat Jenis, pada 25ºC, SNI 2441:2011 0,92 – 1,06
4 Bilangan asam (acid value), SNI 04-7182-2006 < 10
mL KOH/g
5 Total bilangan amine (amine value), ASTM D2073-07 150 - 350
mL HCl/g

Tabel 6.3.2.(7) - Kompatibilitas Bahan Anti Pengelupasan dengan Aspal

No. Jenis Pengujian Standar Nilai


1 Uji pengelupasan dengan air mendidih (boiling ASTM D3625 min.803)
water test), %1) (2005)
2 Stabilitas penyimpanan campuran aspal dan SNI 2434:2011 maks.2,22)
bahan anti pengelupasan, ºC

6 - 40
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

No. Jenis Pengujian Standar Nilai


3 Stabilitas pemanasan (Heat stability). Pengon- ASTM D3625-96 min.70
disian 72 jam, % permukaan terselimuti aspal Modification
Catatan :
1) Modifikasi prosedur pengujian tentang persiapan benda uji meliputi ukuran dan jenis agregat, kadar aspal dan
temperatur pencampuran antara aspal, agregat dan bahan anti pengelupasan.
2) Perbedaan nilai Titik Lembek (SNI 2434:2011).
3) Persyaratan berlaku untuk pengujian menggunakan agregat silika.

8) Aspal yang Dimodifikasi

Aspal yang dimodifikasi haruslah jenis Asbuton, dan elastomerik latex atau sintetis
memenuhi ketentuan-ketentuan Tabel 6.3.2.(5).Proses pembuatan aspal modifikasi
di lapangan tidak diperbolehkan kecuali ada lisensi dari pabrik pembuat aspal
modifikasi dan pabrik pembuatnya menyediakan instalasi pencampur yang setara
dengan yang digunakan di pabrik asalnya.

Aspal modifikasi harus dikirim dalam tangki yang dilengkapi dengan alat pembakar
gas atau minyak yang dikendalikan secara termostatis. Pembakaran langsung dengan
bahan bakar padat atau cair didalam tabung tangki tidak diperkenankan dalam
kondisi apapun. Pengiriman dalam tangki harus dilengkapi dengan sistem segel yang
disetujui untuk mencegah kontaminasi yang terjadi apakah dari pabrik pembuatnya
atau dari pengirimannya. Aspal yang dimodifikasi harus disalurkan ke tangki
penampung di lapangan dengan sistem sirkulasi yang tertutup penuh. Penyaluran
secara terbuka tidak diperkenankan.

Setiap pengiriman harus disalurkan kedalam tangki yang diperuntukkan untuk


kedatangan aspal dan harus segera dilakukan pengujian penetrasi, titik lembek dan
stabilitas penyimpanan. Tidak ada aspal yang boleh digunakan sampai diuji dan
disetujui.

Jangka waktu penyimpan untuk aspal modifikasi dengan bahan dasar latex tidak
boleh melebihi 3 hari kecuali jika jangka waktu penyimpanan yang lebih lama
disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Persetujuan tersebut hanya dapat diberikan jika
sifat-sifat akhir yang ada memenuhi nilai-nilai yang diberikan dalam Tabel 6.3.2.(5).

9) Sumber Pasokan

Sumber pemasokan agregat, aspal dan bahan pengisi (filler) harus disetujui terlebih
dahulu oleh Direksi Pekerjan sebelum pengiriman bahan. Setiap jenis bahan harus
diserahkan, seperti yang diperintahkan Direksi Pekerjaan, paling sedikit 60 hari
sebelum usulan dimulainya pekerjaan pengaspalan.

6.3.3 CAMPURAN

1) Komposisi Umum Campuran

Campuran beraspal dapat terdiri dari agregat, bahan pengisi, bahan aditif, dan aspal.

2) Kadar Aspal dalam Campuran

Persentase aspal yang aktual ditambahkan ke dalam campuran ditentukan


berdasarkan percobaan laboratorium dan lapangan sebagaimana tertuang dalam
Rencana Campuran Kerja (JMF) dengan memperhatikan penyerapan agregat yang
digunakan.

6 - 41
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

3) Prosedur Rancangan Campuran

a) Sebelum diperkenankan untuk menghampar setiap campuran beraspal dalam


Pekerjaan, Penyedia Jasa disyaratkan untuk menunjukkan semua usulan
metoda kerja, agregat, aspal, dan campuran yang memadai dengan membuat
dan menguji campuran percobaan di laboratorium dan juga dengan
penghamparan campuran percobaan yang dibuat di instalasi pencampur
aspal.

b) Pengujian yang diperlukan meliputi analisa ayakan, berat jenis dan


penyerapan air, dan semua jenis pengujian lainnya sebagaimana yang
dipersyaratkan pada seksi ini untuk semua agregat yang digunakan.
Pengujian pada campuran beraspal percobaan akan meliputi penentuan Berat
Jenis Maksimum campuran beraspal (SNI 03-6893-2002), pengujian sifat-
sifat Marshall (SNI 06-2489-1990) dan Kepadatan Membal (Refusal
Density) campuran rancangan (BS 598 Part 104 - 1989).

c) Contoh agregat untuk rancangan campuran harus diambil dari pemasok


dingin (cold bin) dan dari penampung panas (hot bin). Rumusan campuran
kerja yang ditentukan dari campuran di laboratorium harus dianggap berlaku
sementara sampai diperkuat oleh hasil percobaan pada instalasi pencampur
aspal dan percobaan penghamparan dan pemadatan lapangan.

d) Pengujian percobaan penghamparan dan pemadatan lapangan harus


dilaksanakan dalam tiga langkah dasar berikut ini :

i) Penentuan proporsi takaran agregat dari pemasok dingin untuk


dapat menghasilkan komposisi yang optimum. Perhitungan proporsi
takaran agregat dari bahan tumpukan yang optimum harus
digunakan untuk penentuan awal bukaan pemasok dingin. Contoh
dari pemasok panas harus diambil setelah penentuan besarnya
bukaan pemasok dingin. Selanjutnya proporsi takaran pada pemasok
panas dapat ditentukan. Suatu Rumusan Campuran Rancangan
(Design Mix Formula, DMF) kemudian akan ditentukan
berdasarkan prosedur Marshall. Dalam segala hal DMF harus
memenuhi semua sifat-sifat bahan dalam Pasal 6.3.2 dan sifat-sifat
campuran sebagaimana disyaratkan dalam Tabel 6.3.3(1a) s.d 6.3.3
(1d), mana yang relevan.

ii) DMF, data dan grafik percobaan campuran di laboratorium harus


diserahkan pada Direksi Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan.
Direksi Pekerjaan akan menyetujui atau menolak usulan DMF
tersebut dalam waktu tujuh hari. Percobaan produksi dan
penghamparan tidak boleh dilaksanakan sampai DMF disetujui.

iii) Percobaan produksi dan penghamparan serta persetujuan terhadap


Rumusan Campuran Kerja (Job Mix Formula, JMF). JMF adalah
suatu dokumen yang menyatakan bahwa rancangan campuran
laboratorium yang tertera dalam DMF dapat diproduksi dengan
instalasi pencampur aspal (Asphalt Mixing Plant, AMP), dihampar
dan dipadatkan di lapangan dengan peralatan yang telah ditetapkan
dan memenuhi derajat kepadatan lapangan terhadap kepadatan
laboratorium hasil pengujian Marshall dari benda uji yang campuran
beraspalnya diambil dari AMP.

6 - 42
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Tabel 6.3.3.(1a) Ketentuan Sifat-sifat Campuran Latasir


Latasir
Sifat-sifat Campuran
Kelas A & B
Penyerapan aspal (%) Maks. 2,0
Jumlah tumbukan per bidang 50
Min. 3,0
Rongga dalam campuran (%) (2) Maks. 6,0
Rongga dalam Agregat (VMA) (%) Min. 20
Rongga terisi aspal (%) Min. 75
Stabilitas Marshall (kg) Min. 200
Min. 2
Pelelehan (mm)
Maks. 3
Marshall Quotient (kg/mm) Min. 80
Stabilitas Marshall Sisa (%) setelah perendaman selama 24 jam, 60 ºC (3) Min. 90

Tabel 6.3.3.(1b) Ketentuan Sifat-sifat Campuran Lataston


Lataston
Lapis Aus Lapis Pondasi
Sifat-sifat Campuran Senjang Semi Senjang Semi
Senjang Senjang
Kadar aspal efektif (%) Min 5,9 5,9 5,5 5,5
Penyerapan aspal (%) Maks. 1,7
Jumlah tumbukan per bidang 75
Min. 4,0
Rongga dalam campuran (%) (2)
Maks. 6,0
Rongga dalam Agregat (VMA) (%) Min. 18 17
Rongga terisi aspal (%) Min. 68
Stabilitas Marshall (kg) Min. 800
Pelelehan (mm) Min 3
Marshall Quotient (kg/mm) Min. 250
Stabilitas Marshall Sisa (%) setelah
Min. 90
perendaman selama 24 jam, 60 ºC (3)
Rongga dalam campuran (%) pada
Min. 3
Kepadatan membal (refusal)(4)

Tabel 6.3.3.(1c) Ketentuan Sifat-sifat Campuran Laston (AC)


Laston
Sifat-sifat Campuran
Lapis Aus Lapis Antara Pondasi
Jumlah tumbukan per bidang 75 112 (1)
Rasio partikel lolos ayakan 0,075mm Min. 1,0
dengan kadar aspal efektif Maks. 1,4
Min. 3,0
Rongga dalam campuran (%) (2)
Maks. 5,0
Rongga dalam Agregat (VMA) (%) Min. 15 14 13
Rongga Terisi Aspal (%) Min. 65 65 65
Stabilitas Marshall (kg) Min. 800 1800 (1)
Min. 2 3
Pelelehan (mm)
Maks 4 6 (1)

6 - 43
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Laston
Sifat-sifat Campuran
Lapis Aus Lapis Antara Pondasi
Stabilitas Marshall Sisa (%) setelah
Min. 90
perendaman selama 24 jam, 60 ºC (3)
Rongga dalam campuran (%) pada
Min. 2
Kepadatan membal (refusal)(4)

Tabel 6.3.3.(1d) Ketentuan Sifat-sifat Campuran Laston yang Dimodifikasi (AC Mod)

Sifat-sifat Campuran Laston(6)

Jumlah tumbukan per bidang 75 112 (1)


Rasio partikel lolos ayakan 0,075mm Min. 1,0
dengan kadar aspal efektif Maks. 1,4
Min. 3,0
Rongga dalam campuran (%) (2)
Maks. 5,0
Rongga dalam Agregat (VMA) (%) Min. 15 14 13
Rongga Terisi Aspal (%) Min. 65 65 65
Stabilitas Marshall (kg) Min. 1000 2250(1)
Min. 2 3
Pelelehan (mm)
Maks. 4 6 (1)
Stabilitas Marshall Sisa (%) setelah
Min. 90
perendaman selama 24 jam, 60 ºC (3)
Rongga dalam campuran (%) pada
Min. 2
Kepadatan membal (refusal)(4)
Stabilitas Dinamis, lintasan/mm(5) Min. 2500
Catatan :
1) Modifikasi Marshall lihat Lampiran 6.3.B.
2) Rongga dalam campuran dihitung berdasarkan pengujian Berat Jenis Maksimum Agregat (Gmm test, SNI
03-6893-2002).
3) Direksi Pekerjaan dapat atau menyetujui AASHTO T283-89 sebagai alternatif pengujian kepekaan terhadap
kadar air. Pengkondisian beku cair (freeze thaw conditioning) tidak diperlukan. Nilai Indirect Tensile
Strength Retained (ITSR) minimum 80% pada VIM (Rongga dalam Campuran) 7% ± 0,5%. Untuk
mendapatkan VIM 7%±0,5%, buatlah benda uji Marshall dengan variasi tumbukan pada kadar aspal
optimum, misal 2x40, 2x50, 2x60 dan 2x75 tumbukan. Kemudian dari setiap benda uji tersebut, hitung nilai
VIM dan buat hubungan antara jumlah tumbukan dan VIM. Dari grafik tersebut dapat diketahui jumlah
tumbukan yang memiliki nilai VIM 7±0,5%, kemudian lakukan pengujian ITSR untuk mendapatkan
Indirect Tensile Strength Ratio (ITSR) sesuai SNI 6753:2008 atau AASTHO T 283-89 tanpa pengondisian -
18 ± 3ºC.
4) Untuk menentukan kepadatan membal (refusal), disarankan menggunakan penumbuk bergetar (vibratory
hammer) agar pecahnya butiran agregat dalam campuran dapat dihindari. Jika digunakan penumbukan
manual jumlah tumbukan per bidang harus 600 untuk cetakan berdiamater 6 inch dan 400 untuk cetakan
berdiamater 4 inch
5) Pengujian Wheel Tracking Machine (WTM) harus dilakukan pada temperatur 60C. Prosedur pengujian
harus mengikuti serti pada Manual untuk Rancangan dan Pelaksanaan Perkerasan Aspal, JRA Japan Road
Association (1980).

4) Rumus Campuran Rancangan (Design Mix Formula)

Paling sedikit 30 hari sebelum dimulainya pekerjaan aspal, Penyedia Jasa harus
menyerahkan secara tertulis kepada Direksi Pekerjaan, usulan DMF untuk
campuran yang akan digunakan dalam pekerjaan. Rumus yang diserahkan harus
menentukan untuk campuran berikut ini:

6 - 44
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

a) Sumber-sumber agregat.
b) Ukuran nominal maksimum partikel.
c) Persentase setiap fraksi agregat yang cenderung akan digunakan Penyedia
Jasa, pada penampung dingin maupun penampung panas.
d) Gradasi agregat gabungan yang memenuhi gradasi yang disyaratkan dalam
Tabel 6.3.2.(3).
e) Kadar aspal optimum dan efektif terhadap berat total campuran .
f) Rentang temperatur pencampuran aspal dengan agregat dan temperatur saat
campuran beraspal dikeluarkan dari alat pengaduk (mixer).

Penyedia Jasa harus menyediakan data dan grafik hubungan sifat-sifat campuran
beraspal terhadap variasi kadar aspal hasil percobaan laboratorium untuk
menunjukkan bahwa campuran memenuhi semua kriteria dalam Tabel 6.3.3.(1a)
sampai dengan Tabel 6.3.3.(1d) tergantung campuran aspal mana yang dipilih.

Dalam tujuh hari setalah DMF diterima, Direksi Pekerjaan harus :

a) Menyatakan bahwa usulan tersebut yang memenuhi Spesifikasi dan meng-


ijinkan Penyedia Jasa untuk menyiapkan instalasi pencampur aspal dan
peng-hamparan percobaan.

b) Menolak usulan tersebut jika tidak memenuhi Spesifikasi.

Bilamana DMF yang diusulkan ditolak oleh Direksi Pekerjaan, maka Penyedia Jasa
harus melakukan percobaan campuran tambahan dengan biaya sendiri untuk
memperoleh suatu campuran rancangan yang memenuhi Spesifikasi. Direksi
Pekerjaan, menurut pendapatnya, dapat menyarankan Penyedia Jasa untuk
memodifikasi sebagian rumusan rancangannya atau mencoba agregat lainnya.

5) Rumusan Campuran Kerja (Job Mix Formula, JMF)

Percobaan campuran di instasi pencampur aspal (Asphalt Mixing Plant, AMP) dan
penghamparan percobaan yang memenuhi ketentuan akan menjadikan DMF dapat
disetujui sebagai JMF.

Segera setelah DMF disetujui oleh Direksi Pekerjaan, Penyedia Jasa harus
melakukan penghamparan percobaan paling sedikit 50 ton untuk setiap jenis
campuran yang diproduksi dengan AMP, dihampar dan dipadatkan di lokasi yang
ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan dengan peralatan dan prosedur yang diusulkan.
Penyedia Jasa harus menunjukkan bahwa setiap alat penghampar (paver) mampu
menghampar bahan sesuai dengan tebal yang disyaratkan tanpa segregasi, tergores,
dsb. Kombinasi penggilas yang diusulkan harus mampu mencapai kepadatan yang
disyaratkan dalam rentang temperatur pemadatan sebagaimana yang dipersyaratkan
dalam Tabel 6.3.5.(1). Tidak ada pembayaran terpisah yang akan dilakukan untuk
percobaan penghamparan ini.

Contoh campuran harus dibawa ke laboratorium dan digunakan untuk membuat


benda uji Marshall maupun untuk pemadatan membal (refusal). Hasil pengujian ini
harus dibandingkan dengan Tabel 6.3.3.(1a) sampai dengan Tabel 6.3.3.(1d) .
Bilamana percobaan tersebut gagal memenuhi Spesifikasi pada salah satu
ketentuannya maka perlu dilakukan penyesuaian dan percobaan harus diulang

6 - 45
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

kembali. Direksi pekerjaan tidak akan menyetujui DMF sebagai JMF sebelum
penghamparan percobaan yang dilakukan memenuhi semua ketentuan dan disetujui.

Pekerjaan pengaspalan yang permanen belum dapat dimulai sebelum diperoleh JMF
yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Bilamana telah disetujui, JMF menjadi
definitifsampai Direksi Pekerjaan menyetujui JMF pengganti lainnya. Mutu
campuran harus dikendalikan, terutama dalam toleransi yang diijinkan, seperti yang
diuraikan pada Tabel 6.3.3.(2) di bawah ini.

Dua belas benda uji Marshall harus dibuat dari setiap penghamparan percobaan.
Contoh campuran beraspal dapat diambil dari instalasi pencampur aspal atau dari
truk di AMP, dan dibawa ke laboratorium dalam kotak yang terbungkus rapi. Benda
uji Marshall harus dicetak dan dipadatkan pada temperatur yang disyaratkan dalam
Tabel 6.3.5.(1) dan menggunakan jumlah penumbukan yang disyaratkan dalam
Tabel 6.3.3.(1a) sampai dengan Tabel 6.3.3.(1d). Kepadatan rata-rata (Gmb) dari
semua benda uji yang diambil dari penghamparan percobaan yang memenuhi
ketentuan harus menjadi Kepadatan Standar Kerja (Job Standard Density), yang
harus dibandingkan dengan pemadatan campuran beraspal terhampar dalam
pekerjaan.

6) Penerapan JMF dan Toleransi Yang Diijinkan

a) Seluruh campuran yang dihampar dalam pekerjaan harus sesuai dengan


JMF, dalam batas rentang toleransi yang disyaratkan dalam Tabel 6.3.3.(2)
di bawah ini.

b) Setiap hari Direksi Pekerjaan akan mengambil benda uji baik bahan
maupun campurannya seperti yang digariskan dalam Pasal 6.3.7.(3) dan
6.3.7.(4) dari Spesifikasi ini, atau benda uji tambahan yang dianggap perlu
untuk pemeriksaan keseragaman campuran. Setiap bahan yang gagal
memenuhi batas-batas yang diperoleh dari JMF dan Toleransi Yang
Diijinkan harus ditolak.

c) Bilamana setiap bahan pokok memenuhi batas-batas yang diperoleh dari


JMF dan Toleransi Yang Diijinkan, tetapi menunjukkan perubahan yang
konsisten dan sangat berarti atau perbedaan yang tidak dapat diterima atau
jika sumber setiap bahan berubah, maka suatu JMF baru harus diserahkan
dengan cara seperti yang disebut di atas dan atas biaya Penyedia Jasa sendiri
untuk disetujui, sebelum campuran beraspal baru dihampar di lapangan.

Tabel 6.3.3.(2) Toleransi Komposisi Campuran :

Agregat Gabungan Toleransi Komposisi Campuran


Sama atau lebih besar dari 2,36 mm ± 5 % berat total agregat
Lolos ayakan 2,36 mm sampai No.50 ± 3 % berat total agregat
Lolos ayakan No.100 dan tertahan No.200 ± 2 % berat total agregat
Lolos ayakan No.200 ± 1 % berat total agregat

Kadar aspal Toleransi


Kadar aspal ± 0,3 % berat total campuran

6 - 46
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Temperatur Campuran Toleransi

Bahan meninggalkan AMP dan dikirim ke - 10 ºC dari temperatur


tempat penghamparan campuran beraspal di truk saat
keluar dari AMP

d) Interpretasi Toleransi Yang Diijinkan

Batas-batas absolut yang ditentukan oleh JMF maupun Toleransi Yang


diijinkan menunjukkan bahawa Penyedia Jasa harus bekerja dalam batas-
batas yang digariskan pada setiap saat.

6.3.4 KETENTUAN INSTALASI PENCAMPUR ASPAL

1) Instalasi Pencampur Aspal (Asphalt Mixing Plant, AMP)

a) Instalasi Pencampur Aspal harus mempunyai sertifikat “laik operasi” dan


sertifikat kalibrasi dari Metrologi untuk timbangan aspal, agregat dan bahan
pengisi (filler) tambahan, yang masih berlaku. Jika menurut pendapat
Direksi Pekerjaan, Instalasi Pencampur Aspal atau timbangannya dalam
kondisi tidak baik maka Instalasi Pencampur Aspal atau timbangan tersebut
harus dikalibrasi ulang meskipun sertifikatnya masih berlaku.

b) Berupa pusat pencampuran dengan sistem penakaran (batching) yang


dilengkapi ayakan panas (hot bin screen) dan mampu memasok mesin
penghampar secara terus menerus bilamana menghampar campuran pada
kecepatan normal dan ketebalan yang dikehendaki;

c) Harus dirancangi dan dioperasikan sedemikian hingga dapat menghasilkan


campuran dalam rentang toleransi JMF;

d) Harus dipasang di lokasi yang jauh dari pemukiman dan disetujui oleh
Direksi Pekerjaan sehingga tidak mengganggu ataupun mengundang protes
dari penduduk di sekitarnya;

e) Harus dilengkapi dengan alat pengumpul debu (dust collector) yang lengkap
yaitu sistem pusaran kering (dry cyclone) dan pusaran basah (wet cyclone)
sehingga tidak menimbulkan pencemaran debu. Bilamana salah satu sistem
di atas rusak atau tidak berfungsi maka AMPtersebut tidak boleh
dioperasikan;

f) Mempunyai pengaduk (pug mill) dengan kapasitas asli minimum 800 kg


yang bukan terdiri dari gabungan dari 2 instalasi pencampur aspal atau lebih
dan dilengkapi dengan sistem penimbangan secara komputerisasi jika
digunakan untuk memproduksi AC modifikasi atau AC-Base selain dari
pekerjaan minor.

g) Jika digunakan untuk pembuatan campuran aspal yang dimodifikasi harus


dilengkapi dengan pengendali temperatur termostatik otomatis yang mampu
mempertahankan temperatur campuran sebesar 175 oC. Jika digunakan
bahan bakar gas maka pemanas (dryer) harus dilengkapi dengan alat
pengendali temperatur (regulator) untuk mempertahankan panas dengan
konstan.

6 - 47
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

h) Jika digunakan untuk pembuatan AC-Base, mempunyai pemasok dingin


(cold bin) yang jumlahnya tidak kurang dari lima buah dan untuk jenis
campuran beraspal lainnya minimal tersedia 4 pemasok dingin..

i) Dirancang sebagaimana mestinya, dilengkapi dengan semua perlengkapan


khusus yang diperlukan.

j) Bahan bakar yang digunakan untuk memanaskan agregat haruslah minyak


tanah atau solar dengan berat jenis maksimum 860 kg/m3 atau gas Elpiji atau
LNG (Liquefied Natural Gas) atau gas yang diperoleh dari batu bara. Batu
bara yang digunakan dalam proses gasifikasi haruslah min. 5.500 K.Cal/kg.
Ketentuan lebih lanjut penggunaan alat pencampur aspal dengan bahan
bakar batu bara dengan sistem tidak langsung (indirect), mengacu pada
Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum Nomor 10/SE/M/2011 Tanggal 31
Oktober 2011, Perihal Pedoman Penggunaan batu bara untuk pemanas
agregat pada unit produksi campuran beraspal (AMP).

k) Agregat yang diambil dari pemasok panas (hot bin) atau pengering (dryer)
tidak boleh mengandung jelaga dan atau sisa minyak yang tidak habis
terbakar.

2) Tangki Penyimpan Aspal

Tangki penyimpan bahan aspal harus dilengkapi dengan pemanas yang dapat
dikendalikan dengan efektif dan handal sampai suatu temperatur dalam rentang yang
disyaratkan. Pemanasan harus dilakukan melalui kumparan uap (steam coils), listrik,
atau cara lainnya sehingga api tidak langsung memanasi tangki aspal. Setiap tangki
harus dilengkapi dengan sebuah termometer yang terletak sedemikian hingga
temperatur aspal dapat dengan mudah dilihat. Sebuah keran harus dipasang pada
pipa keluar dari setiap tangki untuk pengambilan benda uji.

Sistem sirkulasi untuk bahan aspal harus mempunyai ukuran yang sesuai agar dapat
memastikan sirkulasi yang lancar dan terus menerus selama periode pengoperasian.
Perlengkapan yang sesuai harus disediakan, baik dengan selimut uap (steam jacket)
atau perlengkapan isolasi lainnya, untuk mempertahankan temperatur yang
disyaratkan dari seluruh bahan pengikat aspal dalam sistem sirkulasi.

Daya tampung tangki penyimpanan minimum adalah paling sedikit untuk kuantitas
dua hari produksi. Paling sedikit harus disediakan dua tangki yang berkapasitas
sama. Tangki-tangki tersebut harus dihubungkan ke sistem sirkulasi sedemikian rupa
agar masing-masing tangki dapat diisolasi secara terpisah tanpa mengganggu
sirkulasi aspal ke alat pencampur.

Untuk campuran aspal yang dimodifikasi, sekurang-kurangnya sebuah tangki


penyimpan aspal tambahan dengan kapasitas yang tidak kurang dari 20 tonharus
disediakan, dipanaskan tidak langsung dengan kumparan minyak atau pemanas
listrik dan dilengkapi dengan pengendali temperatur termostatik yang mampu
memper-tahankan temperatursebesar 175oC. Tangki ini harus disediakan untuk
penyimpanan aspal yang dimodifikasi selama periode dimana aspal tersebut
diperlukan untuk proyek.

Semua tangki penyimpan aspal untuk pencampuran aspal alam yang mengandung
bahan mineral dan untuk aspal yang dimodifikasi lainnya, bilamana akan terjadi
pemisahan, harus dilengkapi dengan pengaduk mekanis yang dirancang sedemikian

6 - 48
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

hingga setiap saat dapat mempertahankan bahan mineral didalam bahan pengikat
sebagai suspensi.

3) Tangki Penyimpan Aditif

Tangki penyimpanan aditif dengan kapasitas minimal dapat menyimpan bahan aditif
untuk satu hari produksi campuran beraspal dan harus dilengkapi dengan dozing
pump sehingga dapat memasok langsung aditif ke pugmil dengan kuantitas dan
tekanan tertentu.

4) Ayakan Panas

Ukuran saringan panas yang disediakan harus sesuai dengan ukuran agregat untuk
setiap jenis campuran yang akan diproduksi dengan merujuk ke Tabel 6.3.2.(1b).

5) Pengendali Waktu Pencampuran

Instalasi harus dilengkapi dengan perlengkapan yang handal untuk mengendalikan


waktu pencampuran dan menjaga waktu pencampuran tetap konstan kecuali kalau
diubah atas perintah Direksi Pekerjaan.

6) Timbangan dan Rumah Timbang

Timbangan harus disediakan untuk menimbang agregat, aspal dan bahan pengisi.
Rumah timbang harus disediakan untuk menimbang truk bermuatan yang siap
dikirim ke tempat penghamparan. Timbangan tersebut harus memenuhi ketentuan
seperti yang dijelaskan di atas.

7) Penyimpanan dan Pemasokan Bahan Pengisi

Silo atau tempat penyimpanan yang tahan cuaca untuk menyimpan dan memasok
bahan pengisi dengan sistem penakaran berat harus disediakan.

8) Penyimpanan dan Pemasokan Aspal Alam

Jika Aspal Alam Berbutir digunakan untuk pekerjaan sebuah tempat penyimpanan
yang tahan cuaca dan elevator yang cocok untuk memasok yang dilengkapi dengan
sistem penakaran berat harus disediakan.

9) Ketentuan Keselamatan Kerja

a) Tangga yang memadai dan aman untuk naik ke landasan (platform) alat
pencampur dan landasan berpagar yang digunakan sebagai jalan antar unit
perlengkapan harus dipasang. Untuk mencapai puncak bak truk,
perlengkapan untuk landasan atau perangkat lain yang sesuai harus
disediakan sehingga Direksi Pekerjaan dapat mengambil benda uji maupun
memeriksa temperatur campuran.

Untuk memudahkan pelaksanaan kalibrasi timbangan, pengambilan benda


uji dan lain-lainnya, maka suatu sistem pengangkat atau katrol harus
disediakan untuk menaikkan peralatan dari tanah ke landasan (platform)
atau sebaliknya. Semua roda gigi, roda beralur (pulley), rantai, rantai gigi
dan bagian bergerak lainnya yang berbahaya harus seluruhnya dipagar dan
dilindungi.

6 - 49
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

b) Lorong yang cukup lebar dan tidak terhalang harus disediakan di dan sekitar
tempat pengisian muatan truk. Tempat ini harus selalu dijaga agar bebas dari
benda yang jatuh dari alat pencampur.

10) Peralatan Pengangkut

a) Truk untuk mengangkut campuran aspal harus mempunyai bak terbuat dari
logam yang rapat, bersih dan rata, yang telah disemprot dengan sedikit air
sabun, atau larutan kapur untuk mencegah melekatnya campuran aspal pada
bak. Setiap genangan minyak pada lantai bak truk hasil penyemprotan
sebelumnya harus dibuang sebelum campuran aspal dimasukkan dalam truk.

b) Tiap muatan harus ditutup dengan kanvas/terpal atau bahan lainnya yang
cocok dengan ukuran yang sedemikian rupa agar dapat melindungi
campuran aspal terhadap cuaca dan proses oksidasi. Bilamana dianggap
perlu, bak truk hendaknya diisolasi dan seluruh penutup harus diikat
kencang agar campuran aspal yang tiba di lapangan pada temperatur yang
disyaratkan.

c) Truk yang menyebabkan segregasi yang berlebihan pada campuran aspal


aki-bat sistem pegas atau faktor penunjang lainnya, atau yang menunjukkan
kebocoran oli yang nyata, atau yang menyebabkan keterlambatan yang tidak
semestinya, atas perintah Direksi Pekerjaan harus dikeluarkan dari pekerjaan
sampai kondisinya diperbaiki.

d) Dump Truk yang mempunyai badan menjulur dan bukaan ke arah belakang
harus disetel agar seluruh campuran aspal dapat dituang ke dalam
penampung dari alat penghampar aspal tanpa mengganggu kerataan
pengoperasian alat penghampar dan truk harus tetap bersentuhan dengan alat
penghampar. Truk yang mempunyai lebar yang tidak sesuai dengan lebar
alat penghampar tidak diperkenankan untuk digunakan. Truk aspal dengan
muatan lebih tidak diperkenankan.

e) Jumlah truk untuk mengangkut campuran aspal harus cukup dan dikelola
sedemikian rupa sehingga peralatan penghampar dapat beroperasi secara
menerus dengan kecepatan yang disetujui.

Penghampar yang sering berhenti dan berjalan lagi akan menghasilkan


permukaan yang tidak rata sehingga tidak memberikan kenyamanan bagi
pengendara serta mengurangi umur rencana akibat beban dinamis. Penyedia
Jasa tidak diijinkan memulai penghamparan sampai minimum terdapat tiga
truk di lapangan yang siap memasok campuran aspal ke peralatan
penghampar. Kecepatan peralatan penghampar harus dioperasikan
sedemikian rupa sehingga jumlah truk yang digunakan untuk mengangkut
campuran aspal setiap hari dapat menjamin berjalannya peralatan
penghampar secara menerus tanpa henti. Bilamana penghamparan terpaksa
harus dihentikan, maka Direksi Pekerjaan hanya akan mengijinkan
dilanjutkannya penghamparan bilamana minimum terdapat tiga truk di
lapangan yang siap memasok campuran aspal ke peralatan penghampar.
Ketentuan ini merupakan petunjuk pelaksanaan yang baik dan Penyedia Jasa
tidak diperbolehkan menuntut tambahan biaya atau waktu atas
keterlambatan penghamparan yang diakibatkan oleh kegagalan Penyedia
Jasa untuk menjaga kesinambungan pemasokan campuran aspal ke peralatan
penghampar.

6 - 50
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

11) Peralatan Penghampar dan Pembentuk

a) Peralatan penghampar dan pembentuk harus penghampar mekanis bermesin


sendiri yang disetujui, yang mampu menghampar dan membentuk campuran
aspal sesuai dengan garis, kelandaian serta penampang melintang yang
diperlukan.

b) Alat penghampar harus dilengkapi dengan penampung dan dua ulir pembagi
dengan arah gerak yang berlawanan untuk menempatkan campuran aspal
secara merata di depan "screed" (sepatu) yang dapat disetel. Peralatan ini
harus dilengkapi dengan perangkat kemudi yang dapat digerakkan dengan
cepat dan efisien dan harus mempunyai kecepatan jalan mundur seperti
halnya maju. Penampung (hopper) harus mempunyai sayap-sayap yang
dapat dilipat pada saat setiap muatan campuran aspal hampir habis untuk
menghindari sisa bahan yang sudah mendingin di dalamnya.

c) Alat penghampar harus mempunyai perlengkapan elektronik dan/atau


mekanis pengendali kerataan seperti batang perata (leveling beams), kawat
dan sepatu pengarah kerataan (joint matching shoes) dan dan peralatan
bentuk penampang (cross fall devices) untuk mempertahankan ketepatan
kelandaian dan kelurusan garis tepi perkerasan tanpa perlu menggunakan
acuan tepi yang tetap (tidak bergerak).

d) Alat penghampar harus dilengkapi dengan "screed" (perata) baik dengan


jenis penumbuk (tamper) maupun jenis vibrasi dan perangkat untuk
memanasi "screed" (sepatu) pada temperatur yang diperlukan untuk
menghampar campuran aspal tanpa menggusur atau merusak permukaan
hasil hamparan.

e) Istilah "screed" (perata) mengacu pada pengambang mekanis standar


(standard floating mechanism) yang dihubungkan dengan lengan arah
samping (side arms) pada titik penambat yang dipasang pada unit pengerak
alat penghampar pada bagian belakang roda penggerak dan dirancang untuk
menghasilkan permukaan tektur lurus dan rata tanpa terbelah, tergeser atau
beralur.

f) Bilamana selama pelaksanaan, hasil hamparan peralatan penghampar dan


pembentuk meninggalkan bekas pada permukaan, segregasi atau cacat atau
ketidak-rataan permukaan lainnya yang tidak dapat diperbaiki dengan cara
modifikasi prosedur pelaksanaan, maka penggunaan peralatan tersebut harus
dihentikan dan peralatan penghampar dan pembentuk lainnya yang
memenuhi ketentuan harus disediakan oleh Penyedia Jasa.

12) Peralatan Pemadat

a) Setiap alat penghampar harus disertai paling sedikit satu dua alat pemadat
roda baja (steel wheel roller) dan satu alat pemadat roda karet (tyre roller).
Paling sedikit harus disediakan satu tambahan alat pemadat roda karet (tire
roller) untuk setiap kapasitas produksi yang melebihi 40 ton per jam.
Semua alat pemadat harus mempunyai tenaga penggerak sendiri.

b) Alat pemadat roda karet harus dari jenis yang disetujui dan memiliki tidak
kurang dari sembilan roda yang permukaannya halus dengan ukuran yang
sama dan mampu dioperasikan pada tekanan ban pompa (6,0 - 6,5) kg/cm2
atau (85 – 90) psipada jumlah lapis anyaman ban (ply) yang sama. Roda-

6 - 51
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

roda harus berjarak sama satu sama lain pada kedua sumbu dan diatur
sedemikian rupa sehingga tengah-tengah roda pada sumbu yang satu terletak
di antara roda-roda pada sumbu yang lainnya secara tumpang-tindih
(overlap). Setiap roda harus dipertahankan tekanan pompanya pada tekanan
operasi yang disyaratkan sehingga selisih tekanan pompa antara dua roda
tidak melebihi 0,35 kg/cm2 (5 psi). Suatu perangkat pengukur tekanan ban
harus disediakan untuk memeriksa dan menyetel tekanan ban pompa di
lapangan pada setiap saat. Untuk setiap ukuran dan jenis ban yang
digunakan, Penyedia Jasa harus memberikan kepada Direksi Pekerjaan
grafik atau tabel yang menunjukkan hubungan antara beban roda, tekanan
ban pompa, tekanan pada bidang kontak, lebar dan luas bidang kontak.
Setiap alat pemadat harus dilengkapi dengan suatu cara penyetelan berat
total dengan pengaturan beban (ballasting) sehingga beban per lebar roda
dapat diubah dalam rentang(300 – 600) kilogram per 0,1 meter. Tekanan
dan beban roda harus disetel sesuai dengan permintaan Direksi Pekerjaan,
agar dapat memenuhi ketentuan setiap aplikasi khusus. Pada umumnya
pemadatan dengan alat pemadat roda karet pada setiap lapis campuran aspal
harus dengan tekanan yang setinggi mungkin yang masih dapat dipikul
bahan.

c) Alat pemadat roda baja yang bermesin sendiri dapat dibagi atas dua jenis:
* Alat pemadat tandem statis
* Alat pemadat vibrator ganda (twin drum vibratory)

Alat pemadat statis minimum harus mempunyai berat statis tidak kurang
dari 8 ton. Alat pemadat vibrator ganda mempunyai berat statis tidak
kurang dari 6 ton. Roda gilas harus bebas dari permukaan yang datar,
penyok, robek-robek atau tonjolan yang merusak permukaan perkerasan.

d) Dalam penghamparan percobaan, Penyedia Jasa harus dapat menunjukkan


kombinasi jenis penggilas untuk memadatkan setiap jenis campuran sampai
dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan, sebelum JMF disetujui. Penyedia
Jasa harus melanjutkan untuk menyimpan dan menggunakan kombinasi
penggilas yang disetujui untuk setiap campuran. Tidak ada alternatif lain
yang dapat diperkenankan kecuali jika Penyedia Jasa dapat menunjukkan
kepada Direksi Pekerjaan bahwa kombinasi penggilas yang baru paling
sedikit seefektif yang sudah disetujui.

12) Perlengkapan Lainnya

Semua perlengkapan lapangan yang harus disedikan termasuk tidak terbatas pada :
 Mesin Penumbuk (Petrol Driven Vibrating Plate).
 Alat pemadat vibrator, 600 kg.
 Mistar perata 3 meter.
 Thermometer (jenis arloji) 200  C (minimum tiga unit).
 Kompresor dan jack hammer.
 Mistar perata 3 meter yang dilengkapi dengan waterpass dan dapat disesuaikan
untuk pembacaan 3% atau lereng melintang lainnya dan super-elevasi antara 0
sampai 6%.
 Mesin potong dengan mata intan atau serat.
 Penyapu Mekanis Berputar.
 Pengukur kedalaman aspal yang telah dikalibrasi.

6 - 52
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

 Pengukur tekanan ban.

6.3.5 PEMBUATAN DAN PRODUKSI CAMPURAN BERASPAL

1) Kemajuan Pekerjaan

Kecuali untuk pekerjaan manual atau penambalan, campuran beraspal tidak boleh
diproduksi bilamana tidak cukup tersedia peralatan pengangkutan, penghamparan
atau pembentukan, atau pekerja, yang dapat menjamin kemajuan pekerjaan dengan
tingkat kecepatan minimum 60 % kapasitas instalasi pencampuran.

2) Penyiapan Bahan Aspal

Bahan aspal harus dipanaskan dengan temperatur sampai dengan 160ºC di dalam
suatu tangki yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mencegah terjadinya
pemanasan langsung setempat dan mampu mengalirkan bahan aspal secara
berkesinambungan ke alat pencampur secara terus menerus pada temperatur yang
merata setiap saat. Pada setiap hari sebelum proses pencampuran dimulai, kuantitas
aspal minimum harus mencukupi untuk perkerjaan yang direncanakan pada hari itu
yang siap untuk dialirkan ke alat pencampur.

3) Penyiapan Agregat

a) Setiap fraksi agregat harus disalurkan ke instalasi pencampur aspal melalui


pemasok penampung dingin yang terpisah. Pra-pencampuran agregat dari
berbagai jenis atau dari sumber yang berbeda tidak diperkenankan. Agregat
untuk campuran beraspal harus dikeringkan dan dipanaskan pada alat
pengering sebelum dimasukkan ke dalam alat pencampur. Nyala api yang
terjadi dalam proses pengeringan dan pemanasan harus diatur secara tepat
agar dapat mencegah terbentuknya selaput jelaga pada agregat.

b) Bila agregat akan dicampur dengan bahan aspal, maka agregat harus kering
dan dipanaskan terlebih dahulu dengan temperatur dalam rentang yang
disyaratkan untuk bahan aspal, tetapi tidak melampaui 10ºC di atas
temperatur bahan aspal.

c) Bahan pengisi tambahan (filler added) harus ditakar secara terpisah dalam
penampung kecil yang dipasang tepat di atas alat pencampur. Bahan pengisi
tidak boleh ditabur di atas tumpukan agregat maupun dituang ke dalam
penampung instalasi pemecah batu. Hal ini dimaksudkan agar pengendalian
kadar filler dapat dijamin.

4) Penyiapan Pencampuran

a) Agregat kering yang telah disiapkan seperti yang dijelaskan di atas, harus
dicampur di instalasi pencampuran dengan proporsi tiap fraksi agregat yang
tepat agar memenuhi rumusan campuran kerja (JMF). Proporsi takaran ini
harus ditentukan dengan mencari gradasi secara basah dari contoh yang
diambil dari tumpukan agregat (stockpile) segera sebelum produksi
campuran dimulai dan pada interval waktu tertentu sesudahnya,
sebagaimana ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan, untuk menjamin
pengendalian penakaran. Bahan aspal harus ditimbang atau diukur dan

6 - 53
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

dimasukkan ke dalam alat pencampur dengan jumlah yang ditetapkan sesuai


dengan JMF. Bilamana digunakan instalasi pencampur sistem penakaran, di
dalam unit pengaduk seluruh agregat harus dicampur kering terlebih dahulu,
kemudian baru aspal dan aditif dengan jumlah yang tepat disemprotkan
langsung ke dalam unit pengaduk dan diaduk dengan waktu sesingkat
mungkin yang telah ditentukan untuk menghasilkan campuran yang
homogen dan semua butiran agregat terselimuti aspal dengan merata. Waktu
pencampuran total harus ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan dan diatur
dengan perangkat pengendali waktu yang handal. Lamanya waktu
pencampuran harus ditentukan secara berkala atas perintah Direksi
Pekerjaan melalui “pengujian derajat penyelimutan aspal terhadap butiran
agregat kasar” sesuai dengan prosedur AASHTO T195-67 (2007) (biasanya
sekitar 45 detik).

b) Temperatur campuran beraspal saat dikeluarkan dari alat pencampur harus


dalam rentang absolut seperti yang dijelaskan dalam Tabel 6.3.5.(1). Tidak
ada campuran beraspal yang diterima dalam Pekerjaan bilamana temperatur
pencampuran melampaui temperatur pencampuran maksimum yang
disyaratkan.
5) Temperatur Pembuatan dan Penghamparan Campuran

Viskositas aspal untuk masing-masing prosedur pelaksanaan dan perkiraan


temperatur aspal umumnya seperti yang dicantumkan dalam Tabel 6.3.5.(1). Direksi
Pekerjaan dapat memerintahkan atau menyetujui rentang temperatur lain
berdasarkan pengujian viskositas aktual aspal atau aspal modifikasi yang digunakan
pada proyek tersebut, dalam rentang viskositas seperti diberikan pada Tabel 6.3.5.(1)
dengan melihat sifat-sifat campuran di lapangan saat penghamparan, selama
pemadatan dan hasil pengujian kepadatan pada ruas percobaan. Campuran aspal
yang tidak memenuhi batas temperatur yang disyaratkan pada saat pencurahan dari
AMP kedalam truk, atau pada saat pengiriman ke alat penghampar, tidak boleh
diterima untuk digunakan pada pekerjaan yang permanen.

Tabel 6.3.5.(1) Ketentuan Viskositas & Temperatur Aspal untuk Pencampuran &
Pemadatan
Viskositas Aspal Perkiraan Temperatur Aspal (C)
No. Prosedur Pelaksanaan
(Pas) Tipe I Tipe IIB
1 Pencampuran benda uji Marshall 0,2 155 1 165 1
2 Pemadatan benda uji Marshall 0,4 145 1 155 1
3 Pencampuran, rentang temperatur 0,2 - 0,5 145 – 155 155 – 165
sasaran
4 Menuangkan campuran aspal dari  0,5 135 – 150 145 – 160
alat pencampur ke dalam truk
5 Pemasokan ke Alat Penghampar 0,5 - 1,0 130 – 150 140 – 160
6 Pemadatan Awal (roda baja) 1-2 125 – 145 135 – 155
7 Pemadatan Antara (roda karet) 2 - 20 100 – 125 110 – 135
8 Pemadatan Akhir (roda baja) < 20 > 95 >105
Catatan :
1 Pas = 100 cSt = 100 mm2/s dimana :
Pas : Pascal seconds
cSt : Centistokes
mm2/s : square millimeter per second

Penentuan temperatur pencampuran dan pemadatan aspal Tipe IIA harus dilakukan
berdasarkan nilai viskositas seperti yang tertera dalam Tabel 6.3.5.(1). Contoh

6 - 54
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

grafik hubungan antara viskositas dan temperatur ditunjukkan pada Gambar


6.3.5.(1).
100.0
HANYA CONTOH

Rentang viskositas
10.0 pemadatan

Viskositas (Pa.s)
1.0 Rentang
viskositas
pencampuran

0.1
70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200
o
Temperatur ( C)
Rentang temperatur Rentang temperatur
pemadatan pencampuran

Gambar 6.3.5.(1) Contoh Hubungan antara Viskositas dan Temperatur

6.3.6 PENGHAMPARAN CAMPURAN

1) Menyiapkan Permukaan Yang Akan Dilapisi

a) Bilamana permukaan yang akan dilapisi termasuk perataan setempat dalam


kondisi rusak, menunjukkan ketidakstabilan, atau permukaan aspal lama
telah berubah bentuk secara berlebihan atau tidak melekat dengan baik
dengan lapisan di bawahnya, harus dibongkar atau dengan cara perataan
kembali lainnya, semua bahan yang lepas atau lunak harus dibuang, dan
permukaannya dibersihkan dan/atau diperbaiki dengan campuran beraspal
atau bahan lain yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Bilamana permukaan
yang akan dilapisi terdapat atau mengandung sejumlah bahan dengan rongga
dalam campuran yang tidak memadai, sebagimana yang ditunjukkan dengan
adanya kelelehan plastis dan/atau kegemukan (bleeding), seluruh lapisan
dengan bahan plastis ini harus dibongkar. Pembongkaran semacam ini
harus diteruskan ke bawah sampai diperoleh bahan yang keras (sound).
Toleransi permukaan setelah diperbaiki harus sama dengan yang disyaratkan
untuk pelaksanaan lapis pondasi agregat.

b) Sesaat sebelum penghamparan, permukaan yang akan dihampar harus diber-


sihkan dari bahan yang lepas dan yang tidak dikehendaki dengan sapu
mekanis yang dibantu dengan cara manual bila diperlukan. Lapis perekat
(tack coat) atau lapis resap pengikat (prime coat) harus diterapkan sesuai
dengan Seksi 6.1 dari Spesifikasi ini.

2) Acuan Tepi

Untuk menjamin sambungan memanjang vertikal maka harus digunakan besi profil
siku dengan ukuran tinggi 5 mm lebih kecil dari tebal rencana dan dipakukan pada
perkerasan dibawahnya.

6 - 55
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

3) Penghamparan Dan Pembentukan

a) Sebelum memulai penghamparan, sepatu (screed) alat penghampar harus


dipanaskan. Campuran beraspal harus dihampar dan diratakan sesuai dengan
kelandaian, elevasi, serta bentuk penampang melintang yang disyaratkan.

b) Penghamparan harus dimulai dari lajur yang lebih rendah menuju lajur yang
lebih tinggi bilamana pekerjaan yang dilaksanakan lebih dari satu lajur.

c) Mesin vibrasi pada screed alat penghampar harus dijalankan selama


penghamparan dan pembentukan.

d) Penampung alat penghampar (hopper) tidak boleh dikosongkan, sisa


campuran beraspal harus dijaga tidak kurang dari temperatur yang
disyaratkan dalam Tabel 6.3.5(1).

e) Alat penghampar harus dioperasikan dengan suatu kecepatan yang tidak


menyebabkan retak permukaan, koyakan, atau bentuk ketidakrataan lainnya
pada permukaan. Kecepatan penghamparan harus disetujui oleh Direksi
Pekerjaan dan ditaati.

f) Bilamana terjadi segregasi, koyakan atau alur pada permukaan, maka alat
penghampar harus dihentikan dan tidak boleh dijalankan lagi sampai
penyebabnya telah ditemukan dan diperbaiki.

g) Proses perbaikan lubang-lubang yang timbul karena terlalu kasar atau bahan
yang tersegregasi karena penaburan material yang halus sedapat mungkin
harus dihindari sebelum pemadatan. Butiran yang kasar tidak boleh
ditebarkan diatas permukan yang telah padat dan bergradasi rapat.

g) Harus diperhatikan agar campuran tidak terkumpul dan mendingin pada


tepi-tepi penampung alat penghampar atau tempat lainnya.

h) Bilamana jalan akan dihampar hanya setengah lebar jalan atau hanya satu
lajur untuk setiap kali pengoperasian, maka urutan penghamparan harus
dilakukan sedemikian rupa sehingga perbedaan akhir antara panjang
penghamparan lajur yang satu dengan yang bersebelahan pada setiap hari
produksi dibuat seminimal mungkin.

i) Selama pekerjaan penghamparan fungsi-fungsi berikut ini harus dipantau


dan dikendalikan secara elektronik atau secara manual sebagaimana yang
diperlukan untuk menjamin terpenuhinya elevasi rancangan dan toleransi
yang disyaratkan serta ketebalan dari lapisan beraspal:

i) Tebal hamparan aspal gembur sebelum dipadatkan, sebelum


dibolehkannya pemadatan (diperlukan pemeriksaan secara manual)

ii) Kelandaian sepatu (screed) alat penghampar untuk menjamin


terpenuhinya lereng melintang dan super elevasi yang diperlukan.

iii) Elevasi yang sesuai pada sambungan dengan aspal yang telah
dihampar sebelumnya, sebelum dibolehkannya pemadatan.

6 - 56
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

iv) Perbaikan penampang memanjang dari permukaan aspal lama


dengan menggunakan batang perata, kawat baja atau hasil
penandaan survei.

4) Pemadatan

a) Segera setelah campuran beraspal dihampar dan diratakan, permukaan


tersebut harus diperiksa dan setiap ketidaksempurnaan yang terjadi harus
diperbaiki. Temperatur campuran beraspal yang terhampar dalam keadaan
gembur harus dipantau dan penggilasan harus dimulai dalam rentang
viskositas aspal yang ditunjukkan pada Tabel 6.3.5.(1)

b) Pemadatan campuran beraspal harus terdiri dari tiga operasi yang terpisah
berikut ini :
1. Pemadatan Awal
2. Pemadatan Antara
3. Pemadatan Akhir

c) Pemadatan awal atau breakdown rolling harus dilaksanakan baik dengan


alat pemadat roda baja. Pemadatan awal harus dioperasikan dengan roda
penggerak berada di dekat alat penghampar. Setiap titik perkerasan harus
menerima minimum dua lintasan pengilasan awal.

Pemadatan kedua atau utama harus dilaksanakan dengan alat pemadat roda
karet sedekat mungkin di belakang penggilasan awal. Pemadatan akhir atau
penyelesaian harus dilaksanakan dengan alat pemadat roda baja tanpa
penggetar (vibrasi). Bila hamparan aspal tidak menunjukkan bekas jejak
roda pemadatan setelah pemadatan kedua, pemadatan akhir bisa tidak
dilakukan.

d) Pertama-tama pemadatan harus dilakukan pada sambungan melintang yang


telah terpasang kasau dengan ketebalan yang diperlukan untuk menahan
pergerakan campuran beraspal akibat penggilasan. Bila sambungan
melintang dibuat untuk menyambung lajur yang dikerjakan sebelumnya,
maka lintasan awal harus dilakukan sepanjang sambungan memanjang untuk
suatu jarak yang pendek dengan posisi alat pemadat berada pada lajur yang
telah dipadatkan dengan tumpang tindih pada pekerjaan baru kira-kira 15
cm.

e) Pemadatan harus dimulai dari tempat sambungan memanjang dan kemudian


dari tepi luar. Selanjutnya, penggilasan dilakukan sejajar dengan sumbu
jalan berurutan menuju ke arah sumbu jalan, kecuali untuk superelevasi
pada tikungan harus dimulai dari tempat yang terendah dan bergerak kearah
yang lebih tinggi. Lintasan yang berurutan harus saling tumpang tindih
(overlap) minimum setengah lebar roda dan lintasan-lintasan tersebut tidak
boleh berakhir pada titik yang kurang dari satu meter dari lintasan
sebelumnya.

f) Bilamana menggilas sambungan memanjang, alat pemadat untuk pemadatan


awal harus terlebih dahulu memadatkan lajur yang telah dihampar
sebelumnya sehingga tidak lebih dari 15 cm dari lebar roda pemadat yang
memadatkan tepi sambungan yang belum dipadatkan. Pemadatan dengan
lintasan yang berurutan harus dilanjutkan dengan menggeser posisi alat

6 - 57
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

pemadat sedikit demi sedikit melewati sambungan, sampai tercapainya


sambungan yang dipadatkan dengan rapi.

g) Kecepatan alat pemadat tidak boleh melebihi 4 km/jam untuk roda baja dan
10 km/jam untuk roda karet dan harus selalu dijaga rendah sehingga tidak
mengakibatkan bergesernya campuran panas tersebut. Garis, kecepatan dan
arah penggilasan tidak boleh diubah secara tiba-tiba atau dengan cara yang
menyebabkan terdorongnya campuran beraspal.

h) Semua jenis operasi penggilasan harus dilaksanakan secara menerus untuk


memperoleh pemadatan yang merata saat campuran beraspal masih dalam
kondisi mudah dikerjakan sehingga seluruh bekas jejak roda dan
ketidakrataan dapat dihilangkan.

i) Roda alat pemadat harus dibasahi dengan cara pengabutan secara terus
menerus untuk mencegah pelekatan campuran beraspal pada roda alat
pemadat, tetapi air yang berlebihan tidak diperkenankan. Roda karet boleh
sedikit diminyaki untuk menghindari lengketnya campuran beraspal pada
roda.

j) Peralatan berat atau alat pemadat tidak diijinkan berada di atas permukaan
yang baru selesai dikerjakan, sampai seluruh permukaan tersebut dingin.

k) Setiap produk minyak bumi yang tumpah atau tercecer dari kendaraan atau
perlengkapan yang digunakan oleh Penyedia Jasa di atas perkerasan yang
sedang dikerjakan, dapat menjadi alasan dilakukannya pembongkaran dan
perbaikan oleh Penyedia Jasa atas perkerasan yang terkontaminasi,
selanjutnya semua biaya pekerjaaan perbaikan ini menjadi beban Penyedia
Jasa.

l) Permukaan yang telah dipadatkan harus halus dan sesuai dengan lereng
melintang dan kelandaian yang memenuhi toleransi yang disyaratkan. Setiap
campuran beraspal padat yang menjadi lepas atau rusak, tercampur dengan
kotoran, atau rusak dalam bentuk apapun, harus dibongkar dan diganti
dengan campuran panas yang baru serta dipadatkan secepatnya agar sama
dengan lokasi sekitarnya. Pada tempat-tempat tertentu dari campuran
beraspal terhampar dengan luas 1000 cm2 atau lebih yang menunjukkan
kelebihan atau kekurangan bahan aspal harus dibongkar dan diganti. Seluruh
tonjolan setempat, tonjolan sambungan, cekungan akibat ambles, dan
segregasi permukaan yang keropos harus diperbaiki sebagaimana
diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

m) Sewaktu permukaan sedang dipadatkan dan diselesaikan, Penyedia Jasa


harus memangkas tepi perkerasan agar bergaris rapi. Setiap bahan yang
berlebihan harus dipotong tegak lurus setelah pemadatan akhir, dan dibuang
oleh Penyedia Jasa di luar daerah milik jalan sehingga tidak kelihatan dari
jalan yang lokasinya disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

5) Sambungan

a) Sambungan memanjang maupun melintang pada lapisan yang berurutan


harus diatur sedemikian rupa agar sambungan pada lapis satu tidak terletak
segaris yang lainnya. Sambungan memanjang harus diatur sedemikian rupa
agar sambungan pada lapisan teratas berada di pemisah jalur atau pemisah
lajur lalu lintas.

6 - 58
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

b) Campuran beraspal tidak boleh dihampar di samping campuran beraspal


yang telah dipadatkan sebelumnya kecuali bilamana tepinya telah tegak
lurus atau telah dipotong tegak lurus atau dipanaskan dengan menggunakan
lidah api (dengan menggunakan alat burner). Bila tidak ada pemanasan,
maka pada bidang vertikal sambungan harus lapis perekat.

6.3.7 PENGENDALIAN MUTU DAN PEMERIKSAAN DI LAPANGAN

1) Pengujian Permukaan Perkerasan

a) Pemukaan perkerasan harus diperiksa dengan mistar lurus sepanjang 3 m,


yang disediakan oleh Penyedia Jasa, dan harus dilaksanakan tegak lurus dan
sejajar dengan sumbu jalan sesuai dengan petunjuk Direksi Pekerjaan untuk
memeriksa seluruh permukaan perkerasan. Toleransi harus sesuai dengan
ketentuan dalam Pasal 6.3.1.(4).(f).

b) Pengujian untuk memeriksa toleransi kerataan yang disyaratkan harus


dilaksanakan segera setelah pemadatan awal, penyimpangan yang terjadi
harus diperbaiki dengan membuang atau menambah bahan sebagaimana
diperlukan. Selanjutnya pemadatan dilanjutkan seperti yang dibutuhkan.
Setelah penggilasan akhir, kerataan lapisan ini harus diperiksa kembali dan
setiap ketidak-rataan permukaan yang melampaui batas-batas yang
disyaratkan dan setiap lokasi yang cacat dalam tekstur, pemadatan atau
komposisi harus diperbaiki sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan.

c) Kerataan permukaan perkerasan

i) Kerataan permukaan lapis perkerasan penutup atau lapis aus segera


setelah pekerjaan selesai harus diperiksa kerataannya dengan
menggunakan alat ukur kerataan NAASRA-Meter sesuai SNI 03-
3426-1994, dengan International Roughness Index (IRI) paling tidak
3.

ii) Cara pengukuran/pembacaan kerataan harus dilakukan setiap


interval 100 m.

2) Ketentuan Kepadatan

a) Kepadatan semua jenis campuran beraspal yang telah dipadatkan, seperti


yang ditentukan dalam SNI 03-6757-2002, tidak boleh kurang dari 97 %
Kepadatan Standar Kerja (Job Standard Density) yang tertera dalam JMF
untuk Lataston (HRS) dan 98 % untuk semua campuran beraspal lainnya.

b) Benda uji inti untuk pengujian kepadatan harus sama dengan benda uji
untuk pengukuran tebal lapisan. Cara pengambilan benda uji campuran
beraspal dan pemadatan benda uji di laboratorium masing-masing harus
sesuai dengan ASTM D6927-06 untuk ukuran butir maksimum 25 mm atau
ASTM D5581-07a untuk ukuran maksimum 50 mm.

c) Benda uji inti paling sedikit harus diambil dua titik pengujian per
penampang melintang per lajur dengan jarak memanjang antar penampang
melintang yang diperiksa tidak lebih dari 100 m.

6 - 59
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

d) Penyedia Jasa dianggap telah memenuhi kewajibannya dalam memadatkan


campuran aspal bilamana kepadatan lapisan yang telah dipadatkan sama
atau lebih besar dari nilai-nilai yang diberikan Tabel 6.3.7.(1). Bilamana
rasio kepadatan maksimum dan minimum yang ditentukan dalam
serangkaian benda uji inti pertama yang mewakili setiap lokasi yang diukur
untuk pembayaran, lebih besar dari 1,08 maka benda uji inti tersebut harus
dibuang dan serangkaian benda uji inti baru harus diambil.

Tabel 6.3.7.(1) Ketentuan Kepadatan

Kepadatan yg. Jumlah ben- Kepadatan Mini- Nilai minimum seti-


disyaratkan da uji per mum Rata-rata ap pengujian tunggal
(% JSD) segmen (% JSD) (% JSD)
3–4 98,1 95
98 5 98,3 94,9
>6 98,5 94,8
3–4 97,1 94
97 5 97,3 93,9
>6 97,5 93,8

3) Jumlah Pengambilan Benda Uji Campuran beraspal

a) Pengambilan Benda Uji Campuran beraspal

Pengambilan benda uji umumnya dilakukan di instalasi pencampuran aspal,


tetapi Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan pengambilan benda uji di
lokasi penghamparan bilamana terjadi segregasi yang berlebihan selama
pengangkutan dan penghamparan campuran beraspal.

b) Pengendalian Proses

Frekwensi minimum pengujian yang diperlukan dari Penyedia Jasa untuk


maksud pengendalian proses harus seperti yang ditunjukkan dalam Tabel
6.3.7.(2) di bawah ini atau sampai dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan.
Penyedia Jasa yang mengoperasikan rencana jaminan mutu produksi yang
disetujui, berdasarkan data statistik dan yang mencapai suatu tingkat tinggi
dari pemenuhan terhadap ketentuan-ketentuan spesifikasi dapat meminta
persetujuan dari Direksi Pekerjaan untuk pengurangan jumlah pengujian
yang dilaksanakan.

Contoh yang diambil dari penghamparan campuran beraspal setiap hari


harus dengan cara yang diuraikan di atas dan dengan frekuensi yang
diperintahkan dalam Pasal 6.3.7.(3) dan 6.3.7.(4). Enam cetakan Marshall
harus dibuat dari setiap contoh. Benda uji harus dipadatkan pada temperatur
yang disyaratkan dalam Tabel 6.3.5.(1) dan dalam jumlah tumbukan yang
disyaratkan dalam Tabel 6.3.3.(1). Kepadatan benda uji rata-rata (Gmb)
dari semua cetakan Marshall yang dibuat setiap hari akan menjadi
Kepadatan Marshall Harian. Direksi Pekerjaan harus memerintahkan
Penyedia Jasa untuk mengulangi proses campuran rancangan dengan biaya
Penyedia Jasa sendiri bilamana Kepadatan Marshall Harian rata-rata dari
setiap produksi selama empat hari berturut-turut berbeda lebih 1 % dari
Kepadatan Standar Kerja (JSD).

6 - 60
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Untuk mengurangi kuantitas bahan terhadap resiko dari setiap rangkaian


pengujian, Penyedia Jasa dapat memilih untuk mengambil contoh di atas
ruas yang lebih panjang (yaitu, pada suatu frekuensi yang lebih besar) dari
yang diperlukan dalam Tabel 6.3.7.(2).

Tabel 6.3.7.(2) Pengendalian Mutu

Bahan dan Pengujian Frekwensi pengujian


Aspal :
3
Aspal berbentuk drum dari jumlah drum
Aspal curah Setiap tangki aspal
Jenis pengujian aspal drum dan curah mencakup:
Penetrasi dan Titik Lembek
3
Asbuton butir/Aditif Asbuton dari jumlah kemasan
- Kadar air
- Ekstraksi (kadar aspal)
- Ukuran butir maksimum
- Penetrasi aspal asbuton
Agregat :
- Abrasi dengan mesin Los Angeles Setiap 5.000 m3
- Gradasi agregat yang ditambahkan ke tumpukan Setiap 1.000 m3
- Gradasi agregat dari penampung panas (hot bin) Setiap 250 m3 (min. 2 pengujian per
hari)
- Nilai setara pasir (sand equivalent) Setiap 250 m3

Campuran :
- Suhu di AMP dan suhu saat sampai di lapangan Setiap batch dan pengiriman
- Gradasi dan kadar aspal Setiap 200 ton (min. 2 pengujian
per hari)
- Kepadatan, stabilitas, pelelehan, Marshall Quo- Setiap 200 ton (min. 2 pengujian
tient (untuk non AC), rongga dalam campuran per hari)
pada 75 tumbukan dan Stabilitas Marshall Sisa
atau Indirect Tensile Strength Ratio (ITSR)
- Rongga dalam campuran pd. Kepadatan Membal Setiap 3.000 ton
- Campuran Rancangan (Mix Design) Marshall Setiap perubahan agregat/rancangan
Lapisan yang dihampar :
- Benda uji inti (core) berdiameter 4” untuk Benda uji inti paling sedikit harus
partikel ukuran maksimum 1” dan 6” untuk diambil dua titik pengujian per
partikel ukuran di atas 1”, baik untuk penampang melintang per lajur
pemeriksaan pema-datan maupun tebal lapisan dengan jarak memanjang antar
bukan perata: penampang melintang yang
diperiksa tidak lebih dari 100 m.
Toleransi Pelaksanaan :
- Elevasi permukaan, untuk penampang melintang Paling sedikit 3 titik yang diukur
dari setiap jalur lalu lintas. melintang pada paling sedikit setiap
12,5 meter memanjang sepanjang
jalan tersebut.

c) Pemeriksaan dan Pengujian Rutin

Pemeriksaan dan pengujian rutin harus dilaksanakan oleh Penyedia Jasa di


bawah pengawasan Direksi Pekerjaan untuk menguji pekerjaan yang sudah
diselesaikan sesuai toleransi dimensi, mutu bahan, kepadatan pemadatan dan
setiap ketentuan lainnya yang disebutkan dalam Seksi ini.

Setiap bagian pekerjaan, yang menurut hasil pengujian tidak memenuhi


ketentuan yang disyaratkan harus diperbaiki sedemikian rupa sehingga
setelah diperbaiki, pekerjaan tersebut memenuhi semua ketentuan yang
disyaratkan, semua biaya pembongkaran, pembuangan, penggantian bahan
maupun perbaikan dan pengujian kembali menjadi beban Penyedia Jasa.

6 - 61
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

d) Pengambilan Benda Uji Inti dan Uji Ekstraksi Lapisan Beraspal

Penyedia Jasa harus menyediakan mesin bor pengambil benda uji inti (core)
yang mampu memotong benda uji inti berdiameter 4” maupun 6” pada
lapisan beraspal yang telah selesai dikerjakan. Benda uji inti tidak boleh
digunakan untuk pengujian ekstraksi. Uji ektraksi harus dilakukan
menggunakan benda uji campuran beraspal gembur yang ambil di belakang
mesin penghampar

4) Pengujian Pengendalian Mutu Campuran Beraspal

a) Penyedia Jasa harus menyimpan catatan seluruh pengujian dan catatan


tersebut harus diserahkan kepada Direksi Pekerjaan tanpa keterlambatan.

b) Penyedia Jasa harus menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan hasil dan


catatan pengujian berikut ini, yang dilaksanakan setiap hari produksi,
beserta lokasi penghamparan yang sesuai :

i) Analisa ayakan (cara basah), paling sedikit dua contoh agregat per
hari dari setiap penampung panas.

ii) Temperatur campuran saat pengambilan contoh di instalasi


pencampur aspal (AMP) maupun di lokasi penghamparan (satu per
jam).

iii) Kepadatan Marshall Harian dengan detail dari semua benda uji yang
diperiksa.

iv) Kepadatan hasil pemadatan di lapangan dan persentase kepadatan


lapangan relatif terhadap Kepadatan Campuran Kerja (Job Mix
Density) untuk setiap benda uji inti (core).

v) Stabilitas, Pelelehan, Marshall Quotient (untuk non AC), Stabilitas


Marshall sisa atau Indirect Tensile Strength Ratio (ITSR), paling
sedikit dua contoh per hari.

vi) Kadar bitumen aspal keras maupun aspal modifikasi dalam


campuran aspal dan gradasi agregat yang ditentukan dari hasil
ekstraksi campuran aspal paling sedikit dua contoh per hari.
Bilamana cara ekstraksi sentrifugal digunakan maka koreksi abu
harus dilaksanakan seperti yang disyaratkan SNI 03-3640-1994.

vii) Untuk bahan pengisi yang ditambahkan (filler added) dari Kapur,
Semen, Asbuton yang digunakan sebagai bahan pengisi tambahan
(filler added) ditentukan dengan mencatat kuantitas silo atau
penampung sebelum dan setelah produksi.

viii) Rongga dalam campuran pada kepadatan Marshall dan kepadatan


membal (refusal), yang dihitung berdasarkan Berat Jenis Maksimum
campuran perkerasan aspal (SNI 03-6893-2002).

ix) Kadar aspal yang terserap oleh agregat, yang dihitung


berdasarkan Berat jenis Maksimum campuran perkerasan aspal (SNI
03-6893-2002).

6 - 62
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

x) Kadar bahan anti pengelupasan (anti stripping agent) ditentukan


dengan mencatat volume tanki sebelum dan sesudah produksi dan
juga diperiksa dengan pengujian Stabilitas Marshall sisauntuk setiap
200 ton produksi.

5) Pengendalian Kuantitas dengan Menimbang Campuran beraspal

Dalam pemeriksaan terhadap pengukuran kuantitas untuk pembayaran, campuran


beraspal yang dihampar harus selalu dipantau dengan tiket pengiriman campuran
beraspal dari rumah timbang sesuai dengan Pasal 6.3.1.(4).(e) dari Spesifikasi ini.

6.3.8 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Pengukuran Pekerjaan

a) Kuantitas yang diukur untuk pembayaran campuran beraspal haruslah


berdasarkan ketentuan di bawah ini :

i) Untuk lapisan bukan perata (misalnya HRS-WC, HRS-Base, AC-


WC, AC-WC Mod, AC-BC, AC-BC Mod. AC-Base, dan AC-Base
Mod) adalah jumlah tonase bersih dari campuran beraspal yang
telah dihampar dan diterima, yang dihitung sebagai hasil perkalian
luas lokasi yang diterima dan tebal yang diterima dengan kepadatan
campuran yang diperoleh dari pengujian benda uji inti (core).
Tonase bersih adalah selisih dari berat campuran aspal dengan
bahan anti pengelupasan (anti stripping agent)
ii) Untuk lapisan perata (misalnya HRS-WC(L), HRS-Base(L), AC-
WC(L), AC-BC(L), dsb) adalah jumlah tonase bersih dari campuran
beraspal yang telah dihampar dan diterima sesuai dengan ketentuan
pada Pasal 6.3.8.(1)(c). Tonase bersih adalah selisih dari berat
campuran aspal dengan bahan anti pengelupasan (anti stripping
agent)
iii) Untuk bahan anti pengelupasan adalah jumlah kilogram bahan yang
digunakan dan diterima.

b) Kuantitas yang diterima untuk pengukuran tidak boleh meliputi lokasi


dengan tebal hamparan kurang dari tebal minimum yang dapat diterima atau
setiap bagian yang terkelupas, terbelah, retak atau menipis (tapered) di
sepanjang tepi perkerasan atau di tempat lainnya. Lokasi dengan kadar aspal
yang tidak memenuhi kadar aspal optimum yang ditetapkan dalam JMF dan
toleransi yang disyaratkan dalam Tabel 6.3.3.(2), tidak akan diterima untuk
pembayaran.

c) Campuran beraspal yang dihampar langsung di atas permukaan aspal lama


yang dilaksanakan pada kontrak yang lalu, menurut pendapat Direksi
Pekerjaan memerlukan koreksi bentuk, harus dihitung berdasarkan hasil
perkalian antara tebal rata-rata yang diterima dengan luas penghamparan
aktual yang diterima dengan menggunakan prosedur pengukuran standar
ilmu ukur tanah dan kepadatan lapangan rata-rata yang diperoleh dari benda
uji inti. Bilamana tebal rata-rata campuran beraspal melampaui yang
kuantitas perkiraan yang dibutuhkan (diperlukan untuk perbaikan bentuk),
maka tebal rata-rata yang digunakan dan diterima oleh Direksi Pekerjaan

6 - 63
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

yang diperhitungkan untuk pembayaran. Bagaimanapun juga, jumlah tonase


campuran beraspal yang telah dihampar dan diterima tidak boleh melampaui
berat campuran beraspal diperoleh dari penimbangan muatan di rumah
timbangan.

d) Kecuali yang disebutkan dalam (c) di atas, maka tebal campuran beraspal
yang diukur untuk pembayaran tidak boleh lebih besar dari tebal rancangan
yang ditentukan dalam Gambar.

Tidak ada penyesuaian kuantitas untuk ketebalan yang melebihi tebal


rancangan bila campuran beraspal tersebut dihampar di atas permukaan
yang juga dikerjakan dalam kontrak ini, kecuali jika diperintahkan lain oleh
Direksi Pekerjaan.

e) Lebar hamparan campuran beraspal yang akan dibayar harus seperti yang
ditunjukkan dalam Gambar dan harus diukur dengan pita ukur oleh Penyedia
Jasa di bawah pengawasan Direksi Pekerjaan. Pengukuran harus dilakukan
tegak lurus sumbu jalan per 25 meter atau lebih rapat sebagaimana yang
diperintahkan Direksi Pekerjaan dan tidak termasuk lokasi hamparan yang
tipis atau tidak memenuhi ketentuan sepanjang tepi hamparan. Interval jarak
pengukuran memanjang harus seperti yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan tetapi harus selalu berjarak sama dan tidak lebih dari 25 meter.
Lebar yang akan digunakan dalam menghitung luas untuk pembayaran
setiap lokasi perkerasan yang diukur, harus merupakan lebar rata-rata yang
diukur dan disetujui.

f) Pelapisan campuran beraspal dalam arah memanjang harus diukur sepanjang


sumbu jalan dengan menggunakan prosedur pengukuran standar ilmu ukur
tanah.

g) Bilamana Direksi Pekerjaan menerima setiap campuran beraspal dengan


kadar aspal rata-rata yang lebih rendah dari kadar aspal yang ditetapkan
dalam rumus campuran kerja. Pembayaran campuran aspal akan dihitung
berdasarkan tonase hamparan yang dikoreksi menurut dalam butir (h) di
bawah dengan menggunakan faktor koreksi berikut ini. Tidak ada
penyesuaian yang akan dibuat untuk kadar aspal yang melampaui nilai yang
disyaratkan dalam Rumus Campuran Kerja.

Kadar aspal rata-rata yang diperoleh dari hasil ekstraksi


Cb = ----------------------------------------------------------------------------------
Kadar aspal yang ditetapkan dalam Rumus Campuran Kerja

h) Tonase yang digunakan untuk pembayaran adalah:


Tonase seperti disebutkan pada butir (a) di atas x Cb

i) Bilamana perbaikan pada campuran aspal yang tidak memenuhi


ketentuan telah diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan sesuai dengan Pasal
6.3.1.(8) dari Spesifikasi ini, maka kuantitas yang diukur untuk pembayaran
haruslah kuantitas yang akan dibayar bila pekerjaan semula dapat diterima.
Tidak ada pembayaran tambahan untuk pekerjaan atau kuantitas tambahan
yang diper-lukan untuk perbaikan tersebut.

6 - 64
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

j) Kadar aspal aktual (kadar aspal efektif + penyerapan aspal) yang digunakan
Penyedia Jasa dalam menghitung harga satuan untuk berbagai campuran
beraspal yang termasuk dalam penawarannya haruslah berdasarkan
perkiraannya sendiri. Tidak ada penyesuaian harga yang akan dibuat
sehubungan dengan perbedaan kadar aspal optimum yang ditetapkan dalam
JMF dan kadar aspal dalam analisa harga satuan dalam penawaran

2) Dasar Pembayaran

Kuantitas yang sebagaimana ditentukan di atas harus dibayar menurut Harga


Kontrak per satuan pengukuran, untuk Mata Pembayaran yang ditunjukkan di bawah
ini dan dalam Daftar Kuantintas dan Harga, dimana harga dan pembayaran tersebut
harus merupakan kompensasi penuh untuk mengadakan dan memproduksi dan
menguji dan mencampur serta menghampar semua bahan, termasuk semua pekerja,
peralatan, pengujian, perkakas dan pelengkapan lainnya yang diperlukan untuk
menyelesaikan pekerjaan yang diuraikan dalam Seksi ini.

Nomor Mata Satuan


Uraian
Pembayaran Pengukuran

6.3.(3a) Lataston Lapis Aus (HRS-WC) Ton


(gradasi senjang/semi senjang)

6 - 65
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

DIVISI 8

PENGEMBALIAN KONDISI DAN PEKERJAAN MINOR

SEKSI 8.4

PERLENGKAPAN JALAN DAN PENGATUR LALU LINTAS

8.4.1 UMUM

1) Uraian

Pekerjaan ini meliputi memasok, merakit dan memasang perlengkapan jalan baru atau
penggantian perlengkapan jalan lama seperti rambu jalan, patok pangarah, patok
kilomater, rel pengaman, paku jalan, mata kucing, kerb beton, perkerasan blok beton,
beton pemisah jalur, alat pengendali isyarat lalu lintas (APILL), lampu penerangan jalan
dan sistem kelistrikan lainnya dan modifikasi sistem yang ada jika disebutkan, pagar
pemisah pedestrian dan pengecatan marka jalan, pada lokasi yang ditunjukkan dalam
Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

Pekerjaan pemasangan perlengkapan jalan harus meliputi semua penggalian, pondasi,


penimbunan kembali, penjangkaran, pemasangan, pengencangan dan penunjangan yang
diperlukan.

2) Penerbitan Gambar Penempatan dan Detil Pelaksanaan

a) Umum

Gambar penempatan yang menunjukkan lokasi perlengkapan jalan, alat


pengendali isyarat lalu lintas dan detil pelaksanaan semua jenis perlengkapan
jalan yang tidak terdapat di dalam Dokumen Kontrak pada saat pelelangan akan
disediakan oleh Direksi Pekerjaan setelah Penyedia Jasa menyelesaikan laporan
hasil survei lapangan sesuai dengan Seksi 1.9 dari Spesifikasi ini.

b) Khusus untuk Lampu Penerangan Jalan

Lokasi lampu penerangan jalan, peralatan kontrol, tiang-tiang dan


perlengkapannya sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar adalah
perkiraan dan lokasi yang pasti akan disesuaikan di lapangan oleh Direksi
Pekerjaan. Pekerjaan kelistrikan untuk Rambu-rambu Petunjuk harus
dilaksanakan sesuai dengan pasal ini.

Pekerjaan lampu penerangan jalan ini harus mencakup pengadaan ke lapangan,


pembangunan, pengetesan dan komisioning dari semua material dan peralatan
dalam hubungan dengan instalasi kelistrikan sampai seperti ditentukan pada
Gambar dan termasuk tapi tidak dibatasi oleh :
i) Persiapan dan penyerahan Gambar Kerja (Shop Drawing).
ii) Penyediaan tabel detail material.
iii) Semua pekerjaan yang berhubungan dengan pembongkaran bagian
dari sistem yang ada dan penggabungan dari bagian-bagian yang
tersisa dari pekerjaan permanen.
iv) Pengukuran lapangan terhadap sinar matahari pada bagian tunnel atau
underpass untuk membantu Direksi Pekerjaan dalam pengulangan
detail penerangan sebagaimana terlihat pada Gambar Rencana.
v) Semua peralatan listrik yang lain dari pelayanan yang diperlukan
untuk menyelesaikan fasilitas operasi sesuai dengan peraturan lokal
untuk Instalasi Kelistrikan.
8-1
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Penyedia Jasa harus menyediakan Gambar Kerja yang menunjukkan rute


yang pasti dari kabel dan saluran bawah tanah dan di atas tanah, jalur yang
pasti dari semua saluran dan trunking, lokasi manhole, box sambungan dan
tarikan, jumlah dan ukuran kabel pada setiap saluran atau trunking,
pengaturan hubungan akhir dari panel penerangan jalan, detail saluran kabel
dan metode pemasangan panel penerangan jalan untuk disetujui oleh Direksi
Pekerjaan sebelum memulai tiap bagian pekerjaan. Semua Gambar Kerja
harus diserahkan dalam jumlah rangkap dan dalam periode yang ditentukan
dibawah :
i) Detail dari saluran kabel dan metode pemasangan panel penerangan
jalan dan kabel masuk ke bangunan. Gambar Kerja harus diserahkan
dalam waktu dua bulan dari penyerahan lapangan kepada Penyedia
Jasa, atau sebagaimana ditentukan oleh Direksi Pekerjaan.
ii) Semua Gambar Kerja yang lain harus diserahkan dalam periode satu
bulan dari persetujuan panel penerangan jalan oleh Direksi Pekerjaan.
iii) Walaupun demikian Penyedia Jasa diwajibkan memasang saluran
listrik sebelum periode ini. Penyedia Jasa juga harus menyerahkan
Gambar Kerja yang berhubungan sekurang-kurangnya empat bulan
sebelum usulan hari memulai pekerjaan.
iv) Penyedia Jasa harus menyerahkan program yang menyatakan tanggal
yang mana pekerjaan dari bagian yang berbeda harus terjadi,
bersama-sama dengan pemasukan Gambar Kerja.

Setelah selesai pengujian, Penyedia Jasa harus membuat Gambar “As built”
dari Gambar Rencana dan diagram sirkuit, yang menyatakan secara jelas tiap
perubahan yang telah dibuat dari perencanaan orisinil/awal.

Setelah pekerjaan selesai dan kondisinya diterima, Penyedia Jasa harus


menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan sebayak 3 (tiga) kopi manual untuk
pemeliharaan dan operasi dari semua instalasi kelistrikan dan daftar suku
cadang untuk keperluan permintaan suku cadang.

3) Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini

a) Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas : Seksi 1.8


b) Kajian Teknis Lapangan : Seksi 1.9
c) Bahan dan Penyimpanan : Seksi 1.11
d) Keselamatan dan Kesehatan Kerja : Seksi 1.19
e) Galian : Seksi 3.1
f) Timbunan : Seksi 3.2
g) Beton : Seksi 7.1
h) Baja Tulangan : Seksi 7.3
i) Baja Struktur : Seksi 7.4
j) Adukan Semen : Seksi 7.8
k) Pembongkaran Struktur Lama : Seksi 7.15
l) Pemeliharaan Rutin Perkerasan, Bahu Jalan, Drainase, : Seksi 10.1
Perlengkapan Jalan dan Jembatan
m) Pemeliharaan Jalan Samping dan Jembatan : Seksi 10.2

4) Standar Rujukan

a) SNI 03-2442-1991 : Spesifikasi Kerb Beton untuk Jalan


b) SNI 06-4825-1998 : Spesifikasi Campuran Cat Marka Jalan Siap Pakai
Warna Putih dan Kuning

8-2
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

c) SNI 06-4826-1998 : Spesifikasi Cat Termoplastik Pemantul Warna Putih


dan Warna Kuning Untuk Marka Jalan (Bentuk
Padat).
d) SNI 15-4839-1998 : Spesifikasi Manik-Manik Kaca (Glass Bead) Untuk
Marka Jalan
e) Konfigurasi, ukuran dan warna marka jalan harus memenuhi Peraturan dan
Perundang-undangan tentang Rambu Keamanan Jalan Repubik Indonesia.
f) Rambu jalan harus mempunyai ukuran, warna, jenis dan luas permukaan yang
memantul sesuai ketentuan dari Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya
(DLLAJR). Setiap perbedaan yang terjadi antara ketentuan untuk rambu-rambu
tersebut dan yang ditunjukkan dalam Gambar harus diperiksa oleh Direksi
Pekerjaan sebelum pelaksanaan dimulai.
g) Lampu Penerangan Jalan harus harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan
yang dikeluarkan oleh Badan Kelistrikan Lokal dengan standar yang terpakai
dan peraturan berikut :
JIS : Japanese Industrial Standard
IEE : Institute of Electrical Engineers
ASTM : American Society for Testing Materials
DIN : German Industry Standard (Deutche Industrie Normal)
NEC : National Electrical Code (USA)
NEMA : National Electrical Manufacturers Association (USA)
UL : Underwriters Laboratories, Inc.
PLN : Perusahaan Listrik Negara
PUIL : Peraturan Umum Instalasi Listrik

5) Pengajuan Kesiapan Kerja

a) Satu liter contoh cat untuk setiap warna dan jenis cat bersama dengan data
pendukung untuk setiap jenis cat berikut ini harus diserahkan kepada Direksi
Pekerjaan :
i) Komposisi (analisa dengan berat)
ii) Jenis penerapan (panas atau dingin)
iii) Jenis dan jumlah maksimum bahan pengencer.
iv) Waktu pengeringan (untuk pengecatan ulang)
v) Pelapisan yang disarankan
vi) Ketahanan terhadap panas
vii) Detil cat dasar atau lapis perekat yang diperlukan
viii) Umur kemasan (umur dari produk)
ix) Batas waktu kadaluarsa

b) Sebuah tiang dari pipa baja yang di galvanisir untuk rambu jalan harus
diserahkan kepada Direksi Pekerjaan.

c) Satu lembar plat rambu jalan yang telah selesai dicat harus diserahkan kepada
Direksi Pekerjaan.

d) Sepotong rel pengaman yang telah digalvanisir sepanjang 0,20 m harus


diserahkan kepada Direksi Pekerjaan.

e) Satu buah paku jalan dan/atau mata kucing harus diserahkan kepada Direksi
pekerjaan.

f) Dua buah kerb pracetak bilamana unit-unit kerb pracetak ini dibuat di luar lokasi
proyek beserta sertifikat pengujian dari pabrik pembuatnya yang membuktikan

8-3
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

mutu bahan baku yang digunakan dan bahan olahan harus diserahkan kepada
Direksi Pekerjaan.

g) Dua buah contoh blok beton (paving block) beserta sertifikat dari pabrik
pembuatnya harus diajukan pada Direksi Pekerjaan.

h) Sepotong carbon steel sepanjang 0,20 m harus diserahkan kepada Direksi


Pekerjaan.

6) Jadwal Pekerjaan

Agar dapat memelihara keamanan jalan lama sebaik mungkin selama Periode
Pelaksanaan, pemasangan baru atau penggantian rambu jalan, patok pengaman, patok
kilometer, patok hektometer rel pengaman, paku jalan, mata kucing, kerb beton, blok
beton, beton pemisah jalur, alat pengendali isyarat lalu lintas (APILL), lampu penerangan
jalan, pagar pemisah pedestrian harus dilaksanakan dan marka jalan harus dicat pada
permukaan jalan sedini mungkin dalam Periode Pelaksanaan.

7) Perbaikan atas Pekerjaan Yang Tidak Memenuhi Ketentuan

Setiap jenis perlengkapan jalan atau pengecatan marka jalan atau alat pengendali isyarat
lalu lintas atau lampu penerangan jalan yang tidak memenuhi ketentuan dari Spesifikasi
ini atau menurut pendapat Direksi Pekerjaan dalam segala hal tidak dapat diterima, maka
harus diperbaiki atau diganti oleh Penyedia Jasa dengan biaya sendiri atas petunjuk
Direksi Pekerjaan.

8) Pemeliharaan Pekerjaan yang telah Diterima

Tanpa mengurangi kewajiban Penyedia Jasa untuk melaksanakan perbaikan terhadap


pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan atau gagal sebagaimana disyaratkan dalam
Pasal 8.1.4.7) di atas, Penyedia Jasa juga harus bertanggungjawab atas pemeliharaan
rutin untuk semua perlengkapan jalan, marka jalan, alat pengendali isyarat lalu lintas
dan lampu penerangan jalan yang telah selesai dan diterima selama Periode
Pelaksanaan. Pekerjaan pemeliharaan rutin tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan
Seksi 10.1 dari Spesifikasi ini dan harus dibayar terpisah menurut Pasal 10.1.7

9) Pengendalian Lalu Lintas

Pengendalian lalu lintas harus memenuhi ketentuan dari Seksi 1.8. Manajemen dan
Keselamatan Lalu Lintas.

10) Jaminan Mutu untuk Lampu Penerangan Jalan

a) Untuk pabrikasi aktual, pemasangan dan uji pekerjaan seperti diuraikan pada
Pasal ini, Penyedia Jasa harus menggunakan personil yang ahli dan
berpengalaman yang telah terbiasa dengan persyaratan dari pekerjaan ini dan
rekomendasi pemasangan dari Pabrik, dengan ketentuan di bawah ini :
i) Dalam menerima dan menolak sistem kelistrikan yang dipasang, tidak
diijinkan keahlian yang kurang dari pemasang.
ii) Pemasang harus mempunyai Sertifikat yang berlaku dan memenuhi
ketentuan PLN dan LMK atau Peraturan Lokal yang ekivalen.

b) Semua pekerjaan harus sesuai dengan Gambar dan Spesifikasi ini, juga
memenuhi peraturan berikut :
i) Persyaratan satuan lokal ekploitasi PLN dan Badan Pemerintah Lokal.

8-4
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

ii) PUIL, SPLN, LMK atau Standar lokal yang ekivalen.

8.4.2 BAHAN

1) Penyimpanan Cat

a) Semua cat harus disimpan menurut petunjuk pabrik pembuatnya dan ketentuan
dari Seksi 1.11. Bahan dan Penyimpanan pada Spesifikasi ini.

b) Semua cat harus digunakan sesuai umur kemasan untuk menjamin bahwa hanya
produk yang masih baru digunakan dalam batas waktu yang disyaratkan oleh
pabrik pembuatnya.

2) Plat Rambu Jalan

Pelat untuk Rambu Jalan harus merupakan lembaran rata dari campuran aluminium keras
5052 - H34 sesuai dengan ASTM B 209 dan harus mempunyai suatu ketebalan minimum
2 mm. Lembaran tersebut harus bebas dari gemuk, dikasarkan permukaannya (dietsa),
dinetralisir dan diproses sebelum digunakan sebagai pelat Rambu Jalan.

3) Kerangka dan Pengaku Rambu Jalan

Kerangka dan pengaku harus merupakan bagian-bagian campuran aluminium alloy yang
diekstrusi dari campuran logam No. 6063-T6 sesuai dengan ASTM B221. Pelat Rambu
Jalan harus diberi tambahan rangka pengaku bila ukuran melebihi 1,0 meter.

4) Tiang Rambu

Tiang rambu harus merupakan pipa baja berdiameter dalam minimum 40 mm,
digalvanisir dengan proses celupan panas, sesuai dengan SNI 07-0242.1-2000. Bahan
yang sama dipakai juga untuk pelengkap pemegang dan penutup tiang rambu. Semua
ujung yang terbuka harus diberi tutup untuk mencegah pemasukan air.

5) Perangkat Keras, Sekrup, Mur, Baut dan Cincin

Perlengkapan tambahan harus berupa aluminium atau baja tahan karat yang mempunyai
kekuatan tarik tinggi untuk tiang rambu.

6) Beton dan Adukan Semen

a) Beton yang digunakan untuk pondasi rambu jalan harus dari kelas K175 (fc’ 15
MPa) seperti disyaratkan dalam Seksi 7.1 dari Spesifikasi ini.

b) Beton yang digunakan untuk kerb pracetak harus dari Kelas K300 (fc’ 25MPa)
seperti yang disyaratkan dalam Seksi 7.1 dari Spesifikasi ini. Jika ditunjukkan
dalam Gambar atau diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, maka karbon hitam
(carbon black) harus dicampurkan dengan beton.

c) Beton yang digunakan untuk beton pemisah jalur harus dari Kelas K250 (fc’ 20
MPa) seperti yang disyaratkan dalam Seksi 7.1 dari Spesifikasi ini dan dengan
ketentuan di bawah ini, kecuali bila dinyatakan lain dalam Gambar.

d) Adukan semen yang digunakan untuk pemasangan kerb harus sesuai dengan
ketentuan yang disyaratkan dalam Seksi 7.8 dari Spesifikasi ini.

8-5
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

7) Cat untuk Perlengkapan Jalan

Seluruh bahan pelapisan (coating), cat dan email yang akan digunakan pada persiapan
rambu, tiang dan perlengkapannya harus dari mutu yang baik, dibuat khusus untuk
rambu, dan dari jenis dan merk yang dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan.

Cat untuk bagian-bagian baja harus dari oksida seng kadar tinggi, mengandung mini-
mum 7 kilogram oksida seng (acicular type) per 100 liter cat.

Untuk kecocokan maka sebaiknya dipakai cat dasar, cat lapis awal dan cat untuk
penyelesaian akhir dari pabrik yang sama. Seluruh bahan yang dipakai tak boleh kada-
luarsa dan harus dalam batas waktu seperti yang ditetapkan oleh pabrik pembuatnya.

8) Lembaran Pemantul

Lembaran pemantul harus merupakan "Scotchlite" jenis Engineering Grade atau High
Intensity Quality, dan dari bahan pemantul tahan lentur yang disetujui. Permukaan dari
tiap rambu harus diberi bahan pemantul sesuai dengan ketentuan-ketentuan dari
DLLAJR dan bidang muka setiap patok pengarah harus diberi bahan pemantul.

9) Rel Pengaman

Bahan harus dari baja yang digalvanisasi, dibuat di pabrik dari lembaran baja yang
memenuhi AASHTO M180 dengan ketebalan minimum 2,67 mm dan sifat-sifatnya
harus:

a) Suatu pemanjangan yang tidak kurang daripada 12% untuk pengujian tarik pada
sebuah baut dengan panjang kira-kira 5 cm.

b) Mempunyai kekuatan tarik batas (ultimate) dari 4.900 kg/cm2 (70.000 psi).

c) Lapisan seng hasil galvanisasi pada lembaran baja harus mempunyai berat
minimum 550 gram/m2 (pengujian satu titik) dan 610 gram/m2 (pengujian tiga
titik) atau mempunyai ketebalan minimum 0,08 mm.

d) Elemen rel pengaman yang dibuat dari lebaran baja harus mempunyai lebar
nominal 483 mm dengan toleransi lebar nominal minus 3,2 mm.

10) Paku Jalan dan Mata Kucing

Paku jalan dan mata kucing harus berupa suatu rancangan yang disetujui sesuai dengan
contoh yang diajukan. Paku jalan dan mata kucing tersebut harus mempunyai sifat-sifat
sebagai berikut :

Jenis : Tidak Memantul untuk Paku Jalan dan Memantul untuk Mata Kucing

Kepala : 100 cm, bujur sangkar

Pasak : Ukuran panjang, penampang dan bentuk sedemikian rupa untuk


menjamin penguncian yang kuat pada perkerasan jalan. Bahan harus
dari logam cor atau logam tempaan. Kepala dan pasak harus dibuat
sebagai kesatuan yang utuh.

Permukaan : Muka atas dari kepala adalah satin 100 atau yang sejenis.

8-6
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

11) Cat untuk Marka Jalan

Pada pasal ini kata “cat” sering dikonotasikan sebagai bahan marka jalan jenis
termoplastik sebagai cat. Cat haruslah bewarna putih atau kuning seperti yang
ditunjukkan dalam Gambar dan memenuhi Spesifikasi menurut SNI berikut ini :

a) Marka Jalan “bukan” Termoplastik : SNI 06-4825-1998

b) Marka Jalan Termoplastik : SNI 06-4826-1998 (jenis padat, bukan serbuk)

12) Butiran Kaca (Glass Bead)

Butiran Kaca (glass bead) haruslah mememuhi Spesifikasi menurut SNI 15-4839-1998
(Tipe 2).

13) Blok Beton (Paving Block)

Blok beton (paving block) pracetak untuk trotoar dan median harus setebal 60 mm
dengan derajat mutu perkerasan yang saling mengunci (interlocking) sebagaimana
ditunjukkan dalam Gambar dan harus merupakan mutu terbaik yang dapat diperoleh
secara lokal dan menurut suatu pola yang dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan. Blok
beton tersebut minimum harus dibuat dari beton K175(fc’ 15MPa).

14) Landasan Pasir

Pasir yang digunakan untuk meratakan elevasi permukaan yang akan dipasang blok
beton dan kerb pracetak dan untuk membentuk landasan harus memenuhi ketentuan yang
disyaratkan dalam Pasal 2.4.2.2) dari Spesifikasi ini.

15) Pagar Pemisah Pedestrian

a) Railing : Bahan pipa carbon steel, dengan ketebalan minimal 3 mm untuk


ukuran diameter 3” dan tebal minimum 2 mm untuk ukuran 1½” lengkap
dengan rosette serta sesuai dengan Gambar.

b) Digunakan bahan pipa carbon steel dengan mutu ST.37.

c) Pengelasan sambungan pipa carbon steel dan atau galvanis harus baik dan rata
serta memenuhi persyaratan ASTM A53 type E atau Type S.

d) Penyedia Jasa harus menyerahkan 2 salinan ketentuan dan persyaratan teknis-


operatif sebagai informasi bagi Direksi Pekerjaan.

e) Finishing : cat dengan spray, warna akan ditentukan kemudian.

f) Material lain yang tidak terdapat pada daftar di atas tetapi dibutuhkan untuk
penyelesaian/penggantian pekerjaan dalam bagian ini, harus baru, kualitas
terbaik dari jenisnya dan harus disetujui Direksi Pekerjaan.

g) Pengendalian seluruh pekerjaan ini harus disesuaikan dengan peraturan-


peraturan tersebut diatas.

h) Seluruh peraturan yang diperlukan harus disediakan Penyedia Jasa di


lapangan.

8-7
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

i) Pengujian Bahan :

i) Bila dianggap perlu, Penyedia Jasa wajib mengadakan pengujian


terhadap bahan-bahan tersebut pada laboratorium yang ditunjuk
Direksi Pekerjaan, baik mengenai komposisi, konsentrasi dan aspek-
aspek lain yang ditimbulkannya. Untuk ini Penyedia Jasa/Supplier
harus menunjukkan surat rekomendasi, dari lembaga resmi yang
ditunjuk tersebut sebelum memulai pekerjaan.

ii) Semua bahan untuk pekerjaan ini harus ditinjau dan diuji, baik pada
pembuatan, pengejaan maupun pelaksanaan di lapangan oleh Direksi
Pekerjaan atas tanggungan Penyedia Jasa tanpa biaya tambahan.

iii) Bila Direksi Pekerjaan memandang perlu pengujian dengan


penyinaran gelombang tinggi maka segala biaya dan fasilitas yang
dibutuhkan untuk terlaksananya pekerjaan tersebut adalah menjadi
tanggung jawab Penyedia Jasa.

8.4.3 PELAKSANAAN

1) Pemasangan Patok Pengarah atau Kilometer, Rambu Jalan dan Rel Pengaman

Jumlah, jenis dan lokasi pemasangan setiap rambu jalan, patok pengarah, patok kilo-
meter dan bagian rel pengaman harus sesuai dengan perintah Direksi Pekerjaan. Semua
patok harus dipasang dengan akurat pada lokasi dan ketinggian sedemikian rupa hingga
dapat menjamin bahwa patok tersebut tertanam kuat di tempatnya, terutama selama
pengerasan (setting) beton.

2) Pengecatan Patok Pengarah atau Kilomater

Semua patok kilometer, patok hektometer dan patok pengarah harus diberi satu lapis cat
dasar (primer), satu lapis cat bawah permukaan dan satu lapis akhir sebagai lapis
permukaan sesuai dengan yang ditunjukkan dalam Gambar. Penandaan lainnya dan
bahan pemantul harus dilaksanakan sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan.

3) Pengecatan Pelat Rambu Jalan

Semua pengecatan pada Pelat Rambu Jalan harus dilaksanakan dengan cara semprotan di
atas permukaan pelat yang kering. Permukaan hasil pengecatan harus rata dan halus dan
dikeringkan dengan lampu pemanas atau dimasukkan ke dalam oven bila diperlukan.

4) Pengecatan Marka Jalan

a) Penyiapan Permukaan Perkerasan

Sebelum penandaan marka jalan atau pengecatan dilaksanakan, Penyedia Jasa


harus menjamin bahwa permukaan perkerasan jalan yang akan diberi marka
jalan harus bersih, kering dan bebas dari bahan yang bergemuk dan debu.
Penyedia Jasa harus menghilangkan dengan grit blasting (pengausan dengan
bahan berbutir halus) setiap marka jalan lama baik termoplastis maupun bukan,
yang akan menghalangi kelekatan lapisan cat baru.

8-8
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

b) Pelaksanaan Pengecatan Marka Jalan

i) Semua bahan cat yang digunakan tanpa pemanasan (bukan termoplastik)


harus dicampur terlebih dahulu menurut petunjuk pabrik pembuatnya
sebelum digunakan agar suspensi pigmen merata di dalam cat.

ii) Pengecatan tidak boleh dilaksanakan pada suatu permukaan yang baru
diaspal kurang dari 1 bulan setelah pelaksanaan lapis permukaan, kecuali
diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan. Selama masa tunggu yang
disebutkan di atas, pengecatan marka jalan sementara (pre-marking) pada
permukaan beraspal harus dilaksanakan segera setelah pelapisan.

iii) Penyedia Jasa harus mengatur dan menandai semua marka jalan pada per-
mukaan perkerasan dengan dimensi dan penempatan yang presisi sebe-
lum pelaksanaan pengecatan marka jalan.

iv) Pengecatan marka jalan dilaksanakan pada garis sumbu, garis lajur, garis
tepi dan zebra cross dengan bantuan sebuah mesin mekanis yang disetujui,
bergerak dengan mesin sendiri, jenis penyemprotan atau penghamparan
otomatis dengan katup mekanis yang mampu membuat garis putus-putus
dalam pengoperasian yang menerus (tanpa berhenti dan mulai berjalan
lagi) dengan hasil yang dapat diterima Direksi Pekerjaan. Mesin yang
digunakan tersebut harus menghasilkan suatu lapisan yang rata dan
seragam dengan tebal basah minimum 0,38 milimeter untuk “cat bukan
termoplastik” dan tebal minimum 1,50 mm untuk “cat termoplastik”
belum termasuk butiran kaca (glass bead) yang juga ditaburkan secara
mekanis, dengan garis tepi yang bersih (tidak bergerigi) pada lebar ran-
cangan yang sesuai. Bilamana tidak disyaratkan oleh pabrik pembuatnya,
maka cat termoplastik harus dilaksanakan pada temperatur 204 - 218 C.

v) Bilamana penggunaan mesin tak memungkinkan, maka Direksi Pekerjaan


dapat mengijinkan pengecatan marka jalan dengan cara manual, dikuas,
disemprot dan dicetak dengan sesuai dengan konfigurasi marka jalan dan
jenis cat yang disetujui untuk penggunaannya.

vi) Butiran kaca (glass bead) harus ditaburkan di atas permukaan cat segera
setelah pelaksanaan penyemprotan atau penghamparan cat. Butiran kaca
(glass bead) harus ditaburkan dengan kadar 450 gram/m2 untuk semua
jenis cat, baik untuk “bukan termoplastik” maupun “termoplastik”.

vii) Semua marka jalan harus dilindungi dari lalu lintas sampai marka jalan ini
dapat dilalui oleh lalu lintas tanpa adanya bintik-bintik atau bekas jejak
roda serta kerusakannya lainnya.

viii) Semua marka jalan yang tidak menampilkan hasil yang merata dan
memenuhi ketentuan baik siang maupun malam hari harus diperbaiki oleh
Penyedia Jasa atas biayanya sendiri.

ix) Ketentuan dari Seksi 1.8 Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas harus
diikuti sedemikian sehingga rupa harus menjamin keamanan umum ketika
pengecatan marka jalan sedang dilaksanakan.

x) Semua pemakaian cat secara dingin harus diaduk di lapangan menurut


ketentuan pabrik pembuat sesaat sebelum dipakai agar menjaga bahan
pewarna tercampur merata di dalam suspensi.

8-9
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

5) Pemasangan Paku Jalan atau Mata Kucing

a) Penggalian perkerasan jalan untuk membentuk sebuah lubang bagi setiap paku
jalan atau mata kucing harus dilaksanakan sesuai dengan petunjuk pabrik
pembuatnya. Perhatian khusus harus diberikan untuk menjamin dasar lubang
yang cukup rata dan dinding-dindingnya tegak lurus satu sama lain dan untuk
menjamin bahwa semua bahan lepas yang dihasilkan dari penggalian lubang
tersebut telah dibersihkan.

b) Sebuah lapisan dari batu yang disetujui (6 mm sampai debu batu pecah) harus
dihamparkan dan dipadatkan rata pada lantai lubang tersebut. Paku jalan atau
mata kucing tersebut harus dipersiapkan sesuai dengan petunjuk pabrik dan
dibenamkan dengan kuat pada lapis perata sedemikian rupa hingga dicapai
tonjolan bagian atas paku jalan atau mata kucing tersebut tepat di atas permukaan
jalan. Suatu pola harus digunakan untuk mengecek memeriksa arah dan elevasi
permukaan paku jalan atau mata kucing yang dipasang.

c) Dinding lubang harus dilabur dengan lapis perekat dan keseluruhan rongga yang
tersisa diisi dengan adukan aspal panas encer sesuai dengan petunjuk pabrik
sampai serata permukaan jalan. Perhatian khusus harus diberikan untuk
menjamin bahwa tidak terdapat aspal yang tercecer pada tonjolan paku jalan atau
mata kucing tersebut. Setiap aspal yang tercecer karena kurang hati-hati harus
dibersihkan, sehingga diperoleh pekerjaan yang bersih.

d) Lalu lintas tak diperkenankan melintas di atas paku jalan atau mata kucing
sebelum bahan yang diisikan ke dalam lubang galian untuk paku jalan atau mata
kucing mengeras.

6) Pemasangan Kerb

a) Persiapan Landasan Kerb

Lokasi yang diperlukan untuk pekerjaan ini harus dibersihkan dan digali sampai
bentuk dan kedalaman yang diperlukan, dan landasan kerb ini harus dipadatkan
sampai suatu permukaan yang rata. Semua bahan yang lunak dan tidak sesuai
harus dibuang dan diganti dengan bahan yang memenuhi serta harus dipadatkan
sampai merata. Semua pekerjaan ini harus sesuai dengan semua ketentuan yang
disyaratkan dalam Seksi 3.1 dan 3.2 dari Spesifikasi ini.

b) Pemasangan

Kerb harus dipasang dengan teliti sesuai dengan detil, garis dan elevasi yang
ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan. Setiap kerb yang akan dipasang pada suatu kurva dengan radius
kurang dari 20 meter harus dibuat dengan menggunakan cetakan lengkung atau
unit-unit pracetak yang melengkung.

c) Sambungan

Unit-unit kerb dan jenis-jenis pracetak lainnya harus dipasang dengan sam-
bungan yang serapat mungkin.

8 - 10
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

d) Penimbunan Kembali

Setelah suatu pekerjaan beton yang dicor di tempat mengeras dan unit-unit kerb
telah dipasang sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, maka
setiap lubang galian yang tersisa harus ditimbun kembali dengan bahan yang
disetujui sesuai Gambar Rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. Bahan
ini harus diisi dan dipadatkan sampai merata dalam lapisan-lapisan yang tidak
melebihi ketebalan 5 cm. Semua celah di antara kerb baru dan tepi perkerasan
yang ada harus diisi kembali dengan jenis campuran aspal yang disetujui oleh
Direksi Pekerjaan, kecuali dalam Gambar telah ditunjukkan dengan jelas bahwa
pengisian kembali ini tidak diperlukan.

e) Jalan Masuk Kendaraan Yang Memotong Trotoar

Bilamana jalan masuk kendaraan yang memotong trotoar diperlukan, maka


sebagian unit-unit kerb harus dibentuk khusus atau dipasang lebih rendah dengan
peralihan yang cukup landai sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar atau
sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Penyedia Jasa harus
menyediakan bahan kerb tersebut dan melaksanakan pekerjaan ini sesuai dengan
Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

7) Pemasangan Blok Beton

a) Pekerjaan Baru

Trotoar dan median baru, demikian pula trotoar dan median lama tanpa blok
beton, akan dipasang dengan blok beton dari jenis yang ditunjukkan dalam
Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

b) Trotoar dan Median Lama

Untuk trotoar atau median lama yang akan dipasang blok beton, maka blok beton
lama yang rusak harus dibongkar. Blok beton baru harus dipilih dari jenis dan
warna yang mendekati jenis dan warna blok beton lama. Pondasi harus dibasahi
sampai merata segera sebelum penempatan lapisan landasan pasir yang harus
dihamparkan dengan ketebalan seperti yang ditunjukkan dalam Gambar atau
sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

c) Perkerasan Blok Beton (paving Block)

Perkerasan blok beton harus dipasang sesuai dengan petunjuk dari pabrik
pembuatnya. Pada umumnya blok beton harus dipasang di atas landasan pasir
dengan tebal gembur sekitar 60 – 70 mm dan dipadatkan dengan menggunakan
sebuah mesin penggetar (berbentuk) pelat yang menyebabkan pasir dapat
memasuki celah-celah di antara blok beton sehingga membantu proses saling
mengunci (interlocking) dan pemadatan. Percobaan pemadatan harus dilakukan
dengan berbagai ketebalan gembur pasir, sebelum pekerjaan pemadatan ini
dimulai, untuk menentukan ketebalan gembur yang diperlukan dalam mencapai
ketebalan padat 50 mm. Perkerasan blok beton tidak boleh diisi dengan adukan
semen.

d) Penyelesaian Akhir

Permukaan blok beton yang selesai dikerjakan harus menampilkan permukaan


yang rata tanpa adanya blok beton yang menonjol atau terbenam dari elevasi

8 - 11
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

permukaan rata-rata lebih dari 6 mm, yang diukur dengan mistar lurus 3 m pada
setiap titik di atas permukaan blok beton tersebut. Semua sambungan harus rapi
dan rapat, tanpa adanya adukan atau bahan lainnya yang menodai atau
mencoreng permukaan yang telah selesai dikerjakan. Perkerasan blok beton
harus mempunyai lereng melintang minimum 4%.

f) Perpotongan Dengan Jalur Kendaraan

Pada perpotongan dengan jalur kendaraan, suatu bagian blok beton pada trotoar
yang lebih rendah atau yang dimodifikasi harus dipasang sesuai dengan yang
ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan.

g) Pemotongan Blok Beton

Blok beton harus dipotong dengan mesin potong (cutter machine) untuk menye-
suaikan penghalang berbentuk bulat seperti tiang atau pohon, antara kerb dan
tepi blok beton, dan sebagainya.

h) Pagar Pemisah Pedestrian

(i) Bila dianggap perlu, Penyedia Jasa wajib mengadakan pengujian


terhadap bahan-bahan tersebut pada laboratorium yang ditunjuk
Direksi Pekerjaan, baik mengenai komposisi, konsentrasi dan aspek-
aspek lain yang ditimbulkannya. Untuk ini Penyedia Jasa/Supplier
harus menunjukkan surat rekomendasi, dari lembaga resmi yang
ditunjuk tersebut sebelum memulai pekerjaan.

(ii) Semua bahan untuk pekerjaan ini harus ditinjau dan diuji, baik pada
pembuatan, pengerjaan maupun pelaksanaan di lapangan oleh Direksi
Pekerjaan atas tanggungan Penyedia Jasa tanpa biaya tambahan.

(iii) Bila Direksi Pekerjaan memandang perlu pengujian dengan


penyinaran gelombang tinggi maka segala biaya dan fasilitas yang
dibutuhkan untuk terlaksananya pekerjaan tersebut adalah menjadi
tanggung jawab Penyedia Jasa.
.
8) Pemasangan Lampu Penerangan Jalan

a) Satuan Penerangan

i) Uraian

Satuan penerangan seperti terlihat pada Gambar harus terdiri dari


rumah lampu, lampu, ballast dan perlengkapan pemasangan. Penyedia
Jasa harus menyerahkan Gambar diagram panel penerangan jalan
untuk tiap rumah lampu yang harus dipasang kepada Direksi
Pekerjaan untuk persetujuannya. Selanjutnya Penyedia Jasa harus
menyerahkan perhitungan yang menunjukkan penerangan horizontal
dalam lux pada ketinggian jalan dan distribusi penerangan dalam
candela per meter persegi untuk 2 meter pada arah badan jalan dan
tiap 1,2 meter melintang badan jalan

ii) Satuan Penerangan Jalan (Tiang Terpasang)

8 - 12
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Lampu untuk sistem penerangan jalan minimum harus 180 watt tipe
sodium/merkuri bertekanan rendah atau tinggi. Semua rumah lampu
harus dari tipe seperti terlihat pada Gambar atau ekivalen dan dengan
persetujuan Direksi Pekerjaan.

iii) Satuan Penerangan di Bawah Jembatan atau didalam Tunnel

Semua penerangan terpasang pada atap / dinding di bawah jembatan


atau di dalam tunnel (box culvert) harus lampu tipe sodium bertekanan
rendah 150 watt.

Daerah dari satuan penerangan tunnel seperti terlihat pada Gambar


didasarkan pada penerangan ambient perkiraan dari cahaya alami pada
tempat masuk tunnel. Setelah selesainya tunnel atau underpass dan
sebagian pekerjaan perkerasan di dalamnya, Penyedia Jasa harus
melaksanakan pengukuran lapangan untuk memeriksa penerangan
ambient yang ada. Berdasarkan hasil ini, Direksi Pekerjaan dapat
merevisi denah satuan penerangan seperti terlihat pada Gambar
Rencana.

Rumah lampu harus tipe yang dapat dipasang pada permukaannya,


dengan distribusi cahaya simetris dan tipe seperti terlihat pada
Gambar atau ekivalen seperti disetujui oleh Direksi Pekerjaan

iv) Satuan Penerangan Tiang Tinggi

Rumah lampu harus tipe flood light dan terpasang pada tiang tinggi
membawa lampu sodium/merkuri bertekanan tinggi 400 watt.
Rumah lampu terdiri atas tiga bagian utama meliputi tempat alumunium
bertekanan rendah, kaca depan yang kuat yang terpasang pada
tempatnya dengan dua sendi dan empat penjepit stainless steel, dan
pemegang siku-siku digalvanisasi. Lentera harus terpasang dengan
sistem optis yang asimetri dari perencanaan khusus, terbuat dari
alumunium kemurnian tinggi yang telah dipoles dan di-anoda.

Rumah lampu harus dari tipe bebas debu dan percikan terpasang antara
rumah dan kaca penutup depan. Semua bagian metal yang terbuka harus
terbuat dari material tidak korosif. Dalam posisi pemasangan dasar
dengan penutup depan kaca dan dalam posisi horisontal absolut sinar
cahaya harus menjaga cahaya distribusi di bawah bidang horisontal,
asalkan distribusi cahaya potongan dengan batas bayangan sesuai
dengan persyaratan CIE (CIE = Commission International de
l’Eclairage).

v) Ballast untuk Lampu Sodium Bertekanan Rendah

Ballast untuk lampu sodium bertekanan rendah harus dipilih untuk


mengoperasikan secara benar lampu pada watt seperti dipilih pada
Gambar.

Ballast harus mempunyai karakteristik listrik dari tipe faktor bertenaga


besar dengan tingkat voltage seperti tercatat pada Gambar. Ballast harus
dipasang dengan jarak jauh dan harus dipasang pada papan
persimpangan yang terletak pada lubang tiang penerangan.

8 - 13
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Tiap ballast harus mempunyai pelat nama permanen yang terlekat pada
pembungkusnya, yang mencatat semua data elektriknya.

vi) Ballast untuk Lampu Sodium Bertekanan Tinggi

Ballast untuk lampu sodium bertekanan tinggi harus direncanakan untuk


mengoperasikan secara benar lampu pada watt seperti dipilih pada
Gambar. Semua ballast harus tahan tetesan, dibungkus, diisi polyester
dan dilengkapi blok terminal untuk hubungan listrik. Instruksi dari
hubungan listrik harus yang mencatat semua data elektrik harus tertulis
pada pelat nama permanen dan terpasang pada bungkus.

Faktor power dari kombinasi lampu harus mempunyai nilai lebih besar
dari 0,85 dan harus dicapai dengan menghubungkan kapasitor paralel
dengan kapasitas yang cukup untuk semua. Kapasitor yang digunakan
harus cocok untuk beroperasi pada voltage normal sekurang-kurangnya
220 volt 50 Hz.

vii) Ballast untuk Lampu Merkuri Bertekanan Tinggi

Ballast untuk lampu merkuri bertekanan tinggi harus dipilih untuk


mengoperasikan secara benar lampu pada watt seperti dipilih pada
Gambar.

Semua ballast harus tahan tetesan (orthocyclically encapsulated neon


proof), satuan lilitan, kehilangan tenaga yang kecil dan dilapisi
konstruksi mekanis dan elektrikal. Ballast harus dilengkapi dengan blok
terminal untuk hubungan listrik.

Instruksi dari hubungan listrik harus yang mencatat semua data elektrik
harus tertulis pada pelat nama permanen dan terpasang pada bungkus.

viii) Armatur/ Rumah Lampu

Tipe rumah lampu/armatur harus sesuai dengan tipe lampu/ballast dan


terbuat dari bahan aluminium die-cast dan diberi cat warna sesuai
dengan gambar rencana atau petunjuk Direksi Pekerjaan.

Rumah lampu harus memiliki lubang udara yang ditutup dengan bahan
anti debu/filter seperti filter arang aktif (charchoal filter) dan memiliki
IP 65 pada ruang optikal lampu.
Penutup rumah lampu/armatur harus terbuat dari bahan kaca prismatik
sesuai dengan gambar rencana atau petunjuk Direksi Pekerjaan.
Reflector dalam harus terbuat dari bahan aluminium murni dan dilapisi
dengan bahan Allglass.
Rangkaian komponen lampu yang terdiri dari ballast, ignitor dan
kapasitor harus terpasang dalam satu unit dengan rumah lampu/armatur.

(ix) Kualitas Mutu Produk

Lampu harus memiliki jaminan umur nyala rata-rata 20.000 jam, dan
memiliki standar pengujian dari LMK atau PLN serta memiliki fasilitas
pabrikan di Indonesia.

8 - 14
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

b) Panel Penerangan

i) Uraian

Panel penerangan harus termasuk sumber tenaga terpasang pada sirkuit


dari penerangan jalan dan tunnel, rambu-rambu lalulintas dan rambu-
rambu petunjuk. Panel harus seperti terlihat pada Gambar atau ekivalen
seperti disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

Panel harus berventilasi dan harus struktur free standing pada pondasi
beton minimum 40 cm di atas permukaan tanah.

Atap rumah panel harus memiliki puncak rangkap dan puncak harus
pada pusat dari panel.

Panel dan jendela harus dibuat dari lempeng baja dilapisi penuh dan
tidak kurang dari 3,2 mm dalam tebal dan dengan rangka baja yang
perlu. Pengelasan untuk sambungan luar harus dihaluskan. Panel harus
mempunyai dasar perencanaan yang harus mengijinkan pengelasan titik
pada kanal dan harus dipasang pada pondasi beton seperti terlihat pada
Gambar.

Panel dan kawat harus telah terpasang lengkap di Pabrik. Kawat utama
dan kecil harus dapat masuk untuk pemeliharaan dan pengawasan, dan
kawat kecil harus diisolasi efektif dari kawat utama. Diagram kawat
yang terpasang pada pelat alumunium, harus terpasang permanen pada
jendela bagian dalam dari panel.

Tiap panel harus mempunyai satu atau lebih pelat nama untuk
identifikasi. Pelat nama harus terbuat dari plastik laminasi dengan
karakter putih pada lapisan hitam bila dipotong atau dipasang.

ii) Komponen dari Panel Penerangan

Semua panel penerangan harus seperti terlihat pada Gambar.


Komponen-komponennya harus direncanakan untuk 3 phase, 4 kawat,
beroperasi 50 Hz pada 380/200 volts.

Semua komponen harus sesuai dengan hal-hal berikut :

1) Pemutus Sirkuit

Pemutus sirkuit kotak padat, tipe pemutus udara, beroperasi


pada 600 volt AC. Pemutus sirkuit harus mempunyai 3 kutub
kecuali disebutkan lain.

Pemutus sirkuit harus menyediakan waktu balik untuk overload


dan aksi segera dan overload sepuluh kali arus normal. Pemutus
sirkuit harus tipe kontak tahanan lengkung dan dilengkapi
dengan handle bebas dan pemadam lengkung.

Pemutus sirkuit berkapasitas pemutus 16.000 ampere


didasarkan JIS C8370 putaran tugas standar, kecuali pemutus
lebih besar dari 225 ampere mempunyai kapasitas pemutus
25.000 ampere atau seperti disetujui Direksi Pekerjaan.

8 - 15
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Pemutus untuk arus utama harus dilengkapi dengan kontak


tambahan yang harus berdekatan bilamana pemutus ditutup dan
380 volt shunt trip coil. Kesemuanya harus diikat dengan kawat
untuk mencegah pemutus tertutup sedang yang lain tertutup.

2) Tombol Tajam

Tombol-tombol tajam harus mempunyai 3 mata pisau dengan


kapasitas 200 ampere didasarkan JIS C8308 atau disetujui
Direksi Pekerjaan.

3) Kontrol Peralatan

Sirkuit penerangan ganda (multiple) harus dikontrol oleh


tombol pengatur waktu.

4) Tombol Waktu/Sensor Cahaya

Penyalaan/pemadaman penerangan jalan mempunyai dua


macam elemen kontrol, dimana yang satu untuk “on” bila
terjadi kegelapan dan “off” bila terang, serta yang lain untuk
50% penerangan pada malam hari untuk menghemat energi,
semua seperti terlihat pada Gambar.

Baik pemasangan “on” atau “off” harus ada selama 24 jam,


dan penambahan minimum pemasangan minimum harus satu
menit.

Tombol waktu harus beroperasi pada 220 volt, 50 Hz. Tombol


waktu yang dipasang pada panel penerangan harus mempunyai
alat penggerak darurat (emergency) selama 48 jam atau lebih
bilamana sumber tenaga yang akan datang gagal.

Pemasangan timer untuk penerangan dasar adalah 100% nyala


pada jam 6.00 dan jam 24.00 dan nyala 50% antara jam 24.00
sampai jam 6.00.

c) Tiang-tiang

i) Tiang Penerangan Jalan

Tiang penerangan jalan harus dari baja galvanisasi, sesuai dengan detail
yang terlihat pada Gambar.

Semua material harus warna alami dan harus tidak di cat atau dilapisi
material lain. Semua tiang dan perlengkapannya harus dari baja
galvanisasi. Goresan, tanda-tanda dan kerusakan lain pada tiang dan
fitting harus ditolak. Setiap tanda atau noda yang dihasilkan dari
material pembungkus harus dibuang.

Semua tiang dan lengan-lengan harus dibungkus spiral satu persatu,


sebagai tambahan harus di-pak untuk pengiriman dalam grup dengan
kayu diantara tiang dan lengkap sekitar tiap grup pada minimum 4
lokasi dan dipegang dengan tali pengikat logam yang sesuai. Lengan-

8 - 16
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

lengan harus dibungkus, di-pak dan dikirim ke lapangan dengan


minimum pembebanan kembali diantara titik-titik asal dan tujuan.
Pengepakan yang tidak sesuai dengan persyaratan ini harus ditolak
untuk tiang dan lengannya. Semua pembebanan dan penurunan beban
dari tiang-tiang dan lengan-lengan harus dibawah pengawasan pabrik
dan/atau Penyedia Jasa. Semua perlengkapan tiang tambahan diperlukan
untuk menyelesaikan proyek harus material standar dibuat untuk
pelaksanaan pekerjaan tiang. Semua bagian metal harus di galvanisasi.
Semua tiang harus tipe angkur terpasang pada batang dan terikat pada
dua las melingkar.

Lubang tangan dan pelat penutup untuk hubungan terminal harus 2,0 m
di atas permukaan tanah. Pelat-pelat identifikasi harus terpasang pada
tiap tiang penerangan jalan.

ii) Pondasi

Beton untuk pondasi tiang dan alas kabinet panel harus beton kelas
K-175 (fc’ 15Mpa) atau seperti ketentuan dalam Gambar. Semua
detail beton dan baja tulangan untuk pondasi harus sesuai dengan
ketentuan-ketentuan dalam Seksi 7.1.

iii) Tiang Menara (High Masts)

1) Tiang menara harus terbuat dari baja yang dipasang dalam


bentuk kerucut, dan dilas dalam satu lapisan longitudinal.
Bagian-bagiannya harus disambung secara teleskopis atau
dengan baut. Bila menggunakan baut, plat penyambungnya
(flanges) tidak boleh merusak estetika garis-garis tiang dan
sebaiknya diletakkan di bagian dalam. Semua bagian yang
berupa baja dari tiang menara ini harus digalvanisasi (hotdip
galvanized) seluruh permukaannya sesuai dengan ketentuan
Seksi 7.4 dari Spesifikasi ini. Setelah tiang menara dipasang,
semua baut yang tampak dan mur pengencangannya pada
pondasi harus diberi lapisan cat bitumen. Kerusakan dan
cacat akibat pengangkutan dan pemasangan harus
dibersihkan dan diperbaiki.

2) Tiang menara harus dipasang dengan baut ke pondasi beton


bertulang dengan baut baja dan mur baja dengan diameter
dan jumlah yang memadai. Pondasi harus terbuat dari beton
dengan tulangan baja sesuai dengan ketentuan Seksi 7.4.

Penyedia Jasa harus menyerahkan Gambar Konstruksi


mengenai pondasi dan perhitungannya, untuk disetujui
Direksi Pekerjaan. Baut angker harus memenuhi ketentuan
JIS B 1180 dan B 1181 atau yang setara, dan masing-masing
harus dilengkapi dengan dua mur dan dua ring. Baut angker,
mur dan ring harus digalvanisasi sesuai dengan ketentuan
Seksi 7.4 dari Spesifikasi ini.

3) Tiang menara harus mempunyai lubang masuk yang dapat


dikunci.

8 - 17
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

4) Perlengkapan lampu seperti sekring, ballast, starter dan


kapasitor harus dipasang pada bingkai yang memadai dan
diletakkan di dalam tiang menara di atas permukaan tanah.
Harus dijaga agar tidak ada air dari pengembunan atau air
hujan yang masuk membasahi perlengkapan itu. Kabel dari
terminal sambungan ke arah lampu harus diikat jadi satu dan
diklem pada tiang menara. Di dalam tiang menara, di dekat
bingkai perlengkapan harus disediakan satu terminal arde
(earth terminal) dengan diameter sekurang-kurangnya 10
mm, langsung disambung las ke tiang menara.

Pada bagian atas tiang menara harus dipasang head frame


yang cukup untuk tempat berbagai perlengkapan penerangan
dan ke berbagai arah sambungannya, sebagaimana
ditunjukkan dalam Gambar.

5) Tiang menara harus mempunyai garis-garis bentuk yang


serasi. Penyedia Jasa harus menyerahkan informasi lengkap,
untuk mendapat persetujuan Direksi Pekerjaan, mengenai
bentuk dan detail ukuran tiang menara.

6) Sebelum tiang menara dibuat, Penyedia Jasa harus meminta


persetujuan Direksi Pekerjaan atas Gambar detail konstruksi
tiang menara. Perhitungan harus mencakup struktur
selengkapnya, termasuk head frames dan rumah lampu, dan
harus memenuhi syarat berikut :
a) Tidak ada bagian atau komponen yang mendapat
tekanan melewati batas yang diijinkan;
b) Defleksi akibat gaya dinamik tidak boleh melebihi
batas yang diijinkan; dan
c) Perhitungan harus memenuhi ketentuan JIL -1001-
1962. JIL : (Asosiasi Industri Perlengkapan dan
Peralatan Penerangan Jepang)

iv) Perlengkapan kerekan untuk tiang lampu sorot

1) Perlengkapan ini harus meliputi susunan head frame, alat


angkut lampu sorot, alat kerekan dan peralatan listrik.

2) Setiap tiang menara harus dilengkapi dengan suatu


mekanisme yang mempuyai tiga kunci di bagian atas
struktur, untuk membantu gantungan lampu sorot dll, bila
kabel pengangkut kendur. Susunan head frame harus
dipasang pada bagian atas tiang menara, dan harus
disediakan juga satu alat angkut (carriage) untuk menopang
maksimum enam lampu sorot.

3) Setiap struktur tiang menara harus dilengkapi dengan tiga


kabel kerekan, kabel listrik dengan enam konduktor
minimum 10 mm, circuit breaker box, dan kerekan yang
digerakan secara manual. Kabel listrik harus diputuskan
hubungan dari circuit breaker box dan dipasangkan terhadap
kabel penurun bila lampu sorot turun. Kabel listrik harus
merentang dalam alat angkut lampu sorot dan dilengkapi

8 - 18
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

sikring in-line 5 ampere yang dipasang pada setiap kabel


suplai arus ke alat kontrol lampu sorot.

4) Susunan head frame harus dilengkapi penutup yang dapat


berpindah dan ring pengangkut harus dengan sistem semi
putar untuk mempermudah pengangkutan, pemasangan dan
pembongkaran setelah tiang menara didirikan. Ring ini harus
dilengkapi dengan alat penyangga enam lampu sorot yang
berjarak sama di sekitar ring, dan sebuah steker sebagai
pasangan untuk enam outlet stop kontak tiang pada base
harus dipasang pada pemasok daya induk untuk keperluan
test bila ring sedang dalam posisi rendah.

5) Head frame harus dilengkapi dengan penuntun untuk dapat


mejamin secara tepat alat angkut ke mekanisme penguncian
pada posisi naik. Di bagian dalam alat angkut (carriage)
harus dipasang roller untuk membantu penjajaran akhir alat
angkut pada saat pengerekan ke atas. Alat angkut harus
dilengkapi dengan bendera penunjuk untuk memastikan alat
berada dalam posisi terkunci. Bendera harus dapat dilihat
dari permukaan tanah. Mekanisme penguncian harus terletak
pada posisi 120 derajat satu sama lain pada susunan head
frame, dan harus bisa menyangga alat angkut, rumah lampu
dan ballast dalam posisi terkunci, kabel kerekan tidak boleh
kendur bila alat angkut (carriage) berada dalam posisi naik
dan terkunci.

6) Pada alas setiap batang tiang menara harus ada kerekan,


untuk menaikkan dan menurunkan alat pengangkut memakai
kabel pengerek. Kerekan harus dari tipe beroda gigi, dengan
perbandingan roda gigi yang dapat mempermudah gerakan
naik turun, dan mencegah alat angkut jatuh bila handel
kerekan lepas mendadak. Handel kerekan harus bisa
dioperasikan tangan untuk digunakan dalam keadaan darurat.

7) Pada lubang tiang menara harus dibuat pintu berengsel,


ukuran lubang harus cukup untuk keluar masuk
perlengkapan yang dipasang di dalamnya. Pintu harus
dilengkapi dengan kunci gembok. Lubang harus dilengkapi
dengan bingkai penguat agar tidak terjadi pelemahan
struktur. Penguat ini juga tidak boleh sampai mengganggu
gerak keluar-masuk peralatan yang diperlukan.

8) Selain dengan kerekan kabel, tiang menara juga harus


dilengkapi dengan tiang dan mur dalam tanah dan kotak
logam lembaran baja yang dicat epoxy dan mempunyai tanda
ukuran, meliputi :
a) Sebuah three pole circuit breaker 20 Ampere
(kapasitas interupsi 30.000 Ampere pada tegangan
460 volt) untuk sumber penerangan.
b) Satu single pole 15 Ampere sebagaimana di atas
untuk keamanan alat penerangan.
c) Satu single pole 15 Ampere circuit breaker, sama
dengan di atas, untuk outlet alat penurunan.

8 - 19
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

d) Satu stecker dan outlet stop kontak tujuh lubang,


untuk kabel gantungan 6 konduktor.
e) Satu jalur hubungan netral yang akan
menghubungkan sirkuit netral dari panel penerangan
jalan dan outlet stop kontak tiang menara.

Sebuah stop kontak fase tunggal 265 volt yang


sebanding dengan steker penurunan harus
dihubungkan ke circuit breaker pada butir (iii) di
atas.

Motor penggerak alat pengangkatan dan penurunan


harus mempunyai kopling putar untuk penurunan.
Motor penggerak harus dipasang dengan pengunci.
Sebuah bak kontrol dan sambungan kedap air harus
disediakan pada motor penggerak, dan harus terdiri-
dari :
- Sebuah starter motor mundur dengan kabel
dan steker sebagai pasangan untuk stop
kontak dalam box circuit breaker, dan kabel
pengontrol sepanjang 6 meter lengkap
dengan tombol mundur kedap air. Yang
terakhir ini dapat menjaga keselamatan
operator dari zona bahaya selama
pengangkatan dan penurunan.
- Sebelum memesan motor, Penyedia Jasa
harus menyerahkan data karakteristik motor
yang akan digunakan, untuk meminta
persetujuan Direksi Pekerjaan

d) Kabel, Grounding, Sambungan dan Pipa Saluran Kabel (Conduit)

i) Kabel Penerangan

Kabel penerangan jalan harus dari tipe dan ukuran sesuai Gambar.
Kabel harus ditarik ke dalam tiang melalui pipa yang dipersiapkan
pada pondasi tiang itu, dan harus dihubungkan ke terminal pada box
terminal yang dipasang dalam tiang.

Semua tiang harus mempunyai circuit breaker kecil setara IP-10


ampere, 240 volt, dipasang pada bagian bawah tiang dan dapat
dicapai dari/melalui hand hole tiang itu. Sekering harus melindungi
kabel-kabel tiang dan ballast.

Kabel yang dipasang dalam tiang harus mempunyai dua konduktor


ukuran 2,5 mm seperti dijelaskan pada butir (2) di bawah ini. Kabel
harus dipasang dengan baik pada rumah lampu sedemikian rupa
sehingga terminal pada rumah lampu tidak dibebani oleh berat kabel
itu.

Kabel penerangan jalan harus mempunyai empat kawat (core)


sampai tiang terakhirnya.

ii) Kabel dan Kawat

8 - 20
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Kabel harus sesuai untuk beroperasi pada voltase tertentu dalam


udara terbuka, pipa atau saluran dalam kondisi suhu kerja maksimum
70 0C.

Warna kabel harus memenuhi standar peraturan warna Indonesia.


Kabel harus didatangkan ke lokasi kerja pada drum kayu yang kuat,
yang masing-masing diberi label yang menyatakan berat kotor,
nomor seri, panjang kabel dan lain-lain.

Permukaan luar drum harus ditutupi agar kabel tetap terlindung


selama pengangkutan dan bagian dalam ujung kabel harus dilindungi
dengan penutup dari logam atau alat lainnya. Kedua ujung kabel
harus disekat untuk mencegah masuknya air.
Semua kabel dalam tiang harus mempunyai dua konduktor untuk tiap
lampu. Kabel harus dari ukuran 600 volt, atau tipe yang disetujui
oleh Direksi Pekerjaan.

Kabel penerangan jalan yang akan dipasang di bawah tanah harus


diisolasi dengan PVC, pelapis baja galvanisasi, dan pelat PVC tipe
NYFGbY atau tipe yang setara yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
Konduktor harus mempunyai luas penampang minimum 10 mm2,
untuk pemasangan di bawah tanah.

Semua kabel yang akan digunakan harus diuji dan disetujui oleh
Lembaga Masalah Kelistrikan (LMK) atau PLN, sebelum Direksi
Pekerjaan menyetujuinya.

iii) Sambungan Ground

Kabel, tiang baja dan kabinet harus dipasang secara mekanis dan
elektrik agar tercipta sistem yang kontinyu, dan harus disambungkan
ke bumi (ground). Bonding Jumper dan grounding jumper harus dari
kawat tembaga dengan luas penampang yang sama.

Bonding jumper harus digunakan dalam semua non-metal.


Sedangkan boks metal harus menggunakan raf mur kunci ganda.
Rangkaian kabel, tiang penerangan dan panel utnuk membuat sistem
ground yang kontinyu harus memenuhi standar. Bila Direksi
Pekerjaan meemerintahkan, setiap tiang penerangan harus
dihubungkan ke bumi (ground).

Ukuran kawat hubungan ground harus minimum 6 mm, dengan


konduktor tembaga, atau sebagaimana persetujuan Direksi Pekerjaan.

Batang untuk hubungan ground harus tembaga dengan diameter


minimum 10 x 1.500 mm minimum, dengan kedalaman minimum
1,2 meter di bawah permukaan tanah dan dilas panas atau
dihubungkan dengan alat hardware (perangkat keras) ke kawat
ground 6 mm .

Penyedia Jasa harus meneliti tiap lokasi tiang dan mengukur


resistensi grounding lokasi itu. Setelah memperoleh data, Penyedia
Jasa harus meminta persetujuan Direksi Pekerjaan untuk lokasi itu.

8 - 21
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

Resistensi grounding harus 5 Ohm atau kurang, atau sebagaimana


ditentukan oleh Direksi Pekerjaan.

Detail grounding harus diajukan kepada Direksi Pekerjaan untuk


disetujui.

iv) Material Sambungan Listrik

Sambungan harus dibuat dengan konektor tekanan (tidak dipatri)


untuk menghubungkan kawat baik secara mekanis maupun elektrik.

Isolasi tipe cor damar epoxy harus dicetak pada cetakan plastik yang
jernih. Material yang digunakan harus sebanding dengan material
isolasi yang ditentukan dalam Gambar Kontrak atau Spesifikasi ini
dan juga harus memenuhi ketentuan JIS C 2804, C 2805, C 2806,
atau harus mempunyai kualitas yang sesuai dengan ketentuan Direksi
Pekerjaan.

Pita isolasi untuk sambungan harus memenuhi ketentuan JIS C 2336.

Konektor harus dari tipe cepat putus hubungan (quick-disconnect)


tanpa sekering, seperti in-line connector yang disetujui Direksi
Pekerjaan.

v) Pipa Saluran Kabel (conduit pipe)

Pipa yang dipasang di bawah tanah, di atas tanah atau pada


permukaan struktur harus terbuat dari baja. Pipa kabel yang dipasang
di bawah tanah disebut ducts dan dipasang sesuai gambar atau
petunjuk Direksi Pekerjaan.

Permukaan luar dan dalam semua pipa baja harus dilapisi seng secara
merata dengan proses galvanisasi hotdip.

Pipa yang akan dipasang menyatu dalam beton harus pipa PVC yang
memenuhi ketentuan JIS C 8430.

vi) Talam Kabel (cable trays)

Detail mengenai material dan pemasangan dalam kabel harus sesuai


dengan Gambar.

8.4.4 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

1) Pengukuran untuk Pembayaran

a) Kuantitas yang diukur untuk rambu jalan, patok pengarah, patok kilometer, patok
hektometer, paku jalan, mata kucing, alat pengendali isyarat lalu lintas dan
lampu penerangan jalan haruslah jumlah aktual rambu jalan (termasuk tiang
rambu jalan), patok pengarah, patok kilometer dan patok hektometer yang
disediakan dan dipasang sesuai dengan Gambar dan diterima oleh Direksi
Pekerjaan.

8 - 22
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

b) Kuantitas yang diukur untuk rel pengaman, beton pemisah jalur dan pagar
pemisah pedestrian haruslah panjang aktual rel pengaman dalam meter panjang
yang disediakan dan dipasang sesuai Gambar dan diterima oleh Direksi
Pekerjaan.

c) Kuantitas marka jalan yang dibayar haruslah luas dalam meter persegi
pengecatan marka jalan yang dilaksanakan pada permukaan jalan sesuai Gambar
dan diterima oleh Direksi Pekerjaan. Tidak ada pengukuran terpisah untuk
pembayaran marka jalan sementara (pre-marking) yang harus dilaksanakan
sebagaimana yang disyaratkan dalam Seksi 1.8 dari Spesifikasi ini sebelum
pengecatan marka jalan permanen.

d) Kerb Beton Cor Langsung di Tempat

i) Tidak ada pengukuran terpisah untuk pembayaran yang dilakukan untuk


kerb beton cor langsung di tempat dalam Seksi ini.

ii) Kerb beton cor di tempat akan diukur untuk pembayaran sebagaimana
berbagai bahan yang digunakan seperti yang ditentukan dalam Seksi-seksi
yang berkaitan dari Spesifikasi ini.

e) Kerb Beton Pracetak

i) Kuantitas yang diukur untuk kerb haruslah jumlah aktual kerb yang
dipasang sesuai dengan Gambar dan diterima oleh Direksi Pekerjaan.

ii) Jumlah yang diukur untuk dibayar adalah jumlah meter panjang
komponen kerb pracetak per jenis yang terpasang di tempat yang telah
diselesaikan dan disetujui. Unit – unit tertentu yang memakai ukuran non
standar akan diukur menurut jumlahnya.

iii) Kerb pracetak baik yang baru dipasang maupun yang disusun kembali,
akan diukur sesuai jenis kerb masing – masing yang diukur dalam meter
panjang sepanjang bagian muka dari puncak kerb kecuali kerb jenis
bukaan (dengan lubang – lubang drainase) dan kerb jenis pelandaian,
pengukuran dilakukan dalam satuan buah yang telah terpasang dalam
pembuatan kerb.

iv) Blok transisi, dan beton pengisi antara kerb pemisah jalan (concrete
barrier) dan kerb tidak akan diukur untuk dibayar, melainkan merupakan
kewajiban Penyedia Jasa berdasarkan pasal ini.

f) Kuantitas yang diukur untuk perkerasan blok beton haruslah luas perkerasan blok
beton baru dalam meter persegi, lengkap terpasang di tempat dan diterima, dan
kuantitas landasan pasir aktual digunakan dihitung dengan menggunakan cara
yang disyaratkan dalam Pasal 2.4.4.1) dari Spesifikasi ini.

Tidak ada pengukuran terpisah yang dilakukan untuk pembongkaran ubin lama
atau blok beton lama yang rusak atau untuk melaksanakan penggetaran pada
pemasangan blok beton.

2) Dasar Pembayaran

Kuantitas yang diukur seperti tersebut di atas, harus dibayar dengan harga satuan Kontrak
per satuan pengukuran untuk Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah dan diberikan

8 - 23
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

dalam Daftar Kuantitas, dimana harga dan pembayaran tersebut sudah merupakan
kompensasi penuh untuk pengadaan semua bahan, pekerja, peralatan, perkakas dan
keperluan biaya lainnya yang diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan yang
mememenuhi ketentuan sesuai dengan Seksi dari Spesifikasi ini.

Nomor Mata Uraian Satuan


Pembayaran Pembayaran

8.4.(1) Marka Jalan Termoplastik Meter Persegi

8 - 24
SPESIFIKASI UMUM 2010 (Revisi 3)

8 - 25