Anda di halaman 1dari 33

BAB III

EKSEGESIS MATIUS 7:24-27

A. Pengantar

Penafsiran atau eksegesis terhadap teks-teks dalam Kitab Injil merupakan

pekerjaan yang tidak mudah, meskipun sepintas setiap kisah dalam Injil-injil

Kanonik tampaknya mudah untuk ditafsirkan. Adi Putra mengungkapkan

pendapatnya,

“Kesulitan mengeksegesis teks-teks dalam Injil-Injil Kanonik disebabkan oleh dua faktor,
yakni: (1) Kitab-kitab Injil berisi tentang Yesus (pribadi dan pelayanan-Nya), sedangkan
yang menulis bukan Yesus melainkan orang lain. (2) Jumlah dari Kitab Injil ada empat
kitab dengan penulis yang berbeda, gaya bahasa dan cara menulis yang berbeda bahkan
penekanan atau perspektif juga berbeda.”1

Oleh karena itu, diperlukan metode atau pendekatan yang tepat untuk menafsirkan

setiap kisah yang terdapat di dalamnya. Demikian pula dengan peristiwa yang

dikisahkan dalam Matius 7:24-27. Peristiwa tersebut mengisahkan tentang

perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus pada bagian akhir khobah-Nya di

bukit, dan yang menulis adalah Matius bukan Yesus. Kemudian peristiwa tersebut

tidak hanya terdapat dalam Matius, tetapi dikisahkan juga dalam Lukas.

Catatannya adalah setiap Injil mengisahkan peristiwa itu dalam keragaman

perbedaan.

Berdasarkan kesulitan-kesulitan yang dijelaskan di atas, maka untuk

mempermudah alam menafsirkan dan mengeksegesis teks Matius 7:24-27, maka

1
Adi Putra, Misi Yesus Kepada Bangsa-Bangsa Lain (Jakarta: Views, 2015), hlm. 48

32
digunakan peradigma horisontal2 dan paradigma vertikal3 agar dapat memahami

maksud atau arti dari peristiwa ini secara utuh dan benar.

2
Paradigma horizontal berarti teks Matius 7:24-27, ditafsir dengan tetap
mempertimbangkan atau memperhatikan paralelnya dalam Injil Kanonik yang lain.
3
Paradigma Vertikal berarti teks Matius 7:24-27 ditafsir dengan tetap memperhatikan
konteks Yesus dan konteks penulis Injil. Ini berarti memperhatikan secara spesifik konteks dalam
Injil Matius terhadap Yesus dan Injil Matius sendiri.

33
B. Terjemahan

Dalam terjemahan ini menggunakan teks asli versi NA 28 yang merupakan

teks standar dalam sebuah studi eksegesis.

NA 28 Terjemahan

Πᾶς οὖν ὅστις ἀκούει μου τοὺς


24
Kemudian barangsiapa yang mendengar
λόγους4 τούτους καὶ ποιεῖ αὐτούς, perkataan-perkataan-Ku ini dan
ὁμοιωθήσεται5 ἀνδρὶ φρονίμῳ, ὅστις melakukannya, dia akan diibaratkan
ᾠκοδόμησεν6 αὐτοῦ τὴν οἰκίαν ἐπὶ τὴν dengan manusia yang bijaksana, yang
πέτραν· telah membangun rumahnya di atas
batu.
25
καὶ κατέβη ἡ βροχὴ καὶ ἦλθον οἱ Hujan turun, banjir, angin datang
ποταμοὶ καὶ ἔπνευσαν οἱ ἄνεμοι καὶ melanda rumah itu, tetapi itu tidak
προσέπεσαν τῇ οἰκίᾳ ἐκείνῃ, καὶ οὐκ roboh karena dibangun di atas batu.
ἔπεσεν, τεθεμελίωτο γὰρ ἐπὶ τὴν
πέτραν.
26
καὶ πᾶς ὁ ἀκούων μου τοὺς λόγους Dan barangsiapa yang mendengar
τούτους καὶ μὴ ποιῶν αὐτοὺς perkataan-perkataan-Ku ini dan tidak
ὁμοιωθήσεται ἀνδρὶ μωρῷ, ὅστις melakukannya, dia akan diibaratkan
ᾠκοδόμησεν αὐτοῦ τὴν οἰκίαν ἐπὶ τὴν dengan manusia yang bodoh, yang telah
ἄμμον· membangun rumahnya di atas pasir.
27
καὶ κατέβη ἡ βροχὴ καὶ ἦλθον οἱ Hujan turun, banjir, angin datang
ποταμοὶ καὶ ἔπνευσαν οἱ ἄνεμοι καὶ melanda rumah itu, maka itu hancur
προσέκοψαν τῇ οἰκίᾳ ἐκείνῃ, καὶ dan terjadilah kerusakan yang besar.
ἔπεσεν καὶ ἦν ἡ πτῶσις αὐτῆς μεγάλη.

4
Kata λόγους berasal dari kata λέγω yang dapat dipahami bahwa sebuah komunikasi
dimana pikiran menemukan sebuah ekpresi untuk mengatakannya sebagai kebenaran.
5
Kata kerja ὁμοιωθήσεται adalah bentuk indikatif masa yang akan datang pasif orang ke-
3 tunggal dari kata ὁμοιόω. Kata ὁμοιωθήσεται diartikan dengan membangun atau mendirikan.
6
Kata ᾠκοδόμησεν adalah bentuk kata kerja indikatif aoris aktif orang ke-3 tunggal yang
berasal dari kata οἰκοδομέω dan dapat diartikan membangun atau mendirikan.

34
C. Perbandingan Terjemahan

Ayat 24

Terjemahan Pribadi Kemudian barangsiapa yang mendengar perkataan-


perkataan-Ku ini dan melakukannya, dia akan diibaratkan
dengan manusia yang bijaksana, yang telah membangun
rumahnya di atas batu.

ESV7 Everyone then who hears these words of mine and does
them will be like a wise man who built his house on the
rock.
NRSV8 Everyone then who hears these words of mine and acts on
them will be like a wise man who built his house on rock.

ITB9 Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan


melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana,
yang mendirikan rumahnya di atas batu.
BIS10 Nah, orang yang mendengar perkataan-Ku ini, dan
menurutinya, sama seperti orang bijak yang membangun
rumahnya di atas batu.

BIMK11 Nah, orang yang mendengar perkataan-Ku ini, dan


menurutinya, sama seperti orang bijak yang membangun
rumahnya di atas batu.

Ayat 25

Terjemahan Pribadi Hujan turun, banjir, angin datang melanda rumah itu,
tetapi itu tidak roboh karena dibangun di atas batu.

ESV And the rain fell, and the floods came, and the winds
blew and beat on that house, but it did not fall, because it
had been founded on the rock.

NRSV The rain fell, the floods came, and the winds blew and
beat on that house, but it did not fall, because it had been
founded on rock.

7
English Standard Version (2007 update), Penerbit: Crossway Bibles, a publishing
ministry of Good News Publishers.
8
New Revised Standard Version (1989), Penerbit: National Caouncil of the Churches of
Christ in the USA.
9
Lembaga Alkitab Indonesia, Terjemahan Baru (Indonesia).
10
Lembaga Alkitab Indonesia, Bahasa Indonesia sehari-hari (Indonesia).
11
Lembaga Alkitab Indonesia, Bahasa Indonesia Masa Kini (Indonesia).

35
ITB Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin
melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab
didirikan di atas batu.

BIS Pada waktu hujan turun, dan air banjir datang serta angin
kencang memukul rumah itu, rumah itu tidak roboh sebab
telah dibangun di atas batu.

BIMK Pada waktu hujan turun, dan air banjir datang serta angin
kencang memukul rumah itu, rumah itu tidak roboh sebab
telah dibangun di atas batu.

Ayat 26

Terjemahan Pribadi Dan barangsiapa yang mendengar perkataan-perkataan-


Ku ini dan tidak melakukannya, dia akan diibaratkan
dengan manusia yang bodoh, yang telah membangun
rumahnya di atas pasir.

ESV And everyone who hears these words of mine and does
not do them will be like a foolish man who built his
house on the sand.

NRSV And everyone who hears these words of mine and does
not act on them will be like a foolish man who built his
house on sand.

ITB Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan


tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh,
yang mendirikan rumahnya di atas pasir.
BIS Dan orang yang mendengar perkataan-Ku ini, tetapi tidak
menurutinya, ia sama seperti orang bodoh yang
membangun rumahnya di atas pasir.

BIMK Dan orang yang mendengar perkataan-Ku ini, tetapi tidak


menurutinya, ia sama seperti orang bodoh yang
membangun rumahnya di atas pasir.

Ayat 27

Terjemahan Pribadi Hujan turun, banjir, angin datang melanda rumah itu,
maka itu hancur dan terjadilah kerusakan yang besar.

ESV And the rain fell, and the floods came, and the winds
blew and beat against that house, and it fell, and great
was the fall of it.

36
NRSV The rain fell, and the floods came, and the winds blew
and beat against that house, and it fell-- and great was its
fall.
ITB Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin
melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan
hebatlah kerusakannya.
BIS Pada waktu hujan turun, dan air banjir datang serta angin
kencang memukul rumah itu, rumah itu roboh. Dan
kerusakannya hebat sekali.

BIMK Pada waktu hujan turun, dan air banjir datang serta angin
kencang memukul rumah itu, rumah itu roboh. Dan
kerusakannya hebat sekali.

Setelah melakukan perbandingan terjemahan di atas, maka penulis akan

memberikan penilaian dari beberapa terjemahan tersebut, yakni: Pada ayat 24 dan

25, semua terjemahannya memiliki kemiripan. Sedangkan pada ayat 26,

terjemahan NRSV sedikit berbeda dengan terjemahan ESV, ITB, BIS, BIMK

yaitu kata “act (perbuatan atau tindakan). Oleh karena itu, dipahami bahwa NRSV

sangat menegaskan tentang hal tindakan dalam mendengar perkataan Yesus. Pada

ayat 27 terdapat sedikit perbedaan pada terjemahan ESV yaitu menggunakan kata

“And” pada awal kalimat sedangkan terjemahan NRSV, ITB, BIS, BIMK tidak

menggunakan kata tersebut. Pada akhir kalimat pun memiliki sedikit perbedaan

mengenai kejatuhan rumah yaitu ESV, ITB, BIS, BIMK menjelaskan bahwa

hebatlah kejatuhannya, sedangkan NRSV menjelaskan bahwa besar kejatuhannya.

Artinya bahwa terjemahan NRSV rumah yang jatuh tidak sehebat kejatuhannya

seperti terjemahan lainnya.

37
D. Kisah yang paralel

Berikut ini merupakan kisah yang paralel dengan Matius 7:24-27 dalam

Injil-injil Kanonik yang lain (seperti: Lukas126:46-49).

Matius Lukas
Setiap orang yang mendengar Mengapa kamu berseru kepada-Ku:
perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak
sama dengan orang yang bijaksana, melakukan apa yang Aku katakan?
yang mendirikan rumahnya di atas batu.

Kemudian turunlah hujan dan datanglah Setiap orang yang datang kepada-Ku
banjir, lalu angin melanda rumah itu, dan mendengarkan perkataan-Ku serta
tetapi rumah itu tidak roboh sebab melakukannya Aku akan menyatakan
didirikan di atas batu. kepadamu dengan siapa ia dapat
disamakan.
Tetapi setiap orang yang mendengar Ia seperti orang yang ketika
perkataan-Ku ini dan tidak membangun rumah menggali dalam-
melakukannya, ia sama dengan orang dalam, lalu membuat pondasinya pada
yang bodoh, yang mendirikan batu. Pada waktu ada banjir dan air
rumahnya di atas pasir. sungai melanda rumah itu, rumah itu
tidak dapat digoyahkan, sebab sudah
dibangun di atas pondasi yang baik.
Kemudian turunlah hujan dan datanglah Akan tetapi barangsiapa mendengar
banjir, lalu angin melanda rumah itu, perkataan-Ku, tetapi tidak
sehingga rubuhlah rumah itu dan melakukannya, ia sama dengan seorang
hebatlah kerusakannya. yang mendirikan rumah di atas tanah
tanpa dasar. Ketika banjir melandanya,
rumah itu segera rubuh dan hebatlah
kerusakannya.

Perikop dua macam dasar dalam konteks Lukas seperti yang ada dalam

Matius, diakhiri dengan pengingat yang mengesankan tentang tindakan lemah atas

pengajaran yang telah diberikan Yesus. Ada perbedaan dalam perincian: dalam

12
Lukas menjelaskan lebih detail dibandingkan Matius, ketika dilihat dari setiap kalimat
yang terdapat dalam perikop Matius 7:24-27. Sedangkan mengenai khotbah di bukit yang catat
oleh Matius, Lukas mengatakan bahwa hal tersebut terjadi di sebuah tempat yang datar.

38
Matius perbedaan antara keduanya adalah bahwa mereka memilih situs yang

berbeda untuk membangun; di sini terlihat perbedaan mereka.

Berhubungan dengan dua macam dasar adalah penutup dari khotbah di

bukit, maka B.J. Boland dan P.S. Naipospos berpendapat,

“Penutup itu adalah kata ancaman: celakalah orang yang mendengar “khotbah” ini, tetapi
tidak mempraktekkan isinya! Tetapi kalau begitu… ‘siapakah yang dapat diselamatkan?’
(bdk. 18:26). Memang tidak ada baiknya kalau kita benar-benar terkejut karena penutup
itu, maka kita akan terus mengikhtiarkan keselamatan kita ‘dengan takut dan gentar’ (Flp.
2:12; perhatian bahwa ayat ini adalah sambungan Flp. 2:1-11 yang telah dikutip di atas
berhubung dengan kesimpulan dari khotbah di kaki bukit).” 13

Setiap orang yang mendengar perkataan Yesus dan tidak melakukannya diancam

bahwa akan mengalami kecelakaan secara spiritual. Oleh karena itu, harus

melakukan yang sebaliknya yaitu mendengar perkataan Yesus dan melakukannya

dengan takut dan gentar.

Morris juga memberikan komentarnya tentang perikop ini,

“Menurut Lukas, Yesus sekarang berbicara tentang orang yang memperhatikan apa yang
dikatakannya. Pria ini seperti pembangun yang menggali dalam-dalam dan meletakkan
fondasi di atas batu. Hal ini penting untuk pembangunan yang sehat, tetapi itu memakan
waktu dan kerja keras. Dengan demikian, ada beberapa orang yang menghindari pekerjaan
tersebut”.14

Lukas juga menegaskan siapa yang mendengarkan khotbah Yesus dan

mempraktekannya (ay. 47-48) adalah seperti seorang yang dalam musim kering

mendirikan sebuah rumah dan yang memperhitungkan bahwa di tempat itu

mungkin dapat terjadi air pasang atau banjir setengah tahun kemudian. Jadi ia

berusaha untuk menggali dalam-dalam dan menyingkirkan tanah pasir dari dasar

batunya. Kemudian ia langsung meletakan fondasi pada tanah batu itu. Rumah

itulah yang nanti ternyata dapat bertahan terhadap bahaya air pasang dan banjir.

13
B.J. Boland dan P.S. Naipospos,Tafsiran Alkitab Injil Lukas (Jakarta: Bpk. Gunung
Mulia, 2015), hlm. 162.
14
Leon Morris, Luke, The Tyndale New Testament Commentaries (Surabaya: Momentum,
2007), hlm. 148.

39
Tetapi pada ayat 49, celakalah orang yang tidak meletakkan dasar untuk

membangun rumah dengan cara itu (bdk. Mat. 7:24,26 dimana ditekankan

bijaksana atau bodoh sebagai ganti rajin atau malas). Orang yang tidak

meletakkan dasar itu mendapat sebuah tempat yang tampaknya bagus untuk

mendirikan rumahnya; ia tidak memikirkan terlebih dahulu bahaya-bahaya yang

mungkin datang dalam musim hujan; tanah kering itu kelihatannya cukup keras

dan kuat; menggali dalam-dalam sampai ke tanah batu adalah terlalu melelahkan;

jadi begitu saja didirikannya rumahnya tanpa fondasi yang teguh. Dengan

demikian mungkin berdirilah bangunan yang bagus, yang kelihatannya tidak kalah

jika dibandingkan dengan rumah lain itu. Tetapi perbedaannya akan terlihat nanti

dikemudian hari. Jika dalam musim hujan air sungai sebak dan meluap dan

terjadilah banjir. Rumah yang terakhir ini runtuh dengan segera dan menjadi

timbunan puing besar.

E. Studi Apparatus Matius 7:24-27

Deskripsi Catatan Apparatus

Pada bagian ini akan dikemukakan tentang studi apparatus Matius 7:24-27

berdasarkan catatan kaki yang termaktub dalam Alkitab Bahasa Yunani versi

Nestle Aland 28 (NA 28). Pada ayat 24 terdapat dua variasi teks. Pada beberapa

kodeks atau teks saksi menghilangkan kata τούτους, seperti yang tertulis di bawah

ini:

Πᾶς οὖν ὅστις ἀκούει μου τοὺς λόγους °τούτους καὶ ποιεῖ αὐτούς,
⸀ὁμοιωθήσεται ἀνδρὶ φρονίμῳ, ὅστις ᾠκοδόμησεν αὐτοῦ τὴν οἰκίαν ἐπὶ τὴν
πέτραν·

 40
Ada pun yang memasukkan kata τούτους seperti B* 1424 a g1 k mae boms.

Masih dalam ayat 24, terdapat satu variasi teks lagi, yakni untuk kata

ὁμοιωθήσεται. Di mana untuk teks-teks saksi seperti C K L W Δ 565. 579. 1424 f

h k q syc.h bo; Cyp dengan bacaan ομοιωσω αυτον. Selanjutnya untuk ƒ1

memberikan bacaan ομοιωθησεται αυτον. Sedangkan untuk teks NA328 sendiri

didukung oleh ℵ B Z Θ 0281 ƒ(1).13 33. 700. 892. 1241. l 844 ff1 l vg syp.hmg sa

mae; Or Did.

Selanjutnya untuk ayat 25, terdapat perbedaan baca untuk beberapa teks

saksi dari προσέπεσαν. Misalnya kodeks W membacanya dengan προσεκρουσαν.

Kodeks dan teks saksi Θ 579; Eus., membacanya προσερρηξαν. Dan majuskel

1424 membacanya dengan προσεκοψαν.

Pada ayat 26 terdapat variasi teks khususnya untuk kata ὁ ἀκούων. Di mana

beberapa teks saksi atau kodeks menggantinya dengan kata yang lain. Seperti

yang digambarkan di bawah ini:

Καὶ πᾶς ⸂ὁ ἀκούων⸃ μου τοὺς λόγους τούτους καὶ μὴ ⸀ποιῶν αὐτοὺς
ὁμοιωθήσεται ἀνδρὶ μωρῷ, ὅστις ᾠκοδόμησεν ⸉αὐτοῦ τὴν οἰκίαν⸊ ἐπὶ τὴν ἄμμον·

Teks saksi seperti kodeks Θ dan ƒ13 menggantikan ὁ ἀκούων dengan οστις

ακουει. Selanjutnya untuk kata ποιῶν digantikannya dengan ποιει. Selanjutya

terdapat transpotition khususnya untuk kata αὐτοῦ τὴν οἰκίαν. Untuk kodeks dan

teks saksi C K L Γ Δ ƒ13 565. 579. 1424. l844 mendukung adanya transpotition.

41
Sedangkan teks NA28 sendiri didukung oleh ℵ B W Z (Θ) ƒ1 700. 892. 1241.

Terakhir adalah kodeks Θ memberikan transpotition εαυτου την οικιαν.

Untuk ayat 27 terdapat beberapa catatan apparatus yang hendak menegaskan

hadirnya variasi teks di dalamnya, seperti yang digambarkan di bawah ini:

καὶ κατέβη ἡ βροχὴ καὶ ἦλθον οἱ ποταμοὶ καὶ ἔπνευσαν οἱ ἄνεμοι καὶ ⸀προσέκοψαν
τῇ οἰκίᾳ ἐκείνῃ, καὶ ἔπεσεν καὶ ἦν ἡ πτῶσις αὐτῆς μεγάλη ⸆.

Seperti yang terlihat dengan jelas pada kolom di atas, maka pada teks

προσέκοψαν dibaca berbeda oleh C Θ ƒ1 dengan προσερρηξαν. Selanjutnya ƒ13

memberikan bacaan yang berbeda dengan bacaan προσεκρουσαν. Selanjutnya

pada beberapa kodeks dan teks saksi, seperti: Θ ƒ13 33. 1241c mae, menambahkan

kata σφοδρα setelah kata μεγάλη.

Penilaian

Pada varian teks pertama dalam ayat 24, apabila memperhatikan beberapa

kodeks saksi yang menghilangkan kata τούτους ada kodeks Vaticanus yang telah

dikoreksi pada abad ke-10. Ditambah beberapa teks saksi lainnya termasuk

Middle Egyptian, Bohairic yang tergolong ke dalam versi Koptik. Melihat teks

saksi yang mengasimilasi teks τούτους, tidak begitu kuat - apalagi ditinjau dari

aspek usia.

Varian kedua dalam ayat 24, ternyata versi NA 28 juga masih jauh lebih kuat

dengan teks ὁμοιωθήσεται apabila dibanding teks saksi yang memberikan varian

yang berbeda. Oleh karena NA 28 didukung oleh: Kodeks Sinaitikus yang ditulis

42
pada abad ke-4, Kodeks Vaticanus yang juga ditulis pada abad ke-4, Kodeks

Dublinensis ditulis pada abad ke-6, dan Kodeks Koridethi yang ditulis pada abad

ke-9. Dengan demikian, dapat dilihat betapa varian yang diberikan oleh NA 28

jauh lebih kuat dikategorikan sebagai teks yang mendekati teks aslinya.

Seperti yang dikemukakan oleh Adi Putra dalam bukunya, bahwa ada dua hal

yang perlu dipertimbangkan berkaitan dengan studi apparatus, yakni: bukti

eksternal dan bukti internal. Untuk bukti eksternal yang perlu diperhatikan adalah

usia dan karakter, kebersamaan genealogis, dan persebaran geografis. Sedangkan

untuk bukti-bukti internal yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan transkripsi

bergantung pada pertimbangan dari rincian paleografi dan kebiasaan dari para ahli

menulis; dan kemungkinan yang paling hakiki bergantung pada pertimbangan dari

apa yang penulis lebih mungkin telah ditulis.15

Untuk varian teks dalam ayat 25 juga menunjukkan teks saksi yang

mendukung NA 28 masih jauh lebih kuat jika dibanding dengan teks saksi untuk

varian yang lain. Demikian pula untuk ayat 26 dan 27. Versi NA 28 masih jauh

lebih kuat dibandingkan teks saksi yang berbeda. Dengan demikian, dapat

disimpulkan bahwa teks NA 28 sudah “sehat” untuk selanjutnya masuk dalam

tahap eksegesis.

15
Adi Putra, Misi Yesus Kepada Bangsa-Bangsa Lain: Kajian Biblika Terhadap Pelayanan
Yesus di Galilea brdasarkan Matius 4:12-17, (Jakarta: Penerbit Vieka Wahana Semesta, 2015),
hlm.106-109.

43
F. Analisis dan Sintaksis

Analisis. Matius 7:24-27 mengisahkan tentang perikop terakhir khotbah

Yesus di bukit yang dikisahkan dalam bentuk perumpamaan tentang respons para

pendengar akan perkataan Yesus selama khotbah-Nya di bukit.

Pada Matius 7:24 terdapat beberapa kata kerja dalam modus indikatif

dengan tense aoris yang secara langsung menunjuk kepada pendengar yang hadir

pada waktu itu, yakni: ἀκούει yang berarti dia mendengar. Kata ἀκούει adalah

bentuk indikatif present aktif dari kata ἀκούω. Dalam konteks Matius 7:24, kata

ini dipahami ‘Yesus meminta pendengarnya untuk mendengarkan dan mematuhi

kata-kata-Nya.’16

Kemudian kata ποιεῖ juga merupakan bentuk indikatif present aktif dari

kata ποιέω yang berarti dia melakukan. Pada konteks Matius 7:24 dipahami

‘perbuatan secara khusus ditekankan kapan pun mereka hanya berdiri tidak perlu

menentang dengan berbicara atau mendengar atau bertindak.’17

Sedangkan ὁμοιωθήσεται merupakan bentuk indikatif future pasif dari

kata ὁμοιόω, dan dalam konteks Matius 7:24 dipahami ‘Pasif dalam keunikan

perumpamaan Matius selalu ditemukan dalam kalimat pertama perumpamaan,

kadang-kadang dalam bentuk future (Mat. 7:24,26; 25:1) dan kadang-kadang

dalam bentuk aoris (13:24; 18:23; 22:2) yang biasanya dibandingkan dengan

Kerajaan Sorga, tetapi juga dua kali (Mat. 7:24,26) orang yang melakukan atau

tidak melakukan perkataan Yesus seperti bentuk pertama. Bentuk kedua ini tidak

16
Daniel B. Wallace, Greek Grammar Beyond the Basics: an exegetical syntax of the
New Testament (Authortracker: Zondervan, 1996), hlm. 133 footnote 167.
17
Balz-Schneider, Exegetical Dictionary the New Testament (EDNT), hlm. 4250.

44
menunjukkan keseteraan, melainkan perbandingan dengan peristiwa yang

disebutkan.’18

Selanjutnya masih ada sebuah kata kerja yang terletak di akhir dari Matius

7:24, yaitu ᾠκοδόμησεν. Kata ini juga merupakan bentuk indikatif aoris aktif dari

kata οἰκοδομέω. Dalam konteks Matius 7:24 dipahami ‘memulai suatu tindakan,

suatu proses yang menunjukkan apa yang mulai dilakukan atau dengan kata lain

untuk membangun sebuah gedung.’19

Dalam Matius 7:24 juga terdapat beberapa kata benda, yakni: Kata λόγους

adalah bentuk akusatif maskulin jamak dari kata λόγος yang berarti perkataan-

perkataan. Dalam konteks Matius 7:24 kata itu dipahami ‘Yesus mengekspresikan

apa yang dipikirkan-Nya melalui berkomunikasi atau berkata-kata.’20 Kemudian

kata ἀνδρὶ juga merupakan bentuk datif maskulin singular tunggal dari kata ἀνήρ.

Kata ἀνδρὶ dapat diartikan suami, orang, manusia, orang. Kata ἀνδρὶ dalam

konteks Matius 7:24 dipahami sebagai ‘kata ini umum untuk “manusia” dengan

kata sifat atau kata benda yang menunjukkan fungsi.’21 Selanjutnya kata οἰκίαν

adalah bentuk akusatif feminim tunggal dari kata οἰκία yang berarti rumah. Kata

benda πέτραν merupakan bentuk akusatif feminim tunggal dari kata πέτρα. Kata

πέτραν diartikan batu.

Adapun sebuah kata sifat yang ditemukan dalam Matius 7:24, yakni:

φρονίμῳ. Kata ini adalah bentuk datif maskulin tunggal dari kata φρόνιμος yang

18
EDNT., hlm. 3719.
19
Bauer-Danker, Greek English Lexicon of the New Testament And Other Early Christian
Literature (BDAG) Third Edition, hlm. 5218.
20
BDAG., hlm. 4605
21
Kittel-Bromiley, Theological Dictionary of the New Testament (TDNT), hlm. 71

45
dapat diartikan bijaksana. Dalam konteks Matius 7:24, kata φρονίμῳ dipahami

‘dengan penuh perhatian dalam memahami sebuah pernyataan.’22

Pada Matius 7:25 tampak beberapa kata kerja dalam modus indikatif

dengan tense aoris, yakni: κατέβη. Kata merupakan bentuk indikatif aoris aktif

dari kata καταβαίνω yang berarti turun. Kemudian kata ἦλθον juga merupakan

bentuk indikatif aoris aktif dari kata ἔρχομαι. Kata ἦλθον berarti datang.

Selanjutnya kata ἔπνευσαν adalah bentuk indikatif aoris aktif dari kata πνέω yang

berarti memukul. Dalam konteks Matius 7:25 dipahami ‘untuk bergerak seperti

angin dengan kecepatan yang relatif cepat, tiuplah.’23 Ada pun kata προσέπεσαν

yang merupakan bentuk indikatif aoris aktif dari kata προσπίπτω yang berarti

menghantam. Dalam konteks Matius 7:25, kata προσέπεσαν dipahami ‘yang

menghantam sebuah rumah dengan kekuatan yang besar atau hebat.’ 24 Juga kata

ἔπεσεν adalah bentuk indikatif aoris dari kata πίπτω yang diartikan jatuh. Kata

ἔπεσεν dalam konteks Matius 7:25 ‘digunakan untuk struktur dengan makna

runtuh, hancur berkeping-keping.’25 Kemudian kata τεθεμελίωτο yang merupakan

bentuk indikatif sempurna pasif orang ketiga jamak dari kata θεμελιόω yang

diartikan meletakan dasar, mendirikan, mengokohkan. Kata τεθεμελίωτο dalam

konteks ini dipahami ‘sebagai dasar untuk mendirikan atau meletakan fondasi

yang ditemukan atau dengan kata lain mendirikan bumi di atas air.’26

Dalam ayat Matius 7:25, terdapat beberapa kata benda, yakni: kata βροχὴ

yang adalah bentuk nominatif feminim tunggal secara umum dan dapat diartikan

22
BDAG., hlm. 7822
23
BDAG.,hlm. 6002.
24
BDAG., hlm. 6334.
25
EDNT., hlm. 4185.
26
BDAG., hlm. 3525.

46
hujan. Kemudian kata ποταμοὶ juga merupakan bentuk nominatif maskulin jamak

secara umum dari kata ποταμός yang berarti sungai. Kata ποταμοὶ dalam konteks

Matius 7:25 dipahami ‘luapan dari gunung yang muncul di jurang setelah hujan

lebat sehingga membawa semuanya mengikuti aliran air tersebut.’27 Selanjutnya

kata ἄνεμοι juga bentuk nominatif maskulin jamak secara umum dari kata ἄνεμος

yang berarti angin. Dalam konteks Matius 7:25, kata ἄνεμοι dipahami ‘angin

disebutkan sebagai kekuatan penghancur.’28

Pada Matius 7:26 ditemukan beberapa kata kerja, yaitu: kata ἀκούων yang

merupakan bentuk partisip waktu sekarang nominatif maskulin dari kata ἀκούω

yang berarti mendengar. Dalam konteks Matius 7:26, frasa ἀκούων dipahami

‘orang yang melihat dan mendengar perkataan-perkataan Yesus.’29 Berikutnya

adalah kata ποιῶν juga merupakan bentuk partisip waktu sekarang nominatif

maskulin dari kata ποιέω yang berarti melakukan. Dalam konteks ini dipahami

‘melakukan atau mematuhi kemauan atau hukum dengan patuh. Dengan kata lain,

wajib melakukan apa yang diperintahkan.’30

Dalam Matius 7:26 terdapat sebuah kata sifat, yakni: kata μωρῷ dari kata

μωρός yang berarti bodoh. Kata μωρῷ merupakan bentuk datif maskulin normal

tunggal tidak ada derajat. Dalam konteks Matius 7:26, kata μωρῷ dipahami

‘bodoh dalam perumpamaan Matius 7:24, 25. Perbedaan antara orang “orang

27
BDAG., hlm. 6103.
28
EDNT., hlm. 430.
29
Wallace, hlm. 275.
30
BDAG., hlm. 6015.

47
bijak” dan “orang bodoh” terletak pada penggunaannya dalam kehidupan sehari-

hari.’31

Adapun sebuah kata benda yang terdapat dalam konteks ini, yakni: kata

ἄμμον yang merupakan bentuk akusatif feminim tunggal umum dari kata ἄμμος

yang dapat diartikan pasir.

Pada Matius 7:27, terdapat sebuah kata benda, yakni: πτῶσις. Kata πτῶσις

adalah bentuk nominatif feminim tunggal secara umum yang berarti jatuh atau

runtuh. Dalam konteks ini, kata πτῶσις dipahami ‘jatuh atau runtuhnya sebuah

rumah.’32 Kemudian terdapat sebuah kata sifat, yaitu: kata μεγάλη yang

merupakan bentuk nominatif feminim singular umum tanpa derajat dari kata

μέγας yang berarti hebat atau besar atau agung. Kata μεγάλη dalam konteks ini

dipahami ‘kerusakannya berada di atas standar.’33

Sintaksis. Berdasarkan analisis di atas, maka terdapat beberapa hal

penting, yaitu (a) perkataan-perkataan-Ku; (b) orang yang mendengar dan

melakukan perkataan-Ku disebut orang bijaksana; (c) orang yang mendengar dan

tidak melakukan perkataan-Ku disebut orang bodoh. Ketiga hal di atas dijadikan

sebagai kesimpulan setelah melakukan analisis dan akan menjadi fokus utama

dalam pembahasan eksegesis pada bagian ini.

31
TDNT., hlm. 510.
32
BDAG., hlm. 6419.
33
BDAG., hlm. 4763.

48
Matius 7:24-25

34

Sumber: Randy Leedy. New Testament Greek Sentence Diagramming

Pada bagian pertama (ay. 24-25), berdasarkan analisis yang telah

dilakukan sebelumnya serta dengan memperhatikan diagram dari Leddy di atas,

maka tampak jelas bahwa kata kerja utama dalam bagian ini adalah kata

ὁμοιωθήσεται. Dalam kata ὁμοιωθήσεται bergantung dua kata datif, yakni: ἀνδρὶ

dan φρονίμῳ yang dapat menjelaskan kata kerja utama bahwa diibaratkan seperti

manusia yang bijaksana. Kemudian terdapat kata kerja pertisip dalam bentuk

indikatif aoris aktif yakni kata kerja ἀκούει dan ποιεῖ bergantung pada kehadiran

konjungsi ὅστις untuk menegaskan tujuan dari kata kerja utama yakni: kata

ὁμοιωθήσεται. Oleh karena itu, dalam konteks ini dapat dipahami bahwa

seseorang belum benar-benar “mendengar” (ἀκούει) sampai seseorang patuh.

Sedangkan “melakukan” (ποιεῖ) penekanannya adalah pada mempraktikkan ajaran

Yesus melalui gaya hidup yang berpusat pada kehendak Bapa. Disini kedua kata

34
BibleWorks–[c:/program files (x86)/BibleWorks9/init/bw9000.swc].

49
kerja tersebut hadir untuk menekankan sifat kepatuhan yang berkelanjutan; itu

seumur hidup, apa yang kita lakukan menentukan siapa kita.

Dalam ayat 25, terdapat sebuah kata kerja modus indikatif aoris aktif

orang ketiga tunggal di depan kata benda τῇ οἰκίᾳ yakni ᾠκοδόμησεν dari kata

οἰκοδομέω dan dapat diartikan membangun atau mendirikan. Dalam kata

ᾠκοδόμησεν tergantung sebuah kata benda yaitu batu. Akan tetapi kata kerja

ᾠκοδόμησεν sulit untuk digolongkan dalam kata kerja utama karena terdapat

konjungsi yang mendahuluinya yaitu ὅστις dan kata ini juga masih bergantung

pada kata ganti orang, yaitu: ἀνδρὶ. Kemudian terdapat beberapa kata kerja modus

indikatif aoris aktif orang ketiga tunggal, yakni: κατέβη; ἔπεσεν yang bergantung

pada konjungsi καὶ. Bahkan dalam ayat ini juga terdapat beberapa kata kerja

dalam bentuk modus indikatif aoris aktif orang ketiga jamak, yakni: ἦλθον;

ἔπνευσαν; προσέπεσαν. Dengan demikian, dalam konteks ini dapat dipahami

bahwa manusia yang membangun rumah di atas batu ketika hujan turun maupun

banjir dan angin datang dan melanda rumah itu tetapi tidak akan roboh.

50
Matius 7:26-27

35

Sumber: Randy Leedy. New Testament Greek Sentence Diagramming

Pada bagian kedua (ay. 26-27), berdasarkan analisis yang telah dilakukan

sebelumnya serta dengan memperhatikan diagram dari Leddy di atas, maka

tampak jelas bahwa kata kerja utama dalam bagian ini adalah kata ὁμοιωθήσεται.

Dalam kata ὁμοιωθήσεται bergantung dua kata datif, yakni: ἀνδρὶ dan φρονίμῳ

yang dapat menjelaskan kata kerja utama bahwa diibaratkan seperti manusia yang

bijaksana. Kemudian terdapat kata kerja pertisip dalam bentuk indikatif aoris aktif

yakni kata kerja ἀκούων dan ποιῶν bergantung pada kata sandang ὁ dari klausa

πᾶς untuk menegaskan tujuan dari kata kerja utama yakni: kata ὁμοιωθήσεται.

Oleh karena itu, dalam konteks ini dapat dipahami sebagai seseorang belum

benar-benar “mendengar” (ἀκούων) sampai seseorang patuh. Sedangkan

“melakukan” (ποιῶν) penekanannya adalah pada mempraktikkan ajaran Yesus

melalui gaya hidup yang berpusat pada kehendak Bapa.

35
BibleWorks–[c:/program files (x86)/BibleWorks9/init/bw9000.swc].

51
Akan tetapi dalam ayat 26 Terdapat sebuah partikel yang bergantung pada

kata kerja ἀκούων dan ποιῶν dari kata sandang ὁ, yakni: μὴ yang berarti tidak.

Disini kedua kata kerja tersebut dan partikel μὴ hadir untuk menekankan sifat

ketidak patuhan yang berkelanjutan; itu seumur hidup, apa yang kita lakukan

menentukan siapa kita.

G. Sistematika Eksegesis

Setelah melakukan analisis dan sintaksis dari diagram Matius 7:24-27,

maka penulis memperoleh struktur eksegesis yang akan dijadikan pola eksegesis

dalam bagian selanjutnya. Adapun struktur eksegesis Matius 7:24-27 adalah

sebagai berikut:

1. Makna “Perkataan-Ku”

2. Orang yang mendengar dan melakukan “Perkataan-Ku” disebut orang

bijaksana (ay. 24-25).

3. Orang yang mendengar dan tidak melakukan “Perkataan-Ku” disebut

orang bodoh (ay. 26-27).

H. Eksegesis

Didasarkan pada struktur eksegesis yang tertera di atas, maka terdapat tiga

bagian yang menjadi fokus utama eksegesis Matius 7:24-27, yaitu:

52
1. Makna “perkataan-Ku” ini

Perkataan-perkataan (λόγους). Kata λόγους merupakan kata benda bentuk

umum akusatif maskulin jamak dari kata λόγος dan dapat diartikan perkataan-

perkataan. Kata ini dipakai dalam LXX (septuaginta) untuk menerjemahkan ‫ דָּ בָּ ר‬.

Dalam bahasa Yunani pada dasarnya λόγος berarti kata, tetapi kemudian

berkembang dengan berbagai arti, yakni: dalam tata bahasa λόγος mengartikan

kalimat yang lengkap; dalam logika mengartikan suatu pernyataan yang

berdasarkan kenyataan; sedangkan dalam retorika mengartikan pidato yang

tersusun tepat.36 Dengan demikian dapat dipahami bahwa kata λόγος telah

memiliki arti dari berbagai sudut pandang, akan tetapi yang jelas bahwa λόγος

berarti logika atau pikiran, sebab memang kata-kata yang terucap adalah buah dari

pikiran itu.

Dalam konteks Matius 7:24-27 dipahami bahwa perkataan-perkataan ini

adalah perkataan-perkataan Yesus atau perkataan-perkataan yang diungkapkan

oleh Yesus pada Matius pasal 5-7, sehingga kata λόγους dipahami dalam arti

perkataan, seperti yang diucapkan dengan suara, percakapan, pembicaraan.37 Di

mana Yesus berkata-kata dengan bersuara.

Perkataan-perkataan (λόγους) ini mengacu kepada khotbah Yesus di bukit

(Mat. 5-7). Di mana dalam pasal 5:1-2 merupakan pendahuluan yang secara

gamblang dijelaskan oleh Matius bahwa banyak orang mengikuti Yesus pada pada

tahap pelayanan ini. Di sini Matius mengisahkan peristiwa ketika Yesus naik ke

atas bukit dan mengajar orang banyak di tempat terbuka.

36
EDNT., hlm. 3175.
37
The Complete Word Study Dictionary New Testament (SDNT), hlm. 153-157.

53
Ucapan bahagia (5:3-12); perumpamaan garam dunia dan terang dunia dan

perumpamaan pelita dan ukuran (5:13-16), pengikut Kristus harus menjadi garam

yang memberi rasa dan terang yang menyinari dunia; Yesus memenuhi hukum

Taurat (5:17-20); pembunuhan dimulai dari dalam hati (5:21-26); perzinahan

dalam hati (5:27-30); pernikahan itu sakral dan mengikat (5:31-32); Yesus

melarang sumpah (5:33-37); berjalan sejauh dua mil (5:38-42); mengasihi musuh

(5:43-48); berbuat baik untuk menyenangkan Tuhan (6:1-4); hal berdoa (6:5-15);

puasa hanya bisa dilihat dan diketahui oleh Tuhan (6:16-18); menyimpan harta di

surga (6:19-21); pelita tubuh (6:22-23); kamu tidak bisa melayani Tuhan dengan

kekayaan (6:24); jangan kuatir (6:25-34); jangan menghakimi (7:1-6); terus

bertanya, mencari, mengetuk (7:7-12); jalan yang sempit (7:13-14); kamu akan

mengenal mereka dari pohonnya (7:15-20); Aku tidak mengenal kamu (7:21-23);

membangun di atas batu (7:24-27); penutup (7:28-29). Di akhir dari khotbah

Yesus di bukit, banyak orang terkesan tidak hanya dengan apa yang Yesus

ajarkan, tetapi juga dengan cara Ia mengajar. Pengajaran-Nya berbeda dengan dari

semua yang bisa mereka dengarkan sehingga mereka takjub akan hal tersebut.

Yesus menekankan dengan tegas bahwa perkataan-perkataan-Nya tidak

bisa diabaikan, karena merupakan perkataan-perkataan-Nya adalah kebenaran

yang merupakan pola untuk setiap orang berjalan seturut dengan pola tersebut.

Osborne mengatakan, “Yesus mengakhiri khotbah-Nya dengan memperjelas

bahwa kebenaran yang diajarkan di dalamnya bukan hanya untuk didengar tetapi

harus diperhatikan.38 Artinya, perkataan-perkataan Yesus merupakan kebenaran

38
Grant R. Osborne, Exegetical Commentary on the Net Testament, (Michigan:
Zondervan, 2010), hlm. 276.

54
yang tidak bisa dihindari melainkan harus diperhatikan dengan penuh perhatian

agar tidak menyimpang dari kebenaran tersebut. Yesus berkata, jikalau kamu

mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Dengan demikian,

perintah; ajaran; perkataan Yesus memang dipastikan bahwa kebenaran yang

membuat setiap orang menggunakan hak pilihan untuk hanya patuh, artinya

memilih untuk melakukan yang benar [dan membiarkan] konsekuensinya

mengikuti.

Telah dicantumkan dalam Bab II Mengenai pengajaran Yesus tentang

pemuridan (5-7) dipahami bahwa Yesus ingin memberikan prinsip-prinsip

tuntutan yang begitu ketat dengan pengajaran-Nya yang menghasilkan perubahan-

perubahan, baik perubahan rohani maupun moral bagi murid-murid-Nya. Dalam

hal ini, terlihat dengan jelas dalam Matius 7:24-27 bahwa Yesus sangat

menegaskan untuk setiap perkataan-perkataan-Nya didengar dan dilakukan bukan

diabaikan.

2. Orang yang mendengar dan melakukan “Perkataan-Ku” disebut

orang bijaksana

Mendengar (ἀκούει). Dalam konteks ini dipahami bahwa yang mendengar

adalah ditujukkan kepada setiap orang hadir pada saat Yesus berkhotbah atau

mengajar di bukit (ps. 5-7). Sama seperti sudah dijelaskan dalam analisis kata

kerja dan sintaksis, bahwa kata ἀκούει merupakan bentuk indikatif yang memiliki

fungsi untuk menjelaskan kata kerja utama dalam konteks ini (ay. 24-25) –

berfungsi sebagai anak kalimat.

55
Kata ἀκούει atau ἀκούω dapat dipahami dalam arti untuk mendengarkan

pesan-Nya, baik dalam arti pesan suara yang sederhana (Luk. 6:48 par. Mat.

7:24,26): mendengar dan kemudian melakukan atau tidak melakukan.39 Sehingga

mengenai arti atau makna dari kata ἀκούει atau ἀκούω untuk konteks Matius

7:24-25 lebih cocok dipahami bahwa para pendengar telah menerima berita atau

informasi yang disampaikan oleh Yesus atau belajar tentang apa yang telah

diungkapkan oleh Yesus. Dalam mendengar, terutama dalam kata-kata Yesus

yang ditujukan kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan-Nya

atau pesan-Nya memiliki opsi untuk melakukan atau tidak melakukan.

Pada konteks penggunaannya, kata ἀκούει atau ἀκούω merupakan

tindakan yang melibatkan setiap organ tubuh dan pengetahuan. Dalam arti dengan

melihat, mendengar, penelitian atau pengalaman terhadap setiap kenyataan yang

terjadi di sekitarnya. Sehingga melalui proses di atas, maka akan memberikan

sebuah pengetahuan yang valid supaya dialami oleh pendengar yang mendengar

perkataan-perkataan Yesus.40 Jadi apa yang didengar dan diketahui oleh

pendengar dalam Matius 7:24, diperoleh setelah mendengar ajaran-ajaran atau

perkataan-perkataan yang diungkapkan dari Yesus secara langsung.

Perjanjian Lama memberikan banyak contoh perihal tindakan mendengar

tidak dipisahkan dari tindakan belajar. Salah satu contohnya dalam Ulangan 6:4;

11:13. Pembacaan shema Israel merupakan sesuatu yang penting bagi

pendengaran, karena pesan atau isinya apabila didengarkan dengan sungguh-

39
EDNT., hlm. 193.
40
TDNT., hlm. 120.

56
sungguh akan menjadi sebuah pelajaran yang berharga guna dilakukan dalam

kehidupan sebagai umat Allah.

Dalam Perjanjian Baru juga seringkali dijumpai contoh-contoh di mana

mendengar selalu menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan dari belajar. Seperti

dalam Markus 4:24; Matius 11:4; Lukas 2:20; Kisah Para Rasul 2:33; 1 Yohanes

1:1. Mengapa demikian? Oleh karena segala sesuatu yang didengarkan oleh

telinga apabila direnungkan maka dapat menjadi pelajaran yang berharga untuk

kehidupan sabagai umat Allah.

Makna yang sama juga terkandung kata ἀκούει atau ἀκούω pada Matius

7:24. Di mana pendengar tidak sekadar mendengar perkataan-perkataan Yesus

hanyalah sebagai informasi atau berita, akan tetapi Yesus menegaskan kepada

pendengar-Nya supaya apa yang telah didengar harus dapat dilakukan. Berita atau

informasi apa yang disampaikan oleh Yesus kepada pendengar-Nya? Sehingga

dari berita tersebut mereka dapat belajar bahwa yang mereka dengar adalah

perkataan-perkataan yang wajib dilakukan.

Melakukan (ποιεῖ) merupakan bentuk indikatif present aktif dari kata

ποιέω. Kata ποιεῖ atau ποιέω dapat dipahami dalam arti untuk melaksanakan

kewajiban yang bersifat moral atau sosial, lakukan, pertahankan, laksanakan,

mempraktikkan.41 Dimana Yesus menekankan untuk mempraktikan pengajaran-

Nya dengan cara melakukannya.

Kata ποιεῖ atau ποιέω hadir untuk menekankan sifat kepatuhan yang tidak

hanya sekadar sifat melainkan sifat kepatuhan yang berkelanjutan dan dijadikan

41
BDAG., hlm. 6015.

57
sebagai gaya hidup dengan memusatkannya pada perkataan-perkataan-Nya.42

Ditambahkan oleh Matthew Henry demikian, “… Sangatlah penting bagi kita

untuk melakukan apa yang kita dengar dari Kristus. Belumlah cukup untuk

sekadar mendengar perkataan Kristus dan memahami, mengingat, membicarakan,

mengulang, dan memperdebatkannya. Kita harus mendengar dan

melakukannya.”43 Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup. Hanya mereka

yang mendengarkan Firman Allah dan memeliharanya sajalah yang disebut

berbahagia (Luk. 11:28; Yoh. 13:17), dan disebut saudara Kristus (Mat. 12:50).

Jadi apa yang diungkapkan oleh Yesus dan didengar bahkan diketahui oleh

pendengar dalam Matius 7:24, maka ajaran-ajaran atau perkataan-perkataan yang

diungkapkan dari Yesus secara langsung diingatkan Yesus bahwa harus

dilakukan.

Perkataan-perkataan (λόγους) adalah bentuk akusatif maskulin jamak dari

kata λόγος. Seperti yang telah dijelaskan pada eksegesis bagian pertama bahwa

konteks Matius 7:24, lebih cocok dipahami dalam pengertian di mana Yesus

mengekspresikan apa yang ada dipikiran-Nya dengan cara mengkomunikasikan

melalui kata-kata dan disampaikan dengan ketegasan karena perkataan-perkataan-

Nya penuh dengan makna.

Bijaksana (φρονίμῳ). Kata φρονίμῳ merupakan kata sifat yang bergantung

pada kata kerja utama dengan tujuan untuk menegaskan kata kerja utama

ὁμοιωθήσεται. Kata φρονίμῳ dipahami dalam mematuhi ajaran-ajaran atau

perkataan-perkataan Yesus akan disebut bijaksana (φρονίμῳ). Artinya, istilah

42
Osborne, hlm. 275.
43
Matthew Henry, Injil Matius 1-14, (Surabaya: Momentum, 2014), hlm. 324-325.

58
φρονίμῳ ditemukan tujuh kali dalam Injil Matius yang memberikan penekanan

akan kebijaksanaan seseorang dalam memahami situasi dan melakukan apa yang

diperintahkan oleh Yesus.

Dalam konteks Matius 7:24, kata φρονίμῳ memberikan pemahaman,

setiap orang yang bijaksana yaitu mendengar dengan serius perkataan-perkataan

Yesus haruslah mengatur hidupnya sesuai dengan apa yang didengarnya. Jika

hanya mendengar dan tidak melakukan akan mengalami keruntuhan yang hebat

karena tidak menyediakan waktu untuk menggali dan meletakaan fondasi, rumah

itu selesai dalam waktu yang singkat dan untuk sementara rumah itu tidak dapat

memenuhi kebutuhannya. Tetapi pada waktu kesukaran dan badai menyerang

maka akan terjadi kerusakan yang sangat hebat karena tidak memiliki fondasi

yang kuat.

Pada bagian Matius 7:24-25, Yesus memberi peringatan kepada

pendengar-Nya agar menjadi orang bijaksana yaitu mendengar dan melakukan

perkataan-perkataan-Nya. Sehingga dapat menjadi orang yang bijaksana yang

membangun rumah di atas batu dan ketika dilanda badai maka rumah itu akan

tetap kokoh berdiri karena dibangun di atas dasar yang kuat. Artinya, orang

bijaksana membangun imannya di atas perkataan-perkataan Yesus akan dapat

bertahan menghadapi badai kehidupan. Orang tersebut akan tetap aman, bisa

mengatasinya, dan menang. Henry mengatakan bahwa, “… Bijaksana, ia

mendirikan rumahnya di atas batu, dan rumahnya tetap berdiri meskipun angin

badai menerpanya.”44 Di bagian pengajaran Yesus tentang berbahagialah (5:1-12),

44
Henry, Injil Matius 1-14, hlm. 326.

59
Yesus memanggil orang miskin, orang yang lemah, orang yang tertindas disebut

sebagai orang yang berbahagia. Di dalam perumpamaan ini, orang yang

membangun rumahnya di atas batu menunjukkan ketekunan di dalam melakukan

segala sesuatu. Mereka mendengarkan perkataan-perkataan Yesus dan

melakukannya. Karena itu, mereka tidak pernah runtuh. Mereka percaya kepada

perkataan-perkataan Yesus dan menaati perkataan-perkataan tersebut.

3. Orang yang mendengar dan tidak melakukan “Perkataan-Ku”

disebut orang bodoh

Mendengar (ἀκούων). Mendengar di sini tentunya bukan hanya sekadar

mendengar saja sebagaimana orang mendengar begitu banyak suara disekitarnya,

tetapi “mendengar” di sini, apalagi mendengarkan Firman Tuhan, berarti

mendengar dengan penuh perhatian sampai seseorang dapat mengerti, menerima

dan mempercayai-Nya. Sebagaimana Paulus mengatakan: “Jadi, iman timbul dari

pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rm. 10:17).

Kata ἀκούων atau ἀκούω memiliki pemahaman yang sama dengan ἀκούει

(ay. 24). Akan tetapi yang membedakan adalah ἀκούει bermodus indikatif

sedangkan ἀκούων bermodus partisip. Dalam konteks Matius 7:26, kata ἀκούει

atau ἀκούω dipahami bahwa para pendengar telah menerima berita atau informasi

yang disampaikan oleh Yesus atau belajar tentang apa yang telah diungkapkan

oleh Yesus. Dalam mendengar, terutama dalam kata-kata Yesus yang ditujukan

kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan-Nya atau pesan-Nya

memiliki opsi untuk melakukan atau tidak melakukan.

60
Frasa tidak melakukan (μὴ ποιῶν). Frasa μὴ ποιῶν menekankan hal negatif

dalam merespons perkataan-perkataan Yesus yang terjadi sebaliknya dari ayat 24

(melakukan). Dalam konteks Matius 7:26, frasa μὴ ποιῶν hadir untuk

menekankan sifat ketidakpatuhan yang tidak hanya sekadar sifat melainkan sifat

kepatuhan yang berkelanjutan dan dijadikan sebagai gaya hidup dengan tidak

memusatkannya pada perkataan-perkataan Yesus. Jadi apa yang diungkapkan oleh

Yesus dan didengar bahkan diketahui oleh pendengar tetapi hal tersebut tidak

dilakukan. Hal ini dijelaskan oleh Henry,

“Orang-orang yang mendengar perkataan-perkataan Kristus dan tidak melakukannya,


mereka tidak dapat dan tidak peduli untuk melakukan kewajiban baik apapun. Mereka
mendengar perkataan Allah, seakan-akan ingin mengenal segala jalan-Nya, bagaikan
orang yang melakukan yang benar, tetapi tidak melakukannya (Yeh. 33:30-31; Yes.
58:2). Demikianlah mereka menipu diri sendiri.”45

Seperti yang dikatakan oleh Yakobus, mereka mengamati wajah mereka di cermin

firman Tuhan, tetapi melupakannya (Yak. 1:22,24). Demikianlah mereka menipu

jiwa mereka sendiri, sebab sudah pasti bahwa bila tidak menjadikan pendengaran

itu sebagai sarana untuk menjadi taat, maka akan bertambah parahlah

ketidaktaatan itu. Orang-orang yang hanya mendengar perkataan Kristus tetapi

tidak melakukannya, diam di tengah perjalanan surga, dan ini tidak akan pernah

membawa mereka ke akhir perjalanan mereka. Mereka hanya menjadi warisan

saudara tiri Kristus, dan karena itu, menurut hukum pun, orang-orang semacam ini

tidak bisa menerima warisan.

Bodoh (μωρῷ). Kata μωρῷ adalah bentuk bentuk datif maskulin normal

tunggal tidak ada derajat dari kata μωρός. Dalam konteks Matius 7:26, kata μωρῷ

dipahami ‘bodoh’ dalam perumpamaan Matius 7:24, 25. Perbedaan antara orang

45
Henry, Injil Matius 1-14, hlm. 325.

61
“orang bijak” dan “orang bodoh” terletak pada penggunaannya dalam kehidupan

sehari-hari yakni mendengar dan melakukan perkataan-perkataan Yesus serta

mendengar dan tidak melakukan perkataan-perkataan Yesus.

Dalam konteks Matius 7:26, kata bodoh (μωρῷ) mengacu pada lawannya

yaitu bijaksana [φρονίμῳ] pada ayat 24.46 Bodoh (μωρῷ) dapat dipahami bahwa

mendengar perkataan-perkataan Yesus namun tidak melakukannya sehingga

diibaratkan seperti orang yang membangun rumahnya di atas pasir. Ketika ada

hujan, angin dan banjir maka rumah tersebut akan segera roboh dan hebatlah

kerusakannya seperti yang telah dibahas dalam analisis dan sintaksis. Morris

mengatakan, “Orang ini dilukiskan sebagai pendengar ajaran Yesus yang

tampaknya menikmati ajaran itu, tetapi tidak mempraktikkan apa yang ia dengar.

Orang ini bodoh (lih. 5:22); ia adalah orang bodoh yang bertindak bodoh: ia

membangun di atas pasir.”47 Dari penjelasan di atas, dipahami bahwa bodoh

(μωρῷ) adalah tidak melakukan sesuatu yang telah diketahui yaitu perkataan-

perkataan Yesus yang telah disampaikan-Nya. Dengan demikian pengharapan

yang dibangun orang bodoh di atas dasar selain Kristus pasti akan roboh diterjang

badai. Rumah yang dibangun itu akan roboh dilanda badai pada saat orang yang

membangunnya sangat membutuhkan dan berharap untuk bisa berteduh di

dalamnya.

Kata bodoh (μωρῷ) juga dapat dipahami dalam konteks Matius 7:26-27

bahwa, orang-orang yang sekadar mendengarkan perkataan Kristus tetapi tidak

hidup menurut perkataan-perkataan-Nya itu, hanyalah menyiapkan diri untuk

46
BDAG, hlm. 5025.
47
Morris, Injil Matius, hlm. 190.

62
mengalami kekecewaan berat. Morris menjelaskan bahwa, “Barangsiapa yang

mendengar tetapi tidak melakukannya (yang mengetahui kewajibannya tetapi

tidak hidup dengan mengabaikannya), adalah seperti orang yang mendirikan

rumah di atas tanah tanpa dasar. Ia menghibur diri dengan pengharapan tanpa

dasar.”48

Artinya bahwa pengharapan itu akan terbukti sia-sia justru pada saat ia

sangat membutuhkan penghiburan, saat ia mengharapkan untuk memperoleh

mahkota pengharapan itu. Ketika banjir melanda rumahnya, robohlah rumah itu.

Pasir tempat rumah itu dibangun tersapu habis, dan runtuhlah rumah itu.

Demikianlah harapan orang durhaka, ketika Allah menghabisinya dan menuntut

nyawanya. Hidupnya seperti sarang laba-laba yang menggelantung.

I. Kesimpulan

Setelah melakukan eksegesis terhadap teks Matius 7:24-27, maka

diperoleh beberapa kesimpulan untuk menjawab beberapa pokok masalah pada

Bab I untuk memahami signifikansi makna ungkapan “Perkataan-Ku”.

Pertama, berdasarkan teks Matius 7:24-27 maka makna perkataan-Ku ini

adalah di mana Yesus mengekspresikan apa yang ada dipikiran-Nya dengan cara

mengkomunikasikan melalui kata-kata dan disampaikan dengan ketegasan karena

perkataan-perkataan-Nya penuh dengan makna. Hal ini tampak jelas setelah

mengeksegesis kata “perkataan-perkataan (λόγους)” dalam ayat 24 yang mengacu

kepada khotbah-Nya di bukit (Mat. 5-7).

48
Morris, Injil Matius, hlm. 239-240.

63
Kedua, berdasarkan teks Matius 7:24-25 maka diperoleh minimal ada dua

tindakan yang ditujukan kepada setiap orang yang mendengar perkataan-

perkataan Yesus. Pertama, mendengar perkataan-perkataan yang diungkapkan

oleh Yesus yaitu dengan penuh perhatian mendengar apa yang disampaikan oleh

Yesus. Kedua, melakukan perkataan-perkataan Yesus yang telah didengar dan

tidak hanya sebatas didengar. Sehingga dengan demikian, mereka yang

mendengar perkataan-perkataan Yesus dan melakukannya akan disebut dengan

orang bijaksana yang memahami situasi dan mengaplikasikan yang telah didengar

dari Yesus.

Ketiga, sebaliknya dari bagian kedua bahwa orang yang hanya mendengar

dan tidak melakukan perkataan Yesus akan disebut orang bodoh. Di mana telah

mendengar dan memahami perkataan-perkataan Yesus, tetapi sengaja untuk tidak

melakukannya. Maka akibat dari ketidaktaatan akan perkaataan-perkataan Yesus

akan menjadi sesuatu yang fatal ketika menghadapi badai. Matius 7:27

menjelaskan bahwa orang bodoh membangun rumah di atas pasir (fondasi yang

tidak kuat) sehingga hebatlah kerusakannya ketika diterjang badai.

64