Anda di halaman 1dari 35

SASARAN LAYANAN KESEHATAN TERHADAP REHABILITASI DAN

REKONSTRUKSI DALAM BENCANA GEMPA BUMI

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas


mata kuliah Keperawatan Bencana

Dosen Pengampu: Ronny Basirun Simatupang, S.Kep.Ns.M.Si (Han)

Disusun Oleh:

Ummi Nurahmah 1710711111 Farras Jihan Alifah 1710711119

Siti Nurazizah Puspa 1710711112 Siti Alifah Nadia P. 1710711120

Nurhidayah P. 1710711113 Endang Setia Asih 1710711121

Esther Novita A. 1710711115 Nir Ashmah 1710711122

Indah Cahyasari 1710711116 Nabilah Tiani R. 1710711123

Salbila Safa Alivia 1710711118 Jyhan Aprilia A. 1710711124

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA

2020

1
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Salawat serta salam juga tak lupa kami haturkan kepada Nabi dan Rasul, Muhammad SAW.

Makalah yang berjudul Sasaran Layanan Kesehatan Terhadap Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Dalam Bencana Gempa Bumi ini ditulis untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Keperawatan Bencana yang diampu oleh Bapak Ns. Ronny Basirun, S. Kep., M. Si. (Han.).
Kami berharap makalah ini dapat menjadi referensi bagi para pembaca yang mencari
informasi tentang pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pelayanan kesehatan pada
bencana gempa bumi.

Pada kesempatan ini, izinkanlah kami menyampaikan rasa hormat dan ucapan terimakasih
kepada semua pihak yang dengan tulus ikhlas telah memberikan bantuan dan dorongan kepada
kami sehingga kami dapat menyelesaikan paper ini dengan sebaik-baiknya. Meski demikian,
kami menyadari masih banyak kekurangan dan kekeliruan dalam penulisan makalah ini, baik
dari segi tanda baca, tata bahasa, maupun isi sehingga kami menerima secara terbuka segala
kritik dan saran positif dari pembaca.

Jakarta, 15 Oktober 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGATAR......................................................................................................2

DAFTAR ISI .................................................................................................................3

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1..................................................................................................... Latar Belakang 4


1.2.................................................................................................Rumusan Masalah 5
1.3..............................................................................................Tujuan Pembahasan 5
1.4..................................................................................................Manfaat Makalah 5

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1.......................................................Kebijakan, Strategi dan Sasaran Rehabilitasi 6


2.2.....................................................Kebijakan, Strategi dan Sasaran Rekonstruksi 11
2.3...................................................Prosedur Umum Rekonstruksi dan Rehabilitasi 14
2.4..................................Pengkajian Kebutuhan Pemulihan Wilayah PascaBencana 16
2.5......................................................................Masalah Kesehatan Pasca Bencana 21
2.6.........Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan pada Rehabilitasi & Rekonstruksi 23

BAB 3 PENUTUP
3.1...............................................................................................................Simpulan 34
3.2.....................................................................................................................Saran 34
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………….35

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bencana yang diikuti dengan pengungsian menimbulkan masalah kesehatan yang
sebenarnya diawali oleh masalah bidang/sektor lain. Timbulnya masalah kesehatan itu
berawal dari kurangnya air bersih yang berakibat pada buruknya kebersihan diri,
buruknya sanitasi lingkungan yang merupakan awal dari perkembangbiakan beberapa
jenis penyakit menular dll. Persediaan pangan yang tidak mencukupi juga merupakan
awal dari proses terjadinya penurunan derajat kesehatan dan dalam jangka panjang akan
mempengaruhi secara langsung tingkat pemenuhan kebutuhan gizi seseorang. Dalam
pengungsian tempat tinggal (shelter) yang ada sering tidak memenuhi syarat kesehatan
yang mana secara langsung maupun tidak langsung akan menurunkan daya tahan tubuh
dan bila tidak segera ditanggulangi akan menimbulkan masalah di bidang kesehatan.
Penanggulangan masalah kesehatan merupakan kegiatan yang harus segera
diberikan baik saat terjadi dan pasca bencana disertai pengungsian. Untuk itu di dalam
penanggulangan masalah kesehatan pada bencana dan pengungsian harus mempunyai
suatu pemahaman permasalahan dan penyelesaian secara menyeluruh. Cara berfikir dan
bertindak tidak bisa lagi secara sektoral, harus terkoordinir secaara baik dengan lintas
sektor dan lintas program. Standar minimal dalam penanggulangan masalah kesehatan
akibat bencana dan penganan pengungsi ini merupakan standar yang dipakai di Dunia
internasional. Dalam penggulangan masalah kesehatan akibat bencana dan penanganan
pengungsi di Indonesia diharapkan juga memakai standar ini dengan memperhatikan hak
Asasi Manusia (HAM) yaitu hak hidup, hak mendapatkan pertolongan/bantuan dan hak
asasi lainnya. Dalam penerapan pemakaiannya, daerah yang menggunakan standar
minimal ini diberi keleluasaan untuk melakukan penyesuaian beberapa poin yang
diperlukan sesuai kondisi keadaan di lapangan.
Standar minimal ini dibuat dengan dasar pemikiran bahwa apabila tidak
terpenuhinya batas minimal kebutuhan hidup masyarakat korban bencana atau pengungsi,
langsung maupun tidak langsung akan berakibat timbulnya masalah kedaruratan
kesehatan. Dalam penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana dan penganan
pengungsi diperlukan standar–standar yang dapat dipakai sebagai pegangan atau patokan

4
ukuran untuk merencanakan, memberi bantuan dan untuk mengevaluasi. Standar minimal
ini dibuat untuk pegangan dalam setiap kegiatan penanggulangan bencana dan
penanganan pengungsi baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh LSM serta
swasta lainnya.

1.2. Rumusan Masalah

i. Apa yang dimaksud dari kebijakan rehabilitasi?


ii. Apa yang dimaksud dari kebijakan rekontruksi?
iii. Bagaimana prinsip kebijakan rehabilitasi menurut BNPB?
iv. Apa saja bentuk strategi rehabilitasi menurut BNPB?
v. Siapa saja sasaran kegiatan rehabilitasi menurut BNPB?
vi. Bagaimana prosedur umum dalam kegiatan rehabilitasi menurut BNPB?
vii. Apa saja ruang lingkup pelaksanaan rehabilitasi pascabencana?

1.3. Tujuan Pembahasan

i. Untuk mengetahui penjelasan tentang kebijakan rehabilitasi


ii. Untuk mengetahui penjelasan tentang kebijakan rekonstruksi
iii. Untuk mengetahui prinsip kebijakan rehabilitasi sesuai dengan BNPB
iv. Untuk mengetahui bentuk strategi rehabilitasi menurut BNPB
v. Untuk mengetahui siapa saja sasaran dalam kegiatan rehabilitasi menurut BNPB
vi. Untuk mengetahui proses prosedur umum dalam kegiatan rehabilitasi menurut
BNPB
vii. Untuk mengetahui seperti apa ruang lingkup pelaksanaan rehabilitasi pascabencana

1.4. Manfaat Makalah


Setelah membaca makalah ini diharapkan para pembaca dapat mengetahui bentuk
rehabilitasi dan rekonstruksi dalam pelayanan kesehatan pada bencana gempa bumi di
Indonesia.

5
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1. Kebijakan, Strategi Dan Sasaran Rehabilitasi Pasca Bencana Gempa Bumi
2.1.1. Prinsip Kebijakan Rehabilitasi
Menurut Peraturan Kepala BNPB No. 11 Tahun 2008, penentuan kebijakan
rehabilitasi didasarkan pada prinsip dasar sebagai berikut :
1. Menempatkan masyarakat tidak saja sebagai korban bencana, namun juga
sebagai pelaku aktif dalam kegiatan rehabilitasi
2. Kegiatan rehabilitasi merupakan rangkaian kegiatan yang terkait dan terintegrasi
dengan kegiatan prabencana, tanggap darurat dan pemulihan dini serta kegiatan
rekonstruksi.
3. “Early recovery” dilakukan oleh “Rapid Assessment Team” segera setelah terjadi
bencana.
4. Program Rehabilitasi dimulai segera setelah masa tanggap darurat (sesuai dengan
Perpres tentang Penetapan Status dan Tingkatan Bencana) dan diakhiri setelah
tujuan utama rehabilitasi tercapai.

Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah telah merespons dengan penetapan


langkah-langkah rehabilitisai dan rekonstruksi dalam bencana gempa bumi di
wilayah Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah provinsi Aceh pada
tanggal 2 Juli 2013 sebagai berikut :

1. Komitmen Pemerintah untuk segera melaksanakan pemulihan pascabencana


terhadap seluruh sektor terdampak bencana (kegiatan rehabilitasi dan
rekonstruksi)
2. Melaksanakan penilaian kerusakan dan kerugian akibat bencana dan kajian
kebutuhan pemulihan kemanusiaan yang dilanjutkan dengan pengkajian
kebutuhan pemulihan kehidupan masyarakat maupun wilayah yang terdampak
bencana.

6
3. Penyusunan rencana aksi rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah pascabencana
gempa bumi melibatkan seluruh Kementerian/Lembaga di Pusat maupun Daerah
sesuai dengan sektor terdampak yang dikoordinasikan oleh BNPB dan BPBD.
4. Pemulihan dilakukan secara komprehensif meliputi semua sektor terdampak
yaitu perumahan dan prasarana permukiman, infrastruktur, Sosial, Ekonomi
Produktif dan Lintas Sektor.
5. Sumber pendanaan rehabilitasi dan rekonstruksi berasal dari dana APBN
(Pemerintah), APBD (Pemerintah Daerah), hibah dari donor dan masyarakat
serta sumber lain yang sah.

2.1.2. Kebijakan Rehabilitasi


Kebijakan penyelenggaraan rehabilitasi pada Peraturan Kepala BNPB No. 11 Tahun
2008 ditentukan sebagai berikut :

1. Kegiatan rehabilitasi merupakan tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah


Daerah yang terkena bencana.
2. Kegiatan rehabilitasi dilaksanakan oleh Satuan Kerja Pemerintah Daerah dan
instansi atau lembaga terkait yang dikoordinasikan oleh Kepala BPBD.
3. Dalam melaksanakan kegiatan rehabilitasi, Pemerintah Kabupaten/Kota wajib
menggunakan dana penanggulangan bencana dari APBD Kabupaten/Kota.
4. Dalam hal APBD Kabupaten/Kota tidak memadai, Pemerintah Kabupaten/Kota
dapat meminta bantuan dana kepada Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah.
5. Dalam hal Pemerintah Kabupaten/Kota meminta bantuan kepada Pemerintah,
permintaan tersebut harus melalui Pemerintah Provinsi yang bersangkutan.
6. Selain permintaan dana, Pemerintah Kabupaten/Kota dapat meminta bantuan
tenaga ahli, peralatan dan/atau pembangunan prasarana kepada Pemerintah
Provinsi dan/atau Pemerintah.
7. Terhadap usul permintaan bantuan dari Pemerintah Daerah dilakukan verifikasi
oleh tim antar departemen/lembaga Pemerintah Nondepartemen yang
dikoordinasikan oleh Kepala BNPB.
8. Verifikasi menentukan besaran bantuan yang akan diberikan Pemerintah kepada
Pemerintah Daerah secara proporsional.
9. Terhadap penggunaan bantuan yang diberikan oleh Pemerintah kepada
Pemerintah Daerah dilakukan pemantauan dan evaluasi oleh tim antar
departemen/lembaga Pemerintah Nondepartemen dengan melibatkan BPBD
yang dikoordinasikan oleh Kepala BNPB.

7
Sesuai dengan prinsip dan arahan Presiden dan wakil Presiden mengenai
rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, maka dengan pertimbangan bahwa
dampak kerusakan yang didominasi kerusakan pada sektor perumahan dan akan
memberikan dampak bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat korban bencana,
maka pokok-pokok kebijakan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana gempa
bumi Aceh tanggal 2 Juli 2013 adalah sebagai berikut:
1. Menggunakan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi sebagai sarana
membangun komunitas dan menstimulasi kehidupan sosial ekonomi
masyarakat dengan prinsip pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan
dampak jangka panjang.
2. Dilaksanakan dengan pendekatan tata pemerintahan yang baik, melalui
koordinasi yang efektif antar pelaksana kegiatan serta mengedepankan aspirasi
masyarakat korban bencana gempa bumi.
3. Khusus untuk kegiatan pemulihan di bidang perumahan dan kehidupan
masyarakat dilaksanakan dengan pendekatan partisipasi masyarakat sesuai
dengan karakteristik budaya lokal, sekaligus meningkatkan pemahaman
masyarakat tentang pengurangan risiko bencana.
4. Dilaksanakan dengan memperhatikan standar teknis perbaikan lingkungan
permukiman di daerah rawan bencana dengan prinsip build back better.
5. Dilaksanakan dengan mengedepankan keterbukaan bagi semua pihak melalui
penyediaan informasi yang akurat serta pelayanan teknis, perijinan dan
termasuk penyediaan unit pengaduan masyarakat.
6. Dilaksanakan dengan mekanisme penyaluran dana dan pertanggung jawaban
dana yang akuntabel, efisien, efektiv dan sesuai peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
7. Dilaksanakan terutama oleh Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya,
melalui koordinasi yang efektif dan kerja sama antar pihak lintas sektor,
dengan mekanisme pemantauan dan pengendalian sesuia dengan peraturan
perundangundangan yang berlaku.
8. Dengan pertimbangan skala dan dampak kerusakan serta ketersediaan
anggaran pembiayaan, maka rehabilitasi dan rekonstruksi akan meliputi
periode tahun anggaran 2013 sampai dengan tahun anggaran 2014.

2.1.3. Strategi Rehabilitasi


Menurut Strategi penyelenggaraan kegiatan rehabilitasi adalah :

1. Melibatkan dan memberdayakan masyarakat dalam tahapan pelaksanaan


rehabilitasi.
2. Memperhatikan karakter bencana, daerah dan budaya masyarakat setempat.

8
3. Mendasarkan pada kondisi aktual di lapangan (tingkat kerugian/kerusakan
serta kendala medan).
4. Menjadikan kegiatan rehabilitasi sebagai gerakan dalam masyarakat dengan
menghimpun masyarakat sebagai korban maupun pelaku aktif kegiatan
rehabilitasi dalam kelompok swadaya.
5. Menyalurkan bantuan pada saat, bentuk, dan besaran yang tepat sehingga dapat
memicu/membangkitkan gerakan rehabilitasi dan penanganan bencana yang
menyeluruh.
Berikut adalah salah satu contoh alur penyusunan rencana kegiatan rehabilitasi dan
rekonstruksi pada gempa bumi di Aceh tanggal 2 Juli 2013 :

9
2.1.4. Sasaran kegiatan rehabilitasi
Sasaran kegiatan rehabiliitasi adalah :

1. Kelompok manusia dan segenap kehidupan dan penghidupan yang terganggu


oleh bencana
2. Sumberdaya buatan yang mengalami kerusakan akibat bencana sehingga
berkurang nilai gunanya.
3. Ekosistem atau lingkungan alam untuk mengembalikan fungsi ekologisnya.

10
2.2. Kebijakan, Strategi dan Sasaran Rekonstruksi
2.2.1. Kebijakan
1. Kebijakan yang mendasari Penyelenggaraan Rekonstruksi ini adalah sebagai
berikut: Penanggulangan bencana merupakan tanggungjawab bersama antara
Pemerintah, Pemerintah Daerah dan Masyarakat.
2. Pemeritah berkewajiban untuk menyiapan program dan alokasi anggaran untuk
rekonstruksi pasca bencana.
3. Pemerintah memberikan fasilitasi dan pendampingan bantuan dana yang
dimanfaatkan berdasarkan kearifan lokal.
4. Bantuan luar negeri, baik yang berasal dari pemerintah (bilateral-multilateral)
maupun non-pemerintah diperkenankan, sepanjang bantuan tersebut tidak
mengikat dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
5. Membangun kembali dengan lebih baik dari sebelum kejadian bencana, dengan
memahami bahwa suatu peristiwa bencana membawa hikmah untuk
memberikan kesempatan dalam rangka meningkatkan kehidupan masyarakat
melalui penataan prasarana, sarana dan sistim pelayanan masyarakat yang lebih
baik dan lebih aman dari sebelum terjadinya bencana.
6. Upaya-upaya pengurangan risiko bencana, meliputi usaha pencegahan, mitigasi
dan peningkatan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat bencana harus
diintegrasikan ke dalam keseluruhan proses rekonstruksi agar risiko bencana di
masa yang akan datang dapat dikurangi semaksimal mungkin.
7. Pelaksanaan rekonstruksi harus dapat mendorong dikembangkannya atau
direvisinya peraturan-perundangan dan standar-standar keselamatan yang lebih
baik dalam berbagai aspek kehidupan, baik pada tingkat nasional maupun lokal,
dan mengadaptasi pengetahuan terbaru mengenai bahaya dan kerentanan setelah
kejadian bencana.
8. Menempatkan isu-isu ekosistem/lingkungan hidup dan social budaya secara
proporsional dalam perencanaan rekonstruksi.
9. Melaksanakan rekonstruksi dengan proses yang akuntabel dan auditable serta
memenuhi azas transparansi publik.

11
10. Penyelenggaraan rekonstruksi dilakukan di bawah koordinasi BNPB dan/atau
BPBD (untuk tingkat daerah).

2.2.2. Strategi
Strategi dalam Penyelenggaraan Rekonstruksi ini adalah:
1. Melibatkan partisipasi masyarakat sebesar mungkin, baik masyarakat yang
terkena bencana maupun masyarakat secara umum, melalui proses
memberdayakan masyarakat dalam berbagai kegiatan penyelenggaraan
rekonstruksi dan dengan menciptakan situasi kondusif bagi peran serta
masyarakat yang sebesar-besarnya dalam kegiatan rekonstruksi, melalui
mekanisme pelibatan yang sederhana.
2. Memanfaatkan kearifan lokal berdasarkan pada kondisi aktual di lapangan,
melalui program yang mengacu kepada kebijakan pemerintah dengan
memperhatikan kondisi sosial dan budaya masyarakat.
3. Mendorong pengembangan kapasitas dalam pelaksanaan rekonstruksi, baik
ketika perencanaan, pelaksanaan, monitoring maupun penegakkan aturan-
aturan yang ada, untuk menjamin hasil rekonstruksi yang memiliki ketahanan
yang lebih baik terhadap bencana di masa yang akan datang, baik di tingkatan
pemerintahan, masyarakat, komunitas lokal maupun individu.
4. Mengutamakan solusi jangka panjang daripada penyelesaian masalah-masalah
yang bersifat sementara.
5. Memberikan perhatian khusus kepada usaha-usaha berkelanjutan yang bersifat
lokal.
6. Menggunakan proses perencanaan yang terintegrasi, dengan penetapan
prioritas jangka pendek, menengah dan panjang.
7. Mengutamakan usaha-usaha untuk memulihkan kondisi ekonomi lokal dengan
cepat sebagai bagian dari kegiatan prioritas jangka pendek, melalui pelibatan
sebanyak-banyaknya berbagai pelaku ekonomi lokal dalam proses
rekonstruksi.
8. Mengintegrasikan teknologi maju dengan sumber daya local yang sesuai.
9. Menggunakan rencana implementasi yang sederhana

12
10. Memastikan tersedianya akses informasi mengenai semua kegiatan
rekonstruksi bagi semua pemangku kepentingan dalam rangka membangun
komunikasi untuk menjamin akuntabilitas dan transparansi proses
rekonstruksi.

2.2.3. Sasaran
Sasaran yang ingin dicapai oleh pedoman ini adalah tercapainya pemulihan semua
aspek kehidupan masyarakat, sehingga segala kegiatan perekonomian, sosial dan
budaya masyarakat dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, hukum dan
ketertiban dapat ditegakkan kembali, dan peran masyarakat sipil dalam segala aspek
kehidupan bermasyarakat dapat berfungsi dengan baik, melalui pemenuhan semua
kebutuhan masyarakat dalam berbagai segi, mulai dari prasarana, sarana, sistem
kelembagaan dan semua layanan publik yang diperlukan untuk menjalankan roda
kehidupan dengan aman dan nyaman. Sasaran penyelenggaraan rekonstruksi adalah :
1. Tumbuh berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya,
tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran dan partisipasi
masyarakat sipil dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat di wilayah
pasca bencana.
2. Tercapainya kehidupan masyarakat pasca-bencana yang lebih baik dan lebih
aman dari sebelum terjadinya bencana, yang mampu menyesuaikan diri dan
beradaptasi dengan kondisi dan situasi baru pasca-bencana.

13
2.3. Prosedur Umum Rekonstruksi Dan Rehabilitasi

Untuk menjamin efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan, kegiatan rehabilitasi mengikuti


prosedur umum sebagai berikut :
1. Sosialisasi dan Koordinasi Program
 Koordinasi jajaran pemerintahan hingga tingkat Desa/Kelurahan.
 Sosialisasi kepada masyarakat umum dan korban.
 Membangun kebersamaan, solidaritas, dan kerelawanan.

2. Inventarisasi dan Identifikasi Kerusakan/Kerugian


 Inventarisasi dan identifikasi tingkat kerusakan/kerugian bencana dilakukan oleh
BNPB dan/atau BPBD dan/atau unsur-unsur lain yang dikoordinasikan oleh BNPB
dan/atau BPBD.
 Verifikasi atas hasil inventarisasi dan identifikasi kerusakan/ kerugian dapat
dilakukan oleh BNPB dan/atau BPBD oleh karena adanya usulan, masukan,
sanggahan dari masyarakat maupun karena timbulnya bencana susulan dan hal lain
yang relevan.
 Inventarisasi, identifikasi kerusakan/kerugian atau verifikasi atas hasilnya dilakukan
pada pelaksanaan “rapid assessment” tahap tanggap darurat dan atau rehabilitasi.

3. Perencanaan dan Penetapan Prioritas


 Perencanaan dan penetapan prioritas di tingkat masyarakat yang dilakukan secara
partisipatif oleh kelompok masyarakat merupakan masukan penting bagi program
rehabilitasi.
 Sinkronisasi rencana dan program meliputi : sinkronisasi program tahapan
rehabilitasi, prabencana, tanggap darurat dan rekonstruksi, sinkronisasi lintas-pelaku,
sinkronisasi lintas-sektor, sinkronisasi lintas-wilayah.
 Perencanaan, penetapan prioritas dan sinkronisasi program dilakukan oleh BPBD
dan/atau BNPB.

4. Mobilisasi Sumberdaya
 Sumberdaya manusia, peralatan, material dan dana dilakukan dengan
mempertimbangkan sumberdaya yang tersedia.
 Sumber daya manusia yang memahami dan mempunyai ketrampilan secara
profesional sangat diperlukan dalam semua proses dan kegiatan rehabilitasi
pascabencana.
 Sumberdaya yang berupa peralatan, material dan dana disediakan dan siap
dialokasikan untuk menunjang proses rehabilitasi.

5. Pelaksanaan Rehabilitasi

14
 Pelaksanaan rehabilitasi meliputi kegiatan perbaikan fisik dan pemulihan fungsi
non-fisik. Kegiatan rehabilitasi dilaksanakan di wilayah yang terkena bencana
maupun wilayah lain yang dimungkinkan untuk dijadikan wilayah sasaran kegiatan
rehabilitasi.
 Kegiatan rehabilitasi dilakukan oleh BNPB jika status bencana adalah tingkat
nasional atau atas inisiatif sendiri BNPB dan atau BPBD untuk status bencana
daerah.
 Kegiatan rehabilitasi juga dimungkinkan untuk melibatkan banyak pemangku
kepentingan dan masyarakat.

6. Monitoring, Evaluasi, dan Pelaporan


 Pelaksanaan pemantauan kegiatan rehabilitasi dilakukan oleh unsur pengarah beserta
unsur pelaksana BNPB dan atau BPBD dan dapat melibatkan lembaga/institusi
perencanaan di tingkat nasional dan/atau daerah, sebagai bahan menyeluruh dalam
penyelenggaraan rehabilitasi.
 Penyusunan laporan penyelenggaraan rehabilitasi pascabencana dilakukan oleh
unsur pengarah dan/atau unsur pelaksana BNPB dan/atau BPBD. Laporan
penyelenggaraan rehabilitasi selanjutnya digunakan untuk memverifikasi
perencanaan program rehabilitasi.

15
2.4. Pengkajian Kebutuhan Pemulihan Wilayah Pascabencana
Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau
masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama
untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan
masyarakat pada wilayah pascabencana. Rehabilitasi bersifat segera dan kegiatannya masih
berfokus utama kepadapemulihan kehidupan manusia yang masih terselamatkan nyawanya
pada tahap penanganan darurat. Pelayanan kepada masyarakat di wilayah bencana tidak
boleh sampai terhenti ketika masa penanganan darurat berakhir.
Kegiatan rekonstruksi lebih berfokuskepada pembangunan kembali bangunanbangunan
fisik secara permanen dan peningkatan sosial ekonomi dalam suatu rangkaian pemulihan
jangka panjang. Kadangkalapembangunan kembali dilakukan secara menyeluruh jika
kerusakan sangat parah. Tujuan pemulihan jangka panjang adalah mengembalikan keadaan
sebelum bencana bahkan menjadi lebih baik. Pemulihan ini juga merupakan waktu yang
tepat untuk mengambil langkah-langkah mitigasi atau pengurangan risiko bencana sehingga
masyarakat akan lebih siap menghadapi bencana bahkan mencegah terjadinya bencana yang
serupa.

2.4.1. Penilaian Kerusakan dan Kerugian


Kerusakan (dampak langsung), merupakan dampak terhadap aset, properti yang
dinilai dengan harga unit penggantian yang disepakati. Perkiraan itu harus
memperhitungkan tingkat kerusakan (apakah aset masih bisa dipulihkan/ diperbaiki,
atau sudah sama sekali hancur). Umumnya kerusakan yang terjadi terhadap masing –
masing fisik yang mengalami kerusakan memiliki tingkat kerusakan yang berbeda
dengan yang lainnya. Penilaian kerusakan dilakukan untuk menentukan angka
kerusakan langsung terhadap fisik yang terdampak bencana. Kriteria penilaian
kerusakan dikelompokkan menjadi tiga kategori jenis kerusakan, yaitu rusak berat,
rusak sedang dan rusak ringan.
Kerugian (dampak tidak langsung), merupakan proyeksi hambatan produktivitas
akibat aset yang rusak/hilang akibat bencana,seperti potensi pendapatan yang
berkurang, pengeluaran yang bertambah dan lain-lain selama beberapa waktu hingga
aset dipulihkan berdasarkan nilai saat ini. Dampak ekonomi (kadang disebut dampak
sekunder) meliputi dampak fiskal, dampak pertumbuhan PDB, dan lain-lain.

16
NO SEKTOR SUB SEKTOR
1 Permukiman  Perumahan
 Prasarana Lingkungan Permukiman
2 Infrastruktur  Transportasi (Darat, Laut, Udara)
 Sumberdaya Air (SDA) dan Irigasi
 Energi/ Listrik
 Pos dan Telekomunikasi
 Air bersih dan Sanitasi
3 Ekonomi Produktif  Pertanian, Perkebunan
 Perikanan, Perternakan
 Industri Kecil dan Menengah
 Perdagangan (Pasar tradisional)
 Pariwisata
4 Sosial  Kesehatan, Pendidikan, Keagamaan
 Lembaga Sosial (Panti asuhan, werdha)
 Budaya dan Bangunan bersejarah
5 Lintas Sektor  Pemerintah
 Ketertiban dan Keamanan
 Keuangan dan Perbankan
 Lingkungan Hidup

1. Sektor Permukiman
Terjadinya gempa mengakibatkan rusaknya perumahan dan prasarana lingkungan
permukiman. Tingkat kerusakan permukiman diasumsikan dalam kategori rumah rusak
berat, rusak sedang, dan rusak ringan.
Rumus :
Nilai Kerusakan = X1 * X2 * X3 * X4
Dimana:
X1 = Jumlah rumah dalam Unit
X2 = Harga satuan dalam meter persegi
X3 = Tipe rumah 36 m2
X4 = Tingkat kerusakan dalam %

2. Sektor Infrastruktur
Infrastruktur merupakan sarana penting dalam menunjang mobilitas aktivitas
sosial dan ekonomi penduduk. Terjadinya gempa mengakibatkan rusaknya berbagai
infrastruktur yangmengakibatkan aktivitas masyarakat terganggu dan secara tidak
langsung berdampak terhadapaliran ekonomi masyarakat setempat. Penilaian dampak
bencana pada sektor infrastruktur dilakukan terhadap kerusakan infrastruktur akibat
bencana yang diantaranya di bidang transportasi (jalan dan jembatan) dan sumber daya
air serta dampak kerugian yang ditimbulkannya.
Rumus :
Nilai Kerusakan = X1 * X2 * X3
Dimana:
X1 = Tingkat kerusakan
X2 = Harga satuan

17
X3 = Volume kerusakan

a) Subsektor Transportasi Darat


Contohnya seperti rusaknya jalan dan jembatan.

b) Subsektor Sumber Daya Air


Sumber daya air merupakan salah satu sarana masyarakat yang mengalami kerusakan
akibatbencana gempa bumi. Sejumlah saluran irigasi, bendung dan intake
mengalami kerusakan. Gempa bumi juga mengakibatkan beberapa sungai menjadi
rusak tidak berfungsi dikarenakan tertimbun longsoran tanah dalam volume yang
besar sehinga air sungai tidak dapat mengalir sesuai dengan alurnya.

3. Sektor Ekonomi
Akibat bencana gempa bumi, beberapa sarana dan prasarana ekonomi masyarakat
mengalami kerusakan secara fisik dan berdampak langsung terhadap penghidupan
masyarakat setempat. Penilaian kerusakan dilakukan terhadap aset berupa lahan
pertanian, perkebunan, aset fisik di bidang industri kecil menengah dan gedung balai
penyuluhan pertanian serta dampak kerugian yang ditimbulkannya.
Rumus :
Nilai Kerusakan = X1 * X2 * X3
Dimana:
X1 = Tingkat kerusakan
X2 = Harga satuan
X3 = Volume kerusakan

a) Subsektor Pertanian dan Perkebunan


Di sektor pertanian gempa telah merusak lahan pertanian serta sistem
irigasinya, kilang padi, beberapa unit hand traktor, pohon durian, kebun kopi dan
kantor balai penyuluhan. Kerusakan fisik pada sarana prasarana pertanian dan
perkebunan telah menimbulkan kerugian berupa biaya tambahan pembersihan
puing dan menurunnya produksi panen.

b) Subsektor Perindustrian
Sektor perindustrian juga mengalami kerusakan yang diakibatkan oleh
gempa bumi. Sejumlah bangunan industri pengolahan tebu dan bangunan industri
pengolahan kopi beserta peralatannya mengalami kerusakan secara fisik, dan
mengalami kerugian berupa penurunan hasil produksi dan biaya tambahan yang
dikeluarkan untuk pembersihan puing bangunan yang rusak.

4. Sektor Sosial

18
Pada sektor sosial dampak bencana terjadi di bidang pendidikan, kesehatan,
peribadatan yang dikelompokkan dalam kepemilikan pemerintah dan swasta. Jika terjadi
gempa bumi, akan ada kemungkinan mengalami kerusakan. Perhitungan kerusakan dan
kerugian Subsektor Kesehatan meliputi kerusakan sarana kesehatan, rumah dinas
kesehatan, dan peralatan pendukungnya dari polindes, puskesmas pembantu, puskesmas,
dan rumah sakit. Tingkat kerusakan diasumsikan rusak berat sebesar 100%, rusak sedang
sebesar 40% dan rusak ringan sebesar 20%.
RUMUS : Nilai Kerusakan = X1 * X2 * X3 * X4
Keterangan:
X1 = Jumlah rumah dalam Unit
X2 = Harga satuan dalam meter persegi
X3 = Luas bangunan
X4 = Tingkat kerusakan

a) Subsektor Pendidikan
Akibat gempa bumi kegiatan belajar mengajar di wilayah terkena dampak terhenti
karena bangunan sekolah berikut peralatan, ruang kelas belajar, perpustakaan,
rumah dinas guru.
b) Subsektor Kesehatan
Dampak gempa bumi di subsektor kesehatan terlihat pada kerusakan aset
beberapa gedung sarana kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, puskesmas
pembantu, polindes beserta peralatan dan fasilitas pendukungnya yang mengalami
kerusakan bervariasi, beserta kerugian yang ditimbulkan akibat kerusakan fisik
sarana kesehatan. Dengan rusaknya sarana kesehatan pelayanan kesehatan di
wilayah terdampak bencana mengalami penurunan dengan fasilitas dan tenaga yang
terbatas dibandingkan dengan permintaan pelayanan kesehatan yang meningkat
drastis seiring dengan terjadinyabencana.
c) Subsektor Agama
Kerusakan fisik bidang keagamaan meliputi fasilitas keagamaan seperti bangunan
masjid dan menasah serta peralatan yang terdapat di dalamnya.

5. Sektor Lintas Sektor


Dampak yang terjadi pada lintas sektor berupa kerusakan fisik dan kerugian yang
ditimbulkannya. Penilaian kerusakan dan kerugian terhadap lintas sektor dilakukan atas
subsektor pemerintahan, keamanan dan ketertiban, serta perbankan. Tingkat kerusakan
diasumsikan rusak berat 100%, rusak sedang 40%, rusak ringan 20%. Pada lintas sektor
kerusakan dihitung berdasarkan tingkat kerusakan yang dialami dengan cara:
RUMUS : Nilai Kerusakan = X1 * X2 * X3 * X4
Keterangan:
X1 = Jumlah rumah dalam Unit
X2 = Harga satuan dalam meter persegi
X3 = Luas bangunan

19
X4 = Tingkat kerusakan

Nilai kerusakan dan kerugian di Lintas sektor adalah akumulasi dari nilai
kerusakan dan kerugian subsektor di bawah ini :

a) Subsektor Pemerintahan
Di subsektor pemerintahan kerusakan fisik terjadi baik sebagian atau keseluruhan
pada kantor pemerintahan kabupaten, kecamatan, desa, dan instansi vertikal
beserta peralatan yang ada di dalamnya.
b) Subsektor Ketertiban
Dampak bencana gempa bumi di subsektor ketertiban berupa kerusakan fisik
gedung Kantor Polres, kepolisian dll

20
2.5. Masalah Kesehatan yang dapat terjadi Pasca Bencana
2.5.1. Rapid Health Assessment pascagempa

Kelompok Rentan Permasalahan Kesehatan


Balita dan anak-anak Pascabencana gempa bumi balita biasanya
mengalami kurang gizi, baik gizi kurang
atau buruk, demam batuk pilek, iritasi mata,
alergi pada kulit serta diare, serta masalah
psikologis seperti traumatik, depresi, dan
kecemasan
Ibu Hamil Status gizi kurang beresiko mengalami
kekurangan energy kronis dan melahirkan
bayi dengan berat badan lahir rendah , Ibu
hamil yang mengalami stres pasca bencana
akan berpengaruh terhadap temperamen
anak yang dilahirkannya.
Ibu baru melahirkan Gangguan Psikologis, akibat rasa cemas
khawatir dengan anak, keluarga atau harta
benda
Orang cedera Luka ringan sampai berat bagian kepala,
tangan, atau kaki, dan biasanya akibat
paskagempa beberapa dampaknya adalah
infeksi pada luka
Orang sakit Korban yang biasanya rawat inap atau
rawat jalan akan terganggu proses
pengobatannya dikarenakan rusaknya
gedung pelayanan kesehatan dan
minimnya obat yang diperlukan saat itu.

2.5.2. Penyakit Diare


Diare merupakan penyakit menular yang sangat potensial terjadi di daerah
pengungsian maupun wilayah yang terkena bencana yang biasanya sangat terkait
erat dengan kerusakan, keterbatasan penyediaan air bersih dan sanitasi dan
diperburuk oleh perilaku hidup bersih dan sehat yang masih rendah. Selain itu
penyebab diare berkaitan dengan akan muncul penyakit menular yang disebabkan
karena makanan. Baik melalui penggunaan alat makan bersama, proses transportasi
air di pengungsian maupun makanan dan minuman yang terkontaminasi

2.5.3. Penyakit Malaria


Dilokasi penampungan pengungsi penyakit malaria sangat mungkin terjadi, hal ini
terutama penampungan pengungsi terletak pada daerah yang endemis malaria atau
pengungsi dari daerah endemis dating ke lokasi penampungan pengungsi pada
daerah yang tidak ada kasusnya tetapi terdapat vektor (daerah reseptif malaria).

21
2.5.4. Penyakit Campak
Kerawanan terhadap penyakit ini meningkat karena memburuknya status kesehatan,
terutama status gizi anak – anak serta konsentrasi pengungsi pada suatu tempat.

2.5.5. Penyakit ISPA


Resiko infeksi saluran pernafsan akut (ISPA) disebabkan karena kondisi
pengungsian yang penuh, ventilasi kurang, gizi yang kurang serta perubahan cuaca
yang mendukung penyebaran kuman melalui udara. Bencana alam yang merusak
sarana system sanitasi dan air bersih dapat menimbulkan potensi penyakit yang
dapat ditularkan melalui media air (water-borne diseases) seperti ISPA. Penyakit
ISPA merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi dan balita. Kematian
tersebut diakibatkan oleh penyakit pneumonia berat yang tidak sempat terdeteksi
secara dini dan mendapat pertolongan tepat dari petugas kesehatan.

2.5.6. Masalah Gizi


Masalah gizi yang bisa timbul adalah kurang gizi pada bayi dan balita, bayi tidak
mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) karena terpisah dari ibunya dan semakin
memburuknya status gizi kelompok masyarakat. Bantuan makanan yang sering
terlambat, tidak berkesinambungan dan terbatasnya ketersediaan pangan lokal dapat
memperburuk kondisi yang ada.
Bayi dan anak berumur di bawah dua tahun (baduta) merupakan kelompok yang
paling rentan dan memerlukan penanganan gizi khusus. Pemberian makanan yang
tidak tepat pada kelompok tersebut dapat meningkatkan risiko kesakitan dan
kematian, terlebih pada situasi bencana. Risiko kematian lebih tinggi pada bayi dan
anak yang menderita kekurangan gizi terutama apabila bayi dan anak juga menderita
kekurangan gizi mikro. Apabila masalah ini tidak mendapat perhatian yang
memadai bukan mustahil bayi dan anak Batita akan mengalami gizi kurang yang
dapat berlanjut menjadi gizi buruk bahkan marasmus dan kwashiorkor.

22
2.6. Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Pada Tahap Rehabilitasi Dan Rekonstruksi
Wilayah Pasca Bencana Gempa Bumi Di Indonesia
Penyelenggaraaan rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah pasca bencana merupakan
rangkaian kegiatan yang sudah dimulai sejak perencanaan kegiatan termasuk identifikasi dan
penghimpunan sumber pembiayaan, pelaksanaan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi,
pengorganisasian pelaksana kegiatan, pelaporan dan pertanggungjawaban, monitoring dan
evaluasi pelaksanaan kegiatan termasuk pengawasan baik yang dilaksanakan oleh pihak
internal maupun eksternal pemerintah dan/atau pemerintah daerah sampai kepada langkah
pengalihan hasil rehabilitasi dan rekonstruksi kepada program pembangunan yang
berkelanjutan pada daerah tersebut.
Seluruh rangkaian penyelenggaraan rehabilitasi dan rekonstruksi dimaksud dilakukan
sesuai dengan ketentuan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku baik yang bersifat
umum maupun yang bersifat khusus.
Sesuai dengan ruang lingkup dan kebijakan rehabilitasi dan rekonstruksi dengan
pertimbangan skala kerusakan akibat bencana gempa bumi, maka kegiatan rehabilitasi dan
rekonstruksi dilaksanakan selama 2 tahun anggaran. Sesuai dengan Undang Undang No. 24
tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, sasaran rehabilitasi adalah kegiatan perbaikan
lingkungan daerah bencana, perbaikan prasarana dan sarana umum, pemberian bantuan
perbaikan rumah masyarakat, pemulihan sosial psikologis, pelayanan kesehatan, pemulihan
sosial-ekonomibudaya, pemulihan keamanan dan ketertiban yang pada prinsipnya pemulihan
fungsi pemerintahan dan pemulihan fungsi pelayanan publik. Sasaran rekonstruksi adalah
memulihkan sistem secara keseluruhan serta mengintegrasikan berbagai program
pembangunan ke dalam pendekatan pembangunan daerah yang dilakukan dengan pendekatan
membangun lebih baik (build back better) yang meliputi: (i) pembangunan kembali prasarana
dan sarana yang rusak; (ii) pembangunan kembali sarana sosial masyarakat; (iii)
membangkitkan kembali kehidupan sosial masyarakat; (iv) peningkatan kondisi sosial, dan
ekonomi; dan (v) peningkatan fungsi pelayanan publik dan pemerintahan, dengan
menerapkan aspek pengurangan risiko bencana dan mengutamakan partisipasi dan peran
serta masyarakat dalam setiap tahapan pelaksanaan kegiatannya (BNPB, 2014).
Bencana dapat merusakkan kehidupan keluarga dan melumpuhkan tatanan sosial.
Terlebih lagi jika terjadi pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah, potensial terjadi

23
diskriminasi, kejahatan dan tindak kekerasan lainnya. Selain hal tersebut bencana juga akan
menyebabkan masalah kesehatan seperti diare, influensa, tifus dan penyakit yang lainnya.
Sehingga diperlukan adanya peran pelayanan kesehatan untuk menanggulanginya.
Berikut bentuk pelaksanaan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana gempa
bumi pada pelayanan kesehatan yang termasuk dalam sektor social secara umum (Depkes,
2001).
 Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar di tempat penampungan (Pos Kesehatan
Lapangan)
 Memeriksa kualitas air bersih dan sanitasi lingkungan
 Melaksanakan surveilans penyakit menular dan gizi buruk yang mungkin timbul segera
melapor ke Dinkes Kabupaten/Kota bila terjadi KLB penyakit menular dan gizi buruk
 Memfasilitasi relawan, kader dan petugas pemerintah tingkat kecamatan dalam
memberikan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kepada masyarakat luas,
bimbingan pada kelompok serta konseling pada individu yang berpotensi mengalami
gangguan stres paskatrauma
 Merujuk penderita yang tidak dapat ditangani dengan konseling awal dan membutuhkan
konseling lanjut, psikoterapi atau penanggulangan lebih spesifik.

2.6.1. Promosi Kesehatan


Situasi bencana membuat kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, anak-anak dan
lanjut usia mudah terserang penyakit dan malnutrisi. Akses terhadap pelayanan
kesehatan dan pangan menjadi semakin berkurang. Air bersih sangat langka akibat
terbatasnya persediaan dan banyaknya jumlah orang yang membutuhkan. Sanitasi
menjadi sangat buruk, anak-anak tidak terurus karena ketiadaan sarana pendidikan.
Dalam keadaan yang seperti ini risiko dan penularan penyakit meningkat.
Sehubungan dengan kondisi tersebut maka perlu dilakukan promosi kesehatan yang
bertujuan untuk:
 Kesehatan tetap terjaga
 Mengupayakan agar lingkungan tetap sehat
 Memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada
 Anak dapat terlindungi dari kekerasan

24
 Mengurangi stress atau trauma psikologis akibat bencana

Kegiatan promosi kesehatan yang dilakukan:


1. Kajian dan analisis data yang meliputi:
a. Sarana dan prasarana klaster kesehatan meliputi sumber air bersih, jamban,
pos kesehatan klaster, Puskesmas, rumah sakit lapangan, dapur umum,
sarana umun seperti mushola, posko relawan, jenis pesan dan media dan alat
bantu KIE, tenaga promkes/tenaga kesmas, kader, relawan dan lain
sebagainya.
b. Data sasaran : jumlah Ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita, remaja,
lansia/orangtua, orang dengan berkebutuhan khusus dan orang sakit
c. Jumlah titik pengungsian dan hunian sementara
d. Jumlah pengungsi dan sasaran di setiap titik pengungsian
e. Lintas program, lintas sektor, NGO, Universitas dan mitra lainnya yang
memiliki kegiatan promkes dan pemberdayaan masyarakat
f. Regulasi pemerintah setempat dalam hal melakukan upaya promotif dan
preventif.
g. Dilanjutkan dengan analisis data berdasarkan potensi dan sumberdaya yang
ada di wilayah terdampak bencana.
2. Perencanaan
Berdasarkan kajian dan analisis data, akan menghasilkan berbagai program dan
kegiatan, dengan mempertimbangkan sumberdaya yang ada.

3. Implementasi kegiatan, yang mencakup:


a. Rapat koordinasi klaster kesehatan termasuk dengan pemerintah setempat,
NGOs, dan mitra potensial lainnya untuk memetakan programdan kegiatan
yang dapat diintegrasikan /kolaborasikan.
b. Pemasangan media promosi kesehatan berupa spanduk, poster, stiker
c. Pemutaran film kesehatan, religi, pendidikan, hiburan dan diselingi pesan
kesehatan,
d. Senam bersama (masyarakat umum) termasuk senam lansia

25
e. Konseling, penyuluhan kelompok, keluarga dan lingkungan dengan berbagai
pesan kesehatan (PHBS di pengungsian)
f. Penyelenggaraan Posyandu (darurat) integrasi termasuk Posyandu Lansia di
pengungsian atau di tempat hunian sementara.
g. Advokasi pelaksanaan gerakan hidup sehat kepada pemerintah setempat.
h. Pendekatan kepada tokoh agama/tokoh masyarakatuntuk menyebarluaskan
informasi kesehatan.
i. Penguatan kapasitas tenaga promkes daerah melalui kegiatan orientasi
promosi kesehatan paska bencana.
j. Kemitraan dengan organisasi kemasyarakatan, dunia usaha melalui program
CSR, LSM kesehatan, kelompok peduli kesehatan, donor agency
k. Monitoring dan evaluasi program

Sasaran promosi kesehatan adalah:


1) Petugas kesehatan
2) Relawan
3) tokoh masyarakat, tokoh agama
4) guru
5) Lintas sector
6) Kader kesehatan
7) Kelompok rentan: ibu hamil, anak-anak, lanjut usia
8) Masyarakat
9) Organisasi masyarakat
10) Dunia usaha

Promosi kesehatan dalam kondisi darurat untuk meningkatkan pemahaman keluarga dan
masyarakat untuk melakukan PHBS di pengungsian , yaitu:
1) Pemberian ASI yang harus terus diberikan pada bayi
2) Biasakan cuci tangan pakai sabun
3) Menggunakan air bersih
4) Buang air besar dan kecil di jamban

26
5) Buang sampah pada tempatnya
6) Makan makanan bergizi
7) Tidak merokok
8) Memanfaatkan layanan kesehatan
9) Mengelola stress
10) Melindungi anak
11) Bermain sambil belajar

2.6.2. Pelayanan kesehatan


Termasuk pelayanan kesehatan masyarakat, kesehatan reproduksi dan kesehatan
jiwa'. Terkait dengan sarana pelayanan kesehatan, satu Pusat Kesehatan pengungsi
idealnya digunakan untuk melayani 20.000 orang, sedangkan satu Rumah Sakit
untuk 200.000 sasaran. Penyediaan pelayanan kesehatan juga dapat memanfaatkan
partisipasi Rumah Sakit Swasta, Balai Pengobatan Swasta, LSM lokal maupun
internasional yang terkait dengan bidang kesehatan.

2.6.3. Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular


Seperti vaksinasi, penanganan masalah umum kesehatan di pengungsian,
manajemen kasus, surveilans dan ketenagaan. Berkaitan dengan sumber daya
manusia (SDM), Kementerian Kesehatan telah menetapkan jumlah kebutuhan tenaga
kesehatan untuk penanganan 1000020000 pengungsi, terdiri dari: pekerja kesehatan
lingkungan (10-20 orang), bidan (5-10 orang), dokter (1 orang), paramedis (4-5
orang), asisten apoteker (1 orang), teknisi laboratorium (1 orang), pembantu umum
(5-10 orang), pengawas sanitasi (2-4 orang), asisten pengawas sanitasi (10 20 orang).

2.6.4. Gizi dan pangan


Termasuk penanggulangan masalah gizi di pengungsian, surveilans gizi, kualitas
dan keamanan pangan. Identifikasi perlu dilakukan secepat mungkin untuk
mengetahui sasaran pelayanan, seperti jumlah pengungsi, jenis kelamin, umur dan
kelompok rentan (balita, ibu kebutuhan hamil, ibu menyusui, lanjut usia). Data
tersebut penting diperoleh, misalnya untuk mengetahui bahan makanan pada tahap

27
penyelamatan dan merencanakan tahapan surveilans berikutnya. Selain itu,
pengelolaan bantuan pangan perlu melibatkan wakil masyarakat korban bencana,
termasuk kaum perempuan, untuk memastikan kebutuhan kebutuhan dasar korban
bencana terpenuhi.

2.6.5. Lingkungan
Meliputi pengadaan air, kualitas air, pembuangan kotoran manusia, pengelolaan
limbah padat dan limbah cair dan promosi kesehatan. Beberapa tolok ukur kunci
yang perlu diperhatikan adalah.
 persediaan air harus cukup minimal 15 liter per orang per hari,
 jarak pemukiman terjauh dari sumber air tidak lebih dari 500 meter,
 satu kran air untuk 80-100 orang,
 satu jamban digunakan maksimal 20 orang, dapat diatur menurut rumah
tangga atau menurut jenis kelamin,
 jamban berjarak tidak lebih dari 50 meter dari pemukian atau tempat
pengungsian,
 bak atau lubang sampah keluarga berjarak tidak lebih dari 15 meter dan
lubang sampah umum berjarak tidak lebih dari 100 meter dari pemukiman
atau tempat pengungsian,
 bak/lubang sampah memiliki kapasitas 100 liter per 10 keluarga, serta tidak
ada genangan air, air hujan, luapan air atau banjir di sekitar pemukiman atau
tempat pengungsian.

2.6.6. Hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan dasar kesehatan


Seperti penampungan keluarga, sandang dan kebutuhan rumah tangga. Ruang
tertutup yang tersedia, misalnya, setidaknya tersedia per orang rata-rata berukuran
3,5-4,5 m. Kebutuhan sandang juga perlu memperhatikan kelompok sasaran tertentu,
seperti pakaian untuk balita dan anak-anak serta pembalut untuk perempuan remaja
dan dewasa.

2.6.7. Rekomendasi terkait pelayanan kesehatan masyarakat

28
Meliputi:
a. merencanakan kegiatan Puskesmas Keliling sebagai dukungan sementara,
b. perlu tenaga fisioterapi untuk perawatan bagi penduduk yang cedera,
c. ketersediaan pangan penduduk kelompok rentan, khususnya program Pemberian
Makanan Tambahan (PMT) bagi balita dan ibu hamil,
d. revitalisasi pelayanan Bidan Desa untuk mendukung program Kesehatan Ibu dan
Anak,
e. revitalisasi tenaga sanitarian untuk menangani kondisi lingkungan yang tidak
sehat,
f. perlu penanganan psikiatri bagi masyarakat yang mengalami trauma.

Selain itu, rekomendasi juga dikeluarkan terkait pencegahan dan pemberantasan


penyakit menular, yaitu:
1) melakukan surveilans penyakit menular untuk memperkuat sistem surveilans
rutin; serta
2) Mempertimbangkan langkah antisipasi munculnya penyakit diare, typhus
abdominalis, DHF, campak, dan tetanus

Selain piranti-piranti legal di atas, Peraturan Kepala BNPB Nomor 7 Tahun 2008 juga
mengatur pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan dasar, meliputi bantuan tempat
penampungan hunian sementara, pangan, nonpangan, sandang air bersih dan sanitasi
serta pelayanan kesehatan. Dalam peraturan tersebut, disebutkan bahwa bantuan
pelayanan kesehatan diberikan dalam bentuk: 1). pelayanan kesehatan umum, meliputi
pelayanan kesehatan dasar dan klinis; 2). pengendalian penyakit menular, meliputi
pencegahan umum, campak, diagnosis dan pengelolaan kasus, kesiapsiagaan kejadian
luar biasa (KLB), deteksi KLB, penyelidikan dan tanggap serta HIV/AIDS; serta 3).
pengendalian penyakit tidak menular, meliputi cedera, kesehatan reproduksi, aspek
kejiwaan dan sosial kesehatan serta penyakit kronis. Bentuk-bentuk pelayanan kesehatan
tersebut dilengkapi dengan standar minimal bantuan yang harus dipenuhi dalam situasi
bencana alam (BNPB, 2008). Terkait upaya pemenuhan kebutuhan dasar pada kondisi
bencana, di tingkat global sebenarnya juga sudah banyak pedoman-pedoman yang dapat

29
menjadi rujukan. Pedoman yang disusun The Sphere Project (2011), misalnya, merinci
prinsip-prinsip perlindungan dan standar minimal dalam empat aspek, yakni: 1). Air
bersih, sanitasi dan promosi terkait higienitas, 2). Keamanan pangan dan gizi, 3). Tempat
penampungan atau hunian sementara dan kebutuhan non-pangan, serta 4). Pelayanan
kesehatan. Dalam dokumen ini, disebutkan bahwa pelayanan kesehatan esensial yang
perlu diperhatikan meliputi: pengendalian penyakit menular, kesehatan anak, kesehatan
seksual dan reproduksi, cedera, kesehatan mental dan penyakit tidak menular.

2.6.8. Contoh Pelayanan Kesehatan Pasca Bencana Gempa Bumi


1. Gempa Bumi Salut
Pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan dilaksanakan selama 10 hari
dimulai pada tanggal 21 sampai tanggal 31Agustus 2018 dengan membuka
posko kesehatan di Desa Salut, Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara.
Di wilayah Salut terdapat satu Puskesmas Pembantu yang rusak akibat dampak
gempa, dengan tenaga kesehatan yang terbatas yaitu satu perawat dan satu
bidan.Sehingga pendirian posko kesehatan sangat diperlukan oleh penduduk.
Selain melayani kesehatan di posko, tim relawan juga memberikan pelayanan
kesehatan di posko-posko pengungsian. Tim relawan dibagi menjadi beberapa
bagian sesuai bidang masing-masing.
Pelayanan kesehatan ibu dan anak dilaksanakan dengan sasaran ibu hamil,
ibu nifas, bayi dan balita serta anak.Pelayanan kesehatan dilaksanakan dari mulai
pengkajian data baik dengan anamesa maupun pemeriksaan fisik, pemberian
konseling dan pemberian terapi sederhana seperti multivitamin dan trauma
healling pasca bencana. Pelayanan kesehatan pada ibu hamil dilaksanakan di
posko kesehatan.
Terdapat 2 orang ibu hamil yang datang di posko kesehatan.Satu Ibu hamil
masuk kedalam trimester III dan satu ibu trimester II.Selama pasca gempa ibu
belum pernah memeriksakan kehamilan karena lokasi puskesmas yang jauh.Dari
hasil pengkajian data subyektif didapatkan bahwa ibu mengeluh tidak bisa tidur
karena selalu ketakutan adanya gempa susulan, nyeri pinggang dan sering
kenceng-kenceng, ibu merasa cemas dengan rencana persalinan dan sering

30
pusing.Dari pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan dan janin dalam kondisi
sehat.Asuhan yang diberikan dengan mengajarkan ibu tehnik relaksasi dan
distraksi untuk mengurangi nyeri dan kenceng-kenceng selama kehamilan.
Selain itu ibu diberikan trauma healing dengan memberikan kesempatan ibu
untuk menceritakan semua ketakutan dan kecemasan serta memberikan support
kepada ibu dan keluarga. Memberikan penjelasan mengenai persiapan
persalinan. Di akhir sesi pertemuan ibu diberikan tambahan tablet FE dan
multivitamin.
Selain ibu hamil ditemukan ibu pasca abortus.Kondisi ibu secara umum
baik, hanya mengeluh pusing dan tidak bisa tidur.Ibu sebelumnya sudah
mendapatkan penangan di Puskesmas, tetapi karena lokasi puskesmas jauh
sehingga ibu tidak datang untuk kontrol.Ibu diberikan KIE tentang
penatalaksanaan keluhan ibu, KIE gizi yang baik untuk mempercepat pemulihan
ibu dengan menggunakan sumber makanan yang ada serta diberikan trauma
healing pasca bencana.
Pelayanan kesehatan ibu nifas diberikan di posko pengungsi.Diketahui ibu
nifas hari ke tujuh belum pernah kontrol pasca bersalin.Dari hasil pemeriksaan
secara umum baik, tetapi produksi ASI masih kurang banyak.Ibu mengeluh
merasa cemas dan khawatir kesehatan bayi karena tinggal di posko pengungsian.
Asuhan yang diberikan dengan mengajarkan ibu pijat oksitosin, KIE tentang gizi
ibu nifas dengan menggunakan sumber makanan yang tersedia, KIE tentang
asuhan bayi untuk mengurangi kecemasan ibu serta memberikan support pada
ibu dan keluarga. Sehingga diharapkan produksi ASI akan meningkat.
Neonatus umur 7 hari dan tinggal di posko pengungsi memerlukan
perhatian khusus.Dari hasil pemeriksaan neonatus agak ikterik, hal ini dapat
dikarenakan produksi ASI masih kurang, sehingga ibu dianjurkan untuk terus
menyusui bayi untuk merangsang ASI serta menjemur bayi di pagi hari. Wilayah
Salut memiliki jumlah penduduk dalam usia anak-anak sekolah cukup banyak.
Gempa yang cukup besar serta terus berulang menimbulkan trauma tersendiri
bagi mereka.Gedung sekolah yang hancur karena gempa, mengharuskan sekolah
meliburkan kegiatan belajar mengajar.Libur panjang mengakibatkan anak-anak

31
tidak mempunyai kegiatan sehari-hari sehingga mereka lebih sulit untuk
melupakan rasa trauma yang dialami.
Kegiatan trauma healling sangat diperlukan untuk membantu anak-anak
melewati masa sulit.Kegiatan yang dilakukan dengan memmberikan kesempatan
untuk menceritakan perasaan takut yang dirasakan, mengajak bermain dan
belajar bersama dengan alat-alat permainan edukatif, menggambar dan
mewarnai, serta memberikan tontonan film edukatif.Sehingga keceriaan anak
dapat pulih dan pelan-pelan dapat mengurangi trauma yang dirasakan.
Anak-anak di posko pengungsian juga rentan terkena penyakit.Kondisi
posko pengungsian dan musim kemarau panjang memperburuk daya tahan tubuh
sehingga anak lebih mudah sakit.Penyakit paling banyak menyeranga anak-anak
adalah demam batu pilek, iritasi mata, alergi pada kulit serta diare.Penanganan
yang diberikan adalah memberikan obat sesuai keluhan dan gejala yang
diperlukan, Menganjurkan untuk banyak minum, mengkonsumsi gizi seimbang,
menjaga kebersihan (Setyaningsih, 2019).

2. Gempa di Bantul tahun 2006


Setelah masa tanggap darurat berakhir yaitu satu bulan pasca gempa,
pelayanan Puskesmas terfokus pada pelayanan kesehatan promotif, seperti
pemantauan gizi bayi, balita dan lansia, memonitor kondisi kesehatan reproduksi
para perempuan korban gempa, upaya hidup bersih dan pemulihan sanitasi
lingkungan. Pemantauan gizi dilakukan berkoordinasi dengan para relawan yang
bertugas di tenda-tenda darurat. Kegiatan yang dilakukan oleh petugas
Puskesmas dalam pemantauan gizi antara lain memastikan bahwa bantuan
makanan yang diberikan kepada bayi dan balita (seperti susu dan makanan
tambahan) cukup memadai bagi para korban bencana. Demikian pula dengan
masalah kesehatan reproduksi perempuan, petugas Puskesmas bekerja sama
dengan relawan dan pemerintah · desa setempat memantau bantuan yang
diberikan kepada para korban gempa telah mengakomodasi kepentingan para
perempuan untuk menjaga kesehatan reproduksinya (tersedianya pembalut dan
pakaian dalam). Untuk pemulihan sanitasi lingkungan petugas Puskesmas juga

32
berkoordiansi dengan relawan dan petugas pemerintah terkait untuk memonitor
ketersediaan air bersih dan MCK pada masing-masing lokasi pengungsian
(Widayatun & Fatoni, 2013).

33
BAB 3
PENUTUP

3.1. Simpulan
Sasaran layanan kesehatan pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana
gempa bumi berupa promosi kesehatan, pencegahan penyebaran penyakit menular,
perbaikan lingkungan (air, sanitasi dan higienitas), penyediaan kebutuhan gizi dan
pangan, serta pelayanan trauma healing terutama pada kelompok rentan seperti ibu
hamil, anak-anak, lansia dan disabilitas.

3.2. Saran
3.2.1. Bagi Pemerintah
Menyelenggarakan kegiatan pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi dengan
optimal untuk mengurangi korban jiwa pasca bencana gempa bumi dan
berkoordinasi lebih baik lagi dengan pihak atau lembaga yang berkaitan untuk
memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan.
3.2.2. Bagi Tenaga Kesehatan
Mempersiapkan diri dan melatih keahlian dan keterampilan untuk
penanggulangan bencana khususnya pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi
pasca bencana gempa bumi agar tercapai tujuan dan tercipta pelayanan
kesehatan yang optimal.

34
DAFTAR PUSTAKA

BNPB. (2014). Rencana Aksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah Pasaca Bencana Gempa
Bumi Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah Tahun 2013-2014.

Depkes. (2001). Standar Minimal Penanggulangan Masalah.

Goot, B. H., Jaggers, J., Anagnost, M. R., & Collins, K. K. (2014). Multivalvular Replacement
and Ventricular Arrhythmias in a Female Child With Congenital Polyvalvular Disease.
World Journal for Pediatric and Congenital Heart Surgery, 5(3), 463–466.
https://doi.org/10.1177/2150135113516983

Setyaningsih, D. (2019). Gambaran pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Pasca Gempa di Desa
Salut Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara. Seminar Nasional UNRIYO, 1–7.

Tumenggung, I. (2017). Masalah Gizi Dan Penyakit Menular Pasca Bencana. Health and
Nutritions, III(1), 1–9.
http://jurnal.poltekkesgorontalo.ac.id/index.php/JHN/article/view/115

Utami, W. (2019). Gambaran Diagnosis Penyakit Pasien Terdampak Unriyo Di Camp


Pengungsian Balaroa Overview of Disease Diagnosis Who Are Impacted Earthquake and
Tsunami in Palu in Unriyo Health Post in Balaroa Refugeing Camp. Pendekatan
Multidisiplin Ilmu Dalam Manajemen Bencana, November 2018, 1–6.

Widayatun, & Fatoni, Z. (2013). Health Problems in a Disaster Situation : the Role of Health
Personnels and Community Participation. Jurnal Kependudukan Indonesia, 8(1), 37–52.

35