Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat serta karunia-nya kepada kami sehingga makalah ini dapat
di selesaikan. Makalah ini di susun dalam rangka memenuhi tugas mata kulia
Falsafah dan Teori Keperawatan menurut Nola J. Pender yakni Health Promotion
Models (HPM).

Tiada gading yang tak retak, begitu pula dengan penyusunan Makalah kami
ini, kami menyadari bahwa makalah kami ini jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, segala kriktik serta saran yang membangun bisa menjadi sebuah
pembelajaran bagi kami selaku penulis. Agar kelak kami membuat dengan baik
lagi.

Semoga makalah ini memberikan manfaat bagi pembaca pada khususnya serta
dapat membantu meningkatkan harkat dan martabat bangsa kita dalam
membanggun bangsa Indonesia tercinta ini.

Gorontalo, November 2020

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
1.3.2. Tujuan Khusus
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Latar Belakang Teori Nola J. Pender
2.2. Konsep Utama Nola J. Pender
2.3. Asumsi Dasar Dari Promosi Kesehatan
2.4. Proposisi Model Promosi Kesehatan
2.5. Revisi Model Promosi Kesehatan (HPM)
2.6. Konteks Penggunaan dan Implikasi Keperawatan
2.7. Penjelasan Model HPM Pender
BAB III PENUTUP
3.1.Daftar Pertanyaan
3.2. Kesimpulan
3.3. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
2.1 Latar Belakang

Salah satu tujuan pokok dalam pembangunan kesehatan adalah peningkatan


kemampuan masyarakat untuk hidup sehat mengatasi sendiri masalah kesehatan
sederhana terutama melalui upaya peningkatan, pencegahan dan penyembuhan.
Peningkatan derajat kesehatan yang terdiri dari strategi yang dihubungkan dengan
gaya hidup individu dan pilihan sendiri ;antara lain aktivitas fisik dan latihan fisik,
nutrisi, tembakau, alkohol dan obat terlarang lainnya. Rencana keluarga,
kesehatan mental dan kerusakan mental, emosi dan ketergantungan obat-obatan
serta pendidikan dan program berdasarkan komunikasi. Tujuan itu akan dicapai
antara lain melalui peningkatan dan pemantapan upaya kesehatan.Hidup sehat
merupakan kebutuhan dan tuntutan yang semakin meningkat, walaupun pada
kenyataanya derajat kesehatan masyarakat Indonesia masih belum sesuai dengan
harapan. Sementara itu pemerintah telah mencanangkan Indonesia Sehat, yang
merupakan paradigma baru yaitu paradigma sehat, yang salah satunya
menekankan pendekatan dan preventif dan mengatasi permasalahan di
masyarakat. Terjadinya pergeseran paradigma dalam pemberian pelayanan
kesehatan dan model medical yang menitik beratkan pada pelayanan pada
diagnosis dan pengobatan paradigma sehat yang lebih holistik yang melihat
penyakit dan gejala sebagai informasi dan bukan sebagai fokus pelayanan.
Perubahan paradigma pelayanan kesehatan dari kuratif kearah promitif dan
peventif ini telah di respon oleh ahli teori keperawatan Nola J. Pender dengan
menghasilkan karya tentang “Health Promotion Model” atau ,Model Promosi
Kesehatan. Dalam makalah ini akan dikemukakan tentang Model Promosi
Kesehatan Nola J. Pender serta komponen paradigma keperawatan tentang model
promosi kesehatan.

2.2 Rumusan masalah


1. Bagaimana sejarah latar belakang teori Nola J. Pender?
2. Apa saja konsep-konsep utama dari teori Nola J. Pender?
3. Apa saja asumsi-asumsi utama keperawatan dari teori Nola J. Pender?
4. Apa saja penegasan-penegasan yang ada dalam teori Nola J. Pender?
5. Bagaimana penerimaan teori Nola J. Pender oleh komunitas keperawatan?

2.3 Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk memperoleh gambaran nursing theory dari model promosi kesehatan
dari Nola J. Pender dalam lingkup layanan keperawatan.
2. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui latar belakang teori, konsep, asumsi serta penerimaan teori
Nola J. Pender
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Latar Belakang Teori Nola J. Pender

Nola J. Pender dilahirkan tanggal 16 Agustus 1941 di Lansig, Michigan.


Keterkaitan pada keperawatan bermula dari Nola J. Pender berusia 7 tahun, pada
saat mengamati para perawat yang sedang memberi asuhan keperawatan pada
bibinya di rumah sakit. Keinginannya untuk memberikan perawatan kepada orang
lain dikembangkan melalui pengalaman dan pendidikan yang ia yakini sebagai
profesi yang menolong orang lain.

Pada tahun 1962 merai gelar diploma keperawatan dan selanjutnya diterima
bekerja di unit beda RS Michigan. Tahun 1964, merai gelar BSN di Universitas
State Michigan di East Lansig, dan gelar MA pada bidang pertumbuhan dan
perkembangan di Universitas Michigan di raih pada tahun 1965. Gelar Ph.D di
bidang psikologi dan pendidikan diraih tahun 1969 dari Universitas Nort Westren
di Evanston, IIIinois. Pemihakannya dengan Albert Pender seorang asisten
professor di bidang bisnis dan ekonomi memberikan informasi menghasilkan
sebuah tulisan tentang keperawatan dalam prepektif ekonomi.

Tahun 1975, Dr. Pender mempublikasikan model konseptual kesehatan


preventif. Dasar studinya adalah bagaimana individu membuat keputusan tentang
perawatan kesehatan mereka sendiri dalam konteks keperawatan. Artikel tersebut
mengidentifikasikan faktor-faktor yang ditemukan dalam pengambilan keputusan
dan tindakan yang diperlukan individu dalam pencegahan. Pada tahun 1982, edisi
pertama promosi optimal tentang kesehatan pertama kali diterbitkan tahun 1987
dan mengalami revisi tahun 1996 yang memuat model promosi kesehatan dan di
presentasikan.

2.2 Konsep Utama Teori Nola J. Pender

Teori model konseptual Nola J. Pender di latar belakangi oleh adanya suatu
bentuk pergeseran paradigma, dimana pergeseran paradigma ini terjadi dalam
suatu bentuk pemberian pelayanan kesehatan yang menitik beratkan pada
paradigma kesehatan dan keperawatan yang lebih holistik dalam memandang
sebuah penyakit dan berbagai gejala penyebabnya, bukan sebagai fokus pelayanan
kesehatan saja.

Pada perubahan paradigama inilah yang menjadikan perawat sebagai posisi


kunci dalam berbagai peran dan fungsinya dalam melakukan pelayanan kesehatan.
Hampir semua lapisan dibidang pelayanan kesehatan dalam melakukan pelayanan
promosi dan preventif (pencegahan) kesehatan dilakukan oleh para perawat. Oleh
karena adanya promosi dan preventif kesehatan yang cenderung dilakukan dan
diupayakan oleh perawat inilah lahir sebuah teori dan modal konseptual dari Nola
J. Pender yang berjudul “Health Promotion Model” atau Model Promosi
Kesehatan.

Model promosi kesehatan ini merupakan sebuah teori yang menggabungkan 2


teori yaitu Teori Nilai Harapan (Expectancy value) dan Teori kognitif Social
(Social Cognitive). Teori Pender tentang model promosi kesehatan ini konsisten
dan berfokus pada pentingnya promosi dan pencegahan kesehatan untuk
dilakukan guna peningkatan kesehatan klien atau masyarakat yang lebih baik dan
optimal. Berikut ini penjelasan mengenai 2 teori yang menjadi komponen
terbentuknya teori model promosi kesehatan:

1. Teori Nilai Harapan (Expectancy value theory)


Menurut teori ini, perilaku sehat klien maupun individu secara pribadi
bersifat, rasional atau ekonomi. Secara rasional individu akan bertindak
sebagaimana mestinya dalam mencapai sebuah apa yang mereka inginkan,
dan juga mereka cenderung akan mempertahankannya ketika keinginan
tersebut telah dicapai, yaitu dengan cara :
a. Meningkatkan hasil yang ingin dicapai yang disebut sebagai nilai personal
yang positif.
b. Peningkatan berdasarkan informasi yang tersedia untuk mencapai hasil
yang dinginkan, individu tidak akan melakukan sesuatu tindakan yang
tidak berguna dan tidak bernilai bagi dirinya. Individu tidak akan
melakukan kegiatan walaupun kegiatan tersebut menarik bagi dirinya jika
dirasakan tidak mungkin kegiatan tersebut dicapainya.
2. Teori Kognitif Sosial
Teori ini lebih cenderung sebagai model interaksi antara individu dengan
lingkungan, individu lain yang melibatkan perilaku sebagai suatu hal yang
saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Dalam teori ini setiap
individu harus mampu mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang lebih
dalam membina hubungan dengan lingkungan sekitar untuk mendukung
proses adaptif, sehingga hal ini mampu menjadi pencegahan dan promosi
kesehatan yang dapat delakukan untuk menghindari kemungkinan terjadinya
sakit.

2.3 Asumsi Dasar Dari Promosi Kesehatan

Pender(1996) menyatakan asumsi dasar HPM adalah manusia, lingkungan, dan


kesehatan yaitu sebagai berikut :

1. Manusia mencoba menciptakan kondisi kehidupannya melalui apa yang


bisa mereka nyatakan dalam kesehatan mereka yang potensial.
2. Manusia memiliki kapasitas untuk merefleksikan kesadaran diri, termasuk
penilaian mereka terhadap kemampuan yang dimiliki.
3. Pertumbuhan nilai manusia diperlihatkan sebagai bentuk positif dan usaha
untuk mencapai keseimbangan personal yang dapat diterima antara
perubahan dan stabilitas.
4. Individu megusahakan pengaturan yang efektif terhadap perilakunya.
5. Individual secara kompleksitas biopsikososial berinteraksi dengan
lingkungan, perubahan lingkungan yang progresif akan terjadi sepanjang
masa.
6. Rekonfigurasi yang dimulai oleh diri sendiri merupakan pola interaktif
antara manusia dan lingkungan sangat esensial untuk perubahan perilaku.
7. Pembentukan kembali konsep dari manusia dengan lingkungan adalah
penting untuk perilaku

2.4 Proposisi Model Promosi Kesehatan


1. Perilaku sebelumnya dan karakteristik yang diperoleh mempengaruhi
kepercayaan dan perilaku untuk meningkatkan kesehatan.
2. Manusia melakukan perubahan perilaku dimana mereka mengharapkan
keuntungan yang bernilai bagi dirinya.
3. Rintangan yang disarankan dapat menjadi penghambat kesanggupan
melakukan tindakan, suatu mediator perilaku sebagiamana perilaku nyata.
4. Promosi atau suatu pemanfaatan diri akan menambah kemampuan untuk
melakukan tindakan dan perubahan dari perilaku.
5. Pemanfaatan diri yang terbesar akan menghasilkan sedikit rintangan pada
perilaku kesehatan spesifik.
6. Pengaruh positif pada perilaku akibat pemanfaatan diri yang baik dapat
menambah hasil positif.
7. Ketika emosi yang positif atau pengaruh yang berhubungan dengan
perilaku, maka kemungkinan menambah komitmen untuk bertindak.
8. Manusia lebih suka melakukan promosi kesehatan ketika model perilaku
itu menarik, perilaku yang diharapkan terjadi dan dapat mendukung
perilaku yang sudah ada.
9. Keluarga, kelompok dan pemberi layanan kesehatan adalah sumber
interpersonal yang penting yang mempengaruhi, menambah atau
mengurangi keinginan untuk perperilaku promosi kesehatan.
10. Pengaruh situasional pada lingkungan eksternal padat menambah atau
mengurangi keinginan untuk berpartisipasi dalam perilaku promosi
kesehatan.
11. Komitmen tersebut pada suatu rencana kegiatan yang spesifik lebih
memungkinkan perilaku promosi kesehatan dipertahankan untuk jangka
waktu yang lama.
12. Komitmen pada rencana kegiatan kemungkinan kurang meunjukkan
perilaku yang diharapkan ketika seseorang mempunyai kontrol yang
sedikit dan kebutuhan yang diinginkan tidak tersedia. Komitmen pada
rencana kegiatan kurang menunjukkan perilaku yang diharapkan ketika
tindakan-tindakan lain lebih atraktif dan juga lebih suka pada perilaku
yang diharapkan.
13. Seseorang dapat memodifikasi kognisi, mempengaruhi interpersonal dan
lingkungan fisik yang mendorong melakukan tindakan kesehatan.

2.5 Revisi Model Promosi Kesehatan (HPM)


1. Sikap yang berhubungan dengan aktifitas
Setiap manusia mempunyai karakteristik yang unik dan pengalaman yang
dapat mempengaruhi tindakannya, karakteristik individu atau aspek
pangalaman dahulu lebih fleksibel sebagai variabel karena lebih relevan para
perilaku kesehatan utama atau sasaran populasi utama.
2. Komitmen rencana tindakan
Proses kognitif yang mendasar adanya rencana tindakan diantaranya :
a. Komitmen untuk melaksanakan tindakan spesifik sesuai waktu dan
tempat dengan orang-orang tertentu atau sediri dengan mengabaikan
persaingan.
b. Identifikasi strategi tertentu untuk mendapatkan, melaksanakan atau
penguatan terhadap perilaku.
Rencana kegiatan dikembangkan oleh perawat dan klien dengan pelaksanaan
yang sukses, misalnya strategi dengan kontrak yang disetujui bersama-sama
di mana satu kelompok lain memberi nyata atau penguatan jika komitmen itu
didukung. Komitmen sendiri tanpa strategi yang berhubungan saling
menghasilkan tujuan baik tetapi gagal dalam membentuk suatu nilai perilaku
kesehatan.
3. Kebutuhan Yang Mendesak
Kebutuhan mendesak pilihan menjadi perilaku alternative yang mendesak
masuk ke dalam kesadaran sehingga tindakan yang mungkin dilakukan segera
sebelum kejadian terjadi (suatu rencana perilaku promosi kesehatan). Perilaku
alternative ini menjadikan individu dalam kontrol rendah. Karena lingkungan
tak terduga seperti kerja atau tanggung jawab merawat keluarga. Kegagalan
merespon permintaan berakibat tidak menguntukan bagi diri atau orang lain.
Pilihan permintaan sebagai perilaku alternative dengan penguatan di mana
individu mempunyai level kontrol yang tinggi. Misalnya memilih makanan
tinggi lemak dari pada rendah lemak karena pilihan rasa, bau atau selera.
Permintaan yang mendesak dibedakan dari hambatan di mana individu
seharusnya melaksanakan suatu alternative perilaku berdasarkan permintaan
eksternal yang tidak disangka atau hasil yang tidak sesuai.

2.6 Konteks Untuk Penggunaan Dalam Implikasi Keperawatan

Layanan promosi kesehatan sangat penting untuk meningkatkan kesehatan


populasi di mana-mana. Perlu dicatat bahwa orang dari segala usia bisa
mendapatkan keuntungan dari promosi kesehatan. Yang harus disampaikan di
mana orang menghabiskan banyak waktu mereka (misalnya sekolah dan tempat
kerja). Perawat dapat mengembangkan dan melaksanakan intervensi promosi
kesehatan kepada individu, kelompok, dan keluarga di sekolah, pusat perawatan,
pengaturan kesehatan kerja dan masyarakat pada umumnya. Perawat harus
bekerja kearah pemberdayaan untuk perawatan diri dan meningkatkan kapasitas
klien untuk perawatan diri melalui pendidikan dan pengembangan.

Bagan Model Konseptual


Bagan ini bergerak menuju pemahaman multi fungsi dari sifat alami
seseorang yang berhubungan dengan hubungan interpersonal alami mereka
dan berinteraksi dengan lingkungan fisik saat mereka memiliki pengalaman
terhadap kesehatan. Karena model ini, perawat memiliki kemajuan dalam
pendekatan kesehatan kepada mereka, menangani tidak hanya sisi kuratif,
tetapi juga sebagai pencegahan penyakit dan promosi kesejahteraan. Aplikasi
dari teori ini dalah bervariasi dan subtansif.

KARAKTERISTIK DAN PENGALAMAN INDIVIDU

ASPEK KOGNISI DAN AFEKSI DARI PERILAKU KHUSUS


Manfaat yang dipersepsikan terhadap suatu tindakan

PERILAKU YANG DIHARAPKAN


Perilaku sebelumnya yang terkait
Hambatan yang dipersepsikan terhadap suatu tindakan
Persepsi terhadap keyakinan diri
Pengaruh yangditimbulkan oleh suatu aktivitas
Kebutuhan yg mendesak(kendali rendah) berbagai pilihan(kendali \tinggi)
Faktor pribadi;
biologis, psikologis, social budaya
Pengaruh hubungan interpersonal( keluarga,
kelompok,provider),norma,dukungan dan model
Pengaruh situasional: pilihan yang tersedia, kebutuhan, karakteristik dan
estetika
Komitmen merencanakan suatu tindakan
Perilaku promosi kesehatan
2.7.Penjelasan Model HPM Pender
1. Karateristik dan pengalaman individu :
a. Perilaku sebelumnya mempunyai pengaruh langsung atau tidak
langsung dalam pelaksanaan perilaku promosi kesehatan, yaitu:
· Pengaruh tidak langsung adalah melalui persepsi pada self efficacy,
manfaat, hambatan dan pengaruhi positif atau negative dari perilaku baik
sebelum, saat itu ataupun setelah perilaku tersebut dilaksanakan akan
dimasukan kembali saat akan melakukan perilaku tersebut di kemudian
waktu. Perawat dapat membantu pasien membentuk suatu riwayat perilaku
yang positif bagi masa depan dengan memfokuskan pada tahap perilaku
tersebut. Membantu pasien bagaimana mengatasi rintangan dalam
melaksanakan perilaku tersebut dan meningkatkan level atau efficacy dan
pengaruh positif melalui pengalaman yang sukses dan feed back yang positif.
· Pengaruh langsung dari perilaku masa lalu terhadap perilaku promosi
kesehatan saat ini dapat menjadi pembentuk kebiasaan yang mempermudah
seseorang melaksanakan perilaku tersebut secara otomatis.
b. Faktor Personal, meliputi aspek bilogis, psikologis dan social budaya.
Faktor-faktor ini merupakan prediksi dari perilaku yang didapat dari dibentuk
secara alami oleh target perilaku.
· Faktor Biologis Personal
Termasuk dalam faktor ini adalah umur, indeks massa tubuh, status pubertas,
status menopause, kapasitas erobik, kekuatan, dan defenisi sehat.
· Faktor Psikologis Personal
Variabel yang merupakan bagian dari faktor ini adalah harapan dari, motivasi,
kemampuan, personal, status kesehatan, dan defenisi sehat.
· Faktor Sosial Kultural
Faktor ini meliputi suku, etnis, pendidikan, dan status ekonomi.
2. Aspek Kognisi Dan Afeksi Dari Perilaku Khusus (Behaviour-Spesific
Cognitionsand Affect)
· Manfaat Yang Dipersepsikan Terhadap Suatu Tindakan
Rencana seseorang melaksanakan perilaku tertentu tergantung pada antisipasi
terhadap manfaat atau hasil yang akan dihasilkan. Anitisipasi terhadap
manfaat merupakan representasi mental dan konsekuensi perilaku positif.
Berdasarkan teori expecting value.
· Hambatan Yang Dipersepsikan Terhadap Suatu Tindakan
Hambatan yang diantisipasikan telah secara berulang terlihat dalam penelitian
empiris, mempengaruhi intensitas untuk terlibat dalam suatu perilaku yang
nyata dan perilaku aktual yang dilaksanakan, hambatan-hambatan ini dapat
berupa imaginasi maupun nyata. Hambatan ini terdiri atas :
persepsi,mengenai ketidak tersediaan, tidak menyenangkan, biaya, kesulitan
atau penggunaan waktu untuk tindakan-tindakan khsusu. Hambatan-hambatan
ini sering dilihat sebagai suatu blocks, rintang dan personal cost dari perilaku
yang di berikan. Hilangnya kepuasan dalam menghindari atau menghilangkan
perilaku-perilaku yang merusak kesehatan seperti merokok atau makan
makanan tinggi lemak untuk mengadopsi perilaku atau gaya hidup yang lebih
sehat juga dapat menjadi suatu halangan. Halangan ini biasanya
membangunkan motivasi untuk menghindariperilaku-perilaku yang diberikan.
Bila kesiapan untuk bertindak rendah dan hambatan tinggi maka tindakan ini
tidak mungkin terjadi. Jika kesiapan untuk bertindak tinggi dan hambatan
rendah kemungkinan untuk melakukan tindakan lebih besar. Barier tindakan
seperti yang dilukiskan dalam HPM mempengaruhi kesehatan secara
langsung dengan bertindak sebagai locks terhadap tindakan seperti penurunan
komitmen untuk merencanakan tindakan.
· Persepsi Terhadap Keyakinan Diri
Self efficacy seperti didefenisikan oleh Bandura adalah judgment atau
keputusan dari kapabilitas seseorang untuk mengorganisasi dan menjalankan
tindakan secara nyata. Judgment dari personal efficacy dibedakan dari
harapan yang ada dalam tujuan. Perceived self efficacy adalah judgment dari
kemampuan untuk menyelesaikan tingkat performance yang pasti, dimana
tujuannya atau harapannya adalah suatu judgment dari suatu konsekuensi
sebanyak perilaku yang akan dihasilkan. Persepsi dari ketrampilan dan
kompetensi dalam domain Motivasi Individu untuk melibatkan perilaku-
perilaku yang mereka lalui. Perasaan efficacy dan ketrampilan dalam
perfomence seseorang sepertinya mendorong untuk melibatkan atau
menjalankan perilaku yang lebih banyak dari pada perasaan ceroboh dan
tidak terampil
Pengetahuan individu tentang self efficacy didasarkan pada 4 tipe informasi:
1) Pencapain perfomence dari perilaku yang dilaksanakan secara nyata dan
evaluasi perfomence yang berhubungan dengan beberapa standard pribadi
atau umpan balik yang diberikan.
2) Pengalaman-pengalaman dan mengobsevarsi perfomence orang lain dan
hubungan dengan evaluasi dari sendiri dan upan balik pada orang lain.
3) Ajakan secara verbal kepada orang lain bahwa mereka mempunyai
kemampuan untuk melaksanakan tindakan tertentu.
4) Kondis psikologis (kecemasan, ketakutan, ketenangan) di mana
seseorang menyatakan kemampuannya.
Dalam HPM, self efficacy yang diperoleh dipengaruhi oleh activity related
affect. Makin positif affect, makin besar persepsi eficacynya, sebaliknya self
efficacy mempengaruhi hambatan tindakan, dimana efficacy yang tinggi akan
mengurangi persepsi terhadap hambatan untuk melaksanakan perilaku yang
ditargetkan. Self efficacy memotivasi perilaku promosi kesehatan secara
langsung dengan harapan efficacy dan secara tidak langsung dengan
mempengaruhi hambatan dan komitmen dalam melaksanakan rencana
tindakan.
· Pengaruh Yang Ditimbulkan Oleh Suatu Aktivitas(Activity-related
Affect)
Perasaan subjektif muncul sebelum, saat dan setelah suatu perilaku,
disasarkan pada sifat stimulus perilaku itu sendiri. Respon afektif ini dapat
ringan,sedang atau kuat dan secara sadar di nanti, disimpan didalam memori
dan dihubungkan dengan pikiran-pikiran perilaku selanjutnya. Respon-respon
afektif terhadap perilaku khusus terdiri atas 3 komponen yaitu:
· Activity-related, yaitu emosional yang muncul terhadap tindakan itu
sendiri
· Self-related, yaitu menindaki diri sendiri
· Context-related, yaitu lingkungan dimana tindakan itu terjadi.
Perasaan yang dihasilkan kemungkinan akan memengaruhi apakah individu
akan mengulang perilaku itu lagi atau mempertahankan perilaku lamanya.
Perasaan yang tergantung pada perilaku ini telah diteliti sebagai determinan
perilaku kesehatan pada penelitian terakhir. Perilaku yang berhubungan
dengan afek positif kemungkinan akan diulang dan yang negative
kemungkinan akan dihindari. Beberapa perilaku bisa menimbulkan perasaan
positif dan negative. Dengan demikian, keseimbangan di antara afek positif
dan negative saat sebelum dan setelah perilaku tersebut merupakan hal yang
penting untuk diketahui.
Activity-related Affect ii berbeda dari dimensi evaluasi terhadap sikap
lebih mencerminkan sikap yang dikemukakan oleh Fishbein dan Ajzen.
Dimensi evaluasi terhadap sikap lebih mencerminkan evaluasi afektif pada
hasil spesifik dari suatu perilaku dari pada respon terhadap sifat stimulus
perilaku itu sendiri. Untuk beberapa perilaku yang diberikan, rentang penuh
dari perasaan negative dan positif harus diuraikan shingga keduanya dapat
diukur secra akurat. Dalam beberapa instrument untuk mengukur afek,
perasaan negative diuraikan secara lebih luas dari pada perasaan positif. Hal
ini tidak mengherankan karena kecemasan, ketakutan dan depresi telah diteliti
lebih banyak dibandingkan perasaan senang, gembira dan tenang.
Berdasarkan teori kognitif social, terdapat hubungan antara self-efficacy dan
activity related affect.
Mc. Aulay dan Courneya menemukkan bahwa respon afek positif saat
latihan merupakan predictor yang penting terhadap Efficacy setelah latihan.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Bandura bahwa respon emosional dan
pengaruhnya terhadap keadaan psikologis saat melakukan suatu perilaku
berperan sebagai sumber informasi efficacy. Dengan demikian, activity-
related. Affect dikatakan memengaruhi perilaku kesehatan secara langsung
maupun tidak langsung melalui self-efficacy dan komitmen terhadap rencana
tindakan.
· Pengaruh Interpersonal (Interpersonal Influences)
Menurut HPM, pengaruh interpersonal adalah kesadaran mengenai perilaku,
kepercayaan ataupun sikap terhadap orang lain. kesadaran ini bisa atau tidak
bisa sesuai dengan kenyataan. Sumber utama pengaruh interpersonal pada
perilaku promosi kesehatan adalah (orang tua dan saudara kandung),
teman,dan petugas perawat kesehatan. Pengaruh interpersonal meliputi norma
(harapan dari orang-orang yang berarti), dukungan social dan
modeling(pembelajaran melalui mengobservasi perilaku khusus seseorang).
Tiga proses interpersonal meliputi : norma (harapan dari orang-orang yang
berarti),dukungan sosil dan modeling (pembelajaran melalui mengobservasi
perilaku khusus seseorang).Tiga proses impersonal ini pada sejumlah
penelitian kesehatan tampak mempredisposisi seseorang untuk melaksanakan
perilaku promosi kesehatan. Norma social membentuk standar pelaksanaan
yang dapat dipakai atau ditolak oleh individu. Dukungan social untuk suatu
perilaku menyediakan sumber-sumber dukungan yang diberikan oleh orang
lain. Modeling menggambarkan komponen berikutnya dari perilaku
kesehatan dan merupakan strategi yang penting bagi perubahan perilaku
dalam teori kognitif social. Pengaruh interpersonal memengaruhi perilaku
promosi kesehatan secara langsung maupun tidak langsung melalui tekanan
social atau dorongan untuk komitmen terhadap rencana tindakan.
Individu sangat berbeda dalam sensitivitas mereka terhadap harapan,
contoh pujian orang lain. namun, diberikan motivasi yang cukup untuk
berperilaku dalam cara yang konsisten dengan pengaruh interpersonal,
individu mungkin akan melakukan perilaku-perilaku yang akan menimbulkan
pujian dan dukungan social bagi mereka.

· Pengaruh situasional (Situasional Influences)


Persepsi dan kesadaran personal terhadap berbagai situasi atau keadaan dapat
memudahkan atau menghalangi suatu perilaku. Pengaruh situasi pada
perilaku promosi kesehatan meliputi persepsi terhadap pilihan yang ada,
kharakteristik prmintaan,dan ciri-ciri estetik dari suatu lingkungan dimana
perilaku tersebut dilakukan. Individu tertarik dan lebih kompeten dalam
perilakunya di dalam situasi atau keadaan lingkungan yang mereka rasa lebih
cocok dari pada lingkungan yang tidak cocok, lingkungan yang berhubungan
dari pada yang asing, lingkungan yang aman dan meyakinkan dari pada
lingkungan yang tidak aman dan mengancam. Lingkungan yang menarik juga
lebih diinginkan untuk melaksanakan perilaku kesehatan.
Dalam HPM, pengaruh situasional telah dikemukakan sebagai
pengaruh langsung atau tidak langsung pada perilaku kesehatan. Situasi dapat
secara langsung mempengaruhi perilaku dengan menyediakan suatu
lingkungan yang diisi dengan petunjuk-petunjuk yang akan menimbulkan
tinakan. Sebagai contoh, suatu lingkungan yang ditulis dilarang merokok
dilingkungan tersebut seperti yang diminta. Kedua situasi ini mendukung
komitmen untuk tindakan kesehatan. Pengaruh situasional telah memberikan
sedikit perhatian pada penelitian HPM sebelumnya dan dapat diteliti lebih
lanjut sebagai determinan yang secara potensial penting bagi perilaku
kesehatan. Mereka dapat dipegang sebagai kunci penting dalam
megembangkan strategi baru yang lebih efektif untuk memfasilitasi
penerimaan dan pemahaman perilaku kesehatan.
3. Perilaku Yang Diharapkan
Tanggung jawab untuk merencanakan tindakan (POA) merupakan awal dari
suatu peristiwa perilaku. Tanggung jawab ini akan mendorong individu ke
arah yang diharapkan.
1) Tanggung Jawab Untuk Merencanakan Tindakan (POA)
Manusia umumnya meningkatkan perilaku berorganisasi dari pada tidak.
Kesengajaan adalah factor utama yang menetukan kemauan berperilaku.
Tanggung jawab dalam merencanakan tindakan pada HPM yang telah direvisi
menunjukkan pokok yang mendasari proses kognitif.
2) Tanggung jawab untuk melakukan tindakan yang spesifik pada waktu dan
tempat yang telah diberikan dengan orang-orang tertentu atau secara
sendirian, dengan mengabaikan pilihan berkompetensi.
3). Mengidentifikasi strategi-strategi yang menetukan untuk mendapatkan,
membawa dan memperkuat perilaku.
4). Kebutuhan mengidentifikasi strategi-strategi spesifik digunakan pada
tempat yang berbeda didalam rangkaian perilaku, kedepannya merupakan
kemungkinan yang disengaja dan yang lebih lanjut bahwa perencanaan
tindakan (POA) yang dikembangkan oleh perawat dank lien akan sukses di
implementasikan. Tanggung jawab sendiri tanpa strategi-strategi dari teman
sejawat sering menghasilkan tujuan yang baik namun gagal membentuk suatu
nilai perilaku kesehatan.
5). Kebutuhan Untuk Segera Berkompetisi dan Pilihan-pilihan
Hal ini merujuk pada alternative perilaku yang memaksakan ke dalam
kebingungan sebagai bagian dari yang mungkin terjadi sebelumnya dan
segera diharapkan menjadi perilaku prmosi kesehatan yang direncanakan.
Kebutuhan berkompetisi dipandang sebagai perilaku alternative dimana
dimana individu relative memiliki level control yang rendh karena
ketrgantungan terhadap lingkungan seperti bekerja atau tanggung jawab
perawatan keluarga. Kegagalan berespon terhadap suatu kebutuhan dapat
memiliki efek yang tidak menguntungkan untuk diri sendiri atau untuk hal-
hal lain yang penting. Pilihan berkompetisi dipandang sebagai alternative
perilaku dengan kekuatan penuh yang bersifat lebih yang mana individu
relative menggunakan level control yang tinggi. Mereka dapat mengeluarkan
perilaku promosi kesehatan dan setuju menjadi perilaku kompetisi. Tingkat
dimana individu mampu melawan pilihan kompetisi. Tingkat dimana individu
mampu melawan pilihan kompetensi tergantung pada kemampuannya
menjadi pengatur diri. Contoh dari “memberi” pilih kompetisi adalah memilih
makanan tinggi lemak dari pada rendah lemak karena rasa atau selera pilihan,
mengemudi dengan melewati pusat rekreasi, selalu berlatih berhenti di mall
(suatu pilihan untuk melihat-lihat atau belanja daripad berolahraga). Kedua
kompetisi dan pilihan dapat menggelincirkan suatu rencana tindakan yang
salah satunya telah dilakukan. Kebutuhan kompetisi dapat berbeda dari
rintangan yang harus dibawa oleh individu dan perilaku yang tidak
diantisipasi berdasarkan pada kebutuhan eksternal atau hasil yag tidak baik
dapat terjadi. Pilihan kompetisi dapat berbeda dari rintangan seperti
kekurangan waktu, karena pilihan kompetisis adalah dorongan terakhir yang
didasari pada hirarki pilihan yang menggelincirkan suatu rencana untuk
tindakan kesehatan yang positif. Ada terdapat bermacam kemampuan
individu untuk mendukung perhatian dan menghindari ganguan. Beberapa
individu dapat mempengaruhi perkembngan atau secara bilogis menjadi lebih
mudah dipengaruhi selama tindakan daripada yang lain. hambatan pilihan
kompetensi memerlukan latihan dari pengaturan diri sendiri. Didalam HPM,
kebutuhan kompetisi denga segera dan pilihan secara langsung
mempengaruhi kemungkinan terjadinya perilaku kesehatan sebagaimana
pengertian tanggung jawab modera.
6). Perilaku Promosi Kesehatan
Variable pada model ini telah ditujukan secara ektensif melalui buku
sehingga disini memerlukan sedikit diskusi yang lebih jauh. Perilaku promosi
kesehatan adalah titik akhir atau hasil tindakan pada HPM. Bagaimanapun
harus dicatat bahwa perilaku promosi kesehatan pada akhirnya adalah
langsung bertujuan untuk mencapai kesehatan yang positif bagi klien.
Perilaku promosi kesehatan khususnya ketika berintegrasi menjadi gaya
hidup sehat yang meliputi semua aspek kehidupan, menghasilakan
pengalaman kesehatan yang positif disepanjang proses kehidupan

BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Keperawatan memiliki peran untuk membantu klien termasuk memberi
pendidikan kesehatan, sehingga mereka memiliki perilaku baru yang dapat
memberikan dampak positif untuk kelangsungan hidupnya. Model promosi
kesehatan oleh Nola J. Pender dengan menggabungkan dua teori yaitu teori
Nilai Pengharapan (Expectancy Value) dan teori Pembelajaran Sosial ( Social
kognitive theory) yang memandang promosi kesehatan dan pencegahan
penyakit sebagai suatu yang logis dan ekonomis.
Model promosi kesehatan memandang klien sebagai manusia yang memiliki
fungsi yang holistic yang selalu berinteraksi dengan lingkungan. Oleh karena
itu lingkungan dapat mempengaruhi perilaku yang ditampilkan oleh klien.
Pengembangan perilaku baru yang diinginkan dapat dipelajari dari
pengalaman orang lain.
Model promosi kesehatan memiliki asumsi bahwa manusia selalu mencoba
menciptakan kondisi agar tetap hidup sehingga mereka dapat mengekpresikan
keunikannya. Perilaku untuk meningkatkan kesehatan dilihat dengan
memperhatikan perilaku sebelumnya, karena perilaku tersebut memberikan
efek secara langsung maupun tidak langsung terhadap perilaku promosi
kesehatan yang akan dipilih.
3.2.Saran
Semoga makalah ini dapat dimanfaatkan bagi siapapun yang memerlukan
informasi terkait isi makalah ini. Dengan tersusunnya makalah tentang
“Health Promotion Model” atau model promosi kesehatan olej Nola J. Pender
ini, maka kami berharap makalah ini mendapatkan kritik membangun dari
para pembaca demi kesempurnaan penulisan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Nola J. Pender.(1996).Health Promotion in Nursing Practice.USA:A


Simon & Schuster Compani
Tomey, A,2006.Nursing theorist and their work,6 edition.St,Louis,
Missouri:C.V.Mosby Company
Tomey dan Alligod.2006. Nursing Theorist and Their Work
Philladelphia.Mosby

Daftar Pertanyaan

1) Jelaskan 2 teori yang menjadi komponen teori Pender !


Penanya ; Lusi Yohana J. (kelompok 8)
2) Jelaskan yang dimaksud dengan “Rintangan yang disarankan dapat
menjadi penghambat kesanggupan melakukan tindakan” dalam proposisi
HPM dan berikan contoh rintangannya !
Penanya ; Mariana ( kelompok 4 )
3) Seperti apa tanggapan masyarakat atau individu terhadap promosi
kesehatan ?
Penanya ; Gresela Anjeli Pattikayhatu ( kelompok 3)
4) Jelaskan poin asumsi teori yang menyatakan “pembentukan kembali
konsep dari manusia dengan lingkungan adalah penting”!
Penanya ; Anjeli Parumpa ( kelompok 7)

Jawaban
1) Penjelasan serta contoh teori
· Teori Nilai Harapan (Expectancy value theory)
Menurut teori ini, perilaku sehat klien maupun individu secara pribadi
bersifat, rasional atau ekonomi. Secara rasional individu akan bertindak
sebagaimana mestinya dalam mencapai sebuah apa yang mereka inginkan,
dan juga mereka cenderung akan mempertahankannya ketika keinginan
tersebut telah dicapai.
Contoh : seorang perokok yang sudah menerima promosi kesehatan
( misalnya dalam bentuk sosialisasi) akan mulai berpikir apakah dia akan
terus merokok dan membiarkan kesehatannya terganggu karena itu atau kah
dia akan berusaha meninggalkan kebiasaan buruknya tersebut. Jika orang ini
mau berubah dan meninggalkan kebiasaannya itu maka otomatis orang itu
akan berusaha bagaimana caranya agar bisa mencapai tujuannya itu. Setelah
tercapai ia cenderung akan berusaha mempertahankan apa yang telah
dicapainya.
· Teori Kognitif Sosial
Teori ini lebih cenderung sebagai model interaksi antara individu dengan
lingkungan, individu lain yang melibatkan perilaku sebagai suatu hal yang
saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Dalam teori ini setiap
individu harus mampu mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang lebih
dalam membina hubungan dengan lingkungan sekitar untuk mendukung
proses adaptif.
Contoh : seorang anak dengan lingkungan pergaulannya yang kurang baik
bisa menyebabkan perilaku serta pola hidup ank tersebut menjadi buruk pula
di masa depan jika ia tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan yang lebih
untuk menangkal pengaruh buruk dari lingkungan dan pergaulannya.
2) Rintangan yang disarankan sebenarnya berarti saran terhadap individu
agar bisa mencapai promosi kesehatan.
Contoh : bagi seorang perokok meninggalkan kebiasaan merokok bukanlah
hal yang mudah dan ini bisa menjadi suatu tantangan baginya, sedangkan
tindakan inilah yang menjadi tujuan dari promosi kesehatan.
3) Ada berbagai macam tanggapan individu terhadap promosi kesehatan
misalnya dalam suatu sosialisasi disampaikan kepada masyarakat untuk
melakukan suatu tindakan sebagai tujuan dari promosi kesehatan. Namun ada
saja masyarakat yang menanggapi negative tentang hal tersebut dengan
berbagai alasan untuk tidak melakukan tindakan.
4) Pembentukan kembali konsep dari manusia dengan lingkungan adalah
penting. Maksudnya adalah manusia tidak pernah lepas dari lingkungannya
maka dari itu manusia perlu menjaga relasi yang baik dengan yang
lingkungan. Lingkungan berperan penting dalam pelaksanaan promosi
kesehatan oleh individu karena setiap tindakan yang bisa dilakukan oleh
individu mebutuhkan dukungan dari lingkunga misalnya lingkungan
keluarga.