Anda di halaman 1dari 11

3.

GEJALA-GEJALA KUANTUM
A. Kuantisasi dan perilaku zarah kuantum cahaya
A.1 Kuantisasi Besaran Fisika
Telah kita ketahui kalor merambat dengan 3 cara yaitu : konduksi, konveksi dan
radiasi.Radiasi adalah perpindahan kalor dalam bentuk pancaran gelombang
elektromagnetikoleh suatu benda ke lingkungan sekitarnya. Benda apapun di alam semesta
ini selalumemancarkan radiasiEnergi matahari sampai di bumi dengan cara radiasi
gelombangelektromagnetik. Demikian juga jika kita dekat dengan api ( benda yang lebih
panas )maka maka tubuh kita terasa hangat,ataupun disekitar pembakar alkohol suhu
udaradisekitarnya akan lebih tinggi .Radiasi ini dinamakan radiasi termal.
Berdasarkan eksperimen laju kalor radiasi termal suatu benda dipengaruhi oleh :
a.Suhu benda : semakin tinggi suhu suatu benda semakin besar laju radiasi kalor
b.Sifat permukaan benda : semakin kasar suatu benda semakin banyakmemancarkan
radiasidibandingkan permukaan halus
c.Luaspermukaanbenda:Permukaaanyangluasakanlebihbanyakmemancarkan radiasi
d.Jenis material : untuk jenis benda yang berbeda logam misalnya mempunyai lajuradiasi
kalor yang berbeda.

A.2 Radiasi Benda Hitam


Pada ujung abad ke-19, pancaran benda sempurna hitam merupakan sesuatuyang belum dapat
diterangkan dengan memuaskan. Maksudnya belum ada keteranganteoretik tentang bentuk
spektrum RT=RT(0) dari radiasi yang terpancar oleh suatu benda sempurna hitam yang
berada dalam suhu T.
Dalam ungkapan diatas : RT adalah radiasi spektral, yaitu jumlahnya energi yangdipancarkan
per satuan waktu dalam bentuk radiasi dengan satuan selang frekuensi(Δυ=1) oleh satuan
permukaan benda sempurna hitam yang suhunya T (oK) ,υadalah frekuensi radiasi thermal
oleh benda sempurna hitam. Bentuk grafik RT=RT(υ)adalah seperti dibawah. Satuan
RTadalah Watt/m2Hz sedangkan satuanυadalah Hz.Pancaran radiasi oleh benda seperti
diatas, yaitu yang disebabkan oleh suhubenda itu, dinamakan radiasi termal (thermal
radiation). Telaah tentang radiasi ermaldiajukan untuk mengetahui hakekatnyaradiasi energi
dalam hubungannya dengan suhu
T suatu benda. Dalam hal ini ingin dihindarkan pengaruh dari benda itu sendiri
(macambahan, halus dan warna permukaan, bentuk dan lain-lain).

A. 3 Efek Compton


Efek compton ditemukan oleh Arthur Holy Compton pada tahun 1923. Menurut teori
kuantum cahaya, foton berlaku sebagai partikel, hanya foton tidak memiliki massa diam. Jika
pendapat ini benar, maka berdasarkan peristiwa efek fotolistrik yang dikemukakan oleh
Einstein, Arthur Holy Compton pada tahun 1923 telah mengamati gejala-gejala tumbukan
antara foton yang berasal dari sinar X dengan elektron. Compton mengamati hamburan foton
dari sinar X oleh elektron dapat diterangkan dengan menganggap bahwa foton seperti partikel
dengan energi hf dan momentum hf/c cocok seperti yang diusulkan oleh Einstein.
1.    Penemuan Efek Compton
Percobaan Compton cukup sederhana yaitu sinar X monokromatik (sinar X yang memiliki
panjang gelombang tunggal) dikenakan pada keping tipis berilium sebagai sasarannya.
Kemudian untuk mengamati foton dari sinar X dan elektron yang terhambur dipasang
detektor. Sinar X yang telah menumbuk elektron akan kehilangan sebagian energinya yang
kemudian terhambur dengan sudut hamburan sebesar θ terhadap arah semula. Berdasarkan
hasil pengamatan ternyata sinar X yang terhambur memiliki panjang gelombang yang lebih
besar dari panjang gelombang sinar X semula. Hal ini dikarenakan sebagian energinya
terserap oleh elektron. Jika energi foton sinar X mula-mula hf dan energi foton sinar X yang
terhambur menjadi (hf – hf’) dalam hal ini f > f’, sedangkan panjang gelombang yang
terhambur menjadi tambah besar yaitu λ > λ’.
2.    Skema Percobaan Efek Compton

Skema percobaan Compton untuk menyelidiki tumbukan foton dan elektron


Dengan menggunakan hukum kekekalan momentum dan kekekalan energi Compton berhasil
menunjukkan bahwa perubahan panjang gelombang foton terhambur dengan panjang
gelombang semula, yang memenuhi persamaan :
Dengan

λ = panjang gelombang sinar X sebelum tumbukan (m)


λ’ = panjang gelombang sinar X setelah tumbukan (m)
h = konstanta Planck (6,625 × 10-34 Js)
mo = massa diam elektron (9,1 × 10-31 kg)
c = kecepatan cahaya (3 × 108 ms-1)
θ = sudut hamburan sinar X terhadap arah semula (derajat atau radian)
Besaran  sering disebut dengan panjang gelombang Compton. Jadi jelaslah sudah bahwa
dengan hasil pengamatan Compton tentang hamburan foton dari sinar X menunjukkan bahwa
foton dapat dipandang sebagai partikel, sehingga memperkuat teori kuantum yang
mengatakan bahwa cahaya mempunyai dua sifat, yaitu cahaya dapat sebagai
gelombang dan cahaya dapat bersifat sebagai partikel yang sering disebut sebagai dualime
gelombang cahaya.
Peristiwa Hamburan Compton ( efek compton) sebenarnya merupakan gejala interaksi antara
foton ( diwakili oleh sinar – x ) dengan materi ( elektron yang terdapat dalam bahan ). 
Compton dapat menjelaskan terjadinya pergeseran panjang gelombang foton yang terjadi
serta hubungan antara pergeseran ini dengan sudut hamburan, dengan menyusun hipotesis
berikut :
Hamburan terjadi karena tumbukan foton sinar – x dengan elektron dalam zat sasaran. Dalam
peristiwa tumbukan foton berperilaku sebagai zarah ( partikel), dalam arti hukum kekekalan
energi dan momentum linear menguasai peristiwa tumbukan antara foton dan elektron yang
berpartisipasi.
Foton berenergi E dan momentum linear p menumbuuk elektron dalam keadaan tak gerak.
Sesudah tumbukan foton terhambur dengan sudut ʘ,energinya E sedang momentum linear
nya p. Disisi lain elektron terhambur dengan sudut ɸ dengan energi nya Ec dan
momentumnya Pc .
Berdasarkan Hukum kekekalan energi sebelum dan sesdah tumbukan didapat :
 E + mc2 = E + Ec ...................................................................
Untuk hukum kekekalan momentum linear dinyatakan sebagai :
Arah x ; p = pc cos ɸ + p cos ʘ..............................................
Arah y; ʘ = pc sin ɸ - p sin ʘ ...............................................
Karena teori relativistik memberi hubungan antara energi total dan momentum linear, maka
keempat besaran yang belum diketahui E,Ec , ʘ dan ɸ beserta dua besaran yang tidak
diketahui dapat di eliminasikan , memberikan :
PC2 = p2 – 2pp cos ʘ + p2 .................................................................................
Menurut teori relativitas : Pc 2 = pc2 c2 + mc2 c4......................................................
Maka persamaan di atas dapat di ubah menjadi :
( E + mc c2 – E )2 = c2 ( p2 – 2pp cos ʘ + p2 ) + mc2 c4 ........................................
Persamaan terakhir memiliki bentuk :
Akhir nya di peroleh : ..................
Dengan hmcc = λc = 0,002426 nm disebut “ panjang gelombang compton untuk elektron”
Dengan menggunakan hukum kekekalan momentum maka energi kinetik maksimum elektron
terhambur dapat dinyatakan sebagai ;
Ek maks = (2hv/mcC2) (1- 2hv/mcC2)

A. 4 Efek Fotolistrik


Suatu eksperimen dilakukan pada akhir abad ke-19 untuk mengamati fenomena radiasi. Hasil
eksperimen menunjukkan bahwa cahaya yang menumbuk permukaan logam tertentu
menyebabkan elektron terlepas dari permukaan logam tersebut. Fenomena ini dikenal
sebagai Efek Fotolistrik dan elektron yang terlepas disebut sebagai fotoelektron. Skema
eksperimen yang dilakukan dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Eksperimen dilakukan dengan menembakkan berkas cahaya ke sebuah plat logam E yang
terdapat pada selubung gelas (agar kondisi eksperimen terkontrol). Terdapat sebuah plat
logam lain (plat C) yang diposisikan sejajar untuk menangkap elektron yang keluar dari plat
E. Kedua plat tersebut tersambung dengan sebuah sirkuit dimana terdapat amperemeter untuk
membaca aliran elektron dari plat E ke plat C. Hubungan arus fotolistrik dengan perbedaan
potensial (voltase) yang terbaca dari hasil eksperimen plat E dan plat C untuk dua jenis
intensitas cahaya ditunjukkan pada grafik dibawah. Saat nilai voltase tinggi, besar arus
menunjukkan nilai yang maksimal dan besar arus tersebut tidak dapat bertambah naik.
Besarnya arus maksimum dapat bertambah jika intensitas cahaya ditingkatkan, hal ini terjadi
karena semakin tinggi intensitas cahaya yang ditembakkan maka semakin banyak elektron
yang keluar dari plat logam. Ketika besar beda potensial (voltase) makin mengecil dan
bahkan nilainya sampai minus (-V0), ternyata tidak ada arus yang mengalir yang
menandakan tidak ada fotoelektron yang mengalir dari plat E ke plat C. Potensial V0 disebut
sebagai potensial henti.

Dari hasil eksperimen yang dilakukan, ternyata nilai beda potensial tidak bergantung
pada intensitas cahaya yang diberikan, akan tetapi karena banyaknya muatan
fotoelektron yang keluar dari plat. Hal ini menunjukkan bahwa besarnya energi
kinetik maksimum dari efek fotolistrik dirumuskan sebagai berikut:

Dimana,
 adalah muatan elektron (C),
 adalah potensial henti (volt),
Persamaan ini memungkinkan kita untuk mengukur besarnya nilai energi kinetik maksimum
secara eksperimental dengan menentukan beda potensial saat nilai arus sama dengan nol.
Dari eksperimen efek fotolistrik yang dilakukan, ternyata teori klasik yang menyatakan
cahaya sebagai gelombang gagal menjelaskan mengenai sifat-sifat cahaya yang terjadi pada
efek fotolistrik. Oleh karena itu, teori kuantum Einstein dipakai untuk menjelaskan sifat
penting cahaya pada fenomena ini.
Teori Kuantum Mengenai Efek Fotolistrik
Pada model Einstein mengenai efek fotolistrik, sebuah foton dengan intensitas cahaya
memberikan semua energinya hf ke sebuah elektron yang terdapat di plat logam. Akan tetapi,
penyerapan energi oleh elektron tidak terjadi secara terus-menerus dimana energi
dipindahkan ke elektron dengan paket tertentu, berbeda seperti yang dijabarkan pada teori
gelombang. Pemindahan energi tersebut terjadi dengan konfigurasi satu foton untuk satu
elektron.
Elektron keluar dari permukaan plat logam dan tidak bertabrakan dengan atom lainnya
sebelum mengeluarkan energi kinetik maksimum  . Menurut Einstein, besarnya energi
kinetik maksimum untuk elektron yang terbebas tersebut dirumuskan dengan:

Dimana,
 adalah konstanta Planck (Js),
 adalah frekuensi foton (Hz),
 adalah fungsi kerja (eV),
Fungsi kerja menggambarkan energi minimum yang diperlukan agar elektron dapat terus
menempel pada logam.
Dengan menggunakan foton sebagai model cahaya, efek fotolistrik dapat dijelaskan dengan
benar daripada yang diprediksikan oleh konsep-konsep klasik, yaitu:
1. Besarnya energi kinetik yang dikeluarkan fotoelektron tidak bergantung pada
intensitas cahaya. Jika intensitas cahaya digandakan, maka jumlah fotoelektron yang
keluar juga berlipat ganda, namun besarnya energi kinetik maksimum pada setiap
fotoelektron nilainya tidak berubah.
2. Elektron terlepas dari logam dalam waktu yang singkat. Selang waktu antara cahaya
yang datang dan fotoelektron yang keluar tergantung pada besarnya paket energi yang
dibawa foton. Jika intensitas cahaya yang diterima rendah, hanya sedikit foton yang
datang per unit waktu.
3. Keluarnya elektron tidak bergantung pada frekuensi cahaya. Jika energi yang dibawa
foton besarnya tidak lebih dari fungsi kerja, maka elektron tidak dapat dikeluarkan
dari permukaan logam.
4. Besarnya energi kinetik maksimum fotoelektron bergantung pada frekuensi cahaya.
Sebuah foton dengan frekuensi yang lebih besar membawa energi yang lebih besar
dan akan mengeluarkan fotoelektron dengan enrgi kinetik yang lebih besar
dibandingkan dengan foton berfrekuensi rendah.
Model Einstein mampu memprediksi hubungan antara energi kinetik maksimum elektron dan
frekuensi cahaya. Hasil eksperimen yang membuktikan teori Einstein tersebut dapat dilihat
pada grafik dibawah.
Terdapat frekuensi ambang logam dimana jika frekuensi cahaya berada dibawah frekuensi
ambang maka tidak ada fotoelekton yang terlepas. Frekuensi ambang tersebut berhubungan
dengan fungsi kerja sebagai berikut:

Dimana,
 adalah frekuensi ambang (Hz),
Dengan menggabungkan persamaan diatas dengan persamaan sebelumnya, maka besarnya
energi kinetik maksimum dari sebuah elektron yang terlepas diformulasikan dengan:

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, elektron dapat keluar dan timbul energi kinetik
jika frekuensi cahaya yang diantarkan oleh paket yang dibawa foton lebih besar dari
frekuensi ambangnya.
Selain itu, dapat diketahui pula panjang gelombang ambang berdasarkan frekuensi
ambangnya:

Dimana,
 adalah kecepatan cahaya (3 x 108 m/s),
 =1240 eV.nm,

Contoh Soal Efek Fotolistrik


Sebuah permukaan logam natrium diterangi dengan cahaya yang memiliki panjang
gelombang 300 nm. Tentukan energi kinetik maksimum yang dikeluarkan fotoelektron dan
tentukan besar panjang gelombang ambang untuk natrium.

Pembahasan:
Berikut ini nilai fungsi kerja  dari berbagai logam:
Logam  (eV)
Na 2,46
Al 4,08
Fe 4,50
Cu 4,70
Zn 4,31
Ag 4,73
Pt 6,35
Pb 4,14

Diketahui besar fungsi kerja natrium sebesar 2,46 eV.


Diketahui bahwa:

Dengan memakai persamaan energi kinetik maksimum, diketahui:


 
Sehingga, nilai energi kinetik maksimum didapat sebesar:
Kemudian, didapatkan nilai frekuensi ambang untuk natrium sebesar:

A. 5 Sinar-x dan Diffraksi sinar-x


Sinar x di temukan rontgen tahun 1895 , secara tak sengaja ketika bekerja dengan tabung
geister dimana garam barium di dekatkan denga tabung akan berfosforisensi. Rontgen
menyimpulkan bahwa penyebab fosforesensi adalah suatu sinar yang tak tampak di
pancarkan oleh anoda tabung geister  dikenal dengan sinar- X ( sinar Rontgen)
Adapun sifat sinar- X antara lain :
·      Ditimbulkan jika elektron cepat menumbuk materi
·      Dapat menjalar menurut garis lurus walau melalui medan listrik dan medan magnet
·      Berdaya tembus sangat besar, mampu menembus logam dan zat padat lainya.
·      Meyebabkan fosforesensi dan berkilau
·      Dapat menghitamkan plat fotografik

1.    Tinjauan terhadap sinar x dan tabung sinar X


Tabung sinar x terdiri atas tabung kaca kuarsa yang hampa udara, didalam nya terdapat
elektroda yang terbuat dari logam berfungsi sebagai katoda dan anoda serta filamin sebagai
pemanas ( heater). Ujung kedua elektroda dihubungkan dengan sumber arus dan tegangan
yang sangat tinggi yakni dalam orde KV.
Proses dan mekanisme kerja tabung sinar x dapat di jelaskan sebagai berikut:
a)    Katoda di panaskan oleh filamin F sehingga memancarkan elektroon di permukaan.
Elektron tertarik ke anoda ( A ) karean adanya perbedaan potensial antara A- K yang cukup
tinggi ( beberapa Kvsampai puluhan KV)
b)   Elektron di percepat oleh medan listrik antara K – A bila potensial K – A adalah Vo volt
saat elektron mengenai permukaan anoda besar energi kinetik nya adalah Ek = eVo. Karena
interaksi elektron berenergi Ek dengan logam anoda terjadi pancaran sinar X yang 
bersumber pada anoda.
c)    Interaksi bekas elektron yang datang dari katoda dengan logam anoda menghasilkan
panas yang tinggi , untuk itu anoda perlu didinginkan dengan cairan yang mengalirkan kalor
keluar anoda, biasanya minyak.
d)   Tanpa pendinginan anoda akan melebur , karena kalor yang di hasilkan dari interaksi
berkas elektron denggan logam anoda.

2.    Pengukuran intensitas dan panjang gelombang sinar x


Intensitas nya di tentukan dari sifatnya sebagai pengion ( mampu mengionisasi molekul
udara/gas yang di lewatinya). Dengan menggunakan detektor yang terdiri dari ruang ionisasi
dan elektrometer. Ruang ionisasi berisi gas, jika atom atom gas ini di ionisasi oleh sinar x
yang menembus dinding ruang ini, maka kedua elektroda dalam ruang ini akan
mengumpulkan ion ion tersebut.  Selanjutnya besar arus ionisasi di ukur oleh elektrometer
yang sangat peka. Jumlah energi yang di bawa persatuan luas persatuan waktu disebut :
intensitas.
Panjang gelombang sinar x di analisis melalui difraksi sinar x oleh kisi kristal. Karena sinar –
x meruupakan gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang yang sangat kecil,
maka di perlukan kisi denga jarak antar garis (d) = 1 ᴧo ( tidak ada yang mampu membuat
kisi seukuran itu ) maka pilihan di alihkan oleh kisi kisi kristal atom dengan jarak antar atom
= 1 ᴧo  .
Pemantulan sinar x terjadi bila di penuhi syarat Bragg ( pemantulan bragg) yakni :
Beda lintasan sinar 1 dan 2 sebesar 2 d sin  
Terjadi interferensi konstruktif bila panjang  lintasan merupakan kelipatan bulat x panjang
gelombang.
2d sin  dengan n = bilangan bulat = 1,2,3 .................................
Jadi bila jarak antar atom di ketahui , sudut pemantulan bragg dapat di hitung maka λ panjang
gelombang sinar x dapat di tentukan. Namun bila jarak antar atom dalam kisi kristal belum di
ketahui , maka tugas kita adalah mencari dulu harga d itu. Jarak dasar yang diperlukan ialah 
d = d1 selanjutnya digunakan geometri sederhana untuk mencari jarak d 2  dan jarak jarak
lainya antara bidang bidang bragg. Karena d menyatakan jarak antar atom yang bersebelahan
dalam kristal , berarti terdapat 1/d atom permeter sepanjang suatu sumbu kristal, dan terdapat
1/d3 atom permeter kubik dalam kristal itu. Jik a massa rata rata atom ialah m dan kerapatan
kristal secara keseluruhan adalah  maka  
Untuk mencari m kita ingat rumus massa M dari senyawa kimia yang merupakan jumlah
massa atomik dari unsur unsur pembentuknya yang dinyatakan dalam satuan massa atom 
( u ) dimana 1 u = 1,66 x 10-27 kg
Jika terdapat k atom persatuan rumus senyawa , maka m yang di nyatakan dalam kilogram
dapat di tulis sebagai ;
m= massa rata- rata / atom = kg/u)
jarak atomik )]1/3
3.    Sifat fisik dan mekanisme terbentuk sinar x
Mekanisme sinar x berhubungan dengan bagaimana elektron dipancarkan dari katoda
menumbuk anoda. Telah diketahui bahwa sinar x terjadi akibar tumbukan elektron – elektron
berenergi kinetik tinggi dari katoda dengan logam logam polikristalin. Bagaimana sifat dan
mekanisme tersebut dapatdi jelaskan sebagai berikut :
a)    Elektron datang pada permukaan anoda ( logam) dengan energi kinetik yang besar sekali
meneruskan pejalananya dengan logam .
b)   Gaya interaksi elektron dan susunan ion ion lgam atau antar elektron datang dengan
elektron dalam logam bersifat elektromagnetik,interaksinya disebut tumbukan.
c)    Elektron yang datang umumnya tidak kehilangan energinya pada peristiwa tumbukan,
tetapi beberapa tumbukan beruntun, dimana elektron kehilangan energi sedikit demi sedikit.
Energi kinetik elektron menjadi dua macam, yaitu ;
·      Radiasi elektromagnetik; karena elektron mengalami perlambatan dalam medan listrik
ion –ion logam sehingga terjadi sinar x
·      Energi getaran kisi ion ddalam polikristalin tersimpan sebagai kalor dan logam.
d)   Panjang gelombang λ sinar x meliputi spektrum kontinu karena adanya peristiwa
beruntun.
e)    Bila bagian tak kontinu  itu berasal dari interaksi elektron dengan ion dimana terjadi
perubahan struktur elektron – ion tersebut.
Andai dalam suatu proses fisi , energi kinetik elektron seluruhnya menjadi satu foton,
transformasi energi terjadi dalam proses tunggal.
Dari hukum kekalan energi ;
Ek = E
cV = hv = hc/λ maka
λmin = hc / eV
atau  λmin =
para praktisi menggunakan :
Spektrum kontinu terjadi karena elektron yang melintasi medan listrik ion logam mengalami
“ perlambatan “ sesuai dengan teori elektromagnetik yaitu :
setiap muatan listrik yang di percepat / di perlambat akan memancarkan radiasi
elektromagnetik. Jadi seolah elektron memancarkan sinar karena di rem disebut fenomena
“ bremstrahlung “ ( pancaran akibat pengereman).

Difraksi Sinar-X   
Difraksi sinar-X merupakan teknik yang digunakan untuk menganalisis padatan kristalin.
Sinar-X merupakan radiasi gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang sekitar 1
Å, berada di antara panjang gelombang sinar gama (γ) dan sinar ultraviolet. Sinar-X
dihasilkan jika elektron berkecepatan tinggi menumbuk suatu logam target.
Elektron berkecepatan tinggi yang mengenai elektron pada orbital 1s akan menyebabkan
elektron tereksitasi menyebabkan kekosongan (□) pada orbital 1s tersebut, dengan adanya
pengisian elektron pada orbital kosong tersebut dari orbital yang lebih tinggi energinya akan
memberikan pancaran sinar-X.
Sinar-X yang diperoleh memberikan intensitas puncak tertentu yang bergantung pada
kebolehjadian transisi elektron yang terjadi. Transisi Kα lebih mungkin terjadi dan memiliki
intensitas yang lebih tinggi daripada transisi Kβ, sehingga radiasi Kα yang digunakan untuk
keperluan difraksi sinar-X. Sinar-X juga dapat dihasilkan oleh proses perlambatan elektron
pada saat menembus logam sasaran. Proses perlambatan ini menghasilkan sinar-X yang biasa
disebut sebagai radiasi putih. 
Terdapat beberapa jenis pancaran panjang gelombang yang dihasilkan dengan
intensitas yang berbeda, dimana panjang gelombang Kα1 memiliki intensitas yang lebih
tinggi, sehingga digunakan dalam difraksi sinar-X.
Sinar-X yang monokromatis sangat diperlukan dalam suatu eksperimen difraksi sinar-X.
Untuk tujuan itu salah satunya dapat digunakan filter, yang secara selektif meneruskan
panjang gelombang yang ingin digunakan. Untuk sinar-X dari tabung tembaga, biasanya
digunakan lembaran nikel sebagai filter. Nikel sangat efektif dalam meneruskan radiasi Cu
Kα, karena radiasi Cu Kβ memiliki cukup energi untuk mengionisasi elektron 1s Nikel,
sedangkan radiasi Cu Kα tidak cukup untuk mengionisasi. Dengan demikian, lembaran nikel
tersebut akan mengabsorpsi semua panjang gelombang termasuk radiasi putih, kecuali radiasi
Cu Kα.
A.6 Produksi Pasangan Elektron – Positron
Efek compton adalah suatu gejala yang berkaitan dengan interaksi sinar x dan materi.
Satu gejala lain juga terjadi pada interaksi sinar x dengan materi yakni produksi pasangan
elekton – positron. Ada dua syarat yang harus di penuhi bagi proses ini, yaitu energi foton
harus lebih besar dari 2 mcc2 dan proses harus berlangsung dalam medan elektromagnetik 
yang sangat kuat di dekat inti suatu atom. Kesetaraan ini juga di perlukan yntuk memenuhi
kekalan momentum linear. Positron merupakan zarah sub atomik yang di temukan Anderson
tahun 1932 dalam eksperimenya dalam ruang kabut. Massa zarah ini sama dengan massa tak
gerak elektron , sedang muatanya berlawanan tanda dengan muatan elektron. Karena energi
diam elektron  mcc2 =  0,511 MeV, berarti pasangan itu baru tercipta jika foton sinar x yang
datang minimal sebesar 1,02 MeV.

Dua hal yang berbeda antara kedua zarah itu, yakni ;


·         Muatannya, elektron bermuatan listrik negatif e- = - 1,60  x 10-19 colomb sedang
positron bermuatan positif e+ = + 1,60  x 10-19 colomb
·         Elektron sangat umum kehadiranya dimana mana dalam dunia fisik kita, tetapi
posiitron sangat terbatas kehadiranya.
Teori Relativitas Khusus memberi kesetaraan antara massa dan energi dapat di nyatakan E =
mc2 = Ek + moc2. Bila diterapkan pada proses penciptaan pasangan elektron – positron
berlaku :
hv  à e + + e - .................................................
apakah secara energetik mungkin terjadi pasangan elektron – positron ?
energi total pasangan adalah :
Etotal =  Ek+ + mcc2 +Ek- + mcc2
Energi paling rendah bagi pasangan bila Ek+  dan Ek- bernilai nol .
 Jadi Etotal = 2mc2 = 1,022 MeV. Jadi di tinjau dari sudut energi foton harus memiliki >
1,022 MeV.
Proses sebaliknya juga dapat terjadi yaitu pemusnahan elektron – positron, syarat yang harus
di penuhi adalah sekurang kurangnyadua foton tercipta dalam peristiwa itu : e+ + e- = v1 +
v2
Pemusnahan positron – elektron dengan penciptaan satu foton energetik dapat terjadi hanya
bila ada zarah lain yang terlibat, sehingga kekalan momentum linear dapat terpenuhi. Kekalan
energi relativistik untuk peristiwa ini mensyaratkan : Ek+ + Ek- + 2mc2 = hv1 . hv2
Umumnya Ek+ dan Ek- dapat di abaikan dan positron dan elektron dalam keadaan tak gerak.
Bila proses menghasilkan dua foton maka kekekalan momentum linear akan dipenuhi  bila
kedua foton memiliki energi yang sama dari bergerak dengan arah berlawanan, hal ini di
perlihatkan sebagai : e+ + e-  à 2 hv