Anda di halaman 1dari 8

KLIPING SENI BUDAYA “REPRODUKSI

KARYA SENI LUKIS”


Nama: faiza ashary.A.G. 

Kelas: XI IPA 6

Mata Pelajaran : Seni Budaya

MAN 1 MODEL BENGKULU

BAB 1

 Pertanyaan:

Cari dan buatlah kliping reproduksi karya seni lukis yang dipilih berdasarkan lukisan yang anda
senangi!
Tulis biografi ringkas tokoh penulis yang karya-karya nya anda kliping!

Jawaban:

Karya seni lukis yang disenangi adalah karya pelukis terkenal Indonesia Raden Saleh

Judul Lukisan: “Badai” (The Storm)

Pelukis: Raden Saleh

Aliran Lukisan: Romantisme

Keterangan Lukisan

Lukisan ini dibuat pada tahun 1851 dengan media cat minyak di atas kanvas dengan ukuran 97 x 74
cm. Lukisan Raden Saleh yang berjudul “Badai” ini merupakan ungkapan khas karya yang beraliran
Romatisme. Dalam aliran ini seniman sebenarnya ingin mengungkapkan gejolak jiwanya yang
terombang-ambing antara keinginan menghayati dan menyatakan dunia (imajinasi) ideal dan dunia
nyata yang rumit dan terpecah-pecah. Dalam lukisan “Badai” ini, dapat dilihat bagaimana Raden
Saleh mengungkapkan perjuangan yang dramatis dua buah kapal dalam hempasan badai dahsyat di
tengah lautan. Suasana tampak lebih menekan oleh kegelapan awan tebal dan terkaman ombak-
ombak tinggi yang menghancurkan salah satu kapal. Dari sudut atas secercah sinar matahari yang
memantul ke gulungan ombak, lebih memberikan tekanan suasana yang dramatis.

Johannes graaf van den bosch (1780-1844). Gouverneur-generaal (1830-33).

“berburu rusa”, lukisan minyak karya raden saleh (1811-1880).

Raden saleh depicting a mail station in west java.

Watercolour study of tiger.

Biografi Raden Saleh


Raden Saleh lahir dengan nama lengkap Raden Saleh Sjarif Bestaman di tahun 1807, tanpa diketahui
tanggal dan bulannya. Ibundanya bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen dan tinggal di daerah Terboyo,
dekat Semarang, Jawa Tengah. Saat baru berusia 10 tahun, Raden Saleh diserahkan pamannya yang
juga menjabat sebagai Bupati Semarang, kepada orang-orang Belanda atasannya di Batavia.

Bakatnya di bidang menggambar mulai menonjol saat Saleh kecil bersekolah di sekolah rakyat
(Volks-School). Anak sopan itu menonjol dengan talentanya di salah satu bidang seni rupa tersebut.
Tak jarang saat gurunya mengajar, ia malah asyik menggambar. Meski begitu, sang guru tak marah,
karena ia kagum melihat karya muridnya.

Selain memiliki kepekaan terhadap seni yang tinggi, Saleh juga dikenal sebagai sosok yang ramah
dan mudah bergaul. Karena sifatnya yang hangat itulah, Saleh tak menemui kesulitan saat harus
menyesuaikan diri dalam lingkungan orang Belanda atau lembaga-lembaga elite Hindia-Belanda.

Saking supelnya, seorang kenalannya, yang merupakan pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus Direktur
Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau sekitarnya, Prof. Caspar
Reinwardt, menilai Raden Saleh pantas mendapat ikatan dinas di departemennya. Awalnya Saleh
memang dipersiapkan oleh pemerintah Hindia-Belanda menjadi calon pegawai di lembaga tersebut.
Namun, seiring berjalannya waktu, Raden Saleh justru tumbuh sebagai seorang seniman besar.

Kebetulan di instansi tersebut ada seorang pelukis keturunan Belgia bernama A.A.J. Payen yang
didatangkan dari Belanda untuk membuat lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor
Departemen van Kolonieen di Belanda. Payen kemudian tertarik pada bakat Raden Saleh dan
berinisiatif memberikan bimbingan.

Meski reputasi Payen sebenarnya tidak terlalu menonjol di kalangan ahli seni lukis di Belanda, peran
mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda, ini nyatanya cukup membantu Raden
Saleh mendalami seni lukis Barat dan belajar teknik pembuatannya, misalnya melukis dengan cat
minyak. Payen pula yang mengajak Saleh muda dalam perjalanan dinas keliling Jawa mencari model
pemandangan untuk lukisan. Ia pun pernah menugaskan Raden Saleh menggambar tipe-tipe orang
Indonesia di daerah yang disinggahi.

Semakin hari, Payen semakin kagum dengan bakat luar biasa yang dimiliki Raden Saleh. Payen
kemudian mengusulkan agar anak didiknya itu bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik di
Belanda. Usulan ini kemudian turut mendapat dukungan dari G.A.G.Ph. van der Capellen, setelah
Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkuasa sejak tahun 1819 hingga 1826 itu melihat karya
Raden Saleh.

Pada tahun 1829, nyaris bersamaan dengan patahnya perlawanan Pangeran


Diponegoro oleh Jenderal Hendrik Merkus de Kock, Capellen membiayai Raden Saleh belajar ke
Belanda. Namun, keberangkatannya itu bukan semata untuk belajar seni lukis melainkan juga untuk
mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa,
Bahasa Jawa, dan Bahasa Melayu. Hal ini tertulis dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk
Departemen van Kolonieen.

Di Belanda, Raden Saleh mulai belajar di bawah bimbingan Cornelius Kruseman dan Andries
Schelfhout. Semasa menimba ilmu di sana, kemampuan melukisnya kian berkembang pesat. Tak
heran jika di kalangan sesama pelukis muda Belanda yang sedang belajar, ia kerap dianggap sebagai
saingan berat. Suatu ketika, para pelukis muda itu melukis bunga yang sangat mirip dengan aslinya.
Lukisan itu kemudian diperlihatkan ke Raden Saleh. Saking miripnya, beberapa kumbang serta kupu-
kupu terkecoh untuk hinggap di atasnya. Seakan merasa lebih hebat dan merasa jumawa, mereka
kemudian mengejek dan mencemooh Raden Saleh. Meski merasa terhina, Saleh tak mau secara
langsung membalas hinaan tersebut, ia lebih memilih untuk menyingkir.

Selama berhari-hari lamanya, Saleh ‘menghilang’. Hal itu membuat teman-temannya cemas, mereka
menduga, pelukis Indonesia itu putus asa kemudian berbuat nekad. Para pelukis muda itu lalu
mendatangi Saleh ke rumahnya. Pintu rumah Raden Saleh terkunci dari dalam, karena penasaran,
pintu pun dibuka paksa dengan didobrak. Namun begitu pintu dibuka, mereka mendapati
pemandangan yang mengerikan, “Mayat Raden Saleh” terkapar di lantai berlumuran darah. Dalam
suasana panik tiba-tiba Raden Saleh muncul dari balik pintu lain seraya berkata, “Lukisan kalian
hanya mengelabui kumbang dan kupu-kupu, tetapi gambar saya bisa menipu manusia,” ujarnya
tersenyum. Para pelukis muda Belanda itu pun kemudian pergi sambil menanggung malu.

Kesempatan untuk belajar di luar negeri benar-benar dimanfaatkan Raden Saleh. Dua tahun pertama
ia gunakan untuk memperdalam bahasa Belanda dan belajar teknik mencetak menggunakan batu.
Sedangkan di bidang lukis melukis, selama lima tahun pertama, ia belajar melukis potret dari
Cornelis Kruseman dan tema pemandangan dari Andries Schelfhout karena karya mereka memenuhi
selera dan mutu rasa seni orang Belanda saat itu. Krusseman adalah pelukis istana yang kerap
menerima pesanan pemerintah Belanda dan keluarga kerajaan.

Setelah bertahun-tahun menetap di Negeri Kincir Angin, Raden Saleh makin mantap memilih seni
lukis sebagai jalur hidupnya. Perlahan tapi pasti, namanya mulai dikenal, ia bahkan sempat
menggelar pameran di Den Haag dan Amsterdam. Masyarakat Belanda yang menyaksikan hasil
karyanya sering dibuat terperangah. Mereka tidak menyangka seorang pelukis muda pribumi dapat
menguasai teknik dan menangkap watak seni lukis Barat dengan begitu sempurna.

Begitu studinya di Belanda rampung, Raden Saleh tak langsung pulang ke Tanah Air melainkan
mengajukan permohonan agar boleh tinggal lebih lama untuk mempelajari ilmu lain di luar melukis,
yakni wis-, land-, meet- en werktuigkunde (ilmu pasti, ukur tanah, dan pesawat). Dalam perundingan
antara
Menteri Jajahan, Raja Willem I (1772-1843), dan pemerintah Hindia Belanda, Raden Saleh
diperbolehkan menangguhkan kepulangannya ke Indonesia. Namun ia tak lagi mendapat beasiswa
dari kas pemerintah Belanda.

Walau menjadi pelukis kerajaan Belanda, ia tak sungkan mengkritik politik represif pemerintah
Hindia Belanda. Kendati mendapat didikan ala Barat, Raden Saleh merupakan sosok yang
menjunjung tinggi idealisme kebebasan dan kemerdekaan sehingga ia amat menentang penindasan.
Pemikirannya itu digambarkannya dalam lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh
pemerintah kolonial Belanda. Saat pemerintahan Raja Willem II (1792-1849), Raden Saleh mendapat
dukungan serupa. Beberapa tahun kemudian ia dikirim ke Dresden, Jerman untuk menambah
wawasannya. Di sana ia tinggal selama lima tahun dengan statusnya sebagai tamu kehormatan
Kerajaan Jerman. Tahun 1843, Raden Saleh meneruskan petualangannya menuntut ilmu ke Weimar.
Setahun kemudian ia kembali ke Belanda dan menjadi pelukis istana kerajaan Belanda.

Walau menjadi pelukis kerajaan Belanda, ia tak sungkan mengkritik politik represif pemerintah
Hindia Belanda. Kendati mendapat didikan ala Barat, Raden Saleh merupakan sosok yang
menjunjung tinggi idealisme kebebasan dan kemerdekaan sehingga ia amat menentang penindasan.
Pemikirannya itu digambarkannya dalam lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh
pemerintah kolonial Belanda. Pada saat penangkapan yang terjadi tahun 1830 itu, Raden Saleh
tengah berada di Belanda. Puluhan tahun kemudian ia kembali ke Indonesia dan mencari informasi
mengenai peristiwa tersebut dari kerabat Pangeran Diponegoro.
Meski serupa dengan karya J.W. Pieneman, Raden Saleh memberi interpretasi yang berbeda pada
lukisannya. Pada karya Pieneman lebih menekankan peristiwa menyerahnya Pangeran Diponegoro
yang berdiri dengan wajah letih dan dua tangan terbentang. Hamparan senjata berupa sekumpulan
tombak adalah tanda kalah perang. Di latar belakang, Jenderal De Kock berdiri berkacak pinggang
menunjuk kereta tahanan seolah memerintahkan penahanan Diponegoro.

Sedangkan pada lukisan Pangeran Diponegoro yang selesai dibuat Raden Saleh tahun 1857 itu,
pengikutnya tak membawa senjata. Keris di pinggang, ciri khas Diponegoro, pun tak ada. Ini
menunjukkan, peristiwa itu terjadi di bulan Ramadhan. Maknanya, Pangeran dan pengikutnya
datang dengan niat baik namun perundingan gagal. Diponegoro ditangkap dengan mudah karena
jenderal De Kock tahu musuhnya tak siap berperang di bulan Ramadhan. Di lukisan itu, Pangeran
Diponegoro tetap digambarkan berdiri dalam pose siaga yang tegang. Wajahnya yang bergaris keras
tampak menahan marah, tangan kirinya mengepal menggenggam tasbih.

Dalam lukisan itu tampak Raden Saleh menggambarkan dirinya sendiri dengan sikap empati
menyaksikan suasana tragis tersebut bersama-sama pengikut Pangeran Diponegoro yang lain.
Jenderal De Kock pun kelihatan sangat segan dan menaruh hormat saat mengantarkan Pangeran
Diponegoro menuju kereta yang akan membawa beliau ke tempat pembuangan.

Meski telah banyak melahirkan banyak lukisan bernilai seni tinggi, dahaga dan rasa
keingintahuannya pada seni belum juga terpuaskan. Oleh karena itu, ia terus menggali
kemampuannya dengan mempelajari seni lukis dari daerah lain di luar Belanda. Tercatat selama
kurun waktu tahun 1844-1851, Raden Saleh tinggal dan berkarya di Prancis. Saat itu aliran
romantisme tengah berkembang di Eropa sejak awal abad 19. Wawasan seninya pun kian bertambah
seiring kekagumannya pada karya pelukis Perancis legendaris yang juga dikenal sebagai tokoh
romantisme bernama Ferdinand Victor Eugene Delacroix (1798-1863).

Sejak itu, ciri romantisme juga muncul dalam lukisan-lukisan Raden Saleh yang mengandung
paradoks. Dari situ, ia lalu memutuskan untuk terjun ke dunia pelukisan hewan yang dipertemukan
dengan sifat agresif manusia. Konon, melalui karyanya, ia menyindir nafsu manusia yang terus
mengusik makhluk lain. Misalnya dengan berburu singa, rusa, banteng, dan sebagainya. Agar dapat
menghayati unsur-unsur dramatika yang ia cari, Saleh tak segan-segan mengembara ke berbagai
tempat.

Ketika berada di Eropa, ia menjadi saksi mata revolusi Februari 1848 di Paris, yang mau tak mau
mempengaruhi dirinya. Tahun 1846, dari Perancis, ia bersama pelukis Prancis kenamaan, Horace
Vernet, pergi ke Aljazair dan tinggal selama beberapa bulan. Di tempat inilah, Raden Saleh mendapat
inspirasi untuk melukis kehidupan satwa di padang pasir. Pengamatannya itu kemudian
membuahkan sejumlah lukisan perkelahian satwa buas dalam bentuk pigura-pigura besar.

Selain Belanda dan Perancis, negara Eropa lain yang pernah ia singgahi adalah Austria dan Italia.
Petualangannya di benua Eropa berakhir pada tahun 1851 ketika ia pulang ke Indonesia bersama
istrinya, seorang
wanita Belanda yang kaya raya.

Begitu kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, Raden Saleh pernah ditunjuk menjadi
konservator pada “Lembaga Kumpulan Koleksi Benda-benda Seni”. Di sela-sela kesibukannya
menjalani profesi tersebut, ia masih giat menelurkan karya berupa beberapa lukisan potret keluarga
keraton dan pemandangan.
Di saat kiprahnya sebagai pelukis di Tanah Air semakin diperhitungkan, Raden Saleh harus
menghadapi kenyataan pahit setelah pernikahan pertamanya berakhir dengan perceraian. Setelah
menduda, ia kembali membangun rumah tangga dengan seorang gadis keluarga ningrat keturunan
Keraton Solo.

Setelah menikah, Raden Saleh tinggal di Jakarta di kawasan Cikini. Rumahnya dibangun sendiri
menurut teknik sesuai dengan tugasnya sebagai seorang pelukis. Sebagai tanda cinta terhadap alam
dan isinya, ia menyerahkan sebagian dari halamannya yang sangat luas pada pengurus kebun
binatang. Kini kebun binatang itu menjadi Taman Ismail Marzuki. Sedangkan rumahnya
dialihfungsikan menjadi Rumah Sakit Cikini, Jakarta.

Pada tahun 1875, bersama istri tercinta, Raden Saleh berangkat lagi ke Eropa dan baru kembali ke
Jawa tiga tahun kemudian. Setelah itu, ia menetap di Bogor sampai akhir hayatnya pada 23 April
1880. Sempat beredar cerita, kematian pelukis legendaris itu akibat diracun sang pembantu yang
dituduh mencuri lukisannya. Namun dugaan tersebut dipatahkan dengan hasil pemeriksaan dokter
yang menyebutkan Raden Saleh meninggal karena trombosis atau pembekuan darah.

Jenazahnya kemudian dikebumikan di TPU Bondongan, Bogor, Jawa Barat. Di nisan makamnya
tertulis “Raden Saleh Djoeroegambar dari Sri Padoeka Kandjeng Radja Wolanda”, kalimat itulah yang
sering melahirkan banyak tafsir yang memancing perdebatan berkepanjangan tentang visi
kebangsaan Raden Saleh. Terlepas dari hal tersebut, sosok Raden Saleh mampu memberikan warna
tersendiri di dunia seni lukis Indonesia. Meski lebih banyak berkiprah di luar negeri, Raden Saleh
sebenarnya tidak menanggalkan identitasnya sebagai seorang pribumi, hal itu setidaknya bisa dilihat
dari gaya berpakaian adat ningrat Jawa lengkap dengan blangkon yang menjadi ciri khasnya.

Pada tahun 1883, untuk memperingati tiga tahun kepergiannya, lukisan-lukisannya dipamerkan di
Amsterdam, di antaranya berjudul Hutan Terbakar, Berburu Kerbau di Jawa, dan Penangkapan
Pangeran Diponegoro. Lukisan-lukisan itu dikirimkan antara lain oleh Radja Willem III dan Pangeran
Van Saksen Coburg-Gotha.

Perjalanan hidupnya pun pernah diangkat oleh penulis Lev Dyomin, Zagadocny Princ, dalam sebuah
buku yang dicetak oleh penerbit Rusia berjudul Raden Saleh I Ego Wremya (Pangeran Ajaib, Raden
Saleh dan Zamannya). Di masa itu, pertengahan abad 19, dunia seni lukis atau seni gambar para
bumiputera masih mengacu pada gaya tradisional yang berkembang di daerah-daerah dimana
sebagian terbesar menyimpan potensi dekoratif. Misalnya lukisan Bali, Jawa, ornamen di Toraja atau
Kalimantan. Namun, Raden Saleh berkibar sendiri dengan gaya lukis fotografis, yang oleh masyarakat
Barat dinilai berunsur “religius-kontemplatif-abstrak”, bersifat keagamaan, bersamadi, lepas dari
kebendaan. Raden Saleh memang piawai melukis objek alam dan kehidupan hewan, khususnya kuda
dan binatang buas. Ia juga dianggap mumpuni dalam mencoretkan garis wajah dalam lukisan potret.

Kehebatan Raden Saleh sebagai pelukis banyak dikagumi para bangsawan dan pejabat Belanda,
Belgia, serta Jerman, antara lain Saksen Coburg-Gotha, keluarga Ratu Victoria, dan sejumlah
gubernur jenderal seperti van den Bosch, Baud, dan Daendels. Tak sedikit pula yang
menganugerahinya tanda penghargaan, yang kemudian selalu ia sematkan di dada. Di antaranya,
bintang Ridder der Orde van de Eikenkoon (R.E.K.), Commandeur met de ster der Frans Joseph Orde
(C.F.J.), Ridder der Kroonorde van Pruisen (R.K.P.), Ridder van de Witte Valk (R.W.V.), dan masih
banyak lagi.

Sedangkan penghargaan dari pemerintah Indonesia sendiri baru diberikan pada tahun 1969 lewat
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, secara anumerta berupa Piagam Anugerah Seni sebagai
Perintis Seni Lukis di Indonesia. Wujud penghormatan lain untuk sang maestro lukis ini adalah
pembangunan ulang makamnya di Bogor yang dilakukan oleh Ir. Silaban atas perintah Presiden
Soekarno. Sejumlah lukisannya pun pernah dipakai untuk ilustrasi benda berharga negara, misalnya
akhir tahun 1967, PTT (Pos Telepon dan Telegram) mengeluarkan prangko seri Raden Saleh dengan
reproduksi dua lukisannya bergambar binatang buas yang sedang berkelahi.

Lebih dari 50 tahun setelah kematiannya, sejumlah karyanya musnah dilalap api dalam kebakaran di
Paviliun Kolonial Belanda di Paris pada tahun 1931. Dari beberapa yang masih ada, salah satunya
lukisan kepala seekor singa hingga kini masih tersimpan dengan baik di Istana Mangkunegaran, Solo.
Kabarnya, lukisan ini dulu dibeli seharga 1.500 gulden. Berapa nilainya sekarang mungkin susah-
susah gampang menghitungnya. Sekadar perbandingan, salah satu lukisannya yang berukuran besar,
Berburu Rusa, tahun 1996 terjual di Balai Lelang Christie’s Singapura seharga Rp 5,5 miliar.

2. keterampilan Berapresiasi

a) Pilih salah satu diantara tiga lukisan yang kalian sukai


Jawab: lukisan Affandi Borobudur dipagi hari.

b) Kemudian kemukakan hasil apresiasi kamu dengan tahapan yang benar untuk
menyimpulkan makna lukisan.
Jawab: lukisan tersebut merupakan karya Affandi yang terinspirasi oleh megahnya candi
Borobudur dan lingkungan sekitarnya pada masa itu. Saat itu objek matahari menjadi pusat
perhatian Affandi, lukisan ini menonjolkan objek alam sebagai latar belakang dan perpaduan
warna yang semakin menghidupkan lukisan tersebut sehingga lukisan Borobudur terlihat
sangat jells walaupun cahaya matahari tidak begitu jelas dan tidak terlalu menyerupai
matahari asli, karena adanya perpaduan warna membuat lukisan tersebut bagus dan lebih
indah.

3. pengetahuan berapresiasi

I. Uraikan dengan ringkas pemahaman kamu tentang tiga domain apresiasi seni.
Jawab:
a. Feeling: berkaitan dengan perasaan yang muncul saat melihat keindahan karya seni.
Perasaan ini tentu berbeda-benda antara manusia yang satu dan lainnya.

b. Valuing berkaitan dengan penilaian terhadap suatu karya seni. Nilai seni dalam hal ini
adalah bobot-bobot seni yang dikandung oleh karya seni.

c. Emphatizing berkaitan dengan empati, yakni sikap hormat terhadap dunia seni rupa
termasuk di dalamnya profesi yang berkaitan dengan dunia tersebut seperti pelukis,
pekramik, pepatung, pekria dan lain lain.

II. Jelaskan proses apresiasi seni dengan pendekatan saintifik


Jawab: yaitu dengan cara mengamati, menggali informasi, bertanya lalu mencoba,
menganalisa, menyimpulkan kemudian menciptakan.
III. Tulis latar belakang mengapa kamu memilih lukisan lukisan yang kamu kliping. Kemukakan
alasan alasan logis mengapa kamu mengapresiasinya dengan baik, kemudian, uraikan
manfaat aktivitas berapresiasi seni bagi kehidupan kamu pribadi.
Jawab:
saya memilih lukisan tersebut karena saya sangat mengapresiasi hasil karya dari pelukis-
pelukis hebat yang ada di Indonesia dan semua karya karya mereka pun telah diakui bahkan
sangat diapresiasi dimancanegara. Dan saya bangga akan hal itu.

saya mengapresiasi nya dengan baik karena estetika dari lukisan tersebut memberikan kesan
tersendiri bagi yang melihatnya.
Manfaat aktivitas berapresiasi seni secara pribadi:

a. Melatih saya dalam menilai atau mengapresiasi suatu karya seni.


b. membantu saya memahami tentang makna yang terkandung dalam karya seni
tersebut.
c. lebih menghargai hasil karya orang lain.
d. menjadikan kita termotivasi untuk berkarya seni yang memiliki nilai jual, dan bermutu
tinggi.

4. penilaian diri.

Jawab:

Deskripsi pernyatan.

1. Apakah kamu telah dapat membedakan lukisan yang indah dengan lukisan yang
tidak indah? Ya
2. Apakah kamu telah dapat menemukan tema dan makna lukisan yang kamu
apresiasi? Tidak
3. Apakah penafsiran makna seni yang kamu buat dapat dipertanggung jawabkan? Ya