Anda di halaman 1dari 27

6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Konsep Kebutuhan Dasar Psikososial


Manusia adalah makhluk biopsokososial yang unik dan menerapkan sistem
terbuka serta saling berinteraksi. Kebutuhan manusia bukan hanya
menyangkut fisiknya seperti makan, minum, istirahat, eliminasi, tetapi juga
kebutuhan psikologis misalnya keinginan untuk rasa dihargai, dicintai,
mencintai, serta kebutuhan untuk saling berinteraksi. Dengan demikian,
manusia yang sehat adalah individu yang mampu menyelaraskan antara
kebutuhan fisik atau bio dengan kebutuhan psikologisnya. Tidak terpenuhinya
kebutuhan fisik akan berdampa pada gangguan psikologis dengan demikian
juga sebaliknya (Tarwoto&Wartonah, 2015).
Kebutuhan manusia bukan hanya menyangkut fisiknya seperti makan,
minum, istirahat, eliminasi, tetapi juga kebutuhan psikologis misalnya
keinginanuntuk rasa dihargai, dicintai, dan mencintai, serta kebutuhan
untuk saling berinteraksi. Dengan demikian, manusia yang sehat adalah
individu yang mampu menyelaraskan antara kebutuhan fisik atau bio dengan
kebutuhan psikososial.
Ada banyak teori yang berupaya menjelaskan perilaku manusia,
kesehatan, dan gangguan jiwa. Masing-masing mengajukan bagaimana
perkembangan normal terjadi berdasarkan keyakinan dan asumsi para ahli
teori serta pandangan dunia (Videback, 2015). Erik Erikson dalam Kasiati &
Ni Wayan (2016) menjelaskan delapan tahap perkembangan psikososial. Pada
setiap tahap tersebut, individu harus menyelesaikan tugas kehidupan yang
esensial untuk kesejahteraan dan kesehatan jiwanya, tugas ini
memungkinkan individu mencapai nilai moral kehidupan: harapan, tujuan,
kesetiaan, cinta, kepedulian, dan kebijaksanaan.

6
7

B. Tinjauan Konsep Asuhan Keperawatan Defisit perawatan diri


1. Masalah Utama
a. Pengertian Defisit perawatan diri
Perawatan diri merupakan salah satu kemampuan dasar manusia
dalam memenuhi kebutuhnnya guna mempertahankan kehidupan,
kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya
( Sulastri, 2012). Menurut Herdman (2012), Defisit perawatan diri adalah
gangguan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktifitas
perawatan diri untuk diri sendiri; mandi; berpakaian dan berhias untuk
diri sendiri aktifitas makan sendiri; dan aktifitas eliminasi sendiri.
Herdman (2012) membagi Defisit perawatan diri menjadi 4 kegiatan;
mandi, berpakaian/berhias, makan, dan toileting.
Menurut Sutejo, (2016) Defisit perawatan diri adalah keadaan
seseorang mengalami kelainan dalam kemampuan untuk melakukan atau
menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri. Tidak ada
keinginan Pasien untuk mandi secara teratur, tidak menyisir rambut,
pakaian kotor, bau badan, bau napas, dan penampilan tidak rapi. Defist
Perawatan Diri merupakan salah satu masalah yang timbul pada Pasien
gangguan jiwa.

b. Jenis-jenis Defisit perawatan diri


Menurut Herdman (2015) jenis perawatan diri terdiri dari:
1) Defisit perawatan diri : Mandi;
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan
mandi/beraktifitas perawatan diri untuk diri sendiri.
2) Defisit perawatan diri: Berpakaian;
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan
aktivitas berpakaian dan berias untuk diri sendiri.
3) Defisit perawatan diri: Makan;
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan
aktivitas sendiri.
4) Defisit perawatan diri: Eliminasi;
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan
eliminasi sendiri.

c. Batasan Karakteristik Defisit perawatan diri


Menurut Herdman (2015), batasan karakteristik Pasien dengan Defisit
perawatan diri adalah:
1) Defisit perawatan diri : mandi
a) ketidakmampuan untuk mengakses kamar mandi,
b) ketidakmampuan mengeringkan tubuh,
c) ketidakmampuan mengambil perlengkapan mandi,
d) ketidakmampuan menjangkau sumber air,
e) ketidakmampuan mengatur air mandi,
f) ketidakmampuan membasuh tubuh.
2) Defisit perawatan diri: Berpakaian;
a) ketidakmampuan mengancing pakaian,
b) ketidakmampuan mendapatkan pakaian,
c) ketidakmampuan mengenakan atribut pakaian,
d) ketidakmampuan mengenakan sepatu,
e) ketidakmampuan mengenakan kaus kaki,
f) ketidakmampuan melepaskan atribut pakaian,
g) ketidakmampuan melepas sepatu,
h) ketidakmampuan melepas kaus kaki
i) hambatan memilih pakaian
j) hambatan mempertahanakan penampilan yang memuaskan,
k) hambatan mengambil pakain ,
l) hambatan mengenakan pakaian pada bagia tubuh bawah,
m) hambatan mengenakan pakaian pada bagian tubuh atas
n) hambatan memasang sepatu,
o) hamabatan memasang kaus kaki,
p) hambatan melepaskan pakaian,
q) hamabatan melepas sepatu,
r) hamabatan melepas kaus kaki,
s) hambatan mengunakan alat bantu,
t) hambatan menggunakan resleting.
3) Defisit perawatan diri : Makanan;
a) ketidakmampuan menambil makanan dan mengambil kemulut,
b) ketidakmampuan mengunyah makanan,
c) ketidakmampuan menghabiskan makanan,
d) ketidakmampuan menempatakan makanaan ke perlengkapan
makanan,
e) ketidakamapuan menggunakan perlengkapan makanan,
f) ketidakmampuan memakan makanan dalam cara yang dapat
diterima secara sosial,
g) ketidakmampuan memakan maakan dengan cara yang aman,
h) ketidakmampuan memakanan dalam jumlah memadai,
i) ketidakmampuan memanipulasi makanan dalam mulut,
j) ketidakmampuan membuka wadah makanan,
k) ketidakmampuan mengambil gelas dan cangkir,
l) ketidakmampuan makanan untuk dimakan,
m) ketidakmampuan menelan makan,
n) ketidakmampua menggunakan alat bantu.
4) Defisit perawatan diri: Eliminasi;
a) ketidakmampuan melakukan hygiene eliminasi yang tepat,
b) ketidakmampuan menyiram toilet atau kursi buang
air(commode),
c) ketidakmampuan naik ke toilet (commode),
d) ketidakmampuan memanipulasi pakaian untuk eliminasi,
e) ketidakmampuan berdiri dari toilet,
d. Rentang Respon Defisit perawatan diri

FAKTOR PREDISPOSISI

Biologis Psikologis Lingkungan Sosial Budaya

STRESOR PRESIPITASI

Biologis Gejala Pemicu

PENILAIAN TERHADAP STRESOR

SUMBER KOPING

MEKANISME KOPING

Menarik Diri Proyeksi Regresi penolakan


Konstruktif Destruktif

RENTANG RESPONS NEUROBIOLOGIS

Respons adaptif Respons maladaptif

Berpikir logis Pikiran sesekali Waham


Persepsi akurat terdistorsi ilusi Reaksi Halusinasi
Emosi konsisten dengan emosional berlebihan Kesulitan pengolahan
pengalaman atau tidak bereaksi emosi
Prilaku sesuai Prilaku aneh atau Prilaku kacau
Berhubungan sosial penarikan tidak biasa
Isolasi sosial

Gambar 2.1 Model Adaptasi Stress Stuart berhubungan dengan respons


neurobiologis (sumber:Stuart, 2016)
2. Proses terjadinya masalah
a. Faktor predisposisi
1) biologis: penyakit fisik dan mental yang menyebabkan pasien tidak
mampu melakukan perawatan diri dan faktor herediter.
2) psikologis: faktor perkembangan dimana keluarga terlalu melindungi
dan memanjakan pasien sehingga perkembangan inisiatif terganggu.
Kemampuan realitas turun, pasien gangguan jiwa yang kemampuan
realitas kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan
lingkungan termasuk perawatan diri.
3) sosial: kurang dukungan dan situasi lingkungan mempengaruhi
kemampuan dalam perawatan diri
b. Faktor presipitasi
faktor presipitasi yang dapat menimbulkan Defisit perawatan diri
adalah penurunan motivasi, kerusakan kognitif atau persepsi, cemas,
lelah, yang di alami individu sehingga menyebabkan individu kurang
mampu melakukan perawatan diri.Sedangkan menurut Potter dan Perry
(di dalam buku Sutejo 2016), terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi
personal hygiene yaitu:
1) Citra tubuh
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi
kebersiahan diri. Perubaha fisik akibat operasi bedah, misalnya,
dapat memicu individu untuk tidak peduli terhadap kebersihannya.
2) Status sosial ekonomi
Sumber penghasilan atau sumber ekonomi mempengaruhi jenis
dan tingkat praktik keperawatan diri yang dilakukan. Perawat harus
menentukan apakah pasien dapat mencukupi perlengkapan
keperawatan diri yang penting seperti, sabun, pasta gigi, sikat gigi,
sampo. Selain itu, hal yang perlu diperhatikan adalah apakah
penggunaan perlengkapan tersebut sesuai dengan kebiasaan sosial
yang diperaktikan oleh kelompok sosial pasien.
3) Pengetahuan
Pengetahuan tentang perawatan diri sangat penting karena
pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Kurangnya
pengetahuan tentang pentingnya perawatan diri dan implikasinya
bagi kesehatan dapat mempengaruhi praktik keperawatan diri.
4) Variabel kebudayaan
Kepercayaan akan nilai kebudayaan dan nilai diri
mempengaruhi perawatan diri. Orang dari latar belakang kebudayaan
yang berbeda mengikuti praktik keperawatan yang berbeda pula.
5) Kondisi fisik
Pada keadaan tertentu atau sakit kemampuan untuk merawat diri
berkurang dan memperlukan bantuan. Biasanya Pasien dengan
keadaan fisik yang tidak sehat lebih memilih untuk tidak melakukan
perawatan diri.
Macam-macam respon Defisit perawatan diri:
1) Pola perawatan diri seimbang : saat Pasien mendapatkan stresor dan
mampu untuk berprilaku adaptif, maka pola perawatan yang
dilakukan Pasien seimbang, Pasien masih melakukan perawatan diri
2) Kadang perawatan diri kadang tidak: saat Pasien mendapatkan
stresor kadang-kadang Pasien tidak memperhatikan perawatan diri
nya
3) Tidak melakukan perawatan diri: Pasien mengatakan dia tidak peduli
dan tidak bisa melakukan perawatan saat stresor
c. Mekanisme koping
Stuart (2016) mengungkapkan pada fase gangguan jiwa aktif, pasien
menggunakan beberapa mekanisme pertahanan yang tidak didasari
sebagai upaya untuk melindungi diri dari pengalaman menakutkan yang
disebabkan oleh penyakit mereka.
1) Regresi : berhubungan dengan masalah dalam proses informasi dan
pengeluaran sejumlah besar tenaga dalam upaya untuk mengelola
ansietas, menyisakan sedikit tenaga untuk aktivitas sehar-hari.
2) proyeksi: upaya untuk menjelaskan persepsi yang membingungkan
dengan menetapkan tanggung jawab kepada orang lain atau sesuatu.
3) Menarik diri: berkaitan dengan masalah membangun kepercayaan
dan keasyikan dengan pengalaman internal
4) Pengingkaran: sering digunakan oleh klien dan keluarga. Mekanisme
koping ini adalah sama dengan penolakan yang terjadi setiap kali
seorang menerima informasi yang menyebabkan rasa takut dan
ansietas.
d. Sumber koping
Stuart (2016) menjelaskan gangguan jiwa adalah penyakit menakutkan
dan sangat menjengkelkan yang membutuhkan penyesuaian oleh pasien
dan keluarga. Sumber daya keluarga, seperti pemahaman orang tua
tentang penyakit, ketersediaan keuangan, ketersediaan waktu dan tenaga,
dan kemampuan untuk memberikan dukungan yang berkelanjutan,
memengaruhi jalan nya penyesuaian setelah gangguan jiwa terjadi. Proses
penyesuaian setelah gangguan jiwa terjadi terdiri dari 4 tahap dan dapat
berlangsung mungkin selama 3 sampai 6 tahun:
1) Disonansi kognitif
Disonansi kognitif melibatkan pencapaian keberhasilan
farmakologi untuk menurunkan gejala dan menstabilkan gangguan
jiwa aktif dengan memilih kenyataan dari ketidaknyataan setelah
episode pertama.
2) Pencapaian wawasan
Permulaan wawasan terjadi dengan kemampuan melakukan
pemeriksaan terhadap kenyataan yang dapat dipercaya.
3) Kognitif yang konstan
Kogniktif konstan termasuk melanjutkan hubungan interpersonal
yang normal dan kembali terlibat dalam kegiatan yang sesuai dengan
usia yang berkaitan dengan sekolah dan bekerja.
4) Bergerak menuju prestasi kerja atau tujuan pendidikan
Tahap ini termasuk kemampuan untuk secara konsisten terlibat
dalam kegiatan harian yang sesuai dengan usia hidup yang
merefleksikan tujuan sebelum gangguan jiwa.

e. Tanda dan Gejala


Menurut Fitria di dalam buku Mukhripah & Iskandar 2012 defisi
perawatan diri memiliki tanda dan gejala sebagai berikut:
1) Mandi/Hygiene
Pasien mengalami ketidakmampuan dalam membersihkan
badan, memperoleh atau mendapatkan sumber air, mengatur suhu
atau aliran air mandi, mendapatkan perlengkapan mandi,
mengeringkan tubuh, serta masuk dan keluar kamar mandi.
2) Berpakaian/ Berhias
Pasien mempunyai kelemahan dalam meletakkan atau
mengambil potongan pakaian, menanggalkan pakaian, serta
memperoleh atau menukar pakaian. Pasien juga memiliki
ketidakmampuan untuk mengenakan pakaian dalam, memilih
pakaian, menggunakan alat tambahan, menggunakan kancing tarik,
melepaskan pakaian, menggunakan kaos kaki, mempertahankan
penampilan pada tingkat yang memuaskan, mengambil pakaian dan
mengenakan sepatu.
3) Makan
Pasien mempunyai ketidakmampuan dalam menelan makanan,
mempersiapkan makanan, menangani perkakas, mengunyah
makanan, mendapatkan makanan, mengambil makanan dan
memasukkan kedalam mulut, menggambil cangkir atau gelas, serta
mencerna makanan dengan aman.
4) Eliminasi
Pasien memiliki keterbatasan atau ketidakmampuan dalam
mendapatkan kamar kecil, duduk ata bangkit dari closet,
memanipulasi pakaian untuk toileting, membersihkan diri setelah
BAB/BAK dengan tepat, dan menyiram toilet atau kamar kecil.

Menurut Depkes 2012, tanda dan gejala Pasien dengan Defisit


perawatan diri adalah:
1) Fisik
a) Badan bau, pakaian kotor,
b) Rambut dan kulit kotor
c) Kuku panjang dan kotor
d) Gigi kotor disertai mulut bau
e) Penampilan tidak rapi
2) Psikologis
a) Malas, tidak ada inisiatif
b) Menarik diri
c) Merasa tidak berdaya, rendah diri dan merasa hina
3) Sosial
a) Interaksi kurang
b) Kegiatan kurang
c) Tidak mampu berprilaku sesuai norma
d) Cara makan tidak teratur, BAB dan BAK di sembarang tempat,
gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri

Menurut Sulastri (2016) Tanda dan Gejala Defisit perawatan diri


dapat dinilai dari pertanyaan pasien tentang kebersihan diri, berdandan
dan berpakaian, makan dan minum, BAB dan BAK dan didukung
dengan data hasil observasi
1) Data subjektif
Pasien mengatakan tentang :
a) Malas mandi
b) Tidak mau menyisir rambut
c) Tidak mau menggosok gigi
d) Tidak mau memotong kuku
e) Tidak mau berhias/berdandan
f) Tidak bisa/tidak mau menggunakan alat mandi/kebersihan diri
g) Tidak menggunakan alat makan dan minum saat makan dan
minum
h) BAB dan BAK sembarangan
i) Tidak membersihkan diri dan tempat BAB dan BAK setelah
BAB dan BAK
j) Tidak mengetahui cara perawatan diri yang benar
2) data objektif
a) Badan bau, kotor, berdaki, rambut rontok, gigi rontok, kuku
panjang, tidak menggunakan alat-alat mandi, tidak mandi
dengan benar.
b) Rambut kusut, berantakan, kumis dan jenggot tidak rapi, tidak
mampu berdandan memilih, mengambil dan memakai pakaian,
memakai sendal, sepatu, tidak pandai memakai resleting,
memakai barang-barang yang perlu dalam berpakaian, melepas
barang-barang yang perlu dalam berpakaian.
c) Makan dan minum sembarangan, berceceran, tidak
menggunakan alat makan, tidak mampu(menyiapkan makanan,
memindahkan makanan ke alat makan, memegang alat makan,
membawa makanan dari piring ke mulut, mengunyah, menelan
makanan secara aman, menyelesaikan makanan).
d) BAB dan BAK tidak ada tempatnya, tidak membersihkan diri
setelah BAB dan BAK, Tidak mampu (menjaga kebersihan
toilet, menyiran toilet).
3. Pohon masalah

Gangguan pemeliharaan kesehatan

Defisit perawatan diri

Kehilangan fungsi tubuh, kurangnya motifasi


Gambar 2.2 Pohon Masalah Defisit perawatan diri (sumber:Sutejo, 2017)

4. Diagnosa Keperawatan Defisit perawatan diri


Menurut Sulastri (2017) diagnosa keperawatan defisit perawatan
dirumuskan berdasarkan tanda dan gejala Defisit perawatan diri yang di
temukan. Jika hasil pengkajian menjukan tanda dan gejala Defisit perawatan
diri maka diagnosis keperawatan di tegakkan adalah “ Defisit perawatan diri
: kebersihan diri, makan dan minum, BAB dan BAK.”
Sedangkan menurut Sutejo (2017) berdasarkan data yang diperoleh,
diagnosis masalah keperawatan dalam gangguan Defisit perawatan diri
meliputi kebersihan diri, berhias, makan, eliminasi

5. Rencana tindakan keperawatan pada Pasien Defisit perawatan diri


Rencana tindakan keperawatan pada pasien Defisit perawatan diri
adalah suatu bentuk susunan perencanaaan tindakan keperawatan untuk
mengatasi pasien dengan Defisit perawatan diri. Tindakan keperawatan
diantaranya terdapat strategi pelaksanaan tindakan keperawatan, dan terapi
aktifitas kelompok. Tindakan-tindakan ini dapat ditunjukan pada tindakan
keperawatan untuk individu, tindakan keperawatan untuk keluarga, dan
tindakan keperawatan untuk kelompok.
Berikut adalah tabel 1.1 tentang rencana keperawatan Defisit perawatan
diri menurut Departemen Jiwa Komunitas Politeknik Kesehatan
Tanjungkarang tahun 2016.
18

Tabel 2.1 Rencana asuhan keperawatan pada masalah Defisit perawatan diri (Panduan praktik keperawatan jiwa, 2016)

Diagnosis Perencanaan
Keperawatan Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi
Defisit perawatan Tujuan umum : 1. Pasien menunjukan tanda-tanda percaya 1. Bina hubungan saling percaya:
diri Pasien dapat mandiri kepada perawatan: Beri salam setiap interaksi
dalam perawatan diri Wajah cerah, tersenyum Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan
Mau berkenalan perawat berkenalan
Tujuan khusus: Ada kontak mata Tanyakan nama dan panggilan kesukaaan Pasien
1. Pasien dapat Menerima kehadiran perawat Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali
mengenal Defisit Bersedia menceritakan perasaannya berinteraksi
perawatan diri dan Tanyakan perasaan dan masalah yang dihadapi Pasien
latihan personal 2. Pasien mengetahui pentingnya perawatan Buat kontrak interaksi yang jelas
hygiene diri, Pasien menyebutkan: Dengankan ungkapan perasaan Pasien dengan empati
Penuhu kebutuhan dasar Pasien
Penyebab tidak merawat diri
Manfaat menjaga perawatan diri 2. Diskusikan dengan Pasien:
Tanda-tanda bersih dan rapi Penyebab Pasien tidak merawat diri
Gangguan yang dialami jika perawatan Manfaat menjaga perawatan diri untuk keadaan fisik,
diri tidak diperhatikan mental, dan sosial.
3. Pasien mengetahui cara-cara melakukan Tanda-tanda perawatan diri yang baik
perawatan diri: Penyakit atau gangguan kesehatan yang bisa dialami
3.1. Pasien menyebutkan frekuensi menjaga oleh Pasien bila perawatan diri tidak adekuat
perawatan diri:
3.1. Diskusikan frekuensi menjaga perawatan diri selama ini
Frekuensi mandi Mandi
Frekuensi gosok gigi Gosok gigi
Frekuensi kramas Keramas
Frekuensi ganti pakaian Berpakaian
Frekuensi berhias Berhias
Frekuensi gunting kuku Gunting kuku

18
3.2. Pasien menjelaskan cara menjaga 3.2. Diskusikan cara praktek keperawatan diri yang baik dan
keperawatan diri: benar
Mandi
Cara mandi Gosok gigi
Cara gosok gigi Keramas
Cara keramas Berpakaian
Cara berpakaian Berhias
Cara berhias Gunting kuku
Cara gunting kuku 3.2. Berikan pujian untuk setiap respon Pasien yang positif

4.1. Bantu Pasien saat perawatan diri


Mandi
4. Pasien memperaktekkan perawatan diri Gosok gigi
dengan dibantu oleh perawat: Keramas
Berpakaian
Mandi
Berhias
Gosok gigi
Gunting kuku
Keramas
4.2 . Beri pujian setelah Pasien selesai melaksanakan
Berpakaian
perawatan diri
Berhias
Gunting kuku 4.3. masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan mandi, sikat
gigi (2kali per hari), cuci rambut (2 kali per minggu), potong
kuku (satu kali perminggu).

2. Pasien dapat latihan 1.Pasien mampu menyebutkan 1.1 Evaluasi kegiatan kebersihan diri. Beri pujian
merias diri Perawatan diri yang sudah dilakukan 1.2. Jelaskan cara dan alat untuk berhias
Cara berhias: 1.3. Latihan cara berhias setelah kebersihan diri : sisiran, rias
Wanita: bardandan/berhias muka untu wanita; sisiran, cukuran untuk pria.
Laki-laki: mencukur jenggot dan 1.4. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk kebersihan diri dan
kumis berhias

19
20

4. Pasien dapat 1. Pasien mampu menyebutkan 1. Evaluasi kegiatan kebersihan diri, berhias, makan &
menyebutkan cara Perawatan diri, berhias dan minum. Beri pujian
BAB/BAK yang baik. makan/minum yang sudah dilakukan 2. jelaskan cara BAB dan BAK yang baik
Cara/adab BAB/BAK
BAB/BAK di toilet
BAB/BAK di toilet
Membersihkan diri setelah BAB/BAK
Membersihkan diri setelah Membersihkan/menyiram toilet setelah BAB/BAK
BAB/BAK
3. bantu/Latih BAB dan BAK yang baik
Membersihkan/menyiram toilet
setelah BAB/BAK 4. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan kebersihan
diri, berhias, makan & minum, BAB dan BAK

Pasien dapat merawat Pasien mampu menyebutkan cara merawat 1. evaluasi kegiatan latihan perawatan diri: kebersihan diri,
diri secara mandiri diri dengan baik berhias, makan &minum, BAB dan BAK, beri pujian
Membersihkan diri 2. latih kegiatan harian
Berhias 3. nilai kemampuan yang telah mandiri
Makan/minum
4. niali apakah perawatan diri telah baik
BAB & BAK
5. Pasien mendapatkan 5.1. keluarga menyampaikan masalah dalam 1. diskusikan masalah yang dirasakan dalam merawat pasien,
dukungan keluarga merawat pasien jelaskan pengertian, tanda & gejala, dan prpses terjadinya
untuk meningkatkan Defisit perawatan diri (ginakan booklet)
perawatan diri: Penyebab Pasien tidsk melaksanakan perawatan diri
keluarga mengenal Tindakan yang telah dilakukan Pasien selama di
masalah DPD dan rumah sakit dalam menjaga perawatan diri dan
melatih Pasien merawat kemajuan yang telah dialami oleh Pasien
diri. Dukungan yang bisa diberikan oleh keluarga untuk
meningkatkan kemampuan Pasien untuk merawat
diri
2. jelaskan sarana untuk membersihkan diri
Sarana yang diperlukan untuk menjaga perawatan diri
Pasien
5.2. keluarga menyiapkan sarana perawatan Anjurkan kepada keluarga menyiapkan saran tersebut
diri Pasien: sabun mandipasta gigi,
shampoo, handuk, pakaian bersih, sandal

20
dan gunting kuku dll. 3. Diskusikan dengan keluarga hal-hal yang perlu dilakukan
keluarga dalam perawatan diri:
5.3. menjelaskan cara-cara membantu kilen Anjurkan keluarga untuk memperaktekan perawatan
dalam memenuhi kebutuhan perawatan diri ( mandi, gosok gigi, keramas, ganti baju, dan
dirinya gunting kuku)
Ingatkan Pasien waktu mandi, gosok gigi, keramas,
ganti baju, dan gunting kuku
Bantu jika Pasien mengalami hambatan dalam
perawatan diri
Berikan pujian atas keberhasilan Pasien

4. Latih cara merawat : kebersihan diri dan anjurkan


membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian
5.4. keluarga mempraktekkan cara
perawatan diri/personal hygiene pada
Pasien
6. Pasien mendapatkan 6.1. Keluarga menyampaikan kemampuan 1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat/melatih pasien
dukungan keluarga dalam merawat/melatih pasien kebersihan diri. Beri pujian
untuk meningkatkan membersikan diri
perawatan diri: keluarga
6.2. Keluarga menyiapkan saraa berhias 2. Jelaskan sarana untuk berhias
melatih Pasien berhias
Pasien : sisir, bedak & lipstik(wanita); alat Sarana yang diperlukan untuk berhias
cukur (laki-laki) Anjurkan kepada keluarga untuk menyiapkan sarana tersebut
3. diskusikan dengan keluarga hal-hal yang perlu dilakukan
6.3. Menjelaskan cara-cara membantu keluarga dalam berhias:
Pasien dalam berhias Anjutkan keluarga untuk memperaktikan cara berhias
Ingatkan Pasien waktu berhias
Bantu jika Pasien mengalami hambatan dalam berhias
Berikan pujian atas keberhasilan Pasien
4. latihan cara merawat : kebersihan diri dan berhias, anjurkan
membantu pasien sesuia jadwal dan memberikan pujian

6.4. keluarga memperaktekan cara berhias

21
22

pada Pasien

7. Pasien mendapatkan 7.1. Keluarga menyampaikan kemampuan 1. Evaluasi kegiatan keluara dalam merawat/melatih pasien
dukungan keluarga dalam merawat/melatih pasien kebersihan diri dan berhias. Berikan pujian
untuk meningkatkan membersihkan diri dan berhias
perawatan diri: 7.2. keluarga menyiapkan sarana makan dan
Keluarga melatih minum 2.Jelaskan sarana untuk makan dan minum
Pasien makan dan Saraan yang diperlukan untuk makan dan minum
minum yang baik Anjurkan pada keluarga menyiapkan sarana tersebut
3. diskusikan dengan keluarga hal-hal yang perlu dilakukan
7.3. menjelaskan cara-cara membantu keluarga untuk makan dan minum:
Pasien dalam makan dan minum Anjurkan keluarga untuk memperaktekan makan dan
minum
Ingatkan Pasien waktu makan dan minum
Bantu jika Pasien mengalami hambatan dalam makan
dan minum
Berikan pujian atas keberhasilan Pasien
7.4. keluarga memperaktekan cara berhias
4. Latih cara merawat: kebersihan diri, berhias dan makan dan
pada Pasien
minum. Beri pujian

8. Pasien mendapatkan 8.1. Keluarga menyampaikan kemampuan 1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat/melatih pasien
dukungan keluarga dalam merawat/melatih pasien kebersihan diri, berhias dan makan/minum. Beri pujian
untuk meningkatkan membersihkan diri, berhias dan
perawatan diri: keluarga makan/minum 2. Jelaskan sarana untuk BAB & BAK
melatih Pasien 8.2. Keluarga menyiapkan sarana BAB & Sarana yang diperlukan untuk BAB & BAK
BAB/BAK BAK Anjurkan pada keluarga menyiapkan sarana tersebut
3. diskusikan dengan keluarga hal-hal yang perlu dilakukan
keluarga untuk BAB& BAK :
8.3. Menjelaskan cara-cara untuk Anjurkan keluarga untuk memperaktekan makan dan
membantu Pasien dalam BAB & BAK minum
Ingatkan Pasien jika BAB & BAK
Bantu jika Pasien mengalami hambatan dalam BAB &

22
23

BAK
Berikan pujian atas keberhasilan Pasien
8.4. Keluarga memperaktekan cara 4. Latih cara merawat : kebersihan diri, berhias,
BAB&BAK pada Pasien makan/minum, dan BAB&BAK, anjurkan membantu pasien
sesuai jadwal dan beri pujian
Keluarag mampu Keluarga dapat menyebutkan cara merawat Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat/melatih
merawat Pasien secara Pasien dengan masalah Defisit perawatan pasien dalam perawattan diri : kebersihan diri,
mandiri diri berhias, makan/minum, dan BAB&BAK, beri pujian
Nilai kemampuan keluarga merawat Pasien
Nilai kemampuan keluarga melakukan kontrol ke
PKM
Jelaskan follow up ke PKM, tanda kambuh, rujukan
Anjurkan membantu Pasien sesuai jadwal dan
memberikan pujian

23
24

6. Implementasi
Proses implementasi adalah melaksanakan rencana tindakan yang sudah
disusun dan disesuaikan dengan kondisi saat itu. Pelaksanaan tindakan
keperawatan bisa lebih dari apa yang telah direncanakan atau lebih sedikit
dari apa yang sudah direncanakan bahkan mampu memodifikasi dari
perencanaan yang telah disesuaikan dengan kebutuhan pada saat asuhan
diberikan.
Dalam mengimplementasikan intervensi, perawat kesehatan jiwa
menggunakan intervensi yang luas yang dirancang untuk mencegah
penyakit meningkat, mempertahankan, dan memulihkan kesehatan fisik
dan mental (Damaiyanti, 2012).

7. Evaluasi
a. Evaluasi kemampuan pasien Defisit perawatan diri berhasil apabila
pasien dapat
1) Mandi, memcuci rambut, menggosok gigi dan menggunting kuku
dengan benar.
2) Mengganti pakaian dengan bersih
3) Membereskan pakaian kotor
4) Berdandan dengan benar
5) Mampersiapkan makanan
6) Mengambil makanan dan minuman dengn rapi
7) Menggunakan alat makan dan minum dengan benar
8) BAB dan BAK pada tempstnys
9) BAB dab BAK dengan bersih
b. Evaluasi kemampuan keluarga Defisit perawatan diri berhasil apabila
keluarga dapat:
1) Mengenal amsalah yang dirasakan dalam merawat pasien
(pengertian, tanda dan gejala, dan proses terjadinya Defisit
perawatan diri)
2) Menyediakan fasilitas kebersihan diri yang dibutuhkan oleh pasien
3) Merawat dan membimbing pasien dalam merawat diri: kebrsihan
diri , berdandan (wanita), bercukur (pria), makan dan minum,
BAB dan BAK
4) Follow up ke puskesmas, mengenal tanda kambuh dan rujukan

C. Tinjauan Konsep Penyakit


1. Pengertian Skizofrenia
Skizofrenia berasal dari bahasa yunani, schizein yang memiliki arti
„terpisah/batu pecah‟ dan phren yang berarti „jiwa‟. Secara umum
skizofrenia diartikan sebagai pecahan/ ketidak serasian antara efek, kognitif,
dan prilaku. Gangguan jiwa dapat terjadi pada siapa saja dan kapan saja.
Sedangkan menurut (Halgin dan Whitbouren 2007, dalam Wahyuni, 2010)
skizofrenia merupakan kumpulan gejala berupa gangguan isi dan bentuk
pikiran, persepsi, emosi/ perasaan, prilaku dan hubungan interpersonal.
Menurut Videback, (2008) Skizofrenia merupakan suatu sindrom klinis atau
proses penyakit yang mempengaruhi otak dan menyebabkan timbulnya
pikiran, persepsi, emosi, gerakan dan prilaku yang aneh dan terganggu.
Sedangkan menurut WHO (2009) skizofrenia merupakan ganguan jiwa
berat yang di karakteristikan dengan terjadinya distrosi persepsi, pikiran,
dan emosi yang tidak sesuai.Skizofrenia adalah suatu penyakit yang
mempengaruhi otak dan menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi,
gerakan dan prilaku yang aneh dan terganggu (Stuart, 2013).
Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya
penyimpangan yang sangat besar dan adanya perbedaan dari pikiran,
disertai dengan adanya ekspresi emosi yang tidak wajar, skizofrenia juaga
merupakan sindrom etiologi yang tidak diketahui dan ditandai dengan distur
gangguan kognisi, emosi, persepsi pemikiran dan prilaku Sutejo (2017).

2. Jenis-jenis Skizofrenia
Maramis, Willy F (2009) membagikan skizofrenia menjadi beberapa
jenis. Penderita digolongkan kedalam salah satu jenis menurut gejala utama
yang terdapat padanya. Akan tetapi batas-batas golongan-golongan ini tidak
jelas, gejala-gejala dapat berganti-ganti atau mungkin seorang penderita
tidak dapat digolongkan kedalam salah satu jenis. Pembagian adalah sebagai
berikut:
a. Skizofrenia Paranoid
Skizofrenia paranoid agak berlainan dari jenis-jenis yang lain
dalam jalannya penyakit. Skizofrenia hebefrenik dan katatonik sering
lama kelamaan menunjukkan gejala-gejala skizofrenia simplex, atau
gejala-gejala hebefrenik dan katatonik bercampuran. Tidak demikian
halnya dengan skizofrenia paranoid yang jalannya agak konstan.
Gejala-gejala yang mencolok adalah waham primer, disertai dengan
waham-waham sekunder dan halusinasi. Baru dengan pemeriksaan
yang teliti ternyata ada juga gangguan proses berpikir, gangguan afek,
emosi dan kemauan.
Jenis skizofrenia ini sering mulai sesudah umur 30 tahun.
Permulaannya mungkin sub akut, tetapi mungkin juga akut.
Kepribadian penderita sebelum sakit sering dapat digolongkan skizoid.
Mereka mudah tersinggung, suka menyendiri, agak congkak, dan
kurang percaya pada orang lain.
b. Skizofrenia Hebefrenik
Permulaannya perlahan-lahan atau sub akut dan sering timbul pada
masa remaja atau antara 15-25 tahun. Gejala yang mencolok adalah
gangguan proses berpikir, gangguan kemauan, gangguan psikomotor
seperti perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada skizofrenia
hebefrenik. Waham dan halusinasi banyak sekali.
c. Skizofrenia Katatonik
Timbulnya pertama kali antara umur 15-30 tahun, dan biasanya
akut serta sering didahului oleh stres emosional. Mungkin terjadi gaduh
gelisah katatonik atau stupor katatonik.
1) Muka tanpa mimic.
2) Stupor, penderita tidak bergerak sama sekali untuk waktu yang
lama, beberapa hari, bahkan kadang sampai beberapa bulan.
3) Bila diganti posisinya penderita menderita
4) Makanan ditolak, air ludah tidak ditelan sehingga terkumpul
didalam mulut dan meleleh keluar, air seni dan feses ditahan.
d. Skizorenia Simplex
Sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama pada
jenis simplex adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan.
Gangguan proses berpikir biasanya sukar ditemukan. Waham dan
halusinasi jarang sekali terdapat. Jenis ini timbulnya perlahan-lahan
sekali. Pada permulaan mungkin penderita mulai kurang
memperhatikan keluarganya atau mulai menarik diri dari pergaulan.
Makin lama ia makin mundur dalam pekerjaan atau pelajaran dan
akhirnya menjadi penganggur. Bila tidak ada orang yang menolongnya
ia mungkin akan menjadi pengemis atau penjahat.
e. Skizofrenia Residual
Jenis ini adalah keadaan kronis dari skizofrenia dengan riwayat
sedikitnya satu episode psikotik yang jelas dan gejala-gejala
berkembang kearah gejala negatif yang lebih menonjol. Gejala negatif
terdiri dari keterlambatan psikomotor, penurunan aktifitas, pasif dan
tidak ada inisiatif, kemiskinan pembicaraan, ekspersi non verbal
menurun, serta buruknya perawatan diri dan fungsi sosial.

3. Penyebab Skizofrenia
Menurut Maramis, Willy F (2009) penyebab skizofrenia terdiri atas
Genetik, neurokimia, hipotesis perkembangan saraf .
a. Genetik
Dapat dipastikan bahwa ada faktor ada faktor genetik yang turut
menentukan timbulnya skizofrenia. Hal ini telah dibuktikan dengan
penelitian tentang keluarga-keluarga penderita skizofrenia. Tetapi
pengaruh genetik tidak sesederhana hukum mendel. Diperkirakan
bahwa yang diturunkan adalah potensi untuk mendapatkan skizofrenia
melalui gen yang resesif. Potensi ini mungkin kuat, mungkin juga
lemah, tetapi selanjutnya tergantung pada lingkungan individu itu
apakah akan terjadi manifestasi skizofrenia atau tidak.
b. Neurokimia: Hipotesis dopamin
Menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh overaktivitas pada
jaras dopamin mesolimbik. Hal ini didukung oleh temuan bahwa
amfetamin, yang kerjanya meningkatkan pelepasan dopamin, dapat
menginduksi psikosis yang mirip skizofrenia; obat antipsikotik
(terutama antipsikotik generasi pertama atau antipsikotik tipikal/klasik)
bekerja dengan mengeblok reseptor dopamin.
c. Hipotesis perkembangan saraf
Studi autopsi dan studi pencitraan otak memperlihatkan
abnormalitas struktur dan morfologi otak penderita skizofrenia, antara
lain berupa berat otak yang rata-rata lebih kecil daripada otak normal,
pembesaran ventrikel otak yang nonspesifik, gangguan metabolisme
didaerah frontal dan temporal, dan kelainan susunan seluler pada
struktur saraf dibeberapa daerah kortex dan subkortex tanpa adanya
gliosis yang menandakan kelainan tersebut terjadi pada saat
perkembangan.
Semua bukti tersebut melahirkan hipotesis perkembangan saraf yang
menyatakan bahwa perubahan patologis gangguan ini terjadi pada awal
kehidupan, mungkin sekali akibat pengaruh genetik, dan kemudian
dimodifikasi oleh faktor maturasi dan lingkungan.

4. Tanda Gejala Skizofrenia


Menurut Yosep (2009), secara general tanda gejala serangan
skizofrenia dibagi menjadi dua yaitu:
a. Tanda gejala positif
Halusinasi selalu terjadi saat rangsangan terlalu kuat dan otak tidak
mampu menginterprestasikan dan merespons pesan atau rangsangan
yang datang. Pasien skizofrenia kemungkinan mendengar suara-suara
atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada atau mengalami suatu
sensasi yang tidak biasa pada tubuhnya. Auditory hallucination gejala
yang biasanya timbul yaitu pasien merasakan ada suara dari dalam
dirinya.
Penyesatan pikiran (delusi) adalah kepercayaan yang kuat dalam
menginterprestasikan suatu yang kadang berlawanan dengan kenyataan.
Beberapa penderita skizofrenia berubah menjadi seorang paranoid.
Mereka merasa selalu sedang diamati, diintai atau hendak diserang.
Kegagalan berfikir mengarah kepada masalah dimana pasien
skizofrenia tidak mampu memperoses dan mengatur pikirannya. Pasien
skizofrenia tidak mampu mengatuk pikirannya sehingga membuat
mereka berbicara sendiri dan tidak bisa ditamgkap secara logika.
Ketidakmampuan dalam berpikir mengakibatkan ketidakmampuan
mengendalikan emosi dan perasaan.
Semua itu membuat penderita skizofrenia tidak bisa memahami
siapa dirinya, tidak berpakaian, dan tidak bisa mengerti apa itu
manusia dia juga tidak bisa mengerti kenapa dia lahir, dimana dia
berada, dan sebagainya.
b. Tanda gejala negatif
Pasien skizofrenia kehilangan motivasi dan apatis berarti
kehilangan energi dan minat dalam hidup yang membuat pasien
menjadi orang yang malas. Perasan yang tumpul membuat emosi pasien
skizofrenia menjadi datar. Pasien skizofrenia tidak memiliki ekspresi
baik dari raut muka maupun gerakan tangannya. Tetapi ini tidak berarti
bahwa pasien skizofrenia tidak bisa merasakan perasaan apapun.
Mereka mungkin bisa menerima pemberian dan perhatian orang lain,
tetapi tidak bisa mengekspresikan perasaan mereka.
Perasaan depresi adalah suatu yang sangat menyakitkan mereka,
tidak merasa memiliki perilaku yang menyimpang, tidak bisa membina
hubungan relasi dengan orang lain, dan tidak mengenal cinta. Di
samping itu, perubahan otak secara biologis juga memberi andil dalam
depresi. Depresi yang berkelanjutan akan menyebabkan pasien menarik
diri dari lingkungannya. Mereka selalu merasa aman bila sendirian.

5. Penatalaksanaan Skizofrenia
a. Farmakologi
Menurut Maramis, Willy F (2009), indikasi pemberian obat anti
psikotik pada skizofrenia adalah: untuk mengendalikan gejala aktif dan
mencegah kekambuhan. Strategi pengobatan tergantung pada fase
penyakit apakah akut atau kronis. Fase akut biasanya ditandai oleh gejala
psikotik yang perlu segera diatasi. Tujuan pengobatan adalah mengurangi
gejala psikotik yang parah. Dengan fenotiazin biasanya waham dan
halusinasi hilang dalam waktu 2-3 minggu. Di fase ini halusinasi dan
waham tetap ada tetapi penderita tidak begitu terpengaruh lagi dan
menjadi lebih kooperatif. Setelah 4-6 minggu, pasien masuk ketahap
stabilitas dimana pada fase ini gejala-gejala sudah tterati, akantetapi
resiko relaps masih tinggi terlebih lagi jika pasien berhenti mengonsumsi
obat-obatan dan pasien mengalami setres. Setelah 6 bulan pasien masuk
ada fase rumatan yang bertujuan untuk mencegah kekambuha. Stategi
rumatan adalah menemukan disis efektif terendah yang dapat
memberikan pelindungan terhadap kekambuhan dan tidak mengganggu
fungsi psikososial pasien
Menurut Videback (2009) terapi medis utama untuk skizofrenia
ialah psikofarmakologi. Antipsikotik yang juga dikenal sebagai
neuroleptik, diprogramkan terutama karena keefektifannya dalam
mengurangi gejala psikotik. Obat-obatan ini tidak menyembuhkan
skizofrenia, tetapi digunakan untuk mengatasi gejala penyakit tersebut.
Antipsikotik tipikal mengatsi tanda-tannda positif skizofrenia, seperti
waham, halusinasi, gangguan pikir, gejala psikotik lainnya, tetapi tidak
memiliki efek yang tampak pada tanda-tanda negatif. Antipsikotik
tipikaal tidak hanya mengurangi tanda-tanda negatif tetapi untuk banyak
pasien, obat-obatan ini juga mengurangi tanda-tanda negatif seperti tidak
memiliki kemauan dan motivasi, menarik diri dari masyarakat (Littrel &
Littrel, 1998 dalam Videback, 2009).
Antipsikotik juga tersedia dalam bentuk injeksi dengan pot untuk
terapi rumatan, flufenazim dalam sedian dekanoat dan enantat dan
haloperidol (haldol) dekanoat ( Spratto & woods, 2000 dalam Videback,
2009). Efek obat-obatan ini berlangsung dua sampai empat minggu
sehingga antipsikotik tidak perlu diberikan tiap hari. Terapi oral dengan
obat-obatan ini untuk mencapai kadar dosis yang stabil memerlukan
waktu beberapa minggu sebelum menggantinya dengan injeksi. Dengan
demikian, sedian ini tidak cocok untuk mengatasi episode akut psikosis,
akan tetapi sedian ini akan bermanfaat untuk pasien yang perlu di awasi
kepatuhan minum obat dalam jangka panjang (Videback, 2009).
b. Non-farmakologi
Selain terapi farmakologi ada juga terapi non-farmakologis banyak
metotede terapi yang dapat bermanfaat bagi penderita skizofrenia yaitu
terapi kelompok dan individu, terapi lingkungan dan terapi keluarga
dapat dilaksanakan pada pasien di lingkungan rawat inap maupun
lingkungan masyarakat. Berikut penjelasannya.
1) Sesi terapi kelompok dengan individu sering kali bersifat suportif,
dengan memberi kesempatan kepada pasien untuk kontak sosial dan
mmenjalin hubungan yang berbakna dengan orang lain. Kelompok
yang berfokus pada topik masalah seperti penatalaksanaan
pengobatan, penggunaan dukungan masyarakat, dan masalah
keluarga juga bermanfaat bagi pasien penderita skizofrenia (Fenton
& Cole, 1995 dalam Videback, 2009).
2) Lingkungan yang terstruktur tersebut dapat menyediakan kelompok
aktivitas, sumber-sumber untuk menyelesaikan konflik, dan
kesempatan untuk mempelajari keterampilan baru. Perawat juga
dapat menggunakan musik dan menggambar untuk mengurangi
prilaku pasien menarik diri dari masyarakat, mengurangi ansietas,
dan meningkatkan motivasi dan lebih percaya diri (Videback, 2009).
3) Penyuluhan dan terapi keluarga diketahui mengurangi efek negatif
skizofrenia sehingga mengurangi angaka relaps (McFarlane, 1995
dalam Videback, 2009). Selain itu, anggota keluarga dapat
memperoleh manfaat dari lingkungan suportif yang membantu
mereka melakukan koping terhadap banyak kesulitan yang terjadi
ketika seseorang yang dicintai menderita skizofrenia (Videback,
2009).