Anda di halaman 1dari 4

2.1.

Pengertian Patofisiologi
Patofisiologi adalah ilmu yang mempelajari aspek dinamik dari proses penyakit. Patofisiologi
juga disebut ilmu yang mempelajari proses terjadinya perubahan atau gangguan fungsi tubuh
akibat suatu penyakit.
2.2. Penyakit Kronis
1. Definisi Penyakit Kronis
Penyakit kronis merupakan jenis penyakit degeneratif yang berkembang atau bertahan dalam
jangka waktu yang sangat lama, yakni lebih dari enam bulan. Orang yang menderita penyakit
kronis cenderung memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dan cenderung mengembangkan
perasaan hopelessness dan helplessness karena berbagai macam pengobatan tidak dapat
membantunya sembuh dari penyakit kronis (Sarafino, 2006). Rasa sakit yang diderita akan
mengganggu aktivitasnya sehari-hari, tujuan dalam hidup, dan kualitas tidurnya (Affleck et al.
dalam Sarafino, 2006).
2. Etiologi Penyakit Kronis
Penyakit kronis dapat diderita oleh semua kelompok usia, tingkat sosial ekonomi, dan budaya.
Penyakit kronis cenderung menyebabkan kerusakan yang bersifat permanen yang
memperlihatkan adanya penurunan atau menghilangnya suatu kemampuan untuk menjalankan
berbagai fungsi, terutama muskuloskletal dan organ-organ pengindraan. Ada banyak faktor yang
menyebabkan penyakit kronis dapat menjadi masalah kesehatan yang banyak ditemukan hampir
di seluruh negara, di antaranya kemajuan dalam bidang kedokteran modern yang telah mengarah
pada menurunnya angka kematian dari penyakit infeksi dan kondisi serius lainnya, nutrisi yang
membaik dan peraturan yang mengatur keselamatan di tempat kerja yang telah memungkinkan
orang hidup lebih lama, dan gaya hidup yang berkaitan dengan masyarakat modern yang telah
meningkatkan insiden penyakit kronis (Smeltzer & Bare, 2010).
3. Fase Penyakit Kronis
Menurut Smeltzer & Bare (2010), ada sembilan fase dalam penyakit kronis, yaitu sebagai
berikut.
a. Fase pra-trajectory adalah risiko terhadap penyakit kronis karena faktor-faktor genetik
atau perilaku yang meningkatkan ketahanan seseorang terhadap penyakit kronis.
b. Fase trajectory adalah adanya gejala yang berkaitan dengan penyakit kronis. Fase ini
sering tidak jelas karena sedang dievaluasi dan sering dilakukan pemeriksaan diagnostik.
c. Fase stabil adalah tahap yang terjadi ketika gejala-gejala dan perjalanan penyakit
terkontrol. Aktivitas kehidupan sehari-hari tertangani dalam keterbatasan penyakit.
d. Fase tidak stabil adalah periode ketidakmampuan untuk menjaga gejala tetap terkontrol
atau reaktivasi penyakit. Terdapat gangguan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
e. Fase akut adalah fase yang ditandai dengan gejala-gejala yang berat dan tidak dapat
pulih atau komplikasi yang membutuhkan perawatan di rumah sakit untuk
penanganannya.
f. Fase krisis merupakan fase yang ditandai dengan situasi kritis atau mengancam jiwa yang
membutuhkan pengobatan atau perawatan kedaruratan.
g. Fase pulih adalah keadaan pulih kembali pada cara hidup yang diterima dalam batasan
yang dibebani oleh penyakit kronis.
h. Fase penurunan adalah kejadian yang ter jadi ketika perjalanan penyakit berkembang disertai
dengan peningkatan ketidakmampuan dan kesulitan dalam mengatasi gejala-gejala.
i. Fase kematian adalah tahap terakhir yang ditandai dengan penurunan bertahap atau cepat
fungsi tubuh dan penghentian hubungan individual.

4. Kategori Penyakit Kronis


Menurut Christensen et al. (2006) ada beberapa kategori penyakit kronis, yaitu seperti
di bawah ini.
a. Lived with illnesses. Pada kategori ini individu diharuskan beradaptasi dan mempelajari
kondisi penyakitnya selama hidup dan biasanya tidak mengalami kehidupan yang
mengancam. Penyakit yang termasuk dalam kategori ini adalah diabetes, asma, arthritis,
dan epilepsi.
b. Mortal illnesses. Pada kategori ini secara jelas kehidupan individu terancam dan individu
yang menderita penyakit ini hanya bisa merasakan gejala-gejala penyakit dan ancaman
kematian. Penyakit dalam kategori ini adalah kanker dan penyakit kardiovaskuler.
c. At risk illnesses. Kategori penyakit ini sangat berbeda dari dua kategori sebelumnya.
Pada kategori ini tidak ditekankan pada penyakitnya, tetapi pada risiko penyakitnya.
Penyakit yang termasuk dalam kategori ini adalah hipertensi dan penyakit yang
berhubungan dengan hereditas.
5. Tanda dan Gejala
Karakteristik penyakit kronis adalah penyebabnya yang tidak pasti, memiliki faktor risiko
yang multiple, membutuhkan durasi yang lama, menyebabkan kerusakan fungsi atau
ketidakmampuan, dan tidak dapat disembuhkan secara sempurna (Smeltzer & Bare, 2010).
Tanda-tanda lain penyakit kronis adalah batuk dan demam yang berlangsung lama, sakit pada
bagian tubuh yang berbeda, diare berkepanjangan, kesulitan dalam buang air kecil, dan
warna kulit abnormal (Heru, 2007).

6. Sifat Penyakit Kronik


Menurut Wristht Le (1987) mengatakan bahwa penyakit kronik mempunyai beberapa
sifat diantaranya :

a. Progresif
Penyakit kronik yang semakin lama semakin bertambah parah. Contoh penyakit
jantung.
b. Menetap
Setelah seseorang terserang penyakit, maka penyakit tersebut akan menetap pada
individu. Contoh penyakit diabetes mellitus.
c. Kambuh
Penyakit kronik yang dapat hilang timbul sewaktu-waktu dengan kondisi yang sama
atau berbeda. Contoh penyakit arthritis

GAGAL JANTUNG KRONIK


Gagal jantung adalah sindrom klinis (sekumpulan tanda dan gejala) yang ditandai oleh sesak
napas dan fatigue (saat istirahat atau saat aktivitas) yang disebabkan oleh kelainan struktur atau
fungsi jantung. Penyebab dari gagal jantung antara lain disfungsi miokard, endokard, perikardium,
pembuluh darah besar, aritmia, kelainan katup dan gangguan irama.
Gagal jantung merupakan abnormalitas dari struktur atau fungsi jantung yang
menyebabkan kegagalan dari jantung untuk mengantarkan oksigen dengan kecukupan yang
sepadan sesuai dengan kebutuhan dari jaringan yang bermetabolisme. Menurut
guidelines ESC untuk diagnosis dan tatalaksana gagal jantung akut dan kronik, gagal jantung
didefinisikan, secara klinis, sebagai sebuah sindroma dimana pasien memiliki gejala tipikal
(sesak nafas, ankle swelling, dan kelelahan) dan tanda (peningkatan tekanan vena jugularis,
pembengkakan pada tungkai, ronkhi pada paru, dan pergeseran dari denyut apeks jantung).
Seseorang yang telah dikenal mengalami gagal jantung dalam beberapa waktu disebut sebagai
penderita gagal jantung kronik. Pasien dengan gejala dan tanda yang diobati yang secara umum
tidak mengalami perburukan paling kurang selama satu bulan dapat dikatakan sebagai pasien
gagal jantung kronik yang stabil. Jika pasien dengan gagal jantung kronik mengalami
perburukan keadaan, pasien bisa disebut mengalami dekompensasi dan dapat terjadi secara
akut yang biasanya akan mengantarkan pasien ke rumah sakit. Sedangkan gagal jantung akut
adalah pasien yang datang dengan gejala gagal jantung yang tiba tiba yang memerlukan terapi
segeradan bahkan sering mengancam nyawa
PATOFISOLOGI GAGAL JANTUNG KRONIK
Kelainan intrinsik pada kontraktilitas miokardium yang khas pada gagal jantung iskemik,
mengganggu kemampuan pengosongan ventrikel yang efektif. Kontraktilitas ventrikel kiri
yang menurun mengurangi curah sekuncup, dan meningkatkan volume residu ventrikel.Dengan
meningkatnya EDV (volume akhir diastolik ventrikel), maka terjadi pula peningkatan tekanan
akhir diastolik ventrikel kiri (LVEDP).Derajat peningkatan tekanan tergantung dari
kelenturan ventrikel.Dengan meningkatnya LVEDP, maka terjadi pula peningkatan tekanan
atrium kiri (LAP) karena atrium dan ventrikel berhubungan langsung selama
diastol.Peningkatan LAP diteruskan ke belakang ke dalam anyaman vaskular paru-paru,
meningkatkan tekanan kapiler dan vena paru. Jika tekanan hidrostatik dari anyaman kapiler
paru-paru melebihi tekanan onkotik vaskular, maka akan terjadi transudasi cairan ke dalam
intertisial. Jika kecepatan transudasi cairan melebihi kecepatan drainase limfatik, maka akan
terjadi edema intertisial. Peningkatan tekanan lebih lanjut dapat mengakibatkan cairan
merembes ke dalam alveoli dan terjadilah edema paru-paru.Tekanan arteri paru-paru dapat
meningkat sebagai respon terhadap peningkatan kronis tekanan vena paru.Hipertensi
pulmonari meningkatkan tahanan terhadap ejeksi ventrikel kanan. Serentetan kejadian seperti
yang terjadi pada jantung kiri, juga akan terjadi pada jantung kanan, di mana akhirnya akan
terjadi kongesti sistemik dan edema.
Perkembangan dari kongesti sistemik atau paru-paru dan edema dapat dieksaserbasi oleh
regurgitasi fungsional dari katup-katup trikuspidalis atau mitralis
bergantian.Regurgitasi fungsional dapat disebabkan oleh dilatasi dari katup atrioventrikularis,
atau perubahan-perubahan pada orientasi otot papilaris dan korda tendinae yang terjadi
sekunder akibat dilatasi ruang.Sebagai respon terhadap gagal jantung, ada tiga mekanisme
primeryang dapat dilihat:
1. Meningkatnya aktivitas adrenergik simpatik
2. Meningkatnya beban awal akibat aktivitas system renin-angiotensin-aldosteron
3. Hipertrofi ventrikel Ketigarespon kompensatorik inimencerminkan usaha untuk
mempertahankan curah jantung.
Mekanisme-mekanisme ini mungkin memadai untuk mempertahankan curah jantung pada
tingkat normal atau hampir normal pada gagal jantung dini, dan pada keadaan
istirahat.Tetapi, kelainan pada kerja ventrikel dan menurunnya curah jatung biasanya tampak
pada keadaan beraktivitas. Dengan berlanjutnya gagal jantung, maka kompensasi akan menjadi
semakin kurang efektif

DAFTAR PUSTAKA

Suyanto. 2016. Patologi. Jakarta: BPPSDMK

https://sinta.unud.ac.id/uploads/dokumen_dir/78b8ae893e64b1ef02093820eb4d4297.pdf
(online) diakses pada tanggal 23 Agustus 2020

Firmasyah, Alles dan Diana Ardila. 2017. Penyakit Jantung Kronik. Padang: Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas