Anda di halaman 1dari 40

Laporan Praktikum Spesialite dan Terminologi

Spesialit Obat Gangguan Pencernaan

Disusun Oleh :

Anisa Amy Tri Saputri


2018.132.004

PROGRAM STUDI DIII FARMASI


POLITEKNIK KESEHATAN PERMATA INDONESIA
YOGYAKARTA
2021
A. Judul Praktikum
Spesialite Obat Gangguan Pencernaan
B. Tujuan Praktikum
Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami klasifikasi dan jenis obat gangguan
pencernaan sehingga dapat menjelaskan atau menginformasikan merk yang beredar dan
produsennya kepada stakeholder.
C. Konsep Teori
Sistem pencernaan makanan dimulai didalam mulut dimana makanan dihaluskan sambil
diaduk dengan ludah yang mengandungsuatu enzim amilase yaitu ptialin, yang berfungsi
menguraikan karbohidrat. Setelah itu ditelan dan adukan dilanjutkan dengan gerakan
peristaltik ke lambung dengan bantuan getah lambung yang terdiri dari asam lambung dan
pepsin, yaitu suatu enzim proteolitik yang disekresioleh selaput lendir lambung.
Pencernaan dilanjutkan didalam usus yang dibantu oleh enzim-enzim pencernaan yang
dihasilkan oleh pancreas dan mukosa usus.Setelah terbentuk zat-zat gizi yang sangat halus dan
mudah diserap oleh tubuh maka sisa makanan masuk ke usus besar dan diolah oleh flora
normal usus hingga siap untuk dibuang.
Di seluruh lambung usus inilah dapat timbul berbagai gangguan penyakit baik yang
disebabkan oleh terganggunya produksi enzim pencernaan maupun yang disebabkan oleh
infeksi-infeksi usus oleh kuman dan cacing.
1. Tukak Lambung
Tukak peptik merupakan keadaan dimana kontinuitas mukosa lambung terputus dan
meluas sampai di bawah epitel. Tukak lambung, ulcus, terjadi apabila dinding lambung
rusak akibat mucus yang menyelimutinya rusak. Enzim yang dihasilkan di dalam mucus
memakan bagian-bagian kecil pada lapisan permukaan lambung. Penyakit yang
disebabkan oleh infeksi virus ini menyebabkan dinding lambung berlubang sehingga isinya
jatuh ke dalam rongga perut.
2. Mual dan Muntah
Mual sering kali diartikan sebagai keinginan untuk muntah ataugejala yang dirasakan
ditenggorokan dan di daerah sekitar lambung yangmenandakan kepada seseorang bahwa
ia akan segera muntah. Muntah diartikan sebagai pengeluaran isi lambung melalui mulut,
yang seringkali membutuhkan dorongan yang sangat kuat.
3. Diare
Diare adalah suatu keadaan meningkatnya berat dari feses (>200mg/hari) yang dapat
dihubungkan dengan meningkatnya cairan, frekuensi BAB, tidak enak pada perianal, dan
rasa terdesak untuk BAB dengan atau tanpa inkontinensia fekal. Diare atau merupakan
kondisi rangsangan buangair besar yang terus menerus disertai keluarnya feses atau tinja
yang kelebihan cairan, atau memiliki kandungan air yang berlebih dari kandungan normal.
4. Konstipasi
Konstipasi ialah kesulitan defekasi karena feses yang mengeras, otot polos yang mengeras,
otot polos yang lumpuh, dan gangguan refleks defekasi; sedangkan obstipasi ialah
kesulitan defekasi karena obstruksi lumen (intra atau ekstra) usus. Konstipasi dan obstipasi
menunjukkan bahwa perjalanan (passage) feses mengalami penghambatan dan biasanya
disertai kesulitan defekasi. Pada keadaan normal dalam 24 jam kolon harus dikosongkan
secara teratur. Beberapa orang sehat mengalami defekasi 2-3 kali dalam sehari.
5. Spasme saluran cerna
Mekanisme Terjadinya Spasme Saluran Cerna
Saat terjadi gangguan keseimbangan saluran cerna yang disebabkan oleh:
a. Meningkatnya produksi asam lambung
b. Adanya gas yang berlebihan dalam system pencernaan
c. Penggunaan zat atau obat yang menekan kerja saraf motorik
d. Keadaan infeksi di saluran cerna
e. Maka dinding saluran cerna yang berongga akan berkontraksi dengan rangsangan
tersebut .
D. Tabel Pengamatan
1. Pengamatan obat terapi ulcer
Nama Zat Aktif BSO dan Kekuatan Nama Produk (Merk) Produsen
Ranitidine 150 mg (Tablet) Ranitidine Kimia Farma
300 mg (Tablet)
50mg/ml (Injeksi)
Simetidine 200 mg (Tablet) Cimetidine Kimia Farma

Pantoprazole 20 mg (Tablet) Pantoprazole Mahakam Beta


40 mg (Tablet)
Omeprazole 20 mg (Tablet) Omeprazole OGB Dexa
Lansoprazole 30 mg (Kapsul) Lansoprazole Indo Farma
Al. Hidroksida 200 mg + 200 mg Antasida Doen Mersi
Mg. Hidroksida (Tablet)
Al. Hidroksida 250 mg + 250 mg + Magtral OTTO
Mg. Hidroksida 50 mg (Tablet)
Simetikon
Al. Hidroksida 325 mg + 325 mg + Gastrucid Nufarindo
Mg. Hidroksida 50 mg / 5ml
Dimetikon (Suspensi)
Al. Hidroksida 200 mg + 200 mg + Polysilane Pharos
Mg. Hidroksida 40mg/5ml
Dimetilpolisiloksan (Suspensi)
Sukralfat 500 mg(Tablet) Sukralfat OGB Dexa
2. Pengobatan obat antiemetik
Nama Zat Aktif BSO dan Kekuatan Nama Produk (Merk) Produsen
Prometazin 5mg/ml (sirup) Camergan Tanabe Indonesia
Piratiazin 40mg + 30mg Anvomer B6 Dexa
Piridoxin HCl (Tablet)
Dimenhidrinat 50mg/tab Dimenhidrinat Erlimpex
Antimo Phapros
Domperidon 10 mg (Tablet) Domperidone Indofarma
Ondancetron 4mg (Tablet) Ondavell Novell
Ganisetron 3ml/Amp (Injeksi) Granon Dexa Medica
1mg (Tablet)
Ondansetron 4 mg (Tablet) Ondansetron Promedraharjo
8 mg (Tablet)
4mg/5ml (Sirup)
Palonosetron 50mcg/mL (Injeksi) Paloxi Kalbe Farma
Ramosetron 0,15mg/mL Nasea Injeksi Combiphar
(Injeksi)
Metoklopramid 10 Tablet Sotatic Fahrenheit
3. Pengamatan obat antidiare
Nama Zat Aktif BSO dan Kekuatan Nama Produk (Merk) Produsen
Attapulgit 600mg (Tablet) Diatabs Medifarma
630 mg (Tablet) Pularex Pharmasi Zenith
Norit
Attapulgit + Pektin 700mg + 50 mg Molagit Molex Ayus
(Tablet)
Kaolin + Pektin 986 mg + 40 mg Guanistrep Itrasal
/5ml (suspensi)
985 mg + 22 mg Kaotin Erla
/5ml (Suspensi)
Loperamide 2mg (Tablet) Imodium Janssen
Lopamid Harsen
Karbon Aktivatus 125mg (Tablet) Norit Eagle Indo
Pharma
Oralit 4gr/sach (Serbuk) Pharolit Novell
Psidii Guajavae 600mg (Kapsul) Diapet Soho
Folium -
Curcumae
Domisticae
Rhizoma -
Terminalia
Chebulae Fructus –
Punicae Granati
Pericarpium
Zink 1 gr/sach Lacto B Novell
4. Pengamatan obat laksatif
Nama Zat Aktif BSO dan Kekuatan Nama Produk (Merk) Produsen
Bisacodyl 5mg (Tablet) Dulcolax Boehringer
10mg (Tablet) Ingelheim

Parafin Cair – 1,5gr + 75mg + 1 gr Kompolax Ifars


phenoptalein – /5ml (Emulsi)
gliserin
Laktulosa 3,335gr/5ml (Sirup) Opilax Otto
10gr/15ml (Sirup) Dulcolactol Boehringer
Ingelheim
3,335 gr/5ml (Sirup) Lactulax Ikaparmindo
Putramas
Phenoptalein 55 mg + 55 mg + Laxadine Galenium
Paraffin liquidum 378 mg pharmasia
Glycerin
Na Lauril 5 gram/ 5Ml Microlax Pharos
Sulfoasetat – Na (Suppositoria)
Sitrat – Sorbitol-
PEG
Aloe Vera + 100mg + 33mg+ Laxing Soho
Cassiae Sennae 20mg (Kapsul)
Folium + Foeniculi
Vulgaris Folium
Cassia sennae 5gr (Serbuk) Vegeta Herbal Enesis group
Folium – Rheum
officinale Radix-
Foeniculi vulgare
Fructus –
Liquirittae Radix-
Plantago ovata
semini endosperm
pulveratum
Platago ovata + 500mg + 45mg Maximus Pharos
Cassia Sennae (Kapsul)
Fructus
5. Pengamatan Antispasmodik
Nama Zat Aktif BSO dan Kekuatan Nama Produk (Merk) Produsen
Chlordiazepoxide + 7,5 mg (Tablet) Braxidine Sanbe Farma
Clidinium Bromide
Hyoscine 10mg (Kaplet) Scopma Ifars
Butylbromide
20mg/ml (Injeksi) Gitas Interbat
10mg (Tablet) Scopamin Otto
Hyoscine 10mg + 500mg Scopma Plus Ifars
Butylbromide (Kaplet)
Paracetamol Hiopar Graha Farma
Hyoscin N-Butyl 10mg (Tablet) Spasmolit Mepro farm
Bromide
10mg (Tablet) Buscopan Boehringer
Ingelheim
Methampyrone + 500mg + 25mg + Spasminal Kalbe Farma
Papaverin HCl + 10mg (Tablet)
Belladona Exstract
Mebeverin HCl 135mg (Tablet) Duspatalin Abbott

E. Pembahasan
1. Anti Ulcer
Antiulcer adalah Obat yang digunakan untuk mengurangi atau menghambat produksi
asam lambung. Pemilihan obat untuk terapi tukak sangat tergantung pada penyebabnya.
Pilihan obat sesuai peruntukannya yaitu:
a. Penghambat sekresi asam: ranitidin, simetidin, famotidin, nizatidin, omeprazol,
lansoprazol, pantoprazol.
b. Anti hiperasiditas: antasida (kombinasi senyawa organik Al-hidroksida, Mg-trisilikat,
dan senyawa lainnya).
c. Pelindung mukosa: sukralfat, bismut subsalisilat.
d. Analog prostaglandin: misoprostol (tidak banyak dipakai karena efek samping
oksitosik).
Spesialite:
a. Aluminium Hydroxida :
Mekanisme kerja : menetralkan asam lambung
b. Antasida
Mekanisme kerja : menetralkan asam lambung dengan cara meningkatkan pH lumen
lambung
c. Simetikon
Mekansime kerja Simetikon mengubah tekanan permukaan gelembung gas hingga gas
gas menyatu sehingga memudahkan eliminasi gas melalui serdawa / flatus
d. Simetidin
Cara Kerja Obat : Simetidin adalah antihistamin penghambat reseptor H2 secara
selektif dan reversible. Penghambat reseptor H2 akan menghambat sekresi asam
lambung, baik pada keadaan istirahat maupun setelah perangsangan oleh makanan,
histamine, pentagastrin, insulin dan kafein.
Pada pemberian oral, simetidin diabsorbsi dengan baik dan cepat, tetapi sedikit
berkurang bila ada makanan atau antasida. Kadar puncak dalam plasma dicapai dalam
1-2 jam setelah pemberian, dengan waktu paruh 2-3 jam. Simetidin diekresikan
sebagian besar bersama urin dan sebagian kecil bersama feses.
e. Famotidine
Cara Kerja Obat : Famotidin bekerja dengan menghambat secara kompetitif reseptor
histamin H2. Aktivitas farmakologi yang penting adalah menghambat sekresi gastrik,
sehingga volume sekresi gastnk dan konsentrasi asam menurun.
f. Ranitidin
Ranitidine adalah suatu histamin antagonis reseptor H2 yang menghambat kerja
histamin secara kompetitif pada reseptor H2 dan mengurangi sekresi asam lambung.
Pada pemberian i.m./i.v. kadar dalam serum yang diperlukan untuk menghambat 50%
perangsangan sekresi asam lambung adalah 36–94 mg/mL. Kadar tersebut bertahan
selama 6–8 jam. Ranitidine diabsorpsi 50% setelah pemberian oral. Konsentrasi puncak
plasma dicapai 2–3 jam setelah pemberian dosis 150 mg. Absorpsi tidak dipengaruhi
secara nyata oleh makanan dan antasida. Waktu paruh 2 ½–3 jam pada pemberian oral,
Ranitidine diekskresi melalui urin.
g. Omeprazole
Omeprazole merupakan antisekresi, turunan benzimidazole, yang bekerja menekan
sekresi asam lambung dengan menghambat aktivitas enzim H/K ATPase (pompa
proton) pada permukaan kelenjar sel pariental gastrik pada pH<4. Omeprazole yang
berikatan dengan proton (H) secara cepat akan diubah menjadi sulfonamida, suatu
penghambat proton yang aktif. penggunaan Omeprazole secara oral menghambat
sekresi asam lambung basal dan stimulasi pentagastrik.
2. Anti Emetik
Antiemetik adalah obat-obatan yang digunakan dalam penatalaksanaan mual dan
muntah. Tujuan keseluruhan dari terapi antiemetik adalah untuk mencegah atau
menghilangkan mual dan muntah, seharusnya tanpa menimbulkan efek samping. Terapi
antiemetik diindikasikan untuk pasien dengan gangguan elektrolit akibat sekunder dari
muntah, anoreksia berat, memburuknya status gizi atau kehilangan berat badan. Anti
emetika diberikan kepada pasien dengan keluhan sebagai berikut :
a. Mabuk jalan (motion sickness)
Disebabkan oleh pergerakan kendaraan darat, laut maupun udara dengan akibat
stimulasi berlebihan di labirin yang kemudian merangsang pusat muntah melalui
chemo reseptor trigger one (CTZ).
b. Mabuk kehamilan (morning sickness)
Pada kasus ringan sebaiknya dihindari agar tidak berakibat buruk pada janin,
sedangkan pada kasus berat dapat dipakai golongan antihistamin atau fenotiazin
(prometazin) yang kadang dikombinasikan dengan vitamin B6, penggunaannya
sebaiknya dibawah pengawasan dokter.
c. Mual atau muntah yang disebabkan penyakit tertentu, seperti pada pengobatan dengan
radiasi atau obat-obat sitostatika.
Cara kerja dari antiemetik adalah dengan mengurangi hiperaktifitas atau aktifitas
berlebihan dari refleks muntah yang terdapat di dalam tubuh dengan melalui dua cara, yang
pertama yaitu dengan cara lokal, yaitu dengan langsung menghambat respon lokal untuk
berhenti memberikan stimulus yang nantinya akan dikirim ke medula untuk memicu reaksi
muntah, ia menghambat dengan menghentikan stimulus atau menumpulkan syaraf agar
tidak memberi respon terhadap sesuatu yang membuat pasien mual dan muntah.
Cara kedua adalah dengan mempengaruhi daerah sentral untuk menekan pusat muntah.
Jenis obat antiemetik yang bekerja secara lokal antara lain adalah anastid, naestesi lokal,
adsorben, obat pelindung yang fungsinya melapisi mukosa ataupun obat yang mencegah
peregangan saluran pencernaan. Biasanya digunakan untuk mengatasi mual ringan yang
tidak terlalu parah.
Antiemetik yang digunakan adalah:
a. Golongan fenotiazin: prometazin, piratiazin.
b. Antagonis reseptor H1: dimenhidrinat, meklizin, cisaprid, domperidon. aprid,
domperidon.
c. Antagonis reseptor serotonin: ondansetron, ganisetron, ramosetron, palonosetron.

3. Anti Diare
Diare adalah suatu masalah saluran pencernaan dimana feses menjadilembek atau cair,
biasanya terjadi paling sedikit tiga kali dalam 24 jam.Biasanya disertai sakit perut dan
seringkali mual dan muntah. Diare yang berlebihan dapat menyebabkan dehidrasi hingga
kematian. Kehilangan cairanatau elektrolit (ion Na+ dan K +) pada diare yang parah
menyebabkan penderitamengalami dehidrasi. Dehidrasi inilah yang dapat menyebabkan
kematian pada kasus diare.
Umumnya diare nonspesifik dapat sembuh dengan sendirinya, namun untuk
mengurangi gejala diare dapat digunakan beberapa obat, antara lain
antimotilitas,antisekretori, adsorben dan obat-obat lainnya seperti probiotik, enzim laktase
dan zink.
Spesialite
a. Oralit
Terapi non farmakologi dengan menggunakan larutan yang mengandung elektrolit-
glukosa sangat efektif dalam mengatasi dehidrasi pada diare, terutama diare akut.
Larutan ini sering disebut rehidrasi oral.
b. Kaolin pectin
Mekanisme kerja: menyerap racun-racun dan melindungi lapisan usus
c. Kolodial attapulgit teraktivasi
Mekanisme kerja : dengan mengabsorpsi nutrisi, racun, obat dan cairan pada saluran
pencernaan.
d. Loperamida HCL
Mekanisme kerja : Memperbaiki kehilanga cairan elektrolit , menghilakan gejala/
penyebab utama
e. Arang Jerap
Mekanisme kerja: Menyerap bakteri yang talah mati .
4. Laksatif
Laksatif atau pencahar adalah makanan atau obat-obatan yang diminum untuk
membantu mengatasi sembelit dengan membuat kotoran bergerak dengan mudah di usus.
Dalam operasi pembedahan, obat ini juga diberikan kepada pasien untuk membersihkan
usus sebelum operasi dilakukan.
Golongan obat-obat pencahar yang biasa digunakan adalah:
a. Bulking Agents
Bulking agents (gandum, psilium, kalsium polikarbofil dan metilselulosa) bisa
menambahkan serat pada tinja. Penambahan serat ini akan merangsang kontraksi alami
usus dan tinja yang berserat lebih lunak dan lebih mudah dikeluarkan. Bulking agents
bekerja perlahan dan merupakan obat yang paling aman untuk merangsang buang air
besar yang teratur. Pada mulanya diberikan dalam jumlah kecil. Dosisnya ditingkatkan
secara bertahap, sampai dicapai keteraturan dalam buang air besar. Orang yang
menggunakan bahan-bahan ini harus selalu minum banyak cairan.
b. Pelunak Tinja
Dokusat akan meningkatkan jumlah air yang dapat diserap oleh tinja. Sebenarnya
bahan ini adalah detergen yang menurunkan tegangan permukaan dari tinja, sehingga
memungkinkan air menembus tinja dengan mudah dan menjadikannya lebih lunak.
Peningkatan jumlah serat akan merangsang kontraksi alami dari usus besar dan
membantu melunakkan tinja sehingga lebih mudah dikeluarkan dari tubuh.
c. Minyak Mineral
Minyak mineral akan melunakkan tinja dan memudahkannya keluar dari tubuh. Tetapi
bahan ini akan menurunkan penyerapan dari vitamin yang larut dalam lemak. Dan jika
seseorang yang dalam keadaan lemah menghirup minyak mineral secara tidak sengaja,
bisa terjadi iritasi yang serius pada jaringan paru-paru. Selain itu, minyak mineral juga
bisa merembes dari rektum.
d. Bahan-bahan Osmotik
Bahan-bahan osmotik mendorong sejumlah besar air ke dalam usus besar, sehingga
tinja menjadi lunak dan mudah dilepaskan. Cairan yang berlebihan juga meregangkan
dinding usus besar dan merangsang kontraksi. Pencahar ini mengandung garam-garam
(fosfat, sulfat dan magnesium) atau gula (laktulosa dan sorbitol). Beberapa bahan
osmotik mengandung natrium, menyebabkan retensi (penahanan) cairan pada penderita
penyakit ginjal atau gagal jantung, terutama jika diberikan dalam jumlah besar. Bahan
osmotik yang mengandung magnesium dan fosfat sebagian diserap ke dalam aliran
darah dan berbahaya untuk penderita gagal ginjal. Pencahar ini pada umumnya bekerja
dalam 3 jam dan lebih baik digunakan sebagai pengobatan daripada untuk pencegahan.
Bahan ini juga digunakan untuk mengosongkan usus sebelum pemeriksaan rontgen
pada saluran pencernaan dan sebelum kolonoskopi.
e. Pencahar Perangsang.
Pencahar perangsang secara langsung merangsang dinding usus besar untuk
berkontraksi dan mengeluarkan isinya. Obat ini mengandung substansi yang dapat
mengiritasi seperti senna, kaskara, fenolftalein, bisakodil atau minyak kastor. Obat ini
bekerja setelah 6-8 jam dan menghasilkan tinja setengah padat, tapi sering
menyebabkan kram perut. Dalam bentuk supositoria (obat yang dimasukkan melalui
lubang dubur), akan bekerja setelah 15-60 menit. Penggunaan jangka panjang dapat
menyebabkan kerusakan pada usus besar, juga seseorang bisa menjadi tergantung pada
obat ini sehingga usus menjadi malas berkontraksi (Lazy Bowel Syndromes). Pencahar
ini sering digunakan untuk mengosongkan usus besar sebelum proses diagnostik dan
untuk mencegah atau mengobati konstipasi yang disebabkan karena obat yang
memperlambat kontraksi usus besar (misalnya narkotik).

Obat obat laksatif:


a. Pencahar perangsang: minyak jarak, fenolftalein, bisakodil. sakodil.
b. Pencahar osmotik: magnesium sulfat, natrium fosfat, fosfat, laktulosa laktulosa
c. Pencahar pembentuk masa: metilselulosa, CMC-Na, aga agar-agar r-agar
d. Pencahar emolien/pelunak: parafin cair, Na-dioktil cair, Na-dioktil sulfosuksinat
Mekanisme Kerja Laksatif
Mekanisme pencahar yang sepenuhnya masih belum jelas, namun secara umum dapat
dijelaskan sebagai berikut :
a. Sifat hidrofilik atau osmotiknya sehingga terjadi penarikan air dengan akibat massa,
konsistensi, dan transit feses bertambah.
b. Laksatif bekerja secara langsung ataupun tidak langsung pada mukosa kolon dalam
menurunkan absorbs NaCl dan air
c. Laksatif juga dapat meningkatkan motilitas usus dengan akibat menurunnya absorbs
garam dan air yang selanjutnya mengubah waktu transit feses.
5. Antispasmodik
Antispasmodik adalah obat yang membantu mengurangi atau menghentikan kejang
otot di usus yang mungkin disebabkan diare, gastritis, tukak peptik dan sebagainya.
Antispasmodik merupakan golongan obat yang memiliki sifat sebagai relaksan otot polos.
a. Hyoscine
Obat ini beraksi pada sistem saraf otonom dan mencegah kejang otot. Obat ini biasa
digunakan untuk pra pengobatan untuk mengosongkan secresi paru-paru. Obat ini juga
digunakan untuk pengobatan tukak lambung.
b. Clidinium
Kombinasi chlordiazepoxide dan clidinium bromide digunakan untuk mengobati
lambung yang luka dan teriritasi. Obat ini membantu mengobati kram perut dan
abdominal. Chlordiazepoxide dapat menyebabkan kecanduan. Meskipun demikian,
sewaktu mengkonsumsi chlordiazepoxide dan clidinium bromide, jangan minum
dengan dosis besar atau minum lebih lama dari yang dokter resepkan. Toleransi
mungkin terjadi karena pemakaian jangka panjang atau berlebihan yang membuat
pengobatan kurag efektif. Obat ini harus dikonsumsi secara teratur agar pengobatannya
efektif. Jangan lewatkan dosis walaupun anda pikir anda tak membutuhkannya. Jangan
konsumsi kombinasi obat ini lebih dari 4 bulan atau menghentikan pengobatan tanpa
konsultasi ke doakter anda terlebih dahlu. Penghentian obat yang mendadak akan
memeperparah kondisi penyakit anda dan menimbulkan gejala withdrawal symptoms
(anxiousness, sleeplessness, and irritability).
c. Mebeverine
Mebeverine digunakan untuk mengobati kram dan kejang pada perut dan usus.
Mebeverine khususnya digunakan dalam pengobatan irritable bowel syndrome (IBS)
dan konsisi sejenis.
d. Papaverine
Papaverine digunakan untuk meningkatkan peredaran darah pada pasien dengan
masalah sirkulasi darah. Papaverine bekerja dengan merelaksasi saluran darah sehingga
darah dapat mengalir lebih mudah ke jantung dan seluruh tubuh. Papaverine adalah
golongan alkaloid opium yang diindikasikan untuk kolik kandungan empedu dan ginjal
dimana dibutuhkan relaksasi pada otot polos, emboli perifer dan mesenterik.
Sediaannya selain tunggal juga ada yang dikombinasi dengan obat Metamizole
e. Timepidium
Timepidium diindikasikan untuk sakit akibat spasme/kejang otot halus yang
disebabkan oleh gastritis (radang lambung), ulkus peptikum, pankreatitis, penyakit
kandung empedu dan saluran empedu, lithangiuria.
f. Pramiverine
Pramiverine diindikasikan untuk spasme/kejang dan kolik yang terasa sangat sakit pada
saluran pencernaan, saluran empedu, dan saluran kemih, dismenore (nyeri perut pada
saat haid), nyeri setelah operasi.
g. Tiemonium
Tiemonium Methylsulfate adalah obat antispasmodic antikolinergik sintetis.
Tiemonium mengurangi kejang otot pada usus, bilari, kandung kemih, dan uterus.
Tiemonium diindikasikan untuk nyeri pada penyakit gastrointestinal dan biliary and
seperty gastroenteritis, diare, disentri, biliary colic, enterocolitis, cholecystitis,
colonopathies.

Obat yang digunakan adalah ekstrak beladon, atropin sulfat, propantalin bromida, dan
hiosin butil bromida.
F. Kesimpulan
Mahasiswa mengetahui dan memahami klasifikasi dan jenis obat gangguan pencernaan
sehingga dapat menjelaskan atau menginformasikan merk yang beredar dan produsennya
kepada stakeholder.
G. Daftar Pustaka
2014. ISO INDONESIA Informasi Spesialite Obat . Jakarta: PT ISFI Penerbitan.
2000. Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI). Ditjen Pengawasan Obat dan
Makanan. Jakarta: Depkes RI.
MIMS Gan, S. 2000. Farmakologi dan Terapi . Jakarta: Penerbit Kedokteran UI.
Katzung, BG. 2004. Basic and Clinical Pharmacology . Ninth edition. Singapore: Mc. Graw
Hill.
Priyanto 2009 Farmakoterapi dan Terminologi Medis Jakarta Penerbit LESKONFI
Priyanto. 2009. Farmakoterapi dan Terminologi Medis. Jakarta: Penerbit LESKONFI.
Moisio, M.A. 2002. Medical Terminology, A Student-Centered Approach. DelmarbThomson
Learning.
H. Lampiran
1. Anti Ulcer
2. Anti Emetik

Anvomer B6
3. Anti Diare
4. Laksatif
5. Anti Spasmodik
Scopma plus

Scopamin

Anda mungkin juga menyukai