Anda di halaman 1dari 49

Laporan Praktikum Spesialite dan Terminologi

Spesialite Obat Kardiovaskuler

Disusun oleh :
Anisa Amy Tri Saputri
2018.132.004

PROGRAM STUDI DIII FARMASI


POLITEKNIK KESEHATAN PERMATA INDONESIA
YOGYAKARTA
2020
A. Judul Praktikum
Spesialite Obat Kardiovaskuler

B. Tujuan Praktikum
Aktivitas praktikum bertujuan agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami klasifikasi
dan jenis obat gangguan kardiovaskuler sehingga dapat menjelaskan atau
menginformasikannya kepada stakeholder.

C. Konsep Teori
Spesialit obat adalah mempelajari obat berdasarkan fungsi meliputi nama generik, nama
dagang, tunggal maupun kombinasi sesuai bentuk sediaan dan kekuatan bahan obat. Fungsi
sistem kardiovaskular adalah memberikan dan mengalirkan suplai oksigen dan nutrisi ke
seluruh jaringan dan organ tubuh yang diperlukan dalam proses metabolisme. Secara normal
setiap jaringan dan organ tubuh akan menerima aliran darah dalam jumlah yang cukup
sehingga jaringan dan organ tubuh menerima nutrisi dengan adekuat.
Sistem kardiovaskular yang berfungsi sebagai sistem regulasi melakukan mekanisme yang
bervariasi dalam merespons seluruh aktivitas tubuh. Salah satu contoh adalah mekanisme
meningkatkan suplai darah agar aktivitas jaringan dapat terpenuhi. Pada keadaan tertentu,
darah akan lebih banyak dialirkan pada organ-organ vital seperti jantung dan otak untuk
memelihara sistem sirkulasi organ tersebut. Sistem kardiovaskular merupakan suatu sistem
transpor tertutup yang terdiri atas:
1. Jantung, sebagai organ pemompa.
2. Komponen darah, sebagai pembawa materi oksigen dan nutrisi.
3. Pembuluh darah, sebagai media yang mengalirkan komponen darah.
Ketiga komponen tersebut harus berfungsi dengan baik agar seluruh jaringan dan organ
tubuh menerima suplai oksigen dan nutrisi yang kuat. Otot jantung, pembuluh darah, sistem
konduksi, suplai darah, dan mekanisme saraf jantung harus bekerja secara sempurna agar
sistem kardiovaskular dapat berfungsi dengan baik. Semua komponen tersebut bekerja
bersama-sama dan memengaruhi denyutan, tekanan, dan volume pompa darah untuk
menyuplai aliran darah ke seluruh jaringan sesuai kebutuhan yang diperlukan oleh tubuh.
Berikut ini adalah gambar fisiologi sistem kardiovaskuler :
Penyakit kardiovaskuler adalah penyakit yang mengganggu sistem jantung (kardio) dan
pembuluh darah (vaskuler). Jenis penyakit yang berhubungan dengan jantung, peredaran darah
dan pembuluh darah yaitu melemahnya kontraksi jantung (gagal jantung), denyut jantung
(gagal jantung), denyut jantung tidak normal (aritmia), penyempitan pembuluh darah dan dan
penumpukan lemak di pembuluh darah (arteriosklerosis).
Obat kardiovaskuler merupakan kelompok obat yang mempengaruhi & memperbaiki
sistem kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah ) secara langsung ataupun tidak langsung.
Obat yang digunakan dalam gangguan kardiovaskular :
1. Digitalis/Glikosida Jantung: digoksin.
2. β-bloker :
- β-bloker non selektif (non kardioselektif) : propanolol, labetalol, nadolol, timolol, dan
pindolol.
- β-bloker selektif (kardioselektif): atenolol, metoprolol, acebutol, dan carteolol
3. α-bloker (antagonis α1) : doksazosin, prazosin, terazosin.
4. Nitrat organik: Isosorbid (dinitrat atau mononitrat), nitrogliserin..
5. Ca-Bloker (Calcium Chanel Blocker/CCB): amlodipin, diltiazem, felodipin, nicardipin,
nifedipin, nitredipin, verapamil.
6. Vasodilator bekerja langsung: hidralazin, minoksidil.
7. ACE-Inhibitor: kaptopril, benazepril, enalapril, fosinopril, lisinopril, quinapril, ramipril,
trandolapril.
8. ARB (Angiotensin II Receptor Blocker): candesartan, irbesartan, losartan, telmisartan,
valsartan.
9. Diuretik
- Diuretik tiazid: HCT, klortalidon, indapamid. klortalidon, indapamid
- Diuretik kuat (loop): Furosemid, bumetanid, torsemid
- Diuretik hemat kalium: amilorid, spironolakton. amilorid, spironolakton.
10. Agonis α2 di SSP: klonidin, metildopa.

Penyakit Gangguan Jantung


1. Jantung Koroner

Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah keadaaan dimana terjadi ketidak


seimbangan antara kebutuhan otot jantung atas oksigen dengan penyediaan yang diberikan
oleh pembuluh darah koroner. Ketidakmampuan pembuluh darah koroner untuk
menyediakan kebutuhan oksigen biasanya diakibatkan oleh penyumbatan athroma (plak)
pada dinding bagian dalam pembuluh darah koroner. (Abdul Majid, 2007).
Penyakit jantung koroner disebabkan karena ketidak seimbangan antara kebutuhan
O2 sel otot jantung dengan masukannya. Masukan O2 untuk sel otot jantung tergantung
dari O2 dalam darah dan pembuluh darah arteri koroner. Penyaluran O2 yang kurang dari
arteri koroner akan menyebabkan kerusakan sel otot jantung. Hal ini disebabkan karena
pembentukan plak arteriosklerosis. Sebab lain dapat berupa spasme pembuluh darah atau
kelainan kongenital. Obat yang biasa diberikan adalah analgetik morfin, antikoagulan,
antilipemik, β-bloker, CCB, gemfibrozil, terapi aspirin dosis rendah dan golongan nitrat.
2. Angina

Angina pectoris adalah nyeri hebat yang berasal dari jantung dan terjadi sebagai respon
terhadap supalai oksigen yang tidak adequate ke sel$sel miokardium. Nyeri angina dapat
menyebar ke lengan kiri, ke punggung, ke rahang, atau ke daerah abdomen (Corwin,2009).
Angina pectoris berasal dari bahasa yunani yang berarti “cekikan dada” yaitu gangguan
yang sering terjadi karena atherosclerotic heart disease. Terjadinya serangan angina
menunjukan adanya iskemia. Iskemia yang terjadi pada angina terbatas pada durasi
serangan dan tidak menyebabkan kerusakan permanaen jaringan miokard. Namun, angina
merupakan hal yang mengancam kehidupan dan dapat menyebabkan disritmia atau
berkembang menjadi infark miokard.(Wajan, 2010).
Sakit dada pada angina pektoris disebabkan karena timbulnya iskemia miokard atau
karena suplai darah dan oksigen ke miokard berkurang. Aliran darah berkurang karena
penyempitan pembuluh darah koroner (arteri koronaria). Penyempitan terjadi karena
proses ateroskleosis atau spasme pembuluh koroner atau kombinasi proses aterosklerosis
dan spasme. Aterosklerosis dimulai ketika kolesterol berlemak tertimbun di intima arteri
besar. Timbunan ini, dinamakan ateroma atau plak akan mengganggu absorbsi nutrient
oleh sel-sel endotel yang menyusun lapisan dinding dalam pembuluh darah dan
menyumbat aliran darah karena timbunan ini menonjol ke lumen pembuluh darah. Endotel
pembuluh darah yang terkena akan mengalami nekrotik dan menjadi jaringan parut,
selanjutnya lumen menjadi semakin sempit dan aliran darah terhambat. Pada lumen yang
menyempit dan berdinding kasar, akan cenderung terjadi pembentukan bekuan darah. Hal
ini menjelaskan bagaimana terjadinya koagulasi intravaskuler, diikuti oleh penyakit
tromboemboli, yang merupakan komplikasi tersering aterosklerosis. Obat-obat yang
digunakan sebagai antiangina meliputi golongan β-bloker, kalsium bloker, dan golongan
nitrat.
3. Aritmia

Gangguan irama jantung atau aritmia merupakan komplikasi yang sering terjadi
pada infark miokardium. Aritmia atau disritmia adalah perubahan pada frekuensi dan irama
jantung yang disebabkan oleh konduksi elektrolit abnormal atau otomatis (Doenges, 1999).
Aritmia timbul akibat perubahan elektrofisiologi sel-sel miokardium. Perubahan
elektrofisiologi ini bermanifestasi sebagai perubahan bentuk potensial aksi yaitu rekaman
grafik aktivitas listrik sel (Price, 1994). Gangguan irama jantung tidak hanya terbatas pada
iregularitas denyut jantung tapi juga termasuk gangguan kecepatan denyut dan konduksi
(Hanafi, 1996). Macam-macam aritmia :
a. Sinus Takikardi
Meningkatnya aktifitas nodus sinus, gambaran yang penting pada ECG adalah : laju
gelombang lebih dari 100 X per menit, irama teratur dan ada gelombang P tegak
disandapan I,II dan aVF.
b. Sinus bradikardi
Penurunan laju depolarisasi atrim. Gambaran yang terpenting pada ECG adalah laju
kurang dari 60 permenit, irama teratur, gelombang p tgak disandapan I,II dan aVF.
c. Komplek atrium prematur
Impul listrik yang berasal di atrium tetapi di luar nodus sinus menyebabkan
kompleks atrium prematur, timbulnya sebelu denyut sinus berikutnya. Gambaran
ECG menunjukan irama tidak teratur, terlihat gelombang P yang berbeda
bentuknya dengan gelombang P berikutnya.
d. Takikardi Atrium
Suatu episode takikardi atrium biasanya diawali oleh suatu kompleks atrium
prematur sehingga terjadi reentri pada tingkat nodus AV.
e. Fluter atrium.
Kelainan ini karena reentri pada tingkat atrium. Depolarisasi atrium cept dan
teratur, dan gambarannya terlihat terbalik disandapan II,III dan atau aVF seperti
gambaran gigi gergaji
f. Fibrilasi atrium
Fibrilasi atrium bisa tibul dari fokus ektopik ganda dan atau daerah reentri multipel.
Aktifitas atrium sangat cepat.sindrom sinus sakit.
g. Komplek jungsional prematur
h. Irama jungsional
i. Takikardi ventrikuler
Obat-obat yang digunakan untuk antiaritmia adalah β-bloker, CCB, digoksin dan yang
lainnya (disopramid, lidokain, kuinidin, dan prokainamid).
4. Hipertensi

Hipertensi didenisikan sebagai tekanan darah diastolik tetap yang lebih besar dari 90
mm Hg disertai dengan kenaikan tekanan darah sistolik (140mm Hg). Hipertensi
disebabkan oleh peningkatan tonus otot polos vaskulerperifer yang menyababkan
peningkatan resistensi arteriola dan menurunnya kapasitas sistem pembuluh vena (Mycek,
2001). Berdasarkan tingginya tekanan darah seseorang dikatakan hipertensi bila tekana
darahnya ˃140/90 mmHg (Gunawan, 2007) :
Klasifikasi Sistol Diastol
(mm Hg) (mm Hg)
Normal < 120 <80
Prehipertensi 120-139 80-89
Hipertensi
Tingkat 1 140-159 90-99
Tingkat 2 >160 >100
Berdasarkan etiologinya hipertensi dibagi menjadi hipertensi esensial atau hipertensi
primer atau idiopatik adalah hipertensi tanpa kelainan dasar patologi yang jelas.
Penyebebnya multifaktorial meliputi faktor genetika dan lingkungan. Dan Hipertensi
sekunder meliputi 5-10% kasus hipertensi.Termasuk dalam kelompok ini antara lain
hipertensi akibat penyakit ginjal (hipertensi renal), hipertensi endokrin, kelainan saraf
pusat, obat-obat-obatan dan lain-lain. Hipertensi renal dapat berupa hipertensi
renovaskuler , misalnya pada stenosis arteri renalisvakulitis internal (Gunawan, 2007).
Obat-obat yang digunakan sebagai antihipertensi adalah diuretik, ACE Inhibitor, Ca-
bloker, vasodilator, simpatolitik, dan obat yang bekerja sentral.
5. Hiperlipidemia

Hiperlipidemia didefinisikan sebagai peningkatan satu atau lebihdari: kolesterol,


kolesterol ester, atau trigliserida. Abnormalitas pada lipidplasma bisa menyebabkan
rentannya terkena penyakit koroner,cerebrovascular dan vascular arterial perifer
(Katzung,2010).
Klasifikasi Hiperlipidemia:
a. Hiperlipoproteinemia tipe I (Hiperkilomkronemia Familial)
Tipe I hiperlipoproteinemia adalah bentuk hiperlipoproteinemia terkait dengan
defisiensi lipoprotein lipase. Hiperkilomikronemia masif pada waktu puasa
walaupun jumlah lemak dalam keadaan normal. Menyebabkan peningkatan
triasilgliserol serum yang sangat tinggi.
b. Hiperlipoproteinemia tipe II
Hyperlipoproteinemia tipe II, sejauh ini merupakan bentukpaling umum, adalah
lebih diklasifikasikan menjadi tipe IIa danIIb jenis, tergantung terutama pada
apakah ada elevasi di tingkattrigliserida selain kolesterol LDL
- Tipe II A
(Hiperkolesterolemia Familial)
Peningkatan LDL dengan kadarVLDL normal karena penghambatan
dalam degradasi LDL,sehingga terdapat peningkatan kolesterol serum
tapitriasilgliserol normal
- Tipe II B
(Hiper lipidemia Kombinasi Familial)
Tingkat VLDL tinggi karenakelebihan produksi substrat, termasuk
trigliserida, asetil KoA,dan peningkatan dalam B-100 sintesis. Mereka
juga dapatdisebabkan oleh pembersihan penurunan LDL.
c. Hiperlipoproteinemiatipe III(DisbetalipoproteinemiaFamilial)
Kilomikron tinggi dan IDL (intermediate density lipoprotein).Juga dikenal
sebagai penyakit atau beta yang luas(dysbetalipoproteinemia) penyebab paling
umum untukformulir ini adalah adanya genotipe apoE E2/E2. Hal ini karena
kolesterol VLDL yang kaya (β-VLDL)
d. Hiperlipoproteinemiatipe IV(HipertrigliseridemiaFamilial)
Trigliserida tinggi. Hal ini juga dikenal sebagai
Hipertrigliseridemia (murni hipertrigliseridemia). Menurut NCEP-ATPIII
definisi trigliserida tinggi (> 200 mg / dl)
e. Hyperlipoproteinemiatipe V(HipertrigliseridemiaCampuran Familial)
Jenis ini sangat mirip dengan tipe I, tetapi dengan VLDL yangtinggi di samping
kilomikron. Kadar kolesterol dan triasilgliserolmeningkat.
Obat-obat yang digunakan dalam penanganan hiperlipidemia adalah:
1. Golongan asam fibrat: klofibrat, fenofibrat, benzafibrat, gemfibrozil. ibrat, gemfibrozil.
2. Golongan resin: kolestiramin, kolestipol, kolesevam.
3. Golongan penghambat enzim HMG CoA reduktase: simvas CoA reduktase:
simvastatin, lovastatin, pravastatin, fluvastatin, otorvastatin.
4. Golongan lainnya: probukol, ezetimibe.

D. Tabel Pengamatan
1. Pengamatan praktikum obat antiangina
No. Nama Zat Aktif BSO dan Kekuatan Merk dagang Produsen
1. Nifedipin 10mg (Tablet) Farmalat Pratapa Nirmala
30mg (Tablet) Adalat oros Bayer schering
pharma
2. Verapamil 240mg (Kaplet) Isoptin SR Abbot
3. Isosorbit mononitrat 20mg (Tablet) Cardismo Phapros
4. Isosorbit dinitrat 10mg (Tablet ) Isosorbid Novell
Dinitrate
5. Diltiazem 30mg (Tablet) Herbeser CD 100 Tanabe Indonesia
100mg (Tablet)
6. Cilostazol 50mg (Tablet) Antiplat Dexa Medica
7. Acetysalicylic Acid 80mg (Tablet) Miniaspi 80 Mersi
8. Clopidogrel 75mg (Tablet) Clopidogrel OGB Dexa
Bisulfate
9. Nitroglycerin 2,5mg (Kapsul) Nitrokaf Retard Kimia Farma
5mg (Kapsul)
2. Pengamatan praktikum obat antihipertensi
No. Nama Zat Aktif BSO dan Kekuatan Merk dagang Produsen
1. Kaptopril 12.5mg (Tablet) Captopril OGB Dexa
25mg (Tablet)
50mg (Tablet)
2. Amlodipine 5mg (Tablet) Amlodipine Dexa Medica
10mg (Tablet)
5mg (Tablet) Dilavask Dexa Medica
10mg (Tablet)
3. Ramipril 25,5mg (Kaplet) Ramipril Dexa Medica
4. Bisoprolol 25.5mg (Kaplet) Bisoprolol Novell
25.5mg (Kaplet) Beta -One Dankos
5. Nifedipin 10mg (Tablet) Farmalat Pratapa Nirmala
6. Candesartan 5mg (Tablet) Candesartan OGB Dexa
10mg (Tablet)
5mg (Tablet) Canderin Dexa Medica
10mg (Tablet)
7. Irbesartan 150mg (Tablet) Irbesartan Hexpharm Jaya
300mg (Tablet)
8. Furosemid 40mg (Tablet) Furosemid Kimia Farma
9. Klonidin 0,15mg (Tablet) Clonidin Indo Farma
10.Spirololacton 25mg (Tablet) Spironolactone OGB Dexa
3. Pengamatan obat golongan glikosida jantung dan nitrat
No. Nama Zat Aktif BSO dan Kekuatan Merk Dagang Produsen
1. Digoxin 0,25mg (Tablet) Digoxin Yarindo Farmatama
0,25mg (Tablet) Fargoxin Fahrenheit
0,05mg/mL (Elixir) Lanoxin Glaxo Smith Kline
2. Isosorbit mononitrat 20mg (Tablet) Cadismo Phapros
3. Isosorbit dinitrat 10mg (Tablet) Isosorbid dinitrat Novell
5mg (Tablet) Farsorbid Fahrenheit
10mg (Tablet)
4. Glyceryl trinitrat 500mcg (Tablet) Nitral Actavis
2,5mg (kapsul) Nitrokaf Retard Kimia Farma
5mg (Kapsul)
5. Dopamin 10mg/mL (Injeksi) Indop Pratapa Nirmala
200mg/5mL (Injeksi) Cetadop Ethica
4. Pengamatan praktikum obat antihiperlipidemia
No. Nama Zat Aktif BSO dan Kekuatan Merk Dagang Produsen
1. Fenofibrat 100mg (Tablet) Fenofibrate Hexpharm Jaya
300mg (Tablet)
2. Fluvastatin 40mg (Tablet) Lescol Novartis
3. Gemfibrozil 300mg (Kapsul) Gemfibrozil Phapros
600mg (Kaplet) Lapibroz Lapi
4. Lovastatin 20mg (Tablet) Cholvastin Sanbe
5. Atorvastatin 10mg (Tablet) Atorvastatin Hexpharm Jaya
20mg (Tablet)
6. Pravastatin 10mg (Tablet) Pravastatin Sandoz
Sodium
7. Simvastatin 10mg (Tablet) Simvastatin Kimia Farma
20mg (Tablet)
10mg (Tablet) Selvim Ifars
20mg (Tablet)

E. Pembahasan
1. Angina
Pengobatan dimulai dengan usaha untuk mencegah penyakit arteri koroner,memperlambat
progresivitasnya atau melawannya dengan mengatasi faktor-faktor resikonya. Faktor
resiko utama (misalnya peningkatan tekanan darah dan kadar kolesterol), diobati
sebagaimana mestinya. Faktor resiko terpenting yang bisa dicegah adalah merokok sigaret.
Pengobatan angina terutama tergantung kepada berat dan kestabilan gejala-gejalanya. Jika
gejalanya stabil dan ringan sampai sedang, yang paling efektif adalah mengurangi faktor
resiko dan mengkonsumsi obat-obatan. Jika gejalanya memburuk dengan cepat, biasanya
penderita segera dirawat dan diberikan obat-obatan di rumah sakit. Jika gejalanya tidak
menghilang dengan obat-obatan, perubahan pola makan dan gaya hidup, maka bisa
digunakan angiografi untuk menentukan perlu tidaknya dilakukan pembedahan bypass
arteri koroner atau angioplasti. Beberapa obat yang biasanya digunakan dalam pengobatan
ini antara lain:
a. Nifedipin
Nifedipine merupakan penghambat sawar kalsium dihidropiridin (DHP). Nifedipine
mencegah ion kalsium masuk ke sawar kalsium pada jantung dan otot polos, sehingga
menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah koroner dan perifer. Obat ini juga memiliki
efek inotropik negatif, sehingga menurunkan kontraktilitas dan afterload jantung. Efek
ini membuat konsumsi dan kebutuhan oksigen miokardium menurun, sehingga dapat
berfungsi sebagai antiangina stabil kronik. Inhibisi ion kalsium nifedipine berlangsung
secara selektif, sehingga tidak mempengaruhi kadar ion kalsium dalam serum.
Aspek farmakokinetik nifedipine berupa aspek absorbsi, distribusi, metabolisme, dan
eliminasinya.
1) Absorbsi
Nifedipine mengalami absorpsi secara cepat pada traktus gastrointestinal.
Nifedipine membutuhkan waktu 30-60 menit untuk mencapai konsentrasi
puncak. Onset kerja nifedipine sekitar 20 menit. Absorpsi dipengaruhi
makanan. Absorpsi juga meningkat bila dikonsumsi tidak utuh (dikunyah atau
digerus). Konsentrasi obat meningkat secara gradual dan mencapai plateau
dalam 6 jam setelah dosis pertama diberikan.
2) Distribusi
Nifedipine didistribusikan ke dalam air susu dalam jumlah sedikit. Protein
binding 92%-98%.
3) Metabolisme
Nifedipine mengalami metabolisme secara ekstensif di dalam liver melalui
sistem sitrokrom P450. Metabolisme nifedipine terutama melalui isoenzim
CYP3A4, tetapi juga dapat dimetabolisme oleh isoenzim CYP1A2 dan
CYP2A6.
4) Eliminasi
Ekskresi nifedipine paling utama melalui urin dalam bentuk metabolit inaktif
larut air (80%-95%) dan melalui feses. Waktu paruh nifedipine adalah 2 jam.
b. Verapamil
Verapamil merupakan obat yang termasuk kelompok calcium channel blocker yang
bekerja dengan cara mengendurkan otot jantung dan pembuluh darah.
c. Isosorbit mononitrat
SDN dikonversi menjadi nitrit oksida (NO), suatu komponen intermediate radikal
bebas yang dapat mengaktifkan enzim guanilat siklase terhadap reseptor atrial
natriuretik peptide A. Obat ini akan menstimulasi sintesis siklik guanosin 3,5-
monofosfat (cGMP), yang kemudian akan mengaktivasi fosforilasi protein kinase-
dependent serial pada sel-sel otot polos. Hasil akhir dari proses biokimia tersebut
adalah defosforilasi miosin light-chain serat otot polos. Selanjutnya, pengeluaran ion-
ion kalsium akan merelaksasikan sel-sel otot polos, sehingga terjadi dilatasi yang
bersifat dose-dependent pada jaringan arteri dan vena. Dengan demikian, terjadi
peningkatan sirkulasi aliran darah pada daerah yang iskemik. Farmakokinetik dari
ISDN, meliputi absorpsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasi, sangat dipengaruhi
oleh rute pemberian.
1) Absorpsi
Pemberian ISDN per oral dosis 5 mg diabsorpsi dengan cepat dan baik pada
saluran pencernaan, dan tidak tergantung adanya makanan. Walaupun
demikian, sediaan sublingual dapat bekerja lebih cepat dan efektif daripada
sediaan oral . Bioavailabilitas sediaan ISDN per oral sangat bervariasi, yaitu
pada kisaran 10─90%, dengan rata-rata 25% per oral. Bioavailabilitas akan
meningkat secara progresif pada penggunaan obat jangka Panjang. Konsentrasi
puncak dalam serum terjadi dalam 1 jam setelah dicerna. Dan tablet oral
extended-release memiliki efektivitas 8─10 jam.
2) Distribusi
VSS (distribusi volume pada keadaan tetap) ISDN adalah 2─4 L/kg BB/menit.
Kerja obat per oral adalah moderat hingga long-acting, sedangkan kerja obat
sublingual adalah rapid-acting serta berakhir dalam jangka waktu pendek.
3) Metabolisme
Secara ekstensif di hepar, ISDN dirubah menjadi metabolit yang terkonjugasi.
Hasilnya adalah terdapat dua metabolit aktif secara biologis yaitu 2-isosorbide
mononitrate (2-ISMN) dan 5-isosorbide mononitrate (5-ISMN).
4) Waktu paruh biologis
Dalam waktu 5 jam, 5-ISMN akan dibersihkan dalam serum, dan diubah
menjadi 5-mononitrat glukuronidase dan sorbitol. Sedangkan untuk 2-ISMN
akan dibersihkan dalam waktu 2 jam dalam serum, yang diperkirakan menjalani
alur metbolisme yang mirip dengan 5-ISMN.
5) Eliminasi
ISDN dikeluarkan dari tubuh melalui dua cara yaitu sekitar 80─99% di urine
dan <1%di feses. Pada metabolit 2-ISMN, terjadi denitrasi clearance sebesar
15─25%, dan sekitar 75-85% untuk 5─ISMN.
d. Isosorbit dinitrat
ISDN dikonversi menjadi nitrit oksida (NO), suatu komponen intermediate radikal
bebas yang dapat mengaktifkan enzim guanilat siklase terhadap reseptor atrial
natriuretik peptide A. Obat ini akan menstimulasi sintesis siklik guanosin 3,5-
monofosfat (cGMP), yang kemudian akan mengaktivasi fosforilasi protein kinase-
dependent serial pada sel-sel otot polos. Hasil akhir dari proses biokimia tersebut
adalah defosforilasi miosin light-chain serat otot polos. Selanjutnya, pengeluaran ion-
ion kalsium akan merelaksasikan sel-sel otot polos, sehingga terjadi dilatasi yang
bersifat dose-dependent pada jaringan arteri dan vena. Dengan demikian, terjadi
peningkatan sirkulasi aliran darah pada daerah yang iskemik. Farmakokinetik dari
ISDN, meliputi absorpsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasi, sangat dipengaruhi
oleh rute pemberian.
1) Absorpsi
Pemberian ISDN per oral dosis 5 mg diabsorpsi dengan cepat dan baik pada
saluran pencernaan, dan tidak tergantung adanya makanan. Walaupun
demikian, sediaan sublingual dapat bekerja lebih cepat dan efektif daripada
sediaan oral . Bioavailabilitas sediaan ISDN per oral sangat bervariasi, yaitu
pada kisaran 10─90%, dengan rata-rata 25% per oral. Bioavailabilitas akan
meningkat secara progresif pada penggunaan obat jangka Panjang. Konsentrasi
puncak dalam serum terjadi dalam 1 jam setelah dicerna. Dan tablet oral
extended-release memiliki efektivitas 8─10 jam.
2) Distribusi
VSS (distribusi volume pada keadaan tetap) ISDN adalah 2─4 L/kg BB/menit.
Kerja obat per oral adalah moderat hingga long-acting, sedangkan kerja obat
sublingual adalah rapid-acting serta berakhir dalam jangka waktu pendek.
3) Metabolisme
Secara ekstensif di hepar, ISDN dirubah menjadi metabolit yang terkonjugasi.
Hasilnya adalah terdapat dua metabolit aktif secara biologis yaitu 2-isosorbide
mononitrate (2-ISMN) dan 5-isosorbide mononitrate (5-ISMN).
4) Waktu paruh biologis
Dalam waktu 5 jam, 5-ISMN akan dibersihkan dalam serum, dan diubah
menjadi 5-mononitrat glukuronidase dan sorbitol. Sedangkan untuk 2-ISMN
akan dibersihkan dalam waktu 2 jam dalam serum, yang diperkirakan menjalani
alur metbolisme yang mirip dengan 5-ISMN
5) Eliminasi
ISDN dikeluarkan dari tubuh melalui dua cara yaitu sekitar 80─99% di urine
dan <1%di feses. Pada metabolit 2-ISMN, terjadi denitrasi clearance sebesar
15─25%, dan sekitar 75-85% untuk 5─ISMN.
e. Diltiazem
Diltiazem adalah derivate benzodiazepin yang merupakan prototip dari antagonis
kalsium. Mekanisme kerja senyawa ini adalah mendepresi fungsi nodus SA dan AV,
juga vasodilatasi arteri dan arteriol koroner serta perifer. Dengan demikian maka
diltiazem akan menurunkan denyut jantung dan kontraktiiitas otot jantung, sehingga
terjadi keseimbangan antara persediaan dan pemakaian oksigen pada iskhemik jantung.
Diltiazem efektif terhadap angina yang disebabkan oieh vasospasme koroner maupun
aterosklerosis koroner. Pemberian diltiazem akan mengurangi frekuensi serangan
angina dan menurunkan kebutuhan pemakaian obat nitrogliserin. Pada pemberian
dengan oral diltiazem diabsorpsi kira-kira 80 - 90% dan berikatan dengan protein
plasma. Efek mulai tampak kurang dari 30 menit setelah pemberian dan konsentrasi
puncak dalam plasma tercapai setelah 2 jam dengan waktu paruh 4 jam. Senyawa ini
diekskresi dalam bentuk metabolit melaiui urin (35%) dan feses (60%).
f. Glyceryl trinitrat
Nitrogliserin juga dikenal sebagai gliseril trinitrat digunakan untuk pengobatan nyeri
dada diduga akibat jantung dan gagal jantung. Gliseril trinitrat bekerja dengan relaksasi
otot polos, menghasilkan efek vasodilator pada vena perifer dan arteri dengan efek
lebih menonjol pada vena, terutama mengurangi kebutuhan oksigen jantung dengan
menurunkan preload. sedikit dapat mengurangi afterload, melebarkan arteri koroner
dan meningkatkan aliran kolateral ke daerah iskemik.
Berikut adalah beberapa tindakan pencegahan angina :
a. Berhenti merokok.
b. Menurunkan berat badan jika mengalami obesitas.
c. Mengkonsumsi makanan rendah lemak dan tinggi serat.
d. Olahraga teratur terbukti efektif mencegah angina.
e. Hindari stres yang tidak perlu dan belajar teknik relaksasi.
f. Kurangi konsumsi alkohol.
g. Jangan menambahkan garam pada makanan
2. Antihipertensi
Antihipertensi memiliki beberapa golongan obat yaitu golongan diuretic,Penyekat-Beta,
inhibitor ACE, Antagonis angiotensin II, Penyekat kanalkalsium, Penyekat Alfa dan obat
golongan lain-lain (Mycek, 2001).
a. Golongan diuretik tiazid
Bekerja merendahkan tekanan darah, dimulai dengan peningkatan sekresi Na+ dan
air. Ini menurunkan volume ekstra sel menimbulkan pengurangan isi sekuncup
jantung dan aliran darah ginjal. Contoh obatnya yaitu hidroklorotiazid. Sedangkan
diuretik loop, bekarja cepat pada pasien contoh obatnya Furosemid. Menyebabkan
penurunan resisitensi vaskuler ginjal. Meningkatkan isi kadar kalsium urine
sedangkan diuretikatiazid menurunkan konsentrsi kalsium pada urine (Mycek,
2001).
b. Golongan penyekat ß-adrenoreseptor
Contoh obatnya yaitu : Atenolol,Labetalol, Metoprolol, Nadolol, Propanolol dan
Timolol, menyebebkan penurunan tekanan darah terutama mengurangi isi
sekuncup jantung . Obat ini menurunkan aliran simpatik dari SSP dan menghambat
pelepasan renin dari ginjal, karena itu mengurangi pembentukan angiotensin II dan
sekresialdosteron (Mycek, 2001).
c. Golongan inhibitor ACE
Contoh obatnya yaitu Benazepril, Kaptopril,Enalapril, Fosinopril, Lisinopril,
Moeksinipril, Quinapril, Ramipril, menurunkan tekanan darah dengan mengurangi
resistensi vaskuler perifer tanpa meningkatkan curah jantung, kecepatan ataupun
kontraktilitas. Obat-obat ini menghambat enzim pengkonversi angiotensinogen
yang mengubah angiotensin I membentuk vasokontriksi poten angiotensin II.
Vasodilatasi terjadi sebagai efek kombinasi vasokontriksi yang lebih rendah
disebabkan oleh berkurangnya angiotensin II dan vasodilatasi dari peningkatan
bradikinin(Mycek, 2001).
d. Golongan Antagonis angiotensin II
Contoh obatnya yaitu Losartan, menurunkan tekanan darah dengan memblok
reseptor angiotensin . Obat ini mempunyai sifat yang sama dengan inhibitor ACE
yaitu menimbulkan vasodilatasi dan meningkatkan sekresi aldosteron (Mycek,
2001). Golongan penyekat kanal kalsium contoh obatnya yaitu Amlodipin,
Diltiazem, Felodipin, Isradipin, Nefedipin, dan Verapamil, menurunkan tekanan
darah dengan cara menghambat masuknya kalsium kedalam sel. Hal ini
menurunkan resistensi perifer dan menyebabkan penurunan tekanan darah (Mycek,
2001).
e. Golongan penyekat α-Adrenergik
Menyebabkan penyakatan kompetitif α1–Adrenoreseptor contoh obatnya yaitu
Doksazosin, Praosin, Terasozin. Obat-obat ini menurunkan vaskuler periver dan
menurunkan tekanan darah arterial denga menyebabkan bukan hanya perubahan
yang kecil dari curah jantung, aliran darah ginjal dan kecepatan viltrasi glomerulus
(Mycek, 2001).
3. Golongan Glikosida jantung dan nitrat
Glikosida jantung meningkatkan kekuatan kontraksi miokardium dan menurunkan
konduktivitas di atrioventricular (AV) node. Glikosida jantung paling bermanfaat untuk
pengobatan takikardi supraventrikel, terutama untuk mengontrol respon ventrikular pada
fibrilasi atrium yang menetap. Digoksin memiliki peran yang terbatas dalam mengatasi
gagal jantung kronik pada anak. Dosis penunjang glikosida jantung biasanya ditentukan
berdasarkan kecepatan ventrikel pada saat istirahat yang seharusnya tidak boleh turun di
bawah 60 denyut per menit kecuali dalam keadaan khusus, misalnya pada pemberian
bersama beta-bloker. Pada anak-anak, dosis penunjang glikosida jantung untuk tata laksana
atrial fibrilasi biasanya dapat ditentukan berdasarkan kecepatan ventrikel paling rendah
yang dapat diterima pada saat istirahat.
Digoksin mempunyai waktu paruh yang panjang dan dosis penunjang hanya perlu
diberikan sehari sekali (meskipun dosis tinggi dapat diberikan dalam dosis terbagi untuk
mengurangi efek mual). Digitoksin juga mempunyai waktu paruh yang panjang dan dosis
penunjang hanya perlu diberikan sehari sekali atau pada hari tertentu. Fungsi ginjal pasien
merupakan faktor yang paling menentukan dosis digoksin, meskipun eliminasi digitoksin
bergantung pada metabolisme hati.
Efek yang tidak diinginkan bergantung pada kadar glikosida jantung dalam plasma
dan bergantung juga pada sensitivitas dari sistem konduksi atau miokardium, yang sering
meningkat pada penyakit jantung. Kadang-kadang sulit untuk membedakan antara efek
toksik obat atau perburukan kondisi klinis karena gejalanya mirip. Selain itu, kadar plasma
saja tidak dapat menandakan adanya toksisitas namun hampir dapat dipastikan terjadi
peningkatan risiko toksisitas jika kadar digoksin dalam plasma mencapai 1,5-3 mcg/L.
Glikosida jantung harus digunakan dengan sangat hati-hati pada lansia karena
meningkatnya risiko terjadi toksisitas digitalis pada kelompok pasien tersebut.
Pemantauan secara teratur kadar plasma digoksin selama terapi pemeliharaan tidak
diperlukan kecuali bila diduga ada masalah. Hipokalemia dapat memicu terjadinya
toksisitas digitalis. Seperti halnya pada orang dewasa, perhatian khusus harus juga
diberikan pada anak-anak yang menggunakan diuretika bersama dengan glikosida jantung
agar terhindar dari hipokalemia. Pada anak hipokalemia juga dapat memicu terjadinya
toksisitas digitalis.
Toksisitas ini dapat diatasi dengan menghentikan penggunaan digoksin dan
mengoreksi kondisi hipokalemia dengan pemberian diuretika hemat kalium atau, jika
diperlukan, suplemen kalium (atau pada anak, dapat diberikan makanan yang kaya akan
kalium). Manifestasi yang serius memerlukan penatalaksanaan secara cepat dari dokter
spesialis. Anak-anak. Dosis berdasarkan pada berat badan; anak-anak memerlukan dosis
yang relatif lebih besar dibanding dewasa.
4. Aritmia
a. IA: Penghambat kanal natrium
Karakteristik :
- Menghambat kanal ion natrium tipe cepat, menurunkan konduksi ventrikel,
dapat menhambat aktivitas ektopi ventrikel untuk mencegah PVC.
- IA, mengurangi kecepatan depolarisasi, memperpanjang durasi potensial aksi.
Memperlambat konduksi jabtung, memperpanjang periode refrakter, contoh:
quinidine, procainamide, disopyramide. Obat-obatan kelas ini mengurangi V
max (laju kenaikan potensial aksi pada fase 0) dan memperpanjang durasi
potensial aksi. Termasuk ke dalam obat ini adalah quinidine, procainamide, dan
disopyramide.
- IB, mengurangi laju depolarisasi secara selektif pada sel yang iskemia,
memperpendek durasi aksi potensial, bisa sedikit memperpendek periode
refrakter. Obat-obatan kelas ini tidak mengurangi V max dan memperpendek
durasi potensial aksi.ontoh : lignocaine, mexiletine.
- IC, secara signifikan mengurangi laju depolarisasi, mengurangi konduksi
kardiak secara signifikan, meningkatkan sedikit periode refrakter. Obat pada
kelas ini dapat mengurangi V max terutama dengan memperlambat kecepatan
konduksi dan memperpanjang masa refrakter seacara minimal. Contoh:
flecainide, propafenone.
b. II: Agen simpatolitik
Kelas obat ini adalah jenis beta-adrenergic blocker. Termasuk kedalamnya yang
sering dipakai adalah metoprolol, carvedilol, atenolol, propranolol, dan esmolol.
Kelompok beta blocker ini dapat tergolong ke dalam yang spesifik terutama
mempengaruhi jantung (selektif reseptor β1) dan yang tidak spesifik yaitu dapat
mempengaruhi jantun dan pembuluh darah serta bronkhus (reseptor β1 dan reseptor
β2). Pada dosis rendah, beta bloker selektif reseptor β1 lebih dominan mempengaruhi
jantung. Namun, pada dosis yang tinggi, obat-obatan ini juga dapat mengaktivasi
reseptor β2. Carvedilol juga memiliki aktivitas menghambat reseptor α-adrenergik.
Obat-obatan kelompok beta blocker ini memberi efek dengan menghambat
katekolamin berikatan dengan reseptornya. Hal ini akan merupakan mekanisme utama
dari efek antiaritmia kelompok beta blocker. Untuk kondisi hemodinamik, beta blocker
menyebabkan efek inotropik negatif dan bisa memperburuk kondisi gagal jantung.
c. III: Penghambat repolarisasi
Menghambat kanal kalium, mengurangi laju efluks kalium. Mencegah aritmia
reentran baik atrium maupun ventrikel, lebih baik dalam mempertahankan irama sinus
setelah kardioversi dari AF. Obat-obatan kelas ini terutama memblok kanal kalium
(seperti IKr) dan memperpanjang repolarisasi. Contoh: Sotalol (memiliki sifat b-
blocker), amiodaron, perhexiline, digoxin.
d. IV: Antagonis kalsium
Menghambat respon ventrikel pada AF dan mencegah aritmia reentran AV
nodedapat pula mencegah aritmia akibat early after-depolarizations seeprti torsades
d’pointes. Obat-obatan ini terutama menghambat dan memperlambat kanal kalsium
(ICa.L). Contoh : Diltiazem, verapamil.
F. Kesimpulan
Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami klasifikasi dan jenis obat gangguan
kardiovaskuler sehingga dapat menjelaskan atau menginformasikannya kepada stakeholder.
Kalsifikasi obat gangguan kardiovaskuler antara lain :
Obat yang digunakan dalam gangguan kardiovaskular :
1. Digitalis/Glikosida Jantung: digoksin.
2. β-bloker :
- β-bloker non selektif (non kardioselektif) : propanolol, labetalol, nadolol, timolol,
dan pindolol.
- β-bloker selektif (kardioselektif): atenolol, metoprolol, acebutol, dan carteolol
3. α-bloker (antagonis α1) : doksazosin, prazosin, terazosin.
4. Nitrat organik: Isosorbid (dinitrat atau mononitrat), nitrogliserin..
5. Ca-Bloker (Calcium Chanel Blocker/CCB): amlodipin, diltiazem, felodipin,
nicardipin, nifedipin, nitredipin, verapamil.
6. Vasodilator bekerja langsung: hidralazin, minoksidil.
7. ACE-Inhibitor: kaptopril, benazepril, enalapril, fosinopril, lisinopril, quinapril,
ramipril, trandolapril.
8. ARB (Angiotensin II Receptor Blocker): candesartan, irbesartan, losartan, telmisartan,
valsartan.
9. Diuretik
- Diuretik tiazid: HCT, klortalidon, indapamid. klortalidon, indapamid
- Diuretik kuat (loop): Furosemid, bumetanid, torsemid
- Diuretik hemat kalium: amilorid, spironolakton. amilorid, spironolakton.
10. Agonis α2 di SSP: klonidin, metildopa.
Mahasiswa menjelaskan kepada stakeholder berdasarkan buku referensi (MIMS,ISO), PIO
Nasional, leaflet, dan sumber ereferensi lainnya.

G. Daftar Pustaka
Mycek, Mary. J. Dkk. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar edisi 2. Jakarta:
Widya Medika
Pusat Informasi Obat Nasional., copyright 2015 : Pusat Informasi Obat Nasional Badan
Pengawas Obat dan Makanan, [online], diakses 12 Niv 2020, (http://pionas.pom.go.id/)
2014. ISO INDONESIA Informasi Spesialite Obat . Jakarta: PT ISFI Penerbitan.
2000. Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI). Ditjen Pengawasan Obat dan Makanan.
Jakarta: Depkes RI.
H. Lampiran
1. Anti Angina
Cardismo
2. Antihipertensi
3. Golongan glikosida jantung dan nitrat
3.1 Golongan Glikosida Jantung
3.2 Golongan Nitrat
Cardismo
4. Antihiperlipidemia

Anda mungkin juga menyukai