Anda di halaman 1dari 5

ahiim

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena
sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah
menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya
yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12).

Dari ayat di atas, Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zilalil Quran menerangkan bahwa suatu hal yang mengiringi
dugaan merupakan awal mula seseorang untuk membongkar aib dan mengetahui keburukan
saudaranya sendiri. Perilaku buruk ini berdasarkan ayat di atas jelas sangat dilarang dan harus kita jauhi.

Sementara itu Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur’anil ‘Adhim juga menjabarkan ayat di atas. Menurutnya,
dengan tegas Allah melarang seluruh hamba-Nya yang beriman agar menjauhi prasangka buruk (suuzan)
Mencurigai perilaku orang lain dengan tuduhan yang tidak benar dan tidak berdasar adalah murni
perbuatan dosa.

Membicarakan keburukan orang lain (gibah) dalam ayat tersebut juga diibaratkan sedang memakan
bangkai saudaranya sendiri. Bisa dibayangkan perbuatan memakan bangkai tentu sesuatu yang sangat
hina bagi kita manusia.

Di sisi lain, Allah melalui ayat ini memerintahkan kepada manusia untuk selalu beriman dan bertakwa.

Adapun ketika sudah beriman tetapi masih tidak sengaja melakukan hal-hal dosa tadi (suuzan dan gibah)
maka kita dianjurkan untuk segera bertaubat kepada-Nya. Sebab, Allah Swt adalah Zat yang Maha
Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Meski demikian, bukan berarti kita lantas menyepelekan hukuman Allah mentang-mentang Dia Maha
Pengampun. Kita wajib hukumnya untuk selalu berusaha meninggalkan apa yang dilarang-Nya, jangan
sampai Allah ta'ala murka.

Pembahasan :
‫ض ُك ْم بَ ْعضًا ۚ أَيُ ِحبُّ أَ َح ُد ُك ْم أَ ْن يَأْ ُك َل لَحْ َم أَ ِخي ِه َم ْيتًا‬
ُ ‫ْض الظَّنِّ إِ ْث ٌم ۖ َواَل تَ َج َّسسُوا َواَل يَ ْغتَبْ بَ ْع‬
َ ‫يَا أَيُّهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا اجْ تَنِبُوا َكثِيرًا ِمنَ الظَّنِّ إِ َّن بَع‬
‫َر ْهتُ ُموهُ ۚ َواتَّقُوا هَّللا َ ۚ إِ َّن هَّللا َ تَوَّابٌ َر ِحي ٌم‬ ِ ‫فَك‬

Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena
sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah
menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya
yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. “

Dalam surah Al – Hujurat ayat 12, isi kandungan yang termuat didalamnya antara lain :

a. Orang – orang yang beriman haram hukumnya mengghibah dan mencari – cari keburukan orang
lain.

b. Orang – orang yang berbuat ghibah, mencari – cari keburukan orang lain, serta senantiasa
berburuk sangka, maka hukumnya dosa.

c. Orang – orang yang senantiasa berburuk sangka, senantiasa mengghibah orang lain, dan senantiasa
mencari – cari keburukan orang lain, perumpamaannya tidak lain seperti orang yang suka memakan
bangkai daging saudaranya sendiri.

d. Diwajibkannya orang – orang beriman untuk senantiasa bersikap Husnudzon ( berbaik sangka ) di
segala bidang kehidupan.

e. Allah Maha penerima taubat para hambanya yang mau berserah diri dan tawakal kepada-Nya
Berprasangka buru atau suudzan merupakan sikap hati yang patut dihindari. Seorang mukmin
dianjurkan/diperintahkan untuk menghindari prasangka. Hal ini tercantum dalam Surat Al-Hujurat Ayat
12:

‫ض ُك ْم بَ ْعضًا أَيُ ِحبُّ أَ َح ُد ُك ْم أَ ْن يَأْ ُك َل لَحْ َم أَ ِخي ِه َم ْيتًا‬


ُ ‫ْض الظَّنِّ إِ ْث ٌم َواَل تَ َج َّسسُوا َواَل يَ ْغتَبْ بَ ْع‬
َ ‫يَا أَيُّهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا اجْ تَنِبُوا َكثِيرًا ِمنَ الظَّنِّ إِ َّن بَع‬
‫َر ْهتُ ُموهُ َواتَّقُوا هَّللا َ إِ َّن هَّللا َ تَوَّابٌ َر ِحي ٌم‬ ِ ‫فَك‬

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu
dosa. Dan janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.
Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah
kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima
taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Hujurat Ayat 12)

Surat Al-Hujurat Ayat 12 ini secara tegas melarang kita untuk berprasangka (buruk) kepada orang lain.
Prasangka buruk (su’uzhan) ini lazim terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin kita termasuk di
antara yang pernah atau bahkan sering melakukannya, baik disadari atau tidak.

Prasangka buruk atau su’uzhan terhadap orang lain biasanya disebabkan oleh rasa iri atau tidak suka
terhadap orang tersebut. Dalam pandangan orang yang iri atau tidak suka kepada seseorang, maka apa
pun yang dilakukan orang yang dibencinya, tidak tampak kebaikan sedikit pun. Seolah-olah apa yang
dilakukannya selalu salah. Prasangka buruk ini, jika dibiarkan berlarut-larut bisa menimbulkan fitnah.

Rasulullah Saw. pernah mengingatkan dalam salah satu sabdanya, “Hindarilah oleh kamu sekalian
berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling
memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing
(kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki, janganlah kamu saling membenci dan janganlah
kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah Swt. yang bersaudara.” (HR. Muslim

Alkisah, ada seorang petani yang kehilangan arit yang biasa dia pakai untuk menebas rumput di sawah.
Dia sudah mencari ke sana kemari, tetapi tetap tidak menemukannya. Suatu ketika, dia melihat
tetangganya membawa arit yang mirip dengan arit miliknya. Dalam hatinya dia bergumam, “wah
kurang ajar itu tetangga sebelah, jangan-jangan dia yang mencuri arit saya”.

Mulai saat itu, sikapnya terhadap tetangga sebelah yang dianggap telah mencuri aritnya berubah 180
derajat. Dari yang sebelumnya ramah, kini berubah sinis. Tidak ada lagi tegur sapa di antara mereka
berdua. Hari demi hari kecurigaannya semakin menjadi. Dia pun akhirnya sampai pada sebuah
kesimpulan bahwa pasti tetangganya itulah yang mencuri aritnya.

Hubungan keduanya kian tidak harmonis. Hari-hari dilaluinya dengan penuh curiga dan prasangka. Dia
bahkan sudah menyebarkan informasi kepada para tetangga lainnya bahwa tetangga sebelah rumahnya
mencuri arit miliknya. Kini, kecurigaanya sudah berubah menjadi fitnah. Tak henti-hentinya setiap
bertemu dengan orang yang dikenalnya, dia ceritakan hal tersebut. Akhirnya seluruh penduduk
kampung menganggap bahwa tetangga sebelah rumah si petani tersebut adalah pencuri.

Suatu ketika, dia hendak membersihkan gudang lumbung padi miliknya. Tiba-tiba, dari balik tumpukan
jerami tampak sebilah arit yang tergeletak di sana. Setelah dia dekati ternyata itu adalah arit miliknya
yang dianggapnya sudah hilang dicuri oleh tetangga sebelah. Dengan perasaan tidak karuan, malu
bercampur rasa bersalah dia menyadari bahwa selama ini dia telah berburuk sangka kepada tetangga
sebelah rumahnya itu. Dia merasa berdosa, karena akibat ulahnya, yaitu menebar fitnah karena
prasangka buruknya, si tetangga jadi bahan gunjingan orang sekampung. Dia tidak bisa membayangkan
betapa sakit hatinya si tetangga tersebut, betapa malunya dia karena sudah dituduh mencuri. Akhirnya,
diapun buru-buru meminta maaf kepada si tetangga atas sikapnya selama ini.

Kisah di atas memberikan sebuah pelajaran berharga bahwa janganlah kita berburuk sangka kepada
orang lain. Karena belum tentu apa yang kita sangkakan sesuai dengan kenyataannya. Lebih baik kita
berbaik sangka, sehingga tidak akan menimbulkan kebencian apalagi sampai menebar fitnah.

Intisari Tafsir Al Hujurat Ayat 12

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur’anil ‘Adhim menjelaskan, melalui Surat Al Hujurat ayat 12 ini, Allah
melarang hamba-hambaNya yang beriman dari banyak berprasangka buruk. Yakni mencurigai orang
lain dengan tuduhan buruk yang tidak berdasar. Karena sebagian dugaan itu adalah murni dosa, maka
ia harus dijauhi sebagai tindakan preventif.

Dalam ayat ini, Allah juga melarang memata-matai dan mencari keburukan orang lain. Sayyid Qutb
dalam Tafsir Fi Zilalil Quran menjelaskan, tajassus kadang-kadang merupakan kegiatan yang
mengiringi dugaan dan kadang-kadang sebagai kegiatan awal untuk menyingkap aib dan mengetahui
keburukan. Al Quran memberantas praktik yang hina ini dari segi akhlak guna membersihkan kalbu
dari kecenderungan yang buruk itu, yang hendak mengungkap aib dan keburukan orang lain.

Allah juga melarang ghibah, yakni mengatakan keburukan seseorang yang jika ia mengetahuinya ia
takkan suka hal tersebut. Ghibah diibaratkan makan bangkai saudaranya. Yang pasti ia benci.
Lalu Allah mengingatkan kembali untuk bertaqwa. Dengan taqwa, seseorang akan terjaga dari buruk
sangka, mencari keburukan orang lain dan ghibah.

“Jika selama ini perangai yang buruk ini ada pada dirimu, mulai sekarang segeralah hentikan dan
bertaubatlah dari kesalahan yang hina itu disertai penyesalan dan bertaubat,” kata Buya Hamka
dalam Tafsir Al Azhar ketika menafsirkan Surat Al Hujurat ayat 12 ini. “Allah senantiasa membuka
pintu kasih sayang-Nya, membuka pintu selebar-lebarnya menerima kedatangan para hamba-Nya
yang ingin menukar perbuatan yang salah dengan perbuatan baik, kelakuan durjana dengan akhlak
terpuji.”

Isi Kandungan Surat Al Hujurat Ayat 12

Berikut ini isi kandungan Surat Al Hujurat ayat 12 yang kami sarikan dari sejumlah tafsir. Yakni Tafsir
Al Qur’anil ‘Adhim karya Ibnu Katsir, Tafsir Al Munir karya Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Tafsir Fi
Zilalil Quran karya Sayyid Qutb dan Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka.

Surat Al Hujurat ayat 12 memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menjauhi prasangka buruk.

Ayat ini melarang memata-matai dan mencari-cari keburukan orang lain.

Ayat ini juga melarang ghibah. Bahkan menjelaskan ghibah laksana memakan bangkai saudaranya
sendiri.

Buruk sangka, memata-matai dan mencari-cari keburukan orang lain serta ghibah adalah haram serta
menjadi perusak persatuan. Padahal orang-orang beriman itu bersaudara dan harus menjaga
persatuan sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al Hujurat ayat 10.

Ayat ini memerintahkan orang-orang beriman untuk bertaqwa. Jika orang beriman masih melakukan
perbuatan buruk tersebut, hendaklah bertaubat dan bertaqwa. Dengan taqwa, terjagalah diri dari
sifat-sifat buruk tersebut dan dengan taqwa Allah akan menerima taubatnya.

Allah senantiasa membuka pintu taubat dan pintu kasih sayang bagi hamba-hamba-Nya yang
bertaubat dan bertaqwa.

Demikian isi kandungan Surat Al Hujurat ayat 12. Semoga bermanfaat dan menguatkan ukhuwah
imaniyah di antara orang-orang beriman. Wallahu a’lam bish shawab.