Anda di halaman 1dari 12

CRITICAL JURNAL REVIEW

DIFERESIASI SUMBER PENCEMARAN SUNGAI MENGGUNAKAN


PENDEKATAN METODE INDEKS PENCEMARAN ( IP ) ( STUDI
KASUS : HULU DAS CITARUM )

Dosen Pengampu : Meilinda Suriani Harefa, M.Si

Untuk memenuhi tugas Konservasi Sumber Daya Alam

Oleh :

Irvi Sari Chairuna Pulungan

3173131018

D Geografi 2017

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena atas berkat
Rahmat dan HidayahNya, penulis dapat menyelesaikan Critical Jurnal Review tepat pada
waktunya. Critical Book Report ini disusun guna memenuhi salah satu tugas Konservasi
Sumber Daya Alam. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, didalam ini penulis berusaha
menjelaskan bagaimana Pembahasan tentang penginderaan jauh Critical Jurnal Review yang
penulis susun ini belumlah sempurna, akan tetapi penulis telah berusaha semaksimal mungkin
dalam pembuatan CJR ini. Oleh karena itu,penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan CJR ini sampai selesai. Serta ucapan
terimakasih penulis sampaikan juga kepada Ibu Dosen mata kuliah Konservasi Sumber Daya
Alam. yang telah memberikan tugas ini kepada penulis.

Akhir kata, penulis berharap CJR ini dapat bermanfaat bukan hanya bagi penulis
sendiri namun juga dapat bermanfaat bagi semua orang yang membaca CJR ini untuk
menambah wawasannya. Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi
kesempurnaan CJR ini.

Medan, Oktober 2020

Irvi Sari Chairuna P

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi Pentingnya CJR

Pencemaran air merupakan suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air
seperti sungai, danau, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Sungai, danau, lautan
dan air tanah adalah bagian penting dalam siklus kehidupan manusia dan merupakan
salah satu bagian dari siklus hidrologi.
Definisi pencemaran air menurut Surat Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan
Lingkungan Hidup Nomor : KEP-02/MENKLH/I/1988 Tentang Penetapan Baku Mutu
Lingkungan adalah : masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan atau
komponen lain ke dalam air dan atau berubahnya tatanan air oleh kegiatan manusia atau
oleh proses alam, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang
menyebabkan air menjadi kurang atau sudah tidak berfungsi lagi sesuai dengan
peruntukkannya (pasal 1 ).

B. Tujuan Penulisan CJR

Untuk pemenuhan tugas Konservasi Sumber Daya Alam.

C. Manfaat CJR

1. Sebagai rujukan bagaimana untuk menyempurnakan sebuah jounal dan mencari


sumber bacaan yang relevan.

2. Membuat saya sebagai penulis dan mahasiswa lebih terasah dalam mengkritisi sebuah
journal.

3
BAB II

RINGKASAN JURNAL

A. Idetitas Jurnal
Judul : Diferesiasi smber Pencemaran Sungai Menggunakan Pendekatan Metode
Indeks Pencemaran ( IP ) ( Studi Kasus : Hulu DAS Citarum )
Penulis : Dyah Marningrum, Dwina Roosmin, Pradono dan Arwin Sabar
ISSN : 0125-9849
Volume : 23, No.1
Tahun terbit : Juni 2013
Jenis Jurnal : Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan
Penerbit : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
B. Ringkasan Jurnal
Pendahuluan
Pencemaran sungai masih menjadi persoalan di berbagai negara, khususnya di negara
berkembang termasuk Indonesia. Keterbatasan infrastruktur dan sumberdaya manusia
disertai sistem monitoring dan penegakan hukum yang lemah menyebabkan tingkat
pencemaran sungai semakin tinggi. Untuk mencegah pencemaran sungai semakin serius,
diperlukan upaya pemantauan secara periodik. Monitoring kualitas sungai pada
hakikatnya adalah untuk mengetahui status mutu sungai dalam periode waktu tertentu.
Namun demikian, pengembangan metode monitoring tidak hanya sebatas mengetahui
status mutu. Lebih dari itu diharapkan dapat digunakan untuk memperkirakan indikasi
sumber pencemar sungai agar dapat dilakukan upaya pengendalian yang tepat sasaran.
Hingga saat ini telah banyak dikembangkan metode indeks untuk melakukan penilaian
terhadap status kualitas air. Penilaian status kualitas sungai merupakan bagian dari
kegiatan dalam monitoring kualitas sumberdaya air.
Menilai mutu air sungai dengan metode indeks pada hakikatnya adalah membandingkan
hasil pemantauan dengan baku mutu yang berlaku. Penelitian in menggunakan metode
Indeks Pencemaran ( IP ) ( Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 115 Tahun
2003). IP merupakan salah satu metode penilaian kualitas air sungai yang sederhana dan

4
mudah diterapkan. Nilai IP menunjukkan tingkat pencemaran yang sifatnya relative
terhadap baku mutu air (BMA) yang dipersyaratkan pada sumber air ( Sungai ).
Lokasi Penelitian Dan Sumber Data
Penelitian dilakukan di hulu DAS Citarum. Lokasi penelitian meliputi tujuh titik
monitoring kualitas air sungai Citarum yang terdiri atas Wangisagara, Majalaya, Sapan,
Cijeruk, Dayeuh kolot, Burujul, dan Nanjung. ujuh titik tersebut dikaitkan dengan sumber
sumber pencemar yang mewakili setiap sub DAS. Analisis terhadap data historikal
dilakukan terhadap data monitoring kualitas Sungai Citarum oleh Badan Pengendalian
Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi Jawa Barat sebagai pihak pelaksana. Seri
data historikal yang digunakan adalah hasil pengamatan tahun 2002 hingga 2010karena
analisis data untuk tujuan pengelolaan sumberdaya air memerlukan seri data historikal
yang cukup panjang.
Metode
Sebagai metode berbasis indeks, metode IP dibangun berdasarkan dua indeks kualitas.
Yang pertama adalah indeks rata-rata (IR). Indeks ini menunjukkan tingkat pencemaran
rata-rata dari seluruh parameter dalam satu kali pengamatan. Yang kedua adalah indeks
maksimum (IM).
Indeks ini menunjukkan satu jenis parameter yang dominan menyebabkan penurunan
kualitas air pada satu kali pengamatan. Kategori penilaian kualitas air berdasarkan nilai
IP adalah sebagai berikut (KepMen.LH, 2003):
 Memenuhi baku mutu : IP≤1
 Tercemar ringan : 1<IP≤5
 Tercemar sedang : 5<IP≤10
 Tercemar berat : IP>10

Hasil Penelitian dan Diskusi

Data kualitas sungai adalah data yang berkarakter acak. Hal ini mencerminkan karakter
air itu yang bersifat flowing dan dynamic (Melquist,1991). Dengan demikian indeks yang
menggambarkan status dari tingkat pencemaran sungai juga menunjukkan fluktuasi. Nilai
IP di tujuh titik pemantauan kualitas air Sungai Citarum. Nilai IP berkisar antara 1
sampai dengan 10 menunjukkan bahwa Sungai Citarum, dari hulu (Wangisagara) hingga

5
Nanjung (sebelum masuk Waduk Saguling) telah tercemar dengan kategori tercemar
sedang hingga tercemar berat.

Berdasarkan analisis indeks maksimum (IM) diketahui bahwa tiga parameter utama yang
menyebabkan menurunnya kualitas Sungai Citarum adalah fecal coliform, sulfida, dan
fenol. Limbah domestik memang menjadi salah satu sumber pencemar utama di Sungai
Citarum. Keterbatasan infrastruktur sanitasi, baik dari segi jumlah dan kualitas,
menyebabkan limbah domestik sampai ke badan air tanpa melalui pengolahan terlebih
dahulu. Pertumbuhan populasi penduduk yang ditandai dengan semakin banyaknya
pembangunan rumah tinggal, tidak diiringi dengan peningkatan infrastruktur sanitasi.
Sementara fasilitas jaringan air kotor di Cekungan Bandung hanya terdapat di kota
Bandung.

Hasil analisis IPM menunjukkan bahwa selainfecal coliform, fenol juga merupakan unsur
kontaminan penyebab penurunan kualitas air Sungai Citarum. Fenol merupakan senyawa
tipikal pada limbah cair industri. Kontaminan fenol terdeteksi sebagai kontaminan utama
di titik Wangisagara, Majalaya, Sapan, dan Dayeuhkolot. Sebagai bahan organik, fenol
mempunyai sifat larut dalam air yang dapat menyebabkan iritasi kuat, racun terhadap
kulit, dan dapat menyebabkan gangguan terhadap tenggorokan (Milasari dan Ariani,
2010). Fenol dapat berasal dari industri pengolahan minyak, pabrik tekstil
industri kayu lapis, pabrik pulp dan kertas (Pooter dkk., 1994). Fenol dapat terdegradasi
secara alamiah oleh cahaya matahari (fotodegradasi).

Selain fenol, sulfida dalam bentuk H2S juga merupakan parameter dominan dalam
penurunan kualitas air Sungai Citarum. Sumber pencemar sulfida masih memerlukan
pengkajian lebih lanjut. Sulfida dihasilkan dari metabolism protein. Limbah domestik,
seperti urin mengandung material sulfatorganik (SO4=). Industri tekstil juga
mengeluarkan limbah yang mengandung senyawa sulfat dari proses pencelupan maupun
pewarnaan. Dalam kondisi anaerob (kurang oksigen) maka senyawa sulfat tersebut akan
direduksi menjadi sulfida(Effendi, 2003).

Hasi lanalisis data pemantauan kualitas, menunjukkan bahwa kadar oksigen terlarut (DO)
Sungai Citarum berada di bawah BMA yang di persyarakatkan untuk peruntukan air

6
kelas II. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses reduksi sulfat menjadi sulfida
dapat terjadi selama pemantauan. Namun demikian perlu dikaji lebih lanjut mengenai
perubahan bentuk senyawa sulfur, baik dari sumber domestik maupun industri.

Selain tiga parameter utama (fecal coliform, sulfida, dan fenol) serta BOD-COD, ada
beberapa parameter lain yang juga melebihi BMA pada beberapa titik dan tahun
pengamatan. Parameter yang dimaksud antara lain adalah Seng (Zn). Konsentrasi Zn
semakin meningkat dari hulu (Wangisagara) hingga ke hilir (Nanjung). Seng adalah
salah satu kontaminan yang bersifat konservatif atau tidak terurai. Terdapat
kecenderungan peningkatan konsentrasi seng dari hulu ke hilir. Akumulasi Zn hingga ke
Nanjung tentu merupakan ancaman bagi Waduk Saguling sebagai infrastruktur sumber
daya air yang bersifat strategis nasional

Kesimpulan

Hasil analisa IP menunjukkan bahwa pencemaran domestik dan industri memberikan


kontribusi beban yang sama berat dalam penurunan kualitas Sungai Citarum. Oleh karena
itu infrastruktur sanitasi dan pengolahan limbah domestik perlu ditingkatkan dan atau
dikembangkan. Secara paralel monitoring operasional IPAL industri juga perlu dilakukan
untuk mencegah terjadinya overloading yang terakumulasi dan berkepanjangan. Hal ini
menunjukkan bahwa kinerja infrastruktur pengelolaan limbah cair domestik dan industri
sangat minim.

7
BAB III
ANALISA JURNAL
Jurnal Pembanding I : Dalam artikel Andriati Cahyaningsih dan Budi Harsoyo yang berjudul
“ Distribusi spasial tingkat pencemaran air di DAS Citarum”
Jurnal Pembanding II : Dalam artikel Nana Terangna Bukit dan Iskandar A. Yusuf yeng
berjudul “ Beban Pencemaran Limbah Industri dan Status Kualitas
Air Sungai Citarum”

Dalam jurnal yang saya review mengenai pencemaran di Daearah Aliran Sungai Citarum. Pada
jurnal ini membahas tentang kualitas air sungai.dimana kualitas yang dimaksud tersebut dalam
PP No. 82/2001 yaitu :
 Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau
peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;
 Kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air,
pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau
peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;
 Kelas tiga, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar,
peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang
mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;
 Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan
atau peruntukan lain yang mempersyaratkan

Metode

Jurnal yang saya Review menggunakan metode Indeks Pencemar untuk mengetahui pencemaran
yang terjadi di sungai citarum. Tetapi dalam jurnal ini tidak terdapat pembahasan mengenai
kandungan BOD pada Daerah Aliran Sungai Citarum ( dalam artikel Andriati Cahyaningsih dan
Budi Harsoyo yang berjudul Distribusi spasial tingkat pencemaran air di DAS Citarum). Dalam
jurnal pemanding I tersebut dia membahas kandunngan BOD yang terdapat di sekitar DAS
Citarum dan juga terdapat peta persebaran pencemaran DAS Citarum sehingga mempermudah
pembaca mengetahui Daerah Aliran Sungai mana saja yang sudah tercemar . dan juga pada
artikel pembandingnya ini dicantumkan diagram alir penelitian, sehingga kita mudah mengetahui

8
alur penelitian yang diteliti. Sementara pada jurnal yang saya review ini hanya terdapat peta
monitoring kualitas air sungai nya saja dan tidak terdapat diagram alir penelitiannya. Sementara
pada Jurnal pembanding II metode yang digunakan peneliti tidak dicantumkan secara jelas dan
tidak terdapat aliran penelitian yag digunakan oleh peneliti.

Hasil dan Pembahasan

Dalam jurnal yang saya review pembahasan isi jurnal mengenai indeks pencemar yang
menyebabkan kualitas air sungai Citarum menurun. Dan juga pada hasil dan pembahasannya
disertai grafik nilai Indeks Pencemaran yang ada di sungai citarum. Menurut artikel yang saya
review ini Tiga parameter utama yang berperan dalam meningkatkan IP di hulu DAS Citarum
(titik pantau Wangisagara hingga Nanjung) adalah fecal coliform, sulfida, dan fenol. Nah pada
artikel ini peneliti juga mencantumkan grafik rasio parameter utama penyebab terjadi nya
pencemaran di Daerah Aliran Sungai Citarum. Dan juga pada jurnal yang saya review ini tidak
terdapat peta persebaran pencemaran.

Sementara itu pada jurnal pembanding I hasil dan pembahasan jurnal lebih luas dan lebih
lengkap. Pada jurnal pembanding I terdapat peta kondisi tingkat pencemaran air di DAS citarum
sehingga pembaca dapat mengetahui tingkat pencemaran yang terjadi. Dan juga peneliti
mencantumkan tabel kandungan BOD pada Lokasi titik sampel di daerah DAS Citarum. Dan kita
juga dapat melihat zona-zona pencemaran di sekitar aliran sungai seperti

 Zona agak tercemar


Zona agak tercemar terdapat di dua area, yaitu di sisi barat-utara dan sisi selatan DAS
Citarum.
 Zona Agak Kritis
Zona kritis tercemar terdapat di tiga lokasi dalam DAS Citarum dengan total area yang
tidak terlalu luas yaitu 54.686,95 ha atau 11,99% dari luas keseluruhan DAS Citarum.
 Zona sangat tercemar
Zona sangat tercemar terdapat pada dua lokasi, yaitu di sebelah selatan dan timur dari
DAS Citarum dengan luas 73.282,05 ha atau 16,07% dari luas keseluruhan DAS Citarum.
 Zona tercemar Barat

9
Zona tercemar berat hanya terdapat dalam satu area, memanjang mulai dari bagian tengah
Peta Zonasi Tingkat Pencemaran Air DAS Citarum hingga ke sisi paling timur dari DAS
Citarum. Luasnya 79.779,88 ha atau 17,49% dari luas keseluruhan DAS Citarum.

Pada jurnal pembanding I kita dapat mengenai apa saja tutupan di daerah Aliran Sungai Citarum
ini. Dan juga pada jurnal ini terdapat jenis-jenis tutupan lahan DAS citarum disertai dengan
grafik nya, yang mempermudah pembaca untuk memahami isi dari jurnal ini. Selain itu terdapat
juga peta persebaran Kluster Industri yang terdapat di Daerah Aliran Sungai Citarum.

Pada jurnal Pemanding II juga terdapat tabel BOD pada Daerah Aaliran Sungai Citarum. Tetapi
data yang ada lebih lengkap pada jurnal pembanding I. selain tabel peneliti juga mencantumkan
grafik BOD tersebut agar pembaca mudah memahami. Pada isi jurnal ini terdapat juga peta
perkembangan industri disekitar Daerah Aliran Sungai yang tidak terdapat pada jurnal yang saya
review. Dan pada jurnal pembanding II ini peneliti juga membahas menganai strategi yang dapat
digunakan untuk pengolahan limbah industri.

Kesimpulan

Secara keseluruhan jurnal Pemanding I lebih lengkap dan kajian pembahasan lebih luas dari pada
jurnal utama yang saya review dan Jurnal Pembanding II. Metode yang digunakan pad ajurnal
pembanding I lebih terarah dan sistematis daripada jurnal utama. Tetapi pada jurnal utama
terdapat rumus atau standar untuk menghitung kualitas air sungai, sementara pada jurnal
pebanding I dan II tidak ada di cantumkan. Dan pada jurnal utama lebih fokus terhadap
kandungan dari bahan pencemaran air sungai Citarum.

10
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pencemaran sungai merupakan masalah yang membuat salah satu sumber air tidak dapat
digunakan sebagaimana mestinya. Salah satu daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia
yaitu DAS Citarum mempunyai masalah banjir dan penurunan kualitas air. DAS Citarum
telah menjadi sumber kehidupan dan penghidupan masyarakat Jawa Barat khususnya
serta DKI Jakarta pada umumnya. Pada DAS ini bermukim 11,255 juta penduduk dengan
sekitar lebih dari 1.000 industri yang sekaligus sebagai sumber pencemaran paling
dominan. infrastruktur sanitasi dan pengolahan limbah domestik perlu ditingkatkan dan
atau dikembangkan. Secara paralel monitoring operasional IPAL industri juga perlu
dilakukan untuk mencegah terjadinya overloading yang terakumulasi dan
berkepanjangan. Banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan Daerah Aliran Sugai
Citarum ini menjadi tercemar dan memprihatinkan.
B. Saran
-

11
DAFTAR PUSTAKA
Marganingrum,Dyah.dkk.2013.Diferesiasi sumber Pencemaran Sungai Menggunakan
Pendekatan Metode Indeks Pencemaran ( IP ) ( Studi Kasus : Hulu DAS Citarum ).LIPI
Cahyaningsih,Andriati.dkk. 2010.Distribusi Spasial Tingkat Pencemaran Air Di Das Citarum.
Bukit,Nana terangna,dkk.2002.Beban Pencemaran Limbah Industri dan Status Kualitas Air
Sungai Citarum.

12