Anda di halaman 1dari 10

Lex Privatum, Vol. IV/No.

4/Apr/2016

KEJAHATAN CYBER BERBASIS PROSTITUSI menawarkan jasa yang mengandung unsur


DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG kesusilaan.
NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG Kata kunci: Cyber, prostitusi, informasi
INFORMATIKA TRANSAKSI DAN transaksi dan elektronik
ELEKTRONIK1
Oleh : Raisanta Wongso2 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penulisan
ABSTRAK Salah satu yang disorot kejahatan dalam
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan memanfaatkan kecanggihan teknologi yaitu
untuk mengetahui bagaimana efektivitas praktek bisnis prostitusi online. Masalah
Dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 kejahatan ini adalah masalah sosial yang
Terhadap Prostitusi Online dan bagaimana selalu menarik dan menuntut perhatian
sanksi hukum pelaku praktek prostitusi dari waktu ke waktu. Prostitusi sebenarnya
online. Dengan menggunakan metode adalah suatu kegiatan yang bersifat
penelitian yuridis notmatif disimpulkan: 1. menyerahkan diri atau menjual jasa kepada
Efektivitas pengaturan hukum tentang umum untuk melakukan perbuatan-
prostitusi online belum sepenuhnya perbuatan seksual dengan mendapat upah
diterapkan dalam beberapa aturan yang sesuai dengan yang diperjanjikan
dapat dikaitkan dengan kasus prostitusi ini sebelumnya. Kegiatan ini dianggap
yakni: -Undang-undang No. 11 Tahun 2008 bertentangan dengan nilai-nilai moral
tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. dalam agama dan kesusilaan. Kejahatan ini
-KUHPidana pasal 284, 296 dan 506. - sudah ada semenjak dahulu kala dan dapat
Undang-undang No. 44 Tahun 2008 tentang dikatakan sebagai suatu penyakit
Pornografi. -Undang-undang No. 21 Tahun masyarakat. Yang melatar belakangi
2007 tentang Perdagangan Orang. - kegiatan adalah mencari kepuasan pada
Undang-undang No. 23 Tahun 2002 jo setiap individunya baik itu pengguna jasa
Undang-undang No. 35 Tahun 2014 tentang ataupun yang menyediakan layanan
Perlindungan Anak. 2. Dalam pengaturan di kegiatan ini.
Indonesia mengenai prostitusi sebenarnya Pada awalnya praktek bisnis haram ini
masih kurang dalam hal memberikan sanksi hanya dapat dijumpai di titik-titik lokalisasi
terhadap pelaku praktek prostitusi dan sebagainya dimana transaksi dilakukan
khususnya client (pengguna jasa) dan ketika si pengguna jasa layanan ini
Pekerja Seks Komersial (PSK) karena bertransaksi langsung dengan penyedia jasa
sebenarnya praktek ini tak dapat ditekan ini baik itu dengan perantara mucikari
perkembangannya jika memberikan efek ataupun langsung Pekerja seksnya. Akan
jera bukan hanya pada mucikari tapi juga tetapi dengan kemajuan perkembangan
kepada client (pengguna jasa). Dalam teknologi saat ini praktek bisnis tersebut
aturan Undang-undang no 11 No. 11 Tahun merebak dengan memanfaatkan layanan
2008 belumlah efektif untuk menjerat client jasa internet. Dengan cara tersebut selain
(pengguna jasa) dan Pekerja Seks Komersial lebih menguntungkan kiranya dengan
(PSK) terkait kasus prostitusi online. memanfaatkan layanan internet dapat
Undang-undang tersebut hanya dapat menghindar dari razia dan tekanan pada
menjerat si mucikari selaku pengelola dan masyarakat sekitar. Cara itu juga dengan
mudah dapat dijangkau oleh banyak orang
1
Artikel Skripsi. Dosen Pembimbing : Prof. Atho Bin tanpa repot-repot untuk terjun langsung ke
Smith, SH, MH; Aneke Said, SH, MH kawasan lokalisasi dan juga tak perlu takut
2
Mahasiswa pada Fakultas Hukum Unsrat, NIM. identitasnya akan terbongkar.
110711274

64
Lex Privatum, Vol. IV/No. 4/Apr/2016

Kiranya kejahatan tersebut perlu cukup efektif jika dikaitkan dengan kasus
mendapat perhatian khusus dari para prostitusi berbasis online dengan
penegak hukum dan semua masyarakat menggunakan perangkat komputer.
yang sadar atas kekhawatirannya pada Dalam Undang-undang No 11 tahun
masa depan generasi bangsa karena 2008 tentang Informasi dan Transaksi
praktek tersebut tak luput melibatkan Elektronik terkait perbuatan yang dilarang
anak-anak di bawah umur dimana anak- dalam tertuang dalam BAB VII pada Pasal
anak tersebut adalah penerus bangsa ini. 27 ayat (1) bahwa: “Setiap orang dengan
Karena baik dan buruknya masa depan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan
suatu bangsa ditentukan oleh keadaan dan/atau mentransmisikan dan/atau
generasinya. Oleh karenanya semua membuat dapat diaksesnya Informasi
penjelasan diatas mendorong penulis untuk Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik
menulis skripsi ini dengan judul: “Kejahatan yang memiliki muatan yang melanggar
Cyber Berbasis Prostitusi Ditinjau Dari kesusilaan”.3
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Mengenai Undang-undang No 11 tahun
Tentang Informatika Transaksi dan 2008 pasal 27 ayat (1) mengandung unsur-
Elektronik”, disusun sebagai salah satu unsur:
syarat untuk memperoleh gelar Sarjana - Perbuatan tanpa hak
Hukum pada Fakultas Hukum Universitas mendistribusikan dan/atau
Sam Ratulangi Manado. mentransikan dan/atau membuat
dapat diaksesnya sebuah informasi
B. Perumusan Masalah dan/atau dokumen yang bersifat
1. Bagaimana efektivitas Dalam Undang- elektronik.
Undang No. 11 Tahun 2008 Terhadap - Informasi dan/atau dokumen
Prostitusi Online? elektronik tersebut mengandung
2. Bagaimana sanksi hukum pelaku praktek unsur pelanggaran terhadap
prostitusi online? kesusilaan.
- Dilakukan dengan sengaja dan sadar
C. Metode Penulisan bahwa perbuatan yang
Metode penelitian yang digunakan dilakukannya adalah sebuah
dalam penulisan skripsi ini adalah perbuatan yang melanggar hukum.
menggunakan pendekatan penelitian Pasal 27 ayat ( 1) Undang-Undang No. 11
yuridis normatif yang bersifat kualitatif. tahun 2008 menyebutkan pelanggaran
terhadap kesusilaan. Jika dikaitkan dengan
PEMBAHASAN kasus prostitusi maka bisa dihubungkan
A. Efektivitas Dalam Undang-Undang No. karena berbicara prostitusi tak terlepas dari
11 Tahun 2008 Terhadap Prostitusi unsur kesusilaan. Selanjutnya di dalam
Online pasal tersebut berbicara mengenai kegiatan
Pengaturan terhadap prostitusi online mendistribusikan dan mengakses atau
dalam hukum positif di Indonesia belum dapat diakses hal-hal yang bersifat
diatur, mengenai prostitusi online yang dokumen elektronik.
menggunakan teknologi komputer dan Dokumen bersifat elektronik
jaringan sebagai alat untuk melakukan pemanfaatan dari sebuah perangkat
perbuatan susila ini dalam Undang-Undang komputer. Jika dilihat praktek prostitusi
Informasi dan Teknologi Informasi yang tak terlepas dari unsur kesusilaan dan
sebenarnya belum diatur secara jelas dan
3
terperinci, namun Undang-undang ini Lihat Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Pasal 27 ayat
(1).

65
Lex Privatum, Vol. IV/No. 4/Apr/2016

suatu kegiatan yang berbasis dunia maya dikaitkan karena aktifitas dalam prostitusi
atau online juga tak terlepas dari hal yang yakni sebuah aktifitas perzinahan.
bersifat secara elektronik, maka kasus Pasal 296 KUHP adalah “Barang siapa
prostitusi online dapat dikaitkan dalam dengan sengaja menyebabkan atau
pasa 27 ayat (1) Undang-undang No. 11 memudahkan perbuatan cabul oleh orang
tahun 2008 tentang Informasi dan lain dengan orang lain, dan menjadikannya
Transaksi Elektronik. sebagai pencarian atau kebiasaan, diancam
Didalam KUHP juga tidak dijelaskan dengan pidana penjara paling lama satu
secara rinci mengenai masalah prostitusi tahun empat bulan pidana denda paling
secara online. Tapi di beberapa pasal dalam banyak lima belas ribu rupiah”.5
KUHP yang erat kaitannya mengenai Dalam pasal ini tak secara khusus
masalah prostitusi termuat dalam pasal membahas mengenai prostitusi, tapi lebih
284, 296 dan 506. tepatnya pencabulan, namun konteks
Pasal 284 KUHP terdiri dari: dalam pasal ini masih bisa terkait kedalam
1. Diancam dengan pidana penjara hal prostitusi karena unsur yang
paling lama Sembilan bulan: terkandung dalam pasal ini mengandung
1.a. seorang pria yang telah kawin masalah pelacuran, tapi karena konteks
yang melakukan zina, padahal yang disebutkan adalah perbuatan cabul
diketahui bahwa pasal 27 BW lebih tepatnya diarahkan kepada wanita
berlaku baginya. yang berada di bawah umur.
b. seorang wanita yang telah Pasal 506 adalah “Barangsiapa menarik
kawin yang melakukan zina, keuntungan dari perbuatan cabul seorang
padahal diketahui bahwa wanita dan menjadikan sebagai pencarian
pasal 27 BW berlaku baginya diancam dengan pidana kurungan paling
2.a. seorang pria yang turut serta lama satu tahun”.6
melakukan perbuatan itu, Sama seperti pasal yang sebelumnya,
padahal diketahuinya bahwa dalam konteks pasal ini lebih khusus
yang turut bersalah telah kawin membahas perbuatan cabul, tapi dalam
b. seorang wanita yang telah pasal ini ditujukan kepada pelaku tindak
kawin yang turut serta pidana yang mencari keuntungan dari
melakukan perbuatan itu, perbuatan cabul. Maksudnya lebih tepat
padahal diketahui olehnya mengarah pada profesi mucikari yang
bahwa yang turut serta mencari keuntungan dari kegiatan
melakukan perbuatan itu, pelacuran khususnya pada wanita yang
padahal diketahui olehnya masih dibawah umur. Unsur dari pasal
bahwa yang turut bersalah tersebut terkait dalam konteks prostitusi
telah kawin dan pasal 27 BW karena mengandung unsur pelacuran, dan
berlaku baginya.4 ada pihak yang turut menikmati
keuntungan dari hasil tersebut, meskipun
Pasal 284 KUHP secara umum bisa lebih tepatnya langsung kegiatan cabul.
dikaitkan lebih erat dengan praktek Unsur dalam hal perumusan delik
prostitusi karena dalam pasal tersebut cybercrime mengalami beberapa terobosan
aktifitas yang terkandung didalamnya yaitu dari sifat-sifat umum dari KUHP. Hal ini
perzinahan dan jika dihubungkan dengan disebabkan kegiatan cyber meskipun
kasus prostitusi secara umum, dapat bersifat virtual tetapi dikategorikan sebagai
5
Lihat KUHP pidana pasal 296
4 6
Lihat KUHP pidana pasal 284 ayat 1-2 Lihat KUHP pasal 506

66
Lex Privatum, Vol. IV/No. 4/Apr/2016

tindakan dan perbuatan hukum yang nyata. Di dalam pasal 1 ayat (2) Undang-
Secara yuridis untuk ruang cyber sudah Undang No. 44 Tahun 2008 termuat
tidak pada tempatnya lagi untuk pengertian mengenai jasa pornografi yang
mengategorikan sesuatu dengan ukuran demikian berbunyi: “Jasa pornografi adalah
dan kualifikasi konvensional untuk dapat segala jenis layanan pornografi yang
dijadikan objek dan perbuatan, sebab jika disediakan oleh perseorangan atau
cara ini yang ditempuh akan terlalu banyak korporasi melalui pertunjukan langsung,
kesulitan dan hal-hal yang lolos dari jerat televise kabel, televise teresterial, radio,
hukum.7 telepon, internet, dan komunikasi
Kegiatan cyber adalah kegiatan virtual, elektronik lainnya serta surat kabar,
tetapi berdampak sangat nyata meskipun majalah, dan barang cetakan lainnya”.10
alat elektronik, dengan subjek pelakunya Dalam Undang-undang No. 44 tahun
harus dikualifikasikan pula sebagai telah 2008 tentang Pornografi pasal 4 ayat (2)
melakukan perbuatan hukum secara nyata. termuat mengenai bentuk pelarangan
Dunia hukum sebenarnya sudah sejak lama terhadap jasa pornografi sebagai berikut:
memperluas penafsiran asas dan normanya Setiap orang dilarang menyediakan jasa
ketika menghadapi persoalan benda tak pornografi yang:
berwujud ini.8 Misalnya dalam kasus a. Menyajikan secara eksplisit
prostitusi online yang dasarnya adalah ketelanjangan atau tampilan yang
suatu tindak kejahatan namun dalam mengesankan ketelanjangan.
kegiatannya mengandung unsur virtual. b. Menyajikan secara eksplisit alat
Dalam Undang-undang No. 44 Tahun kelamin.
2008 tentang Pornografi erat kaitannya c. Mengeksploitasi atau memamerkan
dengan masalah kasus prostitusi karena aktivitas seksual; atau
unsur-unsur didalamnya tak terlepas dari d. Menawarkan atau mengiklankan, baik
muatan-muatan yang mengandung langsung maupun tidak langsung
pornografi. Pornografi disini dapat layanan seksual.11
menggunakan media teks tertulis maupun
lisan, foto-foto, ukiran, gambar, gambar Dalam pasal 4 ayat (2) huruf d secara
bergerak (termasuk animasi), dan suara khusus menyebutkan bahwa salah satu
seperti misalnya suara desahan. perbuatan yang dilarang adalah
Seperti yang tercantum dalam Undang- menawarkan atau mengiklankan, baik
Undang No. 44 Tahun 2008 tentang secara langsung maupun tidak langsung
Pornografi Pasal 1 ayat (1) yang berbunyi: layanan seksual. Dari konteks tersebut jika
“Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, ditelaah unsur penyediaan layanan seksual
foto, tulisan, suara, bunyi, gambar, gambar bisa berbayar dengan imbalan kepuasan
bergerak, animasi, kartun, percakapan, seksual.
gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya Dari konteks tersebut bisa dilihat bahwa
melalui berbagai bentuk media komunikasi kaitannya dengan prostitusi online yang
dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dimana dalam kegiatan menawarkan atau
memuat kecabulan atau eksploitasi seksual mengiklankan baik secara langsung atau
yang melanggar norma kesusilaan dalam tidak langsung layanan kepuasan seksual.
masyarakat”.9 Seringkali dalam iklan prostitusi online

7 10
Budi Suhariyanto, Op.cit, hal 103 Lihat Undang-Undang No. 44 Tahun 2008 tentang
8
Ibid, hal 104 Ponografi Pasal 1 ayat (2).
9 11
Lihat Undang-Undang No. 44 Tahun 2008 tentang Lihat Undang-Undang No. 44 Tahun 2008 tentang
Ponografi Pasal 1 ayat (1). Ponografi Pasal 4 ayat (2).

67
Lex Privatum, Vol. IV/No. 4/Apr/2016

termuat hal-hal yang mengandung unsur hukum memindahkan atau


pornografi dari Pekerja Seks Komersial guna mentransplantasi organ dan/atau jaringan
menarik minat calon pengguna jasa, tubuh atau memanfaatkan tenaga atau
sehingga pasal ini lebih tepat apabila kemampuan seseorang oleh pihak lain
dikaitkan dengan kasus prostitusi online. untuk mendapatkan keuntungan baik
Selanjutnya dalam Undang-undang No. materiil maupun immateriil”.13
21 tahun 2007 tentang Perdagangan Orang
terkait masalah prostitusi online juga erat B. Sanksi Hukum Terhadap Pelaku
kaitannya. Hal tersebut berhubungan Praktek Prostitusi
karena dalam masalah prostitusi itu sendiri Sanksi hukum dalam praktek prostitusi
terkait aktifitas jual beli terhadap manusia. ini belum dijelaskan secara rinci dalam
Hubungan Undang-undang ini dalam hukum positif di Indonesia, baik dalam
perdagangan manusia di sini lebih Undang-Undang No. 8 Tahun 2011 tentang
khususnya disorot dalam perdagangan yang Informasi dan Transaksi Elektronik, Kitab
mengakibatkan aktifitas pelacuran. Undang-Undang Hukum Pidana, Undang-
Mengenai pengertian perdagangan Undang No. 35 Tahun 2014 tentang
orang ini dijelaskan dalam Undang-Undang Perlindungan Anak, Undang-Undang No. 21
No. 21 Tahun 2007 tentang perdagangan Tahun 2007 tentang perdagangan orang,
orang pasal 1 ayat (1) yang berbunyi: dan Undang-Undang No. 44 Tahun 2008
“Perdagangan orang adalah tindakan tentang Pornografi, sebagaimana diketahui
perekrutan, pengangkutan, penampungan, bahwa dalam kasus prostitusi muncul tiga
pengiriman, pemidahan, atau penerimaan subjek pelaku yakni mucikari, client
seseorang dengan ancaman kekerasan, (pengguna jasa), dan Pekerja Seks
penggunaan kekerasan, penculikan, Komersial (PSK).
penyekapan, pemalsuan, penipuan, Kasus prostitusi online jika ditinjau
penyalahgunaan kekuasaan atau posisi dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2008
rentan, penjeratan hutang, atau memberi tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
bayaran atau manfaat, sehingga dalam pasal 27 ayat (1) yang berbunyi:
memperoleh persetujuan dari orang yang “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa
memegang kendali atas orang lain tersebut, hak mendistribusikan dan/atau membuat
baik yang dilakukan di dalam Negara dapat diaksesnya Informasi Elektronik
maupun antar Negara, untuk tujuan dan/atau Dokumen Elektronik yang
eksploitasi atau mengakibatkan orang memiliki muatan kesusilaan”.
tereksploitasi”.12 Dilihat dari bunyi pasal tersebut ternyata
Sementara itu penjelasan mengenai yang bisa dikenakan sanksi hanyalah si
eksploitasi dijelaskan dalam Undang- mucikari, karena unsur dalam pasal itu
undang no. 21 pasal 1 ayat (7) tentang hanya mengatur tentang orang yang
perdagangan orang yang berbunyi: dengan sengaja mendistribusikan segala
“Eksploitasi adalah tindakan dengan atau sesuatu yang memuat pelanggaran
tanpa persetujuan korban yang meliputi kesusilaan, dihubungkan dengan kasus
tetapi tidak terbatas pada pelacuran, kerja prostitusi online dimana si mucikari
atau pelayanan paksa, perbudakan atau melakukan aksinya dengan menggunakan
praktik serupa perbudakan, penindasan, sosial media untuk mendatangkan atau
pemerasan, pemanfaatan fisik, seksual, melakukan kegiatan yang mengandung
organ reproduksi, atau secara melawan kesusilaan tersebut, semisal dengan
12 13
Lihat Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 tentang Lihat Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 tentang
Perdagangan Orang Pasal 1 ayat (1). Perdagangan Orang Pasal 1 ayat (7).

68
Lex Privatum, Vol. IV/No. 4/Apr/2016

menggunakan website juga sosial media itu mengatakan dalam status sudah kawin.
semacam facebook, twitter dan lain Aktivitas yang terkandung didalamnya yaitu
sebagainya. Untuk itu Undang-Undang No. perzinahan dan itu bisa dikaitkan dalam
11 Tahun 2008 tentang Informasi dan konteks masalah prostitusi online.
Transaksi Elektronik tidak dapat menjerat sedangkan si Mucikari tidak dapat
semua para pelaku dalam kegiatan dikenakan sanksi pidana.
prostitusi ini, hanya mucikarinya saja yang Pasal 295 KUHP juga dapat digunakan
dikenakan sanksi pidana penjara paling dalam menjerat para pelaku prostitusi
lama 6 (enam) tahun dan/atau denda online, dalam pasal ini berbunyi :
paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu 1. Dengan pidana penjara paling lama
miliyar rupiah).14 lima tahun barang siapa dengan
Sayangnya dalam Undang-undang No. sengaja menyebabkan atau
11 Tahun 2008 tentang Informasi dan memudahkan dilakukannya
Transaksi Elektronik tidak dapat menjerat perbuatan cabul oleh anaknya, anak
semua pelaku yang terlibat praktek tirinya, anak angkatnya, atau anak
prostitusi online karena client (pengguna dibawah pengawasannya yang belum
jasa) dan Pekerja Seks Komersial (PSK) tidak dewasa, atau orang yang belum
masuk dalam ruang lingkup pasal tersebut. dewasa yang pemeliharaannya,
Sehingga hal ini lebih memberi kebebasan pendidikan atau penjagaannya
kepada client (pengguna jasa) dan Pekerja diserahkan kepadanya, ataupun oleh
Seks Komersial (PSK) untuk melakukan bujangnya atau bawahannya yang
kegiatan praktek prostitusi online itu. belum cukup umur, dengan orang lain
Pemerintah seharusnya merevisi 2. Dengan pidana penjara paling lama
kembali Undang-Undang No. 11 Tahun empat tahun barang siapa dengan
2008 tentang Informasi dan Transaksi sengaja menghubungkan atau
Elektronik sehingga dapat menjerat client memudahkan perbuatan cabul,
(pengguna jasa) dan Pekerja Seks Komersial kecuali yang tersebut dalam butir 1 di
(PSK) guna juga dapat menekan atas, yang dilakukan oleh orang yang
perkembangan prostitusi berbasis secara diketahuinya belum dewasa atau
online. yang sepatutnya harus diduganya
Tapi dibeberapa aturan yang lain bisa demikian, dengan orang lain.16
dikenakan sanksi kepada client (pengguna
jasa), Pekerja Seks Komersial serta mucikari Pasal tersebut mampu menjerat
itu sendiri. Misalnya dalam KUHP pasal 284 mucikari. Dalam prostitusi online konteks di
dalam bunyi pasal tersebut dijelaskan pasal itu hanya menyebutkan bahwa yang
bahwa seorang laki-laki dan wanita yang menjadi korban dalam pasal tersebut hanya
sudah menikah dapat diancam sanksi anak dibawah umur atau orang yang belum
pidana penjara paling lama Sembilan dewasa. Sanksi yang dikenakan kepada
bulan.15 pelaku menurut pasal itu diancam dengan
Setelah ditinjau dalam Pasal 284 KUHP pidana paling lama lima tahun dan jika yang
ini yang dapat dijerat dan dikenakan sanksi bersalah itu melakukan kejahatan itu
pidana yakni client (pengguna jasa) dan sebagai pencarian atau kebiasaan, maka
juga Pekerja Seks Komersial tapi dalam pidana dapat ditambah sepertiga.
statusnya sudah kawin, karena dalam pasal Kegiatan prostitusi online ini dalam Pasal
296 KUHP dapat menjerat si mucikari
14
Lihat Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik pasal 27 dan 45
15 16
Lihat KUHP pidana pasal 284 Lihat KUHP pidana pasal 295.

69
Lex Privatum, Vol. IV/No. 4/Apr/2016

dengan ancaman pidana penjara paling Sedangkan Undang-undang No 23 Tahun


lama satu tahun empat bulan dan pidana 2002 tentang Prelindungan Anak jo
denda paling banyak lima belas ribu rupiah. Undang-Undang No 35 Tahun 2014 tentang
Selain itu Pasal 506 KUHP juga dapat Perubahan atas Undang-Undang No. 23
digunakan untuk menjerat si mucikari Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
dengan pidana penjara paling lama satu terkait prostitusi online memberikan sanksi
tahun. kepada pelaku yang terjerat dalam kasus
Selanjutnya penerapan sanksi pidana tersebut seperti yang termuat dalam:
prostitusi online dilihat dari pendekatan Undang-Undang No 35 Tahun 2014 Pasal
Undang-Undang No. 44 Tahun 2008 78 yang berbunyi : “Setiap orang yang
tentang Pornografi juga dapat menjerat si mengetahui dan sengaja membiarkan anak
mucikari, Pasal yang dapat memberi sanksi dalam situasi darurat sebagaimana
bagi pelaku praktek prostitusi online yaitu dimaksud dalam pasal 60, anak yang
Pasal 4 ayat (2), dalam pasal ini lebih berhadapan dengan hukum, anak dari
terkhusus ditujukan kepada si mucikari kelompok minoritas dan terisolasi, anak
selaku pengelolah, menyajikan, yang diperdagangkan anak yang menjadi
menawarkan serta mengiklankan situs korban penyalahgunaan narkotika, alkohol,
media sosial seperti website, facebook, psikotropika, dan zat adiktif lainnya
twitter dan lain sebagainya. Seperti halnya (napza), anak tersebut memerlukan
dalam prostitusi online yang dikelolah pertolongan dan harus dibantu, dipidana
berbasis online. Untuk itulah pasal ini bisa dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)
dikenakan kepada mucikari yang dapat tahun dan/atau dipidana paling banyak Rp.
diancam dengan pidana penjara paling 100.000.000 (seratus juta rupiah).19
singkat 6 bulan dan paling lama 6 tahun Undang-Undang No 35 Tahun 2014 Pasal
dan/atau pidana denda paling sedikit 81 yang berbunyi: “Setiap orang yang
Rp.250.000.000,00 dan paling banyak dengan sengaja melakukan kekerasan atau
Rp.3.000.000.00017 ancaman kekerasan memaksa anak
Kemudian dalam Undang-Undang No. 21 melakukan persetubuhan dengannya atau
Tahun 2007 tentang Perdagangan orang dengan orang lain, dipidana dengan pidana
pasal 2-6 Orang yang terkait prostitusi penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan
online, sanksi yang dapat dikenakan pada denda paling banyak Rp. 300.000.000 (tiga
pelaku diancam dengan pidana penjara ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp.
paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling 60.000.0000 (enam puluh juta rupiah)20
lama 15 (lima belas) tahun. Dan pidana Undang-Undang No 35 Tahun 2014 Pasal
denda paling sedikit Rp.120.000.000 88 yang berbunyi: “setiap orang yang
(seratus dua puluh juta rupiah) dan paling mengeksploitasi ekonomi atau seksual anak
banyak Rp.600.000.000 (enam ratus juta dengan maksud untuk menguntungkan diri
rupiah). Jika ditelaah dari pasal tersebut sendiri atau orang lain, dipidana dengan
yang hanya dapat dikenakan sanksi untuk pidana penjara paling lama 10 (sepuluh)
pelaku hanyalah si mucikari. Apalagi tahun dan/atau denda paling banyak Rp.
berbicara tentang perdagangan orang 200.000.000 (dua ratus juta rupiah).21
diidentikkan dengan profesi mucikari.18
19
Lihat Undang-undang No. 35 Tahun 2014 tentang
Perlindungan Anak pasal 78
17 20
Lihat Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Lihat Undang-undang No. 35 Tahun 2014 tentang
Pornografi pasal 4 ayat (2) Perlindungan Anak pasal 81
18 21
Lihat Undang-undang No. 21 Tahun 2007 tentang Lihat Undang-undang No. 35 Tahun 2014 tentang
Perdagangan Orang pasal 2-6 Perlindungan Anak pasal 88

70
Lex Privatum, Vol. IV/No. 4/Apr/2016

Ternyata dalam semua pengaturan dan hanya pada mucikari tapi juga kepada
sanksi yang diberikan dari kasus prostitusi client (pengguna jasa). Dalam aturan
online hampir semuanya hanya ditujukan Undang-undang no 11 No. 11 Tahun
kepada si mucikari. Padahal jika ditinjau 2008 belumlah efektif untuk menjerat
dalam kasus ini ada tiga pelaku yang client (pengguna jasa) dan Pekerja
terlibat yaitu mucikari, client (pengguna Seks Komersial (PSK) terkait kasus
jasa) dan Pekerja Seks Komersial (PSK). prostitusi online. Undang-undang
Semestinya agar dapat menekan tersebut hanya dapat menjerat si
perkembangan praktek prostitusi ini harus mucikari selaku pengelola dan
ada kepastian hukum yang mengatur dan menawarkan jasa yang mengandung
memberikan efek jera juga pada client unsur kesusilaan.
(pengguna jasa), dan Pekerja Seks
Komersial (PSK) juga. Karena jika dapat B. Saran
menekan semua unsur pelaku yang terlibat 1. Pengaturan terkait masalah Prostitusi
di dalamnya dapat memberikan efek yang Onlien pemerintah seharusnya
lebih besar terhadap tumbuh kembangnya merevisi segala bentuk aturan yang
praktek ini. dapat dikaitkan dengan prostitusi.
Karena dalam aturan seperti yang
PENUTUP sudah dijelaskan di atas, lebih pada
A. Kesimpulan menjerat hanya mucikari. Padahal
1. Efektivitas pengaturan hukum dalam kasus prostitusi, praktek ini
tentang prostitusi online belum takkan bisa berkembang jika bisa juga
sepenuhnya diterapkan dalam menekan kepada pengguna jasa
beberapa aturan yang dapat dikaitkan layanan ini. Kenyataannya
dengan kasus prostitusi ini yakni: pengaturan di Indonesia masih lebih
- Undang-undang No. 11 Tahun banyak mengatur berupa larangan
2008 tentang Informasi dan hanya kepada mucikari saja
Transaksi Elektronik. 2. Selanjutnya client (pengguna jasa)
- KUHPidana pasal 284, 296 dan hanya sedikit aturan yang mengatur
506. dan memberikan sanksi padanya. Di
- Undang-undang No. 44 Tahun era modern ini praktek prostitusi
2008 tentang Pornografi. sudah merajalela bahkan dapat
- Undang-undang No. 21 Tahun dilakukan transaksinya secara online.
2007 tentang Perdagangan Orang. Dalam dunia maya siapapun bisa
- Undang-undang No. 23 Tahun mengakses dan mendapat info terkait
2002 jo Undang-undang No. 35 masalah prostitusi. Hal tersebut tak
Tahun 2014 tentang Perlindungan dapat dipungkiri dapat diakses pula
Anak. oleh anak-anak yang berada dibawah
2. Dalam pengaturan di Indonesia umur. Seharusnya ada pencegahan
mengenai prostitusi sebenarnya baik dalam aturan dan pengelolaan
masih kurang dalam hal memberikan data dari pemerintah agar dapat
sanksi terhadap pelaku praktek menindak lanjuti praktek prostitusi ini
prostitusi khususnya client (pengguna yang sudah merambah sampai di
jasa) dan Pekerja Seks Komersial dunia maya. Selanjutnya mengenai
(PSK) karena sebenarnya praktek ini Pekerja Seks Komersial (PSK),
tak dapat ditekan perkembangannya seharusnya masyarakat dan
jika memberikan efek jera bukan pemerintah saling bersinergi agar

71
Lex Privatum, Vol. IV/No. 4/Apr/2016

dapat memberikan pembinaan dan Moeliono Paul Moedikdo, Beberapa


bisa memberikan solusi atas Catatan Mengenai Pencegahan
permasalahannya kepada mereka, Pelacuran, Kumpulan Prasaran
karena dari temuan di lapangan Musyawarah Untuk Kesejahteraan
penyebab utama wanita yang Moral, Jawatan Pekerjaan Sosial Bagian
menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) Penyuluhan, tahun 1960.
ialah karena keterdesakan masalah Prakoso Abintoro, Hukum dan Psikologi
ekonomi. Lapangan kerja yang minim Hukum, penerbit. LaksBang Grafika,
dan berbekal ilmu yang serba pas- Februari 2014.
pasan dapat membuat wanita Rachbini Didik J., Mitos dan Implikasi
mengambil pilihan untuk menjadi Globalisasi, Yayasan Obor, 2001 Jakarta.
Pekerja Seks Komersial (PSK). “Lebih Raharjo Budi, Pernak Pernik Peraturan dan
baik mencegah dari pada mengobati” Pengaturan Cyberspace di Indonesia,
itulah mungkin kata dari sebuah 2003 Jakarta.
pepatah. Aparat dan semua elemen Santoso Topo, Seksualitas dan Hukum
masyarakat seharusnya bisa saling Pidana, penerbit IND-HILL-CO, Jakarta,
berkoordinasi dalam memberantas Juni 1997.
profesi dari mucikari ini. Karena Soedjono, Masalah Pelacuran, penerbit PT.
dalam beberapa kasus bahkan Karya Nusantara, Bandung 1977.
sebagian korban yang menjadi Soekanto Soejono, Kesadaran dan
Pekerja Seks Komersial (PSK) akibat Kepatuhan Hukum, penerbit CV.
ancaman serta tekanan dari si Rajawali, Jakarta. Mei 1982.
mucikari. Korban disini kebanyakan __________, Pengantar Penelitian Hukum,
anak-anak yang masih di bawah umur UI-Press, Jakarta, 2012.
yang secara terpaksa menerima __________, Beberapa Catatan tentang
profesi itu. Sanksi yang dikenakan Psikologi Hukum, penerbit Alumni
kepada mucikari harusnya dapat Bandung. 1979
memberi efek jera. Soekanto Soerjono dan Sri Mamudji,
Penelitian Hukum Normatif Suatu
DAFTAR PUSTAKA Tinjauan Singkat, Rajawali, Jakarta,
Akbar Hadji Ali, Pelacuran dan Penyakit 2000.
Kelamin, kumpulan Prasaran Muker Suharianto Budi, Tindak Pidana Teknologi
Kesejahteraan Moral, tahun 1960. Informasi, penerbit. PT. RajaGrafindo
Barlow Hugh D., Introduction to Persada, Jakarta, April 2013.
Criminology, penerbit Little, Brown and Sultarman, Cyber Crime Modus dan
Company, 1978. Penanggulangannya, LaksBang
Bonger W.A, Verspreide Geschiften, Deel II Pressindo, Yogyakarta 2007.
de Arbeiders Pers, Amsterdam 1950. Sunggiono Bambang, Metode Penelitian
Horton, Paul. B dan L. Hunt, Sosiologi, Hukum, PT RajaGrafindo Persada,
Erlangga, Jakarta, 1984. Jakarta, Mei 1997.
Koenjoro, On the Spot, Tutur dari sarang Triwulan Titik, Pengantar Ilmu Hukum,
pelacur, Cetakan Pertama, Yogyakarta: penerbit. Prestasi pustaka, Jakarta, Mei
Tinta, 2014. 2006.
Mansur Dikdik M. Arief dan Elisatris van Amstel P.J D Bruine Ploos, De
Gultom, Cyber Law Aspek Hukum Prostitutie Door Ale Leuween, Mulder &
Teknologi Informasi, Bandung, Juni 2005. Co, Amsterdam. 1950

72
Lex Privatum, Vol. IV/No. 4/Apr/2016

Widodo, Hukum Pidana di Bidang Teknologi


Informasi, penerbit. Aswaja Pressindo,
Februari 2013.

Sumber-sumber Lain:
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Undang-undang Informasi dan Transaksi


Elektronik (UU RI No. 11 Th.2008),
Penerbit. Sinar Grafika, Jakarta, Mei
2008.
Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik
Undang-Undang No. 21 Tahun 2007
tentang Perdagangan Orang.
Undang-undang No. 35 Tahun 2014 tentang
Perlindungan Anak
Undang-Undang No. 44 Tahun 2008
tentang Pornografi
Pemenuhan Hak Perempuan dan Anak
Korban Tindak Pidana Perdagangan
Orang Terhadap Pemulangan dan
Reintegrasi Sosial, Badan Penelitian dan
Pengembangan HAM Kementrian
Hukum dan HAM, penerbit Pohon
Cahaya, Jakarta November 2013, hal 22
Puslitbang Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI, Naskah Akademis
Kejahatan Internet, 2004.
Eprints.uns.ac.id/21711/4/E0011245_bab3.
pdf, diakses pada tanggal 06-01-
2016, 05.10 WITA
www.hukumonline.com/klinik/detail/lt553
0c6177b530/ini-jerat-hukum-untuk-
penjaja-seks-di-media-sosia
www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unu
d-109-36921826-bab i-v.pdf. Diakses
pada tanggal 04-01-2016.jam 15.30
WITA

73

Anda mungkin juga menyukai