Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH PEMBELAJARAN

ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS PADA PASIEN

DENGAN FROSBITE DAN HIPOTERMIA

Dosen Pengampu :
Ns. Ani Widiastuti, SKep, SKM, M.Kep, Sp.Kep. MB

Disusun Oleh :

Indah Fitri Amelia 1710711140

Anna Fauziah 1710711141

Salma Nur Shohimah 1710711142

Rizka Yusriyah 17107711143

Tiyas Putri Wijayanti 1710711144

Mugia Saida Daruini 1710711145

Refany Salsabila 1710711146

Regita Cahyani Zarlis 1710711147

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA

TAHUN 2020
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga akhirnyapenulis dapat menyelesaikan makalah
ini tepat pada waktunya. Makalah yang berjudul ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS PADA
PASIEN DENGAN FROSBITE DAN HIPOTERMIA yang ditulis untuk memenuhi salah satu
tugas mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat.

Pada kesempatan yang baik ini, izinkanlah penulis menyampaikan rasa hormat dan ucapan
terima kasih kepada semua pihak yang dengan tulus ikhlas memberikan bantuan dan dorongan
kepada penulis dalam menyelesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya
Epidemiologi

1. Frostbite adalah kondisi kulit dan jaringan di sekitarnya yang membeku kemudian


rusak. Kondisi ini umumnya terjadi akibat paparan suhu sangat rendah, terutama
yang di bawah -0,55 derajat Celcius.Bagian tubuh manapun bisa mengalami
penyakit yang juga kerap disebut radang dingin ini. Namun  frostbite lebih sering
dialami oleh tangan, kaki, telinga, hidung, dan bibir.Pada tahap awal  frostbite, area
tersebut akan terasa dingin dan nyeri. Kemudian, muncul sensasi seperti ditusuk-
tusuk oleh jarum-jarum kecil sebelum akhirnya muncul kondisi mati rasa. Frostbite
bisa menjadi luka yang sangat serius. Penyakit ini dapat memakan waktu beberapa
minggu untuk pulih. Pasien dapat kehilangan kulit, jari, dan kaki serta cacat dan
berubah warna pada kulit. Frostbite bisa berkembang menjadi hipotermia.Frostbite
adalah kondisi yang bisa dialami siapapun. Namun, usia anak-anak dan orang
lanjut usia, berisiko lebih tinggi terkena radang dingin daripada orang dewasa.
Tubuh masing-masing orang berbeda. 

2. Hipotermia adalah suatu kondisi di mana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan


mengatasi tekanan suhu dingin. Hipotermia juga dapat didefinisikan sebagai suhu bagian dalam tubuh
di bawah 35 °C. Tubuh manusia mampu mengatur suhu pada zona termonetral, yaitu antara 36,5-
37,5 °C. Di luar suhu tersebut, respon tubuh untuk mengatur suhu akan aktif
menyeimbangkan produksi panas dan kehilangan panas dalam tubuh.[1]
Gejala hipotermia ringan adalah penderita berbicara melantur, kulit menjadi sedikit berwarna abu-
abu, detak jantung melemah, tekanan darah menurun, dan terjadi kontraksi otot sebagai usaha
tubuh untuk menghasilkan panas. Pada penderita hipotermia moderat, detak jantung
dan respirasi melemah hingga mencapai hanya 3-4 kali bernapas dalam satu menit. Pada
penderita hipotermia parah, pasien tidak sadar diri, badan menjadi sangat
kaku, pupil mengalami dilatasi, terjadi hipotensi akut, dan pernapasan sangat lambat hingga tidak
kentara (kelihatan).
Hipotermi terjadi bila terjadi penurunan suhu inti tubuh di bawah 35 °C (95 °F). Pada suhu ini,
mekanisme kompensasi fisiologis tubuh gagal untuk menjaga panas tubuh

1. Usia Lanjut: orang berusia lanjut kurang sensitive terhadap persepsi suhu, kurang bergerak, dan
adanya penyakit sistemik menyebabkan terganggunya fisiologis tubuh dalam menjaga suhu tubuh.
Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor sosioekonomik.
2. Neonatus: neonatus rentan terhadap hipotermi karena tingginya rasio permukaan kulit dengan berat
tubuh, dan kurangnya fungsi menggigil, serta rendahnya repson adaptasi terhadap lingkungan.
3. Malagizi: kurangnya deposit lemak di bawah kulit menyebabkan lebih rentannya kulit kehilangan
panas, dan kurangnya sumber energi yang digunakan sebagai sumber panas.[
Pathway Hiportermia
PATOFOSIOLOGI FROSBITE

Cedera sel pada frosbite disebabkan oleh pembekuan secara langsung pada seldisaat
injuri atau oleh karena perfusi jaringan yang tidak adekuat sebagai akibat darispasme vaskuler
dan oklusi pembuluh-pembuluh kecil pada area injuri.Dengan pembekuan sel secara langsung
(crystallization), terbentuk kristal es di dalamcairan ekstraseluler dan secara osmotik menarik
cairan intraseluler, sehinggamenyebabkan dehidrasi sel. Perubahan vaskuler yang terjadi antara
lain meliputivasokonstriksi, penurunan perfusi kapiler dan peningkatan viskositas darah
dengandisertai terbentuknya endapan dan trombusSetelah pencarian, terjadi stasis vaskuler pada
area yang inbjuri sebagi akibatobstruksi pada dasar pembuluh darah.Edema terjadi pada daerah
injuri dan bertlangsung selama 2-3 hari setelah pencairan.Thrombus, perdarahan intertistial
daninfiltrasi leukosit dapat terjadi.Nekrosis jaringan terjadi dan menjadi lebih jelassebagai edema
yang pecah.Luasnya injuri di tentukan oleh besar dan kecepatan pengeluaran panas dari kulit
TANDA & GEJALA DAN KOMPLIKASI

Tanda Gejala Hipotermia :

Gejala hipotermia bervariasi, tergantung kepada tingkat keparahannya. Berikut ini merupakan gejala
hipotermia dari yang ringan hingga berat:

 Kulit pucat dan terasa dingin ketika disentuh


 Mati rasa
 Menggigil
 Respons menurun
 Gangguan bicara
 Kaku dan sulit bergerak
 Penurunan kesadaran
 Sesak napas hingga napas melambat
 Jantung berdebar hingga denyut jantung melambat
Pada bayi, hipotermia ditandai dengan kulit yang terasa dingin dan terlihat kemerahan. Bayi juga terlihat
diam, lemas, dan tidak mau menyusu atau makan.

Komplikasi Hipotermia :

Penanganan perlu segera dilakukan terhadap kondisi hipotermia untuk mencegah terjadinya komplikasi,
bahkan kematian. Komplikasi yang dapat muncul adalah:

 Frostbite, yaitu cedera pada kulit dan jaringan di bawahnya karena membeku.
 Chilblains, yaitu peradangan pembuluh darah kecil dan saraf pada kulit.
 Trench foot, yaitu rusaknya pembuluh darah dan saraf pada kaki akibat terlalu lama terendam air.
 Gangrene atau kerusakan jaringan.
Tanda Gejala Frosbite :

Tanda-Gejala frostbite tergantung pada tingkat keparahannya yang terdiri dari tiga fase berikut :

a. Frostnip : Ini merupakan bentuk frostbite yang paling ringan. Kerusakan pada kulit tidak terjadi
secara permanen. Secara umum, gejala frostnip meliputi:
 Kulit bewarna kemerahan dan terasa dingin.
 Kulit terasa nyeri seperti ditusuk oleh jarum-jarum. Gejala ini paling terasa ketika kulit
dihangatkan.
 Jika dibiarkan, kulit akan terasa kebas.

b. Superficial frostbite : Frostnip yang dibiarkan akan berkembang menjadi superficial frostbite. Pada
tahap ini, kerusakan kulit semakin serius dengan gejala-gejala berikut:
 Kulit menjadi pucat, kemerahan, atau kebiruan.
 Kulit terasa kasar dan keras karena kristal-kristal es mulai terbentuk di kulit.
 Kulit kemudian menjadi hangat dan membengkak. Gejala ini menandakan jaringan yang mulai
rusak.
 Bila dihangatkan, kulit akan terasa nyeri seperti terbakar serta muncul kantung berisi cairan pada
permukaan kulit.

c. Deep severe frostbite : Deep frostbite merupakan tingkat yang paling parah. Pada kondisi ini,
kerusakan sudah terjadi pada seluruh lapisan kulit serta jaringan di bawahnya. Beberapa gejalanya
bisa meliputi:
 Kulit tampak putih pucat atau abu-abu kebiruan.
 Kulit yang mati rasa.
 Otot atau sendi pada area frostbite yang tidak dapat digerakkan.
 Jika dihangatkan, bisa terbentuk kantung besar berisi cairan di permukaan kulit pada dalam waktu
24 hingga 48 jam.
 Kulit menjadi keras dan hitam. Gejala ini menandakan kematian jaringan (gangrene).

Komplikasi Forsbite :

Apabila terus dibiarkan, area frostbite yang parah dapat mengalami komplikasi berikut ini:

 Mati rasa dan terus terasa nyeri.


 Infeksi.
 Terbentuknya gangrene.
 Peningkatan sensitivitas dingin.
 Tetanus.
 Perubahan warna kulit dan kuku.
 Kuku yang tercabut.
 Gangguan pertumbuhan anak. Komplikasi frostbite ini muncul apabila radang dingin merusak
lempeng pertumbuhan tulang.
 Berkeringat secara berlebihan (hiperhidrosis).
 Hipotermia.
 Sendi kaku (frostbite arthritis).
PEMERIKSAAN PENUNJANG
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK FORSBITE
1. Rontgen
2. Scan tulang atau tes pencitraan,
3. Magnetic resonance imaging (MRI), untuk menentukan keparahan frostbite dan untuk
memeriksa tulang atau otot yang belum terluka.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK HIPOTERMI


1. Pemeriksaan suhu
2. Pemeriksaan darah laboratorium
3. Pemeriksaan Laboratorium
 Pemeriksaan darah lengkap : mengindetifikasi kemungkinan terjadinya resiko
infeksi
 Pemeriksaan urine
 Uji widal : suatu reaksi oglufinasi antara antigen dan antibodi untuk pasien
thypoid
 Pemeriksaan elektrolit : Na, K, Cl
 Uji tourniquet

Tindakan Kegawatan Pada Pasien Frostbite & Hipotermia

a.Tindakan Kegawatan Pada Pasien Frostbite

 Penghangatan kulit
Proses penghangatan dilakukan dengan merendam area yang mengalami frostbite dalam air
hangat selama 15 hingga 30 menit. Kulit yang dihangatkan akan memiliki tekstur lembut dengan
warna merah atau ungu
 Obat pereda nyeri
Proses penghangatan dapat menimbulkan rasa nyeri. Oleh karena itu, dokter bisa meresepkan
obat pereda nyeri.

 Pembalutan
Area frostbite mudah terinfeksi. Untuk mencegahnya, kulit yang sudah dihangatkkan akan dibalut
dengan perban steril atau handuk. Anda juga akan diminta untuk mengatur agar posisi area
forstbite berada lebih tinggi dari jantung. Langkah ini dapat membantu dalam meredakan
pembengkakan.

 Pengangkatan jaringan yang rusak


Anda akan pulih lebih cepat jika dokter mengangkat kulit atau jaringan yang telah rusak.
Pengangkatan jaringan atau debridement mungkin akan dilakukan satu hingga tiga minggu
setelah konsultasi. Melalui prosedur pengangkatan ini, dokter juga dapat mengindetifikasi
jaringan yang rusak dengan lebih baik.

 Antibiotik
Dokter akan meresepkan antibiotik jika kulit Anda mengalami infeksi bakteri.

 Obat pengencer darah


Pada frostbite yang parah, dapat diberikan obat pengecer darah. Contohnya, tissue plasminogen
activator (TPA). TPA diberikan dengan cara disuntikkan ke pembuluh darah. Tujuannya adalah
menurunkan risiko amputasi. Namun obat ini dapat menimbulkan efek samping berupa
perdarahan.

 Operasi
Kasus frostbite yang parah terkadang memerlukan operasi amputasi untuk mengangkat bagian
tubuh dengan jaringan yang sudah mati.

 Terapi oksigen hiperbarik


Terapi ini melibatkan pemberian oksigen murni di dalam ruangan bertekanan udara tinggi .

b.Tindakan Kegawatan Pada Pasien Hipotermia

- Berikan penutup (insulasi) pada seluruh tubuh dan coba untuk menghangatkan pasien
tampa menunda pemberian Resusitasi Jantung Paru dan transportasi ke lingkungan yang
lebih hangat.

- Periksa nadi selama 1 menit sebelum memulai RJP. Jika teraba nadi, tatalaksana
penyebab hipotermia sekunder.

Tatalaksana tambahan lainnya bergantung pada tingkat keparahan:

1. Ringan (stadium I)

- Berikan penghangat pasif dan non invasif (lingkungan yang hangat, baju, dan minuman
hangat) dan upayakan untuk bergerak aktif.

- Potong pakaian yang basah ketika pasien berada di lingkungan yang hangat.

- Berikan cairan berkarbohidrat tinggi dan makan untuk mencoba memberikan upaya
kewaspadaan pada pasien yang sedang menggigil dan tidak memiliki risiko aspirasi

- Transfer pasien ke rumah sakit bila tidak dapat memberikan penghangat di lokasi
kejadian.

2. Sedang (stadium II)

- Posisikan pasien horizontal dengan gerakan sedikit dan upayakan kewaspadaan dan fokus
- Pasien harus ditangani secara lembut dan immobile ketika di transfer ke rumah sakit
untuk mencegah aritmia

- Pertimbangkan untuk insulasi seluruh tubuh dan penghangat aktif (teknik ekternal dan
minimal invasif)

3. Berat (stadium III)

 Pertimbangakan manajemen jalan napas sebagai tambahan untuk manajemen stadium 2.

 Pertimbangkan pemberian teknik penghangat invasif seperti oksigenasi membran ekstrakorporeal


atau bypass kardiopulmuner jika instabilitas kardiak refrakter terhadap terapi medis.

 Teknik penghangat invasif dapat dilakukan dengan pemberian cairan IV hangat

 Cairan hingga 38-42 °C untuk menghindari eksaserbasi kehilangan panas

 NaCl 0,9% 40-42 °C dan berikan secara hati-hati untuk mencegah overload cairan

 Pemberian cairan kristaloid hangat harus berdasarkan status hidrasi pasien, kadar gula darah,
elektrolit, dan pH darah pasien.

 Pertimbangkan metode intraosseus jika tidak dapat dilakukan pemasangan infus IV

 Vasopresor dapat digunakan secara hati-hati untuk mengatasi hipotensi vasodilator, waspadai
tercetusnya aritmia atau gangguan perfusi jaringan perifer

 Pertimbangakan untuk menghindari obat vasoaktif hingga suhu tubuh pasien ≥ 30°C

 Berikan kejutan tunggal dan tenaga maksimal menggunakan defibrilator untuk kondisi VT atau
VF

 berat (stadium IV)

 Sebagai tambahan dari manajemen stadium 3, maka:

 Lakukan RJP atau defibrilasi dan berikan epinefrin 1 mg hingga 3 dosis (dan lebih jika memiliki
indikasi klinis)

 Pertimbangakan untuk menghangatkan tubuh via oksigenasi membran ektrakorporeal atau bypass
kardiopulmuner

 Lanjutkan RJP hingga pasien hangat bahkan ketika pasien menunjukkan:

 Dilatasi pupil terfiksir dan tampak rigor mortis

 Jangan lakukan RJP bila pasien memiliki cedera parah atau dinding dada terlalu kaku untuk
kompresi dada.
Manajemen Pengobatan

Hipotermi
Pengobatan medis

Tergantung dari tingkat keparahan hipotermia, perawatan darurat untuk hipotermia mungkin termasuk
prosedur di bawah ini untuk meningkatkan suhu tubuh:

 Upaya penghangatan. Untuk seseorang dengan hipotermia ringan, cukup dengan menutupi
tubuhnya dengan selimut dan menawarkan air hangat untuk diminum.
 Upaya menghangatkan darah kembali. Darah dapat diambil, dihangatkan, dan diedarkan kembali
ke dalam tubuh. Metode umum untuk menghangatkan darah adalah penggunaan mesin
hemodialisis, yaitu alat yang biasanya digunakan untuk menyaring darah pada orang dengan
fungsi ginjal yang buruk. Mesin heart bypass juga mungkin dibutuhkan.
 Cairan intravena hangat. Larutan garam air intravena yang hangat dapat dimasukkan ke dalam
vena untuk membantu menghangatkan darah.
 Penghangatan melalui udara. Penggunaan oksigen yang dilembapkan melalui masker atau tabuh
hidung dapat menghangatkan saluran udara dan membantu meningkatkan suhu tubuh.
 Irigasi. Larutan air asin hangat dapat digunakan untuk menghangatkan area tubuh tertentu, seperti
area di sekitar paru-paru (pleura) atau rongga perut (rongga peritoneum). Cairan hangat
dimasukkan ke daerah yang terkena melalui kateter

FROSBITE

1) Imunisasi tetanus 0.5 ml IM

2) Plasma ekspander: dextran 40, 20 ml/kg IV setiap 24 jam untukmenurunkanendapan.

3) Antibiotik: tetrasiklinatauampisilinuntukprofilaksis, 250 mg posetiap 6 jam.

4) Analgesiknarkotik :morphin 15 mg IM setiap 3 jam atau

5) Analgesikantipiretik : aspirin, 600 mg posetiap 3 jam

Terapi Definitive Forbsite dan Hipotermia

Bila orang tersebut masih bernapas dan denyut nadinya masih ada, lakukanlah tindakan berikut ini untuk
membuat suhu tubuhnya kembali normal:

 Pindahkan dia ke tempat yang lebih kering dan hangat. Pindahkan secara hati-hati karena gerakan
yang berlebihan dapat memicu denyut jantungnya berhenti.
 Jika pakaian yang dikenakannya basah, maka gantilah dengan pakaian yang kering.
 Tutupi tubuhnya dengan selimut atau mantel tebal agar hangat.
 Jika dia sadar dan mampu menelan, berikan minuman hangat dan manis.
 Berikan kompres hangat dan kering untuk membantu menghangatkan tubuhnya. Letakkan
kompres di leher, dada, dan selangkangan. Hindari meletakkan kompres di lengan atau tungkai
karena malah menyebabkan darah yang dingin mengalir kembali ke jantung, paru-paru, dan otak.
 Hindari penggunaan air panas, bantal pemanas, atau lampu pemanas untuk menghangatkan
penderita hipotermia. Panas yang belebihan dapat merusak kulit dan menyebabkan detak jantung
menjadi tidak teratur.
 Temani dan pantau terus kondisi orang tersebut, hingga bantuan medis tiba.

Tindakan Keperawatan Utama

1. Pengkajian secara cepat tentang ABCDE


2. Pasien dengan hipotermiasedang dapat diatasi dengan cara memindahkannya dari
lingkungan dingin dan menggunakan selimut
3. Pasien dengan hipotermia berat, sebaiknya dipantau dengan pulse oxymetri.
4. Perhatikan jalan napas, pernapasan dan jantung. Bila tidak ada gangguan
kardiovaskular, penghangatan aktif eksternal dapat diterapkan (radiasi panas, selimut
hangat, immersi air hangat, dan objek yang dipanaskan) dengan cairan hangat intravena dan
oksigen yang dihangatkan.
5. Luka di kaki ditangani dengan pengangkatan, penghangatan, dan pembalutan jari yang
terluka.Nifedipin 20 mg per oral 3 kali sehari, kortikosteroid topikal prednison, dan
prostaglandin E1 (limaprost 20 mg per oral 3 kali sehari) dapat membantu.
6. Pemanasan cepat dengan air yang mengalir pada suhu 42 ̊C selama 10 –30 menit pada
ekstremitas yang mengalami frostbite.
7. Jika ada ketidakstabilan kardiovaskular dibutuhkan pemanasan yang lebih agresif (bilas
lambung, kandung kemih, lavase peritoneal, dan pleural). Temperatur cairan bilas bisa sampai
42 ̊C.
8. Pasien dengan kecurigaan kekurangan tiamin dan alkoholisme bisa diberikan tiamin 100 mg
intravena (intra-muskular) dan 50% glukosa sebanyak 50ml-100ml intravena jika kadar glukosa
sewaktu rendah.
9. Pasien dengan kecurigaan hipotiroidisme atau insufisiensi adrenal dapat diberikan tiroksin
intravena dan hidrokortison 100 mg.
10. Pada fibrilasi ventrikular dilakukan defibrilasi sampai temperatur 30 ̊C, meskipun 3
countershockharus dilakukan.
11. Pemanasan kembali melalui sirkuit ekstrakorporal merupakan metode pilihan dari pada pasien
hipotermiaberat dalam henti jantung. Jika perlengkapan tidak tersedia, resusitasi trakeostomi
dan pijat jantung dalam dan bilas mediastinal merupakan alternatif yang dapat
diterima.