Anda di halaman 1dari 22

MODUL PEMBELAJARAN

KEPERAWATAN MATRA III


Pencegahan Penyebaran COVID-19

Disusun Oleh:

DIAH AYU TRI AMBARWATI GANDJAR 1710711043


RISKA HIDAYATTULLAH 1710711044
RANI MUTRIKA 1710711045
HILLALIA NURSEHA 1710711046
PRISKILLIA MARISA 1710711047
NUR FITRIAH EFENDY 1710711O49

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta


Program Studi Sarjana Keperawatan
Fakultas Ilmu Kesehatan
2020/2021
VISI DAN MISI
PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
JAKARTA

a. VISI

Menjadi Prodi S1 Keperawatan dan Ners yang unggul dan kompetitif dalam bidang
keperawatan promotif dan preventif beridentitas bela negara dengan kekhususan
kesehatan matra ditingkat nasional maupun regional tahun 2025.

b. MISI

Menyelenggarakan pendidikan S1 Keperawatan dan Ners yang berkualitas


sesuai dengan kurikulum Nasional yang bercirikan bela negara
Menyelenggarakan kegiatan penelitian dibidang keperawatan berbasis IPTEK
dengan fokus pada bidang promotif dan preventif dengan identitas bela negara
Menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat dibidang keperawatan
dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat dengan identitas bela negara
Meningkatkan kerjasama dengan institusi atau lembaga nasional ataupun
internasional untuk mendukung Tri Dharma yang bermutu tinggi.

i
KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami kelompok sehingga modul
pembelajaran Keperawatan MATRA III ini dapat tersusun dengan baik. Modul
Pembelajaran ini berjudul “Pencegahan Penyebaran COVID-19” yang
diperuntukkan bagi Program Studi S1 Keperawatan Universitas Pembangunan
Nasional Veteran Jakarta.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan modul ini tentunya masih


terdapat beberapa kekurangan, sehingga kami sebagai bersedia menerima
saran dan kritik dari berbagai pihak untuk dapat menyempurnakan modul ini
di kemudian hari.

Semoga dengan adanya modul pembelajaran ini dapat membantu


menambah ilmu khususnya dalam kegiatan mata kuliah Keperawatan MATRA
III dengan lebih baik lagi.

Jakarta, September 2020

Tim Penulis

ii
DAFTAR ISI

VISI DAN MISI.........................................................................................................................................i

KATA PENGANTAR.................................................................................................................................ii

DAFTAR ISI.............................................................................................................................................3

Pengertian COVID-19.........................................................................................................................4

Kelompok Beresiko COVID-19............................................................................................................4

Pencegahan COVID-19.......................................................................................................................4

5 Hal Penting Mencegah COVID-19...................................................................................................6

Meningkatkan Imunitas/Kekebalan Tubuh........................................................................................7

Penerapan Etika dan Bersin...............................................................................................................8

Menjaga Jarak/Pembatasan Interaksi Fisik........................................................................................8

Isolasi Mandiri...................................................................................................................................9

Hindari Stres dan Tetap Optimis........................................................................................................9

Pencegahan COVID-19 di Transportasi Publik...............................................................................10

Pencegahan COVID-19 di Institusi Pendidikan.................................................................................10

Pencegahan dalam Pelaksanaan COVID-19 di Keagamaan..............................................................11

Pencegahan COVID-19 di Pusat Pembelanjaan................................................................................11

Pencegahan dan Kontrol Terhadap Populasi Tertentu (Transportasi Umum).................................11

Pencegahan dan Kontrol Terhadap Populasi Tertentu (Pendidikan.................................................12

Pencegahan dan Kontorl Saat Kembali ke Sekolah..........................................................................12

Pencegahan dan Kontrol Terhadap Keagamaan (Pendidikan).........................................................13

Peran Relawan dalam Mencegah COVID-19....................................................................................13

Pelaksanaan Rapid Test...................................................................................................................16

REFERENSI...........................................................................................................................................20

3
Pengertian COVID-19
Coronavirus (CoV) adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit
mulai dari gejala ringan sampai berat. Ada setidaknya dua jenis coronavirus yang
diketahui menyebabkan penyakit yang dapat menimbulkan gejala berat seperti Middle
East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome
(SARS-CoV). Novel coronavirus (2019- nCoV) adalah virus jenis baru yang belum
pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Virus corona adalah zoonosis
(ditularkan antara hewan dan manusia). Penelitian menyebutkan bahwa SARS-CoV
ditransmisikan dari kucing luwak (civet cats) ke manusia dan MERS-CoV dari unta
ke manusia. Virus corona biasanya menginfeksi sistem pernafasan manusia.

Kelompok Beresiko COVID-19


Kelompok yang rentan terkena covid 19 dan dapat memperparah kondisi ialah
kelompok usia lanjut diatas 60 tahun. Menurut data kematian kasus di China, 80
persen berasal dari mereka yang berusia lanjut. Hal ini dikarenakan orang pada usia
lanjut sudah mengalami penurunan fungsi tubuh terutama dalam memproduksi sistem
kekebalan tubuh. Sehingga pada lansia lebih mudah terkena covid 19.
Untuk kelompok selanjutnya adalah :
 Mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah atau autoimun.
 Memiliki kondisi penyerta, seperti gangguan ginjal atau gangguan jantung.
 Ibu Hamil
 BMI > 40

Pencegahan COVID-19
 Kewaspadaan Standar
Kewaspadaan standar harus selalu diterapkan di semua fasilitas pelayanan
kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang aman bagi semua
pasien dan mengurangi risiko infeksi lebih lanjut. Kewaspadaan standar
meliputi kebersihan tangan dan penggunaan APD untuk menghindari kontak
langsung dengan sekret (termasuk sekret pernapasan), darah, cairan tubuh, dan
kulit pasien yang terluka. Disamping itu juga mencakup: pencegahan luka
akibat benda tajam dan jarum suntik, pengelolaan limbah yang aman,
pembersihan, desinfeksi dan sterilisasi linen dan peralatan perawatan pasien,

4
dan pembersihan dan desinfeksi lingkungan. Orang dengan gejala sakit saluran
pernapasan harus disarankan untuk menerapkan kebersihan/etika batuk.
Petugas kesehatan harus menerapkan “5 momen kebersihan tangan”, yaitu:
sebelum menyentuh pasien, sebelum melakukan prosedur kebersihan atau
aseptik, setelah berisiko terpajan cairan tubuh, setelah bersentuhan dengan
pasien, dan setelah bersentuhan dengan lingkungan pasien, termasuk
permukaan atau barang-barang yang tercemar.
o Kebersihan tangan mencakup mencuci tangan dengan sabun dan air
atau menggunakan antiseptik berbasis alkohol.
o Cuci tangan dengan sabun dan air ketika terlihat kotor.
o Penggunaan APD tidak menghilangkan kebutuhan untuk kebersihan
tangan.
o Kebersihan tangan juga diperlukan ketika menggunakan dan terutama
ketika melepas APD.
Pada perawatan rutin pasien, penggunaan APD harus berpedoman pada
penilaian risiko/antisipasi kontak dengan darah, cairan tubuh, sekresi
dan kulit yang terluka. Ketika melakukan prosedur yang berisiko
terjadi percikan ke wajah dan/atau badan, maka pemakaian APD harus
ditambah dengan,

o Pelindung wajah dengan cara memakai masker bedah dan pelindung


mata/ eye-visor/ kacamata, atau pelindung wajah, dan Gaun dan sarung
tangan bersih.
o Menjaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter.
o Hindari menyentuh bagian mata dengan kondisi tangan yang kotor.

Pastikan bahwa prosedur-prosedur kebersihan dan desinfeksi diikuti


secara benar dan konsisten. Membersihkan permukaan-permukaan lingkungan
dengan air dan deterjen serta memakai disinfektan yang biasa digunakan
(seperti hipoklorit) merupakan prosedur yang efektif dan memadai.
Pengelolaan laundry, peralatan makan dan limbah medis sesuai dengan
prosedur rutin.

5
5 Hal Penting Mencegah COVID-19
 Menerapkan cuci tangan menggunakan sabun

Mencuci tangan adalah hal paling krusial dalam upaya pencegahan virus
corona covid-19. Sering-seringlah kita mencuci tangan dengan sabun di air mengalir.
Sebab, dengan sering mencuci tangan, akan semakin kecil kemungkinan virus-virus
termasuk corona covid-19 menempel di tangan kita. Virus-virus itu langsung mati
karena deterjen sabun yang kita gunakan untuk mencuci tangan

 Memakai masker bila sakit atau harus berada ditempat umum

Gunakan masker jika Anda terpaksa harus keluar rumah. Mungkin memang harus
terpaksa bekerja di kantor, atau sekadar untuk membeli kebutuhan pokok.
Menggunakan masker akan meminimalisir kemungkinan kita tertular virus corona
covid-. Untuk masyarakat biasa, disarankan hanya menggunakan masker kain. 

 Bekerja , belajar dan beribadah dari rumah

Tinggal di rumah adalah pilihan terbaik jika kita ingin diri kita tak tertular
virus corona covid-19. Lakukan hal-hal produktif di rumah. Jangan keluar jika tak ada
urusan yang penting. Dengan begitu, Anda akan terhindar dari bersentuhan dengan
orang lain dan virus corona covid-19.

 Menjaga jarak dari kerumunan

Menjaga jarak, social distancing atau physical distancing. Intinya kita harus
menjaga jarak dengan orang lain. Minimal satu atau dua meter. Ini juga untuk
menghindari dari tertular virus corona covid-19. Sebab, virus yang bisa menular dari
percikan atau droplet itu tidak akan mampu menjangkau jarak lebih dari satu atau dua
meter.

 Segara mandi dan pakaian setelah dari luar rumah

Bersihkan badan begitu Anda memasuki rumah usai berpergian, apakah dari
kantor, pasar, atau tempat-tempat umum lainnya. Jalan menyentuh anggota keluarga
lainya sebelum Anda membersihkan seluruh tubuh Anda.

6
Meningkatkan Imunitas/Kekebalan Tubuh
 Komsumsi Gizi Seimbang
Makanan merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan selama
masa pandemi covid-19. Maka dari itu, perlu adanya gizi yang seimbang ketika
makan agar seseorang dapat meningkatkan imun tubuh. Gizi yang seimbang
merupakan susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi dengan jumlah
serta jenis tertentu sesuai kebutuhan tubuh. Untuk itu seseorang perlu memperhatikan
prinsip keberagaman pangan, mengontrol berat badan secara rutin, dan menjaga
perilaku hidup bersih.

 Tidak Merorok
Aktivitas merokok baik dengan rokok elektronik atau nikotin tetap saja dapat
menurunkan sistem kekebalan tubuh. Tidak hanya perokok aktif, namun perokok
pasif juga akan terkena dampaknya ketika menghirup asap rokok. Hal itu dikarenakan
nikotin dapat menambah jumlah hormon stress atau kadar kortisol. Kemudian akan
mengurangi pembentukan respon antigen sel T serta antibodi sel B. Oleh karena itu,
buat Anda yang ingin meningkatkan imun tubuh, coba hindari rokok dan berhenti
mulai dari sekaran
 Suplemen Vitamin
Selain mengkonsumsi banyak makanan-makanan bergizi, terkadang seseorang
juga perlu sumplemen pendamping dalam meningkatkan imun tubuh. Pemilihannya
pun tidak bisa sembarangan, salah satu obat herbal yang bisa digunakan
yaitu Mosehat, ramuan alami dengan sejuta manfaat.

 Aktivitas Fisik/Olahraga
Menurut salah seorang ahli di National Institute of Health, olahraga dapat
merangsang kinerja antibodi serta sel-sel darah putih. Sehingga kegiatan ini sangat
cocok jika dilakukan pada masa pandemi guna meningkatkan sistem imun dalam
tubuh. Dengan berolahraga seseorang juga bisa mengeluarkan bakteri melalui saluran
pernapasan, hal ini menjadikannya dapat mengurangi resiko terjangkit berbagai
penyakit. Intensitas waktu untuk melakukan kegiatan ini kurang lebih sekitar 75 menit
aktivitas fisik aerobik dalam satu minggu.

7
 Istrirahat Cukup
Memiliki sistem kekebalan tubuh kuat merupakan impian semua orang.
Apalagi di masa pandemi seperti saat ini, manusia harus mampu menjaga serta
meningkatkan imun agar tidak terinfeksi virus covid-19 yang kini menjadi momok
menakutkan. Menurut National Sleep Foundation, seorang manusia dewasa
setidaknya membutuhkan waktu untuk tidur selama kurang lebih 7-9 jam dalam
sehari. Maka dari itu, istirahat yang cukup merupakan cara simpel saat proses
meningkatkan imun tubuh. Perlu diingat, bahwa tanpa tidur cukup dalam sehari, tubuh
tidak akan bisa memproduksi sitokin dalam jumlah banyak. Sitokin merupakan sejenis
protein yang digunakan untuk melawan infeksi serta peradangan kemudian secara
efektif akan menciptakan respon imun tubuh.

 Konsumsi Banyak Air Putih

Di masa pandemi seperti saan ini, sangat penting bagi seseorang untuk tetap
menjaga bahkan meningkatkan daya tahan tubuh agar tidak terinfeksi virus. Maka dari
itu Anda perlu memenuhi kebutuhan air sehingga tidak akan mengalami dehidrasi.
Dalam sehari, setidaknya manusia harus mengkonsumsi air sebanyak dua liter atau
lebih. Hal itu dapat membantu meningkatkan imun tubuh agar tidak membuat
metabolisme menjadi turun sehingga memiliki potensi tertular virus.

Penerapan Etika dan Bersin

1. Gunakan masker
2. Tutup mulut dan hidung dengan lengan atas bagian dalam

3. Gunakan tisu dan buang di tempat sampah tertutup

4. Segera cuci tangan pakai sabun dengana air mengalir

Menjaga Jarak/Pembatasan Interaksi Fisik


 Jika harus ke tempat umum, gunakan masker
 Jaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter
 Hindari kerumunan keramaian
 Hindari berpergian ke tempat wisata

8
 Jangan pergi ke luar kota atau luar negeri
 Tidak menerima tamu/berkunjung
 Bekerja, belajar, dan beribadah di rumah
 Tidak bersalaman
 Anak sebaiknya bermain di rumah
 Tunda mudik
 Jika anda sakit, dilarang mengunjungi orang tua yang berumur diatas 60 tahun.
Jika anda tinggal satu rumah jangan interaksi dengan mereka.

Isolasi Mandiri
Jika anda termasuk ke dalam Kontak Erat, maka harus mengisolasi mandiri dan tetap
tinggal di rumah. Kasus Kontak Erat, yang memiliki demam/gejala pernapasan dengan
riwayat dari daerah terjangkit, dan atau orang yang tidak menunjukkan gejala, tetapi pernah
memiliki kontak erat dengan orang positif COVID-19.

Yang perlu dilakukan selama isolasi mandiri adalah :

 Jika merasa kurang sehat, tetap di rumah selama 14 hari


 Gunakan masker selama masa isolasi diri
 Jangan pergi bekerja, ke sekolah, atau ke tempat umum
 Hindari pemakaian bersama peralatan makan dan peralatan mandi
 Harus mengisolasi diri dan memantau suhu tubuh dan gejala lainnya
 Melapor ke puskesmas terdekat tentang kondisi Anda
 Gunakan kamar mandi terpisah

Hindari Stres dan Tetap Optimis


Hindari stres dan tetap optimis dengan melakukan aktifitas sehari-hari dan tetap
menjaga jarak Pembatasan sosial dapat saja membuat bosan, murung, kurang bersemangat,
cemas, dan rindu keluar rumah bertemu orang lain. Beberapa langkah mudah yang dapat
dilakukan:

 Lakukan aktifitas fisik seperti membersihkan rumah, seperti menyapu, mengepel


mencuci, dll
 Lakukan hobi di dalam rumah misalnya membaca, masak, mendengarkan
radio/menonton TV

9
 Makan makanan bergizi seimbang, minum air cukup, dan menghindari rokok
 Berjalan-jalan di taman rumah dan tetap jaga jarak 1-2 meter dari yang lain
 Buka jendela rumah, usahakan dapat sinar matahari
 Berkomunikasi dengan keluarga melalui telepon atau lewat media sosial

Pencegahan COVID-19 di Transportasi Publik


 Bersihkan kendaraan menggunakan desinfektan khususnya pada bagian yang sering
disentuh

 Bila kondisi tidak sehat, jangan mengemudikan kendaraan. Segera periksa ke fasilitas
pelayanan kesehatan

 Penumpang yang demam, batuk atau flu, menggunakan masker

 Ukur suhu 2x sehari sebelum dan sesudah mengemudi

 Bila penumpang dengan gejala mirip flu, sarankan untuk mengenakan masker. bila
tidak memiliki masker, berikan masker.

Terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti :

 Mencuci tangan menggunakan air dan sabun

 Membuang sampah di tempat sampah

 tidak merokok dan mengonsumsi NAPZA

 Tidak keluar di sembarang tempat

 Hindari menyentuh area wajah yang tidak perlu

Pencegahan COVID-19 di Institusi Pendidikan


 Berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat

 Menghimbau warga sekolah yang sakit untuk mengisolasi diri di rumah

 Bersihkan sekolah

 Kegiatan belajar melalui online

 Memberi tugas para siswa/siswi yang beragam, agar tidak bosan di rumah

10
 Menyediakan sarana cuci tangan menggunakan air dan sabun atau hand sanitizer di
sekolah

 Melapor ke puskesmas terdekat tentang kondisi terkini.

Pencegahan dalam Pelaksanaan COVID-19 di Keagamaan


 Menjaga kebersihan dan lingkungan tempat ibadah

 Menyediakan tempat cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir atau hand sanitizer

 Kegiatan agama melalui online

 Menghimbau umat untuk memperhatikan informasi dan panduan resmi dari


pemerintah

 Mendorong umat untuk mendukung himbauan pemerintah dalam menerapkan social


distancing

Pencegahan COVID-19 di Pusat Pembelanjaan


 Pemeriksaan/skrining pengunjung

 Menjaga jarak minimal 1-2 meter dengan orang lain saat berbelanja

 Menunda berbelanja bila sedang kurang sehat

 Bagi pemilik usaha agar menyediakan tempat cuci tangan dengan air dan sabun atau
hand sanitizer

 Menjaga kebersihan dan lingkungan tempat berbelanja

Pencegahan dan Kontrol Terhadap Populasi Tertentu (Transportasi


Umum)
 Staf angkutan umum di daerah epidemi harus memakai masker bedah
 Disarankan untuk dilengkapi dengan termometer, masker dan lainnya
 Tingkatkan frekuensi pembersihan dan desinfeksi kendaraan, dan masker
atau masker N95 dan lakukan pemantauan kesehatan harian di dalam
kendaraan. membuat catatan dan tanda-tanda pembersihan dandesinfeksi.
 Jaga agar kendaraan memiliki ventilasi yang baik.
 Jaga stasiun dan kompartemen bersih dan rapi, dan bersihkan sampah tepat
wak-tu.
11
 Atur hari libur yang dirotasi agar staf cukup istirahat.

Pencegahan dan Kontrol Terhadap Populasi Tertentu


(Pendidikan)

Siswa yang datang dari daerah epidemi tinggi harus tinggal di rumah atau di
tem-pat yang ditunjuk untuk pengamatan medis selama 14 hari setelah
meninggalkan daerah tersebut.
Semua siswa harus tinggal di rumah seperti yang diperintahkan oleh
sekolah; hindari mengunjungi kerabat dan teman, menghadiri pesta makan
malam, dan per-gi ke tempat-tempat umum yang ramai, terutama tempat-tempat
yang tidak ber-ventilasi.
Siswa disarankan untuk melakukan pemantauan kesehatan sehari-hari dan
mel-aporkan hasilnya kepada orang relatif sesuai dengan persyaratan
masyarakat atau sekolah.
Di akhir liburan, siswa tanpa gejala yang mencurigakan dapat kembali ke
sekolah dengan normal. Mereka yang memiliki gejala yang mencurigakan harus
segera memberi tahu sekolah Anda dan mencari perawatan medis tepat waktu,
dan kem-bali ke sekolah setelah pemulihan.

Pencegahan dan Kontorl Saat Kembali ke Sekolah


 Kenakan masker atau masker N95 saat mengumumkan ke publik
 Jaga kebersihan tangan setiap saat dan kurangi kontak dengan barang publik
 Pantau kesehatan selama perjalanan, dan ukur suhu tubuh
 Perhatikan status kesehatan penumpang di sekitar dan hindari dari dekat
Jika mengalami gejala yang mencurigakan selama perjalanan, kenakan
kendaraan. atau area dalam kendaraan. saat merasa demam. kontak dengan
orang yang memiliki gejala yang mencurigakan. masker bedah medis atau
masker N95, hindari kontak dengan orang lain, dan konsultasikan dengan
dokter tepat waktu jika perlu.
Pelajar yang perlu pergi ke rumah sakit selama perjalanan harus memberi
tahu dokter tentang perjalanan dan riwayat hidup daerah epidemi,dan bekerja
sama dengandok teruntuk melakukan penyelidikan yang relevan.

12
Pencegahan dan Kontrol Terhadap Keagamaan (Pendidikan)

Kementerian Agama baru saja menerbitkan aturan mengenai protokol kesehatan di


rumah ibadah yang harus dipatuhi oleh seluruh pihak yang mendatangi rumah ibadah.
Hal tersebut diatur dalam Surat Edaran No.15/2020 tentang Panduan Penyelenggaraan
Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadah Dalam Mewujudkan Masyarakat Produktif dan
Aman Covid-19 di Masa Pandemi. Beberapa peraturan yang harus dipatuhi oleh jemaah
yang tertuang dalam beleid tersebut antara lain adalah pertama, jemaah dalam kondisi
sehat. Kedua, meyakini bahwa rumah ibadah yang digunakan telah memiliki Surat
Keterangan aman Covid-19 dari pihak yang berwenang.

Peran Relawan dalam Mencegah COVID-19


1. Membantu menyebarkan informasi akurat kepada masyarakat
2. Membantu mengedukasi dan memberikan dukungan psikologi untuk mengurangi
kepanikan masyarakat selama wabah COVID-19

3. Membantu dalam mengorganisasi dan mengarahkan masyarakat yang memerlukan


informasi terkait alur tes maupun alur tindakan di masyarakat maupun di rumah sakit.

4. Membantu dalam memantau dan memberikan informasi yang dibutuhkan oleh OTG
maupun ODP yang melaksanakan karantina rumah

5. Membantu dalam menyalurkan kebutuhan pokok masyarakat, khususnya untuk OTG


dan ODP dalam karantina rumah maupun kelompok rentan.

6. Untuk relawan medis, dapat memberikan dukungan kepada para dokter, perawat,
pekerja rumah sakit, petugas ambulans, dll. Relawan medis yang terlatih jika
dibutuhkan dapat melakukan edukasi pencegahan dan rapid test kepada kelompok
OTG di fasilitas umum dengan menggunakan APD (masker dan sarung tangan non
steril sekali pakai) dan hasil tes dilaporkan melalui mekanisme pelaporan. Hal ini
dilakukan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian infeksi.

Dilain sisi adanya pembentukan Relawan Desa Lawan COVID-19 mempunyai


maksud yaitu, terciptanya tata kelola desa dalam pencegahan dan penanganan Covid-19
sesuai Surat Edaran Menteri Nomor 8 Tahun 2020 tanggal 24 Maret 2020 tentang Desa
Tanggap Covid-19. Adapun tujuannya adalah untuk penciptaan langkah-langkah pencegahan
dan penanganan Covid-19 di desa berjalan secara efektif. Prinsip kerja dari relawan desa

13
adalah dalam melaksanakan kegiatan dan aktifitasnya dengan prinsip gotong royong
melibatkan dukungan warga masyarakat desa.

Prosedur Protokol Relawan Desa Lawan Covid-19

A. Pencegahan Covid-19 di Desa

1. Struktur Relawan Desa Lawan Covid-19


 Membentuk struktur Relawan Desa Lawan Covid-19.
 Menyusun rencana kerja Relawan Desa Lawan Covid-19.
 Mendirikan Posko masing-masing desa di kantor kepala desa atau di tempat yang
representatif.
 Menyiapkan peralatan, bahan dan fasilitas yang digunakan untuk operasional Posko.
2. Memberikan edukasi ke masyarakat tentang Covid-19
 Menyampaikan informasi terkait dengan gejala, cara penularan, dan pencegahan
Covid-19 sesuai protokol kesehatan dan standart WHO.
 Cara penyampaian informasi berupa pamflet, poster, spanduk, brosur, baliho, radio
komunitas, pengeras suara di tempat ibadah, keliling desa, dan media social.

3. Mendata penduduk rentan sakit


 Penduduk rentan sakit adalah yang berusia lanjut (di atas 60 tahun), balita (kurang
dari 5 tahun), dan orang yang memiliki penyakit menahun/penyakit bawaan, penyakit
kronis lainnya seperti diabetes, jantung, liver, dan lainnya.
 Pendataan dilakukan oleh Relawan Desa Lawan Covid-19 berkoordinasi dengan
Puskesmas atau pelayanan kesehatan yang ada di Desa.

4. Menyiapkan Ruang Isolasi Covid-19 di Desa


 Ruang isolasi adalah fasilitas desa atau fasilitas umum yang disiapkan oleh Relawan
Desa Lawan Covid-19 dan telah direkomendasikan oleh Puskesmas.
 Ruang isolasi bisa di sekolah, tempat ibadah, balai desa, atau rumah warga yang
dipinjamkan. Memastikan tersedianya sarana mandi, cuci, dan kakus (MCK).
 Memastikan tempat tidur yang layak.
 Memastikan pasokan penerangan (listrik) dan air bersih yang cukup.
 Menyediakan papan informasi mengenai pencegahan dan penanganan Covid-19.

14
 Ruang isolasi dimanfaatkan untuk Orang Dalam Pantauan (ODP).
 Menyiapkan logistik ruang isolasi.
 Melakukan penanganan terhadap ODP sesuai dengan protokol kesehatan.
 Melaporkan PDP ke Puskemas atau Gugus Tugas Covid-19 di Kabupaten.
 Mendokumentasikan hasil koordinasi dengan Puskesmas atau Gugus Tugas bidang
Kesehatan di Kabupaten.

5. Menyemprotkan disinfektan dan menyediakan tempat cuci tangan dengan sabun dan
air mengalir atau cairan pembersih tangan (hand sanitizer) di tempat umum.
 Menyemprotkan disinfektan di tempat-tempat umum seperti di sekolah/PAUD, pasar,
tempat-tempat ibadah, balai desa, polindes, poskesdes, dll
 Kegiatan penyemprotan
 Menyediakan tempat cuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau cairan pencuci
tangan (hand sanitizier) di tempat-tempat umum seperti di sekolah/paud, pasar desa,
tempat-tempat ibadah, balai desa, polindes, poskesdes, dll

6. Menyediakan alat kesehatan untuk deteksi dini, perlindungan, dan pencegahan


penyebaran wabah yang dikoordinasikan dengan Puskesmas atau tenaga-tenaga
kesehatan di perdesaan. Misalnya thermometer atau alat ukur suhu lainnya, sarung
tangan (latex), masker, alat pelindung diri (APD), dll.

7. Menyediakan alat deteksi dini non medis berupa daftar isian/formulir sebagai
pedoman wawancara atau yang diisi oleh warga sebagaimana contoh terlampir.

8. Menyediakan informasi nomor telepon rumah sakit rujukan, nomor telepon ambulans,
dan lain-lain.

9. Mendirikan Pos Jaga Gerbang Desa (24 Jam)


 Mendata dan memeriksa mobilisasi warga dan tamu.
 Mendata dan memeriksa kondisi kesehatan warga yang keluar masuk desa.
 Mendata dan memeriksa warga desa yang baru datang dari luar desa/luar daerah.

15
 Merekomendasikan warga desa dari luar desa/luar daerah untuk ditempatkan di ruang
isolasi, kecuali yang dapat menunjukkan surat keterangan sehat dari instansi
berwenang.
 Merekomendasikan warga yang kurang sehat (sebagaimana kriteria PDP) untuk
ditempatkan di ruang isolasi.

10. Memastikan tidak ada kerumunan banyak orang


 Tidak memberikan izin untuk semua kegiatan yang melibatkan banyak orang.
 Relawan Desa Lawan Covid-19 membubarkan kegiatan yang melibatkan banyak
orang.
 Ketentuan menjaga jarak minimal 2 meter dan bagi yang batuk/pilek menggunakan
masker.

 Penyiapan dan penanganan logistik untuk kepentingan warga desa yang menjalani
isolasi serta penyiapan logistik untuk situasi dan kondisi yang darurat, baik melalui
BUMDes, lumbung desa, dll.

Pelaksanaan Rapid Test


Rapid test adalah metode skrining awal untuk mendeteksi antibodi, yaitu IgM dan
IgG, yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus Corona. Antibodi ini akan dibentuk
oleh tubuh bila ada paparan virus Corona. Bila antibodi ini terdeteksi di dalam tubuh
seseorang, artinya tubuh orang tersebut pernah terpapar atau dimasuki oleh virus Corona.
Namun pembentukan antibodi ini memerlukan waktu, bahkan bisa sampai beberapa
minggu. Hal inilah yang bisa menyebabkan keakuratan dari rapid test cukup rendah. Rapid
test  hanyalah sebagai pemeriksaan skrining atau pemeriksaan penyaring, bukan pemeriksaan
untuk mendiagnosa infeksi virus Corona atau COVID-19.

Tes yang dapat memastikan apakah seseorang positif terinfeksi virus Corona sejauh
ini hanyalah pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR). Pemeriksaan ini bisa mendeteksi
langsung keberadaan virus Corona, bukan melalui ada tidaknya antibodi terhadap virus ini.

Prosedur pemeriksaan rapid test dimulai dengan mengambil sampel darah dari ujung


jari yang kemudian diteteskan ke alat rapid test. Selanjutnya, cairan untuk menandai antibodi
akan diteteskan di tempat yang sama. Hasilnya akan berupa garis yang muncul 10–15 menit
setelahnya.

16
Hasil rapid test positif menandakan bahwa orang yang diperiksa pernah terinfeksi
virus Corona. Meski begitu, orang yang sudah terinfeksi virus Corona dan memiliki virus ini
di dalam tubuhnya bisa saja mendapatkan hasil rapid test yang negatif karena tubuhnya
belum membentuk antibodi terhadap virus Corona. Oleh karena itu jika hasilnya negatif,
pemeriksaan rapid test perlu diulang sekali lagi 7–10 hari setelahnya. Tetap disarankan untuk
melakukan isolasi mandiri selama 14 hari walaupun tidak mengalami gejala sama sekali dan
merasa sehat. Bila hasil rapid test positif, jangan panik dahulu. Antibodi yang terdeteksi
pada rapid test bisa saja merupakan antibodi terhadap virus lain atau coronavirus jenis lain,
bukan yang menyebabkan COVID-19 atau SARS-CoV-2.

Jadi, perlu dilakukan pengambilan swab untuk tes PCR guna memastikan apakah
benar terdapat infeksi SARS-CoV-2. Sebelum melakukan tes PCR atau selama menunggu
hasilnya, harus menjalani isolasi mandiri di rumah selama paling tidak 14 hari.

Pemeriksaan rapid test hanya diprioritaskan untuk orang yang lebih berisiko terkena COVID-
19. Kriterianya antara lain adalah:

 Orang dalam pengawasan, yaitu yang memiliki demam ≥ 380C atau gejala gangguan
sistem pernapasan, seperti pilek, batuk, dan sesak napas, serta memiliki riwayat
perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal, baik di Indonesia maupun luar negeri
 Orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus pasien dalam pengawasan (PDP)
 Orang yang memiliki riwayat kontak dengan pasien yang terkonfirmasi atau
kemungkinan besar positif COVID-19
 Masyarakat dengan risiko tertular paling tinggi, seperti petugas kesehatan di rumah
sakit yang menangani COVID-19
 Masyarakat yang bekerja di puskesmas atau klinik, serta masyarakat dengan profesi
yang interaksi sosialnya tinggi (TNI, polisi, pejabat publik, ulama, petugas bandara,
atau pedagang pasar)

Baru-baru ini Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, menghapus istilah OTG,
ODP, dan PDP serta menggantinya dengan istilah baru. Penggantian ini tertuang dalam
Keputusan Menteri Kesehatan tentang pengendalian COVID-19, tertanggal 13 Juli 2020.
Istilah ODP berubah menjadi kontak erat, PDP menjadi kasus suspek, dan OTG menjadi
kasus konfirmasi tanpa gejala (asimtomatik). Berikut istilah-istilah baru lainnya yang tertera
dalam Kepmenkes, yaitu:

17
1. Kasus Suspek

Sebelumnya, kasus suspek ini lebih dikenal dengan istilah Pasien Dalam Pengawasan (PDP).
Seseorang masuk ke dalam kriteria kasus suspek apabila:

 Mengidap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan dalam 14 hari terakhir
memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di wilayah yang terkonfirmasi adanya
penularan COVID-19.
 Memiliki salah satu gejala ISPA dan punya riwayat kontak dekat dengan orang yang
terkonfirmasi COVID-19 atau masuk dalam kriteria kasus probable selama 14 hari
terakhir.
 Mengidap ISPA berat atau pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah
sakit. 

Perlu diketahui, gejala umum dari ISPA yaitu demam di atas 38oCelcius. Gejala lain yang
menyertai yaitu batuk, sesak napas, sakit tenggorokan, pilek, dan pneumonia ringan hingga
berat.

2. Kasus Probable

Kasus probable terjadi ketika seseorang telah meninggal dunia akibat ISPA Berat dan ARDS
dengan gambaran klinis yang meyakinkan COVID-19 namun belum ada hasil pemeriksaan
laboratorium RT-PCR.

3. Kasus Konfirmasi

Seseorang masuk ke dalam kasus konfirmasi apabila hasil pemeriksaan RT-PCR


menunjukkan hasil positif terinfeksi virus COVID-19. Kasus konfirmasi dibagi menjadi dua
tipe, yakni kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) dan kasus konfirmasi tanpa gejala
(asimtomatik). 

4. Kontak Erat

Jika seseorang memiliki riwayat kontak dengan kasus probable atau konfirmasi COVID-19,
maka termasuk dalam kategori kontak erat. Riwayat kontak yang dimaksud, yaitu:

 Melakukan tatap muka atau berdekatan dengan kasus probable atau kasus konfirmasi
dalam radius satu meter selama 15 menit atau lebih.
 Bersentuhan fisik secara langsung, seperti berjabat tangan, berpegangan tangan,
berpelukan dan lain-lain dengan kasus probable atau konfirmasi.

18
 Memberikan perawatan untuk seseorang yang masuk kategori kasus probable atau
konfirmasi tanpa menggunakan standar APD.

 Situasi lain yang ditandai adanya kontak berdasarkan penilaian risiko lokal yang telah
ditetapkan.

5. Pelaku Perjalanan

Pelaku perjalanan adalah seseorang yang telah melakukan perjalanan dari dalam negeri
(domestik) maupun luar negeri dalam 14 hari terakhir.

6. Discarded

Discarded apabila seseorang dengan status kasus suspek mendapatkan hasil pemeriksaan RT-
PCR negatif sebanyak dua kali selama dua hari berturut-turut selang waktu lebih dari 24 jam.
Seseorang dengan status kontak erat yang telah menyelesaikan masa karantina selama 14 hari
juga masuk kedalam kategori discarded. 

7. Selesai Isolasi

Seseorang dinyatakan selesai isolasi apabila memenuhi salah satu kriteria berikut:

 Memiliki status kasus konfirmasi tanpa gejala (asimtomatik) dan tidak melakukan
pemeriksaan RT-PCR lanjutan dan telah menjalani 10 hari isolasi mandiri tambahan
sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi.
 Memiliki status kasus probable atau kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik)
dan tidak melakukan pemeriksaan RT-PCR lanjutan dihitung 10 hari sejak tanggal
onset dengan ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam
dan gangguan pernapasan.

 Memiliki status kasus probable atau kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik)
dan mendapatkan hasil pemeriksaan RT-PCR lanjutan satu kali negatif, dengan
ditambah isolasi minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan
gangguan pernapasan.

8. Kematian

Kematian apabila seseorang dengan status kasus konfirmasi atau probable COVID-19 yang
meniggal.

19
REFERENSI

Isfandiari, M.A. (2020). Corona Virus (Covid-19) Hasil Kajian. Dosen FKM Unair

World Health Organization (WHO). 2020. https://www.who.int/health-


topics/coronavirus. Diakses 21 Agustus 2020.

World Health Organization (WHO).2020.Global surveillance for human infection


with novel-coronavirus(2019-ncov).https://www.who.int/publications-
detail/global-surveillance- for-human-infection-with-novel-coronavirus-(2019-
ncov). Diakses 21 Agustus 2020.

World Health Organization (WHO).2020.Global surveillance for human infection


with novel-coronavirus(2019-ncov).https://www.who.int/publications-
detail/global-surveillance- for-human-infection-with-novel-coronavirus-(2019-
ncov) Diakses 31 Agutus 2020.

World Health Organization (WHO).2020. Laboratory testing for 2019 novel


coronavirus (2019-nCoV) in suspected human cases.
https://www.who.int/publications- detail/laboratory-testing-for-2019-novel-
coronavirus-in-suspected-human-cases. Diakses 1 September 2020

World Health Organization (WHO).2020. Clinical management of severe acute


Respiratory infection when novel coronavirus (nCoV) infection is suspected.
https://www.who.int/internal-publications-detail/clinical-management-of-severe-
acute- respiratory-infection-when-novel-coronavirus-(ncov)-infection-is-
suspected. Diakses 1 September 2020.

20
World Health Organization (WHO).2020. Home care for patients with suspected
novel coronavirus (nCoV) infection presenting with mild symptoms and
management of contacts. https://www.who.int/internal-publications-detail/home-
care-for-patients-with- suspected-novel-coronavirus-(nCoV)-infection-
presenting-with-mild-symptoms-and- management-of-contacts. Diakses 30
Agutus 2020

21