Anda di halaman 1dari 67

PERENCANAAN

PENANGGULANGAN BENCANA
DI PUSKESMAS
(PUSKESMAS DISASTER PLAN)
TAHUN 2020

PUSKESMAS …………………………
DINAS KESEHATAN KOTA YOGYAKARTA
TAHUN 2020

PERENCANAAN PENANGGULANGAN BENCANA


DI PUSKESMAS (PUSKESMAS DISASTER PLAN)
TAHUN 2020

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berkaitan dengan kebijakan penanggulangan wabah penyakit
menular, Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984
tentang Wabah Penyakit Menular, Peraturan Pemerintah Nomor 40
Tahun1991 tentang Penangulangan Wabah Penyakit Menular, dan
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1501/Menkes/Per/X/2010 tentang
Jenis Penyakit Menular Tertentu Yang Dapat Menimbulkan Wabah.
Pelayanan terkait kasus COVID-19 di Puskesmas dilaksanakan
terintegrasi dengan pelayanan lainnya. Hal ini mengingat ada pelayanan
esensial/primer yang harus tetap diberikan kepada masyarakat seperti
pemeriksaan ibu hamil, pemberian imunisasi pada balita, pematauan
tumbuh kembang anak dan lain sebagainya. Oleh karena hal yang disebut
di atas, perlu disusun Perencanaan Penanggulangan Bencana Wabah
penyakit terkait pelayanan Puskesmas pada masa pandemi COVID-19
yang terintegrasi melalui upaya kesehatan Puskesmas guna pencegahan
dan pengendalian COVID-19 di wilayah kerjanya.
Diperlukan suatu perencanaan Program penanganan Covid yg
tePuskesmas truktur antara lain Meningkatan peran linstas program dan
lintas sector di wilayah Puskesmas , Meningkatkan peran individu,
keluarga dan masyarakat ; Meningktakan pengetahuan pengetahuan dan
cara yang efektif dan efisien mengahadapi covid 19 (masyarakat belum
siap mengahadapi pandemi covid 19) Meningkatkan Sumber Daya
Kesehatan termasuk Sumber Daya Manusia Kesehatan yang kompeten ,
Laboratorium Lapangan untuk skrening /tracing dan Ambulance dan
Mengembangkan penelitian dan pengkajian masalah-masalah Kepatuhan /
kedisiplinan masyarakat terhadap protokol Kesehatan untuk mendukung
kebijakan di masa Adaptasi Kebiasaan Baru

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 1


Program untuk keselamatan dirancang untuk mencegah terjadinya
cedera bagi pasien, petugas, pengunjung dan masyarakat akibat
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3 /pmk 52 th 2018), seperti tertusuk
jarum, tertimpa bangunan, kebakaran, gedung roboh, dan tePuskesmas
engat listrik. Program keselamatan bagi petugas terintegrasi dengan
program keselamatan dan kesehatan kerja . Area-area yang berisiko
keamanan dan kekerasan fisik perlu diidentifikasi dan dibuatkan peta,
dipantau untuk meminimalkan terjadinya insiden dan kekerasan fisik baik
bagi pasien, petugas, maupun pengunjung yang lain .
Program untuk keamanan dengan menyediakan lingkungan fisik
yang aman bagi pasien, petugas, dan pengunjung Puskesmas perlu
direncanakan untuk mencegah terjadinya kejadian kekerasan fisik maupun
cedera akibat lingkungan fisik yang tidak aman seperti penculikan bayi,
pencurian, dan kekerasan pada petugas.
Agar dapat berjalan dengan baik, maka program tePuskesmas
ebut juga didukung dengan penyediaan anggaran, penyediaan fasilitas
untuk mendukung keamanan dan fasilitas seperti penyediaan Closed
Circuit Television (CCTV), alarm, APAR, jalur evakuasi, titik kumpul,
rambu-rambu mengenai keselamatan dan tanda- tanda pintu
darurat.Pemberian tanda pengenal pada pasien, pengunjung, karyawan,
termasuk tenaga outsource merupakan upaya untuk menyediakan
lingkungan yang aman.
Sejak kasus pertama diumumkan pada tanggal 8 Maret 2020,
penyebaran penularan COVID-19 terjadi dengan cepat di Yogyakarta. Hal
ini memerlukan strategi penanggulangan sesuai dengan transmisi yang
terjadi baik di tingkat nasional , DIY dan Kota Yogyakarta dengan tujuan:
Memperlambat dan menghentikan laju transmisi /penularan, dan
menunda penyebaran penularan, Menyediakan pelayanan kesehatan
yang optimal untuk pasien, terutama kasus kritis / berat, Meminimalkan
dampak dari pandemi COVID-19 terhadap derajat kesehatan
masyarakat Yogayakarta, pelayanan sosial, kegiatan di bidang
ekonomi, dan kegiatan sektor lainnya.

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 2


Kota Yogyakarta perlu melakukan identifikasi kasus baru,
mengelola, dan memberikan intervensi pada kasus-kasus baru COVID-19,
serta upaya pencegahan penularan kasus baru dalam adaptasi kebiasaan
baru dengan pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat dalam setiap
aktifitas masyarakat. Pemerintah Kota menyiapkan dan merespon
berbagai skenario kesehatan masyarakat.

B. Tujuan
Tujuan Disaster Plan Puskesmas ( PDP)
1. Meningkatkan antisipasi, deteksi dan merespon perkembangan
eskalasi penyebaran COVID-19;
2. Meningkatkan sinergitas Lintas program dan Lintas sector dalam
melakukan penanganan COVID-19
3. Mengintegrasikan pelaksanaan kebijakan strategis dan terobosan
yang diperlukan untuk penanganan COVID-19
4. Mengetahui potensi ancaman bencanayang ada di wilayah
5. Agar Puskesmas mempunyai Perencanaan Penanggungan Bencana ,
tePuskesmas usunnya pedoman , Panduan dan Standar Prosedur
Operasional , pengorganisasian dalam penanganan bencana baik
internal maupun eksternal ( Pandemi Covid 19)
6. Menjamin keselamatan pasien atau pengunjung dan petugas di
lingkungan Puskesmas mendapatkan Keselamatan dan keamanan
yang ditimbulkan oleh bencana
7. Menentukan prioritas dalam penanggulangan bencana dan Krisis
kesehatan

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 3


C. Dasar Hukum
1. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan
Daerah-Daerah Kota Besar dalam Lingkungan Propinsi Djawa Timur,
Djawa Tengah, Djawa Barat dan dalam Lingkungan Daerah Istimewa
Jogjakarta;
2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit
Menular;
3. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana;
4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
5. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan
Kesehatan;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang
Penanggulangan Wabah Penyakit Menular;
7. Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan
Kedaruratan Bencana pada Kondisi Tertentu;
8. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2020 tentang
Gugus Tugas Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19);
9. Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2020 tentang Komite
Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) Dan Pemulihan
Ekonomi Nasional;
10. Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2020 tentang Penetapan
Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease 2019
(COVID-19);
11. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1501/Menkes/Per/X/ 2010
tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu Yang Dapat menimbulkan
Wabah dan Upaya Penanggulangan;
12. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid 19 rev 5
13. Panduan Pelayanan Puskesmas Masa Pandemi
14. Panduan Pelayanan Imunisasi Masa Pandemi
15. Panduan Pelayanan Balita pada Masa Pandemi
16. Pedoman Pengelolaan Limbah
17. Protokol Penangan TB,

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 4


BAB II PROFIL PUSKESMAS ………………………………

A. Gambaran Umum wilayah

B. Struktur Organisasi Puskesmas

C. Sumber Daya Kesehehatan Puskesmas

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 5


BAB III PENGORGANISASIAN BENCANA

1. Struktur Komando organisasi Beencana

2. Tugas pokok dan Job Diskripsi


a. KARTU TUGAS/ JOBDISKRIPSI
1. Komandan Penanggulangan Bencana
a. Menuju Pusat Komando
b. Mengaktifkan Disaster Plan sesuai dengan jenis bencana
c. Mengorganisasikan dan memimpin secara keseluruhan saat
kejadian bencana
d. Memberikan arahan Operasional dan jika dibutuhkan memimpin
Lab lapangan , Tracing, evakuasi Isolasi mandiri ke shelter
e. Memulai kegiatan Deteksi, Respon dan perawatan pemulihan
f. Melaporkan perkembangan kasus harian , mingguan dan bulanan
g. Mengidentifikasi resiko dan petaresiko
h. Mengatur sumberdaya termasuk SDMK puskesmas
i. Pemberdayan Kesehatan masyarakat dalam kerangka Prevention ,
mitigasi P2 Covid 19
j. Mengkoordinasikan semua unsur untuk melaksanakan tugas
sesuai dengan job description disaster plan
k. Mengambil keputusan strategis terkait dengan dampak bencana

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 6


l. Menyetujui Puskesmas Pers release yang akan disampaikan ke
media
m. Memberikan informasi kepada instansi lain apabila diperlukan
n. Koordinasi dengan instansi terkait saat terjadi bencana
o. Memutuskan pengiriman mobil tim (khusus)
p. Menentukan pejabat pengganti bila pejabat yang ditunjuk
berhalangan
Tugas dan tanggung jawab Komandan Penanggulangan bencana ini
apabila kejadian bencana di luar jam kerja maka dipegang oleh dokter
jaga.
2. Sekretaris
a. Menuju pusat komando
b. Menyiapkan dan melengkapi pusat komando dengan fasilitas yang
diperlukan
c. Membagikan kartu tugas
d. Menyiapkan data-data dan surat-surat yang diperlukan
e. Membuat badge identitas untuk relawan, wartawan dan
pengunjung resmi
f. Membuat informasi untuk media
3. Keamanan dan Keselamatan Pasien
a. Menuju pusat komando
b. Menganalisa keselamatan dan keamanan pasien berdasarkan
situasi bencana
c. Melapor pada komandan bencana
4. Hubungan Masyarakat
a. Menuju pusat komando
b. Menghubungi semua unsur dalam sistem komando
c. Menginformasikan ke semua unit tentang kondisi bencana atas
instruksi dari komandan penanggulangan bencana
d. Mencari dan menerima informasi terkini terhadap situasi dan
perkembangan dalam Puskesmas maupun luar Puskesmas
e. Memfasilitasi tamu Puskesmas
f. Menghubungi pihak-pihak luar terkait dengan bantuan baik logistik
maupun tenaga

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 7


g. Koordinasi dengan personal, instansi, maupun organisasi yang
bePuskesmas angkutan dengan pencarian dana atau sumber-
sumber yang lain
5. Operasional
a. Menganalisa kelancaran pelayanan, kebutuhan SDM, pelayanan
yang dapat berfungsi/tidak
b. koordinasi dengan pelayanan terkait untuk kebutuhan SDM dan
kebijakan pelayanan saat bencana
6. Koordinator Pelayanan Medik
a. Menuju Instalasi Gawat Darurat
b. Memperkirakan peralatan dan logistik medis yang dibutuhkan baik
untuk Instalasi Gawat Darurat maupun bangsal
c. Menghubungi bangsal dan poliklinik untuk menempatkan pasien
d. Mengatur SDM untuk bangsal dan menghitung jumlah tambahan
tenaga
e. Mengaktifkan bangsal darurat apabila diperlukan
f. Mendokumentasikan data korban Instalasi Gawat Darurat yang
ditempatkan ke bangsal, maupun yang dirujuk
7. Koordinator Unit Triase
a. Menuju Instalasi Gawat Darurat
b. Menerima korban, melakukan triase terhadap pasien Instalasi
Gawat Darurat
c. Menempatkan pasien berdasarkan hasil triase, merujuk pasien
sesuai indikasi
d. Menempatkan SDM untuk penanganan triase
e. Menghubungi dokter ahli sesuai dengan indikasi
f. Mendokumentasikan hasil triase
8. Koordinator Unit Gawat Darurat
a. Menuju Instalasi Gawat Darurat
b. Melakukan life saving korban bencana yang gawat dan darurat
c. Suntik ATS korban luka terbuka atau patah tulang terbuka
d. Evakuasi korban dan fasilitas Instalasi Gawat Darurat ke IGD
darurat bila perlu
e. Dokumentasi data korban

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 8


f. Pimpin pendistribusian pasien korban bencana ke pelayanan
selanjutnya
g. Menganalisa situasi Instalasi Gawat Darurat, kebutuhan obat dan
alat serta SDM di Instalasi Gawat Darurat
9. Koordinator Unit Rawat Inap Kalau Ada
a. Menenangkan dan mengamankan pasien ranap
b. Menambah dan mengatur tempat tidur pasien sesuai kebutuhan
c. Mengatur penempatan pasien bencana
d. Melakukan pelayanan rutin pasien dan korban bencana secara
teratur dan tepat
e. Dokumentasikan pelayanan terhadap korban bencana dan non
bencana
10. Koordinator Unit Mobil Tim
a. Menuju Instalasi Gawat Darurat
b. Melakukan pelayanan mobiling ambulans sesuai perintah
c. Mengatur SDM untuk mobil tim
d. Dokumentasikan pelayanan mobil tim
11. Koordinator Keperawatan
a. Menganalisa kebutuhan SDM paramedis
b. Koordinasi relawan paramedis bekerja sama dengan Kepala Seksi
Sumber Daya
c. Penjadwalan tugas perawat selama bencana
d. Dokumentasikan data perawat selama bencana
12. Koordinator Unit Asuhan Keperawatan
a. Mengecek asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat untuk
korban bencana
b. Mendata kebutuhan sesuai dengan asuhan keperawatan
c. Dokumentasi data asuhan keperawatan pasien bencana
13. Koordinator Pelayanan Penunjang
a. Cek kesiapan pelayanan penunjang
b. Menganalisa kebutuhan SDM, alat dan logistik pelayanan
penunjang
c. Atur SDM yang akan bertugas
d. Kirim data ke Bagian Perencanaan

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 9


14. Koordinator Unit Laboratorium
a. Atur alur pelayanan korban bencana
b. Lakukan pemeriksaan laboratorium korban sesuai permintaan
medis terutama untuk operasi
c. Amankan alat dan bahan-bahan laboratorium yang mudah terbakar
dan meledak PUSKESMAS
d. Dokumentasi pelayanan laboratorium
15. Koordinator Unit Farmasi /obat
a. Atur alur dan tempat pelayanan obat korban bencana
b. Siapkan konter pelayanan secara tepat dan cepat
c. Data kebutuhan obat dan alat kesehatan bencana, koordinasi
dengan Pelayanan Medik
d. Dokumentasikan pengeluaran obat dan alat kesehatan
penanganan bencana
e. Amankan barang-barang farmasi dan evakuasi

16. Penangung jawab Perencanaan


a. Mengumpulkan semua data yang terkait dengan SDM, fasilitas
medis dan non medis yang dibutuhkan
b. Mencari data jumlah pasien
c. Mencari data kondisi Puskesmas secara umum
d. Membuat perencanaan jangka pendek, menengah dan jangka
panjang mengenai tenaga cadangan, kecukupan sarana prasarana
dan logistik yang diperlukan
17. Penangung jawab Sumber Daya
a. Analisa kebutuhan SDM medis dan non medis
b. Mobilisasi SDM intern
c. Bertanggung jawab atas pengelolaan hak dan kewajiban SDM saat
bencana
d. Melakukan penerimaan relawan dan pencatatannya serta
koordinasikan penempatannya kerja sama dengan unit terkait
e. Dokumentasi data SDM yang ada (petugas dan relawan)
18. Koordinator Unit Security
a. Amankan pintu keluar masuk Puskesmas

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 10


b. Amankan daerah triase dari pengunjung atau orang yang bukan
pasien
c. Seleksi orang yang keluar masuk Puskesmas termasuk pastikan
wartawan, relawan dan tamu-tamu Puskesmas
d. Lakukan pengamanan seluruh Puskesmas secara kontinu
e. Mengamankan jalur evakuasi
f. Mengatur lalu lintas dan parkir
g. Mengatur koordinasi dengan kepolisian
19. Koordinator Dokumentasi , Rekam Medik dan Laporan
a. Bertanggung jawab atas pelayanan rekam medis pasien
b. Bertanggung jawab terhadap akurasi data pasien
c. Melakukan up date data pasien dan dilaporkan ke penanggung
jawab Operasional per hari
d. Mengatur kesiapan SDM Rekam Medis dan sarana prasarana
sesuai kebutuhan
e. Membuat laporan pelayanan rekam medis dan Bencana
20. Penangung ajawab Logistik
a. Bertanggung jawab terhadap ketersediaan logistik saat terjadinya
bencana
b. Menginstruksikan kepada bawahan langsung untuk melaksanakan
tugas sesuai dengan job description
c. Menentukan kebijakan yang berkaitan dengan logistik
d. Berkoordinasi dengan bidang lain
e. Bertanggung jawab atas keamanan aset POuskesmas
f. Membuat laporan akhir penanggulangan bencana

21. Koordinator Unit Komunikasi dan TI


a. Bertanggung jawab atas kestabilan jaringan informasi Puskesmas
b. Bertanggung jawab terhadap keamanan data Puskesmas
c. Bertanggung jawab terhadap kecukupan tenaga di unitnya
d. Berkoordinasi dengan fungsi/unit lain
e. Bertanggung jawab terhadap keamanan aset Puskesmas
f. Membuat laporan akhir penanggulangan bencana

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 11


22. Koordinator Unit Makan Minum
a. Bertanggung jawab atas ketePuskesmas ediaan makan dan minum
bagi pasien dan karyawan
b. Bertanggung jawab pemetaan kebutuhan dan pemenuhan
pelayanan gizi
c. Menentukan kebijakan teknik pengelolaan gizi
d. Membuat laporan akhir penanggulangan bencana
23. Koordinator Unit Suplai Logistik Non medis
a. Bertanggung jawab atas ketePuskesmas ediaan logistik non medis
saat bencana
b. Bertanggung jawab atas pendistribusian logistik non medis saat
bencana
c. Bertanggung jawab atas pengelolaan logistik non medis bantuan
d. Membuat laporan akhir penanggulangan bencana

24. Penangung jawab Unit Fasilitas Puskesmas


a. Bertanggung jawab atas kelancaran fasilitas Puskesmas
b. Bertanggung jawab atas keamanan aset Puskesmas
c. Membuat laporan akhir penanggulangan bencana

25. Koordinator Klaim BPJS


a. Bertanggung jawab atas kelangkapan data klaim pasien
b. Bertanggung jawab atas pencairan klaim
c. Berkoordinasi dengan fungsi/unit lain
d. Bertanggung jawab atas keamanan aset Puskesmas
e. Membuat laporan akhir penanggulangan bencana
3. Kebijakan dan Strategi Dinkes Kota Yogyakarta
1. Kebijakan Bencana Covid
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit menular
yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus
2 (SAPUSKESMAS - CoV-2). SAPUSKESMAS -CoV-2 merupakan
coronavirus jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya
pada manusia. Ada setidaknya dua jenis coronavirus yang diketahui
menyebabkan penyakit yang dapat menimbulkan gejala berat seperti

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 12


Middle East Respiratory Syndrome (MERS Puskesmas ) dan Severe
Acute Respiratory Syndrome (SARS Puskesmas ). Tanda dan gejala
umum infeksi COVID-19 antara lain gejala gangguan pernapasan akut
seperti demam, batuk dan sesak napas. Masa inkubasi rata-rata 5-6
hari dengan masa inkubasi terpanjang 14 hari. Pada kasus COVID-19
yang berat dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut,
gagal ginjal, dan bahkan kematian.

Berdasarkan keputusan presiden republik Indonesia nomor 11


tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruatan Kesehatan Masyarakat
Corona Virus Desease 2019 (Covid- 19); Menetapkan Corona Virus
Disease 2O19 Covid-I9 / sebagai jenis penyakit yang menimbulkan
Kedaruratan Kesehatan Masyarakat. Menetapkan Kedaruratan
Kesehatan Masyarakat Corana Virus Disease 2019 (Covid -19 ) di
lndonesia yang wajib dilakukan upaya penanggulangan sesuai dengan
ketetentuan peraturan perundang- undangan

Kebijakan / Pedoman / Panduan / Juknis diterbitkan mendukung


Upaya Pelayanan Masyarakat dan Upaya Pelayanan Perorangan
antara lain ; (1) Kepres 12 th 2020 tentang Covid 19 sebagai Bencana
Nasional , (2) PMK 44 tahun 2016 tentang Pedoman Manajemen
Puskesmas, (3) Juknis Pelayanan Puskesmas Pada Pandemi Covid -19
, (4) Panduan pelayanan Balita pada Covid 19 , (5) Pedoman juknis
Pelayanan Imunisasi pada Masa Pandemi COVID 19, (6) Pedoman bagi
Ibu hamil, BePuskesmas alin, Nifas dan BBRL pada Masa Pandemi
COVID 19, (7) Pedoman Dukungan Kesehatan jiwa dan Psikososial
pada Pandemi COVID19, (8) Pedoman Pemberdayaan Kesehatan
Masyarakat dalam Pencegahan COVID 19 di RT, RW, Desa, (9)
Pedoman Pencegahan dan Pengendalian COVID 19 , (10) Pedoman
Tatalaksana Gigi dan Mulut di Masa Pandemi COVID 19, (11) Pedoman
Pengelolaan Limbah Fasyankes COVID 19, (12) Permenkes 11 th 2017
tentang Keselamatan Pasien , (13) PMK 27 th 2017 tentang
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi , (14) PMK 28 th 2019 tentang
Kecukupan Gizi , (15) PP 2 th 2018 tentang SPM , (16) PP 47 th 2016
tentang Fasilitas Kesehatan, (17) Protokol TB di Masa Pandemi COVID

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 13


19, (18) UU 36 th 2009 tentang Kesehatan , (19) UU 36 th 2014 tentang
Tenaga Kesehatan , (20) UU 6 th 2018 Karantina Kesehatan , (21) UU
29 TH 2004 tentang Praktek Kedokteran , (21) UU 23 th 2014 tentang
Otonomi Daerah

Dalam Perencanaan penanggulangan bencana Wabah penyakit


( Covid 19) oleh Puskesmas menjadi Puskesmas Disaster Plan ( PDP),
terdapat 7 hal yang penting untuk diperhatikan dalam Regulasi
Manajemen Disaster, yaitu : 1) Menentukan jenis, kemungkinan terjadi
dan konsekuensi bahaya, ancaman dan kejadian; 2) Menentukan
integritas struktural di lingkungan pelayanan pasien yang ada dan bila
terjadi bencana; 3) Menentukan peran rumah sakit dalam
peristiwa/kejadian tePuskesmas ebut; 4) Menentukan strategi
komunikasi pada waktu kejadian; 5) Mengelola sumber daya selama
kejadian, termasuk sumber – sumber alternatif; 6) Mengelola kegiatan
klini selama kejadian, termasuk tempat pelayanan alternatif pada waktu
kejadian; dan 7) Mengidentifikasi dan penetapan peran dan tanggung
jawab staf selama kejadian.

Strategi dan Program yang komprehensif perlu disusun dalam


dokumen Rencana Operasi (Renops) Penanggulangan COVID-19 yang
melibatkan lintas sektor. Renops mencakup (1) Koordinasi,
perencanaan dan monitoring; (2) komunikasi risiko dan pemberdayaan
Masyarakat (3) Surveilans, Tim Gerak Cepat (TGC), Analisis Risiko,
Penyelidikan Epidemiologi; Tracing / penelusuran kasus baru dengan
cepat (4) Perjalanan Pariwisata dan transportasi (5) Peningkatan Mutu
layanan Puskesmas dan Rumah Sakit (5) Pemeriksaan Laboratorium
yang cepat akurat dan akuntabel ; (6) Pengendalian Infeksi dan
Manajemen resiko (7) Manajemen Kasus; (8) Dukungan Operasional ,
Logistik termasuk APD; (9) Keberlangsungan Pelayanan Deteksi
Respons dan perawatan kasus suspek Kontak erat, kasus Probabble
dan Kasus konfirmasi .

Surveilans Bencana Kesehatan mengacu Pedoman


penyelenggaraan sistem surveilans epidemiologi kesehatan

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 14


berdasarkan Permenkes No 1116/MENKES/SK/VIII/2003 ;(1)
pelaksana surveilans epidemiologi nasional di wilayah puskesmas, (2)
Melaksanakan pencatatan dan pelaporan penyakit dan masalah
kesehatan (3) Melakukan koordinasi surveilans epidemiologi dengan
praktek dokter, bidan swasta dan unit pelayanan kesehatan yang
berada di wilayah kerjanya, (4) Melakukan kordinasi surveilans
epidemiologi antar puskesmas yang berbatasan, (5) Melakukan SKD-
KLB dan penyelidikan KLB di wilayah puskesmas dan (6)
Melaksanakan surveilans epidemiologi penyakit dan masalah
kesehatan spesifik lokal.

Dalam sistem Kewaspadaan Dini dan Respon ( SKDR)


Puskesmas memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan
masyarakat kepada dinas kesehatan daerah kabupaten/kota,
melaksanakan sistem kewaspadaan dini, dan respon penanggulangan
penyakit; ( Permenkes 43 th 2019). Penyelenggaraan Surveilans
Kesehatan Pengumpulan data secara aktif dilakukan dengan cara
mendapatkan data secara langsung dari Fasilitas Pelayanan
Kesehatan, masyarakat atau sumber data lainnya, melalui kegiatan
Penyelidikan Epidemiologi, surveilans aktif puskesmas/rumah sakit,
survei khusus, dan kegiatan lainnya ( Permenkes 45 th 2019)

Puskesmas dalam Pengendalian Penyakit menular Setiap orang


yang mengetahui adanya penderita penyakit Menular berkewajiban
melaporkan kepada tenaga kesehatan atau Puskesmas, Tenaga
kesehatan harus melaporkan kepada Puskesmas untuk dilakukan
verifikasi, pengobatan, dan upaya lain yang diperlukan agar tidak
terjadi penularan penyakit. ( Permenkes 82 th 2014)

Penemuan Kasus di Wilayah dapat dilakukan di fasyankes


maupun di masyarakat. Yang dimaksud dengan wilayah adalah wilayah
administratif provinsi dan kabupaten/kota. Kegiatan ini dilakukan untuk
menemukan adanya seseorang yang terindikasi COVID-19 yang harus
segera direspon. Bentuk respon berupa verifikasi, notifikasi, rujukan
kasus dan respon penanggulangan. Bentuk kegiatan verifikasi adalah

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 15


penyelidikan epidemiologi. Sedangkan, kegiatan respon
penanggulangan antara lain identifikasi dan pemantauan kontak,
rujukan, komunikasi risiko dan pemutusan rantai penularan. Secara
umum, penemuan kasus di wilayah dilakukan melalui: a. Peningkatan
kegiatan surveilans ILI (Influenza Like Illness), di Fasilitas Kesehatan
Tingkat Pertama (FKTP) melalui Puskesmas dan jaringan/jejaringnya
serta Surveilans Severe Acute Respiratory Syndrome (SARI) di Rumah
Sakit atau Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) baik
swasta maupun pemerintah. (Kepmenkes 413 tahun 2020)

Jenis surveilans Puskesmas (1) Surveilans pasif memantau


penyakit secara pasif, dengan menggunakan data penyakit yang harus
dilaporkan (reportable diseases) yang tersedia di fasilitas pelayanan
kesehatan. (2) Surveilans aktif menggunakan petugas khusus
surveilans untuk kunjungan berkala ke lapangan, desa-desa, tempat
praktik pribadi dokter dan tenaga medis lainnya, puskesmas, klinik, dan
rumah sakit, dengan tujuan mengidentifikasi kasus baru penyakit atau
kematian, disebut penemuan kasus (case finding), dan konfirmasi
laporan kasus indeks.

2. Srategi Penangan Bencana Covid


a) Meningkatan peran Tim Penanganan covid 19 di Puskesmas ;
Optimalisasi peran lintas sektor (non fasyankes) terutama pada
Penegakan disiplin protokol kesehatan dimasyarakat ; pribadi,
Lembaga pemerintah non pemerintah, pusat ekonomi
masyarakat /Pariwisata , pusat usaha dan industri dan lainnya
b) Pengawasan dan penegakan isolasi mandiri secara terpadu
dengan shelter/rumah isolasi
c) Khusus kelompok risiko dilakukan tatalaksana dengan perhatian :
ibu hamil dengan Co-19 dengan tracing yang ketat
d) Meningkatkan Puskesmas dan Dinas Kesehatan dalam
Penyelenggaraan diskusi online : Contoh contoh tema Strategi
Penguatan Sistem Layanan Kesehatan Menghadapi Pandemi
Covid-19

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 16


e) Meningkatkan peran individu, keluarga dan masyarakat ;
Meningktakan pengetahuan pengetahuan dan cara yang efektif dan
efisien mengahadapi covid 19 (masyarakat belum siap
mengahadapi pandemi covid 19 ):
f) Memperluas sosialisai dan bahaya pandemi covid 19 melalui
peningkatan pembinaan keluarga berpedoman pada Pedoman dan
Pencegahan Covid di sesuaikan dengan buku Tuntunan Keluarga
Sakinah bagi Keluarga;
g) Mengembangkan berbagai model / cara pendekatan Protokol
Kesehatan untuk adaptasi Kebiasaan Baru ;
h) Mengintensifkan pembinaan dan pendampingan dengan
memberikan Modul, Pedoman , Juknis Pencegahan dan
Pengendalian dapat berjejaring lintas Majelis dan Lembaga.
i) Meningkatkan Sumber Daya Puskesmas termasuk Sumber Daya
Manusia Kesehatan yang kompeten .
j) Membatasi jam kerja Nakes, Memastikan kecukupan APD,
Pelatihan Pencegahan Infeksi, Pelatihan Protokol Kesehatan ,
Memindahkan Nakes sementara ke Faskes yg kurang, Jaminan
perlindungan dan tambahan kompensasi bagi nakes .
k) Mengembangkan sistem pengumpulan analisis dan publikasi data
kematian secara sistematis
l) Peningkatan Upaya PPI diluar area beresiko kepada nakes
m) Memberikan dukungan psikologis dan Meningkatkan Kepedulian
nakes terhadap kondisi diri sendiri
n) Dinas Kesehatan memetakan skenario transmisi di Wilayah
Kelurahan . Skenario transmisi Tidak Ada Kasus , Kasus
Sporadik , Kasus Klaster dan Penularan Komunitas yang berbeda
membutuhkan pePuskesmas iapan dan respon berbeda seperti
dijabarkan pada tabel berikut:
o) Tujuan dan Strategi Program Penanggulangan berdasarkan Tingkat
Penularan

TIDAK ADA KASUS KASUS KASUS PENULARA


SPORADIK KLAST N

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 17


Tidak diketahui
Tingkat Tidak terdapat Satu atau lebih kasus, Dominasi sumber rantai
Penularan kasus yang kasus bisa import penularan lokal penularan dengan
terlaporkan maupun lokal tapi yang berkaitan jumlah kasus yang
belum terbukti adanya dengan rantai besar atau
penularan lokal penyebaran peningkatan kasus
dengan test positif
melalui sampel
sentinel (pengujian
sampel secara massif
dari laboratorium yang
kompeten)

Tujuan Menghentikan Menghentikan Menghentikan Menghambat


penanggulan penularan dan penularan dan penularan dan penularan,
g an mencegah mencegah penyebaran mencegah mengurangi jumlah
penyebaran penyebaran kasus, mengakhiri
wabah di komunitas

Pilar Penanggulangan

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 18


Surveilans 1. Penemuan 1. Penemuan Kasus 1. 1.Terus melanjutkan
Epidemiolo Kasus Secara Aktif Secara Aktif dan Mengintensifka penemuan kasus
gi dan dan isolasi. isolasi, karantina n dan isoasi jika
Upaya 2. Menyiapkan kontak Penemuan memungkinkan
Penemuan menghadapi Kasus dan khususnya pada
Kasus lonjakan 2. Melaksanakan isolasi daerah yang
Secara Aktif kebutuhan pelacakan kontak baru melaporkan
pelacakan kontak dan monitoring 2.Mengintensifkan kasus
3. Melaksanakan serta karantina pelacakan kontak 2.Terus melanjutkan
pemeriksaan kontak dan monitoring pelacakan kontak
surveilans serta karantina dan monitoring jika
COVID-19 melalui 3. Pelaksanaan kontak memungkinkan
surveilans surveilans COVID- serta karantina
berbasis 19 melalui 3. Memperluas kontak
komunitas, surveilans berbasis surveilans 3.Isolasi mandiri pada
surveilans ILI, komunitas, COVID- 19 kasus yang
SARI, pneumoni, surveilans ILI, melalui bergejala ringan
Event Base SARI, pneumoni, surveilans 4.Memantau
surveillance baik Event Base berbasis perkembangan
FKTP dan surveillance baik komunitas, COVID-19
FKRTL FKTP dan FKRTL surveilans ILI, surveilans sentinel
4. Melaksanakan SARI, ISPA yang ada
surveilans di 4. Melaksanakan dan 5.Melaksanakan
fasilitas tertutup surveilans di Pneumonia di surveilans di
dan kelompok fasilitas tertutup FKTP dan fasilitas tertutup
rentan dan kelompok FKRTL dan kelompok
rentan rentan
4. Melaksanakan
surveilans di
fasilitas
tertutup dan
kelompok
rentan

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 19


TIDAK ADA KASUS

KASUS SPORADIK

KASUS KLASTER

PENULARAN KOMUNITAS

Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan RT-PCR untuk Suspek dan sampling pada kasus yang terdeteksi melalui surveilans sentinel ILI,
SARI, dan Pneumonia.

Pemeriksaan RT-PCR untuk Suspek dan sampling pada kasus yang terdeteksi melalui surveilans sentinel ILI,
SARI, dan Pneumonia.

Pemeriksaan RT-PCR untuk Suspek dan sampling pada kasus yang terdeteksi melalui surveilans sentinel ILI,
SARI, dan Pneumonia.

Apabila kapasitas diagnostik tidak mencukupi, lakukan langkah prioritas untuk mengurangi penyebaran
(seperti: isolasi), termasuk prioritas pemeriksaan:

• Kelompok risiko tinggi dan populasi rentan yang memerlukan rawat inap dan perawatan intensif
• Tenaga kesehatan yang mengalami gejala sekalipun merasa tidak pernah kontak dengan pasien konfirmasi.
(Untuk melindungi tenaga kesehatan dan mengurangi risiko transmisi nosokomial)
• Individu dengan gejala pada populasi di fasilitas tertutup (seperti: penjara, panti asuhan/ jompo)

Manajemen
Klinis
1. Mengatur screening
dan protokol triase pada setiap titik akses fasyankes
2. MempePuskesmas iapkan
pengobatan COVID-
19 pada pasien terinfeksi
3. Mengatur hotline
COVID-19 dan sistem rujukan di Rumah Sakit
4. MempePuskesmas iapkan rumah sakit terhadap lonjakan kasus
1. Menyaring dan melakukan triase pasien pada setiap titik akses sistem kesehatan
2. Perawatan untuk seluruh pasien suspek dan konfirmasi berdasarkan keparahan penyakit dan kebutuhan
pelayanan akut
3. MempePuskesmas iapkan rumah sakit terhadap lonjakan
4. MempePuskesmas iapkan komunitas terhadap lonjakan, termasuk mengatur fasilitas umum untuk isolasi
kasus ringan/sedang
5. Membuat protokol untuk
isolasi rumah
1. Skrining dan melakukan triase pasien pada setiap titik akses fasyankes
2. Perawatan untuk seluruh pasien suspek dan konfirmasi berdasarkan keparahan penyakit dan kebutuhan
pelayanan akut

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 20


3. Mengaktivasi rencana lonjakan fasyankes
4. Mengakitvasi fasilitas umum dan mengaktivasi protokol isolasi rumah
1. skrining dan melakukan triase pasien pada setiap titik akses sistem kesehatan
2. Perawatan untuk seluruh pasien suspek dan konfirmasi berdasarkan keparahan penyakit dan kebutuhan
pelayanan akut
3. Meningkatkan rencana surge capacity
(kapasitas lonjakan) pada fasyankes termasuk fasilitas umum, perawatan rumah, PUSKESMAS Darurat
serta penguatan sistem rujukan COVID-19

TIDAK ADA KASUS

KASUS SPORADIK

KASUS KLASTER

PENULARAN KOMUNITAS

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)


1. Melatih/refreshment staf mengenai PPI dan pengelolaan klinis, khususnya untuk COVID-19

2. Melaksanakan
strategi PPI untuk
mencegah penularan di fasyankes

3. Penggunaan APD yang sesuai oleh petugas yang merawat pasien COVID-19

4. MempePuskesmas iapkan lonjakan kebutuhan fasyankes termasuk dukungan APD, ruangan


isolasi, rawat intensif dan alat bantu pernafasan di PUSKESMAS serta dukungan
kesehatan jiwa dan psikososial untuk tenaga kesehatan

5. Reviu lonjakan lonjakan kebutuhan fasyankes termasuk alat bantu pernapasan, dan pePuskesmas
ediaan APD
1. Melatih/refreshment staf mengenai PPI dan pengelolaan pasien COVID-19

2. Melaksanakan strategi PPI untuk mencegah penularan di fasyankes

3. Penggunaan APD yang sesuai oleh petugas yang merawat pasien COVID-19

4. MempePuskesmas iapkan lonjakan kebutuhan fasyankes, termasuk dukungan APD, ruangan isolasi,
rawat intensif dan alat bantu pernafasan di PUSKESMAS serta dukungan kesehatan jiwa dan psikososial
untuk tenaga kesehatan

5. Reviu lonjakan kebutuhan fasyankes termasuk alat bantu pernapasan dan pePuskesmas ediaan APD
1. Melatih/refreshment staf mengenai PPI dan pengelolaan pasien COVID-19

2. Melaksanakan strategi PPI untuk mencegah penularan di fasyankes

3. Penggunaan APD yang sesuai oleh petugas yang merawat pasien COVID-19

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 21


4. MempePuskesmas iapkan lonjakan kebutuhan fasyankes, termasuk dukungan APD, ruangan isolasi,
rawat intensif dan alat bantu pernafasan di PUSKESMAS serta dukungan kesehatan jiwa dan psikososial
untuk tenaga kesehatan

5. Mengadvokasi perawatan di rumah bagi kasus ringan apabila sistem pelayanan kesehatan sudah
melebihi kapasitas
1. Memberikan refreshment kepada staf mengenai PPI dan pengelolaan pasien COVID-19

2. Memperkuat strategi PPI untuk mencegah penularan di fasyankes

3. Penggunaan APD yang sesuai oleh petugas yang merawat pasien COVID-
19

4. Implementasi rencana lonjakan fasyankes

5. Imlpementasi rencana lonjakan fasyankes, termasuk dukungan APD, ruangan isolasi, rawat intensif dan
alat bantu pernafasan di PUSKESMAS serta dukungan kesehatan jiwa dan psikososial untuk tenaga
kesehatan

6. Mengadvokasi perawatan di rumah bagi kasus ringan apabila sistem pelayanan kesehatan sudah melebihi
kapasitas

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 22


TIDAK ADA KASUS

KASUS SPORADIK

KASUS KLASTER

PENULARAN KOMUNITAS

Pencegahan Penularan di Masyarakat

1. Physical Distancing
2. KebePuskesmas ihan tangan
3. Etika batuk/bePuskesmas in
4. Pemakaian masker
5. Memastikan akses kebePuskesmas ihan tangan di
depan gedung
fasilitas umum dan pusat transportasi (misalnya pasar, toko, tempat ibadah, lembaga pendidikan, stasiun
kereta atau bus). TePuskesmas edia fasilitas cuci tangan dengan air dan sabun dalam jarak 5 m dari semua
toilet, baik di fasilitas umum maupun swasta

1. Physical Distancing
2. KebePuskesmas ihan tangan
3. Etika batuk/bePuskesmas in
4. Pemakaian masker
5. Pembatasan Aktivitas luar rumah
6. Memastikan akses kebePuskesmas ihan tangan di depan gedung fasilitas umum dan pusat transportasi
(misalnya pasar, toko, tempat ibadah, lembaga pendidikan, stasiun kereta atau bus). TePuskesmas edia
fasilitas cuci tangan dengan air dan sabun dalam jarak 5 m dari semua toilet, baik di fasilitas umum maupun
swasta

1. Physical Distancing
2. KebePuskesmas ihan tangan
3. Etika batuk/bePuskesmas in
4. Pemakaian masker
5. Pembatasan Aktivitas luar rumah
6. Memastikan akses kebePuskesmas ihan tangan di depan gedung fasilitas umum dan pusat transportasi
(misalnya pasar, toko, tempat ibadah, lembaga pendidikan, stasiun kereta atau bus). TePuskesmas edia fasilitas
cuci tangan dengan air dan sabun dalam jarak 5 m dari semua toilet, baik di fasilitas umum maupun swasta

1. Physical Distancing
2. KebePuskesmas ihan tangan
3. Etika batuk/bePuskesmas in
4. Pemakaian Masker
5. Pembatasan Aktivitas luar rumah
6. Mempertimbangkan Pembatasan Sosial
BePuskesmas kala Besar (PSBB)

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 23


7. Memastikan akses kebePuskesmas ihan tangan di depan gedung fasilitas umum dan pusat transportasi
(misalnya pasar, toko, tempat ibadah, lembaga pendidikan, stasiun kereta atau bus). TePuskesmas edia
fasilitas cuci tangan dengan air dan sabun dalam jarak 5 m dari semua toilet, baik di fasilitas umum
maupun swasta

Komunikasi Risiko dan Pemberdayaa


n Masyarakat

Mengedukasi dan berkomunikasi secara aktif dengan masyarakat melalui


komunikasi risiko dan pemberdayaan masyarakat, membangun dan menjaga
kepercayaan publik melalui komunikasi dua arah

1.Membentuk/memper barui Tim Komunikasi Risiko dan Pemberdayaan Masyarakat (KRPM)


2.Menilai situasi dan menyusun serta mengembangkan perencanaan dan strategi komunikasi,
1. Menilai dan memperbarui perencanaan dan strategi komunikasi berdasarkan situasi dan kondisi dari
hasil kerja dan pemantauan Tim KRPM
2. Menyediakan pelatihan untuk tambahan anggota Tim KRPM
3.Memberdayakan masyarakat dengan menggerakan para pemengaruh/influencer dan
1. Menerapkan langkah-langkah tindakan dari kasus sporadik.
2.Memelihara kepercayaan, mempererat jalinan komunikasi, dan melibatkan masyarakat/kelompok secara
berkesinambungan untuk mencegah kesalahpahaman, kesalahan informasi, isu/rumor/hoaks, dan
pertanyaan yang sering diajukan
1. Menerapkan langkah-langkah tindakan dari kasus klaster
2. Mengedukasi individu, kelompok/masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan dan
pengendalian di masyarakat dilakukan melalui upaya kebePuskesmas ihan pePuskesmas onal dan
rumah, peningkatan imunitas diri dan mengendalikan komorbid, serta peningkatan Kesehatan jiwa dan
psikososial, pembatasan interaksi fisik

TIDAK ADA KASUS

KASUS SPORADIK

KASUS KLASTER

PENULARAN KOMUNITAS

meliputi sumberdaya (5 M: men, machine, method, material, money), peran, kewenangan,


dan tanggung jawab yang jelas dari para pelaku KRPM (jubir, para pemengaruh, mitra/pemangku
kepentingan)
3.Menilai kapasitas dan menyiapkan pelatihan KRPM
4.Melakukan
pengkajian untuk

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 24


menilai pePuskesmas epsi risiko (penelitian formatif)
5.Menyiapkan mekanisme umpan balik dari upaya KRPM (hasil pemantauan, saluran
informasi dan pengaduan,
pelatihan, dan lain-
lain)
6.Merancang sistem pemantauan dari upaya KRPM (isu dan berita, perkembangan kasus dan situasi, dan
lain-lain)

jejaring komunitas (RT/RW, LSM, ormas, PKK, dunia usaha, dan lain-lain) yang dibutuhkan pada situasi
ini
4. Melakukan pengkajian untuk menilai pePuskesmas epsi risiko (penelitian formatif)
5. Melakukan mekanisme umpan balik dari upaya KRPM (hasil pemantauan, saluran informasi dan pengaduan,
dan lain-lain)
6. Melakukan pemantauan (isu
dan berita, perkembangan kasus dan situasi, dan lain-lain)
3. Mempererat kolaborasi di antara para mitra/pemangku kepentingan
dan pembatasan social (physical contact/physical distancing dan social distancing), menerapkan etika
batuk dan bePuskesmas in, melakukan isolasi/karantina sampai Pembatasan Sosial BePuskesmas kala
Besar (PSBB)
3. Menerapkan protokol kesehatan dengan konsepsi Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB)

Pelayanan Kesehatan
Esensial

1. MempePuskesmas iapkan atau meninjau kapasitas sistem kesehatan dan strategi menghadapi lonjakan
1. Menerapkan kapasitas sistem kesehatan dan strategi menghadapi lonjakan
1. Memperkuat kapasitas sistem kesehatan dan strategi menghadapi lonjakan
1. Mengintensifkan kapasitas sistem kesehatan dan Strategi menghadapi lonjakan

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 25


TIDAK ADA KASUS KASUS KASU PENULARAN
SPORADIK S KOMUNITAS
Pelayanan . KLAST
Kesehatan 2. Menetapkan atau 2. Pastikan bahwa 2. Menerapkan 2. Melanjutkan
Esensial meninjau mekanisme pelayanan gawat protokol pemantauan
untuk memantau darurat 24 jam jalur rujukan pelayanan
pelayanan kesehatan tePuskesmas edia di 3. Menjadwalkan Kesehatan esensial
esensial sedang semua level pertemuan, batasi pada komunitas dan
berlangsung PUSKESMAS dan pengunjung, fasyankes
memastikan dan buat alur 3. Identifikasi
3. Memulai pelatihan kesadaran publik pasien dan hambatan
untuk 3. Melakukan petugas untuk untuk mengakses
meningkatakan penilaian cepat memastikan dan mengantisipasi
kapasitas petugas di kapasitas cepat jaga jarak mengembalikan
daerah penting 4. Mempertahankan 4. Menerapkan pelayanan yang
(triase, gawat dan memperkuat alat dan ditangguhkan
darurat, dan lain- surveilans PD3I sistem berdasarkan
lain) 5. Mengembangkan informasi perubahan
ataumeninjau strategi untuk kebutuhan
4. Mempertahankan untuk pelayanan mendukung 4. Membuat
dan memperkuat imunisasi konsultasi pelaporan
surveilans Penyakit jarak jauh mingguan
Yang Dapat Dicegah 5. pendistribusian
Dengan Imunisasi Mengkoordina logistik penting yang
(PD3I) sikan mungkin berisiko
dana mengalami
5. Mengembangkan tambahan kekurangan
atau meninjau untuk 5. Mengkoordinasikan
strategi untuk layanan memastikan dukungan pelayanan
imunisasi pembayaran primer,
gaji tepat menyesuaikan
waktu, lembur, pemasukan dan
cuti sakit dan pengeluaran pasien
insentif di rumah sakit
6. sesuai protokol
Mempertahankan untuk membatasi
dan memperkuat durasi rawat inap
surveilans PD3I, 6. Dokumentasikan
mengembangkan respons adaptif
atau meninjau diimplementasikan
strategi untuk selama masa
pelayanan pandemi yang harus
imunisasi dipertimbangkan
untuk jangka
panjang ke dalam
sistem operasi
kesehatan

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 26


p) Pelayanan Puskesmas dimasa Bencana Pandemi Covid 19 ;
Kondisi dimana kapasitas sistem Kesehatan esensial yang
memadai tetap berjalan, namun tetap dapat mengontrol risiko
infeksi ( PPI) Covid 19, Protokol Kesehatan ; Peraturan / +
Kebijakan Baru , Pedoman , Panduan / Juknis & SOP baru,
Adaptasi Budaya Pelayanan Mutu Covid , Indikator mutu dan
Kinerja BARU, Melindungi Kelompok rentan , Sasaran Keselamatan
Pasien, Meningkatkan Manajemen Risiko dengan mengelola
ancaman, mengurangi kerentanan dan meningkatkan kapasitas
bencana dengan Program Kesehatan

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 27


 PERKEMBANGAN PANDEMI BENCANA PENYAKIT

 ANALISA PELAYANAN PUSKESMAS DI MASA BENCANA

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 28


Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 29
BAB IV SISTEM MANAJEMEN RESIKO BENCANA

A. Manajemen Resiko
Program manajemen risiko berkelanjutan digunakan untuk
melakukan identifikasi, analisa dan penatalaksanaan risiko untuk
mengurangi cedera, dan mengurangi risiko lain terhadap keselamatan
pasien, staf dan sasaran pelayanan serta masyarakat. Upaya
manajemen risiko dilaksanakan melalui sebuah kerangka kerja
manajemen risiko yang dilaksanakan dalam Proses manajemen risiko
yang mencakup : identifikasi, analisa, penatalaksaan risiko dan monitor
perbaikannya.

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 30


Risiko dalam penyelenggaraan berbagai upaya Puskesmas
terhadap pasien, keluarga, masyarakat, petugas, dan lingkungan
diidentifikasi, dianalisis dan di lakukan penatalaksanaannya. Pelaksanaan
setiap kegiatan Puskesmas dapat menimbulkan risiko. Risiko terhadap
pasien, keluarga, masyarakat, petugas, dan lingkungan perlu dikelola oleh
penanggung jawab dan pelaksana untuk mengupayakan langkah-langkah
pencegahan dan/ atau minimalisasi risiko dan tidak memberi akibat negatif
atau merugikan tePuskesmas ebut. Program Manajemen risiko merupakan
pendekatan proaktif yang komponen-komponen pentingnya meliputi (a)
identifikasi risiko, (b). prioritas risiko, (c).pelaporan risiko,
(d).manajemen risiko, ( e) . invesigasi terhadap insiden yang terjadi
baik pada pasien, petugas keluarga dan pengunjung dan (f).manajemen
terkait tuntutan (klaim) . Identifikasi Risiko terhadap kejadian /Insiden yang
sudah terjadi didokumentasikan dalam Register Risiko. Sedangkan risiko
yang belum terjadi dan berpotensi menimbulkan kejadian/ insiden
didokumentasikan pada Identifikasi Proses Berisiko Tinggi . Kategori risiko
di Puskesmas adalah Risiko yang berhubungan dengan KMP, UKPP, dan
UKM. Register Risiko dan Identifikasi Proses Berisiko Tinggi harus dibuat
sebagai dasar penyusunan Program Manajemen risiko untuk membantu
petugas Puskesmas mengenal dan mewaspadai kemungkinan risiko dan
akibatnya terhadap sasaran program, pasien, keluarga, masyarakat,

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 31


petugas, lingkungan, dan fasilitas pelayanan kesehatan.ICRA ( infection
Comtrol Risk Assesment)
Tahapan manajemen risiko ; menetapkan lingkup manajemen
risiko, dilanjutkan dengan kajian risiko: mengenal risiko ( identifikasi Resiko
Register Resiko ) , menganalisis risiko, mengevaluasi risiko, dan diakhiri
dengan menentukan tindakan terhadap risiko. Setiap tahapan proses
manajemen risiko harus dikomunikasikan dan dikonsultasikan pada pihak-
pihak yang berkepentingan. Tiap tahapan manajemen risiko perlu
dimonitor, diaudit, ditinjau, dan memerlukan dukungan internal.

Lingkup manajemen risiko dalam pelayanan kesehatan; Risiko


yang terkait dengan pelayanan pasien atau kegiatan pelayanan kesehatan
Masyarakat : adalah risiko yang mungkin dialami oleh pasien atau sasaran
kegiatan UKM, atau masyarakat akibat pelayanan yang disediakan oleh
FKTP, misalnya: risiko yang dialami pasien ketika terjadi kesalahan
pemberian obat.; Risiko yang terkait dengan petugas klinis yang
memberikan pelayanan: adalah risiko yang mungkin dialami oleh petugas
klinis ketika memberikan pelayanan, misalnya perawat tertusuk jarum
suntik sehabis melakukan penyuntikan. Risiko yang terkait dengan
petugas non klinis yang memberikan pelayanan: adalah risiko yang
mungkin dialami petugas non klinis, seperti petugas laundry, petugas
kebePuskesmas ihan, petugas sanitasi, petugas lapangan ketika
melaksanakan kegiatan pelayanan. Risiko yang terkait dengan sarana
tempat pelayanan: adalah risiko yang mungkin dialami oleh petugas,
pasien, sasaran kegiatan pelayanan, masyarakat, maupun lingkungan
akibat fasilitas pelayanan. Risiko finansial: adalah risiko kerugian finansial
yang mungkin dialami oleh FKTP akibat pelayanan yang disediakan.
Risiko lain diluar lima risiko di atas: adalah risiko-risiko lain misalnya
kecelakaan ambulans, kecelakaan kendaraan dinas yang digunakan.

Resiko atau insiden ; (1) Insiden di fasilitas pelayanan


kesehatan meliputi: a. Kondisi Potensial Cedera (KPC); b. Kejadian
Nyaris Cedera (KNC); c.Kejadian Tidak Cedera (KTC); d. Kejadian
Tidak Diharapkan (KTD). (2) Kondisi Potensial Cedera (KPC) ; merupakan
kondisi yang sangat berpotensi untuk menimbulkan cedera, tetapi belum

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 32


terjadi insiden. (3) Kejadian Nyaris Cedera (KNC) ; merupakan terjadinya
insiden yang belum sampai terpapar ke pasien.(4) Kejadian Tidak Cedera
(KTC) ; merupakan insiden yang sudah terpapar ke pasien, tetapi
tidak timbul cedera. Dan 5 Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) ; merupakan
Insiden yang mengakibatkan cedera pada pasien.

B. Analisa resiko
Suatu penilaian potensi ancaman bencana di suatu wilayah dan
menilai dampak yang ditimbulkannya sehingga dapat dilakukan prioritas
mitigasi dan kesiapsiagaannya. Cara sederhana melakukan analisis
risiko ; (1) Menentukan kemungkinan potensi Bencana ;(2) Menilai
Dampak Bencana (3) Menganalisis Resiko
Langkah Pertama : Menentukan kemungkinan potensi ancaman
bencana , Puskesmas Umbulharjo I Kota Yogyakarta

Langkah Kedua : Menilai Dampak Bencana bencana , Puskesmas


Umbulharjo I Kota Yogyakarta

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 33


Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 34
Langkah Ketiga : Maka disusunlah semua ancaman bencana dan
dampaknya sebagai berikut : Covid 19, Gempa Bumi , Gunung Merapi
DBD , TB

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 35


C. Pengembangan Resiko Kota Yogyakarta
1. Langkah-langkah Menyusun Pengembangan Resiko
a. Menyusun kronologis kejadian
b. Tentukan tingkatan risiko (ringan sedang/ berat) kemudian
pilih yang terberat namun masih mampu untuk direspon oleh
kapasitas kita
c. Visualisasikan dengan peta respon (dimana lokasinya, mana
saja area terdampak, identifikasi penduduk terdampak, area
aman dimana)
d. Tentukan jalur-jalur evakuasi
e. Identifikasi faktor pemberat/ pemicu kejadian (Perilaku
Masyarakat) kelalaian manusia, kecemburuan sosial, dll)
f. Identifikasi tanda awal kejdaian/ peringatan dini yang
mungkin ada
g. Deskripsikan skenario secara singkat tetapi detil (3-5
paragrap)
Rekomendasi Pengembangan Resiko
Pada tanggal 31 Desember 2019, WHO China Country Office
melaporkan kasus pneumonia yang tidak diketahui etiologinya di Kota
Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Pada tanggal 7 Januari 2020, China
mengidentifikasi kasus tePuskesmas ebut sebagai jenis baru
coronavirus. Pada tanggal 30 Januari 2020 WHO menetapkan
kejadian tePuskesmas ebut sebagai Kedaruratan Kesehatan
Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD)/Public Health
Emergency of International Concern (PHEIC) dan pada tanggal 11
Maret 2020, WHO sudah menetapkan COVID-19 sebagai pandemi.
Dilihat dari situasi penyebaran COVID-19 yang sudah hampir
menjangkau seluruh wilayah keluarahan Kota Yogyakarta dengan
jumlah kasus dan/atau jumlah kematian semakin meningkat dan
berdampak pada aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan
dan keamanan, serta kesejahteraan masyarakat di Yogayakarta,
Pemerintah Indonesia telah menetapkan Keputusan Presiden Nomor
11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan
Masyarakat Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Keputusan

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 36


Presiden tePuskesmas ebut menetapkan COVID-19 sebagai jenis
penyakit yang menimbulkan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat
(KKM) dan menetapkan KKM COVID-19 di Indonesia yang wajib
dilakukan upaya penanggulangan sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Selain itu, atas pertimbangan penyebaran COVID- 19
berdampak pada meningkatnya jumlah korban dan kerugian harta
benda, meluasnya cakupan wilayah terdampak, serta menimbulkan
implikasi pada aspek sosial ekonomi yang luas di Indonesia, telah
dikeluarkan juga Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020 tentang
Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Corona Virus Disease
2019 (COVID-19) Sebagai Bencana Nasional. Pemerintah Daerah
Daerah Istimewa Yogyakarta telah menetapkan Keputusan Gubenur
DIY Nomor 254/KEP/2020 tentang Penetapan Perpanjangan
Keempat status Tanggap Darurat Corona Virus Disease 2019
(COVID-19)
Untuk itu dalam rangka upaya Pencegahan , pengendalian dan
penannggulangan wabah COVID-19, Walikota yogyakarta daerah
istimewa yogyakarta keputusan Walikota yogyakarta nomor 291 tahun
2020 tentang pembentukan Gugus Tugas percepatan penanganan
corona virus disease 2019 (covid-19) Kota Yogyakarta
Penanggulangan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dilakukan
melalui penyelenggaraan kekarantinaan, Isolasi mandiri Rumah , Isolasi
mandiri Shelter Bener , Isolasi Mandiri Wilayah dan Perawatan pasien
konfirmasi di Rumah Sakit Rujukan . Dalam penyelenggaraan Isolasi
Mandiri di Rumah, Isolasi Mandiri di wilayah, Isolasi mandiri Shelter
setelah dilakukan penapisan secara berjenjenang dan komprehensif
melibatkan wilayah .
Untuk memutus penularan COVID-19 diperlukan upaya
pencegahan dan pengendalian COVID-19 secara cepat tepat dan
tePuskesmas truktur dimulai , meningkatkan kualitas Sarana prasarana
termasuk APD, Peningktana Mutu Pelayanan di Puskesmas dan
PUSKESMAS Rujukan , meningkatkan tracing / penelusuran kasus
suspek , meningkatkan disiplin protokol kesehatan dan meningkatkan

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 37


pemberdayan masyarakat dalam Pencegahan dan Pengendalian COVID
19.
Berdasarkan kajian yang ada, hanya 20% pasien terinfeksi
yang memerlukan perawatan di rumah sakit, sedangkan 80% yang
karantina mandiri dan isolasi diri di rumah yang hal ini merupakan tugas
Puskesmas bePuskesmas ama lintas sektor yang terlibat sebagai Tim
Satgas COVID-19 Kecamatan/Desa/Kelurahan untuk melakukan
pengawasan.

D. PETA RAWAN BENCANA

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 38


E. PENGORGANISASIAN
Untuk memudahkan koordinasi dan mengintegrasikan seluruh
komponen dalam sistem komando di Puskesmas , maka diperlukan
lokasi sebagai tempat pusat komando. Pusat komando ini digunakan
sebagai pusat komunikasi dengan pihak luar, pusat penyampaian
informasi kepada publik. Identifikasi kapasitas dan sumber daya yang
ada dan sekaligus sebagai pusat koordinasi terpadu keseluruhan sistem
penanggulangan bencana.
Sebagai Pusat Komando yaitu Ruang Pertemuan . Pusat
Komando sebagai tempat pusat komando maka perlu dilengkapi dengan
akses telepon keluar, papan-papan informasi, akses internet dan sarana
lain yang diperlukan.
Organisasi sistem komando
Sistem Komando setidaknya mengandung unsur-unsur utama yaitu
1. Komando Penanggulangan Bencana
2. Penanggung jawab Operasi : Epidemiolgi, Sistem Pelayanan dan
Surveilans
3. Penangung Jawab Perencanaan

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 39


4. Penangung Jawab Logistik; Sarana Prasarana, alat kesehatan ,
Obat dan Reagen dan alat Laboratorium
5. Penaqngung Jawab Data Informasi dan Laporan
Selain komponen dasar tePuskesmas ebut masih banyak komponen
lain yang perlu ditambahkan sesuai dengan kondisi dan situasi Puskesmas
. Gambaran keseluruhan sistem komando di Puskesmas tercantum pada
gambar di halaman berikut :
Penanggung Jawab : …………………………………….
I. Ketua Tim Komando : ……………………………………..
Sekretaris : …………………………………….
Hubungan Masyarakat : ……………………………………..
Staf Sekretaris : …………………………………….
Perwakilan Lembaga-Instansi BPBD : ……………………………………..
Keamanan dan Keselamatan Pasien : ……………………………………

II. Bidang Pelayanan : ………………………………..


1. Unit Pelayanan Medis : …………………………………
a. Koordinator Unit Triase : ………………………………….
b. Koordinator Unit UGD : …………………………………
c. Koordinator Pelayanan Klinis : …………………………………..
2. Unit Pelayanan Kesmas : …………………………………..
3. Unit Laboratorium : ……………………………….....

IV. Bidang Logistik : ………………………………….


1. Koordinator Sarana Prasarana, alat kesehatan : …………….
2. Koordinaor Obat dan Reagen Laboratorium : ………………

V. Penaqngung Jawab Data Informasi dan Laporan : …………..

b. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB


Selain menggambarkan garis koordinasi dan komando maka perlu
adanya kejelasan tugas dan tanggung jawab pePuskesmas onil yang ada
dalam sistem komando tePuskesmas ebut. Berikut ini uraian tugas dari
masing-masing fungsi yang ada dalam sistem komando.

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 40


1. Komandan Penanggulangan Bencana
a. Memimpin dan mengkondisikan semua unit untuk tanggap
terhadap bencana
b. Mengkoordinasikan semua unit untuk melaksanakan tugas sesuai
dengan job desription disaster plan
c. Mengaktifkan disaster plan sesuai dengan jenis bencana
d. Mengambil keputusan strategis terkait dengan dampak bencana
e. Bertanggung jawab terhadap jalannya disaster plan
f. Membuat laporan pada Kepala Puskesmas sebagai Komandan
Bencana
g. Koordinasi dengan Lintas program dan Lintas sektor saat terjadi
bencana
h. Memutuskan tim epidemiologi dan tim Surveilans
i. Menentukan petugas pengganti bila pejabat yang ditunjuk
berhalangan
Tugas dan tanggung jawab Komandan Penanggulangan Bencana ini
pada saat yang bePuskesmas angkutan tidak ditempat karena
kejadian bencana di luar jam kerja diampu oleh Tenaga Kesehatan
piket
2. Sekretaris
a. Bertanggung jawab terhadap kelancaran administrasi Puskesmas
b. Mendokumentasikan data penanganan/penanggulangan bencana
Puskesmas
c. Memfasilitasi tamu Kepala Puskesmas / Komandan
Penanggulangan Bencana termasuk media
d. Bertanggung jawab terhadap kecukupan tenaga di unit pelayanan
keamanan
e. Menginstruksikan kepada bawahan langsung untuk melaksanakan
tugas sesuai job description
f. Menentukan kebijakan teknis yang terkait dengan administrasi
Puskesmas
g. Berkoordinasi dengan fungsi/unit lain dan lintas program
h. Melaksanakan kebijakan yang telah ditentukan oleh Penanggung
Jawab Komandan Penanggulangan bencana

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 41


i. Bertanggung jawab terhadap keamanan aset Puskesmas di
unitnya
j. Membuat laporan akhir penanggulangan bencana
3. Perwakilan Lintas Sektor
a. Bertanggung jawab terhadap lembaga – instansi yang berkunjung
ke Puskesmas
b. Mewakili Komandan penanggulangan bencana dalam
berhubungan dengan instansi
4. Keamanan dan keselamatan pasien
a. Bertanggung jawab terhadap keselamatan dan keamanan pasien
selama bencana
b. Memantau mengenai keselamatan dan keamanan pasien selama
bencana
5. Hubungan Masyarakat
a. Bertanggung jawab terhadap informasi dan data yang disampaikan
ke publik
b. Mencari dan menerima informasi terkini terhadap situasi dan
perkembangan dalam Puskesmas maupun luar Puskesmas
c. Berkoordinasi dengan semua unit untuk kejelasan info
d. Memberikan laporan pada Komandan Penanggulangan Bencana
e. Memfasilitasi tamu Puskesmas
6. Bidang Pelayanan
a. Bertanggung jawab atas berlangsungnya operasional
penanggulangan bencana
b. Menginstruksikan kepada penanggung jawab pelayanan pada
bidangnya untuk melaksanakan tugas sesuai dengan job
description
c. Menentukan kebijakan yang terkait dengan operasional
d. Berkoordinasi dengan fungsi/unit yang lain
e. Melaksanakan kebijakan yang telah ditentukan oleh Komandan
Penanggulangan Bencana
f. Membuat laporan akhir penanggulangan bencana dalam bidang
operasional
7. Penangung Jawab Pelayanan Medik

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 42


a. Bertanggung jawab atas kelancaran pelayanan poliklinik dan
bangsal rawat inap saat bencana bila ada
b. Mengatur kesiapan SDM baik dokter , perawat, Bidan atau Nakes
lain
c. Menganalisis kebutuhan logistik medis dan non-medis di pelayanan
d. Berkoordinasi dengan fungsi/unit yang lain
e. Membuat laporan pelayanan penunjang saat bencana
8. Koordinator Unit Triase
a. Bertanggung jawab atas triase pasien
b. Mengatur pelayanan pasien setelah triase
c. Berkoordinasi dengan penanggung jawab operasional
d. Membuat laporan triase saat bencana
9. Koordinator Unit Gawat Darurat
a. Bertanggung jawab atas pelayanan Instalasi Gawat Darurat
b. Mengatur kesiapan SDM Instalasi Gawat Darurat dan sarana
prasarana sesuai kebutuhan
c. Mengaktifkan pelayananUGD darurat jika diperlukan
d. Bertanggung jawab atas keamanan aset Puskesmas di Unit Gawat
Darurat
e. Berkoordinasi dengan penanggung jawab operasional Pelayanan
f. Membuat laporan pelayanan unit Gawat Darurat saat bencana
10. Koordinator Unit Rawat Inap kalua ada
a. Bertanggung jawab terhadap pelayanan rawat inap
b. Mengatur kesiapan SDM rawat inap dan sarana prasarana sesuai
kebutuhan
c. Mengaktifkan pelayanan rawat inap darurat jika diperlukan
d. Bertanggung jawab terhadap aset rawat inap di Puskesmas
e. Berkoordinasi dengan penanggung jawab operasional pelayanan
f. Membuat laporan pelayanan rawat inap saat bencana
11. Koordinator Unit Mobil Tim / Ambulance
a. Bertanggungjawab terhadap pelayanan mobil tim selama bencana
b. Melaksanakan mobil tim sesuai dengan arahan Komandan
Penanggulangan Bencana
c. Bertanggung jawab terhadap aset Puskesmas dalam mobil tim

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 43


d. Membuat laporan mengenai mobil tim saat bencana
12. Koordinator Keperawatan pasien
a. Bertanggung jawab atas pemetaan kebutuhan dan pemenuhan
SDM Keperawatan
b. Bertanggung jawab atas pendistribusian SDM Keperawatan
c. Bertanggung jawab pada relawan Keperawatan
d. Membuat laporan kepada Penanggung Jawab Bencana
13. Koordinator Asuhan Keperawatan
a. Bertanggung jawab terhadap asuhan keperawatan yang dilakukan
oleh perawat
b. Mengecek asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat
c. Berkoordinasi dengan Koordinator Pelayanan medik
d. Membuat laporan setelah selesai bencana
14. Koordinator Pelayanan Penunjang dan Laboratorium
a. Bertanggung jawab atas kelancaran pelayanan farmasi, dan
laboratorium saat bencana
b. Mengatur kesiapan SDM di pelayanan penunjang
c. Bertanggung jawab atas keamanan aset Puskesmas

d. Mengananlisa kebutuhan pelayanan penunjang


e. Berkoordinasi dengan Koordinator Operasional Pelayanan dan unit
yang lain
f. Membuat laporan penunjang saat bencana
15. Penangung jawab Bidang Perencanaan
a. Memastikan kecukupan tenaga operasional pada semua titik
b. Bertanggung jawab atas perencanaan Puskesmas bersifat jangka
pendek, jangka panjang dan menengah
c. Membuat perencanaan tenaga cadangan, kecukupan sarana
prasarana dan logistik yang diperlukan
16. Penangung jawab Sumber Daya
a. Bertanggung jawab atas pemetaan kebutuhan dan pemenuhan
SDM umum
b. Bertanggung jawab atas pendistribusian SDM

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 44


c. Bertanggung jawab atas pengelolaan hak dan kewajiban SDM saat
bencana
d. Membuat laporan akhir penanggulangan bencana
17. Koordinator Unit Security
a. Bertanggung jawab atas keamanan pasien, karyawan, jalur lalu
lintas, sarana dan prasarana di Puskesmas saat bencana
b. Bertanggung jawab terhadap kecukupan tenaga di unit pelayanan
keamanan
c. Menginstruksikan kepada tugas bawahan langsung untuk
melaksanakan tugas sesuai dengan job description
d. Menentukan kebijakan teknis yang berkaitan dengan keamanan
e. Berkoordinasi dengan fungsi/unit lain
f. Melaksanakan kebijakan yang telah ditentukan oleh bidang
Perencanaan
g. Membuat laporan akhir penanggulangan bencana
18. Koordinator epidemiologi dan surveilans
a. Bertanggung jawab atas kegiatan epidemiologi dan surveilans
b. Berkoordinasi dengan fungsi/unit yang lain
c. Membuat laporan akhir penanggulangan bencana
19. Koordinator Dokumentasi dan Rekam Medik
a. Bertanggung jawab atas pelayanan rekam medis pasien
b. Bertanggung jawab terhadap akurasi data pasien
c. Melakukan up date data pasien dan dilaporkan ke penanggung
jawab operasional per hari
d. Mengatur kesiapan SDM Rekam Medis dan sarana prasarana
sesuai kebutuhan
e. Membuat laporan pelayanan rekam medis
20. Penangung jawab Logistik sarana prasarana
a. Bertanggung jawab terhadap ketersediaan logistik saat terjadinya
bencana
b. Menginstruksikan kepada bawahan langsung untuk melaksanakan
tugas sesuai dengan job description
c. Menentukan kebijakan yang berkaitan dengan logistik
d. Berkoordinasi dengan bidang lain

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 45


e. Bertanggung jawab atas keamanan aset Puskesmas
f. Membuat laporan akhir penanggulangan bencana
21. Koordinator Unit Komunikasi data informasi dan laporan
a. Bertanggung jawab atas kestabilan jaringan informasi Puskesmas
b. Bertanggung jawab terhadap keamanan data Puskesmas
c. Bertanggung jawab terhadap kecukupan tenaga di unitnya
d. Berkoordinasi dengan fungsi/unit lain
e. Bertanggung jawab terhadap keamanan aset Puskesmas
f. Membuat laporan harian, mingguan dan akhir penanggulangaan
bencana
22. Koordinator Unit Makan Minum
a. Bertanggung jawab atas ketePuskesmas ediaan makan dan minum
bagi pasien dan karyawan
b. Bertanggung jawab pemetaan kebutuhan dan pemenuhan
pelayanan gizi
c. Menentukan kebijakaan teknik pengelolaan gizi
d. Membuat laporan akhir penanggulangan bencana
23. Koordinator Unit Suplai Obat Logistik Medis
a. Bertanggung jawab atas ketePuskesmas ediaan cadangan obat
logistik medis
b. Bertanggung jawan atas pendistribusian obat logistik medis
c. Bertanggung jawab atas pengelolaan obat dan logistik medis
bantuan
d. Membuat laporan akhir penanggulangan bencana
24. Koordnitaor Unit Suplai Logistik Non medis
a. Bertanggung jawab atas ketePuskesmas ediaan logistik non medis
saat bencana
b. Bertanggung jawab atas pendistribusian logistik non medis saat
bencana
c. Bertanggung jawab atas pengelolaan logistik non medis bantuan
d. Membuat laporan akhir penanggulangan bencana
25. Koordinator Pengadaan
a. Bertanggung jawab atas pengadaan selama bencana
b. Menindaklanjuti dan mengelola penggalangan bantuan

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 46


c. Berkoordinasi dengan fungsi/unit lain
d. Bertanggung jawab terhadap keamanan aset Puskesmas
e. Membuat laporan akhir penanggulangan bencana

26. Koordinator Seksi Klaim BPJS


a. Bertanggung jawab atas kelangkapan data klaim pasien
b. Bertanggung jawab atas pencairan klaim
c. Berkoordinasi dengan fungsi/unit lain
d. Bertanggung jawab atas keamanan aset Puskesmas
e. Membuat laporan akhir penanggulangan bencana

c. TAHAP KEWASPADAAN
Tahap kewaspadaan ini dimulai saat diperolehnya informasi tentang
kemungkinan terjadinya bencana. Dengan adanya informasi ini maka
komandan penanggulangan bencana melakukan beberapa hal untuk
memastikan bahwa Puskesmas dalam keadaan waspada.
1. Penilaian Awal
Proses ini dilakukan untuk mengetahui dan memastikan
informasi yang masuk ke Puskesmas , mencari tahu masalah yang
sedang terjadi dan risiko potensial yang akan dihadapi. Penilaian
awal ini untuk mengidentifikasi dan mengetahui bencana apa yang
terjadi, dimana lokasinya, kapan terjadi, perkiraan jumlah korban
dan sebagainya.
Informasi ini sagat penting untuk mempePuskesmas iapkan
sumber daya Puskesmas sehingga siap dan dapat diorganisir
dengan baik.
2. Pemberlakuan Kewaspadaan
Setelah komandan penanggulangan bencana mendapatkan
berbagai informasi maka dinyatakan Puskesmas dalam keadaan
“waspada” tahap kewaspadaan ini harus disebarluaskan kepada
seluruh unit di Puskesmas .
3. Kesiap-siagaan dalam Kewaspadaan
Komandan penanggulangan bencana melakukan koordinasi
dan segera melakukan :

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 47


a. Mobilisasi sumber daya sesuai dengan yang dibutuhkan
b. Penyiapan daerah penerimaan pasien
c. Mengatur arus informasi yang masuk
d. Penyiapan penambahan kapasitas Puskesmas

d. PEMBERLAKUAN RENCANA
1. Pemberlakuan Disaster Plan
Pemberlakuan Disaster Plan Puskesmas dilakukan oleh Kepala
Puskesmas setelah mendapatkan laporan-laporan dari berbagai pihak.
Setelah Disaster Plan dilakukan maka komandan penanggulangan
bencana :
a. Menginformasikan kepada seluruh unit yang ada di Puskesmas
b. Mengaktifkan organisasi sistem komando dan menginstruksikan
agar segera melaksanakan tugas sesuai dengan tugas dan
tanggung jawab semua komponen yang ada dalam organisasi
sistem komando.
c. Apabila bencana terjadi di luar jam kerja dan/atau Kepala
Puskesmas tidak bisa dihubungi, maka yang berwenang untuk
memberlakukan disaster plan adalah pejabat paling tinggi yang ada
pada saat tersebut.
2. Triage
Salah satu hal penting dalam proses penanganan korban
bencana adalah triage yang dilakukan oleh operasional medis. Dalam
keadaan bencana dimana jumlah korban melebihi kapasitas UGD
maka proses triage tidak dilakukan di pintu UGD seperti biasanya.
Sebagai tempat yang disepakati untuk melakukan proses triage adalah
halaman parkir depan UGD Pintu utara gerbang parkir merupakan
tempat melakukan triage, kemudian pasien akan diarahkan ke tempat
sesuai dengan kondisi hasil triage. Sebagai alat bantu untuk
mengidentifikasi pasien dan lokasi maka disiapkan label triage dan
papan penanda lokasi triage.
Lokasi
Area triage adalah di parkir depan Puskesmas
- Merah : ……………….

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 48


- Kuning : ………………
- Hijau : ………………..
- Hitam : ………………..
3. Tempat Evakuasi
Meningkatnya jumlah pasien pada saat terjadi bencana
memungkinkan perlunya tempat evakuasi terutama apabila bencana
internal yang mengakibatkan kerusakan Puskesmas sehingga
Puskesmas tidak memungkinkan memberikan pelayanannya terutama
terutama rawat inap. Selain itu juga bisa terjadi apabila jumlah pasien
melebihi kapasitas kemampuan Puskesmas . Ada beberapa alternatif
yang bisa digunakan sebagai tempat evakuasi baik di lingkungan
Puskesmas atau sekitar Puskesmas yaitu :
a. Tempat-tempat evakuasi /Shelter Isolasi
b. Halaman depan Puskesmas tempat upacara
4. Jalur evakuasi
Dalam penanganan bencana internal, jalur evakuasi menjadi
salah satu hal penting yang harus disiapkan dan disosialisasikan
kepada semua komponen yang ada di Puskesmas baik karyawan,
pasien maupun pengunjung. Hal ini dilakukan agar apabila terjadi
bencana internal yang memerlukan proses evakuasi bisa dilakukan
dengan baik tanpa menimbulkan bencana berikutnya akibat proses
evakuasi yang tidak sistematis. Jalur evakuasi ini terutama
menggambarkan proses pergerakan evakuasi pasien selanjutnya
keluar dari Puskesmas . Selain denah jalur evakuasi, untuk proses
sosialisasi kepada semua komponen yang ada di Puskesmas maka
dibuat petunjuk-petunjuk yang ditempel dibeberapa tempat untuk
memudahkan proses evakuasi pasien

5. Pengakhiran Bencana
Pengakhiran bencana ini ditentukan oleh Direktur setelah
mempertimbangkan berbagai hal, yaitu :
1. Pasien yang ada telah bisa ditangani dengan baik, baik di dalam
Puskesmas ataupun dirujuk ke Rumah Sakit
2. Fasilitas yang ada di Puskesmas dapat dipergunakan kembali

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 49


3. Sumber daya mausia Puskesmas sudah mampu mengambil alih
4. Puskesmas telah mampu kembali ke kegiatan normal
Setelah pengakhiran bencana ini diberlakukan, maka komandan
penanggulangan bencana harus melakukan koordinasi dengan seluruh
tim untuk membuat laporan dan melakukan evaluasi terhadap seluruh
kegiatan selama rencana kontijensi dijalankan guna perbaikan di
waktu yang akan datang.
6. Pelaporan
Pelaporan dapat dilakukan secara lisan maupun tertulis agar
komandan penanggulangan bencana dapat memperoleh umpan balik
segera tentang informasi yang berhubungan dengan korban bencana,
kegiatan penanggulangan bencana yang sudah dilakukan, jenis dan
jumlah bantuan, data-data klaim dan sebagainya. Format pelaporan
dapat disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang ada pada waktu
bencana. Sebagai contoh dapat digunakan data sebagai berikut :
a) Pelaporan Korban Bencana
Isi Laporan :
- Nama
- Jenis kelamin
- Usia
- Pekerjaan
- Alamat
- Tempat kejadian
- Diagnosis
- Status : pulang / dirawat / meninggal
- Biaya
b) Alur Pelaporan Korban
a. Data dikumpulkan dari Instalasi Gawat Darurat, Instalasi Rawat
Inap, Klinik
b. Data dikompilasi dan dimasukkan dalam format laporan oleh
rekam medis

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 50


c. Laporan dikirimkan kepada instansi terkait baik internal maupun
eksternal : Direksi, Pusat Penanggulangan Bencana DIY, Dinas
Sosial dan instansi lain yang membutuhkan
c) Waktu Pelaporan : segera saat kejadian dan di-update setiap 24
jam
d) Pelaporan Kegiatan
- Isi laporan
- Data korban
- Data tindakan pertolongan dan penanggulangan bencana
- Rincian biaya
- Alur laporan
e) Data dikumpulkan dari Unit Gawat Darurat, Unit Rawat Jalan lain
Puskemas , unit lain sebagai sumber data
f) Data dikompilasikan dan dibuat laporan kepada komandan
penanggulangan bencana dan Komandan Bencana
g) Waktu pelaporan
- Segera setelah bencana reda
- Setelah penanggulangan selesai
h) Evaluasi
Evaluasi dilakukan pada saat rapat koordinasi tim
penanggulangan bencana untuk mengumpulkan dan mengalisis
kendala-kendala yang terjadi saat penanggulangan bencana dan
penanganan pada korban. Evaluasi dilakukan terhadap peralatan,
waktu, situasi dan kondisi dll
7. Sosialisasi
Salah satu keberhasilan dalam penerapan pedoman
penanggulangan bencana adalah pada tahap sosialisasi. Tahapan ini
merupakan aktivitas dalam rangka mengenalkan, memberikan
pemahaman kepada semua karyawan di Puskesmas , pasien dan juga
pengunjung. Dengan proses sosialisasi yang optimal diharapkan
semua karyawan paham dan mengerti akan tugas masing-masing
serta mengetahui hal-hal yang terkait dengan penanggulangan
bencana di Puskesmas .

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 51


Rencana sosialisasi kepada seluruh karyawan akan dilakukan
dengan
1. Pendistribusian dokumen disaster plan Puskesmas ke seluruh unit
di Puskesmas
2. Sosialisasi lewat forum-forum pertemuan yang ada di Puskesmas
3. Pemasangan plakat-plakat, petunjuk-petunjuk dan rambu-rambu
yang berkaitan dengan informasi penanganan bencana.

8. Pelatihan dan Simulasi


Untuk membekali semua sumber daya insani yang ada di
Puskesmas supaya siap dalam penanggulangan bencana di
Puskesmas baik internal maupun eksternal maka diperlukan beberapa
kegiatan pelatihan. Berbagai pelatihan medis telah dilaksanakan oleh
HOPE pusat dan beberapa dokter Puskesmas telah diikutsertakan.
Demikian pula dengan tenaga perawat. Selain itu Puskesmas juga
akan menyelenggarakan pelatihan terkait dengan sistem penanganan
bencana misalnya penanganan kebakaran bekerja sama dengan
Dinas Kebakaran setempat. Penggunaan jalur evakuasi juga perlu
dilatihkan agar pada saatnya nanti semua karyawan mengenali dan
paham terhadap jalur evakuasi yang telah dibuat.
Secara keseluruhan, sistem penanggulanganbencan di
Puskesmas akan disimulasikan sebagai media untuk evaluasi dan
menguji kesiapsiagaan serta keterpaduan sistem yang ada.

9. Dokumentasi
1. Data rekam medis
2. Data diagnosa
3. Data penunjang medik (laboratorium dll)
4. Ceklist data pre dan post

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 52


F. PEDOMAN PANDUAN DAN SOP
1. Pedoman / Panduan dan SOP Penyiapan Tenaga dari Puskesmas dan
tenaga dari Relawan
2. Pedoman / Panduan dan SOP Pelayanan Darurat Medis atau
Pengiriman Tim Emergensi Medis Terpadu ( EMT)
3. Pedoman / Panduan Alur Pelayanan Umum dan Pelayanan kondisi
Bencana
4. Pedoman / Panduan dan SOP (penerimaan, distribusi, pelaporan
relawan kesehatan.
5. Pedoman / Panduan dan SOP (Data Informasi dan pelaporan
perkembangan insiden ) dan Rujukan
6. Pedoman / Panduan dan SOP Penerimaan (distribusi, pelaporan)
bantuan/ donasi medis/non medis
7. Pedoman / Panduan dan SOP Tindakan Medis
8. Pedoman / Panduan dan SOP Pelayanan Program dan Pelayanan
Essensial ( Imunisasi, TB, dll)
9. Pedoman / Panduan dan SOP Pengelolaan Sarana Prasarana Obat
dan alat kesehatan
10. dll

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 53


G. ISTILAH –ISTILAH BENCANA COVID
Istilah-istilah yang digunakan dalam Pedoman Penanggulangan
Bencana di Puskesmas adalah :
1. Bencana adalah segala kejadian yang menyebabkan kerugian,
gangguan ekonomi, kerugian jiwa manusia dan kemerosotan
kesehatan dan pelayanan kesehatan dengan skala yang cukup besar
sehingga memerlukan penanganan lebih besar dari biasanya dari
masyarakat atau daerah luar yang tidak terkena dampak.
2. Disaster Plan Puskesmas adalah pedoman rencana terpadu yang
digunakan oleh semua petugas Puskesmas untuk melakukan
tindakan-tindakan dan langkah-langkah dalam memberikan pelayanan
kepada masyarakat baik sebelum bencana,pada saat bencana
maupun setelah bencana.
3. Fase Siaga Bencana adalah periode waktu saat diterima informasi
adanya bencana sampai ditentukan berlakunya Pedoman
Penanggulangan Bencana.
4. Fase Tanggap Darurat Bencana adalah periode tindak lanjut yang
dilakukan oleh Puskesmas terhadap informasi yang didapatkan
mengenai bencana yang terjadi.
5. Fase Pemulihan / Isolasi adalah pelayanan kesehatan yang dilakukan
terhadap korban bencana yang dirawat di Rumah secara Mandiri , di
Shelter yang disediakan
6. Bencana Internal adalah bencana yang terjadi di dalam Puskesmas
baik karena bencana alam maupun bencana buatan manusia.
7. Mitigasi adalah upaya-upaya mengurangi resiko bencana, baik melalui
pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan
menghadapi ancaman bencana.
8. Tanggap Darurat Bencana adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk
menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan
penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan
kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi,
penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 54


9. Hazard adalah terjadinya peristiwa alam ( Covid 19) atau buatan
manusia yang menimbulkan akibat negatif terhadap kehidupan
manusia dan lingkungannya.
10.Rawan Bencana adalah kondisi geologis, biologis, hidrologis,
geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu
wilayah dalam jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan
mencapai kesiapan,dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi
dampak buruk bahaya tertentu.
11.Korban Massal adalah korban akibat kejadian dengan jumlah relatif
banyak oleh karena sebab yang sama dan perlu mendapatkan
pertolongan kesehatan segera dengan menggunakan sarana, fasilitas
dan tenaga yang lebih dari yang tePuskesmas edia sehari-hari.
12.Pengungsi / Isolasi adalah orang atau sekelompok orang yang
terpaksa atau dipaksa keluar dari tempat tinggalnya dan menetap di
tempat yang lain dalam jangka waktu yang tidak menentu disebabkan
karena adanya bencana ( Shelter Isolasi / karantina)
13.Kontak erat adalah Orang yang memiliki riwayat kontak dengan
kasus probable atau konfirmasi COVID-19, Riwayat kontak yang
dimaksud antara lain: Kontak tatap muka/berdekatan dengan kasus
probable atau kasus konfirmasi dalam radius 1 meter dan dalam
jangka waktu 15 menit atau lebih; Sentuhan fisik langsung dengan
kasus probable tangan, dan lain-lain); Orang yang memberikan
perawatan langsung terhadap kasus probable atau konfirmasi
tanpa menggunakan APD yang sesuai standar; Situasi lainnya yang
mengindikasikan adanya kontak berdasarkan penilaian risiko lokal
yang ditetapkan oleh tim penyelidikan epidemiologi setempat; Pada
kasus probable atau konfirmasi yang bergejala (simptomatik),
untuk menemukan kontak erat periode kontak dihitung dari 2 hari
sebelum kasus timbul gejala dan hingga 14 hari setelah kasus timbul
gejala. Pada kasus konfirmasi yang tidak bergejala (asimptomatik),
untuk menemukan kontak erat periode kontak dihitung dari 2 hari
sebelum dan 14 hari setelah tanggal pengambilan spesimen kasus
konfirmasi.

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 55


14.Kasus Suspek adalah seseorang yang memiliki salah satu kriteria
berikut ; Orang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)* dan
pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat
perjalanan atau tinggal di negara/wilayah Indonesia yang
melaporkan transmisi local; Orang dengan salah satu gejala/tanda
ISPA* dan pada 14 Hari Terakhir sebelum timbul gejala memiliki
riwayat kontak dengan kasus konfirmasi / probable COVID-19
(Kasus suspek dengan ISPA Berat/ARDS***/meninggal dengan
gambaran klinis yg meyakinkan covid 19 dan belum ada pemeriksaan
Lab RT PCR); Orang dengan ISPA berat/pneumonia berat*** yang
membutuhkan perawatan di rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain
berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan
15.Orang Tanpa Gejala / OTG adalah Kasus Konfirmasi Tanpa Gejala

H. MANAJEMEN FASILITAS
 Manajemen Fasilitas dan Keselamatan ( MFK) perlu disusun setiap
tahun dan diterapkan, yang meliputi:

a) Manajemen Keselamatan dan keamanan.

Keselamatan adalah suatu keadaan tertentu dimana bangunan,


halaman/ground, prasarana, peralatan Puskesmas, tidak
menimbulkan bahaya atau risiko bagi pasien, petugas dan
pengunjung, dan masyarakat , Keamanan adalah proteksi/
perlindungan dari kehilangan, pengrusakan dan kerusakan,
kekerasan fisik, penerapan kode-kode darurat atau akses serta
penggunaan oleh mereka yang tidak berwenang.

b) Manajemen Bahan dan Limbah Berbahaya dan Beracun (B3), yang


meliputi: penanganan, penyimpanan dan penggunaan bahan
berbahaya lainnya harus dikendalikan, dan limbah bahan berbahaya
dibuang secara aman.

Program B3 meliputi:

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 56


1) penetapan jenis, area/lokasi penyimpanan B3 sesuai ketentuan
perundangan
2) pengelolaan, penyimpanan dan penggunaan B3 sesuai ketentuan
perundangan
3) penggunaan APD yang sesuai untuk penggunaan dan penaganan
tumpahan dan paparan yang sesuai ketentuan perundangan
4) sistem pelabelan yang sesuai ketentuan perundangan
5) sistem pendokumentasian dan perizinan
6) sistem pelaporan dan investigasi jika terjadi tumpahan dan atau
paparan
c) Manajemen Bencana/disaster, yaitu tanggapan terhadap wabah,
bencana dan keadaan kegawatdaruratan akibat bencana
direncanakan dan efektif.

Program tanggap darurat bencana internal dan eksternal yang


meliputi:

1) identifikasi jenis, kemungkinan, dan akibat dari bencana yang


mungkin terjadi (HVA),
2) strategi komunikasi jika terjadi bencana,
3) manajemen sumber daya,
4) penyediaan pelayanan dan alternatifnya,
2) identifikasi peran dan tanggung jawab tiap karyawan, dan
manajemen konflik yang mungkin terjadi pada saat bencana
d) Manajemen Pengamanan Kebakaran: Puskesmas wajib melindungi
properti dan penghuni dari kebakaran dan asap.

Program pencegahan dan penanggulangan kebakaran secara umum


meliputi pencegahan terjadinya kebakaran dengan melakukan
identifikasi area berisiko bahaya kebakaran dan ledakan,
penyimpanan dan pengelolaan bahan-bahan yang mudah terbakar,
penyediaan proteksi kebakaran aktif dan pasif. Secara khusus,
program penanggulangan akan berisi:

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 57


[1]. frekuensi inspeksi, pengujian, dan pemeliharaan sistem proteksi
dan penanggulangan kebakaran secara periodik (minimal satu
kali dalam satu tahun)
[2]. jalur evakuasi yang aman dari api, asap dan bebas hambatan.
[3]. proses pengujian sistem proteksi dan penanggulangan
kebakaran dilakukan selama kurun waktu 12 bulan
[4]. edukasi pada staf terkait sistem proteksi dan evakuasi pasien
yang efektif pada situasi bencana
[5]. Manajemen Alat kesehatan

Untuk mengurangi risiko, alat kesehatan dipilih, dipelihara dan


digunakan sesuai dengan ketentuan. Kegiatan tePuskesmas ebut
ditujukan untuk:

[1]. memastikan bahwa semua alat kesehatan tePuskesmas edia


dan berfungsi dengan baik
[2]. memastikan bahwa individu yang melakukan pengelolaan
memiliki kualifikasi yang sesuai dan kompeten
[3]. Manajemen Sistem utilitas meliputi sistem listrik bePuskesmas
umber PLN, sistem air, sistem gas medis dan sistem pendukung
lainnya seperti generator (Genset), perpipaan air dipelihara
untuk meminimalkan risiko kegagalan pengoperasian, dan
harus dipastikan tePuskesmas edia 7 (tujuh) hari 24 ( dua puluh
empat ) jam
[4]. Edukasi /pendidikan petugas tentang Manajemen MFK.

 Inventarisasi, pengelolaan, penyimpanan dan penggunaan bahan


berbahaya beracun serta pengendalian dan pembuangan limbah
bahan berbahaya beracun dilakukan berdasarkan perencanaan yang
memadai dan ketentuan perundangan.

Bahan berbahaya beracun (B3) dan limbah B3 perlu diidentifikasi dan


dikendalikan secara aman. WHO telah mengidentifikasi bahan
berbahaya dan beracun serta limbahnya dengan katagori sebagai
berikut: infeksius; patologis dan anatomi; farmasi; bahan kimia; logam

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 58


berat; kontainer bertekanan; benda tajam; genotoksik/sitotoksik;
radioaktif. Puskesmas perlu menginventarisasi B3 meliputi lokasi,
jenis, dan jumlah serta limbahnya disimpan. Daftar inventarisasi ini
selalu mutahir (di-update) sesuai dengan perubahan yang terjadi di
tempat penyimpanan.Penyediaan TPS limbah B3 dan IPAL sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

 Puskesmas menyusun, memelihara, melaksanakan, dan


mengevaluasi program tanggap darurat bencana internal dan eksternal

i. Potensi terjadinya bencana di daerah berbeda antara daerah


yang satu dan yang lain. ( Identifikasi bencana)
ii. Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama
(FKTP) ikut bertanggung jawab untuk berperan aktif dalam
upaya mitigasi dan penanggulangan bila terjadi bencana baik
internal maupun eksternal.
iii. Strategi dan rencana untuk menghadapi bencana perlu
disusun sesuai dengan potensi bencana yang mungkin
terjadi berdasarkan hasil penilaian kerentanan bahaya
(Hazard Vulnerability Assesment). HVA
iv. Program pePuskesmas iapan bencana disimulasikan
(disaster drill) setiap tahun secara internal atau melibatkan
komunitas secara luas, terutama ditujukan untuk menilai
kesiapan sistem 2 sd 5 yang telah diuraikan di kriteria 1.4.1
program manajemen bencana /disaster. ( strategi komunikasi
jika terjadi bencana, manajemen sumber daya, penyediaan
pelayanan dan alternatifnya, identifikasi peran dan tanggung
jawab tiap karyawan, dan manajemen konflik yang mungkin
terjadi pada saat bencana)
v. Setiap karyawan wajib mengikuti pelatihan/ lokakarya dan
simulasi dalam pelaksanaan program tanggap darurat agar
siap jika sewaktu-waktu terjadi bencana yang
diselenggarakan minimal setahun sekali.

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 59


vi. Debriefing adalah sebuah review yang dilakukan setelah
simulasi bePuskesmas ama peserta simulasi dan observer
yang bertujuan untuk menindaklanjuti hasil dari simulasi.
vii. Hasil dari kegiatan debriefing didokumentasikan.

 Puskesmas menyusun, memelihara, melaksanakan, dan melakukan


evaluasi program pencegahan dan penanggulangan bahaya
kebakaran, COVID 19 termasuk sarana Rujukan dan evakuasi

 Puskesmas menyusun program untuk menjamin ketePuskesmas


ediaan alat kesehatan yang dapat digunakan setiap saat. Agar tidak
terjadi keterlambatan atau gangguan dalam pelayanan pasien, alat
kesehatan harus tePuskesmas edia, berfungsi dengan baik, dan siap
digunakan setiap saat diperlukan. Program yang dimaksud meliputi
kegiatan pemeriksaan dan kalibrasi secara berkala, sesuai dengan
panduan produk tiap alat kesehatan. Dalam melakukan pemeriksaan
alat kesehatan, petugas memeriksa antara lain: kondisi, ada tidaknya
kerusakan, kebePuskesmas ihan, status kalibrasi, dan fungsi alat. Alat
kesehatan dapat dilakukan recall oleh pemerintah dan/atau produsen
dan/atau distributor akibat adanya risiko keselamatan Jika ada alat
kesehatan yang dilakukan recall, harus dilaksanakan penarikan agar
tidak digunakan dan dipandu oleh prosedur yang baku.

• Puskesmas menyusun dan melaksanakan program untuk memastikan


semua prasarana atau sistem utilisasi berfungsi dan mencegah
terjadinya ketidak tePuskesmas ediaan, kegagalan, atau kontaminasi.
Prasarana atau sistem utilisasi meliputi air, listrik, gas medis dan
sistem penunjang lainnya seperti genset, panel listrik, perpipaan air
dan lainnya.
Dalam memberikan pelayanan kesehatan pada pasien,
dibutuhkan ketePuskesmas ediaan listrik, air dan gas medis, serta
prasarana lain, seperti Genset, panel listrik, perpipaan air, ventilasi,
sistem jaringan dan teknologi informasi, sistem deteksi dini
kebakaran yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing
Puskesmas. Program pengelolaan sistem utilitas perlu disusun untuk

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 60


menjamin ketePuskesmas ediaan dan keamanan dalam menunjang
kegiatan pelayanan Puskesmas.Sumber air adalah sumber air
bePuskesmas ih dan air minum. Sumber air dan listrik cadangan
perlu disediakan untuk pengganti jika terjadi kegagalan air dan/ atau
listrik. Prasarana air, listrik, dan prasarana penting lainnya, seperti
genset, perpipaan air, panel listrik, perlu diperiksa dan dipelihara
untuk menjaga ketePuskesmas ediaannya untuk mendukung
kegiatan pelayanan pasien. Untuk prasarana air perlu dilakukan
pemeriksaan air bePuskesmas ih, termasuk pemeriksaan uji kualitas
air secara periodik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
• Puskesmas menyusun dan melaksanakan pendidikan manajemen
fasilitas dan keselamatan bagi petugas. Dalam rangka meningkatkan
pemahaman, kemampuan, dan keterampilan dalam pelaksanaan
manajemen fasilitas dan keselamatan (MFK) perlu dilakukan
pendidikan petugas agar dapat menjalankan peran mereka dalam
menyediakan lingkungan yang aman bagi pasien, petugas, dan
masyarakat. Pendidikan petugas dapat berupa edukasi, pelatihan,
dan in house training/workshop/lokakarya. Pendidikan petugas
sebagaimana dimaksud tertuang dalam rencana program pendidikan
manajemen fasilitas dan keselamatan.
• Cara melaksanakan kegiatan ; Menyusun Tim untuk melaksanakan
kegiatan simulasi dan sosialisasi dengan melibatkan BPBD sebagai
narasumber dalam pelatihan simulasi/sosialisasi penanganan
bencana Pandemi Covid 19 bagi karyawan serta melibatkan pasien
dan pengunjung Puskesmas , Menyusun Tim untuk melaksanakan
kegiatan simulasi dan sosialisasi penanggulangan dan Pengendalian
Pandemi Covid 19 bagi karyawan Puskesmas dengan melibatkan
Dinas Kesehatan , Dinas Kebakaran dan UPTD 118.
Pelatihan/sosialisasi Pencegahan dan Pengendalian Pandemi Covid
19 bagi karyawan Puskesmas. Pelatihan/simulasi dan sosialisasi
Pencegahan dan Pengendalian Pandemi Covid 19 bagi karyawan
serta melibatkan pasien dan pengunjung Puskesmas

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 61


Evaluasi pelaksanaan kegiatan dan pelaporan; Evaluasi
dilaksanakan setiap kali setelah dilaksanakan kegiatan
pelatihan/sosialisasi baik simulasi kebakaran maupun simulasi
Pencegahan dan Pengendalian Pandemi Covid 19. Berkaitan
pembayaran maka kegiatan tePuskesmas ebut disertai dokumen-
dokumen kelengkapan administratif guna pencairan pembayaran dan
dokumentasi.
Pencatatan, pelaporan dan evaluasi kegiatan; Pencatatan dan
dokumentasi dilakukan guna evaluasi kegiatan dan juga pelaporan
kepada Bidang Penunjang dan Sarana.

I. RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PENANGANAN COVID-19


DI PUSKESMAS

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 62


Rencana Program dan Kegiatan Penanganan Covid 19 ;

Frekuensi Waktu Output Pj dan terkait


No. PROGRAM Uraian Sasaran (Volume) Penguk
uran Deskripsi Target
1 Penemuan Kasus dan Kajian Epidemiologi
a. Penyelidikan Penyelidikan Epidemiologi Area kontak Setiap Harian Penyelidikan 100% Pj : Dinas Kesehatan
Epidemiologi (PE) untuk mengetahui konfirmasi konfirmasi (lapora Epidemiologi (PE), (Surveilans Dinkes)
(PE), tracing penyebaran menurut positif Co-19 Co-19 n) tracing, analisis dan
dan analisis orang, wilayah dan waktu. (orang, positif penyusunan Terkait : Surveilans
b. Penyusunan Identifikasi determinan lingkungan dan rekomendasi Puskesmas, RT, RW dan
rekomendasi (faktor risiko), analisis dan waktu kejadian) dilaksanakan pada Kelurahan.
c. Disain penyusunan rekomendasi setiap kasus
Pengendalia tindak lanjut konfirmasi Co-19
n
d. Pengukuran Pengukuran insidensi Suspek, Harian Harian Terdata (terukur) 100% Pj : Dinas Kesehatan
kasus seluruh kasus ; suspek, probable, (lapora menurut kasus ; (Pengendalian Penyakit)
probable, konfirmasi Co- Konfirmasi Co- n) suspek, probable, Terkait : Puskesmas, RSP,
19, Sembuh dan 19, Sembuh dan konfirmasi Co-19, RS Rujukan, RS non
Meninggal Meninggal sembuh dan Rujukan.
meninggal
2 Tatalaksana Kasus
a. Tes RT-PCR (Swab) untuk Tenaga 1 kali setiap Minggu Setiap Tenaga 100% PJ : Dinas Kesehatan
diagnostik Tenaga Kesehatan kontak Kesehatan 1 orang an Kesehatan kontak (Pelayanan Kesehatan)
RT-PCR erat dengan konfirmasi kontak dengan Tenaga (lapora dengan konfirmasi Co-
(Swab) untuk positif Co-19 konfirmasi Co- Kesehatan n) 19 Terkait : Dinas Kesehatan
Kontak Erat 19 Propinsi, Puskesmas.
dan hasil RT-PCR (Swab)untuk Suspek, 1 kali setiap Minggu Setiap suspek dan 100%
skrining (kriteria) ; Probable 1 orang an probable sesuai
(Suspek/Pro  Suspek/kontak erat sesuai (lapora dengan kriteria
bable) dengan konfirmasi kriteria n)
positif Co-19
 Probable dg gejala
mengarah pneumonia
dengan riwayat
perjalanan dari daerah
dengan transmisi lokal
dan kontak dengan
konfirmasi (+) Co-19
b. Tatalaksana Melakukan tatalaksana Probable dan Setiap Harian Isolasi di rumah 100% PJ : Dinas Kesehatan
probable dan kasus probable dan suspek suspek penemuan (lapora (Pelayanan Kesehatan)
suspek sesuai standar (isolasi) kasus n)
suspek Terkait : PSC 119, BPBD
c. Tatalaksana Melakukan tatalaksana Konfirmasi Setiap Minggu Isolasi di rumah atau 100% PJ : Dinas Kesehatan
Konfirmasi kasus Konfirmasi positif positif Co-19 penemuan an isolasi terpadu (Pelayanan Kesehatan)
positif Co-19 Co-19 tanpa gejala dan tanpa gejala kasus (lapora (shelter)
gejala ringan dan gejala Konfirmasi n) Terkait : PSC 119, Dinsos,
ringan positif Co- BPBD
19 tanpa
gejala dan
gejala
ringan
Melakukan tatalaksana Konfirmasi Setiap Minggu Perawatan di RS untuk 100% PJ : Dinas Kesehatan
kasus Konfirmasi positif positif Co-19 penemuan an Konfirmasi positif Co- (Pelayanan Kesehatan)
Co-19 gejala berat gejala berat kasus (lapora 19 dengan gejala
Konfirmasi n) sedang s/d berat Terkait : PSC 119, BPBD
positif Co-
19 gejala
berat
Output Pj dan terkait
No. PROGRAM Uraian Sasaran Frekuensi waktu
(Volume)
Deskripsi Target

3 Tatalaksana Pasien di Fasyankes rujukan


Pelayanan pasien Dilaksanakan tatalaksana Pasien Setiap Minggu pasien COVID-19 100% Pj. Direktur RS
Covid-19 pasien Covid-19 sesuai konfirmasi pasien an dapat memperoleh
standar pelayanan Covid- positif Co-19 Covid-19 (lapora tatalaksana sesuai
19 di rumah sakit rujukan n) standar
Pelayanan pasien Dilaksanakan tatalaksana Pasien non Setiap Minggu pasien COVID-19 100% Pj. Direktur RS
non-Covid-19 pasien non Covid-19 dalam Covid-19 pasien non an dapat memperoleh
kondisi parah sesuai Covid-19 (lapora tatalaksana sesuai
standar pelayanan. n) standar
Pengukuran Kasus Pengukuran insidensi Suspek, Harian Harian Terdata (terukur) 100% Pj. Direktur RS
di RS Rujukan seluruh kasus ; suspek, probable, (lapora menurut kasus ;
probable, konfirmasi Co- Konfirmasi Co- n) suspek, probable,
19, Sembuh dan 19, Sembuh dan konfirmasi Co-19,
Meninggal Meninggal sembuh dan
meninggal
4 Pencegahan (di ruang lingkup penangan)

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 63


b. Komunikasi, Edukasi tentang Covid_19 Pasien Harian, Setiap Setiap pengunjung 100% Pj : Dinas Kesehatan
edukasi dan dan protokol kesehatan ; (masyarakat)/p hari mendapatkan
informasi jaga jarak, pakai masker, engunjung kerja edukasi tentang Terkait : Kominfo,
(KIE) hidup sehat fasyankes. protokol kesehatan Puskesmas.
Pasien suspek,
probable dan
konfirmasi Seluruh pasien Co- 100%
positif 19 mendapatkan
edukasi
Edukasi, Informasi Germas Seluruh Harian Setiap Masyarakat 100%
dan PHBS masyarakat di hari melakukan Germas
wilayah dan PHBS
Puskesmas
a. Desinfeksi Melakukan desinfeksi Fasyankes Harian Setiap Desinfeksi setiap 100% Pimpinan Fasyankes
mandiri secara rutin di Fasyankes hari pagi-sore di ;
a. ruang kerja
(masing2
pegawai-orang)
b. desinfeksi
lingkungan
4 Sumberdaya Manusia (Nakes dan Tenaga lainnya)
a. Penyiapan Penyediaan dan penyiapan Pasien Co-19 Harian Minggu Tersedia tenaga 100% Pj : Dinas Kesehatan
SDM (nakes, nakes shelter dengan Isolasi an pemeriksa
adm, teknis) sistem on call (puskesmas kesehatan secara on Terkait : Pj Shelter
shelter pada jam kerja, PSC di luar call
sesuai jam kerja)
kebutuhan. *Tenaga pemeriksa
dari puskesmas
sesuai dg wilayah
Output
No. PROGRAM Uraian Sasaran Frekuensi waktu Pj dan terkait
(Volume)
Deskripsi Target
Sarana dan
Prasarana
a. Penyediaan Penyediaan kebutuhan Petugas, Ketersediaan APD 100%
APD masker di ShelterI solasi penjaga dan
pasien
b. Penyediaan Penyediaan desinfektan Shelter isolasi Ketersediaaan 100%
desinfektan untuk desinfeksi shelter Desinfektan
ruangan isolasi
c. Pengelolaan Pengelolaan limbah medis Shelter isolasi Harian Harian Pengelolaan limbah 100% Pj. Dinas Kesehatan
limbah atas pelaksanaan medis sesuai
medis pelayanan di Shelter Isolasi standar
(BMHP/APD dan cairan B3)

Mengetahui :
Kepala Dinas Kesehatan Puskesmas ........., Nopemmber 2020
Kota Yogyakrta / Kepala Puskesmas /
Bidang Penanganan Kesehehatan Komandan Bencana

( Drg .Emma Rahmi Aryani MM ) (..................................................... )


NIP : 196606091993032004 NIP :

Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 64


Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 65
Perencanaan Penanggulangan Bencana Puskesmas ( Puskesmas Disaster Plan ) 66

Anda mungkin juga menyukai