Anda di halaman 1dari 55

i

“Peran FKTP khususnya Puskesmas sangat penting. Prevent, Detect dan Response yang telah
dilaksanakan harus ditingkatkan lagi dengan memanfaatkan seluruh sumber daya
Puskesmas serta memberdayakan peran serta
masyarakat untuk mengendalikan jumlah kasus COVID-19”

(Bambang Wibowo, Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan)

ii
TIM PENYUSUN
PETUNJUK TEKNIS PELAYANAN DI PUSKESMAS KOTA YOGYAKARTA
PADA MASA ADAPTASI KEBIASAAN BARU

Diterbitkan oleh
Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta

Penanggungjawab
Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta

Pembina
Kepala Bidang P2P
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat
Kepala Bidang Regulasi dan SDK

Pengarah
Drg. Yudiria Amelia (PIC Percepatan Pengendalian Covid-19 Dinkes Kota Yogyakarta)

Koordinator
Solikhin Dwi R, MPH (Epidemiolog)

Tim Penyusun :
drg. Arumi Wulansari, MPH. drg. Ambarwati TW
dr. Riska Novriana. drg. Aan Iswanti
dr. Iva Kusdyarini dr. Endang Sri Rahayu

Kontributor :
dr. Riska Novriana Eko Rahmadi, SKM, MPH drg. Arumi Wulansari, MPH.
dr. Endang Sri Rahayu drg. Aan Kiswanti dr. AS Williamto
dr. Iva Kusdyarini dr. Okto Heru Santoso drg. Umi Nur Chariyati, MPH
drg. Ambarwati TW dina Anitasari.S.Farm, M.Farm, Apt. Murtiari, SKM.
Trisni Winarsih, SKM, MM. Sri Fajar Astuti, SE drg. Risa Diana P
drg. Eny Purdiyanti dr. Fransisca Bambang drg. Nieke Indrawati
dr. Fajar Meitaharti drg. Sri Kusutiastuti drg. Yunita Haryanti
drg. Arif Haritono drg. Diyah Puspasari dr. Fransiska Bambang
dr. Rina Retnowati dr. Nur Wahyuningsih dr. Ika Septi
dr. Abdul Latief dr. Ani Mufida dr. Tri Kusumo
dr. Dina Kartika dr. Khairani Fitri Setyogati Candra Dewi, SST
Endang Dwi Hartatik, SST. Ami Poniasih, SKM Anandi Iedha Retnani, S.Gz

iii
SAMBUTAN
KEPALA DINAS KESEHATAN KOTA YOGYAKARTA

Puji syukur bagi Allah SWT, atas limpahan rahmat dan barokah-Nya buku Juknis Pelayanan
Puskesmas di masa Adaptasi Kebiasaan Baru ini telah diselesaikan oleh Tim Penyusun.
Dalam upaya pengendalian penyebaran Covid-19 dan tatalaksana kasus Covid-19 Pemerintah Daerah
Istimewa Yogyakarta menetapkan status tanggap darurat bencana sebagai upaya pencegahan
penularan Covid-19 dengan Surat Keputusan Gubernur DIY No. 65/KEP/2020 tentang menetapkan
Status Tanggap Darurat Bencana pada 20 Maret 2020 yang telah diperpanjang 3 kali dengan
Keputusan Gubernur DIY sampai dengan 31 Agustus 2020.
Pada masa Pandemi Covid-19 saat ini seluruh potensi FKTP di Kota Yogyakarta dioptimalkan
untuk mencegah penyebaran dan penatalaksaan kasus sesuai dengan kategorinya. Puskesmas sebagai
salah satu FKTP milik pemerintah menjadi ujung tombak dalam prevensi, deteksi dan respos dalam
rangka pencegahan dan pengendalian Covid-19. Puskesmas dapat mengelola sumberdaya yang
dimilikinya baik individu dan masyaiurakat secara efektif dan efisien dalam memutuskan mata rantai
penularan melalui kegiatan risiko dan KIE, pemberdayaan masyarakat, dan pergerakan peran lintas
sector.
Dengan keyakinan sebagai masyarakat beragama, dengan mensinergikan sumber daya yang
dimiliki puskesmas dan sumberdaya yang ada di wilayahnya dapat memotong rantai penularan Covid-
19 serta menurunkan jumlah kasus. Peran strategis Puskesmas tersebut sangat membantu dalam
pelayanan tingkat lanjut di Fasilitas Kesehatan Rujukan di Kota Yogyakarta.
Petunjuk teknis ini disusun sebagai acuan bagi seluruh petugas Puskesmas dalam melaksanakan tugas
dan fungsinya pada situasi pandemic Covid-19 di Kota Yogyakarta.
Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh petugas Puskesmas atas dedikasi
dan pengabdiannya dimasa pandemic Covid-19 ini dan kepada Tim Penyusun Juknis Pelayanan di
Puskesmas di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru yang telah mencurahkan pikiran dan waktunya disela-
sela kegiatan pengendalian Covid-19 di Kota Yogyakarta.
Semoga Allah SWT, senantiasa memberikan rahmat dan barokah pada setiap Langkah kita
dalam berkontribusim untuk pengendalian Covid-19 di Kota Yogyakarta.

Yogyakarta, 12 Agustus 2020


Plt. Kepala Dinas Kesehatan
Sekretaris

Tri Mardoyo, SKM


NIP. 19643231988031011

iv
SAMBUTAN
PIC Gugus Tugas Percepatan Pengendalian Covid-19
Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta
(Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit)

Alhamdulillaah, puji syukur bagi Allah shalawat dan salam untuk Rasulullah SAW Tim Gugus
Tugas Tugas Percepatan Pengendalian Covid-19 Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta telah selesai ditulis.
Juknis ini merupakan breakdown dari buku Petunjuk Teknis Pelayanan Puskesmas di Masa Pandemi,
dokumen yang diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Juknis ini disesuaikan
dengan kondisi Kota Yogyakarta dan memperhatikan pentingnya peran serta Puskesmas dalam
pengendalian penularan Covid-19 secara tertata dan terstruktur di Kota Yogyakarta.
Puskesmas sebagai garda terdepan fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) milik perintah
diharapkan mampu menjalankan pelayanan Puskesmas (Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP), Upaya
Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Administrasi Manajemen) seiring dengan ketugasan pengendalian
penyebaran Covid-19 di Kota Yogyakarta. Dipandu dengan Juknis ini, saya berharap optimalisasi
sumberdaya internal dan eksternal Puskesmas dapat di berdayakan untuk tetap menjaga pelayanan
Puskesmas dalam koridor Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebagai jaminan mutu pelayanan di Kota
Yogyakarta dalam masa Adaptasi Kebiasaan Baru.
Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada anggota Tim Gugus Tugas Percepatan
pengendalian Covid-19 Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, seluruh kepala Puskesmas dan stafnya, Tim
kontak tracing puskesmas dan seuruh pihak yang tidak yang telah berkonstribusi dalam penyusunan
buku Juknis ini. Semoga buku Juknis ini bermanfaat untuk mewujudkan Puskesmas yang siap
menghadapi Covid-19. Semoga barokah, rahmat dan ridho Allah SWT menyertai setiap Langkah kita
dan memberikan kemudahan untuk melaksanakannya.

Yogyakarta, 12 Agustus 2020


Bidang Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit (P2P)
Kepala Bidang

drg. Yudiria Amelia B


NIP. 196406061990012003

v
KATA PENGANTAR

Alhamdulillaah, Puji syukur bagi Allah SWT buku Petunjuk Teknis Pelayanan Puskesmas Kota
Yogyakarta pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru, Tahun 2020 telah selesai disusun. Buku petunjuk ini
merupakan turunan dari Petunjuk Teknis Pelayanan Puskesmas di Masa Pandemi, 2020 yang
diterbitkan Kementrian Kesehatan. Panduan pelayanan ini berbasis pelayanan UKM, UKP dan
Administrasi Manajemen Puskesmas dalam situasi pandemi Covid-19 di Kota Yogyakarta. Muatan
yang berkaitan dengan upaya pengendalian penyebaran dan tatalaksana kasus menjadi perspekstif
kegiatan UKP, UKM dan Admen di Puskemas.
Buku ini masih jauh dari sempurna sebagai panduan pelayanan di Puskesmas. Masukan, saran
dan kritikan diperlukan untuk perbaikan dan penyempurnaan buku ini untuk menjadi panduan yang
representatif dan implementatif untuk pelayanan di Puskesmas.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada seluruh Tim Penyusun, Kontributor, Pengarah dan
Penasehat sehingga buku ini bisa tersusun dengan baik. Secara khusus ucapan terimakasih
disampaikan kepada Plt Kepada Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta yang telah memberikan ruang kreasi
dalam upaya pengendalian penyebaran Covid-19 di Kota Yogyakarta.
Teriring dengan permohonan maaf atas segala kekurangan dari penyusunan buku ini, semoga
buku petunjuk ini bisa memberikan manfaat dan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat Kota
Yogyakarta.

Yogyakarta, 12 Agustus 2020


Tim Penyusun
Koordinator

Solikhin Dwi R, MPH (Epidemiolog)


NIP. 196812032003121002

vi
DAFTAR ISI Hal.

Tim Penyusun ……………………………………………………………………………………………………………………. iii


Sambutan Kepala Dinas Kesehatan …………………………………………………………………………………… iv
Sambutan PIC Gugus Tugas Percepatan pengendalian Covid-19 (Kabid P2P) ……………………. v
Kata Pengantar …………………………………………………………………………………………………………………. vi
Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………………………………………. vii
BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………………………………………………….. 2
A. Latar Belakang ………………………………………………………………….…………………………………… 2
B. Tujuan ……………………………………………………………………………………..……………………………. 3
1. Tujuan Umum ………………………………………………………………………………………………….. 3
2. Tujuan Khusus ………………………………………………………………………………………………….. 3
C. Ruang Lingkup ………………………………………………………………………………………………………. 3
D. Sasaran …………………………………………………………………………………………………………………. 3
BAB II MANAJEMEN PUSKESMAS ……………………………………………………………………………………… 4
A. Perencanaan (P1) ………………………………………………………………………………………………….. 4
B. Penggerakan dan Pelaksanaan (P2) ………………………………………………………………………. 4
C. Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian Kinerja Puskesmas ………………………………. 4
1. Pemantauan …………………………………………………………………………………………………… 4
2. Pembiayaan …………………………………………………………………………………………………… 5
D. Pencatatan dan Pelaporan …………………………………………………………………………………… 5
E. Manajemen Sumber Daya …………………………………………………………………………………… 5
F. Matriks Persiapan Manajemen Puskesmas ……………………………………….…………………. 6
BAB III UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT ……………………………………………………………………. 10
A. Promosi Kesehatan ………………………………………………………………………………………………. 10
B. Kesehatan Lingkungan …………………………………………………………………………………………. 11
C. Kesehatan Keluarga (Sesuai Siklus Hidup) ……………………………………………………………. 12
1. Ibu hamil dan bersalin …………………………………………………………………………………. 12
2. Bayi baru lahir ……………………………………………………………………………………………… 12
3. Balita dan Anak Pra Sekolah ………………………………………………………………………….. 12
4. Usia sekolah dan remaja ............................................................................. 13
5. Calon pengantin ………………………………………………………………………………………. 13
6. Pasangan Usia Subur (PUS) …………………………………………………………………………. 13
7. Lansia …………………………………………………………………………………………………………. 13
D. Gizi ………………………………………………………………………………………………………………………. 14
E. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit ……………………………………………………………… 14
1. Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 ………………………………………………………. 14
2. Pelayanan Kesehatan Jiwa ……………………………………………………………………….. 15
3. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Lainnya ............................... 15
4. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular ................................... 15
5. Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) ........ 16
F. Matriks Upaya Kesehatan Masyarakat …………………………………………………………………. 18
1. Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Kesehatan Jiwa ……………………………………….. 18
2. Pengendalian Penyakit Menular (P2M) ………………………………………………………….. 20
3. Sistem Informasi Kesehatan dan Surveilans (SIK dan Surveilans) ……………………. 22
4. Program Promosi Kesehatan (Promkes) …………………………………………………………. 23
5. Program Kesehatan Keluarga (Kesga) dan Gizi ……………………………………………….. 24
6. Penyehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja (PLKK) ……………………………………… 28

vii
BAB IV UPAYA KESEHATAN PERSEORANGAN (UKP) ………………………………………………………. 30
A. Pelayanan Dalam Gedung ……………………………………………………………………………………. 30
1. Pelayanan Rawat Jalan ……………………………………………………………………………………. 31
2. Pelayanan dengan tempat tidur atau rawat inap persalinan ……………………. 31
3. Pelayanan gawat darurat …………………………………………………………….. 31
B. Pelayanan di Luar Gedung …………………………………………………………………………………… 31
C. Pelayanan Farmasi ……………………………………………………………………………………………… 31
D. Pelayanan Laboratorium ……………………………………………………………………………………. 32
E. Pemulasaran Jenazah ………………………………………………………………………………………….. 32
F. Matriks Upaya Kesehatan Perseorangan ………………………………………………..…………… 34
BAB V PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) ………………………………………………. 42
A. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Puskesmas …………………………………………… 42
1. Kewaspadaan Standar ……………………………………………………………………………. 42
2. Kewaspadaan berdasarkan transmisi/infeksi …………………………………………… 43
B. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Bagi Masyarakat ………………………………………. 44
LAMPIRAN ……………………………………………………………………………………………………………………….. 45
Survei PHBS Rumah Tangga ………………………………………………………………………………………………. 45
Infografis Percepatan Pengendalian Covid-19 …………………………………………………………………… 49

viii
MEMASUKI MASA ADAPTASI KEBIASAAN BARU
“Pakai Masker, itu Kebiasaan Baru
Jaga jarak interaksi 1 – 2 meter, itu Kebiasaan Baru
Selalu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, itu Kebiasaan Baru
Say Helo, tidak bersalamam, itu juga Kebiasaan Baru”

Ayooo, biasakan Kebiasaan Baru untuk mencegah penularan Covid-19


di Kota Yogyakarta.

ix
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Covid-19 atau Corona Virus Disease 19 adalah penyakit yang disebabkan oleh Novel Coronavirus
(2019-nCoV) atau SARS-CoV-2. SARS-CoV-2 merupakan virus jenis baru yang belum pernah
diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Tanda dan gejala umum infeksi Covid-19 antara lain
munculnya gangguan pernapasan akut ; demam, batuk dan sesak napas. Pada kasus berat
Covid-19 ditandai dengan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal dan menjadi penyebab
kematian. Gejala klinis muncul dalam 2 hari hingga 14 hari setelah terjadi pejanan.
Penularan Covid-19 diyakini melalui droplet dan kontak langsung. Tindakan medis yang memicu
terjadinya aerosol seperti resusitasi jantung paru, pemeriksaan gigi dengan penggunaan scaler
ultrasonik dan high speed air driven, pemeriksaan hidung dan tenggorokan, pemakaian nebulizer
dan pengambilan swab juga menjadi faktor risiko penularan (airborne).
Pada 13 Maret 2020 WHO menyatakan Covid-19 sebagai pandemik setelah persebaran virus
mencapai 114 negara. Pemerintah Indonesia menetapkan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana
Wabah Penyakit Akibat Virus Corona di Indonesia melalui Keputusan Kepala Badan Nasional
Penanggulangan Bencana Nomor 9 A Tahun 2020 yang berlaku dari 28 Januari 2020 sampai 28
Februari 2020 dan diperbarui melalui Keputusan No. 13 Tahun 2020 telah ditetapkan. Selanjutnya,
dengan memperhatikan eskalasi kasus dan perluasan wilayah terdampak, Pemerintah
menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala
Besar (PSBB). Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19 serta Keputusan Presiden Nomor
11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Covid-19 yang
diperbaharui dengan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Non
Alam Penyebaran Covid-19 Sebagai Bencana Nasional.
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menetapkan status tanggap darurat bencana sebagai upaya
pencegahan penularan Covid-19 dengan Surat Keputusan Gubernur DIY No. 65/KEP/2020 tentang
menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana pada 20 Maret 2020. Status Tanggap Darurat Propinsi
DIY diperpanjang 3 kali dengan Keputusan Gubernur DIY sampai dengan 31 Agustus 2020. Seiring
dengan perkembangan kasus Covid-19, dan perubahan kebijakan pemerintah pusat kebijakan
selanjutnya diterbitkan beberapa kebijakan dalam rangka pengendalian penyebaran Covid-19.
Kebijakan tersebut diikuti oleh 5 Kabupaten/Kota Yogyakarta. Pemerintah Kota Yogyakarta
menerbitkan Keputusan Walikota No. 291 Tahun 2020 tentang Pembentukan Satuan Gugus Tugas
Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Kota Yogyakarta sebagai upaya
penanggulangan penyebaran Covid-19.
Pencegahan penyebaran dan penatalaksanaan kasus Covid-19 memerlukan upaya terstruktur,
tertata dan terkendali untuk memutus mata rantai penularannya. Keberadaan Puskesmas di setiap
kecamatan dan konsep pelayanan berbasis wilayah menjadikan Puskesmas berperan optimal dalam
penanganan, pencegahan dan pengendalian infeksi Covid-19 dengan tetap melaksanakan Kegiatan
Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) tingkat pertama
sebagaimana ditetapkan Permenkes Nomor 43 Tahun 2019 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat.
Pelayanan terkait kasus Covid-19 di Puskesmas dilaksanakan terintegrasi dengan pelayanan
lainnya. Hal ini mengingat pelayanan esensial/primer seperti pemeriksaan ibu hamil, imunisasi

2
pada bayi, pemantauan tumbuh kembang balita dan lain sebagainya harus tetap diberikan kepada
masyarakat.
Oleh karena itu perlu disusun petunjuk teknis pelayanan Puskesmas di Kota Yogyakarta yang
terintegrasi melalui upaya kesehatan Puskesmas guna pencegahan dan pengendalian Covid-19 di
wilayah kerja Puskesmas.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Memberikan acuan bagi Puskesmas dalam melaksanakan pelayanan di masa tatanan
normal baru dalam aspek manajerial maupun penyelenggaraan pelayanan.
2. Tujuan Khusus
a. Memberikan acuan dalam pelaksanaan manajemen Puskesmas di masa tatanan
normal baru.
b. Memberikan acuan pelaksanaan UKM dan UKP dengan memperhatikan Pencegahan
dan Pengendalian Infeksi (PPI).

C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Juknis Pelayanan Puskesmas pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru ini meliputi:
1. Manajemen Puskesmas
2. Upaya Kesehatan Masyarakat
3. Upaya Kesehatan Perseorangan
4. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi

D. Sasaran
1. Puskesmas
2. Seksi dan Bagian di Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta
3. Bidang di Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta

3
BAB II
MANAJEMEN PUSKESMAS
Pandemi Covid-19 yang mendadak dan cepat sangat berpengaruh terhadap perencanaan yang
telah disusun oleh Puskesmas. Puskesmas perlu melakukan penyesuaian tahapan manajemen
yang telah disusun dan direncanakan sesuai dengan kebutuhan pelayanan dalam menghadapi
pandemi Covid-19.
A. Perencanaan (P1)
1. Melakukan penyesuaian target kegiatan yang telah disusun (dibedakan kegiatan yang tidak
bisa dilaksanakan, bisa dilaksanakan dengan metode yang berbeda atau ditunda waktunya).
2. Mencari akar penyebab masalah tidak tercapainya indikator program, selain yang
diakibatkan oleh situasi pandemi Covid-19 dan merencanakan upaya inovasi yang akan
dilakukan untuk perbaikan capaian kinerja.
3. Pelaksanaan revisi (sesuai kebutuhan program pengendalian Covid-19) mengacu pada juknis/
pedoman yang berlaku dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan.
4. Puskesmas menentukan target sasaran kasus terkait Covid-19 dengan memperhatikan
angka kasus untuk memperkirakan kebutuhan logistik (APD, BMHP, RDT, dan lainnya)
5. Puskesmas menentukan populasi rentan (Lansia, orang dengan komorbid, ibu hamil,
bersalin, nifas dan bayi baru lahir) untuk menjadi sasaran pemeriksaan.
B. Penggerakan dan Pelaksanaan (P2)
1. Penggerakan dan pelaksanaan melalui forum khusus, lokakarya mini (Lokmin) bulanan dan
lokmin triwulanan tetap dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan atau
dilaksanakan melalui daring (memanfaatkan teknologi informasi).
2. Salah satu agenda Lokmin bulanan membahas pedoman/juknis (terbaru) terkait pelayanan
pada masa tatanan normal baru.
3. Lokmin triwulanan sebagai forum penyampaian informasi pelayanan Puskesmas pada masa
tatanan normal baru dan hasil pemetaan Covid-19 menurut wilayah serta peran lintas sektor.
4. Pelaksanaan kegiatan pemantauan/sweeping orang dengan riwayat perjalanan dari daerah
transmisi lokal/zona merah, pemantauan harian kontak erat, suspek, probable ringan,
contact tracing kasus konfirmasi Covid-19 dilakukan bersama lintas sektor dengan
melibatkan Gugus Tugas yang ada di wilayah.
5. Optimalisasi Corona Monitoring System (CMS) untuk memantau pergerakan orang di wilayah
kerja, telusur kontak (contact tracing) dan perekaman tatalaksana kasus.
6. Jika jejaring Puskesmas menemukan kasus Covid-19, maka Jejaring Puskesmas
berkoordinasi dengan Puskesmas untuk pelaporan dan penemuan kasus. Jejaring Puskemas
seperti klinik pratama yang ada di wilayah kerjanya harus aktif melakukan pemantauan harian
isolasi mandiri dari peserta JKN yang terdaftar pada klinik tersebut dan mengkoordinasikan
hasilnya dengan Puskesmas. Dinas Kesehatan menggerakkan jejaring Puskesmas di wilayah
Kota Yogyakarta.
C. Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian Kinerja Puskesmas.
1. Pemantauan
Puskesmas melakukan pemantauan pencapaian target prioritas pembangunan kesehatan
dan melakukan upaya pemenuhan dengan memperhatikan kemampuan dan penyesuaian
cara, metode dengan memperhatikan kebijakan yang mendasarinya.
Indikator keberhasilan penanganan Covid-19 di Puskesmas ditetapkan dan capaian diukur
4
setiap bulan, indikator penanganan Covid-19 antara lain :
a. Persentase k o n t a k e r a t , suspek, probable yang telah di temukan
b. Persentase suspek dan probab le yang telah sembuh
c. Tidak ada k o n ta k e r a t , s u s p e k d a n p r o b a b l e yang meninggal di rumah
d. Persentase pasien konfirmasi yang dilakukan tracing.
e. Kontak erat dan probable ringan yang diisolasi diri di rumah dilakukan pemantauan harian
sebesar 100%
f. Kontak erat yang karantina mandiri di rumah dilakukan pemantauan harian sebesar 100%
2. Pembiayaan
Pembiayaan pelaksanaan layanan dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD),
Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan sumber lainnya yang sah serta
penggunaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
D. Pencatatan dan Pelaporan
1. Pencatatan dan pelaporan dilaksanakan dengan mengacu kepada Sistem Informasi
Kesehatan yang diberlakukan di puskesmas.
2. Pencatatan dan pelaporan kasus Covid-19 mengacu pada format dalam Pedoman
Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (Covid-19) atau format pelaporan lainnya
yang ditetapkan oleh pemerintah melalui sistem yang digunakan di Gugus Tugas Nasional
khusus untuk pelaporan Covid-19.
3. Kasus Covid-19 (suspek, probable, konfirmasi, kontak erat, pelaku perjalanan, discarded,
selesai isolasi dan kematian) di wilayah kerja Puskesmas diuraikan berdasarkan kondisi
biologis (seperti jenis kelamin dan kelompok umur), psikologis, sosial (seperti tingkat
pendidikan, pekerjaan) dan budaya. Kasus direkapitulasi dan dipantau laju perkembangannya
dari hari ke hari.
E. Manajemen Sumber Daya
1. Kepala Puskesmas meninjau ulang penataan tugas SDM/petugas Puskesmas dengan
memperhatikan risiko paparan Covid-19 dan mempertimbangkan keberadaan penyakit
komorbid, usia petugas dan lain sebagainya.
2. Melakukan peningkatan kapasitas SDM Puskesmas
Dilakukan penguatan pemahaman bagi seluruh staf Puskesmas tentang pandemi ; cara
penularan Covid-19, perubahan alur pelayanan, physical distancing, Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi (PPI).
3. Melakukan self monitoring atau audit internal untuk menilai kesesuaian atau ketaatan
pelaksanaan prinsip PPI, terutama kewaspadaan standar dan penggunaan APD.
4. Jika terdapat petugas yang terkontak menjadi kasus suspek, kasus probable, kasus
konfirmasi, kontak erat, pelaku perjalanan, discarded, selesai isolasi dan kematian, kepala
Puskesmas segera berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta untuk
mengambil langkah antisipasi.

5
F. MATRIK PERSIAPAN MANAJEMEN PUSKESMAS
Puskesmas Kota Yogyakarta

Output
No. Program Kegiatan Uraian Dokumen
Diskripsi Target
A Persiapan
1 Sarana untuk Setting/layout ulang ruang Setting ruangan dengan minimal faktor risiko Disain lay out Penataan sesuai Pekan 1
kewaspadaan (bangunan) (risk factor) penularan dengan mei 2020
berdasar transmisi panduan
Penataan air-flow Aliran udara dikendalikan untuk mengurangi Disain lay out Penataan sesuai Pekan 1
risiko transmisi dropplet, airborne dengan mei 2020
panduan
B Optimalisasi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
1 Kewaspadaan Penguatan pemahaman dan Cuci Tangan dengan sabun dan air mengalir SPO Cuci Tangan Dokumen 100%
Standar pelaksanaan kewaspadaan tersusun dan
standar terimplementasi
(Diseminasi/update Penggunaan APD (pemakaian, pelepasan, Panduan Penggunaan APD
knowledge/ penyimpanan dan lainnya) SPO Pemakaian APD
workshop/bimbingan SPO Pelepasan Dan lainnya
kepada seluruh pegawai
Puskesmas tentang Kelola limbah infeksius SPO pengelolaan Limbah Infeksius
kewaspadaan standar)
Kesehatan Lingkungan Ventilasi dan penjagaan kualitas udara Panduan air flow di puskesmas
Desinfeksi tempat kerja dan alat Panduan desinfeksi
SPO Pembersihan permukaan sekitar
pasien
SPO Pembersihan barang yang sering
tersentuh tangan
Penempatan pasien Pasien infeksius dipisahkan dengan pasien SPO penempatan pasien infeksius
noninfeksius SPO penempatan pasien dengan
transmisi kontak, droplet dan airborne
Etika batuk dan bersin Petugas awware dengan etika batuk dan bersin SPO etika batuk dan bersin
Penanganan dan pencucian Penanganan dan pencucian linen yang sudah SPO penanganan linen
linen dipakai dengan aman untuk menghindari SPO pencucian linen
risiko penularan
Dekontaminasi Peralatan Dekontaminasi/sterilisasi alat kesehatan untuk Panduan Sterilisasi
Perawatan Pasien menghindari risiko penularan SPO Sterilisasi Alkes tindakan
SPO Sterilisasi AMPH (kasa, kapas)
Perlindungan Kesehatan Ketersediaan APD Bagi petugas SPO penggunaan APD untuk petugas APD tersedia 100%
Petugas untuk petugas
Pemeriksaan Petugas berisiko SPO pemeriksaan dan rapid test Petugas Petugas 100% dari
kesehatan dilakukan tes sasaran
cepat (rapid
test)
6
Output
No. Tahap 1 Waktu Uraian Dokumen
Diskripsi Target
2 PPI untuk Sosialisasi/edukasi/pengumuman Selama mengakses pelayanan di Leaflet berisi himbauan Pengunjung 100%
masyarakat kepada pengunjung puskesmas Puskesmas dan saat sehari-hari, 1. Rutin cuci tangan pakai sabun Puskesmas pengunjung
untuk mematuhi protokol Co-19 masyarakat melakukan protokol Co-19 enam langkah dengan air bersih mendapat edukasi Puskesmas
mengalir secara benar dan
2. Hindari kerumunan jelas
3. Hindari menyentuh mata hidung
dan mulut
4. Melakukan etika batuk dan bersin
5. Berdiam diri di rumah
6. Hindari daerah dengan jumlah
kasus COVID-19 tinggi
7. Karantina diri selama 14 hari jika
memiliki riwayat bepergian ke
daerah terjangkit
8. Tidak berjabat tangan
9. Segera ganti baju dan mandi
selepas bepergian ke luar rumah
10. Bersihkan barang-barang yang
sering di sentuh
11. Menggunakan masker jika
terpaksa harus ke luar rumah.
3 Pengendalian Skrining, surveilans dan contact Menyiapkan rencana skrining dan Panduan Skrining Co-19 Dokumen 100%
Penyakit tracing surveilans (termasuk contact tracing) SPO Skrining Co-19 tersusun dan
SPO kontak tracing Co-19 terimplementasi
Dan lainnya
Indikator penangan Co-19 Penatalaksanaan Kasus Co-19 Laporan kasus Co-19 (suspect, Laporan 100%
probable, Konfirmasi (+) Co-19 dan terlaporkan
lainnya
Pemantauan isolasi mandiri suspect Pemantauan 100%
dan probable Gejala ringan Terlaksana terpantau
Pelaksanaan CT Terlaksana CT 100 %
sesuai notifikasi notifikasi
Penyusunan sistem lap berbasis Pelatihan/workshop/optimalisasi Alur pelaporan Disiplin alur
internet. pemanfaatan internet untuk pelaporan SPO Pelaporan Pengendalian penyakit Dokumen
(CMS) tersusun
Terimplementasi

7
Output
No. Tahap 1 Waktu Uraian Dokumen
Diskripsi Target
C Manajemen Puskesmas
1 Manajeman Penguatan SDK Puskesmas ; SDM Puskesmas mengetahui dan Daftar SDM Puskesmas mengikuti Petugas puskesmas 100%
Administrasi dan memahami tentang tatanan tatanan arahan dan diseminasi memahami kinerja di
SDM normal baru ; tatanan tatanan
a. Protokol Co-19 dipahami normal baru
b. Protokol Co-19 dilaksanakan dan
menjadi perilaku
Penyusunan perencanaan Mengukur prevalensi, insidensi, CFR, Co- Dokumen status kesehatan Status kesehatan 100%
19 untuk menyusun kebutuhan sarana, diukur update dan riil
APD, RDT dan log-med lainnya Kebutuhan Log-med Co-19 (APD, HS, Perencanaan Log- 100%
Reagent dll) med berbasis data
Pengawasan, Pengendalian dan P3 dilaksanakan pada program prioritas Laporan P3 Laporan P3 program 100%
Penilaian Kinerja Puskesmas Penyusunan dan pengukuran indikator Pengukuran indikator penanganan prioritas dan 100%
(P3) penanganan Co-19 Co-19 penanganan Co-19
dilaksanakan secara
berkala
Penyesuaian dokumen Penyesuaian dokumen kebijakan, kebijakan, pedoman, panduan, Penyesuaian Sesuai
pedoman, panduan, SOP/SPO SOP/SPO di Puskesmas Dokumen Puskemas kemampuan
dilakukan Pusk (> 60%)
Pembiayaan dan Penyesuaian PenyesuaiaN anggaran dan target RKA Puskesmas dan lainnya RKA tersusun 100%
target program/kegiatan Puskesmas berbasis program riil
Manajemen SDM Penyiapan dan pemenuhan SDM sesuai Dokumen beban kerja pada tatanan SDM tersedia sesuai Menyesuaikan
dengan kebutuhan pengendalian Co-19 tatanan normal baru dengan beban kerja
(PPI)
Peningkatan kompetensi SDM sesuai Daftar pegawai berdasarkan SDM tersedia sesuai Menyesuaikan
dengan kebutuhan pengendalian Co-19 kompetensinya kompetensi
(pelatihan/workshop/OJT dan lainnya)
;, Pemetaan SDM dengan faktor risiko Daftar pegawai dengan faktor risiko Tersusun pemetaan 100%
(komorbid dan usia) SDM dengan FR
Penempatan SDM karena faktor risiko Penempatan SDM dengan Terlaksanan Menyesuaikan
mempertimbangkan faktor risiko penempatan sesuai
FR

8
BAB III
UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT
Kegiatan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dilaksanakan dengan memperhatikan skala
prioritas. UKM sebagai pelayanan dasar Puskesmas tetap dilaksanakan untuk memenuhi
kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat didalam koridor/kerangka SPM bidang kesehatan di
Kota Yogyakarta. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2018
tentang Standar Pelayanan Minimal dan Permenkes Nomor 4 Tahun 2019 tentang Standar Teknis
Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar Pada Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.
Puskesmas melakukan review (peninjauan ulang) terhadap rencana pelaksanaan Upaya Kesehatan
Masyarakat (UKM) dengan penyesuaian di masa tatanan normal baru. Beberapa pilihan dilakukan
untuk penyusunan jadual, metode dan teknik pelaksanaan kegiatan, implementasi kaidah-kaidah
kewaspadaan standar (PPI) dan protokol kesehatan pada setiap kegiatan UKM.
A. Promosi Kesehatan
Ruang lingkup Peran Promosi Kesehatan di Puskesmas dalam penanggulangan Covid-19
adalah:
1. Melakukan advokasi kepada penentu kebijakan untuk mendapatkan dukungan terhadap
optimalisasi kegiatan pencegahan Covid-19 di wilayah kerja Puskesmas. Sasaran advokasi
dilakukan kepada Kepala Desa/Lurah, Ketua RW, Ketua RT, Ketua TP PKK Kecamatan, Ketua
TP PKK Desa/Kelurahan, Ketua Ormas, Pimpinan Perusahaan dll. Langkah-langkah advokasi
dijelaskan dalam lampiran Juknis ini.
2. Melakukan kemitraan dengan gugus tugas di wilayah atau Relawan Desa, Ormas, TP PKK,
swasta, SBH, tokoh masyarakat, tokoh agama dan mitra potensial lainnya untuk menjalin
Kerjasama dan memperoleh dukungan dalam rangka pengendalian penyebaran Covid-19.
3. Melakukan koordinasi, integrasi dan sinkronisasi (KIS) dengan lintas sektor, Ormas
serta mitra potensial lainnya dalam optimalisasi kegiatan penanggulangan Covid-19 di
wilayah kerja Puskesmas, termasuk sinkronisasi data terkait dengan kelompok/individu
berisiko antara data Puskesmas (PIS- PK dan pelayanan perorangan) dan data dari gugus
tugas tingkat RW dan/atau Relawan Desa.
4. Meningkatkan literasi serta kapasitas kader, tokoh masyarakat (Toma), tokoh agama (Toga),
dan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) agar mendukung upaya
penggerakan dan pemberdayaan keluarga dalam pencegahan Covid-19 di wilayah kerja
Puskesmas. Peningkatan literasi serta kapasitas dapat dilakukan melalui media daring
seperti grup Whatsapp/SMS/Video Call/telepon atau jika diperlukan melalui komunikasi
langsung dengan memperhatikan protokol kesehatan.
5. Melakukan pengorganisasian dan memobilisasi potensi/sumber daya masyarakat
untuk mengoptimalkan kegiatan Promkes dan pemberdayaan keluarga dalam pencegahan
Covid-19 di wilayah kerja Puskesmas, termasuk melaksanakan Survei Mawas Diri (SMD)
dan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) yang dilaksanakan dengan tetap menerapkan
protokol kesehatan.
Puskesmas dapat menggerakkan masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan
kesehatan tradisional dalam pengendalian Covid-19. Upaya yang dapat dilakukan
diantaranya asuhan mandiri kesehatan tradisional melalui pemanfaatan Taman Obat
Keluarga (TOGA) dan akupresur, yang dapat digunakan untuk meningkatkan daya tahan
tubuh serta mengatasi beberapa gangguan kesehatan ringan

10
6. Membuat media promosi kesehatan lokal spesifik berdasarkan protokol Kesehatan, seperti
cara pencegahan di level individu, keluarga dan masyarakat, kelompok rentan. Media
disosialisasikan melalui media elektronik/daring seperti grup Whatsapp dan/atau media
poster, stiker, spanduk, baliho, dll.
7. Melakukan KIE bersama kader, tokoh masyarakat, tokoh agama, ormas, kelompok
peduli kesehatan, UKBM serta mitra potensial lainnya guna meningkatkan literasi dan
memberdayakan kelompok/individu/anggota keluarga agar mau melakukan PHBS
pencegahan Covid-19. Sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat
dan lintas sektor terkait bahwa pemutusan rantai penularan Covid-19 adalah tanggung
jawab bersama mulai dari masyarakat, tokoh masyarakat, lintas sektor, bidang kesehatan
dan Pemerintah mulai dari pemerintah daerah sampai pemerintah Pusat.
8. Melakukan tata kelola manajemen kegiatan promosi kesehatan dalam pencegahan
Covid-19 (P1, P2 dan P3).
Semua kegiatan ini diintegrasikan dengan tugas dari Gugus Tugas atau Relawan di Wilayah
9. Posyandu dilaksanakan melalui kunjungan rumah atau Pos Pelayanan Terpadu Keliling
(Posyanling) dengan menerapkan prinsip PPI (kewaspadaan standar) dan physical distancing
secara ketat.
B. Kesehatan Lingkungan
Upaya kesehatan lingkungan dalam penanggulangan Covid-19 diselenggarakan melalui
penyehatan, pengamanan, pengendalian dan pengawasan (linen dan dekontaminasi) yang
dilaksanakan dengan Tempat Fasilitas Umum (TFU) dan Tempat Pengelolan Pangan (TPP) :
1. Konseling
Konseling diberikan kepada kontak erat dan suspek yang diintegrasikan dengan pelayanan
pengobatan dan/atau perawatan. Petugas konseling menggunakan APD sesuai ketentuan
dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Konseling dapat menggunakan alat peraga,
percontohan, dan media informasi cetak atau elektronik yang terkait Covid-19.
2. Inspeksi kesehatan lingkungan dilakukan terhadap media sarana dan bangunan Tempat
Fasilitas Umum (TFU) dan Tempat Pengelolan Pangan (TPP); pendataan lingkungan
permukiman, tempat kerja, tempat rekreasi, serta tempat dan fasilitas umum seperti
pasar, terminal, stasiun, tempat ibadah dan lain-lain yang pernah
didatangi/dikunjungi/kontak langsung oleh kontak erat dan suspek.
3. Intervensi kesehatan lingkungan berdasarkan hasil inspeksi berupa KIE,
penggerakan/pemberdayaan masyarakat, dan perbaikan atau pembangunan
sarana/prasarana.
Contoh kegiatan yang dilaksanakan antara lain:
a. Pemasangan dan/atau penayangan media promosi kesehatan lingkungan;
b. Gerakan bersih kelurahan melalui desinfeksi lingkungan permukiman, tempat kerja,
tempat rekreasi serta fasilitas umum dengan mengacu pada panduan yang berlaku;
c. Penyediaan sarana cuci tangan; dan
d. Penyediaan tempat sampah.
4. Pengelolaan air limbah, limbah padat domestik, dan limbah B3 medis padat sesuai dengan
pedoman dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
5. Puskesmas melakukan mengkoordinasikan kepada lintas sektor untuk menyiapkan tempat
pembuangan limbah sementara bagi masyarakat yang melakukan isolasi diri/karantina
mandiri di rumah atau fasilitas lain selain Fasyankes.

11
C. Kesehatan Keluarga (Sesuai Siklus Hidup)
1. Ibu hamil dan bersalin
Pemeriksaan kehamilan pertama dilakukan dengan janji temu dokter di Puskesmas
(rincian detail tertuang dalam matriks)
2. Bayi baru lahir
a. Pelayanan neonatal esensial saat lahir (0-6 jam) seperti pemotongan dan perawatan
tali pusat, inisiasi menyusu dini, injeksi vitamin K, pemberian salep/tetes mata
antibiotik dan pemberian imunisasi hepatitis B tetap dilakukan.
b. Bayi yang lahir dari ibu hepatitis reaktif, bayinya diberi vaksin hiperhep.
c. Pengambilan sampel Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) dilakukan oleh tenaga
kesehatan setelah 24 jam sebelum ibu dan bayi pulang dari fasilitas pelayanan
kesehatan.
d. Pelayanan kunjungan neonatal pertama (KN1) dilakukan di fasyankes.
e. Kunjungan neonatal kedua dan ketiga dapat dilakukan dengan metode kunjungan
rumah oleh tenaga kesehatan atau pemantauan menggunakan media daring dengan
melakukan upaya-upaya pencegahan penularan Covid-19 baik dari petugas, ibu dan
keluarga.
f. Ibu diberikan KIE terhadap perawatan bayi baru lahir termasuk ASI eksklusif dan tanda-
tanda bahaya pada bayi baru lahir, jika terdapat tanda bahaya segera dibawa ke
fasyankes.
g. Pelayanan bayi baru lahir dari ibu suspek, probable, kontak erat, dan kasus konfirmasi
Covid-19 sesuai dengan pedoman yang berlaku.
3. Balita dan Anak Pra Sekolah
a. Asupan gizi seimbang sesuai umur anak mengacu pada Buku KIA
b. Pemantauan pertumbuhan dan Pelaksanaan Pemberian Obat Pencegahan Massal
(POPM) kecacingan te ta p d ila ks an ak a n s es u ai ja d wal d an s as ar an , y ai tu
d ila ks a nak a n p ad a b ula n Ag us tus da n Oktober, s as a ra n a na k us ia 1 tah u n
s am pa i 1 2 ta h un .
c. Pemantauan dan stimulasi perkembangan balita dan anak pra sekolah dapat dilakukan
secara mandiri di rumah dengan menggunakan ceklis dalam Buku KIA.
d. Pemantauan balita berisiko, kapsul Vitamin A dilakukan dengan tele konsultasi/janji temu/
kunjungan rumah.
e. Pelayanan imunisasi dilaksanakan sesuai jadwal dengan memperhatikan protokol
kesehatan.
f. Pemeriksaan khusus untuk triple eliminasi (HIV, Hepatitis dan Sifilis) dilakukan secara
terintegrasi dengan janji temu pelayanan imunisasi.
g. Pelayanan imunisasi ditentukan hari, jam dan ruang/tempat khusus yang terpisah dari
pelayanan anak atau dewasa sakit.
h. Imunisasi booster diberikan pada anak usia 18 bulan. Jenis imunisasi yang diberikan
MR dan pentavalent.
i. Pelaksanaan Kelas Ibu Balita ditunda, atau dilaksanakan menggunakan media daring.
j. Ibu dan keluarga memahami tanda bahaya pada Buku KIA yang memerlukan rujukan ke
fasyankes.

12
4. Usia sekolah dan remaja
a. Skrining kesehatan pada anak usia sekolah dilaksanakan dengan menerapkan protokol
Kesehatan. .
b. KIE dan konseling kepada anak usia sekolah dan remaja dilakukan melalui teknologi
informasi/daring.
c. Imunisasi Anak Sekolah tetap dilaksanakan sesuai dengan protokol kesehatam. Sasaran
imunisasi anak sekolah kelas 1 , 2. 5 dan 6. Dibagi dalam 2 tahap. BIAS tahap 1,
dilaksanakan pada bulan Agustus dengan sasaran kelas 1 diberikan MR, kelas 5 dan 6
diberikan imunisasi HPV. BIAS tahap 2 dilaksanakan bulan Nopember dengan sasaran
kelas 1 diberikan DT, kelas 2 dan 5 diberikan Td.
5. Calon pengantin
a. KIE pada calon pengantin (Catin) dilakukan melalui telekonsultasi atau media
komunikasi atau bila perlu dengan janji temu untuk kunjungan ke Puskesmas. Petugas
kesehatan dapat menghimbau agar pasangan Catin dapat menunda kehamilan sampai
kondisi pandemi berakhir.
b. Pemeriksaan kesehatan pada calon pengantin ditunda pelaksanaannya sampai
pandemic Covid-19 mereda.
c. Imunisasi catin tetap diberikan dengan memperhatikan protokol kesehatan.
6. Pasangan Usia Subur (PUS)
a. Pelayanan KB di Puskesmas dapat diberikan dengan janji temu pada akseptor yang
mempunyai keluhan, akseptor IUD/implan yang sudah habis masa pakainya, atau
akseptor suntik yang datang sesuai jadwal.
b. Pelayanan KB pada akseptor IUD/implan/suntik yang tidak dapat kontrol ke petugas
kesehatan dilakukan dengan berkoordinasi dengan PL KB dan kader untuk minta
bantuan pemberian kondom.
c. Pelayanan KB pada akseptor pil KB dilakukan dengan berkoordinasi dengan PL KB dan
kader untuk minta bantuan pemberian pil KB.
d. Pemberian Materi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) serta pelaksanaan
konseling terkait kesehatan reproduksi dan KB dapat dilaksanakan menggunakan
media daring atau konsultasi via telepon.
e. Mendorong semua PUS untuk menunda kehamilan dengan tetap menggunakan
kontrasepsi di situasi pandemi Covid-19 dengan meningkatkan penyampaiaan
informasi/KIE ke masyarakat.
7. Lansia
a. Pemantauan kesehatan lansia dapat dilakukan melalui kunjungan rumah (home visit
atau homecare) dengan sangat memperhatikan prinsip PPI. Kegiatan Posyandu Lansia
ditunda pelaksanaannya, karena lansia termasuk kelompok yang sangat rentan
terhadap kesakitan dan kematian akibat Covid-19.
b. Pemantauan kemudahan akses dan memastikan kecukupan obat rutin bagi lansia
dengan penyakit kronis/degeneratif yang membutuhkan pengobatan jangka panjang
agar tidak terputus selama masa pandemi Covid-19.
c. Promosi Kesehatan, KIE dan pemantauan kesehatan lansia melalui pelayanan kelas
lansia dan pendamping/seminar kesehatan menggunakan teknologi komunikasi jarak
jauh.

13
Puskesmas agar memperhatikan anak terdampak Covid-19 yang mengalami masalah
pengasuhan, baik anak dengan status kontak erat, suspek, probable, terkonfirmasi,
maupun anak dari orang tua tunggal dengan status kontak erat, suspek, probable,
terkonfirmasi. Puskesmas membantu koordinasi dengan RT/RW/Dinas yang membawahi
urusan Sosial/Perlindungan Anak agar anak mendapatkan dukungan pengasuhan
sementara.
D. Gizi
1. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita dilakukan secara mandiri di rumah
berpedoman pada buku KIA.
2. Analisis data gizi untuk mengidentifikasi kelompok sasaran berisiko yang memerlukan
tindak lanjut pelayanan gizi.
3. Pemberian suplementasi gizi (Makanan Tambahan/MT, Tablet Tambah Darah/ TTD, Kapsul
Vitamin A) dilakukan dengan janji temu.
4. Pemberian edukasi gizi dilakukan melalui media KIE seperti poster/flyer. KIE kepada
kelompok sasaran terkait hal-hal yang diperlukan dalam rangka perbaikan gizi dilakukan
melalui kunjungan rumah. Konseling gizi, konseling menyusui, dan konseling Pemberian
Makan pada Bayi dan Anak (PMBA) dilakukan melalui tele konsultasi atau melalui kunjungan
rumah dengan janji temu (baik untuk ibu maupun melalui kader).
5. Asuhan gizi pada kasus Covid-19 yang diisolasi diri baik di rumah atau di fasilitas isolasi.
6. Kunjungan rumah untuk memantau pertumbuhan balita, memonitor distribusi dan
kepatuhan konsumsi TTD ibu hamil, makanan tambahan balita dan ibu hamil serta vitamin A
bayi dan balita.
7. Pelayanan gizi buruk dilakukan dengan tetap menerapkan prinsip PPI dan physical
distancing.
E. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Pada masa tatanan normal baru, fokus P2 Puskesmas pada prevensi, deteksi dan respon
terhadap kasus Covid-19 tanpa mengesampingkan kegiatan pencegahan dan pengendalian
penyakit lainnya.
1. Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.
a. Prevensi
1) Melakukan komunikasi risiko termasuk penyebarluasan media KIE Covid-19 kepada
masyarakat.
2) Pemantauan ke tempat-tempat umum bersama lintas sektor dan tokoh masyarakat.
b. Deteksi
1) Surveilans Influenza Like Illness (ILI) dan pneumonia melalui Sistem Kewaspadaan
Dini dan Respon (SKDR).
2) Surveilans aktif/pemantauan terhadap pelaku perjalanan dari wilayah/negara
terjangkit.
3) Membangun dan memperkuat jejaring kerja surveilans dengan pemangku
kewenangan, lintas sektor dan tokoh masyarakat.
4) Surveilans contact tracing pada orang dekat kasus, Probable dan pelaku
perjalanan serta kontaknya.

14
c. Respons
1) Tata laksana klinis sesuai kondisi pasien
1) Memperhatikan prinsip PPI
2) Notifikasi kasus 1x24 jam secara berjenjang
3) Melakukan penyelidikan epidemiologi berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota
Yogyakarta
4) Mengidentifikasi kontak erat yang berasal dari masyarakat dan petugas kesehatan
5) Melakukan pemantauan Kesehatan p r o b a b l e ringan, suspek dan kontak erat
menggunakan formulir sesuai dengan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian
Coronavirus Disease Covid-19
6) Mencatat dan melaporkan hasil pemantauan secara rutin
7) Edukasi pasien untuk isolasi diri di rumah
8) Melakukan komunikasi risiko kepada keluarga dan masyarakat
9) Pengambilan spesimen dan berkooordinasi dengan dinas kesehatan terkait
pengiriman spesimen
2. Pelayanan Kesehatan Jiwa
a. Dukungan Kesehatan Jiwa dan psikososial (DKJPS) untuk mengurangi masalah kesehatan
jiwa yang muncul akibat pandemi ini guna melindungi atau meningkatkan kesejahteraan
psikologis dan/atau mencegah serta mengendalikan masalah kesehatan jiwa yang
muncul.
b. Dukungan kesehatan jiwa dan psikososial (DKJPS) diberikan kepada orang sehat, suspek,
probable, kasus konfirmasi, kontak erat, kelompok rentan, dan petugas yang bekerja di
area risiko tinggi, dilakukan kerja sama lintas sektor dengan mengacu pedoman yang
berlaku.
3. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Lainnya
a. Tuberkulosis (TB)
1) Pelayanan TB dilaksanakan dengan pemisahan tempat layanan dari layanan Covid-19.
2) Interval pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) diperpanjang melihat kondisi pasien
sesuai dengan Pedomanl Layanan TB dalam Masa Tatanan normal baru, peran
Pengawas Minum Obat (PMO) diperkuat untuk menjaga disiplin pengobatan.
3) Pemantauan pengobatan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
b. HIV/AIDS
1) Pelayanan HIV/AIDS, IMS dan PTRM tetap berjalan dengan mendahulukan ODHA dan
penyalahguna Napza dengan batuk, demam, atau gejala flu lain.
2) KIE tentang Covid-19 (termasuk PHBS) kepada pasien HIV/AIDS, IMS dan PTRM.
3) Mempertimbangkan pemberian Anti Retro Viral (ARV) multi bulan (2-3 bulan) bagi ODHA
yang stabil, secara selektif, hanya dilakukan jika persediaan ARV mencukupi,
diprioritaskan bagi ODHA yang tinggal di wilayah episentrum Covid-19.
c. Demam Berdarah Dengue (DBD)
1) Pelaksanaan Penyelidikan Epidemiologi (PE) serta fogging sebagai tindak lanjutnya
dilakukan oleh petugas menggunakan masker dan mengedepankan physical
distancing.
2) Pada saat pandemi pelaksanaan fogging hanya dilakukan di luar rumah dengan
radius 200 m dari rumah penderita DBD yang ditemukan.

15
4. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular
a. Pemantauan faktor risiko PTM seperti pengukuran antropometri (BB, TB, Lingkar Perut)
pemeriksaan gula darah dan pengukuran tekanan darah tetap dilakukan, dapat melalui
kunjungan rumah, janji temu, atau penjadwalan khusus untuk pelayanan tersebut.
b. Peningkatan edukasi pencegahan faktor risiko PTM dan Covid-19, mencegah orang
dengan faktor risiko PTM tidak menjadi PTM dan mencegah penderita PTM sebagai
komorbid Covid 19 tidak tertular Covid 19, misal ;
 Perokok lebih berisiko 14 kali terinfeksi Covid-19 dibandingkan dengan bukan perokok
 perokok 2,4 kali lebih banyak yang kondisi penyakitnya masuk dalam katagori berat dan
mempunyai prognosis yang buruk termasuk yang harus mendapatkan perawatan
intensif dan menggunakan ventilator. (Zhou F, et all, Lancet, March 2020).
 Selalu melakukan CERDIK (Cek Kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin
aktivitas fisik, Diit gizi seimbang, Istirahat cukup, Kelola stress) bagi yang sehat dan
PATUH (Periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter, Atasi penyakit dengan
pengobatan yang tepat dan teratur, Tetap diit dengan gizi seimbang, Upayakan
aktifitas fisik yang aman, Hindari asap rokok, alcohol dan zat karsinogenik) bagi
penyintas PTM.
5. Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK)
Data Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) yang
dilaksanakan oleh Puskesmas dapat dimanfaatkan untuk pemetaan faktor risiko,
penentuan sasaran intervensi untuk mengurangi penyebaran dan risiko kematian akibat
kasus Covid-19
Misal :
Pemetaan data kelompok rentan ; lansia, ibu hamil, orang dengan komorbid (hipertensi,
DM, tuberkulosis paru, perilaku yang memperberat seperti merokok. Puskesmas dapat
melakukan intervensi dengan edukasi dan dilakukan rapid test (jika diperlukan) guna
mencegah terjadinya penularan.

16
F. MATRIK UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT
Puskesmas Kota Yogyakarta
1. Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Kesehatan Jiwa
Output
No. Program Kegiatan Uraian Dokumen
Diskripsi (mutu) Target
1 Penyuluhan (KIE) Langsung Dilakukan dalam waktu 5-10 menit di ruang SPO penyuluhan secara Pengunjung Puskesmas 100%
tunggu pasien dengan penegakan protokol langsung dilakukan KIE
kesehatan
Tidak langsung Di lakukan dengan media promosi (TV, Leaflet, SPO penyuluhan dengan media
brosur, media sosial) kolaborasi dan sinergi
dengan promosi kesehatan
2 Pertemuan*) Pertemuan untuk Pertemuan koordinasi pelaksanaan program SPO pertemuan koordinasi Koordinasi pelaksanaan 100%
koordinasi program (lintas program) di Puskesmas dengan penegakan lintas program program dengan pihak
protokol kesehatan terkait
* Pertemuan dengan Pertemuan untuk Pertemuan koordinasi pelaksanaan program di SPO pertemuan koordinasi
virtual meeting koordinasi dengan kader masyarakat dengan melibatkan kader dan lintas kader dan lintas sektor
lebih disarankan dan lintas sektor sektor
3 Posbindu FR PTM Pelaksanaan Posbindu Pelaksanaan Posbindu di wilayah atau di SPO Posbindu Pengunjung Posbindu 100%
institusi/tempat kerja dengan tetap SPO Penyuluhan dilakukan skrining FR
*) menunggu Juknis dari melaksanakan protokol Kesehatan yang SPO Skrining PTM, sekrining jiwa,
Kemenkes dilaksanakan 1 bulan sekali. lembar skrining sekrining gangguan
1. Kader Posbindu adalah kader usia produktif indera dan fungsinya
tidak rentan dengan faktor risiko Covid-19 (<
45 th), sehat (tidak sedang sakit atau bukan
penyintas penyakit khronis)
2. Pengunjung adalah masyarakat sehat (tidak
sedang sakit)
3. Kader dan pengunjung menerapkan physical
distancing dalam jarak 1,5 -2 m, memakai
masker, tidak bersalamam dan saling
menyentuh.
4. Disediakan sarana CTPS atau handsanitizer
serta desinfektan di tempat Posbindu untuk
desinfeksi sebelum dan sesudah kegiatan
5. Pengunjung tidak boleh berkerumun, harus
antri dan duduk diatur berjarak 1-2 meter
6. Tidak diperkenankan merokok di sekitar
Posbindu (bebas asap rokok)
7. Tidak ada kegiatan tambahan
8. Penyuluhan dilakukan dengan membagi
leaflet atau konsultasi lewat media sosial
(WA grup dan lainnya)
9. Posbindu dilaksanakan kurang dari 2 jam.

18
Output
No. Program Kegiatan Uraian Dokumen
Diskripsi (mutu) Target
10. Petugas Puskesmas dapat melakukan
pendampingan sesuai jadwal dan daerah
binaan masing-masing
11. Petugas Puskesmas melakukan
pendampingan dengan menggunakan APD :
masker medis, faceshield, apron, handscoon
12. Pelaporan berjenjang ke Dinas Kesehatan
Kota Yogyakarta
4 Kesehatan Jiwa Pembentukan dan 1. Pembentukkan TPKJM di tingkat Kecamatan 1. SK TPKJM Penanganan Pasien 100%
Pelaksanaan Kegiatan : dan KSSJ di tingkat kelurahan dapat 2. SK KSSJ gangguan jiwa di wilayah
1. Tim Pelaksanan dilakukan memalui kegiatan rutin 3. SPO penanganan Gadar sesuai standar
Kesehatan Jiwa koordinasi lintas sector Psikiatrik
Mayarakat (TPKJM) 2. Kegiatan tim tetap memperhatikan protocol 4. SPO TAK
2. Kelurahan Siaga Sehat Covid 19
Jiwa (KSSJ) 3. Penanganan kasus kegawatdaruratan
psikiatri di wilayah untuk berkoordinasi
dengan TPKJM dan KSSJ dan
memperhatikan protocol Covid 19
4. Kegiatan terapi aktifitas kelompok dapat
dilakukan dengan ketentuan :
a. Pasien dan keluarganya tidak sedang
demam, batuk dan pilek
b. Pasien dan keluarga tidak memiliki
penyakit penyerta/ komorbid
c. Pasien dan keluarganya tidak ada
riwayat bepergian atau dikunjungi
keluarga dari luar kota
d. Peserta tetap menjaga jarak minimal
1,5- 2 meter
e. Petugas dan Peserta wajib memakai
masker
f. Petugas menyediakan fasilitas cuci
tangan dengan sabun atau
handsanitiser
g. Jumlah peserta dibatasi, maksimal 20
orang
h. Lama pertemuan maksimal 2 jam
PHN/ Kunjungan Rumah Kunjungan oleh petugas pada kasus tertentu Form kunjungan Sasasaran dilakukan 100%
(masuk kriteria dikunjungi) untuk memastikan kunjungan
kontrol rutin penyintas PTM Keswa dan untuk
tindak lanjut kasus pemasungan.
Petugas menerapkan protokol kesehatan dan
menggunakan APD (masker bedah, face shield,
gown/ apron, handscoon)
19
2. Pengendalian Penyakit Menular (P2M)
Output
No. Program Kegiatan Uraian Dokumen
Diskripsi (mutu) Target
1 Pencegahan Penularan KIE TB Pelaksanaan Komunikasi, pemberian informasi SPO KIE Pasien TB mendapatkan KIE 100 %
Covid dan TB dan edukasi kepada pasien TB tentang SPO pemakaian APD
konsistensi dalam tatalaksana pengobatan TB SPO Etika Batuk dan bersin
dan perlindungan diri terhadap faktor risiko
paparan Covid-19 dengan penegakan disiplin
protocol kesehatan
Investigasi Kontak (IK) Investigasi kontak melalui komunikasi daring SPO Investigasi Kontak Daring Kontak erat kasus Indeks 100 %
daring (Telepon, whatsap, videocall, dsb) terhadap orang Form Investigasi Kontak (IK) dilakukan investigasi dan
yang kontak dengan pasien TB. tercatat dalam form TB 16
Form TB 16
Catatan :
Kontak erat hasil investigasi kontak yang
mempunyai gejala TB diminta untuk datang ke
Puskesmas, sesuai jadual pelayanan TB
Investigasi Kontak (IK) Kunjungan ke lokasi kontak erat pasien TB jika SPO Investigasi Kontak, Form Kontak erat kasus Indeks 100 %
langsung investigasi kontak daring tidak bisa dilakukan Investigasi Kontak (IK) dilakukan investigasi dan
dengan mematuhi protokol kesehatan dan tercatat dalam form TB 16
menggunakan APD sesuai level. Form TB 16
catatan
- Petugas memakai APD (Masker dan
Faceshield)
- Menjaga Jarak saat wawancara
- Dilakukan di tempat terbuka atau tempat
dengan sirkulasi udara yang baik
Skrining Gejala TB Skrining gejala TB pada TFU, Tempat Kerja, SPO Skrining Gejala TB di TFU Orang yang terpapar TB 100%
Sekolah dilakukan dengan melalui pengisian dilakukan skrining gejala TB
quisioner google form
Evaluasi pengisian google form untuk Form Skrining/Googleform Orang dengan gejala TB 100%
mengetahui adanya gejala TB pada orang yang ditetapkan sebagai terduga
terpapar TB
Penemuan terduga TB hasil skrining gejala TB Form TB 06 Orang dengan gejala TB 100%
selanjutnya mengikuti alur penegakan diganosa dicatat dalam Form TB 06
pada pasien TB di Puskesmas sebagai terduga TB

20
Output
No. Program Kegiatan Uraian Dokumen
Diskripsi (mutu) Target
2 Diagnosa dan Penemuan dan Diagnosa Semua terduga TB dan Pasien TB dilakukan: SPO penemuan pasien TB Terduga TB dan pasien 100%
Pengobatan Pasien TB a. Skrining gejala Covid Alur Diagnosa TB TB di skrining gejala
b. Di gali informasi tentang riwayat perjalanan TB 01 Covid
dan riwayat kontak dengan pasien Covid
Pengiriman sampel Pemeriksaan sputum di Laboratorium TCM SPO Rujukan sampel Sampel sputum untuk 100%
Sputum untuk dengan rujukan sampel ( Tidak dianjurkan pemeriksaan TCM diagnose TB SO dan TB
pemeriksaan TCM merujuk pasien) Form TB 05 RO dirujuk pemeriksaan
TCM
Pemantauan Menelan Pemantauan menelan obat pasien TB dilakukan SPO Pemantauan Menelan Obat Pasien TB dipantau 100%
Obat memalui komunikasi daring baik oleh petugas menelan obat dan
atau kader. TB 01 tercatat dalam TB 01
Pemantauan Efek Samping Pemantauan efek samping obat pasien TB SPO Pemantauan Efek samping Pasien TB dipantau efek 100%
Obat dilakukan melalui komunikasi daring, apabila Obat samping obat dan
efek samping obat TB mebutuhkan pelayanan tercatat dalam TB 01
lebih lanjut disarankan untuk datang ke TB 01
Puskesmas sesuai jadwal pelayanan TB
Pemantauan Follow up Pengambilan dan pemeriksaan sputum follow up SPO Follow up Pengobatan Pasien TB dipantau 100%
Pengobatan pengobatan TB disesuaikan dengan jadwal follow up pengobatan TB
pelayanan TB di Puskesmas TB 01 dan tercatat dalam TB 01
Pelayanan Pasien TB Proses antrian dalam pelayanan TB harus Pasien TB mengikuti alur 100%
dihindarkan atau diminimalisir dengan Alur pelayanan pasien pelayanan TB
melakukan beberapa hal yang memungkinkan
terutama di tempat-tempat pasien berkumpul
seperti loket pendaftaran, antrian pemeriksaan
laboratorium dan pengambilan obat di farmasi.
Pemisahan ruang pelayanan pasien TB dengan Ruang pelayanan TB 100%
pasien Covid terpisah dengan
pelayanan covid
a. Penetapan hari layanan TB jadwal Jadwal layanan pasien TB Semua pasien TB
pengambilan OAT bertujuan mengurangi mengikuti jadwal
frekuensi pasien TB datang ke Fasyankes, TB 02 pelayanan TB
b. Pada pasien TB fase intensif OAT dapat
diberikan untuk 14 sd 28 hari
c. Pada pasien TB fase lanjutan OAT dapat
diberikan untuk 28 hari
d. Pada pasien yang memerlukan injeksi harian
pasien dapat datang setiap hari ke Fasyankes
dengan mengikuti jadwal jam kunjungan yang
sudah ditetapkan

21
3. Sistem Informasi Kesehatan dan Surveilans (SIK dan Surveilans)
Output
No Program Kegiatan Uraian Dokumen
Deskripsi (Mutu) Target
1 Penyelidikan Memastikan kebenaran laporan melalui WA/Telpon/SMS/Email/ SIMPUS Data SIMPUS Tindak lanjut kurang dari 24 100%
Epidemiologi (PE) yang masuk SPO Konfirmasi Laporan jam
Potensial Kejadian Luar
Biasa (KLB) Pembuatan dokumen W1 W1 dikirim ke Dinas Kesehatan dalam waktu SPO Pengisian SOP Dokumen W1 dibuat lengkap 100%
1x 24 jam untuk dilaporkan ke Dinas Dokumen W1 Puskesmas dan dikirimkan selambatnya
Kesehatan Propinsi dalam 1 x 24 jam
Investigasi Kasus, identifikasi Penyelidikan Epidemiologi Format PE Protokol kesehatan 100%
kontak erat, edukasi pasien, SPO PE, dilaksanakan
komunikasi risiko dan SPO Komunikasi risiko
pengambilan sampel sesuai Identifikasi kontak erat SPO Identifikasi kontak erat Kontak erat teridentifikasi 100%
dengan KLB yang ditangani
Pengambilan sampel oleh tenaga Kesehatan SPO Pengambilan sampel Sampel diambil dengan benar 100%
(dokter/perawat/lab/sanitarian) dan tepat
Edukasi pasien SPO Edukasi Edukasi dilakukan terhadap 100%
pasien terdampak
Komunikasi risiko SPO Komunikasi Risiko Komunikasi dilaksanakan 100%
Surveilans rutin Surveilans kasus potensial KLB termasuk Format pemantauan sesuai Surveilan Covid-19 100%
pemantauan Probable ringan, suspect dan dengan kasus yang ditangani dilaksanakan
kontak erat untuk kasus covid-19 SOP surveilans Covid-19
dilaksanakan sampai KLB dinyatakan Surveilans penyakit lainnya Surveilans penyakit lainnya
berakhir
Pembuatan pelaporan Pelaporan dikirim ke Dinas Kesehatan DIY Dokumen hasil PE Pelaporan ke pihak-pihak 100%
dan pihak-pihak terkait terkait terdistribusi
2 Surveilans ILI dan Pendataan semua pasien kasus ILI Data dientri setiap hari SPO Entry data simpus Pasien ILI periksa di 100%
Pneumonia melalui dan Pneumonia di puskesmas SPO pendataan ILI Puskesmas terdata di SIMPUS
SKDR melalui SIMPUS
Menangkap dan memastikan Data dientri setiap hari melalui SIMPUS SIMPUS Warga dengan kasus ILI dan 100%
informasi (rumor) dimasyarakat Puskesmas Pneumonia di wilayah terdata
tentang adanya kasus ILI dan di SIMPUS
Pneumonia di wilayah
Surveilans aktif Pendataan dan pemantauan Pendataan menyesuaikan daerah yang telah Aplikasi Semua warga dari 100%
/pemantauan pelaku Pelaku perjalanan dari dikunjungi warga dalam beberapa hari corona.jogjakota.go.id, wilayah/negara terjangkit
perjalanan (PP) negara/wilayah lain yang terakhir sesuai kasus. Format PE Sesuai kasus didata
terjangkit penyakit negara/wilayah
yang dikunjungi
Pelaku Haji dan Umroh SPO Pemantauan PP
Ziarah Yerusalem SPO Pemantauan PP
PP ke Negara Lainnya SPO Pemantauan PP
PP dari Wilayah terjangkit SPO Pemantauan PP

22
4. Program Promosi Kesehatan (Promkes)
Output
No. Program Kegiatan Uraian Dokumen
Diskripsi Target
1 Advokasi Melakukan advokasi dengan Melakukan advokasi tentang UKM dengan Dokumen kesepakatan lintas kesepakatan 100%
pimpinan/pengambil protokol kesehatan di masa tatanan tatanan sektor tentang kegiatan promosi (dukungan) kegiatan
kebijakan di wilayah kerja normal baru kepada pimpinan/pemangku kesehatan pimpinan/pemangku
kebijakan camat, lurah, RW, RT di wilayah SPO Lokmin kebijakan
2 Penggalangan Menjalin kemitraan dengan Identifikasi mitra potensial (Toma, Toga, instansi Dokumen identifikasi mitra Mitra potensial 100%
kemitraan sasaran gugus tugas pemerintah dan swasta) di wilayah dari tingkat potensial di wilayah teridentifikasi
tingkat kelurahan, kader, kecamatan, kelurahan dan RW SPO Identifikasi
relawan kesehatan, TP PKK, Jalin komunikasi dan advokasi untuk SPO Advokasi dan Komunikasi Tersusun Dokumen 100%
swasta, tokoh masyarakat, memperoleh dukungan dan komitmen dari mitra Langsung MoU ,kesepakatan,
tokoh agama dan mitra protensial secara langsung dengan menerapkan SPO Advokasi dan Komunikasi dukungan kegiatan
potensial lain di wilayah protokol kesehatan/media daring. secara Daring atau melalui media
3 Komunikasi, integrasi, Komunikasi, integrasi, Komunikasi, integrasi dan sinkronisasi kegiatan Dokumen telaah capaian program Target kegiatan hasil 100%
sinkronisasi sinkronisasi promkes (yang belum memenuhi target) dengan promkes rekomendasi lokmin
melibatkan lintas program maupun lintas sektor SPO Lokmin Lintas Sektor terlaksana
melalui loka karya mini dalam pertemuan SPO lintas program
langsung dengan menerapkan protokol
kesehatan atau melalui media daring.
4 Pemantauan kegiatan Memantau, mengumpulkan Pendataan PHBS tatanan rumah tangga dokumen hasil pendataan PHBS KK sampel (terpilih) 100%
pemberdayaan data PHBS tatanan rumah dilaksanakan oleh kader kesehatan dengan tatanan rumah tangga terdata
masyarakat bidang tangga oleh kader menerapkan protokol kesehatan/ menggunakan
kesehatan komunikasi daring . Pendataan menggunakan
teknik sampling
Melakukan pengumpulan Pengumpulan data dilaksanakan oleh petugas dokumen hasil pendataan PHBS 4 lokasi yang sudah 100%
data PHBS tatanan tempat dengan menerapkan protokol kesehatan tatanan ditetapkan terdata
pendidikan, fasilitas
kesehatan, TPP dan TFU
Memantau pelaksanaan pemantauan pelaksanaan UKBM dengan hasil pemantauan pelaksanaan jumlah UKBM 100%
UKBM menerapkan protokol kesehatan/media daring UKBM terjadwal dipantau
5 Membuat media Analisis kebutuhan media pj promkes melakukan analisa kebutuhan dokumen analisis kebutuhan analisis kebutuhan 100%
promosi promosi promosi kesehatan melalui media (cetak, visual, pesan promosi tersusun
audio visual dan lainnya) dan selesai
Pembuatan Media promosi Membuat disain dan media promosi sesuai disain media Pembuatan media 100%
dengan pesan kesehatan yang dibutuhkan yang direncanakan
membuat disain media promkes sesuai
kebutuhan

23
5. Program Kesehatan Keluarga (Kesga) dan Gizi

Output
No. Program Kegiatan Uraian Dokumen
Diskripsi (mutu) Target
A Kesehatan Keluarga
1. Pelayanan hamil Pemantauan kesehatan Pemeriksaan dilakukan 2 kali di TM I dan TM III SPO pelayanan ANC Pemeriksaan bumil di TMI 100%
bumil dan Janin dilakukan dan TM III (10 T)
6 kali (10 T) Pemantauan ibu hamil TM I dan III dilakukan SPO pemantauan Ibu Hamil Ibu Hamil mendapat 100%
dengan metode daring (whatsapp, telepon, SMS) TM I dan III pemantauan kehamilan TM
Rekam Medis 1 dan III melalui daring
Kohortt
Pemeriksaan kehamilan pertama pada TM I oleh SPO Pemeriksaan TM I dengan Pemeriksaan TM I oleh 100%
dokter dengan melakukan janji temu janji temu dokter
Pada kunjungan TM I setiap faktor risiko digali SPO Penggalian faktor risiko, Penemuan FR dan rencana 100%
dengan tepat dan mendalam untuk perencanaan TL dan rencana pemantauan
merencanakan tindak lanjut dan pemantauan. pemeriksaan
Jika hasil pemeriksaan pada TM I ditemukan
permasalahan maka dijadualkan pemeriksaan
kehamilan sebelum TM III
Tunda pemeriksaan kehamilan TM II kecuali SPO Pemantauan Kehamilan Keluhan tersampaikan 100%
terdapat keluhan atau dapat dilakukan dengan TM II secara daring
telekonsultasi klinis (Whatsapp, telepon, SMS),
tablet tambah darah bisa diberikan melalui SPO Pemberian TTD Terdata K1 dan K4 100%
kader/suami/keluarga SPO pelaporan K1-K4 (kunjungan dan daring)
Pemberian PMT dan Makanan tambahan ibu hamil di berikan dengan SPO Pemberian MT dan TTD Bumil KEK mendapatkan 100%
Tablet tambah Darah prioritas pada ibu hamil KEK/memiliki faktor PMT
(TTD) risiko ekonomi
Pemberian Tablet tambah darah SPO Pemberian MT dan TTD Bumil mendapatkan TTD 100%
Tablet tambah darah tidak diberikan* bagi ibu
hamil yang berstatus probable atau terkonfirmasi
Co-19
Kelas Ibu Hamil Pengisian Kelas Ibu Hamil dilakukan secara daring SPO Kelas Bumil Secara Daring - Ternotifikasi P4K 100%
dan penempelan Stiker Program Perencanaan
Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)
dipandu bidan/perawat/dokter melalui media
komunikasi
Pelaksanaan protokol Pada seluruh pelayanan Bumil memperhatikan Protokol kesehatan Protokol Kesehatan 100%
Kesehatan dan prinsip PPI protokol Kesehatan dan penegakan kewaspadaan SPO Penggunaan APD, dilaksanakan
standar (PPI) SPO Pelepasan APD, Kewaspadaan standar 100%
SPO Penyimpanan APD Dan dilaksanakan
Lainnya
Pelayanan RT-PCR RT-PCR yang dilakukan untuk ibu hamil pada usia SPO RT-PCR untuk Ibu Hamil Seluruh ibu hamil 100%
kehamilan 38 – 39 bulan menjelang persalinan persalinan normal

24
Output
No. Program Kegiatan Uraian Dokumen
Diskripsi (mutu) Target
2 Pelayanan persalinan Persalinan Normal non Persalinan normal tetap dilakukan di Puskesmas SPO pelayanan persalinan Persalinan aman dan 100%
Covid-19 bagi ibu hamil dengan status bukan kasus bersih sesuai 60 langkah
suspek dan kasus probable. APN
Persalinan Normal Ibu hamil berisiko atau berstatus kasus suspek SPO rujukan persalinan Pelayanan rujukan 100%
dengan non Covid-19 dan kasus probable dilakukan rujukan secara dengan kosus Co-19 persalinan dilakukan
terencana untuk bersalin di fasyankes rujukan dengan memperhatikan
protokol kesehatan dan
prinsip PPI
3 Pelayanan KB Pelayanan KB rutin
Akseptor Suntik Akseptor datang ke petugas kesehatan sesuai SPO pelayanan Akseptor Akseptor Suntik 100%
jadwal dengan membuat perjanjian sebelumnya. Suntik menggunakan kontrasepsi
Jika tidak memungkinkan, Akseptor
menggunakan kondom yang dapat diperoleh dari
petugas PLKB atau kader
Akseptor IUD/Implant Akseptor IUD/Implan yang habis masa pakainya SPO pelayanan Akseptor Akseptor IUD/Implan 100%
jika tidak memungkinkan untuk datang ke IUD/Implan menggunakan kontrasepsi
petugas, akseptor menggunakan kondom yang
dapat diperoleh dari petugas PLKB atau kader
Akseptor Pil/kondom Jika tidak ada akseptor menghubungi petugas SPO pelayanan Akseptor Akseptor Pil/Kondom 100%
PLKB atau kader atau Petugas Kesehatan untuk Pil/Kondom menggunakan kontrasepsi
mendapatkan Pil KB/kondom
Pelayanan KB Pasca salin Pelayanan KB pasca persalinan tetap berjalan SPO Pelayanan KB Pasca Ibu pasca salin mendapat 100%
sesuai prosedur dengan mengutamakan MKJP Persalinan pelayanan KB MKJP
Pelayanan KIE Materi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) SPO KIE PUS mendapatkan KIE KB 100%
serta pelaksanaan konseling KB melalui daring
4 Pelayanan nifas Kunjungan nifas pertama Pelaksanaan kunjungan nifas pertama (KF 1) di SPO Pelayanan Nifas Pelayanan Nifas K1 di 100%
(KF 1) fasyankes. fasyankes
Kunjungan nifas kedua (KF Kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan SPO Kunjungan nifas oleh Ibu Nifas mendapat 100%
2), ketiga (KF 3) dan Tenaga kesehatan pelayanan KF 2,KF 3, KF 4
keempat (KF 4) (cara : Pemantauan daring SPO Pemantauan daring KF2, Keluhan tersampaikan 100%
optional/pilihan) KF3 dan KF4 secara daring
5 Pelayanan Neonatal Pelayanan neonatal Pemotongan dan perawatan tali pusat, inisiasi SPO Pelayanan Neonatal Pelayanan neonatal Esensial 100%
(esensial dan KN 1, esensial saat lahir (0-6 jam) menyusu dini, injeksi vitamin K1, pemberian Esensial di fasyankes
KN 2, dan KN 3) salep/tetes mata antibiotik dan pemberian
imunisasi hepatitis B
Pelayanan kunjungan Pelayanan KN1 dilakukan di fasyankes SPO Pelayanan Neonatal Neonatal mendapat 100%
neonatal pertama (KN1) di Pertama (KN1) pelayanan KN1 di fasyankes
fasyankes
Kunjungan neonatal kedua Dilakukan dengan metode kunjungan rumah SPO KN2 dan KN3 oleh Neonatus mendapat 100 %
dan ketiga ( cara : oleh tenaga kesehatan Tenaga kesehatan kunjungan rumah (KN2) dan
optional/pilihan) (KN3)
Pemantauan menggunakan media daring SPO Pemantauan Keluhan tersampaikan secara 100%
daring
25
Output
No. Program Kegiatan Uraian Dokumen
Diskripsi (mutu) Target
Imunisasi Pelaynanan imunisasi bayi Pelayanan imunisasi Hb0 (bayi baru lahir ), SPO Pelayanan Imunisasi Bayi mendapatkan imunisasi 100%
BCG pada usia 0 – 1 bulan,
Pentabio dan IPV umur 2, 3 dan 4 bulan
MR pada umur 9 bulan
Booster Pentabio 18 bulan SPO Pelayanan Imunisasi Baduta mendapat imunisasi 100%
MR pada usia 18 bulan
6 Pelayanan Catin Kespro Catin Pemeriksaan kesehatan pada calon pengantin SPO KIE Catin dengan Catin mendapatkan KIE 100%
ditunda pelaksanaannya. KIE pada calon metode daring kespro catin
pengantin (Catin) dilakukan melalui
telekonsultasi atau media komunikasi atau bila
perlu dengan janji temu untuk kunjungan ke
Puskesmas

Output
No. Program Kegiatan Uraian Dokumen
Diskripsi (mutu) Target
1 Persiapan Pertemuan Koordinasi Koordinasi internal di puskesmas dan eksternal SPO Koordinasi Puskesmas Koordinasi internal 100%
Pemantauan (kader) dalam rangka pelaksanaan pemantauan (Linprog), SOP Koordinasi Koordinasi eksternal 100%
pertumbuhan balita pertumbuhan konvensional Eksternal (Linsek)
Simulasi Pemantauan Simulasi pemantauan konvensional yang Presensi
Pertumbuhan dilakukan oleh kader dengan bimbingan tenaga SPO Pemantauan
kesehatan meliputi ; pertumbuhan
1. Standarisasi timbangan SPO Standarisasi Timbangan Kader mampu melakukan 100%
SPO Pengukuran TB dan LILA standarisasi
2. Melakukan penimbangan SPO Penimbangan Kader mampu menimbang 100%
SPO Desinfeksi Ala
3. Pengukuran TB dan LILA SPO Standarisasi timbangan Kader mampu mengukur TB 100%
SPO penimbangan dan LILA
SPO pengukuran TB dan LILA
Persiapan sarana dan Penyiapan sarana yang dibutuhkan dalam 1. Daftar sarana yang Kesiapan sarana (jenis dan 100%
sasaran rangka pemantauan pertumbuhan digunakan* jumlah)
2. Data sasaran balita Kesiapan tempat 100 %
perposyandu by name Sasaran ditetapkan 100%
3. Form Pencatatan dan
Pelaporan sesuai format
EPPGBM
Persiapan kader/relawan Penyiapan kader dengan memperhatikan Daftar kader yang Kader menyatakan
kebutuhan kegiatan dan risiko (keamanan) menyatakan kesediaan kesediaan
Covid-19 saat melaksanakan kegatan

26
Output
No. Program Kegiatan Uraian Dokumen
Diskripsi (mutu) Target
2 Pelaksanaan Standarisasi Timbangan Timbangan terstandarisasi oleh Relawan/Kader SPO Standarisasi Timbangan Timbangan terstandarisasi 100 %
Pemantauan setiap hari ketika akan digunakan
Pertumbuhan Balita Desinfeksi Desinfeksi Alat pelaksanaan pemantauan SPO Desinfeksi Alat Desinfeksi Alat terlaksana 100 %
pertumbuhan sebelum dan sesudah SPO Pemantauan sesuai SPO
pelaksanaan kegiatan : Pertumbuhan metode
a. Timbangan kunjungan rumah
b. Microtoise/Infantometer SPO Standarisasi Timbangan
c. Pita LILA bayi SPO Pengukuran TB dan LILA
d. Fasilitas Lain yang sering terpegang oleh SPO Penimbangan
tangan SPO Desinfeksi Alat
Penimbangan dan Seluruh balita sasaran dilakukan pengukuran Format Pelaporan EPPGBM Balita sasaran diukur dan 100 %
pengukuran dan penimbangan oelh kader/relawan ditimbang
Pelaporan ke Puskesmas Laporan dapat terisi lengkap danterkirim Format EPPGBM yang sudah Format laporan terisi 100 %
kepuskesmas sesuai hari pengukuran dan terisi lengkap
penimbangan Laporan terkirim tepat 100 %
waktu
3 Tindak Lanjut Semua balita yang terlaporkan mendapat kan Aplikasi EPPGBM Balita terlapor mempunyai 100 %
Penentuan Status Gizi assessment status gizi berdasarkan laporan yang status gizi
masuk dari kader/relawan
Kunjungan Rumah Balita Kunjungan rumah untuk validasi data dengan Data sasaran balita Kunjungan rumah oleh 100 %
Bermasalah Gizi oleh skala prioritas : bermasalah gizi berdasar petugas dilakukan terpadu
petugas 1. Balita dengan status gizi pendek kurus skala prioritas
2. Balita dengan status gizi tinggi kurus
3. Balita dengan status gizi pendek gemuk
4. Balita dengan status gizi tinggi gemuk balita bermasalah gizi 100%
5. Balita dengan BGM dan minimal 2 T mendapat intervensi

27
6. Penyehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja (PLKK)
Output
No. Program Kegiatan Uraian Dokumen
Diskripsi Target
1 Penyehatan Pemantauan Tempat Melakukan Kunjungan untuk pemantauan dan Form / Blangko IKL TFU dan TFU dan TPP dilakukan 100 %
Lingkungan dan Fasilitas Umum (TFU)dan penilaian TFU dan TPP TPP pemantauan/Inspeksi
Kesehatan Kerja Tempat Pengelolaan SPO Pemantauan
Pangan (TPP)
Pengambilan dan Sampling air/makanan di tempat fasilitas Buku bantu / buku sampel Sampel air/makanan diambil 100 %
pengiriman sampel air dan umum dan TPP untuk dilakukan pemeriksaan SPO Pengambilan sampel
makanan pada TFU dan di laboratorium, meliputi : air/makanan
TPP Pengambilan sampel
Pengiriman sampel SPO Pengiriman sampel Sampel air/makanan dikirim 100 %
air/makanan
Pemeriksaan sampel dengan sanitarian test kit SPO pemeriksaan sampel Sampel air/makanan diperiksa 100 %
dengan sanitarian test kit
Monitoring pelaksanaan Monitoring pelaksanaan desinfeksi Pemantauan desinfeksi 100 %
desinfeksi TFU dan TPP permukaan / des infeksi ruangan di hotel permukaan dan ruangan di
sasaran SPO Des infeksi permukaan hotel
Monitoring kegiatan desinfeksi permukaan di SPO Des infeksi ruangan di TFU( Pemantauan desinfeksi 100 %
/ des infeksi ruangan di pasar sasaran Pasar , Hotel, dll ) permukaan dan ruangan di
Protokol Kesehatan di TFU - pasar
Monitoring kegiatan desinfeksi permukaan di SPO penggunaan Alat Pemantauan Pelaksanaan 100 %
/ des infeksi ruangan di Mall / swalayan desinfeksi desinfeksi permukaan dan
sasaran Perhitungan kebutuhan des ruangan di Mall/swalayan
infektan dan volume/luas
ruangan yang akan dides
infeksi
Monitoring kegiatan desinfeksi permukaan / Pemantauan Pelaksanaan 100 %
des infeksi ruangan di Tempat ibadah sasaran desinfeksi permukaan dan
ruangan di Tempat ibadah
Monitoring kegiatan desinfeksi permukaan / Pemantauan Pelaksanaan 100 %
des infeksi ruangan di Resto/rumah makan desinfeksi permukaan dan
sasaran ruangan di Resto/rumah
makan
Monitoring kegiatan desinfeksi permukaan / Pemantauan Pelaksanaan 100 %
des infeksi ruangan di TFU dan TPP lainnya desinfeksi permukaan dan
sasaran ruangan di TFU dan TPP
lainnya
Monitoring sarana dan Melaksanakan pemantauan fasilitas CTPS di Data sarana TFU dan TPP Sarana prasarana /Fasilitas 100 %
prasarana Cuci Tangan TFU dan TPP (Pasar, mall, hotel, tempat List ketersediaan sarana dan CTPS yang ada di TFU dan TPP
Pakai Sabun (CTPS) di TFU ibadah, rumah makan,sekolah,dll) prasarana CTPS dan atau hand dimonitoring/dipantau
dan TPP sanitizier
Pemantauan pemberian tanda atau antrian SPO CTPS Di area CTPS diberi tanda 100 %
orang yang akan cuci tangan Protokol Kesehatan antrian/jarak antrian
penanganan covid di TFU dan
TPP
28
Output
No. Program Kegiatan Uraian Dokumen
Diskripsi Target
Komunikasi, Informasi, Pemberian sosialisasi, Informasi dan Edukasi SPO KIE langsung KIE sesuai sasaran
dan Edukasi (KIE) terkait kepada masyarakat secara langsung ataupun
kesling untuk masyarakat tidak langsung terkait kesehatan lingkungan SPO KIE tidak langsung KIE sesuai sasaran

Informasi dan Edukasi kepada masyarakat SPO Cuci Tangan Pakai Sabun Masyarakat dapat
tentang Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dan melaksanakan CTPS /
atau pemakaian hand sanitizer pemakaian hand sanitizer
dengan benar
100%
Informasi dan Edukasi kepada masyarakat SPO pengelolaan limbah terkait Masyarakat dapat menerapkan
tentang pengelolaan limbah terkait COVID COVID di masyarakat pengelolaan limbah terkait
(masker bekas kontak erat/probable) di COVID dengan benar
masyarakat

Informasi dan Edukasi kepada masyarakat SPO dan protokol kesehatan di Masyarakat menerapkan PHBS
tentang protokol kesehatan terkait COVID di TFU dan TPP di TFU dan TPP sesuai protokol
TFU dan TPP (Tempat ibadah, stasiun, terminal, kesehatan
mall, hotel, restoran, dll)
KIE tentang penggunaan Alat Pelindung Diri SPO penggunaan dan Masyarakat selalu patuh
(APD) pengelolaan APD menggunakan APD
(masker/face shield,dll)
Pengelolaan Limbah Kegiatan yang dilaksanakan - Data suspect dan Probable suspect atau Probable isolasi
Medis padat (masker) memantau/monitoring dan pengawasan isolasi mandiri mandiri melakukan pengelolaan
untuk suspect, probable / pelaksanaan pengelolaan limbah medis padat - SPO Pengelolaan limbah masker
karantina mandiri di berupa masker yang dikenakan suspect, masker untuk suspect dan
rumah probable yang melakukan isolasi mandiri di Probable isolasi mandiri Limbah medis suspect dan
rumah - Leaflet pengelolaan masker Probable isolasi mandiri
bagi suspect/probable isolasi terkelola dengan baik dan
mandiri memenuhi syarat
- Leaflet/sticker CTPS
- Protokol Kesehatan bagi
suspect dan Probable yang
melakukan isolasi mandiri
Penyediaan Tempat Penyediaan tempat penampungan sementara - SPO Pengelolaan limbah sarana/fasilitas tempat 100%
Penampungan Sementara di Puskesmas untuk masker yang dikumpulkan medis padat (masker) dari penampungan sementara
Masker dari masyarakat dan dikirimkan oleh masyarakat masyarakat masker dari yang dikumpulkan
(semacam drop box) dan dikirimkan masyarakat
tersedia di Puskesmas

29
BAB IV
UPAYA KESEHATAN PERSEORANGAN (UKP)

Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP) pada masa Tatanan normal baru di Kota
Yogyakarta mengikuti kebijakan Menteri Kesehatan yang tertuang dalam surat Edaran
Menteri Kesehatan Nomor HK.02.01/MENKES/303/2020 tentang Penyelenggaraan Pelayanan
Kesehatan Melalui Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam rangka Pencegahan
Penyebaran Coronavirus Disease 2019 Covid-19. Pemerintah Kota Yogyakarta telah membuat
sistem kendali penyebaran berbasis aplikasi Corona Monitoring System (CMS) yang bisa
diakses oleh seluruh masyarakat Kota Yogyakarta yang telah memiliki akun Jogja Smart
Service (JSS).
Delapan belas Puskesmas di Kota Yogyakarta telah diaktifasi dan terkoneksi dengan aplikasi
Jogja Smart Service (JSS) untuk melakukan pendaftaran online dan penjadualan kehadiran
calon pasien di Puskesmas. Update laporan kejadian kasus terbaru dilakukan setiap hari
dengan sistem yang terkoneksi secara online.
A. Pelayanan Dalam Gedung
Pelayanan Dalam Gedung dilakukan perubahan atau modifikasi untuk mengurangi risiko penularan
Covid-19 di Puskesmas. SOP disesuaikan dengan kondiri masing-masing puskesmas. Secara umum
perubahan dilakukan dengan menerapkan protokol Kesehatan khususnya pelaksanaan
kewaspadaan standar (PPI) secara ketat. Puskesmas menerapkan triase/skrining terhadap setiap
pengunjung yang datang, mengubah alur pelayanan, menyediakan ruang pemeriksaan khusus
ISPA, mengubah posisi tempat duduk pasien dan lainnya

Gambar 1. Alur Pelayanan Puskesmas Kota Yogyakarta pada Masa Tatanan normal baru

30
1. Pelayanan Rawat Jalan
a. Puskesmas melakukan modifikasi jadual pelayanan sesuai dengan sasaran pelayanan dengan
mempertimbangkan kondisi dan kemampuan sarana prasaran puskesmas.
b. Pada setiap pelayanan rawat inap memperhatikan dan melaksanakan Standar Prosedur
Operasional (SPO) dan prinsip kewaspadaan standar (PPI)
c. Pembatasan pelayanan gigi dan mulut
Pelayanan pada keadaan darurat seperti nyeri yang tidak tertahan ; gusi yang bengkak
dan berpotensi mengganggu jalan nafas, perdarahan yang tidak terkontrol dan trauma
pada gigi dan tulang wajah yang berpotensi mengganggu jalan nafas.
Pelayanan gigi dan mulut darurat yang memicu terjadinya aerosol dilakukan dengan APD
lengkap sesuai dengan pedoman misal ; penggunaan scaler ultrasonik dan high speed air
driven.
d. Surat keterangan sehat dapat dikeluarkan berdasarkan hasil pemeriksaan kondisi
pasien secara umum pada saat pemeriksaan dilakukan. Surat keterangan bebas
Covid-19 tidak dapat dikeluarkan mengingat adanya orang yang terinfeksi tapi tidak
bergejala dan konfirmasi Covid-19 melalui RT-PCR tidak dapat dilakukan di Puskesmas.
e. Pasien dengan penyakit kardiovaskuler seperti gagal jantung, hipertensi, atau penyakit
jantung iskemik, pemberian terapi antagonis RAAS dapat dilanjutkan untuk pasien
yang terindikasi menerima pengobatan sesuai rekomendasi dokter spesialis
kardiovaskuler. Pada kasus pasien dengan penyakit kardiovaskular yang terinfeksi Covid-
19, keputusan terkait obat- obatan perlu dikaji secara individual, dengan
mempertimbangkan status hemodinamik dan presentasi klinis pasien.
2. Pelayanan dengan tempat tidur atau rawat inap persalinan.
Persalinan normal dilakukan di Puskesmas bagi ibu hamil dengan status BUKAN suspek,
Probable atau Konfirmasi Positif sesuai kondisi kebidanan menggunakan APD sesuai
pedoman. Ibu hamil berisiko atau berstatus suspek, probable atau terkonfirmasi Covid-
19 DILAKUKAN RUJUKAN secara terencana untuk bersalin di Fasyankes rujukan.
3. Pelayanan gawat darurat.
Jika terjadi kasus gawat darurat, pelayanan gawat darurat dilaksanakan sesuai standar
pelayanan yang berlaku dengan memperketat proses triase dan memperhatikan
prinsip kewaspa daa s tanda r ( PPI). Apabila tidak dapat ditentukan bahwa pasien
memiliki potensi Covid-19 maka pasien diperlakukan sebagai kasus Covid-19.
B. Pelayanan di Luar Gedung
1. Pelayanan dapat dilakukan dengan cara kunjungan langsung atau melalui daring dengan
memperhatikan prinsip kewaspadaan standar (PPI) dan penggunaan APD sesuai pedoman.
2. Bila pemantauan kasus dapat dilakukan dengan kunjungan langsung, petugas Puskesmas
melakukan pemantauan progres PISPK dan pengumpulan data ( bila belum dilakukan
sebelumnya).
3. Pelaksana pelayanan di luar gedung adalah petugas Kesehatan Puskesmas, dapat
melibatkan lintas sektor ; RT/RW, kader dasawisma, jejaring Puskesmas, satgas
kecamatan/desa/kelurahan/RT/ RW yang sudah dibentuk dengan tupoksi yang jelas.
C. Pelayanan Farmasi
1. Pelayanan kefarmasian dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian
dengan memperhatikan kewaspadaan standar, menerapkan physical distancing (mengatur
jarak aman antar pasien di ruang tunggu, mengurangi jumlah dan waktu antrian).
31
Pemberian obat pasien dengan gejala ISPA dapat dilakuan terpisah dari pasien non ISPA
untuk mencegah terjadinya risiko transmisi.
2. Petugas farmasi berkoordinasi dengan program terkait melakukan penyesuaian
kebutuhan obat, BMHP/AMPH, APD, desinfektan, dan reagen laboratorium sesuai dengan
kebutuhan (rapid test, kontainer steril, swab dacron atau flocked swab dan Virus Transport
Medium (VTM).
3. Pelayanan farmasi bagi lansia, pasien PTM, pasien gangguan jiwa dan penyakit kronis
lainnya, obat dapat diberikan untuk jangka waktu lebih lama sesuai dengan kebijakan.
D. Pelayanan Laboratorium
1. Pelayanan laboratorium pasien non Covid-19 tetap dilaksanakan sesuai standar dengan
memperhatikan kewaspadaan standar (PPI) dan physical distancing.
2. Pemeriksaan laboratorium terkait Covid-19 (termasuk pengelolaan dan pengiriman
spesimen) mengacu pedoman dan dilakukan oleh tenaga kesehatan yang telah
memperoleh peningkatan kapasitas atau terlatih dalam pemeriksaan rapid test (RDT) dan
RT-PCR (pengambilan swab, penyimpanan dan pengiriman).
3. Petugas laboratorium menghitung kebutuhan rapid test, kontainer steril, Virus Transport
Medium (VTM) dan lainnya dengan memperhatikan jumlah kasus Covid-19 di wilayah
Puskesmas.
4. Memperhatikan kemungkinan terjadinya cross reaction dengan flavavirus dan virus unspecific
lainnya (termasuk Covid-19) Pada setiap pemeriksaan Serological Dengue IgM positif harus
dipikirkan kemungkinan infeksi Covid-19 sebagai differential diagnosis teruta terutama bila
gejala klinis semakin berat.
E. Pemulasaran Jenazah
Puskesmas dan PSC 119 sebagai unsur Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta berperan dalam verifikasi
penetapan status jenazah. Verifikasi dilakukan berdasarkan data Covid-19 di wilayah pada jam
kerja Puskesmas, dan di luar jam kerja Puskesmas verifikasi diilakukan oleh PSC 119.

Gambar 2. Alur Pemulasaran Jenazah Gugus Tugas Percepatan Pengendalian Covid-19


Kota Yogyakarta

32
F. MATRIK UPAYA KESEHATAN PERSEORANGAN
Puskesmas Kota Yogyakarta

Output
No. Program Kegiatan Uraian Dokumen
Diskripsi (mutu) Target
A Pelayanan Dalam Gedung
Penegakan protokol terapi Kegiatan rutin dilaksanakan untuk Register pengunjung puskesmas Seluruh pengunjung 100%
pengunjung puskesmas pemantauan pengunjung puskesmas SPO Pengunjung Puskesmas. melakukan 5
1. Menggunakan masker (masker kain protokol kesehatan
atau masker bedah)
2. Cuci tangan dengan sabun (cair) dan air
mengalir
3. diukur suhu tubuh oleh petugas
4. Menjaga jarak antar pengunjung > 1 m
5. Menerapkan etika batuk, bagi pasien
yang batuk
Triase Co-19/Skrining Setiap pengunjung puskesmas dilakukan Lembar skrining Pengunjung Pusk 100%
pengunjung puskesmas triase/skrining untuk melakukan pemilahan SPO skrining dilakukan triase C0-
menurut gejala klinis SPO triase Co-19 19 dan skrining
Perubahan alur Perubahan alur pemeriksaan Dokumen perubahan alur Alur pemeriksaan Terlaksana 14
pemeriksaan pasien/pengunjung diatur untuk pemeriksaan pasien disesuaikan dengan Juni 2020
menghindari risiko paparan dan penularan (SK Kepala Puskesmas atau juknis pelayanan
penyakit melalui sentuhan, dropplet dan air dokumen lain yang menyebutkan Puskesmas dimasa
born perubahan alur) pandemi Co-19
SPO alur pasien puskesmas
Ketersediaan ruang Puskesmas menyediakan ruang pelayanan Dokumen penetapan ruang Ruang pelayanan Terlaksana 14
pelayanan khusus ISPA khusus ISPA untuk mengurangi risiko pelayanan khusus ISPA ISPA tersedia Juni 2020
paparan (SK Kepala Puskesmas)
Perubahan posisi duduk di Posisi duduk pengunjung diatur sesuai Dokumen penetapan perubahan Perubahan posisi 100% tempat
ruang tunggu (sesuai dengan protokol kesehatan yang diterapkan penataan posisi duduk duduk sesuai duduk
dengan protokol) di puskesmas pengunjung puskesmas protokol kesehatan
(SK Kepala Puskesmas atau
dokumen lain yang menyebutkan
perubahan alur)
SPO Pengaturan Posisi Duduk
Perubahan posisi duduk Posisi duduk petugas dengan pasien diatur Dokumen penetapan perubahan Perubahan posisi 100 %
pasien dengan petugas untuk menghindari risiko paparan SPO pengaturan posisi duduk duduk petugas dan
antara pasien dan petugas pasien sesuai
prinsip PPI
Sekat khusus bagi pasien Sekat khusus yang dibuat untuk membatasi SPO penatalaksanaan pasien
yang berpotensi antara petugas dan pasien yang berpotensi yang berpotensi menimbulkan
menimbulkan aerosol dan menimbulkan aerosol (batuk/bersin) aerosol
segera dilakukan desinfeksi * untuk pengukuran tensi bisa dilakukan
setelah selesai Pemeriksaan modifikasi sekat

34
Output
No. Program Kegiatan Uraian Dokumen
Diskripsi Target
B Pendaftaran
Pendaftaran online Pendaftaran melalui JSS Pendaftaran pasien puskesmas melalui SPO pendaftaran online Calon pasien 100%
yang dikelola oleh website Jogja Smart Service (JSS) melakukan
Admin (ditetapkan Pendaftaran melalui telp pusk Pendaftara paseien melalui direct phone pendaftaran online
oleh kapus) (telepon puskesmas) dikelola admin
Pendaftaran melalui WA Pendaftaran pasien puskesmas melalui
WA
Penjadualan Kedatangan pasien Penjadualan kedatangan pasien periksa SPO penjadualan kedatangan Pasien online 100%
kesehatan sesuai dengan pendaftararan pasien terjadual
online dan pemberitahuan kepada pasien pemeriksaannya
Pendaftaran off-line Pendaftaran secara langsung ke Pasien datang ke puskesmas untuk SPO pendaftaran langsung Pasien langsung 100%
Puskesmas mendapatkan pelayanan kesehatan (offline) terdaftar
C. Pelayanan rawat
Jalan
Jadual pelayanan Modifikasi jadual pelayanan Modifikasi jadual pelayanan berdasarkan Jadual kunjungan/pemeriksaan Penyesuaian jadual Selesai pada 14
sasaran program untuk menghindari risiko berdasarkan sasaran program sesuai sasaran Juni 2020
paparan program (100%)
Tatalaksana Disiplin SPO Setiap pelaksanaan kegiatan pemeriksaan SPO Permeriksaan pasien
pemeriksaan mengikuti standar prosedur operasional (umum, KIA, Gigi dan lainnya)
yang telah ditetapkan
Penegakan skrining Proses skrining lanjutan oleh tenaga medis Form skrining Pasien dilakukan 100%
dan/atau tenaga kesehatan lainnya pada SPO Skrining pasien skrining di ruang
saat pasien di ruang pemeriksaan pemeriksaan
Pelaksanaan (implementasi) PPI Pelaksanaan atau implementasi SPO terkait pelaksanaan Petugas dan pasien 100%
kewaspadaan standar pada seluruh kewasapadaan standar (cuci melaksanakan
tatalaksana pasien rawat jalan tangan, pemakaian masker dll) kewaspadaan
standar
Penegakan physical dist. Physical distancing dilaksanakan pada SPO physical distancing Petugas dan pasien 100%
seluruh proses pelayanan rawat jalan melakukan PD
Penggunaan APD sesuai Seluruh petugas pelayanan rawat jalan SPO pemakaian APD, pelepasan Petugas 100%
pedoman menggunakan APD sesuai pedoman APD, penyimpanan APD dan menggunakan APD
lainnya yang sesuai

35
Output
No. Program Kegiatan Uraian Dokumen
Diskripsi (mutu) Target
Pelayanan gigi Pelayanan pada keadaan Tindakan pada kondisi SPO tindakan sesuai dengan Pelayanan pasien dengan 100%
darurat 1. Nyeri yang tidak tertahan uraian kondisi darurat dilakukan
2. Gusi yang bengkak dan berpotensi dengan memperhatikan
mengganggu jalan nafas, prinsip PPI
3. Perdarahan yang tidak terkontrol
4. Trauma pada gigi
5. Tulang wajah yang berpotensi mengganggu
jalan nafas
6. Pencabutan gigi susu tanpa anestesi injeksi
7. Jika menggunakan Scaler ultrasonik, High
speed air driven yang memicu terjadinya
aerosol menggunakan APD lengkap sesuai
dengan pedoman
Penerbitan Surat Pelayanan Surat keterangan Surat keterangan sehat yang dikeluarkan SPO Pelayanan Surat Surat keterangan Sehat 100%
keterangan sehat berdasarkan hasil pemeriksaan kondisi pasien keterangan sehat. diterbitkan sesuai hasil
secara umum pada saat pemeriksaan Form Surat Keterangan Sehat pemeriksaan
dilakukan. *) dibakukan oleh Dinas
ctt : tidak menjelaskan/menerangkan pasien Kesehatan
yang bersangkutan bebas Covid-19
Pelayanan Surat Keterangan Puskesmas Tidak memberikan pelayanan surat Surat Pemberitahuan/Edaran Tidak ada Surat 100%
bebas Covid-19 keterangan bebas Covid-19 yang menerangkan bahwa Keterangan Bebas Covid-
Ctt : Puskesmas tidak menerbitkan 19 dari Puskesmas
Puskesmas tidak melakukan pemeriksaan Surat Keterangan Bebas
melalui PCR bagi orang terinfeksi COVID-19 Covid-19
dengan kontak erat dan konfirmasi COVID-19.
Pelayanan Pandu Pelayanan Penderita Penyakit 1. Pasien (Non Covid-19) diberikan pelayanan SPO Pelayanan Pasien PTM Pasien PTM mendapat 100%
PTM PTM dan Prolanis lanjutan sesuai dengan SOP dan pasien dan Prolanis pelayanan sesuai standar
Covid-19 dirujuk ke FKRTL SPO rujukan PTm & Prolanis
2. Minum obat secara teratur sesuai anjuran
Dokter.
3. Kontrol rutin dan pemberian obat sebaiknya
dilakukan satu bulan sekali dengan
ketentuan pasien dalam kondisi stabil.
4. Jika pasien tidak memungkinkan untuk
datang ke Faskes karena kondisi
penyakitnya, maka dapat diwakilkan oleh

36
keluarga atau orang terdekat pasien yang
tahu kondisinya.
5. Pasien dan keluarganya untuk menyimpan
nomor kontak Dokter /fasyankes tempat
berobat. Beberapa hari sebelum obat habis
segera hubungi kontak tersebut dan
konsultasikan tentang kelanjutan konsumsi
obatnya.
6. Untuk konseling tentang kondisi pasien
dapat dilakukan oleh keluarga pasien atau
orang terdekat pasien yang tahu kondisinya,
atau dapat dilakukan dengan hotline
Puskesmas/ faskes
7. Edukasi pasien :
a. Istirahat cukup (tidur 6-8 jam sehari)
dan kelola stres
b. Jaga physical distancing minimal 1,5 -
2 meter, hindari kerumunan atau
keramaian
c. Upayakan aktivitas fisik 30 menit/hari
atau sesuai saran dokter
d. Konsumsi makanan dengan gizi
seimbang, kurangi gula, garam dan
lemak berlebihan
e. Berjemur 15-20 menit setiap hari di
antara waktu pukul 08.00-11.00
f. Sering cuci tangan dengan sabun dan
air mengalir atau hand sanitizer
g. menggunakan masker saat keluar
rumah baik dalam kondisi sehat
ataupun sakit, tutup mulut ketika
bersin dan batuk dengan lengan atau
tisu
h. Berhenti Merokok dan hindari asap
rokok
i. Bila muncul gejala (demam, batuk,
suara serak dan sesak nafas) yang
memberat, hubungi fasyankes
terdekat untuk pemeriksaan lebih
lanjut

37
Skrining FR PTM dalam gedung Pelaksanaan skrining pada pelayanan dalam SPO Skrining FR PTM dalam Pasien mendapatkan 100%
gedung di Puskesmas maupun Pustu : gedung pelayanan Deteksi dini FR
1. Mengikuti alur pelayanan di Puskesmas atau PTM sesuai standar
Pustu.
2. Pengunjung adalah masyarakat sehat (tidak
sedang sakit demam, batuk maupun pilek)
3. Petugas dan pengunjung menerapkan
physical distancing dalam jarak 1,5 -2 m,
memakai masker, tidak bersalamam dan
saling menyentuh.
4. Disediakan sarana CTPS atau handsanitizer
serta desinfektan di tempat pelayanan
5. Pengunjung tidak boleh berkerumun, harus
antri dan duduk diatur berjarak 1-2 meter
6. Dilakukan anamnesa, pemeriksaan dan
pengukuran FR PTM dan skrining penyakit
menular (misalnya : TB, Covid 19)
7. Tidak ada kegiatan tambahan
8. Penyuluhan dilakukan dengan membagi
leaflet atau konsultasi lewat media sosial
(WA grup dan lainnya)
9. Pelaporan berjenjang ke Dinas Kesehatan
Kota Yogyakarta
Deteksi dini Ca Cerviks & Ca Pelaksanaan IVA & Sadanis di puskesmas bagi SPO pemeriksaan IVA & WUS dilakukan deteksi 100%
Payudara pasien yang tidak dalam keadaan sakit/ Sadanis dini Ca Cerviks & Ca
mengalami gejala yang mengarah Covid19 SPO penggunaan APD level 2 Payudara
Protokol Kesehatan di
Puskesmas
Pelayanan Pelayanan kesehatan jiwa Pelayanan Kesehatan Jiwa pada masa ini harus SPO pelayanan gangguan jiwa Pelayanan gangguan jiwa 100%
Kesehatan Jiwa mengikuti prosedur pencegahan Covid19, SPO pelayanan psikolog sesuai standar
antara lain : SPO kegawatdaruratan
1. Pasien dapat melakukan kontrol rutin dan psikiatri
mendapat obat sebulan sekali SPO rujukan gangguan jiwa
2. Pasien dapat datang dengan didampingi
keluarga atau orang terdekat yang tahu
kondisinya
3. Pasien menggunakan masker kain sendiri
dan cuci tangan dengan sabun atau
desinfektan

38
4. Pasien dilakukan skrining untuk Covid19
dan skrining kesehatan jiwa
5. Pasien dan keluarga dapat dilakukan
konseling dengan tetap melakukan prinsip
physical/ sosial distancing
6. Konseling dapat dilakukan dengan media
leaflet/brosur/media elektronik (WA atau
hotline layanan psikolog Puskesmas)
7. Jika tidak memungkinkan datang ke
Puskesmas, pengambilan obat dan
rujukan dapat diwakilkan keluarga/ orang
terdekat yang tahu kondisi pasien
8. Rujukan sesuai prosedur rujukan BPJS
9. Edukasi kepada pasien untuk melakukan
PHBS, menjaga kebersihan diri dan
lingkungan, makan makanan dengan gizi
seimbang, aktifitas fisik minimal 30 menit/
hari, berhenti merokok, tidak minum
alkohol, dan kelola stres.
10. Jika diperlukan kunjungan rumah pasien
gangguan jiwa maka Puskesmas dapat
membentuk tim PHN dan dilaksanakan
dengan memperhatikan prosedur
Covid19.
Pelayanan Persalinan normal non Co-19 Persalinan pada ibu hamil bukan suspect, SPO persalinan normal Persalinan normal 100%
persalianan Normal Probable dan Konfirmasi Covid-19 dilakukan di dilaksanakan di Puskesmas
puskesmas dengan menggunakan APD sesuai sesuai SPO
pedoman
Merujuk Persalinan ibu hamil Persalinan Ibu hamil berisiko atau suspect, SPO Rujukan Persalinan bumil Persalinan bumil berisiko 100%
berisiko dan dengan kasus Co- Probable dan konfirmasi COVID-19 dirujuk berisiko dan dengan kasus Co- dan dengan kasus Co-19
19 secara terencana untuk bersalin di Fasyankes 19
rujukan

39
Output
No. Program Kegiatan Uraian Dokumen
Diskripsi (mutu) Target
Pelayanan Gawat Pelayanan Kegawatdaruratan Pelayanan gawat darurat tetap dilaksanakan SPO Pelayanan Kedaruratan Pasien gawat darurat 100%
Darurat sesuai standar pelayanan yang berlaku dengan diberikan pelayanan
memperketat proses triase dan perawatan sesuai SPO
memperhatikan prinsip PPI.
Pasien yang tidak dapat ditentukan memiliki
potensi Co-19 diperlakukan sebagai kasus Co-
19, petugas menggunakan APD lengkap.
Kefarmasian Pelayanan kefarmasian Pelayanan kefarmasian dilaksanakan sesuai SPO Pelayanan Kefarmasian Pelayanan farmasi pada 100%
dengan standar pelayanan kefarmasian (SOP) pasien sesuai SPO
dan melaksanakan kewaspadaan standar
Pelayanan pasien dengan gejala Pelayanan farmasi pasien ISPA terpisah dengan SPO Pelayanan Farmasi Pelayanan farmasi sesuai 100%
ISPA pasien non ISPA Pasien dengan ISPA SPO
Informasi dan edukasi secara langsung SPO KIE langsung Pasien diberikan edukasi 100%
dan/atau tidak langsung (sistem informasi dan SPO KIE tidak langsung
telekomunikasi)
Perencanaan kebutuhan Kebutuhan reguler dan pemenuhan kebutuhan SPO perencanaan Kebutuhan 100%
obat/reagen/bmhp pada masa pandemi dikoordinasikan dengan kebutuhan obat/reagen/bmhp
programer terkait Form/lembar perencanaan direncanakan untuk
* Penyesuaian kebutuhan ; obat, BMHP, APD, Dokumen perencanaan pelayanan
Desinfektan, bahan pemeriksaan lab untuk SPO terkait lainnya
Covid-19 (RDT, kontainer steril, VTM)
Pelayanan Pemeriksaan lab terkait Co- Pelayanan lab terkait Co-19 dilakukan oleh SPO pelayanan Lab terkait Pemeriksaan sesuai 100%
Laboratorium 19/pengelolaan dan pengiriman tenaga kesehatan yang telah memperoleh Co-19 standar
spesimen peningkatan kapasitas terkait pemeriksaan
rapid test dan pengambilan swab
Implementasi kewaspadaan Seluruh pelayanan Lab dilakukan dengan Form Assesmen Kewaspadaan terlaksana 100%
standar memperhatikan kewaspadaan standar atau pelaksanaan Kewaspadaan di Lab
memperhatikan PPI standar
Perencanaan kebutuhan reagen Petugas laboratorium menghitung kebutuhan Form kebutuhan sarana Kebutuhan sarana 100%
dan bmhp terkait Co-19 rapid test, kontainer steril, swab dacron atau Lembar Permintaan direncanakan
flocked swab dan Virus Transport Medium
(VTM) (dengan memperhatikan prevalensi
kasus COVID-19)
Melakukan kewaspadaan Melakukan kewaspadaan terjadinya cross Form pemantauan cross reaction terlaksana 100%
terjadinya cross reaction reaction flavavirus dan virus unspecific
lainnya(termasuk COVID-19) setiap
pemeriksaan Serological Dengue IgM positif
pada keadaan pandemi COVID-19 harus
dipikirkan kemungkinan infeksi COVID-19
sebagai differential diagnosis terutama bila
gejala klinis semakin berat.

40
BAB V
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI)

Pelaksanaan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di Puskesmas bertujuan untuk untuk
memutus rantai penyebaran dan penularan penyakit infeksi melalui kewaspadaan standar dan
kewaspadaan berdasarkan transmisi. Petugas Puskesmas perlu memahami enam komponen
rantai penularan dalam upaya proteksi, keamanan diri dan pencegahan penularan ;
1. Agen infeksi (infectious agent) adalah mikroorganisme penyebab infeksi. Agen penyebab
infeksi Covid-19 adalah virus severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-C0V-2).
2. Reservoir atau wadah tempat/sumber agen infeksi dapat hidup, tumbuh, berkembang-
biak dan siap ditularkan kepada manusia. Reservoir Covid-19 adalah saluran napas atas.
3. Pintu keluar adalah lokasi tempat agen infeksi (mikroorganisme) meninggalkan reservoir.
Pintu keluar Covid-19 adalah saluran napas, hidung dan mulut.
4. Cara penularan (Metode Transmisi) adalah metode transport mikroorganisme dari
wadah/reservoir ke pejamu yang rentan, Penularannya Covid-19 melalui ; (1) kontak langsung
dan tidak langsung, (2) droplet, (3) airborne
5. Pintu masuk adalah lokasi agen infeksi memasuki pejamu yang rentan. Virus Covid-19
melalui saluran napas, hidung, mulut, dan mata.
6. Pejamu rentan adalah seseorang dengan kekebalan tubuh menurun sehingga tidak mampu
melawan agen infeksi. Faktor yang dapat mempengaruhi kekebalan adalah umur, status gizi,
status imunisasi, penyakit kronis.
A. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Puskesmas
1. Kewaspadaan Standar
Kewaspadaan standar dilakukan melalui 11 langkah sesuai pedoman yang berlaku,
untuk kasus COVID-19 terdapat penekanan-penekanan sebagai berikut:
a. Kebersihan tangan
Kebersihan tangan dilakukan dengan cara 6 langkah benar cuci tangan dan
5 Momen kapan harus dilakukan cuci tangan.
Harus tersedia sarana cuci tangan seperti wastafel dengan air mengalir, sabun cair
agar setiap pengunjung/pasien melakukan cuci tangan pakai sabun (CTPS) saat datang
dan pulang dari Puskesmas.
b. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Penggunaan APD memerlukan 4 unsur yang harus dipatuhi yaitu, menetapkan
indikasi penggunaan APD, cara memakai dengan benar, cara melepas dengan benar,
cara mengumpulkan (disposal) setelah dipakai. Cara tersebut dilakukan sesuai
pedoman yang berlaku.
Penetapan indikasi penggunaan APD dilakukan dengan mempertimbangkan resiko
terpapar, dimana APD digunakan oleh orang yang berisiko terpajan dengan pasien atau
material infeksius; dinamika transmisi, yaitu droplet dan kontak, transmisi secara
airborne dapat terjadi pada tindakan yang memicu terjadinya aerosol misalnya
resusitasi jantung paru, pemeriksaan gigi seperti penggunaan scaler ultrasonik dan
high speed air driven, pemeriksaan hidung dan tenggorokan, pemakaian nebulizer
dan pengambilan swab. Jenis APD yang digunakan pada kasus COVID-19, berdasarkan
tempat layanan kesehatan, profesi dan aktivitas petugas, cara pemakaian dan
pelepasan APD dapat dilihat pada lampiran.
42
c. Kesehatan lingkungan
1) Pembersihan area sekitar pasien menggunakan klorin 0,05%, atau H2O2
0,5-1,4%, bila ada cairan tubuh menggunakan klorin 0,5%:
a) Pembersihan permukaan sekitar pasien harus dilakukan secara rutin setiap
hari, termasuk setiap kali pasien pulang/keluar dari fasyankes (terminal
dekontaminasi).
b) Pembersihan juga perlu dilaksanakan terhadap barang yang sering tersentuh
tangan, misalnya: nakas disamping tempat tidur, tepi tempat tidur dengan
bed rails,tiang infus, tombol telpon, gagang pintu, permukaan meja kerja, anak
kunci, dll.
2) Ventilasi dan kualitas udara
Sistem Ventilasi adalah sistem yang menjamin terjadinya pertukaran udara di dalam
gedung dan luar gedung yang memadai, sehingga konsentrasi droplet nuklei
menurun. Sistem ventilasi campuran mengkombinasikan antara ventilasi alamiah
dan penggunaan peralatan mekanis. Misalnya, kipas angin yang berdiri atau
diletakkan di meja dapat mengalirkan udara ke arah tertentu, hal ini dapat berguna
bila dipasang pada posisi yang tepat, yaitu dari petugas kesehatan ke arah pasien. )
Penempatan pasien
Penempatan pasien termasuk di sini penyesuaian alur guna menempatkan pasien
infeksius terpisah dengan pasien non infeksius. Disamping itu, penempatan
pasien disesuaikan dengan pola transmisi infeksi penyakit pasien (kontak, droplet,
airborne) sebaiknya ruangan tersendiri.
d. Etika batuk dan bersin
Petugas, pasien dan pengunjung dengan gejala infeksi saluran napas harus menerapkan
etika batuk. Edukasi terkait hal ini disampaikan melalui media
/secara langsung oleh petugas. Disamping itu bagi pengunjung/pasien harus
menggunakan masker sesuai ketentuan yang berlaku.
e. Penyuntikan yang aman
f. Pengelolaan Limbah Hasil Pelayanan Kesehatan
g. Dekontaminasi Peralatan Perawatan Pasien
h. Penanganan dan pencucian linen yang sudah dipakai dengan aman
i. Perlindungan Kesehatan Petugas
1) Semua petugas Kesehatan menggunakan APD saat berisiko terjadi paparan
darah, produk darah, cairan tubuh, bahan infeksius atau bahan berbahaya
2) Dilakukan pemeriksaan berkala terhadap semua petugas kesehatan terutama
pada area risiko tinggi
a. Tersedia kebijakan pelaksanaan akibat tertusuk jarum/benda tajam
b. bekas pakai pasien
3) Tata laksana pasca pajanan
2. Kewaspadaan berdasarkan transmisi/infeksi
Sesuai cara penularannya, jenis kewaspadaan berdasarkan transmisi yang berlaku pada
kasus suspek dan COVID-19 adalah kewaspadaan berdasarkan transmisi droplet, kontak,
dan airborne pada kondisi tertentu yang dilaksanakan mengacu pada pedoman yang
berlaku.
Terkait kewaspadaan berdasarkan transmisi melalui airborne pengaturan penempatan

43
posisi pemeriksa, pasien dan ventilasi mekanis di dalam suatu ruangan dengan
memperhatikan arah suplai udara bersih yang masuk dan keluar. Pada saat
pemeriksaan fisik arahkan muka pasien berlawanan arah dengan muka pemeriksa
WHO merekomendasikan natural ventilasi, boleh kombinasi dengan mekanikal ventilasi
menggunakan kipas angin untuk mengarahkan dan menolak udara yang tercemar menuju
area ruangan yang dipasang exhaust van/jendela/lubang angin sehingga dapat membantu
mengeluarkan udara. Posisi duduk petugas juga diatur agar aliran udara bersih dari arah
belakang petugas ke arah pasien atau memotong antara pasien dan petugas
B. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Bagi Masyarakat
Selama mengakses pelayanan di Puskesmas dan saat sehari-hari, masyarakat melakukan:
1. Rutin cuci tangan pakai sabun enam langkah dengan air bersih mengalir
2. Hindari kerumunan
3. Hindari menyentuh mata hidung dan mulut
4. Melakukan etika batuk dan bersin
5. Berdiam diri di rumah
6. Hindari daerah dengan jumlah kasus COVID-19 tinggi
7. Karantina diri selama 14 hari jika memiliki riwayat bepergian ke daerah terjangkit
8. Tidak berjabat tangan
9. Segera ganti baju dan mandi selepas bepergian ke luar rumah
10. Bersihkan barang-barang yang sering di sentuh
11. Menggunakan masker jika terpaksa harus ke luar rumah.

44
Lampiran 1
SURVEI PHBS RUMAH TANGGA

Survei PHBS Tatanan Rumah Tangga dirancang merupakan survei potong lintang yang dilakukan setiap
tahun dengan basis rumah tangga di Kota Yogyakarta. Survei ini menggunakan pendekatan
penyampelan acak yang distratifikasi (stratified random sampling). Stratifikasi dilakukan dua tahap,
pertama stratifikasi berdasarkan kecamatan dan setelah itu stratifikasi berdasarkan Kalurahan.
Pemilihan sampel rumah tangga didasarkan pada pemilihan RT dalam satu kalurahan secara acak
secara sistematik dan RT yang terpilih kemudian dipilih rumah tangga secara acak sistematik pula dari
daftar rumah tangga yang ada di RT terpilih. Besarnya sampel di setiap kecamatan atau kalurahan
ditentukan berdasarkan probability proportional to size (PPS) dimana kalurahan yang memiliki jumlah
rumah tangga yang lebih besar akan memperoleh alokasi sampel yang lebih besar pula.
1. Kerangka Sampel
Kerangka sampel dari survei ini adalah daftar rumah tangga untuk setiap rukun tetangga (RT),
Kelurahan dan Kecamatan yang dihasilkan dari Data Pelayanan Dinas Kependudukan dan
Pencatatan Sipil Kota Yogyakarta yang diperharui setiap tahun.
2. Besaran Sampel
Jumlah sampel rumah tangga yang dibutuhkan untuk survey ini dengan memperhitungkan capaian
awal (baseline) dari indikator-indikator, response rate, efek disain dan keakuratan yang diinginkan
maka rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

2
𝑝 (1 − 𝑝) 𝐷𝑒𝑓𝑓
𝑚 = 𝑍𝛼/2 𝑥 𝑥
𝑑2 𝑟∗𝑎
Keterangan:
𝑚 = minimum sampel
𝑍𝛼/2 = 1.96
𝑝 = prevalensi variable yang dinginka (50%)
𝑑 = margin of error (5%)
𝐷𝑒𝑓𝑓 = Design Effect = 2
𝑟 = respon rate = (70%)
𝑎 = availibility rate (60%)

Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus dan asumsi-asumsi yang ada di setiap variabel
dalam rumus tersebut maka jumlah sampel yang dibutuhkan untuk survey ini adalah 1,829 rumah
tangga atau dibulatkan menjadi 1830 rumah tangga. Jumlah sampel itu akan berada di 183 RT
yang tersebar di 14 Kecamatan dan 45 Kalurahan di Kota Yogyakarta.

45
4. Pemilihan Sampel
Oleh karena survey akan dilakukan setiap tahun, maka aloksi sampel RT per kalurahan akan seperti
alokasi yang sudah ditentukan diatas. Meskipun demikian, RT yang terpilih mungkin akan tidak
sama mengingat setiap pelaksanaan survey, RT yang akan menjadi sampel akan diacak dari RT yang
ada di dalam kelurahan tersebut. Pemilihan RT yang terpilih akan menggunakan metode acak
sistematik dimana seluruh RT yang ada di sebuah kalurahan akan diurutkan dari 1 hingga jumlah
yang terakhir. Setelah itu akan ditentukan interval untuk memilih sampel dengan rumus= jumlah
seluruh RT di kelurahan dibagi jumlah alokasi RT di kelurahan. Untuk memulai pemilihannya
(random start) akan ditentukan dengan memilih angka secara acak mulai dari no 1 hingga angka
interval yang keluar.

Contoh: Kelurahan dengan jumlah RT sebanyak 20 RT akan dipilih 4 RT sebagai sampel. Maka RT
yang ada di kelurahan tersebut akan diurutkan mulai 1 hingga 20. Kemudian akan
ditentukan intervalnya yaitu: 20/4=5. Setelah itu akan di tentukan random start yaitu
memilih sebuah angka diantara 1 hingga 5. Misalnya terpilih angka 3 maka RT yang
terpilih adalah mulai dari RT yang berada diurutan 3 kemudian dilanjutkan dengan
menghitung 3+5=8 sebagai RT yang kedua, 8+5=13 sebagai RT yang ketiga, 13+5=18
sebagai RT yang keempat.

Prinsip pemilihan rumah tangga menggunakan cara yang sama dengan pemilihan RT yaitu
menggunakan metode random sistematik, dengan cara seluruh rumah tangga yang ada di sebuah
RT akan diurutkan mulai 1 hingga rumah tangga yang terakhir. Setelah itu ditentukan intervalnya
dengan cara membagi jumlah rumah tangga yang ada di RT terpilih dengan jumlah alokasi sampel
rumah tangga per RT yaitu 10. Setelah itu ditentukan angka random startnya untuk kemudian
dimulai pemilihan sampel rumah tangganya.

Contoh: Sebuah RT memiliki 100 Rumah Tangga, maka intervalnya adalah 100/10=10. Untuk itu
ditentukan angka random startnya dengan memilih secara acak angka 1-10. Setelah
terpilih angka random startnya (misalnya 10), maka rumah tangga yang terpilih sebagai
sampel adalah rumah tangga dengan nomor 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90, 100.

Untuk memastikan bahwa rumah tangga yang ada di dalam sebuah RT adalah rumah tangga yang
diharapkan, maka petugas survei terlebih dahulu akan bertemu dengan Ketua RT setempat untuk
melakukan verifikasi apakah rumah tangga yang ada di dalam daftar masuk di dalam kriteria inklusi
(sesuai dengan persyaratan survei). Di dalam survei ini tidak ada penggantian rumah tangga misalnya
46
sebuah rumah tangga yang sudah terpilih sebagai sampel tidak bisa ditemui pada saat kunjungan
petugas survei ke rumah tangga yang terpilih karena sudah diperhitungkan sebelumnya di dalam
menentukan besaran sampel untuk survei ini. Meski demikian, rumah tangga tersebut bisa dikunjungi
kembali jika dalam kunjungan pertama atau kedua tidak dapat ditemui.

Instrumen
Kuesioner untuk survei ini adalah Survei PHBS yang dimodifikasi oleh DInas Kesehatan Kota dengan
menambahkan sejumlah indikator di dalam RAD ini. Instrumen ini mencakup informasi demografi
rumah tangga, KIA, perilaku dan gaya hidup sehat, kesehatan lingkungan, faktor risiko penyakit tidak
dan disabilitas. Instrumen survei bisa dilihat pada bagian akhir dari lampiran ini.

Pengumpulan dan Analisis Data


Pengumpulan data akan dilakukan oleh para kader posbindu yang ada di setiap kalurahan dengan
didampingi oleh petugas puskesmas setempat. Dinas Kesehatan akan menentukan penentuan sampel
untuk masing-masing kalurahan dan melaksanakan pelatihan pengumpulan data bagi kader setiap
tahun ketika survei akan dilaksanakan. Pelaksanaan pengumpulan data akan dikoordinasikan oleh
puskesmas setempat. Data akan dikelola oleh puskesmas dan dikirimkan ke Dinas Kesehatan untuk
dianalisis lebih lanjut. Analisis data survei PHBS akan dilakukan berdasarkan pedoman analisis survei
PHBS yang telah ditentukan oleh Kementerian Kesehatan.

Pelaporan
Hasil analisis data PHBS akan digunakan untuk menyusun laporan perkembangan pelaksanaan RAD
khususnya yang terkait dengan indikator hasil yaitu indikator (4) peningkatan aktifitas fisik, (5)
penurunan prevalensi merokok pada penduduk usia ≥10 tahun, (6) peningkatan proporsi makan
buah/sayur, (7) penurunan proporsi obesitas sentral pada usia ≥15 tahun dan (8) penurunan proporsi
obesitas pada usia ≥18 tahun.

47
Besar Sampel RT di 45 Kalurahan, 14 Kecamatan Kota Yogyakarta

No. Kecamatan Kelurahan Sampel No. Kecamatan Kelurahan Sampel


1 Tegalpanggung 4 22 Gedongkiwo 6
2 Danurejan Bausasran 3 23 Mantrijeron Mantrijeron 5
3 Suryatmajan 2 24 Suryodiningratan 5
4 Pringgokusuman 6 25 Brontokusuman 5
Gedongtengen
5 Sosromenduran 3 26 Mergangsan Keparakan 4
6 Baciro 6 27 Wirogunan 5
7 Demangan 4 28 Ngampilan 5
Ngampilan
8 Gondokusuman Klitren 4 29 Notoprajan 4
9 Kotabaru 1 30 Bener 2
10 Terban 4 31 Karangwaru 4
Tegalrejo
11 Ngupasan 3 32 Kricak 6
Gondomanan
12 Prawirodirjan 4 33 Tegalrejo 4
13 Bumijo 5 34 Giwangan 4
14 Jetis Cokrodiningratan 4 35 Mujamuju 5
15 Gowongan 4 36 Pandeyan 6
16 Kadipaten 3 37 Umbulharjo Semaki 2
17 Kraton Panembahan 4 38 Sorosutan 7
18 Patehan 3 39 Tahunan 4
19 Prenggan 5 40 Warungboto 4
20 Kotagede Purbayan 5 41 Pakuncen 5
21 Rejowinangun 6 42 Wirobrajan Patangpuluhan 4
43 Wirobrajan 4
Jumlah 83 Jumlah 100

48
Lampiran 2
Infografis Percepatan Pengendalian Covid-19 Kota Yogyakarta.

49
Lampiran 3
Infografis Percepatan Pengendalian Covid-19 Kota Yogyakarta.

50
Lampiran 4
Infografis Percepatan Pengendalian Covid-19 Kota Yogyakarta.

51