Anda di halaman 1dari 3

Teori Perubahan Perilaku

Hal yang penting dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan
perubahan perilaku. Karena perubahan perilaku merupakan tujuan dari promosi kesehatan
atau pendidikan kesehatan sebagi penunjang program – program kesehatan lainnya. Banyak
teori perubahan perilaku ini antara lain akan diuraikan di bawah ini:

1) Teori Stimulus Organisme (SOR)


Perubahan perilaku merupakan sebuah respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus
(rangsangan dari luar). Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa penyebab terjadinya
perubahan perilaku tergantung kepada kualitas ransang (stimulus) yang berkomunikasi
dengan organisme. Artinya, kualitas dari sumber komunikasi (sources) misalnya kredibilitas
kepemimpinan, dan gaya berbicara sangat menentukaan keberhasilan perubahan perilaku
seseorang, kelompok, atau masyarakat. Perilaku manusia dapat terjadi melalui proses:
StimulusOrganismeRespons, kemudian Skinner menyebutkan teori ini menjadi teori
”SO-R”(stimulus-organisme-respons)

Berdasarkan teori ”S-O-R” tersebut, maka perilaku manusia dapat dikelompokkan


menjadi dua , yaitu :
a. Perilaku tertutup (Cover behavior)
Perilaku tertutup merupakan perilaku yang dimiliki oleh seseorang namun belum bisa
dilihat dan diidentifikasi secara jelas oleh orang lain. Respons yang diberikan oleh individu
masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap terhadap
stimulus yang bersangkutan sehingga tidak bisa diidentifikasi dan dilihat secara jelas oleh
orang lain. Bentuk ”unobservable behavior” atau ”covert behavior” yang dapat diukur adalah
pengetahuan dan sikap.
b. Perilaku terbuka (Overt behavior)
Perilaku terbuka merupakan perilaku yang dimiliki oleh seseorang dan bisa dapat
diamat i orang lain dari luar atau ”observable behavior.

2) Teori Festinger (Dissonance Theory)


Teori dissonance (cognitive dissonance theory) diajukan oleh Festinger (1957) telah
banyak pengaruhnya dalam psikologi sosial.Teori ini sebenarnya sama dengan konsep
imbalance (ketidak seimbangan). Hal ini berarti bahwa keadaan cognitive dissonance
merupakan ketidak seimbangan psikologi yang diliputi oleh ketengan diri yang berusaha
untuk mencapai keseimbangan kembali. Apabila terjadi keseimbangan dalam diri individu,

3) Teori Fungsi
Teori ini berdasarkan anggapan bahwa perubahan perilaku individu tergantung kepada
kebutuhan. Hal ini berarti bahwa stimulus yang dapat mengakibatkan perubahan perilaku

4) Teori Kurt Lewin


Lewin berpendapat bahwa perilaku manusia adalah suatu keadaan yang seimbang
antara kekuatan – kekuatan pendorong (driving forces) dan kekuatan – kekuatan penahan
(restining forces). Perilaku itu dapat berubah apabila terjadi ketidak seimbangan antara kedua

5) Teori Kognisi Sosial

Teori kognisi sosial merupakan interaksi yang terus-menerus antara suatu perilaku,
pengetahuan, dan lingkungan. Teori ini dikembangkan oleh Albert Bandura yang semula
dikenal sebagai Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory). Lingkungan
merupakan tempat seseorang membentuk dan mempengaruhi perilakunya. Menurutnya
kita meniru perilaku tersebut menjadi bertambah. Contoh: seorang anak-anak akan
mengikuti perilaku keluarga nya, teman atau orang yang berada disekitarnya termasuk
perilaku kesehatan. Perilaku merokok siswa sekolah daar disebabkan mereka sudah
melihat perilaku merokok tersebut dilakukan oleh orang-orang disekitarnya.

6) Teori ABC (Anteseden, Behaviour, Consequence)

Perilaku yang dilakukan oleh seseorang tidak terlepas dari lingkungan sekitarnya .
Kejadian yang terjadi di lingkungan sekitar dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu
kejadian yang mendahului suatu perilaku dan kejadian yang mengikuti suatu perilaku.

7) Theory of Reasoned Action (TRA)


Teori of reasoned action ( TRA) ini digunakan untuk melihat keterkaitan antara
keyakinan, sikap, niat dan perilaku. Teori of reasoned action ( TRA) ini berkembang
pada tahun 1967 untuk melihat hubungan sikap dan perilaku. Teori alasan berperilaku
merupakan teori perilaku manusia secara umum. Sebenarnya, teori ini digunakan dalam
berbagai perilaku manusia, kemudian berkembang dan banyak digunakan untuk
menentukan faktor-faktor yang berkaitan dengan perilaku kesehatan. Teori TRA (Theory
of Reason Action) memiliki dua faktor yang mempengaruhi minat untuk melakukan
sebuah perilaku (behavioral) yaitu sikap (attitude) dan norma subjektif (subjective
norms). Sehingga dapat dikatakan bahwa minat seseorang untuk melakukan perilaku
diprediksi oleh sikap (attitude) dan bagaimana seseorang berfikir tentang penilaian orang
lain jika perilaku tersebut dilakukan (subjective norms).

8) Theory of Planned Behavior (Teori Perilaku Berencana)


Theory of Reasoned Action (TRA) dikembangkan karena kebutuhan sehingga
memunculkan sebuah teori yang disebut dengan Theory of Planned Behavior (TPB).
Tidak begitu banyak perbedaan antara Theory of Reasoned Action (TRA) dengan Theory
of Planned Behavior (TPB), letak perbedaannya terdapat pada konstruk didalam Theory
of Planned Behavior (TPB) ditambahkan dengan kontrol persepsi perilaku (perceived
behavioral control). Kontrol persepsi perilaku (perceived behavioral control) untuk
mengontrol perilaku individual yang dibatasi oleh kekurangan-kekurangannya dan
keterbatasan-keterbatasan dari kekurangan sumber-sumber daya yang digunakan untuk
melakukan sebuah perilaku

9) Health Belief Model ( HBM)


HBM (Health Belief Model) dikembangkan pada tahun 1950-an untuk menjelaskan
respon individu terhadap gejala penyakit, diagnosa, pengobatan dan alasan mengapa
orang tidak berpartisipasi pada program kesehatan masyarakat. HBM (Health Belief
Model) pada dasarnya adalah psikologi sosial dan didasari oleh pemikiran bahwa
persepsi terhadap ancaman adalah prekusor yang penting dalam tindakan pencegahan.