Anda di halaman 1dari 2

LATAR BELAKANG

Gempa bumi merupakan bencana alam yang relatif sering terjadi di Indonesia, terutama akibat interaksi
lempeng tektonik. Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan 4 (empat)
lempeng tektonik dunia, yaitu lempeng Eurasia; lempeng Australia; lempeng Pasifik; dan lempeng
Filipina. Lempeng Australia dan lempeng Pasifik merupakan jenis lempeng samudera yang bersifat
lentur, sedangkan lempeng Eurasia berjenis lempeng benua yang bersifat rigid dan kaku. Pertemuan
lempeng tektonik tersebut menyebabkan terjadinya penunjaman serta patahan aktif di dasar lautan dan di
daratan. Aktifitas zona tumbukan dan patahan-patahan tersebut berpotensi memicu terjadinya gempa
bumi. (Krishna S. Pribadi, dkk, pendidikan siaga bencana ITB. 2008).

Kesiapsiagaan merupakan hal yang penting dan harus dibangun pada setiap kelompok di masyarakat.
Pengalaman menunjukkan bahwa kehancuran akibat bencana dapat dikurangi secara drastis jika semua
orang lebih siap menghadapi bencana. Sekolah adalah pusat pendidikan yang tidak hanya memberikan
ilmu pengetahuan namun juga bekal untuk kelangsungan hidup. Anak-anak merupakan peserta ajar yang
paling cepat dan tidak hanya mampu memadukan pengetahuan baru ke dalam kehidupan sehari-hari tetapi
juga menjadi sumber pengetahuan bagi keluarga dan masyarakat dalam hal perilaku yang sehat dan aman
yang didapatkan disekolah. Oleh karena itu, pencegahan bencana menjadi salah satu fokus di sekolah
dengan memberdayakan anak-anak dan remaja untuk memahami tanda-tanda peringatan bencana dan
langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengurangi resiko dan mencegah bencana.
(KEMENDIKNAS, 2009)

Satuan pendidikan aman bencana (SPAB) adalah satuan pendidikan yang menerapkan standar sarana dan
prasarana yang aman dan memiliki budaya keselamatan yang mampu melindungi warganya dari bahaya
bencana. Merujuk pada konsep “comprehensif safe school”, satuan pendidikan aman bencana terdiri atas
tiga pilar: pilar 1 mengenai fasilitas belajar yang aman, pilar 2 mengenai manajemen penanggulangan
bencana di sekolah, pilar 3 mengenai pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana.

Ada 10 Indikator kunci minimal dalam SPAB: (1) Meningkatnya pengetahuan warga sekolah mengenai
satuan pendidikan aman bencana; (2) Memiliki konstruksi yang memenuhi standar bangunan tahan
gempa; (3) Memiliki Sarpras (Alat pemadam api ringan, Pelampung, Tambang, Rambu kebencanaan,
P3K, Megaphone); (4) Terkumpulnya informasi mengenai risiko, ancaman, dan kapasitas di sekolah; (5)
Memiliki kebijakan sekolah aman bencana (SK kepsek); (6) Memiliki prosedur tetap kedaruratan; (7)
Memiliki tim siaga bencana; (8) Memiliki peta & jalur evakuasi; (9) Terpasangnya media kampanye; (10)
Melakukan simulasi secara rutin.
Sejak beragam kejadian bencana besar di Indonesia, pendidikan pengurangan risiko bencana dianggap
penting untuk dilaksanakan melalui satuan pendidikan dengan pendekatan partisipasi anak. Hal ini selain
tujuan jangka panjang untuk menciptakan generasi yang memiliki budaya keselamatan, diharapkan anak
merupakan jalur yang efektif untuk memberikan dampak bagi orang terdekat terutama keluarganya.

Gerakan untuk mewujudkan SPAB ini seringkali kurang berjalan mulus. Berbagai tantangan dihadapi
baik perluasan isu maupun keberanjutannya. Beragam alasan dikemukakan warga satuan pendidikan
(terutama kepala sekolah dan guru). Mulai dari masalah pendanaan, tidak ada waktu untuk melaksanakan
kegiatannya, tidak cukup waktu untuk menyisipkan muatan kebencanaan ke mata pelajaran, tidak
mengetahui apa yang harus dilakukan, tidak cukup sumber daya manusia untuk melakukannya, hingga
yang paling menyebalkan adalah keyakinan kuat (jika tidak mau dikatakan kurang menyadari) bahwa
tidak akan terjadi bencana di lingkungan sekolahnya. Atau kali lain pernah juga ada yang menyatakan
bahwa pendidikan bencana bukan menjadi prioritas untuk diajarkan di sekolah, karena tidak ada dalam
ujian nasional, atau tidak ada instruksi dari kepala dinas, dan alasan lain yang sama menyebalkannya.
Alasan yang terlalu lemah untuk dijadikan pertaruhan keselamatan warga sekolah.

Anda mungkin juga menyukai