Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Farmasi Klinik Indonesia

Volume 2, Nomor 4, Desember 2013

Peresepan Obat Pasien Penyakit Dalam Menggunakan


Indikator Peresepan World Health Organization

Dika P. Destiani1, Susilawati2


1
PT. Kimia Farma Apotek, Bandung, Indonesia
2
RSUP. Dr. Hasan Sadikin, Bandung, Indonesia

Abstrak
Ilmu penyakit dalam merupakan cabang ilmu kedokteran yang harus memberikan pelayanan kom-
prehensif dengan pendekatan yang bersifat holistik. Pendekatan holistik dalam menegakkan diagno-
sis dengan melihat gejala-gejala yang timbul sehingga memungkinkan peresepan obat yang banyak
dan memungkinkan terjadinya polifarmasi. Penelitian ini bertujuan untuk memantau penggunaan obat
spesialis penyakit dalam dengan menggunakan lima indikator peresepan berdasarkan guideline WHO
yaitu jumlah obat per lembar resep, penggunaan obat generik, antibiotik, sediaan parenteral, dan obat
esensial. Pengumpulan data resep rawat jalan spesialis penyakit dalam diambil secara retrospektif pada
periode Januari–Maret 2013 di salah satu fasilitas pelayanan kesehatan di Bandung. Dari 186 lem-
bar resep dengan 567 permintaan obat didalamnya diperoleh rata-rata jumlah obat per lembar yaitu
3,05 permintaan obat per lembar. Penggunaan obat generik sebesar 23,63% dari 567 obat. Persentase
penggunaan antibiotik dan sediaan parenteral sebesar 17,20% dan 4,84% dari 186 lembar resep, se-
dangkan penggunaan obat esensial sebesar 36,86% dari 567 obat yang diresepkan. Hasil studi me-
nyatakan tidak terjadi polifarmasi pada fasilitas kesehatan tempat studi berlangsung. Penggunaan obat
generik dan esensial masih rendah. Selain itu diketahui tidak ada penyimpangan (misuse) penggunaan
antibiotik dan sediaan injeksi, sehingga mengurangi kejadian resistensi antimikroba di masyarakat.

Kata kunci: Penyakit dalam, indikator peresepan, polifarmasi, resistensi

Assesment of Drug Use in Internal Medicine Patients using


World Health Organization Indicators

Abstract
Internal medicine is the branch of medicine that should provide comprehensive knowledge of disease
with a holistic approach. Holistical approach done by developing symptoms and signs for diagnostic
and it would be polypharmacy. This study aimed to evaluate drug use by the internal medicine using five
prescribing indicators WHO guideline such as average number of drugs per encounter, percentage of
drugs prescribed by generic name, percentage of encounters with an antibiotics and injection prescribed,
and drugs prescribed from essential drugs list or formulary. Outpatient prescription of internal medicine
period Januari to Maret 2013 in one of health facilities in Bandung collected retrospectively. Average
number of drugs per encounter was gained by dividing 567 drugs with 186 prescription. Percentage of
using generic drugs was 23,63%, antibiotics and injection drugs were 17,20% and 4,84% per encoun-
ters, whereas percentage of drugs prescribed from essential drugs list was 36,86%. The result showed
that the usage of generic drugs and essential drugs are low and should be improved. Furthermore, there
are no misuses usage of antibiotics and injection, thereby can minimize antimicrobial resistances.

Key words: Internal medicine, prescribing indicator, polypharmacy, resistances

Korespondensi: Dika P. Destiani, S. Farm., M.Farm., Apt., PT. Kimia Farma Apotek, Band-
ung, Indonesia, email: dikapramita01@gmail.com

159
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Volume 2, Nomor 4, Desember 2013

Pendahuluan sebagai antibiotik adalah golongan penisilin,


golongan antibiotik lainnya, antibiotik der-
Salah satu cabang dalam ilmu kedokteran matologi, antibiotik untuk infeksi mata, dan
yang harus memberikan pelayanan kepada antibiotik untuk diare termasuk streptomisin,
pasien secara komprehensif adalah spesialis neomisin, nifuroksasid atau kombinasinya.2
ilmu penyakit dalam. Pelayanan komprehen- Selain itu, pemberian obat dengan sedi-
sif tersebut menuntut seorang dokter spesialis aan parenteral perlu dianalisis terkait dengan
penyakit dalam untuk melakukan penatalaksa- harga yang lebih mahal daripada sediaan oral.
naan terhadap penyakit akut dan juga kronik. Obat-obatan yang diberikan baik dalam sedi-
Pendekatan dalam penatalaksanaan penyakit aan oral maupun sediaan parenteral sebaiknya
yang dilakukan bersifat holistik, yaitu meman- mengikuti aturan formularium nasional atau
dang pasien secara utuh mulai dari aspek fisik, masuk dalam daftar obat esensial nasional.2
psikologis, hingga sosial. Pendekatan holistik Studi ini dilakukan di salah satu fasilitas
ini dilakukan untuk menghindari peresepan pelayanan kesehatan periode Januari–Ma-
polifarmasi dan untuk pemilihan obat yang ret 2013 pada pasien rawat jalan. Studi dapat
paling efektif dengan biaya terjangkau.1 menjadi gambaran indikator peresepan spe-
Studi ini perlu dilakukan untuk meman- sialis penyakit dalam di fasilitas kesehatan
tau pola peresepan untuk menghindari poli- tersebut.
farmasi, tingkat penggunaan obat generik dan
DOEN sebagai realisasi peraturan pemerintah, Metode
pemantauan tingkat penggunaan antibiotik,
dan sediaan injeksi untuk mengetahui tingkat Studi ini bersifat retrospektif yang meman-
resistensi dan penularan infeksi. Studi ini di- tau resep rawat jalan spesialis penyakit dalam
lakukan menggunakan indikator peresepan periode Januari–Maret 2013 yang dilayani
dari WHO yang terdiri dari beberapa indikator oleh salah satu fasilitas pelayanan kesehatan.
seperti rata-rata jumlah obat dalam satu resep, Semua resep spesialis penyakit dalam dianali-
persentase penggunaan antibiotik, obat gene- sis dan dihitung menggunakan indikator pere-
rik, sediaan parenteral, dan obat esensial.2 sepan WHO “How to investigate drug use in
Pemantauan jumlah obat dalam satu re- health facilities: Selected drug use indicators”
sep dilakukan untuk mengetahui tingkat po- dengan lima indikator yaitu rata-rata jumlah
lifarmasi yang terjadi. Polifarmasi dapat ter- obat per lembar resep, obat generik, antibiotik,
jadi ketika seorang pasien memiliki berbagai sediaan injeksi dan obat esensial.2
penyakit atau keluhan. Setiap penyakit atau Perhitungan jumlah obat per lembar resep
keluhan tersebut diberikan obat sehingga ter- dihitung dengan cara membagi jumlah ke-se-
jadi kombinasi beberapa obat.3 Terapi dengan luruhan obat dengan lembar resep. Perhitun-
menggunakan regimen atau kombinasi obat gan tersebut juga digunakan untuk menghitung
yang kompleks akan memengaruhi farmako- persentase penggunaan antibiotik dan sediaan
kinetik dan farmakodinamik setiap obat yang parenteral sedangkan persentase penggunaan
diberikan, maka sebaiknya menghindari kom- obat generik dan esensial dihitung dengan cara
binasi obat yang terlalu banyak (polifarmasi).4 membandingkan jumlah obat generik atau es-
Penggunaan antibiotik harus selalu dipantau ensial dengan jumlah keseluruhan obat.2
sesuai dengan kebutuhan, karena penggunaan
antibiotik yang tidak tepat dapat meningkat- Hasil
kan resistensi di komunitas.5 Dalam guideline
indikator peresepan WHO yang dimaksudkan Total lembar resep yang dilayani oleh fasilitas

160
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Volume 2, Nomor 4, Desember 2013

pelayanan kesehatan periode Januari–Maret kit dalam dilakukan dengan membandingkan


2013 adalah 5.050 lembar dengan jumlah obat peresepan antara antibiotik dengan seluruh
yang diresepkan sebanyak 11.800 obat. Dari jumlah obat. Pada 186 lembar resep yang dia-
keseluruhan lembar resep tersebut diperoleh nalisis diketahui terdapat 32 obat antibiotik
186 lembar resep penyakit dalam yang akan atau 17,2%.
dievaluasi menggunakan indikator peresepan Indikator lainnya yang dianalisis adalah
WHO yaitu jumlah obat per lembar resep, persentase peresepan obat dengan bentuk sedi-
peresepan obat generik, antibiotik, sediaan aan injeksi. Resep pasien rawat jalan penyakit
injeksi, dan obat esensial. Pada 186 lembar dalam yang berjumlah 186 lembar ditemukan
resep penyakit dalam yang dianalisis terdapat sembilan obat dalam bentuk sediaan injeksi
567 obat. Berdasarkan data tersebut dapat di- dengan persentase 4,84% dari 186 lembar re-
hitung rata-rata obat per lembar resep adalah sep.
3,05≈3 obat per lembar resep. Analisis peresepan obat dilakukan ber-
Indikator selanjutnya yang dianalisis adalah dasarkan daftar obat esensial dari seluruh obat
mengenai peresepan obat generik. Pada 567 yang diresepkan. Sebanyak 567 obat yang di-
obat yang diresepkan spesialis penyakit dalam resepkan terdapat 209 obat yang termasuk ke-
terdapat 134 obat dengan nama generik yang dalam daftar obat esensial Indonesia dengan
diresepkan atau 23,63%. persentase 36,86%. Rincian data per bulan
Analisis peresepan antibiotik pada penya- dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Data penggunaan obat periode Januari–Maret 2013


Sediaan Obat
Bulan Lembar R/ Obat/lembar Generik Antibiotik
Injeksi Esensial
Januari 56 174 44 10 5 68
Febuari 60 174 41 8 3 69
Maret 70 219 49 14 1 72
Total 186 567 134 9 9 209
Rata-rata 3.05
Pesentase 23,63% 17,20% 4,84% 36,86%

Pembahasan terjadi. Polifarmasi merupakan penggunaan


bersamaan lima jenis atau lebih obat-obatan
Dalam pemantauan penggunaan obat rasional, per lembar.6 Berdasarkan perhitungan terse-
WHO telah menetapkan lima kriteria utama but, rata-rata jumlah obat per lembar sebesar
sebagai indikator pemantauan yaitu jumlah 3,05 obat per lembar. Berdasarkan definisi
obat per lembar, penggunaan obat generik, an- polifarmasi dapat dinyatakan bahwa tidak ter-
tibiotik, sediaan parenteral dan obat esensial.2 jadi polifarmasi pada resep spesialis penyakit
Berdasarkan hasil pemantauan penggu- dalam periode Januari–Maret 2013. Jenis an-
naan antibiotik diperoleh 17,20% antibio- tibiotik yang digunakan dapat dilihat pada Ta-
tik digunakan selama periode Januari–Maret bel 2. Selain kriteria polifarmasi berdasarkan
2013 (Tabel 1). Berkaitan dengan jumlah obat jumlah obat, kriteria lainnya yaitu Drug Re-
per lembar, pemantauan ini bertujuan un- lated Problems (DRP’s) untuk melihat ketida-
tuk melihat tingkat polifarmasi mayor yang krasionalan suatu peresepan sebagai berikut6:

161
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Volume 2, Nomor 4, Desember 2013

1. Obat tanpa indikasi yang jelas berinteraksi


2. Terapi yang sama untuk penyakit yang 4. Dosis yang tidak tepat
sama 5. Penggunaan obat-obat lain untuk menga-
3. Penggunaan bersamaan obat-obatan yang tasi efek samping

Tabel 2 Jenis antibiotik yang digunakan spesialis penyakit dalam periode Januari–Maret 2013
Jenis antibiotik Total Penggunaan Persentase Diagnosis
Sefiksim 14 43,75% ISPA
Levofloksasin 4 12,50% ISK
Siprofloksasin 2 6,25% ISK, Demam tifus
Spiramisin 2 6,25% ISK
Amoksisilin 1 3,12% Faringitis
Klindamisin 1 3,12% Infeksi rongga mulut
Tiamfenikol 1 3,12% Demam tifus
Klaritromisin 1 3,12% ISPA
Fradiomisin+Gramisidin 1 3,12% Faringitis
Total 32 3,12%

Berdasarkan kriteria klinis tersebut maka per- besaran, dan biaya produksi yang rendah. Tu-
lunya dilakukan penelitian lebih lanjut menge- juan dibuatnya obat generik adalah pemerata-
nai polifarmasi dengan kriteria klinis tersebut. an kesehatan di masyarakat.8 Dari perhitungan
Indikator lain yang dipantau adalah peng- persentase penggunaan obat generik diperoleh
gunaan obat generik yang berkaitan dengan hanya 23,63% dari 567 obat yang diresepkan,
biaya obat yang harus dibayarkan oleh pasien. nilai ini menunjukkan rendahnya penulisan re-
Obat generik merupakan obat dengan nama sep obat generik oleh spesialis penyakit dalam.
resmi International Non Propietary Names Sejalan dengan program WHO, Indonesia
(INN) yang ditetapkan dalam Farmakope In- sebagai bagian dari komunitas dunia berkomit-
donesia atau buku standar lainnya untuk zat men untuk mengamankan antibiotik untuk
berkhasiat yang dikandung di dalamnya. Se- generasi selanjutnya. Pertumbuhan resistensi
bagaimana telah diatur dalam permenkes dan multipel resistensi mikroba terhadap an-
tentang penggunaan obat generik di fasilitas tibiotik berdampak pada meningkatnya mor-
pelayanan kesehatan, fasilitas pelayanan ke- biditas, mortalitas dan biaya kesehatan. Salah
sehatan harus menyediakan obat generik dan satu upaya dalam mengendalikan resistensi
dokter pemerintah harus menulis resep obat adalah pengendalian peresepan antibiotik.
generik sesuai dengan indikasi medis untuk Pemantauan penggunaan antibiotik dapat di-
semua pasien.7 lakukan secara kuantitatif dan kualitatif.9 Dari
Pada dasarnya obat generik memiliki mutu, hasil pemantauan studi ini secara kuantitatif,
khasiat, dosis, dan indikasi yang sama dengan diperoleh persentase penggunaan antibiotik
obat paten tetapi harga yang lebih murah dari- 17,2% dari 186 lembar resep yang ada. An-
pada obat paten. Faktor yang memengaruhi gka ini menunjukkan bahwa secara kuantitatif
harga yang lebih murah daripada obat paten peresepan antibiotik dapat dikatakan rendah
dikarenakan harga obat generik diatur oleh jika dibandingkan dengan studi penggunaan
pemerintah, tidak ada biaya promosi besar- antibiotik di Nepal sebesar 43,95%.10

162
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Volume 2, Nomor 4, Desember 2013

Penggunaan antibiotik didasarkan atas in- hasil rata-rata jumlah obat per lembar resep
feksi yang terjadi sehingga pemakaiannya ses- terdiri dari tiga obat yang menunjukkan tidak
uai dan tidak meningkatkan risiko resistensi. terjadinya polifarmasi jika dilihat dari aspek
Berdasarkan hasil diagnosis, pemberian anti- kuantitas. Persentase peresepan obat generik
biotik telah sesuai dengan indikasi antibiotik masih rendah, yaitu 23,63% dari 567 obat
tersebut. Sefiksim adalah antibiotik yanng yang diresepkan. Hasil persentase peresepan
paling sering digunakan dengan persentase antibiotik dan sediaan injeksi sebesar 17,2%
43,75%. dan 4,84% dari 186 lembar resep yang dia-
Bentuk sediaan obat yang saat ini beredar nalisis. Peresepan obat esensial masih rendah,
di pasaran sangat beragam. Bentuk sediaan yaitu sebesar 36,86% dari 567 obat yang di-
obat yang paling banyak ditulis adalah bentuk resepkan.
sediaan oral. Bentuk sediaan injeksi meru-
pakan bentuk sediaan yang harus dipantau Daftar Pustaka
penggunaannya. Hasil persentase peresepan
sediaan injeksi yang diperoleh pada studi ini 1. Barnett SR. Polypharmacy and periopera-
hanya 4,84% dari 186 lembar resep. Sema- tive medications in the elderly. Anesthesi-
kin kecil persentase peresepan sediaan injeksi ology Clinic, 2009, 27(3): 377–389.
maka semakin baik karena menurunkan risiko 2. World Health Organization. How to inves-
penyebaran infeksi seperti HIV, hepatitis, dan tigate drug use in health facilities: selected
abses.11 drug use indicators. WHO: Geneva. 1993.
Obat esensial merupakan daftar obat ter- 3. Kukreja S. Polypharmacy in psychiatry:
pilih yang dibutuhkan di pelayanan kesehat- A review. Mens Sana Monographs, 2012,
an. Daftar obat esensial adalah daftar yang 11(1): 82–99.
berisikan obat terpilih yang paling dibutuh- 4. Carvalho MF, Romano-Lieber NS, Berg-
kan dan diupayakan tersedia di unit pelay- sten-Mendes G, Secoli SR, Ribeiro E,
anan kesehatan sesuai dengan fungsi dan Lebrão ML et al. Polypharmacy among
tingkatnya.12 Daftar Obat Esensial Nasional the elderly in the city of Sao Paulo, Brazil-
(DOEN) merupakan standar nasional minimal SABE Study. Revista Brasileira de Epide-
untuk pelayanan kesehatan. Pengembangan miologia, 2012, 15(4): 817–827.
dan penerapan pedoman terapi serta kepatu- 10. Al-Niemat SI, Bloukh DT, Al-Harasis MD,
han terhadap DOEN merupakan dasar dari Al-Fanek AF, Salah RK. Drug use evalua-
pengembangan penggunaan obat secara ra- tion of antibiotics prescribed in a Jordanian
sional.13 Persentase peresepan obat esensial hospital outpatient and emergency clinics
pada studi ini hanya sebesar 36,86% dari 567 using WHO prescribing indicators. Saudi
obat yang diresepkan. Persentase ini menun- Medical Journal, 2008, 29(5): 743–748.
jukkan penggunaan obat esensial yang masih 11. Reamer LB, Massey EB, Simpson TW,
rendah. Penggunaan DOEN sebaiknya diting- Simpson KN. Polypharmacy: misleading,
katkan karena penerapan DOEN dimaksudkan but manageable. Clinical Intervensions in
untuk meningkatkan ketepatan, keamanan, Aging, 2008, 3(2): 383–389.
kerasionalan penggunaan, dan penyetaraan 12. Kementerian Kesehatan Republik Indo-
mutu pelayanan kesehatan pada masyarakat.12 nesia. Permenkes Republik Indonesia
Nomor HK.02.02/MENKES/068/I/2010
Simpulan Tentang Kewajiban Menggunakan Obat
Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh Pemerintah.

163
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Volume 2, Nomor 4, Desember 2013

13. William HS, Emily RC, Michael AF, Sciences-Nepal, 2010, 6(2): 7–13.
Jyotsna M, Niteesh KC. Patient perception 16. Aschenbrenner, Diane S. Unsafe injection
of generic medications. NIH Public Ac- practices put patients at risk. American
cess, 2009, 2892(1): 546–556. Journal of Nursing, 2009, 109(7): 45–46.
14. Kementerian Kesehatan Republik Indone- 17. Sitanshu SK, Himanshu SP, Guru PM.
sia. Pedoman pelayanan kefarmasian un- Concept of essential medicines and ratio-
tuk terapi antibiotik. Kemenkes: Jakarta. nal use in public health. Indian Journal of
2011. Community Medicine, 2010, 35(1):10–13.
15. Kumar J, Shaik MM, Kathi MC, Deka A, 18. Ilodigwe EE, Idumam CT. Access to es-
Gambhir SS. Prescribing indicators and sential drugs in a rural community in bay-
pattern of use antibiotics among medical elsa state. Nigerian Journal of Pharmaceu-
outpatients in ateaching hospital of Cen- tical Research, 2010, 8(1): 198–202.
tral Nepal. Journal of College of Medical

164