Anda di halaman 1dari 15

PROGRAM KREATVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM
PENGEMBANGAN TANAMAN BANGKONG (Pongamia pinnata Merr)
SEBAGAI SUMBER BAHAN BAKU PEMBUATAN BIODIESEL

BIDANG KEGIATAN :
PKM Gagasan Tertulis (PKM-GT)

Diusulkan oleh
Ketua : Ni Made Pertiwi Jaya 080810757 Angkatan 2008
Anggota : Septiyan Handayani 080810757 Angkatan 2008
Johan Iswara 080912048 Angkatan 2009

UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2010
HALAMAN PENGESAHAN
USUL PKM-GT

1. Judul Kegiatan : Pengembangan Tanaman Bangkong


(Pongamia pinnata Merr) Sebagai
Sumber Bahan Baku Pembuatan
Biodiesel
2. Bidang Kegiatan : ( ) PKM-AI () PKM-GT

3. Ketua Pelaksana Kegiatan


a. Nama Lengkap : Ni Made Pertiwi Jaya
b. NIM : 080810757
c. Jurusan : Ilmu dan Teknologi Lingkungan
d. Universitas/Institut/Politeknik : Universitas Airlangga
e. Alamat Rumah dan No. Tel./HP : Jalan Tukad Batanghari IV A/8
No. Tel. 256809/HP 085731094464
f. Alamat email : tiwit_bestfriend@yahoo.com

4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 2 (dua) orang

5. Dosen Pendamping :
a. Nama Lengkap dan Gelar : Trisnadi Widyaleksono C.P., M.Si.
b. NIP : 131836622
c. Alamat Rumah dan No. Tel./HP : Perumahan Griya Mapan Sentosa
FA5-1 Tropodo Sidoarjo
No. Tel. 8664862/HP 08113429166

Surabaya, 8 Maret 2010

Menyetujui,
Pembina UKM Penalaran Ketua Pelaksana Kegiatan

(Hari Soepriandono, S.Si., M.Si.) (Ni Made Pertiwi Jaya)


NIP. 19671122 199412 1 001 NIM. 080810757

Direktur Kemahasiswaan Dosen Pendamping

(Prof. Dr. Imam Mustofa, drh., M.Kes.) (Trisnadi W. C P., M.Si.)


NIP. 19600427 198701 1 001 NIP. 19631215 198903 1 002
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
berkat karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan karya tulis Program Kreatifitas
Mahasiswa-Gagasan Tertulis (PKM-GT) yang berjudul “Pengembangan Tanaman
Bangkong (Pongamia pinnata Merr) Sebagai Sumber Bahan Baku Pembuatan
Biodiesel” ini dengan baik.
Tulisan ini dapat selesai dengan baik berkat bantuan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang turut membantu dalam menyelesaikan karya tulis ini, yang terhormat:
1. Bapak Hari Soepriandono, S.Si., M.Si. selaku dosen pembina Unit Kegiatan
Mahasiswa (UKM) Penalaran Universitas Airlangga yang telah mendukung
penulis.
2. Bapak Trisnadi Widyaleksono C. P., M.Si. selaku dosen pembimbing yang
telah memberikan saran dan bimbingan untuk menyelesaikan karya tulis ini.
3. Bapak dan ibu dosen Fakultas Sains dan Teknologi yang telah memberi
dukungan dan semangat kepada penulis untuk menyususn karya tuls ini.
4. Orang tua yang turut memberi motivasi dan doa kepada penulis.
5. Kakak-kakak dan teman-teman di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)
Penalaran Universitas Airlangga.
6. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Akhirnya penulis menyadari bahwa karya tulis ini jauh dari sempurna.
Oleh sebab itu, segala kritik dan saran dari pembaca yang dapat membangun
sangat penulis harapkan. Semoga karya tulis ini dapat memberikan manfaat bagi
semua pihak serta perkembangan ilmu pengetahuan.

Surabaya, 8 Maret 2010

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN USUL PKM-GT ......................................... ii
KATA PENGANTAR ................................................................................. iii
DAFTAR ISI ............................................................................................... iv
RINGKASAN .............................................................................................. v
PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
GAGASAN .................................................................................................. 2
KESIMPULAN ........................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 8
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
RINGKASAN

Kebijakan pemerintah Indonesia untuk melaksanakan penganekaragaman


energi guna memenuhi penyediaan energi dalam negeri, dapat dilakukan melalui
pengembangan bahan bakar yang berasal dari tumbuhan (biofuel). Sampai saat
ini, pengembangan biofuel, baik bioethanol, biodiesel maupun bio oil, masih
terbatas pada tanaman pangan yang memiliki kandungan minyak nabati.
Sebenarnya, terdapat tanaman non pangan yang dapat digunakan sebagai biofuel
yakni tanaman Bangkong (Pongamia pinnata Merr). Minyak dari biji tanaman ini
dapat digunakan untuk pembuatan biodiesel.
Tujuan dan manfaat yang ingin dicapai dari penulisan ini adalah untuk
mengetahui sejauh mana potensi tanaman Bangkong (Pongamia pinnata Merr)
sebagai bahan baku pembuatan biodiesel, cara pembuatan biodiesel dari tanaman
tersebut, dan prospek pengembangannya di Indonesia. Metode penulisan yang
digunakan adalah metode induktif, yaitu merangkum fakta-fakta umum melalui
studi pustaka kemudian dianalisis dan diambil kesimpulan untuk memecahkan
masalah yang ada.
Hingga saat ini mesin diesel masih mempergunakan bahan bakar solar
yang berasal dari minyak bumi. Padahal, selain akan semakin mengurangi
cadangan bahan bakar berbasis energi fosil, banyak kritik tentang emisi karbon
yang dihasilkan dari bahan bakar ini. Emisi karbon merupakan penyebab utama
pemanasan global, yang akan berakibat pada perubahan iklim yang menyebabkan
banjir dan kekeringan, perubahan ekosistem hutan dan daratan, dan kemudian
berpengaruh pada kesehatan manusia.
Biodiesel secara nyata dapat mengurangi pencemaran, mengurangi
hidrokarbon yang tidak terbakar, karbon monoksida, sulfat, polisiklikaromatik
hidrokarbon, dan hujan asam sehingga penggunaan biodiesel saat ini telah
meningkat, termasuk di Indonesia.
Adapun potensi pemanfaatan Pongamia pinnata Merr sebagai biodiesel
dapat dilihat dari bijinya yang mengandung 27-40% minyak nabati non-pangan
yang mempunyai sifat hampir sama dengan diesel konvensional. Untuk
memperoleh bahan baku minyak biji Pongamia pinnata Merr dapat dilakukan
melalui 3 tahap, yaitu pemanasan awal, pengepresan, dan penyaringan secara
mekanik. Minyak yang diperoleh kemudian diolah melalui proses esterifikasi
dan/atau transesterifikasi sesuai kandungan FFA menjadi biodiesel.
Mengenai produksi tanaman Bangkong, pada tanaman monokultur, satu
pohon mampu menghasilkan sekitar 9-90 kg biji/tanaman hingga berumur lebih
dari 50 tahun. Selain itu, tanaman ini juga baik untuk reboisasi sebab dapat
tumbuh di tanah yang kurang subur dan mengandung kadar garam.
Dari pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa tanaman Bangkong
(Pongamia pinnata Merr) berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai bahan
baku pembuatan biodiesel, cara yang dapat dilakuan untuk pembuatan biodiesel
merujuk pada pembuatan biodiesel dari minyak nabati, dan tanaman ini memiliki
prospek yang baik apabila dikembangkan untuk bahan baku biodiesel di Indonesia
dimana pembudidayaannya mudah dan dapat menjadi tanaman reboisasi serta
ekonomis dilihat dari produksi minyak dan pembuatannya, di samping
keunggulan biodiesel yang ramah terhadap lingkungan.
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Problem energi kini telah berada di depan mata. Semakin bertambahnya


jumlah populasi dan meningkatnya jenis kebutuhan masyarakat seiring dengan
berkembangnya zaman, mengakibatkan kebutuhan akan energi semakin
meningkat sehingga persediaan energi khususnya energi yang tidak dapat
diperbaharui (unrenewable energy) semakin berkurang kuantitasnya, bahkan
lama-kelamaan akan habis (M. Rachimoellah, dkk., 2009). Selama ini, bahan
bakar fosil merupakan unrenewable energy bernilai penting yang diolah sebagai
bahan bakar. Kekhawatiran akan habisnya bahan bakar fosil akan menjadi
perhatian di masa depan sebab harga pengganti minyak masih mahal dan tidak
mudah untuk dipergunakan sebagai bahan bakar alat transportasi (Nasiri, 2006).
Kebutuhan bahan bakar di Indonesia pun masih tergantung pada bahan
bakar fosil, padahal Indonesia kaya akan sumberdaya alam hayati yang bisa
dijadikan bahan bakar alternatif (Irwanto, 2008). Oleh karena itu, pemerintah
memberlakukan kebijakan untuk melaksanakan penganekaragaman energi dengan
memanfaatkan energi terbarukan. Bentuk upaya penganekaragaman energi yang
dapat dikembangkan di Indonesia, sesuai kondisi alamnya yakni dengan membuat
bahan bakar yang berasal dari tanaman atau dikenal dengan biofuel.
Penelitian terhadap bahan baku yang dapat digunakan sebagai biofuel terus
dilakukan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hingga saat ini, pengembangan
biofuel telah dilakukan dengan memanfaatkan tanaman Kelapa Sawit, Jarak Pagar
atau Jatropha Curcas, Tebu, dan Ubi Kayu (Donny, 2008). Adapun produk dari
biofuel tersebut, yakni bioethanol yang digunakan sebagai pengganti Bahan Bakar
Minyak (BBM), biodiesel sebagai pengganti bahan bakar diesel (Solar) untuk
transportasi dan Power Plant, serta bio oil sebagai pengganti minyak tanah di
rumah tangga, Automotive Diesel Oil (ADO), Industry Diesel Oil (IDO), dan
minyak bakar (Fuel Oil) untuk industri (Donny, 2008).
Meskipun telah dilakukan pengembangan terkait biofuel, ada juga pihak
yang menentang biofuel dengan alasan akan adanya pertarungan antara
pemanfataan tumbuhan sebagai makanan dan untuk kendaraan bermotor dan
industri. Sebenarnya, terdapat jenis tanaman non pangan di Indonesia yang dapat
digunakan sebagai biofuel yakni tanaman Bangkong (Pongamia pinnata Merr).
Biji Pongamia pinnata Merr mengandung minyak nabati antara 27 - 40%
(Mardjono, 2008). Dengan kandungan minyak tersebut, Pongamia pinnata Merr
potensial untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Di samping
itu, tanaman ini dapat ditanam di daerah yang memiliki kondisi tanah kurang
subur, salinitas tinggi dan alkalinitas (Irwanto, 2008), sehingga juga dapat
berfungsi untuk mereboisasi tanah yang kurang subur.
Untuk itu, pengembangan tanaman Bangkong (Pongamia pinnata Merr)
merupakan suatu upaya yang baik untuk dilakukan, dimana minyak biji tanaman
ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar diesel yang ramah lingkungan.
Dengan demikian, akan dihasilkan sumber energi alternatif sehingga kebutuhan
energi dalam negeri terpenuhi.
Tujuan dan Manfaat yang Ingin Dicapai

1. Untuk mengetahui potensi tanaman Bangkong (Pongamia pinnata Merr)


sebagai sumber bahan baku pembuatan biodiesel yang dapat digunakan sebagai
bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan.
2. Untuk mengetahui mengenai pengembangan biodiesel dari minyak biji
tanaman Bangkong (Pongamia pinnata Merr).
3. Untuk mengetahui manfaat dan dampak dari pengembangan tanaman
Bangkong (Pongamia pinnata Merr) untuk sumber bahan baku pembuatan
biodiesel di Indonesia.

GAGASAN

Permasalahan Energi Terkait Menipisnya Cadangan Bahan Bakar Fosil

Kenaikan harga bahan baku minyak bumi hingga mencapai 150 USD per
barel, telah menunjukkan terjadinya permasalahan energi di dunia. Walaupun
harga tersebut sangat mahal tampaknya para konsumen tidak keberatan, namun
kekhawatiran akan habisnya bahan bakar fosil ini menjadi perhatian di masa
depan. Pengganti minyak masih mahal dan tidak mudah untuk dipergunakan
sebagai bahan bakar alat transportasi. Bahan bakar yang mungkin dapat
menggantikan minyak bumi, antara lain listrik, gas, matahari, nuklir, air, batu
bara, produk tanaman, angin, namun semuanya mempunyai kekurangan untuk
dipergunakan pada alat transportasi (Nasiri, 2006).
Hingga saat ini, mesin diesel masih mempergunakan bahan bakar solar
yang berasal dari minyak bumi. Padahal, selain akan semakin mengurangi
cadangan bahan bakar berbasis energi fosil, bahan bakar ini juga banyak dikritik
mengenai emisi karbon yang dihasilkan (Donny, 2008). Emisi karbon merupakan
penyebab utama pemanasan global, yang akan berakibat pada perubahan iklim
yang menyebabkan banjir dan kekeringan, perubahan ekosistem hutan dan
daratan, dan kemudian berpengaruh pada kesehatan manusia.
Di Indonesia, jumlah penggunaan bahan bakar fosil ini terus meningkat
seiring dengan semakin bertambahnya jumlah populasi dan meningkatnya jenis
kebutuhan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah konsumsi BBM Indonesia yang terus
meningkat, dimana pada tahun 1999 sebanyak 51,8 juta kiloliter (KL), tahun 2000
menjadi 55,9 juta KL, pada tahun 2001 naik menjadi hampir 57,7 KL, tahun 2002
hampir 58,9 juta KL, tahun 2003 naik menjadi 59,8 juta KL dan tahun 2004
mencapai 64,7 juta KL (Mulyani, 2007). Dalam jangka panjang impor BBM akan
makin mendominasi penyediaan energi nasional apabila tidak ada kebijakan
pemerintah untuk melaksanakan penganekaragaman energi dengan memanfaatkan
energi terbarukan (M. Rachimoellah, dkk., 2009).
Penggunaan Biodiesel Sebagai Bahan Bakar Alternatif

Kesadaran akan makin berkurangnya cadangan bahan bakar berbasis


energi fosil ini, diiringi dengan banyaknya kritik tentang emisi karbon yang
dihasilkan oleh bahan bakar ini, membuat perusahaan-perusahaan raksasa minyak
dunia pun mulai beralih melakukan penelitian dan bahkan investasi pada
pengembangan energi non fosil (Donny, 2008). Biodiesel merupakan salah satu
jenis energi terbarukan yang gencar dikembangkan saat ini.
Biodiesel adalah turunan dari minyak/lemak tumbuhan atau hewan, yang
direkomendasikan untuk pengganti minyak diesel karena sifat biodiesel yang
renewable (dapat diperbaharui), sumber daya hayati dengan emisi yang ramah
lingkungan dan biodegradable (dapat teruraikan) (Zhang, 2002). Biodiesel dapat
diperoleh dari minyak tumbuhan yang berasal dari sumber daya yang dapat
diperbaharui, minyak nabati atau lemak binatang atau minyak goreng
bekas/jelantah, melalui esterifikasi dan/atau transesterifikasi dengan alkohol serta
bantuan katalis (Ramadhas et al, 2005). Selain itu, biodiesel mempunyai efek
maksimum untuk daerah perairan, laut, sumber air, hutan, penangkapan ikan, dan
terutama yang sensitif terhadap adanya tumpahan minyak. Pusat kota yang penuh
dengan aktifitas manusia, ruangan yang tertutup seperti pergudangan, pabrik,
pengolah makanan, gedung bertingkat, pertambangan bawah tanah akan
memperoleh manfaat yang sangat besar dengan adanya biodiesel. Daerah perairan
yang sensitif terhadap pencemaran seperti pelabuhan, kanal, danau, daerah
parawisata, hutan mutlak mempergunakan biodiesel dibanding solar. (Nasiri,
2006). Biodiesel secara nyata dapat mengurangi pencemaran, mengurangi
hidrokarbon yang tidak terbakar, karbon monoksida, sulfat, polisiklikaromatik
hidrokarbon, dan hujan asam.
Hal tersebut menyebabkan penggunaan dan produksi biodiesel meningkat
dengan cepat, terutama di Eropa, Amerika Serikat, dan Asia, meskipun dalam
pasar masih sebagian kecil saja dari penjualan bahan bakar. Pertumbuhan SPBU
membuat semakin banyaknya penyediaan biodiesel kepada konsumen dan juga
pertumbuhan kendaraan yang menggunakan biodiesel sebagai bahan bakar. Pada
saat ini di Indonesia, biodiesel (B-5) sudah dipasarkan di 201 Gas Station di
Jakarta dan 12 Gas Station di Surabaya (Donny, 2008). Adapun, bahan baku yang
telah digunakan untuk pembuatan biodiesel selama ini adalah dari Kelapa Sawit
dan Jarak Pagar (Donny, 2008). Sebenarnya, dengan kekayaan sumber daya alam
hayati yang ada di Indonesia, masih terdapat tanaman tanaman lainnya yang lebih
potensial untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel.

Potensi Tanaman Bangkong (Pongamia pinnata Merr) Sebagai Sumber Bahan


Baku Pembuatan Biodiesel

Tanaman Bangkong merupakan salah satu jenis tanaman yang berpotensi


untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Tanaman ini adalah
jenis tanaman non pangan yang termasuk dalam familia Leguminoceae, dengan
sinonim Pongamia glabra Vent., Derris indica (Lam) Bennet, atau Millettia
pinnata L. Dalam bahasa Inggris disebut Pongam tree, Indian Beech Tree,
Pongam Oil Tree. Dalam bahasa Melayu disebut mempari, mempare, malapari.
Dalam bahasa Sunda disebut Pongamia pinnata Merr, atau Pongamia pinnata
Merr laut, dalam bahasa Jawa disebut Bangkong, atau Bangkongan, dan di
Madura disebut Kranji (Mardjono, 2008). Tanaman ini tersebar di seluruh Asia
Tenggara, termasuk Indonesia (Anonim, 2007).
Biji tanaman Bangkong (Pongamia pinnata Merr) mengandung 27-40%
minyak, dimana minyak yang dihasilkan merupakan minyak nabati non pangan
dan mempunyai sifat yang hampir sama dengan diesel konvensional (Mardjono,
2008). Oleh karena itu, minyak biji Pongamia pinnata Merr ini potensial sebagai
bahan baku biodiesel.
Bila dibandingkan dengan tumbuhan penghasil biofuel lain seperti Jarak
Pagar (Jatropha curcas), tanaman Bangkong (Pongamia pinnata Merr)
mempunyai keunggulan komperatif. Tanaman Bangkong (Pongamia pinnata
Merr) mempunyai manfaat untuk industri pengobatan sedangkan Jarak Pagar
(Jatropha curcas) dikenal sebagai tumbuhan beracun. Hal ini yang menjadi alasan
perkebunan Jarak Pagar dianjurkan jauh dari pemukiman penduduk. Jarak Pagar
(Jatropha curcas) sangat berbahaya untuk anak-anak kecil, karena bijinya
mempunyai rasa yang enak/gurih tetapi mengandung racun, empat biji Jarak
Pagar (Jatropha curcas) dapat berakibat fatal apabila dimakan oleh anak-anak
(Syariah, 2008).
Beberapa literatur ilmiah menginformasikan mengenai Jatropha sebagai
racun khususnya bagi anak-anak kecil. Kasus keracunan terjadi di India dan juga
di negara-negara Afrika dimana Jarak Pagar (Jatropha curcas) telah ditanam
beberapa dekade lalu (Irwanto, 2006). Dalam perencanaan untuk penanaman Jarak
Pagar (Jatropha curcas) dalam areal yang luas, perlu dipikirkan cara melindungi
anak-anak dari tumbuhan beracun ini. Penelitian di Thailand dan selanjutnya di
beberapa negara lain membuktikan bahwa minyak Jarak Pagar (Jatropha curcas)
dapat menyebabkan kanker kulit, selain itu jurnal kanker Jepang terkenal
menerbitkan banyak penelitian mengenai masalah ini (Irwanto, 2006). Di sisi lain,
minyak Pongamia pinnata Merr digunakan untuk perawatan masalah gangguan
kulit dan banyak orang India menggunakan minyak Pongamia pinnata Merr ini
sebagai obat tradisional penyembuh kanker (Irwanto, 2009).
Di samping itu, Pongamia pinnata Merr mudah untuk ditanam langsung
dengan biji, anakan, atau stump, perbanyakan dengan stek cabang dan akar
permukaan juga dapat dilakukan (Mardjono, 2008). Cara penanamannya yang
mudah didukung juga dengan lingkungan tumbuhnya. Tanaman ini dapat tumbuh
di lahan yang kurang subur seperti tanah berpasir atau berkapur sehingga
memungkinkan juga untuk digunakan dalam reboisasi tanah yang kurang subur
(Irwanto, 2008).
Dengan demikian, tanaman Bangkong dapat dikatakan berpotensi besar
untuk dikembangkan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel dengan
memanfaatkan minyak nabati dari bijinya, sehingga menghasilkan bahan bakar
alternatif yang ramah lingkungan dalam rangka mereduksi penggunaan bahan
bakar fosil yang semakin menipis.
Peran Pemerintah dan Masyarakat dalam Upaya Pengembangan Biodiesel
dari Tanaman Bangkong (Pongamia pinnata Merr)

Dalam pengembangan biodiesel yang berasal dari minyak biji tanaman


Bangkong (Pongamia pinnata Merr), pemerintah dan masyarakat memiliki peran
penting. Di samping kegiatan penelitian yang dapat dilakukan oleh para peneliti
untuk memperoleh informasi ilmiah lebih lanjut mengenai karakter fisika dan
kimia minyak biji Pongamia pinnata Merr ini sehingga dapat diketahui cara
pembuatan biodiesel yang efektif dari tanaman tersebut.
Pemerintah, dalam hal ini hendaknya menjalankan kebijakan
penganekaragaman energi dengan mengambil langkah-langkah yang tepat, salah
satunya melalui pengembangan tanaman Bangkong (Pongamia pinnata Merr)
untuk dijadikan bahan baku biodiesel. Kemudian, pemerintah tentunya diharapkan
dapat mengusahakan sumber dana baik itu berasal dari kas negara atau investasi
dari pihak luar guna mendukung upaya tersebut.
Usaha pengembangan terhadap Pongamia pinnata Merr untuk dijadikan
sebagai biodiesel, tentunya harus diimbangi dengan kesadaran masyarakat dalam
hal penggunaan biodiesel sebagai bahan bakar untuk kendaraan bermotor.
Dampak lingkungan memang bukan hal yang langsung terjadi ketika suatu
kegiatan perusakan dilakukan, namun akan terakumulasi dalam beberapa lama
baru kemudian muncul dampak negatif yang membahayakan.

Langkah Strategis Pengembangan Tanaman Bangkong (Pongamia pinnata


Merr) di Indonesia

Langkah strategis dalam upaya mengembangkan tanaman Bangkong


(Pongamia pinnata Merr) sebagai bahan baku pembuatan biodiesel adalah
melalui budidaya, produksi minyak dari tanaman tersebut, dan menganalisis
karakteristik fisika dan kimia minyak bijinya untuk kemudian diolah menjadi
biodiesel dan diuji karasteristiknya sehingga diketahui kualitas dari biodiesel yang
dihasilkan.
Mengenai budidaya tanaman Bangkong di Indonesia, sebagai tahap awal
dilakukan eksplorasi di suatu daerah tertentu. Pada tahapan selanjutnya,
diperlukan pemeliharaan serta pengembangan varietas unggul dan teknologi
budidayanya. Selain itu, diperlukan pula pemeliharaan dan pengembangan
prosesing minyak menjadi biodiesel serta pengelolaan limbahnya (Mardjono,
2008). Adapun tanaman ini dapat tumbuh di daerah sub tropis maupun tropis. Di
habitat aslinya Pongemia pinnata Merr dapat tumbuh dengan rentang temperatur
yang luas, dari 0–50oC, dan mampu bertahan pada kondisi beku. Rentang
ketinggian antara 0-1.200 m di atas permukaan laut. Tanaman dapat tumbuh baik
pada curah hujan sekitar 500-2.500 mm, dengan musim kemarau 2-6 bulan.
Secara alami, tanaman ini tumbuh di hutan dataran rendah pada batu gamping,
tanah berkapur dan karang berbatu-batu di pantai, sepanjang sungai dan arus
pasang surut. Pertumbuhan terbaik ditemukan pada tanah liat berpasir dalam.
Tanaman ini juga sangat toleran terhadap kekeringan, kadar garam dan pada
kondisi alkali. (Anonim, 2010). Di samping itu, Pongamia pinnata Merr mudah
untuk ditanam langsung dengan biji atau penanaman dengan anakan atau stump
dari pangkal akar diameter 1 – 2 cm, perbanyakan dengan stek cabang dan akar
permukaan juga dapat dilakukan (Mardjono, 2008).
Tanaman ini merupakan tanaman tahunan, baru akan menghasilkan dan
secara ekonomis menguntungkan setelah tanaman berumur 4 – 5 tahun. Oleh
karena itu untuk pengembangan Pongamia pinnata Merr diperlukan kebijakan
yang baik, agar petani/pengusaha tidak kecewa. Sebelum Pongamia pinnata Merr
dikembangkan perlu adanya varietas unggul, dan perlu dijelaskan bahwa
pembudidayaan Pongamia pinnata Merr baru akan menguntungkan setelah 4 - 5
tahun (Mardjono, 2008). Untuk itu sebelum tanaman menghasilkan, dianjurkan
untuk ditumpangsarikan dengan tanaman palawija yang sesuai untuk daerah
tersebut (Irwanto, 2009).
Pada tanaman monokultur, Pongamia pinnata Merr mampu menghasilkan
sekitar 9-90 kg biji/tanaman, atau setara 900 - 9.000 kg/ha dengan asumsi 100
tanaman/ha. Bijinya mengandung minyak sekitar 27-40%. Produksi minyak pada
tanaman yang sudah dewasa diharapkan dalam satu hektar akan mampu
menghasilkan minyak sebanyak 2.000 liter (Mardjono, 2008). Proses pengambilan
minyak biji Pongamia pinnata Merr telah dilakukan di India oleh petani dengan
alat pengepres sederhana (Mardjono, 2008). Hasil minyaknya langsung digunakan
oleh petani untuk keperluan sendiri dan sisanya dijual langsung ke pengepul. Biji-
biji Pongamia pinnata Merr yang telah dikeringkan dengan kadar air sekitar 7-
10% untuk diproses menjadi minyak melalui 3 tahap, yaitu pemanasan awal
(preheating), pengepresan/pengempaan (pressing), dan penyaringan secara
mekanik (screening) (Mardjono, 2008). Dengan cara ini, pengepresan minyak di
India dapat berhasil dengan baik, menghasilkan 25-27,5% minyak, 67,5-70%
limbah dan 5% hilang selama prosesing (Mardjono, 2008). Sedangkan secara
konvensional yaitu dengan alat press kecil tanpa pemanasan awal hasil minyak
hanya sekitar 18-22% (Mardjono, 2008). Adapun limbah bungkil minyak biji
Pongamia pinnata Merr bisa digunakan sebagai bahan bakar (biobriket) atau
pupuk organik maupun pakan ternak yang sangat bermanfaat (Irwanto, 2008).
Metode ini dapat digunakan untuk meproduksi minyak dari biji Pongamia pinnata
Merr di Indonesia. Minyak inilah yang kemudian digunakan sebagai bahan baku
pembuatan biodiesel.
Dalam pembuatan biodiesel dari minyak biji Pongamia pinnata Merr ini,
dapat dilakukan melalui proses esterifikasi dan/atau transesterifikasi, yang
merujuk pada pembuatan biodiesel dari minyak nabati. Agar proses pembuatan
dapat berlangsung efektif, terlebih dahulu perlu dilakukan uji kandungan asam
lebak bebas atau FFA yang terkandung di dalam minyak biji Pongamia pinnata
Merr. Apabila kandungan FFA dalam pretreated oil lebih dari 2% maka perlu
dilakukan proses esterifikasi dan transesterfikasi secara berurutan dimana
dilakukan proses esterifikasi terlebih dahulu sebelum transesterifikasi, sedangkan
apabila kandungan FFA kurang dari 2% maka cukup melalui proses
transesterfikasi (Ramadhas et al, 2005).
Sebuah proses dari transesterifikasi lipid digunakan untuk mengubah
minyak dasar menjadi ester yang diinginkan dan membuang asam lemak bebas.
Setelah melewati proses ini, biodiesel memiliki sifat pembakaran yang mirip
dengan diesel (solar) dari minyak bumi, dan dapat menggantikannya dalam
banyak kasus. Namun, biodiesel lebih sering digunakan sebagai penambah untuk
diesel petroleum, meningkatkan bahan bakar diesel petrol murni ultra rendah
belerang yang rendah pelumas. (M. Rachimoellah, dkk., 2009).
Menurut Satish lele (2002) proses transesterifikasi dipengaruhi oleh
beberapa faktor, di antaranya suhu reaksi dan rasio mol minyak terhadap alkohol.
Pembentukan ester diketahui terjadi pada suhu 45-60oC setelah 1 jam reaksi. Suhu
reaksi disesuaikan dengan alkohol yang dipakai yaitu metanol. Untuk
menghindari hilangnya reaktan (metanol), maka dipilih suhu reaksi di bawah titik
didih metanol (64,7oC) sehingga metanol dapat bereaksi seluruhnya dan sempurna
memberikan hasil ester yang maksimal (Ma, Fangrui., 1999).
Setelah melalui proses transesterifikasi, didapatkan biodiesel (metil ester)
dan gliserol, dimana metil ester yang dihasilkan masih belum murni karena masih
mengandung sisa reaktan (metanol) yang belum bereaksi, sisa gliserol dan sisa
katalis (M. Rachimoellah, dkk., 2009). Biodiesel dicuci terlebih dahulu agar
didapatkan kemurnian yang tinggi, terdapat dua metode pencucian yang dapat
digunakan, yaitu metode konvensional (water wash system) dan dry washing
(Rama P. dkk., 2006). Setelah biodiesel dicuci, dilakukan analisa kadar metil
ester. Biodiesel (metil ester) diuji karakteristiknya pada kadar 84% dengan
parameter yang dipakai adalah densitas, viskositas, indeks setana, heating value,
flash point, dan pour point (M. Rachimoellah, dkk., 2009).
Viskositas merupakan properti biodiesel yang paling penting karena akan
mempengaruhi kerja mesin penginjeksian bahan bakar. Kemudian, flash point
adalah titik terbakarnya bahan bakar diesel setelah mencapai tekanan tertentu
dalam mesin sehingga terbakar. Pour point adalah suhu terendah yang masih
memungkinkan terjadinya aliran bahan bakar. Selanjutnya, heating value
merupakan salah satu dari tiga faktor utama yang mempengaruhi keekonomisan
suatu bahan bakar dalam mengubah energi dalam bahan bakar menjadi kerja.
Untuk indeks setana, nilai yang tinggi menunjukkan bahwa bahan bakar dapat
menyala pada temperatur yang relatif rendah. (M. Rachimoellah, dkk., 2009).
Nilai yang dihasilkan dari pengujian dengan parameter-parameter tersebut akan
menunjukkan efektifitas proses pembuatan dan kualitas biodiesel dari minyak biji
Pongamia pinnata Merr.

KESIMPULAN

Gagasan

Pengembangan tanaman Bangkong (Pongamia pinnata Merr) sebagai sumber


bahan baku pembuatan bahan bakar alternatif berupa biodiesel dalam rangka
mengatasi permasalahan energi akibat menipisnya cadangan bahan bakar fosil,
sebab biji tanaman ini memiliki kandungan minyak nabati non pangan potensial
dan mudah untuk ditumbuhkan.
Teknik Implementasi Gagasan

Implementasi dari pengembangan tanaman Bangkong (Pongamia pinnata Merr)


sebagai sumber bahan baku pembuatan biodiesel adalah melalui budidaya,
produksi minyak dari biji tanaman tersebut, pembuatan biodiesel dari tanaman
Bangkong (Pongamia pinnata Merr) yang merujuk pada pembuatan biodiesel dari
minyak nabati, dan melakukan uji karakteristik untuk mengetahui kualitas
biodiesel yang dihasilkan.

Manfaat dan Dampak Gagasan

Pengembangan tanaman Bangkong (Pongamia pinnata Merr) di Indonesia


sebagai sumber bahan baku pembuatan biodiesel akan memberikan manfaat
diantaranya menciptakan bahan bakar alternatif berupa biodiesel yang ramah
terhadap lingkungan, bernilai ekonomis, serta dapat menjadi tanaman reboisasi.
Dampak yang diperoleh cenderung positif seperti berkurangnya emisi karbon
akibat penggunaan bahan bakar fosil yang menjadi penyebab terjadinya
pemanasan global.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. Biodiesel dari Kelapa. SINARTANI, Edisi 12 – 18 April.


Anonim. 2007. Beberapa Profil Tanaman Langka pada Plot KSDGTH di Gunung
Kidul. Jurnal Asia Pacific Forest Genetic Resources Programme (APFORGEN)
Indonesia.
Anonim. 2010. Pongamia pinnata Merr. Artikel Prohati.
http://www.proseanet.org/prohati3
Hess, M. Scott. 2003. How Biodiesel Works. HowStuffWorks.com. URL:
http://auto.howstuffworks.com/fuel-efficiency/alternative-fuels/biodiesel.htm
(diakses tanggal 10 Februari 2010).
Irwanto. 2006. Pengembangan Jarak (Jatropha curcas L) Sebagai Sumber Bahan
Bakar Alternatif. http://www.irwantoshut.com
Irwanto. 2008. Kayu Besi Pantai (Pongamia pinnata ( L.) Pierre ) Tumbuhan
Sumber Bahan Bakar Alternatif. http://www.irwantoshut.com
Irwanto. 2009. Biofuel – Kayu Besi Pantai (Pongamia pinnata Me Pongamia
pinnata Merr). Forester’s blog. http://www.irwantoshut.com
M. Rachimoellah, Kartika Yeni L., Riska P. 2009. Pembuatan Biodiesel dari
Minyak Biji Alpukat (Persea gratissima) dengan Proses Transesterifikasi.
Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia – SNTKI.
Ma, Fangrui, Milford, A., Hanna. 1999. Biodiesel Productin: a review. Biosource
Technology, 7, hal. 1-15.
Mardjono, Rusim. 2008. Mengenal Ki Pahang (Pongamia pinnata) Sebagai
Bahan Bakar Alternatif Harapan Masa Depan. Bogor: Pusat Penelitian dan
Pengembangan Perkebunan. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman
Industri, Volume 14, Nomor 1 April, hal. 1-3.
Mulyani, Elly dan Rina Ratnasih. 2007. Bioprospek Cerbera odollam Gaertn
yang Diambil dari Tiga Lokasi Sebagai Bahan Baku Biodiesel. Program Studi
Biologi, Institut Teknologi Bandung (ITB). Halaman 1-19.
Nasiri, Johan. 2006. Biodiesel. Sentra Teknologi Polimer-
http://www.sentrapolimer.com
Ramadhas, A. S., S. Jayaraj, C. Muraleedharan. 2004. Biodiesel Production From
High FFA Rubber Seed Oil. Fuel, 84, hal. 335-340.
Rama Prihandara, Roy Hendroko, Makmuri Nuramin. 2006. Menghasilkan
Biodiesel Murah. Jakarta: Agromedia.
Syariah, Ira. 2008. Proses Pembuatan Biodiesel dengan Bahan Baku Jatropha
Curcas (Jarak Pagar). http://iskandarmt.files.wordpress.com
Zhang,Y., M. A. Dube et al. 2002. Biodiesel Production from Waste Cooking Oil,
Process Design and Technological Assessment. Bioresource Technology, 89,
hal.1-16.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Ketua Pelaksana Kegiatan


a. Nama Lengkap : Ni Made Pertiwi Jaya
b. Tempat dan Tanggal Lahir : Singaraja, 16 Juni 1990
c. Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat :
1. Pemanfaatan Eceng Gondok (Eichhoornia Crassipes) Sebagai Bahan
Alternatif Pembuatan Kertas Pembungkus Makanan Ramah
Lingkungan (2009)
2. PKM Kewirausahaan: SiKuit (Biskuit Rumput Laut) Sebagai Camilan
Bergizi bagi Anak dengan Variasi Bentuk Hewan Laut (2009)
d. Penghargaan Ilmiah yang Pernah Diraih : -
e. Tanda Tangan :

Anggota Pelaksana I
a. Nama Lengkap : Septiyan Handayani
b. Tempat dan Tanggal Lahir : Magetan, 9 September 1991
c. Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat :
1. PKM Kewirausahaan: SiKuit (Biskuit Rumput Laut) Sebagai Camilan
Bergizi bagi Anak dengan Variasi Bentuk Hewan Laut (2009)
d. Penghargaan Ilmiah yang Pernah Diraih : -
e. Tanda Tangan :

Anggota Pelaksana II
a. Nama Lengkap : Johan Iswara
b. Tempat dan Tanggal Lahir : Surabaya, 26 September 1990
c. Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat :
1. PKM Pengabdian Masyarakat: Pengajaran bahasan Jepang Kepada
Siswa SMP-SMA Menggunakan Permainan Nihkado (2009)
d. Penghargaan Ilmiah yang Pernah Diraih : -
e. Tanda Tangan :