Anda di halaman 1dari 1

Berdasarkan penelitian Danar, dkk. Menggunakan 4 konsentrasi yaitu 100%, 75%, 50&% dan 25%.

Ektrak tal iputri berhasil mengakibatkan banyak kematian hama weteng pada konsentrasi 100%,
sedangkan ektrak tali puti yang mengakibatkan sedikit kematian pada hama wereng yaitu pada
konsentrasi 25%. Namun tingkat efektivitasnya belum mampu melampaui decis.Hal ini disebabkan
metabolisme saponin yang terkandung pada tali putri relatif lebih lambat didalam tubuh wereng
coklat dobandingkan deltametrin yang terkandung pada decis. Pemanfaatan tali putri yang terbaik
yaitu dengan mengestraknya pada larutab konsentrasi 100%. Hal ini berarti penelian yang kami
lakukan sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya bahwa konsentrasi 100% paling efektif untuk
digunakan dalam mengontrol keberadaan hama kutu putih. Hasil percobaab tersebut sesuai dengan
pendapat Dewi (2010) menyatakan bahwa konsntrasi ekstrak yang lebih tinggi maka pengaruh yang
ditimbukan semakin tinggi, di samping itu daya kerja racun suatu senyawa sangat ditentukan oleh
besarnya konstrasi.

Seperti yang telah dijelaskan di tijauan pustaka bahwa tali putri memiliki kandungan saponin yang
berguna mematikan beberapa hama karena memiliki daya racun yang cukup timggi. Sehingga
tanaman yang mengandung saponin ini dapat melindungi diri dari serangan hama. Mekanisme
masuknya senyawa ini yang dihasilkan tali putri ke tubuh kutu putih secara kontak, dengan proses
masuknya cairan ekstrak ke dalam tubuh serangga melalui lubang-lubang alami. Menurut Untung
(2006) racun kontak dapat terserap melalui kulit pada saat pemberian insektisida atau dapat pula
terkena sisa insektisida(residu) beberapa waktu setelah penyemprotan. Selanjutnya insektisida
bekerja sebagai racun perut dan diserap oleh dinding vebtrikulus pada pencernaan kutu. Kemudian
di translokasikan menuju ke pusat sarag kutu sehingga fapat menggangu aktivitas metabolisme dan
menyebabkan penurunan aktivitas serangga dan akhirnya serangga mati (Trizelia, 2001)