Anda di halaman 1dari 36

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Harga diri rendah kronis adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian
yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam
berhubungan dengan orang lain (Fitria,2009). Harga Diri Rendah Kronis adalah
perasaan negatif terhadap diri sendiri, termasuk kehilangan percaya diri, tidak
berharga, tidak berguna, pesimis, tidak ada harapan dan putus asa (Fitria,2009).
Berdasarkan catatan World Health Organization (WHO), sebanyak 450 juta orang
di muka Bumi mengalami gangguan mental (mental disorder), 150 juta
mengalami depresi, 25 juta orang mengalami skizofrenia, sebagai gambaran, di
negara Indonesia survey tentang penderita gangguan jiwa tercatat 44,6% per 1.000
penduduk Indonesia menderita gangguan jiwa berat.
Berdasarkan data yang diperoleh penulis, jumlah pasien yang dirawat di
Rumah Sakit Menur Surabaya pada bulan Januari sampai November 2009 adalah
sebanyak 852 orang. Berdasarkan fakta – fakta seperti itu sudah seharusnya
menjadi cacatan bagi kita di Indonesia terutama di daerah surabaya dalam
mengatasi kesehatan jiwa yang sudah mengkhawatirkan dewasa ini akibat
terjadinya konflik dan lilitan krisis ekonomi. Karena secara nyata kondisi seperti
itulah yang merupakan salah satu pemicu yang memunculkan rasa stress, depresi
dan berbagai gangguan jiwa pada manusia.
Dengan meningkatnya angka gangguan jiwa di Indonesia pada umumnya
dan di Rumah Sakit Menur Surabaya pada khususnya, maka perlunya dilakukan
perawatan yang lebih intensif pada pasien dengan Harga Diri Rendah Kronis
secara menyeluruh meliputi, Bio – Psiko – Sosio – Spiritual, dimana penanganan
pasien dengan Harga Diri Rendah pada kuhususnya dan gangguan jiwa pada
umumnya, menekankan ke arah profesionalisme profesi keperawatan oleh sebab
itu penyusun tertarik untuk mengangkat Asuhan Keperawatan pada pasien dengan
Harga Diri Rendah Kronis sebagai judul makalah.
Berdasarkan faktor – faktor tersebut di atas, sehingga perawatan masalah
dengan Harga Diri Rendah Kronis sangat memerlukan perhatian yang sungguh-
sungguh, karena seseorang yang mengalami gangguan jiwa dengan harga diri

1
rendah pasti akan merasa dirinya tidak berharga, tidak mampu, dan selalu
mengatakan bahwa dirinya tidak berguna, yang mana hal ini dapat memicu
seseorang mengalami stress.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, kami dapat mengambil rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Apa pengertian harga diri rendah kronis ?
2. Apa etiologi dari harga diri rendah kronis ?
3. Apa patofisiologi dari harga diri rendah kronis ?
4. Apa pohon masalah dari harga diri rendah kronis ?
5. Apa manifestasi klinik dari harga diri rendah kronis ?
6. Apa klasifikasi dari harga diri rendah kronis ?
7. Apa komplikasi dari harga diri rendah kronis ?
8. Apa pemeriksaan penunjang dari harga diri rendah kronis ?
9. Apa penatalaksanaan atau terapi dari harga diri rendah kronis ?
10. Bagaimana konsep dasar asuhan keperawatan terhadap pasien dengan
diagnosa keperawatan harga diri rendah kronis ?
11. Bagaimana contoh kasus asuhan keperawatan terhadap pasien dengan
diagnosa keperawatan harga diri rendah kronis ?
12. Bagaimana Komunikasi terapeutik (roleplay) terhadap pasien dengan
diagnosa keperawatan harga diri rendah kronis ?

1.3 Tujuan Makalah


2. Tujuan Umum
Untuk memperoleh gambaran dan bisa memberikan asuhan keperawatan
kepada pasiendengan Harga Diri Rendah Kronis.
3. Tujuan Khusus
Diharapkan dalam memberikan asuhan keperawatan dengan Harga Diri
Rendah Kronis, penyusun akan dapat :
a. Diharapkan dapat memahami dan mengerti definisi harga diri rendah
kronis.

2
b. Diharapkan dapat memahami dan mengerti etiologi harga diri rendah
kronis.
c. Diharapkan dapat memahami dan mengerti manifestasi klinis harga
diri rendah kronis.
d. Diharapkan dapat memahami dan mengerti klasifikasi harga diri
rendah kronis.
e. Diharapkan dapat memahami dan mengerti komplikasi harga diri
rendah kronis.
f. Diharapkan dapat memahami dan mengerti pemeriksaan penunjang
harga diri rendah kronis.
g. Diharapkan dapat memahami dan mengerti serta bisa menerapkan
asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan harga diri rendah
kronis.
h. Diharapkan dapat memahami dan mengerti serta bisa menerapkan
komunikasi terapeutik (roleplay) pada pasien dengan gangguan harga
diri rendah kronis.

1.3 Manfaat Makalah


1. Bagi Perawat
Dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi perawat dalam memberikan
asuhan keperawatan dengan Harga Diri Rendah Kronis.
2. Bagi Institusi
Makalah tentang Asuhan Keperawatan dengan Harga Diri Rendah
Kronis dapat menambah bahan – bahan referensi di perpustakaan institusi.
3. Bagi Pembaca
Makalah ini dapat dijadikan pengalaman dan latihan bagi pembaca dalam
menyusun asuhan keperawatan Harga Diri Rendah Kronis.

3
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Dasar Harga Diri Rendah Kronis


1. Pengertian Harga Diri Rendah Kronis
Harga Diri Rendah kronis adalah perasaan tidak berharga,tidak berarti
dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap
diri sendiri atau kemampuan diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan
diri, merasa gagal karena tidak mampu mencapai keinginan sesuai ideal
diri. (Fitria,2009).
Harga dri rendah adalah perasaan seseorang bahwa dirinya tidak
diterima dilingkungan dan gambaran-gambaran negatif tentang dirinya
(Barry, dalam Fitria 2009).
Harga diri seseorang di peroleh dari diri sendiri dan orang lain.
Gangguan harga diri rendah akan terjadi jika kehilangan kasih
sayang,perlakuan orang lain yang mengancam dan hubungan interpersonal
yang buruk. Tingkat harga diri seseorang berada dalam rentang tinggi
sampai rendah. Individu yang memiliki harga diri tinggi menghadapi
lingkungan secara aktif dan mampu beradaptasi secara efektif untuk
berubah serta cenderung merasa nyaman. Individu yang memiliki harga
diri rendah melihat lingkungan dengan cara negatif dan mengganggap
sebagai ancaman.
Harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri sendiri
atau kemampuan diri yang negatif yang dapat secara langsung atau tidak
langsung diekspresikan (Towsend,2008).
Harga diri rendah menurut Keliat, digambarkan sebgai perasaan yang
negatif terhadap diri sendiri dan harga diri merasa gagal mencapai
keinginan. Selain itu juga Harga diri rendah adalah evaluasi dari atau
kemampuan diri yang negatif dan dipertahankan dalam waktu yang lama
(Direja, 2011)

4
2. Etiologi Harga Diri Rendah Kronis
Berbagai faktor menunjang terjadinya perubahan dalam konsep – diri
seseorang (Fitria,2009), sebagai berikut:
a. Faktor Predisposisi
Ada beberapa faktor predisposisi yang menyebabkan harga diri rendah
yaitu:
1) Perkembangan individu yang meliputi :
a) Adanya penolakan dari orang tua, sehingga anak merasa tidak
dicintai kemudian dampaknya anak gagal mencintai dirinya
dan akan gagal pula untuk mencintai orang lain.
b) Kurangnya pujian dan kurangnya pengakuan dari orang – orang
tuanya atau orang tua yang penting/ dekat dengan individu
yang bersangkutan.
c) Sikap orang tua over protecting, anak merasa tidak berguna,
orang tua atau orang terdekat sering mengkritik serta
merevidasikan individu.
d) Anak menjadi frustasi, putus asa merasa tidak berguna dan
merasa rendah diri.
2) Ideal diri
a) Individu selalu dituntut untuk berhasil.
b) Tidak mempunyai hak untuk gagal dan berbuat salah.
c) Anak dapat menghakimi dirinya sendiri dan hilangnya rasa
percaya diri.

b. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi atau stresor pencetus dari munculnya harga diri
rendah mungkin ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal
seperti:
1) Gangguan fisik dan mental salah satu anggota keluarga sehingga
keluarga merasa malu dan rendah diri.
2) Pengalaman traumatik berulang seperti penganiayaan seksual dan
psikologis atau menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan,

5
aniaya fisik, kecelakaan, bencana alam dan perampokan. Respon
terhadap trauma pada umumnya akan mengubah arti trauma tersebut
dan kopingnya adalah represi dan denial.

3. Patofisiologi Harga Diri Rendah Kronis


Hasil riset Malhi (2008) menyimpulkan bahwa hargadiri rendah di
akibatkan oleh rendahnya cita-cita seseorang. Hal ini megakibatkan
berkurangnya tantangan dalam mencapai tujuan. Tantangan yang rendah
meyebabkan upaya yang rendah. Selanjutnya hal ini menyebabkan
penampilan seseorang yang tidak optimal.
Dalam tinjauan life span historypasien, penyebab terjadinya harga
diri rendah adalah pada masa kecil sering di salahkan, jarang di beri pujian
atas keberhasilannya. Saat individu mencapai remaja keberadaanya kurang
dihargai, tidak di beri kesempatan dan tidak diterima. Menjelang deasa
awal sering gagal di sekolah, pekerjaan atau pergaulan. Harga diri rendah
muncul saat lingkungan cenderung mengucilkan dan menuntut lebih dari
kemampuan.
a. Tanda dan gejala
Menurut Carpenito dalam Keliat (2011) perilaku yang berhubungan
dengan harga diri rendah antara lain :
1) Mengkritik diri sendiri.
2) Perasaan tidak mampu.
3) Pandangan hidup pesimistis.
4) Tidak menerima pujian.
5) Penurunan produktivitas.
6) Penolakan terhadap kemampuan diri.
7) Kurang memperhatikan perawatan diri.
8) Berpakaian tidak rapi.
9) Selera makan berkurang.
10) Tidak berani menatap lawan bicara.
11) Lebih banyak menunduk.
12) Bicara lambat dengan nada suara lemah.

6
b. Rentang Respon

Sumber : Nita, 2009


c. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi terjadi Harga Diri Rendah adalah penolakan
orang tua yang tidak realistis, kegagalan berulang kali, kurang
mempunyai tanggungjawab personal, ketergantungan pada orang lain,
ideal diri yang tidak realistis (Nita, 2009).
d. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi terjadi Harga Diri Rendah adalah kehilangan
bagian tubuh, perubahan penmpilan tau bentuk tubuh, kegagaan tau
produktifitas yang menurun.

Secara umum gangguan komsep diri Harga Diri Rendah ini dapat terjadi
secara situasional atau kronik. Secara situasional misalnya karena trauma yang
muncul secara tiba-tiba misalnya harus di oprasi. Kecelakaan perkosaan, atau
di penjara termasuk di rawat di rumahsakit bisa menyebabkan harga diri
rendah di sebabkan karena peyakit fisik atau pemasangan alat bantu yang
membuat pasien tidak nyaman. Penyebab lainnya dalah harapan fungsi tubuh
yang tidak tercapai serta perlakuan petugas kesehatan yang kurang
menghargai pasien dan keluarga. Harga diri rendah kronik, biasanya di
rasakan pasien sebelum sakit atau sebelum di rawat pasien sudah memiliki
pikiran negatif dan saat di rawat meningkat.
Baik faktor predisposisi atau prespoitasi di atas bila mempengaruhi
seseorang dalam berpikir, bersikap maupun bertindak, maka di anggap akan
mempengaruhi terhadap koping individu tersebut sehingga menjadi tidak
efektif (mekanisme koping individu toidak efektif). Bila kondisi pasien tidak
dilakukan intervensi lebih lanjut dapat menyebabkan pasien tidak mau bergaul
dengan orang lain (isolasi sosial:menarik diri), yang menyebabkan pasien

7
Isolasi Sosial : Menarik Diri
Effect

asyik dengan dunia dan pikirannya sendiri sehingga dapat muncul rsiko
perilaku kekerasan.
Menurut Peplau dan Sulivan harga diri berkaitan dengan pengalaman
interpersonal, dalam tahap perkembangan dari bayi sampai lanjut usia seperti
good me,bad me,anak sering dipersalahkan, ditekan sehingga perasaan
amannya tidak terpenihi dan merasa ditolak oleh lingkungan dan apabila
koping yang di gunakan tidak efektif akan menimbulkan harga diri rendah.
Caplan, mengatakan bahwa lingkungan sosial akan mempengaruhi
individu, pengalaman seseorang dan adanya perubahan sosial akan
memengaruhi individu, pengalaman seseorang dan adanya perubahan seseorng
seperti perasaan di kucilkan,di tolak oleh lingkungan sosial, tidak di hargai
akan memyebabkan strees dan menimbulkan penyimpangan perilaku akibat
harga diri rendah.

4. Pohon Masalah Harga Diri Rendah Kronis

Gangguan Konsep Diri : Harga


Diri Rendah Kronik
Core Problem

Koping Individu Tidak


Efektif
Causa
Pohon Masalah Harga Diri
Rendah : Gangguan Konsep
Diri
Sumber : Mukhripah D &
Iskandar (2012)

5. Klasifikasi Harga Diri


Menurut Fitria (2009), harga diri rendah dibedakan menjadi 2, yaitu:

8
a. Harga diri rendah situasional
Harga diri rendah situasional adalah keadaan dimana individu yang
sebelumnya memiliki harga diri positif mengalami perasaan negatif
mengenai diri dalam berespon, terhadap suatu kejadian (kehilangan,
perubahan).

b. Harga diri rendah kronik


Harga diri rendah kronik adalah keadaan dimana individu mengalami
evaluasi diri yang negatif mengenai diri atau kemampuan dalam waktu
lama.
6. Manifestasi Klinis Harga Diri Rendah Kronis
Manifestasi yang biasa muncul pada pasien gangguan jiwa dengan harga diri
rendah kronis, Stuart & Sundden (1998):
a. Mengejek dan mengkritik diri.
b. Merasa bersalah dan khawatir, menghukum atau menolak diri sendiri.
c. Mengalami gejala fisik, missal tekanan darah tinggi, gangguan
penggunaan zat.
d. Menunda keputusan sulit bergaul.
e. Menghindari kesenangan yangdapat memberi rasa puas.
f. Menarik diri dari realitas, cemas panic dan cemburu curiga dan halusinasi.
g. Merusak diri: harga diri rendah menyokong pasien untuk mengakhiri
hidup.
h. Melukai orang lain.
i. Perasaan tidak mampu.
j. Pandangan hidup yang pesimistis.
k. Tidak menerima pujian.
l. Penurunan produktifitas.
m. Penolakan terhadap kemampuan diri.
n. Kurang memerhatikan perawatan diri.
o. Berpakaian tidak rapi.
p. Kehilangan selera makan.
q. Tidak berani menatap lawan bicara.

9
r. Lebih banyak menunduk.
s. Bicara lambat dengan nada suara lemah.

7. Pemeriksaan Penunjang Harga Diri Rendah Kronis


Menurut Fitria (2009), pemeriksaan penunjang harga diri rendah ada 3,
yaitu:
a. MMPI (Minnesota Multiphasie Personality Inventory)
Yaitu suatu tes yang bertujuan untuk mengetahui gambaran atau profil
kepribadian kondisi patologi seseorang dan untuk mengetahui potensi atau
bakat yang ada pada seseorang dengan menggunakan sebuah buku yang
berisi pertanyaan, lembar jawaban, dan isi serta satu lembar hasil tes.
b. EEG (Electro Enchefatograf)
Yaitu pemeriksaaan yang dilakukan untuk mengetahui adanya dugaan
mental organik, kejang, dan gangguan tidur.
c. CT (Computed Tomography)
MRI (Magnetic Resonance Imaging) yaitu gambaran yang dapat
menunjukkan struktur otak serta menggambarkan penggunaan volume
otak.
8. Konsep dasar asuhan keperawatan terhadap pasien dengan diagnosa
keperawatan harga diri rendah kronis
a. Pengkajian
1) Identitas pasien
Biasanya meliputi nama pasien ( idntitas ), umur, jenis, kelamin, agama,
alamat lengkap, tanggal masuk, No. MR, penanggung jawab, keluarga
yang bisa dihubungi.
2) Alasan masuk
Biasanya pasien mengkritik diri sendiri, pearasaan tidak mampu,
pandangan hidup pesimis, tidak menerima pujian, penurunan
produktifitas, penolakan terhadap kemampuan diri, kurang
memprhatikan perawatan diri, berpakaian tidak rapi, selera makan
berkurang, tidak berani menatap lawan bicara, lebih banyak menunduk,
bicara lambat dengan nada bicara lemah.

10
3) Faktor predisposisi
Biasanya penolakan orang tua yang tidak realistis, kegagalan berulang
kali, kurang mempunyai tanggung jawab yang personal, ketergantungan
pada orang lain, ideal diri yang tidak realistis.
4) Psikososial
Biasanya pasien mengalami HDR cenderung menarik diri dari
lingkungan sekitar,biasanya pasien bersepsi terhadap dirinya,biasanya
pasien memiliki rasa frustasi tidak mampu melakukan peran nya seperti
orang normal lainnya,biasanya pandangan dan keyakinan pasien HDR
terhadap gangguan jiwa sesuai dengan budaya dan agama yg
dianut,biasanya pasien tidak medekatkan diri dengan yang maha kuasa.
b. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan gangguan status kesehatan
jiwa pasien baik aktual maupun potensial yang dapat dipecahkan atau
diubah melalui tindakan keperawatan yang dilakukan didalam diagnosa
keperawatan terdapat pernyataan respon pasien dimana perawat
bertanggung jawab dan mampu mengatasinya (Gaffar, L. J, 1997).
Diagnosa keperawatan yang diangkat berdasarkan pohon masalah adalah :
1) Harga Diri Rendah Kronis berhubungan dengan gangguan psikiatrik
dan koping terhadap kehilangan tidak efektif yang ditandai dengan
pasien mengkritik diri sendiri, perasaan tidak mampu, pandangan
hidup pesimis, tidak menerima pujian, enurunan produktifitas,
penolakan terhadap kemampuan diri, kurang memperhatikan
perawatan diri, tidak berani menatap lawan bicara, lebih banyak
menunduk, kegagalan berulang kali, kurang mempunyai tanggung
jawab yang personal, ketergantungan pada orang lain, menarik diri dari
lingkungan sekitar, pasien bersepsi terhadap dirinya, pasien memiliki
rasa frustasi tidak mampu melakukan perannya seperti orang normal
biasanya.

2) Ketidakefektifan koping berhubungan dengan ketidakadekuatan


kesempatan untuk bersiap terhadap stressor dan kurang percaya diri

11
dalam kemampuan mengatasi masalah yang ditandai dengan pasien
mengkritik diri sendiri, perasaan tidak mampu, penurunan produkifitas,
kurang memperhatikan perawatan diri, berpakaian tidak rapi, kurang
mempunyai tanggung jawab yang personal, ketergantungan pada orang
lai, menarik diri dari lingkungan sekitar, pasien memliki rasa frustasi
tidak mampu melakukan perannya seperti orang normal biasanya.
3) Isolasi Sosial berhubungan dengan pasien mengkitik diri sendiri,
perasaan tidak mampu, pandangan hidup pesimis, penolakan terhadap
kemampuan diri, tidak berani menatap lawan bicara, ketergantungan
pada orang lain, menarik diri dari lingkungan sekitar, pasien bersepsi
terhadap dirinya, pasien memiliki rasa frustasi tidak mampu
melakukan perannya seperti orang normal biasanya, pasien tidak
mendekatkan diri dengan yang maha kuasa.
c. Prioritas Diagnosa Keperawatan
Harga Diri Rendah Kronis berhubungan dengan gangguan psikiatrik dan
koping terhadap kehilangan tidak efektif yang ditandai dengan pasien
mengkritik diri sendiri, perasaan tidak mampu, pandangan hidup pesimis,
tidak menerima pujian, enurunan produktifitas, penolakan terhadap
kemampuan diri, kurang memperhatikan perawatan diri, tidak berani
menatap lawan bicara, lebih banyak menunduk, kegagalan berulang kali,
kurang mempunyai tanggung jawab yang personal, ketergantungan pada
orang lain, menarik diri dari lingkungan sekitar, pasien bersepsi terhadap
dirinya, pasien memiliki rasa frustasi tidak mampu melakukan perannya
seperti orang normal biasanya.
d. Intervensi Keperawatan
Diagnosa: Harga diri rendah kronis berhubungan dengan gangguan
psikiatrik dan koping terhadap kehilangan tidak efektif.
Tujuan:Setelah dilakukan proses keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
pasien dapat membina hubungan saling percaya.
Kriteria Hasil:
Harga Diri
a) Ada kontak mata.

12
b) Mau komunikasi terbuka.
c) Ada keinginan untuk berhadapan dengan orang lain.
Tingkat Depresi
a) Adanya minat pada kegiatan.
b) Berkurang rasa bersalah yang tidak tepat.
Intervensi :
No Intervensi
.
Konseling
1. Bangun hubungan terapeutik yang didasarkan pada rasa saling
percaya dan saling menghormati.
2. Tunjukan empati, kehangatan dan ketulusan.
3. Dukung ekspresi pasien.
4. Bantu pasien untuk mengidentifikasi masalah atau situasi yang
menyebabkan distress.
5. Dukung pengembangan ketrampilan baru dengan tepat.

Peningkatan Harga Diri


6. Dukung melakukan kontak mata pada saat berkomunikasi pada
orang lain.
7. Jangan mengkritisi pasien secara negatif.
8. Instruksikan orangtua mengenai pentingnya minat dan dukungan
mereka dalam mengembangkan sikap diri positif.
9. Montor tingkat harga diri dari waktu ke waktu, dengan tepat.

13
BAB 3
TINJAUAN KASUS

2.2 Kasus
Pasien datang kerumah sakit diantar oleh keluarganya, keluarga
mengatakan bahwa pasien tidak pernah mengalami seperti ini sebelumnya dan
dalam keluarganya tidak ada yang pernah mengalami hal serupa. Keluarga
pasien mengtakan pasien mempunyai keinginan untuk bisa sekolah di salah
satu SMA di Surabaya, namu saat di proses pengurusan dan akan didaftarkan
pasien pergi dari rumah dan tidak tahu keberadaanya dimana. Sejak saat itu
keadaan pasien berubahkesadaran. Saat dirumah pasien sering marah-marah,
membentak dan lebih suka tidur daripada bermain dengan teman-teman.Saat
pengkajian pasien tampak bicara sendiri, kemudian saat ditanya, pasien
mengatakan “tidak berbicara dengan siapa-siapa”. Saat ditanya oleh perawat
tentang hari dan waktu pasien diam dan tidak menjawab. Selanjutnya perawat
bertanya tentang orang yang berarti, pasien mengatakan bahwa pasien sangat
menyayangi ibunya. Pasien mengatakan, sebagai perempuan pasien menyukai
semua anggota tubuhnya tetapi tidak suka berdandan.Pasien merupakan anak
ke-2 dari 2 bersaudara dan tinggal serumah dengan orang tuanya. Pasien
merasa dirinya tidak berharga, hilang kepercayaan diri sehingga gagal
mencapai keinginan dan tampak mengalihkan kontak mata dan pasien bisa
tersenyum saat diminta oleh perawat. Saat dilakukan pengkajian pasien lebih
banyak menunduk dan tidak mau menetap lawan bicara dan sering berhenti
berbicara tiba-tiba, kemudian melanjutkan kembali sesuai topik. Perawat
bertanya tentang rencana pasien, kemudian pasien mengtakna bahwa ia ingin
segera sembuh dan bisa cepat pulang agar bisa membantu ibunya
kembali.ketika ditanya apakah pasien pernah mengkonsumsi obat-obata
seperti NAPZA dan lain-lain, pasien mengatakan tidak pernah
mengunakannya Perawat memperoleh ttv dengan TD : 110/70mmHg, N :
121x/menit, S : 36,1oC, RR : 18x/menit, TB : 157cm dan BB : 41Kg. Pasien
tidak memiliki keluhan fisik saat dikaji.

14
2.3 Asuhan Keperawatan
2.3.1 Pengkajian
1. Identitas pasien
Nama : Nn.A
Umur : 18 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Tuban
Pekerjaan : Tidak bekerja
Pendidikan : SMP
Agama : Islam
Suku : Jawa
Status pernikahan : Belum menikah
Tanggal masuk : 03 Maret 2017
Tanggal pengkajian : 18 Maret 2017
No.RM : 345xxxx
Diagnosa medis : Skizofrenia
2. Keluhan utama
Pasien mengatakan merasa dirinya jelek dan penampilan kurang
menarik
3. Alasan masuk
Pasien mengatakan saat dirumah sering marah-marah, membentak,
pada saat pengkajian pasien tampak menyendiri dan hanya
menjawab “ya” dan “tidak”
4. Riwayat masa lalu
Keluarga pasien mengtakan pasien mempunyai keinginan untuk
bisa sekolah di salah satu SMA di Surabaya, namu saat di proses
pengurusan dan akan didaftarkan pasien pergi dari rumah dan tidak
tahu keberadaanya dimana. Sejak saat itu keadaan pasien
berubahkesadaran.
Masalah Keperawatan : Distres masa lalu
5. Riwayat penggunaan obat
Paien mengatakan idak ada

15
Masalah Keperawatan : Tidak ada
6. Pemeriksaan fisik
TD : 110/70mmHg
Suhu : 36,1oC
Nadi : 121x/menit
RR : 18x/menit
Tinggi badan : 157 cm
Berat badan : 41 Kg
Masalah keperawatan : Tidak ada
7. Keluhan fisik
Pasien mengatakan tidak memiliki keeluhan apapun
Masalah Keperawatan : Tidak ada.
8. Genogram

9. Psikososial
A. Konsep diri :
a. Gambaran diri
Pasienbangga sebagai seorang wanita dan menyukai
tubuhnya, namun pasien tidak suka berdandan.
b. Identitas
Pasien dapat menyebutkan bahwa ia adalahseorang
wanita, tinggal di Tuban dengan pendidikan terakhir SMP,
seorang perempuan dan anak ke-2 dari 2 bersaudara dan
belum menikah.

16
c. Peran
Pasienmengatakan saat dirumah hanya sebagai anak,
masih ikut orang tua dan diberi tugas untuk membantu
ibunya.
d. Ideal diri
Pasien mengatakan ingin sembuh agar bisa membantu
ibunya.
e. Harga diri
Pasien merasa dirinya tidak berharga, hilang kepercayaan
diri sehingga gagal mencapai keinginan dan tampak
mengalihkan kontak mata dan pasien bisa tersenyum saat
diminta oleh perawat. Saat dilakukan pengkajian pasien
lebih banyak menunduk dan tidak mau menetap lawan
bicara.

Masalah keperawatan: Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah

B. Hubungan sosial :
Pasien megatakan orangyang berharga adala orang tuanya,
ibunya sangat menyanyangi Nn.A. Pasien juga mengatakan
tidak memiliki hambatan dalam berkomunikasi, hanya saja
pasien suka tidur daripada bermain dengan teman-temannya.
C. Spiritual
Pasien mengatakan beragama islam, namun saat dirumah
jarang melakukan sholat dan begitupun dirumah sakit.
Masalah Keperawatan :Tidak ada
10. Status Mental
a) Penampilan
Pasien menggunakan pakaian yang disediakan oleh rumah sakit
dan penampila kurang rapi, rambut acak-acakan, tidak mandi
pada sore hari dan jarang ganti baju.
Masalah Keperawatan : Defisit perawatan diri

17
b) Pembicaraan
Selama dalam perawatan, pasien tidak mau memulai
pembicaraan, peru diberikan rangsangan untuk berinteraksi.
Masalah Keperawatan : Kerusakan interaksi sosial
c) Aktivitas motorik
Pasien suka tidur, susah diajak bicara, duduk diam dikamar.
Masalah keperawatan : Intoleransi aktivitas
d) Alam perasan
Pasien mengatakan ingin cepat pulang dan erkumpul kembali
dengan keluarga.
Masalah keperawatan : Gangguan alam perasaan
e) Persepsi halusinasi
Pasien tampak bicara sendiri, tetapi saat ditanya pasien
mengatakan tidak bicara dengan siapa-siapa.
Masalah keperawatan : Risiko perubahan persepsi sensori
halusinasi
f) Proses pikir
Pembicaraan pasien sering berhenti tiba-tiba, tetapi pasien
dapat melanjutkan kembali sesuai denga topk pembicaraan.
Masalah keperawatan : Kerusakan komunikasi verbal
g) Tingkat kesadaran
Saat ditanya waktu dan hari pasien tampak diam dan tidak
menjawab, tapi pasien bisa membedakan mana perawat dan
pasien.
11. Kebutuhan Pulang
a. Kemampuan pasien memnuhi atau menyediakan kebutuhan
Pasien dapat memenuhi kebutuhan untuk pulang karena pasien
tinggal bersama kedua orang tua.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
b. Kegiatan sehari-hari

18
1) Perawatan diri
Saat mandi pagi pasien dibantu oleh perawat, namun saat
makan pasien bisa sendiri dengan pantauan perawat, untuk
BAB dan BAK pasien bisa sendiri.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
2) Nutrisi
Nafsu makan pasien sangat baik, setiap kali makan selalu
habis.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
3) Tidur
Pasien tidak ada gangguan tidur.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
c. Kemampuan pasien dalam
Pasien mengatakan ingin pulan cepat karena rindu kepada
ibunya dan bisa bertemu teman-temannya lagi, namun pasien
tidak biasa melakukannya sendiri.
Masalah keperawatan : Regimen terapeutik inefektif
12. Psikososial
Masalah dengan dukungan kelompok, spesifik pasien tidak mau
berkumpul dengan teman-teman saat dirumah sakit.
Masalah yang berhubungan dengan lingkungan, spesifik pasien
jarang berinteraksi dengan orang lain.
Masalah pendidikan, spesifik pasien mengatakan hanya lulusan
SMP.
masalah dengan kesehatan saat ini, spesifik pasien sedang
menjalani perawatan di rumah sakit jiwa.
Hasil pengamatan perawat pasien mempunyai penilaian yang
kurang baik mengenai dirinya, adanya reaksi yang lambat dan
selalu menghindar dari teman-teman di rumah sakit.
Masalah Keperawatan : Isolasi sosial : Menarik Diri
13. Teknik koping

19
Hasil pengamatan perawat pasien mempunyai penilaian yang
kurang baik mengenai dirinya, adanya reaksi yang lambat dan
selalu menghindar dari teman-teman di rumah sakit.
Masalah Keperawatan : Koping individu tidak efektif
14. Pekerjaan
Pasien tidak bekerja hanya membantu orangtua. Pasien
mengatakan lulusan SMP.
15. Aspek Medik
a. Diagnosa Medis : Skizofrenia Unditfereted
b. Terapi : Nifluoperazine Dihydro, 1mg x 1/2 hari
Haloperidol, 2mg x 2
Trihoxy Phenidyl, 2mg x 2
16. Daftar masalah keperawatan
a. Distres masa lalu
b. Gangguan konsep diri : HDRK
c. Isolasi diri : Menarik diri
d. Kerusakan interaksi sosial
e. Intoleransi aktivitas
f. Gangguan alam perasaan
g. Resiko perubahan persepsi : Halusinasi
h. Koping individu inefektik
i. Regimen terapeutik
j. Defisit perawatan diri
2.4 Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan konsep diri : Harga diri rendah kronis

20
2.5 Intervensi
No Diagnosa Rencana Tindakan Keperawatan
. Keperawatan Tujuan Kriteria Hasil Intervensi
1. Gangguan TUK 1 : 1. Pasien dapat 1. Bina hubungan saling percaya dengan
konsep diri : mengungkapkan perasaan
Pasien dapat membina menggunakan prinsip komunikasi
Harga Diri dan keberadaannya
Rendah hubungan saling percaya a. Pasien mau manjawab terapeutik :
Kronis salam.
a. Sapa pasien dengan ramah, baik verbal
b. Pasien mau berjabat
maupun non verbal.
tangan.
b.Perkenalkan nama lengkap, nama
c. Pasien mau menjawab
panggilan dan tujuan perawat
pertanyaan.
berkenalan.
d. Ada kontak mata.
c. Tanyakan nama lengkap pasien dan
e. Pasien mau duduk
nama panggilan yang disukai pasien.
berdampingan dengan
d.Buat kontrak yang jelas.
perawat.
e. Tunjukkan sikap yang jujur dan menepati
janji setiap kali interaksi.
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima
apa adanya.
g.Beri perhatian kepada pasien dan
memperhatikan kebutuhan dasar pasien
TUK 2 : a. Pasien mampu a. Diskusikan kemampuancdan aspek
mempertahankan aspek positif yang dimiliki pasien dan beri
Pasien dapat
positif reinforcement atas kemampuan
mengidentifikasi mengungkapkan perasaannya.
b. Saat bertemu pasien, hindari memberi
kemampuan dan aspek

21
positif yang dimiliki. penilaian negatif.
c. Utamakan member pujian yang realistis.
TUK 3 : a. Kebutuhan pasien terpenuhi. a. Diskusikan kemampuan pasien yang
b. Pasien dapat melakukan dapat dapat digunakan selama sakit.
Pasien dapat menilai
aktivitas terarah. b. Diskusikan juga kemampuan yang dapat
kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaan di rumah sakit
dan dirumah.
digunakan.
TUK 4 : a. Pasien dapat membuat a. Kegiatan mandiri
Pasien memiliki kegiatan rencana kegiatan dengan b. Kegiatan dengan bantuan
bantuan perawat yang akan
dapat menetapkan yang
dilakukan sesuai dengan
akan dilakukan sesuai kemampuan pasien.
kemampuan yang
dimiliki.
TUK 5 : a. Pasien mampu beraktivitas a. Menganjurkan pasien untuk
sesuai rencana kegiatan melaksanakan kegiatan yang telah
Pasien dapat melakukan
yang sudah dibuat. direncanakan.
kegiatan sesuai rencana b. Pantau kegiatan yang dilksanakan
pasien.
yang akan dibuat.
c. Beri pujian atas yang dikakukan pasien.
TUK 6 : a. Pasien dapat membina a. Memanfaatkan sistem pendukungn yang
hubungan dengan orang lain. ada.
Pasien dapat
b. Berikan pendidikan kesehatan pada
memanfaatkan sistem keluarga tentang cara perawatan pasien.
c. Bantu keluarga dalam memberikan
pendukung yang ada
dukungan selama pasien dirawat.

22
Standar Pelaksanaan (SP) Implementasi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan : Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
Kronis
Pertemuan ke-1
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi
a. Pasien mengatakan malu dan takut.
b. Pasien menunjukkan ekspersi wajah malu.
c. Pasien hanya mengatakan “ya dan tidak” ketika diminta menjawab
pertanyaan
d. Pasien tampak lesu.
e. Pasien selalu menundukkan kepala ke orang lain.
2. Diagnosa Keperawatan
Risiko isolasi sosial : menarik diri berhungan dengan harga diri rendah
kronis
3. Tujuan Khusus
a. Pasien dapat membina hubungan saling percaya.
b. Pasien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki.
B. Strategi Pelaksanaan(SP)
1. Orientasi
a) Salam Terapeutik
“Assalamu’alaikum, Selamat pagi, Nn.A. Perkenalkan nama saya
perawat R, saya yang bertugas pada pagi ini. Saya bertugas dari
jam 07.00-14.00, saya yang akan membantu perawatan ibu hari ini.
Pada hari ini kita akan belajar Komunikasi verbal ya, Nn.. Nama
Nn. Siapa? Suka dipanggil apa?”
b) Evaluasi/Validasi
“Bagaimana perasaan Nn.A hari ini? Ada keluhan yang Nn.
rasakan? Saya lihat sepertinya ada sesuatu yang ingin Nn.
sampaikan ?”

23
c) Kontrak
1) Topik
“Bisa kita berbincang-bincang tentang apa yang Nn.A rasakan
sekarang ?”
2) Waktu
“Berapa lama Nn.A mau berbincang-bincang dengan saya ?
Baik 15 menit saja”.
3) Tempat
“Apa ada tempat favorit Nn.A di RS ini, mungkin Nn. lebih
nyaman jika kita berbincang-bincang disana ?”.
2. Kerja
“Kegiatan apa saja yang biasa dilakukan dirumah? Memasak, mencuci
piring, mencuci pakaian, atau mungkin ada kegiatan yang lain? Kalau
tidak salah, Nn.A suka belajar ya? Wah, bagus sekali. Bagaimana
kalau Nn.A menceritakan kelebihan/kemampuan lain yang dimiliki?
Bagaimanan dengan keluarga? Apa mereka senang dengan yang anda
lakukan ?.”
3. Terminasi
a. Evaluasi subyektif
“Bagaimana perasaan Nn.A setelah kita becakap-cakap? Apakah
Nn.A merasa senang? Terimakasih.”
b. Evaluasi obyektif
“Tolong Nn.A ceritakan sedikit kepada saya apa yang telah
dilakukan dan kegiatan apa yang sering dilakukan?.”
c. Rencana tindak lanjut
“Baik, besok saya akan menemui Nn.A lagi kita akan berbioncang-
bincang kemampuan/hobi yang belum diceritakan kepada saya.”
d. Kontrak
1) Topik
“Bagaimana kalau kita bicarakan kembali kegiatan atau
kemampuan yang dapat Nn.A lakukan selama di rumah sakit”
2) Tempat

24
“Tempatnya tetap dikamar, iyaa.”
3) Waktu
“Besok kita mau bicara berapa lama ?........... setuju. Baik,
sampai ketemu dan bermain lagi besok, ya.”

25
Standar Pelaksanaan (SP) Implementasi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan : Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
Kronis
Pertemuan ke-2
A. Proses Keperwatan
1. Kondisi
a. Pasien mulai membina hubungan saling percaya dengan perawat.
b. Pasien telah mengetahui dan mengenal beberapa kemampuan dan
aspek positif yang dimiliki.
2. Diagnosa Keperawatan
Risiko isolasi sosial : menarik diri berhungungan dengan harga diri
rendah
3. Tujuan Khusus
a. Pasiendapat menilai kemampuan yang dapat dilakukan.
b. Pasien dapat merencanakan kegiatan di rumah sakit dengan
kemampuan yang dimiliki.
B. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SP)
1. Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Selamat pagi Nn.A, masih ingat saya ?................ Bagus.”
b. Validasi
“Sesuai janji saya kemarin bahwa saya datang diwaktu yang sama
seperti. Nah, bagaimana perasaan Nn.A sekarang ? Ya bagaiman,
apakah ada kemampuan lain yang belum Nn.A ceritakan
kemarin ?”
c. Kontrak
1) Topik
“Apakah Nn.A masih ingat apa yang akan kita bicarakan
sekarang?. Yaa....... Bagus”.
2) Tempat
“Kalau tidak salah, kemarin kita sudah sepaka akan bercakap-
cakap ditaman seperti keamrin benar kan, Nn.A ?”

26
3) Waktu
“Kita akan bercakap-cakap 15 menit, atau mungkin Nn.A ingin
bercakap-cakap dengan saya lebih lama lagi?”
2. Kerja
“Kegiatan apa saja yang sering Nn.A laukan dirumah ?”...............
“memasak, mencuci pakaian, bagus sekali Nn.A”. “Lalu kegiatan
apalagi yang biasa dilakukan? Kalau tidak salah Nn.A juga senang
menanam tanaman, ya? Wah, hebat sekali”
“Bagaimana kalau Nn.A menceritakan kelebihan lain yang dimiliki?
kemudian apa lagi”.
“Bagaimana dengan keluarga Nn.A, apakah mereka menyenangi apa yang
ibu lakukan selama ini, atau apakah mereka sering mengejek hasil kerja
Anda?”
3. Terminasi
a. Evaluasi Subyektif
“Bagaimana perasaan Nn.A setelah berhasil membuat jadwal
kegiatan yang dapat dilakukan di RS ?”
b. Evaluasi Obyektif
“Coba Nn.A bacakan kembali jadwal kegiatan yang telah dibuat
tadi. Bagus...”
c. Rencana Tindak Lanjut
“Nn.A mau melakukan kegiatan yang telah dibuat tad?”
“Nah... nanti kegiatan-kegiatan yang telah dikukan bersama-sama
dengan teman-teman yang lain, ya. Bagaimana kalau nanti siang?”
d. Kontrak
1) Topik
“baiklah besok kita bertemu lagi, bagaimana kalau kita
bercakap-cakap temtang kegiatan yang dapat dilakukan di
rumah. Bagaimana menurut Nn.A?. Setuju? Baiklah, besok
saya akan menemui Anda setelah jam makan siang. Bagaimana
? Nn.A mau ?”
2) Tempat

27
“Nn.A ingin bercakap-cakap dimana besok ?. ................ooo di
taman, baiklah.”
3) Waktu
“Bagaimana kalau kita bercakap-cakap 10 menit ?”

28
Standar Pelaksanaan (SP) Implementasi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan : Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
Kronis
Pertemuan ke-3
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi
a. Pasien telah mampu mengenal menyusun jadwal kegiatan yang dapat
dilakukan di rumah sakit.
b. Pasien telah berhasil melaksanakan kegiatan sesuai dengan jadwal
yang telah dibuat
2. Diagnosa Keperawatan
Risiko isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
3. Tujuan Khusus
a. Pasien dapat mengenal kegiatan yang dapat dilakukan di rumah.
b. Pasien dapat menyusun jadwal kegiatan yang dapat dilakukan sesuai
kemampuan di rumah.
B. Strategi pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SP)
1. Orientasi
a. Salam terapeutik
“Selamat pagi,Nn.A sedang apa?”
b. Evaluasi/Validasi
“Bagaimana perasan Nn.A sekarang?”
“Apakah Nn.A sudah melaksanakan kegiatan sesuai dengan
jadwalyang telah dinuat kemarin?”. “Bagus ibu sudah dapat
membantu membersihkan lingkungan”.
“Coba saya lihat jadwal kegiatannya, wah hebat sekali, sudah diberi
tanda semua!”, “Nanti dikerjakan lagi ya!”
c. Kontrak

1) Topik

“Nah bagaimana kalau kita bercakap – cakap tentang kegiatan


yang dapat dilakukan di rumah?”.

29
2) Tempat

“Kalau tidak salah, kemrin kita sudah sepakat akan bercakap –


cakap di taman benar kan?”

3) Waktu

“Berapa lama kita akan bercakap-cakap ? Apa 15 menit lagi ?”

2. Kerja

“Kemarin ibu telah membuat jadwal kegiatan di rumah sakit, sekarang


kita buat jadwal kegiatan dirumah ya!. Ini kertas dan bolpointnya,
jangan khawatir nanti saya bantu, kalau kesulitan, Bagaimana kalau
kita mulai? ”
“Ibu mulai dari jam 05.00 WIB?.............. ya, tidak apa-apa, bangun
tidur......... terus ya sholat shubuh, terus masak (samapi jam 20.00
WIB), bagus tapi jangan lupa minum obatnya, ya Bu!”

3. Terminasi

a. Evaluasi Subyektif

“Bagaimana perasaan Nn.A setelah dapat membuat jadwal kegiatan di


rumah”

b. Evaluasi Obyektif

“Coba ibu sebutkan lagi susunan kegiatan dalam sehari yang dapat
dilakukan di rumah”

c. Rencana Tindak Lanjut

“Besok kalau sudah dijemput oleh keluarga dalam sehari apa yang
dapat dilakukan di rumah?”

d. Kontrak

1) Topik

“Nah, bagaimana besok kita bercakap – cakap tentang perlunya


dukungan keluarga terhadap kesembuhan Bu Siti”

30
2) Tempat

“Bagaimana kalau kita bercakap – cakap di teras, setuju!, atau


mungkin ibu ingin di tempat lain?”

3) Waktu

“Kita mau bercakap –cakap berapa lama, bagaimana kalau 10


menit?”

31
Standar Pelaksanaan (SP) Implementasi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan : Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
Kronis
Pertemuan ke-4

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi
Pasien telah mampu menyusun kegiatan yang sesuai kemampuan yang
dapat dilakukan dirumah.
2. Diagnosa keperawatan
Risiko Isolasi Sosial : Menarik diri berhubungan dengan harga diri
rendah
3. Tujuan khusus
Pasien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang dimiliki di rumah
B. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperaawatan
1. Orientasi
a. Salam terapeutik
“Selamat pagi, bagaimana kabarn Nn.A hari ini?”
b. Evaluasi/validasi
“Bagaimana perasaan Nn.A hari ini? Apakah baik-baik saja?
Syukurlah... apa Nn.A masih ingat saya? Ingiat jadwal yang akan
kita lakukan hari ini sesuai dengan yang kita buat kemarin?”
c. Kontrak
1. Topik
“Hari ini kita akan berbicara tentang sistem pendukung yang
dapat membantu Nn.A.”
2. Tempat
Sesuai dengan kesepakatan kemarin kita berbicara di kamar
tidur.”Ya”
3. Waktu
“Kita akan berbicara berapa lama? 10 menit, boleh.”

32
2. Kerja
“Apakah Nn.A tahu sistem pendukung ? Baik, saya akan jelaskan.
Sistem pendukung adalah hal-hal yang dapat membantu dirumah
dalam mencapai kesembuhan nantinya”. “apakah Nn.A ingat dirumah
dengan siapa saja ?......., lalu siapa lagi? Lalu, apa Nn.A ingat siap
yang mencari nafkah dan mencari biaya dirumah?. Kegiatan apa saja
yang ada di lingkungan Nn.A, coba sebutkan. Kalau dirumah paling
dekat dengan siapa?.”
3. Terminasi
a. Evaluasi subyektif
“Bagaimana perasaan setelah bicara tentang sistem pendukung
dengan saya? ”
b. Evaluasi obyektif
“Coba sekarang Nn.A sebutkan kembali sistem pendukung yang
ada dirumah, siapa ?”
c. Rencana tindak lanjut
“Besok kalau Nn.A sudah pulang, harus mendengarkan nasihat
keluarga ya, jangan lupa kalau obatnya habis segar berobat dan
jangan putus minum obat.”
d. Kontrak
1. Topik
“Bagaimana besok kita bicara lagi tentang melatih kegiatan
mandiri yang Nn.A lakukan setiap hari.”
2. Tempat
“Besok dimana kita bisa bicara?”
3. Waktu
“Kira-kira berapa lama kita bicara? 10 menit lagi seperti hari
ini. Baik, samapi ketemu besok, ya”

33
Standar Pelaksanaan (SP) Implementasi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan : Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
Kronis
Pertemuan ke-5
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi
Pasien tampak duduk diruang makan, baju dan celana bersih, sedikit
kust, pasien bergabung bersama temannya.
2. Diagnosa keperawatan
Gangguan konsep diri : harga diri rendah kronis
3. Tujuan khusus
Membantu pasien memilih kemampuan yang akan di latih
4. Tindakan keperawatan
a. Mendiskusikan dengan pasien beberapa kegiatan yang dapat
dilakukan dan dipilih sebagai kegiatan yang akan dilakukan pasien
sehari-hari.
b. Bantu pasien menetapkan kegiatan yang memerlukan bantuan dan
keluarga.
B. Strategi Pelaksanaan
1. Orientasi
a. Salam terapeutik
“Selamat pagi, Nn.A. bagaimana keadaannya saat ini? Tidak
kesepian lagi kan?”
b. Evaluasi/validasi
“Bagiamana perasaannya pagi ini?”
c. Kontak
1) Topik
“Apakah ibu masih ingat dengan perjanjian kita kemarin? Kita
sudah sepakat kalau pagi ini kita melakukan/ melatih
kemandirian diri. Masih ingat kan?”

2)Waktu

“Untuk hari ini mau berapa lama ? 10 menit saja, bagaimana ?”

34
3) Tempat
“Sesuai dengan perjanjian kemarin, kita akan melakukan kegiatan
di kamar tidur Nn.A. apakah Nn.A siap?”
2. Kerja
“Apa saja yang harus dilakukan sebelum Nn.A melkukan kemandirian
diri ? mandi secara teratur, makan sendiri, membersihkan tempat tidur,
meletakkan baju kotor ketempatnya, bisa dimengerti?”
3. Terminasi
a. Evakuasi subyektif
“Bagaimana perasaan Nn.A, setelah menegrti kegiatan apa saja
yang di lakukan sendiri? Apa Nn.A bisa mengulang apa saja yang
dilakukan saat bangun tidur ?”
b. Evakuasi obyektif
Pasein telah mengtahui kegiatan harian untuk menjaga kebersihan
diri
c. Rencana tindak lanjut
“Baiklah, karena waktu kita sudah habis, sekarang Nn.A bisa
melanjutkan aktivitas lain, dan semoga cepat menerapkan apa yang
telah jadwalkan kegiatan, dan mulai mencoba untuk bergaul
dengan orang disekitar Nn.A. semoga melakukan kegiatan secara
rutin, ya”
d. Analisa
Pasien tampak sedih, dan mulai menjaga kebersihan diri, tetapi
sedikit sulit untuk melakukan mandi sore, pasien sudah tampak
sedikit demi sedikit bisa bergaul dengan teman-temannya, dan
sudah tidak terlalu menundukkan kepala ke lawan bicaranya.
e. Rencana
Intervensi dipertahankan.

35
DAFTAR PUTAKA

Ahmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : EGC.

Carpenito, L. 2008. Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis


(terjemahan). Jakarta : EGC.

Dalami,W. 2009. Asuhan Keperawatan Pasien dengan Gangguan Jiwa. Tiras Info


Medika: Jakarta.

Fitria, Nita. 2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan LAPORAN


PENDAHULUAN DAN STRATEGI PELAKSANAAN Tindakan
Keperawatan (LP dan SP). Jakarta : Salemba Medika.

FKUI dan WHO. 2006. Modul Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. (MPKP


Jiwa). FKUI&WHO.

Iskandar, M.D. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung : PT. Refika Aditama.

Keliat, C.2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas. Yogyakarta: EGC.

Stuart, Gail W. 2009. Buku Saku KEPERAWATAN JIWA Edisi 5. Jakarta : EGC.

Townsend. (2008). Nursing Diagnosis in Psuchiatric Nursing a Pocket Guide for


Care Plan Construction. jakarta: EGC.

36