Anda di halaman 1dari 115

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN THYPOID

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah


PRAKTIK KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
yang dibina oleh Ns. Ginanjar Sasmito Adi

Oleh :
TRI UCARIN FEBRIANTI
1711011044

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2020
KONSEP DASAR MEDIS

A. DEFINISI
Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi
Salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah
terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman Salmonella
(Smeltzer, 2013).
Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh
Salmonella thypi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang yang
terutama terletak di daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini juga merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang penting karena penyebarannya berkaitan erat dengan
urbanisasi, kepadatan penduduk, kesehatan lingkungan, sumber air dan sanitasi yang
buruk serta standar higiene industri pengolahan makanan yang masih rendah.
B. ETIOLOGI
Penyakit tipes Thypus abdominalis merupakan penyakit yang ditularkan melalui
makanan dan minuman yang tercemar oleh bakteri Salmonella typhosa, (food and water
borne disease). Seseorang yang sering menderita penyakit tifus menandakan bahwa dia
mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri ini. Salmonella
thyposa sebagai suatu spesies, termasuk dalam kingdom Bakteria, Phylum
Proteobakteria, Classis Gamma proteobakteria, Ordo Enterobakteriales, Familia
Enterobakteriakceae, Genus Salmonella. Salmonella thyposa adalah bakteri gram
negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak berspora mempunyai sekurang
kurangnya tiga macam antigen yaitu: antigen 0 (somatik, terdiri dari zat komplek
lipopolisakarida), antigen H (flagella) dan antigen V1 (hyalin, protein membrane).
Dalam serum penderita terdapat zat anti (glutanin) terhadap ketiga macam anigen
tersebut (Zulkhoni, 2011).
C. PATOFISIOLOGI
Salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5
F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan
melalui Feses. Yang paling menojol yaitu lewat mulut manusia yang baru terinfeksi
selanjutnya menuju lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung
dan sebagian lagi lolos masuk ke usus halus bagian distal (usus bisa terjadi iritasi) dan
mengeluarkan endotoksin sehingga menyebabkan darah mengandung bakteri
(bakterimia) primer, selanjutnya melalui aliran darah dan jaringan limpoid plaque
menuju limfa dan hati. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu
masuk ke aliran darah sehingga menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada mukosa
usus. Tukak dapat menyebabkan perdarahan dan perforasi usus. Perdarahan
menimbulkan panas dan suhu tubuh dengan demikian akan meningkat.sehingga
beresiko kekurangan cairan tubuh.Jika kondisi tubuh dijaga tetap baik, akan terbentuk
zat kekebalan atau antibodi. Dalam keadaan seperti ini, kuman typhus akan mati dan
penderita berangsurangsur sembuh (Zulkoni.2011).
Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi masuk kedalam tubuh manusia
melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam
lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus dan berkembang biak. Bila respon
imunitas humoral mukosa IgA usus kurang baik maka kuman akan menembus sel-sel
epitel dan selanjutnya ke lamina propia. Di lamina propia kuman berkembang biak dan
difagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh makrofag. Kuman dapat hidup dan
berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke plaque Peyeri ileum
distal dan kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika. Selanjutnya melalui duktus
torasikus kuman yang terdapat di dalam makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah
(mengakibatkan bakteremia pertama yang asimptomatik) dan menyebar ke seluruh
organ retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa. Di organ-organ ini kuman
meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian berkembang biak di luar sel atau ruang
sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah lagi yang mengakibatkan
bakteremia yang kedua kalinya dengan disertai tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi
sistemik, seperti demam, malaise, mialgia, sakit kepaladan sakit perut (Sudoyo A.W.,
2010).
D. MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibanding
dengan penderita dewasa. Selama inkubasi mungkin di temukan gejala prodomal
perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat. Kemudian
menyusul gejala klinis yang biasa ditemukan, yaitu :
1. Demam
a. Minggu I
Dalam minggu pertama gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada
umumnya, yaitu demam, nyeri kepala, pusing, anoreksia, mual, muntah, diare,
perasaan tidk enak di perut, batuk. Pada pemeriksaan fisiknya hanya di dapatkan
suhu badan meningkat.
b. Minggu II
Dalam minngu kedua gejala menjadi lebih jelas dengan demam, bradikardi
relative, lidah yang khas (kotor di tengah, tepi dan ujung merah dan tremor),
hepatomegali, splenomegaly, meteroismus, gangguan mental berupa salmonella,
stupor, koma, delirium atau psikosis, roseolae jarang ditemukan pada orang
Indonesia.
c. Minggu III
Dalam minggu ke tiga suhu badan berangsur angsur menurun dan normal kembali
pada akhir minggu ketiga.
2. Gangguan pada saluran pencernaan
Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap. Bibir kering dan pecah-pecah
(ragaden). Lidah ditutupi selaput putih kotor, ujung dan tepinya kemerahan, jarang
disertai tremor. Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung. Hati dan
limpa membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya didapatkan konstipasi, akan
tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi diare.
3. Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapadalam, yaitu
apatis sampai somnolen. Jarang terjadi stupor, koma atau gelisah.
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan laboratorium, yang
terdiri dari:
1. Pemeriksaan leukosit
Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat
leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah sering
dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam typhoid, jumlah leukosit pada sediaan
darah tepi berada pada batas-batas normal bahkan kadangkadang terdapat leukosit
walaupun tidak ada komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan
jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid.
2. Pemeriksaan SGOT DAN SGPT
SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat
kembali normal setelah sembuhnya typhoid.
3. Biakan darah
Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila
biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal
ini dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa faktor:
a. Teknik pemeriksaan Laboratorium Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda
dengan laboratorium yang lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan
media biakan yang digunakan. Waktu pengambilan darah yang baik adalah pada
saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia berlangsung.
b. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit Biakan darah terhadap Salmonella
thypii terutama positif pada minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu
berikutnya. Pada waktu kambuh biakan darah dapat positif kembali.
c. Vaksinasi di masa lampau Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau
dapat menimbulkan antibodi dalam darah klien, antibodi ini dapat menekan
bakteremia sehingga biakan darah negatif.
d. Pengobatan dengan obat anti mikroba. Bila klien sebelum pembiakan darah sudah
mendapatkan obat anti mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan
terhambat dan hasil biakan mungkin negatif.
4. Uji Widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi
(aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap Salmonella thypii terdapat dalam serum
klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen
yang digunakan pada uji widal adalah suspensi Salmonella yang sudah dimatikan dan
diolah di laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya
aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh
Salmonella thypii, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :
a. Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh
kuman).
b. Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel
kuman).
c. Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai
kuman) Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan
titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita
typhoid.
d. Uji Widal merupakan suatu metode serologi baku dan rutin digunakan sejak tahun
1896. Prinsip uji Widal adalah memeriksa reaksi antara antibodi agglutinin dalam
serum penderita yang telah mengalami pengenceran berbeda-beda terhadap
antigen somatik (O) dan flagela (H) yang ditambahkan dalam jumlah yang sama
sehingga terjadi aglutinasi. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan
aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam serum. Semakin tinggi titernya,
semakin besar kemungkinan infeksi ini. Uji Widal ini dilakukan untuk deteksi
antibodi terhadap kuman Salmonella typhi. Pada uji ini terjadi suatu reaksi
aglutinasi antara antigen kuman Salmonella typhi dengan antibodi yang disebut
aglutinin. Antigen yang digunakan pada uji Widal adalah suspensi Salmonella
yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Maksud uji Widal adalah
menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita tersangka demam tifoid
(Sudoyo A.W., 2010).
5. Pemeriksaan urin Didapatkan protein urin ringan
F. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pada demam tifoid adalah sebagai berikut:
1. Perawatan Pasien dengan demam tifoid perlu dirawat di rumah sakit untuk isolasi,
observasi dan pengobatan. Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari
bebas demam atau kurang lebih 14 hari. Mobilisasi pasien harus dilakukan secara
bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien. Pasien dengan kesadaran yang
menurun, posisi tubuhnya harus diubah-ubah pada waktu tertentu untuk menghindari
komplikasi pneumonia hipostatik dan dekubitus. Defekasi dan buang air kecil perlu
di perhatikan karena kadang-kadang terjadi obstipasi dan retensi air kemih.
2. Diet Makanan yang dikonsumsi adalah makanan lunak dan tidak banyak serat.
3. Obat Obat-obat antimikroba yang sering dipergunakan ialah:
a. Kloramfenikol kloramfenikol atau kloramisetin adalah antibiotik yang mempunyai
spektrum luas, berasal dai jamur Streptomyces venezuelae. Dapat digunakan
untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh beberapa bakteri gram posistif dan
bakteri gram negatif. Kloramfenikol dapat diberikan 21 secara oral. Rektal atau
dalam bentuk salep. Efek samping penggunaan antibiotik kloramfenikol yang
terlalu lama dan dengan dosis yang berlebihan adalah anemia aplastik. Dosis pada
anak : 25 – 50 mg/kg BB/hari per oral atau 75 mg/kg BB/hari secara intravena
dalam empat dosis yang sama.
b. Thiamfenikol Menurut Tan Hoan Tjay dan Kirana Raharja (2007, hal: 86),
Thiamfenikol (Urfamycin) adalah derivat p-metilsulfonil (SO2CH3) dengan
spektrum kerja dan sifat yang mirip kloramfenikol, tetapi kegiatannya agak lebih
ringan. Dosis pada anak: 20-30 mg/kg BB/hari.
c. Ko-trimoksazol Adalah suatu kombinasi dari trimetoprim-sulfametoksasol (10 mg
TMP dan 50 mg SMX/kg/24 jam). Trimetoprim memiliki daya kerja antibakteriil
yang merupakan sulfonamida dengan menghambat enzim dihidrofolat reduktase.
Efek samping yang ditimbulkan adalah kerusakan parah pada sel – sel darah
antara lain agranulositosis dan anemia hemolitis, terutama pada penderita
defisiensi glukosa-6- fosfodehidrogenase. efek samping lainnya adalah reaksi
alergi antara lain urticaria, fotosensitasi dan sindrom Stevens Johnson, sejenis
eritema multiform dengan risiko kematian tinggi terutama pada anakanak.
Kotrimoksazol tidak boleh diberikan pada bayi di bawah usia 6 bulan. Dosis pada
anak yaitu trimetoprim-sulfametoksasol (10 mg TMP dan 50 mg SMX/kg/24 jam,
secara oral dalam dua dosis). Pengobatan dengan dosis tepat harus dilanjutkan
minimal 5-7 hari untuk menghindarkan gagalnya terapi dan cepatnya timbul
resistensi, (Tan Hoan Tjay & Kirana Rahardja, 2007, hal:140).
d. Ampisilin dan Amoksilin Ampisilin: Penbritin, Ultrapen, Binotal. Ampisilin
efektif terhadap E.coli, H.Inflienzae, Salmonella, dan beberapa suku Proteus. Efek
samping, dibandingkan dengan perivat penisilin lain, ampisilin lebih sering
menimbulkan gangguan lambung usus yang mungkin ada kaitannya dengan
penyerapannya yang kurang baik. Begitu pula reaksi alergi kulit (rash,ruam) dapat
terjadi. Dosis ampisilin pada anak (200mg/kg/24 jam, secara intravena dalam
empat sampai enam dosis). Dosis amoksilin pada anak (100 mg/kg/24 jam, secara
oral dalam tiga dosis), (Behrman Klirgman Arvin, 2000, hal:942). (1) Obat – obat
simptomatik
e. Antipiretika (tidak perlu diberikan secara rutin,Kortikosteroid (dengan
pengurangan dosis selama 5 hari) ,Vitamin B komplek dan C sangat di perlukan
untuk menjaga kesegaran dan kekutan badan serta berperan dalam kestabilan
pembuluh darah kapiler. Secara fisik penatalaksanaannya antara lain: Mengawasi
kondisi klien dengan : pengukuran suhu secara berkala setiap 4-6 jam. Perhatikan
apakah anak tidur gelisah, sering terkejut, atau mengigau. Perhatikan pula apakah
mata anak cenderung melirik keatas, atau apakah anak mengalami kejangDemam
yang disertai kejang yang terlalu lama akan berbahaya bagi perkembangan otak,
karena oksigen tidak mampu mencapai otak. Terputusnya sulai oksigen ke otak
akan berakibat rusaknya sel otak. Dalam kedaan demikian, cacat seumur hidup
dapat terjadi berupa rusaknya intelektual tertentu.
1) Buka pakaian dan selimut yang berlebihan.
2) Memperhatikan aliran udara di dalam ruangan.
3) Jalan nafas harus terbuka untuk mencegah terputusnya suplai oksigen ke otak
yang akan berakibat rusaknya sel-sel otak.
4) Berikan cairan melalui mulut, minum sebanyak- Minuman yang diberikan
dapat berupa air putih, susu (anak diare menyesuaikan), air buah atau air teh.
Tujuannya agar cairan tubuh yang menguap akibat naiknya suhu tubuh
memperoleh gantinya.
5) Tidur yang cukup agar metabolisme berkurang.
6) Kompres dengan air hangat pada dahi, ketiak, dan lipatan Tujuannya untuk
menurunkan suhu tubuh di permukaan tubuh anak.
KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas klien
Demam typhoid umumnya terjadi pada kelompok umur 5 – 30 tahun.
Lakilaki sama dengan wanita, jarang terjadi pada umur di bawah 2 tahun atau diatas
60 tahun (Mutaqin & sari, 2011).
2. Keluhan utama
Keluhan utama demam tifoid adalah panas atau demam yang tidak
turunturun, nyeri perut, pusing kepala, mual, muntah, anoreksia, diare serta
penurunan kesadaran.
3. Riwayat penyakit sekarang
Peningkatan suhu tubuh karena masuknya kuman salmonella typhi ke dalam
tubuh.
4. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat penyakit demam tifoid.
5. Riwayat penyakit keluarga
Adanya keluarga pernah menderita demam tifoid, dan penyakit turun
menurun.
6. Pola-pola fungsi kesehatan
a. Pola nutrisi dan metabolisme Klien akan mengalami penurunan nafsu makan
karena mual dan muntah saat makan sehingga makan hanya sedikit bahkan tidak
makan sama sekali.
b. Pola eliminasi Klien dapat mengalami konstipasi oleh karena tirah baring lama.
Sedangkan eliminasi urine tidak mengalami gangguan, hanya warna urine menjadi
kuning kecoklatan. Klien dengan demam thypoid terjadi peningkatan suhu tubuh
yang berakibat keringat banyak keluar dan merasa haus, sehingga dapat
meningkatkan kebutuhan cairan tubuh.
c. Pola aktivitas dan latihan Aktivitas klien akan terganggu karena harus tirah baring
total, agar tidak terjadi komplikasi maka segala kebutuhan klien dibantu.
d. Pola tidur dan istirahat Pola tidur dan istirahat terganggu sehubungan peningkatan
suhu tubuh.
e. Pola persepsi dan konsep diri Biasanya terjadi kecemasan pada orang tua terhadap
keadaan penyakit anaknya.
f. Pola sensori dan kognitif Pada penciuman, perabaan, perasaan, pendengaran dan
penglihatan umumnya tidak mengalami kelainan serta tidak terdapat suatu waham
pada klien.
g. Pola hubungan dan peran Hubungan dengan orang lain terganggu sehubungan
klien di rawat di rumah sakit dan klien harus bed rest total.
h. Pola penanggulangan stress Biasanya orang tua akan nampak cemas.
7. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum dan tingkat kesadaran. Pada fase awal penyakit biasanya tidak
didapatkan adanya perubahan pada tingkat kesadaran. Pada fase lanjut secara
umum pasien terlihat sakit berat dan sering terjadi penurunan tingkat kesadaran
(apatis delirium).
b. Tanda-tanda vital Suhu : Pada fase 7-14 hari didapatkan suhu tubuh menin
-
pemeriksaan nadi ditemukan penurunan frekuensi nadi (bradikardi relatif).
Pernafasan : Meningkat Tekanan darah : Cenderung menurun
c. B1 (Breathing) Sistem pernafasan biasanya tidak ditemukan adanya kelainan,
tetapi akan mengalami perubahan jika terjadi respon akut dan gejala batuk kering.
Pada beberapa kasus berat bisa didapat adanya komplikasitanda dan gejala
pneumonia.
d. B2 (Blood) Penurunan tekanan darah, keringat dingin, dan diaphoresis sering
didapatkan pada minggu pertama. Kulit pucat dan akral dingin berhubungan
dengan penurunan kadar hemoglobin. Pada minggu ketiga respon toksi sistemik
dapat mencapai otot jantung dan terjadi miokarditis dengan manifestasi penurunan
curah jantung dengan tanda denyut nadi lemah, nyeri dada, dan kelemahan fisik.
e. B3 (Brain) Pada pasien dengan dehidrasi berat akan terjadi penurunan perfusi
serebral dengan manifestasi sakit kepala, perasaan lesu, gangguan mental seperti
halusinasi dan delirium. Pada beberapa pasien bisa di dapatkan kejang umum yang
merupakan respon terlibatnya system saraf pusat oleh infeksi S. Typhi.
Didapatkan icterus pada sklera terjadi pada kondisi berat.
f. B4 (Blader) Pada kondisi berat akan didapatkan penurunan urin output respon dari
penurunan curah jantung.
g. B5 (Bowel)
1) Inspeksi : Lidah kotor berselaput putih dan tepi hiperemis disertai mistomatitis.
Tanda ini jelas mulai Nampak pada minggu kedua berhubungan dengan infeksi
sistemik dan endotoksin kuman. Sering muntah,Perut kembung, Distensi
abdomen
2) Auskultasi : Didapatkan penurunan bising usus kurang dari 5 kali per menit
pada minggu pertama dan terjadi kontipasi, serta selanjutnya meningkat akibat
diare.
3) Perkusi : Didapatkan suara timpani abdomen akibat kembung.
4) Palpasi :Hepatomegaly dan splenomegaly. Pembesaran hati dan linfa
mengindikasikan infeksi yang mulai terjadi pada minggu kedua. Nyeri tekan
abdomen merupaan tanda terjadinya perforasi dan peritonitis.
h. B6 (Bone) Respon sistemik akan menyebabkan maise. Kelemahan fisik umum
dan didapatkan kram otot ekstermitas. Pemeriksaan integument sering didapatkan
kulit menurun, muka tampak pucat, rambut agak kusam, dan terpenting sering
didapatkan tanda roseola (bitnik merah pada leher, punggung dan paha). Roseola
merupakan suatu nodul kecil sedikit menonjol dengan diameter 2-4 mm berwarna
merah, pucat, serta hilang pada penekanan, lebih sering terjadi pada akhir minggu
pertama dan awal minggu kedua. Roseola ini merupakan emboli kuman dimana
didalamnya 31 mengandung kuman salmonella dan terutama didapatkan di perut,
dada, dan terkadang bokong maupun bagian fleksor dari lengan atas (Muttaqin
dan sari, 2011).
8. Pemeriksaan Penunjang
a. Darah Pada penderita demam tifoid bisa didapatkan anemia, jumlah leukosit
normal, bisa menurun atau meningkat.Penelitian oleh beberapa ilmuwan
mendapatkan bahwa hitung jumlah dan jenis leukosit serta laju endap darah tidak
mempunyai nilai sensitivitas, spesifisitas dan nilai ramal yang cukup tinggi untuk
dipakai dalam membedakan antara penderita demam tifoid atau bukan, akan tetapi
adanya leukopenia dan limfositosis relatif menjadi dugaan kuat diagnosis typoid
b. SGOT, SGPT SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi akan kembali normal
setelah sembuh. Peningkatan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan penanganan
khusus 3) Uji Widal Titer 1/160 : masih dilihat dulu dalam 1 minggu ke depan,
apakah ada kenaikan titernya. Jika ada maka dinyatakan (+).Jika 1x pemeriksaan
langsung 1/320 atau 1/640,langsung dinyatakan (+) pada pasien dengan gejala
khas
B. DIAGNOSIS
1. Hipertermi b.d Bakteri salmonela thypos d.d Pasien mengatakan demamnya tinggi
pada waktu siang dan malam hari
2. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Inflamsi Anoreksia d.d
Pasien mengatakan mual, muntah, nafsu makan menurun sudah 3 hari

C. INTERVENSI
1. Hipertermi b.d Bakteri salmonela thypos d.d Pasien mengatakan demamnya tinggi
pada waktu siang dan malam hari
a. Monitor suhu sesering mungkin, R/: Agar tidak terjadi dehidrasi dan proses
penguapan
b. Monitor warna dan suhu kulit, R/: Mencegah terjadinya dehidrasi.
c. Monitor tekanan darah, nadi dan RR, R/: Mengetahui keadaan umum pasien.
d. Monitor WBC, Hb, dan Hct R/: Mencegah terjadinya komplikasi.
e. Monitor intake dan output R/: Mencegah terjadinya dehidrasi.
f. Berikan anti piretik, R/ Mencegah hipertermi.
g. Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab demam R/: Mencegah terjadinya
demam tinggi dan syok.
h. Selimuti pasien. R/: dapat memberikan pasien tetap keadaan hangat.
i. Berikan cairan intravena R/: Mencegah dehidrasi.
j. Kompres pasien pada lipat paha dan aksila R/: meralihkan panas secara konduksi
dan membantu tubuh menyesuaikan terhadap panas dan memberikan rasa
nyaman.
k. Tingkatkan sirkulasi udara, R/: Membantu penurunan suhu tubuh dan memberikan
rasanyaman.
l. Monitor suhu minimal tiap 2 jam, R/: Agar tidak terjadi dehidrasi dan proses
penguapan.
m. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi, R/ Agar memulihkan keadaan pasien.
2. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Inflamsi Anoreksia d.d
Pasien mengatakan mual, muntah, nafsu makan menurun sudah 3 hari
a. Kaji adanya alergi makanan R/: Mengetahui jenis makanan yang cocok untuk
pasien.
b. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien. R/: Memberikan diit yang tepat.
c. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C, R/: Mencegah
kurangnya vitamin dan menjaga
d. Berikan substansi gula R/: Mencegah terjadinya kondisi lemah pasien.
e. Yakinkan diet yang dimakan mengandung rendah serat untuk mencegah
konstipasi. R/: Menghindari pasien agar tidak mual, dan memulihkan usus yang
terinfeksi.
f. Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi) R/:
Menjaga selera makan pasien dan terjamin akan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien.
g. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi R/: Agar pasien mengetahui makanan
apa saja yang harus dikonsumsi ketika sakit, dan tidak memakan makanan yang
sembarangan. 8) Dokumentasikan hasil tindakan dalam catatan rekam medik
h. BB pasien dalam batas normal R/: Mencegah terjadinya penurunan berat badan.
i. Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan menganjurkan pasien
untuk istirahat total ketika dilakukan asuhan keperawatan. R/: Menstabilkan
keadaan pasien
j. Monitor turgor kulit R/: Mencegah terjadinya kurangnya nutrisi.
k. Monitor mual dan muntah. R/: Mengetahui keadaan pasien yang terkontaminasi
virus.
l. Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva R/: Mencegah
terjadinya dehidrasi dan kurangnya nutrisi.
m. Catat jika lidah berwarna magenta, R/: Mengetahui keadaan pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Herdman, T. Heather. 2017. NANDA International Nursing Diagnosis:


Definitions and Clasification 2018-2020. Jakarta; EGC.
Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth, edisi 8. Jakarta : EGC.
Zulkoni Akhsin. 2011. Parasitologi. Yogyakarta : Nuha Medika.
ANALISIS JURNAL

A. JUDUL DAN PENULIS


Judul : Efektifitas Kompres Hangat Dalam Menurunkan Demam Pada Pasien Thypoid
Abdominalis Di Ruang G1 Lt.2 RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota
Gorontalo,
Penulis : Fatmawati Mohamad.

B. ABSTRAK
merupakan gejala dari suatu penyakit. Menurunkan atau tepatnya mengendalikan dan
mengontrol demam pada anak dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah
dengan cara kompres hangat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efektifitas
kompres hangat dalam menurunkan demam pada pasien thypoid abdominalis di Ruang
G1(anak) Lt.2 RSUD. Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo. Metode penelitian yang
digunakan adalah quasi eksperimen. Jumlah responden sebanyak 19 orang, yang diobservasi
sebelum dan setelah dilakukan tindakan kompres hangat. Penelitian ini menggunakan metode
purposive sampling, dengan menggunakan kriteria inklusi. Analisis data pada penelitian ini
menggunakan uji statistik “Sign test.” Hasil penelitian: ∑ b (x ; n , p) < 0,05 = ∑ b (5 ; 19 ,
½) < 0,05 = 0,0318 < 0,05. Kesimpulan; H0 ditolak, yang artinya tindakan kompres hangat
efektif dalam menurunkan demam pada pasien thypoid abdominalis di ruang G1(anak) Lt.2
RSUD. Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo.

C. TELAAH JURNAL MENGGUNAKAN VIA


1. VALIDITY
Metode penelitian ini menggunakan metode “Quasi Eksperimen” dimana
peneliti ingin melihat sejauh mana efektifitas kompres hangat dalam menurunkan
demam pada pasien thypoid abdominalis. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 19
orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling
dengan mempertimbangkan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Kriteria inklusi yaitu:
Pasien thypoid abdominalis yang mengalami demam (suhu >37,50 C), Pasien demam
tifoid yang belum diberi terapi antipiretik, Pasien demam tifoid yang mau dilakukan
tindakan kompres hangat, Keluarga dan pasien yang kooperatif dan Kriteria eksklusi
yaitu Pasien thypoid abdominalis yang tidak mengalami demam (suhu 36-37,50 C),
Pasien demam tifoid yang sudah diberi terapi antipiretik, Pasien demam tifoid yang
tidak mau dilakukan tindakan kompres hangat. Analisis data menggunakan analisis
univariat dilakukan untuk mendeskripsikan karakteristik sampel yang diukur dalam
penelitian yaitu dengan cara menghitung nilai mean, minimum-maksimum, dan standar
deviasi dan analisis bivariat dengan menggunakan uji tanda (sign test) dengan tingkat
kemaknaan α : 0,05 (Wilayah Kritik: ∑ b (x ; n , p) < 0,05).
2. IMPORTANT
Berdasarkan tabel di atas, hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai rata-rata
suhu tubuh responden sebelum perlakuan sebesar 38,4 ± 0,70 C. Sedangkan suhu tubuh
responden setelah perlakuan sebesar 37,7 ± 1,00 C. Jika dilihat dari standar deviasi
ternyata ditemukan variasi nilai yang lebih besar pada anak yang sesudah dikompres
dibandingkan dengan suhu anak sebelum dikompres. Hal ini menunjukkan bahwa
penurunan suhu antara satu anak dengan yang lain memiliki variasi nilai penurunan
yang cukup berbeda. Analisa bivariat menggunakan uji statistik: uji tanda (sign test)
dengan menggunakan taraf nyata sebesar 0,05 (5%), dengan hasil/ kesimpulan yang ada
diakui kebenarannya sebesar 95%, dengan wilayah kritik: ∑ b (x ; n , p) < 0,05.
3. APPLIER
Berdasarkan hasil penelitian tentang kompres hangat yang dilakukan pada 19
responden yang mengalami demam tifoid, terdapat 14 responden yang hasilnya
menunjukkan penurunan suhu tubuh dan 5 responden lainnya tidak menunjukkan
penurunan suhu tubuh. Hal ini dikarenakan, 5 responden tersebut merupakan pasien
dengan diagnosa demam thypoid H-0 yang masa infeksinya masih tinggi, dimana
demam yang dialami oleh pasien tersebut juga sulit untuk menunjukkan penurunan
suhu tubuh. Oleh karena itu, untuk pasien dengan demam thypoid H-0 yang masa
infeksinya maupun demamnya masih tinggi perlu diberikan terapi antibiotik secara
intensif dan terapi antipiretik jika perlu (demam > 38,50 C). Hal ini sesuai dengan teori
Aden (2010) yang mengatakan antibiotik merupakan terapi yang efektif untuk demam
tifoid. Tetapi, pemberian antibiotik tidak secara otomatis menurunkan demam, karena
di dalam tubuh masih terjadi proses kerja dari antibiotik dalam mematikan bakteri
penyebab infeksi. Dalam melakukan penelitian, responden yang dijadikan sampel telah
memenuhi kriteria inklusi peneliti yaitu pasien yang belum mengkonsumsi antipiretik
pada saat akan dilakukan penelitian, sehingga dapat menunjukkan hasil yang akurat
dari tindakan kompres hangat dan bukan efek dari hasil pemberian antipiretik.
Pemberian tindakan kompres hangat merupakan bagian dari tindakan mandiri perawat
yang termasuk aman dan tidak memiliki efek samping dalam penatalaksanaannya.
Sehingga perawat dapat menerapkan tindakan mandirinya sebelum dilakukan tindakan
kolaborasi dengan tim medis.
Hasil penelitian tentang kompres hangat yang dilakukan pada 19 responden
yang mengalami demam tifoid, didapatkan 14 responden yang mengalami penurunan
suhu tubuh. Hal ini sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa kompres hangat
dapat menurunkan suhu tubuh pasien. Hasil ini didukung oleh penelitian Nurwahyuni
(2009) yang menjelaskan bahwa terdapat mekanisme tubuh terhadap kompres hangat
dalam upaya menurunkan suhu tubuh yaitu dengan pemberian kompres hangat pada
daerah tubuh akan memberikan sinyal ke hipotalamus melalui sumsum tulang belakang.
Ketika reseptor yang peka terhadap panas di hipotalamus dirangsang, sistem efektor
mengeluarkan sinyal yang memulai berkeringat dan vasodilatasi perifer. Perubahan
ukuran pembuluh darah diatur oleh pusat vasomotor pada medulla oblongata dari
tangkai otak, dibawah pengaruh hipotalamik bagian anterior sehingga terjadi
vasodilatasi. Terjadinya vasodilatasi ini menyebabkan pembuangan/ kehilangan energi/
panas melalui kulit meningkat (berkeringat), diharapkan akan terjadi penurunan suhu
tubuh sehingga mencapai keadaan normal kembali. Hal ini sependapat dengan teori
yang dikemukakan oleh Aden (2010) bahwa tubuh memiliki pusat pengaturan suhu
(thermoregulator) di hipotalamus. Jika suhu tubuh meningkat, maka pusat pengaturan
suhu berusaha menurunkannya begitu juga sebaliknya.
FORM KEP MEDIKAL BEDAH

DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


PROGRAM STUDI NERS KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH JEMBER

FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Tgl / jam MRS : 21 Juli 2019 Ruang : Tulip


Tgl. Pengkajian : 22 Juli 2019 No. Register : 09XXX
Diagnosa Medis : Demam Thypoid

A. IDENTITAS KLIEN
Nama : Tn. I Suami / Istri / Orang tua :
Umur : 25 Tahun Nama : Ny. A
Jenis Kelamin : Laki- Laki Pekerjaan : Swasta
Agama : Islam Alamat : Pulosari 3/14
Suku / Bangsa : Jawa / Indonesia
Bahasa : Indonesia Penanggung jawab :
Pendidikan : SMA Nama : Ny. A
Pekerjaan : Swasta Alamat : Pulosari 3/14
Status : Menikah
Alamat : Pulosari 3/14

B. KELUHAN UTAMA
Pasien mengatakan Demam, mual,muntah, lemas selama 3 hari yang lalu
C. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Sebelum masuk rumah sakit, pasien mengalami panas, mual, muntah selama 3 hari yang la
Sebelum masuk Rumah Sakit pasien mengalami demam tinggi pada waktu siang dan mal
hari, disertai mual, muntah, keluhan bertambah berat bila beraktivitas, dan kurang b
dikompres, istirahat dan minum obat. Pasien meminum obat penurun panas paracetamol d
panasnya turun dan timbul panas lagi. Setelah pasien merasa sakitnya tidak kunjung semb
makin panas dan lemas. Pasien memeriksakan diri ke IGD Rumah Sakit Tingkat III Brawija
Surabaya pada tanggal 21 juli 2019 pukul 22.15
Upaya yang telah dilakukan : Laboratorium, Uji Widal.
Terapi yang telah diberikan : -
D. RIWAYAT KESEHATAN DAHULU
Penyakit berat yang penah diderita : Pasien tidak pernah menderita penyakit berat sebelumnya
E. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
Pasien megatakan, dirinya dan keluarga tidak ada yang menderita penyakit yang menurun da
keluarga tidak mempunyai riwayat penyakit seperti yang dideritanya sekarang Demam typo
dan tidak pernah dirawat sebelumnya di rumah sakit.pasien dan keluarga juga tidak mempuny
riwayat penyakit yang menular seperti HIV, Diabet Militus, Jantung dan hiperten
FORM KEP MEDIKAL BEDAH
Genogram :

F. Keadaan Lingkungan Yang Mempengaruhi Timbulnya Penyakit


Keadaan lingkungan bersih, Pasien sering membeli makanan di warung – warung dan y
sering di warung dekat rumah, yang di jual di tempat terbuka yang kemungkinan be
gampangnya makanan terkontaminasi bakteri-bakteri terutama bakteri salmonella typhi.
G. POLA FUNGSI KESEHATAN
1. Pola persepsi dan tata laksana kesehatan
Pasien mengatakan sudah mengetahui tentang penyakit yang dialami pasien dan Pas
mengatakan saat ini menerima dengan ikhlas dan tabah pasien hanya ingin sembuh d
penyakit yang diderita.
2. Pola nutrisi dan metabolisme
TB : 160 cm BB sebelum sakit : 62kg BB sesudah sakit : .61 kg Diet khusus: IMT berat bad
dibagi tinggi badan dikali tinggi badan {61 : 160 x 160 = 61(BB ideal) }Diet khusus TK
Frekuensi 3x/hari, Rendah serat, Lunak, tinggi protein, sedikit tetapi Sering. Jenis maka
Nasi lembek, lauk pauk, porsi makan tidak habis, Nafsu makan berkurang, adanya mu
Tidak ada alergi baik pada makanan, obat-obatan, ataupun terhadap suhu, minum air pu
Jumlah 1200 cc/24 jam, Jenis minuman Cair.
3. Pola eliminasi
BAK: ±800 ml Frekuensi : 6-8 x/hari Warna : Kuning Jernih Bau : Khas urin Masa
perkemihan: Tidak ada masalah perkemihan Masalah keperawatan: Tidak ada masa
keperawatan
BAB : 1) Sebelum sakit/saat di rumah : Frekuensi ± 1 x/hari. Warna kuning. Bau khas fas
Konsistensi lunak. 2) Saat di rumah sakit : Frekuensi ± 1 x/hari. Warna kuning. Bau k
FORM KEP MEDIKAL BEDAH
4. Pola aktifitas
Saat di rumah pasien selalu mandi setiap hari secara mandiri, dan saat di Rumah sakit pas
hanya di seka oleh keluarga  2x sehari.5.
5. Pola istirahat – tidur
Sebelum sakit : segar saat bangun tidur, jam tidur malam 7-8 jam, jam tidur siang 1-2 jam.
Saat sakit : Pasien mengatakan masih mengatuk saat bangun tidur, Jam tidur malam 4 ja
Jam tidur siang 30 menit, Terdapat kantung mata atau mata panda.
6. Pola kognitif dan persepsi sensori
Komunikasi baik dan lancer.
7. Pola konsep diri
Tn. I merasa bersyukur memiliki keadaan tubuh yang normal meskipun kini dia sedang sa
dia pasrah kepada Allah SWT, ini merupakan cobaan bagi dirinya, Tn.M mam
menyebutkan tentang identitas dirinya, Tn.I. berharap ingin cepat sembuh dari penyakitn
harga diri Tn.I baik, Tn.I di rumah sakit berperan sebagai pasien, dan di rumah sebagai sua
dan ayah bagi anaknya.
8. Pola hubungan – peran
Antara pasien dan perawat sangat kooperatif. Komunikasi lancar, antara pasien dan petu
kesehatan saling percaya. Bahasa yang digunakan yakni bahasa sehari-hari bahasa Jawa
bahasa Indonesia. Berbicara Normal dan Jelas. Hubungan dengan keluarga Baik, Tn.I d
keluarga saling menolong dan mendukung satu sama lain untuk kesembuhan Tn.I. Hubun
dengan teman/petugas kesehatan ataupun antara pasien dan petugas kesehatan san
kooperatif dan saling percaya.
9. Pola fungsi seksual – seksualitas
Tidak Terkaji
10. Pola mekanisme koping
Tn.I mengatakan apabila ada masalah dalam keluarga selalu dibicarakan baik baik deng
anggota keluarga lainnya.
11. Pola nilai dan kepercayaan
Menjalankan ibadah : Pasien beragama Islam dan biasanya pasien tiap harinya melakuak
ibadah 5 waktu dan biasanya mengikuti pengajian rutinan setiap minggu. Pasien te
melakukan ibadah selama sakit meskipun dalam keadaan terbaring ditempat tidur ataup
duduk diatas tempat tidur (2). Persepsi tentang kematian : Kematian pasti semua manusia a
mengalaminya, tetapi kita sebagai manusia ingin tetap selalu sehat dan dijauhkan dari seg
penyakit. Karena kesehatan sangat penting, kebetulan pasien mengalami sakit. Pasien san
sedih, banyak pekerjaan terbengkal. Mungkin saya sangat ceroboh dengan kesehatan, tet
ketika sakit seperti ini terasa sekali nikmatnya sehat. Akhirnya sekarang Cuma bisa di tem
tidur, berharap semoga penyakitnya tidak semakin menjadi dan diberikan kesembu
Panjang umur.
FORM KEP MEDIKAL BEDAH
H. STATUS MENTAL ( PSIKOLOGIS)
Tn.M tampak tenang terhadap penyakit yang dideritanya, pasien tampak menerima dan
ikhlas.
I. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status kesehatan umum
Keadaan / penampilan umum : Lemah
Kesadaran : Compos Mentis GCS :456
BB sebelum sakit : 62 Kg T B : 160 CM
BB saat ini : 61 Kg BB ideal: -
Tanda– tanda Vital :
TD : 90/60 mmHg Suhu : 38,6 C
N : 82 x/mnt RR : 20 x/mnt
2. Kepala
kepala dan wajah bersih, bentuk simetris, tidak ada benjolan, Pengecapan baik, da
merasakan manis, asin, 57 pahit, asam. Perabaan baik bisa merasakan rabaan panas, din
dan tekanan. Reflek PatelaNormal, Kejang Tidak ada, Nyeri Kepala tidak ada.
3. Leher
Lidah tampak putih kotor area lidah bagian atas, tenggorokan tidak ada kelainan.
4. Thorax (dada)

Pemeriksaan Paru Pemeriksaan Jantung


tidak ada massa dan sputum pergerakan paru Irama jantung : S1/ S2 Tunggal (lup-d
kanan dan kiri normal dengan frekuensi 20 tidak ad amur mur. CRT: < 3 detik. Ny
kali/ menit, Tidak ada nyeri tekan Suara nafas dada : Tidak ada. Kram kaki : Tidak a
tambahan : Wheezing : lokasi : Tidak ada Clubbing finger: Tidak ada. Suara jantun
Ronchi : lokasi : Tidak ada Bentuk dada : Normal Ada kelainan (sebutkan) : Tidak a
Simetris Lainnya (sebutkan) : Tidak ada Masalah keperawatan : Tidak ada masa
pembesaran tyroid keperawatan Edema : Tidak ada Edema d
5. Abdomen tidak ada nyeri tekan.
Bentuk normal, tidak ada nyeri tekan, terdapat kembung
6. Tulang belakang …………………………...........
Tidak ada kelainan …………………………...........
…………………………...........
7. Ekstrimitas …………………………...........
Kemampuan pergerakan sendi : Bebas, tidak dapat …………………………...........
…………………………...........
kelumpuhan. Pergerakan sendi lengan dan tungkai (ROM)
: 5 5 Parese : Tidak ada. 5 5 Paralise : Tidak ada ……………………….
……………………….
Hemiparese : Tidak ada. Lainya (sebutkan) : Kulit Bersih, ……………………….
sawo matang, tidak ada nyeri tekan, tidak ada lesi. Akral ……………………….
Hangat. Turgor Cukup. Masalah keperawatan : Tidak ada
masalah keperawatan. Extremitas: Atas : kiri tidak ada
kelainan (terpasang Infus RL di tangan sebelah kiri)
FORM KEP MEDIKAL BEDAH
kekuatan otot 5, Ekstremitas atas kanan tidak ada kelainan,
Kekuatan otot 5. Lokasi : Ekstermitas atas tangan kiri
terpsang infus. Bawah : ekstremitas bawah kanan tidak
ada kelainan, Kekuatan otot 5, ekstremitas bawah kiri
tidak ada kelainan, kekuatan otot 5. Lokasi : Tidak ada.
8. Integumen
Kulit lembab berwarna sawo matang, tidak terdapat lesi. pertumbuhan rambut merata. Tur
kulit baik.
9. Genetalia dan anus
Laki-laki : Kelamin : Jenis kelamin pasien laki-laki, Bentuk : Normal Kebersihan :Ber
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawtan
10. Pemeriksaan neurologis
Kesadaran composmentis GCS 4 5 6
J. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

PEMERIKSAAN HASIL NILAI NORMAL

HEMATOLOGI
P : 11.7 - 15.5 g/dl
Darah Legkap 14,6 L : 13.2 - 15.5 g/dl
L : 3.8 - 10.6 ribu/mm3
Hemoglobin 4.45 P : 3.6 -11 ribu/mm3
Leukosit L : < 10. mm/jam
6 P : < 16. mm/jam
LED

Hitung jenis /Diff

Count

Eosinopil 0.7 L/P : 2 - 4 %

Basophil 0.2 L/P : 0 - 1 %


0.0 L/P : 2 - 6 %
Stab

Segmen 57.8 L/P : 50 - 70 %

Limposit 24.0 L/P : 25 - 40 %

Monosit 17.3 L/P :2 - 8 %

Trombosit 125 L/P : 150 - 440


ribu/mm3
PCV/Hematrokrit 42,8 L : < 40 - 52 %
P : < 35 - 47 %
FORM KEP MEDIKAL BEDAH
PEMERIKSAAN HASIL NILAI NORMAL

IMMUNOLOGI /

SEROLOGI

Widal

Salmonella Typhi O NEGATIF L/P NEGATIF

Salmonella Typhi H POSITIF 1/80 L/P NEGATIF

SalmonellaParatyphi OA NEGATIF L/P NEGATIF

SalmonellaParatyphi OB NEGATIF L/P NEGATIF

K. TERAPI
1) Infus Ringer Laktat (RL) 500ml, 28 tetes/menit : Ringer laktat adalah larutan steril ya
digunakan sebagai penambah cairan dan elektrolit tubuh untuk mengembali
keseimbangannya
2) Paracetamol 3x1 : Paracetamol adalah salah satu obat yang masuk ke dalam golongan analge
(pereda nyeri) dan antipiretik (penurun demam)
3) Antrain 2 ml 3x1 ampl/iv : Antrain injeksi adalah obat untuk meredakan nyeri parah se
demam seperti nyeri pasca operasi atau nyeri kolik yang memiliki bahan a
natriummetamizole
4) Ranitidine 50mg/2ml 2x1 ampl/iv : juga digunakan untuk mengobati dan mencegah berba
penyakit perut dan kerongkongan yang disebabkan oleh terlalu banyak asam lambung, misaln
erosive esophagitis dan refluks asam lambung (gastroesophageal reflux disease, GERD).
5) Omeprazole 40mg 2x1 ampl/iv : Omeprazole adalah obat untuk mengatasi masalah perut d
kerongkongan yang diakibatkan oleh asam lambung

……………., …………………
Mahasiswa,

NIM : …………………….
ANALISA DATA

NO DATA ETIOLOGI MASALAH


1. DS : Bakteri salmonela Hipertermi
- Pasien mengatakan demam thyposa
sudah 3 hari.
- Pasien mengatakan demamnya
tinggi pada waktu siang dan Masuk lewat
malam hari. makanan
DO :
- Pasien terlihat lemah.
- TD : 90/60 mmHg. Menginfeksi
- S : 38.6 C. saluran pencernaan
- N : 82 x/menit.
- RR : 20 x/menit.
- Bibir tampak pecah- pecah.
masuk ke usus
- Akral teraba panas.
halus
- Pasien tampak pucat
- Mukosa bibir terlihat kering.

demam thypoid

Inflamasi

Masuk kedalam
darah

Bakteri
mengeluarkan
endotoksin

Peradangan lokal
meningkat

Merangsang
hipotalamsu

HIPERTERMI
2. DS : Bakteri salmonella Ketidak seimbangan
nutrisi kurang dari
- Pasien mengatakan mual, muntah, thyposa Masuk lewat kebutuhan tubuh
nafsu makan menurun sudah 3 hari makanan

DO :
- Pasien terlihat lemah Menginfeksi saluran
pencernaan masuk ke
- TD : 90/60 mmHg usus halus
- S
- N : 82 x/menit demam thypoid
- RR : 20 x/menit
- Mukosa bibir terlihat kering Inflamsi Anoreksia

- Lidah pasien terlihat putih kotor


Berat badan menurun
- Berat badan berkurang Sebelum sakit :
62Kg Ketika sakit : 61Kg
Ketidak seimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
3. DS : Peningkatan suhu Gangguan Pola Tidur
tubuh
- Pasien mengatakan masih mengatuk
saat bangun tidur
Lemah
DO :
- Jam tidur malam 4 jam
Gangguan pola tidur
- Jam tidur siang 30 menit
- Terdapat kantung mata atau mata
panda
DAFTAR DIAGNOSIS KEPERAWATAN
SESUAI PRIORITAS

TGL &
NO DIAGNOSIS KEPERAWATAN PARAF
JAM
1. Senin, 22 Hipertermi b.d Bakteri salmonela thypos d.d Pasien
Juli 2019 mengatakan demamnya tinggi pada waktu siang dan malam hari
12.00 WIB

2. Senin, 22 Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d


Juli 2019 Inflamsi Anoreksia d.d Pasien mengatakan mual, muntah, nafsu
12.00 WIB makan menurun sudah 3 hari

3. Senin, 22 Gangguan Pola Tidur b.d Peningkatan suhu tubuh d.d Jam tidur
Juli 2019 malam 4 jam
12.00 WIB
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

DIAGNOSIS TUJUAN DAN KRITERIA


TGL/JAM RENCANA TINDAKAN RASIONAL PARAF
KEPERAWATAN HASIL
Senin, 22 Hipertermi b.d Hipertermi pasien menurun dalam 1. Lakukan Manajemen Hipertermi : 1. penatalaksaaan yang baik menjamin
Juli 2019 Bakteri salmonela waktu 1 X 24 Jam a. Lakukan BHSP (Menjelaskan keberhasilan :
12.00 thypos d.d Pasien maksud dan tujuan a. Dengan melakukan BHSP
WIB mengatakan Kriteria Hasil : b. Menganjurkan pasien untuk diharapkan pasien kooperatif
demamnya tinggi 1. Suhu tubuh dalam rentang banyak minum air putih dengan tindakan
pada waktu siang c. Beri kompres pada daerah dahi b. Agar tidak terjadi dehidrasi
normal 36,5- 37,5 C
dan malam hari d. Kompres pasien pada lipat paha dan proses penguapan yang
Ketidak 2. Nadi dan RR dalam rentang dan aksila berlebihan akibat suhu tubuh
seimbangan nutrisi e. Anjurkan untuk mengenakan yang meningkat.
normal 16-20 x/menit
kurang dari pakaian yang tipis c. Pemberian kompres dapat
kebutuhan tubuh 3. Tidak ada perubahan warna f. Selimuti pasien untuk mencegah menyebabkan peralihan panas
b.d Inflamsi hilangnya kehangatan tubuh secara konduksi dan
kulit dan tidak ada pusing,
Anoreksia d.d 2. monitoring dan evaluasi terhadap : membantu tubuh untuk
Pasien mengatakan merasa nyaman a. Suhu tubuh menyesuaikan terhadap panas
mual, muntah, dan memberi rasa nyama
b. Nadi dan RR
nafsu makan d. Diharapkan panas dapat turun
menurun sudah 3 c. perubahan warna kulit dengan cepat dan memberikan
hari rasa nyaman.
3. jelaskan pada pasien dan keluarga e. Agar keringat yang keluar
tentang perawatan Hipertermi dapat diserap oleh pakaian
yang tipis dan memberikan
4. Laksanakan hasil kolaborasi rasanyaman
a. Berikan pengobatan pemberian f. Agar mencegah komplikasi
terapi antibiotik dan antipiretik lebih lanjut
untuk mengatasi penyebab 2. perubahan kestabilan gula darah
demam dapat diketahui dengan monitoring
terhadap:
a. Mengetahui keadaan umum
pasien
b. Mengetahui Perubahan status
hidrasi, membran mukosa,
turgor kulit menggambarkan
berat ringannya kekurangan
cairan.
c. Peningkatan suhu tubuh
mengakibatkan penguapan
tubuh meningkat, sehingga
perlu diimbangi dengan
asupan cairan yang banyak

3. penatalaksanaan yang adekuat


merupakan modal yang baik untuk
perilaku yang lebih permanen
4. profesional lebih tepat
a. antibiotik untuk mengurangi
infeksi dan antipiretik untuk
mengurangi panas
Senin, 22 Ketidak Nutrisi pasien terpenuhi dalam 1. Lakukan Manajemen Nutrisi : 1. penatalaksaaan yang baik menjamin
Juli 2019 seimbangan nutrisi waktu 1 X 24 jam a. Lakukan BHSP (Menjelaskan keberhasilan :
12.00 kurang dari Kriteria Hasil : maksud dan tujuan) a. Dengan melakukan BHSP
WIB kebutuhan tubuh a. Adanya peningkatan berat b. Kaji adanya alergi makanan diharapkan pasien kooperatif
b.d Inflamsi badan sesuai dengan c. Beri nutrisi dengan diet lembek, dengan tindakan
Anoreksia d.d tujuan tidak mengandung banyak serat, b. Mengetahui jenis makanan
Pasien mengatakan b. Mampu mengidentifikasi tidak merangsang maupun yang cocok untuk pasien.
mual, muntah, kebutuhan nutrisi menimbulkan banyak gas dan c. untuk meningkatkan asupan
nafsu makan c. Tidak ada tanda tanda dihidangkan saat masih hangat. makanan karena mudah ditelan
menurun sudah 3 malnutrisi d. Lakukan oral hygiene dan d. Agar dapat mengurangi
hari anjurkan klien menggosok gigi kepahitan selera dan
setiap hari. menambah rasa nyaman
e. Anjurkan makan sedikit tapi dimulut.
sering. e. Agar makan pasien kembali
2. monitoring dan evaluasi terhadap : normal
a. Peningkatan berat badan 2. perubahan nutrisi dapat diketahui
b. Kemampuan mengidentifikasi dengan monitoring terhadap:
kebutuhan nutrisi a. Nutrisi terpenuhi dapat dilihat
c. Tanda-tanda malnutrisi dari penngkatan berat badan
3. jelaskan pada pasien dan keluarga b. Dengan mampu
tentang perawatan Nutrisi mengidentifikasi kebutuhan
4. Laksanakan hasil kolaborasi nutrisi maka nutrisi pasien
a. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk akan segera terpenuhi
menentukan jumlah kalori dan c. Tanda-tanda malnutrisi yang
nutrisi yang dibutuhkan pasien tidak ada menunjukkan nutrisi
b. Kolabarasi dengan dokter untuk terpenuhi
pemberian antasida dan 3. penatalaksanaan yang adekuat
pemberian nutrisi parentral. merupakan modal yang baik untuk
perilaku yang lebih permanen
4. profesional lebih tepat
a. Memberikan diit yang tepat
b. Antasida mengurangi rasa
mual dan muntah, Nutrisi
parentral dibutuhkan terutama
jika kebutuhan nutrisi per oral
sangat kurang
Senin, 22 Gangguan Pola Pola tidur pasien normal dalam 1. Lakukan Manajemen pola tidur : 1. penatalaksaaan yang baik menjamin
Juli 2019 Tidur b.d waktu 1 X 24 Jam a. Atur posisi nyaman untuk tidur keberhasilan :
12.00 Peningkatan suhu b. Berikan pengantar tidur a. posisi tidur memudahkan
WIB tubuh d.d Jam tidur Kriteria Hasil : c. Ciptakan lingkungan nyaman dan memulai tidur
malam 4 jam 1. Jam tidur malam 7-8 Jam pengaturan suhu normal b. pengantar tidur mempercepat
2. Jam tidur siang 1-2 jam d. Bersihkan tempat tidur klien klien mengantuk
3. Tidak terdapat kantung e. Berikan susu c. suhu ruangan normal
mata atau mata panda 2. monitoring dan evaluasi terhadap : mempengaruhi ras anyaman klien
a. jam tidur malam saat tidur
b. jam tidur siang d. tempat tidur yang nyaman dapat
c. kantung mata atau mata panda meningkatkan kualitas tidur
3. jelaskan pada pasien dan keluarga e. susu mengandung zat melatonin
tentang perawatan pola tidur yang dilepaskan sehingga
menimbulkan rasa ngantuk
2. perubahan gangguan pola tidur
dapat diketahui dengan monitoring
terhadap:
a. jam tidur malam menunjukkan
kuantitas istirahat pasien
b. jam tidur siang menunjukkan
kuantitas pasien dapat istirahat
c. kantung mata atau mata panda
merupakan tanda kekurangan jam
tidur.
3. penatalaksanaan yang adekuat
merupakan modal yang baik untuk
perilaku yang lebih permanen
IMPLEMENTASI

DX.
TGL/JAM TINDAKAN KEPERAWATAN PARAF
KEPERAWATAN
1 Senin, 22 Melakukan BHSP (Menjelaskan maksud dan
Juli 2019 tujuan)
12.00
08.00 Memonitor suhu minimal tiap 2 jam

08.30 Memonitor TD, nadi, dan RR

Memonitor warna dan suhu kulit

12.00 Menganjurkan pasien untuk banyak minum air


putih

Lakukan Kompres pada daerah dahi.

12.30 Lakukan Kompres pasien pada lipat paha dan


aksila

Menganjurkan untuk mengenakan pakaian yang


tipis.

12.45 Menganjurkan Selimuti pasien untuk mencegah


hilangnya kehangatan tubuh.

12.55 Memberikan pengobatan pemberian terapi


antibiotik dan antipiretik untuk mengatasi
penyebab demam kolaborasi dengan dokter.

2 Senin, 23 Melakukan BHSP (Menjelaskan maksud dan


Juli 2019 tujuan)
12.00
Memonitor suhu minimal tiap 2 jam

Memonitor TD, nadi, dan RR

Memonitor warna dan suhu kulit

12.30 Menganjurkan pasien untuk banyak minum air


putih

Lakukan Kompres pada daerah dahi.

Lakukan Kompres pasien pada lipat paha dan


aksila

12.45 Menganjurkan untuk mengenakan pakaian yang


tipis.

13.00 Menganjurkan Selimuti pasien untuk mencegah


hilangnya kehangatan tubuh.

13.30 Memberikan pengobatan pemberian terapi


antibiotik dan antipiretik untuk mengatasi
penyebab demam kolaborasi dengan dokter.
3 Senin, 23
Juli 2019
12.00 Bersihkan tempat tidur klien

12.10 Berikan susu

12.30 Atur posisi nyaman untuk tidur

12.35 Berikan pengantar tidur

12.40 Ciptakan lingkungan nyaman dan pengaturan


suhu normal
EVALUASI

MASALAH
TANGGAL/
KEPERAWATAN/ CATATAN PERKEMBANGAN PARAF
PUKUL
KOLABORATIF
Senin, 2 Juli Hipertermi S:
2018 - Pasien mengatakan demam sudah
dirasakan sejak 3 hari yang lalusebelum
masuk Rumah Sakit.
- Pasien mengatakan demamnya tinggi pada
waktu siang dan malam hari. Batuk dan
pusing
O:
- Pasien tampak lemah
-
- TD : 90/60 mmHg
- N : 82 x/menit.
- RR : 20 x/menit.
- Bibir tampak kering.
- Akral terapa panas
- Konjungtiva merah muda
A:
Masalah belum teratasi.
P:
Lanjutkan Intervensi.

Ketidak seimbangan S:
nutrisi kurang dari - Pasien mengatakan setelah minum obat,
kebutuhan tubuh panasnya menurun. Selang waktu panas
badanya terasa panas lagi. Pusing, batuk.
- Keluarga mengatakan telah mengompres
pasien ketika panas 1 kali dalam 10 menit.
O:
- K/U : Lemah
- TD : 100/70 mmHg
-
- N : 84 x/menit
- RR : 20x/menit
- Bibir tampak kering
- Akral teraba panas
- Pasien tampak dikompres oleh keluarga.
A:
Masalah belum teratasi.
P:
Lanjutkan intervensi

Gangguan pola tidur S:


- Pasien mengatakan masih mengantuk saat
bangun tidur
O:
- Jam tidur malam 5 Jam
- Jam tidur siang 30 menit
- Tidak terdapat kantung mata atau mata
panda
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan Intervensi
Selasa, 3 Juli Hipertermi S:
2018 - Pasien mengatakan dipagi hari sudah tidak
merasakan panas. Dan sekarang badanya
terasa panas lagi, dan masih batuk.
- Pasien mengatakan sudah banyak minum
air putih sejak tadi.
O:
- K/U : Lemah
-
- TD : 110/80 4)
- N : 82 x/menit
- RR : 20 x/menit
- Pasien terlihat pucat
- Akral teraba panas
- Pasien tampak sering minum air putih
sedikit-sedikit.
- Pasien tampak di kompres oleh keluarga.
- Pasien tampak memakai baju kain
tipis/kain yang bisa meresabnya keringat.
97
- Pasien tampak tidak memakai selimut.
-A
Masalah belum teratasi
-P
Intervensi dilanjutkan

Ketidak seimbangan S:
nutrisi kurang dari - Pasien mengatakan masih mual ketika
kebutuhan tubuh makan tapi sudah tidak muntah, dan mulut
masih terasa pahit.
O
- K/U : Lemah
-
- TD : 110/80 mmHg
- N : 82 x/menit
- RR : 20 x/menit
- Pasien hanya menghabiskan 4 sendok
makan
- Pasien mual ketika makan
A:
- Masalah belum teratasi
P:
Lanjutkan intervensi

Gangguan pola tidur S:


- Pasien mengatakan segar saat bangun tidur
O:
- Jam tidur malam 7-8 Jam
- Jam tidur siang 1-2 jam
- Tidak terdapat kantung mata atau mata
panda
A : Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan

Rabu, 4 Juli Hipertermi S:


2018 - Pasien mengatakan sudah tidak ada
08.00 keluhan
O: TTV
- K/U : Cukup.
-
- TD : 110/80 mmHg.
- N : 84 x/menit.
- RR : 20 x/menit.
- Akral teraba hangat .
- Pasien tampak rileks.
- Pasien tampak tidak pucat.
A: Masalah teratasi
P: Lanjutkan intervensi.

Ketidak seimbangan S:
nutrisi kurang dari - Pasien mengatakan sudah tidak mual
kebutuhan tubuh ketika makan, pasien sudah lahap makan.
Pasien tampak tertidur pulas
O: K/U : Cukup.
-S:3
- TD : 110/80 mmHg.
- N : 84 x/menit.
- RR : 20 x/menit
- Akral teraba hangat .
- Pasien tampak rileks
- Pasien tampak tidak pucat
- Pasien tampak menghabiskan makananya.
- Pasien tampak menghabiskan biscuit yang
di bawakan keluarganya.
A: Masalah teratasi
P: intervensi dihentikan Pasien rencana
pulang.
ANALISIS VIDEO

“PENGOBATAN DEMAM THYPOID”

Search : OVIS UI

Pada pasien terkonfirmasi menderita penyakit thypoid berdasarkan uji

laboratorium dan hasil pemeriksaan dokter maka langkah awal pengobatan yaitu

dokter dapat memberikan obat antibiotic sebagai pengobatan definitive, selain

antibiotic doker akan memberikan obat-obatan lain yang bersifat symtomatis yang

mengurangi gejala keluhan, dan yang paling penting yaitu edukasi mengenai istirahat

dan menjaga asupan makanan karena kuman yang masuk melalui pencernaan

berkaitan dengan pola pencernaan, tentunya asupan makanan dan minuman sangat

penting untuk di perhatikan dalam rangka mendukung pengobatan dan penyebuhan

pasien itu sendiri.

Apabila kondisi pasien dalam keadaan umum yang baik dan masih makan

dan minum tanpa ada keluhan maka pasien dianjurkan di rumah untuk meminum

obat-obatan peroral, namun rawat inap dilakukan apabila pasien lemah, makan dan

minum mengalami kesusahan, muntah atau gangguan pencernaan yang mengganggu

supaya bisa di berikan infus dan obat-obatan melalui parental yaitu jalur suntikan

dengan harapan pasien mendapat pengobatan yang baik dserta dapat dilakukan

evaluasi lebih ketat lagi terhadap istirahatnya dan asupan makanan maupun asupan

cairannya.
Efektifitas Kompres Hangat Dalam Menurunkan Demam
Pada Pasien Thypoid Abdominalis Di Ruang G1 Lt.2
RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo,

Fatmawati Mohamad
Email : rifka_waty@yahoo.co.id
Staf Dosen Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Gorontalo

ABSTRAK

Demam (hipertermi) adalah suatu keadaan dimana suhu tubuh lebih tinggi dari biasanya,
dan merupakan gejala dari suatu penyakit. Menurunkan atau tepatnya mengendalikan dan
mengontrol demam pada anak dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah
dengan cara kompres hangat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efektifitas kompres hangat dalam
menurunkan demam pada pasien thypoid abdominalis di Ruang G1(anak) Lt.2 RSUD. Prof. Dr.
Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo.
Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen. Jumlah responden sebanyak
19 orang, yang diobservasi sebelum dan setelah dilakukan tindakan kompres hangat. Penelitian
ini menggunakan metode purposive sampling, dengan menggunakan kriteria inklusi. Analisis
data pada penelitian ini menggunakan uji statistik “Sign test.”
Hasil penelitian: ∑ b (x ; n , p) < 0,05 = ∑ b (5 ; 19 , ½) < 0,05 = 0,0318 < 0,05.
Kesimpulan; H0 ditolak, yang artinya tindakan kompres hangat efektif dalam menurunkan
demam pada pasien thypoid abdominalis di ruang G1(anak) Lt.2 RSUD. Prof. Dr. Hi. Aloei
Saboe Kota Gorontalo.

Kata Kunci : Kompres hangat, Thypoid Abdominalis, Demam

Masalah kesehatan anak merupakan pergantian musim yang umumnya disertai


salah satu masalah utama dalam bidang dengan berkembangnya berbagai penyakit.
kesehatan yang saat ini terjadi di negara Berbagai penyakit itu biasanya makin
Indonesia. Derajat kesehatan anak mewabah pada musim peralihan, baik dari
mencerminkan derajat kesehatan bangsa, musim kemarau ke penghujan maupun
sebab anak sebagai generasi penerus bangsa sebaliknya. Terjadinya perubahan cuaca
memiliki kemampuan yang dapat tersebut mempengaruhi perubahan kondisi
dikembangkan dalam meneruskan kesehatan anak. Kondisi anak dari sehat
pembangunan bangsa. Berdasarkan alasan menjadi sakit mengakibatkan tubuh bereaksi
tersebut, masalah kesehatan anak untuk meningkatkan suhu yang biasa disebut
diprioritaskan dalam perencanaan atau demam (hipertermi).
penataan pembangunan bangsa (Hidayat, Menurut Maryunani (2010), demam
2009). (hipertermi) adalah suatu keadaan dimana
Menjaga kesehatan anak menjadi suhu tubuh lebih tinggi dari biasanya, dan
perhatian khusus para ibu, terlebih saat merupakan gejala dari suatu penyakit.
Sebagian besar demam berhubungan dengan cukup besar. Selain itu, tindakan kompres
infeksi yang dapat berupa infeksi lokal atau hangat juga memungkinkan pasien atau
sistemik. Paling sering demam disebabkan keluarga tidak terlalu tergantung pada obat
oleh penyakit infeksi seperti infeksi saluran antipiretik.
pernafasan atas, infeksi saluran pernafasan Tindakan kompres hangat merupakan
bawah, gastrointestinal, dan sebagainya. Ada salah satu tindakan mandiri dari perawat,
beberapa kasus, penyakit infeksi yang tetapi sering diabaikan bahkan sering
menyerang sistem gastrointestinal pada anak- dibebankan pada keluarga pasien. Untuk dapat
anak, salah satunya adalah Thypoid mengangkat intervensi ini ke permukaan maka
Abdominalis atau dikenal dengan istilah perlu adanya upaya untuk membuktikan
demam tifoid. efektifitas dari tindakan ini dalam menurunkan
Badan Kesehatan Dunia (WHO) demam khususnya pada pasien anak penderita
memperkirakan terdapat sekitar 16-33 juta demam tifoid. Berdasarkan uraian tersebut
kasus demam tifoid di seluruh dunia dengan diatas maka perlu adanya upaya untuk
kejadian 500-600 ribu per kasus kematian tiap membuktikan Efektifitas Kompres Hangat
tahun (R, Aden, 2010). Di Indonesia, demam Dalam Menurunkan Demam Pada Pasien
tifoid masih merupakan penyakit endemik dan Thypoid Abdominalis.
menjadi masalah kesehatan yang serius.
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun METODE PENELITIAN
2005, kasus demam tifoid menempati urutan Metode penelitian ini menggunakan metode
kedua dari data 10 penyakit utama pasien “Quasi Eksperimen” dimana peneliti ingin
rawat inap rumah sakit dengan persentase melihat sejauh mana efektifitas kompres
3,15%. hangat dalam menurunkan demam pada pasien
Berdasarkan data yang diperoleh dari thypoid abdominalis. Sampel dalam penelitian
RSUD. Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota ini sebanyak 19 orang dengan teknik
Gorontalo, tentang jumlah pasien demam pengambilan sampel menggunakan metode
tifoid yang dirawat di Ruang G1 (anak) Lt. 2 purposive sampling dengan
pada tahun 2011 yakni sebanyak 299 orang, mempertimbangkan kriteria inklusi dan
dengan persentase sekitar 14,1% dari total kriteria eksklusi. Kriteria inklusi yaitu: Pasien
keseluruhan pasien yang dirawat di Ruang G1 thypoid abdominalis yang mengalami demam
(anak) Lt. 2. (suhu >37,50C), Pasien demam tifoid yang
Menurunkan atau tepatnya belum diberi terapi antipiretik, Pasien demam
mengendalikan dan mengontrol demam pada tifoid yang mau dilakukan tindakan kompres
anak dapat dilakukan dengan berbagai cara, hangat, Keluarga dan pasien yang kooperatif
salah satunya adalah dengan cara kompres. dan Kriteria eksklusi yaitu Pasien thypoid
Selama ini kompres dingin atau es menjadi abdominalis yang tidak mengalami demam
kebiasaan yang diterapkan para ibu saat (suhu 36-37,50C), Pasien demam tifoid yang
anaknya demam. Namun kompres sudah diberi terapi antipiretik, Pasien demam
mengunakan es sudah tidak dianjurkan karena tifoid yang tidak mau dilakukan tindakan
pada kenyataannya demam tidak turun bahkan kompres hangat. Analisis data menggunakan
naik dan dapat menyebabkan anak menangis, analisis univariat dilakukan untuk
menggigil dan kebiruan, oleh karena itu, mendeskripsikan karakteristik sampel yang
kompres menggunakan air hangat lebih diukur dalam penelitian yaitu dengan cara
dianjurkan. Hal ini dilakukan juga karena menghitung nilai mean, minimum-maksimum,
tindakan kompres hangat lebih mudah dan standar deviasi dan analisis bivariat
dilakukan dan tidak memerlukan biaya yang dengan menggunakan uji tanda (sign test)
dengan tingkat kemaknaan α : 0,05 (Wilayah sesudah dikompres dibandingkan dengan suhu
Kritik: ∑ b (x ; n , p) < 0,05). anak sebelum dikompres. Hal ini
menunjukkan bahwa penurunan suhu antara
HASIL DAN PEMBAHASAN satu anak dengan yang lain memiliki variasi
nilai penurunan yang cukup berbeda.
Analisa bivariat menggunakan uji statistik: uji
Berdasarkan tabel di atas, hasil analisis data tanda (sign test) dengan menggunakan taraf
menunjukkan bahwa nilai rata-rata suhu tubuh nyata sebesar 0,05 (5%), dengan hasil/
responden sebelum perlakuan sebesar 38,4 ± kesimpulan yang ada diakui kebenarannya
0,70C. Sedangkan suhu tubuh responden sebesar 95%, dengan wilayah kritik: ∑ b (x ; n
setelah perlakuan sebesar 37,7 ± 1,00C. Jika , p) < 0,05, dengan hasil sebagai berikut:
dilihat dari standar deviasi ternyata ditemukan
variasi nilai yang lebih besar pada anak yang

Suhu Tubuh Suhu Tubuh


Inisial
No Lama Rawat Sebelum Setelah Tanda
Responden
Perlakuan Perlakuan

1 An. ZI Hari Ke-2 38,1 37 (+)


2 An. AR Hari Ke-3 37,7 36,2 (+)
3 An. SP Hari Ke-1 38,5 37,4 (+)
4 An. MS Hari Ke-3 37,7 36,8 (+)
5 An. SDA Hari Ke-0 39,5 39,5 (-)
6 An. NA Hari Ke-2 38 37,2 (+)
7 An. FT Hari Ke-1 38 37,5 (+)
8 An. MAO Hari Ke-2 38 37,1 (+)
9 An. SFT Hari Ke-1 38,4 37,5 (+)
10 An. HP Hari Ke-1 38 37,5 (+)
11 An. AB Hari Ke-1 38,1 37,4 (+)
12 An. ZM Hari Ke-3 37,7 36,9 (+)
13 An. TH Hari Ke-1 38,2 37,2 (+)
14 An. MZM Hari Ke-0 39,4 39 (-)
15 An. AH Hari Ke-0 39,5 39,2 (-)
16 An. BA Hari Ke-0 39,8 39,8 (-)
17 An. RCN Hari Ke-1 38,5 37,3 (+)
18 An. MS Hari Ke-1 38,2 37 (+)
19 An. AD Hari Ke-0 38,9 38,5 (-)

a. Ket:
x = 5 (banyaknya tanda positif atau negatif yang paling sedikit)
n = 19 (banyaknya sampel/ responden)
p = ½ (probabilitas/ peluang diterima atau ditolak H0)
b. Penyelesaian
= ∑ b (x ; n , p) < 0,05
= ∑ b (5 ; 19 , ½) < 0,05
= 0,0318
c. Kesimpulan
Dari cara penyelesaian di atas, didapatkan nilai ∑ b (x ; n , p) < 0,05 (0,0318 < 0,05).
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa: pernyataan H0 ditolak, yang artinya
peryataan bahwa tindakan kompres hangat dapat menurunkan demam pada pasien
demam thypoid dapat diterima.

Berdasarkan hasil penelitian tentang kompres dilakukan tindakan kolaborasi dengan tim
hangat yang dilakukan pada 19 responden medis.
yang mengalami demam tifoid, terdapat 14 Tindakan kompres hangat merupakan tindakan
responden yang hasilnya menunjukkan yang cukup efektif dalam menurunkan
penurunan suhu tubuh dan 5 responden demam. Oleh karena itu, sebaiknya
lainnya tidak menunjukkan penurunan suhu penggunaan antipiretik tidak diberikan secara
tubuh. Hal ini dikarenakan, 5 responden otomatis pada setiap keadaan demam. Dalam
tersebut merupakan pasien dengan diagnosa hasil penelitian Purwanti (2008) ditekankan
demam thypoid H-0 yang masa infeksinya bahwa, obat penurun panas hanya diberikan
masih tinggi, dimana demam yang dialami pada anak dengan suhu di atas 38,50C atau bila
oleh pasien tersebut juga sulit untuk anak tersebut merasa tidak nyaman
menunjukkan penurunan suhu tubuh. Oleh (uncomfortable), selain dari itu sebaiknya
karena itu, untuk pasien dengan demam jangan dulu dilakukan pemberian antipiretik.
thypoid H-0 yang masa infeksinya maupun Hal ini senada dengan teori Hartanto (2003)
demamnya masih tinggi perlu diberikan terapi yang menekankan bahwa antipiretik hanya
antibiotik secara intensif dan terapi antipiretik diberikan untuk menurunkan suhu tubuh pada
jika perlu (demam > 38,50C). Hal ini sesuai anak dengan riwayat kejang demam
dengan teori Aden (2010) yang mengatakan sebelumnya, atau ditujukan untuk mencegah
antibiotik merupakan terapi yang efektif untuk terjadinya kejang demam yang sering dialami
demam tifoid. Tetapi, pemberian antibiotik balita umur 6 bulan sampai 6 tahun.
tidak secara otomatis menurunkan demam, Selain itu, penggunaan antipiretik secara
karena di dalam tubuh masih terjadi proses berkepanjangan dapat menimbulkan efek
kerja dari antibiotik dalam mematikan bakteri toksik bagi organ tubuh seperti yang
penyebab infeksi. dijelaskan oleh Pujiarto (2007) bahwa pada
Dalam melakukan penelitian, responden yang dasarnya tidak ada obat yang tidak berisiko
dijadikan sampel telah memenuhi kriteria menimbulkan efek samping. Pemberian obat
inklusi peneliti yaitu pasien yang belum demam bisa menimbulkan efek samping mulai
mengkonsumsi antipiretik pada saat akan dari nyeri dan perdarahan lambung (yang
dilakukan penelitian, sehingga dapat paling kerap), hepatitis (kerusakan sel hati
menunjukkan hasil yang akurat dari tindakan yang ditandai dengan peningkatan enzim
kompres hangat dan bukan efek dari hasil SGOT dan SGPT, pembengkakan dan rasa
pemberian antipiretik. Pemberian tindakan nyeri di daerah hati), gangguan pada sumsum
kompres hangat merupakan bagian dari tulang (produksi sel darah merah, sel darah
tindakan mandiri perawat yang termasuk aman putih dan sel trombosit tertekan), gangguan
dan tidak memiliki efek samping dalam fungsi ginjal, rasa pusing, vertigo, penglihatan
penatalaksanaannya. Sehingga perawat dapat kabur, penglihatan ganda (diplopia),
menerapkan tindakan mandirinya sebelum mengantuk, lemas, merasa cemas, dan
sebagainya. Risiko efek samping perdarahan hipotalamus dirangsang, sistem efektor
saluran cerna misalnya, akan meningkat bila mengeluarkan sinyal yang memulai
kita memakai lebih dari satu obat (misalnya berkeringat dan vasodilatasi perifer.
parasetamol dengan aspirin atau parasetamol Perubahan ukuran pembuluh darah diatur oleh
dengan ibuprofen), pemakaian jangka panjang, pusat vasomotor pada medulla oblongata dari
atau pemakaian bersama dengan steroid. tangkai otak, dibawah pengaruh hipotalamik
Hasil penelitian tentang kompres hangat yang bagian anterior sehingga terjadi vasodilatasi.
dilakukan pada 19 responden yang mengalami Terjadinya vasodilatasi ini menyebabkan
demam tifoid, didapatkan 14 responden yang pembuangan/ kehilangan energi/ panas
mengalami penurunan suhu tubuh. Hal ini melalui kulit meningkat (berkeringat),
sesuai dengan hipotesis yang menyatakan diharapkan akan terjadi penurunan suhu tubuh
bahwa kompres hangat dapat menurunkan sehingga mencapai keadaan normal kembali.
suhu tubuh pasien. Hasil ini didukung oleh Hal ini sependapat dengan teori yang
penelitian Nurwahyuni (2009) yang dikemukakan oleh Aden (2010) bahwa tubuh
menjelaskan bahwa terdapat mekanisme tubuh memiliki pusat pengaturan suhu
terhadap kompres hangat dalam upaya (thermoregulator) di hipotalamus. Jika suhu
menurunkan suhu tubuh yaitu dengan tubuh meningkat, maka pusat pengaturan suhu
pemberian kompres hangat pada daerah tubuh berusaha menurunkannya begitu juga
akan memberikan sinyal ke hipotalamus sebaliknya. .
melalui sumsum tulang belakang. Ketika
reseptor yang peka terhadap panas di
SIMPULAN   2. Bagi Rumah Sakit
Diharapkan dapat menjadi bahan masukan
Berdasarkan hasil penelitian dapat agar penerapan tindakan kompres hangat
disimpulkan bahwa tindakan kompres hangat di ruangan dapat dimaksimalkan,
efektif dalam menurunkan demam pada pasien sehingga dapat memotivasi tenaga
thypoid abdominalis di Ruang G1 Lt. 2 keperawatan yang ada di rumah sakit
RSUD. Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Kota untuk menerapkan tindakan mandiri
Gorontalo. sebelum tindakan kolaborasi.
Saran 3. Bagi Peneliti Selanjutnya
1. Bagi Keluarga Diharapkan untuk dapat melakukan
Diharapkan dapat menerapkan tindakan penelitian lanjutan dengan
kompres hangat pada perawatan pasien membandingkan tindakan kompres hangat
yang demam dan dapat menjadikannya dengan tindakan keperawatan lain dalam
sebagai tindakan yang pertama dan aman perawatan pasien demam tifoid.
dilakukan pada pasien di rumah sebelum
menggunakan terapi antipiretik.
 

DAFTAR PUSTAKA Anonimityb, 2009, Kompres Hangat,


Anonimitya, 2008, Mengatasi Demam Pada http://nursingbegin.com/kompres-
Anak, hangat/. Diakses 11 Februari 2012
http://majalahkesehatan.com/mengatasi-
demam-pada-anak/. Diakses 11 Februari Anonimityc, 2011, 10 Tanya Jawab Seputar
2012 Demam,
http://www.tabloidnova.com/Nova/Kese
hatan/Umum/10-Tanya-Jawab-Seputar- Notoatmodjo, 2010, Metodologi Penelitian
Demam/. Diakses 11 Februari 2012 Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta

Anonimityd, 2011, Metode Kompres Yang Nursalam, 2011, Konsep dan Penerapan
Tepat Untuk Menangani Demam, Metodologi Penelitian Ilmu
http://www.berbagaihal.com/2011/04/m Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta
etode-kompres-yang-tepat-untuk.html
Diakses 11 Februari 2012 Nurwahyuni, Ika, 2009, Perbedaan Efek
Teknik Pemberian Kompres Hangat
Anonimitye, 2007 , Profil Kesehatan Pada Daerah Aksila dan Dahi
Indonesia 2005 Terhadap Penurunan Suhu Tubuh
http://www.riskesdas.litbang.depkes.go.i Pada Klien Demam di Ruang Rawat
d/download/profilkesehatanindonesia.pd Inap RSUP Dr. Sudirohusodo
f. Diakses 8 Februari 2012 Makassar,
http://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstrea
Engel, Joyce, 2008, Pengkajian Pediatrik, m/handle/123456789/484/skripsi.pdf?se
EGC, Jakarta quence=1. Diakses 23 Juni 2012

Hartanto, Sinarty, 2003, Anak Demam Perlu Purwanti, Sri, 2008, Pengaruh Kompres
Kompres?, Hangat Terhadap Perubahan Suhu
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/ Tubuh Pada Pasien Anak Hipertermia
2003/9/7/kel4.html. Diakses 23 Juni di Ruang Rawat Inap RSUD. Dr.
2012 Moewardi Surakarta,
http://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstrea
Hidayat, A. Aziz Alimul, 2009, Pengantar m/handle/123456789/484/2f.pdf?sequen
Ilmu Kesehatan Anak untuk ce=1. Diakses 23 Juni 2012
Pendidikan Kebidanan, Salemba
Medika, Jakarta Pujiarto, Purnamawati Sujud, 2007, Demam
Pada Anak: Fever Is Functional,
, 2009, Metode http://www.sehatgroup.web.id/?p=65.
Penelitian Kebidanan dan Teknik Diakses 23 Juni 2012
Analisa Data, Salemba Medika, Jakarta
Prasetyo, Riski Vitria, 2009, Metode
Kania, Nia, 2010, Penatalaksanaan Demam Diagnostik Demam Tifoid Pada Anak.
Pada Anak, www.pediatrik.com/buletin/0622411441
http://pustaka.unpad.ac.id/wp- 8-f53zji.doc. Diakses 8 Februari 2012
content/uploads/2010/02/penatalaksanaa
n_demam_pada_anak.pdf. Diakses 11 R, Aden, 2010, Seputar Penyakit dan
Februari 2012 Gangguan Lain Pada Anak, SIKLUS,
Jogjakarta
Maryunani, Anik, 2010, Ilmu Kesehatan
Anak Dalam Kebidanan, TIM, Jakarta Sugiyono, 2010, Statistika Untuk Penelitian,
Alfabeta, Bandung
Ngastiyah, 2005, Perawatan Anak Sakit Edisi
2, EGC, Jakarta Susanti, Nurlaili, 2012, Efektifitas Kompres
Dingin dan Hangat Pada
Penatalaksanaan Demam,
http://publikasiilmiah.uin.ac.id/bitstream Tamsuri, Anas, 2006, Tanda-Tanda Vital
/handle/123456789/287/saintis.pdf?sequ Suhu Tubuh, EGC, Jakarta
ence=2. Diakses 23 Juni 2012
 
1
BAB III TINJAUAN

KASUS

Tinjauan Kasus ini penulis susun dengan menerapkan asuhan keperawatan

pada pasien dengan pendekatan keperawatan melalui langkah-langkah

melakukan pengkajian, merumuskan diagnosa keperawatan, menyusun

perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

3.1 PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Tanggal Masuk : 21 Juli 2019 Jam Masuk : 22.15

Ruang/ Kelas : Tulip Kamar No. : Tulip Laki-laki

Pengkajian Tanggal : 22 Juli 2019 Jam : 12.00 WIB

3.1.1 IDENTITAS KLIEN

Nama : Tn “I” No. Reg. : 09XXXX

Umur : 25 tahun Tgl. MRS : 21 Juli 2019

Jenis Kelamin : ♂ (Laki-laki) Diagnosa : Demam Typoid

Suku/Bangsa : Jawa / Indonesia Alamat : Pulosari 3/14

Agama : Islam Pekerjaan : Swasta

Penanggung : BPJS Pendidikan : SMA

3.1.2 RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)

3.1.2.1 Riwayat Sebelum Sakit

1). Penyakit berat yang penah diderita : Pasien tidak pernah menderita

penyakit berat sebelumnya

2). Obat-obat yang biasa dikonsumsi : Pasien tidak pernah

mengkonsumsi obat obatan sebelum mengalami sakit saat ini.

51
52

3). Kebiasaan berobat : Pasien hanya berobat ketika

merasa sakitnya tidak kunjung sembuh selama lebih dari 1minggu.

4). Alergi : Pasien tidak mempunyai riwayat

alergi obat ataupun makanan

5). Kebiasaan merokok/ alkohol : Pasien tidak merokok/alkohol

3.1.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang

1). Alasan dirawat :

Sebelum masuk rumah sakit, pasien mengalami panas, mual,

muntah selama 3 hari yang lalu. Sebelum masuk Rumah Sakit pasien

mengalami demam tinggi pada waktu siang dan malam hari, disertai mual,

muntah, keluhan bertambah berat bila beraktivitas, dan kurang bila

dikompres, istirahat dan minum obat. Pasien meminum obat penurun

panas paracetamol dan panasnya turun dan timbul panas lagi. Setelah

pasien merasa sakitnya tidak kunjung sembuh, makin panas dan lemas.

Pasien memeriksakan diri ke IGD Rumah Sakit Tingkat III Brawijaya

Surabaya pada tanggal 21 juli 2019 pukul 22.15 . Setelah dilakuka

anamnesa dengan TD : 90/60 mmHg, S : 38.6 C, N : 82 x/menit, RR : 20

x/menit. Setelah dilakukan anamnesa dan hasil observasi pasien

mengalami demam selama lebih dari 3 hari, pasien disarankan untuk

dilakukan pemeriksaan lanjut, yaitu pemeriksaan laboratorium dan uji

widal. Hasil dari pemeriksaan laboratorium dan uji widal terdapat leukosit

: 4.45 , trombosit : 125 , salmonella typhi H : Positif 1/80. Dan pasien

positif dinyatakan terdiagnosa demam typoid.


53

2). Keluhan utama : Pasien mengatakan Demam, mual,muntah, lemas

selama 3 hari yang lalu.

3). Upaya yang telah dilakukan:

(1). Laboratorium

(2). Uji Widal.

4). Riwayat Kesehatan Keluarga

Pasien megatakan, dirinya dan keluarga tidak ada yang menderita

penyakit yang menurun dan keluarga tidak mempunyai riwayat penyakit

seperti yang dideritanya sekarang Demam typoid dan tidak pernah

dirawat sebelumnya di rumah sakit.pasien dan keluarga juga tidak

mempunyai riwayat penyakit yang menular seperti HIV, Diabet Militus,

Jantung dan hipertensi.


54

Genogram:

Keterangan :

: Laki laki : Tn I yang sakit

: Perempuan : Ny Y

: Tinggal serumah : Garis hubung

Pasien adalah kepala keluarga dari keluarga kecilnya, suami dari istrinya.

5).Riwayat Kesehatan Lingkungan

Keadaan lingkungan bersih, Pasien sering membeli makanan di

warung – warung dan yang sering di warung dekat rumah, yang di jual

di tempat terbuka yang kemungkinan besar gampangnya makanan

terkontaminasi bakteri-bakteri terutama bakteri salmonella typhi.

6). Riwayat Kesehatan Lainnya: Pasien Ibu (KeluargaBerencana)

Pasien dan keluarga tidak pernah dirawat di rumah sakit, kesehatan

keluarga baik dan keluarga tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit

seperti yang pasien alami sekarang. Keluarga berharap bahwa anaknya

akan sembuh bila dirawat di RS. Tingkat III Brawijaya Surabaya.


55

Alat bantu yang dipakai:

Gigi palsu : X Ya √ Tidak

Kaca mata : X Ya √ Tidak

Pendengaran : X Ya √ Tidak

Lainnya (sebutkan):

Pasien tidak memakai alat bantu apapun di tubuhnya. Pasien juga

tidak bertato, di tubuhnya tidak ada bekas luka/bekas operasi (Pen).

3.1.3 OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK

1). Keadaan umum :

Pasien tampak lemah

2). Tanda – tanda vital, TB dan BB:

(1). S : 38,6 C

(2). HR : 82 x/mnt

(3). TD : 90/60 mmHg

(4). RR : 20 x/mnt

Lainnya (sebutkan) :

TB : 160 cm, BB Sebelum sakit : 62 kg, BB Ketika sakit : 61 kg. Mukosa

bibir terlihat kering bibir pecah-pecah, konjungtiva tampak pucat, Lidah

pasien terlihat putih kotor area lidah atas, Akral teraba panas.

Masalah Keperawatan : HIPERTERMI

3). Body systems:

3.1.3.1 Pernapasan (B1: Breathing)

Hidung : Bentuk simetris, tidak ada massa dan sputum pergerakan paru kanan

dan kiri normal dengan frekuensi 20 kali/ menit, Tidak ada nyeri tekan
56

Trachea : Bentuk Simetris.

X Nyeri X Dyspnea X Orthopnea X Cyanosis

X Batuk darah X Napas dangkal X Retraksi dad X Respirato

X Tracheostomy X Sputum

Suara nafas tambahan :

Wheezing : lokasi : Tidak ada

Ronchi : lokasi : Tidak ada

Bentuk dada : Simetris

Lainnya (sebutkan) : Tidak ada pembesaran tyroid.

Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan

3.1.3.2 Kardiovaskuler (B2: Bleeding)

Irama jantung : S1/ S2 Tunggal (lup-dup) tidak ad amur mur.

CRT: < 3 detik.

Nyeri dada : Tidak ada.

Kram kaki : Tidak ada.

Clubbing finger: Tidak ada.

Suara jantung : Normal

Ada kelainan (sebutkan) : Tidak ada.

Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan

Edema : Tidak ada Edema dan tidak ada nyeri tekan.

3.1.3.3 Persyarafan (B3: Brain)


Kesadaran composmentis GCS 4 5 6, kepala dan wajah bersih, bentuk

simetris, tidak ada benjolan, Pengecapan baik, dapat merasakan manis, asin,
57

pahit, asam. Perabaan baik bisa merasakan rabaan panas, dingin dan tekanan.

Reflek PatelaNormal, Kejang Tidak ada, Nyeri Kepala tidak ada.

Istirahat tidur : tidak ada keluhan dalam frekuensi tidur.

Saat dirumah : malam 8 jam dan siang 3 jam

Saat MRS : Malam 7 jam dan siang 3 jam

Masalah Keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan.

3.1.3.4 Perkemihan - Eliminasi Uri (B4: Bladder)

Produksi urine : ±800 ml Frekuensi : 6-8 x/hari

Warna : Kuning Jernih Bau : Khas urin

Masalah perkemihan: Tidak ada masalah perkemihan

Masalah keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan

3.1.3.5 Pencernaan-Eliminasi Alvi (B5: Bowel)

Mulut dan tenggorok : Lidah tampak putih kotor area lidah bagian atas,

tenggorokan tidak ada kelainan.

Abdomen : Bentuk normal, tidak ada nyeri tekan, terdapat

kembung.

BAB :

1) Sebelum sakit/saat di rumah : Frekuensi ± 1 x/hari. Warna kuning.

Bau khas fases. Konsistensi lunak.

2) Saat di rumah sakit : Frekuensi ± 1 x/hari. Warna kuning.

Bau khas fases. Konsistensi lunak.

Lainnya (sebutkan) : Pasien mengalami mual

Diet : TKTP 2100 Kal


58

Lain-lain : Sajikan makanan yang masih

hangat, beri nutrisi diet lembek.

Masalah keperawatan : Nutrisi kurang dari kebutuhan

tuubuh.

3.1.3.6 Tulang – Otot – Integumen (B6: Bone)

Kemampuan pergerakan sendi : Bebas, tidak dapat kelumpuhan.

Pergerakan sendi lengan dan tungkai (ROM) : 5 5

Parese : Tidak ada. 5 5

Paralise : Tidak ada

Hemiparese : Tidak ada.

Lainya (sebutkan) : Kulit Bersih, sawo matang, tidak ada nyeri tekan,

tidak ada lesi. Akral Hangat. Turgor Cukup.

Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan.

Extremitas:

Atas : kiri tidak ada kelainan (terpasang Infus RL di

tangan sebelah kiri) kekuatan otot 5, Ekstremitas

atas kanan tidak ada kelainan, Kekuatan otot 5.

Lokasi : Ekstermitas atas tangan kiri terpsang

infus.

Bawah : ekstremitas bawah kanan tidak ada kelainan,

Kekuatan otot 5, ekstremitas bawah kiri tidak ada

kelainan, kekuatan otot 5. Lokasi : Tidak ada.

3.1.3.7 Sistem Endokrin

Terapi hormon: Tidak ada terapi hormon


59

Hasil Laboratorium Pemeriksaan

Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan.

3.1.3.8 Sistem Reproduksi

Laki-laki :

Kelamin : Jenis kelamin pasien laki-laki

Bentuk : Normal

Kebersihan :Bersih

Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawtan

3.1.4 POLA FUNGSI KESEHATAN

1) Persepsi terhadap kesehatan dan penyakit :

Pasien mengatakan sudah mengetahui tentang penyakit yang dialami

pasien dan Pasien mengatakan saat ini menerima dengan ikhlas dan tabah

pasien hanya ingin sembuh dari penyakit yang diderita.

2) Nutrisi – Metabolisme:

TB : 160 cm

BB sebelum sakit : 62kg

BB sesudah sakit : .61 kg

Diet khusus: IMT berat badan dibagi tinggi badan dikali tinggi badan {61

: 160 x 160 = 61(BB ideal) }Diet khusus TKTP, Frekuensi 3x/hari, Rendah

serat, Lunak, tinggi protein, sedikit tetapi Sering. Jenis makanan Nasi

lembek, lauk pauk, porsi makan tidak habis, Nafsu makan berkurang,

adanya mual, Tidak ada alergi baik pada makanan, obat-obatan, ataupun

terhadap suhu, minum air putih, Jumlah 1200 cc/24 jam, Jenis minuman

Cair.
60

3) Pola tidur dan istirahat : Saat sakit tidur malam  4-5 jam, tidur

siang  1-2 jam dan kadang tidak tidur siang.

4) Kognitif – perseptual : Komunikasi baik dan lancer.

5) Persepsi diri – konsep diri :

Tn. I merasa bersyukur memiliki keadaan tubuh yang normal meskipun

kini dia sedang sakit, dia pasrah kepada Allah SWT, ini merupakan cobaan

bagi dirinya, Tn.M mampu menyebutkan tentang identitas dirinya, Tn.I.

berharap ingin cepat sembuh dari penyakitnya, harga diri Tn.I baik, Tn.I

di rumah sakit berperan sebagai pasien, dan di rumah sebagai suami dan

ayah bagi anaknya.

6) Ekspresi afek dan emosi :

Tn.M tampak tenang terhadap penyakit yang dideritanya, pasien tampak

menerima dan ikhlas.

Masalah keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan

7) Peran – hubungan :

Antara pasien dan perawat sangat kooperatif. Komunikasi lancar, antara

pasien dan petugas kesehatan saling percaya. Bahasa yang digunakan

yakni bahasa sehari-hari bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Berbicara

Normal dan Jelas. Hubungan dengan keluarga Baik, Tn.I dan keluarga

saling menolong dan mendukung satu sama lain untuk kesembuhan Tn.I.

Hubungan dengan teman/petugas kesehatan ataupun antara pasien dan

petugas kesehatan sangat kooperatif dan saling percaya.

8) Aktivitas dan kebersihan diri :

Saat di rumah pasien selalu mandi setiap hari secara mandiri, dan saat di
61

Rumah sakit pasien hanya di seka oleh keluarga  2x sehari.

9) Koping – toleransi stress (mekanisme pembelaan ego) :

Tn.I mengatakan apabila ada masalah dalam keluarga selalu dibicarakan

baik baik dengan anggota keluarga lainnya.

10) Nilai – pola keyakinan :

(1). Menjalankan ibadah :

Pasien beragama Islam dan biasanya pasien tiap harinya

melakuakan ibadah 5 waktu dan biasanya mengikuti pengajian

rutinan setiap minggu.

Pasien tetap melakukan ibadah selama sakit meskipun dalam

keadaan terbaring ditempat tidur ataupun duduk diatas tempat tidur

(2). Persepsi tentang kematian :

Kematian pasti semua manusia akan mengalaminya, tetapi kita

sebagai manusia ingin tetap selalu sehat dan dijauhkan dari segala

penyakit. Karena kesehatan sangat penting, kebetulan pasien

mengalami sakit. Pasien sangat sedih, banyak pekerjaan

terbengkal. Mungkin saya sangat ceroboh dengan kesehatan, tetapi

ketika sakit seperti ini terasa sekali nikmatnya sehat. Akhirnya

sekarang Cuma bisa di tempat tidur, berharap semoga penyakitnya

tidak semakin menjadi dan diberikan kesembuhan Panjang umur.

Lainnya (sebutkan) :

Keluarga dan pasien berharap semoga sakit yang di alami oleh

pasien segera sembuh dan bisa kembali sehat seperti biasanya. Dan

bisa kembali aktivitas seperti biasanya.


62

3.1.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG

1). Laboratorium :

(1). Tabel Hasil lab tanggal 21 Juli 2019

Hasil Pemeriksaan Laboratorium Darah Lengkap di Rumah Sakit TK

III Brawijaya Surabaya Tanggal 21 Juli 2019 pada pukul (22.15)WIB.

Tabel 1. 5 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Tn “I”.

PEMERIKSAAN HASIL NILAI NORMAL

HEMATOLOGI
P : 11.7 - 15.5 g/dl
Darah Legkap L : 13.2 - 15.5 g/dl
14,6
Hemoglobin L : 3.8 - 10.6 ribu/mm3
4.45 P : 3.6 -11 ribu/mm3
Leukosit L : < 10. mm/jam
6 P : < 16. mm/jam
LED

Hitung jenis /Diff

Count

Eosinopil L/P : 2 - 4 %
0.7
Basophil 0.2 L/P : 0 - 1 %

Stab 0.0 L/P : 2 - 6 %

Segmen 57.8 L/P : 50 - 70 %

Limposit 24.0 L/P : 25 - 40 %

Monosit L/P :2 - 8 %
17.3
Trombosit L/P : 150 - 440
125
PCV/Hematrokrit ribu/mm3
42,8 L : < 40 - 52 %
P : < 35 - 47 %
X Ray : Tidak ada

USG :Tidak ada

Lain-lain (sebutkan) :
63

2). Uji Widal :

(2). Tabel Hasil Uji widal tanggal 21 Juli 2019

Hasil Pemeriksaan Uji Widal di Rumah Sakit TK III Brawijaya

Surabaya Tanggal 21 Juli 2019 pada pukul (22.15)WIB

Tabel 1. 6 Hasil Pemeriksaan Uji Widal Tn “I”


PEMERIKSAAN HASIL NILAI NORMAL

IMMUNOLOGI /

SEROLOGI

Widal

Salmonella Typhi O NEGATIF L/P NEGATIF

Salmonella Typhi H POSITIF 1/80 L/P NEGATIF

SalmonellaParatyphi OA NEGATIF L/P NEGATIF

SalmonellaParatyphi OB NEGATIF L/P NEGATIF

3.1.6 TERAPI
1) Infus Ringer Laktat (RL) 500ml, 28 tetes/menit :

Ringer laktat adalah larutan steril yang digunakan sebagai penambah cairan dan

elektrolit tubuh untuk mengembalikan keseimbangannya

2) Paracetamol 3x1 :

Paracetamol adalah salah satu obat yang masuk ke dalam golongan analgesik

(pereda nyeri) dan antipiretik (penurun demam)

3) Antrain 2 ml 3x1 ampl/iv :

Antrain injeksi adalah obat untuk meredakan nyeri parah serta demam seperti

nyeri pasca operasi atau nyeri kolik yang memiliki bahan aktif natrium
64

metamizole

4) Ranitidine 50mg/2ml 2x1 ampl/iv :

juga digunakan untuk mengobati dan mencegah berbagai penyakit perut dan

kerongkongan yang disebabkan oleh terlalu banyak asam lambung, misalnya

erosive esophagitis dan refluks asam lambung (gastroesophageal reflux disease,

GERD).

5) Omeprazole 40mg 2x1 ampl/iv :

Omeprazole adalah obat untuk mengatasi masalah perut dan kerongkongan yang

diakibatkan oleh asam lambung.

Surabaya, 24 Juli 2019


Tanda Tangan Mahasiswa

Desty Wulandari
NIM : 1902058
65

3.1.7 ANALISA DATA HIPERTERMI Dx.1

Tabel 1. 7Analisa Data Hipertermi Tn “I”


MASALAH
DATA ETIOLOGI KEPERAWATAN

DS : Bakteri salmonela Hipertermi


thyposa
1) Pasien mengatakan

demam sudah 3 hari. Masuk lewat


makanan
2) Pasien mengatakan

demamnya tinggi pada Menginfeksi


saluran pencernaan
waktu siang dan malam

hari. masuk ke usus


halus
DO :

1) Pasien terlihat lemah. demam thypoid

2) TD : 90/60 mmHg.
Inflamasi
3) S : 38.6 C.

4) N : 82 x/menit. Masuk kedalam


darah
5) RR : 20 x/menit.

6) Bibir tampak pecah- Bakteri


mengeluarkan
pecah. endotoksin

7) Akral teraba panas.


Peradangan lokal
8) Pasien tampak pucat meningkat

9) Mukosa bibir terlihat

kering. Merangsang
hipotalamsu

HIPERTERMI
66

3.1.8 ANALISA DATA KETIDAK SEIMBANGAN NUTRISI KURANG

DARI KEBUTUHAN TUBUH Dx.2

Tabel 1. 8 Analisa data Ketidak Seimbangan Nutrisi Kurang dari


Keseimbangan Tubuh Tn “I”
MASALAH
DATA ETIOLOGI
KEPERAWATAN
DS : Pasien mengatakan Bakteri salmonela Ketidakseimbangan
thyposa
mual, muntah, nafsu makan nutrisi kurang dari

menurun sudah 3 hari Masuk lewat makanan kebutuhan tubuh

DO :
Menginfeksi saluran
1) Pasien terlihat lemah pencernaan

2) TD : 90/60 mmHg
masuk ke usus halus
3) S : 38.6 C

4) N : 82 x/menit demam thypoid

5) RR : 20 x/menit
Inflamsi
6) Mukosa bibir terlihat

kering Anoreksia

7) Lidah pasien terlihat


Berat badan menurun
putih kotor

8) Berat badan Ketidak seimbangan

berkurang nutrisi kurang dari

Sebelum sakit : 62Kg kebutuhan tubuh

Ketika sakit : 61Kg


67

3.1.9 DIAGNOSA KEPERAWATAN

Setelah dilakukannya pengkajian dan analisa data, maka tahap selanjutnya

perumusan diagnosa keperawatan adapun diagnose yang muncul pada Tn. I

dengan Demam Typoid diruangan Tulip Di Rumah Sakit Tingkat III Brawijaya

Surabaya adalah:

Nama : Tn. I

Diagnosa Medis : Demam Typoid

No. Register : 09XXXX

Ruang : Pavilliun Tulip

Tabel 1. 9 Diagnosa Keperawatan Prioritas Tn “I”


Tanggal

No. Masalah Keperawatan Ditemukan Teratasi TTD

1. Hipertermi berhubungan 21 Juli 2019 24 Juli 2019

dengan respon sistemik

dari inflamasi

gastrointestinal

2. Ketidakseimbangan 21 Juli 2019 24 Juli 2019

nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh

berhubungan dengan

kurangnya intake

makanan yang adekuat


68

3.1.10 INTERVENSI KEPERAWATAN HIPERTERMI Dx.1


Tabel 1. 10 Intervensi Hipertermi Tn “I”
No. Tujuan,
DX Kriteria Hasil Intervensi Rasional

1. Setelah dilakukan 1) Lakukan BHSP 1). Dengan


Dx.1
tindakan
(Menjelaskan maksud melakukan BHSP
keperawatan selama
dan tujuan) diharapkan pasien
3x24 jam diharapkan
masalah 2) Monitor suhu kooperatif dengan
keperawatan dapat
minimal tiap 2 jam tindakan
teratasi dengan
3) Monitor TD, nadi, 2). Agar tidak
criteria hasil:
1) Suhu tubuh dalam dan RR terjadi dehidrasi
rentang normal 36,5-
4) Monitor warna dan dan proses
37,5 C
suhu kulit penguapan yang
2) Nadi dan RR
dalam rentang 5) Menganjurkan berlebihan akibat
normal 16-20
pasien untuk banyak suhu tubuh yang
x/menit
minum air putih meningkat.
3) Tidak ada
perubahan warna 6) Beri kompres pada 3). Mengetahui
kulit dan tidak ada
daerah dahi keadaan umum
pusing, merasa
7) Kompres pasien pasien
nyaman
pada lipat paha dan 4). Mengetahui

aksila Perubahan status

8) Anjurkan untuk hidrasi, membran

mengenakan pakaian mukosa, turgor

yang tipis kulit

menggambarkan
69

9) Selimuti pasien berat ringannya

untuk mencegah kekurangan cairan.

hilangnya kehangatan 5). Peningkatan

tubuh suhu tubuh

10) Berikan mengakibatkan

pengobatan pemberian penguapan tubuh

terapi antibiotik dan meningkat,

antipiretik untuk sehingga perlu

mengatasi penyebab diimbangi dengan

demam K. kolaborasi asupan cairan yang

dengan dokter. banyak

11) Dokumentasikan 6). Pemberian

hasil tindakan dalam kompres dapat

catatan rekam medik menyebabkan

peralihan panas

secara konduksi

dan membantu

tubuh untuk

menyesuaikan

terhadap panas dan

memberi rasa

nyama

7). Diharapkan

panas dapat turun


70

dengan cepat dan

memberikan rasa

nyaman.

8). Agar keringat

yang keluar dapat

diserap oleh

pakaian yang tipis

dan memberikan

rasanyaman

9). Agar mencgar

komplikasi lebih

lanjut

10). antibiotik

untuk mengurangi

infeksi dan

antipiretik untuk

mengurangi panas

.
71

3.1.11 INTERVENSI KETIDAK SEIMBANGAN NUTRISI KURANG

DARI KEBUTUHAN TUBUH Dx.2

Tabel 1. 11 Intervensi Ketidak Seimbangan Nutrisi Kurang dari


Kebutuhan Tubuh Tn “I”
No. Tujuan,
Intervensi Rasional
DX Kriteria Hasil
1. Setelah dilakukan 1). Lakukan BHSP 1). Dengan
Dx.2 tindakan keperawatan (Menjelaskan melakukan BHSP
selama 3x24 jam maksud dan diharapkan pasien
diharapkan masalah tujuan) kooperatif dengan
keperawatan dapat 2). Kaji adanya tindakan
teratasi dengan criteria alergi makanan 2). Mengetahui
hasil: 3). Kolaborasi jenis makanan
1). Adanya peningkatan dengan ahli gizi yang cocok untuk
berat badan sesuai untuk menentukan pasien.
dengan tujuan jumlah kalori dan 3). Memberikan
2). Berat badan ideal nutrisi yang diit yang tepat D.
sesuai dengan tinggi dibutuhkan pasien. untuk
badan 4). Beri nutrisi meningkatkan
3). Mampu asupan makanan
dengan diet
mengidentifikasi karena mudah
lembek, tidak
kebutuhan nutrisi ditelan
4). Tidak ada tanda mengandung 4). Agar dapat
tanda malnutrisi mengurangi
banyak serat, tidak
5). Tidak terjadi kepahitan selera
merangsang
penurunan berat badan dan menambah
yang berarti maupun rasa nyaman
dimulut.
menimbulkan
5). Agar makan
banyak gas dan
pasien kembali
normal
72

dihidangkan saat 6). Antasida


mengurangi rasa
masih hangat.
mual dan muntah,
5). Lakukan oral
Nutrisi parentral
hygiene dan dibutuhkan
anjurkan klien terutama jika
menggosok gigi kebutuhan nutrisi
setiap hari. per oral sangat
6). Anjurkan kurang.
makan sedikit tapi
sering.
7). Kolabarasi
dengan dokter
untuk pemberian
antasida dan
pemberian nutrisi
parentral.
8).Dokumentasika
n hasil tindakan
dalam catatan
rekam medik.
73

3.1.12 IMPLEMENTASI HIPERTERMI Dx.1

Tabel 1. 12 Implementasi Hipertermi Tn “I” tanggal 22 Juli 2019


HARI/ DIAGNOSA
TANGGAL KEPERAW IMPLEMENTASI WAKTU PARAF
ATAN
Senin, 22 Hipertermi 1) Melakukan 12.00
BHSP
Juli 2019 berhubungan
(Menjelaskan
dengan
maksud dan tujuan)
respon 2) Memonitor suhu 12.00
minimal tiap 2 jam
sistemik dari
3) Memonitor TD, 12.00
inflamasi
nadi, dan RR
gastrointestin 4) Memonitor 12.00
warna dan suhu
al (Dx.1)
kulit
5) Menganjurkan 12.00
pasien untuk
banyak minum air
putih
6) Lakukan 13.30
Kompres pada
daerah dahi.
7) Lakukan 13.30
Kompres pasien
pada lipat paha dan
aksila
8) Menganjurkan 13.32
untuk mengenakan
pakaian yang tipis.
9) Menganjurkan 13.32
Selimuti pasien
74

untuk mencegah
hilangnya
kehangatan tubuh.
10) Memberikan
12.00
pengobatan
pemberian terapi
antibiotik dan
antipiretik untuk
mengatasi
penyebab demam
kolaborasi dengan
dokter.
11) Mendokumen
tasikan hasil
tindakan dalam
catatan rekam
medik
75

3.1.13 IMPLEMENTASI KETIDAK SEIMBANGAN NUTRISI


KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH Dx.2
Tabel 1. 13Implementasi Ketidak Seimbangan Nutrisi Kurang dari
Kebutuhan Tubuh Tn “I” tanggal 22 Juli 2019

HARI/ DIAGNOSA
TANGGAL KEPERAW IMPLEMENTASI WAKTU PARAF
ATAN
Senin, 22 Ketidakseim 1) Melakukan 12.00
Juli bangan BHSP
2019 nutrisi (Menjelaskan
kurang dari maksud dan
kebutuhan tujuan).
tubuh 2) Mengkaji adanya 08.00
berhubungan alergi makanan.
dengan 3) Mengkolaborasi 08.00
kurangnya kan dengan ahli gizi
intake untuk menentukan
makanan jumlah kalori dan
yang adekuat nutrisi yang
(Dx.2) dibutuhkan pasien.
4) Memberi nutrisi 12.00
dengan diet lembek,
tidak mengandung
banyak serat, tidak
merangsang
maupun
menimbulkan
banyak gas dan
dihidangkan saat
masih hangat.

5) Melakukan oral
12.00
hygiene dan
76

anjurkan klien
menggosok gigi
setiap hari.
6) Menganjurkan 12.00
makan sedikit tapi
sering.

7) Mengolabarasika
12.00
n dengan dokter
untuk pemberian
antasida dan
pemberian nutrisi
parentral.
8) Mendokumentasi
kan hasil tindakan
dalam catatan
rekam medik
77

3.1.14 IMPLEMENTASI HIPERTERMI Dx.1

Tabel 1. 14 Implementasi Hipertermi Tn “I” tanggal 23 Juli 2019


HARI/ DIAGNOSA
TANGGAL KEPERAW IMPLEMENTASI WAKTU PARAF
ATAN
Senin, 23 Hipertermi 1). Melakukan 12.00
BHSP
Juli 2019 berhubungan
(Menjelaskan
dengan
maksud dan tujuan)
respon 2). Memonitor suhu 12.00
minimal tiap 2 jam
sistemik dari
3). Memonitor TD, 12.00
inflamasi
nadi, dan RR
gastrointestin 4). Memonitor 12.00
warna dan suhu
al (Dx.1)
kulit
5). Menganjurkan 12.00
pasien untuk
banyak minum air
putih
6). Lakukan 13.30
Kompres pada
daerah dahi.
7). Lakukan 13.30
Kompres pasien
pada lipat paha dan
aksila
8). Menganjurkan 13.32
untuk mengenakan
pakaian yang tipis.
9). Menganjurkan 13.32
Selimuti pasien
78

untuk mencegah
hilangnya
kehangatan tubuh.
10). Memberikan
12.00
pengobatan
pemberian terapi
antibiotik dan
antipiretik untuk
mengatasi
penyebab demam
kolaborasi dengan
dokter.
Mendokumentasika
n hasil tindakan
dalam catatan
rekam medik
79

3.1.15 IMPLEMENTASI KETIDAK SEIMBANGAN NUTRISI


KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH Dx.2
Tabel 1. 15 Implementasi Ketidak Seimbangan Nutrisi Kurang dari
Kebutuhan Tubuh Tn “I” tanggal 23 Juli 2019

HARI/ DIAGNOSA
TANGGAL KEPERAW IMPLEMENTASI WAKTU PARAF
ATAN
Senin, 23 Ketidakseimb 1) Melakukan 12.00
Juli angan nutrisi BHSP
2019 kurang dari (Menjelaskan
kebutuhan maksud dan
tubuh tujuan).
berhubungan 2) Mengkaji 08.00
dengan adanya alergi
kurangnya makanan.
intake 3) Mengkolaborasi 08.00
makanan yang kan dengan ahli gizi
adekuat untuk menentukan
(Dx.2) jumlah kalori dan
nutrisi yang
dibutuhkan pasien.
4) Memberi nutrisi 12.00
dengan diet lembek,
tidak mengandung
banyak serat, tidak
merangsang
maupun
menimbulkan
banyak gas dan
dihidangkan saat
masih hangat.

5) Melakukan oral
80

hygiene dan 12.00


anjurkan klien
menggosok gigi
setiap hari.
6) Menganjurkan 12.00
makan sedikit tapi
sering.

7) Mengolabarasik
12.00
an dengan dokter
untuk pemberian
antasida dan
pemberian nutrisi
parentral.
8) Mendokumenta
sikan hasil tindakan
dalam catatan
rekam medik
81

3.1.16 IMPLEMENTASI HIPERTERMI Dx.1

Tabel 1. 16 Implementasi Hipertermi Tn “I” tanggal 24 Juli 2019


HARI/ DIAGNOSA
TANGGAL KEPERAW IMPLEMENTASI WAKTU PARAF
ATAN
Senin, 24 Hipertermi 1). Melakukan 12.00
BHSP
Juli 2019 berhubungan
(Menjelaskan
dengan
maksud dan tujuan)
respon 2). Memonitor suhu 12.00
minimal tiap 2 jam
sistemik dari
3). Memonitor TD, 12.00
inflamasi
nadi, dan RR
gastrointestin 4). Memonitor 12.00
warna dan suhu
al (Dx.1)
kulit
5). Menganjurkan 12.00
pasien untuk
banyak minum air
putih
6). Lakukan 13.30
Kompres pada
daerah dahi.
7). Lakukan 13.30
Kompres pasien
pada lipat paha dan
aksila
8). Menganjurkan
13.32
untuk mengenakan
pakaian yang tipis.
9). Menganjurkan
Selimuti pasien 13.32
82

untuk mencegah
hilangnya
kehangatan tubuh.
10). Memberikan
12.00
pengobatan
pemberian terapi
antibiotik dan
antipiretik untuk
mengatasi
penyebab demam
kolaborasi dengan
dokter.
11).Mendokumenta
sikan hasil tindakan
dalam catatan
rekam medik
83

3.1.17 IMPLEMENTASI KETIDAK SEIMBANGAN NUTRISI


KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH Dx.2
Tabel 1. 17 Implementasi Ketidak Seimbangan Nutrisi Kurang dari
Kebutuhan Tubuh Tn “I” tanggal 24 Juli 2019

HARI/ DIAGNOSA
TANGGAL KEPERAW IMPLEMENTASI WAKTU PARAF
ATAN
Senin, 24 Ketidakseim 1) Melakukan 12.00
Juli bangan BHSP
2019 nutrisi (Menjelaskan
kurang dari maksud dan
kebutuhan tujuan).
tubuh 2) Mengkaji adanya 08.00
berhubungan alergi makanan.
dengan 3) Mengkolaborasi 08.00
kurangnya kan dengan ahli gizi
intake untuk menentukan
makanan jumlah kalori dan
yang adekuat nutrisi yang
(Dx.2) dibutuhkan pasien.
4) Memberi nutrisi 12.00
dengan diet lembek,
tidak mengandung
banyak serat, tidak
merangsang
maupun
menimbulkan
banyak gas dan
dihidangkan saat
masih hangat.

5) Melakukan oral
12.00
hygiene dan
84

anjurkan klien
menggosok gigi
setiap hari.
6) Menganjurkan 12.00
makan sedikit tapi
sering.

7) Mengolabarasika
12.00
n dengan dokter
untuk pemberian
antasida dan
pemberian nutrisi
parentral.
8) Mendokumentasi
kan hasil tindakan
dalam catatan
rekam medik
85

3.1.18 EVALUASI

Tabel 1. 18 Evaluasi Hipertermi Tn “I” Hari ke 1 : Dx.1


HARI/ DIAGNOSA EVALUASI
TANGGAL KEPERAWATAN
Senin, 22 Hipertermi S:

Juli 2019 berhubungan dengan 1) Pasien mengatakan demam

(12.00) respon sistemik dari sudah dirasakan sejak 3 hari yang

Siff Pagi inflamasi lalusebelum masuk Rumah Sakit.

gastrointestinal 2) Pasien mengatakan demamnya

(Dx.1) tinggi pada waktu siang dan

malam hari. Batuk dan pusing

O: Pasien tampak lemah

TTV :

1) S : 38,6 C.

2) TD : 90/60 mmHg.

3) N : 82 x/menit.

4) RR : 20 x/menit.

5) Bibir tampak kering.

6) Akral terapa panas

7) Konjungtiva merah muda

Terapi :

1) Paracetamol 3x1

2) Antrain 2 ml 3x1

3) Ranitidine 50mg/2ml 2x1

4) Infus Ringer Laktat (RL)


86

500mg, 28 tetes/menit

5) Omeprazole 40mg 2x1

6) Infarsyl

A: Masalah belum teratasi.

P: Lanjutkan Intervensi

1) Monitor suhu minimal tiap 2


jam
2) Monitor TD, nadi, dan RR
3) Monitor warna dan suhu kulit
4) Menganjurkan pasien untuk
banyak minum air putih
5) Beri kompres pada daerah
dahi
6) Kompres pasien pada lipat
paha dan aksila
7) Anjurkan untuk mengenakan
pakaian yang tipis
8) Selimuti pasien untuk
mencegah hilangnya kehangatan
tubuh
9) Berikan pengobatan
pemberian terapi antibiotik dan
antipiretik untuk mengatasi
penyebab demam kolaborasi
dengan dokter.
87

Senin, 22 Hipertermi S:

Juli 2019 berhubungan dengan 1) Pasien mengatakan setelah

(20.00) respon sistemik dari minum obat, panasnya menurun.

Siff Sore inflamasi Selang waktu panas badanya terasa

gastrointestinal panas lagi. Pusing, batuk.

(Dx.1) 2) Keluarga mengatakan telah

mengompres pasien ketika panas 1

kali dalam 10 menit.

O: TTV :

1) K/U : Lemah

2) TD : 100/70 mmHg

3) S : 38.0 C

4) N : 84 x/menit

5) RR : 20x/menit

6) Bibir tampak kering

7) Akral teraba panas

8) Pasien tampak dikompres oleh

keluarga.

Terapi :

1) Paracetamol

2) Infarsyl

3) Antrain

4) Infus Ringer Laktat (RL)

500mg, 28 tetes/menit
88

A: Masalah belum teratasi.

P: Lanjutkan intervensi

1) Monitor suhu minimal tiap 2

jam

2) Monitor TD, nadi, dan RR

3) Monitor warna dan suhu kulit

4) Menganjurkan pasien untuk

banyak minum air putih

5) Beri kompres pada daerah dahi

6) Kompres pasien pada lipat

paha dan aksila

7) Anjurkan untuk mengenakan

pakaian yang tipis

8) Selimuti pasien untuk

mencegah hilangnya kehangatan

tubuh

9) Berikan pengobatan pemberian

terapi antibiotik dan antipiretik

untuk mengatasi penyebab demam

10) kolaborasi dengan dokter.


89

Senin, 22 Hipertermi S: Pasien mengatakan panasnya

Juli 2019 berhubungan dengan sudah mendingan, badan lemas,

(00.00) respon sistemik dari pusing, batuk

Siff Malam inflamasi O: TTV :


gastrointestinal 1) K/U : Lemah

(Dx.1) 2) S : 37,6 C

3) TD : 100/70

4) N : 82 x/menit

5) RR : 20 x/menit

6) Akral teraba hangat

7) Pasien tampak sering minum

air putih sedikit-sedikit.

Terapi :

1) Infus Ringer Laktat (RL)

500mg, 28 tetes/menit

2) Paracetamol

3) Infarsyl

A: Masalah belum teratasi.

P: Lanjutkan intervensi

1) Monitor suhu minimal tiap 2

jam

2) Monitor TD, nadi, dan RR

3) Monitor warna dan suhu kulit


90

4) Menganjurkan pasien untuk

banyak minum air putih

5) Beri kompres pada daerah dahi

6) Kompres pasien pada lipat paha

dan aksila

7) Anjurkan untuk mengenakan

pakaian yang tipis

8) Selimuti pasien untuk

mencegah hilangnya kehangatan

tubuh

9) Berikan pengobatan pemberian

terapi antibiotik dan antipiretik

untuk mengatasi penyebab demam

10) kolaborasi dengan dokter


91

Tabel 1. 19 Evaluasi Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan


tubuh Tn “I” Hari ke 1 : Dx.1 Hari ke 1 : Dx.2
HARI/ DIAGNOSA EVALUASI
TANGGAL KEPERAWATAN
Senin, 22 Ketidakseimbangan S: Pasien mengatakan mual,

Juli 2019 nutrisi kurang dari muntah, mulut terasa pahit, nafsu

(12.00) kebutuhan tubuh makan berkurang sudah 3 hari.

(Siff Pagi) berhubungan dengan O: TTV :

kurangnya intake 1) K/U : Lemah

makanan yang adekuat 2) TD : 90/60 mmHg

(Dx.2) 3) N : 82 x/menit

4) S : 38,6 C.

5) RR : 20 x/menit

6) BB Sebelum sakit : 62Kg

7) BB ketika sakit : 61Kg

8) Pasien hanya menghabiskan

3-5 sendok makan

A: Masalah belum teratasi

P: Lanjutkan intervensi.

1) Kolaborasi dengan ahli gizi

untuk menentukan jumlah kalori

dan nutrisi yang dibutuhkan

pasien.

2) Beri nutrisi dengan diet

lembek, tidak mengandung


92

banyak serat, tidak merangsang

maupun menimbulkan banyak gas

dan dihidangkan saat masih

hangat.

3) Lakukan oral hygiene dan

anjurkan klien menggosok gigi

setiap hari.

4) Anjurkan makan sedikit tapi

sering.

5) Kolabarasi dengan dokter

untuk pemberian antasida dan

pemberian nutrisi parentral.

Senin, 22 Ketidakseimbangan S: Pasien mengatakan, masih mual

Juli 2019 nutrisi kurang dari dan nafsu makan masih kurang.

(20.00) kebutuhan tubuh O: TTV :

(Siff Sore) berhubungan dengan 1) K/U : Lemah

kurangnya intake 2) TD : 100/70 mmHg

makanan yang adekuat 3) N : 84 x/menit

(Dx.2) 4) S : 38,0 C.

5) RR : 20 x/menit

6) Pasien hanya menghabiskan 3

sendok makan.

A: Masalah belum teratasi

P: Lanjutkan intervensi
93

1) Kolaborasi dengan ahli gizi

untuk menentukan jumlah kalori

dan nutrisi yang dibutuhkan

pasien.

2) Beri nutrisi dengan diet

lembek, tidak mengandung

banyak serat, tidak merangsang

maupun menimbulkan banyak gas

dan dihidangkan saat masih

hangat.

3) Lakukan oral hygiene dan

anjurkan klien menggosok gigi

setiap hari.

4) Anjurkan makan sedikit tapi

sering.

5) Kolabarasi dengan dokter

untuk pemberian antasida dan

pemberian nutrisi parentral.


94

Senin, 22 Ketidakseimbangan S: Pasien mengatakan masih mual

Juli 2019 nutrisi kurang dari ketika makan, dan mulut masih

(00.00) kebutuhan tubuh terasa pahit.

(Siff berhubungan dengan O: TTV :

Malam) kurangnya intake 1) K/U : Lemah

makanan yang adekuat 2) Pasien hanya menghabiskan 3

(Dx.2) sendok makan.

3) TD : 100/70 mmHg

4) S : 37,6 C

5) N : 82 x/menit

6) RR : 20x/menit

7) Pasien mual ketika makan

A: Masalah belum teratasi.

P: Lanjutkan intervensi.

1) Kolaborasi dengan ahli gizi

untuk menentukan jumlah kalori

dan nutrisi yang dibutuhkan

pasien.

2) Beri nutrisi dengan diet

lembek, tidak mengandung

banyak serat, tidak merangsang

maupun menimbulkan banyak gas

dan dihidangkan saat masih

hangat.
95

3) Lakukan oral hygiene dan

anjurkan klien menggosok gigi

setiap hari.

4) Anjurkan makan sedikit tapi

sering.

5) Kolabarasi dengan dokter

untuk pemberian antasida dan

pemberian nutrisi parentral.


96

Tabel 1. 20 Evaluasi Hipertermi Tn “I” Hari ke 2 : Dx.1


HARI/ DIAGNOSA EVALUASI
TANGGAL KEPERAWATAN
Selasa, 23 Hipertermi S:

Juli 2019 berhubungan dengan 1) Pasien mengatakan dipagi hari

(12.00) respon sistemik dari sudah tidak merasakan panas. Dan

Siff Pagi inflamasi sekarang badanya terasa panas

gastrointestinal lagi, dan masih batuk.

(Dx.1) 2) Pasien mengatakan sudah

(Perkembangan) banyak minum air putih sejak tadi.

O: TTV :

1). K/U : Lemah

2). S : 38.0 C

3) TD : 110/80

4) N : 82 x/menit

5) RR : 20 x/menit

6) Pasien terlihat pucat

7) Akral teraba panas

8) Pasien tampak sering minum

air putih sedikit-sedikit.

9) Pasien tampak di kompres

oleh keluarga.

10) Pasien tampak memakai baju

kain tipis/kain yang bisa

meresabnya keringat.
97

11) Pasien tampak tidak memakai

selimut.

Terapi :

1). Infus Ringer Laktat (RL)

500mg, 28 tetes/menit

2). Paracetamol

3). Antrain

4). Infarsyl

A: Masalah belum teratasi.

P: Lajutkan intervensi.

1) Monitor suhu minimal tiap 2

jam

2) Monitor TD, nadi, dan RR

3) Monitor warna dan suhu kulit

4) Menganjurkan pasien untuk

banyak minum air putih

5) Beri kompres pada daerah

dahi

6) Kompres pasien pada lipat

paha dan aksila

7) Anjurkan untuk mengenakan

pakaian yang tipis


98

8) Selimuti pasien untuk

mencegah hilangnya kehangatan

tubuh

9) Berikan pengobatan

pemberian terapi antibiotik dan

antipiretik untuk mengatasi

penyebab demam kolaborasi

dengan dokter.

Selasa, 23 Hipertermi S: Pasien mengatakan demam

Juli 2019 berhubungan dengan sudah berkurang. Sudah tidak

(20.00) respon sistemik dari merasakan demam seperti siang

Siff Sore inflamasi tadi tetapi masih pusing.

gastrointestinal O: TTV :

(Dx.1) 1) K/U : Cukup

(Perkembangan) 2) S : 37 C

3) TD : 110/70

4) N : 83 x/menit

5) RR : 20 x/menit

6) Akral teraba hangat

Terapi :

1). Infus Ringer Laktat (RL)

500mg, 28 tetes/menit

2). Ranitidine
99

3). Paracetamol

4). Infarsil

A: Masalah teratasi sebagian

P: Lanjutkan intervensi

1). Monitor suhu minimal tiap 2

jam

2). Monitor TD, nadi, dan RR

3). Monitor warna dan suhu kulit

4). Menganjurkan pasien untuk

banyak minum air putih

5). Beri kompres pada daerah dahi

6). Kompres pasien pada lipat

paha dan aksila

7). Anjurkan untuk mengenakan

pakaian yang tipis

8) Selimuti pasien untuk

mencegah hilangnya kehangatan

tubuh

9). Berikan pengobatan

pemberian terapi antibiotik dan

antipiretik untuk mengatasi

penyebab demam

10). kolaborasi dengan dokter


100

Selasa, 23 Hipertermi S: Pasien mengatakan sudah tidak

Juli 2019 berhubungan dengan demam tagi.

(00.00) respon sistemik dari O: TTV :

Siff Malam inflamasi 1) K/U : Cukup

gastrointestinal 2) S : 36,5 C

(Dx.1) 3) TD : 110/70

(Perkembangan) 4) N : 82 x/menit

5) RR : 20 x/menit

6) Akral teraba hangat

7) Pasien terlihat tidur dengan

nyenyak.

A: Masalah teratasi sebagian

P: Lanjutkan intervensi

1) Monitor suhu minimal tiap 2

jam.

2) Monitor TD, nadi, dan RR.

3) Monitor warna dan suhu

kulit .

4) Menganjurkan pasien untuk

banyak minum air putih.

5) Selimuti pasien untuk

mencegah hilangnya kehangatan

tubuh.
101

6) Berikan pengobatan

pemberian terapi antibiotik dan

antipiretik untuk mengatasi

penyebab demam.

7) kolaborasi dengan dokter.


102

Tabel 1. 21 Evaluasi Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan


tubuh Tn “I” Hari ke 2 : Dx.2
HARI/ DIAGNOSA EVALUASI
TANGGAL KEPERAWATAN
Selasa, 23 Juli Ketidakseimbangan S: Pasien mengatakan masih

2019 (12.00) nutrisi kurang dari mual ketika makan tapi

(Siff Pagi) kebutuhan tubuh sudah tidak muntah, dan

berhubungan dengan mulut masih terasa pahit.

kurangnya intake O: TTV :


1) K/U : Lemah
makanan yang adekuat
2) S : 38.0 C
(Dx.2)
3) TD : 110/80 mmHg
(Perkembangan)
4) N : 82 x/menit

5) RR : 20 x/menit

6) Pasien hanya

menghabiskan 4 sendok

makan

7) Pasien mual ketika

makan

A: Masalah belum teratasi

P: Lanjutkan intervensi
1) Kolaborasi dengan ahli

gizi untuk menentukan

jumlah kalori dan nutrisi

yang dibutuhkan pasien.


103

2) Beri nutrisi dengan diet

lembek, tidak mengandung

banyak serat, tidak

merangsang maupun

menimbulkan banyak gas

dan dihidangkan saat masih

hangat.

3) Lakukan oral hygiene

dan anjurkan klien

menggosok gigi setiap hari.

4) Anjurkan makan sedikit

tapi sering.

5) Kolabarasi dengan dokter

untuk pemberian antasida

dan pemberian nutrisi

parentral.

Selasa, 23 Juli Ketidakseimbangan S: Pasien mengatakan, ketika

2019 (20.00) nutrisi kurang dari makan sudah hampir habis,

(Siff Sore) kebutuhan tubuh dan mual sudah berkurang

berhubungan dengan O: TTV :

kurangnya intake 1) K/U : Cukup

makanan yang adekuat 2) S : 37 C

(Dx.2) 3) TD : 110/70
104

(Perkembangan) 4) N : 83 x/menit

5) RR : 20 x/menit

6) Pasien hampir

menghabiskan makanannya

7) Pasien terlihat tenang dan

terbaring santai

A: Masalah teratasi sebagian

P: Lanjutkan intervensi
1) Kolaborasi dengan ahli

gizi untuk menentukan

jumlah kalori dan nutrisi

yang dibutuhkan pasien.

2) Beri nutrisi dengan diet

lembek, tidak mengandung

banyak serat, tidak

merangsang maupun

menimbulkan banyak gas

dan dihidangkan saat masih

hangat.

3) Lakukan oral hygiene

dan anjurkan klien

menggosok gigi setiap hari.

4) Anjurkan makan sedikit

tapi sering.
105

5) Kolabarasi dengan

dokter untuk pemberian

antasida dan pemberian

nutrisi parentral.

Selasa, 23 Juli Ketidakseimbangan S: Pasien mengatakan, ketika

2019 (00.00) nutrisi kurang dari makan sudah hampir habis,

(Siff Malam) kebutuhan tubuh dan mual sudah berkurang

berhubungan dengan O: TTV :

kurangnya intake 1) K/U : Cukup

makanan yang adekuat 2) S : 36,5 C

(Dx.2) 3) TD : 110/70

(Perkembangan) 4) N : 82 x/menit

5) RR : 20 x/menit

6) Pasien tertidur nyaman.

7) Pasien tidak mual ketika

makan.

A: Masalah teratasi sebagian.

P: Lanjutkan intervensi
1) Kolaborasi dengan ahli

gizi untuk menentukan


106

jumlah kalori dan nutrisi

yang dibutuhkan pasien.

2) Beri nutrisi dengan diet

lembek, tidak mengandung

banyak serat, tidak

merangsang maupun

menimbulkan banyak gas

dan dihidangkan saat masih

hangat.

3) Lakukan oral hygiene

dan anjurkan klien

menggosok gigi setiap hari.

4) Anjurkan makan sedikit

tapi sering.

5) Kolabarasi dengan dokter

untuk pemberian antasida

dan pemberian nutrisi

parentral.
107

Tabel 1. 22 Evaluasi Hipertermi “I” Hari ke 3 : Dx.1


HARI/ DIAGNOSA EVALUASI
TANGGAL KEPERAWATAN
Rabu, 24 Hipertermi S: Pasien mengatakan sudah tidak

Juli 2019 berhubungan dengan demam lagi. Dan sudah tidak

(12.00) respon sistemik dari pusing lagi. Tetapi masih batuk.

Siff Pagi inflamasi O: TTV :

gastrointestinal 1) K/U : Cukup

(Dx.1) 2) S : 36,1 C

(Akhir) 3) TD : 120/80

4) N : 84 x/menit

5) RR : 20 x/menit

6) Akral teraba hangat

7) Pasien tambak rileks

A: Masalah teratasi sebagian

P: Lanjutkan intervensi Pasien

rencana pulang.

1) Monitor suhu minimal tiap 2

jam.

2) Monitor TD, nadi, dan RR.

3) Monitor warna dan suhu kulit .

4) Menganjurkan pasien untuk

banyak minum air putih.


108

5) Selimuti pasien untuk

mencegah hilangnya kehangatan

tubuh.

6) Berikan pengobatan

pemberian terapi antibiotik dan

antipiretik untuk mengatasi

penyebab demam.

7) kolaborasi dengan dokter.

Rabu, 24 Hipertermi S: Pasien mengatakan sudah tidak

Juli 2019 berhubungan dengan demam lagi. Dan sudah dan sudah

(20.00) respon sistemik dari merasa enakan badanya, sudah

Siff Sore inflamasi tidak pusing. Tetapi masih batuk.

gastrointestinal O: TTV :

(Dx.1) 1) K/U : Cukup.

(Akhir) 2) S : 36,3 C.

3) TD : 110/80 mmHg.

4) N : 84 x/menit.

5) RR : 20 x/menit.

6) Akral teraba hangat .

7) Pasien tampak rileks.

8) Pasien tampak tidak pucat.

A: Masalah teratasi sebagian


pasien rencana pulang.

P: Lanjutkan intervensi.
109

1) Monitor suhu minimal tiap 2

jam.

2) Monitor TD, nadi, dan RR.

3) Monitor warna dan suhu kulit .

4) Menganjurkan pasien untuk

banyak minum air putih.

5) Selimuti pasien untuk

mencegah hilangnya kehangatan

tubuh.

6) Berikan pengobatan pemberian

terapi antibiotik dan antipiretik

untuk mengatasi penyebab demam.

7) kolaborasi dengan dokter.

Rabu, 24 Hipertermi S: Pasien mengatakan sudah tidak


ada keluhan
Juli 2019 berhubungan dengan
O: TTV :
(00.00) respon sistemik dari
1) K/U : Cukup.
Siff Malam inflamasi
2) S : 36,0 C.
gastrointestinal
3) TD : 110/80 mmHg.
(Dx.1)
4) N : 84 x/menit.
(Akhir)
5) RR : 20 x/menit.

6) Akral teraba hangat .

7) Pasien tampak rileks.

8) Pasien tampak tidak pucat.

A: Masalah teratasi sebagian


110

pasien rencana pulang.

P: Lanjutkan intervensi.

1) Monitor suhu minimal tiap 2

jam.

2) Monitor TD, nadi, dan RR.

3) Monitor warna dan suhu kulit .

4) Menganjurkan pasien untuk

banyak minum air putih.

5) Selimuti pasien untuk

mencegah hilangnya kehangatan

tubuh.

6) Berikan pengobatan pemberian

terapi antibiotik dan antipiretik

untuk mengatasi penyebab

demam.

7) kolaborasi dengan dokter.


111

Tabel 1. 23 Evaluasi Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan


tubuh Tn “I” Hari ke 3 : Dx.2
HARI/ DIAGNOSA EVALUASI
TANGGAL KEPERAWATAN
Rabu, 24 Ketidakseimbangan S: Pasien mengatakan sudah

Juli 2019 nutrisi kurang dari tidak mual, tidak muntah. Nafsu

(12.00) kebutuhan tubuh makan mulai ada.

(Siff Pagi) berhubungan dengan O: TTV :


1) K/U : Cukup
kurangnya intake
2) S : 36,1 C
makanan yang adekuat
3) TD : 120/80
(Dx.2)
4) N : 84 x/menit
(Akhir)
5) RR : 20 x/menit

6) Pasien mengatakan sudah

menghabiskan makanan 1 porsi

7) Pasien mengatakan badan

sudah tidak lemas lagi.

A: Masalah teratasi sebagian

P: Lanjut intervensi Pasien

rencana pulang.

1) Kolaborasi dengan ahli gizi

untuk menentukan jumlah kalori

dan nutrisi yang dibutuhkan

pasien.

2) Beri nutrisi dengan diet

lembek, tidak mengandung


112

banyak serat, tidak merangsang

maupun menimbulkan banyak

gas dan dihidangkan saat masih

hangat.

3) Lakukan oral hygiene dan

anjurkan klien menggosok gigi

setiap hari.

4) Anjurkan makan sedikit tapi

sering.

5) Kolabarasi dengan dokter

untuk pemberian antasida dan

pemberian nutrisi parentral.

Rabu, 24 Ketidakseimbangan S: Pasien mengatakan sudah

Juli 2019 nutrisi kurang dari menghabiskan makanannya,

(20.00) kebutuhan tubuh Pasien tidak mual, mulut pasien

(Siff Sore) berhubungan dengan sudah tidak terasa pahit pasien

kurangnya intake tidak lemas lagi.

makanan yang adekuat


O: TTV :
(Dx.2)
1) K/U : Cukup.
(Akhir)
2) S : 36,3 C.

3) TD : 110/80 mmHg.

4) N : 84 x/menit.

5) RR : 20 x/menit.
113

6) Pasien tampak rileks.

7) Pasien tampak menghabiskan

makanan.

8) Pasien tampak lahap makan.

9) Pasien juga menghabiskan

minuman tea yang di belikan oleh

keluarga.

A; Masalah teratasi sebagian


pasien rencana pulang.

P: Lanjut intervensi Pasien

rencana pulang.

1) Kolaborasi dengan ahli gizi

untuk menentukan jumlah kalori

dan nutrisi yang dibutuhkan

pasien.

2) Beri nutrisi dengan diet

lembek, tidak mengandung

banyak serat, tidak merangsang

maupun menimbulkan banyak

gas dan dihidangkan saat masih

hangat.
114

3) Lakukan oral hygiene dan

anjurkan klien menggosok gigi

setiap hari.

4) Anjurkan makan sedikit tapi

sering.

5) Kolabarasi dengan dokter

untuk pemberian antasida dan

pemberian nutrisi parentral.

Rabu, 24 Ketidakseimbangan S: Pasien mengatakan sudah

Juli 2019 nutrisi kurang dari tidak mual ketika makan, pasien

(00.00) kebutuhan tubuh sudah lahap makan. Pasien

(Siff berhubungan dengan tampak tertidur pulas

Malam) kurangnya intake O: TTV :

makanan yang adekuat 1) K/U : Cukup.

(Dx.2) 2) S : 36,0 C.

(Akhir) 3) TD : 110/80 mmHg.

4) N : 84 x/menit.

5) RR : 20 x/menit.

6) Akral teraba hangat .

7) Pasien tampak rileks.

8) Pasien tampak tidak pucat.

9) Pasien tampak menghabiskan

makananya.
115

10) Pasien tampak menghabiskan

biscuit yang di bawakan

keluarganya.

A: Masalah teratasi sebagian


pasien rencana pulang.

P: Lanjut intervensi Pasien

rencana pulang.

1) Kolaborasi dengan ahli gizi

untuk menentukan jumlah kalori

dan nutrisi yang dibutuhkan

pasien.

2) Beri nutrisi dengan diet

lembek, tidak mengandung

banyak serat, tidak merangsang

maupun menimbulkan banyak

gas dan dihidangkan saat masih

hangat.

3) Lakukan oral hygiene dan

anjurkan klien menggosok gigi

setiap hari.

4) Anjurkan makan sedikit tapi

sering.
116

5) Kolabarasi dengan dokter

untuk pemberian antasida dan

pemberian nutrisi parentral.


LAPORAN KEGIATAN KELOMPOK
PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN KMB
MINGGU KE 5 TANGGAL 02-07 NOVEMBER 2020

Hari dan Jumlah Mahasiswa


Waktu Topik Keterangan Bukti Kegiatan
Tanggal Hadir Tidak Hadir
Senin, 02 08.30 Diskusi patofisiologi 4 - -
Nov 2020
Kamis, 05 09.00 Diskusi asuhan 4 - -
Nov 2020 keperawatan, analisis
jurnal, dan analisis
video tindakan

Anda mungkin juga menyukai