Anda di halaman 1dari 18

TUJUAN SITUASIONAL/SASARAN PENGEMBANGAN TAS

1 TAHUN DAN 4 TAHUN KE DEPAN

Standar Tenaga Kependidikan

No Komponen Kondisi Kondisi Yang Rencana Aksi Waktu Penanggung


. Saat Ini akan Datang Pelaksanaan Jawab
1 4
Tahun Tahun

1 Kegiatan 50 % 75 % 100 % a.Melaksanakan Januari – April Kasubag Tata


peningkatan workshop Usaha
kualifikasi berkelanjutan
Tenaga
Kependidikan / b.Mengikutsertakan
TAS TAS dalam seminar
dan pelatihan yang
berkesinambungan

Januari-
Kegiatan a.Melaksanakan
workshop Desember Kasubag Tata
2 pengembangan 10 % 50 % 75 %
SDM TAS berkelanjutan Usaha

a.Kegiatan b.Mengikutsertakan
Lokakarya / TAS dalam
Diklat / seminar dan
Workshop ( 3 pelatihan yang
hari x 5 orang ) berkesinambunga
n
b.Peningkatan
Pendidikan c.Pemberian
TAS, bantuan Beasiswa

d.program paket
A,B,C

3 Kegiatan 10 % 25 % 75 % Kasubag Tata


pengembangan a.mengusulkan
pelatihan yang Usaha
prestasi TAS
berkesinambunga Januari- April
1.TAS n
berprestasi
tingkat b. Studi banding ke
sekolah sekolah terdekat ,
instansi yang
2.Pengkaderan ditunjuk
TAS
c. Mengusulkan
3.Pemberian status
Penghargaan kepegawaian
menjadi Pegawai
Budaya Mutu merupakan sistem nilai dari sebuah organisasi yang menghasilkan keadaan lingkungan yang
kondusif dalam pembentukan perbaikan yang berkelanjutan dalam segi mutu. 

Budaya Mutu terdiri dari nilai-nilai, tradisi, prosedur, dan harapan yang mengedepankan mutu. Lembaga
pendidikan seperti Perguruan Tinggi, Sekolah dan Madrasah, yang ingin menerapkan manajemen Total
Quality, penting sekali untuk membangun budaya mutu sedini mungkin.

Budaya mutu sekolah adalah keseluruhan latar fisik, lingkungan, suasana, rasa, sifat, dan iklim sekolah
secara produktif mampu memeberikan pengalaman dan bertumbuhkembangnya sekolah untuk mencapai
keberhasilan pendidikan berdasarkan spirit dan nilai-nilai yang dianut oleh sekolah

Tuliskan Best Practise (Pengalaman Terbaik) Bapak/Ibu selaku Kepala Tata Usaha Kontribusinya dalam
membangun Budaya Mutu di Sekolah. Kata Best Practise digunakan untuk mendeskrisikan atau
menguraikan "PRaktek Terbaik" dari keberhasilan seseorang atau kelompok dalam melaksanakan tugas,
termasuk dalam mengatasi berbagai masalah dalam manajemen Ketatausahaan sekolah konteksnya
dengan tugas Kepala Tata USaha). Ciri-ciri B est Practise: mampu mengembangkan cara baru dan
inovatif dalam memecahkan suatu masalah, membawa sebuah perubahan/perbedaan sehingga sering
dikatakan hasilnya luar biasa (outstanding result) baik secara kualitatif maupun kuantitatif, mampu
mengatasi persoalan tertentu secara berkelanjtan dimana dampat positif atau manfaatnya berkelanjutan,
ampu menjadi model dan memberi inspirasi kepada teman sejawat serat cara/metode yang dilakukan
ekonomis dan efisien. Sistematika penulisan:bebas. *

Harus disadari bahwa kinerja tata usaha merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi mutu sebuah
sekolah. Peran pegawai tata usaha pada sistem pengelolaan sekolah sekarang ini semakin penting.
Pegawai tata usaha berperan penting setidaknya dalam dua hal.

1. Dalam menentukan mutu kebijakan sekolah.


Semakin tepat data yang diberikan oleh tata usaha maka makin tinggi kepuasan. peran tata usaha
sekolah sebagai salah satu sumber data/informasi sekolah dan menunjang kegiatan administratif
manajemen
2. Dalam menentukan mutu layanan sekolah sebagai publik relation sekolah.
Pelayanan prima yang dilakukan dengan ikhlas, ramah, cermat, santun, serta tertib kiranya dapat
menjadi contoh teladan bagi siswa dan para pihak yang membutuhkan pelayanan administrasi.

Peningkatan Profesionalitas TAS.

Sejak Januari 2019 seluruh pegawai KKI sekolah di DKI Jakarta baik Staff Tata Usaha, Caraka Maupun
Keamanan harus mengisi e-KInerja melalui Sistem  E-KINERJA PEGAWAI KKI. DINAS PENDIDIKAN
PROV DKI JAKARTA.

Oleh karena itu Saya melalui metode pendekatan kepada Tenaga Administrasi Sekolah menyarankan dan
mengupayakan serta menjadwalkan kegiatan untuk peningkatan profesionalitas TAS melalui Kegiatan
belajar mandiri, mengikuti pelatihan-pelatihan (Komputer, ketata usahaan, pelayanan/public relation dan
lain-lain). Sebagai contoh: Seiring dengan meningkatnya kemampuan TAS disekolah. Pegawai yang
bertugas sebagai Caraka sekarang dapat meningkat sebagai staff Sarana Prasarana

Best Practise (Pengalaman Terbaik) Saya adalah:


Kebetulan saya belum 1 tahun menjabat sebagai Kepala TU di SMAN 28, tetapi saya mempunyai
pengalaman terbaik yang dapat saya banggakan yaitu :
1. Keberhasilan Pengajuan Pengaktifan Kembali Jabatan Fungsional Guru (Pindahan sejak 2009),
tercapai hingga turun SK Jafung
2. Keberhasilan Pengajuan tenaga honorer Keamanan (sejak tahun 2009) diangkat sebagai tenga KKI
(tercapai hingga turun SK
Tuliskan Best Practise (Pengalaman Terbaik) Bapak/Ibu selaku Kepala Tata Usaha Kontribusinya dalam
membangun Budaya Mutu di Sekolah. Kata Best Practise digunakan untuk mendeskrisikan atau
menguraikan "PRaktek Terbaik" dari keberhasilan seseorang atau kelompok dalam melaksanakan tugas,
termasuk dalam mengatasi berbagai masalah dalam manajemen Ketatausahaan sekolah konteksnya
dengan tugas Kepala Tata USaha). Ciri-ciri B est Practise: mampu mengembangkan cara baru dan
inovatif dalam memecahkan suatu masalah, membawa sebuah perubahan/perbedaan sehingga sering
dikatakan hasilnya luar biasa (outstanding result) baik secara kualitatif maupun kuantitatif, mampu
mengatasi persoalan tertentu secara berkelanjtan dimana dampat positif atau manfaatnya berkelanjutan,
ampu menjadi model dan memberi inspirasi kepada teman sejawat serat cara/metode yang dilakukan
ekonomis dan efisien. Sistematika penulisan:bebas. *

Jawaban :
Harus disadari bahwa kinerja tata usaha merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi mutu sebuah
sekolah. Peran pegawai tata usaha pada sistem pengelolaan sekolah sekarang ini semakin penting.
Pegawai tata usaha berperan penting setidaknya dalam dua hal.

1. Dalam menentukan mutu kebijakan sekolah.


Semakin tepat data yang diberikan oleh tata usaha maka makin tinggi kepuasan. peran tata usaha sekolah
sebagai salah satu sumber data/informasi sekolah dan menunjang kegiatan administratif manajemen
2. Dalam menentukan mutu layanan sekolah sebagai publik relation sekolah.
Pelayanan prima yang dilakukan dengan ikhlas, ramah, cermat, santun, serta tertib kiranya dapat menjadi
contoh teladan bagi siswa dan para pihak yang membutuhkan pelayanan administrasi.

Peningkatan Profesionalitas TAS.


Sejak Januari 2019 seluruh pegawai KKI sekolah di DKI Jakarta baik Staff Tata Usaha, Caraka Maupun
Keamanan harus mengisi e-KInerja melalui Sistem E-KINERJA PEGAWAI KKI. DINAS PENDIDIKAN PROV
DKI JAKARTA.
Oleh karena itu Saya melalui metode pendekatan kepada Tenaga Administrasi Sekolah menyarankan dan
mengupayakan serta menjadwalkan kegiatan untuk peningkatan profesionalitas TAS melalui Kegiatan belajar
mandiri, mengikuti pelatihan-pelatihan (Komputer, ketata usahaan, pelayanan/public relation dan lain-lain).
Sebagai contoh: Seiring dengan meningkatnya kemampuan TAS disekolah. Pegawai yang bertugas sebagai
Caraka sekarang dapat meningkat sebagai staff Sarana Prasarana

Best Practise (Pengalaman Terbaik) Saya adalah:


Kebetulan saya belum 1 tahun menjabat sebagai Kepala TU di SMAN 28, tetapi saya mempunyai pengalaman
terbaik yang dapat saya banggakan yaitu :
1. Keberhasilan Pengajuan Pengaktifan Kembali Jabatan Fungsional Guru (Pindah Tugas sejak 2009 ke
SMAN 28), tercapai hingga turun SK Jafung
2. Keberhasilan Pengajuan tenaga honorer Keamanan (sejak tahun 2009) diangkat sebagai tenga KKI
(tercapai hingga turun SK KKI)
Harus disadari bahwa kinerja tata usaha merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi mutu sebuah sekolah.
Tetapi kenyataannya upaya peningkatan mutu dan kinerja pegawai tata usaha sekolah masih kurang mendapat
perhatian. Selama ini, peningkatan kualitas pendidikan hanya menyoroti pada permasalahan guru, peningkatan
kinerja kepala sekolah serta kurikulum peserta didik yang senantiasa berubah-ubah. Jarang kita jumpai seorang
pegawai tata usaha mendapatkan pelatihan pelatihan, diklat, maupun seminar. Peran pegawai tata usaha pada
sistem pengelolaan sekolah sekarang ini semakin penting. Pada umumnya pegawai tata usaha hanya berperan
sebagai juru kelola administrasi sekolah yang berkaitan dengan pengelolaan data peserta didik, data pendidik dan
tenaga kependidikan, persuratan, arsip, administrasi saranaprasarana, dan administrasi keuangan.1 Seiring dengan
adanya penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) membawa implikasi pada berkembangnya pengambilan
keputusan bersama sebagai pusat pergerakan pengelolaan sekolah, maka pegawai tata usaha sekolah idealnya
menjadi tim pengelola data sebagai bahan pengambilan keputusan. Pegawai tata usaha berperan penting setidaknya
dalam dua hal. Pertama, dalam menentukan mutu kebijakan sekolah. Semakin tepat data yang diberikan oleh tata
usaha maka makin tinggi kepuasan. Kedua, peran dalam menentukan mutu layanan sekolah sebagai publik relation
sekolah. 2 Dengan demikian peran tata usaha sekolah sebagai salah satu sumber informasi sekolah menjadi semakin
strategis. Kegiatan tata usaha harus menunjang kegiatan administratif manajemen. Oleh karena itu kegiatan-
kegiatannya harus direncanakan, diarahkan, dikoordinasikan, dikontrol dan dikomunikasikan agar benarbenar
berdaya guna. Disetiap lingkungan lembaga pendidikan dari unit terendah sampai unit yang tertinggi diperlukan dan
diselenggarakan kegiatan tata usaha yang terarah dan tertib. M

Kompetensi Tenaga Adminsitrasi Sekolah (TAS)

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2008
tentang Standar Staf Administrasi Sekolah, kompetensi yang harus dipenuhi oleh staf tata usaha atau
administrasi sekolah disajikan berikut ini.

1. Kompetensi kepribadian meliputi memiliki imtegritas dan akhlak mulia etos kerja, pengendalian diri,
percaya diri, fleksibilitas, ketelitian, kedisiplinan, kreatif dan inovasi, tanggung jawab.
2. Kompetensi sosial meliputi kemampuan bekerja dalam tim, pelayanan prima, kesadaran 
berorganisasi, berkomunikasi efektif dan membangun hubungan kerja.
3. Kompetensi teknik meliputi kemampuan melaksanakan administrasi kepegawaian, keuangan,
sarana prasarana, hubungan sekolah dengan masyarakat, persuratan, dan pengarsipan,
administrasi kesiswaan, administrasi kurikulum, sdministrasi layanan khusus dan penerapan
teknologi informasi dan komunikasi.
4. Kompetensi manajerial (khusus bagi kepala staf tata laksana sekolah) meliputi kemampuan
mendukung pengelola standar nasional pendidikan, menyusun program keja dan lapiran kerja,
mengorganisasikan staf, mengembangkan staf,mengambil keputusan, menciptakan iklim kerja yang
kondusif, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya, membina staf, mengelola konflik, dan
menyusun laporan.

STANDAR KOMPETENSI GURU

1. Kompetensi Pedagogik

Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam hal pemahaman terhadap peserta didik,
perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik
untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Indikator pengukuran kompetensi pedagogik guru berdasarkan Permendiknas Nomor 16 Tahun


2007 adalah sebagai berikut.

 Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan
intelektual.
 Menguasai teori belajar dan prinsip–prinsip pembelajaran yang mendidik.
 Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu.
 Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik.
 Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan
pengembangan yang mendidik.
 Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
dimiliki.
 Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.
 Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.
 Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.
 Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

2. Kompetensi Kepribadian

Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap,
stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.

Indikator pengukuran kompetensi kepribadian guru berdasarkan Permendiknas Nomor 16 Tahun


2007 adalah sebagai berikut.

 Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.
 Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan
masyarakat.
 Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.
 Menunjukkan etos kerja, tanggungjawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya
diri.
 Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

3. Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan
peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Baca juga : Download Format Buku Agenda Guru Dilengkapi Cara Pengisiannya.

Indikator pengukuran kompetensi sosial guru berdasarkan Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 adalah


sebagai berikut.

 Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin,
agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.
 Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan,
orang tua, dan masyarakat.
 Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman
sosial budaya.
 Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau
bentuk lain.

4. Kompetensi Profesional

Kompetensi profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang
mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi
materinya, serta penguasaan terhadap stuktur dan metodologi keilmuannya.

Indikator pengukuran kompetensi profesional guru berdasarkan Permendiknas Nomor 16 Tahun


2007 adalah sebagai berikut.

 Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang
diampu.
 Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang
diampu.
 Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.
 Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.
 Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.

Baca juga : Download Format Evaluasi Diri Guru Terbaru dan Contoh Pengisiannya.

Demikian ulasan mengenai 4 Standar Kompetensi Guru dan indikator pengukurannya. Semoga

Kebijakan pendidikan di Indonesia akan mengacu padaUndang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang
Sistim
Pendidikan Nasional, segala macam kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan akan ditentukan berdasa
rkan  kepada undang-undang tersebut, dalam UU Sisdiknas pasal 1 Ayat 1 : “Pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktifmengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, Akhlak Mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara

Manajemen Sekolah merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara efektif dan efisien untuk meningkatkan kinerja
sekolah dalam pencapaian tujuan pendidikan baik tujuan nasional dan tujuan kelembagaan yang hasilnya bisa dilihat
dari beberapa faktor sebagai indikator kinerja yang berhasil dicapai oleh sekola

Manajemen sekolah merupakan tindakan pengelolaan dan pengadministrasian sekolah. Manajemen sekolah berarti
memberdayakan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan sekolah. Manajemen
sekolah memiliki dua aspek, yaitu aspek manajemen eksternal dan manajemen internal. Manajemen internal sekolah
meliputi perpustakaan, laboratorium, bangunan dan saran fisik lainnya, sumber dana, pelaksanaan evaluasi
pendidikan, dan hubungan antar guru, murid. sedangkan manajemen eksternal meliputi hubungan dengan pihak luar
sekolah seperti masyarakat, dewan pendidikan, dinas pendidikan maupun pihak lain yang terkait dengan fungsi
sekolah.[1]

Manajemen Sekolah merupakan tindakan pengelolaan dan pengadministrasian sekolah serta proses pendayagunaan
sumber daya manusia dan sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan sekolah yang dilakukan secara efektif dan
efisien untuk meningkatkan kinerja sekolah dalam pencapaian tujuan pendidikan baik tujuan nasional dan tujuan
kelembagaan yang hasilnya bisa dilihat dari beberapa faktor sebagai indikator kinerja yang berhasil dicapai oleh
sekola
manajemen sekolah adalah proses pendayagunaan sumber-sumber manusiawi bagi penyelenggara sekolah secara
efektif. Sedangkan dalam konteks pendidikan ada juga manajemen pendidikan.

Mendikbud Tetapkan Empat Pokok Kebijakan Pendidikan “Merdeka Belajar”  11 Desember 2019  ←
Back
Jakarta, Kemendikbud --- Menindaklanjuti arahan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Wakil Presiden
Republik Indonesia Ma’ruf Amin untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, menetapkan empat program pokok kebijakan pendidikan
“Merdeka Belajar”. Program tersebut meliputi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional (UN),
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi.

“Empat program pokok kebijakan pendidikan tersebut akan menjadi arah pembelajaran kedepan yang fokus pada
arahan Bapak Presiden dan Wakil Presiden dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” demikian
disampaikan Mendikbud pada peluncuran Empat Pokok Kebijakan Pendidikan “Merdeka Belajar”, di Jakarta, Rabu
(11/12).

Arah kebijakan baru penyelenggaraan USBN, kata Mendikbud, pada tahun 2020 akan diterapkan dengan ujian yang
diselenggarakan hanya oleh sekolah. Ujian tersebut dilakukan untuk menilai kompetensi siswa yang dapat dilakukan
dalam bentuk tes tertulis atau bentuk penilaian lainnya yang lebih komprehensif, seperti portofolio dan penugasan
(tugas kelompok, karya tulis, dan sebagainya). “Dengan itu, guru dan sekolah lebih merdeka dalam penilaian hasil
belajar siswa. Anggaran USBN sendiri dapat dialihkan untuk mengembangkan kapasitas guru dan sekolah, guna
meningkatkan kualitas pembelajaran,” terang Mendikbud.

Selanjutnya, mengenai ujian UN, tahun 2020 merupakan pelaksanaan UN untuk terakhir kalinya. “Penyelenggaraan
UN tahun 2021, akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter, yang terdiri dari
kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi),
dan penguatan pendidikan karakter,” jelas Mendikbud.

Pelaksanaan ujian tersebut akan dilakukan oleh siswa yang berada di tengah jenjang sekolah (misalnya kelas 4, 8, 11),
sehingga dapat mendorong guru dan sekolah untuk memperbaiki mutu pembelajaran. Hasil ujian ini tidak digunakan
untuk basis seleksi siswa ke jenjang selanjutnya. “Arah kebijakan ini juga mengacu pada praktik baik pada level
internasional seperti PISA dan TIMSS,” tutur Mendikbud.

Sedangkan untuk penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Kemendikbud akan menyederhanakannya
dengan memangkas beberapa komponen. Dalam kebijakan baru tersebut, guru secara bebas dapat memilih,
membuat, menggunakan, dan mengembangkan format RPP. Tiga komponen inti RPP terdiri dari tujuan
pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan asesmen. “Penulisan RPP dilakukan dengan efisien dan efektif sehingga
guru memiliki lebih banyak waktu untuk mempersiapkan dan mengevaluasi proses pembelajaran itu sendiri. Satu
halaman saja cukup,” jelas Mendikbud.

Dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB), Kemendikbud tetap menggunakan sistem zonasi dengan kebijakan
yang lebih fleksibel untuk mengakomodasi ketimpangan akses dan kualitas di berbagai daerah. Komposisi PPDB jalur
zonasi dapat menerima siswa minimal 50 persen, jalur afirmasi minimal 15 persen, dan jalur perpindahan maksimal 5
persen. Sedangkan untuk jalur prestasi atau sisa 0-30 persen lainnya disesuaikan dengan kondisi daerah. “Daerah
berwenang menentukan proporsi final dan menetapkan wilayah zonasi,” ujar Mendikbud.

Mendikbud berharap pemerintah daerah dan pusat dapat bergerak bersama dalam memeratakan akses dan kualitas
pendidikan “Pemerataan akses dan kualitas pendidikan perlu diiringi dengan inisiatif lainnya oleh pemerintah daerah,
seperti redistribusi guru ke sekolah yang kekurangan guru,” pesan Mendikbud.

Pada kesempatan ini, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir
Effendy memberikan apresiasi kepada Mendikbud atas gagasan “Merdeka Belajar”. “Kami mendukung inisiatif
Kemendikbud mengangkat gagasan tersebut. Dengan kebijakan ini guru dapat lebih fokus pada pembelajaran siswa
dan siswa pun bisa lebih banyak belajar. Mari kita semua bersikap terbuka dan optimis dalam menyongsong
perubahan ini,” pungkas Menko PMK. *

Mencermati berbagai perubahan dan inovasi serta perkembangan yang ada, Pemerintah Indonesia saat ini
tengah melaksanakan langkah-langkah strategis yang ditetapkan berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0.
Pemerintah dituntut menghasilkan sumber daya manusia berkualitas melalui proses Pendidikan yang berkualitas
dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Perguruan Tinggi. Maka, hadirlah kebijakan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan tentang Merdeka Belajar-Kampus Merdeka, guna menjawab tuntutan perubahan
pada era revolusi industri 4.0.

Era Society 5.0


Hadirnya era revolusi industri 4.0 (the industrial revolution 4.0.) yang menawarkan literasi baru yakni data,
technology, and human literation, sebagai sebuah tesis baru era teknologi digital, sejak tahun 2018 muncul “anti
tesis” dari Jepang yang lebih menjunjung “manusia” di samping terjadinya revolusi data dan teknologi. Menurut
Kantor Kabinet Jepang, Society 5.0 didefinisikan sebagai sebuah masyarakat yang berpusat pada manusia yang
menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui sistem yang sangat
mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik.

Society 5.0 dimunculkan Jepang sebagai implementasi Rencana Dasar Sains dan Teknologi ke-5 sebagai
masyarakat masa depan yang harus dicita – citakan oleh Jepang. Mereka ingin menjawab dan melompati isue
yang berkembang dari Eropa ke seluruh dunia tentang revolusi industri 4.0 yang dinilainya akan menghilangkan
peran masyarakat manusia dengan digantikan oleh teknologi. Selanjutnya, mereka membagi lima tahapan
kehidupan yakni diawali dengan masyarakat berburu (Society 1.0), masyarakat pertanian (Society 2.0),
masyarakat industri (Society 3.0), masyarakat informasi (Society 4.0), dan masyarakat konvergensi maya-fisik
(Society 5.0). Tujuan dari konsep ini sendiri adalah mewujudkan masyarakat dimana manusia-manusia di
dalamnya benar-benar menikmati hidup dan merasa nyaman. Society 5.0 sendiri baru diresmikan pada 21
Januari 2019 dan dibuat sebagai solusi atas revolusi industri 4.0 yang ditakutkan akan mendegradasi umat
manusia. Society 5.0 adalah masyarakat yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan
sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era revolusi industry 4.0 seperti Internet on Things
(internet untuk segala sesuatu), Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), Big Data (data dalam jumlah besar),
dan robot untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.

Sebenarnya konsep revolusi 4.0 dan Society 5.0 tidak memiliki perbedaan yang jauh. Hanya saja konsep Society
5.0 lebih memfokuskan konteks terhadap manusia. Jika Revolusi industry 4.0 menggunakan kecerdasan buatan
sebagai komponen utama dalam membuat perubahan di masa yang akan datang, maka Society 5.0
menggunakan teknologi modern hanya saja mengandalkan manusia sebagai komponen utamanya. Society 4.0
memungkinkan kita untuk mengakses juga membagikan informasi di internet. Society 5.0 adalah era dimana
semua teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri. Internet bukan hanya sekedar untuk berbagi informasi
melainkan untuk menjalani kehidupan.

Kesiapan Pendidikan di Indonesia


Pada era revolusi industri 4.0 diperlukan tiga literasi yaitu literasi data, literasi manusia, dan literasi teknologi.
Pembelajaran di era revolusi 4.0 dapat menerapkan hybrid/blended learning dan Case-base Learning.
Pendidikan dalam era Society 5.0, memungkinkan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran berdampingan
dengan robot. Tantangan pasti akan dihadapi dalam setiap transisi inovasi dan teknologi. Kita harus berani dan
siap, jika tidak, maka kita akan tenggelam oleh disrupsi ini. Lalu, bagaimana dengan kesiapan pendidikan di
Indonesia?

Trand pendidikan Indonesia saat ini yaitu online learning yang menggunakan internet sebagai penghubung
antara pendidik dan peserta didik. Peran pendidik dalam era Revolusi Industri 4.0 harus diwaspadai, para
pendidik tidak boleh hanya menitikberatkan tugasnya hanya dalam transfer ilmu, namun lebih menekankan
pendidikan karakter, moral dan keteladanan. Hal ini dikarenakan transfer ilmu dapat digantikan oleh teknologi,
namun penerapan softskill dan hardskill tidak bisa digantikan dengan alat dan teknologi secanggih apapun.
Dengan lahirnya Society 5.0 diharapkan dapat membuat teknologi di bidang pendidikan yang tidak merubah
peran pendidik dalam mengajarkan pendidikan moral dan keteladanan bagi para peserta didik. Untuk
mewujudkan cita-cita Making Indonesia 4.0, harus ada wujud konkret dan usaha yang keras untuk pemerintah
Indonesia dan kita semua dalam menyongsong era digitalisasi. Pendidikan di Indonesia perlu melihat kembali
infrastruktur yang ada, pengembangan SDM, menyinkronkan pendidikan dan industri, serta penggunaan
teknologi sebagai alat kegiatan belajar mengajar. Sedangkan, untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas,
Perguruan Tinggi mesti memperhatikan empat hal yaitu pendidikan berbasis kompetensi, pemanfaatan IoT
(internet of things), pemanfaatan virtual atau augmented reality dan yang terakhir pemanfaatan AI (artifical
intelligence). Dengan begitu, diharapkan pendidikan di Indonesia telah siap memasuki era disrupsi ini.
Peningkatan dan penjaminan mutu pendidikan ini merupakan tanggung jawab dari setiap komponen di satuan
pendidikan. Sesuai peraturan perundangan yang berlaku bahwa setiap satuan pendidikan wajib melakukan
penjaminan mutu sesuai kewenangannya. Peningkatan mutu di satuan pendidikan tidak dapat berjalan dengan baik
tanpa adanya budaya mutu pada seluruh komponen sekolah. Penjaminan mutu pendidikan di seluruh sekolah di
Indonesia dilakukan dengan pendekatan melibatkan seluruh komponen sekolah (whole school approach).
Manajemen mutu total dilakukan dengan memperbaiki secara berkelanjutan semua fungsi menejemen. Manajemen
mutu total (TQM) akan terwujud jika semua staf pendidikan merasa yakin bahwa pengembangan mutu akan
membawa dampak positif bagi mereka dan menguntungkan para peserta didik Pemerintah telah mengembangkan
sistem penjaminan mutu pendidikan dalam menjadi sistem penjaminan mutu internal (SPMI) dan sistem penjaminan
mutu eksternal (SPME). SPMI merupakan sistem penjaminan mutu yang berjalan di satuan pendidikan dan dijalankan
oleh seluruh komponen dalam satuan pendidikan. SPMI meliputi seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan dengan
memanfaatkan seluruh sumberdaya yang ada untuk mencapai Standar Nasional Pendidikan (SNP). Sistem ini
dievaluasi dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh satuan pendidikan untuk dituangkan ke dalam pedoman
pengelolaan satuan pendidikan serta disosialisasikan kepada seluruh stakeholder (pemangku kepentingan) sehingga
tercipta budaya mutu di satuan pendidikan. Sistem penjaminan mutu pendidikan di sekolah dibagi menjadi lima
tahapan yaitu pemetaan mutu, penyusunan rencana pemenuhan, pelaksanaan pemenuhan,

Sistem Penjaminan Mutu Internal untuk Sekolah Model


Sistem Penjaminan Mutu Internal untuk Sekolah Model Penjaminan Mutu Pendidikan.

Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah adalah suatu kesatuan unsur yang terdiri atas
organisasi, kebijakan, dan proses terpadu yang mengatur segala kegiatan untuk meningkatkan mutu
Pendidikan Dasar dan Menengah secara sistematis, terencana dan berkelanjutan.

Sistem penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah bertujuan menjamin pemenuhan standar pada
satuan pendidikan dasar dan menengah secara sistemik, holistik, dan berkelanjutan, sehingga tumbuh dan
berkembang budaya mutu pada satuan pendidikan secara mandiri.
Sistem penjaminan mutu pendidikan berfungsi sebagai pengendali penyelenggaraan pendidikan oleh
satuan pendidikan untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu.

Komponen Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah

Sistem penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah terdiri atas dua komponen yaitu Sistem
Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME).

 Sistem Penjaminan Mutu Internal adalah sistem penjaminan mutu yang dilaksanakan dalam
satuan pendidikan dan dijalankan oleh seluruh komponen satuan pendidikan;
 Sistem Penjaminan Mutu Eksternal yaitu sistem penjaminan mutu yang dilaksanakan oleh
pemerintah, pemerintah daerah, lembaga akreditasi dan lembaga standarisasi pendidikan;

21May 0

Mengenal Sistem Penjaminan Mutu Sekolah


“Mengenal Sistem Penjaminan Mutu Sekolah”

‫س ِم هَّللا ِ ال َّر ْح َم ِن ال َّر ِحيم‬


ْ ‫ِب‬

Peningkatan mutu pendidikan di sekolah-sekolah harus dilakukan secara terus-menerus. Walaupun demikian,
proses pendidikan tidak  boleh berhenti hanya menunggu penyempurnaan sistem, sarana, dan sumber daya
manusia.

Sebagai institusi pendidikan, sekolah selalu menjadi perhatian utama untuk terus diperbaiki dan dijaga
kualitas proses pembelajarannya. Pengelolaan sekolah harus dilakukan secara efektif, yakni mampu
menciptakan proses belajar pada diri siswa. Dalam upaya pengelolaan sekolah secara efektif diterapkan 
Manajemen Berbasis sekolah (School-Based Management).

Silahkan diunduh file PowerPoint (PDF) dibawah ini:

Realisasi Manajemen Mutu berbasis sekolah sangat berkaitan erat dengan pelaksanaan otonomi daerah,
tentang pemberian kewenangan dari pemerintah pusat kepemerintah daerah dalam wujud otonomi daerah.

Tujuan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah)

1. Agar sekolah lebih berdaya


2. Sekolah makin akrab dengan masyarakat
3. Tercipta iklim belajar mengajar yang makin bermutu
4. Kepala sekolah mempunyai otonomi yang luas
5. Sekolah dan guru-gurunya menjadi lebih sejahtera

Pilar Penyangga MBS

1. Pemberdayaan
2. Transparansi
3. Standardiasi mutu
4. Partisipasi masyarakat
5. Akuntabilitas

Peningkatan mutu akademik, sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam proses pendidikan, merupakan
proses dalam rangka pembangunan sumber daya manusia.

Peningkatan mutu akademik harus dilakukan secara terarah, terencana, dan insentif sehingga mampu
menyiapkan bangsa Indonesia dalam memasuki  era globalisasi yang sarat persaingan.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu akademik, antara lain melalui berbagai pelatihan
dan peningkatan kualifikasi guru, pengadaan buku dan alat pengajaran, perbaikan sarana dan prasarana, serta
peningkatan mutu manajemen sekolah.

ACUAN UNTUK MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN

 Reliability, yaitu ketepercayaan pemakaian jasa pendidikan .


 Assurance, yaitu keterjaminan program pendidikan yang ditawarkan.
 Tangible, yaitu kebersihan, kesehatan, kerapian, keteraturan dan kenyamanan lingkungan pendidikan.
 Empaty, yaitu perhatian terhadap aspirasi dan kebutuhan pelanggan pendidikan.
 Responsiveness, yaitu tanggap terhadap keluhan pemakai jasa pendidikan.

DEFINISI KUALITAS

Kualitas merupakan tingkat (degree) atau taraf atau derajat melakukan kabaikan sesuatu. Menurut kamus
besar bahasa Indonesia (1999:677), kualitas atau mutu adalah ukuran baik buruk suatu benda, keadaan , taraf
atau derajat (kepandaian, kecerdasan dan sebagainya).

Menurut Garvin (Giri, 2008:2), ada lima macam perspektif kualitas yang dapat menjelaskan mengapa
kualitas diartikan beraneka ragam, sebagai berikut .

1. Transcendental approach, kualitas dipandang  sebagai innate excellence, dimana kualitas dapat dirasakan,
diketahui, tetapi sulit didefiniskan dan dioperasionalisasikan.
2. Product-based approach, bahwa kualitas merupakan atribut ataupun spesifikasi secara kuantitatif dan dapat
diukur.
3. User-based approach, bahwa kualitas tergantung pada orang yang memandangnya sehingga pelayanan yang
paling memuaskan preferensi seseorang merupakan pelayanan yang paling berkualitas tinggi.
4. Manufacturing-based approach, mendasari diri pada supply dan terutama memerhatikan praktik-praktik
perekayasaan dan manufaktur serta mendefinisikan kualitas sebagai kesesuaian dengan persyaratan.
5. Value-based approach, memandang kualitas dari segi nilai dan harga.

TIGA KOMPONEN DASAR KUALITAS PELAYANAN.

1. Kualitas teknis atau hasil. Apa yang pelanggan terima dalam interaksinya dengan perusahaan jelas sangat
penting untuk mereka dan pada penilaian kualitas mereka.
2. Kualitas fungsional atau yang diberikan dengan proses. Selain itu pelanggan juga dipengaruhi oleh bagaimana
mendapat pelayanan atau bagaimana dia mengalami proses produksi dan konsumsi yang simultan, yang
merupakan dimensi dari kualitas, yang sangat terkait dengan hubungan pembeli dan penjual sehingga
disebut kualitas fungsional.
3. Citra perusahaan. Biasanya penyedia layanan tidak dapat bersembunyi dibalik nama merek.

Bedasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kualitas  merupakan derajat keunggulan
suatu produk (barang/jasa), baik yang tangible maupun yang intangible yang bersifat relative dan dinamis.

Dalam pandangan modern, kualitas bersifat relatif karena kriterianya tergantung pada konsumen atau pihak-
pihak yang memanfaatkan produk itu.
Pengertian relatif mengandung maksud bahwa barang atau jasa sesuai dengan tujuan penggunaannya. Suatu
produk yang berkualitas tidak sekedar berfungsi sesuai peruntukannya tetapi juga harus memiliki kelebihan
dibandingkan dengan yang lain sesuai dengan harapan konsumen.

 DIMENSI KUALITAS

Ketika orang mengatakan suatu produk berkualitas, maka alasan mereka biasanya tidak tunggal. Misalnya,
pelanggan transportasi bus mengatakan bahwa perusahaan angkutan itu berkualitas.

Alasan mengatakan berkualitas boleh jadi karena busnya nyaman, supirnya tidak ugal-ugalan, harganya
relatif murah, tepat waktu dan lainnya. Dengan kata lain, kualitas bus jasa angkutan bus memiliki banyak
dimensi sehingga dipersepsikan berkualitas oleh konsumen atau pelanggan.

SEPULUH DIMENSI KUALITAS PELAYANAN

1. Reliability mencakup dua hal pokok, yaitu konsitensi kinerja dan keandalan.
2. Responsiveness berfokus pada sikap kesediaaan dan kesiapan dari karyawan untuk menyediakan pelayanan.
3. Competence berarti memiliki pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan.
4. Access meliputi kemudahan untuk dicapai atau dihubungi.
5. Courtesy melibatkan kesopanan, rasa hormat, pertimbangan dan keakraban dari tiap karyawan.
6. Communication berarti menjaga pelanggan tetap mendapatkan informasi dalam bahasa yang pelanggan
mengerti dan mendengarkan pelanggan.
7. Credibility melibatkan sikap dapat dipercaya, jujur, mendapatkan perhatian pelanggan dengan sikap yang
terbaik.
8. Security merupakan bebas dari kata bahaya, risiko, maupun keraguan.
9. Understanding/knowing the customer berarti berusaha untuk mengerti kebutuhan pelanggan.
10. Tangibles meliputi bukti fisik dari pelayanan.

DIMENSI KUALITAS PRODUK YANG BERBENTUK BENDA


1. Kinerja, seberapa baik suatu produk melakukan apa yang harus dilakukan.
2. Features, pernik-pernik yang melengkapi atau meningkatkan fungsi dasar produk.
3. Keandalan, berkaitan dengan kemampuan produk untuk bertahan selama penggunaan yang biasa.
4. Kesesuaian, seberapa baik produk tersebut sesuai dengan standar.
5. Daya tahan, ukuran umur produk, dan teknologi modern memungkinkan teknologi ini.
6. Kemudahan perbaikan, produk yang digunakan untuk jangka waktu tertentu, sering harus diperbaiki.
7. Keindahan, kualitas produk tidak saja tergantung dari kemampuan fungsional, tetapi juga keindahan.
8. Persepsi terhadap kualitas, dimensi ini tidak didasarkan pada produk itu sendiri tetapi pada citra atau
reputasinya.

DIMENSI PADA KUALITAS JASA


1. Tidak Berwujud, dapat dilihat pelanggan saat jasa sedang dikerjakan, fasilitas, pegawai, perlengkapan dan
peralatan.
2. Keandalan, sama seperti produk berupa barang, jasa juga harus andal.
3. Responsif, pelanggan tidak ingin harus menunggu untuk dilayani.
4. Kepastian, pelanggan mengharapkan personel jasa sopan dan terpelajar.
5. Empati, personel jasa harus menunjukkan perhatian yang tulus pada para pelanggan dan kebutuhan mereka.

PENTINGNYA KUALITAS
Kualitas adalah sesuatu yang sangat penting bagi organisasi. Kualitas bukan hanya sekedar persoalan
reputasi organisasi, melainkan juga bentuk pertanggung jawaban moral produsen kepada konsumen.

Dengan suatu peningkatan kualitaslah produsen mampu memuaskan konsumen. Dengan produk yang
berkualitas maka masyarakat konsumen akan terhindar dari produk-produk yang merugikan dan
membahayakan sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Kualitas dianggap penting Bagi organisasi karena:


1. Meningkatkan reputasi organisasi
2. Penurunan biaya
3. Peningkatan pangsa pasar
4. Pertanggungjawaban produk
5. Dampak internasional
6. Penampilan produk atau jasa
SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
Istilah penjaminan mutu (quality assurance) pada awal dipakai dalam dunia bisnis. Penjaminan mutu
dimaksudkan untuk menciptakan budaya peduli mutu. Penjaminan mutu dibutuhkan institusi untuk
memberikan kepuasan kepada pelanggan. Penjaminan mutu bertujuan untuk mencegah terjadinya kesalahan
dalam aktifitas program kerjanya dan semua aspek-aspeknya melalui proses evaluasi dan perbaikan diri
secara terus menerus.

Manajemen mutu merupakan satu cara dalam mengelola suatu organisasi yang bersifat komprehensif dan
berintegrasi yang diarahkan dalam rangka, yaitu;

1. Memenuhi pelanggan secara konsisiten.


2. Mencapai peningkatan terus-menerus dalam setip aspek aktivitas organisasi.

Mutu pendidikan didefinisikan sebagai tingkat kecerdasan kehidupan bangsa yang dapat diraih dari
penerapan Sistem Pendidikan Nasional. Definisi tersebut terjemahan dari aspek proses dan produk
pendidikan, sebagai berikut.

1. Proses pendidikan, yaitu upaya sistematis oleh institusi dan perorangan dalam penyelenggaraan pendidikan
disekolah sesuai dengan konsensus nasional melalui undang-undang Sistem Pendidikan nasional.
2. Proses pendidikan, yaitu segala yang dihasilkan dalam pendidikan melalui persekolahan yang menjadi
harapan masyarakat dan sesuai konsensus nasional.

Sistem penjaminan mutu pendidikan merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari sistem
penjaminan mutu. Aplikasi standar dalam sistem pendidikan mencakup dua kegiatan besar.

1. Peningkatan mutu yang dilandaskan dengan target mutu yang sekolah harapkan.
2. Mengukur mutu pencapaian kinerja untuk mengetahui tingkat pemenuhan standar berdasarkan target
program yang telah ditetapkan.

Jaminan mutu internal (internal quality assurance) adalah kearah penjaminan yang dapat memenuhi mutu
yang dijanjikan dan diharapkan masyarakat. Kegiatan penjaminan mutu difokuskan pada proses membangun
kepercayaan dengan cara pemenuhan segala persyaratan atau standar minimum sesuia yang diharapkan oleh
pelanggan

Baca juga: Pengantar Total Quality Management

Secara umum dapat dikemukakan, sistem penjaminan mutu pendidikan dikembangkan untuk tujuan sebagai
berikut;

1. Sebagai acuan dalam memetakan mutu pengelolaan pendidikan pada tingkat nasional, provinsi, kabupaten
dan kota, sekolahan dan pembelajaran.
2. Proses dan produk SPMP dapat meyakinkan bahwa pendidikan dan pembelajaran telah dapat diupayakan
secara terus-menerus memuaskan bagi peserta didik, orang tua siswa dan masyarakat, sumberdaya
pendidikan sekolah, dan para pemangku kepentingan dalam bidang pendidikan.
3. Menentukan model fasilitasi peningkatan kinerja sekolah, meliputi sistem pembelajaran, manajemen
berbasis sekolah dan pemberdayaan masyarakat pendidikan pada masyarakat luas dalam pengelolaan
pendidikan di sekolah.

Tujuan akhir penjaminan mutu pendidkan adalah tingginya kecerdasan kehidupan manusia dan bangsa
sebagaimana dicita-ciakan oleh pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang dicapai
melalui penerapan SPMP.

Tujuan antara yang hendak dicapai melalui sistem penjaminan muu pendidikan ini adalah terbangunnya
sistem penjaminan mutu pendidikan, sebagai berikut.

1. Terbangunnya budaya mutu pendidikan formal, non formal dan informal.


2. Pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas dan proporsional dalam penjaminan mutu pendidikan
formal dan non formal pada satuan atau program  pendidikan, pemerintah kabupaten atau kota, pemerintah
provinsi, dab pemerintah.
3. Diterapkannya secara nasional acuan mutu dalam pejaminan mutu pendidikan formal dan non formal.
4. Terpetakannya secara nasional mutu pendidikan formal dan non formal yang dirinci menurut provinsi,
kabupaten atau kota dan satuan atau program pendidikan.
5. Terbangunnya sistem informasi mutu pendidikan formal dan nonformal berbasis teknologi informasi dan
komunikasi yang andal, terpadu, dan tersambung yang menghubungkan satuan program pendidikan,
penyelenggara satuan atau atau program  pendidikan, pemerintah kabupaten atau kota, pemerintah
provinsi, dan pemerintah.

PRINSIP DASAR SISTEM PENJAMINAN MUTU SEKOLAH /PENDIDIKAN


1. Keberlanjutan
2. Terencana dan sistematis, dengan kerangka waktu dan target-target capaian mutu yang jelas dan terukur
dalam jaminan mutu pendidikan formal dan non formal.
3. Menghormati otonomi satuan pendidikan formal dan non formal
4. Memfasilitasi pembelajaran informal masyarakat berkelanjutan dengan regulasi Negara yang seminimal
mungkin.
5. SPMP merupakan sistem terbuka yang terus disempurnakan secara berkelanjutan

Sistem Penjaminan Mutu Sekolah mengacu pada mutu kehidupan manusia sekurang-kurangnya mencakup:
1. Mutu keimanan, ketakwaan, akhlak, budi pekerti dan kepribadian.
2. Kompetensi intelektual, estetik, psikomotorik,kinestetik, vokasional, serta kompetensi kemanusiaan lainnya
sesuai dengan bakat, kompetensi dan minat masing-masing.
3. Muatan dan tingkat kecanggihan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang mewarnai dan memfasilitasi
kehidupan.
4. Kreativitas dan inovasi dalam menjalani kehidupan.
5. Tingkat kemandirian serta daya saing dan kemampuan untuk menjamin keberlanjutan diri dan lingkungannya

Pengukuran kecepaian standar mutu acuan dilakukan setelah audit kinerja, akreditasi, sertifikasi dan bentuk
lain pengukuran capain mutu pendidikan.

Audit kinerja dilakukan dengan cara monitoring. Akreditasi merupakan salah atu pengukuran ketercapaian
standar acuan mutu pendidikan yang dilakukan secara eksternal oleh badan akreditasi. Sedangkan sertifikasi
merupakan pengukuran yang dilakukan untuk mengetahui pencapaian standar mutu yang berkaitan dengan
standar pendidik.

Penjaminan mutu pendidikan informal dilakukan oleh masyarakat. Masyarakat dapat melakukan upaya
penjaminan mutu pendidikan informal secara perorangan, kelompok maupun kelembagaan.

PENDEKATAN DALAM UPAYA PENINGKATAN SISTEM PENJAMINAN MUTU SEKOLAH


1. Perbaikan secara terus-menerus
2. Penentuan standar mutu.
3. Perubahan kultur.
4. Perubahan organisasi.
5. Mempertahankan hubungan dengan pelanggan

Demikian uraian singkat tentang Sistem Penjaminan Mutu Sekolah. bermanfaat.


Menurut fitri (2012:156), pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata
pembelajaran, materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma-norma atau nilai-nilai khususnya
pembelajaran pendidikan kewarganegaraan perlu lagi dikembangkan diimplementasikan dan dikaitkan
dengan konteks kehidupan sehari-hari oleh karena itu pembelajaran nilai nilai karakter seharusnya tidak
hanya diberikan pada aras kognitif saja tetapi juga menyentuh pada internalisasi dan pengalaman nyata
dalam kehidupan peserta didik sehari-hari disekolah, lingkungan maupun masyarakat.

Penanaman pendidikan karakter saat ini sudah diterapkan dalam semua jenjang pendidikan sehingga secara
dokumen diintergrasikan ke dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan mulai dari visi misi, tujuan,
strukutur muatan kurikulum, kalender pendidikan, silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
(Kemdiknas, 2011:9). Pelaksanaan pendidikan karakter dapat dilakukan melalui tiga jalur, yaitu:

 Integrasi melalui mata pelajaran


 Integrasi melalui muatan lokal
 Integrasi melalui pengembangan diri.

Dari ketiga jalur tersebut dapat diperoleh dengan adanya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai kedalam
tingkah laku peserta didik melalui proses pembelajara, baik itu pembelajaran didalam maupun diluar kelas.
(Kemdiknas, 2011:40)

Pendidikan karakter menjadi sesuatu yang sangat penting untuk membentuk peserta didik untuk genarisi 4.0
yang berkualitas, pendidikan karakter juga sebagai alat untuk untuk menciptakan manusia yang baik dari segi
manapun sehingga mampu menyaring pengaruh dari luar yang tidak baik.

Kebijakan pemerintah melalui kementrian pendidikan dan kebudayaan dalam kurikulum 2013 perlu kita
sambut gembira dan didukung oleh semua pihak karena kuurikulum ini sangat baik diterapkan dan sesuai
dengan kebutuhan negara karena pendidikan karakter tidak hanya penting tetapi sudah menjadi hal yang
sangat mutlak setiap negara jika negaranya mau maju dan beradab, banyak fakta-fakta yang membuktikan
bahwa bahwa bangsa yang maju bukan hanya disebabkan oleh sumber daya alam yang melimpah yang
melimpah, melainkan bangsa yang memiliki karakter unggul seperti jujur, kerja keras, tanggung jawab dan
lain sebagainya.
Maskawih (1994:56) berpendapat bahwa pendidikan karakter merupakan keadaan jiwa.hal ini menyebabkan
jiwa bertindak tanpa dipikir atau dipertimbangkan secara mendalam. Keadaan ini ada dua jenis :

 Alamiah dan bertolak dari watak, misalnya pada orang yang gampang sekali marah karena hal yang
paling kecil, atau yang takut menghadapi insiden yang paling sepele, tertawa berlebihan hanya karena
suatu hal yang amat sangat biasa yang membuatnya kagum.
 Tercipta melaui kebiasaan dan latihan pada pada mulanya keadaan ini terjadi karena dipertimbangkan
dan pikirkan, namun kemudian melalui praktek terus menerus menjadi karakter.
 Jalaludin (1997:167) berpendapat bahwa karakter terbentuk dari pengaruh luar, terbentuk dari
asimilasi dan sosialisasi. Asimilasi menyangkut hubungan manusia dengan lingkungan , sedangkan
sosialisasi menyangkut hubungan antar manusia. Kedua unsur inilah yang membentuk karakter dan
karakter merupakan pola seseorang berhubungan dengan lingkunganya.  

Nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa untuk membangkitkan karakter peserta didik perlu
diterapkan dan diimplementasikan kepada peserta didik agar mempunyai karakter yang kuat terhadap
bangsanya. Bagaimanapun sejarah telah membuktikan bahwa nilai materi Pancasila merupakan sumber
kekuatan bagi bangsa Indonesia dan sekaligus sebagai pengikat dan mendorong dalam usaha menegakkan
dan memperjuangkan kemerdekaan hal ini menjadi bukti bahwa nilai Pancasila sebagai kepribadian dan
karakter bangsa Indonesia yang menyatukan beragam suku, ras, bahasa, agama, pulau menjadi bangsa yang
utuh dan satu, didalam nilai Pancasila merupakan jiwa kepribadian bangsa Indonesia dan pandangan hidup
masyarakat diseluruh wilayah nusantara sejak zaman dahulu kala (Laksono, 2008:2).

Oleh Karena itu pendidikan karakter nilai Pancasila bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai yang
membentuk karakter bangsa Indonesia melalui Pancasila yang terdiri dari :

 Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang baik hati, jujur berfikir jernih dan
berprilaku sesuai dengan norma-norma yang ada.
 Membangun bangsa yang berkarakter Pancasila yang artinya tidak ikut-ikutan oleh negara lain dan
mempunyai landasan sendiri yaitu landasan Pancasila.
 Mengembangkan sikap percaya diri kepada peserta didik dan bangga akan bangsa dan negaranya
serta mencintai sesame manusia (Kemdiknas, 2011:7).    

Untuk lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter pendidikan kewarganegaraan ada 18 nilai yang
bersumber dari agama, Pancasila,budaya dan tujuan pendidikan nasional meliputi: religius, jujur, toleransi,
disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu,semangat kebangsaan,mencintai tanah air,
menghargai hak orang lain, saling merangkul, cinta damai, suka membaca, cinta ligkungan, peduli sosial,
dan bertanggung jawab (Kemdiknas, 2011:8)

Strategi dalam membangun karakter peserta didik untuk pembangunan karakter bangsa dalam pelaksanaanya
harus dilakukan secara koheren dengan strategi yang mencakup sosialisasi atau penyadaran, pemberdayaan,
pembudayaan, dan kerjasama seluruh komponen bangsa. Pembangunan karakter ini dilakukan dengan
pendekatan sistematik dan integratif dengan melibatkan keluarga, dunia pendidikan, masyarakat,
pemerintahan beserta jajarannya, media masa, dunia industri dan usaha (Kemdiknas, 2011:6)

Dalam membangkitkan karakter bangsa yang semakin menurun, perlu adanya implementasi nilai-nilai
pancasila sebagai falsafah kehidupan bangsa. Pancasila merupakan dasar negara yang mempunyai refleksi
kritis dan rasional sebagai kenyataan budaya bangsa, dengan tujuan mendapatkan pokok-pokok
pengertiannya secara mendasar dan menyeluruh.

Nilai-nilai pancasila merupakan pengikat sekaligus pendorong dalam usaha menegakkan dan
memperjuangkan kemerdekaan bangsa sehingga menjadi bukti bahwa pancasila sesuai dengan
kepribadiaanya. Pancasila juga sebagai sublimasi nilai-nila kebudayaan yang menyatukan masyarakat
indonesia bersatu dalam beragam suku, ras, agama, bahasa, pulau, menjadi bangsa yang satu. Nilai yang
terkandung dalam pancasila mempunyai jiwa kepribadian pandangan hidup masyarakat di wilayah nusantara
sejak dahulu (Laksono, 2008:2)
Pendidikan karakter bangsa yang bertujuan mengembangkan nilai-nilai pancasila, yaitu:

 Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang mempunyai perilaku baik,
pemikiran yang baik, berhati baik.
 Membangun bangsa yang berkarakter pancasila
 Mengembangkan potensi warga indonesia supaya memiliki sikap percaya diri, mencintai umat
manusia, bangga pada negaranya (Kemdiknas, 2011:7)

Nilai-nilai dan prinsip UUD 1945 dan Pancasila telah diwariskan dan tercermin kedalam UUD 1945, itu
sudah menjadi kesepakatan seluruh rakyat seperti dalam Proklamasi Kemerdekaan, lima sila dalam
pancasila, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara itu prinsip penjelmaan pancasila tercantum
dalam UUD 1945 yang mengenai negara kesatuan yang berbentuk republik, sistem Bhineka Tunggal Ika,
menjunjung tinggi hak asasi manusia, kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan, sistem
ekonomi, sistem pembelaan negara berdasarkan hak dan kewajiban, pemerintahan presidentil dan
pengawasan oleh DPR (Suhady dan Sinaga, 2006: 55-59)

Melihat nilai-nilai dan prinsip UUD 1945 tersebut, maka pendidikan karakter dikembangakan untuk
membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, bermoral, mempunyai akhlak yang mulia, toleran, bergotong
royong, berjiwa patriot, berkembang yang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang
semuanya dijiwai dengan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Manajemen Sekolah merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara efektif dan efisien untuk meningkatkan
kinerja sekolah dalam pencapaian tujuan pendidikan baik tujuan nasional dan tujuan kelembagaan yang hasilnya
bisa dilihat dari beberapa faktor sebagai indikator kinerja yang berhasil dicapai oleh sekolah. Kepala sekolah
dituntut untuk mampu melaksanakan tugas dan fungsinya dalam mengelola berbagai komponen sekolah untuk
mencapai tujuan sekolah yang dirumuskan. Kepala sekolah menunjukkan fungsinya sebagai dua peran besar
yaitu peran sebagai manajer dan peran sebagai pemimpin.[1]
Manajemen sekolah merupakan tindakan pengelolaan dan pengadministrasian sekolah. Manajemen sekolah
berarti memberdayakan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan sekolah.
Manajemen sekolah memiliki dua aspek, yaitu aspek manajemen eksternal dan manajemen internal. Manajemen
internal sekolah meliputi perpustakaan, laboratorium, bangunan dan saran fisik lainnya, sumber dana,
pelaksanaan evaluasi pendidikan, dan hubungan antar guru, murid. sedangkan manajemen eksternal meliputi
hubungan dengan pihak luar sekolah seperti masyarakat, dewan pendidikan, dinas pendidikan maupun pihak
lain yang terkait dengan fungsi sekolah.[1]