Anda di halaman 1dari 19

ASKEB KEGAWATDARURATAN MATERNAL DAN NEONATAL

”KEGAWATDARURATAN RETENSIO PLASENTA”

DISUSUN OLEH :

SINTYA ZOELITHA. S

1515301160

DOSEN PEMBIMBING :

Detty Afriyanti S, S.ST, M.Keb

PROGRAM STUDI DIV KEBIDANAN

STIKES FORT DE KOCK

TAHUN 2015
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tingginya Angka Kematian Ibu merupakan masalah besar yang terjadi dalam bidang

kesehatan. Angka kematian ibu di Indonesia masih tertinggi d ASEAN dan Indonesia.

Persalinan merupakan hal yang sangat di tunggu oleh ibu hamil. Tapi dalam persalinan dan

setelah melahirkan adalah suatu yang sangat rawan bagi ibu untuk mengalami perdarahan

yang begitu hebat dan perdarahan tersebut adalah salah satu faktor tertinggi penyebab

kematian pada ibu. Perdarahan yang terjadi pada ibu diantaranya diakibatkan oleh

terhambatnya kelahiran plasenta melebihi dari 30 menit. Hal ini di akibatkan karena

tertinggalnya sebagian sisa plsenta di dalam uterus ibu karena perlekatan yang begitu erat.

 Lepasnya plasenta tidak terjadi bersamaan sehingga sebagian masih melekat pada tempat

implantasinya. Menyebabkan terganggunya kontraksi otot uterus sehingga sebagian pembuluh

darah tetap terbuka serta menimbulkan perdarahan.ini lah yang disebut dengan RETENSIO

PLASENTA

Data yang terkumpul dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), angka

kematian ibu (AKI) di Indonesia pada tahun 2005 yaitu 262/100.000 kelahiran

hidup.Diharapkan pada tahun 2010, AKI menurun menjadi 225 per 100.000 kelahiran hidup

(Depkes, 2004).

Berdasarkan penyebab perdarahan, salah satunya di sebabkan oleh Retensio Plasenta

dengan frekuensi (16-17%) dan penyebab yang lain yaitu Atonia Uteri dengan frekuensi (50-

60%), laserasi jalan lahir dengan frekuensi (23-24%), pembekuan darah dengan frekuensi

(0,5-0,8%) (Geocities,2006).
B. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian dari retensio plasenta

2. Untuk mengetahui jenis/ klasifikasi retensio plasenta

3. Untuk mengetahui tanda dan gejala retensio plasenta

4. Untuk mengetahui faktor etiologi retensio plasenta

5. Untuk mengetahui Patofisiologi retensio plasenta

6. Untuk mengetahui Diagnosis Retensio P;asenta

7. Untuk mengetahui Kompilkasi Retensio Plasenta

8. Untuk mengetahui penanganan dari retensio plasenta

9. Untuk mengetahui prosedur/ daftar tilik dari retensio plasenta 


PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN RETENSIO PLASENTA

Retensio plasenta adalah belum lepasnya plasenta dengan melebihi waktu

setengah jam. Keadaan ini dapat diikuti perdarahan yang banyak, artinya hanya sebagian

plasenta yang telah lepas sehingga memerlukan tindakan plasenta manual dengan segera.

Bila retensio plasenta tidak diikuti perdarahan maka perlu diperhatikan ada kemungkinan

terjadi plasenta adhesive, plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta perkreta. (Manuaba

(2006:176).

Menurut Kunsri (2007) Retensio plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta

selama setengah jam setelah persalinan bayi, dapat terjadi retensio plasenta berulang

( habitual retension ) oleh karena itu plasenta harus di keluarkan karna dapat

menimbulkan bahaya perdarahan.

B. Klasifikasi Retensio Plasenta

Berdasarkan tempat implantasinya retensio plasenta dapat di klasifikasikan menjadi 5

bagian :

a. Plasenta Adhesiva

Implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga menyebabkan kegagalan

mekanisme perpisahan fisiologis.

b. Plasenta Akreta

Implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki lapisan miometrium.


c. Plasenta Inkreta

Implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai atau memasuki miometrium.

d. Plasenta Perkreta

Implantasi jonjot khorion plsenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan

serosa dinding uterus.

e. Plasenta Inkarserata

Tertahannya plasenta di dalam kavum uteri, disebabkan oleh kontraksi ostium uteri

(Sarwono, 2005).

C. Tanda dan gejala Retensio Plasenta

Separasi/ akreta Plasenta


Gejala Plasenta Akreta
parsial Inkaserata
Konsistensi
Kenyal Keras Cukup
Uterus
2 jari bawah
Tinggi Fundus Sepusat Sepusat
pusat
Bentuk Uterus Diskoid Agak Globuler Diskoid
Perdarahan Sedang-Banyak Sedang Sedikit/tidak ada
Tali Pusat Terjulur sebagian Terjulur Tidak terjulur
Ostium uteri Terbuka Konstriksi Terbuka
Separasi Melekat
Lepas sebagian Sudah lepas
plasenta seluruhnya
Syok Sering Jarang Jarang sekali

Tabel : Gambaran dan dugaan penyebab retensio plasenta

D. Etiologi Retensio Plasenta

Penyebab Retentio Plasenta menurut Sastrawinata (2006:174) adalah:


Fungsional:

1) His kurang kuat (penyebab terpenting)

2) Plasenta sukar terlepas karena tempatnya (insersi di sudut tuba); bentuknya (plasenta

membranasea, plasenta anularis); dan ukurannya (plasenta yang sangat kecil). Plasenta

yang sukar lepas karena penyebab di atas disebut plasenta adhesive.

Sebab-sebabnya plasenta belum lahir bisa oleh karena:

a) Plasenta belum lepas dari dinding uterus

b) Plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan.

Apabila plasenta belum lahir sama sekali, tidak terjadi perdarahan; jika lepas sebagian,

terjadi perdarahan yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya.

Plasenta belum lepas dari dinding uterus karena kontraksi uterus kurang kuat untuk

melepaskan plasenta (plasenta adhesiva), plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh

sebab vili korialis menembus desidua sampai miometrium- sampai di bawah peritoneum

(plasenta akreta-perkreta).

Plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar, disebabkan oleh

tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III, sehingga

terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta

(inkarserasio plasenta).

Menurut Manuaba (2006:301) kejadian retensio plasenta berkaitan dengan:

a) Grandemultipara dengan implantasi plasenta dalam bentuk plasenta adhesive, plasenta

akreta, plasenta inkreta, dan plasenta perkreta

b) Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan

Retensio plasenta tanpa perdarahan dapat diperkirakan:


1. Darah penderita terlalu banyak hilang

2. Keseimbangan baru berbentuk bekuan darah, sehingga perdarahan tidak terjadi

3. Kemungkinan implantasi plasenta terlalu dalam

Plasenta manual dengan segera dilakukan :

1. Terdapat riwayat perdarahan postpartum berulang

2. Terjadi perdarahan postpartum berulang

3. Pada pertolongan persalinan dengan narkosa

4. Plasenta belum lahir setelah menunggu selama setengah jam

E. Patofisiologi

Pada kondisi retensio plasenta, lepasnya plasenta tidak terjadi secara bersamaan dengan

janin, karena melekat pada tempat implantasinya. Menyebabkan terganggunya retraksi dan

kontraksi otot uterus sehingga sebagian pembuluh darah tetap terbuka serta menimbulkan

perdarahan.

F. Diagnosis

Anamnesis meliputi pertanyaan tentang periode prenatal, meminta informasi mengenai

episode perdarahan pospartum sebelumnya, paritas, serta riwayat multiple fetus dan

polihidramnion. Serta riwayat postpartum sekarang dimana plasenta tidak lepas secara

spontan atau timbul perdarahan aktif setelah bayi dilahirkan.

Pada pemeriksaan pervaginam, plasenta tidak ditemukan didalam kanalis servikalis tetapi

secara parsial atau lengkap menempel didalam uterus

G. Komplikasi Retensio Plasenta


Plasenta harus dikeluarkan karena dapat menimbulkan bahaya:

1. Perdarahan

Terjadi terlebih lagi bila retensio plasenta yang terdapat sedikit perlepasan hingga

kontraksi memompa darah tetapi bagian yang melekat membuat luka tidak menutup.

2. Infeksi

Karena sebagai benda mati yang tertinggal di dalam rahim meningkatkan pertumbuhan

bakteri dibantu dengan port d’entre dari tempat perlekatan plasenta.

3. Dapat terjadi plasenta inkarserata dimana plasenta melekat terus sedangkan kontraksi pada

ostium baik hingga yang terjadi.

4. Terjadi polip plasenta sebagai massa proliferative yang mengalami infeksi sekunder dan

nekrosis Dengan masuknya mutagen, perlukaan yang semula fisiologik dapat berubah

menjadi patologik (displastik-diskariotik) dan akhirnya menjadi karsinoma invasif. Sekali

menjadi mikro invasive atau invasive, proses keganasan akan berjalan terus.

Sel ini tampak abnormal tetapi tidak ganas. Para ilmuwan yakin bahwa beberapa

perubahan abnormal pada sel-sel ini merupakan langkah awal dari serangkaian perubahan

yang berjalan lambat, yang beberapa tahun kemudian bisa menyebabkan kanker. Karena

itu beberapa perubahan abnormal merupakan keadaan prekanker, yang bisa berubah

menjadi kanker.

5. Syok haemoragik

H. Penatalaksanaan Penanganan Retensio Plasenta

Penanganan retensio plasenta berupa pengeluaran plasenta dilakukan apabila plasenta

belum lahir dalam 1/2-1 jam setelah bayi lahir terlebih lagi apabila disertai perdarahan.

Tindakan penanganan retensio plasenta :


Sikap Bidan dalam Menghadapi Retensio Plasenta

1) Sikap Umum Bidan

a. Memperhatikan keadaan umum penderita

-  Apakah anemis

-  Bagaimana jumlah perdarahannya

-  Keadaan umum penderita : tekanan darah, nadi, dan suhu

- Keadaan fundus uteri : kontraksi dan tinggi fundus uteri

b. Mengetahui keadaan plasenta

- Apakah plasenta inkarserata

c. Memasang infus dan memberikan cairan pengganti

2) Sikap Khusus Bidan

a. Retensio plasenta dengan perdarahan

- Langsung melakukan plasenta manual

b. Retensio plasenta tanpa perdarahan

-  Setelah dapat memastikan keadaan umum penderita segera memasang infus dan

memberikan cairan

- Merujuk  pasien ke pusat dengan fasilitas cukup, untuk mendapatkan penanganan yang

lebih baik

- Memberikan transfusi

- Proteksi dengan antibiotic

- Mempersiapkan plasenta manual

Penanganan Umum
1) Jika plasenta  terlihat dalam vagina, minta ibu meneran dan jika dapat merasakan plasenta

dalam vagina keluarkan  plasenta tersebut.

2) Pastikan kandung kemih kosong. Jika diperlukan lakukan kateterisasi kandung kemih.

3) Jika plasenta belum dilahirkan setelah 30 menit pemberian oksitosin dan uterus terasa

berkontraksi, lakukan penarikan tali pusat terkendali.

4) Jika traksi tali pusat terkendali belum berhasil, cobalah untuk melakukan pengeluaran secara

manual.

abel Penatalaksanaan Penanganan Retensio Plasenta

UNIT KOMPETENSI

Penatalaksanaan Retensio Plasenta


Kemampuan Yang Dinilai : Kemampuan Anamnesis, Kemampuan Pemeriksaan Fisik,

Melakukan Tes/Prosedur Klinik/Interprestasi Data untuk Menunjang Diagnosis Banding atau

Diagnosis, Penegakan Diagnosis, Tata Laksana.

Area Asuhan Kebidanan : Kegawatdaruratan Maternal

KASUS

Ny. W umur 27 tahun, telah melahirkan anak ke-4 secara spontan di RB. Bidan telah

memberikan suntikan oksitosin 10 IU/IM pada jam 04.32 WIB, kemudian dicoba melakukan

PTT tetapi plasenta belum lepas. Pada pukul 05.00 WIB Plasenta masih belum lepas dan tampak

adanya perdarahan pervaginam.

Peralatan yang dibutuhkan serta Tata Ruang (Manual Plasenta)

I. Alat yang dibutuhkan


1. Handscoon

2. Infus set
3. APD (Alat Perlindungan Diri)

4. Baskom sedang (Klorin 0,5%

dan air DTT)

5. Klem penjepit atau kocher

6. Kain alas bokong

7. Tensi meter, stetoskop, dan

termometer
8. Kateter nelaton steril dan

penampung urin

9. Obat-obatan (oksitosin)

10. Kotak sampah medis

11. Spuit 5 cc
II. Tata Ruang Tindakan (Retensio Plasenta)

Ruangan harus tertutup, aman,

nyaman, tenang dan alat yang

diperlukan tersedia didekat penolong

PENILAIAN KOMPETENSI

MANUAL PLASENTA

PENUNTUN BELAJAR

MANUAL PLASENTA
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
Persiapan Sebelum Tindakan :
1. Klien :
a.   Cairan dan slang infus sudah terpasang. Perut bawah dan paha sudah

dibersihkan

b.   Uji fungsi dan kelengkapan peralatan resusitasi

c.   Menyiapkan kain alas bokong dan penutup perut bawah

d.   Medikamentosa :

  Analgetika ( Pethidin 1-2 mg/kg BB /  Ketamin HCl 0,5 mg/kg BB / tramadol 1-2

mg/kg BB

  Sedativa ( Diazepam 10 mg )

  Uterotonika ( Oksitosin, Ergometrin, Prostaglandin )

  Bethadine

  Oksigen dan regulator


2. Penolong :

a.   Celemek, masker, kacamata pelindung, sepatu bot

b.   Sarung tangan panjang DTT / Steril

c.   Instrumen :

     Klem  : 2 buah

     Spuit 5 cc dan jarum no. 23  : 4 buah

     Wadah Plasenta : 1 buah

     Kateter dan penampung air kemih : 1 buah

     Heacting set : 1 set

d.   Larutan Klorin 0,5 %


Persetujuan Tindakan Medik
3. Menjelaskan kepada klien tentang prosedur yang akan dilakukan
4. Mendengarkan keluhan klien
5. Memberikan dukungan emosional kepada klien
Tindakan Penetrasi ke Kavum Uteri
6. Mencuci tangan hingga siku dengan air dan sabun kemudian keringkan
7. Memberikan sedativa dan analgetik melalui karet infus
8. Memakai sarung tangan hingga mencapai siku
9. Mengkaterisasi kandung kemih apabila ibu tidak dapat berkemih sendiri
10. Menjepit tali pusat dengan klem dan tegangkan  tali pusat sejajar lantai
11. Memasukkan satu tangan secara obstetrik (punggung tangan ke bawah)

dalam vagina dengan menelusuri bagian bawah tali pusat


12. Setelah tangan mencapai pembukaan servik, meminta asisten untuk

memegang klem, kemudian tangan penolong yang lain menahan fundus uteri
13. Sambil menahan fundus uteri, memasukkan tangan dalam ke klavum uteri

sehingga mencapai tempat implatasi plasenta


14. Membuka tangan obstetrik menjadi seperti memberi salam (ibu jari merapat

ke pangkal jari telunjuk)


Melepas Plasenta dari Dinding Uterus
15. Menentukan tempat implantasi plasenta, temukan tepi plasenta paling bawah

         Bila berada di belakang, tali pusat tetapdi sebelah atas. Bila dibagian depan,

pindahkan tangan ke bagian depan tali pusat dengan punggung tangan

menghadap ke atas

         Bila plasenta di bagian belakang, lepaskan plasenta dari tempat

implantasinya dengan jalan menyelipkan ujung jari di antara plasenta dan

dinding uterus, dengan punggung tangan menghadap ke dinding dalam

uterus

         Bila plasenta di bagian depan, lakukan hal yang sama (pungggung tangan

pada dinding kavum uteri) tetapi tali pusat berada di bawah telapak tangan

kanan
16. Menggerakkan tangan kanan ke kiri dan kanan sambil bergeser ke kranial

sehingga semua permukaan maternal plasenta dapat dilepaskan

         Sambil melakukan tindakan, perhatikan keadaan ibu, lakukan penanganan


yang seuai bila terjadi penyulit
Mengeluarkan Plasenta
17. Sementara satu tangan masih di dalam kavum uteri, lakukan eksplorasi ulang

untuk memastikan tidak ada bagian plasenta yang masih melekat pada

dinding uterus
18. Pindahkan tangan luar ke supra simfisis untuk menahan uterus saat plasenta

dikeluarkan
19. Instruksikan asisten yang memegang klem untuk menarik tali pusat sambil

tangan dalam menarik plasenta keluar (hindari percikan darah)


20. Letakkan plasenta ke dalam tempat yang telah disediakan
21. Lakukan sedikit pendorongan uterus (dengan tangan luar) ke dorsokranial

setelah plasenta lahir

         Perhatikan kontraksi uterus dan jumlah perdarahan yang keluar


22. Memeriksa kelengkapan plasenta
23. Dekontaminasi alat bekas pakai ke dalam larutan klorin 0.5% dan membuka

sarung tangan di dalam larutan klorin 0.5%


24. Membersihkan dan merapikan ibu
25. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
Perawatan Lanjutan
26. Memonitor perdarahan pervaginam dam memeriksa tanda-tanda vital :

  setiap 15 menit pada jam pertama

  setiap 30 menit pada jam kedua


27. Meyakinkan bahwa uterus tetap berkontraksi
28. Catat kondisi pasien dan buat laporan tindakan
29. Buat instruksi pengobatan lanjutan dan hal-hal penting untuk dipantau
30. Beritahukan kepada ibu dan keluarganya bahwa tindakan telah selesai tetapi

ibu masih memerlukan perawatan


SKOR NILAI  = ∑  NILAI    X  100%

             90          
DAFTAR PUSTAKA

Depkes, 2004. Data AKI oleh Retensio Plasenta. http://www. depkes.go.id. diakses 11 oktober

2015 pukul 17.00 WIB.

Geocities,2006. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Kelahiran. Jakarta: EGC.

JNPK-KR. 2008. Pelatihan Klinik Persalinan Normal. USAID. Jakarta: Depkes RI.

Khairuddin, dr. Bahar. 2010. Asuhan Kebidanan 4 Pathologis. Jakarta: Trans Info Media.


Khairuddin, dr. Bahar. 2009. Asuhan Kebidanan 4 Pathologis. Jakarta: Trans Info Media

Kunsri. 2007. Buku Saku Persalinan. Jakarta: EGC.

Manuaba. 2008. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk

Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.

Prawirohardjo, S. 2000. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono

Prawirohardjo.

Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBPSP

Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono

Anda mungkin juga menyukai