Anda di halaman 1dari 14

BAB 3

Risk and Return of Investment of Single Asset

Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Return dapat berupa return
realisasian yang sudah terjadi atau return ekspektasian yang belum terjadi tetapi yang
diharapkan akan terjadi di masa mendatang.
Risk sering dihubungkan dengan penyimpangan atau deviasi dari outcome yang
diterima dengan yang diekspektasi. Van Horne dan Wachowics, Jr. (1992) mendefinisikan
risiko sebagai variabilitas return terhadap return yang diharapkan.

3.1. Expected Rate of Return (Return Ekspektasian)


Return ekspektasian (expected return) merupakan return yang digunakan untuk
pengambilan keputusan investasi. Return ini penting dibandingkan dengan return
historis karena return ekspektasian merupakan return yang diharapkan dari investasi
yang akan dilakukan. Hartono, Jogiyanto (2016:300).
Return ekspektasian dapat dihitung dengan cara :
1. Berdasarkan nilai ekspektasian masa depan.
2. Berdasarkan nilai-nilai return historis.
3. Berdasarkan model return ekspektasian yang ada.

3.1.1. Berdasarkan Nilai Ekspektasian Masa Depan


Return yang akan diperoleh investor jumlahnya tidak dapat dipastikan
karena adanya ketidakpastian (uncertainty). Sehingga, return yang akan diterima
perlu diestimasi nilainya dengan segala kemungkinan yang dapat terjadi sehingga
hasil di masa depan (outcome) dapat diantisipasi.
Return ekspektasian dapat dihitung dengan metode nilai ekspektasian
(expected value method), yaitu mengalikan masing-masing outcome dengan
probabilitas kejadian dan menjumlah semua produk perkalian tersebut. Secara
sistematis dituliskan dalam rumus berikut :
n

E(Ri) =∑ Rij . Pj
i=1

Keterangan :
E(Ri) = return ekspektasian suatu aktiva atau sekuritas ke-i
Rij = hasil masa depan ke-j untuk sekuritas ke-i
Pj = probabilitas hasil masa depan ke-j (untuk sekuritas ke-i)
n = jumlah dari hasil masa depan

CONTOH SOAL 1
Berikut ini merupakan lima buah hasil masa depan dengan probabilitas
kemungkinan terjadinya untuk masing-masing kondisi ekonomi yang berbeda.
Berdasarkan tabel tersebut, berapa nilai return ekspektasian yang akan terjadi?
Tabel 3.1.1

Hasil Masa Depan dan Probabilitas Terjadinya


Kondisi Hasil Masa Depan Probabilitas
Ekonomi (Rij) (Pj)
(j)

Resesi -0,09 0,10

Cukup Resesi -0,05 0,15

Normal 0,15 0,25

Baik 0,25 0,20

Sangat Baik 0,27 0,30


Sumber: Hartono, Jogiyanto (2016:300).

3.1.2. Berdasarkan Nilai-Nilai Return Historis


Nilai historis digunakan untuk mengurangi ketidakakuratan perhitungan
return dengan nilai ekspektasian masa depan yang bersifat subjektif. Metode
yang dapat digunakan yaitu :

1. Metode rata-rata (mean method)


Metode ini mengasumsikan bahwa return ekspektasian dapat dianggap
sama dengan rata-rata nilai historisnya. Menggunakan rata-rata return historis
berarti tidak mempertimbangkan pertumbuhan dari return-returnnya. Metode
ini dilakukan dengan cara menjumlahkan semua nilai return ekspektasian
dibagi dengan periodenya.
2. Metode trend (trend method)
Metode trend dilakukan dengan cara menghitung return ekspektasian
dengan mempertimbangkan atau memperhitungkan pertumbuhan return-
returnnya.
3. Metode jalan acak (random walk method)
Metode ini beranggapan bahwa distribusi data return bersifat acak
sehingga sulit digunakan untuk memprediksi, sehingga diperkirakan return
terakhir akan terulang di masa depan. Nilai return ekspektasian pada metode
jalan acak diambil dari nilai return yang terakhir terjadi.

Metode mana yang terbaik tergantung dari distribusi data returnnya. Jika
distribusi data return mempunyai pola trend, maka metode trend mungkin akan
lebih baik. Sebaliknya jika distribusinya acak, maka metode rata-rata atau
random walk akan menghasilkan return ekspektasian lebih tepat.
CONTOH SOAL 2
Berdasarkan tabel lima periode terakhir return mingguan historis berikut ini,
carilah nilai return yang akan terjadi menggunakan metode rata-rata, metode
trend, dan metode jalan acak. Kemudian buatlah grafiknya!

Tabel 3.1.2

Return Mingguan
Lima periode terakhir
Minggu ke Return (Ri)

-5 0,30%

-4 0,40%

-3 0,05%

-2 0,20%

-1 0,25%
Sumber : Hartono, Jogiyanto (2016:300).

3.1.3. Berdasarkan Model Return Ekspektasian


Tidak banyak model-model untuk menghitung return ekspektasian padahal
model ini sangat dibutuhkan. Model yang tersedia yang populer dan banyak
digunakan adalah Single Index Model dan Model Capital Assets Pricing Model
(CAPM).
1. Single Index Model (SIM)
Single Index Model atau Model Indeks Tunggal mengaitkan
perhitungan return setiap aset pada return indeks pasar dan asumsi
yang dipakai adalah bahwa sekuritas akan berkolerasi hanya jika
sekuritas-sekuritas tersebut mempunyai respon yang sama tehadap
perubahan pasar..

Untuk menghitung return menggunakan Model SIM digunakan rumus:

SIM = αp + βp x E(Rm)

Keterangan:
SIM = Expected Return menggunakan Single Index Model
αp = Alpha Portofolio (SUM dari Alpha Portofolio Individual)
βp = Beta Portofolio (SUM dari Beta Portofolio Individual)
E(Rm) = Expected Return Market
2. Capital Assets Pricing Model (CAPM)
Untuk menghitung return ekspektasian menggunakan Model CAPM
digunakan rumus :

CAPM = E(𝑅𝑓) + 𝛽p[𝐸(𝑅𝑚) − E(𝑅𝑓)]

Keterangan:
CAPM = Expected Return menggunakan CAPM
βp = Beta Portofolio (SUM dari Beta Portofolio Individual)
E(Rm) = Expected Return Market
E(Rf) = Expected Return Risk Free
CONTOH SOAL :
Return aktiva bebas risiko adalah sebesar 12%. Return portofolio pasar adalah sebesar
15%. Saham A mempunyai Beta sebesar 1,8. Return dari saham ini dapat dihitung sebesar :

CAPM = E(𝑅𝑓) + 𝛽p[𝐸(𝑅𝑚) − E(𝑅𝑓)]


= 12% + 1,8 (12% -12%)
= 17,4%
Jadi, return dari saham ini sebesar 17,4%.

3.2. Required Rate of Return


Required rate of return membahas tentang faktor-faktor yang harus
dipertimbangkan saat memilih sekuritas untuk portofolio investasi. Proses seleksi ini
melibatkan pencarian sekuritas yang memberikan tingkat pengembalian untuk investor.
Faktor-faktor yang dipertimbangkan meliputi :

1. Tingkat bebas risiko riil (RRFR)


2. Variabel yang mempengaruhi Nominal Risk-Free Rate (NRFR)
3. Risiko-risiko.
Reilly dan Brown (2011:20)

Untuk menghitung Required Rate of Return digunakan Model CAPM dengan


rumus :

RRR = E(𝑅𝑓) + 𝛽p[𝐸(𝑅𝑚) − E(𝑅𝑓)]

Keterangan:
RRR = Required Rate of Return
βp = Beta Portofolio (SUM dari Beta Portofolio Individual)
E(Rm) = Expected Return Market
E(Rf) = Expected Return Risk Free
(Administrator, Super. Cara Menghitung Imbal Hasil Saham yang Diisyaratkan/Required
Rate of Return, Menggunakan Capital Asset Pricing Model CAPM, 2019,
www.bigbrotherinvestment.com. Diakses pada 19 Oktober 2020.)

3.2.1. Tingkat bebas risiko riil (RRFR)

Tingkat bebas risiko riil (Real Risk Free Rate atau RRFR) adalah tingkat
bunga dasar, dengan asumsi tidak ada inflasi dan tidak ada ketidakpastian tentang
arus masa depan. Tingkat bebas risiko riil dipengaruhi oleh peluang investasi
dalam perekonomian. Reilly dan Brown (2011:15)

3.2.2. Variabel yang mempengaruhi Nominal Risk-Free Rate (NRFR)

Faktor-faktor yang mempengaruhi NRFR, yaitu kondisi pasar modal,


tingkat inflasi yang diharapkan, dan pengaruh umum lainnya. Reilly dan Brown
(2011:16)

Investor mengharapkan tingkat harga (tingkat inflasi) stabil selama periode


investasi. Inflasi akan menggerus nilai uang dari waktu ke waktu, termasuk
investasi. Oleh sebab itu, investor harus membeli produk investasi dengan tingkat
pengembalian yang lebih besar atau setidaknya sama dengan tingkat inflasi.
Dengan demikian, inflasi tidak akan berdampak buruk pada investasi. Sebaliknya,
apabila tingkat pengembalian investasi lebih rendah dibandingkan dengan tingkat
inflasi, maka pengembalian nyata investasi akan minus. Reilly, F. K. & Brown,
K. C.(2011:17)

Tingkat pengembalian nominal yang disyaratkan atas investasi bebas risiko :

NRFR = [(1 + RRFR) × (1 + Expected Rate of Inflation)]


−1

Dengan menyusun ulang rumus tersebut, maka dapat dihitung RRFR sebagai
berikut :

RRFR = ¿

Reilly, F. K. & Brown, K. C.(2011:17)


3.2.3. Risiko-risiko

Investasi bebas risiko didefinisikan sebagai investasi dimana investor yakin


akan jumlahnya dan waktu pengembalian sesuai dengan yang diharapkannya.
Namun, hasil dari sebagian besar investasi tidak sesuai dengan pola tersebut.
Pada kenyataannya, terdapat ketidakpastian tentang tingkat pengembalian yang
diharapkan, yaitu adanya premi risiko seperti :

a. Risiko Bisnis

Risiko bisnis adalah ketidakpastian arus pendapatan yang disebabkan


oleh sifat bisnis perusahaan. Semakin tidak pasti arus pendapatan perusahaan,
semakin kurang pasti pendapatan mengalir ke investor.

b. Risiko Keuangan

Risiko keuangan adalah ketidakpastian yang dipengaruhi oleh metode


yang digunakan perusahaan untuk mendanai investasi. Risiko ini berkaitan
dengan keputusan perusahaan untuk menggunakan hutang dalam pembiayaan
modalnya.

c. Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas adalah ketidakpastian yang ditimbulkan oleh pasar


sekunder untuk investasi. Risiko ini berkaitan dengan kecepatan suatu
sekuritas yang diterbitkan perusahaan dapat diperdagangkan di pasar sekunder.

d. Risiko Nilai Tukar

Risiko nilai tukar adalah ketidakpastian hasil bagi investor yang


memperoleh sekuritas dalam mata uang yang berbeda dari miliknya. Risiko ini
berkaitan dengan fluktuasi nilai tukar mata uang domestik (negara perusahaan
tersebut) dengan nilai mata uang negara lain.

e. Risiko Negara (Politik)


Risiko negara, juga disebut dengan risiko politik, adalah ketidakpastian
pengembalian yang disebabkan oleh kemungkinan dari perubahan besar dalam
lingkungan politik atau ekonomi suatu negara. Risiko ini sangat berkaitan
dengan kondisi perpolitikan suatu negara. Tandelilin, Erduardus (2010:103).

CONTOH SOAL 3

Asumsikan bahwa pengembalian nominal pada T-bills pemerintah AS adalah 9%


selama tahun tertentu, saat itu tingkat inflasi adalah 4%. Berapa hasil dari RRFR?

3.3. Real Return (Return Realisasian)


Return realisasi ( real return) merupakan return yang telah terjadi yang dihitung
menggunakan data historis. Real Return digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja
dari perusahaan, dan juga berguna sebagai dasar penentuan return ekspektasian
(expected return) dan mengukur risiko di masa datang. Hartono, Jogiyanto (2016:283).

3.3.1. Total Return


Return atas investasi adalah keuntungan atau kerugian dari investasi ketika
seseorang membeli aset finansial. Total return atas investasi terdiri dari dua
komponen :

a. Yield, adalah tunai apapun yang diterima seseorang ketika mempunyai


investasi. Untuk saham pembayaran tunai dari perusahaan kepada
pemegang saham disebut dividen. Dividen adalah persentase penerimaan
kas periodik terhadap harga investasi periode tertentu dari suatu investasi.
Untuk obligasi, yield adalah persentase bunga pinjaman yang diperoleh
terhadap harga obligasi pada umumnya.

Rumus persentase dividend yield :

Dt
=
P (t−1)

Keterangan :

Dt = dividen selamat tahun t

P(t-1) = harga saham per lembar pada awal tahun t


b. Nilai aset yang dibeli mungkin dapat berubah. Nilai aset yang berubah
disebut capital gain dan capital loss. Capital gain adalah perubahan harga
yang terjadi ketika saham mengalami peningkatan. Sedangkan capital loss
adalah perubahan harga yang terjadi ketika saham mengalami penurunan.
Jika dinyatakan sebagai persentase, capital gain atau loss dihitung sebagai
perubahan harga selama setahun dibagi harga awal tahun.

Rumus persentase capital gain (loss) :

Pt −P(t−1)
=
P( t−1)

Keterangan :

Pt = harga saham per lembar pada akhir tahun t

P(t-1)= harga saham per lembar pada awal tahun t

Dengan menggabungkan kedua komponen return tersebut, maka didapatkan


tingkat return (rate of return) yang dinyatakan secara persentase. Total return
dapat dihitung sebagai :

Total return = yield + capital gain (loss)

Atau

Total return = yield + perubahan harga

Atau secara formalnya, total return didefinisikan sebagai :

Aliran kas selama periode+ Perubahan harga selama periode


=
Harga pada awal periode

Tandelilin, Erduardus (2010:51) dan Hartono Jogiyanto (2016:284)

Contoh soal :

Sebuah obligasi bernilai Rp 1.000.000 dengan kupon 15% (maka bunga kupon adalah
Rp 150.000 per tahun) dibeli seorang investor pada harga Rp 980.000. Obligasi
dipegang satu tahun dan dijual pada harga Rp 990.000. Maka :

Total Return = (Aliran kas selama periode + Perubahan harga selama periode) / Harga
pada awal priode

= ( Rp 150.000 + ( Rp 990.000 – Rp 980.000 )) / Rp 980.000

= Rp 160.000 / Rp 980.000

= 0,1633

= 16,33%

3.3.2. Relatif Return


Relatif return dapat digunakan dengan menambahkan nilai 1 terhadap nilai
return total, dengan rumus sebagai berikut : Hartono, Jogiyanto (2016:288)

Relatif Return = (Return Total + 1)


Atau
Pt −Pt −1−Dt
Relatif Return =
Pt −1
+1
Atau
Pt −Pt −1−Dt Pt −1
Relatif Return =
Pt −1
+ Pt −1 →Relatif Return = Pt −Pt −1−Dt
Pt −1
+ Pt −1

3.3.3. Kumulatif Return


Untuk mengukur perubahan kemakmuran yaitu perubahan harga dari saham dan
perubahan pendapatan dari deviden yang diterima. Untuk mengetahui total
kemakmuran, indeks kemakmuran kumulatif (cumulative wealth index) dapat
digunakan IKK (Indeks Kemakmuran Kumulatif), yaitu mengukur semua return mulai
dari kemakmuran awal ( yang dimiliki sebagai berikut : Hartono, Jogiyanto (2016:290)

IKK=KK 0(1+ R 1)(1+ R 2)........(1+ Rn)

Keterangan :

IKK = Indeks Kemakmuran Kumulatif, mulai dari periode pertama sampai ke n

KK0 = Kekayaan awal, biasanya digunakan nilai Rp1

Rt = Return periode ke t, mulai dari awal periode (t = 1) sampai ke akhir periode


(t = n)

3.3.4. Return Disesuaikan


Semua return yang telah dibahas sebelumnya mengukur jumlah satuan nilai uang atau
perubahan jumlahnya tetapi tidak menyebutkan tentang kekuatan pembelian dari nilai uang
tersebut. Untuk mempertimbangkan kekuatan pembelian satuan mata uang, perlu
mempertimbangkan real return, atau inflation-adjusted returns.
Hartono, Jogiyanto (2016:294)

Rumus :

(1+ R)
RIA = (1+ IF ) - 1

Keterangan :

RIA : return sesuai inflasi

R : return nominal

IF : tingkat inflasi

Contoh :
Return sebesar 17% yang diterima setahun dari sebuah surat berharga jika disesuaikan
dengan tingkat inflasi sebesar 5% untuk tahun yang sama, akan memberikan return riil
sebesar :

RIA = ((1+0,17))/((1+0,05))-1 = 0,11429 atau 11,429%

Jika investasi dilakukan di luar negeri, pengembalian yang diperoleh perlu


disesuaikan dengan kurs mata uang yang berlaku sebagai berikut :

Nilai Akhir MataUang Domestik


RKA = RR( Nilai Awal MataUang Domestik )
−1

Keterangan :
RKA = Return yang disesuaikan dengan kurs mata uang asing
RR = Relatif return

Contoh :
Investor Indonesia yang membeli saham perusahaan Amerika pada awal tahun 1997
mendapatkan return tahunan sebesar 15%. Pada saat membeli saham ini, harga kurs beli US$
adalah sebesar Rp2.000,- dan pada akhir tahun, kurs jual adalah sebesar Rp2.100,- per US$.
Return bersih yang diperoleh setelah disesuaikan dengan kurs adalah sebesar
R_KA = (1,15 Rp2.100/(Rp 2.000) )-1 = 0,2075 atau 20,75%
3.3.5. Rata- rata Geometrik
Rata-rata geometrik merupakan rata-rata yang memperhatikan tingkat pertumbuhan
kumulatif dari waktu ke waktu. Hartono, Jogiyanto (2016:296)
Rumus :

RG =((1+ R 1)(1+ R2 )........(1+ R n))1n- 1

Keterangan :
RG : rata-rata geometrik
R1: return untuk periode ke-i

n : jumlah dari return

SOAL 4

Periode Harga Saham (Pt)


(1) (2)

1989 1750

1990 1755

1991 1790

1992 1810

1993 2010

1994 1905

1995 1920

1996 1935

Dengan data di samping, hitung berapa besar Indeks Kemakmuran Kumulatif pada tahun
1993 yang diukur berdasarkan :

1) Akumulasi semua return mulai dari kemakmuran awal


2) Perkalian perubahan harga kumulatif dengan yield kumulatif.

3.4. Expected Risk

Dalam sebuah investasi tentunya terdapat return dan risiko. Hanya menghitung
return saja untuk suatu investasi tidaklah cukup. Risiko dari investasi juga perlu
diperhitungkan. Karena pertimbangan suatu investasi merupakan trade-off dari kedua
faktor ini. Return dan risiko mempunyai hubungan yang sangat positif, semakin besar
risiko yang harus ditanggung, semakin besar pula return yang harus dikompensasikan.
Risiko sering dihubungkan dengan penyimpangan atau deviasi dari outcome yang
diterima dengan yang diekspektasi. Van Home dan Wachowics, Jr. (1992)
mendefinisikan risiko sebagai variabilitas return terhadap return yang diharapkan.
Untuk menghitung risiko, metode yang banyak digunakan adalah deviasi standar
(standartd deviation) yang mengukur absolut penyimpangan nilai-nilai yang sudah
terjadi dengan nilai ekspektasinya. Hartono, Jogiyanto (2016:305)

3.4.1. Risiko Berdasarkan Probabilitas

Penyimpangan standar atau deviasi standar merupakan pengukuran yang


digunakan untuk menghitung risiko. Deviasi standar (standard deviation) dapat
dituliskan sebagai berikut :

Standar deviation (σ) = √ ❑

Keterangan :
E(Ri) = return ekspektasian suatu aktiva atau sekuritas ke-i
Ri = hasil masa depan sekuritas ke-i
Pi = probabilitas hasil masa depan untuk sekuritas ke-i
n = jumlah dari hasil masa depan
Hartono, Jogiyanto (2016:305)

Selain deviasi standar (standard deviation) risiko juga dapat dinyatakan


dalam bentuk varian (variance). varian (variance) merupakan bentuk kuadrat dari
deviasi standar. semakin besar ketidakpastian atau risiko dari investasi, maka
Semakin besar varian untuk tingkat pengembalian yang diharapkan, dan semakin
besar pula dispersi pengembalian yang diharapkan dari investasi tersebut. Rumus
varian (variance) dapat dituliskan sebagai berikut :
n
2
Variance (σ 2) = ∑ Pi [Ri−E (Ri)]
i=1

Hartono, Jogiyanto (2016:306)

3.4.2. Risiko Berdasarkan Data Historis

Risiko yang diukur dengan deviasi standar (Standard Deviation) yang


menggunakan data historis dapat dinyatakan sebagai berikut ini:

SD = √ ❑

Keterangan :

SD = Standard deviation

Xi = nilai ke- i

E(Xi) = nilai ekspektasian


n = jumlah dari observasi data historis untuk sempel besar dengan n
(paling sedikit 30 observasi) dan untuk sampel kecil digunakan (n-1).

Nilai ekspektasian yang digunakan di rumus deviasi standar dapat berupa


nilai ekpektasian berdasarkan :

● Rata-rata historis,
● Trend, atau
● Random walk.

Hartono, Jogiyanto (2016:307-309)

3.4.3. Koefisien variasi

Ukuran Relatif Risiko dalam beberapa kasus yaitu menggunakan metode


varians atau deviasi standar. Jika kedua metode tersebut tidak disesuaikan dengan
apa yang harus diperhitungkan dalam melakukan investasi maka bisa
menyesatkan. Apabila kita dihadapkan pada dua atau lebih alternatif untuk
melakukan investasi yang tidak serupa dengan adanya perbedaan besar dalam
tingkat pengembalian yang diharapkan. Maka kita perlu melakukan pengukuran
dengan mempertimbangkan dua faktor secara bersamaan yaitu standard deviation
of returns dan expected rate of returns, serta dengan menggunakan variabilitas
relatif untuk menunjukkan risiko per unit pengembalian yang diharapkan. Ukuran
variabilitas dan risiko relatif ini digunakan oleh analis keuangan untuk
membandingkan alternatif investasi dengan tingkat pengembalian yang sangat
berbeda dan deviasi standar pengembalian.Reilly, F. K. & Brown, K. C.(2011:13)

Koefisien variasi (Coefficient of Variation) dapat digunakan untuk


mempertimbangkan kedua faktor tersebut secara bersamaan. Rumus koefisien
variasi (Coefficient of Variation) adalah :

standard deviation of returns


Coefficient of Variation =
expected rate of returns

Reilly, F. K. & Brown, K. C.(2011:13)

Dari rumus koefisien variasi (Coefficient of Variation) dapat diartikan


bahwa semakin kecil nilai CV (Coefficient of Variation) semakin kecil pula
tingkat risiko yang akan terjadi. Hartono, Jogiyanto (2016:310)

CONTOH SOAL 5

Berikut ini merupakan lima buah hasil masa depan dengan probabilitas
kemungkinan terjadinya untuk masing-masing kondisi ekonomi yang berbeda.

Tabel 3.4
Hasil Masa Depan dengan Tingkat Probabilitas
Kondisi Hasil Masa Depan Probabilitas
Ekonomi (Rij) (Pj)
(j)

Resesi -0,09 0,10

Cukup Resesi -0,05 0,15

Normal 0,15 0,25

Baik 0,25 0,20

Sangat Baik 0,27 0,30


Sumber: Hartono, Jogiyanto (2016:300).
Berdasarkan tabel di atas hitunglah varian dan deviasi standar dari return
ekspektasian yang diperoleh.

Daftar Pustaka

1. Hartono, J. 2016. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta, BPFE-


Yogyakarta.
2. Tandelilin, E. 2010. Portofolio dan Investasi: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta,
Kanisius.
3. Reilly, F. K. & Brown, K. C. 2011. Investment Analysis and Portfolio
Management. USA, South-Western Cengage Learning.

Anda mungkin juga menyukai