Anda di halaman 1dari 1342

PPeeddaanngg K

Kiirrii PPeeddaanngg K
Kaannaann
Saduran Gan KL
Djvu: zaqxsw Uploader : Lavender
Ebook oleh : Dewi KZ
Tiraikasih Website
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
http://cerita-silat.co.cc/ http://ebook-dewikz.com
Jilid 1
Ki-lian-san, gunung ini membentang di wilayah propinsi
Kamsiok di barat-laut Tiongkok. Puncak utamanya terletak
di barat-daya propinsi itu. Gunungnya tinggi hawanya
dingin, maka sepanjang tahun pegunungan ini tertimbun
salju yang tak pernah cair, sebab itulah Ki-lian-san juga
disebut orang dengan nama Soat-san atau Gunung Salju.
Waktu itu pertengahan bulan kesepuluh, salju turun
bertebaran, tapi dijalan raya yang menuju Lanciu (ibukota
propinsi Kamsiok) tampak sepasang muda-mudi sedang
membedal kuda mereka secepat terbang.
Waktu bermalam dihotel Lanciu mereka sudah
berunding dengan baik, meski bungan salju masih turun
dengan lebatnya, jalanan penuh tertimbun gumpalan salju,
orang berlalu lalang sama sekali tidak kelihatan, namun
hasrat mereka untuk mendaki puncak Soat-san tidak pernah
berkurang.
Setiba dikaki gunung, diluar dugaan hujan salju
mendadak berhenti, malahan sinar sang surya mengintip
dari balik awan dan memancarkan cahayanya yang gilang
gemilang menambah indah pemandangan alam bersalju itu.
Kedua muda-mudi itu melompat turun dan berdiri
disamping kuda masing-masing. Perawakan mereka hampir
sama tinggi besarnya. Kedua mata sipemuda yang besar
dibawah naungan alis yang tebal itu memancarkan cahaya
penuh semangat, katanya, "Ih-nio, coba lihat, salju yang
turun sejak pagi sekarang berhenti mendadak."
Pemudi itu bernama Soat Ih-nio, lumayan parasnya, tapi
mempunyai daya tarik yang khas. Ia melirik sekejap
pemuda itu dan menjawab dengan tertawa, "Ya, memang
beginilah Siau Tio (Tio cilik), coba renungkan sejak kita
berkawan mengembara selama ini, pernahkah kita
menemui cuaca yang membikin kecewa?"
Pemuda itu bernama Tio Tai-peng, usianya antara 25-26
tahun, lebih muda dua tahun daripada Soat Ih-nio.
Dia termenung sejenak, lalu menjawab sambil
mengangguk, "Ehm, memang seperti tidak pernah,"
Dengan genit Soat Ih-nio mencolek kening Tio Tai-peng,
katanya, "Kau ini, kalau bicara selamanya tidak pernah
tegas. Pakai seperti segala, kalau pernah ya bilang pernah
bila tidak pernah katakan tidak pernah. Ingat tidak ketika
kita mendaki Bu-ih-san (gunung Bu-ih, terletak di utara
propinsi Hok-kian) tahun lalu?"
Tio Tai-peng lantas terkenang kejadian dahulu, lalu
berkata dengan tertawa, "Ya, waktu itu, pagi-pagi sudah
hujan lebat. Aku tidak mau mendaki gunung ditengah
hujan begitu, tapi kau justeru penuh minat. Lantaran tak
dapat menolak kehendakmu, terpaksa kuiring kau dengan
rasa mendongkol. Sepanjang jalan kupikir kau ini memang
aneh, mendaki gunng waktu hujan, apanya yang bisa
dilihat? Siapa tahu. . . . ."
"Dan seperti juga hari ini," potong Soat Ih-nio, "Kau pun
tidak mau mendaki gunung dibawah hujan salju. Tapi
buktinya ketika sampai dikaki gunung Bu-ih hujan lantas
terang, sekarang setiba kita disini, salju juga berhenti turun.
Rasanya Lo-thian-ya (Thian yang maha kuasa) sengaja
mengatur agar kita tidak kecewa bilamana hendak mendaki
gunung dan pesiar. Nah, kan Lo-thian-ya saja suka
membantu kita, masakah kau bicara pakai 'seperti' apa
segala?"
"Baiklah, Niocu (istriku), anggaplah aku salah omong,
kata seperti memang tidak tepat, harus diganti menjadi
hakikatnya tidak pernah menemui cuaca buruk. Nah,
setuju?" Pada ucapan terakhir, dia menyengir kepada si
nona.
"Cis, siapa Niocumu?!" semprot Soat Ih-nio.
"Bukan Niocu, habis siapa yang tidur bersamaku selama
lebih dua tahunan ini?"
"Siapa lagi? Tentu saja gen. . .gend. . . ." mestinya si
nona akan bilang "gendakmu", tapi belum terucapkan dua
titik air matanya lantas meleleh.
Melihat si nona menangis, Tio Tai-peng lantas
memegang kedua tangannya dan membujuk, "Ai, tanpa
sebab mengapa engkau menjadi berduka? Bukankah engkau
suka mendaki gunung, sekarang tempat tujuan sudah
didepan mata, hayolah kita mulai mendaki!"
Soat Ih-nio memang bercita-cita menjelajahi segenap
gunung besar dan sungai ternama seantero negeri ini. Cepat
ia mengusap air matanya dan berkata, "Dimana akan kita
tambatkan kuda kita."
Ki-lian-san ini sangat tinggi, sehabis hujan salju pula,
jalan sangat licin, kuda jelas tidak mungkin ikut mendaki
keatas.
Setelah memandang sekelilingnya dan ternyata tiada
sesuatu tempat yang ada aling-alingnya, terpaksa Tai-peng
menjawab, "Lepaskan saja disini, biarkan mereka cari
rumput dengan bebas."
Mereka lantas menanggalkan rangsal masing-masing dari
pelana kuda dan digendong sendiri, kuda dihalau pergi,
tanpa berpaling lagi mereka lantas manjat keatas gunung.
Gerak-gerik mereka memang cekatan, semula mereka
berjalan mengukuti jalan pegunungan, setiba diketinggian,
orang biasa jelas tidak mungkin mendaki dengan bertangan
kosong, tapi mereka tidak menggunakan sesuatu alat
pembantu, hanya mengandalkan Ginkang masing-masing,
seperti dua biji peluru saja, mereka melejit dan melayang,
kira-kira sejam kemudian mereka sudah mencapai puncak
gunung.
Setelah menghela napas laga, muka Soat Ih-nio yang
putih tampak rada kemerah-merahan, karena kedinginan, ia
berkata, "Sukar benar pendakian ini, beberapa kali aku
terpeleset dan hampir tergelincir kebawah."
Tio Tai-peng melongok kebawah puncak, samar-samar
keliahatn kuda mereka, tapi wijidnya sudah berubah
menjadi dua titik kecil saja. Ia pun menghela napas dan
berkata, "Ya, untung tidak sampai tergelincir, kalau tidak,
pasti hancur lebur."
Ih-nio memandang keatas, ternyata didepan
menghadang pula sebuah puncak yang menegak tinggi
seperti tiang es.
"Wah, cara bagaimana manjat keatas?" serunya.
Tai-peng ikut memandang kesana, ucapnya dengan
tertawa, "Kau takut? Hah, nyali perempuan memang kecil,
kukira sampai disini saja, bagaimana kalau kita putar
balik?"
Namun Soat Ih-nio berwatak keras dan tinggi hati, baru
saja habis Tai-peng berucap, segera ia berlari kesana. Ia
hendak membuktikan kesanggupannya dengan tindakan,
bahwa biar pun perempuan dia tidak sudi menyerah
menghadapi puncak yang tegak lurus itu.
Tio Tai-peng sudah berkumpul lebih dua tahun bersama
Soat Ih-nio, sudah tentu ia kenal watak si nona. Ia
tersenyum dan segera menyusul kesana. Dalam waktu
sesingkat itu Ih-nio sudah mulai manjat keatas hingga
beberapa tombak tingginya.
Mendaki puncak es yang tegak itu memang tidak mudah,
ketika puncak itu dapat mereka taklukkan, terus saja
mereka merebahkan diri saking lelahnya.
Tapi mereka tidak berani lama-lama tidur ditanah
bersalju yang beku itu, hanya sebentar saja mereka lantas
bangun berduduk, keduanya sama-sama bersemedi dan
mengatur pernapasan dengan Lwekang masing-masing.
Kira-kira setanakan nasi, Tio Tai-peng mendahului
melompat bangun. Soat Ih-nio tidak mau kalah, iapun ikut
berdiri. Keduanya saling pandang dengan tersenyum lalu
mengawasi puncak es yang tidak pernah cair sepanjang
tahun ini.
Mereka merasa seolah-olah berdiri diatas mega, dibawah
kaki mereka adalah lautan awan, Ih-nio berkeplok gembira
seperti anak kecil, soraknya, "Ai, sungguh menarik,
bukankah sekarang kita serupa dewa diatas langit?"
"Bagaimana kalau kita berlakon naik mega atau
mengapung diatas awan?" ujar Tai-peng dengan tertawa.
"Bagus, coba kita berlomba Ginkang siapa yang lebih
tinggi?" seru Ih-nio.
"Ginkangku selamanya tak dapat menandingi kau." kata
Tai-peng denga tertawa.
Soat Ih-nio mencibir, katanya, "Ah, mulut bilang kalah,
dalam hati kau ingin menang." Habis berkata ia terus
mendahului melayang kedepan sana.
"He, belum lagi diberi aba-aba, kenapa lantas lari lebih
dulu?!" seru Tai-peng. Dia benar-benar cuma mengaku
kalah dimulut, tapi dalam hati tidak mau kalah. Segera ia
mengejar dengan kencang.
Puncak gunung ini sangat luas tanpa bertepi, namun
naik-turun tidak rata, sebentar tinggi sebentar rendah, maka
kedua orang juga sebentar se-akan2 ditelan lautan awan,
lain saat timbul lagi diatas mega, keduanya saling kejar
tanpa berhenti.
Sambil berlari dan mengejar Soat Ih-nio didepannya, Tio
Tai-peng tidak pernah lupa meng-amat2i sekitar dan
sepanjang jalan yang dilaluinya seakan-akan sedang
mencari sesuatu benda yang aneh dan berharga.
Sekonyong-konyong Ih-nio berseru terkejut. Hati Tai-
peng tergetar, cepat ia memburu maju dan berdiri
disamping si nona sambil bertanya, "Apa yang kau lihat?"
Tapi Ih-nio lantas berlari pula kejurusan barat-daya dan
tidak memberi penjelasan. Namun Tai-peng sendiri lantas
melihat juga sasaran yang membuat Soat Ih-nio berseru
kaget tadi. Cepat ia mengerahkan Ginkangnya, hanya
sekejap saja ia sudah menyusul si nona dan mendahului
berhenti didepan sasaran itu.
Itulah seorang Tosu (pendeta agama To atau Tau)
bermuka hitam, memegang pedang yang lagi ditusukan
kedepan. Batang pedang terbenam didalam gundukan salju
setinggi manusia, kelihatan bagian gagang pedang saja yang
terpegang ditangan Tosu yang hitam itu.
Tosu ini bukan orang-orangan salju, tapi orang, manusia
hidup. Dikatakan manusia hidup juga tidak betul, manusia
sih memang betul manusia tulen, tapi kedua matanya
tampak mendelik dan tidak dapat bergerak lagi, jelas sudah
mati beku.
Dilihat dari sikapnya yang mendelik dan beringas itu,
sepintas pandang orang pasti tidak menyangka Tosu ini
sudah mati.
Dapat dipastikan Tosu ini sudah mati cukup lama, tapi
bilakah matinya sukar ditentukan. Jika ditinjau dari sekujur
badannya yang tiada terdapat sedikitpun timbunan, maka
masuk diakal bila dikatakan dia mati belum lama ini. Akan
tetapi kalau melihat jubahnya yang sudah compang
camping tertiup angin, ini membuktikan pula dia sudah
mati lama, sedikitnya sudah beberapa tahun.
Setiba disitu, Soat It-nio jadi melenggong oleh apa yang
dilihatnya sehingga lupa memikirkan Ginkang Tio Tai-peng
tadi mengapa bisa mendadak lebih tinggi daripada
biasanya.
Terlihat Tio Tai-peng lagi menggerayangi baju Tosu itu,
sejenak kemudian berhasil dikeluarkannya satu biji mutiara,
"O, kiranya gara-gara mutiara ini!" ucapnya.
"Mutiara apa?" tanya Soat Ih-nio.
Tio Tai-peng melemparkan mutiara itu dan ditangkap
Soat Ih-nio, setelah dipandang sekejap, ia berseru, "He, Pi-
tun-cu (mutiara anti debu)?"
Pi-tun-cu ini berwarna merah tua, jika digenggam, meski
tengah tanah bersalju yang dingin, rasanya tetap hangat.
Bila selalu dibawa dalam baju, maka debu takkan
menempel dan kotoran akan lenyap, khasiatnya anti dingin
dan menimbulkan hawa hangat.
Lantaran membawa Pi-tun-cu inilah maka bunga salju
yang menaburi tubuh Tosu tadi tidak dapat menempel,
meski dia sudah mati beberapa tahun tetap tidak terbenam
oleh timbunan salju.
Selagi Soat Ih-nio mengamat-amati mutiara mestika itu
tiba-tiba dilihatnya Tio Tai-peng lagi mengebut gundukan
salju didepan Tosu itu dengan lengan baju.
Setelah salju terkebut rontok, tertampaklah disitu juga
berdiri sesosok mayat. Karena tidak membekal Pi-tun-cu,
salju yang menimbuni tubuhnya lantas membeku menjadi
tiang es.
Tapi lantaran pedang si Tosu sempat menusuk pada
dadanya dari jarak dekat, maka setelah sekian tahun tiang
es itu tidak menjadi bertambah besar melainkan cuma
membungkus sekujur badannya saja.
Kini setelah bunga salju yang bertimbun di tiang es itu
dikebut rontok, si "dia" yang beku didalam tiang es lantas
terlihat jelas.
Seketika Soat Ih-nio berteriak kaget demi melihat jelas
wajah si "dia".
"Kau kenal Dia?" tanya Tai-peng.
Ih-nio mengangguk, katanya, "Ya, dia. . . .dia seperti
tokoh Hek-to (golongan hitam, bandit) yang terkenal
didunia Kangoue, nama. . . .namanya. . . .!"
"Siapa namanya?" desak Tai-peng karena ucapan si nona
kelihatan tergegap.
"CU. . . Cu Hway-tong. . . ."
"Hm, kiranya ahli racun yang kotor dan rendah itu!"
jengek Tai-peng.
Muka Soat Ih-nio tampak agak merah, iapun bertanya,
"Siau Tio, apakah kau kenal Tosu itu?"
Tai-peng menggeleng, jawabnya, "Belum lama kuterjun
didunia Kangouw, tokoh Kangouw ternama yang kukenal
sangat terbatas."
"Pernah kudengar bahwa ada seorang tokoh Bu-tong-pay
yang selalu membekal Pi-tun-cu, entah siapa gelarnya?"
kata Ih-nio.
"Oo?. . ." Tai-peng bersuara tak acuh dan diam-diam
melirik sekitarnya.
Sudah tentu Soat Ih-nio dapat melihat kelakuan pemuda
itu, namun dia tidak menegurnya, ucapnya dengan tertawa,
"Mutiara ini sungguh sangat menyenangkan."
Tai-peng tahu si nona ingin memilikinya, maka lantas
berkata, "Ambil saja."
"He, tapi kaulah yang menemukannya?!" seru Ih-nio
dengan kejut-kejut girang.
"Masa diantara kita masih perlu dibeda-bedakan lagi
milikmu atau milikku?" ujar Tai-peng.
Ih-nio merasa bahagia oleh ucapan pemuda itu, dengan
gembira ia simpan Pi-tun-cu itu, Pikirnya, "Tio cilik benar-
benar sangat baik hati, benda mestika begini saja diberikan
padaku."
Mendadak Tai-peng berkata pula, "Ih-nio, kematian
kedua orang ini tampaknya tidak beres."
Soat Ih-nio pura-pura tidak tahu, ia tanya, "Apanya yang
tidak beres?"
Tai-peng juga berlagak bodoh dan menjawab.
"Tampaknya lebih dulu Cu Hway-tong menggunakan
racun, pada waktu racun sudah bekerja pedang tokoh Bu-
tong-pay inipun sempat menusuk dada Cu Hway-tong,
begitu lawan tertusuk mampus, iapun mati keracunan pada
saat yang sama. . . ."
Membayangkan betapa cepatnya racun itu bekerja, diam-
diam Tai-peng menjulur lidah, ucapnya pula, "Begitulah
kedua orang lantas gugur bersama. Tapi sepantasnya
mereka tidak mungkin tanpa sebab mengadu jiwa diatas
puncak yang jarang diinjak manusia ini, tentu ada sesuatu
yang menarik kedatangan mereka kesini."
"Betul, tentu ada sesuatu, marilah kita menyelidikinya
dari dua jurusan, kau periksa sebelah sana, kuteliti sebelah
sini," kata Ih-nio.
Diam-diam Tai-peng mendengus, "Huh, apakah kau
hendak menyingkirkan diriku? Hm, memangnya aku pun
hendak meninggalkan kau, boleh coba kita adu untung."
Maka ia lantas menjawab, "Baik, coba kuperiksa sebelah
sana."
Tanpa bicara lagi mereka terus berlari kejurusan masing-
masing. Soat Ih-nio menuju arah tenggara, Tio Tai-peng
kejurusan barat-laut.
Sambil berjalan Tio Tai-peng terus mencari dengan teliti,
sampai sekian jauhnya ternyata tiada sesuatu apapun yang
dilihat. Diam-diam ia mulai gelisah dan merasa tidak enak,
pikirnya, "Jurusanku ini tiada sesuatu yang kutemukan,
jangan-jangan nasibku kurang mujur dan salah pilih arah."
Ia coba melanjutkan lagi, tapi makin lama makin tidak
tentram, gerutunya sendiri, "Goblok, kenapa aku tidak lekas
kembali kesana, bila terlambat lagi mungkin akan dibawa
kabur Ih-nio."
Seketika ia merasa seperti melihat Soat Ih-nio sedang
kabur kebawah puncak, maka cepat ia berputar balik kearah
tadi.
Ia mengikuti jejak Soat Ih-nio terus menguntit kedepan.
Setiba didepan sebuah puncak es, jejak itu lantas hilang.
Diam-diam ia mengeluh, "Wah, Ih-nio pasti menemukan
sesuatu!"
Cepat ia menerobos kedalam goa yang gelap dikaki
puncak yang bergelantungan dengan jalur-jalur es itu. Dia
menggeser masuk dengan pelahan agar tidak menimbulkan
suara, dilihatnya goa itu sangat besar, sukar dijajaki
dalamnya.
Untung didalam goa masih ada cahaya remang-remang
sehingga terlihat jejak kaki Soat Ih-nio itu. Setiba disuatu
belokan, tiba-tiba terdengar suara kresek-kresek, suara orang
membalik-balik halaman buku.
Meski suara kresek itu sangat lirih, tapi cukup
menggetarkan hati Tio Tai-peng, pikirnya, "Nyata memang
nasibnya lebih mujur, dia yang menemukan, Untung dia
ter-buru2 membacanya disini dan lupa membawanya
kabur."
Pelahan Tio Tai-peng menurunkan rangsalnya yang agak
panjang itu, dilolosnya pedang yang mengkilap, dengan
pedang terhunus ditangan kanan ia menggremet maju
dengan hati-hati.
Yang pertama dilihat Tai-peng adalah bayangan
punggung Soat Ih-nio yang berduduk disitu, didepan si
nona adalah mulut goa, si nona sedang membalik-balik
halaman sejilid buku tipis dan membacanya dengan cahaya
yang menyorot masuk dari mulut goa sana. Disamping si
nona tertaruh sebuah kotak kemala tempat kitab tipis itu.
Tutup kotak kemala itu cukup membuat melotot mata Tio
Tai-peng.
Dilihatnya tutup kotak kemala itu terukir dua batang
pedang yang bersilang kekanan dan kekiri, tanda-tanda ini
persis seperti berita yang tersiar mengenai kotak tempat
kitab pusaka ilmu pedang sakti itu.
Diluar goa sana tampak pula bergelimpangan belasan
mayat yang belum membusuk, seperti juga mayat si Tosu
dan Cu Hway-tong yang dilihatnya sebelum ini, belasan
mayat inipun mati saling membunuh.
Setelah melirik sekejap belasan mayat itu, dengan pedang
terhunus Tai-peng lantas mendekati Soat Ih-nio dengan
pelahan-pelahan.
Rupanya Soat Ih-nio lagi asyik membaca, sehingga tidak
merasa akan kedatangan Tio Tai-peng.
Ketika sudah dekat dalam jangkauan pedangnya, Tio
Tai-peng lantas mengertak gigi dan sorot matanya menjadi
buas.
Mendengar kertakan gigi, Soat Ih-nio terkejut dan cepat
menoleh, melihat Tio Tai-peng, ia lantas bertanya, "He,
kau. . . hendak apa kau?. . . ."
Tanpa bicara pedang Tio Tai-peng terus menusuk.
Namun Ih-nio sempat mengengos berbareng tangan kirinya
lantas terangkat kebelakang hendak meloloskan pedang
yang tersimpan didalam rangsalnya itu.
Tai-peng menyadari ilmu pedang tangan kiri si nona
tidak kalah lihainya daripada dirinya, ia tidak memberi
kesempatan baginya untuk melolos pedang, segera
pedangnya menabas tangan kiri si nona.
Pada detik yang gawat ini, Ih-nio tidak sempat bicara
juga tidak dapat melolos pedangnya, jalan satu-satunya
untuk menyelamatkan jiwanya hanya berkelit dan
menghindar dengan Ginkangnya.
Ia yakin Ginkang sendiri tidak lebih asor daripada Tio
Tai-peng, maka sedapatnya ia berloncatan kian-kemari.
Diluar dugaannya Ginkang Tio Tai-peng sebenarnya
terlebih tinggi daripada dia, ujung pedang tetap mengincar
lengan kirinya, hanya beberapa kali loncat dan uber, sekali
tabas terkutunglah lengan kiri Soat Ih-nio sebatas pundak.
Hampir kelengar Ih-nio saking sakitnya, tapi sedapatnya
ia bertahan, tangan kanan tetap menggenggam erat-erat
kitab tipis itu, ia jatuh terduduk ditanah, luka lengan kirinya
yang sudah buntung itu tidak terlalu banyak mengucurkan
darah, maklum, suhu teramat dingin sehingga darah cepat
membeku.
Tai-peng tidak tega untuk menguber dan membunuh si
nona, ia cuma berkata, "Lengan kirimu sudah buntung, kau
bukan lagi tandinganku, lekas serahkan kitab itu kepadaku."
Darah yang membeku itupun membuat mati rasa luka
Soat Ih-nio, dengan menahan dendam ia menjawab, Siau
Tio, ke. . .keji amat kau. . . . ."
Melihat rasa duka dan benci si nona, Tai-peng merasa
bersalah, dengan suara pelahan ia berkata pula, "Serahkan
kitab itu dan segera kupergi, akan. . . akan kuampuni
jiwamu. . . ."
Mendadak Soat Ih-nio menengadah dan tertawa latah,
serunya, "Hahaha, mengampuni jiwamu. . .hahaha, terima
kasih. . . .alangkah merdunya ucapanmu, mengampuni
jiwamu. . . ."
Mendadak ia berhenti tertawa dan menatap tajam Tio
Tai-peng, katanya pula sambil tersenyum genit, "apakah. . .
apakah kau tahu bahwa tiada niatku hendak mengangkangi
kitab ini? Memang sudah lama kutahu kau ingin mencari
kitab ini. Seperti halnya diriku, maksud tujuanmu mendaki
gunung dan menyusur sungai tiada lain adalah karena ingin
mencari kitab pusaka ilmu pedang yang jarang diketahui
orang Bu-lim ini."
"Perempuan jalang," jengek Tio Tai-peng, "tidak perlu
lagi omong-omong, lekas serahkan kitab itu."
"Perempuan jalang?" Ih-nio menegas dengan pedih,
"Kau. . . kau tahu asal-usulku?. . . ."
"Sudah tentu tahu, kalau tidak masakah kuturun tangan
lebih dulu. Siapa didunia Kangouw yang tidak tahu Hiau-
nio-cu (perempuan atau nyonya cabul) Soat Ciau-hoa yang
terkenal genit, keji dan jahat tiada taranya."
"Akan. . . akan tetapi, terhadapmu. . . . ."
"Tidak perlu lagi kau bujuk-rayu padaku, anggaplah aku
yang ceroboh, kurang pengalaman karena baru mulai
mengembara. Semula kusangka kau seorang perempuan
baik-baik, siapa tahu kau adalah Hiau-nio-cu Soat Ciau-hoa
yang termashur."
"Jika kau tahu aku ini perempuan tidak genah, mengapa
tidak sejak mula memutuskan hubungan denganku dan
sekarang kau malah mencelakai diriku?"
"Soalnya lantaran kutahu diam-diam kaupun sedang
mencari tempat hilangnya belasan tokoh persilatan yang
terjadi tujuh tahun yang lalu, kalau tempat itu dapat
ditemukan, maka dapat pula menemukan kitab pusaka ilmu
pedang yang diperebutkan mereka dengan mati-matian itu."
"Kau cari, aku pun cari, kita serahkan kepada kemujuran
masing-masing. Ketahuilah betapa cabul dan jahatnya
Hiau-nio-cu seperti diriku ini kan juga ada kalanya ingin
kembali kejalan yang baik. Sejak bertemu dengan kau. . . ."
sampai disini air matanya lantas bercucuran, ia tidak
sanggup melanjutkan, diam-diam ia menyesal salah pilih
orang.
Namun Tio Tai-peng tidak doyan rayuan, dengan ketus
ia berkata pula, "Sejak meninggalkan pintu perguruan dan
berkelana didunia Kangouw, semula akupun mempunyai
cita-cita yang tinggi. Siapa tahu kutemui orang macam kau,
hatiku menjadi penasaran. Kemudian dapat kuketahui pula
kau mempunyai hubungan erat dengan salah seorang tokoh
yang hilang itu, yaitu tokoh ahli racun yang bernama Cu
Hway-tong. Kukira orang she Cu itu mungkin akan
memberitahukan padamu dimana tempat mengakibatkan
perebutan dan pertarungan maut belasan tokoh terkemuka
itu. Sebaliknya aku sama sekali tidak tahu, makanya
kutetap berkumpul dengan kau."
Soat Ih-nio atau Soat Ciau-hoa menjilat air mata pahit
yang meleleh kebibirnya itu, mendadak ia tertawa ter-
kekeh2, "Hehe, bercita-cita tinggi. . . .Hehe, memang betul,
kutahu cita-citamu itu. Kutahu cita2 setiap anak murid
perguruan ternama yang baru keluar dari pintu perguruan,
mereka ingin mencari pasangan yang setimpal, saling cinta
dan hidup bahagia, lalu berkelana didunia Kangouw
melaksanakan tugas mulia. . . Aku, sudah tentu tidak
setimpal bagimu, Akan tetapi, pada waktu mulai terjun
kedunia Kangouw, aku Soat Ciau-hoa memangnya tidak
mempunyai cita-cita yang tinggi? Namun apa yang terjadi?
Aku tertipu, tertipu oleh orang yang pertama yang kucintai,
kehormatanku tercemar, aku ditinggalkan, jelas dia sengaja
mempermainkan diriku, akibatnya aku terjerumus semakin
dalam, sehingga terjadilah aku Soat Ciau-hoa si Hiau-nio-cu
yang terkenal. Aku ingin menuntut balas, aku ingin
mempermainkan mereka sebagai balas dendamku karena
telah dipermainkan oleh dia. . . . ."
Tio Tai-peng merasa sebal mendengar ocehannya, ia
meraung gusar, "Tidak perlu omong kosong, lekas serahkan
kitab itu kepadaku. Anggaplah aku pun salah seorang
korban balas dendammu itu!"
"Tidak." jawab Soat Ciau-hoa sambil menggeleng, "Kau
bukan sasaran balas dendamku, Mukamu, perawakanmu,
sangat mirip dia, malahan engkau terlebih polos dan jujur
daripada dia, Kuanggap dia sudah meninggalkan diriku,
maka kuanggap kau sebagai duplikatnya dan pasti takkan
meninggalkan aku, makanya aku bertekad akan hidup baik-
baik denganmu, bahkan. . . ."
"Persetan kau!" Tai-peng meraung gusar pula, "Masa aku
kau anggap sebagai duplikatnya segala? Aku Tio Tai-peng
bukan barang serep, bukan barang cadangan yang boleh kau
pakai sesukamu?! Nah, lekas serahkan kitab itu, selanjutnya
kita putus hubungan dan habis perkara."
"Lengan kiriku sudah buntung, tidak dapat memainkan
pedang lagi, dengan sendirinya kau tambah menghina
diriku. Hm, putus hubungan dan habis perkara? Bagus,
bagus sekali! Cuma kasihan pada anak kita yang akan lahir
ini. . . ."
Sembari bicara dengan tangan kanannya yang gemetar ia
menyodorkan kitab pusaka itu, katanya pula dengan
tersenyum getir, "Nah, ambillah, semoga kau hidup senang
didunia ini dan jangan sampai anak ini tidak pernah
bertemu selamanya denganmu. . . . ."
Tai-peng jadi melengong, sama sekali tak terpikir
olehnya Soat Ciau-hoa telah mengandung anaknya. "Ap. .
.apa betul!?" tanyanya dengan tergegap sambil menjulurkan
tangannya untuk menerima kitab itu.
Soat Ciau-hoa memegang tangan kanan Tio Tai-peng
yang terjulur itu terus diremasnya kuat-kuat, katanya,
"Percayalah padaku, aku tidak berdusta. Jangan kau
tinggalkan diriku, tinggal saja dan saksikan anak yang akan
kulahirkan."
Mendadak Tio Tai-peng menjerit, "Hah, dengan apa kau
menusuk tanganku?!"
Waktu Soat Ciau-hoa memegang tangannya dan
menusuknya dengan sesuatu, semula cuma sakit sedikit
seperti digigit semut, tapi setelah Soat Ciau-hoa selesai
bicara, tangannya menjadi kaku dan gatal tak terperikan,
tentu saja Tai-peng kaget.
"Hm, masa kau lupa pernah aku berhubungan erat
dengan Cu Hway-tong yang ahli racun itu? Mustahil dia
tidak mengajarkan beberapa cara menggunakan racun
padaku?" jengek Soat Ciau-hoa.
Karuan Tio Tai-peng terperanjat dan pucat. Cepat ia
masukkan kitab pusaka tadi kedalam bajunya, waktu ia
periksa tangannya, telapak tangan sudah berwarna hitam
hangus, cepat ia merobek lengan baju kanan, terlihat warna
hitam itupun mulai menjalar dan hampir mencapai pangkal
lengan.
Teringat pada kematian si Tosu yang hitam hangus itu,
Tio Tai-peng tidak ragu-ragu lagi, dengan tangan kiri ia
angkat pedangnya dan terus menabas lengan kanan sendiri
sebatas pundak.
Darah hanya muncrat sedikit, lalu membeku dengan
cepat. Kejadian ini boleh dikatakan serupa dengan cara
buntungnya lengan kiri Soat Ciau-hoa tadi, cuma
pengganas yang menabas lengan kedua-duanya adalah Tio
Tai-peng sebdiri.
Soal Ciau-hoa kelihatan puas, ucapnya dengan tertawa,
"Nah, Siau Tio, sekarang kau sudah sama denganku, kau
biasa memainkan pedang dengan tangan kanan dan
sekarang tangan kananmu sudah buntung, begitu pula aku.
Selanjutnya kita tidak perlu bicara tentang ilmu pedang lagi,
marlah kita hidup mengasingkan diri dan menanti lahirnya
anak kita, Mau?!"
Dengan gemas Tio Tai-peng memaki, "Orang bilang kau
Soat Ciau-hoa cabul lagi keji, kenyataannya memang
benar."
Saking murkanya, mendadak ia melompat maju terus
mendepak kepala Soat Ciau-hoa.
Si nona memejamkan mata dan berkata, "Tendanglah,
baik juga bisa mati di kakimu."
Tapi baru terayun kakinya, segera Tio Tai-peng berpikir,
"Dia pantas mampus, tapi bayi dalam kandungan kan tidak
berdosa?" Maka cepat ia menarik kembali kakinya.
Soat Ciau-hoa tahu orang tidak tega menendangnya, dia
tetap memejamkan mata dan berkata, "Siau Tio, jangan kau
salahkan kekejianku, kukerjai dengan racun adalah demi
harapan kau akan berada disampingku untuk bersama-sama
menyaksikan kelahiran jabang bayi kita."
Mendadak Tio Tai-peng berludah terus membalik tubuh
dan berlari pergi.
"He, kemana kau?" teriak Soat Ciau-hoa. Segera ia pun
mengejar keluar goa.
Agaknya Tio Tai-peng bertekad tak mau bertemu lagi
dengan Soat Ciau-hoa yang keji itu, dia berlari-lari
sekuatnya. Soat Ciau-hoa mengejar dengan kencang.
Sementara itu salju turun lagi dengan lebatnya memenuhi
tubuh mereka.
"Siau Tio. . . ." sambil memburu Soat Ciau-hoa
memanggil. Jarak kedua orang makin lama makin jauh,
tempat yang dilalui mereka meninggalkan dua baris jejak
kaki diatas salju, sehingga mirip dua orang jalan berjajar.
Akhirnya Soat Ciau-hoa tidak tahan, ia jatuh tersungkur
diatas salju, dari dalam bajunya terlempar keluar satu jilid
kitab pusaka lain yang sama tipisnya.
Pada saat itulah seekor merpati gunung bercuit terbang
lewat diatas kepala Soat Ciau-hoa ditengah hujan salju lebat
itu.
Ciau-hoa menengadah memandangi merpati yang
terbang menjauh itu, salju turun terlebih lebat, teriaknya
dengan parau, "Soat-koh. . . .Soat-koh. . . ."
Akan tetapi burung merpati gunung yang biasa disebut
dengan nama Soat-koh itu tak dapat dipanggil kembali lagi,
sama halnya Tio Tai-peng yang takkan dipanggilnya
kembali untuk selamanya.
Lambat-laun jejak Tio Tai-peng pun hilang tertutup oleh
bunga salju. Dengan putus asa, Soat Ciau-hoa merangkak
bangun. Diraihnya sekalian kitab pusaka yang terjatuh tadi.
Kitab ini adalah kitab pusaka ilmu pedang lain yang
disimpan dalam bajunya diluar tahu Tio Tai-peng. Kitab
pusaka ini adalah sati diantara dua kitab pusaka "Siang-liu-
kiam-hoat" atau ilmu pedang dua aliran.
Kitab pusaka tercerai, manusianya juga terpisah. . . .Soat
Ciau-hoa merangkak bangun dan berjalan kedepan dengan
terhuyung-huyung.

Bagian-02
Pak-khia atau peking sekarang hampir selalu menjadi
ibukota kerajaan setiap dinasti. Dengan sendirinya banyak
bermukim tokoh-tokoh ternama dan jago-jago terkenal.
Jika seorang menyebut Beng Eng-kiat dari Pak-khia,
maka boleh dikatakan tiada orang yang tidak tahu dan tiada
orang yang tidak kenal. Ini tidak berlaku bagi penduduk
kota Pak-khia saja, sekalipun orang-orang dari kalangan
Hek-to atau Pek-to (golongan hitam dan golongan putih,
artinya jahat dan baik didunia persilatan) juga tahu nama
kebesaran Beng Eng-kiat.
"Hebat!" demikian setiap orang pasti akan
mengacungkan ibu-jari apabila orang menyebut Siau-yau-
ciang (ilmu pukulan serba bebas) dan Gway-hoat-kiam
(ilmu pedang gembira) yang menjadi kungfu kebanggaan
keluarga Beng itu.
Saking termashurnya, hampir setiap anak muda yang
ingin belajar silat pasti merasa bangga bilamana bisa
diterima menjadi murid keluarga Beng.
Akan tetapi syarat penerimaan murid keluarga Beng juga
sangat ketat, usia Beng Eng-kiat sudah 60 lebih, tapi
muridnya cuma tiga orang. Cara menerima murid ketiga
anak didik Beng Eng-kiat itu jauh lebih longgar daripada
sang guru, akan tetapi satu dan lain juga bergantung kepada
calon murid itu bagaimana bakatnya dan kecerdasannya,
kalau tidak biar pun putera hartawan atau bangsawan yang
minta diterima menjadi murid juga pasti akan ditolak
Sebab itulah anak didik keluarga Beng selama
berkecimpung didunia Kangouw tidak pernah kecungdang
dan pasti takkan membikin mali Beng Eng-kiat, dalam hal
ini tentunya karena syarat penerimaan murid yang ketat itu,
tapi yang lebih penting ialah ilmu silat keluarga Beng
memang lain dari pada yang lain.
Dimulai sejak nama Beng Eng-kiat termashur didunia
persilatan, selama hampir empat puluh tahun ini, belum
pernah terdengar ada orang yang mampu melawan tiga
puluh jurus Siau-yau-ciang dan juga tidak pernah ada yang
dapat lolos dibawah 49 jurus Gway-hoat-kiam-hoat
keluarga Beng.
Hari ini, menjelang magrib, diruangan latihan keluarga
Beng hadir seorang lelaki setengah umur. Dandanan orang
ini rada nyentrik. Rambutnya panjang terurai menutup
pundak, berjubah hitam, ikat pinggang hitam, sepatu juga
hitam. Bahkan kedua untai benang hiasan gagang kedua
batang pedangnya juga terbuat dari benang hitam.
Dia duduk ditengah ruangan berlandaskan sehelai kasur
tipis, pedang bersarung warna hitam dan selalu dipegang
dengan tangan kiri tertaruh disamping, pedang lain yang
bentuk dan warnanya serupa pedang pertama tadi tetap
tersandang dipunggungnya, gagang pedang yang dililit
dengan benang hitam tampak menongol diatas pundak kiri,
begitu dia duduk disitu lalu tidak bergerak lagi seperti
patung, air mukanya juga tidak memperlihatkan sesuatu
perasaan apapun, sampai lama sekali duduk disitu dan
ruangan latihan itupun tetap tenang.
Dalam pada itu budak keluarga Beng sudah mulai
memasang lampu disekeliling dinding ruangan, sejenak
kemudian ruangan itu lantas terang benderang.
Pada saat itulah tiba-tiba dari luar berkumandang suara
orang tertawa dan bercakap, seorang pemuda lagi berkata,
"Ketiga Suhu apakah boleh kumasuk untuk ikut menonton
ilmu sakti?"
Seorang yang bersuara lantang menjawab, "Memang
sering ada orang datang minta petunjuk, bila kau ingin
menonton, silakan masuk saja."
Sekejap kemudian ber-turut2 masuklah lima orang, Tiga
orang didepan berusia 30-40 tahun, dibelakang mereka
mengikut dua pemuda, yang seorang adalah pemuda yang
bicara tadi, berusia 17-18 tahun, berjubah sulam dan ikat
pinggang berhias batu permata, jelas berasal dari keluarga
bangsawan. Pemuda yang lain berdandan sebagai kacung
dan berusia lima belasan, dia ikut dibelakang pemuda
perlente itu, jelas memang kacung pribadi pemuda itu.
Mendengar suara orang, orang berbaju hitam tadi
memutar tubuhnya, semula dia duduk menghadap
kedalam, setelah putar arah, dengan sinar matanya yang
mencorong ia pandang orang-orang yang baru masuk itu.
Ketiga orang yang berjalan didepan itu adalah murid2
Beng Eng-kiat, yang tertua bernama Kay Hiau-thian, yang
kedua bernama Kau Giok-ki dan ketiga bernama Nge Yu-
peng.
Meski tinggi ilmu silat ketiga orang itu, namun tiada
nampak sikap angkuh pada diri mereka. Sambil menjura
Kay Hiau-thian lantas menyapa, "Maaf jika anda telah
menunggu terlalu lama."
Kau Giok-ki lantas menyambung, "Kami bertiga
bersaudara mendapat kehormatan diundang ke istana Kiu-
bun-te-tok (gubernur militer ibukota), makanya anda
menunggu lama disini."
Orang berbaju hitam itu bersikap tawar, katanya, "Orang
she Tio adalah orang pegunungan, sudah lama mendengar
kehebatan Gway-hoat-kiam-hoat keluarga Beng, maka ingin
minta petunjuk."
Kay Hiau-thian memandang kedua pedang bawaan
sibaju hitam, lalu katanya kepada Nge Yu-beng, "Sute,
boleh kau layani dia."
Orang berbaju hitam itu tiada sesuatu yang luar biasa,
dia cuma menyebut dirinya she Tio, jelas bukan tokoh
terkenal atau ahli silat yang sengaja datang minta petunjuk,
Arti "minta petunjuk" ialah ingin coba-coba, jajal-jalal atau
cikoa begitulah.
Biasanya bila orang ternama, tentu dia akan menyebut
namanya lengkap agar pihak lawan tahu bahwa dia bukan
kaum keroco tak terkenal.
Sebaliknya kalau orang yang terkenal atau jago silat yang
baru terjun ke Kangouw, andaikan menyebutkan namanya
juga orang tidak tahu macam apakah dia, sebeb itulah orang
jenis ini kebanyakan tidak ingin menyebut namanya sendiri
bila datang minta "coba".
Nge Yu-beng sendiri kurang bersemangat disuruh
melayani jago yang tak bernama, dengan malas ia
menerima pedang kayu yang disodorkan seorang
pembantunya, sekali pedang kayu ia menegak, segera ia
berseru, "Mari!".
Tapi sibaju hitam tidak menerima pedang kayu lain yang
juga telah disodorkan kepadanya, iapun tidak berdiri, tapi
tangan kiri meraba kesamping, pedang yang ditaruh
disebelahnya itu lantas dilolos, iapun mengacungkan
pedang itu kedepan dan berkata, "Silakan!"
Rada berubah air muka Nge Yu-beng, bukan gugup
lantaran pihak lawan mau menggunakan pedang tajam
sungguhan, pada hakkatnya dia meremehkan tantangan
seorang jago pedang yang tak bernama, ia yakin biarpun
orang melolos kedua pedangnya sekaligus juga dia mampu
menaklukkannya.
Yang membuatnya kheki adalah karena pihak lawan
tidak mau berdiri, jelas akan berkelahi dengan berduduk.
Bukankah ini berarti memandang enteng kepadanya?
"Apakah kaki anda kurang leluasa?" demikian Nge Yu-
beng coba bertanya. Si baju hitam hanya menggeleng saja
dan kembali berkata, "Silakan!"
Saking mendongkolnya hampir saja Nge Yu-beng
mendamperat, tapi mengingat dirinya adalah murid jago
ternama dan harus jaga harga diri, maka dengan menahan
perasaan ia berkata, "Jika kaki anda tiada sesuatu halangan,
akan lebih baik silakan berdiri saja."
"Jika kau adalah Beng Eng-kiat sendiri, tentu aku akan
berdiri," mendadak sibaju hitam menjawab dengan
congkak.
Cukup gamblang arti ucapannya, maksudnya, sayang
kau cuma murid Beng Eng-kiat dan belum setimpal
menyuruh kuberdiri untuk bertempur dengan kau.
Keruan hampir meledak perut Nge Yu-beng yang belum
pernah mengalami kekalahan dalam sejarah hidupnya,
segera ia berteriak, "Bagus!"
Dengan mendongkol Kay Hiau-thian lantas berseru juga,
"Sute, untuk apa kau banyak bicara dengan manusia
sombong begitu, perlihatkan saja beberapa jurus ilmu
pedangmu!"
Diam-diam Nge Yu-beng memang sangat gemas, ia pikir
dengan pedang kayu juga dapat kurobohkan kau, andaikan
tidak mati juga pasti terluka parah.
Karena timbul pikiran kejinya, ia tidak sungkan-sungkan
lagi, begitu pedang terangkat sedikit mengerahkan tenaga,
segera ia menusuk kedepan, serangannya cepat dan lihai.
Tapi sibaju hitam tetap diam saja seperti sama sekali
tidak menghiraukan serangan itu dan juga tiada tanda-tanda
hendak menangkis atau balas menyerang.
Pemuda perlente yang berdiri disamping sampai menjerit
kuatir, meski ia tidak mahir ilmu silat, tapi dapat dilihatnya
sibaju hitam pasti akan celaka, pedang kayu Nge Yu-beng
tentu akan melukainya.
Menyusul jeritan pemuda perlente itu, segera bergema
pula jeritan ngeri, ternyata tidak seperti dugaan pemuda itu,
yang celaka bukan sibaju hitam, sebaliknya Nge Yu-beng
mendadak jatuh terguling sambil mengerang dengan
memeluk pangkal lengan kanan.
Tentu saja pemuda perlente itu terheran-heran, ia
membatin, "He, kenapa bisa terjadi begini?"
Dalam pada itu, Kau Giok-ki telah memburu maju dan
mengangkat bangun Sutenya yang hampir kelengar karena
kesakitan itu.
Muka Kay Hiau-thian tampak kelam, tapi mau-tak-mau
iapun harus memuji kelihaian ilmu pedang sibaju hitam,
katanya sambil menarik muka, "Hebat benar Kiam-hoat
anda!"
Air muka sibaju hitam tidak sedikitpun memperlihatkan
rasa gembira, ia putar balik pedangnya masuk kesarungnya.
Sarung pedang itu terletak disamping belakangnya, dia
tidak menoleh dan pedang itu dapat masuk sarungnya
dengan tepat. Betapa gesit dan jitu rasanya terlebih cepat
daripada jago pedang lain yang memasukkan pedang
kesarungnya dengan dua tangan.
Gerakan memasukkan pedang kesaraungnya yang hebat
ini juga membuat Kay Hiau-thian kagun tak terkatakan, ia
coba tanya sang sute, "Bagaimana luka Yu-beng?"
Kau Giok-ki sudah memeriksa keadaan Nge Yu-beng,
dengan sedih ia menjawab, "Tulang pangkal lengannya
hancur, selama hidup ini mungkin tidak sanggup main
pedang lagi."
Seketika alis Kay Hiau-thian berjengkit, ucapnya dengan
geram, "Orang she Tio, keji benar kau!"
"Yang keji adalah Sutemu." jengek sibaju hitam, "Coba
kalau orang she Tio tidak mampu menahan serangannya,
yang menggeletak sekarang pasti bukan dia melainkan aku."
Karena berduka atas keadaan Sutenya, Kau Giok-ki
menjadi murka, ia sambar pedang kayu yang terlempar
dilantai tadi, sekali membentak segera iapun menabas
pangkal lengan kanan sibaju hitam.
Akan tetapi orang berbaju hitam itu tetap diam saja dan
membiarkan pangkal lengan kanan tertabas.
Diam-diam Kau Giok-ki bergirang dan merasa bersyukur
dapat membalas dendam Sutenya. Tapi ia menjadi
tercengang ketika melihat sibaju hitam sama sekali tidak
bergeming meski terkena tabasannya, malahan pedang kayu
sediri yang terpental.
Hampir pada saat yang sama tangan kiri sibaju hitam
meraih kesamping pula, pedang dilolos dan pedang masuk
lagi kesarungnya semua itu hanya berlangsung dalam
sekejap saja, sedangkan Kau Giok-ki juga lantas menjerit
ngeri dan roboh terguling sambil memeluk pangakal lengan
kanan.
Sekali ini sipemuda perlente tadi dapat melihat sibaju
hitam telah turun tangan, tapi bagaimana caranya melukai
Kau Giok-ki dan cara bagaimana pedangnya masuk lagi
kesarungnya tetap sukar diikuti olehnya.
Yang paling mengherankan dan membuatnya bingung
adalah sibaju hitam yang tidak terluka sama sekali, meski
kena ditabas pedang kayu Kau Giok-ki, pikirnya, "Apakah
mungkin lengan kanannya terbuat dari baja?"
Cuma sayang lengan bajunya yang longgar itu menutupi
seluruh lengan kanan sibaju hitam, kalau tidak tentu dia
dapat mengetahui duduknya perkara.
Air muka Kay Hiau-thian menjadi pucat, setelah kedua
Sutenya mengalami nasib malang. Ia melotot gusar kepada
sibaju hitam, ia coba berjongkok dan memeriksa keadaan
Kau Giok-ki, ia tahu lengan kanan Ji-sute itupun tamat
riwayatnya, andaiakan kelak dapat disembuhkan juga tidak
dapat menggunakan pedang lagi.
"Keji amat!" tanpa terasa tercetus kata-kata geram ini
dari mulutnya.
Setelah melukai dua orang sama sekali tiada tampak rasa
menyesal dan kasihan pada wajah sibaju hitam, dengan
pongah ia berkata pula, "Hm, bilamana aku mau keji tentu
tidak kugunakan punggung pedang!"
Meski sombong nadanya, tapi kenyataan memang
begitu. Apabila serangan sibaju hitam tidak kenal ampun,
yang digunakan bukan punggung pedang melainkan mata
pedang yang tajam, saat ini darah pasti sudah berceceran.
Lengan kanan Kau Giok-ki dan Nge Yu-beng pasti sudah
berpisah dengan tuannya, itu berarti cacat selama hidup.
Tapi sekarang, sedikitnya masih ada harapan untuk
disembuhkan.
Kay Hiau-thian lantas menepuk tangan, segera dua anak
muda berlari masuk dan memberi hormat.
"Bawa para Susiok kalian keruangan belakang." kata Kay
Hiau-thian.
Setelah Kau Giok-ki dan Nge Yu-beng yang sudah tak
sadar itu dibawa pergi, Kay Hiau-thian lantas membuka
jubah luarnya, lalu berseru, "Ambilkan pedangku!"
Dari luar ruangan segera seorang muridnya berlari
masuk sambil menghaturkan sebilah pedang mengkilap.
Kay Hiau-thian mengangkat pedang itu dan diputar dua
kali hingga menimbulkan suara keras, lalu ia meraung
gusar,
"Orang she Tio, marilah kitapun coba-coba."
Dengan dingin sibaju hitam menjawab, "Apakah kau
pun ingin mengalami nasib seperti kedua Sutemu! Tapi,
hm, harus kau pikirkan lebih dulu, yang kau pakai sekarang
adalah pedang sungguhan, jika kau berniat membunuhku
maka kalau kau kalah juga jangan harap akan dapat hidup!"
Tergetar hati Kay Hiau-thian, ia menyadari bukan
tandingan sibaju hitam, seketika timbul rasa takut matinya,
ia menyurut mundur setindak.
"Hm, lebih baik panggil keluar Suhumu saja!" jengek si
baju hitam.
"Ayahku sedang keluar, sebulan lagi baru pulang!" tiba-
tiba seorang menanggapi dari luar sana.
Waktu sibaju hitam berpaling, dilihatnya orang yang
masuk ini berusia tiga puluhan, halus dan sopan, jelas
seorang Suseng (pelajar) yang setiap hari berkecimpung
dengan kitab dab syair.
Di belakang Suseng ini mengikut seorang nona cilik yan
lincah, usianya antara sebelas atau dua belas, memakai baju
dan celana pendek warna kuning gading, wajahnya bulat
telur menyenangkan.
"Kakek tidak dirumah lantas datang orang merecoki
kita." demikian nona cilik itupun menggerutu.
"Siau-gi, jangan ikut bicara!" ucap si Suseng sambil
melirik sinona cilik.
Agaknya anak dara itu sudah biasa dimanja, mestinya
dia hendak menangkis ucapan sang ayah, tapi tiba-tiba
dilihatnya disitu berdiri seorang anak muda yang berumur
lebih tua sedikit daripada dirinya dan sedang
memandangnya dengan kesima. Dasar kanak-kanak, si dara
cilik lantas mencibir padanya.
Pembawaan anak muda (si kacung) itu memang polos,
digoda si nona cilik, ia malah berjingkat kaget.
Dalam pada itu sibaju hitam tampaknya sangat kecewa
setelah mendengar bahwa Beng Eng-kiat tidak dirumah,
sambil menggeleng ia bergumam, "Wah, agaknya
kedatanganku ini sia-sia belaka."
Habis itu ia lantas memegang pedang yang tertaruh
disampingnya itu dan berbangkit. Meski Kay Hiau-thian
berdiri didepannya, tapi sama sekali tak dipandangnya, ia
terus melangkah kesana.
Kay Hiau-thian sudah jeri, sama sekali ia tidak berani
merintangi meski orang lalu didepannya, sebaliknya ia
malah mengelak kesamping untuk memberi jalan.
Tapi si Suseng yang baru masuk tadi seperti sengaja
menghadang didepan sibaju hitam waktu orang hendak
keluar, ucapnya sambil menjura, "Apakah anda akan pergi
dengan begini saja?"
Dengan dingin sibaju hitam menjawab, "Sebulan lagi bila
Beng Eng-kiat sudah pulang tentu kudatang pula untuk
minta petunjuk."
"Anda sudah melukai dua orang Suhengku, lalu cara
bagaimana memberi pertanggung jawaban?" tanya si
Suseng.
Si baju hitam lantas berhenti, ia mengerling sekejap
kearah si Suseng, lalu bertanya, "Pertanggungan jawab?
Apakah perlu aku diajukan kesidang pengadilan?"
"Pak-khia adalah kota raja, anda telah melukai dua
orang, ini pelanggaran undang-undang, mana boleh pergi
begitu saja?" ujar si Suseng.
"Hahahaha!" sibaju hitam bergelak tertawa, "Jika begitu,
biarlah kutunggu disini dan kalian boleh mengundang
petugas untuk menangkap diriku."
Si Suseng memandang kearah Kay Hiau-thian.
Kay Hiau-thian menjadi serba susah, ia menyangka si
Suseng memberi tanda agar dirinya memanggil alat negara.
Padahal pertengkaran didunia persilatan mana ada yang
main lapor kepada pihak yang berwajib segala. Maka cepat-
cepat ia mendekati dan berkata, "Adik Si-hian, ini tidak
boleh dilakukan."
Suseng itu adalah putera tunggal Beng Eng-kiat nama
lengkapnya Beng Si-hian. Lantaran terhadap pihak luar
Beng Eng-kiat mengumumkan bahwa anaknya sendiri
belajar Bun (sastra sipil) dan tidak belajar Bu (silat, militer),
maka biarpun Beng Eng-kiat mempunyai seorang putera
namun jarang diketahui orang Kangouw, malahan ketiga
murid Beng Eng-kiat yang sangat terkenal didunia
Kangouw baik kalangan hitam maupun golongan putih.
Begitulah terdengar Beng Si-hian bertanya, "Urusan apa
tidak boleh dilakukan?"
"Menurut peraturan Bu-lim," tutur Kay Hiau-thian "jika
terjadi pertarungan dan ada yang terluka atau mati maka
perkaranya tidak boleh dilapor kepada pihak yang berwajib,
sebab tindakan ini akan menimbulkan cemoohan orang."
Dia menyangka putera kesayangan Suhu ini sepanjang
hari hanya sekolah dan membaca melulu sama sekali tidak
kenal peraturan yang menyangkut ilmu silat, maka dia
lantas menjelaskan pereturan dasar yang harus diketahui
setiap oran yang belajar silat ini.
"Kutahu peraturan ini." demikian Beng Si-hian
menjawab sambil menggeleng, "Siaute tidak bermaksud
meminta Suheng melapor kepada yang berwajib, tapi ingin
meminjam pedang Suheng."
Kay Hiau-thian jadi melengak, ia angkat pedangnya dan
menegas dengan tergagap-gagap, "Kau. . .kau ingin pinjam
pedangku? Untuk apa?. . . . ."
Dengan hambar Beng Si-hian menjawab, "Akan
kugunakan membayar kepadanya dengan cara yang sama
seperti dia melukai Nge-suheng dan Kau-suheng."
-ooo0dw0ooo-

Jilid 2

Habis berkata tanpa menunggu persetujuan Kay Hiau-


thian ia lantas menjulurkan tangannya, Mestinya Kay Hiau-
thian tidak mau memberikan pedangnya, sebab ia tahu
putera tunggal sang guru ini sama sekali tidak mengerti
ilmu silat. Diluar dugaan gerakan tangan Beng Si-hian
ternyata cepat luar biasa, baru saja ia terkejut tahu-tahu
pedangnya sudah berpindah ketangan Beng Si-hian.
Melihat cara Beng Si-hian merebut pedang itu
terbelalaklah sinar mata sibaju hitam serunya sambil
tertawa, "Hahaha, hebat sekali! Beng Eng-kiat tidak
dirumah bertemu dengan anaknya juga boleh."
Beng Si-hian memegang pedang dengan ujung menjurus
miring kebawah, ia pandang sibaju hitam dengan lekat-lekat
katanya, "Asalkan anda dapat mengalahkan diriku, maka
tidak perlu lagi bertemu dengan ayahku."
"Hm, konon Gway-hoat-kiam-hoat keluarga Beng kalian
disebut ilmu pedang yang tak terkalahkan." jengek sibaju
hitam.
"Dapatkah mempertahankan nama baik itu kukira
bergantung pada pertarungan ini!" jawab Beng Si-hian.
"Kau benar-benar berani mewakili ayahmu?" tanya
sibaju hitam dengan kereng.
"Cayhe sudah belajar pedang selama lebih dua puluh
tahun dengan ayah, kuyakin sudah memperoleh seluruh inti
ilmu pedang ayahku, dengan sendirinya kuberani mewakili
beliau." jawabnya Beng Si-hian tegas.
"Bagus!" seru sibaju hitam, "Jika begitu boleh kita
bertanding dengan baik."
Habis berkata ia kempit pedang ditangan kiri itu dibawah
ketiaknya, lalu mengeluarkan satu utas benang hitam,
rambutnya yang panjang terurai itu diikatnya dengan baik
agar tidak tersebar bilamana mulai bertempur, sebab hal ini
akan mengganggu pandangannya.
Beng Si-hian juga tidak berani gegabah, ia menanggalkan
jubah luar sehingga kelihatan baju dalam yang putih.
Putrinya yang kecil Beng Siau-gi, lantas menyodorkan
sepotong kain sutera untuk mengikat baju dalam sang ayah
yang panjang itu.
Kay Hiau-thian tercengang menyaksikan keprihatinan
kedua orang yang siap tempur itu. Sama sekali tak terduga
olehnya bahwa Beng Si-hian telah belajar ilmu pedang
selama dua puluh tahun lebih dengan ayahnya. Sedangkan
dirinya yang menjadi murid tertua belum lagi ada dua
puluh tahun belajar kepada sang guru.
Ia tidak paham mengapa gurunya merahasiakan urusan
ini, jelas Beng Si-hian belajar Bun pada siang hari dan
malam hari diam-diam belajar ilmu pedang dengan
ayahnya. Sebab itulah orang luar tiada satupun yang tahu,
sejauh itu Beng Si-hian dianggap sebagai Suseng yang
sepanjang hari membaca melulu didalam kamar.
Setelah kedua orang meringkasi tubuh masing-masing,
lalu kedua orang berdiri muka berhadapan muka, suatu
pertarungan sengit segera akan mulai.
Agar kelihatan adil, dengan tegas sibaju hitam
memberitahu, "Beng-kongcu, lengan kananku ini adalah
lengan palsu terbuat dari tembaga, Hal ini perlu
kuberitahukan lebih dulu."
"Terima kasih atas penjelasan anda," jawab Si-hian
sambil mengangguk.
Padahal pertandingan diantara ahli silat tidak boleh
selisih atau lengah sedikitpun, jika sebelumnya Beng Si-hian
tidak tahu lengan kanan sibaju hitam adalah lengan palsu
buatan tembaga, kalau pedangnya menabas kesitu dan dia
mengira akan kena sasarannya dan menang, maka mungkin
dia akan lena dan kesempatan itu dapat digunakan oleh
sibaju hitam untuk balas menyerangnya.
Tapi sekarang setelah ciri sibaju hitam dikatakan terus
terang, tentu Beng Si-hian takkan berbuat kesalahan begitu,
dia tidak perlu lagi menghiraukan lengan kanan lawan.
Baru sekarang juga pemuda perlente tadi baru mengerti
apa sebabnya sibaju hitam tidak terluka ketika kena tabasan
pedang kayu Kau Giok-ki tadi, Pikirnya, "Ternyata benar
lengan buatan logam besi sebagaimana kuduga. Aneh juga,
kalau begitu sibaju hitam ini hanya memiliki sebuah tangan,
mengapa memakai dua pedang?"
Kalau si pemuda perlente ini heran, tentu saja orang-
orang lain juga mempunyai pikiran serupa. Tanpa terasa
mereka sama memandang pedang yang tersandang
dipunggung sibaju hitam dan sama bertanya dalam hati,
"Entah cara bagaimana dia menggunakan pedang
cadangannya itu?"
Hanya Beng Si-hian saja yang tidak memusingkan
pedang lain yang masih tersandang dipunggung sibaju
hitam, pertarungan bisa terjadi setiap saat, sedetikpun ia tak
berani lengah.
Begitulah kedua orang berdiri berhadapan, sampai sekian
lamanya tiba-tiba, lengan kanan Beng Si-hian sedikit
bergerak.
Saat itu pedang yang selalu dipegang tangan kiri sibaju
hitam masih tersimpan disarungnya, begitu Beng Si-hian
bergerak secepat kilat pedang itupun dilolosnya. Tapi
lantaran tangan kanannya tangan palsu sehingga tidak
dapat membantu ketika pedang itu terlolos seketika, sarung
pedang lantas terlempar kesamping.
Belum lagi sarung pedang itu jatuh kelantai, dalam
sekejap itu sibaju hitam sudah melancarkan tiga kali
serangan dengan cepat luar biasa. Orang yang kurang tinggi
ilmu silatnya, jangankan menangkis, membedakan arah
gerakannya saja sukar.
Si pemuda perlente tadi menjerit kaget, disangkanya
BengSi-hian pasti akan mengalami nasib serupa Kau Giok-
ki dan Nge Yu-heng. Diluar dugaannya Beng Si-hian dapat
menyelinap lewat dibawah taburan bayangan pedang sibaju
hitam.
Sampai Kay Hiau-thian sendiripun mengira riwayat
Beng Si-hian pasti akan tamat, siapa tahu Beng Si-hian tetap
tenang saja seperti tidak terjadi apa-apa. Malahan segera
melancarkan serangan balasan, cepatnya juga tak
terperikan.
Ditengah kalangan hanya tertampak bayangan putih dan
bayangan hitam saling bergumul, tak terlihat siapa yang
sedang menyerang dan jurus ilmu pedang apa yang
digunakan.
Keruan Kay Hiau-thian melongo. Samar-samar dia
memang dapat membedakan ilmu pedang yang dimainkan
Beng Si-hian juga Gway-hoat-kiam-hoat, tapi kalau
dibandingkan dirinya, bahkan saja beberapa kali lebih
cepat, bahkan juga jauh lebih lihai.
Inilah benar-benar Gway-hoat-kiam-hoat keluarga Beng
yang tak terkalahkan!
Diam-diam Kay Hiau-thian menghela napas gegetun dan
mengakui dirinya masih kalah jauh dibandingkan sang
Sute. Padahal ia sendiri sudah hampir dua puluh tahun
belajar ilmu pedang dan mengira tiada tandingannya lagi,
siapa tahu bedanya seperti langit dan bumi bila
dibandingkan Beng Si-hian.
Hanya dalam waktu singkat saja entah berapa puluh
jurus sudah berlangsung, mendadak terdengar suara
keluhan tertahan, ini menandakan salah seorang sudah
terluka dan kalah.
Siapakah yang terluka dan siapa yang kalah?
Ternyata sibaju hitam sedang berdiri tegak dengan
gagahnya, butiran keringat tampak menghiasi dahinya,
sorot matanya yang tajam menatap Beng Si-hian, tangan
kirinya tidak lagi memegang satu pedang, tapi dua. Yang
satu tetap tergenggam tapi yang lain bergelantung karena
diberi tali mengikat antara gagang pedang dan pergelangan
tangan.
Rupanya pedang cadangan yang tersandang
dipunggungnya itu juga telah digunakan. Bilakah pedang
itu dilolos tak diketahui, cuma satu hal dapat dibayangkan
yaitu waktu pedang pertama dilepaskan, secepat kilat ia
melolos pedang kedua maka terjadilah serangan dua pedang
sekaligus.
Agaknya dengan serangan dua pedang sekaligus itulah
Beng Si-hian telah dikalahkan. Pada saat sibaju hitam
menarik tali pengikat pedang untuk menarik kembali
pedang pertama itulah, "bluk", Beng Si-hian jatuh terkapar.
Pada saat Beng Si-hian roboh itulah setiap orang dapat
melihat baju dada Beng Si-hian yang putih itu ada luka
goresan panjang, darahpun menguncur dari luka itu.
Beng Siau-gi menjerit, menyusul robohnya sang ayah,
segera pula ia menubruk keatas tubuh Beng Si-hian,
mengangkat tubuh sang ayah, darah masih terus mengalir
sehingga membasahi sekujur badan Siau-gi.
Bersandar pada pangkuan putrinya yang kecil itu,
sedapatnya Beng Si-hian membuka matanya dan berkata
dengan lemah, "Be. . . beritahukan kepada Yaya (kakek),
Siang. . . Siang-liu-kiam. . . ." habis ucapan ini iapun
menghembuskan napasnya yang terakhir.
Sesaat sebelum meninggal, dia menyesal karena tidak
taat kepada pesan sang ayah Beng Eng-kiat. Lantaran
gusarnya karena terlukanya kedua Suhengnya, maka ilmu
pedang yang dipelajarinya secara rahasia selama lebih dua
puluh tahun ditonjolkan, akibatnya dia haris menebus
kesalahan ini dengan nyawanya dibawah Siang-liu-kiam-
hoat (ilmu pedang dua aliran) yang dikuatirkan Beng Eng-
kiat itu.
Beng Siau-gi ini kecil-kecil cabai rawit, ia tahu ayahnya
sudah meninggal, sang ibu memang sudah wafat, sekarang
tertinggal dia sebatang-kara.
Namun dia tidak menangis, ia rebahkan jenazah sang
ayah, pedang yang masih tergenggam ditangan ayahnya itu
diambilnya, begitu berbangkit segera ia menubruk kearah
sibaju hitam yang tampak merasa menyesal itu.
Pada waktu sibaju hitam sedang memasukkan pedang
kedua kesarungnya dipunggung, berbareng itu ia pun
melompat mundur untuk menghindari terjangan Beng Siau-
gi.
Karena menubruk tempat kosong, segera Siau-gi
memutar pedangnya, cepat ia menabas pula dengan jurus
serangan Gway-hoat-kiam-hoat yang lihai.
Sungguh hal inipun sama sekali tak terduga oleh Kay
Hiau-thian bahwa cucu perempuan sang guru ternyata juga
mahir ilmu pedang, bahkan cukup lihai tampaknya.
Sambil mengelakkan serangan Siau-gi tadi, sibaju hitam
lantas berjongkok untuk menjemput sarung pedangnya yang
terlempar tadi. Akan tetapi dalam sekejap itu pula Beng
Siau-gi telah melancarkan sembilan kali serangan, ketika
sibaju hitam selesai memasukkan pedang kesarungnya,
tanpa terasa iapun sudah mundur sembilan langkah.
Padahal usia Beng Siau-gi baru dua belasan, tapi
kelihaian ilmu pedangnya ternyata tidak kalah lihainya
daripada Kay Hiau-thian yang telah belajar hampir dua
puluh tahun.
Diam-diam Kay Hiau-thian merasa malu diri, tapi juga
dendam kepada sang guru yang tidak mengajarkan intisari
ilmu pedang padanya.
Nyata orang she Kay ini berjiwa sempit, dia tidak sedih
atas kematian putra tunggal sang guru, juga tidak turun
tangan membantu cucu sang guru satu2nya ini, tapi
memikirkan kepentingannya sendiri.
Setelah mengelak belasan kali, lama-lama sibaju hitam
mendongkol juga, mendadak ia lolos pedang pertama,
sekali sampuk mencelatlah pedang Beng Siau-gi.
Sudah kehilangan pedang, tapi Beng Siau-gi tetap tidak
gentar, dengan bertangan kosong dikeluarkannya ilmu
kedua andalan keluarga Beng, yaitu Siau-yau-ciang-hoat,
dengan cepat ia melancarkan pukulan.
Betapapun sibaju hitam sungkan melayani seorang dara
cilik bertangan kosong dengan menghunus pedang, maka ia
tidak balas menyerang, ber-turut2 iapun menyurut mundur
belasan langkah.
Akhirnya sibaju hitam terdesak mundur sampai pojok
dinding, mau-tak-mau ia naik pitam juga, mendadak
pedangnya terayun.
Pada saat itulah, si kacung yang berdiri dibelakang
pemuda perlente tadi berteriak, "Huh, tidak tahu malu!"
Berbareng ia terus memburu maju. Akan tetapi lantas
dilihatnya gerakan pedang sibaju hitam hanya digunakan
untuk menggertak Beng Siau-gi saja dan bukannya
menyerang benar-benar, rupanya ia sendiri yang salah
sangka.
Tapi dara cilik itu masih tetap tidak peduli, masih terus
menyerang. Si kacung menjadi kuatir kalau sibaju hitam
menjadi kalap karena didesak oleh Beng Siau-gi dan bukan
mustahil akhirnya bisa turun tangan keji. Maka ia coba
melerainya, "Nona cilik, harap berhenti saja."
Tapi Beng Siau-gi terlalu berduka atas meninggalnya
sang ayah yang selama ini menjadi sandarannya dan tidak
pernah berpisah, ia sudah kalap dan nekat, maka ia
menoleh dan mendamperat kacung itu, "Setan cilik busuk,
tidak perlu kau ikut campur!" Sambil bicara pukulannya
masih terus dilancarkan.
Terpaksa sibaju hitam berkelit kesana dan menghindar
kemari, ia mendongkol dan repot juga, serunya kepada si
kacung, "Setan cilik, seret pergi budak cilik ini, kalau tidak,
bisa sekali tendang kurobohkan dia."
Si kacung tahu ucapan sibaju hitam bukan cuma gertak
sambal belaka, kalau sudah didesak hingga kepepet, untuk
melepaskan diri memang bisa jadi dia menendang sianak
dara. Karena kuatir, segera sikacung menubruk maju, kedua
tangannya terus menikap ditengah pukulan Beng Siau-gi
yang gencar itu, dia berhasil mendekap dara cantik itu
dengan erat.
Dipeluk oleh seorang anak muda yang cuma beberapa
tahun lebih tua daripada dirinya, tentu saja Siau-gi malu
dan juga gusar, teriaknya, "Lep. . . .lepaskan aku!"
"Engkau harus sayang pada jiwamu sendiri," jawab
sikacung, "Takkan kulepaskan kau jika engkau tidak
menurut pada perkataanku."
Bahwa dirinya disuruh jangan menyerang musuh yang
membunuh ayahnya, tentu saja Siau-gi tidak mau menurut.
Ia kerahkan tenaga dan meronta sekuatnya. Ia mengira
sekali meronta pasti dapat melepaskan diri, tak terduga
sama sekali tidak bergeser dan sikacung masih tetap
mendekapnya dengan kencang.
Kejadian ini dapat diikuti sibaju hitam dengan jelas,
diam-diam ia terkejut. Dari angin pukulan Beng Siau-gi
dapat dinilainya tenaga sidara cilik itu tidaklah lemah,
sedikitnya sudah berlatih selama tujuh atau delapan tahun,
tapi sikacung terlebih kuat, padahal usianya beru lima belas,
kalau tidak berlatih Lwekang sejak lahir rasanya tidak
mungkin dapat menahan daya rontakan Beng Siau-gi yang
kuat itu.
Malahan sikacung lantas membujuk pula, "Nona cilik,
ayahmu gugur dimedan tempur, hal ini tak dapat
menyalahkan paman hitam itu. Harus diketahui, bilamana
ayahmu menang, paman hitam itupun mungkin akan mati
dibawah pedang ayahmu."
Diam-diam sibaju hitam menggurutu, "Kurang ajar!
Sudah jelas setan cilik inipun mendengar keparat itu she
Tio, mengapa dia sebut paman hitam, malahan kulit
badannya cukup putih. Mungkin karena bajunya serba
hitam."
Beng Siau-gi tidak menurut bujukan sikacung, ia meronta
lagi dua-tiga kali dan tetap tidak dapat terlepas.
Kembali sikacung membujuk lagi, "Asalkan gunung
tetap menghijau janganlah kuatir tiada kayu bakar. Nona
cilik hendaklah engkau dapat berpikir dengan panjang dan
cermat."
"Bagus kau setan cilik itu, berani menghasut putri Beng
Si-hian itu bersabar dulu dan menuntut balas padaku
dikemudian hari." demikian sibaju hitam menggerutu pula
didalam hati.
Namun dasar wataknya juga angkuh, dia hanya memaki
didalam hati saja, pikirnya, "Aku Tio Tai-peng adalah
seorang lelaki yang tidak pernah main sembunyi2, setelah
kau sibudak cilik ini dewasa boleh saja datang mencari aku
lagi, andaikan aku kau bunuh juga aku tidak akan menyesal
dan merasa penasaran, asal saja kau mampu."
Lelaki berbaju hitam ini memang betul Tio Tai-peng
yang telah meninggalkan Soat Ciau-hoa dipegunungan
Soat-san lima belas tahun yang lalu itu.
Tio Tai-peng adalah anak murid perguruan ternama,
kecuali cara kejinya terhadap Soat Ciau-hoa, biasanya dia
memang seorang kesatria yang berbudi luhur. Misalnya
sekarang menghadapi keluarga Beng, bilamana orang lain
mungkin sekali tabas sudah dibinasakan Beng Siau-gi agar
tidak meninggalkan bibit bencana dikemudian hari.
Dalam pada itu Beng Siau-gi lagi serba susah, ia memang
tidak sanggup melepaskan diri dari dekapan sikacung, hal
ini membuatnya putus asa, selain itu ia menyadari apa yang
dikatakan sikacung tadi, pikirnya, "Betul juga, bilamana
kuadu jiwa dengan musuh sekarang, tentu sia-sia belaka,
salah-salah malahan jiwaku bisa ikut melayang, Asalkan
aku masih hidup, biarpun sepuluh atau dua puluh tahun
lagi juga aku masih dapat menuntut balas padanya."
Setelah tekad menuntut balas tertanam dilubuk hatinya,
ia lantas berkata, "Baiklah, kuturut perkataanmu. . . . ."
Mendengar sidara cilik mau terima bujukannya, segera
sikacung melepaskan tangan dan mundur kebelakang.
Maka tidak tahan lagi rasa duka Beng Siau-gi atas
kematian ayahnya yang tercinta itu, ia terus memburu
ketempat jenazah sang ayah dan mendekapnya dan
menangis ter-gerung2, begitu sedih tangisnya sehingga
suaranya sangat memilukan.
Tidak lama kemudian, suara tangis Siau-gi semakin lirih,
tapi suara sedu-sedannya itu tambah membuat orang
terharu, Kay Hiau-thian mendekati dara cilik itu, seperti
mau membujuknya tapi juga seperti enggan.
Rupanya orang she Kay ini diam-diam dendam kepada
gurunya yang pilih kasih, tapi menghadapi keadaan
sekarang, sebagai murid tertua, tentunya dia tak dapat
tinggal diam, maka dia sengaja mendekati Siau-gi dengan
lagak serba susah, padahal dalam hati menggerutu,
"Menangislah, budak busuk, menangislah lebih keras!
Kalau kau mati menangis tentu si setan tua tak punya
keturunan dan intisari ilmu pedangnya tentu akan diajarkan
padaku."
Melihat Beng Siau-gi menangis sedemikian sedihnya,
diam-diam Tio Tai-peng sangat menyesal, ia menyesali
pedang kedua sendiri itu hanya dapat digunakan dan tak
dapat dikendalikan, asalkan pedang itu menyerang pasti
akan membunuh orang. Padahal ia sendiri bukan orang
yang gemar membunuh, tentu dia akan memberi jalan
hidup bagi Beng Si-hian kalau bisa.
Diam-diam ia menggeleng kepala, ia berdiri ter-mangu2
sejenak, ia masukkan pedang pada sarungnya, lalu
melangkah pergi.
Tapi sebelum dia keluar pintu ruangan itu, mendadak si
pemuda perlente tadi menyusulnya sambil berseru,
"Berhenti dulu, Suhu!"
"Siapa Suhumu?!" jawab Tio Tai-peng sambil menoleh
dan melotot gusar.
Pemuda itu lantas menonjolkan nama ayahnya yang
berkuasa itu, katanya. "Aku putera Kiu-bun-te-tok di Pak-
khia sini."
"Biarpun kau anak raja juga aku tidak peduli!" jengek Tio
Tai-peng.
Tapi pemuda perlente itu tidak menghiraukan ucapan
yang bernada mengejek ini, ia memberi hormat dan berkata
pula, "Ayahku paling menghormati ahli silat, sewaktu aku
masih kanak-kanak ayah sudah berniat mencarikan seorang
guru ternama untuk mengajari diriku, cuma sayang. . . . ."
"Ilmu silatmu sekarang sudah lumayan, kurang apa
lagi?" dengus Tio Tai-peng pula.
Dia pikir kalau kacungnya saja memiliki Kungfu yang
tidak lemah, dengan sendirinya ilmu silat sang majikan
pasti lebih hebat. Ini berdasarkan kekuatan sikacung waktu
menyikap Beng Siau-gi tadi.
Pemuda perlente itu jadi melengak malah, ia menggeleng
dan menjawab dengan tertawa, "Aku belum pernah
berguru."
Tentu saja Tio Tai-peng tidak percaya, ia tidak tahu
bahwa kacungnya bisa ilmu silat sebaliknya pemuda
perlente ini memang sama sekali tidak paham ilmu silat,
Maka ia mendengus pula, "Barangkali karena belum
ketemukan guru pandai maka belum mengangkat guru?"
Cepat pemuda itu mengangguk, jawabnya, "Betul,betul,
memang begitulah. Sayang didunia Kangouw ini banyak
orang yang bernama kosong belaka, sebab itulah sejauh ini
ayah belum menemukan seorang guru yang baik bagiku,
akhirnya didengarnya Beng Eng-kiat dikota ini adalah
seorang ahli silat."
"Makanya hari ini ayahmu mengundang ketiga murid
Beng Eng-kiat dan menjamunya dengan harapan agar
mereka suka bicara didepan sang guru supaya kau diterima
menjadi murid, begitu bukan?" jengek Tai-peng pula.
"Ya, terkaan Suhu sangat jitu dan tepat." sahut pemuda
itu dengan mengangguk.
Pemuda ini tidak malu sebagai putera seorang pembesar,
belum lagi menduduki sesuatu jabatan sudah mahir kata-
kata menjilat dan suka mengumpak.
Namun Tio Tai-peng tidak doyan umpakan, ia tidak
suka dipuji, dengan suara keras ia mendamperat, "Jika kau
panggil lagi Suhu padaku, bisa kurobek mulutmu."
Pemuda itu terkejut, cepat ia berkata pula, "Ya, ya,
ayahku Kiu-bun-te-tok. . . ."
Tio Tai-peng menjadi gusar, bentaknya, "Jangan kau
tonjolkan lagi pangkat ayahmu untuk menggertak padaku!
Coba kutanya padamu, kau benar-benar ingin mengangkat
guru padaku?"
"Be. . .betul, entah. . . entah Suhu. . .eh salah. Entah. .
.entah Cianpwe sudi menerima diriku atau tidak?" ucap
pemuda itu dengan gelagapan dan mem-bungkuk2 badan.
"Melihat perawakan dan tulangmu, kau memang pilihan
untuk belajar ilmu silat kelas tinggi." jengek Tio Tai-peng.
Pemuda perlente itu mengira ada harapan, dengan girang
ia berkata pula, "Ya, Kay, Nge dan Kau bertiga Suhu juga
bilang begitu, mereka telah berjanji pada ayah bahwa guru
mereka pasti akan menerimaku."
"Aha, jika begitu kan sudah beres, tunggu saja pulangnya
Beng Eng-kiat nanti, boleh kau angkat padanya," kata Tai-
peng.
Si pemuda mengira Tio Tai-peng salah artikan
ucapannya tadi, cepat-cepat ia menambahkan, "Tapi Kay
bertiga Suhu bilang guru mereka sudah menyatakan tidak
menerima murid lagi, namun mereka yakin apabila Beng
Eng-kiat melihat diriku, tentu guru mereka akan menarik
kembali keputusannya dan menerimaku sebagai murid,
inipun membuktikan bahwa diriku memang berbakat bagus
untuk belajar ilmu silat."
Dengan sorot mata dingin Tio Tai-peng memandang
sekejap pemuda perlente ini lalu mengangguk dan berkata,
"Untuk hal ini kau memang boleh omong besar, kalau Beng
Eng-kiat mau menerima kau, maka bolehlah kau belajar
padanya dengan senang, tentunya kau tahu Gway-hoat-
kiam-hoat keluarga Beng. . . ."
"Tidak, tidak!" mendadak pemuda itu menyela.
Tio Tai-peng sangat mendongkol karena orang
memotong ucapannya dengan cara tidak sopan, tanyanya
dengan kurang senang, "Tidak bagaimana?"
"Beng Eng-kiat juga orang yang bernama kosong belaka."
ujar pemuda itu.
"Hm, darimana kau tahu?" jengek Tio Tai-peng.
"Coba pikir, jika Beng Eng-kiat bukan orang yang
bernama kosong, tentu Gway-hoat-kiam-hoat
kebanggaannya takkan dikalahkan oleh ilmu pedang
Cianpwe," kata pemuda itu.
"Salah kau," ucap Tai-peng, "Ketidak becusan ketiga
murid Beng Eng-kiat memang benar, tapi ilmu pedang Beng
Si-hian boleh dikatakan jarang ada bandingannya didunia
persilatan, kemenanganku tadi hanya secara kebetulan
saja."
Segera sipemuda perlente itu mengeluarkan pula Kungfu
keturunan keluarganya, yaitu menjilat dan mengumpak,
dengan tertawa dia berkata, "Ah, Cianpwe suka rendah hati
saja, padahal setiap orang yang melek dapat melihat dengan
jelas bahwa ilmu pedang Cianpwe jauh lebih hebat daripada
Gway-hoat-kiam-hoat, hanya ilmu pedang Cianpwe saja
yang jarang ada bandingannya, bukankah kemenangan
Cianpwe boleh dikatakan tiada artinya sama sekali."
Tio Tai-peng justru seorang yang tidak suka diumpak,
dia lantas menjengek, "Hm, jika menurut jalan pikiranmu,
bilamana kelak akupun dikalahkan orang lain, tentu kau
akan bilang ilm pedangku juga tiada artinya sama sekali."
"O, tidak, tidak mungkin," seru sipemuda sambil
menggeleng-geleng kepala, "Ilmu pedang Cianpwe boleh
dikatakan seperti sang surya tinggi ditengah cakrawala,
didunia ini tiada Kiam-hoat lain yang dapat mengalahkan
ilmu pedang Cianpwe."
"Jika demikian, jadi kau anggap didunia ini guru yang
terbaik hanya aku seorang saja?" tanya Tai-peng.
Pemuda perlente itu mengira jilatannya telah membawa
hasil, dengan girang ia menjawab, "Betul, betul, didunia ini
hanya engkau saja yang dapat menerima orang berbakat
bagus untuk belajar silat seperti diriku ini."
"Ya, murid yang berbakat bagus pasti diharapkan setiap
orang, akupun tidak terkecuali," kata Tai-peng.
Mengira Tio Tai-peng tidak menolak lagi, segera pemuda
itu hendak menyembah dan mengangkat guru.
Tapi baru saja sebelah kakinya tertekuk, mendadak Tai-
peng berseru, "Nanti dulu!"
Pelahan pemuda itu berbangkit dan bertanya, "Apakah
Cianpwe ingin bicara tentang syarat mengangkat guru?"
Tai-peng tambah gemas mendengar pemuda itu bicara
tentang mengangkat guru dengan syarat, seperti orang jual-
beli saja, tapi ia menahan perasaannya dan berkata:
"Tentang syarat, tidak perlu. Dengan pengaruh ayahmu,
bilamana kuterima kau sebagai murid, tentu harta dan
pangkat akan mudah kuperoleh."
"Ya, ya, sudah tentu," tukas sipemuda dengan girang.
"Memang ayahku. . . . ."
Tapi Tai-peng lantas memberi tanda agar pemuda itu
tidak melanjutkan ucapannya yang cuma membikin keki
saja, Katanya: "Syarat memang tidak ada, tapi ada satu
peraturan yang kutetapkan."
"Peraturan? Peraturan apa?" tanya pemuda itu.
"Peraturanku tidak sama dengan peraturan perguruan
lain yang melarang membunuh, melarang main perempuan
dan sebagainya. Asalkan kau jadi belajar padaku, setelah
tamat belajar dan keluar dari perguruan, apapun yang akan
kau lakukan takkan kupersoalkan."
"Kebetulan," demikian pikir pemuda itu, "Tanpa
larangan dan ikatan apa-apa, tentu aku dapat berbuat
sekehendak hatiku. Dengan Kungfuku yang tinggi nanti,
siapa yang dapat merintangi aku?"
"Tentang peraturanku," Tai-peng melanjutkan pula,
"Yaitu murid harus serupa dengan sang guru."
"Urusan apa yang harus serupa dengan sang guru?" tanya
pemuda itu.
"Bukan urusan, tapi pengalaman," jawab Tai-peng,
"Pengalamanku membuatku kehilangan sebelah lenganku,
maka muridku biarpun tidak menjalani pengalamanku
diharuskan menerima akibat seperti pengalamanku itu."
Keruan pemuda itu terkesiap, tanyanya, "Jadi maksud
Cianpwe hanya orang yang terkutung sebelah lengannya
yang boleh mengangkat guru kepada Cianpwe?"
"Betul," jawab Tai-peng dengan ketus, "Jika kau ingin
mengangkat guru padaku, lebih dulu mengutungi lengan
kanan sendiri."
Pemuda itu berjingkat kaget dan menyurut mundur.
Tay-peng ter-bahak2 geli, ucapnya, "Hahaha, takut
bukan? Jika takut sakit, maka batalkan saja niatmu hendak
mengangkat guru padaku."
Tiba-tiba pemuda itu berpikir peraturan yang dikatakan
Tio Tai-peng itu bisa jadi hanya untuk menguji tekadnya
saja, untuk menguji kesungguhan hatinya. Mendadak ia
tabahkan diri terus bertekuk lutut.
Hal ini diluar dugaan Tio Tai-peng malah, tanyanya,
"Eh, kau benar-benar mau mengangkat guru padaku?!"
Dengan mengertak gigi pemuda itu mengangguk,
tampaknya sangat mantap dan teguh pendiriannya.
"Baik, jika begitu boleh kau kutungi dulu lengan kanan
sendiri!" jengek Tio Tai-peng sambil melolos pedangnya
dan dilemparkan kedepan pemuda perlente itu.
Pemuda itu tetap mengira orang hanya ingin menguji
tekadnya saja, ia pikir aku harus memperlihatkan tekadku
yang sejati, maka tanpa pikir diraihnya pedang itu, diangkat
terus menabas kelengan kanan sendiri.
Tindakan ini membuat sikacung tadi kaget setengah
mati, cepat ia memburu maju dan memegang tangan kiri
sipemuda yang memegang pedang itu sambil berseru, "He,
jangan, Siauya (tuan muda)!"
"Minggir sana!" bentak pemuda perlente itu dengan lagak
sungguh2, sekuatnya ia hendak melepaskan pegangan
sikacung.
Betapapun kacung itu masih terlalu muda, masih hijau
dan polos, ia tidak tahu sang majikan cuma pura-pura saja,
sebaliknya ia memegangnya dengan erat dan tidak mau
melepaskannya.
Bagi Tio Tai-peng yang sudah berpengalaman,
permainan pemuda perlente itu tentu saja tak dapat
mengelabui dia, malahan dia mengira sikacung sengaja
membantu main sandiwara dengan sang majikan, maka
sekali depak ia bikin kacung itu terjungkal.
Kacung itu berdiri membelakangi Tio Tai-peng dan tidak
menduga akan didepak, keruan ia terus terpental dan ter-
guling2. Tapi segara kacung itu melompat bangun tanpa
mengeluh, cuma dari bajunya mendadak mendadak terjatuh
sesuatu benda kecil.
"Setan cilik, memangnya kau perlu ikut main
sandiwara!" damperat Tai-peng. Tapi demi mendadak
melihat benda yang terjatuh dari baju kacung itu, benda itu
sedang menggelinding, ia bersuara heran, segera ia
melangkah maju dan dijemputnya benda kecil yang
berwarna merah tua itu.
Setelah memegang benda itu, tiba-tiba teringat sesuatu
olehnya, segera ia pandang sikacung dengan melenggong.
Karena benda kesayangannya diambil Tio Tai-peng,
sikacung menjadi gelisah, serunya, "Kembalikan
mutiaraku!"
"Mutiara ini sangat menarik, jual saja padaku!" kata Tai-
peng sengaja.
"Tidak, tidak dijual!" jawab sikacung tegas.
"Seratus tahil perak, kubeli," kata Tai-peng pula.
Kay Hiau-thian ter-heran2 menyaksikan kejadian itu, ia
pikir cuma satu biji mutiaran saja masakah berharga seratus
tahil perak.
Tapi sikacung sama sekali tidak terpikat oleh tawaran
seratus tahil perak itu, ia berteriak: "Sekali kukatakan tidak
dijual, tetap tidak kujual, seribu tahil. . . . ."
"Baik, jadi seribu tahil, Nah, inilah uang kertas seribu
tahil, barang kuterima dan harga kubayar lunas!" sela Tai-
peng sambil mengeluarkan secomot uang kertas dan
dilemparkan kepada sikacung.
Kejadian ini juga membikin sipemuda perlente tadi
melongo heran, ia pikir biarpun Ya-beng-cu (mutiara
bercahaya diwaktu malam) juga tidak laku seribu tahil
perak, tapi orang buntung ini berani membayar mutiara
anak kecil semahal ini, apakah dia sudah sinting?
Kacung tadi telah memungut uang kertas yang
dilemparkan kepadanya itu dan disodorkan kembali kepada
Tio Tai-peng, katanya: "Maksudku biarpun seribu tahil atau
selaksa tahil juga tidak kujual!"
Bahwa Tio Tai-peng berani membeli sebiji mutiara
begitu dengan harga seribu tahil perak, hal ini cukup
membuat orang ter-heran2. Sebaliknya anak yang bekerja
sebagai kacung ternyata tidak sudi menjual barangnya
dengan harga sebagus itu, hal ini membuat orang terlebih
heran.
Tio Tai-peng ternyata bukan orang yang tidak kenal
aturan, orang tetap tidak mau menjual, maka iapun tidak
mau memaksa, ia terima kembali uang kertasnya dan
mengembalikan pula mutiara itu, lalu dengan suara halus ia
bertanya: "Adik cilik, mengapa mutiara ini tidak kau jual?"
Mendadak mata sikacung menjadi merah dan berkilau,
jawabnya: "Inilah satu2nya barang yang dapat membuatku
terkenang kepada ibuku." Dengan hati-hati lalu ia
menyimpan kembali mutiara itu kedalam bajunya.
Tergerak hati Tio Tai-peng tanyanya pula: "Apakah
ibumu sudah meninggal?"
Kacung itu mengangguk.
Tay-peng menghela napas, sikapnya bertambah ramah,
tanyanya pula: "Adik cilik, kau she apa?"
Melihat sikap Tio Tai-peng mendadak berubah ramah
padanya, sikacung tidak dendam lagi karena dirinya
ditendang tadi, ia menjawab: "Aku she Soat."
Meski sebelumnya Tai-peng sudah dapat menerkanya,
tapi demi mendengar kacung itu menjawab she "soat",
tanpa terasa ia tetap tergetar seperti mendengar bunyi
guntur yang menggelegar.
Kacung itu tidak memperhatikan perubahan air muka
Tio Tai-peng, ia terus membalik kesana dan berseru kepada
pemuda perlente tadi: "Bangunlah, Siauya!"
"Bukan urusanmu, Soat Peng Say, berdiri dipinggir
sana!" kata sipemuda perlente.
Si kacung, Soat Peng Say lantas membujuk; "Siauya,
orang she Tio ini bukan orang baik. Dia sendiri buntung,
maka dia ingin membalas dendam kepada setiap orang
didunia ini. Tidakkah Siauya menyaksikan dia membikin
remuk tulang pangkal lengan kanan Kau dan Nge Suhu
tadi? Didunia ini tidak mungkin ada orang yang mau
menerima murid bertangan buntung, hanya dia saja yang
berwatak aneh begini, tampaknya jika dia mempunyai anak
lelaki mungkin juga lengan kanan anaknya akan dibikin
buntung."
"Ngaco-belo!" bentak Tai-peng.
Mendadak Soat Peng-say berpaling, dengan tabah ia
bertanya; "Seumpama betul aku ngaco-belo, tapi mengapa
kau menghendaki muridmu harus serupa dengan kau?"
Tio Tai-peng memandangi kedua mata Soat Peng-say
yang besar itu dengan terkesima, makin dipandang makin
dirasakan mata anak muda itu mirip benar dengan matanya
sendiri. Demi menghindarkan salah paham Soat Peng-say
yang mengira dia mempunyai kelainan jiwa akan menuntut
balas kepada setiap manusia didunia ini, maka ia coba
memberi penjelasan;
"Kau tahu ilmu pedangku adalah Coh-pi-kiam-hoat
(ilmu pedang dengan tangan kiri), jika ingin belajar ilmu
pedangku, orang yang bertangan dua malahan sukar belajar
dengan perhatian penuh. Makanya orang yang ingin
menjadi muridku diharuskan buntung juga. Jadi aku
bukanlah orang berwatak aneh dan juga tiada maksud
tujuan hendak menuntut balas sakit hatiku kepada setiap
orang didunia ini."
Bicara sampai disini, mendadak ia berpaling kearah
sipemuda perlente dan berkata pula; "Nah, lekas turun
tangan!"
Sekarang pemuda itu percaya orang tidak bermaksud
menguji kesungguhan hatinya, tapi benar-benar
menyuruhnya membuntungi lengan kanan sendiri baru mau
menerimanya sebagai murid, karuan ia menjadi ketakutan,
pedang lantas dibuang dan cepat merangkak bangun,
katanya; "Sudahlah, aku. . . aku tidak. . . tidak jadi berguru
padamu. . . ."
"Tidak, tidak bisa," kata Tio Tai-peng dengan tertawa,
"Sudah pasti kuterima kau menjadi muridku dan tidak
dapat ditawar lagi."
Pemuda perlente itu tambah ketakutan, mukanya
menjadi pucat, ia menyurut mundur beberapa tindak dan
berseru dengan tergagap; "Meng. . .mengapa. . . ."
"Habis kemana lagi mencari orang berbakat bagus seperti
kau?" ucap Tio Tai-peng dengan menarik muka dan
berlagak serius, "Calon murid bagus seperti kau ini setiap
orang ingin menerimanya, kesempatan baik mana boleh
tersia-sia. Nah, lekas maju kemari, jika kau tidak berani
mengutungi lenganmu, biar aku saja yang melakukannya."
Melihat orang menjemput pedangnya dan benar-benar
hendak membuntungi lengannya, pemuda itu menjadi
ketakutan dan cepat lari pergi dengan ter-birit2. Seumpama
sekarang ada ilmu pedang nomor satu didunia juga dia
tidak berminat lagi.
Karena sang majkan sudah kabur, segera sikacung
hendak menyusul kesana. Tapi dengan suara halus Tio Tai-
peng lantas berseru padanya; "Tio Peng-say, kemari dulu,
ingin kubicara dengan kau!"
Soat Peng-say menoleh dan bertanya; "Kau bicara
padaku?"
Dengan senyum ramah Tai-peng mengangguk.
"Jika begitu kau telah membuat kesalahan." kata Soat
Peng-say. "Aku tidak she Tio, tapi she Soat."
Tai-peng menggeleng, katanya, "Ibumu she Soat bukan?"
"He, darimana kau tahu?" jawab Soat Peng-say dengan
heran.
Diam-diam Tai-peng menghela napas gegetun,
sedapatnya ia berkata dengan tersenyum; "Coba jawab,
adakah aturan didunia ini orang ikut she ibunya?"
Soat Peng-say tampak muram, jawabnya, "Aku tidak
punya ayah, terpaksa ikut she ibu."
Hati Tai-peng seperti tertusuk, sungguh ia ingin memeluk
anak muda itu dan menceritakan duduknya perkara
kepadanya, Tapi ia kuatir Soat Peng-say akan ketakutan,
mungkin apa yang diceritakannya nanti juga takkan
mendatangkan pengertian anak muda itu, terpaksa ia
menahan rasa ingin memeluk dan mengenalkan dirinya. Ia
pikir akan mengikat dulu kesan baik anak muda itu, baru
kemudian menjelaskan persoalannya secara pelahan.
Maka ia lantas berkata; "Siapa bilang kau tidak punya
ayah? Kukenal ayahmu she Tio, makanya kupanggil kau
Tio Peng-say."
"Kau kenal ayahku?" tanya Soat Peng-say tidak percaya.
"Jika begitu, coba katakan, siapa nama ibuku? Jika benar
kau kenal ayahku, tentu kaupun tahu nama ibuku."
"Sudah tentu kutahu nama ibumu." jawab Tai-peng,
"Lebih dua tahun kukenal baik ibumu, masakah aku tidak
tahu namanya. Ibumu she Soat dan bernama Ciau-hoa
bukan?"
"Salah!" mendadak Soat Peng-say menggeleng.
"O, ya, ibumu mempunyai nama lain lagi, Soat Ih-nio,
betul tidak?" demikian cepat Tio Tai-peng menambahkan.
Ia yakin sekali ini pasti tidak salah lagi.
Tak terduga Soat Peng-say tetap menggeleng dan
berkata; "Kau ngawur! Hakikatnya kau tidak tahu nama
ibuku dan tentu juga tidak kenal ayahku."
Habis berkata ia terus angkat kaki pula.
Tio Tai-peng menjadi gelisah, segera ia memburu maju
dan bertanya; "Habis siapa nama ibumu yang benar?"
"Tidak nanti kukatakan padamu," jawab Soat Peng-say
sambil berpaling, "Bukankah kau bilang kenal baik ibuku
selama lebih dua tahun. Jika kau kenal beliau, mengapa
malah tanya padaku?"
Tai-peng meng-garuk2 kepalanya yang tidak gatal,
katanya pula; "Ah, jangan2 ibumu mempunyai nama lain
lagi. Namanya yang ketiga justeru tidak kuketahui. Akan
tetapi, aku bicara sungguh-sungguh, aku tidak bohong, aku
memang benar-benar berkawan baik dengan ibumu selama
dua tahun lebih, sedangkan ayahmu she Tio, hal inipun
jelas dan pasti."
Tentu saja, jika dia tidak tahu jelas dan pasti akan she
sendiri, lalu siapa lagi yang lebih tahu?
Tertampak Soat Peng-say tidak sabar lagi, katanya;
"Sudahlah aku tidak mau bicara ber-tele2 dengan kau. Kau
mengincar diriku, sengaja ber-putar2 lidah, Huh, jangan
kau salah sasaran, biarpun kecil aku Soat Peng-say tidak
nanti tertipu."
Diam-diam Tio Tai-peng merasa geli, ia tahu anak muda
itu menyangka sang ayah hendak menipu mutiara mestika
Pi-tun-cu itu. Maka sambil menggeleng ia berkata; "Siapa
yang mengincar kau? Jangan kau kira kuincar mutiaramu
itu."
"Habis untuk apa kau menahanku disini dan mengajak
omong tak karuan, apa maksudmu?" tanya Soat Peng-say.
Tai-peng tersenyum getir karena dituduh mempunyai
maksud tertentu, katanya kemudian; "Maksud tujuan lain
tidak ada, aku cuma ingin menerima kau sebagai muridku."
Soat Peng-say terkejut, cepat ia menggoyang tangan dan
menjawab, "O, tidak, jangan, aku ini bodoh seperti kerbau,
jangan kau salah pilih."
"Tapi bakatmu sama sekali tidak dibawah kaum Kongcu
tadi." ujar Tai-peng.
Timbul pikiran Soat Peng-say hendak mengeluyur pergi
seperti majikannya, ia berlagak tenang dan menjawab; "Kau
maksudkan Siauyaku tadi?"
"Siauya apa? Hakikatnya dia tidak ada harganya untuk
menjadi Siauyamu," kata Tai-peng dengan mendongkol.
Ia pikir hanya anakku yang pantas menjadi Siauya
orang, tiada orang lain yang boleh menjadi Siauyanya.
Selagi Tio Tai-peng merasa penasaran, kesempatan itu
digunakan Soat Peng-say untuk menyelinap keluar.
Tapi dari lagak lagu anak muda itu Tai-peng sudah tahu
ia bermaksud lari, maka begitu tubuh orang bergerak,
serentak ia pun mencengkeram.
Tak tersangka gerak tubuh Soat Peng-say ternyata sangat
licin, sedikit mengengos saja ia dapat menghindari
cengkeraman Tio Tai-peng. Karuan Tai-peng terkejut,
secepat kilat tangannya membalik dan mencengkeram pula.
Cengkeraman kedua kalinya ini memakai gerak cepat
tusukan pedang, sedangkan Soat Peng-say belum cukup
tinggi kepandaiannya untuk "mendengarkan suara angin
membedakan arah", cengkeraman Tai-peng dari belakang
itu sukar diraba kemana tujuannya, ketika dia berkelit
kekanan, kebetulan jatuh kecengkeraman Tio Tai-peng yang
pura-pura bergerak kekiri, tapi terus menangkap kekanan
itu.
Seperti elang mencengkeram anak ayam saja, seketika
Soat Peng-say terpegang Hiat-to bagian kuduknya hingga
sama sekali tak dapat berkutik lagi terus diangkat keatas.
"Lepaskan, lepaskan aku," teriak Soat Peng-say," Aku
tidak mau berguru padamu, aku tidak ingin menjadi orang
yang cacat."
Merasa anak muda itu hendak menghindari dirinya,
sebagai ayah, diam-diam Tio Tai-peng merasa berduka.
Tapi ia sengaja me-nakut2inya; "Tidak, betapapun kau
harus mengangkat guru padaku. Cacat badan saja apa
halangannya?"
Apa pun juga Soat Peng-say masih terlalu muda, usianya
belum genap lima belas, demi teringat peraturan Tio Tai-
peng yang menerima murid dengan menguntungi lengan
kanan calon murid, ia menjadi takut dan menangis.
Selagi Tai-peng hendak membawa pergi Soat Peng-say,
se-konyong2 terdengar seorang membentak; "Orang jahat,
lepaskan dia!"
Yang bersuara ini kiranya Beng Siau-gi.
Sejak tadi ia menangis sambil mendekap jenazah
ayahnya, akhirnya air matapun terkuras kering, pada saat
itulah ia menengadah dan melihat Soat Peng-say hendak
dibawa pergi oleh Tio Tai-peng.
Terpikir olehnya: "Dengan tulus hati dia telah
menyelamatkan aku, sekarang dia mengalami kesulitan,
adalah pantas kalau kubalas menolong dia!"
Dalam hati kecilnya timbul pikiran yang luhur dan ingin
menolong sesamanya tanpa memikirkan ilmu silat sendiri
sesungguhnya selisih sangat jauh dengan Tio Tai-peng.
Segera ia jemput pula pedang tadi terus memburu kesana.
Melihat Beng Siau-gi akan menyerempet bahaya, sama
sekali Kay Hiau-thian tak mencegah atau menghalanginya,
sebaliknya diam-diam ia malah berharap semoga sekali
tabas Tio Tai-peng akan membinasakan anak dara itu.
Ketika pedang Beng Siau-gi menusuk tiba, sambil
tertawa Tio Tai-peng melayang belasan tombak jauhnya
kedepan, setiba dipintu gerbang keluarga Beng itu, ia
sempat meninggalkan pesan:
"Budak cilik, belajarlah baik-baik kepada kakekmu, lima
tahun lagi akan kusuruh anak-didikanku ini kesini untuk
bertanding dengan kau!"
Dengan cepat Beng Siau-gi memburu maju dan menusuk
pula dengan pedangnya. Tapi Tio Tai-peng lantas melayang
keatas pohon besar diluar rumah, disitu pepohonan ber-
deret2 ditepi jalan.
Begitulah, sebelum Beng Siau-gi mengejar tiba, dengan
mengempit Soat Peng-say, Tio Tai-peng terus melayang
pergi seperti terbang diatas pepohonan itu.
== ooo OdOwO ooo ==

Dengan cepat lima tahun telah berlalu.


Selama waktu lima tahun yang singkat ini, bagi kota tua
seperti Pakkhia, selain usia para penduduknya bertambah
banyak, suasana dan keadaan kota ini tidak ada perobahan
sedikitpun.
Hari itu tepat hari raya Jingbeng, hari orang melakukan
pembersihan makam sanak famili dan leluhur. Pagi-pagi
sekali penduduk Pakkhia sudah ber-bondong2 menuju
keluar kota untuk berziarah kemakam leluhur masing-
masing.
Baru saja Kong-an-bun, pintu gerbang selatan kota
pakkhia dibuka, orang pertama yang keluar kota adalah
seorang nona berbaju putih sebagai tanda berkabung
dengan kuda tunggangan berbulu putih pula.
Kaum puteri keluarga berpangkat atau bangsawan di
Pakkhia tidak nanti keluar kota dengan menunggang kuda,
biasanya mereka pasti menggunakan kereta kuda, Tapi
nona penunggang kuda ini meski bukan puteri keluarga
bangsawan, namun hampir setiap penduduk Pakkhia pasti
kenal dia.
Siapapun tahu nona cantik dan menyenangkan ini
adalah cucu tunggal kesayangan Beng-loyacu, Beng Eng-
kiat yang termashur, Seringkali orang melihat jago tua yang
terhormat dan disegani itu membawa serta cucu perempuan
satu2nya itu pesiar keluar, Tapi sekarang, cucu perempuan
jago tua itu yakni Beng Siau-gi keluar kota sendirian dengan
menunggang kuda, hal ini memang jarang atau hampir
tidak pernah terjadi.
Sebenarnya Beng Siau-gi memang tidak keluar kota
sendirian, kakeknya sudah berjanji akan menyuruh dua
muridnya, yaitu paman guru Siau-gi untuk mengiringi nona
itu keluar kota. Tapi pagi-pagi hari ini Beng Siau-gi sudah
menunggu sekian lama, ternyata satu diantara kedua Susiok
itu tidak kunjung muncul, ia menjadi tidak sabar untuk
menunggu lagi, diam-diam ia menguluyur keluar kota
sendirian.
Ia pikir pada hari Jingbeng itu, harus se-pagi2nya
berziarah, perlu apa ditemani para Susiok?
Beng Si-hian putera tunggal Beng Eng-kiat, dimakamkan
disuatu tempat kira-kira lima li diluar pintu kota Kong-an-
bun. Dengan menunggang kuda tidak perlu setengah jam
sudah bisa sampai disitu.
Belum lama Siau-gi keluar kota, tiba-tiba terdengar
seekor kuda membedal cepat dari belakang, Siau-gi berkerut
kening, disangkanya sang kakek merasa kuatir ketika
mengetahui dia keluar kota sendirian, maka Kay-supek
disuruh menyusulnya.
Segera ia berpaling, tapi bukan paman guru Kay Hiau-
thian yang dilihatnya, melainkan seorang pemuda gagah
dan tampan sedang melarikan kudanya yang hitam mulus
kejurusan sini. Karena bukan Kay-supek yang disangkanya,
Siau-gi tidak meng-amat2i lagi penunggang kuda serba
hitam itu, cepat ia berpaling kembali kedepan.
Ketika penunggang kuda berbaju hitam itu membedal
kudanya sampai dibelakang kuda Beng Siau-gi, mendadak
ia memperlambat lari kudanya, lalu berseru memanggil;
"No. . . .nona. . . ."
Agaknya penunggang kuda berbaju hitam yang kelihatan
gagah ini ternyata bermuka tipis, malu-malu, baru berseru
memanggil "Nona", lanjutannya lantas sukar diucapkan
lagi.
Menurut pengalaman Siau-gi, memang sering dia
dibuntuti oleh anak muda dan dipanggil "nona", lalu tak
berani bicara lagi, Maka seperti biasanya, iapun anggap sepi
saja, sama sekali tak digubrisnya. Dengan demikian ia
berharap orang akan malu sendiri dan tinggal pergi.
Ia pikir jika Kay-supek ikut mengawalnya, tentu
penunggang kuda ini sudah didamperatnya dan disuruh
pergi. Cuma sayang, sekarang ia sendirian, sedangkan
penunggang kuda berbaju hitam ini tetap tidak tahu diri,
tidak digubris masih tetap saja mengintil dibelakang.
Sekarang Siau-gi jadi menyesal Kay-supek tidak ikut
datang, ia pikir orang ini pasti dari luar daerah, karena tidak
kenal dia, maka mencari kesempatan untuk pasang omong.
Kalau penduduk setempat kebanyakan tahu siapa Beng
Siau-gi dan tentu tak berani main gila padanya.
Memangnya siapa yang berani mengganggu cucu tunggal
jago tua Beng loyacu yang termashur itu?
Rupanya penunggang berbaju hitam itu teramat polos,
setelah kata2nya sukar terucapkan dan si nona juga tidak
menggubrisnya, ia tambah kikuk dan lebih-lebih tidak
sanggup bicara lagi. Entah apa maksudnya dia hanya
mengintil saja dibelakang dengan diam.
Perbuatan begini sesungguhnya teramat tidak sopan bagi
seorang anak perawan, jika anak perempuan biasa dan
bernyali kecil, tentu menyangka pemuda baju hitam ini
bermaksud jahat dan tak berani melanjutkan perjalanan.
Tapi Beng Siau-gi bukanlah gadis biasa. Kungfunya tinggi
dan nyalinya besar, ia pikir; "Baiklah, boleh mengintil terus,
Nanti kalau berani berbuat kasar terhadapku, segera akan
kuhajar adat padamu supaya kau tahu kelihayan nonamu!"
Setelah mengambil keputusan begini, segera ia melarikan
kudanya dengan cepat.
Pemuda baju hitam itu se-olah2 kuatir Beng Siau-gi akan
kabur, begitu si gadis membedal kudanya, segera iapun
mengejar dengan cepat, bahkan senantiasa
mempertahankan jarak sedemikian dekatnya sehingga
sepintas pandang orang bisa mengira sepasang kekasih yang
sedang bercanda.
Beng Siau-gi terus membedal kudanya dengan cepat,
hanya sekejap saja sudah sampai disuatu persimpangan
jalan kecil.
Kedua tepi persimpangan jalan kecil itu penuh
pepohonan lebat, diujung sana ada sebuah tanah
pekuburan, karena hari masih pagi, dijalan simpang sana
tiada terdapat peziarah lain.
Sampai disini timbul rasa waswas Beng Siau-gi, ia pikir
jalan simpang ini agak panjang, harus hati-hati terhadap
segala kemungkinan. Ia kuatir ditengah jalan simpang sana
sipenunggang kuda berbaju hitam itu bisa jadi akan berbuat
tidak senonoh padanya.
Karena itulah, waktu belok kejalan simpangan situ, ia
sengaja melambatkan kudanya. Dengan demikian
penunggang kuda hitam itu mendapatkan kesempatan lagi,
iapun ikut belok kejalan simpang situ, dengan tabahkan hati
ia bertanya pula; "Nona. . . nona akan membersihkan
makam?"
Diam-diam Siau-gi mendongkol, pertanyaan ini benar2
berlebihan. Memangnya mau apa pagi2 datang ketanah
pekuburan jika tidak hendak berziarah atau membersihkan
makam? Ia yakin si pemuda baju hitam sengaja hendak
memancing bicara padanya, maka dia tetap tidak
menggubrisnya.
Karena tidak digubris si nona, pemuda baju hitam itu
menjadi risi sendiri, katanya pula dengan ter-gagap2; "Cay.
. . .cayhe juga datang untuk membersihkan makam. . . ."
tiba-tiba teringat olehnya kata-kata "membersihkan makam"
terasa tidak tepat, maka cepat ia bungkam.
"Kiranya dia juga datang berziarah, jadinya akulah yang
salah sangka padanya." demikian pikir Siau-gi. Karena itu,
diam-diam timbul rasa menyesalnya karena prasangka tadi.
Pemuda baju hitam itu ingin bicara pula, tapi dilihatnya
si nona membedal lagi kudanya kedepan. Ia pandang
bayangan punggung si nona dan menghela napas pelahan,
ia merasa dirinya terlalu penakut, masa menjelaskan siapa
dirinya sendiri saja tidak berani.
Setiba diujung jalan simpang itu, Beng Siau-gi sedikit
melirik kebelakang, tidak terlihat si pemuda baju hitam
menyusulnya, Diam-diam ia berbalik merasa kesal,
Pikirnya: "Sebentar dia tentu akan datang kemari. Entah dia
anggota keluarga mana dan hendak berziarah makam
siapa?"
Di tanah pekuburan dengan rerumputan yang tumbuh
lebat disana-sini ini tak terhitung banyaknya makam yang
malang melintang tak teratur, Siau-gi turun dari kudanya da
menuntunnya menuju kemakam ayahnya.
Sambil berjalan, dalam benaknya terbayang wajah
pemuda baju hitam yang ganteng tadi, ia merasa wajah itu
seperti sudah dikenalnya, tapi entah pernah dilihatnya
dimana?
Setiba didepan sebuah kuburan yang dibangun dengan
megah, Siau-gi menambat kudanya pada tetumbuhan
didekat situ, lalu diturunkannya alat-alat pembersih rumput
seperti arit dan cangkul kecil serta sesajian, kertas bakar dan
sebagainya.
Karena setiap bulan dia pasti berziarah satu kali, maka
rumput liar dikuburan Beng Si-hian itu tidak banyak,
setelah dibabati sejenak, ia lantas mengatur sesajian dan
mulai bersembahyang.
Habis membakar kertas sembahyang, selagi dia duduk
termenung menghadapi makam sang ayah, tiba2 terdengar
suara langkah orang mendatangi.
Waktu ia menoleh, ternyata dia lagi!
Mau-tak-mau tegang juga perasaannya, Disangkanya
pemuda ini bukan berziarah tujuannya, buktinya dia tidak
membersihkan makam yang dituju, sebaliknya mendekati
makam ayah Siau-gi ini.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 3

Kini ditanah pekuburan yang luas dan sunyi ini hanya


terdapat mereka berdua saja, meski Siau-gi tidak takut
diperlakukan kasar oleh pemuda baju hitam itu, tanpa
terasa timbul juga rasa cemasnya.
Dilihatnya pemuda baju hitam itupun membawa
beberapa ikat Gin-coa (kertas sembahyang), tampaknya
memang benar hendak berziarah. Malahan kertas
sembahyang itu lantas ditaruhnya pada sisa abu yang baru
dibakar Siau-gi itu, maka sejenak kemudian kertas itupun
terjilat bara dan mulai berkobar.
Orang membakar kertas sembahyang di makam
ayahnya, meski Siau-gi menduga orang tidak bermaksud
baik, hanya ingin mendekati dia dan mengajak ngobrol saja,
tapi apapun juga dia tak dapat menolak, Pikirnya;
"Seingatku ayah tidak mempunyai kenalan pemuda begini,
tanpa sebab dia membakar kertas sembahyang kemakam
ayah, dia pasti mempunyai sesuatu maksud tujuan."
Tapi pemuda baju hitam itu tidak cuma membakar kertas
sembahyang saja, bahkan ia lantas berlutut didepan makam
Beng Si-hian dan menyambah tiga kali dengan khidmat.
Perbuatan ini membuat Siau-gi melenggong, apalagi
dilihatnya cara memberi hormat pemuda itu sedemikan
khidmatnya, sedemikian tulusnya, mau-tak-mau Siau-gi
merasa terharu, cepat ia berdiri dan balas memberi hormat
dan sambil berkata: "terima kasih atas kedatangan anda
berziarah kemakam mendiang ayahku. Mohon tanya
siapakah nama anda yang mulia agar Siaulicu (anak
perempuan kecil) tahu cara bagaimana harus menyebut
anda."
Pemuda baju hitam itu berbangkit, iapun memberi
hormat, lalu berkata: "Nona Siau-gi, engkau sudah pangling
padaku?"
Kembali Siau-gi melengak, dalam benaknya terlintas lagi
perasaan seperti sudah kenal orang, akan tetapi betapapun
juga dia memang tidak ingat lagi bahwa pemuda ini tak-
lain-tak-bukan ialah Soat Peng-say, si kacung yang pernah
dilihatnya lima tahun yang lalu.
Hal inipun dapat dimaklumi selama lima tahun ini
mereka sudah sama-sama tumbuh besar, lebih2 Soat Peng-
say, perawakannya sekaran tinggi besar, kekar gagah, sama
sekali berbeda daripada bentuk kacung dimasa lalu,
pantaslah kalau Siau-gi pangling padanya.
Sebaliknya Soat Peng-say sebenarnya juga pangling pada
Beng Siau-gi. Banyak perubahan pada diri si nona,
sekalipun Siau-gi berjalan lalu didepannya juga tak
dikenalnya lagi. Sebabnya Peng-say mengetahui nona ini
ialah Beng Siau-gi adalah ketika nona itu keluar kota, Peng-
say mendengar percakapan dua penduduk Pakkhia yang
menyatakan keheranannya mengapa cucu tunggal Beng-
loyacu pagi-pagi keluar kota sendirian.
Kebetulan saat itu Soat Peng-say juga akan keluar kota,
mendengar keterangan itu, hatinya tergerak, segera ia tanya
lebih jelas nona mana yang dimaksudkan sebagai Beng
Siau-gi, cucu Beng-loyacu yang termashur itu.
Maksud tujuan Soat Peng-say keluar kota adalah untuk
menunaikan cita-cita Tio Tai-peng. Rupanya Tio Tai-peng
merasa menyesal lima tahun yang lalu telah membunuh
Beng Si-hian, maka sekarang setelah Soat Peng-say tamat
belajar dan hendak berpisah, ia lantas memberi pesan agar
setiba di Pakkhia hendaklah Soat Peng-say berziarah ke
makam Beng Si-hian dan bersembahyang baginya.
Baru semalam Soat Peng-say sampai di Pakkhia, ia
sudah mencari tahu dimana makam Beng Si-hian, maka
pagi-pagi hari ini dia akan menuju kesana. Siapa tahu Beng
Siau-gi terlebih pagi daripada dia dan keluar kota lebih
dulu.
Dari keterangan yang diperoleh, Peng-say hanya tahu
kuburan Beng Si-hian terletak diluar pintu gerbang Kong-
an-mui, tempatnya yang tepat belum diketahui, ia pikir
akan mencarinya nanti jika sudah tiba ditempat tujuan.
Maka ketika diketahui Beng Siau-gi berjalan didepan, ia
lantas menyusulnya dengan maksud hendak tanya letak
makam ayah si nona.
Ketika dia berhasil menyusul Siau-gi, dilihatnya si nona
sedemikian cantiknya, seketika ia menjadi kikuk dan tak
dapat omong sehingga menimbulkan prasangka Siau-gi.
Kemudian ia coba menyapa, tapi timbul pula rasa
kuatirnya bilamana si nona mengetahui dia adalah murid
pembunuh ayahnya, maka dia tidak berani bicara terus
terang akan maksud kedatangannya, dia hanya bertanya
satu kaliamat yang sama sekali tiada artinya.
Sekarang si nona menanyakan namanya, setelah ragu-
ragu sejenak, akhirnya ia menjawab terus terang: "Nona
Siau-gi, aku. . . . aku Soat Peng-say. . . ."
"Soat Peng-say", nama ini mana bisa dilupakan Siau-gi?
Begitu mendengar nama ini, segera teringat olehnya anak
muda yang pernah mendekapnya lima tahun yang lalu.
Seketika muka Siau-gi bersemu merah dan berseru;
"Ahh, kiranya engkau ini Soat-toako!"
Soat Peng-say tidak menduga si nona tidak marah
padanya, sebaliknya malah memanggilnya "Soat-toako", ia
menjadi girang, katanya pula dengan tersenyum; "Nona
Siau-gi, kiranya engkau masih ingat pada namaku."
Beng Siau-gi tidak memperhatikan rasa likat atau jengah
meski memanggil pemuda itu sebagai "Toako", maklumlah,
tutur kata dan tindak-tanduk Soat Peng-say yang baik
dimasa dahulu itu telah berkesan mendalam dalam lubuk
hatinya untuk menghormatinya sebagai toako.
Dipandangnya lengan kanan Soat Peng-say yang utuh
tanpa cacat itu, Siau-gi bertanya dengan tertawa;
"Kemudian cara bagaimana engkau meloloskan diri dari
cengkeraman Okjin (orang jahat) itu?"
Terkesiap juga Soat Peng-say oleh pertanyaan ini, tapi ia
berlagak seperti bergurau dan menjawab; "Aku tidak
meloloskan diri, kuangkat dia sebagai guru!"
Siau-gi tidak percaya sedikitpun, ia menggeleng dan
berkata; "Apabila kau angkat guru kepada Okjin itu,
mustahil lengan kananmu masih dapat dipertahankan."
Dari sebutan "Okjin" yang ber-ulang2 terlontar dari
mulut si nona, Peng-say tahu dendam Siau-gi terhadap
gurunya sangat mendalam, maka dirinya se-kali2 tidak
boleh mengakui benar-benar telah menjadi muridnya.
Dengan tertawa ia lantas berkata; "Ditengah jalan aku pura-
pura ingin buang air, dia melepaskan aku waktu kumasuk
hutan untuk buang air, kesempatan itulah kugunakan untuk
kabur."
Keterangan yang sederhana ini ternyata dipercaya penuh
oleh Beng Siau-gi, katanya dengan tertawa; "Memang
sudah kuduga, engkau pasti dapat meloloskan diri dari
cengkeraman Okjin itu."
Gurunya sendiri ber-ulang2 disebut orang sebagai
"Okjin", sudah tentu hati Soat Peng-say merasa tidak enak.
Tiba-tiba terdengar Siau-gi berkata pula dengan
menghela napas; "Entah tinggal dimana sekarang Okjin
itu?!"
Peng-say sengaja balas bertanya, "Kau ingin mencari
dia?"
Tampak Siau-gi mengertak gigi penuh rasa dendam,
jawabnya; "Mengapa tidak? Sudah tiga tahun kakek
membawaku berkelana di Kangouw, namun sedikitpun
tidak mendapat kabar beritanya, barangkali Okjin itu sudah
mampus."
Kalimat terakhir itu sangat menusuk perasaan Soat Peng-
say, ia tersenyum getir dan bertanya, "Lalu mau apa bila
kalian dapat menemukan dia?"
Siau-gi memandang Soat peng-say sekejap, ia meragukan
apa maksud pertanyaan anak muda itu.
"Tentunya hendak menuntut balas bagi ayahmu,"
sambung Soat Peng-say setelah berdehem pelahan.
"Ya, sudah tentu, sakit hati kematian ayah sedalam
lautan, kakek telah mengajarkan segenap ilmu pedangnya
dan membawaku mencari Okjin itu, tujuannya adalah agar
aku dapat menuntut balas dengan tanganku sendiri."
Sungguh tak tersangka anak perempuan secantik bidadari
begini dapat mengucapkan kata2 segarang ini. Diam-diam
Peng-say merasa ngeri, tapi iapun tidak enak untuk
membujuknya, teringat olehnya dahulu ia sendiri pernah
berkata kepada si nona bahwa selama gunung tetap
menghijau jangan kuatir tiada kayu bakar. Arti dari kata-
kata itu adalah isyarat bahwa untuk menuntut balas masih
cukup waktunya dan tidak perlu ter-buru2.
Dan sekarang apakah dirinya dapat membujuknya pula?
Tentu juga tidak boleh lantaran Tio Tai-peng telah menjadi
gurunya, lalu ia menyuruh si nona jangan menuntut balas
kematian ayahnya?
Se-konyong2 Siau-gi pasang kuping mendengarkan
dengan cermat, lalu berkata; "He, siapa itu yang datang,
begitu kencang dia melarikan kudanya?!"
Soat peng-say juga sudah mendengar suara kuda lari itu,
katanya dengan tertawa; "Kita berziarah, dengan sendirinya
masih ada orang lain juga ingin berziarah."
"Soat-toako," kata Siau-gi dengan tersenyum manis,
"Terima kasih atas kedatanganmu yang khusus
bersembahyang di makam ayahku ini."
Belum habis ucapannya, dari persimpangan jalan sana
seorang penunggang kuda tampak membedal kudanya
kearah sini dengan gugup, begitu melihat Siau-gi dari jauh
orang muda itu lantas berteriak; "Beng-sumoai, lekas
pulang, lekas. . . . ."
Dengan gelisah orang itu melarikan kudanya kedepan
kuburan terus melompat turun, dengan napas ter-engah2 ia
berseru pula; "Suhu dan Cin. . . . Cin-susiok, mereka. . .
.mereka sudah habis semuanya. . . . ."
"Bagaimana persoalannya, Ci-suheng, hendaknya kau
bicara pelahan dengan lebih jelas." tanya Siau-gi dengan
kuatir.
Anak muda ini adalah murid Kay Hiau-thian, dia
mengembus napas, lalu bertutur; "Pagi-pagi tadi, kira-kira
tidak lama setelah Sumoai pergi, di rumah kedatangan dua
orang perempuan, yang satu berusia agak tua, seorang lagi
mungkin belum ada dua puluh umurnya, begitu datang
yang muda itu lantas menyatakan hendak berkenalan
dengan Gway-hoat-kiam-hoat keluarga Beng. Kebetulan
Cin-susiok datang dan memergoki kejadian itu, maka Cin-
susiok lantas melayani pihak penantang. Siapa tahu, belum.
. . .belum sampai sepuluh jurus, Cin-susiok lantas
dikalahkan. . . ."
Siau-gi berkerut kening, pikirnya: "Meski Cin-susiok baru
lima tahun belajar pedang dengan kakek, tapi sudah
mendapatkan segenap keahlian kakek, masa tidak sampai
sepuluh jurus sudah dikalahkan orang?"
"Kemudian Suhu juga turun kalangan," tutur pula anak
muda tadi, "tapi. . . .tapi beliau juga. . . .juga tidak sanggup
bertahan sampai sepuluh jurus. . . . ."
"Kay-supek juga kalah?" Siau-gi menegas dengan
terkejut.
Anak muda itu meng-angguk2, katanya dengan sedih;
"Cin-susiok masih ada harapan untuk hidup, tapi Suhu
telah meninggal karena terluka parah."
Selama lima tahun ini Beng Eng-kiat telah mengajarkan
intisari Gway-hoat-kiam-hoat kepada Kay Hiau-thian.
Latihan selama lima tahun dengan tekun telah banyak
menambahkan kemahiran Kay Hiau-thian dalam hal ilmu
pedang itu sehinga jauh berbeda daripada kepandaiannya
lima tahun yang lalu, siapa tahu dalam sepuluh jurus iapun
dikalahkan orang, hal ini benar-benar membuat Beng Siau-
gi terkejut, sebab biarpun ilmu pedangnya sekarang
memang lebih banyak memperoleh petunjuk khusus dari
kakeknya, tapi juga tidak selisih banyak dibandingkan
kepandaian Kay Hiau-thian.
Setelah berhenti sejenak, lalu anak muda tadi berkata
pula dengan menangis: "Suhu sudah meninggal, tiada orang
lagi yang sanggup menghadapi tantangan perempuan muda
itu, terpaksa. . . terpaksa Suco (kakek guru) dipanggil. . . . ."
"Dan kakek telah mengalahkan perempuan muda itu?"
tanya Siau-gi dengan tegang.
Namun anak muda itu menjawab dengan menggeleng
kepala.
"Apa benar begitu?! Kakek juga tidak sanggup
melawannya?!" jerit Siau-gi, hampir-hampir ia tidak percaya
kepada keterangan anak muda murid Kay Hiau-thian itu.
"Sebenarnya Suco dapat mengalahkan perempuan muda
itu." tutur orang itu. "Tapi baru bergebrak belasan jurus,
perempuan setengah baya yang datang bersama perempuan
muda itu lantas berteriak menyuruh yang muda mundur,
dia sendiri lantas maju untuk menghadapi Suco. Meski
perempuan setengah baya itu memainkan ilmu pedang yang
sama dengan perempuan muda, bahkan dia cuma bertangan
satu, namun ilmu pedangnya jauh lebih tinggi daripada
yang muda. Melihat gelagatnya tidak menguntungkan
Suco, diam-diam kami berunding dan aku disuruh
memanggil Sumoai supaya lekas pulang. . . ."
Sampai disini, hati Beng Siau-gi menjadi cemas dan
gelisah seperti dibakar, cepat ia menceplak keatas kudanya
dan dibedal ke kota secepat terbang.
Soat Peng-say lantas menyusulnya dengan kencang.
Tidak berapa lama, Soat Peng-say telah ikut Beng Siau-gi
sampai diruangan berlatih keluarga Beng, terlihat disitu
sudah berkurumun anak murid angkatan kedua, salah
seorang melihat pulangnya Beng Siau-gi dan segera
berteriak; "Itu dia Sumoai sudah pulang!"
Be-ramai2 semua orang lantas memberi jalan.
Tertampaklah tiga sosok tubuh yang bermandi darah
bersandar pada tiga buah kursi besar, seorang diantaranya
adalah Beng Eng-kiat sendiri. Sambil menjerit Siau-gi terus
menubruk kesana.
Melihat cucu perempuan satu2nya sudah pulang, Beng
Eng-kiat sedikit membuka kelopak matanya yang terasa
berat itu, ucapnya dengan lemah; "Siau-gi, kem. . . kembali
Siang-liu-kiam. Ing. . . .ingat kakek dan ayahmu sama-sama
mati dibawah Siang-liu-kiam. . . .Siang-liu-kiam dan
keluarga Beng kita mempunyai dendam kesumat yang sukar
diukur, kau harus. . . .harus. . . ." karena lukanya terlalu
parah, suaranya hampir tak terdengar lagi.
Dengan menahan air mata duka, dengan suara pelahan
Siau-gi berkata; "Siau-gi tahu, Yaya (kakek), Siau-gi pasti
akan menuntut balas, akan kubunuh habis setiap musuh
yang bisa memainkan Siang-liu-kiam-hoat!"
Mulut Beng Eng-kiat setengah terpentang, seperti mau
bicara apa-apa lagi, tapi napasnya sudah terlalu lemah,
sekali terhembus, mangkatlah dia.
Air mata Siau-gi berderai, jeritnya melengking: "Yaya,
Yaya. . . . ."
Tapi sang kakek tidak bergerak lagi, sang kakek tak dapat
mendengar lagi suaranya. Tidak kepalang sedih Beng Siau-
gi, ia menangis ter-gerung2 sambil mendekap mayat sang
kakek.
Peng-say berdiri dibelakang Siau-gi, ia dapat mendengar
semuanya, ia merasa heran siapakah perempuan bertangan
satu yang juga mahir Siang-liu-kiam-hoat itu. Siapakah dia
sebenarnya?
Suara tangis Beng Siau-gi masih tergerung hinga
menggema ruangan seluas itu, para anak murid angkatan
kedua juga ikut mencucurkan air mata, hampir Soat Peng-
say juga ikut meneteskan air mata, ia mengusap matanya
yang basah dan berusaha menghiburnya: "Nona. . . .nona
Siau-gi, janganlah engkau terlalu berduka, engkau masih
harus menyelesaikan banyak urusan."
Tapi Siau-gi tidak menggubrisnya dan masih terus
menangis. Dia benar-benar teramat berduka, satu2nya
anggota keluarganya yaitu sang kakek sekarangpun
meninggal, tentu saja dia sangat sedih dan kalau bisa ingin
ikut mati saja.
Peng-say menghela napas, ia tahu membujuk lagi juga
tiada gunanya, dengan muram ia mendekati kursi yang lain,
dilihatnya menelentang orang yang disebut "Cin-susiok" itu.
Kiranya Cin-susiok yang dimaksudkan ini bukan lain
daripada Siauya yang dulu pernah dilayani Soat Peng-say,
yaitu Cin Siau-hoay, putera kesayangan gubernur militer
kota Pakkhia.
Sejak Peng-say dibawa pergi oleh Tio Tai-peng, setelah
Beng Eng-kiat pulang, lalu Cin Siau-hoay datang lagi
memohon agar diterima menjadi murid jago tua itu. Karena
Cin Siau-hoay memang mempunyai perawakan dan bakat
yang bagus, pula putera pembesar berkuasa setempat,
terpaksa Beng Eng-kiat menerimanya.
Selama lima tahun ini banyak juga pelajaran yang
diperoleh Cin Siau-hoay, cuma sayang, sebelum tamat
belajar dia sudah dikalahkan oleh seorang perempuan yang
lebih muda daripada dia.
Hanya luka Cin Siau-hoay saja yang tidak begitu gawat,
namun begitu iapun tak sadarkan diri, setengah badannya
bagian kiri tampak berlepotan darah, jelas tulang pangkal
lengan kirinya tertabas luka.
Segera Soat Peng-say memondong tubuh Cin Siau-hoay,
iapun tidak pamit kepada Beng Siau-gi, hanya berpesan
sekedarnya kepada salah seorang murid angkatan kedua
keluarga Beng, lalu dibawanya pergi.
Diluar Soat peng-say menyewa sebuah kereta kuda dan
menyuruh kusir lekas membawanya kerumah gubernur.
Letak istana gubernur itu dibagian tengah kota Pakkhia,
gedungnya megah dan halaman luas.
Setiba didepan istana, Peng-say memondong Cin Siau-
hoay turun dari kereta. Terharu juga sejenak Soat Peng-say
memandangi gedung megah yang telah ditinggalkan lima
tahun lamanya itu.
Segera ia melangkah kepintu gerbang yang bercat merah
itu. Dengan sendirinya penjaga tidak kenal dia lagi, tapi
kenal Cin-siauya yang dipondongnya, tanpa tanya lebih
jelas penjaga itu lantas berlari kedalam untuk melapor.
Sekejap kemudian pintu gerbang lantas terpentang dan
berbondong menyongsong keluar serombongan orang
perempuan, yang paling depan adalah seorang nyonya tua
bertongkat, begitu melihat cucu lelakinya yan berada dalam
pangkuan Soat peng-say seperti orang mati, segera ia
berteriak dan menangis; "O, anak Hoay. . . .Anak Hoay. . .
."
Cepat Peng-say setengah berlutut dan berkata;
"Thayhujin (nyonya tua), luka Siauya tidak terlalu parah,
lekas mengundang tabib saja untuk mengobatinya."
Mendengar cucunya tidak berbahaya, cepat si nenek
memberi perintah; "Cin Hok, lekas panggil tabib!"
Seorang hamba tua mengiakan dan berlari pergi. Seorang
hamba yang muda dan kuat lantas memondong Cin Siau-
hoay dari pangkuan Soat Peng-say.
Nyonya tua itu meng-amat2i Soat Peng-say sejenak, lalu
bertanya; "Siapa she yang terhormat engkoh cilik ini, terima
kasih atas kebaikanmu yang sudi mengantar pulang Siau-
hoay. Siapakah yang melukai dia?"
"Pengganas yang melukai Siauya itu entah kabur
kemana, aku. . . ."
Belum habis Soat Peng-say bertutur, salah seorang Siocia
(puteri) yang berdiri disamping si nenek yang sejak tadi
selalu mengawasi Soat Peng-say, mendadak berseru: "He,
kau ini Soat Peng-say?!"
Sudah lima tahun Soat Peng-say menghilang dan
sekarang muncul mendadak, tentu saja para pelayan yang
mengitari Lohujin sama terkejut.
"Kau. . . .kau benar Peng-say?" tanya nyonya tua itu
dengan suara rada gemetar.
"Thayhujin, hamba memang betul Soat Peng-say yang
pergi selama lima tahun itu," jawab Peng-say sambil
memberi hormat.
Nyonya tua itu rada terguncang perasaannya, katanya:
"Ke. . . .kemana saja kau selama ini, kami mencari kau
ubek2an dan menyangka kau telah diculik orang, aku
menyesal karena tak dapat memenuhi pesan keponakan
perempuanku itu."
Kiranya ibu Soat Peng-say adalah keponakan nyonya tua
keluarga Cin, yaitu ibu Cin Ci-wan, nenek Cin Siau-hoay.
Waktu Soat Peng-say berumur sepuluh, ibunya sakit berat
dan membawanya mondok dirumah keluarga Cin.
Tidak lama setelah berada disini, ibu Soat Peng-say
meninggal. Oleh karena Soat Peng-say adalah anak haram,
anak yang dilahirkan diluar perkawinan, ibunya malu untuk
memberitahukan kepada orang lain bahwa Peng-say adalah
anak kandungnya, tapi mengakui Peng-say sebagai anak
seorang sahabatnya. Sebab itulah setelah ibu Peng-say
meninggal, keluarga Cin tidak menganggap Peng-say
sebagai sanak famili sendiri dan juga tidak dapat
memandangnya sebagai kaum budak, maka dia disuruh
meladeni Cin Siau-hoay sebagai kacung pribadinya.
Hanya Cin-lohujin saja diam-diam mengetahui Soat
Peng-say adalah anak kandung keponakan perempuan
sendiri dari perkawinan tidak resmi, tapi ia pun tidak enak
untuk bicara terus terang, maka membiarkan anak muda itu
menjadi kacung pribadi cucu kesayangannya.
Cin Siau-hoay sendiri sejak kecil sudah kehilangan ibu,
yaitu mati pendarahan waktu ibunya melahirkan adik
perempuannya, Cin Yak-leng.
Ci-lohujin yang mendidik dan membesarkan Cin Siau-
hoay dan Cin Yak-leng. Karena Siau-hoay adalah
keturunan lelaki satu2nya, dengan sendirinya dia sangat
disayang oleh sang nenek.
Lima tahun yang lalu, setelah Cin Siau-hoay lari pulang
dari tempat Beng Eng-kiat, kemudian diketahui Soat Peng-
say tidak ikut pulang. Esoknya keluarga Cin baru mengirim
orang mencari dan menanyai keluarga Beng tentang diri
Soat Peng-say. Tapi waktu itu keluarga Beng lagi sibuk
mengurusi kematian Beng Si-hian, supaya tidak tambah
repot, maka jawaban Kay Hiau-thian adalah tidak tahu.
Setelah dicari kian kemari tetap tidak ketemu, terpaksa
keluarga Cin menganggap Peng-say hilang diculik orang.
Kejadian inipun membuat Cin-lohujin berduka sampai
sekian lamanya. Kini melihat anak muda ini pulang dengan
selamat, bahkan sudah tumbuh tinggi besar begini, tentu
saja nyonya tua ini sangat girang dan menegurnya dengan
nada setengah mengomel.
Dengan hormat Soat Peng-say kemudian berkata:
"Thayhujin, diluar sini angin sangat kencang, silakan masuk
saja, didalam nanti hamba akan menjelaskan."
Dengan dipapah dayangnya Cin-lohujin lantas masuk
keruangan dalam, sudah tentu Soat Peng-say tidak
menceritakan pengalamannya dengan sungguh-sungguh,
melainkan mengarang sekedarnya bagi nyonya tua itu.
Waktu Peng-say bertutur, Siocia yang mengenali Soat
Peng-say tadi, yaitu Cin Yak-leng selalu menatap Peng-say
dengan sorot matanya yang bening tajam se-akan2 hendak
menembus hati anak muda yang bersuara itu.
Belum lagi Soat Peng-say habis berbohong, tampak
datanglah seorang tabib tua, Cin-lohujin lantas sibuk
menanyai keadaan luka cucunya sehingga tidak tanya lebih
lanjut pengalaman Peng-say, seorang pelayan dipesannya
agar mengatur tempat pondokan anak muda itu.
Petangnya ter-gesa2 Cin Ci-wan pulang dari kantornya,
syukur luka Cin Siau-hoay tidak berbahaya, lengan kiri
tidak sampai terkutung, tulang lengan juga tidak remuk,
kalau dirawat sebulan dua bulan tentu akan sembuh.
Maka legalah hati Cin Ci-wan, ia panggil Soat Peng-say
untuk ditanyai kejadian sampai terlukanya Cin Siau-hoay.
Secara ringkas Peng-say bercerita. Karena dia sendiri tidak
hadir pada waktu itu. ia pun tidak terlalu jelas bagaimana
terjadinya, yang diketahuinya adalah Cin Siau-hoay
bertanding pedang dan dilukai seorang perempuan muda.
Cin Ci-wan tahu pertarungan antara orang Kangouw tak
dapat dituntut dengan undang-undang negara. andaikata
mengirim petugas untuk menangkap si pengganas juga
sukar menemukannya. Diam-diam ia bersyukur puteranya
tidak sampai terbunuh oleh perempuan muda itu. Kalau
gurunya saja yang jagoan itupun terbunuh, maka boleh
dikatakan sangat beruntung jiwa puteranya tidak ikut
melayang.
Malamnya sehabis makan, Peng-say berjalan-jalan
sendirian ketaman bunga dibelakang rumah. Waktu makan,
dengan cerita bohongnya iapun memenuhi sekedar
pertanyaan Cin Ci-wan tentang pengalamannya selama
menghilang lima tahun.
Malam ini bulan sabit tampak menghiasi angkasa nan
kelam. Pada musim semi ini semuanya serba segar, Soat
Peng-say mencium bau bunga yang harum, semangatnya
terangsang, sambil menyusuri jalan kecil mengitari taman
sembari merenungkan lagi ilmu pedang yang telah
dipelajarinya dengan tekun selama lima tahun ini.
Ia terkadang mendongak memandangi bulan diangkasa,
lain saat berkomat-kamit sambil menggerakkan kaki dan
tangannya, orang yang tidak tahu bisa mengira dia orang
sinting.
Selagi lupa daratan, tiba-tiba didengarnya suara tertawa
ngikik orang perempuan. Seketika Soat Peng-say terkejut,
cepat ia berpaling dan siap siaga sambil membentak; "Siapa
itu?"
Waktu tangkai tetumbuhan tersiah, muncul seorang
siocia yang cantik.
Legalah hati Peng-say setelah mengenalinya, ucapnya
dengan tertawa; "Kiranya Siocia."
Siocia ini ialah Cin Yak-leng. Katanya; "Jika diriku
lantas tidak menjadi soal bukan?"
"Maksudku asalkan bukan orang luar yang menerobos
ketaman ini." jawab Peng-say.
"Memangnya dikala berlatih pedang kau kuatir diintip
orang?" ujar Yak-leng dengan tertawa.
"Mana. . . mana kulatih pedang segala?" jawab Peng-say
dengan gugup. "O, ya, Siocia, kepulangan hamba sekali ini
antara lain bermaksud meminta kembali kepada Siocia
buku 'Siang-jing-pit-lok' yang pernah Siocia ambil itu."
"Siang-jing-pit-lok apa? Aku tidak tahu?" jawab Cin Yak-
leng sambil menggeleng.
"Yaitu buku yang pernah Siocia ambil ketika bermain
kekamar hamba dulu," kata Peng-say pula dengan cemas,
"Kan Siocia sudah mengakui mengambil buku itu dan tidak
mau mengembalikan padaku, katanya Siocia akan baca
dulu, setelah melatihnya baru akan dikembalikan padaku.
Sekarang urusannya sudah berselang tujuh tahun, hamba
yakin Siocia sudah berhasil melatih isinya dengan baik,
maka kuharap sudilah Siocia mengembalikannya padaku."
Cin Yak-leng mengerut kening dan berkata; "Ai,
bicaramu tidak karuan, pakai Siocia dan hamba segala! Kau
juga bukan kaum budak sungguh-sungguh, mengapa
nadamu berbau budak?!"
Muka Peng-say menjadi merah, ucapnya; "Tapi aku. . .
.melayani kakakmu dan menyebut kakakmu sebagai
Siauya, dengan sendirinya kupanggil engkau sebagai Siocia,
kalau tidak bagaimana harus kupanggil?"
"Kau lebih tua dua tahun daripadaku, boleh kau sebut
aku adik Leng saja dan aku pun akan memanggil kau kakak
Peng, nah, kau setuju?"
"Eh, mana boleh jadi!" seru Peng-say sambil
menggoyang tangannya, "Mana hamba berani, Engkau
adalah Siocia terhormat, sedangkan aku. . . .aku. . . . ."
"Kau adalah putera bibi Soat, kan bukan kaum budak
dan juga bukan orang luar," kata Yak-leng.
"Dar. . . darimana kau tahu?" tanya Peng-say dengan hati
tergetar.
"Sesungguhnya nenek juga keterlaluan, sudah tahu asal-
usulmu, mengapa tidak mau mengakui kau sebagai cucu
keponakannya, tapi membiarkan kau menjadi pesuruh
kakak," kata Yak-leng dengan gegetun.
"Masa Thayhujin juga tahu?" tanya Peng-say.
"Tentu saja tahu, kalau nenek tidak tahu, darimana pula
kutahu?" ujar Yak-leng dengan tertawa.
Soat Peng-say menjadi sedih, ucapnya dengan muram;
"Seumpama beliau hendak mengakui diriku juga tiada
dasarnya, cara bagaimana nenekmu dapat mengakui diriku
sebagai cucu keponakannya? Nenekmu she Soat, ibuku she
Soat dan akupun she Soat, bisakah nenekmu mengakui aku
sebagai cucu keponakannya?"
"Masa. . . .masa kau benar-benar tidak tahu she
ayahmu?" tanya Yak-leng dengan tergagap.
Peng-say menggeleng, jawabnya; "Siocia, harap engkau
jangan menanyai asal-usulku, silakan kembalikan saja buku
itu."
"Lagi2 Siocia segala," omel Yak-leng, "Baiklah, terserah
cara bagaimana kau akan memanggil diriku. Tentang buku?
Maaf, Siociamu tidak pernah mengambilnya!"
Cepat Peng-say memberi hormat dan berkata; "Siocia
yang baik. . . .eh, salah, adik Leng yang baik,
kembalikanlah bukuku."
"Nah, begini baru pantas," ujar Yak-leng dengan tertawa.
"Tapi tidak ada aturan sang kakak memberi hormat kepada
adik perempuannya. Kakak Peng, aku mengakui pernah
mencuri Siang-jing-pit-kip itu. Sebenarnya waktu itu juga
akan kukembalikan padamu, tapi kaupun setuju setelah
berhasil kulatih isinya baru akan kukembalikan, sayang
sekarang belum berhasil kulatihnya, maka harap ditunda
lagi beberapa tahun."
Sudah tentu Peng-say tahu si nona sengaja mempersulit,
kembali ia memberi hormat dan berucap; "Adik Leng yang
baik, kitab itu bukan milikku sendiri, waktu ibuku akan
meninggal, beliau meninggalkan pesan agar kukembalikan
buku itu kepada pemiliknya bilamana aku berusia dua
puluh, sekarang aku tepat berumur dua puluh, pesan ibuku
itu harus kulaksanakan. Maka kumohon dengan sangat,
janganlah engkau mempersulit kakak Peng, tidak mungkin
kau belum melatihnya, harap kembalikan saja padaku."
"Ck, ck-ck! Kasihan! Rasanya aku menjadi rikuh kalau
tidak kukembalikan," ucap Cin Yak-leng sambil ber-kecek2,
"Cuma aku memang tidak melatih isi kitab itu, bila
kukembalikan begitu saja rasanya tidak rela. Bagaimana
kalau kita main tukar barang saja?"
"Tukar barang bagaimana?!" tanya Peng-say dengan
terkejut. "Adik Leng yang baik, memangnya apa yang kau
kehendaki dariku?"
Ia pikir waktu ibu meninggal hanya meningalkan satu
jilid Siang-jing-pit-lok dan satu biji mutiara Pi-tun-cu, dia
minta tukar barang lain, jangan-jangan yang diincar adalah
mutiaraku ini? Apalagi anak perempuan pada umumnya
tentu suka pada batu permata, tanpa terasa ia lantas meraba
tempat menyimpanan mutiara mestika itu se-akan2 kuatir
mendadak mutiara itu akan direbut oleh Cin Yak-leng.
Sudah tentu si nona dapat merasakan gerak-gerik Peng-
say itu, ia tertawa ngikik, katanya; "Kau ini, sejak kecil
sudah kuperhatikan dirimu, barang apa yang kau miliki
akulah yang paling tahu. Apakah kau kuatir kuminta tukar
dengan mutiaramu yang berwarna merah itu?"
Soat Peng-say tidak sempat pikir cara bagaimana si nona
bisa mengetahui dirinya memiliki sebiji mutiara yang selalu
tersimpan dalam bajunya, maka ia hanya menggeleng dan
menjawab; "Jika mutiara ini yang ingin kau tukar, maka
jelas tidak boleh jadi. Mutiara ini adalah satu2nya benda
tinggalan ibuku."
"Jangan pelit, memangnya kau kira aku mengincar
mutiaramu?" kata Yak-leng dengan tertawa. "Padahal
akupun tidak suka mutiara, jika suka sudah kucuri sejak
dulu."
"Manabisa kau curi." ucap Peng-say tidak percaya.
"Kitab itu memang selalu kutaruh dikamar sehingga tak
dapat kujaga, tapi mutiara ini selalu kubawa, cara
bagaimana kau akan mencurinya?"
"Apanya yang sulit?" ujar Yak-leng. "Suatu hari pernah
kuintip kau mandi. . . ."
Sampai disini cepat ia berhenti. Urusan pribadi ini mana
boleh diceritakannya. Meski waktu itu usianya masih kecil,
tapi anak perempuan mengintip anak lelaki mandi,
betapapun hal ini bukan perbuatan yang terhormat, apalagi
sekarang sudah besar, kalau diceritakan kan terasa malu.
"Ah, kiranya kau mencuri pada waktu kumandi, Wah,
berbahaya. Untung bajuku jarang kutinggalkan diluar
kamar mandi. Kalau tidak, demi melihat mutiara ini sangat
menarik, tentu sudah kau ambil."
Diam-diam Yak-leng bersyukur anak muda itu tidak
menyinggung persoalan mengintip orang mandi, sikap
kikuknya menjadi tenang kembali, dengan tertawa ia
berkata pula; "Tapi pernah dua kali kuambil, tapi aku tidak
tertarik, maka kutaruh kembali pada tempat semula.
Padahal kalau aku menaksirnya, tentu sudah lama kuambil
dan kusembunyikan."
"Tapi tetap berbahaya juga." ujar Peng-say. "Bila bajuku
selalu kutanggalkan diluar kamar mandi, mungkin satu dua
kali kau ambil mutiara itu dan merasa tidak tertarik, namun
pada akhirnya bisa jadi kau akan tertarik, lalu
mengambilnya dan takkan dikembalikan padaku untuk
selamanya."
"Huh, kau kira aku ini orang serakah? Kalau ambil
barang orang lain lantas tidak mau mengembalikannya?"
omel Yak-leng.
"O, tentu kau kembalikan, tentu, seperti sekarang juga
akan kau kembalikan Siang-jing-pit-lok itu kepadaku," ujar
Peng-say dengan tertawa.
"Tidak, kalau tidak ditukar barang dengan barang,
takkan kukembalikan," kata Yak-leng.
"Adik Leng yang baik, barang apa yang ingin kau tukar,
asalkan bukan mutiara merah ini, apapun kuberikan." kata
Peng-say dengan setengah memohon.
Yak-leng menjadi girang, segera ia menegas; "Apa
betul?"
"Tentu saja betul," jawab Peng-say tanpa ragu. Ia pikir
dirinya toh tidak mempunyai barang lain lagi yang dapat
ditukarkan.
Dengan tertawa senang Cin Yak-leng lantas berkata;
"Sebelum kulatih isi kitab pusaka itu, sungguh aku tidak
rela mengembalikannya kepadamu, asalkan kau tukar
dengan mengajarkan ilmu silat lain padaku, maka akan
kukembalikan kitabmu itu."
Peng-say terkejut, ucapnya; "Ganti dengan ilmu silat
lain?! Dari. . .darimana kupunya ilmu silat lain segala?
Dalam kitab Siang-jing-pit-lok itu terisi macam-macam
Kungfu, baik Lwekang, Ciang-hoat dan Am-gi, semuanya
tertulis lengkap. Memangnya ilmu silat apa yang kau
harapkan dariku?"
"Memang betul, sudah kubaca kitab Siang-jing-pit-lok
itu, disitu memang tercatat lengkap pelajaran Kungfu
sebagaimana kau sebut tadi, kalau mau melatihnya
memang sangat mudah, cuma sayang, disitu tiada terdapat
pelajaran Kungfu bersenjata, sedangkan mengenai senjata,
pedang adalah pangkalnya segala macam senjata, kalau
mau belajar tentu kupilih ilmu pedang, makanya. . . ."
Makin tegang Peng-say mengikuti ucapan si nona hingga
akhirnya dia seperti mau menangis, katanya; "Ai, adik Leng
yang baik, kaupun tahu ilmu silatku kupelajari dari kitab
Siang-jing-pit-lok itu masa kau anggap aku ini ahli pedang.
Kau sendiri bilang didalam kitab itu tiada terdapat pelajaran
ilmu main pedang, aku. . . akupun tidak pernah belajar ilmu
pedang lain. . . . ."
Ia kuatir si nona yang bandel dan jahil itu akan
merecokinya lagi, sedangkan ilmu pedangnya dengan tegas
telah diperingatkan oleh Tio Tai-peng bahwa selain
puteranya sendiri, biarpun murid juga tak boleh diajari,
apalagi orang luar. Bila larangan ini dilanggar dan
ketahuan, maka tiada ampun lagi.
Sebab itulah dia tetap menyangkal pernah belajar ilmu
pedang.
Cin Yak-leng menatap Peng-say tajam-tajam, biji
matanya yang bening terang itu se-akan2 sedang berkata;
"Hm, di depanku juga kau berdusta!"
Peng-say menelan air liur sekedar menenangkan
perasaan tegang orang yang suka bohong. Lalu berkata
pula; "Terhadap ilmu yang tercantum dalam kitab Siang-
jing-pit-lok itu memang cukup banyak pengetahuanku.
Begini saja, akan kuajari kau Kungfu yang terdapat didalam
kitab itu, setuju?"
Tapi Cin Yak-leng menengadah dan menggeleng,
jawabnya; "Untuk ini, kitab itu kan berada padaku, kalau
mau dapat kulatih sendiri. Kukira besok bolehlah kita mulai
berlatih, tujuh tahun saja cukup. Nah, kakak Peng, tujuh
tahun lagi pasti akan kukembalikan Siang-jing-pit-lok itu!"
"Akan. . . .akan tetapi. . . ." Peng-say menjadi gugup.
"Tidak ada tetapi segala." ujar Yak-leng sambil menarik
muka. "Jika ingin ambil kembali kitab itu sekarang, boleh,
asalkan ditukar seperti permintaanku tadi. Ini sudah
menjadi keputusan nona, tidak ada tawar menawar."
Melihat kenakalan si nona yang sukar diajak berdamai
itu, Peng-say menjadi kelabakan, serunya; "Tapi aku benar-
benar tidak paham ilmu pedang apa-apa."
Yak-leng tertawa, tanyanya; "Jika begitu, coba jawab,
untuk apa kau membawa dua bilah pedang yang tajam luar
biasa?"
"Da. . . .darimana kau tahu?" jawab Peng-say dengan
tercengang.
"Biasa, entah mengapa aku memang suka
memperhatikan dirimu secara diam-diam, lebih2 setelah
berpisah selama lima tahun, hampir sudah asing terhadap
dirimu, maka aku harus mempelajari betapa banyak
perubahan dirimu selama lima tahun ini. Tadi, waktu kau
bersantap bersama ayah, diam-diam kugerayangi rangsal
yang kau bawa, ingin kucari sesuatu yang sekiranya
menarik bagiku. . . ."
"Ai, mengapa kau selalu suka menggeledah barangku
diluar tahuku." kata Peng-say sambil menggeleng, "Untung
kau. . . . ."
Tidak perlu dijelaskan lagi bahwa lanjutannya dia pasti
akan bilang; "Untung kau bukan isteriku, jika punya isteri
seperti kau, maka runyamlah Soat Peng-say."
"Kan sudah kukatakan, sudah kebiasaan," kata Yak-leng
pula, "Kebiasaan sejak kecil itu memang sukar berubah.
Namun begitu akupun sangat memahami dirimu, misalnya
kau suka menaruh barangmu dimana, cara bagaimana kau
melipat pakaianmu, semua itu akupun tahu dengan jelas.
Apabila hal2 seperti itu ada perubahan luar biasa, itu
menandakan pikiranmu tidak tenteram. Juga lantaran
terbiasa kuperhatikan setiap gerak-gerikmu serta tutur
katamnu, maka segera pula kudapat mengetahui kesalahan
apa yang kau lakukan atau sedang berdusta. . . . ."
Diam-diam Peng-say terperanjat, pikirnya; "Wah,
jadinya kau ini orang macam apa?"
Padahal biarpun ibu Soat Peng-say sendiri juga belum
tentu lebih memahami pribadinya daripada Cin Yak-leng.
"Dan baru tadi, kulihat sifatmu hampir tiada perubahan
sama sekali, baik melipat pakaian, bicara, gerak-gerikmu,
semuanya serupa dulu kau pada lima tahun yang lalu dan
kau pada saat sekarang, bedanya cuma tubuhmu bertambah
tinggi besar dan membuatku pangling, selain itu boleh
dikatakan tiada bedanya. Tadi kau telah berdusta dua hal,
betul tidak? Tidak perlu kau menyangkal, soalnya aku
sudah teramat memahami dirimu. Dustamu yang pertama
adalah karanganmu mengenai pengalaman selama lima
tahun menghilang itu. Dusta yang kedua, kau membohongi
aku bahwa kau tidak mahir ilmu pedang, padahal menurut
pandanganku serta perkiraanku, selama lima tahun ini tentu
kau bersembunyi disuatu tempat dan belajar ilmu pedang
yang maha lihai dengan seorang kosen. Kau ingin bukti
bukan? Sederhana sekali. Kalau kau tidak belajar ilmu
pedang kelas tinggi dengan orang kosen, tentu kau takkan
komat-kamit dan ber-gerak2 sendirian waktu ber-jalan2
ditaman tadi. Ini membuktikan kau selama lima tahun ini
tidak pernah lalai menyelami intisari ilmu pedang yang
tinggi itu dimana dan kapanpun juga."
Karena rahasianya telah dipecahkan orang dengan tepat
dan jelas, apapula yang dapat dikatakan Soat Peng-say?
Terpaksa ia menyerah dan berkata; "Ya, memang,
semuanya persis apa yang kau katakan."
"Nah, setelah kubongkar dustamu, syarat tukar menukar
tadi kau terima tidak?" tanya Yak-leng dengan tertawa.
"Tidak!" jawab Peng-say sambil menggeleng.
Sekali ini si nona tidak dapat memahami lagi jalan
pikiran Soat Peng-say. Jawaban anak muda yang tegas dan
ketus itu telah melukai harga diri si nona.
Maka senjata kaum wanita yang utama lantas muncul,
yaitu air mata, meneteslah air mata Cin Yak-leng.
Sejak kecil Peng-say paling takut bila Yak-leng menangis.
Sekarang meski si nona tidak mengeluarkan suara tangisan,
tapi air matanya yang tak bersuara itu terlebih lihai
daripada tangis yang berwujud.
Sekarang ia menjadi kelabakan. Untuk menerima
permintaan si nona tidak mungkin. Jika berkeras menolak,
rasanya tidak tega.
Dalam keadaan serba susah ini, sungguh dia berharap
akan datang penolong yang dapat menghindarkan dia dari
kesulitan ini.
Baru timbul pikiran ini, Thian telah memenuhi
harapannya. Mendadak terdengar bentakan keras seorang;
"Budak busuk, akhirnya kutemukan juga kau!"
Mendengar suara bentakan yang mirip benda pecah itu,
seketika pucat wajah Cin Yak-leng. Cepat ia mengusap air
mata dan bersembunyi ke belakang Soat Peng-say sambil
berkata dengan gemetar; "Kak. . . .kakak Peng, kau. . . .kau
harus menolong diriku. . . . ."
Segera Peng-say membusungkan dada dan berseru
kearah datangnya bentakan tadi; "Siapa itu? Silakan keluar
untuk bicara!"
"Siapa lagi, kakekmu!" jawab si suara seperti bende
pecah itu. Baru lenyap suaranya, seperti badan halus saja
tahu-tahu segulung benda putih muncul didepan Peng-say.
Inilah seorang kakek buntak berjenggot putih panjang,
berjubah sulaman huruf Hok (rejeki) didepan dada, pakai
kopiah batok semangka, melihat potongan tubuhnya lebih
mirip hartawan kampungan. Akan tetapi mukanya yang
bersungut itu sama sekali tiada tanda-tanda riang seorang
hartawan, hanya air mukanya yang bersungut dan
menakutkan inilah masih membuat orang ber-pikir2 kalau
berhadapan dengan dia, kalau tidak, anak kecil saja berani
menggodanya.
Pada waktu Peng-say hendak berpisah dengan Tio Tai-
peng, oleh gurunya itu telah diceritakan beberapa gembong
iblis yang disegani didunia Kangouw serta bentuk tubuhnya
yang khas. Dan kakek buntak sekarang ini paling gampang
dikenalinya, segera ia memberi hormat dan menyapa; "Eh,
kiranya Pang Bong-ki, Pang-loyacu."
"Ehm, cucu yang baik, kenal juga kau kepada kakekmu,"
ujar Pang Bng-ki sambil berdehem.
Peng-say tidak marah meski orang menarik keuntungan
atas dirinya dengan kata-kata, yaitu menganggap dirinya
sebagai kakek Peng-say. Ia pikir, usiamu memang jauh lebih
tua, jika kau menjadi kakekku juga sepadan. Maka ia
bertanya pula; "Pang-loyacu ada keperluan apa berkunjung
kesini?"
Sorot mata Pang Bong-ki yang tajam itu menyapu muka
Cin Yak-leng yang sedang mengintip dari belakang Peng-
say itu, lalu katanya dengan ter-kekeh2; "Hehe, budak
busuk, apa gunanya kau sembunyi dibelakang seorang
lelaki?"
Merasa ada sandaran, meski belum jelas sandarannya itu
mampu membelanya atau tidak, dengan nakal Yak-leng
lantas mencibir kepada kakek buntak itu dan menjawab;
"Bola semangka, mulutmu hendaklah cuci bersh sedikit,
kau tahu siapa dia? Dia ini kakakku."
Alangkah mesranya dia menyebut "kakakku" sehingga
Peng-say merasa "sreg" didalam hati. Dalam keadaan
demikian, biarpun persoalan ini bakal mencabut nyawanya
juga dia tidak peduli.
Pada umumnya manusia suka sirik bila ciri lahiriahnya
diperolokkan. Sekarang Cin Yak-leng menyebut si kakek
buntak yang tubuhnya memang gemuk bundar dan cebol itu
sebagai "bola semangka", tentu saja alis Pang Bong-ki lantas
berjengkit, dengan murka ia mendamprat; "Budak busuk,
kau berani kurang ajar padaku? Akan kurobek tubuhmu
menjadi dua keping!" Habis berkata segera ia hendak
mencengkeram nona itu.
Sudah tentu Peng-say tidak tinggal diam, cepat ia
menangkis, katanya dengan tertawa; "Sabar Pang-loyacu,
ada urusan apa boleh bicara saja baik-baik."
Sekali gebrak saja bagi kaum ahli akan segera
mengetahui pihak lawan berisi atau tidak. Maka Pang
Bong-ki lantas menarik kembali tangannya dan menyurut
mundur ketempatnya semula, ia pandang Soat Peng-say
dan berpikir; "Tampaknya bocah ini jauh lebih lihai
darpada adik perempuannya."
Tapi ia lantas menjengek; "Cucu yang baik, jika kau tahu
nama kebesaran kakekmu ini, tentunya kaupun tahu nama
julukanku didunia Kangouw."
Agar sesuatunya dapat diselesaikan dengan damai, Soat
Peng-say menjawab dengan tertawa; "Usia adik
perempuanku masih muda dan tak tahu urusan sehingga
membikin marah engkau, untuk itu kuharap kemurahan
hatimu agar sudi mengampuni dia sekali ini."
"Mengampuni dia sekali ini?" teriak Pang Bong-ki. "Hm,
tidak boleh jadi! Kakek berjuluk 'Kin-kin-kek-kau' (satu
katipun dipersoalkan, artinya satu peser saja dihitung).
Melulu sebutannya padaku yang kurang ajar itu sudah
cukup menghukum mati dia, apalagi dia telah
membuntungi tangan muridku."
Yak-leng lantas menjengek, "Siapa suruh muridmu itu
berkelakuan jahat dan tangannya berani sembarangan
menggerayang. Hm, dasar setali tiga uang, guru yang tak
karuan tentu mengeluarkan murid yang tidak genah. Si
cebol tidak nanti melahirkan anak jangkung!"
Rupanya murid Pang Bong-ki juga seorang pendek.
Padahal dia paling benci jika orang menyinggung tentang
kecebolannya, karuan ia lantas berteriak dan hendak
mencengkeram si nona pula.
Cepat Peng-say mencegah lagi dan berkata; "Nanti dulu,
Pang-loyacu, bolehkah kutanyai sebentar adik
perempuanku?"
"Hm, cucu lelaki memang berbeda daripada adik
perempuannya," jengek Pang Bong-ki. "Mengingat sikapmu
yang sopan-santun ini, biarlah kuberi kesempatan hidup
padanya sebentar lagi."
Segera Peng-say menarik Cin Yak-leng kesamping, lalu
betanya dengan suara tertahan; "Adik Leng, sesungguhnya
apa yang terjadi?"
"Untuk apa bertanya!?" seru Yak-leng. "Pendek kata,
tangan muridnya itu memang pantas ditabas."
"Adik Leng," ucap Peng-say dengan tertawa, "Kabarnya
murid Pang Bong-ki itu juga orang jahat, seorang bandit
yang biasa malang melintang didunia Kangouw, ilmu
silatnya juga tidak lemah, bahwa kau dapat menguntungi
tangannya, sungguh kejadian tidak sederhana."
Muka Yak-leng menjadi merah, katanya dengan
tergagap; "Ah, itu. . .itupun kebetulan saja, Thian yang
memberkati diriku sehingga berhasil menabas buntung
tangannya."
= Sebab apa sehingga Cin Yak-leng membuntungi
tangan murid Pang Bong-ki itu?
= Darimana puteri gubernur militer ini belajar
Kungfunya?
= Siapakah kedua perempuan yang membunuh Beng
Eng-kiat dan kedua muridnya?
-ooo0dw0ooo-
"Ah, kenapa adik Leng rendah hati," ujar Peng-say,
"Sekarang kedudukan kita sama satu satu, aku berdusta,
kaupun telah berdusta."
"Aku. . . . aku berdusta apa?" tanya Yak Leng dengan
melengak.
"Kau membohongi aku, katanya tidak pernah melatih
ilmu yang tercantum didalam Siang-jing-pit-lok itu, hal ini
tidak betul, bukan?" kata Peng-say dengan tertawa.
Terpaksa Yak-leng menunduk dan tak dapat menjawab,
ucapnya kemudian: "Kau mau membantu aku tidak?"
"Sudah tentu kubantu kau, biarpun kepala akan
dipenggal juga takkan kubiarkan kakek itu mengganggu
seujung rambutmu," jawab Peng-say tegas, "Cuma, kau
harus menceritakan duduknya perkara agar aku dapat
bicara dengan orang tua itu, jika dia tetap tak dapat diajak
bicara secara baik-baik, nah, baru pakai kepalan."
Yak-leng melirik Peng-say sekejap sambil menunduk,
katanya dengan lirih: "Baiklah, takkan kubohongi kau lagi.
Sejak tahun yang lalu sudah berhasil kulatih ilmu yang
tercantum didalam kitab pusaka pinjaman itu. Demi
mencari dirimu, diluar tahu orang rumah aku keluar dengan
menyamar sebagai Suseng pelancongan, yang benar aku
ingin menyelidiki jejakmu."
Pelahan Peng-say memegangi tangan Yak-leng dan si
nona ternyata diam2 saja dan melanjutkan ceritanya:
"Hampir setahun kucari engkau dan tidak memperoleh
kabar apapun. Tapi pada akhir tahun yang lalu kepergok
murid Pang Bong-ki, muridnya itu adalah seorang bandit
besar, bahkan juga. . . .juga penjahat cabul, entah cara
bagaimana penyamaranku dapat diketahuinya, dia pura-
pura bersahabat denganku, akupun tidak tahu bahwa dia
sesungguhnya dia orang jahat, malahan ingin kutanyai dia
kabar berita dirimu, kulihat sikapnya sangat sopan, maka
lantas seperjalanan dengan dia. Dia mengira aku mudah
ditaklukkan, maka cuma beberapa hari saja kedoknya lantas
terbuka. Suatu malam, diam2 dia menyusup ke kamarku,
disitulah kukerjai dia, baru saja tangannya terjulur ke balik
kelambu segera kutabas. . . ."
Sampai disini ceritanya dia merandek sejenak, mungkin
hawa panas yang terpancar dari tangan Peng-say
membuatnya tidak tahan, ia meronta dan melepaskan
pegangan anak muda itu, hal ini tidak diperhatikan oleh
Peng-say, dengan muka merah Yak-leng lantas
menyambung:
"Sesudah itu barulah bangsat cabul itu mengetahui
akupun memiliki kungfu, cepat dia kabur. Habis itu akupun
tidak menaruh perhatian atas kejadian itu dan melanjutkan
pencarianku padamu. Tapi hari ketiga aku telah disusul
oleh bangsat tua she Pang itu, jelas aku bukan tandingan tua
bangka itu, syukur Thian melindungi diriku dan aku
berhasil lolos, maka terjadilah lari dan kejar, akhirnya kulari
pulang kerumah, kukira urusan akan selesai, siapa tahu. . .
."
Peng-say mengangguk, katanya: "Pang Bong-ki itu
seorang tokoh Kangouw kawakan terkenal pula 'satu
peserpun diusut'. Setelah kau tabas kutung tangan
muridnya, sekalipun lau lari ke ujung langit juga dia
sanggup menemukan kau. Sekarang persoalannya sudah
jelas, kita di pihak yang benar, biarlah kubicara secara baik-
baik dengan dia. Tapi untuk menjaga segala kemungkinan,
harap kau ambilkan kedua pedangku itu. Tanpa pedang
jelas aku bukan tandingan kakek itu."
"Kau, kau harus hati-hati." pesan Yak-leng.
"Jangan kuatir, tanggung tidak menjadi soal." jawab
Peng-say dengan tertawa. Lalu ia memutar tubuh
mendekati Pang Bong-ki.
"Hayo, budak liar, jangan lari!" segera Pang Bong-ki
berteriak demi melihat Cin Yak-leng melangkah kedalam
rumah.
Peng-say lantas menghadang didepan si kakek, katanya:
"Peng loyacu, marilah kita bicara menurut aturan."
Diam-diam Pang Bong-ki berpikir, disini adalah
rumahnya, andaikan budak itu bisa kabur, masa rumahnya
bisa berpindah pula, maka tanpa kuatir ia lantas menjawab;
"Bicara aturan apa?"
"Pang-loyacu seorang tua yang terhormat dan disegani. .
. ." sampai disini Peng-say sengaja merandek.
"Kalau terhormat dan disegani, lalu ada apa?" Pang
Bong-ki menegas, ia pikir anak muda ini pintar juga
menjilat pantat, tapi apa gunanya kau menjilat.
Maka terdengar Peng-say telah menyambung: "Tapi
nama muridmu. . . ."
"Sudahlah, tidak perlu kau teruskan, kutahu maksudmu,"
potong Pang Bong-ki, "Tindak-tanduk muridku itu memang
tidak dapat dipuji, tapi juga bukan sesuatu soal yang perlu
direcoki. Dahulu, ketika gurunya masih muda, tindak-
tanduk gurunya juga tidak banyak berbeda dari pada dia."
"Hm, jika begitu, tampaknya memang tidak salah
pepatah yang mengatakan tikus tidak melahirkan kucing,
kalau gurunya begitu, masakah muridnya bisa lain?" ejek
Peng-say.
Anehnya Pang Bong-ki tidak menjadi marah, juga tak
malu, ia hanya berdehem lalu berkata:
"Ada perbedaan sedikit, betapapun murid tidak dapat
lebih unggul dari pada sang guru, dia kurang becus sehingga
tangannya ditabas budak itu. Dia malah belum kapok dan
memohon padaku agar menangkap si budak untuk
dijodohkan kepadanya. Sebenarnya, betapapun juga budak
itu akan kurobek menjadi dua keping tapi mengingat
dirimu, kuberi kelonggaran padanya, boleh kau suruh
adikmu membuntungi sebelah tangannya sendiri, lalu ikut
pergi bersamaku dan jiwanya dapat ku-ampuni."
Melihat orang tak dapat diajak bicara menurut aturan,
Peng-say lantas menggeleng dan berkata: "Tidak, hal ini
tidak mungkin terjadi."
"Tidak ada sesuatu di dunia ini yang tidak mungkin,"
ujar Pang Bong-ki. "Eh, itu dia, si budak liar itu sudah
datang lagi. Kebetulan!"
Betul. Cin Yak-leng sudah muncul pula dengan
membawa dua pedang bersarung hitam dan bergaran hitam,
untaian benang mainan pada garan pedang itupun berwarna
hitam. Peng-say menerima kedua pedang, yang satu
disandangnya di punggung, yang lain dipegang dengan
tangan kiri.
Pang Bong-ki tidak mengganggu selama Peng-say
menyandang pedang dan menghunus pedang yang lain
pula, habis itu barulah ia menegur dengan tertawa:
"EH, kau ingin main senjata denganku?"
"Betul," jawab Peng-say.
"Hahahaha!" Pang Bong-ki bergelak tertawa, "Tak
tersangka, baru bertambah memegang dua pedang, sikapmu
lantas garang. Baiklah, bagaimana kalau kita pakai
taruhan."
"Taruhan apa? Aku ikut!" Se-konyong2 sesosok
bayangan orang melayang tiba, datangnya hampir
berbareng dengan terdengarnya suara.
Pang Bong-ki memandang pendatang itu, lalu berkata:
"Kwa-laute, angin apa yang meniup kau kesini?"
Kiranya orang itu juga seorang kakek, cuma tubuhnya
tinggi kurus, boleh dikatakan tinggal kulit membalut tulang.
Tubuhnya sudah cukup jangkung, tapi memakai lagi topi
yang berujung tinggi, berjenggot panjang seperti jenggot
kambing, saking tinggi dan kurusnya, angin meniup saja
rasanya dapat menerbangkan dia.
Diam-diam Peng-say terkejut, pikirnya: "Mengapa
datang pula iblis ini?"
Ia menoleh, dengan sorot matanya ia ingin bertanya
kepada Yak-leng apakah kenal pendatang ini, tapi si nona
menggeleng sebagai tanda tidak tahu.
"Angin apa? Serupa kau!" demikian jawab si kakek
kurus.
"Kenapa? Muridmu itu. . . . ."
"Muridku telah dirusak oleh budak ini!" sela si kakek
kurus sebelum lanjut ucapan Pang Bong-ki, lalu ia melototi
Cin Yak-leng dengan sorot mata yang benci.
Segera Yak-leng berteriak: "He, jangan kau sembarangan
memfitnah orang. Siapa muridmu, hakikatnya nonamu
tidak kenal!"
"Kau tidak kenal?" si kakek kurus menegas. "Coba
jawab, sebulan yang lalu, pernahkah kau membutakan mata
seseorang?"
"Ahhh!" Yak-leng berseru kaget. Tak perlu ditanya lagi,
jelas buah karyanya.
-ooo0dw0ooo-

Jilid 4

Diam-diam Peng-say menggeleng kepala, pikirnya:


"Adik Leng ini keterlaluan juga, mengapa suka melukai
murid orang. Belum lagi satu peserpun diusut, dibereskan,
kini datang lagi seorang yang dilirik saja marah!"
Kiranya kakek tinggi kurus ini bernama Kwa Liong dan
berjuluk "kong-ju-pit-po" atau dilirik saja tidak terima,
artinya biarpun dipandang sekejap saja dia tidak mau, dia
terlebih ganas dari pada Pang Bong-ki, sedikit orang
mengganggunya, maka celakalah orang itu, pasti akan
dibunuh olehnya.
Begitulah Kwa Liong lantas berkata kepada Pang Bong-
ki: "Pang-heng, kau bilang hendak taruhan dengan dia,
maka aku harus turut ambil bagian untuk melampiaskan
dendam muridku itu."
"Cara bagaimana Kwa-laute akan melampiaskan
dendam?" tanya Pang Bong-ki.
"Karena budak itu akan kau bawa pulang untuk
dijadikan alat kesenangan muridmu, dengan sendirinya aku
tidak dapat membunuhnya," kata Kwa Liong. "Maka begini
saja, cukup kukorek sepasang matanya itu."
"Eh, tumben Kwa-laute kenal belas kasihan." ujar Pang
Bong-ki dengan tertawa.
"Habis bagaimana, murid Pang-heng penujui budak itu,
anggaplah nasibnya lagi mujur," kata Kwa Liong. "Cuma
belas kasihan juga ada batasnya, selain dia, setiap sanak
keluarganya harus ikut memberi ganti rugi sepasang biji
mata."
Yak-leng menjadi gusar, ia segera membentak,
"Kawanan bangsat, memangnya sanak keluargaku berbuat
salah apa padamu?"
"Dan muridku berbuat salah apa pula padamu?"
"Dia. . . .dia berani meng. . . .mengintip nona mandi. . .
." Yak-leng menjawab dengan gelagapan dan muka merah.
"Hahahaha!" Kwa Liong bergelak tertawa. "Kan kau
sendiri menyamar sebagai Suseng, kelakuanmu yang ke-
bencong2an dengan sendirinya menimbulkan rasa curiga
orang, tentu saja setiap orang ingin tahu sehingga muridku
itu mengintip kau mandi. Yang penting, mestinya tidak
perlu kau butakan matanya dengan Am-gi (senjata gelap
atau rahasia)."
"Hm, muridmu yang kotor itu berani mengintip tubuhku,
kalau bisa ingin kucabut nyawanya!" damperat Yak-leng
dengan gemas.
"Budak busuk, melulu ucapanmu ini saja cukup alasan
bagiku untuk babat habis setiap sanak keluargamu," bentak
Kwa Liong dengan murka.
Soat Peng-say lantas melangkah maju dan berkata: "Ah,
rasanya ucapanmu ini agak berkelebihan!"
"Nah, Kwa-laute, ada orang memprotes!" kata Pang
Bong-ki dengan ter-bahak2.
Kwa Liong melirik Soat Peng-say sekejap, ucapnya
dengan tak acuh: "Huh, untuk apa banyak omong dengan
keroco begini, kirim saja dia ke akhirat!"
Tapi Pang Bong-ki lantas bisik-bisik ditepi telinga Kwa
Liong: "Ssst, jangan kau remehkan boch ini!"
"Habis bertaruh apa?" teriak Kwa Liong.
"Pertarungan yang belum pasti menang lebih baik jangan
pakai taruhan. Marilah saudara, kita maju bersama."
Pang Bong-ki lantas menyengir terhadap Soat Peng-say,
katanya: "Kakek Kwa ini tidak mau bertaruh seperti
kukatakan tadi, tapi mengajak maju bersama. Eh, cucu
yang baik, setelah kau tahu apa yang bakal terjadi, apakah
kau masih berani berlagak?"
Peng-say tahu pertarungan sengit sukar dihindarkan, ia
tidak menghiraukan olok2 orang, dari sakunya lantas
dikeluarkannya seutas benang hitam panjang.
Mendengar kedua kakek itu akan maju sekaligus. Yak-
leng menjadi kuatir, ia lantas mencibir dan mencemooh:
"Huh, tidak tahu malu, dua kakek maju bersama
mengerubut seorang anak muda, kalian tidak kuatir tersiar
ke Kangouw dan ditertawakan orang?"
"Ini bukan pertandingan mencari nama, tapi bertempur
demi membalas sakit hati murid, maka tidak perlu pakai
aturan satu-lawan-satu segala," jengek Kwa Liong. "Lagi
pula, mulai sekarang, mana ada kesempatan lagi bagi kalian
untuk menyiarkan kejadian ini?"
Segera Yak-leng hendak mendamperat pula, tapi Soat
Peng-say lantas memanggilnya: "Adik Leng, kemarilah,
tolong ikat tali ini pada tubuhku."
Yak-leng mengira pemuda itu hendak memakai ikat
pinggang, segera ia mendekatinya dan menerima tali hitam
itu, katanya dengan kuatir: "Kakak Peng, engkau mungkin
bukan tandingan mereka berdua, apa perlu kitapun maju
bersama melawan mereka?"
"Tidak, tidak perlu," jawab Peng-say sambil menggeleng,
"Bila aku kalah, hendaklah cepat kau lari. Eh, salah, tidak
cuma ikat bagian pinggang, tapi sekalian ikat juga lengan
kananku!"
Kiranya Cin Yak-leng hanya melibatkan tali hitam tadi
pada pinggang anak muda itu. Ia terkejut mendengar
pemintaan Peng-say, katanya: "Masa kau. . . .kau. . . ."
"Jangan tanya dulu, ikatlah lekas, makin erat makin
baik!" pnta Peng-say.
Diam-diam Yak-leng heran, pikirnya: "Jika lengan
kananmu terikat, lalu cara bagaimana menggunakan dua
pedang?"
Meski penuh tanda tanya, diikatnya juga lengan kanan
Peng-say bersama tubuhnya menurut permintaan anak
muda itu, malahan ia lilit tali itu hingga dua-tiga kali
sehingga terikat erat.
Peng-say coba menarik lengan kanan dan terasa sukar
bergerak lagi, lalu ia melangkah ke depan.
Sudah tentu Pang Bong-ki dan Kwa Liong melenggong
menyaksikan cara Soat Peng-say menghadapi mereka itu,
Pikir mereka: "Apakah bocah ini mahir ilmu sihir, kalau
tidak masakah sengaja mengikat sebelah tangan sendiri
untuk menempur kerubutan dua orang?"
Setiba di depan kedua kakek itu, Soat Peng-say angkat
pedang tangan kiri yang masih berselubung itu di depan
dada, lalu berkata: "Silakan mulai!"
"Kurang ajar!" teriak Pang Bong-ki mendongkol, "Kau
berani memandang enteng kedua kakekmu?!"
Sekali bersuara, Soat Peng-say tidak sungkan-sungkan
lagi, baru habis ucapan Pang Bong-ki, "sret", sarung pedang
terlepas, sinar perak terus menyambar ke depan.
Pang Bong-ki dan Kwa Liong memang bukan kaum
keroco, keduanya tidak kalah lihaynya dibandingkan Beng
Eng-kiat. Mendadak mereka menyongsong maju, berbareng
mereka menghantam.
Karena dua orang bergabung, mereka rikuh untuk
mengeluarkan senjata andalan mereka yang sudah terkenal.
Maka terjadilah pertarungan sengit antara tiga orang itu,
sama2 cepat dan sama lihaynya. pandangan Yak-leng
sampai kabur dan sukar membedakan siapa kakak Peng dan
siapa kedua kakek itu.
Sejenak kemudian, keluarlah pedang kedua Soat Peng-
say dari sarungnya, inilah jurus serangan "Siang-liu-kiam-
hoat" tulen.
Mendadak Soat Peng-say melepaskan pedang pertama
yang berantai lembut di pergelangan tangan itu, hampir
pada saat yang sama ia mencabut pedang kedua untuk ikut
menyerang. Dengan sendirinya daya serangannya sukar
dibayangkan. Terdengar suara berdering nyaring dan ketiga
orang lantas terpencar mundur.
Dalam sekejap itu pedang kedua Soat Peng-say sudah
masuk kembali sarungnya, lalu pedang pertama yang
berantai kecil itupun ditarik kembali. Ia berdiri tegak
dengan pedang tetap terhunus, sikapnya seperti tidak
pernah menyentuh pedang kedua di belakang pundaknya.
Kalau memandang kearah Pang Bong-ki dan Kwa Liong
berdua, ternyata senjata andalan masing-masing sudah
dikeluarkan. Malahan butiran keringat tampak menghias
kening mereka, keduanya berdiri di kanan-kiri depan Soat
Peng-say.
Rupanya pada detik yang gawat itu, secepat kilat Pang
Bong-ki telah mengeluarkan senjatanya yang khas, yaitu
berupa sebuah Suipoa emas, alat yang biasa dibuat
berhitung. Sedangkan senjata Kwa Liong berwujud sebuah
gunting raksasa. Dengan mengeluarkan senjata mereka
itulah baru sekadar mampu menangkis jurus Siang-liu-kiam-
hoat Soat Peng-say tadi.
Namun dalam hati mereka cukup gamblang, bila mana
mereka tidak bergabung dua lawan satu, biarpun
menggunakan senjata juga sukar menangkis serangan Soat
Peng-say yang liha itu.
Diam-diam kedua orang itu bersyukur di dalam hati,
walaupun begitu mereka masih penasaran, Pang Bong-ki
mengedipi Kwa Liong, segera mereka hendak menerjang
lagi. Cuma pada saat itu juga mendadak terjadi keajaiban.
Soat Peng-say yang berdiri tegak di tengah kalangan itu
mendadak tersabet oleh cambuk yang menyambar keluar
dari semak2 tetumbuhan di samping sana. Kontan anak
muda itu jatuh tersungkur. Rupanya Kin-sok-hiat bagian
punggung tepat tersabet oleh cambuk itu.
Bahkan sebelum tubuh Soat Peng-say menyentuh tanah,
secepat kilat cambuk itu berputar terus menyambar tiba
pula, sekali ini bukan lagi menyabat Hoat-to, tapi cambuk
itu berubah seperti ular yang hidup, dalam sekejap saja
tubuh Peng-say telah terbelit oleh cambuk yang panjang itu
hingga beberapa lilitan.
Waktu Soat Peng-say jatuh ke tanah, tubuhnya berikut
kedua lengannya sudah terbelit erat oleh cambuk kulit,
pedang kiri terlempar di sebelahnya, tubuh tidak mampu
berkutik sedikitpun.
Meski sudah menyerang dua kali dengan cambuknya,
tapi pemain cambuk itu belum lagi memperlihatkan diri.
Cambuk yang lemas itu digunakan menutuk atau menyabat
Hoat-to dan dipakai meringkus orang pula, caranya cepat
dan ajaib, sungguh sukar untuk dibayangkan.
Kalau Soat Peng-say telah roboh diringkus orang, ini
berarti pemain cambuk itu telah memberi bantuan kepada
Pang Bong-ki berdua, seharusnya mereka bergembira dan
berterima kasih. Tapi aneh, mereka sama sekali tiada
tanda2 bergirang, sebaliknya malah ketakutan hingga muka
pucat dan berdiri mematung.
"Enyah!" terdengar bentakan tertahan di balik rumpun
pohon sana.
Karena disuruh "enyah", Pang Bong-ki berdua menjadi
girang, mereka saling pandang sekejap, tanpa omong lagi
mereka terus lari sipat kuping.
Kejadian mendadak tadi telah mengejutkan Cin Yak-
leng, setelah Pang Bong-ki dan Kwa Liong kabur barulah ia
tenangkan diri dan cepat menubruk Soat Peng-say, ia
berusaha membuka belitan cambuknya.
"Berani kau?!" kembali terdengar bentakan dari balik
pohon sana.
Namun Yak-leng tidak peduli, ia tetap berusaha
membuka ringkusan Peng-say, tapi sukar membukanya.
Pada saat itulah seorang lantas melayang keluar dari balik
pohon sana, belum lagi Yak-leng sempat menoleh, satu kali
tepuk, "Hong-hu-hiat" di belakang kepala nona itu tertepuk
oleh orang itu dan jatuh pingsan.
Ketika pendatang ini berdiri tegak, kiranya seorang
nenek yang bertubuh agak tinggi, tapi rada bungkuk
punggungnya, mukanya penuh keriput dan rambut putih.
Segera si nenek berseru ke arah pepohonan: "Lekas
keluar mengenali orang, setan cilik!"
Dari balik pepohonan sana lantas menerobos keluar
seorang anak laki-laki dengan pakaian merah, usianya
mungkin belum genap sepuluh tahun.
Nenek itu tarik cambuknya sehingga Soat Peng-say
terangkat keatas, lalu ia bertanya pula: "Apakah orang ini?"
"Ya, tidak salah, memang orang ini!" jawab anak laki-
laki itu dengan tegas.
Dalam keadaan masih teringkus oleh cambuk, Soat
Peng-say dibawa pergi oleh si nenek ke jalanan kecil
menyusur pepohonan sana.
Soat Peng-say tak dapat berkutik, tapi mulutnya masih
bisa bicara, segera ia bertanya: "Lau-thaypo (nenek), kau
apakan adik perempuanku?"
Si nenek tidak menggubris pertanyaannya dan tetap
melanjutkan perjalanannya.
Karena tidak tahu keadaan Cin Yak-leng, segera Peng-
say berteriak: "Adik Leng, adik Leng. . . ."
Karena melihat Cin Yak-leng terbaring disana tanpa
bergerak dan juga tidak menjawab seruannya, maka ia
memanggil lagi terlebih keras.
Anak laki-laki tadi mengikut di belakang si nenek, ia
merasa kasihan melihat Soat Peng-say berteriak-teriak
menguatirkan temannya, anak kecil umumnya memang
besar rasa simpatinya, segera iapun berkata: "Nenek,
bagaimana kalau biarkan dia bertemu sekali lagi dengan
adik perempuannya?"
"Peduli amat!" damperat si nenek.
Sejenak kemudian, Peng-say tak dapat melihat Cin Yak-
leng lagi, disangkanya anak dara itu sudah meninggal,
maka ia berteriak pula dengan suara parau: "Adik Leng,
adik Leng. . . ."
Karena gembar-gembornya, biarpun taman ini sangat
luas, tidak urung didengar juga oleh kaum budak keluarga
Cin. Beramai-ramai mereka keluar, ada yang membawa
lampu dan ada ang berteriak bertanya: "Siapa itu?"
Karena luasnya taman, maka suara kawanan budak itu
hanya terdengar sayup-sayup di kejauhan saja. Sudah tentu
Peng-say mendengar suara ribut-ribut itu, segera ia berteriak
terlebih keras lagi.
Si nenek lantas mengancamnya: "Bila berteriak lagi, akan
kupotong lidahmu!"
Namun Soat Peng-say tidak peduli, ia justeru ingin
menimbulkan perhatian seluruh penghuni istana agar
mereka dapat menemukan Cin Yak-leng, bila mana nona
itu tidak mati, tentu mereka akan menyelamatkannya.
Si nenek menjadi gusar karena peng-say masih terus
menggembor, meski tidak benar-benar memotong lidahnya,
tapi ia lantas menabok pula kepala anak muda itu dan
membuatnya pingsan.
Entah sudah lewat berapa lama lagi, siang hari esoknya,
lamat-lamat Soat Peng-say bari siuman kembali.
Agaknya ada Hiat-to yang belum terbuka, meski sudah
siuman, tapi dia masih belum mampu bergerak. Ia coba
memandang sekitarnya, ternyata tertutup oleh kain tenda
kereta kuda, terdengar kusir sedang berseru di bagian
depan, jelas dia berada didalam sebuah kereta.
Anak laki-laki berbaju merah yang duduk di sebelahnya
dapat melihat Peng-say telah siuman, segera ia
mendekatkan mukanya dan bertanya: "Kau lapar tidak?"
Leher Soat Peng-say tidak dapat bergerak, hanya bagian
atap tenda kereta yang terlihat, ia menjawab dengan suara
lemah: "Tidak!" Sejenak kemudian, ia coba bertanya: "Adik
kecil, mana nenekmu?"
"Nenek berduduk di depan." jawab anak laki-laki itu.
"Entah nenekmu memukul mati adik perempuanku atau
tidak?!" ujar Peng-say dengan menyesal.
"Tidak." kata anak berbaju merah itu dengan tertawa.
"Nenakmu bilang begitu padamu?" Peng-say menegas.
"Tidak," jawab anak itu dengan tertawa, "Bila mana adik
perempuanmu sudah mati, saat ini tentu tak dapat bernapas
lagi."
Peng-say jadi melengak. Tapi anak laki-laki itu lantas
menyambung: "Pagi tadi baru kuperiksa pernapasannya,
kukira tidak lama lagi dia akan siuman dengan sendirinya
seperti kau."
"He, adikku juga berada di kereta ini?" tanya Peng-say
dengan girang.
"Bukankah dia berbaring di sampingmu?" jawab si anak
laki-laki berbaju merah.
Segera Peng-say ingin menoleh, akan tetapi, apa daya,
kehendak ada tenaga kurang, sedikitpun kepalanya tak
dapat bergerak. Ia menjadi gelisah. Ia tanya pula kepada
anak laki-laki itu:
"Adik cilik, apakah kau paham ilmu Tiam-hiat?"
"Tentu saja paham!" jawab anak laki-laki itu.
Peng-say lantas memohon: "Adik cilik yang baik,
maukah kau menolongku, bukalah Hoat-to yang tertutuk
agar aku dapat melihat keadaan adik perempuanku!?"
"Tidak, aku tidak berani," jawab anak itu sambil
menggeleng. "Bila kulakukan, aku akan dihajar nenek.
Karena diam-diam kubawa adikmu keatas kereta, hal ini
mengakibatkan aku didamperat oleh nenek, katanya aku
suka cari gara-gara."
Peng-say tidak memohon lagi, pikirnya; "Bisa jadi anak
laki-laki baju merah ini kasihan padaku karena teriakanku,
maka pada waktu aku pingsan diam2 ia kembali kesana
membawa adik Leng kesini. Meski masih kecil, tapi hatinya
sangat baik. Dia sudah diomeli neneknya, tidak boleh
kubikin dia dihajar lagi."
Tidak lama kemudian, Peng-say merasa Cin Yak-leng
yang meringkuk disebelahnya bergerak sedikit, disangkanya
si nona telah siuman, cepat ia berseru: "Adik Leng. . . ."
Tapi Yak-leng hanya bergerak saja tanpa menjawab.
Peng-say menjadi kuatir, tanyanya kepada si anak laki2:
"Adikku sudah siuman belum?"
"Siuman sih sudah, tapi nenek bilang, seumpama sudah
siuman juga pikirannya takkan jernih lagi, kecuali diberi
minum Leng-ju-coan (air susu ajaib), kalau tidak,
selamanya dia akan linglung."
Karuan Peng-say terkejut, cepat ia tanya pula: "Pada
bagian mana nenekmu memukul adikku itu?"
"Hong-hu-hiat." jawab anak itu.
Hampir saja Peng-say jatuh kelengar pula. Hong-hu-hiat
itu terletak pada ubun-ubun kepala dan merupakan Hiat-to
yang fatal, bila terpukul ringan hanya akan mengakibatkan
pingsan, kalau berat bisa mati seketika.
"Dimana bisa didapatkan Leng-ju-coan?" tanya Peng-say
pula.
"Di rumahku banyak sekali air begituan." jawab sia anak
laki2. "Nenek bilang, setiba dirumah segera akan diberi
minum kepada adikmu, asal saja jangan timbul maksud lari
dalam benakmu."
"Dimana letak rumahmu?" tanya Peng-say.
Anak itu menggeleng, sahutnya: "Nenek melarang
kukatakan padamu."
Peng-say menghela napas, katanya pula: Ai, entah dalam
hal apa kuperbuat salah kepada kalian?! Adik cilik, apakah
kau kenal padaku?"
"Sudah tentu kukenal, kalau tidak masakah nenek
membawaku untuk mencari kau?" jawab si anak.
"Kau kenal padaku, mengapa aku tidak kenal kau,
janganlah kau salah mengenali orang!" ujar Peng-say.
Pada umumnya anak kecil enggan mengaku salah, maka
anak kecil itupun cepat menggeleng dan menjawab: "Tidak,
tidak mungkin keliru. Kau tidak kenal diriku, soalnya kau
asyik menemani bibi sehingga tidak memperhatikan diriku."
"Bibi? Bibimu maksudmu?" peng-say menegas dengan
melongo. "Siapa nama bibimu?"
"Ai, masa nama bibi saja kau lupakan, pantas nenek
bilang kau tidak punya Liangsim (hati nurani yang baik)."
seru si anak laki-laki.
Peng-say yakin setan cilik ini pasti keliru mengenali
orang, maka dengan sungguh-sungguh dan tegas ia berkata
pula: "Adik cilik, coba, kenali diriku lebih teliti, coba amat2i
lagi lebih jelas, aku ini orang yang pesiar bersama bibimu
itu?"
"Ah, jangan kau bikin bingung padaku." ujar anak laki-
laki itu dengan tertawa, "Kemarin hanya sekali pandang
saja lantas kukenal kau sebagai orang yang menemani bibi
itu, masa bisa keliru!"
Umumnya anak kecil suka kukuh pada pendapatnya,
biarpun salah juga tidak mau mengaku.
Setelah berpikir sejenak, Peng-say ganti siasat, ia coba
main gertak, katana: "Ya, sudahlah, percuma kuribut
dengan kau. Tapi awas, hendaklah kau periksa lagi lebih
teliti, bila setiba di rumah dan bibimu mengetahui orang
kau bawa pulang ternyata keliru, nah, bukan mustahil
nenek akan membeset kulitmu."
"Tidak, pasti tidak keliru!" si anak yakin pada
pendiriannya.
Walaupun begitu, mau tak mau timbul juga rasa
sangsinya, terbayang olehnya bilamana benar dia salah
mengenali orang, bisa jadi nenek akan menghajarnya, maka
ia menjadi ragu-ragu, ia terus mengawasi Soat Peng-say dari
samping.
Tiba lohor, kereta kuda itu berhenti pada suatu tempat, si
nenek memebeli makanan dan diantar kedalam kereta serta
memberi pesan kepada anak laki-laki berbaju merah itu:
"Setan cilik, makan dulu, setelah kenyang, suapi mereka."
Pada kesempatan itu cepat Peng-say berseru: "Hei,
nenek, kalian salah mengenali orang!"
"Coba jawab, siapa namamu?" tanya si nenek.
"Soat Peng-say," kata Peng-say.
"Soat salju, Peng-nya Peng-an (selamat), Say-nya barat,
betul tidak?"
"Betul!" jawab Peng-say.
"Jika begitu jelas tidak salah lagi!" jengek si nenek.
Habis itu tanpa peduli gembar-gembor Soat Peng-say
lagi, ia kembali ke depan kereta.
Soat Peng-say mati kutu, ia termenung-menung sejenak,
kemudian ia tanya si anak laki-laki: "Orang yang pesiar
bersama bibimu itu bernama siapa?"
"Soat Peng-say," jawab si anak.
Jawaban ini membikin Soat Peng-say menjadi bingung
sendiri, ia pun tidak jelas lagi apakah dirinya memang
orang yang pernah menemani bibi si anak atau bukan.
Karena tak berdaya, percuma Peng-say kelabakan
sendirian, akhirnya iapun masa bodoh dan pasrah Allah.
Lohor hari ketiga, berhenti kereta itu di suatu tempat.
Anak laki2 itu melompat turun, tidak lama kemudian tenda
kereta lantas dibuka, datang beberapa babu muda dan
menggotong turun Soat peng-say.
Si nenek berjalan didepan, ia menjengek: ”Dan kaupun
jangan lupa menyembuhkan penyakit Siocia (tuan puteri)!"
"Menyembuhkan penyakit!" teriak Peng-say kaget, "Hei,
nenek, jangan kau keliru, aku sama sekali tidak paham ilmu
pengobatan segala, ada penyakit harus mencari tabib, bila
aku Soat Peng-say yang disuruh mengobati orang sakit,
pasti orang hidup akan berubah menjadi orang mati!"
"Setan cilik, orang hidup dan orang mati apa, mulutmu
hendaklah bicara yang bersih sedikit!" omel si nenek,
"Pokoknya kalau penyakit Siocia tidak dapat kau
sembuhkan, maka tubuhmu akan dipereteli oleh lima ekor
kuda."
Nenek ini sudah sangat tua, tapi cara bicaranya seperti
orang muda, galak dan cepat marah.
Soat Peng-say digotong ke suatu kamar dan dibaringkan
di suatu tempat tidur dengan seperai bersulam indah, waktu
tinggal pergi dan merapatkan pintu kamar, si nenek tidak
lupa memberi pesan: "Akan kubuka Hiat-to yang tertutuk
setelah kau mandi."
Peng-say pikir kebetulan, memang badan terasa lelah dan
kotor, tentu akan terasa segar setelah mandi nanti.
Tidak lama kemudian datanglah beberapa pelayan, ada
yang menyiapkan baskom mandi besar, ada yang mengisi
air, ada yang menyediakan handuk, semuanya sibuk
menyediakan peralatan mandi.
Peng-say baru kelabakan ketika pelayan pertama mulai
membelejeti bajunya, cepat ia berteriak: "He, jangan, lelaki
dan perempuan tidak boleh bersentuhan, jangan pegang-
pegang."
"Kalau tidak boleh pegang-pegang, cara bagaimana kami
dapat memandikan Siauya?" ujar pelayan itu dengan
mengikik tawa.
Muka Peng-say menjadi pucat, serunya: "Tidak,
kumandi sendiri, kumandi sendiri saja. . . ."
Tapi beberapa pelayan genit itu tidak menghiraukannya
lagi, mereka terus membuka semua pakaian Soat Peng-say
dan merendamnya di baskom besar itu, sudah tentu digosok
dan dipijat pula.
Jika orang lain mungkin akan gembira karena dapat
mandi dilayani perempuan2 cantik, tapi mandi Soat peng-
say ini hampir membuatnya kelengar di dalam bak mandi
itu.
Selesai mandi, Soat Peng-say berbaring pula di tempat
tidur, sambil memandangi langit-langit kelambu ia berpikir:
"Kenapa belum ada yang datang membuka Hiat-toku?"
Syukur tidak lama kemudian berkumandang suara
tindakan kaki orang di luar. Lalu terdengar si anak laki-laki
berbaju merah sedang berseru: "Nek, nenek, rasanya makin
lama makin tidak cocok. . . ."
Si nenek berhenti di depan pintu kamar dan bertanya:
"Tidak cocok bagaimana?"
"Rasanya Soat peng-say yang ini tidak sama dengan Soat
Peng-say yang itu," kata anak laki-laki baju merah.
"Tidak sama?! Dalam hal apa tidak sama?" tanya si
nenek dengan mendongkol.
"Yang ini agak lebih. . . .lebih tinggi." tutur anak itu
dengan ter-gagap2. "Cara bicaranya juga berbeda, suaranya
lebih kasar. . . ."
"Setan cilik," raung si nenek, "Jadi kau salah mengenali
orang?!"
"O, ti. . . tidak, belum. . . .belum pasti, aku cuma. .
.cuma melihatnya dua kali dan tidak. . . tidak begitu jelas. .
. ."
"Kalau tidak jelas, mengapa kau berkeras bilang pasti
dia?!" si nenek meraung gusar pula.
Kemudian leher baju anak laki-laki itu terus ditarik dan
diangkat keatas oleh si nenek sehingga anak itu berteriak-
teriak ketakutan: "Jang. . . jangan, nenek, jangan. . . .jangan
membeset kulitku!"
"Katakan terus terang, dia atau bukan?!" bentak si nenek
dengan bengis.
"Iy. . .iya!" jawab anak itu.
"Bluk", nenek itu melemparkan si anak baju merah dan
meraung pula dengan gusar. "Pokoknya kalau keliru akan
kubeset kulitmu!"
"Kukira dia. . . dia agak lebih tinggian dikit. . . ." si anak
berusaha menjelaskan pula dengan takut-taku.
"Kalau cuma lebih tinggi sedikit, akan kupotong saja
kakinya." kata si nenek.
Lalu nenek itu masuk ke kamar dan bertanya: "Soat
Peng-say, coba jawab, kau benar-benar Soat Peng-say?"
"Sudah tentu benar, tanggung tulen!" jawab Peng-say
penasaran.
"Tapi Ang-hay-ji (anak merah) bilang kau agak tinggian
sedikit, apakah kau memang agak tinggi?" tanya pula si
nenek.
Peng-say menjadi kuatir orang benar2 akan memotong
kakinya, cepat ia menjawab: "O, tidak, tidak tinggi, tinggi
Soat peng-say yang tulen memang pas begini, yang palsu sih
aku tidak tahu."
Nenek itu mengangguk, katanya: "Kupercaya padamu,
masakah kau berani memalsukan Soat peng-say untuk
menipu nenek?"
"Aku memang Soat peng-say tulen, kenapa mesti
memalsu?!" ujar Peng-say dengan mendongkol.
Melihat anak muda ini bersitegang, si nenek tidak sangsi
lagi, segera ia membuka Hiat-to yang tertutuk tempo hari.
Begitu dapat bergerak, serentak Soat peng-say melompat
turun, tapi tak dapat berdiri tegak, ia jatuh tersungkur.
"Jangan terburu-buru." kata si nenek. "Ketahuailah
Tiam-hiat-hoat nenek lain daripada orang lain, setelah Hiat-
to terbuka, dalam dua hari tidak dapat mengerahkan tenaga
dan juga tidak dapat mengerahkan tenaga dan juga tidak
boleh berjalan cepat."
Terkesiap Peng-say, buyarlah harapannya untuk
melarikan diri.
Agaknya si nenek dapat meraba maksud Peng-say yang
ingin kabur itu, segera ia menjengek: "Hayo ikut padaku!"
"Kemana?" tanya Peng-say.
Si nenek mendongkol, ia anggap anak muda itu sudah
tahu sengaja tanya lagi, jawabnya kemudian: "Suruh kau
ikut ya ikut saja, rewel apa lagi?"
Tiada jalan lain, terpaksa Peng-say berkata dengan
menghela napas: "Baik, ikut juga boleh, cuma ingin
kukatakan sebelumnya, aku tidak pernah belajar ilmu
pengobatan, jika aku disuruh mengobati Siocoa kalian,
mungkin orang. . . . ."
Mendadak si nenek menoleh dengan sorot mata yang
tajam, seketika Peng-say mengkeret dan kata-kata "orang
hidup akan berubah menjadi orang mati" ditelan kembali
mentah-mentah.
Si nenek mendahului keluar dari kamar serambi itu,
karena tidak mampu melarikan diri, terpaksa Soat Peng-say
mengikut pergi.
Di luar adalah serambi panjang yang mengitari rumah
besar, membelok dan berliku dan akhirnya menembus
kesuatu serambi lain yang lurus, pada ujung jalan serambi
yan ini terlihat sebuah pintu bundar, dipandang dari luar,
kelihatan beraneka warna yang semarak, mungkin di balik
pintu sana adalah taman bunga yang indah.
Setelah melalui pintu bulan itu, Peng-say mengendus bau
harum yang memabukkan, ditengah taman bunga
berwarna-warni itu berdiri sebuah rumah mungil. Jalan
yang menuju ke villa itu adalah suatu jalan kecil diapit oleh
tanaman bunga yang mekar semerbak. Untuk melalui jalan
sempit itu terpaksa harus berhimpitan dengan pohon bunga
yang rimbun.
Soat peng-say menyukai bunga yang berwarna-warni itu,
dengan pelahan ia menyiak tumbuhan yang melambai
menghadang di jalan sempit itu, ia kuatir kalau tangkai
bunga akan patah bilamana terpegang terlalu keras.
Si nenek jalan di depan, mungkin kuatir Soat peng-say
mengeluyur pergi maka terkadang dia berpaling ke
belakang. Melihat kelakuan anak muda yang kuatir
mematahkan tangkai bunga itu, segera ia mendengus: "Hm,
Siocia kami terlebih cantik dari pada bunga, bahwa kau
sayang pada bunga, tapi tidak sayang kepada Siocia kami,
hm, memangnya kau kira penghuni Leng-hiang-cay boleh
kau ganggu sesukamu?"
Peng-say terkejut mendengar istilah "Leng-hiang-cay"
atau perpustakaan harum dingin. Tapi mengingat dirinya
tidak berbuat sesuatu kesalahan apapun, ia merasa tidak
perlu gentar, segera ia bertanya: "Kau bilang apa, nenek?
Sedikitpun aku tidak paham!"
Si nenek berpaling, selagi dia hendak mendamperat, tiba-
tiba terdengar bunyi suara kecapi, menyusul mana
terdengar suara orang bernyanyi pelahan, jelas itulah suara
orang perempuan yang merdu. Lagunya sedih
mengharukan.
Peng-say dapat menangkap arti syair lagu itu yang
menyatakan rasa sedih karena ditinggal kekasih. Jadi
perempuan ini sedang merindukan kekasihnya. Lantas
siapakah kekasihnya, apakah lelaki itu seorang yang tidak
punya perasaan?
Selagi Soat peng-say termenung, mendadak si nenek
mendorongnya dan berkata: "Tampaknya kau masih punya
sedikit Liangsim"
Soat Peng-say melengak, jawabnya dengan bingung:
"Aku punya Liangsim apa?. . . ."
"Justeru lantaran kau tidak punya Liangsim sehingga
Siocia kami kau bikin merana, sekarang kucari kau kesini,
tujuanku supaya kau sembuhkan sakit rindu Siocia kami."
tutur si nenek dengan ketus. "Awas, jika tidak kau
sembuhkan Siocia, akan kupenggal kepalamu."
"Kalian salah mengenali orang, hakikatnya aku tidak
kenal Siocia kalian," sahut Peng-say sambil menggeleng.
"Sakit rindu itu jelas aku tidak mampu
menyembuhkannya."
"Bangsat cilik," maki si nenek, "Kau sudah mencuri hati
Siocia kami, sekarang kau bilang tidak kenal dia. Coba
kutanya padamu, masa di dunia ini ada kejadian yang
begini kebetulan. Orang itu mengaku bernama Soat peng-
say, katanya tinggal di istana Kiu-bun-te-tok di Pakkhia,
memangnya ditempat gubernur itu ada dua orang yang
punya nama sama?"
Sampai disini. Peng-say seperti memahami sesuatu, ia
tanya: "O, jadi 'Soat peng-say' itu mengaku bertempat
tinggal di istana Kiu-bun-te-tok Pakkhia?"
"Setan cilik yang tidak punya Liangsim." si nenek
mendamperat pula dengan gusar, "Masa kau melupakan
ucapannya sendiri, tapi Ang-hay-ji tidaklah lupa, dengan
jelas dia mendengar apa yang pernah kau katakan kepada
Siocia kami."
Soat Peng-say jadi teringat pula kepada keterangan anak
berbaju merah itu, ia bergumam: "Lebih tinggi sedikit?
Ehm, memang agak lebih tinggi. . . ."
Tapi si nenek tidak gubris kepada gumamannya, ia
berkata pula: "Aku tidak perdulikan kau tulen atau palsu,
pokoknya kau harus menyembuhkan penyakit Siocia, kalau
tidak, akan kupereteli tubuhmu dengan lima ekor kuda dan
kupenggal kepalamu!"
Diam-diam Peng-say menggerutu, pikirnya: "O, Cin
Yak-leng, gara-gara perbuatanmu, akulah yang kau bikin
celaka. Jika terhadap orang lain mungkin kakak Peng masih
sanggup menghadapinya, tapi memusuhi orang Leng-hiang-
cay, aku menjadi mati kutu."
Di dunia persilatan jaman ini terkenal sebutan "Lam-han
Pak-cay", yaitu nama dua aliran persilatan yang sangat
disegani. Leng-hiang-cay adalah Pak-cay yang dimaksudkan
itu. Konon ilmu pedang Pak-cay tiada bandingannya di
duna persilatan, bahkan Bu-tong-pay yang termashur
selama beratus tahun karena ilmu pedangnya juga tidak
lebih hebat daripada ilmu pedang Pak-cay.
Waktu Soat Peng-say tamat belajar dan mau berpisah
dengan Tio Tay-peng, pernah Tay-peng memperingatkan
kepadanya agar jangan sekali-kali bermusuhan dengan anak
murid Pak-cay, lebih-lebih jangan pamer ilmu pedangnya
dihadapan anak murid Pak-cay, sebab Co-pi-kiam-hoat
(ilmu pedang tangan kiri) yang diajarkan itu boleh
dikatakan tiada artinya sama sekali bagi anak murid Pak-
cay.
Meskipun pesan itu diam-diam membikin penasaran
Soat peng-say, tapi fakta telah membuktikan dia memang
jauh bukan tandingan si nenek. Padahal nenek itu tidak
terkenal didunia Kangouw, paling-paling cuma kaum
hamba Pak-cay saja. Kalau budaknya saja selihay itu,
apalagi majikan atau ahli-waris Pak-cay?
Kini Soat Peng-say sudah tahu orang yang memalsukan
dirinya dan main roman dengan Siocia yang disebut si
nenek jelas adalah karya Cin Yak-leng. Tapi ia kuatir
bilamana hal ini diceritakan terus terang, bisa jadi dari malu
sang Siocia akan menjad marah, maka ia tidak
membicarakannya dengan si nenek, a pikir biarkan saja,
yang penting dirinya sendiri memang Soat Peng-say tulen,
apa yang akan terjadi nanti akan dihadapinya menurut
gelagat.
Maka ia tidak banyak omong lagi dan ikut si nenek
menuju ke villa yang indah itu.
Dilihatnya bagian depan villa itu, pada kanan kirinya
masing-masing ada sebuah ruangan duduk yang
menghadap ke utara, ditengahnya adalah sebuah ruangan
panjang yang menjurus keujung sana dibatasi dengan
sebuah dinding terkapur putih, kalau dipandang ke selatan
melalui lubang-lubang dinding, di dalamnya adalah sebuah
lapangan yang luas dengan macam-macam alat latihan
Kungfu, tentulah disini se-hari2 penghuni villa ini berlatih.
Soat Peng-say dibawa ke sebuah kamar yang terletak
dibelakang ruangan duduk sebelah kanan, kemudian
mendengar suara, seorang pelayan menyambut keluar dan
bertanya: "Siapa?"
Dan ketika melihat si nenek membawa seorang lelaki
yang tak dikenal, selagi pelayan itu hendak bertanya pula,
cepat si nenek mengedip dan mendesis: "Ssst. . . ."
Pelayan itu seperti menyadari sesuatu, ia mengangguk
dan bertanya dengan suara tertahan: "apakah dia ini Soat
Peng-say?"
Si nenek mengangguk perlahan dan memberi tanda agar
pelayan lain yang berada didalam kamar dipanggil keluar.
Pelayan ini tahu maksud si nenek agar Soat peng-say
dapat bertemu sendirian dengan Siocia mereka, maka
dengan mengulum senyum ia lantas berseru: "Siau Tho,
Siau Tho, lekas keluar, dipanggil Lolo (nenek)!"
Pelayan yang bernama Siau Tho itu tampak keluar,
tanpa memberi kesempatan bicara padanya, pelayan yang
pertama lantas menariknya pergi.
Segera si nenek menarik muka dan berkata kepada Soat
peng-say dengan suara tertahan: "Sekarang kuserahkan
padamu!"
Bahwa Soat peng-say diharuskan menemui seorang nona
yang belum dikenalnya didalam suatu kamar tersendiri,
betapapun ia merasa kikuk dan serba susah, cepat ia
menggoang tangan dan berkata: "Jangan. . . . . ."
Tapi si nenek tidak memusingkan apa yang dipikir Soat
Peng-say, sekali dorong, kontan Peng-say terhuyung-
huyung masuk kedalam kamar, lalu pintu kama dirapatkan.
Setelah berdiri tegak didalam kamar, Soat peng-say
meng-amat2i kamar itu. Sungguh sebuah kamar yang
sangat luas dan indah, setiap meja kursi berukir hasil karya
seni yang bernilai tinggi, rak buku yang bersusun-susun,
sebagian besar tertaruh kitab, bagian lain diberi benda-
benda antik pajangan. Dinding sekeliling kamar bergantung
lukisan dari pelukis ternama, terdapat pula kecapi dan
pedang yang bergantungan di dinding.
Jelas inilah sebuah kamar baca, manabisa kamar tidur
orang perempuan?
Hati Peng-say rada tenteram, ia coba mendekati rak
buku, selagi hendak mengambil salah satu kitab itu untuk
dibaca, tiba-tiba didengarnya sayup-sayup suara langkah
orang.
Ia coba memandang kesamping sana, tadi tak
diperhatikannya, baru sekarang dia melihat jelas kamar
baca ini ada pintu tembus kedalam sana dan suara langkah
orang berkumandang dari dalam situ.
Soat Peng-say dapat menduga siapa yang datang sini, ia
menjadi tegang, cepat ia duduk pada sebuah kursi malas
yang berada disebelahnya. Lagaknya itu mirip seorang
tamu yang sedang menunggu munculnya tuan rumah.
Dari tempat duduknya itu ia dapat melihat orang yang
bakal muncul, tapi orang yang datang itu belum pasti dapat
melihatnya dengan segera.
Sejenak kemudian, seorang perempuan muda berbaju
putih tipis melangkah keluar, rambutnya yang panjang
hitam gompiok semampir dibelakang pundak sehingga
bajunya yang memang putih kelihatan lebih putih dan
rambutnya yang hitam tampak lebih pekat. Tapi lantaran
dia merangkul sebuah kecapi sehingga mukanya tidak
kelihatan, hanya nampak potongan tubuhnya yang
semampai serta pinggangnya yang kecil.
Nona itu mendekati meja panjang yang terletak didepan
jendela dan menaruh kecapinya dengan pelahan, "cring-
cring", sekenanya dia menyentil senar kecapi, lalu terdengar
dia menghela napas pelahan.
Meski si nona berdiri membelakangi Soat Peng-say
sehingga anak muda ini tidak melihat bagaimana air
mukanya, tapi dari gerak-geriknya dapat diketahuinya si
nona sedang kesal dan murung, hal ini semakin terungkap
dari helaan napasnya tadi.
Diam-diam Peng-say membayangkan betapa Cin Yak-
leng telah membikin susah si nona, ia tahu sebabnya Cin
Yak-leng menyamar sebagai lelaki tidak bertujuan
mencelakai orang lain, tapi mengakibatkan nona ini terpikat
dan merindukan dia, hal ini adalah tidak pantas, mestinya
penyamarannya itu harus dijelaskan sejak mula.
Ada maksud Peng-say hendak menyapanya, tapi ia
bngung sebutan apa yang harus digunakannya, karena itu
tanpa terasa ia berdehem pelahan.
Sudah tentu nona itu tidak menduga-duga di kamarnya
ada orang lain, dengan terkejut ia berpaling. Sekarang
dapatlah Peng-say melihat wajahnya, ternyata cantiknya
luar biasa dan sukar dilukiskan. Belum pernah Peng-say
melihat perempuan secantik ini.
Sekalipun Cin Yak-leng juga cantik, tapi belum apa-apa
kalau dibandingkan nona jelita yang sekarang ini. Lebih-
lebih raut wajahnya yang ke-kurus2an dan pandangannya
yang sayu, melankolis, kata orang jaman kini, sungguh
menimbulkan rasa kasih-sayang setiap orang yang
memandangnya.
Setelah melengak, kemudian si nona melihat Peng-say
yang rada-rada mirip orang yang telah mencuri hatinya, tapi
belum pernah dikenalnya, entah cara bagaimana bisa
berada didalam kamar bacanya, segera ia berkerut kening
dan menegur dengan kurang senang: "Siapa kau? Siapa
suruh kau duduk disini? Keluar, lekas keluar!"
Belum lagi Soat Peng-say memperkenalkan diri untuk
menjawab pertanyaan "siapa kau" dan baru saja terdengar
"siapa suruh kau duduk disini", menyusul lantas kata-kata
mengusir, hakikatnya Soat peng-say tidak diberi
kesempatan untuk bicara.
Tapi watak Peng-say memang sabar, biarpun oran bicara
kasar padanya, dia tetap tenang-tenang saja. Tapi orang
mengusirnya, jika tidak keluar, rasanya tidak pantas karena
dirinya masuk kesitu tanpa permisi.
Karena itulah ia lantas berbangkit, tidak terburu-buru
juga tidak pelan-pelan, lalu menuju ke pintu kamar dengan
sewajarnya.
Tapi ketika pintu terbuka, dilihatnya si nenek berdiri
menghadang ditengah pintu, Peng-say memberi tanda
dengan merangkap kedua tangannya didepan dada,
maksudnya memohon si nenek memberi jalan baginya.
Dengan kurang senang si nenek berkata: "Kenapa
disuruh keluar segerapun kau keluar?!"
Di balik ucapannya ini jelas si nenek menganggap Soat
peng-say terlalu penurut dan melupakan maksud tujuan
kedatangannya ini.
Segera Peng-say bermaksud menjawab, tapi cepat si
nenek menambahkan pula: "Masuk dulu dan bicara
belakang!"
Mendadak nona tadi berkata: "Liok-ma (mak Liok),
apakah kau sudah pikun? Tempatku ini mana boleh
sembarangan didatangi orang luar?"
Lolo atau nenek itu sejak ecil sudah menjual diri sebagai
budak di keluarga Sau, penguasa Pak-cay ini. Aslinya si
nenek she Liok, hanya sang majikan saja yang suka
memanggilnya Liok-ma, orang lain, terutama kaum hamba
tidak berani menyebutnya demikian melainkan
memanggilnya Lolo.
Sepanjang hidup Liok-ma telah melayani kakek dan ayah
sang Siocia, iapun menyaksikan kelahiran Siocia asuhannya
ini, sesudah besar, kasih-sayangnya tidak kurang daripada
ayah-bunda kandung sang Siocia sendiri.
Maka dengan tertawa Liok-ma menjawab: "Dia bukan
orang luar, dia inilah Soat peng-say!"
"Siapa bilang dia ini Soat Peng-say?" jengek si nona.
"Ang-hay-ji yang bilang begitu, ia sendiri juga mengaku
bernama Soat peng-say," ujar Liok-ma.
"Tidak nanti kupangling kepada Soat peng-say, dia ini
jelas bukan Soat peng-say," kata si nona.
Liok-ma menjadi gusar, ia meraung terhadap Soat Peng-
say: "Kurang ajar, anak busuk, jadi kau berdusta kepada
Lolo?!" Berbareng sebuah tamparan segera akan mampir di
muka Soat peng-say.
Untung pada saat itu juga mendadak seorang
membentak: "Nanti dulu!"
Liok-ma melengak dan berpaling, dilihatnya seorang
Kongcu cakap diantar datang oleh Ang-hay-ji.
Hampir saja Soat peng-say berteriak: "Adik Leng", tapi
dilihatnya Cin Yak-leng mengedip padanya serta menegur
dengan tertawa: "Ai, bikin susah kau, Toako!"
Dalam pada itu terdengar Ang-hay-ji atau si anak berbaju
merah, sedang berseru: "He, nenek, inilah Soat Peng-say
yang tulen, yang palsu itu memang benar rada tinggi
sedikit."
Entah darimana Cin Yak-leng mendapatkan seperangkat
pakaian anak sekolahan, setelah berdandan, jadilah dia
seorang Kongcu yang cakap, sambil mengebas kipas lempit
dia mendekati Soat Peng-say dengan tersenyum simpul.
Dipandang sepintas lalu Cin Yak-leng sekarang memang
rada-rada mirip Soat peng-say, waktu dia meninggalkan
rumah dan berkelana mencari anak muda itu, lantaran
namanya sendiri tidak mirip nama orang lelaki, maka
selama itu dia menggunakan namanya Soat peng-say. Dia
berkenalan dengan Siocia dari Pak-cay ini pada waktu
malam sehingga sukar dibedakan dengan jelas antara lelaki
dan perempuan. Kejadian itu sudah berselang setengah
tahun. Ang-hay-ji tidak ingat lagi dengan, maka ketika
melihat Soat Peng-say yang tulen, tanpa ayal dia bilang
inilah Soat Peng-say yang sedang dicarinya.
Padahal kalau dibandingkan, sedikitnya Cin Yak-leng
lebih pendek satu kepala daripada Soat Peng-say, tapi Ang-
hay-ji hanya bilang "agak lebih tinggi sedikit" saja.
Melihat Cin Yak-leng sudah dapat bergerak dengan
bebas, segera Soat Peng-say bertanya: "Apakah sudah kau
minum Leng Ju-coan?"
Yak-leng kuatir Liok-ma mengetahui siapa dia
sebenarnya, cepat ia berdehem dan memegang tangan nona
cantik tadi dengan rayuan mesra: "Enci Kim-leng, setengah
tahun tidak bertemu, sungguh sangat merindukan daku."
Siocia yang bernama Sau Kim-leng itu ingin menarik
tangannya, tapi tidak melepaskannya dengan sungguh-
sungguh, ucapnya dengan menunduk malu: "Mengapa
orang itu memalsukan namamu, dia pernah apamu?"
"Dia kakakku, sesungguhnya dia inilah yang bernama
Peng-say, aku sendiri bernama Soat Yak-leng," jawab Yak-
leng. "Karena nama Yak-leng terasa kurang gemilang, maka
diluaran aku menggunakan nama kakakku."
Sau Kim-leng mengangkat kepalanya dan tersenyum
kikuk terhadap Soat Peng-say, katanya: "Kiranya engkau
adalah kakaknya, silahkan masuk kemari, silahkan!"
Habis berkata ia berpaling dan memandangi Cin Yak-
leng dengan mesra.
Kiranya tempo hari Cin Yak-leng menyaru sebagai
lelaki, tapi ia lupa beda antara lelaki dan perempuan, dia
bersikap mesra dengan Sau Kim-leng yang baru
dijumpainya. Tak tersangka Sau Kim-leng juga tidak dapat
membedakan mana jantan dan mana betina, ia anggap Cin
Yak-leng sebagai kekasihnya, setengah tahun berpisah, dia
jatuh sakit rindu bagi si "dia".
Kini melihat si "dia" ternyata tidak ingkar janji dan
masih ingat padanya, Sau Kim-leng tertawa senang,
ucapnya dengan lembut: "Kau ini memang pintar omong
yang manis2, katamu merindukaktu segala, padahal Siau-
ngo tay hanya berjarak tiga hari perjalanan dari rumahmu,
tapi sudah setengah tahun kau tidak datang menjenguk
diriku. Aku sendirikan anak perempuan dan tidak bebas
pergi mencari kau. Umpaama kuberani mencari kau,
jangan2 akan kau pandang hina pula. Yang benar akulah
yang tidak pernah lupa, tapi kau yang telah melupakan
diriku. Kalau tidak, mengapa janji tiga bulan baru sekarang
kau datang lagi?"
Ang-hay-ji masih ingusan, ia tidak tahu seluk-beluk
urusan muda-mudi, mendadak ia menyela: "Malahan
datangnya kemari harus diringkus bersama kakaknya oleh
Lolo."
Seketika Sau Kim-leng melenggong, air matapun
bercucuran, ucapnya degan tergagap: "Jadi-jadi engkau . . .
."
Cepat Cin Yak-leng berkata dengan menyengir: ”O, Cici
yang baik, janganlah marah dulu. Sesungguh aku terlalu
sibuk dan tidak sempat berkunjung kemari. Selagi aku
hendak berangkat, entah mengapa Liok-ma terus main
ringkus dan menculikku ke sini."
Liok ma menjadi curiga, pikirnya: "Yang kubawa kemari
hanya Soat Peng say, mana pernah kupaksa orang ini ikut
ke sini?" Karena itu, ia lantas mengawasi Cin Yak-leng
dengan cermat.
Tampaknya rasa menyesal Sau Kim-leng belum hapus,
katanya dengan sayu: "Jangan kau bohongi diriku lagi.
Kalian putera orang kaya dan berpangkat, biasanya tentu
tidak cukup hanya mempunyai seorang kekasih, mana
engkau menaruh perhatian terhadap perempuan gunung
macamku ini. Biarlah kukatakan terus terang dan tidak
perlu malu2, sejak berpisah, siang dan malam senantiasa
kuharapkan kedatanganmu. Asalkan mendengar orang
berjalan diluar kamar lantas kusangka kau telah datang.
Siapa tahu tunggu punya tunggu, bayanganpun tetap tak
nampak. Bilamana kuterjaga pada waktu tidur, aku lantas
menangis mengenangkan dirimu. Sampai2 Siau Tho bilang
aku ini bodoh, belum apa2 sudah sakit rindu kepada lelaki
yang baru dikenalnya."
Mendadak Liok-ma menjengek: "Hm, hakikatnya dia
bukan lelaki!"
Rupanya setelah diamat-amati sejak tadi, baru sekarang
dia mengetahui wajah asli Cin Yak-leng. Tapi Sau Kim-leng
mengira si nenek sengaja ber-olok2, maka tidak
diperhatikannya.
Melihat sang Siocia tidak percaya pada ucapannya.
segera si nenek bertanya kepada Ang-hayji: "Dimana dia
mendapatkan pakaian laki2 itu?"
Ang-hay-ji masih kecil, hakikatnya dia tidak tahu urusan
laki2 dan perempuan dan apa bedanya bagi sang bibi, maka
dengan tertawa ia menjawab secara lugu: "Menurut
perintah Lolo, kuberi minum dia sebotol Leng-ju-coan,
setelah siuman dia lantas tanya kakak Peng-nya, kubilang
Soat Peng-say telah dibawa Lolo menemai Kokoh (bibi).
Entah sebab apa, dia mendesak agar kucarikan seperangkat
pakaian anak pelajar baginya. Kuingat Sau Tiong
menyimpan seperangkat pakaian baju baru, aku tidak tahu
apakah itu pakaian anak pelajar atau bukan, tapi
kuambilkan juga pakaian itu. Selesai dia berdandan barulah
kutahu dia inilah Soat Peng-say yang sebenarya."
Sau Tiong yang dimaksudkan Ang-hay-ji adalah seorang
budak muda keluarga Sau, dia sering disuruh belanja ke
kota Pakkhia. Anak muda umumnya suka necis, dia sering
melihat kaum Kongcu berdadan dengan perlente, maka
diam2 iapun memesan seperangkat baju kaum Kongcu
tersebut, tapi belum pernah dipakainya selama ini dan
selalu disimpan saja, hal ini diketahui oleh Ang hay-ji,
maka untuk memenuhi permintaan Cin Yak-leng, dia lantas
mencuri pakaian baru Sau Tiong itu.
Keterangan Ang-hay-ji itu cukup jelas, tapi tiada sepatah
katapun membongkar penyamaran Cin Yak-leng.
Maka si nenek lantas mendesak pula: "Sebelum memakai
baju Sau Tiong ini, bagaimana bentuknya?"
"Serupa Kokoh," tutur Ang-hay ji dengan tertawa ngikik.
"Panjang rambutnya, cakap benar!"
Sampai di sini, air muka Sau Kim-leng menjadi pucat
seketika, matanya yang jeli itu menatap tajam ke tubuh Cin
Yak-leng. pandangnn yang gemas, sinar matanya itu se-
akan2 ingin menembus badan Cin Yak-leng
Diam2 Soat Peng-say berkuatir melihat gelagat tidak
menguntungkan, tapi seketika iapun tidak tahu cara
bagaimana memecahkan kesukaran didepan mata ini.
Cin Yak-leng tidak tahu kelihayan "Pak cay" yang
terkenal itu, ia pikir bila penyamarannya sudah terbongkar,
maka biarlah nanti dijelaskan sekalian secara terus terang,
toh bukan maksudku hendak berdusta. tapi Sau Kim-leng
sendiri yang mengira dia sebagai lelaki. Namun ia pun tahu
si nenek tidak boleh diremehkan, diam2 ia memberi tanda
kepada Soat Peng-say, maksudnya menyuruh anak muda
itu melarikan diri bilamana gelagat tidak menguntungkan.
Namun Soat Peng say menggeleng pelahan diam2 dia
mengeluh dalam hati: "Jangankan aku tidak mampu lari,
seumpama gerak-gerikku tanpa alangan apapun juga aku
tidak sanggup lolos didepan mata si nenek."
Tak tersangka Cin Yak-leng malah salah sangka, ia tidak
tahu Hiat-to Soat Peng-say baru terbuka akibat tutukan si
nenek yang lain daripada yang lain itu, dalam waktu satu
dua hari anak muda itu tidak dapat mengerahkan tenaga
dan tidak dapat berjalan cepat, ia mengira gelengan kepala
Soat Peng-say itu menyuruhnya jangan kuatir.
Sebab itulah ia lantas berkata dengan terus terang, "Cici
yang baik, kau tahu anak perempuan seperti kita ini tentu
tidak leluasa bepergian, untuk menghindari gangguan lelaki
busuk, paling baik kalau kita menyamar. Memang salah
adik, tidak kukatakan hal ini kepadamu sehingga Cici . . ."
Tidak seharusnya Yak-leng merngeluarkan suara tertawa
yang bernada geli, keruan air muka Sau Kim-leng seketika
berubah hijau, mendadak ia menarik tangannya dan
menyurut mundur beberapa langkah, saking marahnya
sampai tubuhnya gemetar, ia tuding Yak-leng dan berkata
dengan suara ter-putus?: "Kau. . . kau menipu aku dan
sekarang. . . sekarang kau meng-olok2 diriku pula. . . "
Rasa menyesal. dongkol, malu dan benci bercampur
aduk, Sau Kim-leng merasa keterus-terangannya
mengungkapkan isi hatinya tadi membuat dirinya
kehilangan muka habis-an2, serentak ia membalik tubuh
dan berlari kekamar tidurnya, tapi baru beberapa langkah ia
lantas jatuh tersungkur.
Cepat Liok-ma melayang kesana dan membangunkan
Sau Kim-leng, katanya dengan penuh kasih sayang: "Siau
Leng, jangan sampai terganggu kesehatanmu, biar Liok-ma
melampiaskan dendammu."
'Siau Leng" atau Leng cilik adalah nama kecil Sau Kim-
leng, sebagai budak tiga turunan keluarga Sau, kedudukan
Liok-ma jelas berbeda daripada budak umumnya, dia selalu
memangggil Sau Kim-leng dengan nama kecil.
Setelah mendudukkan Sau Kim-leng pada sebuah kursi,
lalu Liok-ma berpaling, dengan ketus dan dingin ia berkata:
"Soat Peng say, kalian kakak beradik ingin mati dengan
cara bagaimana?"
Cin Yak-leng tidak menduga urusan akan berubah
menjadi segawat ini, ia menggeleng dan menjawab: "Liok-
ma, jangan kau takut-takuti orang, kesalahan kami tidak
perlu harus ditebus dengan kematian."
"Hm, kau kira anggota keluarga Sau Pak cay boleh
dihina sesukamu?" jengek Liok-ma. "jangankan Siocia kami
telah kau bikin susah sehebat ini, cukup seorang budak
keluarga Sau kau hina sudah berhalangan menghukum mati
padamu."
Cin Yak-leng berkerut hidung dan berkata "Wah, mana
begitu galak, sedikit2 lantas mau membunuh orang. Apakah
kalian tidak tahu undang-undang?"
"Undang2? Hm, si tua raja berharga berapa peser dimata
keluarga Sau Pak-cay kami?!" jengek Liok-ma.
"Ai. tampaknya kita telah ketemu bandit," ujar Cin Yak-
leng sambil menjulur lidah. "Hayolah Peng koko, lekas kita
pergi saja. Jika tinggal lama disini, jangan2 akan ketularan
bau bandit!"
Dibalik ucapannya ini dia memberi isyarat kepada Soat
Peng-say agar ber-siap2 kabur saja.
Tapi Liok-ma lantas berteriak: "Pergi? Hm, kalian ingin
pergi ke mana?"
Soat Peng-say memandang keluar, dilihatnya kedua
pelayan kamar Sau Kim-leng tadi menghadang di depan
pintu, ia tahu tiada seorang anggota keluarga Sau Pak-cay
yang tak mahir ilmu silat, tapi iapun tidak bermaksud
kabur, ia malahan mendekati orang tua itu dan berkata:
"Lolo, dalam perkara ini memang salah adik perempuanku,
apakah engkau sudi memberi kelonggaran?"
"Aku cuma bertanya kalian ingin mati dengan cara
bagaimana?" jawab Liok-ma dengan ketus.
Mendongkol juga Cin Yak-leng, tanyanya: "Numpang
tanya, ada berapa macam kematian yang kau sediakan?"
"Ada kematian seberat gunung Thay dan ada kematian
seenteng bulu, ada pula kematian yang cepat dan lambat,
boleh kalian pilih," jawab Liok-ma.
Dari Tio Tay-peng pernah Soat Peng say diberitahu
bahwa "Lam-han dan Pak-cay" suka bertindak se-wenang2
dan tiada satupun yang bicara tentang aturan umum.
Karena itulah iapun sungkan untuk banyak berdebat, segera
ia bertanya: "Dari ucapan nenek ini, bolehkah kiranya kami
memilih mati seberat gunung Thay saja?"
Ia pikir, kalau dapat mati dengan gilang-gemilang, maka
cukup berharga rasanya. Cuma tidak diketahui dengan cara
bagaimana mereka menghendaki pelaksanaan kematiannya.
Apalagi inipun suatu titik perputaran, sebab Soat Peng-
say mengira Liok-ma akan menyuruhnya melakukan
sesuatu yang maha sulit sebelum membunuh mereka. Ia
pikir kalau perlu kesempatan ini akan gunakannya untuk
kabur.
Siapa tahu beginilah keterangan Liok-ma: "Jika kalian
memilih mati seberat gunung Thay, maka akan kuberi
kelonggaran kepada kalian dan menganggap kalian sebagai
manusia, mayat kalian akan kami kubur selayaknya. Kalau
tidak, kematian kalian akan berlangsung dengan penuh
penderitaan, setelah matipun kalian akan dianggap seperti
binatang dan dibuang kehutan untuk umpan anjing liar.”
Soat Peng say menggeleng kepala, katanya dengan
gegetun: "O, kiranya sama saja, akhirnya juga mati!"
"Jadi kalian ingin memilih cara yang lain?" jengek Liok-
ma.
"Toh sama2 mati, peduli menderita atau tidak, dikubur
atau tidak, jika sudah mati segalanya habis perkara, hanya
orang tolol yang bicara tentang penguburan secara besar-
an2. bila menjadi isi perut anjing liar kan semuanya
menjadi bersih malah?"
Liok-ma berbalik melengak, ia pikir anak muda ini
ternyata mempunyai kelapangan hati dan pandang
kematian sebagai sesuatu yang wajar. Mendadak, secepat
kilat telapak tangannya menabas pundak Cin Yak-leng.
Tapi selama tujuh tahun berlatih ilmu yang tertera di
Siang-jing-pit-lok ternyata tidak sia2, dengan cepat Cin Yak-
leng miringkan tubuh dan mendak sedikit, "serr", tahu2 ia
sudah menyelinap lewat di bawah tabasan tangan Liok-ma.
Namun Liok-ma memang lihay, sekali menyerang tidak
kena, segera serangan lain menyusul secara ber-tubi2,
telapak tangannya membalik menjadi mencengkeram.
Yak-leng merasa gelagat jelek, bicara tentang kecepatan
jelas bukan tandingan si nenek. sedapatnya ia menggeliat
kesamping dan melangkah mundur, segera ia bermaksud
berkelit pula kesamping.
Tapi pengalaman Liok-ma sangat luas, dia se-akan2
dapat meraba setiap gerakan lawan, mendadak ia berseru:
"Bagus!"
Ternyata sebelah tangannya sudah menanti lebih dulu
pada arah yang hendak dituju Cin Yak-leng jadi si nona
seperti masuk jaring sendiri. Waktu ia merasakan ancaman
bahaya dan hendak melompat mundur, namun sudah
terlambat, tahu2 ia sudah kena dibekuk oleh si nenek.
Sekaligus Cin Yak-leng diangkat dan dikempit oleh si
nenek. "Hm, tak terduga kau juga mahir satu-dua jurus!"
jengeknya.
Karena Hiat-to dan urat nadinya terjepit. meronta sedikit
saja darah terasa bergolak dan sakitnya tidak kepalang,
terpaksa Yak leng tak berani berkutik lagi dan pasrah nasib.
Gerak serangan kedua orang tadi berlangsung. dengan
sangat cepat, hanya sekejap saja Cin Yak-leng sudah
tertawan oleh si nenek, sama sekali Soat Peng-say tidak
sempat memberi pertolongan, apalagi saat ini sebenarnya
Peng-say juga tidak sanggup menolongnya.
"Soat Peng-say," kata si nenek, "anggaplah kau seorang
jantan sejati yang tidak takut mati, tapi adikmu adalah
seorang nona yang lemah-lembut, tidak seperti orang lelaki
yang tahan siksaan. Maka sekarang juga kuharap kau
mendengarkan rintihan sebelum ajalnya."
Mana sanggup Soat Peng-say menyaksikan begitu saja
Cin Yak-leng disiksa. ia menjadi murka dan meraung:
"Kami memilih cara mati cepat saja."
"Ingin mati dengan cepat, boleh, tapi juga tidak cukup
hanya dengan sepatah katamu saja," kata Liok-ma dengan
tertawa ter-kekeh2.
Seperti domba yang akan disembelih, terpaksa Soat
Peng-say bertanya dengan sikap yang minta dikasihani,
"Harus bagaimana lagi?"
"Harus coba melayani cambukku barang seratus jurus.!"
kata Liok-ma.
"Seratus jurus? Mungkin sepuluh jurus saja tidak
sanggup!" demikian pikir Soat Peng-say.
Lantaran dengan mudah dia ditutuk roboh oleh cambuk
Liok-ma, maka Soat Peng-say menjadi kapok dan
meremehkan dirinya sendiri. Ia tidak tahu bahwa Siang-liu-
kiam-boat sesungguhnya bukan sembarangan iimu pedang,
berhasilnya Liok-ma merobohkan dia hanya sekali serang
saja adalah karena dia menyergapnya dari belakang,
bilamana muka berbadapan muka, sebelum ratusan jurus
Liok-ma pasti tidak mampu mengatasinya.
Karena menyangka si nenek sengaja hendak
mempermainkan dia. dengan gusar Soat Peng-say lantas
berkata: "Mau bunuh boleh lekas bunuh, kenapa engkau
sengaja mempermainkan diriku?"
"Huh," jengek Liok-ma, "malam itu tampaknya kau
begitu gagah perkasa. kedua tua bangka she Pang dan Kwa
itupun teramat tidak becus. hanya satu jurus gabungan
pedang ganda saja lantas ketakutan hingga terpaksa melolos
senjata, padahalnya, paling2 juga cuma satu jurus itu saja,
masakah kau masih ada jurus simpanan?"
Rupanya malam itu ketika Soat Peng say menghadapi
Pang Bong-ki dan Kwa Liong berdua, Liok-ma dan Ang-
hay-ji sudah sembunyi di balik pohon maka apa yang terjadi
dapat dilihat oleh Liok-ma dengan jelas.
Waktu itu memang betul Soat Peng-say melolos pedang
kedua, dengan jurus serangan pedang ganda itulah Pang
Bong ki dan Kwa Liong dipaksa mengeluarkan senjata
andalan mereka dan sekadar dapat menyelamatkan diri.
Bilamana Soat Peng-say melancarkan lagi jurus serangan
kedua, pasti Pang Bong-ki dan Kwa Liong akan mandi
darah.
Akan tetapi Soat Peng-say bukan orang yang kejam,
urusan apapun selalu diselesaikan secara baik2, asalkan
Pang Bong-ki dan Kwa Liong mau mundur teratur, maka
iapun tidak ingin melukai mereka, jadi bukannya tidak
mempunyai jurus "simpanan" sebagaimana dikatakan si
nenek tadi.
Namun Peng-say juga tidak membantahnya meski di-
olok2 bahwa dia tidak mempunyai kepandaian lain,
katanya kemudian: "Numpang tanya, apakah sekarang aku
sudah boleh memainkan ilmu pedangku?"
"O, ya, aku sampai lupa, sudah kuduga kau bukan orang
yang lemah, masa takut menghadapi cambukku? Ternyata
memang betul, bukanlah kau tidak mau, tapi tidak dapat,"
lalu si nenek berpaling kearah Ang-hay-ji dan berseru:
"Coba ambilkan sebotol Leng-ju-coan!"
Diam2 Peug-say merasa heran, kalau benar si nenek
akan membunuhnya, buat apa mesti banyak urusan lagi,
apakah dia tidak kuatir kulari setelah minum Leng ju-coan?
Tidak lama datanglah Ang-hay-ji dengan berlari
membawakan sebotol Leng-ju-coan.
"Air ini berkhasiat membangkitkan tenaga dan
menambah semangat, setelah kau minum sebotol, Hiat-to
yang terganggu akan pulih seperti semula," demikian kata
Liok-ma.
Soat Peng-say menerima dan membuka tutup botol,
tanpa sangsi ditenggaknya hingga habis, Sejenak kemudian
ia coba mengatur pernapasan dan mengerahkan tenaga.
Sebelum ini, bila sedikit mengerahkan tenaga, Kin-siok-hiat
yang tertutuk itu lantas kesakitan, tapi sekarang rasa sakit
itu hampir tidak terasa lagi. Waktu dia mengatur napas
lebih lanjut, dalam waktu singkat Kin-siok-hiat itu tiada
halangan lagi dan sembuh sama sekali hanya dengan
sebotol Leng-ju-coan saja.
Dengan lancarnya Kin-siok-hiat, Soat Peng-say dapat
mengerahkan tenaga murninya ke seluruh tubuhnya, kini
dapatlah dia memainkan ilmu pedangnya atau Ginkangnya
tanpa halangan apapun.
Segera Liok-ma berkata pula: '"Siau Tho, pergi kekamar
senjata. bawakan kedua pedang Soat-kongcu kemari."
Ternyata Liok-ma juga sungkan2 sekarang dan menyebut
Peng-say dengan 'S oat-kongcu".
Diam2 Peng-say membatin pantas kedua pedangnya
hilang, kiranya diambil dan disimpan mereka.
Tidak lama kemudian Siau Tho sudah kembali dengan
membawa sepasang pedang. Liok-ma menyuruhnya
menyerahkan kepada Soat Peng-say.
Sudah tentu Sau Kim-leng tidak tahu apa maksud tujuan
si nenek, tapi mereka menduga Liok-ma pasti ada
perhitungan. kalau tidak, jika menuruti wataknya yang
keras, sejak tadi tentu anak muda itu sudah dibunuhnya,
masakah perlu buang tenaga mengajaknya bertanding
segala.
Setelah memegang senjata yang biasa dipakainya, Soat
Peng-say merasa mantap, seumpama sekarang akan mati
terbunuh juga berharga, paling sedikit kan masih dapat
melawan dan tidak mati konyol.
Lalu Liok-ma berkata pula: "Siau Tho, bawa nona Soat
kesana."
Mereka menyangka Cin Yak-leng benar2 adik kandung
Soat Peng say, sama sekali mereka tidak tahu bahwa Cin
Yak-leng cuma omong asal omong saja, mana dia she Soat
segala.
Kepandaian Siau Tho masih cetek, dia kuatir tidak
mampu mengatasi Cin Yak-leng. maka waktu
menyingkirkan nona itu, lebih duiu ia tutuk Ciang-bun-biat
sehingga nona itu jatuh pingsan. Habis itu ia memondong
Yak-leng dan mundur ke samping Sau Kim-leng.
Terdengar Liok-ma memberi pesan lagi: "Bilamana Soat-
kongcu ingin kabur, sekali hantam boleh kau hancurkan
batok kepala nona Soat!"
Sau Tho mengiakan.
Tindakan ini sungguh amat keji. Kecuali Soat Peng-say
tidak menghiraukan mati hidup Cin Yak-leng lagi, kalau
tidak, biarpun dia dapat mengalahkan Liok-ma tetap tidak
daptt menyelamatkan Yak-leng, betapapun dia tetap tak
dapat pergi begitu saja.
Peng-say bertekad akan menempur si nenek dan
berharap akan timbul keajaiban. Jika dia suruh lari
sendirian dan meninggalkan Cin Yak leng, jelas hal ini
tidak sudi diperbuatnya. Bilamana keajaiban bisa timbul,
tentu mereka berdua ada harapan akan hidup, kalau tidak,
biarpun mati dalam pertempuran juga tidak sia2 lagi.
Segera Peng-say bertanya: "Apakah disini kita
bertempur?"
Cambuk kulit Liok-ma terbelit di pinggangnya, begitu
dilepaskan, "tar, tarr", segera ia mengayun cambuknya
beberapa kali, ia menyingkirkan meja-kursi yang berdekatan
sehingga bagian tengah terluang beberapa meter persegi.
"Cukup luas tidak?" tanya si nenek dengan ketus.
-ooo0dw0ooo-

= Apa maksud tujuan Liok-ma mengajak bertanding


seratus jurus dengan Soat Peng say?
= Ada hubungan apa antara ilmu pedang tangan kiri
Soat Peng-say itu dengan keluarga Sau yang terkenal
sebagai aliran Pak-cay itu?
= Benarkah Soat Peng-say anak Tio Tay-peng?
= Bacalah jilid selanjutnya =
-ooo0dw0ooo-

Jilid 5

"Cukup," jawab Peng-say sambil menyusupkan tangan


kanan keikat pinggangnya, tangan kiri memegang pedang
yang masih bersarung itu dan terlintang didepan dada
sebagai tanda menghormat. Lalu ia menyambung pula:
"Silakan!"
Sau Kim-leng menjadi heran, Soat Peng-say membawa
dua pedang, tapi tangan kanan justeru tidak digunakan
melainkan dimasukkan pada ikat pinggang. Ia menganggap
sikap Soat Peng-say ini terlalu takabur dan suatu
penghinaan.
Liok-ma sendiri meski tidak tahu sebab apa anak muda
itu mengikat tangan kanannya, tapi ia tahu pasti bukan
maksud Peng-say meremehkan dia. Ia pikir kalau orang
memang bertangan satu masih dapat dimengerti, tapi kedua
tanganmu tiada cacat sedikitpun, namun sengaja
menggunakan satu tangan, apakah ini tidak mencari susah
sendiri?
Ia tidak tahu bahwa guru Soat Peng-say justeru cuma
bertangan satu, meski Soat Peng-say sendiri bertangan dua,
tapi akibat belajar selama lima tahun pada Tio Tay-peng,
tangan kanannya hampir kehilangan daya-guna sama
sekali, seumpama tidak diikat juga tiada gunanya, bahkan
akan menjadi pengalang malah.
Liok-ma tidak suka bicara tentang peraturan bertanding
segala, begitu Soat Peng-say menyilakan tanpa sungkan2 ia
terus ayun cambuknya dan menyabat kepinggang anak
muda itu.
Ketika cambuk hampir menyentuh tubuh Soat Peng-say.
sekejap itu sarung pedang yang berwarna hitam itupun
mencelat kesamping, belum lagi sarung pedang itu jatuh ke
lantai, sekaligus Soat Peng say sudah bergebrak tujuh atau
delapan jurus dengan si nenek, tapi setiap jurus serangannya
selalu mengincar cambuk lawan.
Dengan sendirinya Liok-ma tidak membiarkan
cambuknya ditabas Soat Peng-say, asal pedang anak muda
itu memapas, segera ia tarik kembali cambuknya dan ganti
serangan.
Namun Soat Peng-say tidak berharap akan melukai
lawan. yang diincar justeru melulu cambuk sinenek saja. Ia
tahu tidaklah mudah untuk melukai Liok-ma, jalan yang
baik adalah memapas cambuknya agar serangan si nenek
selalu gagal setengah jalan, akhirnya bukannya menyerang
lagi tapi harus bertahan. Dengan demikian seratus jurus
dengan mudah akan dicapainya.
Sudah tentu pertarungan cara begini bukan kehendak
Liok-ma, dia masih mempunyai rencana lain. Ia lihat Soat
Peng-say tidak mengeluarkan ilmu pedang yang digunakan
menghadapi Pang Bong-ki dan Kwa Liong tempo hari, tapi
melulu mengandalkan kecepatan pedangnya untuk
memapas cambuknya. Akhirnya ia menjadi tidak sabar, ia
pikir bolehlah kau papas cambuk ini jika ini yang kau
inginkan.
Maka ketika pedang Soat Peng-say menabas lagi,
seketika ujung cambuk Liok-ma terpapas satu bagian.
Pertandingan antara jago silat kelas tinggi, bila senjata
terusak, hal ini berarti kalah Tapi Liok-ma tidak terikat oleh
peraturan demikian, ia tidak mau mengaku kalah,
Cambuknya berputar semakin kencang dan selalu
mengincar Hiat-to penting di tubuh Soat Peng-say.
Ini memang bukan pertandingan, tapi pertarungan maut,
hanya ada mati atau hidup. Liok-ma tidak mau mengaku
kalah, terpaksa ia harus merobohkannya. Tapi cambuk
Liok-ma itu cukup panjang. bahkan berjaga dengan sangat
rapat, tentu tidak mudah bagi Soat Peng-say untuk
mendekatinya.
Ia pikir bilamana cambukmu kupapas sedikit demi
sedikit, akhirnya cambukmu akan terpapas habis, lalu apa
yang kau gunakan untuk bertahan?
Berpikir demikian. Soat Peng-say tidak mengeluarkan
gerakan Siang liu-kiam-hoat lagi, ia sengaja keras lawan
keras, cambuk lawan disambut dengan pedangnya, maka
setelah belasan gebrak lagi, kembali ujung cambuk Liok-ma
terpapas belasan potong.
Kini cambuk panjang si nenek yang semula lebih dua
tombak itu tersisa lima-enam kaki saja, panjangnya
sekarang hampir sama dengan pedang Soat Peng-say.
"Coba kau papas lagi cambukku!" mendadak Liok-ma
membentak.
Soat Peng-say pikir kalau cambuk lawan sudah
ditabasnya belasan kali, apa susahnya jika ditabas sekali
lagi.
Ia kuatir si nenek ada jurus serangan istimewa yang
dapat mengelakkan tabasan pedangnya, maka ketika ia
memapas pula, yang digunakan adalah satu jurus Pedang
Kiri ajaran Tio Tay-peng.
Tak terduga serangan Liok-ma tiada sesuatu perubahan
yang aneh, bahkan dengan mudah membiarkan cambuknya
ditabas pedang Soat Peng-say. Walaupun tertabas dengan
telak, tapi sekali ini cambuk tidak terpapas putus,
sebaliknya seperti menabas pada sepotong kulit tebal dan
menimbulkan suara "bluk".
Soat Peng-say terkejut, tak diduganya sedemikian lihay
Lwekang si nenek sehingga cambuk yang lemas itu dapat
dikeraskan dan tidak mempan ditabas pedang.
Karena itu, ia tahu tidak nanti pedangnya dapat menabas
putus lagi cambuk lawan, ia ingin menang dengan jurus
serangan ilmu pedang saja. Segera gerak pedangnya
berubah, ber-turut2 dimainkannya jurus ilmu pedang tangan
kiri ajaran Tio Tay-peng itu.
Soat Peng-say tidak tahu bahwa Co-pi-kiam-hoat atau
ilmu pedang tangan kiri hanya setengah bagian dari Siang-
liu-kiam-hoat yang termashur.
Dahulu Soat Ih-nio dan Tio Tay-peng masing2
menemukan setengah bagian ilmu pedang dua aliran itu,
kebetulan Tio Tay-peng buntung lengan kanannya dan yang
diperolehnya juga sebagian ilmu pedang yang dimainkan
dengan tangan kiri. Sebaliknya tangan kiri Soat Ih-nio
tertabas kutung dan mendapatkan pelajaran ilmu pedang
tangan kanan.
Selama lima tahun Soat Peng-say belajar ilmu pedang
tangan kiri dan selama itu Tio Tay-peng tidak pernah
bercerita tentang saling mengutungi sebelah lengan masing2
dengan Soat Ih-nio itu, maklum, ia kuatir Soat Peng-say
akan memandang rendah perbuatannya itu, dengan
sendirinya ia tidak suKa menceritakan niat serakahnya yang
hendak mengangkangi sendiri kitab pusaka Siang-liu-kiam-
hoat dahulu itu.
Selain itu Tio Tay-peng juga tidak menjelaskan bahwa
dia sebenarnya adalah ayah Soat Peng-say, ia hanya
menurunkan segenap ilmu pedang yang dipelajarinya
selama belasan tahun itu kepada Soat Peng-say. Ia pikir:
"Sehari menjadi gurunya, selama hidup seperti ayahnya.
Kalau dapat menjadi guru dan murid, untuk apa mesti
bicara tentang hubungan ayah dan anak jika akibatnya
hanya akan menimbulkan antipati si anak setelah
mengetahui perbuatannya mengutungi lengan kiri
ibundanya?"
Sudan tentu tak pernah terbayang olehnya bahwa
sesungguhnya Soat Peng-say bukanlah anaknya. Ibu Soat
Peng-say yang juga telah meninggal dunia itu mempunyai
dua tangan yang utuh dan baik tanpa kurang apapun.
Begitulah, setengah bagian Siang-liu-kiam-hoat yang
berhasil diyakinkan Soat Peng-say itu ternyata tidak mampu
mengalahkan Liok-ma, sebaliknya cambuk si nenek yang
kini tersisa pendek itu telah dimainkannya menurut ilmu
permainan pedang. Ia menusuk, menabas, menyabat,
menutul, semuanya bergaya pedang, bahkan jurus
serangannya sangat lihay, sedikitpun tidak lebih asor
dibandingkan ilmu pedang Soat Peng-say.
Ilmu pedang "Pak-cay" terkenal tiada tandingannya
didunia ini, sekarang Liok-ma menggunakan cambuk
sebagai pedang, tenaga dalamnya sangat hebat, namun
begitu permainan cambuk bergaya pedang itupun terbatas
begitu saja dan tak dapat mengalahkan Soat Peng-say.
Diam2 Peng-say heran, pikirnya: "Menurut Suhu,
katanya Co-pi-kiam-hoat tidak ada artinya bagi anak murid
Pak-cay, tampaknya sekarang hal itu tidaklah benar,
paling2 hanya dapat dikatakan selisih tidak banyak dan
tidak boleh meremehkan pihak lain."
Dalam pada itu Soat Peng-say sudah selesai memainkan
Co-pi-kiam-hoat yang meliputi 49 jurus itu. Tapi keduanya
masih tetap sama kuat.
Mereka bertempur dengan penuh perhatian tanpa
memikirkan urusan lain, orang yang menonton juga
memusatkan perhatian pada pertarungan mereka. siapapun
tidak melihat air muka Sau Kim-leng yang berubah hebat
karena keheranan itu.
Soat Peng-say bartekad harus menang, pada jurus
terakhir, yaitu jurus ke- 100, mendadak pedangnya
dilepaskan kedepan, dalam sekejap itu dia melolos pedang
cadangan yang tersanding di pundaknya. Dua pedang
bergabung dan menyerang sekaligus. Inilah jurus Siang-liu-
kiam-hoat ciptaan Tio Tay-peng sendiri dan mempunyai
daya serang yang sangat lihay.
Dengan jurus pedang inilah Tio Tay-peng telah
membunuh Beng Si-hian. Jurus ilmu pedang sakti ini
diturunkannya kepada Soat Peng-say. Dengan jurus pedang
ini pula Soat Peng-say telah pernah membuat kedua
gembong iblis kalangan Hek-to yang termashur di dunia
Kangouw itu terpaksa harus melolos senjata andalan untuk
menangkis dan tetap kewalahan.
Tapi sekarang. sama sekali tak terduga bahwa seorang
nenek malah dapat mematahkan jurus serangannya ini
tanpa cedera apapun.
Meski gagal serangannya, namun Soat Peng-say, tidak
patah semangat, ia membentak: "Sambut lagi satu jurus!"
Sekali ia tarik rantai yang mengikat pedang pertama, lalu
diayun lagi kedepan, pedang itu tidak sampai dipegangnya
kembali, tapi terus menusuk lagi kearah Liok-ma dari
jurusan lain. Dan pada saat pedang pertama itu menusuk,
pedang kedua menyusul menusuk juga, kembali satu jurus
gabungan kedua pedang dilontarkan. Bahkan jurus
serangan ini jauh lebih kuat daripada yang pertama tadi.
Namun Liok-ma tetap dapat mematahkan serangan lihay
ini tanpa terluka, hanya caranya rada kerepotan sedikit.
Bilamana Liok ma tidak memiliki keuletan latihan berpuluh
tahun, tentu dia sudah roboh terkapar.
Diam2 Peng-say kagum juga terhadap ketangguhan si
nenek, tapi demi kemenangan, tanpa bersuara ia
melontarkan lagi serangan gabungan dua pedang untuk
ketiga kalinya.
Daya tekanan serangan ketiga ini hampir sama dengan
gabungan kekuatan serangan pertama dan kedua tadi.
Liok-ma masih dapat mengelak, akan tetapi pergelangan
kedua tangannya sama luka tergores, inipun lantaran
kebaikan hati Soat Peng-say, kalau tidak kedua tangan si
nenek sudah terbatas kutung.
Begitu tercapai maksud tujuannya. segera Soat Peng-say
Mengembalikan pedang kesarungnya dan pedang lain tetap
terhunus, dengan gagah perkasa ia pandang si nenek dan
ingin dengar apa komentarnya.
Liok-ma hanya mendengus saja tanpa bicara, sebaliknya
Sau Kim-leng lantas berdiri dan berkata dengan agak
gemetar: "Salah, salah . . . ."
Melihat si nona bicara menghadap kearahnya. jelas
ucapan "salah'" itu ditujukan kepadanya, tapi Soat Peng-say
tidak tahu apa maksudnya, ia coba Tanya: '"Apa yang nona
maksudkan?"
Dengan lemah Sau Kim-leng berkata: "Ke ....ketiga jurus
serangan gabungan pedangmu itu tidak tepat. . ."
Sudah tentu Peng-say merasa tersinggung, jawabnya
dengan gusar: "Jika tidak tepat, harap nona suka memberi
petunjuk!"
Sau Kim-leng menggeleng, katanya: "Ketiga jurus
serangan gabungan dua pedang itu masih selisih sangat ....
sangat jauh. sama sekali .... sama sekali kacau balau." "
Sungguh tidak kepalang gusar Peng-say karena orang
berani menghina ketiga jurus ilmu pedang kebanggaan
perguruannya, ia tidak tahan lagi, bentaknya: "Lihat
serangan!" Berbareng itu pedangnya terus menusuk ke ulu
hati Sau Kim-leng
Menurut jalan pikiran Soat Peng-say, ilmu silat Sau Kim-
leng pasti jauh di atas Liok-ma, makanya nona itu
memandang rendah ketiga jurus ilmu pedangnya tadi.
Karena itulah serangannya dilakukan dengan cepat dan
ganas.
Tak tersangka Sau Kim-leng sama sekali tidak berkelit
sehingga dengan tepat kena ditusuk oleh Soat Peng-say,
kontan nona itu menjerit.
Peng-say jadi terkejut dan cepat menahan serangannya,
namun begitu ujung pedang tetap masuk juga satu-dua senti
kedalam dada Sau Kim-leng.
Sama sekali Liok-ma tidak menyangka akan kejadian itu,
namun cukup cepat juga dia melakukan pertolongan,
hampir pada saat yang sama cambuknya menyabat batang
pedang Soat Peng-say. Seketika tangan Peng-say bergetar
dan tidak mampu memegangnya lagi, kontan pedang
mencelat oleh betotan cambuk dan melayang ke atas, "crat",
pedang menancap dibelandar hingga ambles lebih dari
setengah.
Menyusul cambuk Liok-ma berputar balik lagi dan
menutuk ke depan. Merasa telah menimbulkan malapetaka,
Soat Peng say menyadari nasib dirinya pasti akan celaka,
tapi iapun tidak manda menanti ajal, cepat ia melompat
mundur sambil meraba pedang dipunggungnya.
Rupanya Liok-ma benar2 menjadi murka, tutukan
pertama luput, segera cambuknya menyabat pula secepat
kilat.
Soat Peng-say juga cukup cekatan, pada saat yang tepat
pedang di punggung telah dilolosnya untuk menangkis
"Pletak", cambuk dan pedang beradu, tahu2 pedang Soat
Peng-say yang patah menjadi dua potong.
Pucat pasi muka Soat Peng say, ia tidak sanggup
bertahan lagi setelah kehilangan senjata andalannya
sedingkan serangan ketiga cambuk Liok-ma bertambah
cepat, kontan Tiong-ting hiat didada Soat Peng-say tertutuk.
Tutukan cambuk Liok-ma sangat keras, "bluk" Peng-say
jatuh terduduk dan darah segar tersembur dari mulutnya,
seketika ia tak mampu berdiri lagi.
Meski anak muda itu sudah terluka parah, namum
marah Liok-ma belum lagi reda, damperatnya: "Keparat
yang tidak tahu malu, mengapa kau menyerang gadis yang
sama sekali tak bertenaga, kau manusia atau bukan?"
Biasanya Soat Peng-say sangat disiplin terhadap dirinya
sendiri, sebaliknya suka memberi maaf kepada kesalahan
orang lain. Meski terluka parah, dengan malu ia tetap
menjawab: "Aku .... aku tidak tahu bahwa Siocia kalian
tidak mahir ilmu silat."
"Tidak tahu apa?" damperat Liok-ma. "Siocia kami serba
pintar, apa yang diketahuinya jauh diatasmu, hanya ilmu
silat saja sejak kecil tidak mau dipelajarinya."
"Untunglah lukanya tidak parah," ujar Peng-say.
Hati Liok-ma rada lega juga melihat baju Sau Kim-leng
di bagian dada hanya berlepotan darah sedikit saja, namun
ia mengira ucapan Soat Peng-say itu sengaja ber-olok2,
segera ia mendengus: "Hm. jadi kau menyesal karena tidak
berhasil membunuh Siocia kami? Hm, kulihat seranganmu
sangat keji, jika pertolonganku kurang cepat, tentu
terlaksanalah maksud tujuanmu."
Peng-say tidak mau berdebat dengan si nenek, ucapnya
dengan pelahan: "Sudah lebih seratus jurus kita bergebrak,
sekarang hendaklah kau beri kematianku dengan cepat, jika
kau ingin melampiaskan sakit hati Siociamu, silakan bunuh
saja aku dan hendaklah kau suka mengampuni adik
perempuanku."
"Jangan mimpi!" teriak Liok-ma. "Adik perempuanmu
adalah biang keladi dari semua gara2 ini dan tidak boleh
diampuni. Sebaliknya kau, sebenarnya dapat kuberi
kelonggaran padamu, tapi sekarang pun tidak dapat lagi,
kau melukai Siocia kami, dosamu tidak dibawah budak cilik
itu."
"Jika demikian, jadi kami harus mati?' tanya Peng-say.
"Ya, tiada jalan lain!" dengus Liok-ma.
Mendadak Sau Kim-leng berkata dengan suara lemah:
"'Liok-ma, coba tanyai dia dulu, jangan menakuti dia."
Untuk lebih meyakinkan, Liok-ma berpaling dan tanya si
nona: "Yang dimainkannya apakah betul Siang-liu-kiam-
hoat?"
Sau Kim-leng mengangguk, jawabnya: "Betul. cuma
ketiga jurus serangan gabungan dua pedang itu sudah
diubah sedemikian rupa sehingga tidak keruan. sudah
selisih jauh daripada ketiga jurus yang asli. ilmu pedangnya
boleh dikatakan kacau-balau."'
Soat Peng-say menjadi gusar pula, teriaknya: "Kau cuma
seorang perempuan lemah, apa yang kau ketahui? Ilmu
pedang Ajaran guruku masa boleh kau lukiskan dengan
kata2 kacau-balau begitu?!"
”Tutup mulut!" bentak Liok-ma. "Sekali Siau Leng
bilang ilmu pedangmu salah, maka pasti tidak betul. Bila
Siau Leng bilang ilmu pedangmu kacau-balau, maka jelas
memang kacau-balau "
"Hehe, sayangnya anda justeru kalah di bawah ilmu
pedang yang kacau balau ini!" ejek Peng-say.
Ini memang fakta. Liok-ma sendiri tahu bilamana
serangan ketiga Soat Peng-say tadi tidak memberi
kelonggaran, tentu kedua tangannya sudah buntung.
Namun dia tidak mau terima kebaikan ini.
Jengeknya: "Hm, bilamana kita bertempur betul2, coba
jawab, apakah kau sempat mengeluarkan ketiga jurus
serangan pedang gabungan begitu?"
Soat Peng-say menjadi bungkam. Apa yang dikatakan si
nenek juga betul. Bilamana mereka benar2 bertempur, tentu
kedua pedang Soat Peng-say sudah tergetar patah semua,
hakikatnya tidak ada kesempatan melancarkan ketiga jurus
serangan maut itu dan juga tidak mungkin dapat bergebrak
dengan nenek itu hingga seratus jurus.
Jadi jelas Liok-ma mampu mematahkan pedangnya sejak
tadi, dalam gebrakan seratus jurus itu, asalkan cambuk
sinenek beradu dengan pedang, setiap saat ada
kemungkinan pedang tergetar patah, namun dia tidak
mencari kesempatan itu, malahan beberapa kali pedang
beradu dengan cambuk juga si nenek tidak menggunakan
tenaga dalamnya untuk mematahkan pedang, jadi seperti
sengaja membiarkan Soat Peng-say menyelesaikan seratus
jurus Co-pi-kiam-hoatnya.
Maka sadarlah Peng-say sekarang bahwa sesungguhnya
si nenek telah memberi kelonggaran padanya. entah ada
maksud tujuannya. Dengan dahi berkerut ia coba
merenungkan arti pertanyaan Liok-ma kepada Sau Kim-
leng tadi.
Begitulah didengarnya Liok-ma lagi berkata; "Lolo
sengaja memberi kesempatan bagimu memainkan seratus
jurus pedangmu agar kau dapat mati lebih enak, sekarang
seratus jurus itu sudah selesai, ingin kutanya lagi beberapa
kali, jika kau mengatakan terus terang, segera akan
kubunuh kau dengan cepat. Kalau tidak, biar kau rasakan
dulu tutukan maut dan mencicipi pula rasanja Hun-kin-coh-
kut (otot keseleo dan tulang terkilir)."
Tergerak hati Soat Peng-say, baru sekarang dipahaminya
maksud tujuan orang. Segera ia mendengus: "Hm, kiranya
tujuanmu yang terakhir hanya ingin menanyai
keteranganku. Namun Cayhe bukan pesakitan mau bunuh
boleh bunuh, tidak ada yang perlu kukatakan."
"Sekarang kau tak dapat bebas lagi, meski bukan
pesakitan, jika ingin mati dengan cepat, mau-tak-mau harus
kau katakan terus terang!" damperat pula si nenek.
Dengan hambar Peng say menjawab: "Kutahu kau cuma
ingin tanya Siang-liu-kiam-hoat apa segala ingin kukatakan
lebih dulu bahwa selama ini tidak pernah kukenal nama
ilmu pedang tersebut."
"Anak busuk, bohong kau!" teriak Liok-ma.
"Percaya atau tidak terserah padamu," kata Peng say.
"Jika kau sengaja membunuh orang untuk memuaskan
hatimu, silakan turun tangan saja, bilamana Soat Peng say
berkerut kening dia bukan lelaki sejati."
Mendadak Sau Kim-leng menyela: "Numpang tanya
Kongcu, apa nama ilmu pedang tangan kirimu itu?"
"Tidak ada nama," jawab Peng-say singkat.
Liok-ma mengira anak muda itu sengaja tidak mau
mengaku, dengan gusar ia membentak: "Siau Tho, buka
Hiat-to adik perempuannya."
Setelah Ciang bun-hiat yang tertutuk itu dilancarkan. Cin
Yak-leng lantas siuman, ketike melihat Soat Peng-say
berduduk di lantai dengan dada berlepotan darah, ia
berteriak kuatir: "He, kakak Peng, kenapa kau?!"
Segera ia bermaksud memburu maju. Tak terduga Hiat-
to yang satu dibuka, Hiat-to yang lain ternyata masih
tertutuk sehingga hanya dapat bicara tanpa bisa bergerak.
"Tidak apa2, adik Leng, cuma terluka sedikit, tidak
gawat jangan kuatir," kata Peng-say.
"Hm, apa yang dikuatirkannya? Kukira kau yang tidak
perlu berkuatir baginya," jengek Liok-ma Sambil
menyeringai ia lantas mendekati Yak-leng.
"Akan kau apakan dia?" teriak Peng say sekuatnya.
"Akan kucabut seluruh rambutnya bersama kulit
kepalanya," ucap si nenek dengan keji.
"Sekali kubilang tidak tahu ya tetap tidak tahu, urusan
yang memang tidak tahu cara bagaimana harus kujawab?"
teriak Peng-say dengan gusar.
Segera Liok-ma hendak mencengkeram rambut Cin Yak-
leng Syukur Sau Kim-leng lantas berseru: "Nanti dulu,
Liok-ma, biarkan kutanyai dia."
Lalu ia meninggalkan kursinya dan mendekati Soat
Peng-say.
Liok-ma tahu Soat Peng-say tidak mampu berdiri, tapi ia
kuatir anak muda itu akan nekat dan melakukan serangan
terakhir untuk gugur bersama sang Siocia, maka cepat ia
memburu kesamping Sau Kim-leng untuk melindunginya.
Sau Kim-leng berdiri didepan Peng-say dengan wajah
yang melankolik, wajah yang murung dan menimbulkan
rasa kasih-sayang setiap orang yang melihatnya, katanya
dengan sayu: "Soat kongcu, jurus pertama Co-pi-kiam-
hoatmu itu bernama Kiong-siang-kut-tau bukan?"
"Kiong-siang-kut-tau" atau muka melarat tulang kere
adalah kata2 makian, artinya dasar tulang melarat,
bagaimanapun tetap melarat dan tidak mungkin jaya.
Hampir dapat dipastikan didunia ini tiada orang tolol
yang mau memberi nama jurus pedangnya dengan istilah
makian itu. Cin Yak-leng menyangka Sau Kim-leng sengaja
ber-olok2 dan secara tidak langsung memaki kakak Peng
bermuka kere. Diam2 ia merasa gusar.
Tak terduga, tiba2 terdengar Soat Peng-say menjawab
dengan melengak: "Ya, betul!"
Dimaki orang, tapi malah menjawab "betul" dengan
sungguh2, Cin Yak-leng mengira anak muda itu mungkin
gegar otak karena serangan musuh tadi sehingga pikirannya
menjadi tidak waras lagi.
Terdengar Sau Kim-leng menghela napas pelahan, lalu
menyambung: "Tahukah Kongcu bahwa istilah Kiong-
siang-kut-tau adalah pemberian ayahku? Dengan nama itu,
ayah ingin menunjukkan kerendahan hatinya pada jurus
pertama ini, maksudnya ilmu pedang beliau tiada berguna,
wujudnya miskin dan mungkin akan ditertawakan orang."
Di balik ucapannya jelas dia menganggap Co-pi-kiam-
hoat yang dimainkan Soat Peng-say tadi adalah ilmu
pedang ciptaan ayahnya.
Sudah tentu Peng-say tidak mau percaya begitu saja
hanya karena Sau Kim-leng dapat menebak dengan jitu
nama satu jurus ilmu pedangnya, ia menjawab: "Istilah
Kiong-siang-kut-tau berasal dari pujangga Ong Ting-po di
jaman Cunciu, nona memang terpelajar dan serba tahu,
dengan sendirinya paham istilah tersebut, tapi jika engkau
bilang istilah itu ciptaan ayahmu, hehe .. . . " dia hanya
menjengek saja dan tidak melanjutkan.
Ucapan Soat Peng-say ini tetap menyatakan tidak
percaya, bahkan bernada menyindir. Keruan muka Sau
Kim-leng menjadi merah, katanya dengan suara pelahan:
"Ah, anak perempuan pegunungan seperti diriku mana bisa
dikatakan terpelajar dan serba tahu. Numpang tanya, jurus
kedua ilmu pedang Soat-kongcu itu bernama Put-cun-kay-ti
(tidak naruh rasa sirik) bukan?"
Supaya maklum bahwa ayah Sau Kim-leng bernama Sau
Cing-in, meski wataknya aneh, eksentrik, tingkah-lakunya
angkuh dan mendekati sifat latah. namun hidupnya lebih
suka menyendiri dan tidak suka menonjolkan nama. Ilmu
pedang aliran Pak-cay sudah termashur sejak turun
temurun, sampai di tangan Sau Cing-in, karena bakat
pembawaannya yang luar biasa, Pak-cay tambah terkenal
dan berjaya, pada usia setengah baya dia berhasil
menciptakan sendiri Siang-liu-kiam-hoat atau ilmu pedang
dua saluran.
Siang-liu-kiam-hoat itu boleh dikatakan sudah mencapai
puncaknya pengetahuan ilmu pedang, tapi Sau Cing-in
tidak pernah pamerkan ilmu pedangnya itu terhadap orang
luar. Ketika untuk pertama kalinya dia perlihatkan ilmu
pedangnya itu kepada orang luar dan namanya bertambah
mengguncangkan dunia persilatan, tapi pada tahun itu juga
dia lantas menghilang hingga sekarang.
Begitulah Soat Peng-say menjadi sangsi setelah Sau Kim-
leng menyebut dengan tepat nama jurus ilmu pedangnya, ia
tidak habis mengerti darimana si nona bisa tahu sejelas itu.
Dalam pada itu Sau Kim-leng telah menyambung pula:
"Dan jurus ketiga bernama Ya-jin-hian-pau (orang liar
memperlihatkan keluguannya) betul tidak!"
Saking kejut dan herannya sampai Soat Peng say tidak
sanggup bersuara, ia hanya mengangguk saja.
Lalu Sau Kim-leng berkata pula: "Dan jurus keempat
Wan-se-put kiong (main2 tanpa ikatan peraturan). jurus
kelima Tam-jian-tit-ci (menghadapinya dengan tak acuh). .
." Dia terus menyebut nama setiap jurus ilmu pedang Soat
Peng-say hingga jurus ke-49 yang bernama Ki-jik san-lim
(meninggalkan jejak di pegunungan), lalu selesai.
Nama ke-49 jurus ilmu pedang itu ternyata disebutnya
dengan jitu. keruan Soat Peng-say melenggong hingga lama
dan tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
"Bagaimana, mengapa diam saja, jangan2 hapalan Siau
Leng tidak betul?" demikian tanya Liok-ma kemudian.
"Kalau betul mau apa?" jawab Peng-say dengan
mendongkol.
"Baiklah jika kau mengaku betul," kata Liok-ma.
"Sekarang ingin kutanya suatu soal yang paling sederhana,
coba jawab, sebab apa Siocia kami dapat mengapalkan
nama setiap jurus ilmu pedangmu tanpa keliru satu
hurufpun?"
"Ini . ... ini." Soat Peng-say menjadi gelagapan.
”Tidak perlu ini dan itu, mengaku saja terus terang,
Siang-liu-kiam-hoat itu kau pelajari dari siapa?" tanya Liok-
ma.
"Hakikatnya aku tidak tahu Siang-liu-kiam-hoat apa
segala!" jawab Peng say tegas.
"Masih bilang tidak tahu? Co-pi-kiam-hoat yang kau
mainkan itulah bernama Siang-liu-kiam-hoat!” teriak Liok-
ma dengan gusar.
"Kukira bukan," ujar Peng-say sambii menggeleng. "Bila
betul Siang-liu-kiam-hoat, mustahil aku tidak tahu."
"Bukan tidak tahu, tapi matipun kau tidak mau
mengakuinya!" bentak Liok-ma.
"Baiklah, anggaplah memang betul Siang-liu-kiam-hoat,
lalu mau apa?" kata Peng-say dengan mendongkol.
"Siang-liu-kiam-hoat adalah ilmu rahasia keluarga Sau
yang terkenal sebagai Pak-cay ini, tiada ilmu keluarga Sau
yang diajarkan kepada orang luar. lalu darimana kau
berhasil mencuri belajar?"
"Kukira ucapanmu kurang tepat," ujar Peng-say sambil
menggeleng. '"Cayhe mempelajari ilmu pedang ini secara
terangan dari guruku, mana boleh kau katakan mencuri
belajar segala?"
"Siapa gurumu?" tanya Liok-ma.
"Nama guruku tidak boleh sembarangan kukatakan."
"Apakah tidak berani kau katakan" ejek Liok-ma.
Soat Peng-say menjadi gusar, jawabnya: "Guruku
bukanlah pesakitan atau buronan, kenapa tidak berani
kukatakan? Soalnya aku merasa tidak perlu kukatakan
kepadamu."
"Hm, kalau gurunya maling, dengan sendirinya tak
berani kau katakan," jengek Liok-ma pula.
Tidak kepalang gusar Soat Peng-say, ia ingin
mendamperat nenek itu, tapi napas terasa sesak, terpaksa
hanya melotot saja, sorot matanya yang bengis itu se-akan2
hendak memberitahu kepada Liok-ma bahwa bilamana aku
Soat Peng-say tidak mati sekarang, pada suatu hari kelak
pasti akan kau rasakan akibat dari ucapanmu tadi!
Liok-ma lantas menjengek pula. katanya: "Hm, boleh
saja kau mendelik, memangnya Lolo takut akan kau
caplok? Biar kukatakan lagi lebih jelas, gurumu ialah
maling, dia mencuri Siang-liu-kiam-hoat keluarga Sau
kami!"
Karena tidak sanggup bersuara untuk membantahnya,
saking gemasnya hampir saja Peng-say jadi kelengar.
"Soat kongcu," tiba2 terdengar suara Sau Kim-leng yang
lembut itu, "janganlah kau marah, Liok-ma memang suka
bicara kasar dan sembarangan maki orang, engkau anggap
sepi saja."
Padahal Liok-ma sangat setia kepada majikan, malah
dianggap suka sembarangan memaki. ia menjadi penasaran
dan berseru: "Siocia, masa ucapanku tidak betul? Jika
gurunya bukan maling. mengapa tidak memberitahukan
nama ilmu pedangnya kepada muridnya, kukira anak busuk
inipun tahu gelagat tidak menguntungkan, maka sengaja
merahasiakan nama gurunya .... "
"Sudahlah, Liok-ma," sela Sau Kim-leng dengan dahi
berkerut, "Soat kongcu tidak mau sembarangan menyebut
nama gurunya, ini tanda rasa hormatnya kepada sang guru,
mana boleh sembarangan kau menuduhnya."
Kembali dianggap sembarangan menuduh orang, Liok-
ma hanya tersenyum dongkol, tapi iapun tidak berani
membantah lagi agar tidak didamperat majikan mudanya.
Dengan sungguh2 Sau Kim-leng lantas bertanya pula:
"Soat-kongcu, apakah gurumu sepanjang tahun suka
memakai jubah hitam?"
Peng-say tidak sampai hati menolak pertanyaan orang, ia
mengangguk dan berkata: "Ya, guruku memang suka pada
warna hitam, sepanjang tahun beliau memang memakai
jubah hitam."
Air muka Sau Kim-leng tampak berubah, ucapnya
dengan suara rada gemetar: "Apakah boleh kutanya pula,
adakah sesuatu tanda khas pada wajah gurumu?"
Liok-ma juga memandangi Soat Peng-say dengan tegang,
katanya di dalam hati: "Wah, jika gurunya adalah Cukong
(majikan) yang hilang itu, maka berarti aku telah memaki
majikan sendiri sebagai maling, dosaku ini tak dapat
kutebus dengan sekali mati saja."
Watak Liok-ma memang pemberang, mulutnya suka
'ceplas-ceplos" tanpa pikir. tak pernah terbayang olehnya
ada kemungkinan majikannya yang hilang itu yang
mengajarkan Siang-liu-kiam-hoat kepada Soat Peng-say.
Maklumlah, sudah lebih 20 tahun Sau Cing-in menghilang
sehingga harapannya untuk kembali dengan hidup
sangatlah tipis, namun begitu juga tiada seorangpun yang
dapat memastikan sang majikan telah meninggal dunia.
Setelah berpikir sejenak, Soat Peng-say menggeleng dan
berkata: "Tidak ada, muka guruku tiada terdapat sesuatu
ciri khas "
Segera Liok-ma berkata: "Coba pikirkan lagi lebih teliti,
apakah pada . . . ." dia menyuruh orang pikir lagi, tapi dia
sendiri hampir tak tahan akan menjelaskan ciri khas yang
terdapat pada wajah Sau Cing-in.
Maka cepat Sau Kim-leng mencegahnya: "Liok-ma,
jangan banyak bicara!"
Si nenek mengiakan, tapi Soat Peng-say didesaknya pula:
"Hayo anak muda, lekas pikir lagi!"
"Muka guruku memang tiada ciri khas apa2, tak perlu
kupikirkan lagi," jawab Peng-say.
"Masa di pipi kiri . . . ."
"Kau usil apalagi?!" sela Sau Kim-leng kurang senang
sebelum lanjut ucapan Liok-ma itu.
"Mungkin dia lupa maka kuingatkan dia, masa tidak
boleh?" ujar si nenek.
"Menurut ibu, ciri khas itu sangat menyolok, masa perlu
diingatkan segala?" kata Kim-leng.
Liok-ma pikir apa yang dikatakan si nona memang betul,
ia merasa dirinya sendiri yang tidak punya otak, ia
menyengir, diam2 iapun menghela napas lega karena tidak
telanjur memaki majikannya sendiri.
Peng-say jadi tertarik oleh karena pertanyaan orang yang
ber-tubi2 itu, katanya kemudian, "Memangnya nona
menyangka guruku ada hubungan apa2 dengan anggota
keluargamu?"
Sau Kim-leng menggeleng. jawabnya: "Tidak, akulah
yang salah sangka. Cukup dari ketiga jurus serangan
gabungan kedua pedangmu saja jelas berselisih sangat jauh,
sedikitpun tak mungkin terjadi."
Mendadak Soat Peng-say mendengus.
Sau Kim-leng sangat pintar dan cerdik, ia tahu kata2nya
barusan telah menghina kehormatan guru orang, cepat ia
minta maaf: "Ucapanku tadi tidaklah sengaja, harap
Kongcu jangan marah "
Karena orang mau minta maaf, hati Peng-say menjadi
lemas, dengan ramah iapun menjawab: "Ah, tidak apa2."
Melihat anak muda itu bersikap baik pada Sau Kim-leng,
Cin Yak-leng menjadi sirik, mendadak ia menjengek: "Hm,
apabila ada orang berani menghina guruku, andaikan tak
dapat kutampar mukanya. sedikitnya juga akan kudamperat
dia, kalau tidak sia2 belaka budi kebaikan Suhu yang telah
mendidik kita selama ini."
"Jika kau mampu, boleh coba kau mendamperat!" ujar
Liok-ma.
"Bukan guruku yang dihina, tidak perlu kuikut campur,"
jawab Yak-leng.
"Untuk menghina gurumu apa susahnya?" ujar Liok-ma.
"Nah. dengarkan, gurumu mirip genderuwo, siluman rase,
perempuan bawel."
Cin Yak-leng tertavva ter-kekeh2 geli malah.
Liok-ma jadi melengak sendiri, tanyanya: "Kenapa kau
tertawa, kau tidak balas memaki?"
"Hihihi, malahan harus kupuji kepintaranmu
memberikan istilah2 bagus itu, mana boleh kumaki kau,"
kata Yak-leng.
Liok-ma menyangka Cin Yak-leng takut mati, maka
tidak berani memakinya, segera ia menjengek; "Huh, tak
berguna!"
"Adik Leng bukankah nona yang tak berguna," tiba2
Peng-say menimbrung.
"Kalau berguna, mengapa dia tidak ambil pusing
gurunya dimaki orang?" jengek Liok-ma pula. "Huh. jelas
dia takut kuhajar dia, makanya dia ter-tawa2 padaku."
"Adik Leng tidak punya guru, dengan sendirinya dia
tidak ambil pusing," kata Peng-say.
"Mustahil dia tidak punya guru," kata Liok-ma. "Jelas
dia anak murid Bu-tong-pay, memangnya kau kira aku
tidak tahu?"
Dari gerak tubuh Cin Yak-leng tadi Liok-ma mengetahui
nona ini anak murid Bu-tong-pay, menurut peraturan
perguruan Bu-tong, guru lelaki tidak mengambil murid
perempuan dan guru perempuan tidak menerima murid
lelaki. Jika Cin Yak-leng benar mempunyai Suhu, maka
Suhunya pasti seorang Tokoh (pendeta perempuan agama
Tao).
Tapi Soat Peng-say lantas menjelaskan: "Ilmu silat adik
Leng memang berasal dan Bu-tong-pay. tapi dia bukan
murid Bu-tong."
Dengan sendirinya Liok-ma tidak tahu ilmu silat Cin
Yak-leng itu diperoleh dari hasil renungan, sendiri dari kitab
pusaka Siang-jing-pit-lok yang dipinjamnya dari Soat Peng-
say itu, dia mengira anak muda itu sengaja membela adik
perempuannya. maka dia lantas menjengek pula: "Huh. aku
tidak percaya."
Soat Peng-say hendak bicara lagi tapi Cin Yak-leng
lantas menyela: "Sudahlah kalau dia tidak percaya."
Dalam hati si nona diam2 menyesal atas kata2-nya tadi
yang menusuk perasaan itu. padahal kakak Peng telah
membelanya setulus hati ketika orang memakinya tak
berguna Karena pikiran ini, dengan penuh rasa terima kasih
ia memandang ke arah Soat Peng-say.
Kelakuan Cin Yak-leng ini telah dilihat oleh Sau Kim-
leng, diam2 ia merasa curiga: "Aneh, mengapa dia
memandang kakaknya sendiri dengan sorot mata yang
mesra begitu?"
Hanya perempuan sendiri yang paling memahami hati
perempuan, asalkan sinar mata pihak lain ada sesuatu
perubahan yang aneh. segera dia paham isi hatinya Sau
Kim-leng menyangsikan Cin Yak-leng pasti bukan adik
perempuan kandung Soat Peng-say, makanya nona itu
memandang Peng-say dengan sorot mata yang menyangkut
hubungan mesra antara lelaki dan perempuan.
Rasa sangsi ini disimpannya dalam hati, mungkin dia
merasa lelah berdiri, maka ia duduk dikursi yang terletak
disebelah Soat Peng-say, lalu berkata: "Soat-kongcu. ayahku
menghilang pada lebih 20 tabun yang lalu, tadi aku
menyangka gurumu mungkin ayahku, tapi sekarang setelah
kupikirkan lagi. hal ini memang tidak mungkin."
"Guruku bernama Tio Tay peng," tanpa ditanya
sekarang Soat Peng-say bicara urus terang.
Sau Kim-leng berdiri dan memberi hormat, katanya:
"Terima kasih atas keterangan Kongcu ini. Ayahku Sau
Cin-in, jelas bukan orang yang sama dengan gurumu, tapi
Co-pi-kiam-hoat ajaran gurumu itu...." dia merandek
sejenak, lalu menyambung dengan rasa menyesal: "maaf.
Co-pit-kiam-hoat itu jelas adalah Siang-liu-kiam-hoat.
Ciptaan ayahku."
"Hal ini masih harus dibuktikan lagi lebih lanjut, untuk
sementara ini Cayhe tidak dapat menerima pernyataan
nona ini," jawab Peng-say.
Bibir Sau Kim-leng yang merah dan mungil itu ber-
gerak2, seperti mau bicara lagi. tapi urung.
"Ada urusan apa, silakan nona bicara saja." ujar Peng-
say.
Sau Kim-leng memang nona pemalu, mestinya ia ingin
tanya dimana tempat tinggai guru Soat Peng-say, tapi dia
kuatir disemprot orang, maka tak berani dikemukakannya.
Liok-ma tahu isi hati sang Siocia. segera menukas:
"Dimana tempat tinggal gurumu?"
Sebenarnya Soat Peng-say cukup menghormati orang tua
semacam Liok-ma, sejak tadi iapun memanggilnya "Lolo"
atau nenek, tapi sekarang ia malas menggubrisnya, ia pura2
tidak tahu pertanyaan orang tua itu.
Merasa diremehkan, segera Liok-ma hendak mengumbar
marahnya lagi, tapi tidak jadi. Ia pikir anak muda ini hanya
boleh diperlakukan secara halus dan tidak mau dihadapi
dengan sikap keras. jalan paling baik sekarang adalah
berunding secara damai dengan dia. Maka ia lantas
menoleh dan berkata: "Siau Tho, lepaskan Hiat-to nona
Soat."
Diluar tahu Soat Peng-say. diam2 si nenek mengedipi
Siau Tho pula. Pelayan itu tahu apa artinya itu, waktu dia
membuka Kim-sok-hiat, seperti tidak sengaja sikutnya
menyodok pelahan pula Leng-tay-hiat di tubuh Cin Yak-
leng.
Hiat-to yang tersebut belakangan ini adalah Hiat-to
mematikan. bila tertutuk tepat bisa binasa seketika. sedikit
tersodok juga akan mengakibatkan kepala pusing dan
semaput. Siau Tho menyikut dengan pelahan, seketika Yak-
leng merasa kepalanya pening dan sekujur badan tak
bertenaga. Sudah tentu Siau Tho tidak melepaskan Cin
Yak-leng, ia pura2 menyilakan duduk si nona dan
memayangnya berduduk di suatu kursi.
Karena kepala pening dan badan lemah, Cin Yak-leng
jadi mengantuk dan ingin tidur saja. sedapatnya ia bertahan
diatas kursi.
Diam2 Liok-ma memuji kecekatan bekerja Siau Tho, ia
sengaja berseru kaget: "He, air muka nona Soat seperti
kurang sehat. lekas membawanya mengaso kekamar tidur
Siocia."
Cin Yak-leng tidak tahu telah dikerjai orang, dalam
keadaan pening ia berkata: "Kakak Peng, aku ....aku tidak
enak badan . . . ."
"Ya, lekaslah pergi tidur sebentar," ujar Peng-say dengan
penuh perhatian.
Siau Tho lantas membawa Cin Yik-leng kedalam kamar.
Setiba disana, kuatir si nona akan cepat sadar kembali.
segera ia menutuk pula Kin-sok-hiat serta Hiat-to yang
membuatnya bisu.
Sekarang umpama Hiat-to Cin Yak-leng yang tertutuk
tadi dapat terbuka sendiri, tapi jelas tak dapat bergerak dan
bicara lagi. Dengan sendirinya Soat Peng-say tidak tahu apa
yang terjadi, ia menyangka Yak-leng sedang tidur didalam
kamar. Diam-diam dia merasa sangat berterima kasih atas
kebaikan Liok-ma yang menyuruh Siau Tho membawa
Yak-leng ke kamar.
Lalu Liok-ma berkata dengan tersenyum kepada Peng-
say: "Biarpun aku tidak paham Siang-liu-kiam-hoat, tapi
pernah kulihat Loya (tuan besar) berlatih maka sedikit aku
masih ingat caranya, sebab itulah ketika Soat-kongcu
menghajar Peng dan Kwa tempo hari, segera aku tertarik
oleh ilmu pedangmu. Pertama demi menyembuhkan sakit
rindu Siocia. selain itu juga untuk dibuktikan sendiri oleh
Siocia akan ilmu pedangmu, terpaksa kuserang mendadak
dan membawa Kongcu ke sini."
Didepan Sau Kim-leng si nenek bicara tentang sakit
rindunya, tentu saja Kim-leng malu dan menunduk, ia ingin
mengomeli si nenek, tapi tidak enak karena hadirnya Soat
Peng-say.
Cara bicara Liok-ma memang tanpa tedeng aling2,
segera ia mencerocos lagi: "Tak tersangka orang yang
dirindukan Siocia kami bukanlah kau melainkan. . . ." "
Sampai disini, Sau Kim-leng tidak tahan lagi, ia sengaja
berdehem perlahan.
Baru sekarang Liok-ma melihat air muka sang Siocia
yang kurang senang itu, dia bukan orang bodoh, maka cepat
ia putar haluan dan menyambung pula: "Sudahlah, hal ini
tidak perlu kukatakan lebih banjak Hanya satu hal, coba
Kongcu pikir. apakah orang tidak mendongkol, sudah lama
ayah Siocia tak diketahui jejaknya, ibunda meninggal dunia
pula, Siocia hidup sebatangkara. semua ini sudah cukup
membuatnya sengsara dan harus dikasihani. tapi sekarang
dia terhina pula. Kalau menuruti watakku, betapapun harus
kubunuh kau dan adik perempuanmu untuk melampiaskan
dendam Siocia."
Dengan kurang senang Sau Kim-leng berkata: "Ai, buka
mulut bunuh orang, tutup mulut bunuh orang, sifat Liok-
ma yang pandang jiwa manusia seperti tak berharga ini
harus diubah."
"Hm, jika bukan sifatku yang keras ini, apakah Leng-
hiang-cuy dapat bertahan sampai sekarang!" ujar Liok-ma.
Apa yang dikatakannya memang bukannja tidak
beralasan. Semenjak menghilangnya Sau Cing-in, ibu Sau
Kim-leng lantas keluar rumah mencari kesegenap pelosok
tanpa berhasil. Sau-hujin (nyonya Sau) dan Sau Cing-in
hidup rukun bahagia, hilangnya suami dalam beberapa
tahun saja telah membuat nyonya yang baru berumur 40-an
itu tampak lebih tua belasan tahun.
Akhirnya segala petunjuk yang mungkin dapat
menemukan Sau Cing-in putus asa sama sekali, Sau-hujin
jatuh sakit dan masih bertahan hingga beberapa tahun,
waktu meninggal, umur Sau Kim-leng baru sebelas tahun.
Selagi Sau-hujin masih hidup, sementara orang persilatan
yang berniat jahat masih jeri terhadap nyonya rumah itu
dan tidak berani menyatroni Leng-hiang-cay, tapi begitu
Sau-hujin wafat, orang2 jahat itu sama mengincar kitab
pusaka ilmu silat keluarga Sau, begitu pula kekayaannya
yang tertumpuk selama turun-temurun.
Dalam keadaan begitu di rumah keluarga Sau hanya
Liok-ma saja yang ilmu silatnya cukup memadai untuk
menghadapi para penyatron itu, dia melanggar pantangan
membunuh secara besar2an. setiap pengacau yang datang,
hampir sembilan di antara sepuluh orang yang binasa di
bawah cambuknya. Terkadang ada kaum pelancongan yang
tidak sengaja lalu di Leng-hiang-cay juga telah menjadi
korban keganasan Liok-ma, sampai akhirnya Ngo-tay-san
yang terkenal indah permai itu putus oleh kunjungan
wisatawan.
Tapi setelah Liok-ma berhasil membinasakan beberapa
gembong iblis penyatron itu, namanya lantas disegani
sehingga kawanan perusuh tidak berani mengincar Leng-
hiang-cay lagi. Sebaliknya nama Leng-hiang-cay masih
tetap gemilang di dunia Kangouw. nama Pak cay tidak
tercemar sedikit pun oleh karena hilangnya Sau Cing-in,
setelah Sau-hujin Wafat juga Pak-cay tetap berjaya.
Kalau Liok-ma menonjolkan jasanya itu, siapapun tidak
berani menyangkalnya. Apalagi tujuan utama Liok-ma
adalah untuk melindungi keselamatan Sau Kim-leng, hal ini
cukup diketahui si nona, maka biarpun kata2 Liok-ma tadi
agak kaku dan kurang hormat, terpaksa Sau Kim-leng diam
saja.
Betapapun Liokima memang budak tua yang setia,
setelah mengucapkan kata2 tadi, ia menjadi kuatir si Siocia
akan tersinggung. cepat ia berkata pula dengan tersenyum:
"Siau Leng, kutahu kau paling anti kubunuh orang. Baiklah.
mulai sekarang, kecuaii terpaksa, aku berjanji takkan
membunuh orang lagi. Seperti halnya sekarang, lepas dari
kebiasaanku, akan kuampuni jiwa Soat-kongcu dan adik
perempuannya."
Kesempatan itu tidak di-sia2kan oleh Soat Peng-say,
cepat ia menanggapi: "Jika begitu. Cayhe dan adik Leng
harus mengucapkan terima kasih kepada kemurahan hati
Lolo."
Tapi mendadak si nenek menarik muka pula, katanya:
"Jangan buru2 berterima kasih segala. ucapanku belum lagi
habis. Sekarang setelah Siau Leng membuktikan ilmu
pedangmu adalah Siang-liu-kiam-hoat, maka melalui
dirimu kami ingin cari tahu mengenai jejak Loya kami."'
Peng-say menggeleng, jawabnya: "Sekarang belum dapat
dipastikan ilmu pedang tangan-kiriku ini adalah Siang-liu-
kiam-hoat, untuk ini masih harus diselidiki dan dipelajari
lebih lanjut."
"Harus dipelajari bagaimana?" tanya Liok-oia.
"Cara yang paling sederhana adalah minta Siocia kalian
memainkan ke 49 jurus Co-pi-kiam-hoatku yang diapalkan
olehnya tadi, jika dia dapat memainkannva dengan tidak
salah sedikitpun barulah aku mau percaya."
"Jika tidak?" tanya Liok-ma.
"Jika tidak, maka jelas cuma nama jurusnya saja yang
sama, tapi prakteknya berbeda," jawab Peng-say. "Maka
Co-pi-kiam-hoat ajaran guruku tak dapat dikatakan sebagai
Siang-liu-kiam-hoat segala, pula, kalianpun tidak perlu
mencari tahu jejak Sau-locianpwe melalui diriku."
"Tapi kau mesti tahu bahwa Siocia kami hakikatnya
tidak mahir ilmu silat," kata Liok-ma.
"Jika begitu, mengapa dia dapat memastikan ilmu
pedangku sebagai Siang-liu-kiam-hoat?" Peng-say balik
bertanya.
"Sejak masih kecil Siocia sudah senang melihat Hujin
berlatih ilmu pedang yang sakti ini. sebab itulah Siocia
dapat mengingatnya dengan baik." tutur Liok-ma. "Apakab
permainan ilmu pedangmu betul atau salah. sekali pandang
saja Siocia akan segera tahu, misalnya ketiga jurus serangan
gabungan kedua pedangmu tadi dikatakannya salah besar.
Aku jadi ingat kejadian dahulu, pernah kuragukan
kelihayan kedua pedang Loya, aku sengaja mohon petunjuk
kepada beliau. Siapa tahu, hanya satu jurus Siang-liu-kiam-
hoat saja aku telah dikalahkan oleh Loya, tidak seperti kau.
harus tiga jurus baru dapat melukai tanganku."
"Latihanku masih cetek, dengan sendirinya tak dapat
dipersamakan dengan Sau-locianpwe," kata Peng-say.
"Siang-liu-kiam terdiri dari: satu kanan satu kiri, satu
depan satu balik, satu Yang (positip) satu Im (negitip),
bilamana jurus serangannya dilontarkan, tak peduli kuat
atau lemah tenaga lawan, asalkan lawan tidak mampu
mematahkannya dengan Kungfu yang lebih tinggi, maka
dia pasti akan terluka tanpa ampun."
"Satu kanan satu kiri?" demikian Peng-say bergumam
sendiri.
"Ya," Liok-ma mengangguk. "Kau mempunyai tangan
kanan. tapi tidak digunakan, sungguh si tolol nomor satu di
dunia ini. Akan tetapi, kalau dipikir lagi, percuma juga
andai kan tangan kanan kau gunakan, sebab Siang-liu-kiam
yang kau mainkan hakikatnya tidak betul. Padahal kalau
betul, cukup satu jurus saja dapat kalahkan diriku, buat apa
mesti bergebrak hingga seratus jurus, lebih2 tidak mungkin
pedangmu tergetar patah oleh cambukku."
"Apakah .... apakah karena Siang-liu-kiam-hoat yang
tulen tidak mungkin ada kesempatan bagimu untuk
menggetar patahkan pedangnya?" tanya Peng-say.
"Ya, sebab bila aku ingin menggetar patahkan pedang
lawan, betapapun cambukku harus beradu dengan pedang
lawan, tapi kelihayan Siang-liu-kiam-hoat justeru terletak
pada kelincahannya sehingga tidak memberi kesempatan
kepada lawan yang bertenaga dalam lebih kuat untuk
menyentuh kedua pedangnya itu. Sebab itulah, bilamana
kedua pedang sudah dimainkan, biarpun lawan yang punya
Lwekang tinggi juga tidak dapat menarik keuntungan
sedikitpun."
"Oo. . .jika begitu, bila kumainkan Siang-liu-kiam-hoat
dengan betul, hakikatnya cambukmu tidak mungkin dapat
menyentuh pedangku?" tanya Peng say.
"Memang," jawab Liok-ma "Jika sampai tersentuh, lalu
terhitung ilmu pedang macam apa Siang-liu-kiam-hoat bila
semudah itu pedangnya akan tergetar patah oleh musuh."
"Ilmu pedang yang kumainkan ini memang bukan Siang-
liu-kiam-hoat yang maha hebat itu, makanya kau dapat
menggetar patah pedangku," ucap Peng-say dengan tertawa.
"Lolo, ucapanmu dan Siocia kalian memang betul, yang
kumainkan ini hakikatnya bukan Siang-liu-kiam-hoat
segala, dibandingkan ilmu pedang sakti inipun selisih sangat
jauh juga kacau balau cara permainanku, maka hendaklah
kalian jangan lagi mengatakan Co-pi-kiam-hoat ku ini
adalah Siang-liu-kiam-hoat."
Liok-ma jadi melengak, pikirnya: "Ucapannya ini juga
ada betulnya." — Tapi setelah direnungkan lagi, mendadak
ia menggeleng dan berkata pula: "Tidak. tidak tepat!"
"Apa alasanmu?" tanya Peng-say.
Kiranya ilmu pedang keluarga Sau yang terkenal dengan
Pak-cay ini berjumlah belasan macam dan setiap macamnya
tergolong ilmu pedang kelas satu di dunia persilatan, lebih2
tiga macam ilmu pedang diantara belasan macam itu adalah
ilmu pedang khas yang tidak diajarkan kepada orang luar
terkecuali keturunan lurus keluarga Sau. Dan Siang-liu-
kiam-hoat diciptakan oleh Sau Cing-in dengan memetik
intisari dari ketiga macam ilmu pedang tadi.
Menurut aturan, Siam-liu-kiam-hoat inipun hanya
dipelajari oleh keturunan langsung keluarga Sau, lantaran
Liok-ma adalah kaum budak saja, dengan sendirinya satu
jurus saja dia tidak pernah belajar.
Akan tetapi Liok-ma pernah menyaksikan latihan Sau
Cing-in, Soat Peng-say tanya apa alasannya, dia memang
tak dapat memberi jawaban yang tepat, tapi ia lantas
berkata: "Co-pi-kiam-hoat-mu itu pasti Siang-liu-kiam-hoat,
kalau tidak masakah sekali pandang saja kurasa sudah
pernah melihatnva."
"Kalau diputuskan begitu saja berdasarkan sekali
pandang saja, kukira caramu ini hanya ingin menang
sendiri," ujar Soat Peng-say sambil menggeleng.
"Kuingat Siang-liu-kiam-hoat yang dimainkan Loya
sekaligus. menggunakan dua pedang kanan dan kiri,
mungkin karena kau cuma menggunakan tangan kiri saja,
maka tampaknya mirip, namun tak dapat mengeluarkan
daya serangan yang ampuh," demikian tutur Liok-ma.
"Tapi kalau kedua tanganmu sekaligus memainkan pedang,
mungkin caramu akan serupa Loya dan mengalahkan
diriku dengan satu jurus saja."
"Hakikatnya tangan kananku tak dapat kugunakan," ujar
Peng say. "Seumpama kupaksakan tangan kanan
memainkan ilmu pedangku, paling2 juga sama seperti dua
Soat Peng-say menghadapi seorang Lolo, coba pikir,
apakah Lolo tidak mampu menangkis satu jurus serangan
dari dua orang Soat Peng-say macamku ini?"
Liok-ma berpikir sejenak, katanya kemudian sambil
menggeleng: "Ya, tidak dapat, biarpun sepuluh orang Soat
Peng-say maju sekaligus juga tak dapat mengalahkan aku
dalam sejurus saja."
"Kalau begitu, maka persoalannya menjadi jelas sudah,"
kata Peng-say dengan tertawa. "Berhubung Co-pi-kiam-hoat
yang kumainkan tadi bukan Siaug-liu-kiam-hoat, maka
tidak dapat kukalahkan kau dalam sejurus. Lolo, berkat
kemurahan hatimu jiwaku telah kau ampuni. Sekarang jelas
Cayhe tiada sangkut-pautnya dengan Siang-liu-kiam-hoat,
juga jejak Loya kalian tak dapat ditemukan melalui diriku.
maka kumohon kalian jangan bertanya lagi dan sukalah
melaksanakan janjimu tadi."
"Maaksudmu supaya kubebaskan kalian kakak beradik?"
tanya Liok-ma dengan menarik muka.
"Itulah yang kuharapkan meski tidak berani kuminta,"
jawab Peng-say.
"Janjiku hanya mengampuni jiwa kalian, tapi tidak
kukatakan akan membebaskan kalian, ujar Liok ma.
"Tidak kau bebaskan kami juga tidak menjadi soal,
adalah beruntung dapat menjadi tamu Pak-cay yang
termashur ini," kata Peng-say dengan tersenyum.
"Hm, jika begitu kalian kakak-beradik boleh tinggal
selama hidup di Leng-hiang-cay sini," jengek Liok-ma.
Terkesiap juga Peng say, katanya: "Pemandangan alam
disini indah permai, tinggal selama hidup di sini juga boleh,
tapi bila maksud tujuan Lolo menahan kami disini hanya
untnk mencari tahu jejak Sau-locianpwe, maka harapan
kalian kukira takkan terkabul."
Liok-ma meloncat keatas dan mencabut pedang yang
menancap dibelandar tadi, lalu sepotong demi sepotong
pedang itu dipatahkannya sambil berkata: "Tamu selama
hidup dipenjara, apakah sekiranya kalian juga sanggup
bertahan?"
Tindakan ini mangandung ancaman. namun Soat Peng-
say hanya mendengus saja dan tidak menanggapinya pula
Seketika suasana jadi beku dan sukar didamaikan.
Sau Kim-leng yang mendengarkan sejak tadi mendadak
berkata sambil menghela napas panjang: "Bilamana dapat
kutunjukkan bahwa Co-pi-kiam-hoat Soat-kongcu ini pasti
Siang-liu-kiam-hoat ciptaan ayahku, apakah nanti Kougcu
mau percaya?"
"Untuk itu nona harus memainkan satu jurus demi satu
jurus dari seluruh ke-49 jurus Co-pi-kiam-hoat ini," jawab
Peng-say tegas.
Sau Kim-leng menggigit bibir dengan giginya yang putih
rajin itu, lalu berkata: '"Baik, akan kulakukan sekuat
tenaga!"
"Jangan!" mendadak Liok-ma mencegah.
"Kenapa jangan?" ujar Kim-leng dengan tersenyum getir.
"Memang tidak salah ucapan Soat-kongcu, bilamana
kutahu apa yang disebut Siang-liu-kiam-hoat, kalau tak
dapat kumainkan sendiri, jelas orang lain tidak mau
percaya." — Dia memberi tanda agar Liok-ma tidak
merintangnya, lalu ia memanggil pelahan: "Siau Li, coba
ambilkan pedang di dinding itu."
Pelayan lain yang sejak tadi menunggu diluar pintu
kamar mengiakan dan melangkah masuk pedang hiasan
yang tergantung didinding sana diambilnya serta
diangsurkan kepada Sau Kim-leng.
Bagian-13
Setelah memegang pedang ringan itu, Kim-leng berkata
pula: "Soat-kongcu, ke-49 jurus Co-pi-kiam-hoat itu tak
dapat kumainkan dengan lengkap."
"Sejak kecil nona tidak belajar silat, dengan sendirinya
yang dapat kau ingat sangat terbatas," ujar Peng-say. "Tapi
kalau dapat kau mainkan sepuluh jurus dengan tepat, maka
akupun percayalah."
Dengan pedang terhunus Sau Kim-leng lantas maju
ketengah ruangan yang sudah bebas dari perabot itu, ia
pasang kuda2 menurut ajaran ibunya.
Selagi dia hendak memutar pedangnya menurut
ingatannya, mendadak Liok-ma berseru: '"Siau Leng...."
Namun Sau Kim-leng tidak menghiraukannya, dia mulai
memainkan ilmu pedang itu dengan jurus "Kiong-siang-kut-
tau".
Setiap jurus yang dimainkannya sangat lambat,
tampaknya tiada sedikitpun daya serangan. namun gaya
gerakannya serupa benar dengan permainan Soat Peng-say
tadi. Baru lima-enam jurus saja, meski tepat permainannya,
namun butiran keringat sudah mulai merembes di dahinya.
"Sudahlah, cukup, cukup . . . ." seru Liok-ma, suaranya
kedengaran cemas dan kuatir, se-akan2 bila Sau Kim-leng
melanjutkan permainan pedangnya segera akan tertimpa
bencana.
Tapi demi untuk meyakinkan Sou Peng-say, Sau Kim-
leng tidak mau berhenti.
Karena tak dapat mencegahnya. cepat Liok-ma
mendekati Peng-say dan berkata: "Lekas kau suruh dia
berhenti!"
Namun Soat Peng-say tidak menggubrisnya.
Dilihatnya Sau Kim-leng telah mandi keringat ketika
bermain sampai jurus kedua belas. Hal ini membuat Soat
Peng-say tidak mengerti. Ia pikir, biarpun perempuan yang
paling lemah juga takkan lelah memainkan ilmu pedang
yang tidak disertai tenaga dalam ini.
Pada saat itulah mendadak terdengar Liok-ma berseru
padanya: "Jika tidak lekas kau minta dia berhenti, sebentar
bila urat nadi Liok-im keterjang, jiwanya pasti sukar
dipertahankan."
"Apa katamu? Dia memiliki urat nadi Liok-im yang
buntu?" teriak Peng-say terkejut.
Dia pernah mendengar dari Tio Tay-peng bahwa di
dunia ini ada sejenis orang yang selama hidupnya tidak
boleh belajar silat, jika memaksa belajar silat, biarpun
gerakan yang sangat umum, tentu juga akan mengakibatkan
urat nadi Liok-im terganggu dan jiwa bisa melayang.
Hal ini disebabkan kelainan orang yang memiliki urat
nadi Liok-im yang bi ... .bila orang biasa dapat belajar silat
untuk kesehatan maka orang yang mempunyai kelainan
urat nadi itu tak dapat berlatih, bahkan terlalu lelah juga
tidak boleh, apalagi kalau bergerak terlatu keras dan
mengguncangkan Liok-im, bisa jadi urat nadi akan putus
seketika dan binasa.
Dengan sendirinya Soat Peng-say tidak mau
menanggung dosa membikin celaka nyawa orang, cepat ia
berseru: "Harap berhenti, nona!"
Saat itu Sau Kim-leng sudah main sampai jurus ke-17,
kepala sudah terasa pusing dan mata ber-kunang2, ia tahu
bila permainan diteruskan tentu membahayakan jiwanya,
maka demi mendengar seruan Soat Peng-say itu, perlahan2
ia lantas menghentikan gerakan pedangnya.
Walaupun begitu berdirinya saja tidak tegak lagi dan ter-
huyung2. Cepat Siau Li memburu maju untuk
memapahnya.
"Bawa kesamping Soat-kongcu," kata Kim-leng dengan
lemah.
Siau Li mendudukkan Siocianya pada kursi di samping
Soat Peng-say itu, begitu lelah sehingga napas Sau Kim-leng
tampak megap2.
Apabila orang biasa, cukup Liok-ma menyalurkan sedikit
tenaga murninya dan dapat memulihkan kekuatan si nona.
Tapi urat nadi Sau Kim-leng ada kelainan, bila dibantu
dengan tenaga murni, bukannya menyembuhkan
kesehatannya, sebaliknya akan membikin celaka padanya
malah.
Karena itulah Liok-ma hanya menunggui dengan cemas,
Siau Li disuruh mengambilkan handuk dingin untuk
mengusap muka si nona, sejenak kemudian barulah Sau
Kim-leng pulih kembali seperti biasa.
Setelah tenang kembali, dengan suara rendah Sau Kim-
leng lantas tanya: "Soat-kongcu, tepat tidak ke-17 jurus yang
kumainkan tadi?"
Peng-say melihat luka di dada si nona telah
merembeskan darah lagi sehingga bajunya yang putih
berlepotan darah lebih banyak. Ia mengangguk dan
menjawab: "Tepatnya memang tepat, cuma. . ." tapi
mengingat si nona telah memainkan ke-17 jurus tadi dengan
susah payah, ia tidak tega memberi penilaian lagi
"Cuma apa? Harap Kongcu bicara terus terang," pinta
Kim-leng.
"Nona memang cerdas luar biasa," kata Peng-say secara
tidak langsung, "daya ingatanmu juga sangat kuat. . . ." "
Dibalik ucapannya ini se-akan2 hendak mengartikan si
nona cuma berdasarkan daya ingatannya yang kuat, maka
dapat mengulangi permainan pedang Peng-say yang telah
dilihatnya tadi.
Sudah tentu Sau Kim-leng dapat menangkap arti ucapan
anak muda itu, sungguh tak tersangka sedemikian kejam
hati anak muda itu, ia telah berusaha mati2an, akhirnya
cuma sia-sia belaka. Seketika tubuh Kim-leng menjadi
gemetar saking penasaran, selang sejenak barulah ia tanya
pula: "Apakah ke-49 jurus itu harus kumainkan seluruhnya
baru Kongcu mau percaya?"
"Sudahlah, kukira tidak perlu," sahut Peng-say.
Sau Kim-leng lantas meronta turun dari kursinya,
katanya dengHn tegas: "Baik, akan kumulai dengan jurus
ke-18!"
Liok-ma bertambah cemas. teriaknya bengis: "Soat Peng-
say, apakah kau sengaja hendak membikin celaka dia?"
Dengan ketus Peng-say menjawab: "Aku kan seperti ikan
di dalam kuali dan akan menjadi makananmu yang empuk.
masa aku berani mencelakai Siocia kalian?"
Pedih rasa hati Sau Kim-leng mendengar ucapan anak
muda itu, dengan rasa getir iapun berkata: "Jangan kuatir,
apabila kubikin celaka diriku sendiri, tidak nanti kuminta
ganti nyawa padamu." — Habis berkata ia terus melangkah
ketengah pula dengan pedang terhunus.
"Biarpun nona dapat memainkan ke-49 jurus secara
lengkap dan benar, tetap aku tidak mau mengakui Co-pi-
kiam-hoat ajaran guruku adalah Siang-liu-kiam-hoat."
Kim-leng melengak dan berhenti melangkah.
Liok-ma kegirangan melihat sang Siocia dapat dicegah
menyerempet bahaya, tapi ia lantas bertanya: "Sebab apa?"
— Ia menyangka Peng-say sengaja mencegah permainan
pedang si nona, maka ia bertanya dengan nada yang ramah
dan pelahan.
Soat Peng-say lantas menjawab: "Betapapun ruwetnya
ilmu pedang didunia ini tetap dapat di ingat dengan baik,
lalu dimainkan menurut apa yang telah dilihatnya. Tapi
kalau tangan tidak memberi gerakan kunci ilmu pedangnya,
melulu gerakan kosong saja tetap tiada gunanya."
Sau Kim-leng menghela napas, ia putar balik dan duduk
kembali di kursi tadi.
"Maaf, nona," kata Peng-say pula, "lantaran
permainanmu tadi tiada satu jurus pun yang disertai
gerakan kunci, sebab itulah meski permainanrmu tidak
salah, namun hal itu tidak dapat menyatakan bahwa nona
mahir memainkan Co-pi-kiam-hoat dan lebih2 tak dapat
dijadikan bukti. Bilamana nona tetap ingin
membuktikannya, maka silakan menguraikan beberapa kata
kunci ilmu pedangnya, asalkan tepat beberapa kalimat
diantaranya, maka percayalah aku."
"Jangankan beberapa kalimat kuncinya, satu kalimat saja
aku tidak tahu," jawab Sau Kim-leng sambil menggeleng.
"Hm, syukur nona mau bicara terus terang," jengek
Peng-say, "pantas. . . ."
Mungkin lanjutannya adalah kata2 yang tidak enak
didengar, makanya dia tidak menyambung.
"Silakan Kongcu bicara lebih lanjut," desak Kim-leng.
"Nona ingin mendengarnya?" tanya Peng-say.
"Ya, sekalipun kata2 mengejek dan menusuk perasaan.
tetap ingin kudengar." ujar si nona.
"Juga bukan kata2 mengejek. cuma waktu turun gunung,
guruku telah memperingatkan agar jangan sembarangan
memainkan Co-pi-kiam-hoat, sebab kalau dilihat oleh orang
yang berhati tamak. bisa jadi orang akan berusaha menipu
kunci rahasia ilmu pedang ini."
"Kau kira kami ini orang semacam itu?" tanya Sau Kim-
leng.
"Mana berani kubilang begitu, Co-pi-kiam-hoat yang
tiada artinya ini masa terpandang dimata Pak-cay yang
termashur?!" ujar Peng-say.
"Di mulut kau bilang tidak, tapi di dalam hati kau
anggap aku bersekongkol dengan Liok-ma, sebab itulah kau
tidak mau mengakui Co-pi-kiam-hoat adalah Siang-liu-
kiam-hoat, begitu bukan?"
"Tidak, ilmu pedang ajaran guruku ini memang bukan
Siang-liu-kiam-hoat," jawab Peng-say tegas.
"Apakah kau kuatir secara resmi kami minta kembali
bilamana kau mengaku ilmu pedangmu itu adalah Siang-
liu-kiam-hoat?" tukas Liok-ma.
Terhadap si nenek Soat Peng-say tidak mau sungkan2,
segera ia menjawab dengan ketus: "Aku kan sudah jatuh
ditanganmu, apakah perlu kau bicara tentang resmi dan
sebagainya, kan dapat kau gunakan kekerasan untuk
memaksa pengakuanku."
Mendongkol si nenek, katanya: "Apa susahnya untuk itu,
tiba saatnya nanti masakah kau tidak bicara secara terus
terang?"
Mendadak Kim-leng berseru: "Liok-ma, apakah aku
akan kau bikin menjadi manusia yang tidak berbudi?"
"Cara bicara bocah ini terlalu kaku, bila tidak diberitahu
rasa sedikit, tentu dia belum kenal kelihayan Pak-cay!" ujar
Liok-ma.
"Soat-kongcu," Sau Kim-leng lantas berkata kepada Peng
say, "janganlah kau anggap sungguh2 ucapan Liok-ma,
sama sekali kami tidak bermaksud menipu atau memeras
kunci rahasia ilmu pedangmu."
Si nona bicara dengan sungguh dan setulus hati, tapi
Soat Peng-say tetap tidak percaya, pikirnya: "Ah, jangan2
kau cuma manis di mulut tapi keji di hati. Kalian bilang Sau
Cing-in menghilang selama 20 tahun, bahwa Co-pi-kiam-
hoatku ini adalah Sian-liu-kiam-hoat pusaka keluargamu
segala, hm, rupanya setindak demi setindak kalian hendak
menjirat diriku agar kukembalikan ilmu pedang yang kalian
katakan sebagai Siang-liu-kiam-hoat ini."
Tadinya ia mengira Sau Kim-leng adalah seorang nona
yang jujur dan perlu dikasihani, tapi sekarang sedikitpun dia
tidak kasihan lagi padanya dan menganggap dia cuma
pura2 saja.
Dari air muka Peng-say yang guram itu, Kim-leng tahu
apa yang dipikirkan anak muda itu pasti tidak
menguntungkan pihaknya, diam2 ia menyalahkan cara
bicara Liok-ma yang kasar itu sehingga menambah rasa
curiga orang.
Ia berusaha memberi penjelasan, katanya: "Keluarga Sau
memiliki tiga macam ilmu pedang, masing2 bernama 'Hui-
ngai', 'Liu-jay' dan 'Hoa-hong'. Ketiga macam ilmu pedang
ini hanya diturunkan kepada putera kandung sendiri dan
tidak diajarkan kepada murid, bahkan anak perempuan
sendiri juga tidak diajari. Siang-liu-kiam-hoat ciptaan
ayahku bersumber dari ketiga macam ilmu pedang leluhur
tadi, demi mentaati peraturan leluhur, maka cuma putera
ayah saja yang boleh mendapatkan ajaran Siang-liu-kiam-
hoat.
"Akan tetapi waktu ayah menghilang, ibu belum
melahirkan seorang anakpun, sebab itulah selama ayah
sendiri tiada orang kedua lagi yang tahu rumus Siang-liu-
kiam-hoat, sedangkan kitab pusaka ilmu pedang tersebut
juga hilang bersama dengan lenyapnya ayahku."
"Hanya saja waktu ayah menciptakan ilmu itu, saking
asyiknya beliau sering2 lupa makan dan lupa tidur,
mendiang ibuku senantiasa mendampingi ayah, maka setiap
gerakan dan setiap jurus ilmu pedang tersebut telah
diingatnya dengan baik dan apal, bahkan dari serangan
setiap juius, pada waktu diciptakan ayah pasti juga
memberitahu kepada ibu, karena itulah ibu sendiri sangat
memahami Siang-liu-kiam-hoat, baik gerakannya, nama
setiap jurusnya dan daya serangannya. semuanya
diketahuinya dengan jelas, namun rumusnya sama sekali
tidak paham.
"Tahu permainannya tanpa memahami rumusnya, tentu
saja tidak banyak gunanya, namun ibu tidak mau tanya
kepada ayah, andaikan ditanyakan juga ayah takkan
memberitahu mengingat petuah leluhur. Setelah ayah
menghilang, ibu telah mencarinya hingga belasan tahun dan
tidak bertemu, namun beliau belum lagi putus asa, cuma
sayang kesehatan ibu lantas terganggu sehingga tidak
sanggup mencari jejak ayah lagi, tugas pencarian itupun
lantas diserahkan kepadaku.
"Cuma aku dilahirkan setelah ayah menghilang, selama
ini belum pernah kukenal muka ayah, lalu cara begaimana
aku mencarinya. andaikan bertemu muka juga tidak kenal
dan usaha pencarian tentu akan sia2 belaka. Apalagi
menghilangkan ayah bersangkutan dengan kitab pusaka
Siang-liu-kiam-hoat, hanya melalui pencarian kitab pusaka
itulah jejak ayahku dapat ditemukan.
"Mungkin ibu menyadari hidupnya tak tahan lama lagi,
maka beliau lantas memberitahukan nama dan gaya
permainan Siang-liu-kiam-hoat itu kepadaku. bahkan
dimainkannya dihadapanku meski dalam keadaan sakit,
supaya aku dapat mengingat seluruh teori dan praktek
Siang-liu-kiam-hoat itu. Pada saat ibu mangkat, beliau
memberi pesan wanti2 agar selama hidupku ini harus
mencaritahu kemana menyhilangnya ayah, tapi sejauh ini
belum kutemukan sesuatu petunjuk apapun meski setiap
tahun sekali aku pasti meninggalkan gunung ini untuk
melakukan penyelidikan. Sampai hari ini . . . . "
"Karena melihat aku dapat memainkan ilmu pedang
yang serupa Siang-liu-kiam-hoat, maka kau kira ada
petunjuk yang dapat menemukan jejak ayahmu, begitu
bukan?" sela Soat Peng-say.
"Ya, maka kumohon Kongcu sudi membantu!" Kim-leng
memohon dengan sangat.
Peng-say menggeleng. katanya: "Jangankan aku tidak
dapat memberi bantuan apa2, andaikan bisa. . ." dia
merandek dan tidak meneruskan.
"Jangan2 kau kuatir Leng-hiang-cay akan bertindak
sesuatu yang tidak menguntungkan gurumu?" tanya Sau
Kim-leng.
Memang inilah yang dikuatirkan Soat Peng-say. Ia pikir
Sau Cing-in sudah hilang lebih 20 tahun, besar
kemungkinan sudah mati, bilamana kematiannya
berhubungun langsung dengan kitab pusaka Siang-liu-kiam-
hoat, maka orang yang mendapatkan kitab pusaka itu
mungkin juga si pembunuh Sau Cing-in, jika keluarga Sau
berhasil menemukan orang itu, mustahil urusan ini dapat
didamaikan dan bila Soat Peng-say membantu mereka,
bukanlah ini berarti dia membikin celaka gurunya sendiri?
Sudah tentu Ping-say tak dapat mengakui kekuatirannya
itu, jawabnya sambil menggeleng: "Tidak, Co-pi-kiam-hoat
guruku jelas bukan Siang-liu-kiam-hoat!"
"Alasanmu tetap menyatakan Co-pi-kiam-hoat bukan
Siang-liu-kiam-hoat, apakah lantaran tiada satu jurus Co-pi-
kiam-hoatmu itu dapat mengalahkan Liok-ma?" tanya Kim-
leng.
"Ya, boleh dikatakan begitu," jawab Peng-say.
"Sebabnya tak dapat mengalahkan Liok-ma dengan satu
jurus adalah karena yang diperoleh gurumu hanya setengah
bagian dari kitab Siang-liu-kiam-hoat!"
"Darimana kau tahu?" tanya Peng-say.
"Coba Kongcu terka, sebab apa kukatakan ketiga jurus
serangan gabungan kedua pedangmu itu masih selisih
sangat jauh?"
"Dan harus ditambah lagi satu kalimat, kacau balau!"
tukas Peng-say dengan menyengir.
"Untuk itu hendaklah Kongcu sudi memberi maaf," kata
Kim-leng dengan menyesal. "Bukan maksudku
meremehkan kesanggupan gurumu, padahal boleh
dikatakan tidak mudahlah bagi gurumu yang cuma
mempunyai lengan satu, tapi dapat menciptakan ketiga
jurus serangan gabungan dua pedang itu."
Peng-say terkejut. "Da. . .darimana kau tahu guruku
hanya mempunyai lengan satu?" tanyanya cepat.
"Kalau tidak lengan satu, mengapa Kongcu memainkan
gerak serangan dua pedang, tapi yang digunakan hanya
tangan kiri saja?" kata Kim-leng. "Maka jelaslah gurumu
adalah seorang yang cuma berlengan satu, dan jurus
serangan dua pedang yang diciptakan orang yang buntung
sebelah tangannya dengan sendirinya juga cuma cocok
digunakan dengan satu tangan saja."
Mau-tak-mau Soat Peng-say mengangguk, katanya:
"Ucapan nona memang betul, ketiga jurus serangan
gabungan dua pedang yang diciptakan guruku itu bila
kugunakan dengan kedua tangan, jadinya malah tidak
sehebat bilamana kumainkan dengan satu tangan."
"Apakah Kongcu tahu sebab apa gurumu menciptakan
ketiga jurus serangan itu dengan menggunakan pedang
ganda?" tanya Kim-leng.
Peng-say menggeleng, jawabnya: "Hal ini akupun tidak
tahu. Tadinya kukira ilmu pedang yang dilatih Suhu melulu
terdiri dari tiga jurus itu saja dan harus digunakan dengan
dua pedang. Tapi ketika Subu mengajarkan ketiga jurus itu
padaku, beliau bilang ketiga jurus itu adalah hasil
ciptaannya selama berlatih belasan tahun, maka aku
dipesan menyelaminya lebih mendalam. Waktu itu akupun
heran mengapa Suhu mencari susah sendiri dengan ilmu
pedang ciptaannya yang aneh itu."
"Orang berlengan satu justeru menciptakan permainan
pedang ganda, setiap orang pasti akan menganggap
penciptanya itu mencari susah sendiri," kata Kim-leng.
"Tapi kalau Kongcu percaya pada keteranganku, tentu kau
takkan ragu2 lagi."
"Percaya apa?" tanya Peng-say.
"Percaya bahwa gurumu hanya mendapatkan setengah
bagian dari kitab pusaka Siang-liu-kiam-hoat milik ayahku,"
kata Kim-leng.
Karena ingin tahu sebab-musababnya, Soat Peng-say
tidak lantas menyangkalnya, katanya: "Coba jelaskan lebih
lanjut."
"Kitab pusaka Siang-liu-kiam-hoat itu terdiri dari dua
bagian, satu kiri dan satu kanan, satu depan dan satu balik,
satu 'Yang' dan satu 'Im', hal inipun diketahui oleh Liok-
ma," tutur Sau Kim-leng.
-ooo0dw0ooo-

Jilid 6
"Ya, dahulu aku dikalahkan Loya hanya dengan satu
jurus saja, dalam hati sangat kukagumi Siang-liu-kiam-hoat
ciptaan Loya itu," demikian Liok-ma bertutur. "maksudku
hendak memohon Loya suka memberi petunjuk barang
sejurus-dua, tapi Loya menolak karena tidak berani
melanggar peraturan leluhur. Beliau cuma menyebut ke-12
kata tadi, yaitu: satu kiri satu kanan, satu depan satu balik,
satu 'Yang' satu 'Im', katanya berkat intisari ke-12 kata
itulah Siang-liu-kiam-hoat sudah jauh diatas segala ilmu
pedang di antero kolong langit ini. Tatkala itu aku tidak
begitu jelas arti kata tersebut, sekarang setelah kupikir, bisa
jadi Co-pi-kiam-hoat yang dimainkan Soat-kongcu memang
betul cuma setengah bagian dari Siang-liu-kiam-hoat,
makanya engkau tidak dapat mengalahkan diriku dalam
satu jurus."
Sau Kim-leng lantas menyambung: "Apa yang disebut
satu kiri satu kanan. maksudnya satu orang sekaligus
memainkan dua macam ilmu pedang yang tidak sama,
untuk ini dengan sendirinya orangnya harus mempunyai
dua tangan yang utuh. Tapi kalau satu orang berlatih satu
tangan, lalu dua orang maju bersama, tetap dapat
memancarkan daya serangan Siang-liu-kiam-hoat yang
dahsyat. Sesuai dengan keadaan begitu, ayah lantas
membagi Sian-liu-kiam-hoat menjadi dua bagian.
Tapi kalau dilatih begitu saja, Siang-liu-kiam-hoat
tampaknya menjadi serupa Liang-gi-kiam-hoat Bu-tong-pay
dan tiada sesuatu yang luar biasa. Konon Liang-gi-kiam-
hoat Bu-tong-pay itu tergolong top di dunia persilatan saat
ini, tapi ilmu pedang pedang itu harus dimainkan dua orang
sekaligus, Jadi, dengan dua lawan satu, andaikan menang
juga kurang gemilang. Sedangkan Liang-gi-kiam-hoat tidak
dapat dimainkan satu orang, maka bila diadakan
pertandingan ilmu pedang secara terbuka, jelas Liang-gi-
kiam-hoat tidak mungkin menjadi juara. Berdasarkan
alasan tersebut, ayahku berpikir bila mau menciptakan
sejenis ilmu pedang yang memainkan dua pedang sekaligus,
maka hal itu harus dilakukan oleh satu orang saja dengan
menggunakan tangan kanan dan kiri. Disinilah kejutan
hasil ciptaan ayah yang tidak dapat disamai oleh Liang-gi-
kiam-hoat."
-Tapi ayahku juga mempertimbangkan suatu soal, yakni,
dapatkah orang lain menghadapi kesulitan berlatih ilmu
pedang ganda yang dimainkan tangan kanan dan kiri
sekaligus. Lebih2 puteranya sendiri apakah kelak
mempunyai bakat seperti sang ayah. Maklumlah, hanya
karena kecerdasan yang tinggi ayah dapat menciptakan
Siang-liu-kiam-hoat, tapi apakah kecerdasan orang lain,
termasuk puteranya sendiri, apakah juga setinggi ayah?
Dengan sendirinya hal ini sukar terjadi, mengingat kesulitan
inilah selama beberapa tahun ayah berusaha membagi
Siang-liu-kiam-hoat menjadi dua bagian, dengan demikian
Sian-liu-kiam-hoat dapat dilatih oleh satu orang hingga
sempurna, tapi dua orang melatihnya dengan salah satu
tangan juga dapat mencapai hasil yang sama, semua itu
bergantung pada bakat dan kecerdasan masing2."
Sampai disini, Sau Kim-leng berhenti sejenak, kemudian
menyambung pula: "Penjelasanku ini hanya ingin
kuberitahukan kepada kongcu apa sebabnya Co-pi-kiam-
hoat gurumu itu dapat berdiri sendiri, dengan alasan yang
sama, orang yang mendapatkan sebagian Siang-liu-kiam-
hoat yang lain juga dapat memainkan 49 jurus Yu-pi-kiam-
hoat (ilmu pedang tangan kanan) dan tampaknya juga 'Ilmu
pedang yang berdiri sendiri."
Soat Peng-say mendengarkan dengan diam2 saja,
dahinys berkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Selang sejenak lagi baru Soat Peng-say berkata; "Harap
nona melanjutkan penuturanmu."
"Meski kedua bagian Siang-liu-kiam-hoat yang
kukatakan tadi dapat berdiri sendiri2, namun sejak mula
maksud tujuan ayah hanya ingin menciptakan semacam
ilmu pedang yang dimainkan satu orang saja dan kemudian
terpaksa dipecah menjadi dua, maka bila ada seorang yang
berbakat tinggi dan cuma dapat meyakinkan setengah
bagian saja dari ilmu pedang ciptaan ayah itu, baginya akan
selalu merasa ada sesuatu kekurangan. -Aku tidak tahu
mengapa gurumu hanya mendapatkan bagian kiri dari ilmu
pedang ayah itu, tapi jelas gurumu telah merasakan
kekurangannya, cuma sayang kitab yang berada padanya
hanya setengah bagian saja, mungkin dia tidak tahu masih
ada setengah bagian lagi, akibatnya berdasarkan
kepintarannya sendiri gurumu telah menciptakan ketiga
jurus serangan gabungan yang daya serangannya jauh lebih
hebat daripada ke-49 jurus Co-pi-kiam-hoat yang
ditemukannya. Tapi gurumu hanya mempunyai satu
lengan, bahkan tiga jurus serangannya itu diciptakan
lantaran ketidak-puasan, dengan sendirinya ilmu pedang
ciptaan gurumu lidak dapat melebihi ketiga macam ilmu
pedang warisan leluhur kami. Sebab itu pula, meski ketiga
jurus ciptaan gurumu itu bergaya Siang-liu-kiam-hoat yang
tulen, namun . . . . " karena kuatir Soat Peng-say tidak
senang, maka Kim-leng tidak melanjutkan.
"Namun jauh di bawah kelihayan daya serangan
gabungan dua pedang ciptaan ayahmu, makanya nona
bilang selisih sangat jauh dan kacau balau, begitu bukan?"
tukas Peng-say.
Melihat cara bicara anak muda itu masih penasaran,
dengan menyesal Sau Kim-leng berkata: "Harap .... harap
engkau suka memaafkan keterus-teranganku. . . ."
"Kenapa mesti minta maaf," ujar Peng-say dengan ketus.
"Kenyataannya Co-pi-kiam-hoat guruku memang jauh
dibandingkan Siang-liu-kiam-hoat!" Di balik ucapannya
jelas masih bernada tidak mengakui Co-pi-kiam-hoat!
adalah sebagian dan Siang-liu-kiam-hoat.
Meski Sau Kim-leng dapat menangkap nada ucapan Soat
Peng say itu, tapi ia malah berkata pula: "Kelihayan Liang-
gi-kiam-hoat Bu-tong-pay itu terletak pada penggunaannya
oleh dua orang sekaligus, bila dimainkan satu orang saja,
maka banyak sekali lubang kelemahannya, sekalipun ilmu
pedang biasa saja dapat mematahkannya. Meski Siang-liu-
kiam-hoat tidak terdapat kelemahan demikian, tapi cuma
setengah bagian saja juga sukar mengeluarkan daya
serangnya yang ampuh. Andaikan gurumu bisa
mendapatkan dua bagian secara lengkap, biarpun lengan
satu tidak leluasa melatih dua pedang sekaligus, tapi dengan
kecerdasan gurumu kuyakin beliau sanggup menguasai
delapan atau sembilan bagian."
Maksud Sau Kim-leng hendak memuji guru Soat Peng-
say, tak terduga anak muda itu malah berkata dengan ketus:
"Sekali Co-pi-kiam-hoat tetap Co-pi-kiam-hoat, masa ada
setengah bagian Siang-liu-kiam-hoat apa segala?"
Liok-ma menjadi marah, damperatnya: "Anak busuk,
sudah setengah harian Siocia memberi penjelasan padamu,
jika kau tetap kepala batu, bila Lolo naik darah, batang
lehermu bisa kupuntir patah!"
Tapi Sau Kim-leng menjadi tidak senang, katanya:
"Liok-ma, silakan kau keluar saja." Dengan mendongkol
terpaksa Liok-ma mengundurkan diri, tapi dia masih merata
kuatir, ia hanya berhenti diambang pintu dan tidak keluar.
"Soat kongcu," kata Kim-leng pula dengan lembut,
"apakah benar Co-pi-kiam-hoat gurumu itu bukan Siang-liu-
kiam-hoat?"
"Bukan!" jawab Peng-say tegas.
Betapapun dia takkan mengakui Co-pi-kiam-hoat adalah
Siang-liu-kiam-hoat, tapi dalam hati ia tahu ucapannya itu
bertentangan dengan hati nurani sendiri. Bukan saja dia
tahu Co-pi-kiam-hoat gurunya itu memang betul setengah
bagian kiri Siang-liu kiam-hoat, bahkan iapun mengetahui
setengah bagian kanan Siang-liu-kiam-hoat itu dimiliki oleh
seorang perempuan berlengan kanan yang telah membunuh
Beng Eng-kiat itu.
Walaupun tidak diketahui asal-usul perempuan buntung
itu, anehnya tangan perempuan yang buntung itu justeru
tangan kiri, inilah suatu kebetulan yang aneh dan
menimbulkan tanda tanya.
Padahal sudah dua kali dia mendengar nama Siang-liu-
kiam-hoat, pertama kali pada lima tahun yang lalu ketika
Tio Tay-peng mengalahkan Beng Si-hian, waktu itu Beng
Si-hian telah memberi pesan kepada anak perempuannya
yang masih kecil itu agar bilang kepada Beng Eng-kiat
bahwa dirinya mati oleh Siang-liu-kiam. Kedua kalinya
baru terjadi beberapa hari yang lalu, yaitu ketika Beng Eng-
kiat berpesan kepada Beng Siau-gi (puteri Beng Si-hian)
agar selalu ingat bahwa kakek dan ayahnya mati terbunuh
oleh Siang-liu-kiam-hoat.
Tapi lantaran selama menjadi murid Tio Tay-peng belum
pernah sang guru menyebut nama Siang-liu-kiam-hoat
hanya dikatakan bahwa ilmu pedang yang diajarkan itu
bernama Co-pi-kiam-hoat, maka Peng-say mengira
sebabnya sang guru merahasiakan nama ilmu pedang ini
mungkin kuatir dia tidak dapat tutup mulut rapat2 dan bisa
jadi akan menyebutkan nama Siang-liu-kiam-hoat di depan
umum dan didengar anak murid Pak cay. Ia pikir mungkin
inilah alasannya sang guru pernah pesan padanya agar
dirinya jangan sampai bertengkar dengan anak murid Pak-
cay.
Tadinya ia mengira sang guru mengetahui kelihayan
ilmu pedang Pak-cay, maka dikatakannya bahwa Co-pi-
kiam-hoat tidak ada artinya bagi pandangan anak murid
Pak-cay Baru sekarang ia tahu bukannya tiada artinya bagi
pandangan anak murid Pak-cay, yang benar ialah kuatir
ilmu pedangnya itu dikenali orang.
Dan mengapa kuatir orang mengenali Co-pi-kiam-hoat
adalah Siang-liu-kiam-hoat, mengapa kuatir dikenali oleh
anak murid Pak-cay? Jangan2 sang guru yang membikin
celaka ketua Pak-cay Sau Cing-in?
Mengingat hal2 itu, terpaksa Peng-say berkeras tidak
mau mengakui Co-pi-kiam-hoat sebagai Siang-liu-kiam-
hoat. Iapun kuatir bilamana mengakui kebenarannya,
jangan2 Liok-ma akan memaksa dirinya membawa nenek
itu untuk menemui sang guru, ia pikir gurunya pasti bukan
tandingan Liok-ma, mana boleh dia membawa seorang luar
untuk membunuh gurunya sendiri?
Begitulah, karena merasa berdusta, Peng-say merasa
malu diri, ia menunduk dan tidak berani memandang Sau
Kim-leng.
Didengarnya si nona menghela napas pelahan, ucapnya
rawan: "Kau tidak mau mengaku, ya, apa boleh buat,
akupun tidak dapat memaksa, cuma kumohon sesuatu
padamu, maukah kau berjanji?"
Dia masih tetap memobon dengan suara lemah-lembut,
sedikitpun tidak gusar. Mau-taU-mau Peng-say merasa
rikuh, ia mengangkat kepala dan berkata: "Silakan nona
bicara saja, asalkan sanggup kulakukan. tentu akan
kuterima."
"Kumobon sukalah engkau ikut bantu mencari tahu jejak
ayahku baik hidup atau mati." kata Kim-leng. "Andaikan
benar ayah sudah mengalami nasib malang, bila tulang
beliau dapat dibawa pulang untuk dikubur bersama ibuku,
cukup kiranya sekadar menghibur arwah ibu di alam baka."
"Bila ayah nona meninggal di tangan musuh, apakah
nona tidak ingin menuntut balas?" tanya Peng-say.
"Jangan kuatir. akan kuberi perintah kepada segenap
anggota Pak-cay agar tidak mencari gurumu untuk
menuntut balas, asal saja gurumu mau memberitahukan
jejak ayahku," kata Kim-leng.
"Ah, nona jangan bergurau, darimana guruku tahu di
mana ayahmu?" ujar Peng-say dengan waswas.
"Apakah kau kuatir kami akan mencari gurumu untuk
menuntut balas?" tanya Kim-leng pula dengan gegetun.
"Padabal siapa pula yang mampu menuntut balas bagi
ayahku? Aku? ai, aku sendiri jelas tidak mempunyai
kepandaian apa2, hakikatnya tiada soal menuntut balas
bagiku. Adapun murid ayah, sejak ibu meninggal, satu
persatu mereka sudah pergi semua tanpa sisa seorangpun.
Mereka adalah manusia yang rendah. tidak tahu budi dan
tidak setia, mereka hanya mementingkan dirinya sendiri,
mana mau mengurus mati-hidup ayahku lagi."
Dengan sendirinva Peng-say tidak percaya bahwa Sau
Kim-leng tidak akan menuntut balas bagi ayahnya, ia
memandang Liok-ma yang berdiri diambang pintu sana dan
berpikir: "Kau sendiri tidak, tapi dia?"
Sau Kim-leng dapat meraba pikiran Soat Peng-say itu, ia
menggeleng dan berkata: "Jika ayah sudah mengalami nasib
malang dan sekiranya menyangkut gurumu, tentu takkan
kusuruh Liok-ma mencari dan menuntut balas pada
gurumu. Yang ingin kami ketahui hanya jejak ayahku yang
sesungguhnya."'
"Ucapan nona semakin aneh kedengarannya. bilamana
ayahmu mengalami sesuatu, manabisa ada sangkut-pautnya
dengan guruku?"
"Baiklah, engkau tidak perlu menjelaskan di mana
kediaman gurumu, kami takkan mencari beliau, kami
hanya mohon engkau suka bantu mencari tahu dimana
jejak Caycu atau ayahku," cara bicara Sau Kim-leng
sekarang sudah lebih bersifat memohon dengan sangat.
Peng-say mengangguk, katanya; "Sebagai sesama orang
Bu-lim, sudah sepantasnya kuberi bantuan, tapi sama sekali
aku tidak tahu cara bagaimana ayahmu menghilang.
Apabila ada penjelasan sekadarnya, tentu akan jauh lebih
mudah untuk menyelidikinya."
Sudah tentu Sau Kim-leng tahu maksud Peng-say yang
tidak ingin melibatkan gurunya dalam persoalan ini, maka
iapun berkata pula mengikuti haluan Peng-say itu: "Ayah
meninggalkan rumah dan hilang pada 27 tahun yang lalu "
mendadak ia merandek ketika menyadari ucapannya
keseleo, cepat ia menunduk dengan kikuk.
Melihat sikap si nona, pahamlah Soat Peng-say,
pikirnya: "Pantas kau tidak bermaksud menuntut balas,
kiranya Sau Cing-in bukan ayah-kandungmu. Kau sendiri
tampaknya baru berumur 20-an, sedangkan ayahmu sudah
hilang 27 tahun, setiap orang tentu dapat meraba bahwa
Sau Cing-in pasti bukan ayahmu sebenarnya."
Peng-say tidak bertanya, ia diam saja menunggu cerita si
nona lebih lanjut.
Pelahan2 Sau Kim-leng tenang kembali, ia mendongak,
melihat Soat Peng-say tidak memandang hina padanya,
hatinya merasa tenteram, segara ia menyambung: "Tahun
itu ayah menerima sepucuk surat undangan agar hadir ke
Ki-lian-san, surat undangan itu ditanda tangani Ciamtay
Cu-ih. . . ."
"Apakah Hong hoa-wancu Ciamtay Cu-ih?" sela Peng-
say.
"Betul, Hong-hoa-wancu dari Tang-hay (lautan timur),"
jawab Kim-leng. "Dalam suratnya dinyatakan pula bahwa
yang diundang ada pula Ngo-hoa-koancu dan Son-hok-
hancu."
"Wah, itu kan suatu pertemuan besar yang
menggemparkan?!" Peng-say berseru tertahan.
"Tang-wan, Se-koan, Lam-han, Pak-cay, empat aliran
yang paling terkenal pada jaman itu sudah menjagoi
wilayah masing2 selama ratusan tahun," tutur Kim-leng
pula. "Selama itu mereka tidak saling mengganggu, masing2
mempertahankan nama dan kehormatan sendiri, juga tidak
mau saling menyambangi. Bahwa empat tokoh top pada
waktu itu dapat mengadakan pertemuan, sungguh peristiwa
yang sukar dicari, bilamana hal ini diketahui oleh kaum
persilatan umumnya tentu akan menganggapnya suatu
pertemuan besar yang luar biasa. Akan tetapi sebenarnya
kejadian itu justeru sedikit diketahui orang."
"Jangan2 suatu pertemuan rahasia, maka sedikit orang
yang tahu?" tanya Peng-say.
"Meski tak dapat dikatakan pertemuan rahasia tapi
lantaran maksud undangan Ciamtay Cu-ih itu disebutkan
untuk tukar pikiran mengenai ilmu silat dan saling
mendemonstrasikan ilmu silat andalan masing2. dengan
sendirinya diperlukan tempat yang paling tenang dan sepi,
mungkin masing2 pihak memang tidak ingin diganggu
orang luar sehingga berita pertemuan itu sengaja tidak
disiarkan."
Keteranganmu ini memang beralasan, kalau sampai
berita itu tersiar. bisa jadi jalan menuju Ki-lian akan
menjadi macet, sebab siapa didunia Kangouw ini yang tidak
ingin melihat wajah asli keempat tokoh aneh dunia
persilatan pada waktu itu?"
"Dan hal itu tentu bukan kehendak mereka," kata Kim-
leng pula. "Sebab itulah ayah hanya memberitahu kepada
ibu saja mengenai surat undangan itu dan tiada orang lain
yang tahu."
"Jika demikian, jadi hilangnya ayahmu. . . ." mendadak
teringat sesuatu oleh Peng-say, tanyanya segera: "Dan
ayahmu akhirnya hadir tidak di saoa?"
"Mendiang ibuku juga pernah memikirkan soal ini,"
jawab Kim-leng sambil mengangguk. "Apabila ayah tidak
hadir di Ki-lian-san, itu berarti beliau hilang di tengah
perjalanan, untuk mencarinya akan lebih mudah mengingat
letak tempatnya jelas lebih sempit."
"Lalu apakah ibumu menyelidiki ayahmu hadir di Ki-
lian-san atau tidak?" tanya Peng-say pula.
"Sebelum berangkat ayah telah memberi pesan kepada
ibu bahwa dalam setengah tahun beliau pasti akan pergi dan
pulang," tutur Kim-leng, "Tapi setelah setengah tahun
berlalu dan ayah belum nampak pulang, ibu menjadi cemas
dan buru2 menyusul ke Ki-lian-san. Lantaran kebiasaan
ayah tidak suka bermalam di hotel sehingga ditengah
perjalanan ibu tidak dapat menyelidiki apakah ayah menuju
ke pertemuan di Ki-lian-san atau tidak."
Ia merandek dan menghela, lalu menyambung pula:
"Mendiang ibuku dan ayah adalah suami isteri yang
bahagia, selama hidup mereka tidak pernah berpisah barang
sebulanpun, apalagi setengah tahun. Ibu mengira mungkin
ayah menjadi lupa daratan dan lupa pulang setelah bertemu
dengan Ciam-tay Cu-ih dan kawan lainnya di Ki-lian,
saking asyiknya berdiskusi tentang ilmu silat. Tapi ketika
ibu sampai ditempat pertemuan itu, tiada bayangan
seorangpun yang dilihatnya. Dengan demikian apakah ayah
hadir disana atau tidak seketika menjadi sukar untuk
menyelidikinya."
"Setengah tahun lebih baru ibumu menyusul kesana, bisa
jadi pertemuan mereka sudah lama bubar," ujar Peng-say.
"Jika pertemuan sudah bubar, mustahil ayah tidak cepat2
pulang," kata Kim-leng. "Setelah tidak menemukan ayah di
Ki-lian-san, diam2 Ibu sudah merasakan firasat yang tidak
enak."
"Jangan2. . . ." karena tidak berani sembarangan
menerka Peng-say urung bicara.
"Untuk mendapatkan keterangan apakah ayah hadir
tidak di Ki-Iian-san, kemudian ibu menuju ke Huiciu di
Kanglam untuk menemui Soh-hok-bancu, dari beliau ibu
mendapat tahu bahwa ayah hadir di Ki-lian-san tepat pada
waktunya sehingga bubarnya pertemuan itu."
"Apakah mungkin terjadi sesuatu di dalam peristiwa
itu?" tanya Peng-say dengan sangsi.
"Setelah ibu tanya lebih jelas kepada Soh-hok-hancu,
akhirnya diketahui bahwa dalam pertemuan yang
berlangsung selama tujuh hari itu, keempat tokoh itu
berunding dengan rukun dan damai, kemudian berpisahlah
mereka dan tiada yang menjelaskan akan pergi kemana,
maka menurut dugaan Soh-hok-hancu tentu ayah langsung
pulang ke Ngo-tay-san kecil Padahal ayah jelas belum
pulang, apa lagi waktu ibu keluar rumah mencari ayah,
kira2 sudah empat bulan lebih sejak bubarnya pertemuan
itu, betapapun lambat perjalanan ayah seharusnya sudah
pulang kerumah dalam setengah tahun itu.
-Walaupun yakin kepulangan ayah tidak mungkin tertunda
sampai empat bulan setelah bubarnya pertemuan, tapi
setelah mendapat keterangan Soh-hok-huncu tersebut,
diam2 ibu menghibur diri semoga ayah sudah pulang selagi
ibu sendiri keluar mencarinya. Maka buru2 ibu pulang ke
rumah, tapi ayah tetap tidak kelihatan pulang Tentu saja ibu
bertambah cemas, sebab setiba ibu di rumah sementara itu
sudah lebih delapan bulan sejak bubarnya pertemuan di Ki-
lian-san. Padahal jarak Ki-lian-san dengan Ngo-tay-san
cuma perjalanan sebulan lebih, betapapun lambatnya
perjalanan pasti akan sampai juga dalam waktu delapan
bulan. Menghadapi kenyataan ini, ibu tidak mengkhayalkan
lagi kemungkian pulangnya ayah, tapi kalau ayah
mengalami sesuatu yang tidak baik yang pertama
menimbulkan curiga adalah pasti di tengah pertemuan Ki-
lian-san itu telah terjadi sesuatu, Akan tetapi menurut
keterangan Soh-hok-hancu, katanya pertemuan yang makan
waktu tujuh hari itu berlangsung secara rukun dan damai,
jadi tidak mungkin terjadi apa2."
"Apakah ibumu tidak tanya lagi kepada kedua tokoh
yang lain?" tanya Peng-say.
"Apakah kau sangsikan keterangan Soh-hok-hancu?"
"Soh-hok-hancu dari Tiong-hi-koan adalah Tosu yang
beribadat tinggi," kata Soat Peng-say, "jadi tidak boleh kita
menaruh prasangka kepadanya. Akan tetapi bila keterangan
ketiga orang lainnya seragam, tentu akan lebih
meyakinkan."
"Kita" yang diucapkan Soat Peng-say itu membuat
hangat perasaan Sau Kim-leng, ia merasa kata2 itu
sedemikian mesra, untuk sejenak ia berusaha meresapi
kata2 itu.
Soat Peng-say tidak menyangka Sau Kim-leng adalah
nona yang haus cinta, disangkanya nona itu sedang
merenungkan sesuatu, maka tidak diganggunya.
Liok-ma berdiri di ambang pintu, dia cuma dapat melihat
punggung Sau Kim-leng, ia tidak tahu apa yang sedang
dilakukan si nona, maka ia bertanya: "Siau Leng, ada apa?
Badanmu tidak enak?"
Sau Kim-leng tersentak sadar, cepat ia menjawab: "O,
tidak apa2"
"Jika tidak enak badan, tidurlah sebentar dulu!" ujar
Liok-ma.
Tapi Sau Kim-leng menggeleng kepala, katanya:
"Ucapan Soat kongcu memang benar, kita tidak pantas
menyangsikan keterangan Soh-hok-hancu itu. Tapi untuk
membuktikan keterangan itu, mendiang ibuku telah pergi ke
Sinkiang untuk menanyai Ngo-hoa koancu. akhirnya beliau
juga menyeberang lautan timur untuk menanyai Hong-hoa-
wancu. Akhirnya diketahui keterangan ketiga orang itupun
sama, semuanya bilang selama pertemuan tujuh hari itu
berlangsung dalam suasana rukun dan damai. Dengan
demikian ibu tidak dapat menyangsikan lagi telah terjadi
sesuatu dalam pertemuan Ki-lian-san itu, rasanya ketiga
tokoh terkemuka itupun tidak akan mendustai ibu, apalagi
Tang wan, Se koan, Lam-han dan Pat-cay selama ini tidak
ada permusuhan apapun, tiada alasan bagi mereka untuk
mencelakai ayah. Tapi, lantas kemanakah ayah
sebenarnya?!"
"Ya, sulit jadinya," ujar Peng-say sambil menggeleng,
"Ayahmu tidak menyatakan kemana perginya kepada
rekannya, kenyataan beliau juga tidak pulang ke rumah,
dunia seluas ini, tidaklah mudah untuk mencari jejaknya."
"Tapi kalau dapat menemukan Siang-liu-kiam-boh (kitab
pusaka) kuyakin pasti dapat menemukan jejak ayah," kata
Sau Kim-leng mendadak setelah berpikir sejenak.
"Apa dasarnya?" tanya Peng-say.
"Akhirnya setelah ibu pulang dari lautan timur dan
terbukti tiada terjadi apa2 dalam pertemuan di Ki-lian-san,
beliau lantas mulai menyelidiki ke segenap pelosok
Tionggoan (daratan tengah), sebab ibu yakin jejak ayah
pasti tidak meninggalkan Tionggoan, akhirnya meski ayah
tak dapat ditemukan, namun ibu berhasil mendapatkan
berita mengenai jejak ayah. . . ."
Melihat si nona merandek, Soat Peng-say tidak tahan, ia
tanya: "Berita apa itu?"
"Ibu merasa heran didunia persilatan daerah Tionggoan
ramai tersiar berita tentang ilmu pedang nomor satu di
dunia, yaitu Siang-liu-kiam-hoat ciptaan ayah. Hampir
setiap jago pedang pasti tahu istilah 'Siang-liu-kiam-hoat
nomor satu di dunia' yang terkenal itu."
"Kenapa mesti heran, siapa yang tidak tahu ilmu pedang
Pak-cay memang tiada bandingannya di dunia ini," ujar
Peng-say. "Siang-liu kiam-hoat ciptaan ayahmu itu disebut
ilmu pedang nomor satu di dunia, kan juga masuk diakal."
"Soalnya sifat ayahku tidaklah suka pamer. setelah
Siang-liu-kiam berhasil diciptakan, meski beliau tahu pasti
dapat mengalahkan Liang-gi-kiam-hoat dari Bu tong-pay,
tapi beliau tidak pernah mencobanya, dengan sendirinya
orang luar juga tidak pernah kenal nama Siang-liu-kiam-
hoat segala, manabisa terjadi setelah menghilangnya ayah,
nama Siang-liu-kiam-hoat justeru menggemparkan dunia
persilatan, bahkan didukung sebagai ilmu pedang nomor
satu di dunia?"
"Masa ayahmu tidak pernah perlihatkan Siang-liu-kiam-
hoat kepada orang luar?"
"Menurut cerita ibu, sejak ayah berhasil menciptakan
ilmu pedang tersebut memang tidak pernah dipertunjukkan
kepada orang luar. Pada umumnya orang cuma tahu ketiga
macam ilmu pedang Leng-hiang-cay yang terkenal, yaitu
Hui-ngai, Liu-jay dan Hoa-hong-kiam-hoat, itupun karena
kakek pernah memperlihatkan ketiga macam ilmu pedang
itu di medan pertemuan Bu-lim yang sering diadakan, tapi
dapat dipastikan tiada orang luar yang tahu ayahku telah
menciptakan pula Siang-liu-kiam-hoat yang baru itu "
"Kukira ayahmu pasti pernah memperlihatkan Siang-liu-
kiam-hoat kepada orang luar, cuma kalian sendiri yang
tidak tahu," ujar Peng-say.
"Ingin kutanya padamu, berdasarkan apa kau bilang
begitu?" tanya Kim-leng dengan tersenyum.
"Coba pikir, dalam pertemuan Ki-lian-san sana masakah
ayahmu tidak menonjolkan hasil ciptaannya? Pertemuan itu
kan bertujuan tukar pikiran. kukira ayahmu pasti
memperlihatkan ilmu pedang baru kebanggaannya itu."
"Betul juga alasan Soat-kongcu, tapi coba pikir pula,
berdasarkan watak keempat tokoh yang tidak mau tunduk
kepada pihak lain, biarpun ilmu pedang ayahku memang
nomor satu di dunia, mustahil ketiga tokoh yang lain mau
mengakui hal ini, apalagi menyiarkarnya."
Peng-say garuk2 kepalanya yang tidak gatal, katanya:
"Ya, rasanya memang tidak mungkin. . . ."
"Hakikatnya memang tidak mungkin," tukas Kim-leng.
"Coba pikir, mereka masing2 menjagoi wilayahnya sendiri,
mana mau mereka menjunjung ilmu pedang tokoh lain
sebagai nomor satu di dunia? Andaikan betul mereka mau
mengakuinya, mengapa tiada seorangpun yang
menyinggungnya, waktu mendiang ibuku berkunjung
kepada mereka, semuanya cuma menyatakan pertemuan di
Ki-lian-san berlangsung dengan akrab dan damai."
Peng-say pikir keterangan ini memang beralasan,
terpaksa ia hanya mengangguk saja.
Maka Kim-leng melanjutkan lagi: "Karena
menyangsikan berita Siang-liu-kiam-hoat nomor satu
didunia itu, ibu lantas mulai mengusut darimana sumber
berita itu. Ibu yakin bilamana sumber berita itu ditemukan,
pasti tidak sulit untuk menemukan pula jejak ayahku .... "
Karena si nona merandek pula, Soat Peng-say tambah
ingin tahu, segera ia bertanya: "Dan akhirnya bagaimana?"
"Akhirnya diperoleh belasan sumber berita tersebut,"
jawab Kim-leng.
"Bagaimana menurut keterangan mereka?"
"Mereka? Sama seperti ayahku."
"Hilang semua?!"
"Ya, siapapun tidak tahu kemana mereka?"
"Aneh, sungguh aneh!. . ." gumam Peng-say sambil
menggeleng.
"Walaupun tampaknya aneh, kalau dipikir dengan
cermat akan menjadi tidak aneh."
"Masa tidak aneh?" ujar Peng-say.
"Apabila mereka sudah terbunuh semua, kan menjadi
tidak aneh sama sekali."
"Siapa yang membunuh mereka?"
"Kedua orang terakhir yang mendapatkan Siang-liu-
kiam-boh itu," ucap Sau Kim-leng dengan ketus.
Diam2 Peng-say terkesiap. apakah mungkin kedua orang
yang dimaksud itu ialah gurunya sendiri dan si perempuan
berlengan satu itu? Tapi mengingat gurunya bukan manusia
kejam yang suka membunuh, cepat ia menggeleng dan
berkata: "Tidak-tidak masuk diakal"
Kim-leng tahu anak muda itu tetap membela gurunya,
katanya kemudian dengan gegetun: "Tapi ibu justeru yakin
akan kejadian itu."
"Bagaimana menurut keyakinan ibumu itu?"
"Menurut ibu, Siang-liu-kiam-boh selalu dibawa oleh
ayah, maka dapat diduga pasti kitab pusaka itulah yang
membikin celaka ayah, sedangkan orang yang mencelakai
ayahku itu termasuk belasan jago pedang kelas tinggi yang
hilang itu."
"Jago pedang kelas tinggi?" gumam Peng-say.
"Ya, ibu telah menyelidiki dengan jelas bahwa belasan
orang itu adalah jago2 pedang yang terkenal di dunia
Kangouw," tutur Kim-leng pula. "Bisa jadi mereka
mengincar kitab pusaka ayahku, be-ramai2 mereka lantas
mengerubut dan membunuh ayah. Akhirnya setelah kitab
pusaka itu diperoleh dan dipelajari, mereka sama mengakui
kitab itu berisi ilmu pedang nomor satu di dunia, maka dari
mulut mereka itupun tersiar berita itu secara luas. Lantaran
mereka adalah jago pedang ternama. apa yang mereka
ucapkan tentu juga berbobot, maka berita !tu tersiar
semakin luas sehingga setiap orangpun menganggap Siang
liu-kiam-hoat adalah ilmu pedang nomor satu di dunia.
Tapi di antara belasan orang itu, ada dua orang yang diam2
timbul pikiran jahat." "
"Mengapa ibumu hanya menerka dua orang di
antaranya?" sela Peng-say.
Sau Kim-leng memandang Peng-say sekejap, katanya
kemudian dengan menyesal: "Ibu sendiri cuma menerka
satu di antara mereka yang berpikiran jahat. yang menerka
dua orang di antara mereka itu adalah aku sendiri.
Bagaimana pendapatmu?"
"Aku tidak tahu," jawab Peng-say dengan kurang senang.
"Janganlah kau marah," bujuk Kim-leng dengan suara
lembut.
Peng-say tersadar, ia pikir bila dirinya memperlihatkan
rasa tidak senang, ini sama dengan mengakui bahwa dua
orang di antaranya yang bermaksud jahat itu termasuk juga
gurunva Maka cepat ia menggeleng dan menjawab: "Tidak,
aku tidak marah, lanjutkan saja ceritamu!"
"Kuharap engkau jangan marah, bilamana penuturanku
tidak tepat, hendaklah jangan kau pikirkan. Menurut
taksiranku, demi mengangkangi kitab pusaka ayah, kedua
orang itu lantas membunuh teman2nya satu persatu,
kemudian mereka sengaja mengarang cerita se-akan2
orang? itu telah hilang agar tidak menimbulkan curiga
umum. Tapi entah mengapa, kemudian kedua orang itu
bertengkar sendiri dan masing2 mendapatkan setengah
bagian kitab ayah, pula satu di antara kedua orang itu
terkutung lengan kanannya, ialah. . . . ."
Jelas yang dimaksud si nona ialah gurunva Soat Peng-
say, tapi anak muda itu tidak percaya gurunya adalah
manusia yang rendah begitu, dengan tegas ia bertanja:
"Siapa dia yang kau maksudkan?"
"Kukira kau sendiri sudah tahu!" ujar Kim-leng dengan
menyesal.
"Aku tidak percaya!" teriak Peng-say.
"Persoalannya sudah cukup gamblang, apapula yang kau
ragukan pula?" demlkian pikir Kim-leng di dalam hati,
cuma tidak diucapkannya.
Soat Peng-say memang tidak percaya gurunya adalah
manusia yang rendah dan keji, dia berteriak membantah
pula: "Semua ini cuma rekaanmu saja, sebaiknya jangan
sembarangan kau menerka, tidak mungkin terjadi begitu."
Dengan rendah hati Kim-leng menjawab: "Apakah betul
atau tidak terserah kepadamu, aku cuma mohon
bantuanmu agar ikut menyelidikinya."
"Menurut ceritera nona, dahulu ibumu sudah
menyelidikinya sehingga jelas, kenapa minta bantuan
penyelidikanku pula?!"
"Meski ibu sudah menarik kesimpulan ada satu di
antaranya yang mengangkangi kitab pusaka itu, tapi beliau
tidak dapat menemukar siapa gerangan orangnya, kecuali
salah seorang jago pedang yang telah hilang itu dapat hidup
kembali dan memberi tahukan ibuku, kalau tidak hampir
tiada sesuatu petunjuk lain yang dapat ditemukan."
Tergerak hati Peng-say, katanya: "Ah, masa begitu?!"
"Memang aneh juga, meski ibu telah menyelidiki mulai
dari sumber pertama yang menyiarkan berita tentang Siang-
liu-kiam-hoat nomor satu didunia sehingga sanak keluarga
belasan jago pedang yang hilang itu, ternyata sia2 belaka
usahanya."
"Apakah ibumu sudah langsung menanyai sanak
keluarga belasan jago pedang yang hilang itu?" tanya Peng-
say.
"Menurut ceritu ibu, semuanya sudah ditanyai tanpi
kecuali, kecermatannya cukup meyakinkan. Akan tetapi
orang yang merupakan sumber berita pertama itu se-akan2
tidak mempunyai sanak keluarga, maka sama sekali tidak
dapat menyelidikinya. Bila betul demikian, cara bagaimana
orang ini bisa mengerubut ayahku bersama belasan orang
yang hiiang itu?"
"Nona Sau, kukira disitulah kesalahan kesimpulan
ibumu," kata Peng-say dengan tersenyum.
Kim-leng menggeleng, katanya: "Tidak mungkin, sebab
belasan orang itu tidak nanti hilang tanpa sebab. Menurut
pendapat ibuku, bisa jadi orang itu muncul peda saat
terakhir dan membantu belasan jago pedang itu membunuh
ayahku, namun belasan jago pedang yang hilang itupun
tidak kenal dia, maka sukar diperoleh keterangan apapun
dan sanak keluarga belasan korban itu."
"Tidak, kukira jalan pikiran ini kurang berdasar," ujar
Peng-say sambil menggeleng. "Kupikir di dalam persoalan
ini pasti ada rahasia lain lagi, hanya saja sejauh itu tak
dapat dipecahkan oleh ibumu."
Mendadak Sau Kim-leng berkata dengan berduka:
"Setelah gagal menemukan jejak ayah, tidak lama setelah
ibu pulang, beliau lantas sakit dan beberapa tahun
kemudian beliaupun wafat, Tapi sebelum meninggal ibu
tetap tidak putus harapan, kata beliau, lambat atau cepat
Siang-liu-kiam-hoat pasti akan muncul didunia Kangouw,
maka aku disuruh menaruh perhatian. Bila Siang-liu-kiam-
hoat muncul, tentu tidak sukar mencari jejak ayah,
sekalipun yang ditemukan hanya abu tulang ayah, lalu
dapat dikuburkan bersama ibu, maka tenanglah ibu di alam
baka. Ibupun memberi pesan, apabila ayah ditemukan
belum meninggal, maka per-tama2 harus bersembahyang di
depan makam ibu agar diketahui arwah beliau dialam baka,
kalau tidak, arwah beliau takkan tenang selamanya."
Peng-say sangat terharu atas cerita Sau Kim-leng yang
terakhir ini, ucapnya dengan tulus: "Nona Sau, pasti akan
kubantu mencari jejak ayahmu. sekalipun nanti diketahui
guruku yang mencelakai ayahmu, pasti juga akan
kuberitahukan padamu se-jelas2nya."
Sau Kim-leng berbangkit dan memberi hormat katanya:
"Atas pernyataan Kongcu ini, terimalah hormatku lebih
dulu."
Soat Peng-aay tidak dapat berdiri untuk mencegahnya,
cepat ia menjawab: "Ah, jangan begitu!"
Namun Sau Kim-leng tidak berhenti, ia tetap memberi
hormat dengan khidmat.
"Dengan penghormatanmu ini, hatiku menjadi tidak
tenteram," ujar Peng-say dengan gegetun. "Ketahuilah
bahwa ucapan seorang lelaki sejati pasti akan dilaksanakan,
mestinya engkau tidak perlu memberi penghormatan
setinggi ini."
"Kuberterima kasih dengan setulus hati dan bukannya
meragukan pernyataan Kongcu," ucap Kim-leng.
"Jangankan usaha ibumu yang mengharukan itu. demi
membuktikan bahwa guruku pasti bukan orang yang berhati
jahat dan keji begitu, pasti juga akan kuselidiki soal ini
hingga jelas," kata Peng-say tegas.
"Liok-ma!" mendadak Kim-leng memanggil.
Si nenek mengiakan dan mendekatinya.
"Harap engkau suka menyembuhkan luka Soat-kongcu
yang kau tutuk tadi," kata si nona.
"Lukanya cukup parah, tidaklah mudah untuk
menyembuhkannya," kata Liok-ma.
Sau Kim-leng lantas uring2an, omelnya: "Salahmu
mengapa melukai orang. Tidak mudah disembuhkan juga
harus kau lakukan!"
Ia lupa bahwa apa yang dilakukan Liok-ma tadi adalah
demi membelanya. Tapi si necek tidak berani membantah
melainkan mengiakan saja.
Segera ia memberi perintah kepada Ang-hay-ji yang sejak
tadi berdiri melongo di samping sana: "Lekas panggil Sau
Tiong dan Sau Coan ke sini."
"Untuk apa memanggil mereka?" tanya Kim-leng.
"Luka Soat-kongcu ini harus dirawat di Ciok-leng-tong
(gua susu batu), kupanggil Sau Tiong dan Sau Coan untuk
mengusungnya ke sana," tutur si nenek
"Sau Tiong dan Sau Coan adalah orang kasar, masa
dapat mengusung dengan hati2," ujar Kim-leng sambil
memandang Liok-ma, maksudnya menyuruh si nenek
sendiri yang membawa Soat Peng-say ke gua yang
dimaksud.
Liok-ma merasa enggan, sebab Ciok-leng-tong itu
terletak di pedalaman Ngo-tay-san dan harus melalui jalan
pegunungan yang tidak dekat, bukan soal lelah yang dipikir
Liok-ma, tapi orang tua seperti dia diharuskan memondong
seorang anak muda, inilah yang membuatnya enggan,
apalagi sikap Peng-say juga tidak ramah padanya.
Namun iapun tidak berani membangkang atas kehendak
sang Siocia, selagi ragu itulah, se-konyong2 terdengar suara
tertawa seorang lelaki di luar: "Hahaha, adik Leng, sekali
ini dapatlah kakanda memergoki kau di rumah!"
Meski orangnya masih berada di kejauhan, tapi suaranya
yang bernada bangor itu dapat terdengar dengan jelas.
Air muka Kim-leng menjadi pucat, tanyanya cepat: "Sia
.... siapa dia?"
"Lekas sembunyi, itulah putera Ciamtay Cu-ih," seru
Liok-ma kuatir.
"Mau apa dia datang kemari?" tanya Kim-leng pula.
"Dia .... dia .... sudahlah, jangan tanya lagi, lekas
sembunyi saja!"
Tapi Sau Kim-leng mendengus, katanya: "Hm, mengapa
aku harus sembunyi?"
"Jika tidak segera bersembunyi tentu tidak keburu lagi!"
ujar Liok-ma dengan gelisah.
Mendadak dua orang budak berlari masuk sambil berseru
dengan kuatir: "Lolo, wah, orang banyak tidak mampu
menahannya!"
Kedua budak ini kebetulan adalah Sau Tiong dan Sau
Coan yang akan dipanggil tadi.
"Kedatangan kalian sangat kebetulan," kata Liok-ma.
"Lekas kalian membawa Soat-kongcu ke Ciok-leng-tong
dengan jalan memutar."
Kedua orang itu mengiakan, cepat mereka mengangkat
Soat Peng-say.
Peng-say diam saja membiarkan dirinya diangkat,
pikirnya: "Untuk apakah putera Ciamtay Cu-ih datang ke
sini dari lautan timur yang jauh sana?"
Melihat Sau Kim-leng masih tetap berdiri saja, segera
Liok-ma berseru pula: "Siau Li. lekas membawa Siocia dan
bersembunyi!"
Cepat Siau Li memburu saja, tapi Kim leng lantas
rnendelik, katanya dengan menggeleng: "Tidak, aku tidak
perlu sembunyi!"
Terpaksa Liok-ma bicara terus terang: "Baiklah, biar
kukatakan padamu, selama dua tahun ini sudah tiga kali dia
dataog kemari, kebetulan kau tidak di rumah, tapi kami
tidak berani lapor padamu, sebab dia .... dia bilang akan
menikahi kau dan membawamu ke Tang-hay."
Sekujur badan Sau Kim-leng tampak gemetar, ia
mendamperat: "Binatang, dasar binataug. . . ."
Diam2 Peng-say merasa heran, kalau tidak mau boleh
tolak saja lamaran orang, mengapa mesti maki orang
sebagai binatang? Karena Sau Kim-leng tetap tidak mau
sembunyi. Liok-ma mendesak pula: "Siau Li, lekas gendong
Siocia, sembunyilah ke Ciok leng-tong bersama Sau Tiong
dan Sau Coan."
Segera Siau Li hendak menggendong Sau Kim-leng tapi
si nona tetap menolak, katanya: "Tidak, akan kumaki dia
bila berhadapan nanti!"
"Jangan," seru Liok-ma kuatir. "Orang itu tidak bisa
diajak bicara secara baik2, apalagi aku bukan
tandingannya."
Mendengar satu2nya orang yang diandalkannya ngaku
bukan tandingan si penyatron, mau-tak-mau Sau Kim-leng
jadi gugup, maka ia tidak menolak lagi ketika Siau Li
menggendongnya.
"Lekas bawa Siocia keluar pintu belakang," seru Liok-ma
pula.
Segera Siau Li yang menggendong Kim-leng itu
mendahului jalan di depan dan menyelinap masuk ke
kamar tidur Sau Kim-leng, Sau Tiong dan Sau Coan yang
menggotong Soat Peng-say juga ikut masuk ke situ.
Dalam pada itu terdengar suara penyatron tadi bergema
pula di tempat yang makin dekat, katanya: "Adik Leng
keretamu berada di luar, sekali ini jelas kau berada di
rumah!"
"Siau Tho, lekas keluar dan berusaha menahannya
sebisanya," seru Liok-ma.
Mestinya Siau Tho berada di kamar Sau Kim-leng dan
menjaga Cin Yak-leng di situ, mendengar seruan si nenek,
cepat ia lari keluar.
Waktu masuk kamar tidur, Soat Peng-say sempat
melihat Cin Yak-leng berbaring disuatu tempat tidur buatan
dari perunggu yang indah, tubuhnya tertutup oleh selimut
merah bertepi hijau. kelambu setengah tertutup, agaknya si
nona sedang tidur nyenyak.
Selagi Soat Peng-say hendak membangunkan Cin Yak-
leng dan mengajaknya pergi bersama, namun Sau Tiong
dan Sau Coan keburu membawanya keluar melalui sebuah
pintu kecil di belakang kamar tidur itu.
Pikir Peng-say: "Adik Yak-leng sedang tidur nyenyak,
lebih baik jangan kubangunkan."
Ia tidak tahu bahwa Cin Yak-leng bukannyn tidur
nyenyak melainkan pingsan karena Leng-tay-hiat tertutuk.
Baru saja mereka menyelinap keluar, menyusul Liok-ma
lantas masuk ke kamar. Ia mendekati tempat tidur dan
cepat membuka Hiat-to bisu Cin Yak-leng yang ditutuk
Siau Tho tadi serta Sok-kin-hiat itu ia menepuknya pelahan
hingga Yak-leng siuman. . . .
-)()(- -)(dw)(- -)()(-
Sementara itu Siau Li dengan menggendong Sau Kim-
leng dan Soat Peng-say yang digotong Sau Tiong dan Sau
Coan telah meninggalkan lingkungan Leng-hiang-cay dan
menuju ke suatu puncak gunung menjulang tinggi ke tengah
awan didepan sana.
Jalan pegunungan melingkar terus menanjak keatas, di
pandang dari jauh mirip usus kambing yang me-lingkar2,
makin lama makin tinggi, tidak lama sampailah mereka di
tengah hutan purba yang lebat.
Jalanan kecil yang sempit kini hampir seluruhnya
terbenam oleh tumbuhan berduri, ditambah keremangan
ditengah hutan yang rindang itu, hampir saja jalanan kecil
itu tidak kelihatan saat itu.
Namun semua itu tidak menjadi halangan bagi Siau Li,
Sau Tiong dan Sau Coan, mereka terus berlompatan di atas
tumbuhan berduri, Ginkang mereka sama sekali tidak
menjadi kendur. Mungkin mereka sudah sangat apal jalan
menuju ke Ciok-long-tong atau gua susu batu yang
dimaksud, walaupun suasana remang2, tapi mereka tetap
dapat membedakan arah dan berlari dan berlompatan
dengan lincah dan cekatan.
Tidak lama kemudian, terbeliaklah mereka, suasana
terang benderang, rupanva hutan purba itu sudah ditembus
mereka dan tibalah di puncak gunung yang gundul,
mungkin karena tiupan angin yang keras, maka di puncak
situ tiada sesuatu tetumbuhan. Yang ada cuma batu2an
yang berbentuk aneh, ada yang mencuat, ada yang mirip
ukiran patung.
Mendadak Siau Li yang berjalan di depan berhenti
mengaso di bawah sebuah batu padas besar, lalu menuju ke
bagian dalam, makin jauh makin gelap, rupanya mereka
sedang memasuki sebuah gua.
Sungguh terlalu gelap gua ini, Siau Li bertiga lantas
menyalakan geretan api, tapi cahaya geretan terlalu lemah,
hanya mencakup sejauh beberapa kaki saja, bagian atas
terang, bagian bawah menjadi remang2. Pula jalanan di
dalam gua terasa lembab dan licin, Gunkang mereka tiada
gunanya didalam gua ini, terpaksa mereka berjalan pelahan
dan hati-hati.
Gua itu makin dalam makin ciut, mendingan tubuh Siau
Li yang memang kecil, Sau Tiong dan Sau Coan terpaksa
harus jalan dengan setengah berjongkok.
Dari cahaya geretan yang menyorot keatas, tampak batu
gua itu berbentuk aneh dan berwarna hitam pekat. Kadang2
ada butiran air yang menetes dari batu itu, bila kuduk
kejatuhan tetesan air, rasanya dingin merasuk tulang.
Waktu muka Soat Peng-say kejatuhan satu tetes, tanpa
terasa ia menggigil kedinginan.
Agak lama mereka merayap di dalam gua itu, setelah
melintasi suatu punggung batu raksasa bagian depan
mendadak ada cahaya terang, makin lama makin terang,
jalanan juga tambah lebar, di sekeliling bagian atas penuh
bergantungan jalur batu yang berbentuk genta, besar kecil,
kasar dan halus tidak tentu.
Setelah belasan langkah pula, mendadak cahaya terang
mencorong masuk dari atas dan menerangi sebuah lubang
gua seluas tiga-empat meter persegi sehingga sesuatu dapat
terlihat dengan jelas. Cahaya itu ternyata tidak menyorot
langsung dari atas, bila memandang kearah atas, lubang gua
itu seperti lurus keatas sehingga mirip sebuah cerobong asap
besar, tapi "cerobong" ini setiap beberapa meter tentu
membelok satu kali sehinga sukar diketahui berapa
tingginya.
Tapi lantaran di bawah lubang gua ini penuh batu2 putih
sehingga ketika tertimpa cahaya dari cerobong di atas lantas
memantulkan sinar terang ke sekelilingnya. Di dalam gua
ternyata penuh jalur2 batu yaog berbentuk aneh dan
membingungkan.
Siau Li menurunkan Sau Kim-leng, lalu si nona berkata
sambi! menuding sekitarnya: "Inilah Ciok-leng-tong yang
kumaksudkan."
Soat Peng-say ditaruh berduduk di suatu potong batu
yang menyerupai sebuah kursi raksasa, dilihatnya di dalam
gua banyak botol porselen. mulut botol menghadap jalur
batu putih yang berbentuk seperti puting susu, dari puting
batu itu meneteslah cairan putih dan tepat masuk ke dalam
botol porselen.
"Apakah Ciok-leng-tong inilah tempat yang
mennghasilkan Leng-ju-coan?" tanya Soat Peng-say.
Sau Kim-leng mengangguk sambil mengulum senyum.
"Keajaiban alam memang sukar dibayangkan tidak
tersangka disini ada sebuah gua yang semuanya terdiri dari
batu puting susu begini!" kata Soat Peng-say dengan
gegetun.
"Batu ini disebut batu puting, makanya kami namainya
gua susu batu, tapi batu di sini lain daripada batu
umumnya, kadar batu disini seragam batu murni, menurut
cerita, air puting batu yang berwarna putih ini pernah
dijadikan barang upeti untuk kerajaan," demikian tutur
Kim-leng.
"Wah, sampai dijadikan barang upeti, maka nilainya
dapat dibayangkan!" ujar Peng-say.
"Coba pikir, air yang tidak mudah diminum raja
sekalipun, sekarang akan kau jadikan air mandi," kata Kim-
leng dengan tertawa.
"Apa katamu?" tanya Peng-say terkejut.
Sau Kim-leng hanya tersenyum saja tanpa menjawab, ia
lantas memerintahkan Sau Tiong dan Sau Coan agar
memindahkan kursi raksasa itu.
Pelahan2 Sau Tiong berdua menggeser kursi batu
diduduki Soat Peng say itu, ternyata kursi itu bergerak.
hanya sebentar saja tertampaklah sebuah kolam kecil di
bawah kursi tadi, air yang berhawa dingin segera terasa
menggigilkan, air kolam kecil itupun berwarna putih susu.
Sambil menunjuk kolam kecil itu, Sau Kim-leng berkata
dengan tertawa: "Silakan anda buka baju dan mandi di
situ."
"He. ma. . .mana boleh jadi. . .!" Peng-say menjadi
kelabakan.
"Aku dan Siau Li dengan sendirinya akan menyingkir
dari sini," kata Kim-leng pula dengan wajah ke-merah2an.
Lekas Peng-say berseru: "He, bukan. . .bukan begitu
maksudku. . . ."
Karena gugupnya, ucapan Peng-say se-akan menyatakan
Sau Kim-leng tidak perlu menyingkir pergi apabila benar
dirinya diharuskan mandi telanjang di dalam kolam.
Karena menyangka Peng-say tidak keberatan ditonton,
namun Sau Kim-leng sendiri tetap kikuk, ia lantas
membalik tubuh dan berkata: "Sau Tiong dan Sau Coan,
buka baju Soat-kongcu."
"Eh, jangan, jangan, nanti dulu!" teriak Peng-say,
mungkin Sau Tiong dan Sau Coan telah mulai membelejeti
pakaiannya, maka akhirnya ia berseru "nanti dulu".
Mengira Peng-say malu mandi di depan orang banyak,
selagi Sau Kim-leng hendak mengajak Siau Li menyingkir,
tiba2 Peng-say berkata pula: "Leng-ju-coan satu kolam
penuh ini apakah akan terbuang percuma hanya kugunakan
untuk mandi?"
Baru sekarang Kim-leng tahu kiranya disinilah letak
keberatan Soat Peng-say, diam2 ia tertawa geli, dengan
suara lembut ia hanya berkata: "Tidak menjadi soal. Leng-
ju-coan yang keluar dari sumber didasar kolam ini
dinginnya melebihi es, memang tidak boleh dibuat minum,
tapi lebih cocok untuk mandi."
"Aneh, apa manfaatnya mandi air ini?" ujar Peng-say
dengan heran.
"Soalnya Tiong ting-hiatmu terluka, kalau melulu Leng
ju-coan yang menetes keluar dari itu kurang cepat
khasiatnya, bilamana berendam pula di dalam kolam,
dengan pengobatan dari luar dan dalam, tentu cepat
kesembuhanmu."
"O, pantas Lolo bilang akan mengantarku ke Ciok-teng-
tong ini untuk menyembuhkan lukaku," kata Peng-say.
"Nah, silakan membuka baju!" kata Kim-leng sambil
berdiri membelakangi anak muda itu.
Karena orang lain tiada bermaksud menyingkir, terpaksa
Peng-say menyilakan Sau Tiong dan Sau Coan membuka
bajunya.
Selagi Sau Tiong berdua sibuk bekerja, datanglah Siau Li
dengan membawa satu botol Leng-ju-coan, katanya dengan
tertawa: "Silakan Kongcu minum."
Waktu itu baju luar Peng-say, sudah ditanggalkan, bila
baju dalam dibuka tentu akan mulai telanjang, maka cepat2
ia minum air yang dibawakan itu. Rupanya Siau Li juga
tahu anak muda itu malu ditonton orang, ia tertawa dan
juga berdiri mungkur.
Setelah membuka semua pakaian Peng-say Sau Tiong
dan Sau Coan menggotongnya kedalam kolam. Dasar
kolam itu tidak dalam, dengan duduk bersila di dalam
kolam, tepat air kolam hanya sebatas leher.
Waktu minum Leng-ju-coan yang dibawakan Siau Li
tadi Peng-say merasa perutnya dingin segar, tak tersangka
setelah berduduk di dalam kolam, air kolam benar2 lebih
dingin daripada air es, kalau Sau Kim-leng tidak
memberitahu sebelumnya, bisa jadi dia akan menjerit kaget
"Pantas tidak dapat diminum, kalau diminum pasti isi
perut akan beku," demikian pikir Peng-say. Walaupun
begitu ia sendiripun kedinginan setengah mati.
Pelahan2 Sau Kim-leng membalik tubuh, katanya
dengan tertawa: "Cukup duduk satu jam di situ dan akan
sembuh."
"I . . . . iya. . ." sebisanya Peng-say menjawab, tapi saking
kedinginan. hampir saja giginya gemertuk, kuatir didengar
si nona, cepat ia berbicara untuk menutupi menggigilnya
itu: "Rasanya lebih dingin daripada duduk di tanah bersalju
di musim dingin."
Kim-leng tersenyum, ucapnya: "Lambat-laun takkan kau
rasakan dingin."
"I.... iya. . ." sungguh celaka. hampir saja giginya
gemertuk lagi. lekas ia bertahan sekuatnya dan berkata pula:
"No . . . nona Sau, apakah sebelum ini kau kenal Ciamtay. .
. .Ciamtay-kongcu?"
"Tidak," jawab Kim-leng.
"O, jadi. . . .jadi dia sengaja datang melamar. . . ."
Si nona hanya mengiakan pelahan.
"Entah. . .entah bagaimana tampang mukanya. . . ." kata
Peng-say pula.
Kim-leng hanya meliriknya sekejap tanpa bersuara,
tampaknya dia tidak suka Peng say berbicara mengenai
puteranya Ciamtay Cu-ih.
Sebenarnya Peng-say lagi menggigil kedinginan, ia
bertahan sekuatnya sehingga tidak sempat memperhatikan
sikap si nona. Agar giginya tidak gemertuk, ia berkata pula,
"Jika. . .jika Ciamtay kongcu memiliki tampang muka yang
bagus, agaknya cukup setimpal juga. . . ." "
"Sudahlah. jangan omong lagi!" teriak Kim-leng
mendadak dengan aseran.
Peng-say melengak, seketika ia menggigil sehingga
giginya gemertuk.
Kim-leng mengira anak muda itu menjadi takut karena
dimarahmya, dengan menyesal ia berkata: "Maaf, tidak
seharusnya kumarah padamu. . ."
"Ti. . .tidak apa. . . ." Peng-say menggeleng.
"Sebenarnya tak dapat kukatakan tidak kenal dia," tutur
Kim-leng seteleh menghela napas. "Sebab pada waktu aku
berusia lima tahun sudah kukenal dia bernama Ciamtay
Boh-ko "
"O, kiranya kalian kenal sejak kecil, pantas jauh2 dia
datang dari lautan timur sana untuk melamar dirimu." kata
Peng-say.
Kini Peng-say mulai tidak merasakan kedinginan lagi,
rasa dinginnya sekarang malahan terasa segar dan enak,
terasa 36 ribu pori di tubuhnya sedang mengisap hawa
dingin dengan kuat, makin banyak pori2 itu mengisap,
makin segar pula rasanya, mirip orang minum air es di
musim panas,
"Juga tak dapat dikatakan kenal sejak kecil, sebab
mendiang ibuku tidak mengizinkan aku ber-main2 dengan
dia, bertemu saja dilarang," tutur Kim-leng pula
"O, jadi ibumu pernah membawa kau ke lautan timur
sana?"
"Aku sendiri dilahirkan di lautan timur sana, sampai
berumur lima baru ikut ibu meninggalkan sana."
"Oo!" Peng-say bersuara heran, ia menjadi sangsi, kalau
si nona lahir di lautan timur sana, lalu siapa ayahnya?
Tiba2 Sau Kim-leng menghela napas sedih, katanya pula:
"Kutahu engkau tentu menyangsikan asal-usulku, memang
sudah jelas aku bukan puteri dari Sau Cing-in, dia sudah
hilang 27 tahun lalu, sedangkan umurku baru 20 ... ."
"Sia ... siapakah ayah nona? ...."
"Ciamtay Cu-ih," jawab Kim-leng.
"Ahhh," Peng-say bersuara kaget, sejenak kemudian baru
ia berkata pula: "Pantas kau memaki Ciamtay Boh-ko
sebagai binatang."
"Ciamtay Cu-ih telah membikin susah ibuku, sekarang
menyuruh anaknja mencelakai diriku pula seperti hewan,"
kata Kim-leng dengan gemas
Peng-say merasa bingung, ia bertanya: "Apakah Ciamtay
Cu-ih tidak tahu kau adalah puterinya"
"Masa dia tidak tahu? Apa yang telah diperbuatnya
mustahil dia tidak tahu," jawab Kim-leng dengan gregetan.
"Dan Ciamtay Boh-ko?"
"Sudah tentu iapun tahu aku ini adik perempuannya!"
kata Kim-leng.
Teringat oleh Peng-say sebelum masuk rumah tadi
Ciamtay Boh-ko telah berteriak dan mengaku "kakanda"
terhadap Sau Kim-leng, disangkanya ucapan tersebut hanya
sebagai kata2 rayuan saja, tak tersangka memang benar.
Di dunia ini ternyata ada kakak ingin memperisteri adik
perempuan sendiri, jelas ini perbuatan abnormal, melanggar
susila tata keluarga, sungguh kejadian yang aneh.
Dengan gemas Peng-say juga berkata: "Percuma
Ciamtay Cu-ih termasuk satu diantara 'Su-ki' (empat tokoh )
yang disegani, tadinya kukira dia pasti seorang kosen yang
bijaksana, tak terduga dia malah menganjurkan anaknya
sendiri melakukan perbuatan asusila seperti binatang."
Apapun juga Hong-hoa-wancu Ciamtay Cu-ih tetap ayah
kanduhg Sau Kim-leng, lantaran gemasnya Peng-say
memaki tokoh itu seperti binatang, tentu saja terasa tidak
enak bagi pendengaran Sau Kim-leng.
Segera Peng-say melihat sikap kikuk si nona, ia
menyadari ucapan sendiri yang menyinggung perasaan itu,
ia cepat menyatakan penyesalannya:
"Maaf, nona, bila ucapanku tidak pantas. . . ."
"Aku tidak menyalahkan kau," ujar Kim-leng gegetun.
"Mempunyai ayah begitu. tentu tidak terhindar dari makian
orang. Apabila kuingat aku ini anaknya, sungguh akupun
malu dan ingin mati saja, Entah. . .entah setelah kau tahu
persoalan ini, apakah selanjutnya kau tetap baik
terhadapku?...."
"Aku hanya menganggap engkau adalah puteri Sau-
cianpwe," kata Peng-say.
"Kau tidak mencela asal-usulku?" tanya Kim-leng dengan
hati terhibur.
Peng-say mengangguk, katanya: "Sudahlah, urusan ini
tidak perlu kita menyinggungnya lagi, selamanya akan
kuanggap engkau adalah ahli waris Pak-cay, apabila suatu
hari dapat kutemukan setengah Siang-liu-kiam-boh yang
lain pasti akan kukembalikan kepadamu."
Saking terharunya hampir Sau Kim-leng mencucurkan
air mata, katanya: "Ini sih tidak perlu, Siang-liu-kiam-boh
juga tak berguna bagiku. Pula aku bukan keturunan Pak-cay
yang sesungguhnya, aku tidak berhak mendapatkan Siang-
liu-kiam-boh. . . ."
"Salah ucapan nona," ujar Peng-say sambil menggeleng.
"Keluarga Sau dari Pak-cay hanya mempunyai puteri she
Sau seperti dirimu ini, bilamana kau tidak berhak
mendapatkan Siang-liu-kiam-boh, lalu siapa yang berhak?"
"Tapi. . .tapi aslinya aku she Ciamtay. . . ."
Peng-say terdiam sejenak, pikirnya: "Di dunia ini tidak
ada ayah-ibu yang salah, tampaknya betapapun kotor dan
rendahnya Hong-hoa-wancu, pada suatu hari akhirnya
nona ini juga akan mengakuinya sebagai ayah."
Setelah termenung sejenak, lalu ia bertanya; "Dan
bagaimana sekarang? Apakah nona sudah mengambil
sesuatu keputusan? Melulu bersembunyi kukira juga bukan
cara yang baik. . . ."
"Tapi selain bersembunyi apapula yang dapat
kuperbuat?" ujar Kim-leng dengan sedih. "Liok-ma jelas
bukan tandingannya, lalu siapa pula yang sanggup
melindungi diriku?"
Jiwa ksatria Soat Peng-say segera membangkitkan
semangatnya dan akan mengajukan kesediaannya membela
si nona, tapi bila teringat pihak lawan teramat lihay,
saimpai Liok-ma juga mengaku bukan tandingannya, kan
berarti dirinya terlalu tidak tahu diri. Maka setelah berpikir,
lalu ia berkata: "Selama dua tahun konon Ciamtay Boh-ko
telah datang mencari kau dua kali, ini menandakan dia
tidak pernah meninggalkan daratan Tionggoan dan
bertekad harus mendapatkan nona. Sekarang kau kepergok
dirumah, kukira urusan tidak mudah diselesaikan.
Sekalipun nanti Liok-ma dapat mengenyahkan dia,
selanjutnya dia tetap akan mengacau lagi ke sini. Jalan yang
paling baik kukira harus mematikan hasratnya untuk
mendapatkan dirimu, maka menurut pendapatku. . . ." "
"Jika Kongcu mempunyai saran yang baik, mohon
memberi petunjuk," pinta Kim-leng.
"Saran baik juga bukao," jawab Peng-say. "Kukira
engkau harus bicara berhadapan dengan dia dan
membujuknya secara persaudaraan."
"Dan kalau dia tidak menurut?"
"Ciamtay Boh-ko adalah keturunan tokoh teekemuka
kukira tidak sampai bertindak secara ngawur, andaikan
sukar dibujuk, apakah benar dia berani membawa kau
pulang ke Tang-hay?"
"Hakikatnya dia memang hewan, masa tidak berani?"
ujar Kim-leng.
"Menurut perkiraanku, meski Ciamtay Boh-ko
menyatakan hendak menikahi kau dan membawa kau ke
Tang-hay, bisa jadi apa yang dilakukannya ini bukan atas
perintah sang ayah, apabila nanti ayahnya mengetahui kau
adalah puterinya, tidak nanti dia membiarkan puteranya
sendiri bertindak ngawur begitu."
"Memangnya kau kira setelah aku dibawa ke Tang-hay,
lalu Hong-hoa-wancu akan mencegah perbuatan Ciamtay
Boh-ko yang melanggar susila ini?"
"Kukira pasti akan dilakukannya," ujar Peng-say.
"Hong-hoa-wancu bukanlah penduduk asli kepulauan
yang masih biadab di lautan timur sana, lihat saja nama
Hong-hoa-wancu, jelas ini nama istana kerajaan Sui-yang-te
pada dinasti Sui dan Tong dahulu. Nama Ciamtay Cu-ih
sendiri juga cangkotan nama murid nabi Khongcu, jelas
Hong-hoa-wancu tidak pernah melupakan adat istiadat
Tionggoan meski dia bertempat tinggal jauh di lautan timur
sana. Kalau sudah begitu, mustahil dia memperkenankan
anaknya sendiri melanggar susila tata kekeluargaan? Kukira
pasti disebabkan Ciamtay Boh-ko dilahirkan dan dibesarkan
di lautan timur sana, dia tidak tahu adat kebiasaan
Tionggoan, bisa jadi untuk pertama kalinya dia berkunjung
ke Tionggoan sini dan mendengar kecantikan nona yang
tiada bandingannya, maka tanpa menghiraukan nona ini
terhitung adik perempuannya, tapi memaksa akan
mengisterikan dirimu. Tapi bila sudah pulang ke Tang-hay,
mustahil Hong-hoa-wancu takkan mencegahnya?"
Mendengar dirinya dipuji Peng-say sebagai cantik tiada
bandingannya, Kim-leng menjadi malu, katanya: "Diriku
hanya gadis gunung biasa saja, manabisa dikatakan cantik
tiada bandingannya...."
"Ini memang kenyataan, bukan muksudku hendak
menyanjung nona," ucap Peng-say.
Pembawaan orang perempuan suka pada kecantikan,
lebih2 bila orang memujinya cantik, betapapun pasti merasa
senang.
Dengan sendirinya Sau Kim-leng juga suka dipuji. Ia
tersenyum, lalu berkata pula: "Tapi Kongcu cuma tahu
yang satu dan tidak tahu yang dua."
"O, masa masih ada persoalan lain?"
"Memang betul seperti dugaan Kongcu tadi. Hong-hoa-
wancu memang pengagum kebudayaan Tionggoan, maka
tempat tinggalnya telah dibangun sedemikian rupa sehingga
menyerupai istana raja. Tapi hakikatnya dia tidak
menghiraukan tata adat Tionggoan, dia merajai dunia
lautan timur sana dan berbuat sesukanya, bahkan adat
kebiasaan busuk setempat juga dianutnya."
Peng-say terkejut. tanyanya: "Apakah di sana ada adat
kebiasaan perkawman di antara saudara sekandung
sendiri?!"
Kim-leng mengangguk, katanya: "Ketika ibuku
menyelidiki hilangnya ayah di pertemuan Ki-lian-san,
setelah mengunjungi Lam-han dan Se-koan, ibu lantas
menyeberang ke lautan timur sana. Sungguh malang,
perjalanan kesana telah tertahan selama tujuh tahun, sebab
ibu terjeblos ke sarang iblis, beliau bukan tandingan Hong-
hoa-wancu sehingga diperlakukan tidak senonoh. Pedih hati
ibu dan ingin mati saja kalau bisa, tapi apa daya, biarpun
dimaki dan dipukul, atau bicara menurut aturan, Hong-hoa-
wancu tetap tidak mau tahu dan juga tidak mau
membebaskan ibu pulang ke Tionggoan. Demi pencarian
jejak ayah, terpaksa ibu mempertahankan hidupnya, lima
tahun kemudian, waktu aku berumur tiga tahun, Ciamtay
Boh-ko juga sudah berumur sepuluh. Suatu hari waktu
Hong-hoa-wancu menimang diriku, ia bilang kepada ibu
bahwa Leng-ji makin besar makin menyenangkan,
bilamana sudah besar kelak rasanya berat kalau dinikahkan
kepada orang luar, syukur adat kebiasaan setempat
memperbolehkan perkawinan antara saudara sendiri, maka
kelak biar Boh-ko kawin saja dengan anak Leng dan
mewarisi Hong-hoa-wan bersama."
Peng-say meng-geleng2 kepala oleh cerita yang tidak
masuk diakal sehat itu.
Kim-leng mencucurkan air mata, katanya pula:
"Mendengar ucapan Hong hoa-wancu itu, dapat
dibayangkan betapa kejut dan sedih ibuku. beliau tidak
memperlihatkan sesuatu perasaan apapun, diam2 ia
mencari kesempatan untuk meloloskan diri dari sarang iblis.
Selama dua tahun ibu terus berusaha, disamping menyogok
pelayan dan siap menyeberangi lautan , diam2 juga berjaga
agar aku tidak bergaul dengan Ciamtay Boh-ko. Sebab
itulah sampai sekarang aku tidak mempunyai kesan apapun
terhadap Ciamtay Boh-ko, mungkin Ciamtay Boh-ko
sendiri juga tidak mempunyai kesan apapun atas diriku,
inilah cara mendiang ibuku ber-jaga2 terhadap segala
kemungkinan, sebelum meninggal ibu juga berpesan
padaku, apabila kelak Ciamtay Boh-ko datang ke Tiongoan
dan terlalu mendesak, maka aku dianjurkan mengasingkan
diri dan hidup terpencil agar tidak dapat ditemukan
Ciamtay Boh-ko. Tujuh tahun ibu bertempat tinggal di
Tang-hay sana, akhirnya tiba saatnya ketika Hong-hoa-
wancu sedang mabuk, ibu berusaha membunuhnya dan
melarikan diri . . . ."
"Jadikah Hong-hoa-wancu mati?" sela Peng-say.
"Menurut cerita ibu, Hong-hoa-wancu benar2 tidak malu
menjadi satu diantara Su-ki yang termashur, sudah jelas
pedang ibu tepat menikam pada tempat fatal di tubuhnya,
tapi dia masih mampu mematahkan pedang ibu, bahkan
balas menghantam sekali sehingga ibu terluka. Melihat
bagian pedang yang patah menancap di tubuh Hong-hoa-
wancu dan dia tetap berdiri tegak tanpa roboh. ibu menjadi
ketakutan dan cepat2 melarikan diri dengan menanggung
luka, karena itulah mati hidup Hong-hoa-wancu juga tidak
diketahui. Akan tetapi kemudian sama sekali tiada tersiar
berita tentang kematian Hong-hoa-wancu, jadi mungkin dia
masih hidup. Namun menurut ibu, biarpun tikaman itu
tidak membinasakan dia, sedikitnya akan membuatnya
lumpuh untuk selamanya dan sakit hati selama tujuh tahun
terasa sudah terbalas. Sampai sekarang Hong-hoa-wancu
tidak pernah muncul di Tionggoan, mungkin dia memang
sudah lumpuh. Sebaliknya karena pukulan Hong hoa-
wancu luka ibupun tidak ringan dan tidak pernah
disembuhkan secara tuntas. Ditambah lagi ibu terlalu capek
mencari Caycu, lari kesana cari kesini, akhirnya buyarlah
segala harapannya untuk menemukannya, karena sedih
ditambah lukanya, ibu tidak pernah bangun lagi, beliau
wafat pada waktu aku berumur sebelas."
Peng-say menghela napas gegetun, katanya: "Kalau
Hong hoa-wancu lumpuh tesama itu, jelas itulah
ganjarannya yang setimpal. Tapi kematian ibumu, ai,
sungguh tidak adil dunia ini."
"Yang harus disesalkan adalah diriku yang dilahirkan tak
berguna ini," ucap Sau Kim-leng dengan gemas. "Ilmu silat
tak dapat kulatih, aku tidak mampu pergi ke Tang-hay
untuk menuntut balas kematian ibu, sebaliknya Hong-hoa-
wancu malah tidak melupakan diriku, jelas dia sengaja
menyuruh puteranya datang kemari untuk memaksa diriku
pulang ke Tang-hay sana."
"Dengan tindakan ini apa manfaatnya bagi Hong-hoa-
wancu sendiri?" ujar Peng-say sambil meng-geleng2 kepala.
"Dia mengira ibu belum meninggal, tentu dia sengaja
menyuruh anaknya bertindak demikian agar ibu mati keki,"
kata Kim-leng.
Peng-say menggeleng kepala pula, ucapnya: "Ibumu
adalah tokoh ternama di dunia Kangouw, setiap orang Bu-
lim tahu ibumu sudah meninggal dunia, makanya terjadi
penyatron berulang kali ke Leng-hiang-cay sini. Meski
Hong-hoa-wancu ber-tempat tinggal jauh di lautan sana,
tentu dia juga mendengar berita meninggalnya ibumu."
"Pendek kata, jelas Hong-hoa-wancu tidak bermaksud
baik," ucap Kim-leng dengan gegetun.
"Apabila pada suatu hari engkau dapat menuntut balas,
cara bagaimana akan kau perlakukan Hong-hoa-wancu?"
tanya Peng-say.
Kim-leng ragu sejenak, jawabnya kemudian dengan
tergagap: "Akan akan kubunuh dia. . . ."
"Jangan lupa, dia adalah ayah-kandungmu!"
Mendadak Sau Kim-leog mendekap mukanya dan
menangis, serunya: "Tapi. . .tapi kalau dia tahu hubungan
baik antara ayah dan anak, tentu dia tidak menyuruh
puteranya datang kesini untuk menghina diriku "
"Nona janganlah berduka, yang penting sekarang,
pikirkanlah cara bagaimana menghadapinya," ujar Peng-
say.
"Dalam keadaan terpaksa, biarlah kutinggalkan tempat
ini, aku akan mengasingkan diri untuk menyambung sisa
hidupku ini."
"Tapi pondasi Pak-cay yang sudah terpupuk selama
ratusan tabun. apakah tidak sayang jika ditinggalkan begitu
saja?"
"Habis seorang perempuan lemah macam diriku ini masa
mampu menghadapi srigala yang buas itu?"
Peng-say terdiam. Ia membatin: "Semoga Sau Cing-in
belum lagi mati, asalkan dia muncul kembali untuk
mengemudikan keadaan ini, tentu Pak-cay dapat
diselamatkan."
Akan tetapi Sau Cing-in sudah hilang 27 tahun lamanya,
apakah jalan pikirannya ini tidak terlalu muluk?
Tiba2 Sau Kim-leng bertutur pula: "Ang-hay-ji adalah
anak yatim-piatu yang dibuang orang tuanya, tak diketahui
she dan namanya, tapi dia pintar dan cerdas, mestinya ada
maksudku akan mengangkat dia menjadi ahliwaris Pak-cay
agar nama kebesaran Pak-cay yang sudah bersejarah
ratusan tahun ini tidak hanyut di tanganku." "
"Inipun pikiran yang baik," ujar Peng-say "Sudah berapa
tahun Liok-ma mengajarkan Kungfu kepadanya?"
"Kira2 tiga tahun," jawab Kim-leng.
"Kalau sudah dewasa nanti akan kuajarkan padanya
setengah bagian kiri Siang-liu-kiam-hoat ini," kata Peng-say.
"Tapi setelah dia dewasa nanti, mungkin didunia
persilatan sudah tidak dikenal lagi nama Pak Cay," kata
Kim-leng.
"Kan masih ada Liok-ma, kukira tidak perlu kuatir."
"Usia Liok-ma sudah hampir delapan puluh, berapa
tahun lagi dapat kita tunggu?" ujar Kim-leng.
"Ya, ini .... memang . . . . "
"Meski kau bukan murid Pak-cay, tapi kau memiliki ilmu
pedang Pak-cay, asalkan kau mau mengambil alih tugas ini
dan berjuang bagi Pak-cay, tentu nama Pak-cay tidak kuatir
akan lenyap."
Permintaan ini sebenarnya rada semberono, tapi lantaran
percakapan mereka makin lama makin cocok, Sau Kim-
leng memandang Peng-say seperti orang sendiri, tanpa
terasa tercetus permintaannya itu.
Tapi Peng-say juga tidak marah, ia mengangguk dan
berkata: "Pantasnya, karena aku memainkan ilmu pedang
Pak-cay, akupun harus berjuang bagi Pak-cay, asalkan
tenagaku mampu melaksanakannya. secara diam2 aku pasti
akan membela nama baik Pak-cay."
"Kenapa mesti secara diam2?" tanya Kim-leng dengan
heran.
"Habis bagaimana menurut kehendak nona?"
"Jika aku mengasingkan diri, Liok-ma tentu akan ikut
bersamaku, Leng-hiang-cay tidak boleh kosong tanpa
pemilik, sedangkan usia Ang-hay-ji masih terlalu kecil,
kelak juga belum pasti sanggup memikul beban berat
sebagai pewaris Pak-cay, sekarang terpaksa harus mohon
bantuanmu agar suka tinggal di sini dan menjadi pemilik
Pak-cay."
Cepat Peng-say menggeleng, katanya: "Wah, mana boleh
jadi begini! Betapa banyak harta benda Pak-cay mana boleh
jatuh ke tanganku dengan begini saja? Apalagi aku masih
banyak urusan lain dan tidak dapat setiap hari berdiam di
Leng-hiang-cay."
"Ai, Ka. . . . Kongcu dungu," mestinya dia akan bilang
"kakak tolol", tapi terasa tidak enak, maka cepat ganti
sebutan, "siapa yang suruh kau berdiam disini setiap hari,
kau bebas kemanapun sesukamu, jangan lupa, aku kan
pernah minta bantuanmu agar ikut mencari kabar jejak
Caycu, jika engkau hanya berdiam disini setiap hari, lalu
cara bagaimana akan kau cari beritanya? Terserah padamu,
boleh kau tinggal di sini satu-dua hari setiap bulan atau
sepuluh hari setiap dua bulan, asal saja kau menganggapnya
sebagai tempat tinggalmu."
Tapi Peng-say tetap menggeleng, katanya: "Tanpa alasan
seorang asing seperti diriku ini mendadak disuruh menjadi
pemilik Pak-cay, namanya tidak cocok, kata2nya tidak
sesuai, kukira tidak boleh jadi."
Mendadak dari lorong sana ada orang menyambung:
"Siapa bilang namanya tidak cocok dan kata2nya tidak
sesuai?"
"Ah, Liok-ma datang," seru Kim-leng girang.
Benar juga, sejenak kemudian tampak liok-ma
melangkah masuk gua itu, katanya dengan mengulum
senyum: "Soat kongcu diminta menjadi Pak-cay Caycu
kukira memang paling ideal. Tua bangka macam diriku
entah bisa hidup berapa tahun lagi, bilamana mendadak
kutinggalkan dunia fana ini, tertinggal anak ingusan macam
Ang hay-ji bisa ber-buat apa? Kepandaian Soat kongcu jelas
tidak di bawahku, engkau juga menguasai ilmu pedang
ciptaan Loya, ini sama dengan murid Loya, sungguh ideal
bila engkau menjadi pewaris Pak-cay. Soal namanya tidak
cocok dan kata2nya tidak sesuai kan mudah diatur."
"Cara bagaimana mengaturnya?" tanya Kim-leng.
"Asalkan dia memperisteri Siocia kita, kan segala urusan
menjadi beres?" ujar Liok-ma dengan tertawa.
Seketika muka Sau Kim-leng menjadi merah, ia
menunduk malu hingga kepala hampir menempel dada.
Tapi dia tidak bersuara, bahkan cuma merasa malu saja,
jelas diam2 berarti setuju, hanya tidak diketahuinya apakah
sang jejaka setuju atau tidak.
Bahwa mendadak ada rejeki nomplok, diberi isteri
cantik, terima warisan harta benda yang tak terhitung
besarnya, semua ini benar2 sangat menarik. Soat Peng-say
sendiri baru saja lolos dari lubang jarum, setelah jiwa
selamat segera diuruk rejeki, perubahan mendadak ini
benar2 membuatnya terkesima,
Sejak dulu setiap pahlawan memang sukar terhindar dari
gangguan si cantik, bahwa sekarang isteri cantik disodorkan
kepadanya, betapapun Soat Peng-say sukar menolaknya,
jangankan kuatir akan melukai hati si nona, sesungguhnya
iapun merasa sayang untuk tidak menerimanya. Tapi kalau
dia menerima begitu saja, rasanya juga rada2 enggan.
Untung pinangan Liok-ma itu tidak ditanyakan secara
langsung, jadi masih dapat dipertimbangkan lagi secara
pelahan2.
Maka Peng-say lantas bertanva: "Apakah Ciamtay Boh-
ko sudah pergi?"
"Syukurlah sudah dapat kuenyahkan dan terhindarlah
kesukaran di depan mata," jawab Liok-ma. "Eh, hari sudah
lewat lohor, kalian belum makan siang, maka sengaja
kudatang memapak pulang Siau-leng."
-ooo0dw0ooo-

Jilid 7
Baru sekarang Sau Kim-leng mengangkat kepalanya dan
melirik Peng-say sekejap, lalu katanya kepada Liok-ma:
"Dan dia. . . .dia bagaimana?"
"Soat-kongcu sudah berduduk sekian lamanya didalam
kolam, kukira lukanya sudah hampir sembuh seluruhnya
dan sekarang bolehlah berdiri," kata Liok-ma.
"Sau Tiong dan Sau Coan, lekas kalian melayani Soat-
kongcu berpakaian, aku dan Siocia berangkat lebih dulu."
Segera Siau Li menggendong lagi Sau Kim-leng dan ikut
keluar gua bersama Liok-ma. Di dalam gua sekarang tiada
orang perempuan lagi, Peng-say lantas melompat keluar
kolam, ia coba mengatur napas dan melemaskan otot,
rasanya memang sudah hampir sehat seluruhnya. Iapun
tidak minta dilayani Sau Tiong dan Sau Coan, ber-gegas2 ia
berpakaian sendiri. Setelah Peng-say bersama Sau Tiong
dan Sau Coan sampai di Leng-hiang-cay, sementara itu
santapan yang tersedia sudah hampir dingin, tapi sebelum
Peng-say bersantap, lebih dulu ia lantas menanyai Ang-hay-
ji: "Di mana Lolo?"
"Lolo dan Kokoh (bibi) sudah dahar, mereka berada di
atas loteng," jawab Ang hay-ji.
Peng-say mengangguk, tampa bicara lagi ia terus menuju
ke atas.
"Hei, engkau belum makan?!" seru Ang-hay-ji.
"Aku tidak lapar, makan nanti saja," sahut Peng-say
walaupun perutnya sudah berkeruyukan.
Rupanya dia menguatirkan keselamatan Cin Yak-leng,
maka ingin tanya Liok-ma apakah Yak-leng sudah
mendusin dan sudah makan atau belum.
Waktu Cin Yak-leng hendak tidur, wajahnya kelihatan
meriang, setelah sekian lama tak dijenguk, ia menjadi
kuatir. Maka dengan langkah ter-gesa2 ia mendatangi
kamar tidur Sau Kim-leng.
Dari jauh sudah didengarnya suara kecapi, waktu masuk
keruangan panjang sana, ia menjadi terkesima oleh suara
kecapi yang mengalun merdu, tanpa terasa ia berhenti dan
mendengarkan dengan cermat, suara kecapi itu jelas
berkumandang dari kamar tidur Sau Kim-leng.
Agaknya Peng-say mempunyai bakat seni, setelah
mendengarkan sejenak, tahulah dia Sau Kim-leng sedang
memetik lagu berdasarkan isi Si-keng (kitab bersyair) yang
berjudul "Tho-yau". Syair ini mengisahkan seorang gadis
yang sudah cukup umur dan sedang berahi, tapi sebegitu
jauh belum lagi mendapatkan jodoh, maka tercetuslah
perasaannya melalui lagu ini untuk menghibur hatinya yang
haus cinta.
Syair itu terdiri dari tiga bait, sampai sekian lama Peng-
say mendengarkan dan ternyata bolak-balik Sau Kim-leng
hanya mengulangi bait lagu ini. Diam2 ia merasa geli,
pikirnya: "Kelihatannya nona Sau ini malu2 kucing, tak
tersangka iapun berani memetik lagu yang bernada minta
kawin ini."
Se-konyong2 terpikir olehnya mengapa si nona bolak-
balik membawakan lagu itu melulu, jangan2 sengaja
diperdengarkan kepadanya.
Pada saat itulah mendadak pintu kamar terbuka, Liok-
ma melongok keluar dan menyapa dengan tertawa: "He,
kiranya Soat kongcu sudah datang."
Suara kecapi seketika berhenti juga begitu mendengar
Soat Peng-say sudah datang. Mendingan kalau si nona tidak
memutus petikan kecapinya. karena berhenti mendadak, hal
ini malah kelihatan belangnya, tandanya dia malu untuk
memetik lagi lagu itu.
Diam2 Peng-say membatin: "Waktu di Ciok-leng-tong,
dia malu2 dan jarang bicara. Tapi sekarang dia
memaparkan perasaannya melalui suara kecapi. jelas dia
sangat suka menjadi isteriku. Jika sebentar Liok-ma
langsung mengajukan persoalan ini kepadaku, lalu cara
bagaimana harus kujawabnya?"
Mendadak didengarnya Liok-ma sedang menegur: "He,
kau melamun apa? Mau masuk tidak?"
Peng-say terkejut dan cepat menjawab: "Mau, mau
masuk!" — Segera ia melompat masuk ke dalam kamar.
Liok-ma menggeleng kepala, katanya: "Kenapa ter-
buru2. masa kututup pintu dan mengalangi
kedatanganmu?"
Peng-say menyengir. Tanyanya kemudian: "Dimanakah
adik perempuanku?"
"Ingin kutanya dulu sesuatu padamu, coba bagaimana
jawabmu, jangan terburu tanya adikmu," kata Liok-ma.
Terkesiap hati Peng-say, benar juga segera Liok-ma
membicarakan tentang perjodohannya dengan Sau Kim-
leng, katanya: "Ingin kutanya padamu. kau suka kawin
dengan Siau Leng atau tidak? Mengenai Siau Leng, dia
sudah pasrah padaku. Bahwa da menyerahkan soal yang
kutanyakan ini padaku, jetas dia sudah mau. Tinggal kau,
hendaklah kau jawab terus terang. Kita sama2 orang yang
suka blak2an dan tidak perlu bicara secara ber-tele2. Kalau
mau bilang mau. tidak mau ya katakan tidak mau."
Tentu saja Peng-say serba susah, jawabnya dengan
gelagapan: "Ini .... ini .... "
"Tidak perlu ini atau itu," bentak Liok-ma mendadak
dengan mendelik. "Kau tidak mau, begitu?"
"Tapi perjodohan adalah urusan penting, harus
dipertimbangkan dengan baik dan tidak boleh diputuskan
secara gegabah," kata Peng-say.
Liok-ma menjadi tidak tenang, ucapnya: "Apa yang
perlu dipertimbangkan lagi? Apa kau takut?"
Peng-say meleogak, belum lagi ia paham apa arti ucapan
nenek itu, dilihatnya Siau Tho melangkah keluar dan
berkata: "Lolo, Siocia bilang boleh memberi kesempatan
padanya untuk dipertimbangkan dan jangan memaksanya."
"Masa kupaksa dia?" kata Liok-ma. "Rejeki nomplok
begini, siapa yeng tidak mau? Bila seorang pemberani,
mungkin kontan akan menjawab ya dan kuatir terlambat
memberi jawaban. Hanya manusia pengecut saja yang suka
ragu2 dan sangsi2, pakai pertimbangan segala."
"Kukira ucapanmu ini kurang tepat?" ujar Peng-say.
"Apa? Tidak tepat?" kontan si nenek mendelik pula.
"Hm, jelas kau takut bila menikah dengan Siau Leng, tentu
Ciamtay Boh-ko akan mencari perkara padamu, kalau tidak
masa kau ragu2. Untuk ini. biarlah Liok-ma memberi
jaminan padamu, kutanggung bocah itu takkan merecoki
kau. Kau boleh menjadi majikan Pak-cay kami dengan
aman sentosa, hidup bahagia seumur hidupmu."
Rupanya Liok-ma mengira Soat Peng-say bernyali kecil
dan takut pada Ciamtay Boh-ko, maka dia memberi garansi
penuh.
Peng-say tidak mau membantahnya, ia pikir bila aku
suka, boleh kukawin secara resmi dan terang2an,
memangnya siapa yang kutakuti? Apalagi kalau aku kawin
dengan Sau Kim-leng, jelas akan membikin buntu pikiran
sesat Ciamtay Boh-ko, betapapun dia takkan paksa adik
perempuannya yang sudah kawin dengan orang lain untuk
bercerai dan kawin lagi dengan dia sendiri?"
Berpikir demikian, ia merasa jalan pikirannya ini sangat
bagus dan akan bantu memecahkan kesulitan orang lain,
dengan simpati ia lantas berseru: "Nona Sau, apabila kau
sudah kawin, tentu Ciamtay Boh-ko takkan merecoki kau
lagi dan kaupun tidak perlu kuatir akan dipaksa ikut pulang
ke Tang-hay."'
Di dalam kamarnya, Sau Kim-leng merasa ucapan Peng-
say itu masuk di akal, diam2 hatinya bergirang.
Supaya maklum, di jaman dahulu, perempuan yang
berusia 15 sudah cukup umur untuk kawin. Bila berunur 20
dan belum menikah, maka akan dianggap perawan tua dan
akan menimbulkan omongan iseng tetangga, bila disangka
kelakuannya tidak baik atau mukanya jelek segala.
Kini umur Sau Kim-leng sudah lewat 20. sudah lima
tahun masa jodohnya dilalui dengan hampa, ia menjadi
sedih bila dirinya tidak lekas2 menikah, bisa jadi akan
ditertawai orang. Cuma penilaiannya terlalu tinggi, selama
ini belum ketemu jodoh yang cocok. Baru tahun yang lalu
secara kebetulan ia penujui Cin Yak-leng yang cakap. maka
tergodalah hatinya. Siapa tahu kekasihnya itu adalah jejaka
gadungan.
Tentu saja ia sangat kecewa dan sedih, entah kapan baru
akan menemukan jodoh yang setimpal. Setelah bergaul
setengah hari dengan Soat Peng-say, ia merasa anak muda
ini berhati jujur dan simpatik, banyak segi2 baiknya, apalagi
dia adalah Soat Peng-say yang tulen, bukan Soat Peng-say
gadungan. Karena itulah hatinya yang tergoda oleh Peng-
say gadungan itu lantas beralih kepada Peng-say yang tulen.
Waktu Liok-ma mengusulkan agar Soat Peng-say
menikahi dia, mendadak timbul semacam perasaan kuat
bahwa dia harus kawin dengan orang ini, karena itulah
dalam hati ia sudah setuju seratus persen. Setelah pulang ke
kamarnya, melalui suara kecapi diulanginya perasaannya
itu.
Perempuan kalau besar harus kawin. dia melambangkan
perasaannya melalui suara kecapi, ini bukannya dia tidak
dapat mengekang diri, melainkan semacam tanda minta
kawin yang normal.
Semula ia kuatir Soat Peng-say tidak sudi menikahinya,
tapi sekarang didengarnya anak muda itu menyuruh dia
jangan kuatir, ia sangka ucapan Peng-say itu berarti anak
muda itu sudah setuju untuk kawin dengan dia, dengan
sendirinya ia kegirangan.
Maka dengan malu2 ia menjawab: "Soat . . . Soat-long,
ucapanmu betul juga ... . " nyata, tanpa terasa ia telah
menyebut Peng-say dengan sebutan "long" (sebutan isteri
pada suami atau kekasih).
Liok-ma lantas tertawa, katanya: "Nah, Kongcu dengar
tidak?"
Karena hati Peng-say tidak pernah berpikir sampai
sejauh itu, ia tidak tahu dimana letak keistimewaan sebutan
"Soat-long" itu, maka dengan ke-tolol2an ia menjawab:
"Dengar apa?"
Dengan mendongkol Liok-ma mengomel: "Dungu, Siau
Leng sudah ganti sebutan padamu, masa kau tidak tahu?
Menurut pendapatku, jika perkawinan dapat
menghilangkan maksud buruk Ciamtay Boh-ko, nah,
kenapa tidak cepat kalian laksanakan saja. Gembleng besi
mumpung panas, bagaimana kalau kita langsungkan saja
hari ini juga?!"
"Apa katamu?" seru Peng-say terkejut. "Ini.... ini ....
mana boleh jadi!"
Ya dongkol ya bingung Liok-ma, sungguh sukar
dimengerti ada lelaki aneh begini, ada rejeki nomplok tidak
mau, disodori gadis cantik malah menolak. Segera ia
bertanya dengan gusar: "Eh, coba kau bicara yang jelas,
sesungguhnya kau mau kawin dengan Siocia kami atau
tidak?"
Soat Peng-say sendiri sebatangkara, tidak punya sanak
tidak punya kadang, tidak punya rumah tidak punya
gudang, kawin dan berumah tangga sebenarnya adalah
idamannya, tapi dalam hati kecilnya terasa ada sesuatu
perasaan enggan yang sukar dijelaskan, maka ia menjadi
ragu2 dan menjawab dengan tergagap:
"Aku .... aku tidak tahu ...."
"Apa katamu? Kau tidak tahu?" teriak Liok-ma. "Sialan!
Lelaki macam apa kau ini? Kau kan bukan anak kecil, masa
urusan perjodohan sendiri kau bilang tidak tahu?"
"Aku .... aku .... "
"Aku apa? Berani bilang tidak mau, segera kubunuh
kau!" bentak Liok-ma sebelum lanjut ucapan Peng say.
Sungguh lucu dan janggal Masa "ulam mencari sambal",
masa ada perempuan mencari lelaki dan memaksanya
kawin.
"Liok-ma," tiba2 Sau Kim-leng yang berada di dalam
kamar berseru, "sudahlah kalau dia tidak mau, biar
....biarkan dia pergi saja . . . ." Sampai kata terakhir itu,
suaranya kedengaran pedih dan tersedan-sedu.
Peng-say tidak tahan mendengar tangisan perempuan,
dengan menyesal ia berkata: "Nona Sau, bukanlah aku
tidak mau melainkan karena aku tidak dapat ...."
"Mengapa tidak dapat? Karena aku cuma seorang
perempuan yang tak berguna?" sela Kim-leng.
"O, tidak, bukan begitu," jawab Peng say.
"Tapi. . .tapi akupun sukar memberi penjelasan. . . ."
Liok-ma menjadi murka, bentaknya: "Anak busuk,
plintat-plintut, kalau tidak mau, lekas enyah!"
"Dan adik perempuanku?" tanya Peng-say dengan
bersitegang,
"Siapa urus adikmu, lekas enyah, lekas pergi!" bentak
Liok-ma pula. "Jika tidak lekas enyah, biar pun nanti
didamperat Siocia juga akan kubunuh kau."
Segera Peng-say pasang kuda2 dan melintangkan tangan
di depan dada, katanya pula dengan tegas "Di mana adik
perenpuanku?"
"Anak keparat, kau benar2 sudah bosan hidup!" teriak
Liok-ma dengan gemas, kontan telapak tangannya menabas
secepat kilat. Ciang-hoat atau ilmu pukulan dengan telapak
tangan Pak-cay terhitung juga ilmu silat yang termashur
didunia persilatan walauoun tidak sehebat ilmu pedangnya.
Liok-ma sudah mendapatkan ajaran Ciang-hoat
selengkapnya, maka daya serangannya tidak kepalang
dahsyatnya, pukulan demi pukulan bertambah cepat
laksana angin puyuh menyapu daun rontok dan sangat
mengejutkan lawan.
Soat Peng-say belajar Ciang-hoat melalui Siang-jing-pit-
lok, sebuah kitab pusaka yang memuat seluruh ilmu silat
Bu-tong-pay kecuali ilmu pedang. Ciang-hoat yang terdapat
di dalam kitab itu tidak lebih asor daripada Ciang-hoat gaya
Pak-cay. Cuma keuletan Peng-say yang selisih jauh di
bandingkan Liok-ma, dengan sendirinya terjadilah
perbedaan kekuatan pukulan yang menyolok.
Sedapatnya Peng tay mematahkan beberapa kali pukulan
si nenek, ketika angin pukulan lawan mulai mengurung
dirinya, gerak-geriknya menjadi lamban dan tidak sanggup
menangkis dan balas menyerang lagi.
Dengan suatu gerak pancingan, Liok-ma membuat Peng-
say kerepotan, menyusul sebelah tangannya lantas
mencengkeram, Peng-say ditawannya hidup2 dan diangkat
ke atas, segera pemuda itu hendak dibantingnya hingga
hancur.
Untunglah pada saat itu juga Sau Kim-leng melangkah
keluar, dengan air mata meleleh ia berseru: "Jangan
melukai dia, Liok ma!"
"Anak busuk ini terlalu tidak tahu diri, kau malah
melindungi dia?" omel Liok-ma dengan penasaran. "Biar
kubanting dia hingga setengah mati, lalu suruh dia enyah
dari sini dengan merangkak!"
"Tidak, jangan," ucap si nona Lalu ia bertanya: "Di
manakah adik perempuannya?"
"Sejak tadi2 sudah pergi sendiri," jawab Liok-ma.
"Lepaskan dia, biarkan dia pergi juga," kata Sau Kim-
leng.
Tapi Liok-ma tidak mau menurut.
Kim-leng menjadi gusar; "Dengar tidak, Liok-ma?"
Tidak kepalang gemas Liok-ma, ia lemparkan Soat Peng-
say ke sana, cuma tidak berani menggunakan tenaga berat.
Maka sekali melejit di udara. dapatlah Peng-say berdiri
tegak di tanah.
"Huh, tanpa pedang, ilmu silatmu tiada ubahnya seperti
anak kecil umur tiga, tidak tahan sekali pukul!" demikian
Liok-ma sengaja mengejek. "Tapi sekalipun kau pakai
pedang, yang kau mainkan juga ilmu pedang Pak-cay kami,
ilmu silatmu yang asli tiada berguna sama sekali. Untung
Siau Leng tidak jadi kawin dengan kau, jika jadi, kalau ada
apa2 mungkin kaupun tidak mampu membela isteri sendiri.
Maka lebih baik cepat merat dari sini, belajarlah beberapa
tahun lagi baru nanti perlihatkan lagi kepandaianmu
kepadaku."
Peng-say menahan rasa malunya karena telah keok, ia
tanya pula: "Di manakah adik perempuanku?"
"Apa kau tuli?" damperat Liok-ma. "Kan sudah
kukatakan dia telah pergi sendiri?!"
"Dia benar2 pergi sendiri?" Peng-say menegas dengan
sangsi.
"Kalau justa aku . . . . " mendadak si nenek tidak
melanjutkan.
"Aku apa?" Peng-say menegas.
Liok-ma berlagak tidak sabar dan berteriak "Sudahlah,
lekas enyah, percaya atau tidak terserah padamu Adikmu
kan bukan mestika berharga, untuk apa kusembunyikan
dia?"
Peng-say manggut2, gumannya: "Ya, benar juga, kalau
adik Leng tinggal disini hanya akan menghabiskan nasi
saja. Kalau dia sudah pergi, harus lekas kususul dia."
Habis berkata, tanpa pamit ia terus melangkah pergi
dengan cepat. Ketika lalu di samping Sau Kim-leng, ia
pura2 tidak menghiraukannya, pada waktu Liok-ma lengah,
mendadak tangannya membalik dan berhasil
mencengkeram Sau Kim-leng.
Karuan Liok-ma terkejut dan membentak: "Kau cari
mampus?!"
"Tetap di tempat, jangan maju!" bentak Peng-say dengan
bengis.
Gemertuk gigi Liok-ma saking gemasnya, damperatnya:
"Anak busuk, berani kau ganggu Siau Leng, kubeset
kulitmu dan betot uratmu!"
Tapi iapun tidak berani sembarangan bertindak demi
melihat air muka Peng-say yang beringas itu.
Anak muda itu masih tetap dengan pertanyaan tadi: "Di
manakah adik perempuanku?"
Liok-ma meraung: "Keparat, harus berapa puluh kali
kuulangi perkataanku?"
"Menuruti watakmu yang keras, tidak nanti kau
bebaskan adik Leng dengan begitu saja," ujar Peng-say.
"Pula, adik Leng juga takkan pergi sendiri tanpa menunggu
aku."
"Aku bersumpah bahwa dia tidak berada disini," teriak
Liok-ma. "Jika dia masih terdapat disini, asal kau temukan,
biar Lolo merangkuk di tanah dan menyembah seribu kali
padamu."
"Tadi mengapa kau tidak berani sumpah. Kalau kau
berdusta bagaimana?" jengek Peng-say.
"Kalau kubilang dia sudah pergi ya sudah pergi, bila
dusta anggap Lolo ini piaraanmu!" jawab si nenek dengan
mendongkol.
"Dia pergi sendiri?" Peng-say menegas.
"Sudah tentu pergi sendiri, memangnya harus kuantar?"
jawab Liok-ma.
"Kalau dusta?''
"Kalau dusta aku .... "mendadak si nenek tidak
melanjutkan.
Segera Peng-say perkeras cengkeramannya pada bahu
Sau Kim-leng sambil membentak dengan bengis: "Kalau
dusta bagaimana?'*
Karena dirinya digunakan sebagai sandera, tindakan
Peng-say ini membuat pedih hati Sau Kim-leng dan
mencucurkan air mata, sekarang pemuda itu malah sampai
hati menyakiti lengannya, meski rasanya tulang lengan se-
akan2 remuk, tapi sekuatnya Kim-leng bertahan dan tidak
merintih. ia malah berkata dengan sedih "Soat-long, lebih
baik kau bunuh saja diriku . . . ."
"Memangnya kau kira aku tidak berani membunuhmu?"
kata Peng-say dengan garang "Hm, kalau Liok-ma tidak
mengaku terus terang, tentu kubunuh kau."
"Kau berani?" bentak Liok-ma.
"Kenapa tidak? Paling aku mati bersama dia!" jawab
Peng-say dengan angkuh.
Mendadak Sau Kim-leng tersenyum, katanya: "Soat-
long, bunuhlah diriku, aku rela mati di sampingmu dan
suruh Liok-ma mengubur kita menjadi satu."
Peng-say melengak, jawabnya kemudian sambil
menggeleng: "Tidak, aku tidak mau mati bersama kau, kau
ingin mati boleh mati sendirian."
"Tapi kalau kau bunuh diriku, tentu Liok-ma takkan
melepaskan kau, dia pasti akan mematuhi kehendakku,
setelah membunuh kau lalu mengubur kita menjadi satu
liang," ujar Kim-leng.
Di balik ucapannya itu jelas ia ingin menyatakan: 'bila
hidup tidak dapat bersatu ranjang, biarlah mati bersatu
liang'.
Peng-say tidak menyangka bahwa hanya dalam waktu
satu hari sesingkat ini si nona telah menaruh perhatian
sedemikian besar padanya. Mau-tak-mau terharu juga
hatinya, katanya dengan menyesal: "Aku takkan
membunuh kau, aku cuma minta Liok-ma bicara
sejujurnya."
"Apa yang dikatakan Liok-ma memang betul," ujar Kim-
leng. "Adik perempuanmu memang sudah pergi, tadinya
dia tidur di kamarku, sekarang sudah tidak ada lagi.
kutanya Siau Tho, dia juga bilang adikmu sudah pergi."
"Tapi dia tidak pergi sendirian!" kata Peng-say.
"Darimana kau tahu?" tanya Kim-leng.
"Mengapa Liok-ma hanya berani bersumpah bahwa dia
sudah pergi. tapi tidak berani bersumpah dia pergi
sendirian? Jelas dia tidak pergi sendirian, tapi pasti ada
sebab lain. Untuk itulah aku ingin tanya dengan lebih jelas."
"Cermat juga kau," ujar Kim-leng. "Ingin kutanya
padamu, mengapa kau sedemikian memperhatikan dia?
Apakah dia benar2 adikmu?"
"Adik perempuan sendiri sudah tentu harus
diperhatikan."
"Kalian saudara sekandung?"
"Bukan. dia Pau-moayku (adik misan).. . ."
"Pantas dia sering memandangmu dengan sorot matanya
yang luar biasa, pantas juga kau begini memperhatikan dia.
Apakah kau tahu dia sangat mencintai kau?"
Peng-say menggeleng dan menjawab: "Aku .... aku tidak
tahu ..."
"Dan tahukah kau bahwa kau sendiripun sangat
mencintai dia?"' tanya Kim-leng pula dengan hati pilu.
Dengan bingung Peng-say menjawab pula: "Entah, aku ....
aku tidak jelas. . . ."
Remuk rendam hati Sau Kim-leng, katanya: "Baru
sekarang kutahu apa sebabnya kau bilang tidak dapat
mengawini aku. kiranya kau jatuh cinta kepada
Piaumoaymu tanpa kau sadari sendiri, hanya dalam hati
kau merasa tidak dapat kawin denganku, meski kau tahu
sebabnya, tapi sukar menjelaskan, kau cuma tahu tidak
betul jika kawin dengan aku. Dalam hatimu hanya terdapat
Piao-moay seorang. Bolehlah kau pergi mencari
Piaumoaymu! Liok-ma, beritahukan duduknya perkara,
tidak boleh berdusta."
"Piaumoaynya telah pergi bersama Ciamtay Boh-ko,
memang betul tidak pergi sendirian," tutur Liok-ma.
"Apa? Mengapa dia pergi bersama Ciamtay Boh-ko?"
tanya Peng-say dengan terkejut.
"Dilihatnya Ciamtay-kongcu sangat cakap, maka dia
lantas ikut pergi bersama dia," jengek Liok-ma.
"Kau dusta! Kau bohong!" bentak Peng-say.
Melihat betapa gelisahnya anak muda itu, sukar
diucapkan rasa kecut hati Sau Kim-leng, dia sengaja
berkata: "Ciamtay Boh-ko memang cakap dan ganteng,
ilmu silatnya juga kelas pilihan apa tidak baik dia
berjodohkan Piaumoaymu?"
"Tidak baik, ya tidak baik," seru Peng-say sambil meng-
geleng2.
"Tapi apa daya, Piaumoaymu sendiri yang penujui dia,"
ujar Kim-leng.
"Tidak, aku tidak percaya!" Peng-say tetap ngotot.
"Berdasarkan apa kau tidak percaya?" Kim-leng sengaja
membakarnya. "Kau kira Piaumoaymu akan mencintai kau
dengan sepenuh hati? Tahukah kau hati manusia itu tidak
kenal apa artinya puas? perempuan yang beriman tidak
teguh, bila ketemu lelaki yang lebih baik daripadamu,
segera dia akan meninggalkan dirimu, seperti halnya
Piaumoaymu...."
"Piaumoayku kenapa?" bentak Peng-say dengan melotot
dan beringas.
Kim-leng sengaja hendak membikin sedih hati Peng-say,
bilamana anak muda itu sudah putus harapan tentu
perhatiannya akan beralih kepadanya. maka ia sengaja
membual: "Coba kau pikir, Ciamtay Boh-ko adalah
keturunan salah seorang tokoh Su-ki. baik Bun (sastra, sipil)
maupun Bu (silat. militer), semuanya melebihi kau. Apalagi
keluarga kaya dan berpengaruh, setelah ketemu dia jelas
Piaumoaymu lantas berubah pikiran."
Sampai gemetar badan Peng-say saking gusarnya,
teriaknya: "Kau, kau anggap Piaumoayku itu orang macam
apa?"
Dengan sengaja Kim-leng menjawab: "Dia tiada
harganya untuk dicintainya, dia adalah model perempuan
yang beriman tidak teguh."
Tidak kepalang gusar Peng-say, kontan ia menampar
sehingga Sau Kim-leng jatuh terguling, mukanya yang putih
bersih itu berhias lima jalur merah bekas jari.
Cepat Liok-ma memburu maju dan merangkul Sau Kim-
leng.
"Kau sendiri perempuan yang tidak teguh," demikian
Peng-say mendamperat dengan gregetan. Habis itu ia terus
melangkah pergi.
"Berhenti! Setelah memukul orang lantas mau pergi
begitu saja?!" bentak Liok-ma.
Dia bermaksud mengejar, tapi Sau Kim-leng dalam
pelukannya lantas mencegah: "Biarkan dia pergi!"
Setelah melepaskan nona itu, Liok-ma berkata sambil
menggeleng: "Ai, untuk apa kau omong begitu sehingga kau
digampar olehnya."
"Aku takkan terpukul secara percuma," ujar Kim-leng
sambil meraba pipinya.
"Kau tahu Piaumoaynya bukan model perempuan
begitu, malahan dia. . . ."
"Kutahu. tidak perlu kau katakan lagi," sela Kim-leng.
"Dapat kubayangkan sebab apa dia ikut pergi bersama
Ciamtay Boh-ko."
"Jika begitu, mengapa kau. . . ."
"Aku sengaja membikin hatinya terluka dan sukar
disembuhkan selamanya," ujar Kim-leng. "Bilamana dia
tidak berhasil menemukan dan merebut kembali
Piaumoaynya, lama2 dia pasti akan melupakan sang
Piaumoay atau mungkin sama sekali tidak suka lagi
padanya, tatkala mana baru akan kelihatan tamparan yang
kuterima ini tidaklah sia2."
"Akan tetapi juga belum tentu dia akan berubah
pikirannya terhadapmu. . . ."
"Bisa, pasti bisa, dia pasti akan berubah pikirannya
padaku," kata Kim-leng tegas dan mantap, "Sekarang
marilah kita berangkat!"
"Berangkat kemana?" tanya Liok-ma.
"Ke Tang-hay!"
"Tang-hay?!"
"Sudahlah, jangan banyak bertanya, lekas kita bebenah
dan segera berangkat!"
-oo0dw0oo-
Sudah tentu Soat Peng-say tidak percaya Cin Yak-leng
ikut pergi bersama Ciamtay Boh-ko dengan sukarela, ia
yakin si nona pasti terpaksa, tapi iapun tidak mengerti
mengapa Ciamtay Boh-ko memaksa Yak-leng pergi
bersama dia?
Jangan2 Ciamtay Boh-ko menyangka Cin Yak-leng ialah
Sau Kim-leng?
Inipun tidak mungkin. Yak-leng kan punya mulut, masa
dia tidak dapat menjelaskan siapa dia? Kalau bukan salah
paham, masih ada kemungkinan lain, yaitu Ciamtay Boh-
ko penujui Cin Yak-leng, maka menculiknya.
Jika betul terjadi begini, inilah yang menakutkan. Cin
Yak-leng tidak tergolong cantik luar biasa. jika sembarang
perempuan disukai Ciamtay Boh-ko, maka jelas pemuda ini
pasti pemuda bangor yang gila perempuan. Berpikir
demikian, Peng-say tidak berani lagi membayangkan
bagaimana akibatnya Cin Yak-leng digondol Ciamtay Boh-
ko.
Tapi apapun juga dia harus berusaha sebisanya untuk
menyelamatkan Cin Yak-leng sekalipun jiwa sendiri harus
berkorban. Sudah tentu, waktunya memegang peranan
penting, semakin cepat semakin baik, bila keburu, mungkin
kesucian Cin Yak-leng masih dapat diselamatkan.
Karena itulah, sejak meninggalkan Siau-ngo-taysan,
sepanjang jalan ia lantas ber-tanya2 dan mencari keterangan
adakah seorang pemuda seperjalanan dengan seorang nona.
Tak tersangka, sudah banyak juga orang yang ditanyai
tapi semuanya menggeleng menyatakan tidak tahu. Ia
menyangka dirinya telah salah arah, tapi kemudian terpikir
olehnya bisa jadi Ciamtay Boh-ko menumpang kereta
bersama Yak-leng, kalau mereka tidak memperlihatkan
wajahnya, dengan sendirinya tiada orang yang tahu.
Lantas bagaimana baiknya? Padahal setiap hari entah
berapa banyak kereta kuda yang berlalu-lalang, siapa yang
tahu dikereta mana terdapat seorang pemuda dan seorang
nona jelita?
Beberapa hari telah berlalu, makin kesal hati Soat Peng-
say, dia tidak tahu pasti kearah mana Ciamtay Boh-ko
membawa Cin Yak-leng, pencarian secara ngawur ini jelas
akan sia2 belaka.
Setengah bulan kemudian, ruang lingkup ratusan li di
sekitar Siau-ngo-tay-san telah dijelajahi semuanya, boleh
dikatakan siang malam bekerja tanpa berhenti, tapi hasilnya
tetap nihil.
Makin lama waktu yang terbuang makin tidak
menguntungkan dia, keruan ia sangat gelisah dan cemas,
tubuhnya mulai kurus, hampir tidak suka makan dan tidak
enak tidur. Sampai2 kuda yang baru dibelinya itu juga
lantaran bekerja terlalu keras pula dia malas merawatnya,
maka kudapun semakin kurus.
Sebulan kemudian, ia merasa tiada berguna lagi mencari
di seputar Ngo-tay-san itu, semula ia percaya pencariannya
pasti akan berhasil, sebab orang yang dituju Ciamtay Boh-
ko adaiah Sau Kim-leng nona itu tidak diperolehnya, besar
kemungkinan Ciamtay Boh-ko akan menunggu kesempatan
di sekitar Siau-ngo-tay-san. Akan tetapi setelah penyelidikan
teliti selama sebulan, seluas tiga ratus li di seputar Siau-ngo
tay-san sudah dijelajahi dan tetap tiada mendapatkan
sesuatu jejak, maka Soat Peng-say mulai patah semangat, ia
yakin pada hari pertama juga Ciamtay Boh-ko telah pergi ke
tempat yang jauh, hakikatnya tidak pernah tinggal di sekitar
Siau-ngo-tay-san.
Maka ia berganti haluan, ia hendak mencari jarak jauh.
Tapi pencarian jarak jauh terutama harus tahu dulu arah
yang tepat, kalau tidak, makin lama makin jauh jaraknya.
akhirnya tambah celaka.
Untuk memastikan arah kepergian Ciamtay Boh-ko,
setelah sebulan kemudian boleh dikatakan tidak mungkin
lagi, terpaksa harus untung2an.
Empat penjuru terbagi dalam timur, barat, utara dan
selatan, jadi kesempatannya cuma seperempat bagian.
Setelah dipikir dan ditimbang, Peng-say mengambil
keputusan malam ini juga akan berangkat ke jurutan timur.
Keputusannya ini didasarkan kepada tempat kediaman
Ciamtay Boh-ko berada di Tang-hay, di lautan Timur. Jadi
lebih besar harapannya jika mencari ke arah timur.
Umpama salah arah, pada suatu hari akhirnya Ciamtay
Boh-ko juga pasti akan kembali ke lautan timur. Sebab
itulah tujuan terakhir Soat Peng-say adalah berlayar,
mendatangi tempat kediaman Ciamtay Boh-ko.
Hari ini dia sampai di Pakkhia, Peng-say tidak
menjenguk famili ke keluarga Cin, juga tidak menyambangi
keluarga Beng, dia sengaja menginap di sebuah hotel kecil.
Sudah tiga hari dia tinggal disitu, setiap hari kecuali
pulang tidur di hotel, waktu selebihnya ia gunakan putar
kayun di segenap pelosok kota, ia berharap kalau2
kebetulan bertemu dengan Cin Yak-leng. Ia pikir ada
kemungkinan Ciamtay Boh-ko tinggal di kota besar ini, bila
dia membawa keluar Cin Yak-leng dan bisa jadi akan
dipergokinya.
Sudah tentu jalan pikirannya ini terlalu ke-kanak2an.
Selama tiga hari dia mondar-mandir kian-kemari, sepatu
baru yang dipakainya sudah hampir jebol, tapi Cin Yak-
leng yang diharapkan kepergok tetap tidak kelihatan.
Terkadang memang dilihatnya satu-dua nona yang
bayangan punggungnya mirip Cin Yak-leng, tapi setelah
didekati dan ditegur, tahu2 bukan. Tentu saja nona yang
disapanya menjadi malu dan memaki dia orang gila.
Selama lebih sebulan Soat Peng-say hidup merana,
keadaannya memang rada2 berubah seperti orang sinting,
Dia malas cuci muka dan sisir rambut, bajunya juga sudah
robek, rambutnya semrawut, janggutnya tidak dicukur,
keadaannya menjadi mirip pengemis,
Akhirnya ia merasa dirinya bisa benar2 menjadi sinting
bilamana berdiam lebih lama lagi di Pakkhia. Ia
memutuskan besoknya akan berangkat. Tapi malam
terakhir ini tidak dilewatkan dengan percuma, ia masib
penasaran dan ingin mencari pula. Ia pikir Ciamtay Boh-ko
tidak dikenalnya, bila jadi ketika pemuda itu keluar sendiri
dan Cin Yak-leng ditinggal di hotel, makanya tidak
dipergokinya. Mumpung masih ada waktu satu malam.
setiap hotel harus diselidiknya dengan baik.
Tapi kebanyakan jongos hotel adalah manusia yang
berjwa budak, terhadap orang atas dia munduk-munduk,
terhadap orang bawah dia tindas. Sudah belasan hotel
didatangi Peng-say, tapi tiada seorang jongos hotel yang
mau menggubrisnya, bahkan dia diusir,
Terpaksa ia hanya melongok saja dari luar hotel. Ketika
sampai di luar sebuah hotel yang terbesar di kota Pakkhia,
dilihatnya tetamu yang keluar masuk semuanya adalah
orang kalangan atas. Jongos hotel yang garang segera
mengusirnya pergi begitu melihat dia longak-longok di
pintu hotel seperti pencoleng mengincar koper, atau
sedikitnya menganggap pakaian Peng-say terlalu dekil, bila
dekat hotel bisa jadi akan membikin kotor tetamu mereka.
Padahal banyak uang perak yang dibawa Peng-say, dia
cukup mampu tinggal di hotel mewah ini. Tapi dia malas
bertengkar dengan jongos yang bejiwa anjing itu.
Coba anda perhatikan, jika melihat orang yang
berpakaian perlente, anjing lantas goyang2 ekor dan men-
jilat2. Tapi kalau ketemu orang jembel, tanpa alasan terus
menggonggong, bahkan akan menggigit. Itulah sifat anjing.
Selagi Peng-say hendak menyingkir, se-konyong2 sebuah
kereta kuda bercat emas dan berhias mentereng
menyerempet lewat disisanya sehingga bajunya yang sudah
compang-camping itu terobek sebagian, bahkan kulit
dagingnya juga melecet.
Keruan Peng-say marah, diam-diam ia memaki kusir
kereta itu buta, perlu didamperat.
Dilihatnya kereta warna emas itu tepat berhenti di depan
hotel, beberapa jongos lantas berlari mendekati penumpang
kereta, seketika tiada orang yang memperhatikan Soat
Peng-say, maka ia dapat mendekati pintu hotel.
Se-konyong2 Peng-say terkesima, hampir saja ia
berteriak: "Adik Leng!"
Ia kuatir salah lagi dan ditertawai kawanan jongos yang
suka menghina itu, maka tidak jadi berseru. Tapi semakin
dipandang semakin mirip, nona yang turun dari kereta kuda
itu bayangan punggungnya jelas serupa Cin Yak-leng, cuma
sayang tidak kelihatan mukanya dan nona itu lantas
melangkah masuk ke hotel.
Setelah kereta warna emas itu dihalau pergi seorang
jongos yang bertugas menyambut tamu segera melihat Soat
Peng-say berdiri di situ, dengan gusar ia membentak, "He,
pengemis busuk! Mau apa berdiri di situ? Mau mencuri ya?
Lekas enyah lekas!" Sambil mendamperat ia terus
mendekati Peng-say dan mendorongnya dengan kuat.
Tapi sedikitpun Peng-say tidak bergerak, ia tanya sambil
tertawa: "Sahabat, numpang tanya, apakah nona yang baru
masuk tadi adalah langganan hotel kalian?"
Karena sekali dorong tidak dapat membikin Soat Peng-
say sempoyongan, si jongos tidak berani meremehkannya
lagi. Maklum, jongos hotel juga banyak pengalaman,
terutama di kotaraja seperti Pakkhia ini tentu tidak sedikit
terdapat orang kosen, contohnya adaiah Soat Peng-say di
depannya ini. Jangan kira dandanannya kotor seperti kere,
nyatanya memiliki Lwekang yang kuat, didorong saja tetap
tegak seperti tonggak.
Orang kosen macam begini kalau tidak memukul orang
masih mendingan, sekali memukul orang. maka pasti jatuh
korban nyawa. Dengan sendirinya si jongos hotel menjadi
waswas, karena takutnya sehingga pertanyaan Peng-say tadi
tidak terdengar olehnya.
Peng-say malah menyangka jongos itu tidak mau
memberi keterangan, ia tahu orang begini perlu disogok.
cepat ia mengeluarkan sepotong perak satu tahil dan
dijejalkan ke tangan si jongos.
Dengan gugup jongos itu berkata: "Ah, mana hamba
berani menerima uang tuan besar, ada urusan apa silakan
anda tanya saja."
"Tidak apa2. terimalah," bujuk Peng-say dengan tertawa.
Melihat Peng-say bersikap ramah dan tertawa, jongos itu
menjadi berani, uang perak itu disimpannya, lalu berkata
dengan munduk2: "Silahkan Toaya duduk di dalam!"
"Tidak. aku cuma ingin tanya nona tadi "
"O, nona yang tadi itu, beliau. she Soat, sungguh baik
hati dia, sudah lebih sebulan dia tinggal di hotel kami, uang
tip yang dikeluarkannya setiap kali selalu satu tahil penuh,
sebaik hati anda sekarang ini," demikian jongos itu bertutur
dengan cengar-cengir.
Peng-say salah dengar, dia rada kecewa dan menegas:
"O, nona itu she Soat?"
"Soat, bukan Sat, Soat dari salju," cepat si jongos
menjelaskan.
"Ehm, kiranya sama leluhur denganku," Peng-say
manggut2. "Apakah dia tinggal bersama seorang lelaki
muda?"
Si jongos tidak lantas menjawab, tapi lebih dulu menjilat
pantat. katanya: "Ah, kiranya anda juga she Soat? Sungguh
she yang bagus. uang perak sama putih, salju juga putih,
putih lambangnya suci. kelak anda pasti akan bertambah
kaya raya lantaran she Soat."
Setelah mengusap ilernya yang berhamburan, jongos itu
menyambung lagi: "Nona itu masih perawan, manabisa
tinggal bersama lelaki muda? Selain dilayani seorang kusir,
beliau tinggal sendirian di hotel kami, biasanya jarang
keluar, hanya kalau malam tiba dia suka pesiar sekeliling,
lalu pulang kehotel."
Soat Peng-say tambah kecewa, ia menduga nona Soat
pasti bukan Cin Yak-leng, dengan kesal ia kembali ke
pondoknya.
Ia merasa bajunya sudah terlalu kumal dan juga bernoda
darah, terpaksa membeli baju baru. Tapi dia tetap tidak
suka cuci muka dan bersisir rambut, sampai luka lecet
keserempet kereta itupun tidak dihiraukannya, lalu rebah
dan tidur.
Besoknya ia keluar dengan baju baru, keadaannya
sekarang tidak lagi mirip pengemis cuma kudanya masih
tetap kurus, ia menuju keluar kota melanjutkan perjalanan
ke arah timur.
Orang di tengah jalan sama menyangka dia bandit,
maklum, bajunya baru, tapi rambutnya semrawut dan
bercambang tak teratur. Umumnya kaum bandit memang
tidak suka berdandan. Baiknya dia tidak membawa senjata,
kudanya juga kurus, kalau tidak, mungkin orang akan
ketakutan dan tidak berani mendekatinya.
Lambat sekali Peng-say menjalankan kudanya, tidak
banyak lebih cepat dari pada orang berjalan kaki. Karena
semalam terlalu banyak memikiri Cin Yak-leng, tidurnya
tidak nyenyak, diatas kudanya sekarang ia menjadi
mengantuk.
Selagi dia ter-angguk2 di atas kudanya. mendadak ia
jatuh terjungkal ke bawah, dengan gelagapan ia berbangkit
dan memandang kesana. kiranya dia disenggol lagi oleh
kereta berwarna emas kemarin.
Keruan ia sangat gusar, pikirnya: "Kurang ajar! Lecet
kemarin belum lagi sembuh, sekarang kau seruduk lagi
diriku hingga terjungkal. Dasar kusir brengsek, kalau tidak
diajar adat, tentu banyak korban lagi yang akan terjadi."
Segera ia mencemplak ke atas kudanya dan mengejar ke
depan.
Tapi kudanya itu dalam keadaan kelaparan dan tidak
kuat lari, betapapun dia menghalaunya tetap tidak mampu
menyusul kereta tadi, malahan jarak kedua pihak semakin
jauh, sampai akhirnya bayangan kereta saja tidak kelihatan
lagi.
Karena bertekad akan memberi hajaran kepada kusir
kereta, Peng-say tidak berhenti mengejar, diam2 iapun
mendongko! kepada kudanya yang sialan itu, kalau
menyusul kereta saja tidak dapat, apa gunanya kuda ini?
Karena gemasnya, ia tidak peduli kuda itu tahan atau tidak,
sekuatnya ia menghalau agar lebih kencang.
Thian memang tidak mengecewakan orang yang
berusaha dengan susah payah. Akhirnya ia dapat susul
kereta itu, dari kejauhan dilihatnya kereta itu berhenti di
tepi jalan, ia kuatir kereta itu berangkat lagi dan mungkin
akan sukar disusul pula, segera ia percepat lari kudanya.
Tak tahunya kudanya sudah kehabisan tenaga, beberapa
tombak sebelum sampai di tempat tujuan, kuda itu
keserimpet dan jatuh terjungkal dengan mulut membuih.
Cepat Peng say melejit bangun tapi mendadak dilihatnya
gelagat tidak baik, segera ia berlagak sempoyongan dan
jatuh terduduk. lalu merangkak bangun dengan meringis
sambil meraba pantatnya yang kesakitan.
Dilihatnya kereta berwarna emas itu dikelilingi belasan
orang, satu diantaranya yang bertubuh tegap dan beralis
tebal lantas mendekati Peng-say dan berkata: "Orang lalu
jangan ikut campur, lekas jalan!"
"Ya, ya!" cepat Peng-say menjawab.
Ia pura2 masih kesakitan karena jatuhnya tadi, jalannya
dibikin terincang-incuk dan sangat lambat. Waktu lewat di
samping kereta, sekilas lirik dilihatnya si kusir kereta
terpanah mati di tempat duduknya. tapi tiada terdengar
sesuatu di dalam kabin kereta.
Yang mengelilingi kereta itu terdiri macam2 jenis orang,
ada Hwesio, ada Tosu, ada tua ada muda, semuanya
tampak tangkas dan kuat. jelas jago silat yang lihay.cuma
tidak diketahui dari golongan mana.
Terdengar seorang tua bermuka putih lagi berkata:
"Budak she Soat, tidak perlu kau berlagak mampus, lekas
keluar, sudah cukup banyak perkaramu,"
Lalu seorang Hwesio gemuk menyambung dengan
bergelak tertawa: "Budak busuk, selama sebulan ngendon di
Pakkhia, tidak sedikit kan hasilmu?"
Seorang Tosu tua dan kurus menukas: "Asalkan semua
barangnya kau serahkan, tentu kami takkan menjebloskan
kau ke dalam penjara dan mamberi jalan hidup bagimu."
Meski ketiga orang itu sudah bicara sekian banyak, tapi
di dalam kereta tetap tiada reaksi apapun se-akan2 tiada
penumpangnya.
Peng-say berdiri dikejauhan, dilihatnya kabin kereta itu
tertutup oleh tirai yang indah, maka tidak jelas apakah di
dalam kereta ada orang atau tidak.
Dari ucapan ketiga orang tadi, jelas nona she Soat itu
adalah pencuri ulung yang telah banyak melakukan
kejahatan di Pakkhia. tapi perbuatannya diketahui orang2
ini, maka mereka mencegatnya di sini untuk membagi
rejeki.
Di antara belasan orang itu, kecuali ketiga orang yang
bicara tadi, rata2 berumur 30-an, bahkan ada beberapa
orang di antaranya cuma berusia 18-19 tahunan, mereka
terdiri dari empat lelaki kekar, tiga Hwesio dan lima Tosu.
Melihat orang2 itu berani mencegat kereta berwarna
emas itu di tengan jalan raya, Peng-say menyangka mereka
adalah jago pengawal keluarga yang kehilangan, mungkin
jeri kepada kelihayan maling perempuan itu, maka mereka
tidak berani menangkapnya, cukup asalkan barang
curiannya diminta kembali.
Tapi sampai sekian lama tetap tiada reaksi apapun di
dalam kereta. Si kakek bermuka putih menjadi tidak sabar,
bentaknya: "Budak busuk, kau dengar tidak perkataan
kami?!"
Ucapannya ini tetap seperti batu tenggelam kelaut,
sedikitpun tiada jawaban.
Dengan murka si kakek berteriak: "Lepaskan panah!"
Serentak keempat lelaki tegap mementang busur dan
melepaskan panah, hanya sekejap saja kabin kereta itu telah
penuh tertancap anak panah sehingga mirip landak raksasa.
Anehnya, di dalam kereta tetap tiada sesuatu reaksi apa2.
Selesai memanah, salah seorang lelaki itu berkata:
"Lotoa, mungkin di dalam kereta tiada penumpangnya."
Si kakek muka putih tidak berani memeriksa sendiri, tapi
ia memberi perintah: "Coba kalian ber-empat
memeriksanya."
Selagi keempat orang itu hendak mendekati kereta,
mendadak si Tosu buru2 membentak: "Nanti dulu!"
"Eng-lo (kakek Eng), maasa engkau kira budak itu masih
sembunyi di dalam keretanya?" tanya si kakek muka putih.
"Pagi tadi muridku menyaksikan dengan mata kepala
sendiri budak itu naik ke dalam kereta, kuyakin pasti tidak
salah." jawab si Tosu kurus.
"Anak panah yang dilepaskan keempat Long bersaudara
belum sampai menembus kereta ini, maka tiada salahnya
jika kita bertindak lebih hati2."
Si Hwesio gemuk menyelutuk dengan tertawa: "Memang
tidak salah pertimbangan Eng-lo ini, Selama sebulan budak
itu telah merajalela di seluruh kota Pakkhia dan tidak
pernah gagal, suatu tanda dia memang pintar dan cerdik,
maka kita barus menghadapinva dengan hati2, jangan
sampai kita terjungkal di sini."
"Bagaimana jika menurut kau, Hou-ya?" tanya si kakek.
Hwesio gemuk ter-bahak2. katanya: "Kukira karena kita
sama2 kawan satu garis, meski dia belum bergabung dengan
kita. mengingat jerih payahnya selama sebulan, cukup
asalkan dia membagi separo saja bagi kita."
"Nah, budak liar, Hwesio, Tosu dan Preman kami hanya
minta separo bagian saja, kau setuju tidak?" bentak si Tosu
kurus.
Baru sekarang Soat Peng-say tahu duduknya perkara,
kiranya orang2 ini juga bandit, mereka sengaja menghadang
di tengah jalan dengan cara bandit makan garong,
Ia masih ingat cerita Tio Tay-peng bahwa di kalangan
hitam terdapat tiga orang bandit yang biasa berdandan
sebagai Hwesio, Tosu dan orang preman. Karena ilmu silat
mereka tidak terhitung kelas satu, maka cerita itu tidak
terlalu menarik baginya. Kini ia jadi ingat lagi bahwa
mereka itu juga disebut sebagai Hou, Eng dan Long atau
Harimau, Rajawali dan Serigala.
Hou Ceng (Hwesio harimau), Eng to (Tosu rajawali) dan
Pek-bin-long (serigala muka putih) tidak bercokol disuatu
gunung sebagai pangkalan, tapi adalah bandit yang
beroperasi serba bebas, anak buah mereka tidak banyak,
Hou-ceng cuma membawa tiga murid, Eng-to lima murid,
Pek-bin-liong tidak punya murid, tapi membawa empat
saudaranya sebagai pembantu.
Begitulah si kakek muka putih, Pek-bin-long, seperti
manghapalkan harta tabungannya, sedang berkata: "Budak
she Soat, selama sebulan kau telah mencuri sepasang Ya-
beng cu (mutiara bercahaya di waktu malam) dirumah Thio
houya, delapan ekor Giok-be (kuda kemala) di rumah Li-
houya, serenteng mutiara mestika di kediaman Ui-houya,
sepasang kupu2 kemala hijau dan dua biji batu merah di
rumah Go-ongya serta menggerayangi satu biji semangka
jamrud dan sepotong bunga karang mestika di rumah Ho-
ongya."
Diam2 Soat Peng-say menjulur lidah demi mendengar
benda2 berharga itu. Setiap macam benda itu sukar dinilai
harganya, kalau digabung, jangan ditanya lagi. Mungkin
saudagar mas-intan paling kaya juga tidak sanggup
membelinya.
Ia tidak tahu ketujuh macam barang itu adalah benda
mestika yang paling terkenal di Pakkhia, terkecuali benda
mestika simpanan raja. Sudah lama ketiga gembong bandit
itu mengincarnya, cuma penjagaan si pemilik terlalu ketat,
maka sebegitu jauh mereka tidak mampu turun tangan.
Namun mereka tidak putus asa, mereka memasang
mata2 pada setiap keluarga itu. asalkan penjagaan si
pemilik sedikit kendur, segera mereka diberitahu dan
berusaha mencurinya. Tapi sayang, kesempatan bagus itu
selama ini belum terbuka, sia2 mereka menunggu sekian
tahun.
Tapi dalam bulan ini agen2 yang mereka tanam di
tempat2 pemilik benda pusaka itu telah memperlihatkan
manfaatnya, meski bukan pemberitahuan peluang untuk
mencuri, tapi pada saat yang tepat mereka diberitahu
tentang hilangnya benda2 pusaka itu, dengan demikian
mereka sempat mencegat malingnya dengan cara hitam
makan hitam. Maka ketiga gembong bandit dengan anak
buahnya lantas merembet masuk Pakkhia untuk
menyelidiki pencuri itu. Mereka tidak mampu mencuri
sendiri, tapi untuk mencari tahu siapa pencurinya tentu
tidak sulit bagi mereka. Akhirnya diketahui pelakunya
adalah seorang nano she Soat yang tinggal di sebuah hotel.
Mereka pikir menghadapi seorang nona muda belia
tentulah tidak sukar, mereka mengambil keputusan akan
"hitam makan hitam", maka begitu maling perempuan itu
menguras ketujuh benda mestika terkenal di kotaraja ini
dan membawanya kabur, mereka lantas mencegatnya di
tengah jalan untuk merampasnya.
Sesungguhnya merekapun terlalu gegabah, mereka
menyangka dalam waktu singkat saja dapat membereskan
maling perempuan itu, maka secara terang2an mereka
mencegatnya di tengah jalan raya.
Tak tahunya lawan sama sekali tidak memberi reaksj,
bahkan bersembunyi didalam kereta dan tidak mau keluar.
Padahal orang yang berlalu lalang tambah banyak,
perbuatan mereka itu tentu saja sangat menarik perhatian
khalayak ramai. Mereka menjadi gelisah, apalagi mengingat
maling perempuan hanya sendirian mampu memcuri
ketujuh benda pusaka, ilmu silatnya tentu juga tidak rendah
maka mereka mulai mundur teratur dan cuma minta bagi
rejeki separo bagian saja.
Meski orang yang berlalu lalang cukup ramai, tapi tiada
seorangpun yang berani meniru Soat Peng-say dan berhenti
menonton di situ, mereka kebanyakan adalah kaum
saudagar yang alim, melihat kereta itu penuh anak panah
dan dikerumuni orang2 yang berwajah jahat serta
bersenjata, jelas sedang terjadi pembegalan. Maka banyak di
antara saudagar itu segera putar balik agar tidak ikut
terkena getahnya.
Hanya Soat Peng-say saja yang masih berdiri menonton
disamping, tapi ketiga gembong bandit itupun tidak
memperhatikan, mereka menyaksikan Peng-say terbanting
jatuh dari kudanya, andaikan mahir ilmu silat juga sangat
terbatas, maka tidak perlu dihiraukan. Cuma cara kerja
mereka harus cepat mengingat perbuatan mereka sudah
dilihat orang, bila orang yang putar balik ke kota itu
memberi laporan kepada yang berwajib, tidak lama lagi
pasukan pemerintah mungkin akan datang, maka dalam
waktu setengah jam ini mereka harus dapat membereskan
pembagian rejeki ini.
Si Hwesio gemuk tadi lantas berseru pula dengan
tertawa: "Nona Soat, baiklah aku hanya minta serenteng
mutiara saja. Eng-lo dan Long-heng, apa yang kalian
inginkan, lekas katakan padanya, setelah bagi rata segera
kita angkat kaki."
"Bagiku cukup sepasang Ya-beng-cu itu," kata si Tosu
kurus.
Pek-bin-long juga berseru: "Dan aku minta kedelapan
ekor kuda kemala saja."
"Nah, nona Soat, permintaan kami ini tentunya cukup
ringan bagimu," seru si Hwesio, "benda pusaka milik
keluarga Ongya (pengeran) itu boleh menjadi bagianmu
sendiri."
Tapi setelah ditunggu sekian lama, tetap tiada jawaban.
Pek-bin-long menjadi murka, teriaknya: "Budak she Soat.
janganlah kau terlalu kepala batu Jika tidak lekas jawab,
terpaksa kita gunakan kekerasan!"
Si Hwesio juga hilang sabar. ucapnya: "Eng-lo, suruh
kelima muridmu memberi tanda peringatan kepadanya."
Sekali si Tosu rajawali memberi perintah, serentak
kelima Tosu muda melolos senjata masing2, yaitu sepasang
Boan koat pit dan segera disambitkan ke depan seperti
lemparan lembing.
"Crat cret" hampir pada waktu yang sama sepuluh buah
Boan-koan-pit menembus kabin kereta kuda itu, ujung Boan
koan-pit tampak menonjol keluar di sisi sana. Apabila di
dalam kereta ada penumpangnya, biarpun berbaring juga
akan tertembus tubuhnya oleh kesepuluh Boan-boat-pit itu.
Akan tetapi ujung Boan-koan-pit tidak kelihatan ada
bekas darah, jelas penumpang di dalam kereta tidak terkena
serangan.
Hwesio harimau lantas memberi tanda, tiga HwesiO
muda tanpa bersuara sama angkat tongkat mereka yang
ujungnya lebar tajam seperti kampak, berbareng mereka
sundukkan ketiga tongkat kedalam kereta, ujung tongkat
juga menembus kesana, tapi aneh, tetap tidak berdarah.
Kini kabin kereta itu sudah dipenuhi anak panah, Boan-
koan-pit dan tongkat Hwesio, seekor kelinci saja sukar
sembunyi di situ, jangankan manusia.
Maka berkatalah Hwesio harimau dengan masgul: "Kita
tertipu, kereta ini kosongl"
"Coba digeledah lagi, budak itu tidak menumpang kereta
ini, tapi benda pusaka curiannya mungkin disembunyikan
di dalam kereta," kata Pek-bin-long.
"Baiklah, kita memeriksanya bersama!" ajak Hwesio
harimau. Dia kuatir ada perangkap didalam kereta, kalau
maju bersama akan lebih aman.
Begitulah lima belas orang lantas mendekati kereta itu
dengan pelahan. Sudah begitu mereka tetap kebat-kebit dan
takut, jelas karena kepandaian maling perempuan itulah
yang membuat jeri mereka.
Seorang lelaki pemberani mendahului mendekati pintu
kabin kereta, tirai jendela ditariknya hingga terlepas. Lalu ia
melongok ke dalam dan berseru: "Bayangan setan saja tidak
ada di dalam!"
Karena itu, orang2 itu menjadi mantap, berbareng
mereka berjalan maju dan membuka pintu kereta, semua
tirai kereta juga ditarik sehingga bagian dalam kereta
terkena sinar terang, jelas, kereta ini memang tanpa
penumpang.
Jadi satengah harian mereka cuma ribut sendirian,
sungguh konyol. Dengan mendongkol Pek-bin-long
memaki: "Budak busuk, budak sialan!"
Dengan menyengir Hwesio harimau lantas memberi
perintah: "Cabut semua senjata kita. lalu digeledah lagi
lebih teliti."
Hanya sekejap saja semua senjata yang menancap
dikabin kereta itu sudah dibersihkan, kereta yang tadinya
bercat emas indah itu kini menjadi ber-lubang2 seperti
sarang tawon.
"Di bawab jok, dinding samping dan belakang,
semuanya dipereteli dan diperiksa, coba adakah
tersembunyi sesuatu benda mestika, cepat, waktunya sudah
hampir habis!" seru Pek-bin-long.
Be-ramai2 belasan orang itu lantas melompat keatas
kereta, ada yang memukuli dinding kabin dan
membongkarnja, ada yang menyingkap jok tempat duduk,
cuma Hwesio harimau bertiga juga menduga kemungkinan
ditemukannya benda mestika itu sangat tipis. Bisa jadi
sebelumnya maling perempuan itu sudah mengendus
gelagat tidak enak, maka kabur kearah lain dengan
membawa hasil curiannya itu.
Sejak tadi Peng-say berdiri menonton di samping.
tujuannya yang utama ialah ingin melihat bagaimana wajah
nona Soat itu. sekarang nona itu ternyata tidak berada di
dalam kereta, segera ia membalik tubuh dan melanjutkan
perjalanan, diam2 ia menyesal telah kehilangan kudanya
hanya karena mengejar kereta ini tanpa mendatangkan hasil
apapun.
Tapi baru saja ia melangkah, se-konyong2 terdengar
suara jepretan ber-ulang2, menyusul lantas terdengar suara
jeritan ngeri. Ia terkejut dan cepat menoleh, dilihatnya nona
Soat yang bayangan punggungnya mirip Cin Yak-leng itu
mendadak muncul disamping kereta.
Sekaligus nona itu telah memanah mati ke-12 orang yang
sedang mengobrak-abrik kabin kereta itu, waktu Peng-say
berpaling, nona itu telah membalik tubuh lagi kesana dan
sedang mengangkat sebuah alat bidikan yang kecil, tiga
anak panah kecil warna hitam terus dibidikkan ke arah
Hwesio bertiga yang asyik mengobrol itu.
Waktu ketiga gembong bandit itu mendengar jerit ngeri
anak murid mereka, dengan segera mereka tahu ada sesuatu
telah terjadi. Mereka tambah terkejut ketika melihat si
maling perempuan yang sukar dicari jejaknya itu tahu2
muncul di samping kereta. Mereka sempat menghindari
ketiga panah kecil warna hitam pertama, tapi tiga panah
lain seeera menyambar tiba pula.
Cara membidik panah maling perempuan itu cepat luar
biasa, ketika untuk keempat kalinya ia membidik lagi tiga
panah, Hwesio bertiga tidak sanggup menghindar pula,
untung tidak mengenai ulu hati mereka melainkan cuma
menancap di bagian lengan. Dalam keadaan begitu, jika si
maling perempuan menyusuli tiga panah lain, jelas pasti
akan mengenai ulu hati mereka dengan telak, tapi hal ini
tidak dilakukannya, agaknya ia sudah puas setelah
panahnya berhasil mengenai lengan mereka.
Kalau lengan cuma terkena sebuah panah sekecil itu,
bagi orang? kuat macam Hwesio gemuk itu tentu saja tidak
manjadi soal. Mereka melihat ke-12 muridnya sudah binasa
seluruhnya di dalam kereta, mereka menjadi gusar dan
membentak: "Budak busuk, kalau punya kepandaian lain,
janganlah melepaskan panah!"
Maling perempuan itu tertawa, jawabnya: "Baik panah
tidak kugunakan." — lalu ia benar2 menyimpan kembali
alat bidikan itu ke kantong kulit yang tergantung di
pinggangnya.
Serentak Hwesio bertiga melolos senjata dan
membentak: "Terjang!"
Si maling perempuan tenang2 saja, ia menggeleng kepala
dan berkata: "Tiga lelaki besar mengeroyok seorang nona
cilik tidak tahu malu!"
Tapi ketiga gembong bandit itu tidak menghiraukan
olok2 itu, mereka melompat maju terus membacok,
menabas dan menutuk.
Maling perempuan itu tidak menggunakan senjata, ia
cuma berkelit dan menyelinap kian kemari di tengah
sambaran senjata ketiga lawan.
Belum lagi beberapa jurus, "trang", tanpa sebab golok
Pek-bin-long terjatuh sendiri ketanah, menyusul terdengar
ia menjerit ngeri: "Wah, tanganku!"
Baru lenyap suaranya, kembali terdengar gemerantang
lagi dua kali, senjata Hwesio harimau dan Tosu rajawali
juga terjatuh, merekapun menjerit: "Aduh tanganku!"
Peng-say menjadi heran, sama sekali mereka tidak
diserang si maling perempuan, memangnya kenapa tangan
mereka? Waktu ia memperhatikan, dilihatnya tangan kanan
ketiga orang itu sama berwarna hitam pekat.
Baru sekarang Peng-say terkejut, diam2 ia membatin:
"Jahat amat panah kecil beracun itu."
Rupanya Hwesio bertiga tadi menyepelekan panah kecil
yang melukai lengan mereka itu, mereka terus melabrak
lawan tanpa mencabut panah kecil itu, sebab bila panah
dicabut, tentu dari lukanya akan mengalirkan darah, hal ini
akan mengurangi tenaga mereka. Demi mengerubuti maling
perempuan itu dan merampas benda pusaka curiannya,
mereka tidak menyadari racun panah telah menjalar, tangan
mereka berubah menjadi hitam dan terasa kaku, mereka
baru menyadari hal ini setelah senjata terlepas dari cekalan.
Cepat mereka merobek lengan baju kanan, tertampak
warna hitam dilengan sudah merembet sampai di atas siku,
bilamana warna hitam itu merambat sampai dada, maka
tamatlah riwayat mereka.
Tegas tindakan Pek-bin-long, tanpa ragu2 ia jemput
golok sendiri dengan tangan kiri, sekali tabas segera ia
kutungi lengan kanan sendiri sebatas bahu.
Hwesio harimau juga tidak berani ayal, cepat ia jemput
kembali tongkatnya yang berujung seperti kampak itu,
sekali bacok iapun membuntungi lengan kanan sendiri.
Wajahnya yang selalu tertawa2 itu kini lebih tepat
dikatakan menangis.
Senjata Tosu rajawali adalah Boan-koan-pit. dengan
sendirinya tidak dapat digunakan menabas lengan sendiri
yang keracunan itu, dengan gugup ia berseru: "Long-heng,
tolong, lekas, lekas!"
Segera Pek-bin-long ayun goloknya pula, tapi lantaran
racun sudah merambat maju lagi. terpaksa lengan Tosu
yang ditabasnya tepat di batas pundak. Keruan sakitnya
berlipat ganda, Tosu itu menjerit dan hampir saja jatuh
kelengar.
Menyaksikan ketiga lawan membuntungi tangan sendiri
dan darah berhamburan, namun si maling perempuan itu
tidak mengambil pusing, ia malah tertawa nyaring dan
berkata: "Tidak lekas enyah, apakah minta paha kalian juga
kupanah?!" Sambil bicara iapun berlagak hendak
mengambil alat bidiknya lagi,
Keruan ketiga gembong bandit itu ketakutan, lukapun
tidak sempat dibalut, cepat mereka lari ter-birit2.
Maling perempuan itu tertawa ter-kekeh2, tampaknya
sangat gembira. Setelah puas tertawa, pe-lahan2 ia
membalik tubuh.
Baru pertama kali ini Soat Peng-say berhadapan muka
dengan muka orang, dilihatnya wajah nona Soat ini
potongan daun sirih, matanya besar dan memperlihatkan
sifat2 yang jahil dan penuh misteri, tapi tampaknya juga
sangat menyenangkan.
Bayangan punggung serta perawakannya sangat mirip
Cin Yak-leng, tapi mukanya sedikitpun tidak sama. Meski
nona Soat ini boleh dikatakan lebih cantik daripada Cin
Yak-leng, tapi Peng-say justeru merasa sangat kecewa.
Betapa dia berharap wajah nona Soat ini akan mirip Cin
Yak-leng, paling baik kalau nona ini memang Cin Yak-leng
adanya. Akan tetapi ternyata bukan. Terpaksa ia cuma
menghela napas dan melangkah pergi sambil menggeleng.
"Hai, kemari kau!" mendadak maling perempuan itu
berseru.
Peng-say hanya menoleh dan bertanya: "Apakah nona
memanggil diriku?"
"Semua orang sudah lari ketakutan, yang tertinggal cuma
kau sendiri, siapa lagi kalau bukan memanggil kau?" kata
maling perempuan itu.
Peng-say sengaja berkerut kening dengan lagak ogah2an.
jawabnya: "Ada urusan apa nona memanggilku?"
"Tidak perlu kau menggeleng, menghela napas dan tidak
suka," kata maling jelita itu. "Yang kubunuh adalah orang
jahat demi kesejahteraan umum, seharusnya kau bersyukur
dan ikut bergembira. Mari sini, tampaknya nyalimu cukup
besar, bantulah menggotong dan membuang mayat2
didalam keretaku ini"
"Nona yang membunuh mereka, silakan nona
menggotong sendiri, aku tidak mau."jawab Peng-say.
"Aku sendiri tidak kuat, tolonglah bantu," pinta si maling
cantik.
Sudah tentu Peng-say tidak percaya, tapi gerak-geriknya
mengingatkan dia kepada Cin Yak-leng, setelah menghela
napas, ia menjawab: "Baiklah, akan kubantu kau!"
Dengan lambat2 Peng-say merangkak keatas kereta, ia
pura2 tidak bertenaga dan menggotong mayat2 itu kebawah
kereta dengan susah payah.
Dilihatnya ke-12 sosok mayat itu semuanya mati karena
ulu hati terpanah, diam2 ia sangat kagum kepada kejituan
panah si nona.
Sampai lama baru ke-12 mayat itu diturunkan, nona itu
lantas mengeluarkan sepotong perak dan diberikan kepada
Peng-say, katanya; "Tampaknya kau sangat kasihan, tentu
sudah beberapa hari kau tidak makan. Ini, ambil uang perak
ini dan makanlah yang kenyang."
Tanpa sungkan Peng-say terima pemberian itu tapi
dengan ketus ia menjawab: "Ini adalah upah jerih payahku
menggotong mayat, jangan kau omong seperti orang yang
memberi sedekah,"
"Eh, dapatkah kau mengemudikan kereta?" tiba2 si nona
bertanya dengan tertawa.
"Apakah nona ingin mengundangku menjadi kusir?"
tanya Peng-say.
"Kusirku telah terpanah mati oleh mereka, jika kau mau,
akan kuberi upah satu tahil perak setiap hari," kata si nona
dengan tertawa.
"Wah, royal benar nona ini, masa upah kusir satu tahil
satu hari?" ucap Peng-say dengan mulut ber-kecek2. "Akan
tetapi bagiku masih kurang banyak."
"Kurang banyak?" nona itu menegas dengan terbelalak.
"Kau tahu, kusir umumnya jangankan satu hari satu tahil,
biarpun tiga hari juga sukar mendapatkan untung satu tahil,
malahan mereka harus membawa kereta dan kuda sendiri."
"Tapi kusir dan kusir kan berbeda," ujar Peng-say.
"Menjadi kusir nona harus jual nyawa pula, dengan
sendirinya satu tahil terlalu sedikit bagiku. Jika nona mau,
lima tahil satu hari, tidak mau, batal!"
Nona itu tampak mendongkol, omelnya: "Gila kau!"
"Tidak mau ya sudahlah, selamat tinggal!" seru Peng-jay
terus hendak melangkah pergi.
Pada saat itu juga mendadak dari arah kota sana debu
mengepul tinggi. Si nona berseru kuatir: "Wah, celaka!
Pasukan pemerintah dan para jago pengawal memburu
tiba!"
Tapi Peng say pura2 tidak mendengar, bahkan ia
melangkah terlebih cepat.
Cepat si nona berteriak; "He, hei, kembali! Baiklah, lima
tahil, jadi!"
Tak terduga, Peng-say lantas menggeleng, jawabnya:
"Tidak, sekarang tarip sudah naik, sepuluh tahil satu hari."
Si nona menjadi gusar, omelnya: "Sialan, jangan main
peras!"
"Ai, ucapan nona ini tidak enak didengar," kata Peng-say
sambil menggeleng. "Untuk menyelamatkan diri. masa
sepuluh tahil satu hari tidak kau bayar?"
Karena pengejar sudah makin dekat, terpaksa si nona
berseru dengan gemas: "Baiklah, sepuluh tahil!"
Tanpa bicara lagi Peng-say lantas melompat ketempat
kusir, tapi sampai sekian lamanya dia berkutak-kutek kereta
itu belum lagi bergerak.
Keruan si nona sangat mendongkol dan gelisah, ia ber-
teriak2 di dalam kereta sambil memukul kabin: "He, ada
apa, lekas larikan kudanya!"
"Tidak mau jalan!" jawab Peng-say.
Dengan gusar si nona mendamperat: "Sialan!
Hakikatnya kau tidak dapat mengendarai kereta."
"Aku memang tidak bisa " kata Peng-sny tanpa malu2
sedikitpun.
"Kalau tidak bisa, kenapa kau terima pekerjaan ini?"
omel si nona.
"Kan nona cuma tanya padaku apakah mau menjadi
kusir, karena kau memberi upah yang lumayan, aku lantas
coba2 pekerjaan ini."
Melihat pengejar semakin dekat, sedikitnya berjumlah
ratusan orang, wajah pengejarpun kelihatan jelas, si nona
menjadi kuatir, segera ia berbangkit dan bermaksud
meninggalkan kereta dan lari.
Tak terduga, se-konyong2 ia tergentak jatuh terduduk
lagi, sebab mendadak kereta itu bergerak ditarik keempat
ekor kuda, lantaran tidak ter-sangka2, nona itu terbanting
dengan cukup keras.
Kiranya Soat Peng-say rmemang tidak mahir menjadi
kusir, di mana letak rem kereta saja tidak tahu.
Kusir yang tadi ketika dicegat penjahat, terpaksa ia
mengerem keretanya dan berhenti, setelah kusir mati
terpanah dan Peng-say menggantikannya, karena tidak tahu
rem kereta harus dibuka lebih dulu, dengan sendirinya
kereta tidak mau jalan. Untung pada detik terakhir secara
kebetulan pegangan rem kena dirabanya, sekali kereta dapat
bergerak, keempat ekor kuda yang sudah dihalau sejak tadi
segera membedal secepat terbang. Sebab itulah nona Soat
yang berada di dalam kereta jadi terbanting jatuh.
Untung dia tidak terlempar keluar kereta, ia cuma
meringis sambil meraba pantatnya yang kesakitan. Karena
dia berharap Soat Peng-say akan melarikan kereta itu
secepatnya, maka dia tidak mengomel kejadian itu, ia
anggap dirinya yang sial ketemu 'orang gila".
Cara Peng-say mengemudikan keretanya juga tidak
memenuhi syarat, bilamana dia minta rebewes ditanggung
dia akan diapkir.
Cepatnya sih memang cepat lari keretanya. tapi kereta itu
sebentar meliuk ke kanan dan sebentar lagi berkeluk ke sisi
kiri, larinya tidak pernah lurus, kalau dipandang dari
belakang, orang pasti mengira kusirnya lagi mabuk atau
kudanya yang gila.
Nona Soat di dalam kereta hanya geleng2 kepala belaka,
ia pikir kalau begini caranva Peng-say mengemudikan
kereta, sebentar lagi pasti akan tersusul oleh pasukan
pengejar itu.
Benar juga, pasukan pengejar sudah semakin dekat,
suara bentakan sudah terdengar dengan jelas.
Namun begitu, Soat Peng-say juga pantang menyerah,
dia masih terus menghalau kuda agar berlari terlebih
kencang, akan tetapi makin kencang makin tak keruan jalan
keretanya, untung tidak terperosot ke sawah di tepi jalan.
kalau tidak, mustahil kereta itu tidak akan terbalik dan
penumpangnya tidak terjungkir.
Akhirnya tersusul juga oleh pasukan pengejar, tapi ketika
disuruh berhenti, Soat Peng-say justeru tidak mau berhenti.
Bukannya dia nekat, soalnya dia tidak sanggup
menghentikannya.
Dua orang jago pengawal yang cekatan segera membedal
kudanya hingga sejajar dengan kuda penarik kereta, mereka
terus melompat ke atas kedua kuda paling depan, dengan
demikian dapatlah kereta itu dihentikan,
Serentak ratusan penunggang kuda itu mengelilingi
kereta berwarna emas itu, para penunggang kuda itu
kebanyakan adalah jago pengawal istana pangeran dan
orang berpangkat di kotaraja, sebagian lagi adalah kaum
opas.
Seorang kepala opas lantas mengangkat sepotong gada
besi dan membentak dengan bengis: "He, orang itu? Kenapa
kau kabur?"
"Kabur? Ti. . .tidak?. . ." jawab Peng-say dengan
gelagapan.
Kaum opas sudah biasa main bentak dan main pukul
terhadap rakyat kecil, melihat kusir ke-tolol2an ini, segera ia
membentak pula: "Berani kau menyangkal?!" Berbareng
gada besinya terus menghantam dada Soat Peng-say
Mendadak Peng-say berteriak terus terjungkal ke bawah
kereta, lagaknya seperti duduknya tidak betul dan terpeleset
kebawah. Padahal dia sengaja berlagak gugup dan
ketakutan, tapi dengan tepat mengelakkan pukulan gada
besi.
Kepala opas itu tidak tahu akal bulus Soat Peng-say itu,
disangkanya anak muda itu memang takut padanya. ia
tambah galak, makinya dengan tertawa: "Setan alas!
Dimana malingnya?"
"Maling apa?" jawab Peng-say. "Aneh, masa polisi tanya
si kusir, kan lucu?"
Semula kepala opas itu melengak, lalu menjadi gusar,
bentaknya: "Kurangajar!" Segera ia ayun gadanya hendak
menyerang lagi.
Tapi seorang kakek botak bermuka merah cepat
memanggilnya: "Ong-thauji!"
Tampaknya kepala opas she Ong itu tidak berani
semberono terhadap si kakek botak, cepat ia menarik
kembali serangannya dan bertanya: "Ya, ada apa, Tan-
losu?"
Kakek botak she Tan itu adalah kepala penjaga istana
salah seorang pangeran yang kehilangan benda pusaka,
tokoh pilihan dari Tiam-jong-pay. Lwekang dan
Gwakangnya tergolong kelas tinggi. lebih2 ilmu pedangnya,
jarang ketemu tandingan. Kepandaiannya terhitung paling
tinggi di antara semua jago pengawal istana pangeran yang
kehilangan barang itu.
Begitulah kakek botak itu lantas menjawab: "Biarkan
kutanyai dia dulu."
"Silakan Tan-losu tanya saja," jawab Ong thauji dengan
hormat.
Melihat pintu kereta bercat emas itu tertutup rapat, si
kakek botak tersenyum, tanyanya kemudian: "Eh, saudara
ini, mohon tanya siapakah penumpang keretamu ini?"
Peng-say menjawabnya dengan tersenyum: "Harap kakek
maklum, kereta hamba ini tanpa penumpang."
Meski tirai pintu dan jendela kereta itu telah ditarik
terlepas oleh kawanan Hwesio dan Tosu tadi, tapi daun
pintu dan jendela yang terbuat dari kayu itu masih baik2,
sekarang telah ditutup rapat2 dari dalam oleh si nona Soat.
Tampaknya kakek botak she Tan itu tidak percaya, ia
berkerut kening dan berkata pula: "Apa betul tidak ada
penumpangnya?"
Dengan tetap tersenyum Peng-say menjawab: "Betul, jika
kakek tidak percaya, silakan engkau memeriksanya."
Kakek botak itu memandang sekejap ke arah kereta, lalu
berkata: "Periksa sih tidak perlu. kupercaya adik cilik ini
bukan orang yang suka bohong."
Si kepala opas she Ong tadi tidak sependapat dengan si
kakek botak, diam2 ia membatin: "Si tua she Tan ini tinggi
ilmu silatnya, tapi tidak pernah mengusut perkara, masa
oceban seorang kusir boleh dipercaya begitu saja."
Dia bermaksud menggeledah kereta, tapi juga tidak
berani bertentangan dengan kehendak si kakek botak.
Peng-say lantas memberi hormat dan berkata pula: "Jika
tidak ada urusan lain, hamba mohon diri untuk
melanjutkan perjalanan."
"Nanti dulu, ingin kutanyakan sesuatu lagi," kata si
kakek botak. "Di tengah jalan tadi terdapat belasan sosok
mayat, siapa yang membunuhnya, tentu kau tahu bukan?"
Soat Peng-say mengangguk, jawabnya: "Ai, tadi hamba
hampir saja mati ketakutan, waktu rombongan kakek
menyusul kemari, hamba menyangka datang lagi kaum
bandit, maka lari sekuatnya. Karena gemetar ketakutan.
hamba menjadi bingung dan tak dapat melarikan kereta ini
dengan baik, kukira kakek dan tuan2 yang lain sudah
melihatnya dengan jelas."
Salah seorang jago pengawal lain berwatak keras, segera
ia membentak: "Tidak perlu kau mengoceh, lekas katakan,
belasan mayat di tengah jalan sana apakah dibunuh oleh
seorang maling perempuan?!"
Orang ini berasal dari sebuah perusahaan peternakan
besar she Liong di Kwan-gwa, diluar tembok besar.
Keluarga Liong terkenal dengan permainan cambuknya.
Orang ini sejak kecil bekerja sebagai gembala di peternakan
keluarga Liong itu, karena kerjanya giat, orangnya jujur,
maka oleh pemilik peternakan, yaitu Liong Hi-cong, dia
diterima sebagai murid. Ia tamat belajar pada usia 30,
karena tidak mau bakatnya terpendam di daerah
perbatasan, dia masuk kedaerah Tionggoan untuk mencari
Cukong yang baik agar mendapat kemajuan.
Hampir sepuluh tahun dia berkecimpung di dunia
Kanguow, namanya memang sudah mulai membubung,
bila orang menyebut Li Yu-seng dari Kwan-gwa, semuanya
tahu permainan cambuknya memang cukup lihay. Cuma
sayang, Hokkhinya kurang, sejauh itu belum ketemu
cukong yang cocok, ia hidup luntang-lantung. hampir saja
cambuk perak pemberian sang guru dijual untuk biaya
hidup.
Syukurlah permulaan tahun yang lalu dia mendapat
pekerjaan dirumah Ho-houya, keluarga Ho yang berpangkat
raja muda ini memang kaya raya, dia diangkat menjadi
kepala penjaga rumah. Itupun atas ikhtiar sang guru, kalau
tidak mungkin sampai detik ini dia masih menganggur.
Rupanya iapun puas dengan pekerjaannya itu, ia bekerja
dengan giat dan hati2, ia pikir periuk nasi ini harus
dipertahankan dan jangan sampai berantakan.
= Cara bagaimana Soat Peng-say akan mengocok
lawannya dengan caranya yang kocak ?
= Siapakah nona she Soat yang menjadi pencuri ini ?
— == Bacalah jilid selanjutnya 8 == —
-ooo0dw0ooo-

Jilid 8
Tak tersangka belum setahun dia bekerja sudah tertimpa
musibah, benda pusaka sang majikan, yaitu delapan ekor
kuda kemala, telah hilang dicuri orang.
Houya, sang majikan itu bermaksud melapor kepada
yang berwajib, tapi bila hal ini dilaporkan akan berarti
tamat pula karir Li Yu-seng, bukan saja periuk nasinya
berantakan, selanjutnya juga jangan berharap akan
mendapat pekerjaan lagi, bila tersiar ke dunia persilatan
nama Li Yu-seng pasti juga tercemar.
Mau-tak-mau ia tepuk dada dan menjamin benda pusaka
yang bilang itu pasti akan ditemukan kembali sehingga sang
majikan batal lapor perkara ini kepada yang berwajib. Tapi
majikan juga memberi batas waktu, dalam satu bulan
barang yang hilang harus kembali.
Keruan selama beberapa hari akhir2 ini kaki Li Yu-seng
hampir patah lari kesana dan balik kesini, tapi bayangan
Giok-be atau kuda kemala tetap tak terlihat. Sementara itu
batas waktu sebulan sudah hampir berakhir, tentu saja ia
tambah kelabakan sehingga seperti semut di dalam wajan
yang panas.
Suatu hari dia minum arak di satu restoran untuk
menghilangkan rasa kesalnya, kebetulan dia bertemu
dengan si kakek botak yang bernama Tan Goan-hay, karena
sama-sama bekerja di keluarga bangsawan, keduanya sudah
kenal. Dalam pasang omong mereka baru diketahui mereka
senasib setanggungan. Rupanya majikan Tan Goan-hay
juga kehilangan benda pusaka.
Ketika mereka berdua mengadakan kontak pula dengan
kawan lain, diketahui pula bahwa kedua keluarga raja
muda lain juga kemalingan, kedua kepala penjaga rumah
tangga itu masing2 bernama Ho Kong-lim dan Tan Yam-
bok, yang satu ahli golok Toan-bun-to dari Kwitang dan
yang lain jago Ang-kun dari Hopak.
Kedua orang itupun serupa Tan dan Li berdua, demi
menjaga gengsi, mereka minta kepada majikan masing2
agar jangan lapor kepada pihak yang berwajib, mereka
menjamin dalam waktu singkat barang yang hilang pasti
dapat ditemukan.
Akan tetapi keempat jago pengawal itu sudah bergabung
dan telah melakukan penyelidikan bersama dan sampai
sekarang belum lagi menemukan seuatu tanda2 yang
memberi harapan.
Mereka menjadi heran juga bahwa di antara tujuh
macam benda pusaka yang terkenal di kota raja ini, masih
ada dua macam lain milik keluarga pangeran yang lain
belum terdengar ikut tercuri. Jangan2 jago pengawal di
istana pangeran itupun serupa mereka, menjaga gengsi dan
sengaja tidak melaporkan kecurian itu.
Keempat orang itu lantas mengunjungi Hoa ih-congkoan
atau kepala penjaga istana dan menjelaskan benda pusaka
majikan mereka telah hilang dicuri orang, maka minta
bantuan agar Hoa-ih-cong-koan istana pangeran itu mau
bergabung dengan mereka untuk menyelidiki bersama
peristiwa itu.
Tak tersangka Hoa-ih congkoan itu justeru menyatakan
benda pusaka milik majikannya masih tersimpan dengan
baik dan tidak pernah hilang. Agar keempat rekannya itu
mau percaya, dia sengaja memperlihatkan benda pusaka
sang majikan, bahkan menepuk dada dan menyatakan
betapa ketat penjagaannya sehingga tidak mungkin si
maling mampu menggerayangi istana pangeran itu.
Kiranya Hou ih congkoan istana pangeran itu bernama
The Kim ciam, anak murid Siau-lim-pay dari keluarga
preman, usianya belum 30 tahun sudah termashur karena
ilmu permaiaan tongkat Hang-mo-tiang-hoat yang jarang
ada tandingannya, Sebab itulah dia menjadi tinggi hati dan
anggap tiada maling yang berani mengganggunya.
Padahal nama The Kim-ciam sebenarnya tidak lebih
gemilang daripada nama Tan Goan-hay di dunia persilatan.
Kalau sipencuri benda pusaka berani merecoki Tan Goan-
hay, mustahil tidak berani terhadap The Kim ciam, dia
cuma lebih mujur, yaitu giliran terakhir menjadi incaran si
maling.
Karena ajakan kerja sama mereka ditolak. Tan Goan-hay
berempat juga tidak banyak bicara, hanya mulai malamnya
mereka lantas mengawasi istana pangeran itu dengan
cermat. mereka yakin istana pangeran itu pasti juga akan
didatangi si pencuri. Maka diam2 ia mengintai. Benar juga,
pada malam itu mereka menyaksikan si pencuri benda
pusaka itu melayang masuk ke istana pangeran itu.
Mereka menyesal karena The Kim ciam tidak mau
bekerja sama, maka mereka sengaja tinggal diam, mereka
hanya siap siaga bilamana maling itu hendak kabur
membawa hasil curiannya barulah mereka akan muncul
dan membekuknya,
Akan tetapi nona Soat itu cukup cerdik. ditambah lagi
Ginkangnya memang tidak lemah, biarpun di bawah
pengawasan para jagoan itu benda pusaka istana pangeran
itu tetap berhasil digerayanginya dan dibawa lari. Cuma
iapun tidak menyadari bahwa jejaknya telah diketahui dan
sedang diintai, ketika dia membawa barang curian dan
melayang keluar dari istana pangeran itu, serentak ia
terkepung oleh Tan Goan-hay berempat.
Sudah tentu ia kewalahan dikerubut empat jagoan itu.
apalagi ditambah The Kim-ciam yang menyusul tiba, ia
lebih kepayahan, terpaksa ia bertahan sekuatnya.
Menjelang fajar, dengan beberapa jurus serangan
pedangnya yang aneh dapatlah dia membobol kepungan
dan lari pulang ke hotel. Ia tahu dalam waktu singkat
musuh pasti akan mencium jejaknya dan menyusul tiba,
maka cepat ia meringkasi ketujuh benda pusaka hasil
curiannya dan membangunkan kusir kereta lalu kabur
keluar kota.
Ia yakin keretanya yang cukup cepat itu pasti dapat lolos
dari kejaran musuh. tak terduga Hwesio. Tosu dan Preman,
tiga gembong bandit sudah lama mengintainya dan telah
mencegatnya tidak jauh di luar kota.
Waktu kereta itu menyerempet Soat Peng-say, hal ini
bukannya disengaja melainkan karena gugupnya si kusir.
Soat Peng-say sendiri karena mengantuk diatas kudanya
sehingga dengan mudah tersenggol jatuh terjungkal.
Sementara itu Tan Goan-hay berlima demi menjaga
gengsi tetap tidak mau menghubungi pihak yang berwajib
meski jejak si pencuri sudah diketahui. Tentu saja hal ini
sangat menguntungkan nona Soat, tanpa halangan dia
dapat kabur keluar kota. Sedangkan Tan Goan-hay berlima
masih sibuk mencari jejaknya di tengah kota. Untungluh
setelah dicari kian kemari, akhirnya pada hotel yang
dipondoki nona Soat itu diperoleh keterangan bentuk dan
wajah maling benda pusaka yang serupa dengan nona Soat
itu, maka mereka terus menyiapkan segala keperluan dan
bermaksud mengadakan pengejaran jarak jauh dan bertekad
membekuk maling perempuan itu.
Setiba dipintu gerbang timur, tiba2 mereka kepergok
barisan opas yang dipimpin kepala opas Pakkhia yang
bernama Ong Cin-ek. Kepala opas Ong itupun kenal Tan
Goan-hay dan konco2nya itu adalah para jago pengawal
istana pangeran, dengan sendirinya ia menegur sapa dan
memberitahu maksud tujuannya yang hendak mengejar
kawanan bandit yang mengacau di kotaraja.
Tan Goan-hay dan lain2 pura2 menyatakan hendak
membantu Ong Cin-ek, dengan sendirinya tawaran ini
diterima baik. Mereka tidak tahu bahwa Ong Cin-ek sudah
tahu terjadinya pencurian2 itu, kedatangannya sekarang ini
justeru hendak menangkap maling yang melakukan
pencurian secara besar2an itu.
Kiranya majikan Li Yu-seng yang diam2 telah laporkan
peristiwa pencurian itu kepada pihak yang berwajib, hanya
saja untuk menjaga jangan sampai membikin malu jago
pengawalnya sendiri, pihak yang berwajib hanya diminta
agar meyelidikinya secara diam2 selama sisa batas waktu
yang masih ada, yaitu lima hari. Tugas penyelidikan itu
dilakukan oleh Ong Cin-ek yang cukup berpengalaman.
Selama dua hari dia menyelidiki setiap orang yang kira2
harus dicurigai, diketahui kotaraja telah kedatangan
kawanan bandit yang dipimpin oleh tiga gembong bandit
Hwesio, Tosu dan Preman itu Berbareng itu juga ditemukan
seorang tamu perempuan berkereta warna emas yang patut
dicurigai, maka diam2 dikirim petugas untuk mengawasi
perak-geriknya.
Malam hari ketika diketahui kawanan bandit telah
meninggalkan kota, hal ini tidak diperhatikan oleh Ong
Cin-ek, sebab kawanan bandit itu hanya beberapa hari
berdiam di dalam kota dan laporan tentang pencurian
sudah terjadi 20 hari, jelas pencurian bukan dilakukan oleh
kawanan bandit itu. Maka kecurigaannya tertuju kepada
tamu perempuan muda she Soat yang sudah sebulan tinggal
di kotaraja itu, begitu kawanan bandit itu pergi,
perhatiannya lantas dipusatkan kepada diri tamu she Soat.
Pengawasan diperketat. Maka begitu mendapat laporan
bahwa pagi2 perempuan muda she Soat itu telah angkat
kaki, Ong Cin-ek menjadi sibuk dan cepat2 pimpin belasan
anak buahnya melakukan pengejaran dan kebetulan
bergabung dengan rombongan Tan Goan-hay.
Di tengah jalan diperoleh laporan pula bahwa di luar
kota terjadi pembegalan, setelah ditanya lebih jelas,
diketahuinya kawanan bandit hendak main hitam makan
hitam. Maka cepat ia mengerahkan barisannya ke sana.
Akhirnya tersusul juga kereta yang dimaksud. tapi Tan
Goan-hay menganggap kereta itu kosong dan tidak perlu
digeledah. Sudah tentu Ong Cin-ek serba susah dan tidak
berani membantah.
Hanya Li Yu-seng saja, karena batas waktunya tinggal
dua hari saja. bila besok juga terlewatkan dengan sia2,
berarti periuk nasinya akan berantakan. Maka ia coba
menggertak Soat Peng-say pula dengan ayunan cambuknya,
sekali sabat ujung kabin kereta sempal sebagian, lalu
bentaknya: "Lekas katakan, siapa yang membunuh belasan
orang di sana tadi? Dilakukan seorang perempuan bukan?"
Soat Peng-say tetap duduk saja tanpa bergerak, ia
berlagak pilon seperti tidak tahu betapa lihaynya sabatan
cambuk Li Yu-seng itu, dengan tertawa ia menjawab: "Eh.
tuan ini hendaklah bersabar sedikit, bila ingin tahu apa yang
terjadi, harap tenang dan dengarkan cerita hamba."
Li Yu-seng menjadi gusar dan mendamperat: "Kentut
makmu! Lekas ceritakan, jika rewel, sekali hantam
kuhancurkan kepala-anjingmu!"
Saking gregetan ia benar2 ingin membinasakan Soat
Peng-say dengan sekali hantam. Tapi Tan Goan-hay telah
mencegahnya: "Li-laute, apa yang dikatakan saudara cilik
ini memang betul juga, tenanglah dan dengarkan ceritanya."
Di antara mereka ilmu silat Tan Goan-hay terhitung
paling tinggi, walaupun tidak resmi dan telah menjadi
kepala rombongan, maka terpaksa Li Yu-seng menurut,
begitu pula yang lain. Ho Kong-lim dan Tan Yam-bok
adalah kedua orang yang menghentikan kereta tadi. mereka
masih memegangi kuda penarik kereta dan mengikuti
perkembangan selanjutnya, kedua orang ini cukup percaya
kepada kemampuan Tan Goan-hay, segalanya mereka
serahkan kepada keputusannya.
Tapi Li Yu-seng lantas mendesak lagi: "Hayo, lekas
ceritakan!"
Namun Soat Peng-say justeru bicara dengan seenaknya,
ucapnya dengan pelahan: "Pagi tadi hamba sendirian
meninggalkan kota. . . ."
"Jadi sejak pagi keluar kota kereta ini memang kosong?"
sela Tan Goan-hay.
Peng-say tertawa, ia tidak membenarkan secara
langsung, tapi berkata pula: "Hamba sendirian keluar kota,
sampai di sini. . . ."
"Bohong kau!" bentak Ong Cin-ek mendadak. "Di dalam
keretamu kan ada seorang penumpang perempuan, lekas
katakan siapa dia?!"
"Kubohong atau tidak ada sangkut-paut apa dengan
kau?" jawab Peng-say dengan tertawa.
Ong Cin-ek jadi melengak sehingga tidak sanggup
bersuara lagi.
Padahal Soat Peng-say memang tidak bohong, dia
memang keluar kota sendirian. Maka ia lantas
menyambung: "Setiba di sini, kulihat belasan penjahat
menghadang di tengah jalan dan mengatakan didalam
kereta ada benda mestika segala, malahan mereka terus
mengganas, ya panah, ya golok, semuanya tertuju kereta
ini, se-akan2 dengan begitu benda mestika akan keluar
dengan sendirinya dari dalam kereta."
Dia sengaja menekankan suaranya pada istilah "benda
mestika" sehingga bagi pendengaran si nona Soat di dalam
kereta, rasanya ialah yang dimaksudkan sebagai
"mestikanya". Keruan ia sangat mendongkol.
"Pada saat itulah tiba2 datang seorang Lihiap (pendekar
perempuan) yang berbusur kecil," tutur Peng-say pula.
"Terdengar suara jepretan beberapa kali dan kontan
beberapa orang lantas roboh Hanya tersisa tiga pentolan
bandit saja tidak terpanah ulu hatinya yang mematikan.
Tapi panah kecil itu beracun, meski cuma mengenai lengan
kanan mereka, hanya sebentar saja lengan mereka lantas
berubah menjadi hitam."
"Hm, kiranya dia murid ahli racun Cu Hway-tong!"
jengeK Tan Goan-hay.
"Siapa itu Cu Hway-tong?" tanya Tan Yam-bok.
"Berapa usia Tan-hiaute tahun ini?" tanya Tan Goan-
hay.
Di antara kelima orang usia Tan Yam-bok memang
paling muda, ia jadi melengak karena tidak tahu apa
sebabnya mendadak orang menanyakan umurnya,
jawabnya kemudian: "Tahun ini 27."
"Pantas kau tidak kenal nama Cu Hway-tong," tutur Tan
Goan-hay. "Pada 30 tahun yang lalu Cu Hway-tong itu
sudah malang melintang di dunia Kingouw, bukan saja
ilmu pedangnya, bahkan keahliannya menggunakan racun
sangat ditakuti setiap orang persilatan. Tapi entah mengapa,
27 tahun yang lalu mendadak dia menghilang dari dunia
ramai, bisa jadi dia sengaja mengasingknn diri untuk
mempelajari semacam ilmu pedang dan ilmu pedangnya
sudah sama2 kita ketahui."
"Dilihat dari ilmu pedang muridnya, agaknya tidak sia2
selama 27 tahun Cu Hway-tong mengasingkan diri," ujar
Tan Yam-bok. Nyata ia sangat mengagumi ilmu pedang si
maling perempuan she Soat itu.
Diam2 Peng-say membatin: "Kiranya nona itu pun
mahir ilmu pedang. entah selama 27 tahun ilmu pedang apa
yang diciptakan oleh gurunya yang bernama Cu Hway-tong
itu sehingga musuh juga merasa kagum sekali."
Mendadak Li Yu-seng membentak: "Kemudian
bagaimana. hayo lekas teruskan, kusir!"
"Kemudian. . . kemudian ketiga pentolan bandit itu
merasakan lihaynya racun yang mengenai lengan mereka,
buru2 mereka mengutungi lengan sendiri dan melarikan
diri," tutur Peng-say dengan ter-gagap2.
"Yang kutanya bagaimana kemudian dengan maling
perempuan itu?" kata Li Yu-seng dengan mendesak,
Soat Peng-say sengaja membetulkan istilah orang,
katanya: "Maksudmu si pendekar perempuan itu?"
Kuatir Li Yu-seng ribut lagi dengan Soat Peng-say, cepat
Tan Goan-hay menimpali: "Betul, kemudian bagaimana
dengan pendekar perempuan itu?"
"Wah, akupuu tidak jelas," ujar Peng-say sambil
mengangkat bahu. "Hamba terus kabur mengendarai kereta
ini, mana sempat ku perhatikan diri pendekar perempuan
itu. Eh. sekarang hamba boleh pergi bukan?"
Tan Goan-hay mengangguk.
Ong Cin-ek menjadi kelabakan, cepat ia menimbrung:
"Pergi? Mana boleh? Kau harus ikut kami ke kantor, di
tengah jalan sana jatuh korban belasan orang, kau harus
menjadi saksi dalam perkara ini."
Melihat cara Ong Cin-ek tanya Soat Peng-say tentang
"maling perempuan" tadi, Tan Goan-hay tahu kepala opas
itu pasti sudah tahu hal2 pencurian yang terjadi di kota raja,
betapapun Ong Cin-ek tidak boleh mendapatkan keterangan
dari Soat Peng-say mengenai benda2 pusaka kelima
keluarga pangeran yang hilang itu, maka cepat ia menyela:
"Ong-thauji, kita jangan menuduh orang baik2 dan
merintangi perjalanan penduduk yang tak bersalah.
Keretanya sudah dirusak oleh kawanan penjahat. masa
sekarang kita membikin susah lagi padanya?"
"Masa Tan-heng menganggap dia orang baik2 dan. . . ."
"Sudahlah, tak perlu omong lagi, berilah kebebasan
padanya dan kebaikanmu pasti takkan kami lupakan," ucap
Tan Goan-hay sebelum Ong Cin-ek melanjutkan kata2nya.
"Apalagi belasan mayat tadi jelas adalah kawanan bandit
yang menjadi buronan pemerintah, bila mayat2 itu kau
bawa pulang, bukankah akan merupakan jasa besar
bagimu?"
"Betul juga ucapanmu Tan-losu," kata Ong Cin-ek
dengan tertawa. Dalam hati ia tahu tentu kelima keluarga
pangeran tempat bekerja Tan Goan-hay berlima itu
kehilangan barang pusaka dan mereka ingin menyelidikinya
sendiri demi gengsi. Tapi peduli apa jika mereka tidak mau
perkara ini terbuka, yang benar bilamana mayat kawanan
bandit itu dibawa pulang ke kotaraja memang akan
merupakan jasa besar. Yang diherankannya cuma sikap Tan
Goan-hay tadi, bilamana kereta warna emas itu dilepaskan,
kemana lagi mereka akan mencari maling benda pusaka itu
kelak?
Dalam pada itu Tan Goan-hay telah mengedipi kedua
kawannya yang menahan kuda penarik kereta dan berkata:
"Lepaskan, biarkan dia pergi!"
Segera Ho Kong-lim dan Tan Yam-bok melompat
kembali keatas kudanya masing2 tanpa membantah The
Kim-ciam juga tidak omong lagi, dia cukup cerdik, dengan
sendirinya ia tahu maksud Tan Goan-hay melepaskan Soat
Peng-say. Ia kuatir Li Yu-seng tidak paham kehendak Tan
Goan-hay, maka cepat ia membisikinya: "Jangan kuatir, Li
laute, kita bereskan nanti!"
Otak Li Yu-seng memang lebih sederhana daripada yang
lain, tapi demi melihat keempat kawannya tidak merasa
kuatir dan mungkin mereka sudah mempunyai pendirian
lain untuk mengusut barang2 yang hilang, terpaksa iapun
tidak berbicara lagi.
Dilihatnya Soat Peng-cay menarik tali kendali dan
menjalankan keretanya dengan cara ke-tolol2-an, sebentar
kemudian kereta itupun berlari pergi, namun jalannya tetap
meliuk ke kanan dan berbelok ke kiri.
Diam2 Tan Goan-hay mendengus dari kejauhan- "Hm,
sampai saat ini kau masih berlagak pilon?!"
Dia menyangka Soat Peng-say sengaja pura2 ketakutan
sehingga cara mengendarai keretanya tidak benar, ia tidak
tahu bahwa memang baru pertama kali ini Soat Peng-say
menjadi kusir, hakikatnya dia memang tidak dapat
mengendarai keretanya dengan baik.
—00O00—dw—00O00—

Setelah jauh meninggalkan kotaraja dan melewati dua


kota Hongtay dan Tayhin, di tengah jalan barulah si nona
Soat didalam kereta melongok keluar dan berkata kepada
Soat Peng-say: "Melihat caramu mengendarai kereta ini,
biarpun gratis juga tiada tamu yang mau menumpang
keretamu ini. Waktu menghadapi musuh tadi, lagak dan
bicaramu sungguh sangat bagus, upah sehari sepuluh tahil
perak sungguh tidak sia2 kukeluarkan."
Sementara itu Soat Peng-say sudah mulai paham cara
menguasai keretanya, jalan kereta sudah mulai stabil. Si
nona Soat mengajak ngobrol padanya juga tidak
dihiraukannya, dia benar2 memusatkan perhatiannya
mengendarai keretanya.
"Ingin kutanya padamu, sebab apa kau sebut diriku
Lihiap?" tanya si nona pula. Agaknya sebutan ini telah
menimbulkan kesan baik pada si nona sehingga dia lupa
Peng-say tadi juga menganggapnya sebagai "benda
mestika".
Karena Peng-say masih diam saja, nona itu lantas
berteriak pula: "He. kusir, jangan berlagak gagu, kutanya
padamu, sebab apa kau tolong diriku meski kau tahu aku
memang si maling yang mereka cari itu?"
Baru sekarang Peng-say menjawab: "Apa jadinya kalau
aku tidak menolong nona? Bila kukhianati kau, masakah
aku dapat hidup bila kau panah aku dari belakang?"
Nona Soat itu tidak puas dengan jawaban Peng-say, ia
tahu anak muda itu sama sekali tidak takut akan dipanah,
tapi berkat ketabahan dan akalnya yang berani itulah Tan
Goan-hay berhasil dikelabui.
Maka nona Soat itu lantas mengomel: "Jangan omong
kosong, untuk apa kupanah kau? Aku bukan iblis yang suka
sembarangan membunuh rakyat jelata. Kutahu tujuanmu
menolong diriku, upah sepuluh tahil perak sehari bukanlah
pekerjaan yang mudah dicari, jika aku tertangkap mereka,
kemana lagi kau akan mendapatkan pekerjaan baik ini,
betul tidak?"
"Betul, betul, betul sekali," seru Peng-say sambil tertawa.
"Satu hari sepuluh tahil, satu peser saja tidak boleh kurang."
"Dasar mata duitan!" omel nona Soat dengan
mendongkol.
Tapi Peng-say tidak peduli, ia bergumam dan
menghitung2 sendiri: "Sehari sepuluh tahil, sebulan tiga
ratus tahil, setengah tahun tentu delapan ratus tahil, cukup
bekerja setengah tahun saja aku Tio-jilengcu sudah dapat
mencari isteri yang putih dan cantik di kotaraja nanti."
"He, Tio-jilengcu, apakah kau mimpi?!" tanya nona Soat.
"Mimpi? Memangnya kenapa? Bukankah nona sudah
berjanji satu hari sepuluh tahil, apakah engkau akan ingkar
janji?"
"Ingkar janji sih tidak, cuma upah sehari sepuluh tahil
perak memang terlalu mahal dan terlalu berat bagiku, tidak
dapat kupakai tenagamu dalam jangka panjang, paling lama
hanya satu bulan saja."
"Satu bulan tiga ratus tahil perak, untuk mencari isteri
gadis desa juga cukup."
"Tio jilengcu, tampaknya kau orang yang bisa puas
dengan kenyataan."
"Orang yang puas menurut kenyataan adalah orang yang
bahagia, sering2 orang di dunia ini tidak kenal puas dari
hasil yang diperolehnya dan selalu berusaha mendapat lebih
banyak, akibatnya memanjat semakin tinggi, jatuhnya juga
tambah sakit. Setelah jatuh kembali lagi kepada kenyataan
semula, namun suasana semula juga sudah berubah. Kalau
sudah begitu, nah, barulah dia sadar."
Uraian Soat Peng-say ini memang bukannya tak
beralasan dan bukannya dia sok berfilsafah. Tempo hari
ketika di Siau-ngo-tay-san, Liok-ma berniat menjodohkan
dia dengan Sau Kim-leng, melihat nona Sau itu secantik
bidadari, apalagi keturunan salah satu di antara Su-ki yang
termashur. Meski kemudian dia tetap menolak, tapi pernah
juga dia hampir melupakan sang Piaumoay yang dibesarkan
bersama sejak kecil. Syukur akhirnya dia tidak melupaknn
sama sekali kepada sang Piaumoay. Tapi ketika dia ingat
kepada Cin Yak-leng den jatuh kembali kepada realitas
semula, sementara itu si nona sudah mengalami nasib
diculik Ciamtay Boh-ho, sekarang, entah di mana si nona
dan ke mana dia harus mencarinya.
Apabila teringat kepada Cin Yak-leng, seketika Peng-say
pusing kepala. Dasar dia memang tidak mahir mengendarai
kereta, perhatiannya terpencar memikirkan Cin Yak-leng,
ketika dekat sebuah jembatan, hampir saja kereta itu
menyelonong masuk ke sungai. Masih untung si nona Soat
keburu menjerit, dalam kagetnya Peng-say sempat menarik
tali kendali dan membetulkan arah keretanya.
Nona Soat itu tepuk2 dada sendiri bersyukur kereta tidak
jadi masuk sungai, jika terjerumus ke sungai, ia tak bisa
berenang, pasti akan mengalami nasib malang tenggelam
didasar sungai.
Setelah tenang kembali, si nona lantas mengomel: "Hei,
Tio jilengcu, jangan kau melamun akan mencari bini
melulu! Kendarai keretamu dengan baik, bisa jadi akan
kupakai tenagamu selama setengah tahun."
Tapi Peng-say tidak berminat bicara lagi, ia curahkan
perhatian pada kemudi keretanya.
Mungkin merasa kesal berada sendirian di dalam kereta
dan tiada teman mengobrol, tidak lama kemudian nona
Soat itu melongok keluar pula dan berseru: "Tio jilengcu,
apabila pagi tadi orang she Tan itu tidak tertipu olehmu dan
membuka pintu kereta, coba, lantas bagaimana
tindakanmu?"
"Kalau dia membuka pintu kereta, biarkan saja dia
periksa sesukanya," jawab Peng-say.
Nona itu seperti ingin mengetahui sampai di mana
ketulusan hati Soat Peng say akan menolongnya, dengan
tertawa ia bertanya pula: "Tapi aku kan bersembunyi di
dalam kereta, kalau terlihat lantas bagaimana?"
"Siapa bilang nona berada di dalam kereta?" Peng-say
balas bertanya.
"Kalau tidak bersembunyi di dalam kereta habis berada
di mana?" tanya si nona dengan heran.
"Tatkala mana nona bersembunyi di bawah kereta,
memangnya kau kira aku tidak tahu?"
"Darimana kau tahu?"
"Hahahaha! Tentunya masih ingat waktu orang she Tan
itu tanya padaku siapa penumpang di dalam kereta?
Kujawab tidak ada penumpangnya. Aku tidak berdusta
padanya, sebab kukatakan didalam kereta tidak ada
penumpangnya, kan tidak termasuk dibawah kereta."
Si nona mendongkol karena Peng-say tidak menjawab
pertanyaan, omelnya: "Yang kutanya adalah cara
bagaimana kau tahu aku bersembunyi di bawah kereta?!"
"Sebelumnya kan ketiga pentolan bandit itu sudah
menggeledah seluruh kereta dan tidak dapat menemukan
nona, tahu2 nona muncul di samping kereta. Waktu itu aku
sangat heran. jelas didalam kereta tiada seorangpun, nona
kan bukan badan halus. mengapa mendadak bisa muncul di
samping kereta? Maka kuyakin nona pasti tidak pernah
meninggalkan kereta, jelas kereta ini ada alat rahasianya
dan nona pasti bersembunyi di tempat yang dirahasiakan
itu. Maka ketika nona menghajar kawanan bandit itu,
secara teliti telah kupelajari keadaan kereta ini. Betul juga,
kulihat dibawah kereta masih ada satu lapis yang tebal
cukup untuk direbahi badan satu orang."
"Ya, kau memang pintar, tapi kau tetap berhasil
mendustai Orang she Tan itu," ujar si nona Soat dengan
tertawa.
"Apa artinya ucapanmu?"
"Kan kau katakan bahwa di dalam kereta ini tiada
penumpangnya, padahal ada, Aku tidak bersembunyi
dibawah kereta, tapi kau kira aku telah bersembunyi disitu.
Bukankah orang she Tan itu telah kau tipu dengan
keteranganmu bahwa di dalam kereta tiada seorang
penumpang pun?"
Soat Peng-say menoleh dan memandang si nona sekejap,
mendadak ia tertawa ter-bahak2.
"Apa yang kau tertawakan?" omel si nona.
"Aku sangat kagum kepada nona, biarpun berdusta.
mukamu tidak merah sedikitpun."
"Hm, kenapa aku berdusta? Aku memang tidak
bersembunyi waktu itu. Untuk apa aku bersembunyi?
Memangnya kau kira aku takut kepada mereka?"
"Takut atau tidak adalah urusanmu, yang jelas. dia tidak
menggeledah kereta ini bukanlah lantaran dia mudah
ditipu. soalnya dia juga tahu di dalam kereta waktu itu tiada
penumpangnya."
"Hm, jangan sok pintar dan mengira tahu segalanya!"
jengek si nona.
"Bukan maksudku sok pintar, cuma cara nona berdusta
terasa kurang rapi sedikit," kata Peng-say. "Coba pikirkan,
apa gunanya kereta ini nona tutup rapat2, bukankah kereta
ini sudah berlubang seperti sarang tawon oleh karena
dipanah oleh anak buah kawanan bandit itu. Biarpun
lubang2 itu tidak besar, tapi bagi orang she Tan itu tentu
tidak sulit untuk mengetahui keadaan di dalam kereta."
Rupanya nona she Soat itu memang berdusta. Dia
menyadari bukan tandingan Tan Goan-hay berlima, maka
ketika tersusul dia lantas sembunyi di bawah kereta, dia
bilang tidak takut, padaha! dia sangat ketakutan. Cuma
dasar wataknya memang suka menang, meski Soat Peng-
say telah mengetahui rahasia keretanya dia tetap sengaja
menganggap Soat Peng-say berhasil menipu Tan Goan-hay
dan kawan2nya sekedar mengumpak anak muda itu. Tak
terduga Peng-say tidak tahu apa artinya pujian, dia berbalik
membongkar kebohongan si nona sehingga terpaksa nona
Soat itu tidak dapat membantah lagi. Setelah dibuat kikuk,
nona itu tidak ceriwis lagi seperti tadi, sampai setengah hari
dia tidak bicara lagi.
Menjelang lohor, kereta mereka lalu di suatu dusun yang
cukup banyak penduduknya. Mendadak nona Soat itu
berseru: "Berhenti! Berhenti!"
Tapi Peng-say tidak menghiraukannya, sebaliknya
tambah mencambuk kudanya sehingga dusun dilaluinya
dengan cepat. Nona Soat itu menjadi gusar, bentaknya:
"Suruh kau berhenti, apakah kau tuli?"
"Nona sudah lapar bukan?" tanya Peng-say.
"Ya, lekas putar balik ke sana, habis makan kenyang
baru melanjutkan perjalanan," teriak si nona.
"Kuminta nona suka tahan lapar dulu, sampai malam
nanti boleh makan dobel, makan siang malam sekaligus,"
ujar Peng-say.
"Berdasarkan apa kau membantah perintah?" bentak si
nona. "Kubilang putar balik ke sana maka harus lekas putar
balik."
Peng-say menghela napas, jawabnya: "Baiklah!" -Segera
ia memutar kudanya ke arah datangnya tadi.
Tapi sebelum masuk ke kampung itu, mendadak Peng-
say memutar keretanya lagi dengan cepat terus dibedal
secepat terbang ke arah semula.
"He, kerja apa kau ini?!" teriak si nona dengan gusar.
"Silakan nona berpaling ke sana dan lihatlah sendiri,"
ujar Peng-say.
Waktu nona Soat itu membuka jendela dan melongok
kebelakang, dilihatnya di dalam kampung sana ada lima
penunggang kuda sedang tanya jalan kepada penduduk
disitu, jelas itulah rombongan Tan Goan-hay, cepat ia
menutup jendela pula dan berteriak: "Lekas lekas larikan
kudanya lebih cepat!"
Kiranya rombongan Tan Goan-hay itu telah
meninggalkan barisan opas yang dipimpin Ong Cin-ek dan
menguntit arah yang dituju kereta warna emas ini. Kuda
tunggangan mereka adalah kuda pilihan, meski setiap tiba
di suatu kampung mereka harus tanya dulu kepada
penduduk setempat kearah mana perginya kereta itu, tapi
jarak pengejaran mereka makin lama makin dekat.
Untung mereka asyik tanya jalan kepada penduduk
sehingga tidak melihat kereta warna emas itu berputar balik,
kalau tidak, tidak sampai seminuman teh pasti akan disusul
oleh mereka.
Beberapa kali Peng-say sengaja membelok kejalan
simpang, akhirnya nona Soat itu merasa aman, katanya
dengan tertawa: "He, Jilengcu (si dungu), namamu ini tidak
baik. Orang bernama Lengcu jika otaknya rada2 tolol, tapi
tulus dan lugu. Padahal kau tidak kelihatan bodoh, bahkan
cukup pintar."
"Terima kasih atas pujian nona," jawab Peng-say. "Dan
entah siapa nama nona yang terhormat?"
"Namaku hanya satu huruf saja, yakni Koh."
"Soat Koh? Soat Koh?. . . ." Peng say mengulangi nama
itu beberapa kali.
"Bagaimana, enak didengar atau tidak namaku?"
"Ya, jauh lebih enak didengar daripada namaku?" ujar
Peng-say dengan tertawa.
"Menurut cerita ibuku, pada waktu ibu mengandung
diriku, kebetulan dilihatnya burung merpati salju terbang
lewat di atas kepala beliau, nama lain daripada merpati
salju adalah Soat-koh, kebetulan akupun she Soat, maka ibu
lantas memberi nama Soat Koh padaku."
"Pantas aku merasa nama Soat Koh sudah pernah
kudengar, aku jadi ingat kepada gumam guruku waktu kami
tinggal diatas gunung sana, setiap kali turun salju dan ada
burung salju terbang lewat. Suhu suka menyebut "Soat koh',
tadinya kusangka guruku sedang terkenang kepada orang
yang bernama Soat-koh, baru sekarang kutahu yang
dimaksudkannya adalah merpati salju."
”Kau juga punya Suhu?" tanya Soat Koh.
"Memangnya kau kira cuma kalian yang belajar silat saja
yang punya guru dan orang udik pencari kayu seperti kami
ini tidak punya guru?" jawab Peng-say dengan tertawa
"Hendaklah maklum bahwa dalam segala pekerjaan pasti
ada gurunya Pencari kayu juga perlu mengangkat guru,
pada waktu hujan salju dan perlu mencari kayu lebih2 perlu
diberi petunjuk oleh sang guru. Kalau tidak, bukan mustahil
akan kesasar diatas gunung bersalju, bahkan kalau kurang
hati2 bisa terjerumus kejurang yang tertutup salju dan
jiwapun bisa melayang."
Mestinya Soat Koh hendak tanya siapa gurunya, tapi
demi mendengar hanya seorang pencari kayu saja, ia
menjadi malas bertanya. Cuma diam2 iapun merasa kagum
bahwa murid seorang pencari kayu ternyata cukup cerdas
dan tangkas.
Begitulah Soat Peng-say menghalau keretanya menuju
kejalan yang sepi, apabila ketemu jalan persimpangan, yang
dipilih tentu adalah jalan yang kecil.
Keretanya tiba di suatu jalan persimpangan yang terdiri
dari tiga jalan kecil yang sama, segera ia pilih satu jalan itu
dan membelokkan keretanya ke Sana Jalan itu semakin
jauh semakin sepi dan akhirnya tiba di lereng pegunungan
yang jauh dari khalayak ramai.
Soat Koh tahu jalan pikiran Soat Peng-say, jelas anak
muda itu sengaja hendak meloloskan diri dari pencarian
Tan Goan-hay dan konco2nya, untuk Peng say sengaja
menuju ke jalan yang sepi dari penduduk, dengan demikian
sukar bagi rombongsn Tan Goan-hay untuk mencari
keterangan.
Sementara itu hari sudah mulai gelap. malam hampir
tiba Soat Koh menjadi sedih, ia ragu malam nanti akan
mondok di mana jika cara demikian perjalanannya?
Akhirnya di jalan yang dilalui hanya tampak rumput dan
batu belaka, orang berjalan kaki saja rasanya sulit melalui
jalan pegunungan kecil ini, dengan sendirinya kereta
mereka lebih2 tak keruan jalannya, guncangannya yang
keras membuat orang kepala pusing.
Kuatir akan kesasar bila perjalanan diteruskan. cepat
Soat Koh berseru: "He, Jilengcu, bolehlah kita istirahat saja
di sini!"
Peng-say melihat keempat kuda penarik kereta juga
sudah lelah, ia lantas memilih suatu tempat yang agak
lapang dan menghentikan keretanya.
Soat Koh keluar dari kabin kereta dan memandang
sekelilingnya, dilihatnya lereng gunung sana diliputi hutan
lebat, sang surya sudah terbenam sehingga suasana
sekitarnya terasa dingin dan kelam, tapi juga terasa tenang
dan damai, membuat orang lupa pada keramaian duniawi.
Di sebelah sana ada sebuah selokan yang mengalirkan air
yang bersumber pada sebuah gua dikejauhan sana, air
selokan itu mengalir dengan tenang dan jernih.
Soat Koh mendaki selokan itu dan meraup air yang
jernih itu untuk diminum, serunya dengan girang: "Jilengcu,
lekas kemari, minumlah air sumber ini. segar sekali
rasanya!"
Pelahan Peng-say mendekati selokan itu, katanya dengan
tertawa: "Caramu minum itu terlalu banyak buang tenaga."
Habis berkata ia terus bertiarap, kepalanya dibenamkan
ke dalam air dan diminumnya air jernih itu, dalam Waktu
singkat perutnya sudah penuh terisi air.
"Jilengcu," kata Soat Koh dengan tertawa, "Apakah
pencari kayu seperti kalian ini biasanya memang suka
minum cara kerbau begini?"
Merasa nada pertanyaan orang mengandung ejekan,
dengan ketus Peng-say menjawab: "Orang lelaki seperti
kami tidak perlu berlaku halus segala, kalau haus ya
minumlah sekenyangnya, kenapa mesti berlagak seperti
perempuan?!"
Soat Koh tahu meski otak anak muda itu tidak dungu,
tapi sifatnya rada2 dogol, malahan boleh dikatakan tidak
dapat merayu anak perempuan, benar2 pemuda udik sejati,
maka pantaslah jika nama Jilengcu. Maka dengan
menggeleng ia berkata: "Jilengcu, dengarkan, biar kuajari
kau sedikit sopan santun. bicara dengan orang perempuan
hendaklah halus dan ramah. menghadapi urusan apapun
mengalah, kalau tidak, selama hidupmu jangan
mendapatkan bini yang baik. Sebaiknya bila kau turut pada
petunjukku, kutanggung tanpa membuang uang juga akan
mendapatkan isteri cantik."
Peng-say sengaja hendak bertengkar dengan dia, ia
menjawab: "Ah, jangan nona menipu diriku si dogol ini.
mana ada urusan seenak itu di dunia ini, tanpa buang uang
akan mendapatkan isteri cantik?.
"Sekalipun kau punya uang juga tiada gunanya,
memangnya kau kira perempuan baru mau menjadi
isterimu jika uangmu banjak? Contohnya seperti diriku ini,
biarpun kau tumpuk uangmu berlaksa tahil di depanku juga
nonamu takkan terpikat olehmu."
"Ai, masa engkau berani omong," Peng-say sengaja ber-
olok2. "Ke mana kuhalau kereta ini, ke sana pula kau ikut,
jelas2 kau lengket padaku, masa bilang tidak bakal terpikat
olehku?"
Seketika Soat Koh mendelik, katanya: "Kurang ajar!
Bicara yang benar, apa kau minta kubanting hingga
setengah mampus?!"
Melihat sikap si nona di waktu marah sangat mirip Cin
Yak-leng, Peng-say jadi sengaja menggodanya, ia sengaja
berlagak dungu dan berkata pula: "Ah, aku tidak percaya
nona mampu membanting aku hingga setengah mati.
Asalkan kau tidak pakai panah, biarpun kau pukul tubuhku
seratus kali juga aku takkan menjerit kesakitan, malahan
kukuatir tangan nona yang putih dan halus itu akan . . . "
"Tutup mulut!" bentak Soat Koh.
Kuatir juga Peng-say kalau si nona benar2 naik pitam, ia
lantas tutup mulut dan tidak berani omong lagi.
"Kemari kau!" bentak Soat Koh.
Peng-say menurut dan mendekati si nona.
"Ingin kulihat kau akan berteriak kesakitan atau tidak?!"
omel Soat Koh sambil angkat telapak tangannya.
Peng-say tahu hantaman si nona tidak boleh diremehkan,
jika terkena tepat, kepala lembu saja bisa hancur. Namun
dia justeru tidak menghindar, ia pandang wajah si nona
yang marah itu dengan terkesima.
Soat Koh menjadi tidak tega ketika tangan sudah
terangkat, teringat olehnya jasa Peng-say yang telah berhasil
mengingusi musuh, dengan menghela napas ia berkata :
"Sudahlah, lain kali hendaklah hati2 dan tahu aturan
sedikit."
Peng-say memang anak kolokan, diberi hati tambah
minta kepala, ia lantas membual pula: "Nona Soat kau
takkan ikut padaku meski hartaku ber-juta2 tahil, tapi kalau
tidak punya duit malahan engkau mau ikut padaku, begitu
bukan?"
Soat Koh tidak merasakan ucapan orang sebagai kata2
kurang sopan, ia memberi penjelasan: "Bukan begitu
maksudku, aku cuma memberi misal, supaya kau tahu
perempuan tidak melulu memandang duit saja, lalu mau
ikut padamu "
"Lalu cara bagaimana baru nona mau ikut aku si
Jilengcu ini?" Peng-say melanjutkan bualannya.
"Kau harus pandai membujuk, lemah lembut, santun,
jangan jorok, jangan tamak dan mata duitan, dengan
demikian, biarpun kantongmu kosong juga banyak
perempuan yang kepincuk padamu. Hendaklah kau tahu,
bini yang dibeli dengan duit kebanyakan tak dapat
dipercaya."
Peng-say memang sengaja membual dan bicara dengan
nada pemuda bangor, tujuannya membikin marah si nona,
siapa tahu Soat Koh tidak menjadi marah, sebaliknya
malah memberi petuah. Tapi dia sengaja bicara dengan
nada berlawanan, katanya pula: "Ah, Jilengcu tidak percaya
pada teorimu ini. Tanpa duit, jangan harap mendapatkan
perempuan. Oya, bicata tentang duit, aku menjadi ingat
hari ini aku belum terima upah. Sepuluh tahil perak
hendaklah kau bayarkan padaku sekarang "
"Kenapa sekarang juga kau minta uang, malam-malam
lagi?" tanya Soat Koh heran.
"Hah, jangan kau kira aku ini orang tolol," ujar Peng-say
deng&n tertawa. "Ucapan nona tadi memang sebagian
dapat dibenarkan. Tapi mengenai jangan mata duitan, ah,
kukira setiap manusia di dunia ini pasti suka pada duit
Jangan2 maksudmu supaya aku jangan minta upah
padamu? Masakah ada orang bekerja tanpa diberi upah?"
"Jilengcu," kata Soat Koh sambil menggeleng, "pintarnya
kau memang pintar, tapi kalau bodoh ternyata melebihi
kerbau. Memangnya siapa hendak anglap upahmu?
Kusuruh kau jangan mata duitan, maksudku dalam hal
uang hendaklah kau berpikir panjang, jangan kikir, satu
peser saja harus dihitung. Lebih2 terhadap perempuan.
jangan sekali2 pelit, kalau pelit, betapapun cantik dan
baiknya seorang perempuan juga tidak sudi mendekati
kau."
"Masa aku pernah pelit" tanya Peng-say dengan tertawa,
"Melihat caramu bicara mengenai duit, pasti kau ini
sangat pelit," kata si nona.
Peng-say ter-bahak2 ucapnya: "Hahahaba, benar juga
perkataan nona. Jika begitu upah sepuluh tahil harus
kuterima sekarang, kontan, tidak boleh utang!" Sembari
bicara ia terus menyodorkan tangannya.
Soat Koh mendongkol, katanya: "Sialan! Kau kira
nonamu tidak mampu membayar upah sepuluh tahil
sehari?!"
Peng-say meng-geleng2 dan berkata: "Orang yang mata
duitan harus selalu pegang uang, bila tiap hari kuterima
upah kontan, caraku mengendarai kereta barulah
bersemangat Selain itu bayar setiap hari juga akan terasa
ringan, bila numpuk sampai beberapa hari, bukannya kuatir
nona tidak mampu bayar tapi mungkin nona akan merasa
sayang jika sekaligus membayar sekian puluh atau ratus
tahil, malahan untuk itu nona akan minta potongan harga
padaku, kan aku yang rugi."
"Kurang ajar!" omel Soat Koh. "Memangnya kau kira
nonamu ini orang kikir, biarpun beribu tahil juga tak pernah
kusayangkan bilamana memang harus dikeluarkan, apalagi
memotong upahmu dan minta korting segala. Jangankan
cuma sepuluh tahil sehari, biarpun seratus tahil sehari juga
akhirnya akan kubayar lunas tanpa kurang satu peserpun."
"Bagus, kutahu watak nona memang sosial," ujar Peng-
say sambil tertawa. "Seperti kata orang: diperoleh dengan
mudah, buangnya juga mudah. Betul tidak, nona Soat?"
Diam2 Soat Koh merasa gusar karena nada orang se-
olah2 menyindir hartanya diperoleh dari mencuri. Akan
tetapi hal ini memang fakta, apa yang dapat dikatakan.
Terpaksa ia mengeluarkan sepotong perak sepuluh tahil dan
dilemparkan kepada anak muda itu sambil berseru: "Ini,
ambil!"
"Terima kasih!" dengan tertawa gembira Peng-say
menyimpan uang perak itu.
"Eh. Jilengcu, kau lapar tidak?" tanya Soat Koh.
Mendingan jika tidak ditanya, sekali menyinggung soal
perut, seketika Soat Peng-say merasa perutnya men-jerit2, ia
menelan air liur dan menjawab: "Sejak pagi belum terisi
sebutir nasipun, tentu saja lapar. Tapi apakah nona
membawa makanan?"
"Tentu saja bawa," ujar Soat Koh dengan tertawa. Lalu
ia menuju ke kereta dan mengeluarkan makanan kering
terus digerageti dengan lahapnya.
"Wah, tampaknya nona hanya memikirkan diri sendiri,
kenapa tidak bagi sedikit kepada Jilengcu?"
"He, tak usah ya!" kata Soat Koh. "Kita kan sudah janji
sepuluh tahil satu hari tidak termasuk makan tiga kali? Jika
kau ingin makan, boleh kau beli sendiri, peduli apa dengan
diriku."
"Di pegunungan sunyi begini apa yang dapat dibeli
biarpun punya uang banyak?" kata Peng-say. "Eh, nona
yang baik, sukalah engkau membagi sedikit padaku."
Soat Koh tidak menggubrisnya, sebaliknya ia sengaja
ber-kecek2 sehingga kelihatan lezat sekali makanannya itu.
"Eh, bagaimana kalau kubeli makananmu?!" tanya Peng-
say.
Soat Koh tidak menjawab, ia cuma memperlihatkan
sebuah jarinya.
"Apa maksudmu?" seru Peng-say terkejut "Maksudmu
makanan kering begitu harus kubayar satu tahil?"
"Salah." kata Soat Koh "Bukan satu tahil, tapi sepuluh
tahil. Beli atau tidak terserah padamu. Pokoknya, harga
pas, satu peserpun tidak boleh kurang."
"Hai, caramu ini bukan jual barang, tapi gorok leher!"
teriak Peng say.
"Terserah apa yang ingin kau katakan," ucap Soat Koh
dengan tertawa "Biasanya aku tidak sudi makanan kering
begini, siapa tahu, kalau perut lapar, rasa makanan kering
ini jauh lebih lezat dari pada hidangan di restoran yang
paling besar. He, Jilengcu, selama hidupmu ini pernah tidak
kau masuk restoran!"
Membayangkan santapan yang enak di restoren, rasa
lapar Peng-say lebih2 tak tertahankan, mendadak ia berseru:
"Baiklah kubeli makananmu!"
Segera ia mengeluarkan potongan perak yang baru
disimpannya tadi dan dilemparkan kembali kepada si nona.
Soat Koh terima perak itu, katanya dengan tertawa:
"Baik! sekarang kau boleh makan sesukamu dengan
sekenyangnya."
Tanpa sungkan lagi Peng-say lantas mendekati si nona,
ia sambar makanan kering yang tersedia dan dimakannya
dengan rakus.
"He, pelahan2, jangan sampai keselak!" seru Soat Koh
dengan ter-kikik2 geli.
Untuk pertama kalinya si nona dapat mengerjai anak
muda itu, terbayang olehnya air muka Peng-say yang
menyengir waktu merogoh uang perak tadi, sungguh ia
ingin ter-bahak2.
Setelah mengisi perut dengan kenyang, sementara itu
hari sudah gelap, bulan sudah mengintip diufuk timur,
angin meniup silir2 dan terasa rada dingin.
"Bagaimana baiknya malam ini?" tanya Soat Koh dengan
sedih.
"Jalan pegunungan ini aku tidak apal, ketambahan
kurang mahir mengendarai kereta ini, kalau kita
melanjutkan perjalanan tentu berbahaya, terpaksa kita
bermalam di udara terbuka di sini." kata Peng-say
"Bermalam di udara terbuka bagaimana?" hati Soat Koh
rada terguncang.
"Sudah tentu engkau tidur didalam kereta dan aku tidur
diluar," ujar Peng-say dengan tulus.
"Angin pegunungan diwaktu malam cukup dingin, tiada
selimut pula, apakah kau tahan?" tanya Soat Koh.
"Tahan atau tidak terpaksa malam ini harus kita
lewatkan," ujar Peng-say.
"Jika demikian, terpaksa mesti bikin susah padamu,"
ucap Soat Koh dengan menyesal, pada dasarnya wataknya
memang tidak jelek.
Esok paginya, Soat Koh bangun lebih dulu. Dilihatnya
Peng-say meringkuk ditepi pohon Siong sana, bajunya
tampak basah oleh embun semalam suntuk, perasaannya
tambah tidak enak.
Sampai matahari sudah mulai terbit barulah Peng-say
bergeliat dan menguap, lalu bangun.
Didengarnya So«t Koh berseru padanya dengan tertawa:
"Setan pemalas, hayolah lekas cuci muka dan meneruskan
perjalanan."
Air pegunungan jernih dan segar, dibuat cuci muka
terasa sangat nyaman. Peng-say menghirup hawa udara
segar dalam2. Diam2 ia merasa gegetun selama sebulan ini
dilewatkannya dengan sia2.
Tengah melamun, tiba2 Soat Koh melemparkan sebuah
sisir padanya dan berseru: "Lekas sisir rambutmu yang
morat-marit itu!"
Dengan air selokan sebagai cermin, Peng-say lantas
menyisir rambutnya dengan rapi serta diikat di atas kepala.
Rambut manusia sama seperti papan merek sebuah toko,
selama sebulan Peng-say tidak cuci muka dan sisir rambut,
tentu saja wajahnya kotor dan menjemukan. Tapi setelah
berdandan rapi, jelas gayanya menjadi lain, kini kelihatan
ganteng dan cakap. Waktu ia berpaling, hampir saja Soat
Koh pangling.
"Melihat potongannya yang gagah ini, mana mungkin
dia seorang pencari kayu segala?" demikian si nona
membatin dengan terkesima.
Sarapan pagi tetap dengan makanan kering, untuk ini
Soat Koh memberi serpis gratis kepada Peng-say, ia tidak
minta bayaran lagi.
Keempat kuda penarik kereta juga kenyang makan
rumput dan mengaso satu malam, tenaganya telah pulih.
Peng-say memasang kuda penarik kereta itu, setelah siap, ia
silakan si nona naik kereta, ia sendiri melompat ketempat
kusir dan kereta lantas dihalau turun kembali kebawah
gunung.
Tengah perjalanan, Soat Koh berkata kepadanya:
"Jilengcu, kemarin kau tidak mau berhenti di kampung
sana, tentu sudah kau duga rombongan Tan Goan-hay akan
mengejar kemari, Anehnya, mereka kan sudah
membebaskan kau, mengapa mengejar lagi?"
"Yang mereka kejar bukan diriku, tapi kau, nona!" jawab
Peng-say.
"Aku tidak berada di atas kereta ini, untuk apa mengejar
diriku?"
"Sebenarnya tidak dapat dikatakan mengejar," ujar Peng-
say. "Kalau mengejar, tentu sudah lama tersusul. Agaknya
mereka menyangka nona tidak berada didalam kereta ini,
andaikan tersusul juga tiada gunanya. Maka mereka sengaja
menguntit secara diam2 dan inilah yang berguna bagi
mereka."
"Apa artinya ucapanmu ini?" tanya Soat Koh.
"Kemarin mereka tidak tahu didalam kereta ini ada alat
rahasianya, ketika melihat kereta ini kosong tanpa
penumpang, Tan Goan-hay mengira engkau telah lari
meninggalkan kereta ini dengan ketakutan, tapi merekapun
menyangsikan aku sengaja mengendarai kereta kosong
untuk mengulur waktu. mereka anggap aku adalah anak
buahmu, dengan sendirinya merekapun sangsi atas
keteranganku kemarin, mereka yakin cepat atau lambat aku
pasti akan berjumpai dengan nona, maka secara diam2
kereta ini dikuntit dan akhirnya pasti dapat memergoki
nona pula."
"Tapi kalau sebelumnya kau dan aku sudah berunding
dengan baik dan takkan bertemu lagi di tengah jalan,
bukunkah mereka akan kecelik?" ujar Soat Koh.
"Nona telah mencuri ketujuh macam benda pusaka
terkenal di kotaraja, periuk nasi mereka jelas akan
berantakan, demi gengsi mereka harus berusaba membekuk
dirimu dan tidak nanti melepaskan kereta ini begitu saja.
Sebab selain jalan ini, sesungguhnya memang teramat sulit
untuk mencari dirimu di dunia seluas ini. Jalan yang paling
baik adalah menguntit kereta ini, bila nona muncul untuk
bertemu denganku, maka mendadak merekapun akan
muncul."
"Kalau begitu, paling baik kau dan aku jangan bertemu
saja," ujar Soat Koh dengan tertawa.
"Sementara ini kukira tidak menjadi soal," kata Peng-say.
"Tapi kalau caramu bicara denganku seperti sekarang ini,
tentu dengan mudah akan dilihat oleh mereka dan inilah
yang berbahaya."
Soat Koh tidak sependapat, katanya: "Ah, dasar nyalimu
kecil seperti tikus. Jalan kecil dan sepi begini, siapa yang
akan lihat? Kuyakin sedikitpun tidak berbahaya."
Karena tidak sependapat, sekarang Soat Koh yang balas
mengolok kekuatiran Peng-say malah.
Tengah bicara, tahu2 kereta mereka sudah sampai di
jalan besar yang kedua tepi jalan banyak pepohonan
"Lekas tutup jendela, nona Soat!" seru Peng-say dengan
prihatin.
Tapi si nona lantas mendelik malah, omelnya: "Apa yang
kau takuti? Jika kau takut, boleh kau bersembunyi di dalam
kereta, biar aku sendiri yang mengendarai kereta ini."
"Wah, jika nona yang mengendarai kereta ini, biarpun
seratus tahil perak sehari juga aku tidak berani terima,
terpaksa kutinggalkan kereta dan berjalan kaki saja."
"Menangnya kenapa? Kau kira nonamu tidak sanggup
mengendarai kereta ini? Kau takut kereta ini akan terbalik
dan kau akan mati tertindih?"
"Tidak. aku tidak takut soal keretanya akan terbalik atau
tidak. Tapi bila kepergok rombongan Tan Goan-hay, bisa
jadi mereka mengira aku benar2 anak buahmu dan sekali
tusuk dengan pedangnya, kan aku bisa mati konyol nanti?"
"Upahmu sepuluh tahil sehari, masa kau takut mati lagi?'
"Sepuluh tahil sehari memang menarik, tapi jiwa terlebih
berharga Jika engkau tidak menurut nasihatku dan jiwaku
harus ikut melayang, wah, leoih baik kubatalkan hubungan
kerja kita ini."
Habis berkata mendadak ia menarik tali kendali dan
menginjak rem, lalu melompat turun dari tempat duduknya.
Meski di mulut Soat Koh bicara dengan ketus, tapi
sesunggubnya dia tidak mahir mengendarai keretanya.
Melihat Soat Peng-say mendadak mogok kerja, ia menjadi
gugup, serunya cepat: "He.jangan pergi dulu! Baiklah
kuturut padamu!"
-oo0dw0ooo-

Jilid 9
Dalam pada itu di sebelah sana mendadak terdengar
kumandang kuda lari yang riuh, waktu mereka memandang
kesana. tertampak debu mengepul ber-gulung2, lima
penunggang kuda sedang membedal ke sini dengan cepat.
Pandangan Peng say tangat tajam, sekilas lihat saja ia
lantas berteriak: "Wuh, celaka! Mereka benar2 mengejar
kemari!"
Menyusul Soat Koh juga dapat melihat siapa rombongan
pendatang itu, iapun menjerit kuatir: ”Wah, memang benar
mereka! Lekas, cepat!"
Segera Peng-say melompat lagi ke atas kereta dan
dilarikan secepat terbang.
Meski keempat ekor kuda penarik kereta itu sangat
tangkas, tapi apapun juga tak dapat membandingi
kecepatan lari seekor kuda dengan penunggangnya. Lama2
para pengejar itu sudah semakin dekat.
Soat Koh menjadi kuatir, serunya: "Aku akan sembunyi
dulu. hendaklah kau berusaha menipu mereka agar mau
pergi. . . ."
"Sejak tadi nona tidak mau turut nasihatku, sekarang
tiada gunanya lagi biar pun nona bersembunyi!" seru Peng-
say. "Jelas-jelas jejak nora di kereta ini sudah dilihat
mereka, makanya mereka mengejar dengan kencang. Jalan
satu2nya bila tersusul nanti adalah hadapi mereka dengan
mati2an."
"Tapi kau. . . ."
"Aku tidak menjadi soal, harap nona cepat mengalahkan
mereka."
"Bicara terus terang, akupun bukan tandingan mereka
berlima," tutur Soat Koh dengan menyesal.
"Jika nona tidak sanggup menandingi mereka dengan
sendirinya akan kubantu."
"Wah, tidak boleh jadi, Jilengcu," seru Soat Koh. "Jika
kau tidak membantu diriku mungkin jiwamu dapat
diselamatkan. Bila kau turun tangan jiwamu tentu akan
melayang percuma. Ingat, jangan sekali2 ikut turun tangan
membantuku."
"Betul juga ucapan nona," seru Peng-say dengan tertawa.
"Untuk mencari kayu masih boleh juga bagiku, kalau
berkelahi, wah, bisa runyam. Jangan2 jiwa akan melayang
percuma, maka bolehlah nanti aku hanya menonton
disamping saja."
Tidak lama kemudian kelima penungggang kuda itu bet-
turut2 sudah menyusul tiba. Li Yu-seng lantas meraung
disamping kereta: "Berhenti! Berhenti!
Peng-say menyengir terhadap orang she Li itu katanya:
"Baiklah. segera kuhentikan!" Mendadak ia injak rem dan
kereta itu lantas berhenti seketika.
Tan Goan-hay dan konco2nya tidak mengira Soat Peng-
say akan menghentikan keretanya secepat dan semendadak
begitu, mereka telanjur berpacu agak jauh ke depan baru
kemudian memutar balik.
Kelima orang lantas mengitari kereta. terdengar Tan
Goan-hay berseru: "Nona Soat, silakan keluar!"
"Eh. apa yang tuan2 kejar? Di keretaku ini tiada terdapat
nona Soat segala?!" ujar Peng say.
Li Yu-seng menjadi gusar dan mendamperat: "Anak
busuk, masih berani bohong kau!" Berbareng cambuknya
lantas menyabat.
"Aduh! Tolong!" teriak Peng-say. tampaknya seperti
ketakutan dan mendadak ia jatuh terjungkal ke bawah. Tapi
sabatan Li Yu-seng itupun dapat dihindarkannya.
Segera Li Yu-seng akan menyerang pula, tapi Tan Goan-
hay telah mencegahnya: "Nanti dulu, Li-heng!" Lalu ia
melompat turun dari kudanya dan mendekati Peng say,
jengeknya: "Sudahlah, silakan bangun saja, jangan kau
berlagak bodoh lagi!"
Peng-say meraba pantatnya dan merangkak bangun
dengan lambat2, katanya dengan menyengir: "Tuan ini ada
pesan apa?"
"Jangan saudara menganggap diriku orang buta,
hendaklah katakan terus terang, nona Soat pernah
hubungan apa dengan kau?" tanya Tan Goan-hay.
"Pekerjaanku mengendarai kereta, dengan sendirinya aku
ini kusir," kata Peng-say.
Sudah dua kali Tan Gom-hay melihat Peng-say
terjungkal dari keretanya, kalau pertama kalinya dia dapat
mengelakkan hantaman gada Ong Cin-ek masih dapat
dimengerti, tapi sabatan cambuk Li Yu seng juga dapat
dihindarkan, inilah yang tidak sederhana. Ia menjadi kuatir
kalau anak muda inipun pembantu tangguh maling
perempuan di dalam kereta itu, bila betul demikian halnya
tentu akan merepotkan juga.
Maka dengan kata2 baik dia coba membujuk. "Jika
engkau tiada hubungan khusus dengan nona Soat, kukira
tidak perlu engkau menjual nyawa bagi seorang perempuan,
apabila saudara tidak ikut campur urusan ini, tentu kami
takkan melupakan kebaikanmu."
Peng-say tetap berlagak bodoh dan menjawab: "Eh, tuan
ini apa tidak salah ucap. Bilakah pernah kujual nyawa bagi
orang perempuan, kalau mengadu jiwa dengan kawanan
kerbau dungu sih masih sanggup dan sekali ingin kucoba."
"Bagus, boleh kita coba2," bentak Li Yu-seng.
"Ai, masa tuan ini mengaku dirinya sendiri sebagai
kerbau dungu?" kata Peng-say dengan tertawa. "Wah,
kebetulan jika begitu, untuk menghadapi kawanan kerbau
dungu memang agak repot bagiku, tapi kalau melayani
seekor kerbau dungu sih tidak menjadi soal."
Saking gemasnya sampai air muka Li Yu-seng berubah
menjadi merah padam, mendadak ia berpaling kepada Tan
Goan-hay dan berkata: "Tan toako, keparat ini serahkan
saja padaku, bila tidak kubinasakan dia, aku bersumpah
tidak she Li lagi!"
Tan Goan-hay memang orang yang sangat sabar dan
dapat menahan perasaannya, marah atau gembira tidak
kelihatan di luar, ia hanya mendengus: "Li-heng. kukira
lebih penting kita berusaha merampas kembali benda
pusaka yang hilang daripada bertengkar dengan orang
macam begini?"
"Anak busuk ini memaki kita sebagai kawanan kerbau
dungu. masa Tan-toako tidak dengar?!" ujar Li Yu-seng
dengan gemas.
"Tapi dia tidak langsung tunjuk hidung dan memaki kita,
untuk apa digubris?" ujar Tan Goan-hay.
"Nah, kan begitu," kata Soat Peng say dengan tertawa.
"Kalau dia merasa dirinya tersinggung, itu kan salahnya
sendiri."
"Apakah anda memang sengaja hendak ikut
berkecimpung di dalam air keruh ini?" tanya Tan Goan-hay
tiba2.
Peng-say sengaja balas bertanya: "Ikut berkecimpung di
dalam air keruh apa maksudmu?"
The Kim ciam tidak tahan rasa gemasnya, ia
membentak: "Keparat, kau benar tidak paham atau pura2
dungu?"
"Benar2 tidak paham dan pura2 dungu bagaimana?"
Peng-say sengaja mengacau.
Sedapatnya Tan Goan-hay menahan perasaannya,
katanya pula dengan tenang: "Anda tidak paham ikut
berkecimpung di dalam air keruh, bahkan, akan kutanya
dengan perkataan lain: Cara bagaimana akan kau hadapi
persoalan ini?"
"Persoalan apa?" tanya Peng-say.
Ko Kong-lim, si ahli golok dari Kwitang dan si ahli
pukulan dari Hopak, Tan Yam-bok, yang sejak tadi hanya
menonton saja. kini mendadak membentak bersama:
"Keparat, dirodok! Bunuh saja lebih dulu!"
Kedua orang lantas melompat turun dari kudanya, di
sebelah sana The Kim-ciam dan Li Yu-seng juga ikut
melompat turun. Tampaknya mereka berempat benar2
teramat gemas terhadap Soat Peng-say dan ingin
membinasakan anak muda itu.
Cepat Tan Goan-hay menggoyang tangan dan
mencegah, katanya pula dengan tenang: "Jika anda
memang tidak paham apapun, baiklah, tidak perlu kau
tanya lagi, silakan kau berdiri di samping saja, mau?"
"Memangnya aku ingin menonton saja di samping, tidak
perlu disilakan olehmu," jawab Peng-say tak acuh. Lalu ia
melangkah ke tepi jalan dan berduduk di bawah pohon
sana.
The Kim-ciam berempat mengira anak muda itu sudah
jeri, mereka sama mendengus.
"Awas, jangan sampai budak itu sempat melepaskan
panah gelap, kita harus waspada," desis Tan Goan-hay
kepada kawan2nya.
Terkesiap juga keempat orang itu demi mendengar
perintah Tan Goan-hay, kembali mereka mengitari kereta
dengan was-was.
Saat itu Soat Koh memang sudah siap akan
membidikkan panahnya selagi lawan tidak ber-jaga2, tak
terduga Tan Goan-hay mengingatkan konco2nya sehingga
gagal maksud si nona, keruan ia sangat mendongkol, ia
tahu Tan Goan-hay berlima bukan lawan empuk, jika
mereka sudah ber-hati2, percumalah ia melepaskan
panahnya.
Maka terdengarlah Tan Goan-hay berseru: "Nona Soat,
silahkan keluarlah!"
Sedikitpun Soat Koh tidak punya akal untuk mengatasi
musuh, jika bertempur berhadapan jelas pasti akan kalah.
Karena merasa takut, untuk sementara ia tidak berani
memperlihatkan diri.
"Masa masih mau sembunyi pula?" teriak The Kim-ciam.
"Memangnya kau kira kami tidak melihat dirimu. . . Hm,
ketahuilah, begitu kereta ini membelok kejalan simpang
segera kami melihat wajah nona!"
Tan Yam-bok lantas menyambung: "Tak tersangka nona
ternyata bersembunyi di pegunungan, betapapun dugaan
Tan-toako memang tepat, beliau bilang keretamu menuju ke
tempat sepi tanpa penduduk, besar kemungkinan hanya
untuk menjemput nona, maka kami cukup berjaga saja di
tengah jalan untuk mencegat. Ternyata betul. akhirnya
nona muncul juga di sini."
"Haha, perkiraan ngawur masa kau anggap dugaan
tepat? Sungguh menggelikan!" sela Peng-say dengan
tertawa.
"Jika tidak tepat dugaanku, mengapa kaubawa keretamu
ke daerah pegunungan ini?" ujar Tan Goan-hay yang sok
pintar.
"Tentang ini, jika kau memang pintar, coba kau terka!"
kata Peng-say.
"Bila penguntitan kami sampai terlepas, anggaplah kami
ini memang maha tolol," kata Tan Goan-hay.
"Ujung jalan raya ini banyak sekali jalan simpangan, tapi
semua jalan desa dan tidak mungkin dilalui oleh kereta.
Kau sengaja Memilih jalan yang jarang dilalui kereta agar
kami kehilangan jejak atau sukar mencari keterangan,
tampaknya jalan pikiranmu memang pintar, tapi kau lupa
bahwa di mana keretamu lewat, di situ pula pasti
meninggalkan bekas roda, semakin sepi jalan yang kau
lalui, semakin mudah pula dikenali bekas rodanya,"
demikian The Kim-ciam menambahkan.
"Kau kira kami akan bingung dan kesasar di jalan
persimpangan, jalan pikiranmu ini sungguh lebih dungu
daripada kerbau," Tan Yam-bok ikut ber-olok2.
"Dungu seperti kerbau", ejekan ini membuat Soat Peng-
say menunduk malu. Pikirnya: "Sungguh nista yang tepat,
wahai Soat Peng-say, betapapun kau memang masih hijau,
kaupikir dengan sembunyi satu malam di pegunungan sini
lantas dapat melepaskan penguntitan mereka, pikiran ini
sungguh teramat dungu dan goblok."
Karena mendapat kesempatan untuk memaki dan
menyindir, Ho Kong-lim lantas ikut menimbrung:
"Sungguh anak yang pintar. caramu melepaskan diri dari
penguntitan agak terlalu hebat. Sayang sinar bulan semalam
kurang terang, Tan-toako kuatir rombongan akan tersesat di
pegunungan, kalau tidak, diam2 kita bekuk kedua lelaki
perempuan anjing yang sedang main pat-gulipat di atas
gunung sana, wah, tentu ada tontonan yang sangat
menarik."
Semua olok2 itu membuat Soat Peng-say sangat malu, ia
memaki dirinya sendiri yang terlalu goblok, saking
menyesalnya sampai ucapan Ho Kong-lim yang tidak
senonoh itupun tidak sempat dibantahnya.
Kuatir dari malu Soat Peng-say akan menjadi gusar,
cepat Tan Goan-hay menyela: "Sudahlah, jangan omong
lagi, kukira Jilengcu inipun tidak sebodoh seperti apa yang
kita katakan. tentu dia sengaja pergi ke sana untuk
menjemput nona Soat sehingga tidak mengetahui
penguntitan kita."
Di antara rombongan Tan Goan-hay itu Li Yu seng
terhitung paling bebal, tadi dia belum sempat ikut ber-olok2,
sekarang iapun tidak mau ketinggalan dan ingin
memperlihatkan kemahirannya berputar lidah, katanya:
"Kalau goblok ya tetap goblok, buat apa Tan-toako
membela dia. Coba pikir, masa tidak ada tempat lain,
kenapa mesti pilih jalan pegunungan yang sepi? Dia anggap
tempat yang sepi lebih sukar dikuntit, tak tahunya justeru
terbalik, tempat yang ramailah yang sulit dikuntit."
"Ah, kukira ucapan Li-heng tidak betul!' mendadak Ho
Kong-lim menimpali.
Otak Li Yu-seng memang kurang lincah, ia tidak tahu
maksud temannya, dengan marah ia bertanya: "Apa, tidak
betul?"
"Kukatakan tidak betul tidak berarti ucapan Li-heng itu
salah," kata Ho Kong-lim. "Maksudku Li-heng tidak
berpikir bagi kepentingan mereka berdua, tempat yang sepi
memang semakin mudah dikuntit. tapi juga tempat yang
bagus untuk pertemuan gelap antara lelaki dan perempuan.
Apakah mungkin mereka malah main di tempat ramai dan
mengadakan pertunjukan di depan umum?"
"Hahahaha! Betul, betul!" seru Li Yu-seng dengan
bergelak tertawa.
Semakin kelam air muka Soat Peng-say, tapi ia tetap
menahan perasaannya, ia pikir bila dirinya memberi reaksi,
tentu orang2 itu akan mentertawakan dia dan menganggap
dia dari malu menjadi gusar. Karena itulah ia tetap diam
saja tanpa menggubris ejekan mereka.
Olok2 dengan kata kasar begitu bagi orang lelaki
biasanya tidak menjadi soal, tapi bagi perempuan tentu saja
lain. Dengan pedang terhunus segera Soat Koh melangkah
keluar dari keretanya.
"Aha, Akhirnya nona keluar juga," seru Ho Kong-lim
dengan ter-bahak2. "Kukira engkau tetap tidak mau keluar
dan minta dibakar!"
"Kau harus mati!" kata Soat Koh dengan gemas.
"Betul, kau harus mati," jawab Ho Kong-lim dengan
cengar-cengir. "Cuma terasa sayang juga bila kami harus
membunuh kau, kalau dipenjarakan tentu kaupun akan
meringkuk sia2 disana mengingat usiamu yang masih muda
belia. Kukira begini saja, lekas serahkan barang curianmu,
lalu temani kami berlima satu orang satu malam, habis itu
kami akan memberi ampun dan membebaskan kau, nah,
mau?"
Betapapun juga Tan Goan-hay dan The Kim-ciam
terhitung anak murid perguruan terhormat, cepat mereka
membentak: "Ho-heng!"
Pada saat itu juga mendadak terdengar suara jepretan,
"ser-ser", beberapa panah kecil lantas menyambar ke arah
Ho Kong-lim.
Biarpun mulutnya kotor, tapi Kungfu Ho Kong-lim
memang tidak lemah, ilmu permainan golok Toan-bun-to
sudah cukup sempurna terlatih, dia putar goloknya seperti
kitiran, semua panah kecil yang dibidikkan Soat Koh dapat
disampuk jatuh.
Kuatir terjadi apa2 atas diri Ho Kong-lim, hal ini berarti
akan kehilangan seorang pembantu yang kuat. maka cepat
Tan Goan-hay berempat menubruk maju dan melancarkan
serangan.
Soat Koh memainkan kedua pedangnya, tanpa gentar ia
hadapi kerubutan kelima orang itu. Pedangnya bergerak
lincah dan cepat, serangannya ganas dan aneh. Namun
pihak lawan juga tiada satupun yang lemah. Di bawah
kerubutan jago yang berpengalaman itu, lambat laun
permainan pedang Soat Koh menjadi lamban.
Tan Goan-hay juga dapat melihat pedang kiri Soat Koh
tidak lebih kuat daripada pedang kanan, maka mereka
lantas mencecar bagian yang lemah itu, tidak lama
kemudian keadaan Soat Koh berbalik terancam.
Peng-say berduduk di bawah pohon sana dan
memandangi bayangan punggung Soat Koh, menurut
pikirannya, dikerubutnya Soat Koh sama saja seperti Cin
Yak-leng yang sedang dikeroyok. Ia lihat ilmu pedang Soat
Koh sangat aneh, sebenarnya ia ingin mengikuti permainan
pedang si nona dengan se-jelas2nya, tapi demi melihat Soat
Koh mulai kewalahan, cepat ia menjemput sepotong
tangkai kayu dan berbangkit, bentaknya: "Lima lelaki
mengeroyok seorang anak perempuan, hm, tidak tahu
malu! Hayo, bagi dua orang untuk menghadapi diriku!"
Dari suara bentakan Peng-say itu, Tan Goan-hay dan
The Kim-ciam dapat memperkirakan kekuatan anak muda
itu pasti di atas nona she Soat. Diam2 mereka kuatir bila
kawan lain yang diharuskan menghadapi Soat Peng-say,
maka mereka berdua lantas mendahului memapak si anak
muda.
Dengan menyingkirnya Tan Goan-hay dan The Kim-
ciam, tekanan pada Soat Koh lantas banyak berkurang.
meski nona itu belum dapat mengalahkan ketiga
pengerubutnya, tapi untuk bertahan kiranya jauh daripada
cukup.
Soat Koh juga kuatir Peng-say tidak mampu melawan
Tan Goan-hay berdua dan akan mati konyol, maka cepat ia
berseru: "Jilengcu, kau boleh menonton saja disamping,
tidak perlu ikut campur!"
"Hahahaha!" Peng-say bergelak tertawa, "Tidak bisa,
apapun juga aku harus ikut campur. Jangan kuatir. aku
pernah belajar silat."
"Memangnya jurus memotong kayu juga akan kau
pamerkan di sini?" Soat Koh sengaja mengejek.
Dalam pada itu Peng-say sudah terlibat dalam
pertandingan dengan Tan Goan-hay berdua, ia gunakan
tangkai kayu untuk menangkis pedang lawan sambil
berseru: "Demi menyelamatkan kau, terpaksa harus
kupamerkan jurus memotong kayu di sini!"
"Andaikan aku tak dapat melawan mereka dan terbunuh
juga bukan urusanmu!" seru Soat Koh.
"Tidak boleh terjadi," teriak Peng-say dengan tertawa.
"Kalau kau mati, upah sehari sepuluh tahil siapa yang akan
bayar padaku?"
Waktu Soat Koh melirik kesana, dilihatnya anak muda
itu memutar tangkai kayunya menghadapi serangan Tan
Goan-hay berdua dengan cara2 yang teratur, mana ada
jurus memotong kayu segala? Baru sekarang ia tahu anak
muda itu sengaja berlagak bodoh, yang benar ilmu silatnya
ternyata tidak lebih rendah daripadanya. Dengan tertawa ia
lantas mengomel: "Demi mendapatkan upah sehari sepuluh
tahil perak kau lantas mau mengadu jiwa, kau benar2
menusia yang mata duitan!"
Sementara itu Li Yu-seng bertiga lantas menyerang
dengan segenap kepandaian mereka sehingga Soat Koh
tidak sempat memperhatikan Peng-say lagi.
Mendadak didengarnya Peng-say berteriak. Soat Koh
terkejut, cepat ia bertanya: ”Kenapa kau. Ji-lengcu?"
"Wah, celaka! Pedangku patah!" teriak Peng-say.
Padahal yang dipegangnya cuma sepotong kayu darimana
ada pedang?
Tapi Soat Koh tahu yang dimaksud "pedang" oleh anak
muda itu adalah tangkai kayu yang dipegangnya, segera ia
bertanya: "Dengan bertangan kosoog kau sanggup bertahan
berapa lama?"
"Setanakan nasi mungkin tidak menjadi soal!" seru Peng-
say.
"Baiklah, bertahan sekuatnya, akan kukirim pedang
padamu," kata Soat Koh.
Mendengar si nona hendak memberi pedang kepada
Peng-say, tentu saja Li Yu-seng bertiga tidak mau memberi
kesempatan padanya, mereka mengepung terlebih rapat.
Dalam keadaan demikian, biarpun Soat Koh tidak sampai
kalah, untuk membobol kerubutan ketiga lawan terasa sulit
juga.
Di pihak sana, biarpun ilmu pedang Soat Peng-say cukup
tinggi. cuma sayang, senjatanya hanya setangkai kayu
sehingga sukar mengeluarkan Siang-liu-kiam-hoat yang
dikuasainya itu Apalagi setengah bagian Siang-liu-kiam-
hoat juga tiada kelihayan yang istimewa.
Serangan andalannya yang berwujut tiga jurus gabungan
dua pedang sekarang sukar dilontarkan, sebab kedua
pedang yang biasa digunakannya ketinggalan di Siau-ngo-
tay-san ketika dia meninggalkan tempat itu dengan ter-
gesa2, sekarang dia cuma menggunakan setangkai kayu,
dengan sendirinya tak dapat main dengan leluasa. Padahal
sekalipun dia diberi pedang, kalau tiada perlengkapan rantai
khusus juga tiada gunanya.
Sedangkan ilmu pedang Tan Goan-hay sendiri juga
cukup lihay, ditambah lagi permainan tongkat The Kim-
ciam, tentu saja Peng-say tak dapat bertahan lama, ketika
dia habis memainkan ke-49 jurus Siang-liu-kiam-hoat dan
hendak mulai dari jurus pertama lagi, kesempatan itu segera
digunakan oleh Tan Goan-hay, sekali tabas tangkai kayu
Soat Peng-say itu terpapas patah.
Karena tak dapat memainkan ilmu pedang lagi, terpaksa
Soat Peng-say menggunakan ilmu pukulan Bu-tong-pay
yang dipelajarinya dari Siang-jing-pit-lok, ia pikir untuk
sementara sedapatnya menahan serangan musuh, bila Soat
Koh memberikan pedang padanya barulah dia akan
memainkan Siang-liu-kiam hoat pula.
Melihat pergantian Kungfu Soat Peng-say itu, mendadak
Tan Goan-hay berhenti menyerang dan bertanya: "Apakah
anda murid Bu-tong-pay?"
Dengan menahan tongkatnya The Kim-ciam juga
berseru: "Selamanya Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay ada
hubungan yang erat, apakah anda murid Sau Peng-lam,
Sau-toako?"
Sau Peng-lam yang disebut itu adalah tokoh utama
murid Bu-tong pay angkatan ketujuh, ilmu silatnya hanya
sedikit di bawah ketua Bu-tong-pay sekarang, yaitu Tong-
thian Totiang.
Melihat usia Peng-say masih sangat muda, tapi ilmu
pedangnya sangat aneh, bahkan ilmu pukulannya yang
bergaya Bu-tong-pay juga sangat kuat, maka The Kim-ciam
mengira Peng-say pasti murid Sau Peng-lam, yaitu orang
Bu-tong-pay dari keluarga preman.
Tapi Peng-say sama sekali tidak kenal siapa orang yang
disebut itu, ia berbalik menegas: "Sau Peng-lam?"
The Kim-ciam jadi salah paham lagi, dilihatnya Peng-say
berani menyebut nama Sau Peng-lam, disangkanya anak
muda ini satu angkatan dengan Sau Peng-lam, maka ia
bertanya pula: "Apakah mungkin kau ini murid Bu-tong
angkatan ketujuh yang pakai nama 'Peng'? Cara bagaimana
kau memanggil Tong-thian Supek?"
Ketua Siau-lim-pay sekarang, Un-goan Taysu lebih muda
beberapa tahun daripada Tong-thian Totiang. sedangkan
The Kim-ciam adalah murid terkecil Un-goan Taysu,
hubungan antara Un-goan Taysu dan Tong-thian Totiang
sangat erat, maka The Kim-ciam kenal baik dan menyebut
Supek kepada Tong-thian, jadi tingkatannya sama dengan
Sau Peng-lam, makanya iapun menyebut Sau Peng-lam
sebagai Sau-toako. Dia tidak menduga bahwa Peng-say
bukanlah murid Sau Peng-lam, jika demikian, seyogianya
hanya Tong-thian Totiang saja yang dapat mendidik murid
sehebat ini.
Tak tersangka Soat Peng-say tetap tidak peduli siapa itu
Tong-thian Totiang segala. ia menegas pula: "Tong-thian. "
"Kau berani langsung menyebut nama Tong-thian
Supek?!" bentak The Kim-ciam.
"Kenapa tidak berani?" jawab Peng-say. "Konon Tong-
thian adalah ketua Bu-tong-pay, aku bukan murid Bu-tong,
jika namanya memang Tong-thian, kenapa aku tidak boleh
menyebut namanya?"
"Kau bukan murid Bu-tong-pay?" Tan Goan-hay dan
The Kim-ciam menegas bersama. Tentu saja mereka tidak
percaya,
"Jadi kalian tidak percaya?" tanya Peng say.
"Anda jelas2 murid Bu-tong. tapi tidak mau mengakui
sebagai murid Bu-tong, tahukah kau bahwa perbuatan
mengingkari perguruan adalah dosa yang tak dapat
diampuni dan setiap orang boleh membunuhnya?!" kata
The Kim-ciam dengan kereng.
Peng-say melangkah maju setindak, katanya:
"Tampaknya kau tidak percaya pada keteranganku. Padahal
Bu-tong-pay adalah perguruan ternama, mengaku anak
murid Bu-tong-pay kan meninggikan harga diriku, kenapa
aku mesti menyangkal? Soalnya aku memang bukan murid
Bu-tong-pay, mana boleh Cayhe mengaku tanpa berdasar?"
Habis berkata, mendadak ia melayang keluar.
"Berhenti!" bentak Tan Goan-hay dan The Kim-ciam
bersama. Jika Soat Peng-say benar bukan anak murid Bu-
tong-pay, cara menyerang mereka menjadi tidak kenal
ampun, pedang dan tongkat sekaligus mengincar tempat
mematikan di tubuh Soat Peng-say.
Namun gerak tubuh Peng-say teramat cepat dan gesit.
pula dia mendahului bergerak, senjata lawan tidak mampu
merintangi kepergiannya.
Soat-koh dapat melihat tindakan Peng-say itu, mendadak
iapun membentak nyaring, segera kedua pedangnya
menyerang, mestinya Li Yu-seng bertiga dapat
mematahkan serangan si nona, cuma pada saat itu juga
mereka terdengar suara Soat Peng-say melayang tiba dari
belakang, mereka kuatir disergap. maka cepat mereka
melompat ke samping untuk menghindar.
Dengan demikian dapatlah Peng-say bergabung dengan
Soat Koh. Cepat si nona melemparkan pedang kiri kepada
Peng-say. Meski terasa agak enteng maklum pedang milik
anak perempuan, tapi apapun juga senjata tajam kan lebih
baik daripada menggunakan ranting kayu. Semangat Peng-
say terbangkit seketika, dengan punggung menempel
punggung mereka menghadapi musuh dengan
menggunakan pedang kiri dan pedang kanan.
Soat Koh sekarang hanya memainkan sebilah pedang
saja, meski daya tempurnya agak berkurang tapi
kemahirannya memang terletak pada permainan pedang
kanan. maka caranya menyerang dan bertahan menjadi
lebih lincah, apalagi bagian belakang telah dijaga oleh Soat
Peng-say, kini dia hanya menghadapi tiga jurusan saja,
dengan sendirinya jauh lebih enteng daripada tadi.
Peng-say juga begitu, dia tidak perlu memikirkan
sergapan musuh dari belakang, tapi memusatkan
perhatiannya menghadapi kedua musuh di depan.
Semula Tan Goan-hay dan The Kim-ciam berada di atas
angin. baik menyerang dari muka dan belakang atau
mengerubut dari kanan-kiri. Tapi sekarang mereka hanva
dapat menyerang dari depan. untuk ini Peng-say cukup kuat
untuk bertahan sehingga untuk sekian lama keadaan
berjalan dengan seimbang. Dalam keadaan demikian,
dengan sendirinya yang menentukan sekarang adalah
keuletan belaka asalkan salah seorang tidak sanggup tahan
lama segera akan kelihatan kalah atau menang. Padahal
Tan Goan-hay berlima rata2 berusia antara tiga-empat
puluhan, kekuatan mereka jelas di atas Peng-say dan Soat
Koh, dalam hal keuletan jelas tidak menjadi soal.
Sebaliknya Peng-say dan Soat Koh jauh lebih muda,
pengalaman tempur juga kurang. Mendingan Soat Peng-
say, tapi Soat Koh jelas tidak sanggup bertahan lama,
pembawaan anak perempuan juga lebih lemah daripada
anak lelaki, apalagi kekuatannya memang selisih jauh
dibandingkan lawan Jika berlangsung lebih lama lagi bukan
mustahil Soat Koh akan terluka, bila si nona sudah terluka
dan kehilangan daya tempur, Peng-say sendiri pasti juga
tidak sanggup bertahan, akhirnya dia pasti juga akan mati
konyol.
Dengan perhitungan ini. Tan Goan-hay berlima
bertempur dengan tenang dan sabar, mereka sengaja
menunggu bila Soat Koh sudah lemah dan tak tahan, laiu
mereka akan melancarkan serangan gencar untuk
merobohkan Soat Peng-say.
Tapi sebelum kehabisan tenaga, kelihatan Soat Koh
sudah tidak tahan lagi. Dia bertempur dengan saling
membelakangi dengan Peng say, dalam hal siasat tempur
memang sangat baik, tapi juga disinilah timbulnya
kelemahan.
Dia dan Peng say memainkan pedang dengan tangan
kanan dan tangan kiri, dalam keadaan punggung menempel
punggung, tangan kedua orang yang memainkan pedang
menjadi saling mengganggu, kalau bukan siku Soat Koh
menyenggol tangan Peng-say, tentu Peng-say yang
menyikut lengan Soat Koh.
Bilamana kedua orang sama2 menggunakan tangan
kanan dan berdiri saling membelakangi, tentu takkan timbul
kerepotan ini. Justeru Peng say tidak mahir menggunakan
tangan kanan, hanya dapat memainkan pedang kiri, kini ia
berdiri mungkur bersama Soat Koh, dengan sendirinya
kedua orang lantas terjadi saling menyikut.
Padahal pertarungan diantara jago2 silat tidak boleh
lengah sedikit pun, karena tersenggol dan tersikut, serangan
jadi terganggu, tentu saja Soat Koh menjadi sukar
menghadapi serangan maut Li Yu-seng bertiga.
Peng-say sendiri tidak tahu cara bagaimana harus
menghindari sentuhan dengan Soat Koh, keduanya berdiri
mungkur, tentu saja sukar untuk melihat kebelakang.
Suatu ketika, mungkin Peng-say terlalu kuat
menggunakan tenaga, dengan tepat ia menyikut lengan Soat
Koh yang sedang ditarik ke belakang. Keruan si nona
menjerit kesakitan, dengan susah payah dia harus
melancarkan beberapa gerakan kilat untuk menyelamatkan
diri akibat sentuhan tersebut. Diam2 Soat Koh
mendongkol, ia pikir terlalu berbahaya jika keadaan
demikian berlangsung terus.
Segera ia mengomel: "Jilengcu, tidakkah kau dapat
memainkan pedangmu dengan tangan lain?"
"Jika aku diharuskan menggunakan tangan kanan, sama
saja suruh aku mengangsurkan kepalaku untuk dipenggal
musuh," ujar Peng-say dengan menyengir.
"Memangnya kenapa dengan tangar kananmu? Apakah
buntung?" tanya Soat Koh.
"Buntung sih tidak, cuma tangan kananku hanya dapat
pegang sumpit untuk makan nasi, sama sekali tidak sanggup
menggunakan pedang," tutur Peng-say.
Soat Koh tidak tahu bahwa sejak mula Peng-say berlatih
ilmu pedangnya dengan tangan kanan terikat. Jadi tangan
kanan tidak pernah digunakan berlatih Siang-liu-kiam-hoat
itu, bilamana dia diharuskan menggunakan tangan kanan,
sama saja dia disuruh mengantarkan nyawa. Padahal anak
muda itu telah banyak membantunya, jika sekarang ia
memaksanya mengganti tangan sehingga membahayakan
jiwanya, betapapun tindakan ini agak keterlaluan dan tidak
tahu budi.
Teringat demikian, Soat Koh tidak dapat bicara lagi.
Celakanya, sejenak kemudian iapun membentur tangan
Peng-say, menyusul anak muda itu lantas menyikutnya
pula. Meski ganggunn ini segera dapat diperbaikinya, tapi
cambuk Li Yu-seng tidak urung sempat menyabat pada
bahunya.
Syukur Soat Koh bertahan sekuatnya sehingga tidak
sampai menjerit sakit. Hal ini tidak diketahui Soat Peng-
say. Tidak lama kemudian kembali ia menyikut Soat Koh
sekali lagi.
Mau-tak-mau Soat Koh menjadi gemas, segera ia
memaki: "Orang mampus! Kenapa tidak hati2 sedikit,
sebentar2 menyikut! Kau kira orang tidak sakit?"
Peng-say menghela napas menyesal, katanya: "Nona
Soat, kedua tanganmu dapat kau gunakan, kenapa kau
tidak menggunakan tangan kiri saja?"
"Huh, kalau jiwamu berharga, apakah jiwaku tidak
berharga sehingga aku yang harus berganti tangan?" jengek
Soat Koh.
Rupanya ilmu pedang Soat Koh itupun hanya cocok
dimainkan dengan tangan kanan, meski tangan kiri juga
dapat memainkannya, tapi tak dapat digunakan tanpa kerja
sama tangan kanan, bila cuma tangan kiri saja yang
digunakan, maka kekuatannya tidak berbeda banyak
daripada Soat Peng-tay berganti tangan.
"Bukan begitu maksudku," kata Peng-say pula. "Jika
dapat ganti tangan boleh kau ganti, kalau tidak dapat ya
tidak kupaksa. hanya saja . . . . "
"Hanya apa?" tanya Soat Koh.
Lantaran serangan Tan Goan-hay dan The Kim-ciam
bertambah gencar. terpaksa Peng-say harus memusatkan
perhatian untuk menangkis serangan sehingga tidak sempat
menjawab.
"Hanya apa?" demikian Soat Koh bertanya pula.
Dengan beberapa gerakan aneh dapatlah Peng-say
mematahkan serangan musuh, keadaanya menjadi longgar
lagi. maka dapatlah ia menjawab. "Jika keadaan demikian
berlangsung terus, akhirnya jiwa kita pasti akan melayang
di sini."
Teringat kepada nasib sendiri, ayah kandung tidak
diketahui, Cin Yak-leng jatuh didalam cengkeraman orang
jahat pula, dan sekarang dirinya sendiri akan binasa, ia
menjadi menyesal dan menghela napas pnnjang.
"Jangan kau perlihatkan rasa takut matimu," teriak Soat
Koh. "Jika kau takut mati, pergilah kau, aku tidak
memerlukan bantuanmu lagi."
Sudah tentu Peng say bukan manusia vang takut mati, ia
mendongkol oleh ucapan Soat Koh itu, tapi tidak
dihiraukannya.
"Hayolah pergi, lekas kau pergi saja!" desak Soat Koh
pula.
Peng-say menjawab dengan tertawa; "Ditemani gadis
cantik, biarpun mati bersama juga rela aku."
Soat Koh melengak, mendadak ia berkata pula: "Kau
tidak mau pergi, biar aku saja yang pergi." Habis itu
mendadak ia memisahkan diri.
Keruan Peng-say menjadi kuatir, serunya cepat:
"Jangan!"
Soat Koh masih berdiri di sebelahnya dan menjengek:
"Tidak perlu kuatir, urusanku sendiri tidak nanti kusuruh
kau bertanggung-jawab sendirian dan kutinggal pergi."
"Nona jangan salah paham," demikian Peng-say
berusaha memberi penjelasan sembari bertempur. "Sekali
kita berpisah, tentu kita akan kalah terlebih cepat."
"Hm, dasar takut mati, lekas kau pergi saja!" jengek Soat
Koh. "Mulai sekarang, urusan nona tidak perlu kau ikut
campur lagi, kembalikan pedangku itu!"
Karena dirinya dimaki takut mati, keruan gusar Peng-say
tidak kepalang.
Kesempatan itu segera digunakan Tan Goan-hay untuk
memecah-belah: "Nah, saudara cilik, baru sekarang kau
tahu rasa. Untuk apalagi kau mengadu jiwa bagi seorang
perempuan yang tidak tahu diri?"
Mendadak Soat Koh menabas tiga kali sambil
membentak: "Enyah!"
Melihat si nona menjadi nekat, Li Yu-seng bertiga
menjadi keder malah, mereka kuatir si nona akan
menerjangnya. karena itulah serangan mereka menjadi
kendur.
Kesempatan itu tidak di sia2kan Soat Koh, cepat ia
menerobos keluar kepungan, tapi ia tidak kabur, sebaliknya
ia lantas berteriak: "Urusanku tiada sangkut-pautnya
dengan bocah she Tio itu, silakan kalian terjang diriku, bila
kukalah. ketujuh benda pusaka segera kuserahkan kepada
kalian."
Tan Goan-hay dan The Kim-ciam memang tiada
maksud bermusuhan dengan Soat Peng-say, segera mereka
berhenti menyerang demi mendengar seruan Soat Koh itu,
kata Tan Goan hay: "Tentunya tidak mudah saudara cilik
melatih Kungfumu ini, silakan kau pergi saja, kami takkan
mempersulit padamu."
"Betul, lekas enyah saja kau!" teriak Soat Koh.
Dengan gusar Soat Peng-say membalik tubuh terus
melangkah pergi.
Tan Goan-hay dan The Kim-ciam sangat girang melihat
kepergian Soat Peng-say, bersama Li Yu-seng bertiga, tanpa
berjanji mereka terus menerjang Soat Koh.
Terjangan mereka sangat hebat, Soat Koh tidak sempat
meminta kembali pedangnya kepada Peng-say. pedang
tangan kanan segera menabas kedepan. Ia pikir dengan dua
pedang saja bukan tandingan kelima musuh, kini tersisa
sebuah pedang saja, mungkin sepuluh jurus saja tak tahan.
Di luar dugaan, baru saja pedangnya bergerak, tahu2
Soat Peng-say melayang turun dari udara. Rupanya Soat
Peng say sangat gusar karena Soat Koh berulang kali
berteriak menyuruhnya enyah. Tapi demi melihat Tan
Goan-hay berlima menerjang seorang gadis, ia menjadi
tidak sampai hati untuk tinggal pergi. Belum sampai kelima
musuh mendekati Soat Koh, segera ia melayang ke atas dan
mendahului turun di samping si nona serta membantunya
dengan satu jurus "Kiong-siang-kut-thau", yaitu jurus
pertama dari Siang-liu-kiam-hoat, untuk menghalau musuh.
Ketika mendadak Soat Koh mengetahui disampingnya
telah bertambah seorang, sekilas lirik dilihatnya ialah Soat
Peng-say, segera ia membentak: "Siapa suruh kau . . . . "
belum lanjut ucapannya, pedang kanan yang ditabaskan itu
telah menimbulkan jeritan ngeri tiga orang.
Waktu Soat Koh memandang kesana. dilihatnya Li Yu-
seng, Ho Kong-lim dan Tan Yam-bok bertiga yang berdiri
sejajar itu telah terluka dadanya oleh tabasan pedangnya.
Karena waktu itu dia sedang melirik ke samping
sehingga tidak jelas cara bagaimana musuh dilukainya, Soat
Koh menjadi heran dan memandang ketiga pecundangnya
dengan bingung.
Untung Tan Goan-hay dan The Kim-ciam menjaga
gengsi, mereka tidak mengerubut senapsu ketiga temannya,
maka mereka berdua tidak ikut terluka. Sungguh mereka
tidak melihat sesuatu keistimewaan pada tabasan pedang
Soat Koh itu, tapi buktinya sudah melukai ketiga temannya,
apalagi sekarang cepat Peng-say telah putar balik membela
si nona, jika pertarungan diteruskan jelas pihaknya pasti
kalah.
Dalam pada itu The Kim-ciam sudah mulai mengangkat
tubuh Li Yu-seng, segera Tan Goan-hay juga menyisipkan
pedangnya ke tali pingang, ia kempit Ho Kong-lim dan Tan
Yam-bok dengan kedua tangan, mereka hanya melototi
Soat Koh sekejap, tanpa bicara apapun mereka terus berlari
pergi.
Sementara itu darah segar masih ber-ketes2 di ujung
pedung Soat Koh, ia berdiri termangu2, ia tidak tahu
mengapa hal itu bisa terjadi, betapapun ia tidak dapat
memahami kejadian itu.
Tapi Soat Peng-say malahan mulai paham duduknya
perkara Ia pikir jurus Kiong-siang-kut-thau yang
dikeluarkannya tadi jelas berhasil mengatasi musuh,
lantaran itulah Li Yu-seng bertiga tidak mampu
menghindarkan tabasan pedang Soat Koh.
Kiranya tadi Li Yu-seng bertiga menerjang maju berjajar,
saat itu Soat Koh lagi membentak Peng-say agar enyah,
dengan sendirinya gerak pedangnya agak lambat. Maka
serangan yang dilontarkan Peng-say itu meski ketinggalan
sejenak darj pada serangan Soat Koh tadi, jadinya dapat
bekerja sama dengan sangat rapat, hasilnya sekejap itu Li
Yu-seng bertiga berusaha menghindarkan serangan Peng-
say, tapi lupa bahwa disamping itu masih ada pula serangan
Soat Koh dan tahu2 dada mereka terobek.
Apa yang terjadi itu dapat dilihat Peng-say dengan jelas,
ia tahu hal ini tidak terjadi secara kebetulan belaka. Dalam
keadaan itu, bilamana ketiga orang itu hendak mengelakkan
serangan Peng-say, maka dada mereka tentu akan dirobek
oleh pedang Soat Koh, kalau tidak, maka pedang Peng-say
yang akan melukai mereka.
Diam2 Peng-say merasa heran dan tak dapat menarik
kesimpulan dari kejadian tersebut. Mengapa jurus Kiong
siang-kut-thau itu mendadak bisa berubah sedemikian
lihaynya?
Padahal permainan silat tidak mungkin mengandalkan
untung2an betapapun Peng-say tidak percaya hal yang tidak
mungkin terjadi ini. Lalu apa sebabnya bisa terjadi begitu?
Teringat olehnya setengah bagian Siang-liu-kiam-hoat
yang lain. Teringat olehnya berita yang tersiar tentang
Siang-liu-kiam-hoat nomor satu di dunia. Teringat pada
saat melancarkan serangan bersama Soat Koh tadi, timbul
semacam perasaan yang sukar dipecahkan.
Pada saat itulah tiba2 terdengar Soat Koh berseru:
"Bagus kau, Jilengcu, kau sengaja membohongi nonamu
ya?!"
Peng-say terkejut, disangkanya si nona telah mengetahui
sebab-musabab berhasilnya serangannya tadi.
Tapi lantas terdengar Soat Koh berkata pula: "Pintar
sekali kau berdusta, katamu mencari kayu juga mesti
mengangkat guru, memangnya Kungfumu ini juga kau
pelajari dari cara mencari kayu di gunung?"
Dengan tertawa Peng-say menjawab: "Aku belajar
mencari kayu di gunung bersama guruku adalah kejadian
betul2, aku tidak berdusta. Cuma selain mengajarkan cara
mencari kayu, guruku memang juga mengajarkan beberapa
jurus ilmu pedang kasaran padaku."
"Hm ilmu pedang kasaran apa, kembali kau bohong
lagi!" jengek Soat Koh. "Belum pernah kudengar ilmu
pedang yang mampu melawan jago silat dari Siau lim-pay
dan Tiam-jong-pay dikatakan sebagai ilmu pedang kasaran.
Jika demikian, kau anggap ilmu silat Siau-lim-pay dan
Tiam-jong-pay yang kau kalahkan itu lebih kasar daripada
kepandaianmu?"
"Ilmu silat Siau-lim-pay dan Tiam-jong-pay sudah tentu
sangat hebat, mana boleh dinilai dengan istilah kasar?" ujar
Peng-say. "Yang jelas ilmu pedang pencari kayu Jilengcu
menjadi teramat kasar bilamana dibandingkan ilmu pedang
sakti nona."
"Huh, masih muda belia sudah pintar putar lidah dan
suka menyanjung puji kepada orang lain," omel si nona.
"Tapi buktinya sekali serang nona memang telah melukai
tiga musuh, suugguh ilmu pedang yang maha sakti . . . . "
"Sudahlah, jangan kau teruskan, hanya bikin malu saja,
ujar Soat Koh. "Padahal akupun tidak tahu cara bagaimana
mereka terluka. Tampaknya cukup berat juga luka mereka,
bila mati, Wah, bisa susah aku."
Baru sekarang Peng-say mengetahui si nona belum
memahami sebab-musabab sekaligus dapat melukai tiga
orang musuh. Maka legalah hatinya, segera ia bertanya:
"Mengapa kau omong begitu?"
"Betapapun kalau musuh terlalu banyak tentu akan lebih
banyak pula menimbulkan kesulitan," jawab si nona.
"Seperti guruku, bulan yang lalu secara tidak sengaja beliau
membunuh jago silat terkenal di Pakkhia, yaitu Beng Eng-
kiat, habis itu beliau sangat menyesal. Jika tadi kubunuh
lagi murid keluarga Liong di Kwan-gwa, yaitu orang she Li
tadi serta kedua kawannya, tentu hal ini akan menimbulkan
kegusaran umum di dunia persilatan. Bila mereka be-
ramai2 mencari diriku dan guruku, kan urusan bisa
runyam."
"Dimanakah gurumu?" tanya Peng-say.
"Kami berpisah sebulan yang lalu di Pakkhia," tutur Soat
Koh. "Suhu bilang ilmu silatku sudah cukup lumayan,
sudah pantas berdikari dan menggembleng diri di dunia
Kangonw, kalau sepanjang hari selalu mengintil di belakang
beliau, seperti anak kecil yang belum disapih, bila kelak
ketemu urusan gawat, tentu akan kebingungan dan tidak
sanggup mengambil keputusan sendiri."
"Jadi gurumu sengaja menggembleng dirimu di dunia
Kangouw, tapi kan tidak menyuruh kau menjadi . . . . "
sampai di sini mendadak terputus ucapannya, kata "maling"
tidak jadi diucapkan.
"Kenapa tidak kau teruskan?" omel Soat Koh dengan
menarik muka. "Memang sejak mula aku memilih bidang
'mencuri' sebagai pekerjaanku."
Peng-say menggeleng. katanya dengan menyesal: "Ai,
nona cantik seperti dirimu, untuk apa. . . ."
"Hayolah lanjutkan!. . . . "
"Untuk apa menjadi pencuri, sungguh sayang," ucap
Peng-say dengan sungguh2.
Tidak kepalang dongkol Soat Koh hingga mencucurkan
air mata, katanya: "Bagus, terang2an kau memaki aku
sebagai maling, sebagai pencuri, aku.... . .aku lebih baik
mati saja."
Peng-say jadi melengak, diam2 ia merasa perempuan
benar2 makhluk yang aneh. Dia mengaku sendiri sebagai
pencuri, kenapa pantang orang menyebutnya pencuri?
Apalagi ia sendiri yang menyuruhnya omong.
Dengan air mata berderai Soat Koh berkata pula:
"Pergilah kau, pergi saja, jangan bergaul dengan maling,
jangan2 kau akan ketularan bau maling. . . ."
"Nona," kata Peng say, "hendaklah kau terima
nasihatku, pekerjaan mencuri bukanlah lapangan pekerjaan
yang baik. Malahan akan banyak mendatangkan kesulitan,
orang dan golongan hitam saja menusuhi kau, apalagi
orang dari kalangan putih, bisa jadi mereka akan
membunuh kau."
Mendadak Soat Koh membusungkan dada sambil
berteriak: "Baiklah, boleh kau bunuh, boleh kau bunuh. . . ."
sembari berseru ia terus melangkah maju dengan marah2.
Selangkah demi selangkah Peng-say menyurut mundur,
katanya: ”Jika kau merasa malu bergaul dengan pencuri
macam diriku, mengapa tadi kau menolong diriku, kumaki
juga kau terima dan tidak mau enyah?"
"Ini. . .ini. . . " Peng say ter-gagap2, sampai sekian lama
tetap tak dapat memberi jawaban.
"Kutahu anda ini seorang yang berbudi luhur, seorang
yang welas-asih dari kalangan putih. betapapun anda tidak
sudi turun tangan membunuh orang. Tapi kau kan tidak
perlu membunuh diriku, boleh kau biarkan aku dibunuh
oleh Tan Goan-hay dan begundalnya tadi, kan secara tidak
langsung kau telah mendapat pahala dengan terbunuhnya
seorang maling?"
Peng-say menjadi rikuh sendiri, jawabnya: "Ah, mana
diriku dapat disebut sebagai orang yang berbudi luhur
segala, yang benar, lantaran mengharapkan upah sehari
sepuluh tahil perak, makanya kutolong kau .... "
"Ai, sampai sekarang kau masih juga omong kosong!"
kata Soat Koh dengan tertawa. "Hah, kukira kaupun tidak
perlu berlagak sebagai orang baik2 lagi, jelas kaupun ingin
membagi rejeki, betul tidak?"
"Membagi rejeki apa?" tanya Peng-say.
"Memangnya, maksud tujuanmu menolong diriku
bukankah ingin membagi satu-dua benda pusaka barang
curianku ini?"
"Jika kuminta bagi rejeki, perutku jauh lebih besar
daripada kawanan bandit yang hendak membegal kau itu,
aku tidak mau membagi satu-dua bagian saja, jika mau,
harus seluruhnya, tujuh macam benda pusaka itu harus
diserahkan kepadaku, satu-pun tidak boleh kurang."
"Wahhh tega amat kau! Sekali caplok hendak kau
kangkangi seluruhnya?!"
"Sebenarnya juga bukan hendak kukangkangi menjadi
milikku, tapi hendak kukembalikan kepada si pemiliknya."
"He, sebab apa kau bertindak demikian?" tanya Soat Koh
dengan mendelik.
"Tahukah kau, dengan hilangnya ketujuh benda pusaka
ini, siapa orang di Kotaraja sana yang paling sial?"
"Dengan sendirinya kelima bangsawan yang kehilangan
itu."
"Dalam hal kebendaan secara langsung memang mereka
yang rugi tapi sebagai bangsawan yang kaya raya,
kehilangan sedikit harta benda tentu saja bukan apa2 bagi
mereka. Yang benar2 kena getahnya adalah orang yang
bertanggung jawab atas keamanan kota."
"O, kau maksudkan kawanan petugas itu, seperti. Ong
Cin-ek, begitu?"
"Yang ikut bertanggung jawab dengan sendirinya bukan
cuma petugas rendahan itu, tapi juga Kiu-bun-te-tok Cin-
tayjin. Jika harta benda penduduk biasa yang kau curi
mungkin tidak menjadi soal, tapi yang kehilangan adalah
kaum pangeran dan pembesar tinggi, coba kau pikir, siapa
orang pertama yang akan dimintai tanggung-jawab?
Dengan sendirinya Cin-tayjin sebagai penguasa militer
kotaraja. Lalu bagaimana akibatnya jika barang yang hilang
tidak dapat ditemukan kembali? Bukankah Cin-tayjin yang
bakal kehilangan kedudukannya dan bahkan masuk penjara
pula."
"Jadi yang bakal tertimpa bencana adalah Kiu-bun-te-tok
Cin-tayjin? Eh, coba jawab dulu. Kau sendiri bukan
pembesar negeri, bukan pengusaha swasta, tidak terima
upah, tidak bayar pajak, kau berkeliaran didunia Kangouw
dengan bebas, untuk apa kau perhatikan urusan kaum
pembesar itu?"
"Urusan kaum pembesar itu sebenarnya memang tiada
sangkut-pautnya dengan orang persilatan seperti kita ini,"
kata Peng-say. "Tapi persoalannya menyangkut hari depan
Cin tayjin, mau-tak mau aku harus ikut campur."
"Aha, jangan2 Cin Ci-wan itu adalah bakal mertuamu?"
jengek Soat Koh.
Peng-say melengak karena ucapan yang hampir
mendekati kebenaran itu, tapi ia lantas menggeleng dan
berkata pula: "Jangan sembarang kau terka, Cin-tayjin itu
masih terhitung pamanku, ibu Cin-tayjin itu adalah saudara
nenek perempuanku."
"O, maaf, maaf, kiranya Tio-jilengcu kita ini jelek2 masih
mempunyai famili yang menjadi pembesar negeri. Tapi
ingin kutanya pula padamu,jikalau benar2 hendak membela
sanak-kadangmu yang pembesar itu, mengapa sejak mula
tidak kau serahkan diriku kepada Tan Goan-hay, asalkan
barang curianku ditemukan mereka dan dikembalikan
kepada pemiliknya, tentu pembesar negeri yang
bersangkutan tidak perlu mengusut lebih lanjut dan
pamanmu yang pembesar itu pasti juga tetap aman pada
kedudukannya."
Padahal sebelum ini Soat Peng-say sendiri tidak pernah
membayangkan hal demikian, sebabnya dia menolong Soat
Koh, ia sendiripun tidak dapat mengemukakan alasannya.
Bisa jadi lantaran Soat Koh dalam pandangannya sama
dengan duplikat Cin Yak-leng, menolong Soat Koh se-olah2
sama dengan menyelamatkan Cin Yak-leng.
Maka Peng-say lantas menjawab: "Kukira belum
terlambat biarpun benda2 pusaka itu dikembalikan kepada
pemiliknya melalui tanganku sekarang. Cuma apakah
benda2 pusaka itu sekarang berada padamu, kan tiada
seorangpun yang tahu. Bisa jadi barang curian itu sudah
kau pindahkan kepada orang lain, dengan sendirinya tidak
mungkin dapat ditemukan pada dirimu."
"Hm, apakah kau kira lantaran kau telah membantu
diriku, lalu akan kubantu kau menemukan benda2 pusaka
itu?" jengek Soat Koh.
"Ya, itu kan terserah kepada hati nuranimu sendiri," ujar
Peng-say dengan tertawa.
"Benda pusaka tidak kupindahkan kepada orang lain,
sekarang juga masih tersimpan di bawah kereta, tapi jangan
kau harap akan menerimanya dariku, bahkan ingin
membagi satu potong saja tidak boleh, sebab benda2 ini
bukan milikku."
"Tepat!" seru Peng-say. "Milik orang lain, mana boleh
kita kangkangi menjadi milik sendiri. Tidak menjadi soal
meskipun tidak kau serahkan padaku, bagaimana kalau
langsung kau sendiri yang menyerahkan kembali kepada
pemiliknya?"
"Apa katamu? Jadi jerih payahku selama sebulan ini
akan sia2 belaka?" seru Soat Koh dengan melotot. "Supaya
kau tahu, barang2 ini sudah pasti tidak akan kukembalikan
kepada pemiliknya tapi juga takkan kukangkangi menjadi
milik sendiri, maksudku akan kujual, lalu . . . . "
"Aha, pikiran bagus!" seru Peng-say sambil berkeplok.
"Sungguh tak nyana nona ini seorang maling agung yang
mulia, maling budiman yang suka merampas milik orang
kaya untuk disedekahkan kepada kaum miskin."
"Maling? Huh, sebutan yang menusuk telinga! Meski kau
tambah satu kata 'agung' juga tetap tidak enak di dengar!"
"O, jika begitu, sebut saja Lihiapkhek (pendekar
perempuan) yang suka berbuat mulia bagi keadilan manusia
Nah, cocok?"
Soat Koh tepekur sejenak dan mengangguk, katanya:
"Ehm, boleh juga sebutan ini, cuma, dengan demikian,
sanak familimu itu jelas2 akan tertimpa sial."
"Asal tujuan nona memang demi kebaikan umum, apa
mau dikatakan lagi?" ujar Peng-say. "Terpaksa biarkan saja
pamanku itu menerima damperatan kelima pangeran itu.
Menurut pendapatku, masih untung barang yang kau curi
bukan milik si tua raja sehingga pamanku takkan sampai
kehilangan jabatannya."
"Wah, jika begitu, lain kali akan kugerayangi kas negara
di Pakkhia sana, akan kucuri beberapa benda pusaka
kesayangan si tua raja."
-oo0dw0oo-

Jilid 10
Peng say tahu si nona hanya bergurau saja, maka ia
cuma tertawa dan tidak menanggapi.
Kedua orang lantas naik ke atas kereta, Peng-say tetap
berduduk di tempat kusir, sekali ia menyendal tali
kendalinya, segera kereta itu dilarikan secepat terbang
menyusur jalan raya.
"Jilengcu," seru Soat Koh sambil melongok keluar
jendela, "Kungfumu tidak di bawahku, kemanapun kau
dapat cari makan, untuk apa kau menjadi kusirku?"
"Mencari makan memang mudah, tapi mencari sepuluh
tahil satu hari, inilah yang sukar!"
"Maksudmu . . . ."
"Asalkan nona tidak memutuskan hubungan kerja kita
ini, pekerjaan ini akan tetap kulakukan."
"Tapi sekarang aku tidak sanggup membayar kau lagi,"
kata Soat Koh dengan tertawa.
"Memangnya kenapa? Apakah nona lagi seret, belum
punya kontan? Tidak menjadi soal, tidak perlu kau bayar
upahku setiap hari, boleh dicatat saja dalam buku utang-
piutang, nanti kalau keuanganmu sudah lancar, bolehlah
kau bayar sekaligus padaku."
"Eh, jangan kau pandang nonamu serudin itu, masa satu
hari sepuluh tahil perak saja tidak mampu kubayar?!
Soalnya sekarang aku merasa sungkan jika harus memakai
seorang pahlawan sebagai saisku."
"Hahahaha! Jika aku ini pahlawan, maka nona kan lebih
daripada pendekar besar. Seorang pahlawan menjadi sais
seorang pendekar besar kan juga pantas?"
"Tapi upah sepuluh tahil perak sehari bagi seorang
pahlawan kukira terlalu sedikit!" ujar Soat Koh dengan
tertawa. "Eh, biar kupertimbangkan dahulu. sepantasnya
kutambah berapa upahmu Jika tambah terlalu banyak,
jangan2 nanti aku tidak mampu bayar, bila tambah gaji
terlalu sedikit, rasanya juga . . . ."
"Tambah sedikit juga tetap kukerjakan, tidak tambah gaji
juga kukerjakan, satu peserpun aku tidak minta, cukup
memberi makan tiga kali dan menghargai kepribadian
Jilengcu, maka cara kerjaku pasti lebih giat."
"Apa katamu?" Soat Koh menegas, hampir2 ia
menyangsikan telinganya sendiri.
"Kubilang, jika kau menghargai diriku, upah menjadi
kusir ini tidak perlu bayar sepeserpun, aku hanya kerja bakti
bagimu, cukup kau beri makan tiga kali, memberi kesempan
tidur yang cukup,kukerja dengan gratis."
Soat Koh benar2 tidak percaya kepada telinganya
sendiri, ia melenggong sejenak. tanyanya kemudian: "Jika
begitu, tidakkah kau gagalkan rencanamu sendiri?"
Seketika Peng say tidak paham arti ucapan si nona.
tanyanya dengan suara keras: "Rencana apa maksudmu?"
"Bukankah sudah kau rencanakan, setelah bekerja
setengah tahun, upah yang kau tabung itu akan kau
gunakan untuk kawin?"
Baru sekarang Peng-say ingat kepada bualannya tempo
hari, ia ter-bahak2. Katanya kemudian: "Ah, ucapanku itu
hanya untuk main2 saja. Sekarang setelah kutahu nona
bukan maling sembarang maling, asalkan tenaga Jilengcu
dapat nona pakai, masa perlu kubicara tentang upah segala?
Yang nona laksanakan ini adalah tugas suci, usaha sosial.
bila Jilengcu dapat ikut mengabdi bagi kebaikan sesamanya,
jangankan soal upah, seumpama ketemu sasaran besar dan
nona mendadak memerlukan tenaga sambilan, dengan suka
hati juga akan kubantu."
Mau-tak-mau Soat Koh meng-angguk2 akan keluhuran
budi orang, katanya: "Jilengcu, sungguh tidak pantas
pernah kumaki kau mata duitan."
"Ah. tidak apa2, sama2," jawab Peng-say. "Semula aku
tidak tahu duduknya perkara, aku menyesal karena gadis
cantik macam kau sudi menjadi maling. maka ku-olok2 kau
sehingga nona menangis, sungguh akupun menyesal."
"Sayang aku bukan lelaki, kalau tidak, sungguh kita
layak menjadi sahabat karib."
"Lelaki dan perempuan kan juga boleh bersahabat
karib?"
"Boleh sih boleh., cuma . ...cuma agak kurang leluasa,"
kata Soat Koh.
"Eh, lain kali, jika operasi lagi, kau masuk, aku jaga di
luar, kupercaya kita pasti dapat bekerja sama dengan baik."
"Huh, justeru kukuatir kau bicara lain di mulut lain di
hati. Kebanyakan lelaki tidak mempunyai Liangsim (hati
nurani yang baik)."
"Ah, berdasarkan apa kau omong begini?"
"Sembilan di antara sepuluh lelaki kalau melihat untung
lantas lupa budi, betapapun si perempuan baik padanya,
bila melihat sesuatu yang menguntungkan, dia tidak segan2
untuk mencaploknya sendiri, sampai membunuh teman
perempuannya juga tidak sayang2 lagi"
"Aku tidak percaya didunia ada lelaki sekejam ini.
Kukira cara bicara nona agak terlalu berlebihan," demikian
Peng-say berusaha membela kaum lelaki.
"Kau tidak percaya?" tanya Soat Koh dengan gemas. "Di
dunia ini justera ada lelaki yang demikian. Akan kuberi
suatu contoh, pernah ada seorang she ... . " mendadak ia
ingat Peng-say mengaku she Tio, maka ia lantas bertanya:
"Eh, gurumu she apa?"
"She Tio," jawab Peng-say dengan jujur.
Air muka Soat Koh seketika berubah hebat, tanyanya
pula: 'She Tio? Dan siapa namanya?"
Peng-say merasakan sikap si nona yang rada aneh itu, ia
tidak berani lagi mengaku terus terang bahwa gurunya
bernama Tio Tay-peng, maka dengan tertawa ia menjawab:
"Guruku bernama Tio lotoa!"
"Huh, setiap orang she Tio pasti bukan manusia baik2,"
dengus Soat Koh.
"He. apakah termasuk aku Tio-jilengcu?" tanya Peng-say.
"Kukira tidak semua orang she Tio sebusuk apa yang kau
bayangkan. Setidaknya aku pasti bukan orang busuk yang
kau sangka itu."
"Hm, memang enak didengar ucapanmu," jengek Soat
Koh. "Kau tahu, ada seorang she Tio yang keji, demi
mengangkangi satu jilid kitab pusaka, dia tega
membuntungi sebelah lengan seorang perempuan yang
mencintai dia."
"Hah, masa betul?" tanya Peng-say dengan suara agak
gemetar.
"Masa aku omong kosong?" seru Soat Koh dengan
gemas. "Biar kukatakan terus terang, perempuan yang
malang itu bukan lain ialah guruku."
"Kemudian bagaimana dengan orang she Tio itu?" tanya
Peng say.
"Dia juga tidak menarik keuntungan dari perbuatannya
itu, kamudian lengan kanannya juga dibuntungi oleh
guruku."
"Dan kitab pusaka itu?"
"Dia mengira kitab pusaka ilmu pedang itu akan dapat
dikangkanginya, dia tidak tahu bahwa kitab itu terdiri dari
dua jilid, yang diperolehnya tidak lebih hanya setengah
bagian saja."
"O, jadi yang setengah bagian tetap diperoleh gurumu,
bukan?"
"Untung sebelumnya Suhu menyimpan setengah bagian
kitab itu di dalam baju dan asyik membaca setengah bagian
yang lain. Orang she Tio itu cuma memikirkan kitab yang
dipegang guruku, pada saat guruku lengah. sekali tabas dia
menguntungi lengan kiri guruku. Tak disangkanya bahwa
kitab itu masih ada setengah bagian lagi. Jika tahu,
mungkin dia takkan mengampuni jiwa guruku."
"Kitab pusaka macam apakah sehingga menimbulkan
angkara-murka orang she Tio itu?'' tanya Perg-say.
Soat Koh bermaksud menerangkan, tapi mendadak
teringat olehnya peringatan sang guru yang mengatakan:
"Jangan mempunyai pikiran mencelakai orang lain, tapi
harus punya pikiran menjaga kemungkinan dicelakai orang
lain."
Karena itulah ia menjadi urung bicara. Pikirnya: "Tahu
orangnya, tahu mukanya, tapi sukar mengetahui hatinya.
Meski Jilengcu ini kelihatan orang baik, tapi siapa berani
menjamin hatinya takkan berubah dan mencelakaiku bila
dia mendengar tentang Siang-liu kiam-hoat?"
Padahal Peng-say tentu saja tahu kitab yang
dimaksudkannya adalah Siang-hu-kiam-boh, kalau si nona
tidak mau bicara terus terang, maka iapun tidak perlu tanya,
hanya bila teringat sang guru ternyata seorang berhati sekeji
itu, tanpa terasa timbul rasa sedihnya.
Karena sama2 menanggung pikiran, kedua orang tidak
bicara lagi. Siangnya mereka istirahat di suatu kota Kecil
dan makan sekadarnya, lalu melanjutkan perjalanan, Soat
Koh tidak menjelaskan hendak pergi kemana, menurut
pikiran Peng-say, ’sudah tentu semakin jauh meninggalkan
Pakkhia semakin baik bagi si nona. Jika nona itu tidak
minta diantar kesesuatu tempat, biarlah kuhalau kereta ini
menurut pikiranku sendiri.’
Dengan sendirinya tempat yang dituju Peng-say adalah
lautan di timur sana, untuk ke sana harus melalui pantai
Soatang. Maka Peng-say terus membedal kudanya ke
perbatasan Hopak dan Soa-tang, menjelang magrib
keretanya sudah masuk di wilayah Soatang.
Mendadak Soat Koh membuka jendela depan dan
berkata kepadanya: "Celam adalah kota besar di propinsi
Soatang, bolehlah kita bermalam disana, esok kita dapat
menjual ketujuh benda pusaka ini."
Pada waktu hari mulai gelap, kereta merekapun
memasuki kota Celam. Esoknya Soat Koh menjual ketujuh
benda pusaka itu kepada seorang saudagar besar dengan
nilai sepuluh laksa tahil. Selama tiga malam ber-turut2, Soat
Koh dan Peng-say mem-bagi2kan kesepuluh laksa tahil
perak itu kepada kaum miskin di dalam maupun di luar
kota Celam.
Kaum jembel yang menerima berkah itu tidak tahu akan
kedatangan tamu yang tak diundang itu. tahu2 paginya
mereka melihat di rumahnya telah bertambah sebungkus
uang perak. Keruan mereka kegirangan. Mereka tidak tahu
siapakah yang memberi sedekah, hanya dari bungkusannya
terlihat gambar seekor burung berwarna seputih salju.
Ada diantara penerima berkat itu mengenali burung itu
adalah Soat-koh yang suka pada salju, hanya di musim
dingin dan turun salju saja burung itu terlihat. Karena itulah
mereka lantas menyebut si pemberi berkat sebagai "Soat
Hiap" atau pendekar salju.
Tiga hari kemudian, selesailah Soat Koh dan Peng-say
membagikan harta karun itu. Nama "Soat Hiap" segera
menggemparkan seluruh kota Celam, di-mana2 orang
membicarakan tokoh "Soat Hiap" yang misterius itu,
semuanva bilang "Soat Hiap" adalah Koan-im Hudco yang
turun dari langit untuk menolong kaum penderita.
Tentu saja Soat Koh sangat senang mendengar berita
yang ramai tersiar itu Dilihatnya masih ada sebagian kaum
miskin yang belum mendapatkan bagian sedekah ia lantas
berunding dengan Peng-say untuk beroperasi di Celam agar
segenap kaum Miskin itu dapat menerima berkatnya secara
merata.
Akan tetapi Peng-say tidak setuju. katanya: "Tujuan kita
adalah menolong kaum miskin untuk itu jangan kita
berbalik membikin susah kepada mereka. Coba kau pikir,
kita beroperasi kota ini, lalu hasil curian kita itu dibagikan
kepada orang miskin di kota ini pula, apabila diselidiki
diusut oleh pihak yang berwajib, bukankah si miskin yang
menerima sedekah itu berbalik masuk penjara? Jika terjadi
demikian, orang miskin itu tidak lagi berterima kasih
padamu, sebaliknya akan menganggap kau ini maling sialan
yang suka bikin susah orang."
Soat Koh pikir pendapat Peng-say itu memang beralasan.
dengan tertawa ia lantas berkata: "Jika demikian, biarlah
kita beroperasi di kota lain. lalu kita angkut hasil curian kita
ke sini untuk disebarkan kepada kaum miskin yang
memerlukannya."
"Maling juga mesti pegang etiket, perbuatan merampas
milik orang kaya untuk diberikan kepada kaum miskin ini
juga harus mencari sasaran yang tepat, harus kita selidiki
dulu orang kaya yang pelit dan kejam, apakah sudah kau
selidiki hal ini?"
"Untuk apa main selidik segala? Asalkan orang kaya
pasti pelit dan tidak berbudi, kita datang saja
ke kota lain dan mencari sasaran yang kaya, kan beres?"
"Salah jalan pikiranmu ini," kata Peng-say, "Hendaklah
maklum, tidak semua orang kaya itu jahat. Ada sementara
orang itu berusaha secara jujur. bahwa kekayaan mereka
bertambah menumpuk, sering2 adalah karena mereka hidup
hemat dan dapat menabung, apakah kita sampai hati
mencuri harta mereka. Maka sebelum operasi, sebaiknya
kita mencari keterangan sejelasnya sasaran yang kita tuju,
kalau sudah pasti harta kekayaannya diperoleh dengan jalan
tidak halal barulah kita turun tangan."
"Huh, ocehanmu hanya meruntuhkan semangatku saja,"
omel Soat Koh. "Mencuri milik orang kaya, kan takkan
menjadikan dia bangkrut, Paling2 hanya sebagian kecil
Kekayaannya saja dan dia tetap dapat hidup, kenapa mesti
buang2 waktu main selidik segala?"
"Apakah tujuanmu mencuri yang kaya dan menolong
yang miskin hanya timbul untuk kepuasan saja dan tidak
membedakan siapa yang pantas dicuri dan siapa yang
tidak?" ujar Peng-say dengan tertawa. "Umpamanya, kalau
harta orang kaya yang kau curi itu disediakan akan dibuat
bayar utang, meski kehilangan itu tidak mengakibatkan dia
jatuh rudin, tapi dia akan kehilangan kepercayaan di dunia
perdagangan, bagi orang dagang, hal ini sama seperti jalan
hidupnya kau sumbat."
"Sudahlah, alasanmu memang macam2, tak dapat
berdebat dengan kau," kata Soat, "Pokoknya kuturut
usulmu, marilah kita pergi kota lain dan menyelidikinya
dengan pelahan."
"Memangnya kau hendak ke mana?"
"Operasi kita sudah terjadi di daerah Hopak, di Soa-tang
sini tidak leluasa, biarlah kita ke propinsi Holam yang
terdekat saja."
"Tapi aku harus keluar lautan, tak dapat kutemani kau ke
Holam.
"Keluar lautan? Untuk apa?"
"Pernah kau dengar istilah Tang wan, Say koan. Lam-
han dan Pak-cay?"
"Ya, pernah," jawab Soat Koh sambil mengangguk.
"Pernah kudengar dari guruku, katanya itulah tempat
kediaman keempat tokoh sakti dunia persilatan jaman kini."
"Nah, Tang-wan atau Hong hoa-wan itu berada jauh di
lautan timur sana," tutur Peng-say "Untuk keluar lautan
harus melalui semenanjung Soatang, sekarang kita sudah
berada di wilayah Soatang, kesempatan ini harus
kugunakan untuk keluar lautan . . . . "
"Kau hendak pergi ke Hong-hoa-wan?" Soat Koh
menegas dengan terkejut. "Apakah kau ingin mencari
mampus?"
"Kenapa kau anggap pergi ke Hong-hoa-wan berarti
mencari mampus?" tanya Peng-say.
"Hong hoa-wan terletak jauh di negeri asing sana,
jangankan perjalanan mengarungi samudera sangat
berbahaya, setiap saat kapalmu bisa tenggelam, seumpama
beruntung dapat kau capai Hong-hoa wan, kaupun jangan
harap akan datang pulang dengan selamat. Sebab Hong-
hoa-wancu adalah gembong iblis yang paling benci pada
pengunjung yang berani mendatangi pulaunya. Sudah lama
dia merajai negeri pulau sana, penduduk asli pulau itu
dibodohinya. maka ia takut kedatangan orang Tionggoan
yang mungkin akan berebut pengaruh dengan dia. Sebab
itulah, asalkan melihat orang Tionggoan muncul di
pulaunya, tentu akan ditawannya dan dilemparkan ke laut
untuk umpan ikan hiu."
"Hehe, jangan kau bicara seperti menggertak anak kecil,"
seru Peng-say dengan bergelak tertawa.
"Sama sekali bukan gertak," kata Soat Koh dengan
sungguh2.
"Takkan terjadi apa2 jika kau pergi ke Say-koan, Lam-
han atau Pak-cay, tapi jangan sekali2 pergi ke Tang-wan.
Ngo-hoa Koancu. Soh-hok Hancu dan Leng-hiang Caycu
konon bukan orang jahat, jika kau mengunjungi mereka,
asalkan kau tidak bikin onar tentu takkan menimbulkan
kesulitan, tapi Hong-hoa Wancu terkenal bagai orang jahat,
biarpun kau tidak cari perkara juga akan mendatangkan
malapetaka jika kau berani menginjak pulaunya."
"Kepergianku ke Hong-hoa-wan sana memang mau
mencari perkara!" kata Peng-say.
"He, apakah kau sudah bosan hidup?" tanya Soat Koh.
"Kau tidak tahu bahwa putera Hong-hoa Wancu ada
permusuhan besar denganku, jadi kepergianku kesana
sudah jelas harus kulaksanakan."
"O, kiranya kau ke sana hendak mencari putera Hong-
hoa Wancu untuk menuntut balas, jika demikian urusannya
menjadi lain."
"Maka kita berpisah disini saja, kau pergi ke Holam, aku
akan menuju ke Ciau ciu-wan (semenanjung Soatang),
bilamana aku dapat pulang dengan hidup, setahun lagi kita
berjumpa pula di sini."
"Apa artinya jika kupergi ke Holam sendirian, mencuri
dan menyebarkan hasil curian itu sendirian teman ngobrol
saja tidak ada, kukira akan kesepian dan mengesalkan,"
kata Soat Koh dengan gegetun. "Begini saja, akan kutemani
kau pergi ke Hong-hoa-wan, sepulangnya dari sana dapat
kau bantu diriku melakukan pekerjaan tanpa modal itu,
setuju tidak?"
Peng-say menyadari jika pergi sendiri ke Hong-hoa-wan,
hampir dapat dipastikan sukar pulang lagi. Tapi kalau
dikawani Soat Koh. dengan gabungan pedang kiri dan
pedang kanan mereka. bukan mustahil Ciamtay Cu-ih juga
dapat mereka kalahkan. Maka dengan girang ia bertanya:
"Kau tidak takut bahaya?"
"Bahaya?" Soat Koh menegas. "Coba jawab, berbahaya
tidak waktu kau bantu diriku menempur Tan Goan-hay dan
begundalnya itu."
"Sudah tentu kawanan Tan Goan-hay tak dapat
disamakan dengan Hong-hoa Wancu," ujar Peng-say.
Tapi Soat Koh tidak menjadi jeri, katanya tegas: "Peduli
amat, syukur kalau dapat pulang bersama dengan hidup,
kalau tidak, asalkan dapat menempur salah seorang dari
empat tokoh sakti masa kini kan juga berharga."
"Bagus, jika begitu. Hayolah kita berangkat!" seru Peng-
say dengan tertawa.
Selama tiga hari mereka tinggal di suatu kelenteng
bobrok. Peng-say lantas memasang kuda penarik kereta,
sekali cambuk berbunyi, hanya sekejap saja kelenteng rusak
itu sudah jauh ditinggalkan.
Setengah harian itu mereka melarikan keretanya,
menjelang lohor sampailah mereka di tepi laut .
semenanjung Soatang, terlihat berpuluh kapal berlabuh di
sana dan sedang bongkar-muat dengan ramai.
Sejak pagi mereka belum mengisi perut, mereka sudah
kelaparan, sementara mereka tidak bertanya tentang kapal
yang akan berlayar keluar lautan, tapi lebih dulu mencari
rumah makan serta pesan santapan setelah memarkir
keretanya.
Begitu hidangan sudah siap, terus saja Peng-say
mencomot sepotong bakpau dan dimakan dengan lahapnya.
"Jilengcu, kau lihat tidak?" tiba2 Soat Koh berbisik
padanya.
"Melihat apa?" jawab Peng-say taapa menahan suara.
Soat Koh mengomel: "Yang kau pikirkan hanya makan
melulu, waktu masuk kemari sama sekali tidak kau
perhatikan, iihatlah keempat Tosu di meja sebelah sana
sejak tadi selalu melirik dan mengawsi kita. Bisa jadi kau
masuk perangkap orang belum lagi mengetahui siapa yang
melakukan?"
"Oo.apa betul?" tanya Peng-say sambil memandang
sekitarnya.
Benar juga dilihatnya di meja pojok kiri sana berduduk
empat Tosu muda, semuanya lagi menggerogoti bakpau
dengan kepala tertunduk, tiada seorangpun yang kelihatan
melirik ke sini.
"Mana ada orang melirik kita? Ah, kau jangan sok
curiga!" ujar Peng-say dengan tertawa.
"Tampaknya kau memang dungu," omel Soat Koh pula
dengan mendongkol. "Kau tatap mereka terang2an begini,
memangnya mereka berani lagi melirik kau?"
"Mau melirik, mau melotot, biarkan saja, kalau berani,
hayolah berdiri!" teriak Peng-say. Habis berkata ia menyikat
lagi hidangan yang tersedia.
Sambil makan Soat Koh masih terus mengawasi gerak-
gerik keempat Tosu itu.
"Awas, jangan makanan masuk ke hidungmu!" demikian
Peng-say berseloroh.
Soat Koh melototinya dan berkata: "Ucapanmu tadi
ternyata cespleng, sampai saat ini mereka tidak berani lagi
memandang ke sini."
"Hakikatnya kita tidak kenal mereka, bisa jadi mula2
mereka salah mengenali orang, maka begitu kita datang
mereka lantas mengamat2i, mungkin sekarang mereka tahu
salah lihat, maka mereka tidak tertarik lagi kepada kita."
Dugaan Peng-say ternyata cocok dengan jalan pikiran
keempat Tosu muda itu. Setelah mereka menyaksikan
Peng-say dan Soat Koh bicara dan bergurau dengan bebas.
mereka lantas tahu salah mengenali orang. Kini Soat Koh
berbalik mengawasi gerak gerik mereka, mau-tak-mau
mereka menjadi kikuk sendiri dan kuatir menimbulkan
onar, maka buru2 mereka habiskan makanan, lalu menuju
ke meja kasir untuk membayar.
Pada saat itulah tiba2 masuklah seorang lelakj dan
bertanya dengan suara keras: "He, kasir, siapa yang
menempelkan poster berhadiah diluar itu?"
Si kasir memandang sekejap lelaki itu, agaknya sudah
kenal, maka jawabnya dengan tak acuh: "Siapa tahu?"
"Huh, hadiah kentut! Poster begitu . . . ." demikian lelaki
itu mengoceh pula.
Dengan mendongkol si kasir lantas menyela: "Hei, pakai
kentut apa segala? Tahu tidak banyak tamu sedang makan?
Jika mau makan, boleh teken bon, tapi jangan sembarangan
mengoceh di sini!"
"O, maaf," cepat lelaki itu menjawab dengan cengar-
cengir. "Aku memang orang kasar, apa yang kukatakan tadi
tidak sengaja, janganlah marah."
Mungkin orang ini sudah biasa utang di rumah makan
ini, maka dipandang rendah oleh si kasir, meski dia sudah
minta maaf, tapi si kasir tidak menggubrisnya.
Keempat Tosu tadi sebenarnya sudah selesai membayar
rekening makan, tapi mereka masih berdiri di samping meja
kasir dan mendengarkan.
Selagi lelaki itu hendak berduduk, seorang Tosu itu
mendekatinya dan bertanya sambil menepuk bahunya: "He,
siapa suruh kau tanya urusan poster berhadiah di luar itu?"
Orang itu mendelik dan menjawab: "Tuanmu suka
tanya, kenapa, apa tidak boleh?"
Dia tidak berani bicara kasar kepada si kasir yang biasa
memberi utang padanya, terhadap Tosu ini dia tidak mau
mengalah, kata2nya ketus, se-akan2 bila perlu boleh
rasakan kepalanku ini.
Tosu itu masih muda, dengan sendirinya juga gampang
naik darah. Melihat sikap orang yang kasar, segera ia
cengkeram pergelangan tangannya sambil membentak
dengan suara tertahan: "Lekas mengaku, siapa yang
menyuruh kau tanya tentang poster?"
Setengah badan lelaki itu menjadi kesemutan dan tak
dapat bergerak, ia meringis kesakitan dan ber-teriak2: "Baik
akan kukatakan .... akan kukatakan!. . . ."
Tosu itu mengendurkan cengkeramannya sehingga orang
itu dapat bernapas, dengan menyengir ia berkata: "Toya,
anak jadah yang berdusta. Soalnya kuheran melihat poster
berhadiah itu, maka kutanya si kasir, sama sekali aku tidak
disuruh siapa2."
Agaknya Tosu itu tidak percaya. kembali ia memecet
lebih keras, keruan orang itu menjerit seperti babi hendak
disembelih.
Tosu lain yang lebih berpengalaman lantas membujuk
kawannya: "Sute, sudahlah, tampaknya ia hanya tanya
secara tidak sengaja."
Si TOSU muda terus mendorong ke depan sehingga
lelaki itu jatuh terjungkal. Setelah mendengus, keempat
Tosu itu lantas melangkah pergi.
"Nah, Li Toa-gu, baru sekarang kau tahu rasa! Makanya
lain kali harus hati2 kalau bicara!" ejek si kasir.
Dengan malu lelaki tadi merangkak bangun sambil
mengomel, lalu ia pesan bakpau dan mulai makan.
Kejadian ini tidak diperhatikan Soat Peng-say tapi justeru
menarik perhatian Soat Koh. Selesai makan dan keluar dari
rumah makan itu, Soat Koh lantas memandang ke timur
dan melongok ke barat, akhirnya dapat dilihatnya sehelai
poster yang tertempel di depan rumah makan, ia
mendekatinya dan membaca isinya.
Tidak jauh meninggalkan rumah makan, Soat Koh lantas
berkata kepada Peng-say: "Apa yang dikatakan Li Toa-gu
tadi memang betul, poster itu memang berhadiah. Cuma
cara membuat poster begitu kukira tiada gunanya sama
sekali. Poster mencari orang dengan hadiah seharusnya
melukiskan wajah orang yang dicari, paling tidak juga mesti
menyebutkan ciri2nya, tapi poster itu hanya tertulis
disediakan hadiah seribu tahil perak untuk menangkap
Ciamtay Boh-ko. Memangnya siapa yang tahu macam
apakah bentuk Ciamtay Boh-ko itu?"
Mendadak Peng-say berpaling dan bertanya: "Jadi poster
berhadiah itu mencari Ciamtay Boh ko? Di mana poster
itu?"
"Lihat, disana juga ada poster yang serupa," jawab Soat
Koh sambil menuding ke depan.
Tadi karena buru2 mencari rumah makan, maka Peng-
say tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya. Sekarang
dilihatnya di dinding rumah sana memang benar tertempel
beberapa lembar poster kertas putih, semuanya tertulis:
"Hadiah seribu tahil perak bagi siapapun yang dapat
menangkap Ciamtay Boh-ko "
"Coba katakan, apa gunanya menempelkan poster ini di
sini?" kata Soat Koh. "Biarpun semua jalan besar dan gang
kecil dipenuhi poster begeni. paling2 juga Cuma
mengejutkan orang yang akan ditangkapnya dan takkan
mendatangkan hasil apapun."
Peng-say berhenti di tepi jalan dan memandang dinding
yang bertempelkan poster itu, katanya kemudian: "Kukira
bukannya tiada gunanya sama sekali."
"Jadi ada gunanya? Coba katakan, apa gunanya?"
"Jika orang yang dicari ini memang tidak dikenal oleh
orang yang menyediakan hadiah, coba kaupikirkan,
bukankah ini suatu cara memancingnya keluar yang paling
baik?"
"Aha, betul! Tujuan yang menyediakan hadiah ini
memang hendak memancingnya keluar," seru Soat Koh
"Hadiah seribu tahil perak yang tertulis ini hanya sebagai
pajangan saja, sebenarnya cuma omong kosong belaka."
Sorot mata Peng say yang tajam menatap sekelihngnya,
tiba2 ia bertanya dengan suara tertahan: "Menurut
pendapatmu, siapakah gerangan orang yang menyediakan
hadiah ini?"
"Kukira pasti keempat Tosu di rumah makan tadi,"
jawab Soat Koh. ' Mereka menuduh Li Toa-gu disuruh
orang untuk menanyakan siapa yang menempelkan poster
itu, maka mereka hendak memaksanya mengaku."
"Keempat Tosu itu hanya anak buah saja," ujar Peng-
say, "mereka cuma disuruh mengawasi reaksi yang timbul
dari poster berhadiah itu, orang yang ingin menangkap
Ciamtay Boh-ko jelas berada di belakang layar."
"Menurut kau, siapa kira2 dalang yang menyediakan
hadiah itu?"
"Sukar untuk dipastikan sekarang. Coba kau terka,
apakah cocok dengan perkiraanku atau tidak."
Soat Koh berpikir sejenak, lalu berkata: "Ke-empat Tosu
itu menyandang pedang, tampaknya mereka adalah murid
Bu-tong-pay, jangan2 pihak Bu-tong-pay yang hendak
menangkap Ciamtay Boh-ko?"
"Kukira demikianlah adanya," ucap Peng-say.
"Eh, mengapa mendadak kau jadi tertarik oleh poster
berhadiah itu?"
"Putera Hong-hoa Wancu itu bernama Ciam-tay Boh-
ko!" tutur Peng say dengan gemas.
"O, jadi Ciamtay Boh-ko saat ini berada di Tionggoan?"
seru Soat Koh terkesiap.
"Ya, besar kemungkinan dia belum meninggalkan
Tionggoan, kalau tidak, tentu Bu-tong-pay takkan
menyebarkan poster berhadiah di semenanjung sini untuk
memancing keluarnya Ciamtay Boh-ko, rupanya mereka
yakin Ciamtay Boh-ko kalau mau pulang pasti akan melalui
pelabuhan Ciau-ciu-wan sini. Sampai di sini, mendadak ia
berhenti bicara.
"Sesungguhnya ada permusuhan atau sakit hati apa
antara kau dengan Ciamtay Boh-ko,? Bilakah dia datang ke
Tionggoan sini .... "
"Sssst, lihat itu!" sela Peng-say dengan mendesis.
Waktu Soat Koh berpaling mengikuti pandangan Peng-
say, terlihat sebuah kereta berhenti di tepi dinding, dimana
juga tertempel selembar poster. Tampak seorang pemuda
pendek gemuk melompat turun dari kereta, dipandangnya
sejenak poster itu. lalu mendengus, mendadak poster itu
dirobeknya.
"Ciamtay Boh-ko!" seru Soat Koh dengan suara tertahan.
"Belum tentu, bisa jadi bukan Ciamtay Boh-ko sendiri,
yang jelas Ciamtay Boh-ko pasti berada di sekitar sini dan
belum berlayar!" desis Peng-say, raeksi suaranya sangat
lirih, tapi Soat Koh dapat mendengar nada anak muda itu
sangat terangsang.
Sehabis merobek poster itu, pemuda pendek gemuk itu
lantas memaki: "Dirodok. siapa yang menempel poster ini?
Kalau tertangkap pasti kubeset kulitnya!"
Kemudian ia melompat ke atas kereta dan
memerintahkan kusirnya: "Coba cari lagi, masih ada tidak?"
Waktu kereta itu berangkat, dari gang sebelah sana lantas
menyelinap keluar empat orang, siapa lagi kalau bukan
keempat Tosu tadi Mereka terus menguntit di belakang
kereta itu.
"Melihat sikapnya yang penasaran itu. kukira dia pasti
Ciamtay Boh-ko sendiri," kata Soat Koh.
"Betul, dia memang Ciamtay Boh-ko!" ucap Peng-say
dengan pasti.
Dari suara pemuda pendek gemuk tadi, dia dapat
memastikan orang adalah Ciamtay Boh-ko. Maklum, waktu
di Siau-ngo-tay-san dahulu, sebelum muncul Ciamtay Boh-
koh sudah bersuara hendak membawa Sau Kim-leng pulang
ke Tang-hay, suaranya sampai sekarang masih dikenal oleh
Peng-say.
Begitulah Peng-say dan Soat Koh lantas membuntuti
pula kereta itu, hanya jaraknya agak jauh, sampai keempat
Tosu itupun tidak tahu.
"Kau tidak pernah bertemu dengan Ciamtay Boh-koh?"
tanya Soat Koh di tengah jalan.
"Hanya pernah kudengar suaranya," jawab Peng-say.
"Aneh, kalian tidak pernah bertemu, lalu cara bagaimana
kalian bisa mengikat permusuhan?"
"Dia menangkap dan membawa lari kawanku, inilah
awalnya permusuhan kami."
"Kawanmu ditangkapnya, direbut kembali saja kan
beres, untuk apa mesti bermusuhan dengan orang yang
sukar direcoki ini?"
"Kau tidak tahu, kawanku itu ... . "
"Kawanmu kenapa?" tanya Soat Koh karena Peng-?ay
tidak meneruskan ucapannya.
Bila teringat Cin Yak-leng sudah lebih sebulan diculik
oleh Ciamtay Boh-koh, hati Peng-say menjadi sakit seperti
di-sayat2, sungguh ia tidak tahu betapa Cin Yak-leng telah
di-"koyak2" oleb Ciamtay Boh-ko.
Sudah tentu sukar baginya untuk menceritakan
kekuatirannya itu kepada Soat Koh, maka ia hanya berkata:
"Tidak apa2, sebentar bila engkau suka bantu
menyelamatkan dia terlepas dari cengkeraman iblis, selama
hidup takkan kulupakan budi kebaikanmu."
"Mengapa kau bicara seperti terhadap orang yang tak
kau kenal?" ujar Soat Koh dengan kurang senang.
"Kawanmu kan juga kawanku, jika Ciamtay Boh-ko tidak
mau membebaskan kawanmu, biarlah kita melabrak dia,
persetan siapa bapaknya, kita tidak peduli."
Sepanjang jalan itu si pemuda pendek gemuk telah
merobek puluhan poster, setiba di pelabuhan, ia pesan pula
kepada kusirnya: "Pergilah menyewa sebuah kapal layar ke
lautan timur sana, uang sewa tidak soal bagiku."
Si kusir mengiakan terus pergi mencari kapal. Pada saat
itulah muncul belasan Tosu dan mengepung kereta kuda
itu.
Terdengar seorang Tosu tua bertanya: "Apakah Ciamtay-
kongcu berada di dalam?"
Tapi sampai sekian lama tiada suara jawaban dari dalam
kereta.
Tosu tua itu berkata pula: "Kongcu tidak perlu sewa
kapal lagi, sudah lama kami siapkan sebuah
kapal bagimu dan sedang menunggu kedatangan Kongcu."
Baru sekarang terdengar pemuda pendek gemuk itu
bersuaru: "Apakah kalian yang menempel poster
penangkapan Ciamtay Boh-ko dengan hadiah itu?"
"Ya, maaf, kalau tidak begitu, cara bagaimana kami
dapat mengenali Wajah Ciamtay kongcu?" jawab si Tosu
itu dengan ramah..
"Aku inilah Ciamtay Boh-ko, kalian mau apa?" kata
pemuda pendek gemuk itu.
"Anak murid Bu-tong sengaja datang kemari untuk
mengantar Kongcu sendiri naik keatas kapal," kata si tosu
tua.
"Sendiri? Kalau kami berdua?" jengek Ciamtay Boh-ko.
"Entah siapa lagi yang seorang?"
"Isteriku!"
Mendadak sekujur badan Peng-say rada gemetar demi
mendengar kata2 itu.
"Apakah kawanmu itu perempuan?" tanya Soat Koh
tiba2.
Saat itu telinga Soat Peng-say hanya ter-ngiang2 kata
"isteriku" yang diucapkan Ciamtay Boh-ko itu, pertanyaan
Soat Koh sama sekali tak terdengar olehnya. Merasa tidak
digubris, dengan sendirinya Soat Koh merasa kurang
senang, dengan mulut menjengkit ia melengos ke sana.
Dalam pada itu terdengar Tosu tua itu sedang bertanya
pula: "Berada di mana nyonya anda sekarang? Siapa
namanya yang terhonnat?"
"Dia berada di dalam kereta, jika mampu boleh kalian
merampasnya!" seru Ciamtay Boh-ko dengan tertawa latah.
"Ah, mana berani kami sembarangan bertindak," ujar si
Tosu tua. "Tapi kalau nyonya anda ialah puteri Pak-cay,
maka disilakan dia suka ikut ke tempat kami di Huiciu."
"Hm, kalian hanya mengundang dia dan tidak
mengundang diriku?" jengek Ciamtay Boh-ko.
"Jika Kongcu suka ikut ke sana, tentu saja kami sambut
dengan senang hati," kata Tosu itu.
"Apa maksud tujuan kalian mengundang isteriku?" teriak
Ciamtay Boh-ko dengan gusar.
"Kami bertindak menurut perintah, lebih dari itu kami
tidak tahu," jawab si Tosu tua.
"Kalau tidak kuizinkan dia pergi?"
"Jika begitu, maaf, Kongcu! . . . ."
"O, maksudmu mau-tak-mau kalian harus membawanya
pergi? Bagus, bagus, kalian sembarangan menempel poster,
memangnya sedang kupertimbangkan apakah harus
kubunuh kalian atau tidak, tampaknya sekarang kalian
memang pantas dibinasakan. . . ." Baru habis kata
"dibinasakan" terucapkan sesosok bayangan lantas
menubruk keluar dari kereta. Tidak jelas senjata apa yang
dipakai, tahu2 para Tosu yang mengepung kereta itu sama
menjerit, darah daging berhamburan, hanya sekejap saja
tiga orang Tosu telah binasa dengan pinggang tertabas
kutung.
"Rebut kereta dan serbu!" teriak si Tosu tua dengan
gusar.
Mendengar aba2 itu, serentak kawanan Tosu itu
membagi diri menjadi dua kelompok, yang satu berusaha
merebut kereta, yang lain mengerubut Ciamtay Boh-ko.
Belum lagi kawanan Tosu yang merebut kereta itu
sempat melarikan kereta, terdengar suara "blak-bluk"
beberapa kali, kawanan Tosu yang mengerubut Ciamtay
Boh-ko itu semuanya roboh dengan tubuh tertabas putus
sebatas pinggang.
"Cui-hun, larikan kereta ke selatan, kawan2 lain
mencegat musuh!" teriak li Tosu tua. ia tahu musuh terlalu
lihay, untuk mengalahkannya jelas tidak mampu, yang
diharap hanya merintanginya, sementara agar Cui-hun
cukup waktu untuk kabur bersama keretanya.
Begitulah dengan memimpin sisa lima orang kawannya.
Tosu tua itu terus menerjang ke arah Ciamtay Boh-ko,
Senjata Ciamtay Boh-ko adalah sebilah golok sabit,
begitu cepat permainan goloknya, sekali tabas tentu jatuh
satu korban, tiada serangan kosong. Hanya Tosu tua itu
saja yang mampu menangkis satu kali, tapi serangan kedua
juga tidak sanggup ditahannya, nasibnya serupa para
Sutenya, iapun binasa dengan tubuh putus menjadi dua.
Kematian keenam Tosu itu hanya berlangsung dalam
waktu singkat, namun kereta tadipun sudah dilarikan
belasan tombak jauhnya.
Ciamtay Boh-ko mengincar baik2 pinggang Cui-hun
Tojin yang mengendarai kereta itu, lalu goloknya
disambitkan. Golok sabit itu terus menyambar ke sana
dengan berputar seperti roda, hanya sekejap saja Cui-hun
sudah tersusul, "kres' pinggang Cui-hun tertabas dengan
telak, golok itu menancap di kabin kereta dan bergetar.
Mayat Cui-hun yang terbagi menjadi dua potong lantas
terguling ke bawah kereta. Karena kehilangan pengendali,
kereta itu berlari sendinan ke depan, tapi tidak seberapa
jauh lantas berhenti dengan sendirinya.
Dengan tersenyum angkuh Ciamtay Boh-ko mendekati
kereta itu dengan pelahan, dipegangnya selongsong
moncong kuda, kereta itu dibawanya kembali ke tempat
semula.
Hampir semua kuli pelabuhan menyaksikan pertempuran
ngeri tadi, mereka sama ketakutan. seketika mereka
terkesima dan tiada yang berani bergerak, rupanya kuatir
menimbulkan salah sangka pemuda pendek gemuk itu,
jangan2 golok sabit akan menyambar tiba dan jiwa ikut
melayang.
Terhadap mayat yang bergelimpangan di sekitarnya,
Ciamtay Boh-ko anggap tidak tahu saja, dengan
menggendong tangan ia memandang jauh ke lautan sana,
ditunggunya berita si kusir yang disuruhnya pergi mencarter
kapal tadi.
Soat Peng-say juga terkesima menyaksikan kejadian
hebat tadi, sama sekali tak disangkanya Ciamtay Boh-ko
bisa sedemikian lihaynya. Ia menyadari, bila tidak dibantu
Soat Koh, jelas dirinya cuma akan mengantar nyawa
percuma.
Tapi apapun juga dia tidak dapat menyaksikan Cin Yak-
leng dibawa pergi, segera ia berpaling dan minta bantuan:
"Nona Soat, marilah kita maju bersama."
Tak terduga, Soat Koh hanya menggeleng saja.
jawabnya: "Tidak, aku masih ingin hidup lebih lama lagi,
maaf, tak dapat kupenuhi permintaanmu."
"Tapi. . .tapi kau kan sudah menyanggupi. . . ."
"Betul, pernah kusanggupi akan ikut kau keluar lautan
dan juga kusanggupi akan menempur Hong-hoa Wancu . . .
."
"Dan sekarang aku cuma mohon engkau suka bantu
menempur Ciamtay Boh-ko saja."
"Bertempur bukan soal bagiku, paling2 cuma mati
dengan pinggang putus tertabas. Hanya ingin kutanya,
berharga tidak kematian demikian?"
"Demi menolong kawan, masa tidak berharga?
Bukankah dunia persilatan paling mengutamakan setia
kawan?"
"Di mana kawanmu?" tanya Soat Koh.
"Berada di dalam kereta itu," jawab Peng-say.
"Hm, jelas2 yang di dalam kereta itu adalah isteri orang,
mengapa anda bersusah payah hendak menolongnya?"
jengek Soat Koh.
Air muka Peng-say tampak sangat pedih, ia menggeleng
dan berkata dengan pasti: "Tidak mungkin terjadi. Adik
Leng jelas diculik oleh dia. Jangan kau percaya ocehannya,
tidak nanti adik Leng mau menjadi isterinya."
"Pernah hubungan apa adik Leng dengan kau?" tanya
Soat Koh.
"Dia Piaumouyku, puteri Kiu-bun-te-tok di Pakkhia itu."
"Hanya begitu saja?" Soat Koh menegas.
"Memangnya kau sangka di antara kami ada hubungan
sesuatu yang tidak beres? Jika terdapat pikiranmu yang
kotor ini, aku lebih suka tidak minta bantuanmu."
Soat Koh menghela napas, katanya: "Soalnya kulihat kau
sangat memperhatikan dia, Bukan soal bagiku membantu
kau, tapi tidak kuharapkan kau teramat memperhatikan
dia."
Peng-say merasa heran dalam keadaan demikian si nona
sempat mengutarakan hal2 yang aneh ini, ia mendongkol,
katanya: "Jangan kuatir, dengan membantuku jiwamu
takkan melayang."
"Jiwa melayang bukan soal pokok bagiku, asalkan kau
berjanji, bilamana beruntung tidak sampai mampus,
selanjutnya kau tidak akan bertemu lagi dengan
Piaumoaymu."
"Hah, sungguh aneh permintaanmu ini." seru Pang-say
dengan mendongkol. "Nona Soat, terima kasih atas
bantuanmu, silakan kau pergi saja, aku sendiri sanggup
menghadapi musuh."
"Jangan mengantar nyawa, bisa jadi kau punya adik
Leng tidak berada di dalam kereta itu," seru Soat Koh
sambil memegang tangan anak muda itu.
Mendadak Peng-say berteriak, "Leng-moay, Leng-moay,
apakah kau berada di dalam kereta?!"
Cin Yak-leng berada di dalam kereta, dia tertutuk dan
tak dapat bergerak, demi mendengar suara
Peng-say, ia kegirangan setengah mati dan segera berteriak:
"Peng-ko, Peng-ko! "
Peng-say berpaling memandang Soat Koh, maksudnya
ingin membuktikan bahwa adik Leng jelas berada di dalam
kereta.
Kecut hati Soat Koh demi mendengar seruan si nona di
dalam kereta itu sedemikian mesranva terhadap si Jilengcu.
Ia tidak menggubris terhadap sorot mata Peng-say yang
ingin mohon bantuannya itu.
"Jadi kau .... kau. . ." Peng-say tidak dapat melanjutkan
karena merasa kecewa atas sikap si nona.
Lantaran tidak mendapatkan jawaban Peng-say,
terdengar Cin Yak-leng berteriak pula: "Peng-ko, Peng-ko,
lekas kemari tolonglah aku. . . ."
Seketika darah Peng-say bergolak, tanpa menghiraukan
bahaya apapun segera ia lepaskan pegangan Soat Koh dan
melangkah kesana. Ia berbenti setelah berhadapan dengan
Ciamtay Boh-ko dalam jarak kira2 dua tiga meter.
Pelahan2 Ciamtay Boh-ko membalik tubuh dan meng-
amat2i Peng-say sejenak, habis itu meadadak ia tertawa ter-
bahak2.
"Leag-moay, Leng-moay! Hahahaha! Alangkah
mesranya panggilanmu tadi?" demikian ia ber-olok2. "Tapi
apakah kau tahu bahwa Leng-moay sudah menyanggupi
akan menjadi isteriku?"
"Tidak, aku tidak pernah menyanggupi," cepat Cin Yak-
leng menyela "Kubilang demi keselamatan Peng ko barulah
kusanggupi, aku tidak berjanji dengan sesungguh hati."
= Sanggupkah Peng say melawan Ciamtay Boh-ko yang
lihay itu dan dapatkah dia merampas kembali Cin Yak-
leng?
= Apakah Soat Koh akan membantu Peng-say ?
—== Bacalah jilid selanjutnya ==—
-ooo0dw0ooo-

Jilid 11
Rupanya tempo hari Liok-ma telah mengancam Cin
Yak-leng dengan jiwa Soat Peng-say agar nona itu mau
mengaku sebagai Sau Kim-leng serta berjanji akan dijadikan
isteri Ciamtay Boh-ko, tanpa melawan ia lalu ikut pergi
bersama Ciamtay Boh-ko.
Karena jiwa Soat Peng-say bergantung kepada Liok-ma,
terpaksa Cin Yak-leng menerima kehendak Liok-ma,
makanya waktu Ciamtay Boh-ko meninggalkan Ling-hiang-
cay, dia menyangka Cin Yak-leng yang dibawanya itu ialah
Sau Kim-leng. Dia sangat gembira, ia membawa nona itu
pesiar ke-mana2 sepanjang perjalanannya menuju ke Ciau-
ciu-wan, dan situ ia hendak berlayar dan pulang.
Meski Ciamtay Boh-ko ini sudah biasa suka main
perempuan, tapi sejak kecil iapun mendapat pendidikan
secara keras, jadi bukan bangsa asing yang masih biadab.
Iapun tahu Sau Kim-leng adalah adik kandungnya sendiri
dan tidak boleh diganggu, maka selama sebulan ini Cin
Yak-leng masih tetap suci bersih.
Padahal Ciamtay Boh-ko cuma pura2 menyatakan
hendak membawa Sau Kim-leng pulang ke lautan timur,
bila hal ini sudah terlaksana, tujuannya juga bukan ingin
menikahi adik kandungnya sendiri. Dalam hal ini dia dan
ayahnya, yaitu Ciamtay Cu-ih memang ada maksud tujuan
lain yang telah direncanakan sebelumnya.
Pada waktu Cin Yak-leng mengaku sebagai Sau Kim-
leng dan berjanji akan menikah dengan Ciamtay Boh-ko
serta ikut dia pulang ke Tang-hay, tapi di depan Liok-ma ia
telah menyatakan dengan tegas, yakni: Demi jiwa Peng-ko,
makanya kuterima kehendakmu.
Sudah tentu Ciamtay Boh-ko merasa bingung oleh
ucapan itu, ia cuma tahu kekasih "Sau Kim leng" disebut
"Peng-ko" atau kakak Peng, tapi mengenai apa sebabnya
demi jiwa Peng-ko si nona mau ikut dia pulang ke Tang-
hay, hal ini tetap sukar dipahaminya. Baru sekarang untuk
pertama kalinya dia berhadapan dengan si "Peng-ko" yang
disebut Cin Yak-leng itu.
Begitulah Soat Peng-say menjadi bingung juga demi
mendengar bantahan Cin Yak-leng tadi, segera ia bertanya:
"Leng-moay, apa katamu? Demi keselamatan jiwaku?"
Yak-leng tidak berani menjelaskan isi hatinya di depan
Ciamtay Boh-ko, sebab kuatir orang akan pergi mencari lagi
Sau Kim-leng yang tulen sehingga bisa menimbulkan
dendam Liok-ma karena dirinya tidak pegang janji, lalu
jiwa Peng-say akan terancam lagi.
Yang penting sekarang Peng-say terbukti selamat, ia
mengira Liok-ma telah menepati janjinya, maka ia lantas
berseru: "Peng-ko, jangan banyak bertanya, lekaslah
menolong diriku!"
Mendadak Ciamtay Boh-ko melolos golok sabitnya yang
masih menancap di kabin kereta itu, lalu berkata kepada
Soat Peng-say sambil menyeringai: "Kau ingin selamat atau
tidak?"
Sementara itu Peng-say sudah membuat sepasang pedang
yang cocok dipakai, cepat ia melolos sebilah pedangnya dan
siap tempur. Padahal dalam hati ia sangat takut, hanya
lahirnya saja ia berlagak tenang.
Melihat ketegangan Soat Peng-say seperti menghadapi
musuh besar di medan perang, Ciamtay Boh-ko merasa geli,
ia menengadah dan ter-bahak2, ucapnya menghina:
"Kongcumu takkan membunuh kau, agar adk Ling tidak
benci padaku selama hidup bila kubunuh kau. Hendaklah
kauturut saja kepada perintahku, lekas kau pergi, kalau
tidak, pinggang tertabas putus, kan celaka!"
Tapi Peng-say diam saja tanpa menanggapi, ia kuatir bila
sedikit lengah dan tahu2 golok sabit lawan menyambar tiba,
kan jiwanya bisa melayang.
"Bagaimana, ketakutan ya?!" jengek Ciamtay Boh-ko dan
mendadak ia pura2 membacok.
Tapi Peng-say bukanlah pemuda penakut, gertakan ini
masih dapat ditahannya, ia tetap berdiri tegak di tempatnya
tanpa bergerak.
"Sret sret", kembali Ciamtay Boh ko menabas dua kali,
serangan pura2, tapi juga sungguh2. Bila Peng say tidak
dapat menahan diri, bisa jadi serangan pancingan itu
berubah menjadi sungguhan dan dia tentu akan terserang
dengan kelabakan.
Untung tidak percuma dia berlatih Kungfunya, ia tahu
dalam keadaan demikian diperlukan ketenangan dan
kesabaran, semakin gugup semakin celaka. Untuk menjaga
segala kemungkinan, pelahan2 ia menyisipkan tangan
kanan pada ikat pinggangnya.
Ciamtay Boh-ko jadi melengak melihat tindakan Peng
say itu, pikirnya: "Busyet, menghadapi lawan tangguh, jelas
kau ketakutan, sekarang kau malah. sengaja
menyembunyikan sebelah tanganmu, apakah kau sengaja
hendak membikin dongkol padaku? Bagus, ingin kulihat
hanya dengan satu tangan saja berapa jurus kau mampu
menangkis seranganku?"
Ia benar2 marah. tapi tidak memperlihatkan
perasaannya. Mendadak golok sabit berkelebat, secepat kilat
ia menabas.
Dia cepat, tapi Peng-say juga tidak lambat. Ia tahu
pentingnya momen, sedetikpun tidak boleh terlambat.
Pedang yang dipegangnya tetap berada di dalam sarungnya
dan mendadak menegak sebatas pinggang, "trang", sarung
pedang yang terbuat dan kulit itu tertabas dan bagian bawah
lantas terlepas dan jatuh.
"Bagus, tangkis lagi satu kali?" seru Ciamtay Boh-ko,
kembali golok sabit berkelebat, gaya serangannya tidak
berubah.
Peng-say juga tetap memegang pedangnya dan tidak
sempat berganti cara lain, ia tetap menegakkan pedang di
depan dada untuk menangkis. Maka sarung pedang yang
sudah terlepas sebagian itu kembali tertabas sepotong pula.
Serangan Ciamtay Boh-ko bertambah gencar, ia
membacok satu kali dari kanan dan menabas pula dari kiri,
serangan berantai, setiap tabasan tidak pernah jauh dari
batas pinggang Soat Peng-say, dia se-akan2 ingin
menyatakan kalau tabasannya tidak tepat mengenai
pinggang anak muda itu, andaikan dapat membunuhnya
juga kurang cemerlang.
Sebaliknva setiap Peng-say menangkis satu kali,
pedangnya lantas tertekan beberapa senti ke bawah, hal ini
disebabkan kekuatannya jauh di bawah Ciam-tay Boh ko,
maka setiap kali setelah menangkis, setiap kali pula
tenaganya berkurang.
Sampai serangan kesebelas, ujung pedang Peng-say yang
menegak itu sudah hampir menyentuh tanah, sarung
pedangnya yang tiga kaki panjangnya itu pun tersisa
beberapa inci saja. Melihat gelagatnya jika dia menangkis
lagi dua-tiga kali, tangannya yang memegang gagang
pedang itu berikut sisa sarung pedang pasti akan tertabas
putus oleh golok Ciamtay Boh-ko.
"Hahahaha! Apa abamu sekarang?!" seru Ciam¬tay Boh-
ko dengan bergelak tertawa. "Akan kubuntungi tangan
kirimu, ingin kulihat tangan kanan akan kau gunakan atau
tidak?"
Sembari bicara kembali ia membacok lagi dua kali dan
tangan Soat Peng-say tertekan lebih kebawah lagi. Bacokan
kedua kali terakhir itu meski tetap mengenai batang pedang,
tapi jelas menyambar lewat di tepi tangan Peng say.
Peng say menyadari bila lawan menabas lagi, tentu
tangan sendiri akan tertabas dan akhirnya tetap tak
terhindar dari kematian ditabas putus pinggangnya.
Bila dia ragu lagi, mungkin kesempatan melolos pedang
yang lainpun ter-sia2. Keadaan tidak memungkinkan dia
banyak berpikir pula, dia harus bertindak.
Begitulah pada detik terakhir, mendadak ia tekan
pedangnya ke bawah, ujung pedang menancap tanah, ia
bertekad tetap akan mempertahankan pedangnya sekalipun
tangan sendiri akan tertabas.
Soat Koh cukup paham watak nekat Peng-say itu, ia tahu
anak muda itu tidak nanti membuang pedangnya untuk
mencari selamat. Betapapun ia tidak sampai hati untuk
tinggal diam dan menyaksikan temannya dicelakai orang.
Maka ketika ujung pedang Peng-say tercancap di tanah dan
golok sabit menyambar, mendadak iapun bergerak, "trang",
ia tergetar mundur bersama Ciamtay Boh-ko.
Keruan Ciamtay Boh-ko terkejut, tak diduganya seorang
nona muda jelita memiliki kekuatan setingkat dengan
dirinya.
Padahal tenaga Soat Koh lebih lemah daripada Soat
Peng-say, apalagi kalau dibandingkan Ciamtay Boh-ko?
Soalnya Ciamtay Boh-ko sudah menabas belasan kali pada
pedang Peng-say sehingga tenaganya sudah banyak
terbuang, sedangkan Soat Koh bertujuan menolong Peng-
say, tangkisannya menggunakan sepenuh tenaganya, dalam
keadaan demikian tampaknya menjadi sama kuatnya ketika
beradu senjata dan sama2 tergetar mundur.
Ciamtay Boh-ko hidup jauh di lautan timur sana, sudah
biasa memerintah dan dipuja, hampir tidak pernah
memandang sebelah mata terhadap siapapun juga.
Sekarang meski menyangka tenaga Soat Koh sangat kuat, ia
hanya tercengang sejenak saja dan tidak menghiraukannya
lagi, serunya dengan tertawa: "Aha, memang sejak tadi
seharusnya nona maju membantu lakimu ini."
Mendengar ucapan Ciamtay Boh-ko itu, Cin Yak-leng
yang meringkuk di dalam kereta menjadi heran siapakah
nona yang dimaksudkan itu. Padahal ia yakin sang "Peng-
ko" pasti mampu melabrak dan menghalau Ciamtay Boh-
ko, tak tahunya sekarang sang kakak Peng itu malah perlu
bantuan orang. Kata2 "lakimu" ucapan Ciamtay Boh-ko
tadi sangat menusuk perasaannya, sayang dia tertutuk dan
tak bisa berkutik, kalau tidak, biarpun terluka dalam yang
parah juga dia akan berdaya untuk melongok keluar. untuk
melihat bagaimana macamnya si nona yang hendak
membantu kakak Peng itu.
Begitulah terdengar Soat Koh lagi berkata dengan
tertawa: "Ngaco-belo, dari mana kau tahu dia itu lakiku?"'
Ucapan Soat Koh ini sebenarnya sangat janggal dan
lucu, dia mendamperat orang "ngaco-belo" tapi bertanya
pula "dari mana kau tahu", dua kalimat yang bertentangan,
apalagi diucapkan dengan tertawa, jadi se-akan2 dia senang
orang bilang Soat Peng-say adalah "laki"nya, lalu dia
tambahkan pertanyaan "dari mana kau tahu;" agar orang
menjelaskan alasannya.
"Sejak tadi kalian kasak-kusuk disamping sana
memangnya kau kira aku tidak tahu?" jawab Ciam-tay Boh-
ko. "Kulihat lelaki itu tidaklah suka padamu, buktinya dia
datang untuk menolong seorang gadis lain, buat apa kau
membelanya mati2an?"
"Kau ngaco!' bentak Soat Koh.
"Hahaha, jika benar dia suka padamu, mengapa dia
membela perempuan lain dengan mati2an?" seru Ciamtay
Boh-ko dengan bergelak. "Makanya, nona manis, untuk apa
kau bersusah payah membantu dia, kan sia2 belaka cintamu
padanya?"
"Jangan percaya pada ocebannya, dia sengaja memecah-
belah kita!" teriak Peng-say.
"Ha, kau kira aku akan takut jika dia membantu kau?"
jengek Ciamtay Boh-ko.
Sementara itu lengan kiri Peng-say yang kesemutan tadi
sudah pulih kembali tenaganya, walaupun tidak setangkas
semula, untuk memainkan pedang rasanya sudah kuat.
Segera ia membentak: "Jika tidak takut, boleh kau coba!"
"Huh. mantap benar ucapanmu, sedangkan orang mau
membantu kau atau tidak kan juga belum jelas?!" kata
Ciamtay Boh-ko.
Setelah merenungkan perkataan Ciamtay Boh-ko tadi,
makin dipikir rasanya makin benar, mendadak Soat Koh
berseru: "Aku tidak membantu dia!"
"Nah, dengar tidak? Dia bilang tidak membantu kau?"
dengan tertawa Ciamtay Boh ko menjengek.
Tapi mendadak Pang-say berteriak: "Kiong-Siang-kut-
thau!"
"Apa katamu?" Ciamtay Boh-ko terkejut.
Belum lenyap suaranya, jurus serangan "Kiong-
siang¬kut-thau", jurus pertama Siang-liu-kiam-hoat, sudah
dilancarkan Peng-say.
Mendadak meadengar istilah jurus serangan itu, Soat
Koh terkejut, ketika dilihatnya pula anak muda itu telah
menyerang, tanpa terasa iapun ikut melancarkan jurus
serangan yang sama.
Jurus "Kiong-siang-kut-thau" yang dilancarkan dengan
dua gerakan yang berbeda, begitu bergabung serentak
menimbulkan daya ancaman yang luar biasa.
Gerak perubahan Ciamtay Boh-ko waktu menghadapi
musuh boleh dikatakan cepat sekall, malahan selalu berebut
mendahului. Cuma sayang, kecepatan Kungfu Tang-wan
yang termashur itu kini kebentur Siang-liu-kiam-hoat,
segala serangan mautnya menjadi sukar dikembangan.
Malahan untuk menangkis jurus pertama Kiong-siang-kut-
thau saja dia merasa kerepotan.
Setelah dua-tiga jurus, Ciamtay Boh-ko tambah
kelabakan, ia berteriak gusar: "Kenapa mulutmu mencla-
mencle, nona? Kau bilang tidak membantu dia, mengapa
sekarang kau ikut bertempur?"
"Aku memang tidak membantu dia!" seru Soat Koh
dengan muka bersungut.
"Kalau tidak membantu dia, silakan pergi saja!" seru
Ciamtay Boh-ko sambil menangkis dengan susah payah.
"Tadi kudengar kau suruh dia menggunakan tangan
kanan?" kata Soai Koh. "Karena dia tetap tidak mau
menggunakan tangan kanan, maka aku mewakilkan dia
menggunakan tangan kanan."
Makin bertempur makin ngeri Ciamtay Boh-ko oleh
serangan gabungan lawan yang lihay, ia memaki: "Budak
busuk, tampaknya kau sudah ter-gila2 padanya! Tangan
kanannya kan tidak buntung untuk apa kau mewakilkan
dia? Huh, tidak tahu malu, dasar tidak laku kawin, maka
kau ter-gila2 padanya meski orang tidak sudi padamu. Hm,
belum pernah kulihat budak bermuka tebal macam kau ini,
masa perempuan ter-gila2 kepada lelaki? Jika kau tidak
tahan, kenapa tidak mengecer saja di tepi jalan!"
Rupanya Ciamtay Boh-ko ingin memancing kepergian
Soat Koh, tak tahunya makin dimaki makin gencar dan
lihay serangan Soat Koh. Makian terakhir itu terlalu kotor
dan sangat menusuk perasaan, saking gemasnya, saat itu
kebetulan Soat Koh dan Peng-say lagi memainkan jurus ke-
13 yang disebut "Siau-go-yan-he" atau lengkingan angkuh
pancaran perasaan, mendadak Soat Koh bersiul nyaring,
pedang terus disambitkan dan kontan menembus dada
Ciamtay Boh ko. Kontan Ciamtay Boh-ko menjerit ngeri
dan terkapar mandi darah.
Peng-say tidak keburu mencegah tindakan nona, cepat ia
menarik kembali pedangnyn. Dilihatnya Soat Koh telah
mencabut lagi pedangnya yang lain terus menerjang ke arah
kereta.
Keruan Peng-say terkejut, cepat ia memburu maju dan
menusuk dengan pedangnya sambil membentak: "He, kau
mau apa?"
"Akan kubunuh dia (maksudnya orang yang berada di
dalam kereta, Cin Yak-leng)!" seru Soat Koh tanpa
menoleh.
Tusukan Peng-say tadi mengenai tempat kosong,
tampaknya tak sempat lagi merintangi si nona, terpaksa ia
melepaskan pedangnya untuk menusuk lagi. Meski dia
tidak melolos pedang kedua, tapi serangan dengan
melepaskan pedang pertama adalah hasil latihannya selama
lima tahun, yaitu setengah jurus dari serangan dua pedang
sekaligus, jitu lagi cepat Kontan bahu kanan Soat Koh
tertusuk dengan tepat.
Sudah tentu Soat Koh tidak menyangka Peng-say berani
melukainya, ia kesakitan sehingga pedang sendiri terlepas
dari pegangan, mendadak ia membalik tubuh, tangan kiri
dengan cepat memegang ujung pedang Peng-say yang
melukai bahunya itu sambil berseru pedih: "Kau .... kau. . .
."
Sembari berseru, sekuatnya ia terus menarik. Kuatir
melukai tangan si nona, cepat Peng-say melepaskan rantai
yang menggandeng pedang itu.
Tanpa menghiraukan luka di belakang bahunya Soat
Koh pegang pedang rampasan itu dan berteriak: "Gurumu
bukan Tio-lotoa melainkan bernama Tio Tay-peng, betul
tidak?"
Peng-say mengangguk, dengan penuh rasa penyesalan ia
berkata: "Lukamu. . . ."
"Tidak perlu kau ber-pura2 simpatik," bentak Soat Koh.
"Ingin kutanya padamu, mengapa kau dusta padaku dan
bilang gurumu bernama Tio-lotoa?"
"Kalian guru dan murid tidak senang terhadap guruku,
dengan sendirinya tak dapat kukatakan nama asli beliau. . .
."
"Gurumu telah menabas buntung lengan kiri guruku, tak
tersangka sejarah hampir terulang lagi," kata Soat Koh
dengan tersenyum getir. "Ingat, pada suatu hari pasti akan
kubalas melukai bahu kirimu dengan pedangmu ini, sama
halnya seperti guruku balas membuntungi lengan kanan
gurumu dahulu!"
Habis berkata, tanpa berpaling lagi ia terus berlari pergi.
"Soat Koh, Soat Koh, berhenti! Dengarkan penjelasanku
..." seru Peng-say.
Tapi seorang mendadak menukas: "Penjelasan apalagi?
Bicaralah dengan kami!"
Peng-say berpaling dan melotot, dilihatnya entah sejak
kapan delapan penunggang kuda telah mengitarinya, yang
bicara itu adalah seorang kakek kurus kecil berusia lima
puluhan lebih.
Seorang lagi yang tampak tinggi besar lantas menegur
Peny-say pula: ”He, Tosu yang menggeletak di sana itu
apakah kau yang membunuhnya?"
Sementara itu Soat Koh telah menghilang di tengah
orang banyak sana. dengan perlahan Peng-say lantas
membalik tubuh.
Didengarnya seorang laki2 berusia 30-an dan berdandan
seperti pekerja kasar sedang membentaknya: "Samsuko
kami bertanya padamu, kau dengar tidak?"
Peng-say tidak ingin banyak cingcong dengan mereka, ia
menjawab singkat: ”Dengar, bukan aku yang membunuh
mereka!"
Seorang yang berdandan seperti saudagar dan membawa
Swipea ikut bertanya: "Dengan sendirinya bukan kau yang
membunuh mereka, hanya sedikit ilmu pedangmu yang
tidak berarti ini masa dapat membunuh Tosu Bu-tong-pay?"
Seorang muda yang pendek kecil seperti monyet lantas
menukas: "Kukira ucapan Gosuko ini kurang tepat. Ilmu
pedang Pak-cay cukup terkenal, mana baleh diremehkan?"
Saudagar yang membawa Swipoa itu menjawab: "Ilmu
pedang Pak-cay memang terkenal, tapi anak murid Sau-
supek itu rata2 tidak becus, betapapun hebat ilmu pedang
yang diajarkan kepada mereka jadinya tak keruan setiba di
tangan mereka."
"Tepat, betul," seru si monyet sambil berkeplok tertawa.
"Kiranya Gosuko bicara mengenai orangnya dan bukan
soal ilmu pedangnya."
Padahal sebelum orang2 ini datang ke sini, sebelumnya
mereka sudah mendapat keterangan bahwa kawanan Tosu
itu dibunuh oleh putera Ciamtay Cu-ih, merekapun
menyaksikan pula Soat Peng-say bergabung dengan Soat
Koh dan berhasil membunuh Ciamtay Boh-ko, padahal
Ciam-tay Boh ko adalah keturunan salah seorang Su-ki atau
empat sakti, betapa tinggi kepandaian Ciamtay Boh-ko
dapatlah dibayangkan.
Namun mereka tidak suka kepada anak murid Sau Ceng-
in dari Pak cay, sebab sejak sang guru hilang. anak
muridnya sama sekali tidak menaruh perhatian, bahkan
tidak mau membantu ibu guru, mereka menganggap Pak-
cay sudah tamat riwayatnya dan sama bubar mencari
jalannya sendiri2. Orang2 yang tidak setia kepada
pergurnan ini sudah tentu dipandang hina oleh mereka.
Sedangkan usia Peng-say dan Soat Koh hanya likuran
saja, jelas mereka tidak mungkin adalah murid Sau Ceng-in,
tapi ilmu pedang yang mereka mainkan bergaya Pak-cay,
maka mereka menyangka Peng-say berdua adalah cucu
murid Sau Ceng-in.
Kalau anak murid Sau Ceng-in saja dipandang hina oleh
mereka, dengan sendirinya cucu muridnya lebih2
diremehkan oleh mereka, maka begitu berhadapan mereka
lantas ber-olok2 dan menyindirnya.
Selain beberapa orang yang bicara tadi, di antara
rombongannya ada lagi tiga orang yang berusia 18 atau 19
tahun, mungkin mereka belum berpengalaman dan baru
saja ikut para Suhengnya berkelana, mereka belum pintar
putar lidah seperti kawannya, mereka hanya mendengarkan
saja di samping.
Diantara lima orang yang telah buka suara tadi, si
monyet tadi terhitung paling muda, kira2 baru likuran, tapi
jelas sudah berpengalaman beberapa tahun merantau
Kangouw, mereka dapat membedakan ilmu pedang dari
berbagai aliran den golongan, juga ilmu pedang gaya Pak-
cay yang dimainkan Peng say dan Soat Koh tadi dapat
dikenali mereka, cuma tiada seorangpun yang tahu bahwa
limu pedang itu sebenarnye adalah Siang-liu-kiam-hoat
yang mengguncangkan dunia Kangouw dari sinipun dapat
diketahui babwa pengetahuan merekapun kurang luas.
Padahal Soat Peng-say hakikatnya bukan murid Pak-cay.
maka ia tidak ambil pusing biarpun orang menyindirnya,
diam2 ia malahan membenarkan ucapan si saudagar yang
membawa swipoa tadi, yang diherankan Peng-say adalah
apa sebabnya Siang-liu-kiam-hoat yang dimainkannya bisa
disangka ilmu pedang Pak-cay.
Diam2 ia berpikir: "Melihat Thay-yang-hiat (bagian
pelipis) mereka sama menonjol dan sinar mata yang tajam,
jelas mereka ini anak murid perguruan ternama, pula guru
mereka pasti ada hubungan yang sangat erat dengan Sau
Ceng-in dari Pak-cay, makanya sekali pandang mereka
dapat mengenali gaya ilmu pedang Siaug-liu-kiam-hoat."
Pelahan ia lantas mendekati kereta dan memanggil:
"Leng-moay!"
Tapi Cin Yak-leng tidak menggubrisnya.
Mendadak si kakek kurus kering tadi bertanya: ; "Yang
di dalam kereta apakah nona Sau Kim-leng?"
Cin Yak-leng tidak menjawab panggilan Peng-say tadi,
sebaliknya menanggapi pertanyaan si kakek: "Betul, aku she
Sau bernama Kim-leng."
Peng-say jadi melengak, ia heran mengapa Yak-leng
sengaja mengaku sebagai Sau Kim-leng, cepat ia berseru:
"He, Leng-moay, kau . . . . "
Sudah tentu Yak-leng tahu apa yang akan diucapkan
anak muda itu, omelnya: "Jangan kau panggil diriku. aku
tidak bicara dengan kau!"
Si kakek kurus sangat menghina guru Soat Peng-say dan
Soat Koh, tadi iapun mendengar Soat Koh menuduh guru
Peng-say memenggal lengan kiri guru si nona, maka ia
yakin guru kedua muda-mudi itu pasti bukan orang baik2.
Kalau gurunya saja bukan orang baik, tentu anak didik
mereka tak dapat diharapkan akan baik.
Karena itulah ia lantas membentak: "Pergi, enyah kau!
Tak tahu sopan santun. memangnya kata Leng-moay boleh
sembarangan kau panggil?"
Peng-say jadi mendongkol, jawabnya: "Aku tidak boleh
memanggilnya, memangnya kakek sialan macam kau boleh
memanggilnya?" Sabar juga kakek itu, meski dianggap
"kakek sialan" oleh Soat Peng-say, ia tidak menjadi marah,
katanya: "Sudah tentu aku boleh memanggilnya demikian.
Nah, Leng-moay, Leng-moay. . . ."
"Hah, alangkah ngerinya!" sela Peng-say dengan tertawa.
"Ngeri apa maksudmu?" tanya si kakek.
"Habis, usiamu sudah tua, menjadi ayah adik Leng saja
lebih daripada cukup, tapi kau memanggilnya adik dengan
mesra. apakah tidak merasa ngeri?"
"Anak busuk, buta barangkali matamu?" omel si kakek
dengan aseran "Kau tahu siapakah tuanmu ini?"
"Sudah tentu kutahu, tidak lebih cuma seorang kakek
kecil dan kurus kering," jawab Peng-say.
Serentak ketujuh saudara seperguruan si kakek
membentak: "Kurang ajar!"
Si monvet bahkan lantas menggulung lengan baju dan
mendamperat: "Anak kurang ajar. kalau tidak kulabrak
agaknya kau tidak tahu kelihayan tuanmu ini!"
Peng say tidak gentar, dengan tegas ia menjawab: "Mau
berkelahi? Bagus, hayolah maju!"
Segera si monyet akan melompat turun dari kudanva,
tapi si kakek keburu mencegahnya dan berkata: "Jangan kau
hiraukan dia, Laksute (adik seperguruan keenam) Murid
Sau-supek memang sudah lama tidak memikirkan guru lagi,
manusia yang khianat mana bisa mengeluarkan anak didik
yang sopan, dengan sendirinya kitapun tidak dianggap
sebagai kaum Cianpwe lagi."
Si moyet tidak berani membangkang perintah sang
Suheng, ia cuma mendelik saja dan berucap: "Nah,
dengarkan yang jelas. anak busuk. Guru tuan2mu ini
bernama Sau Ceng-hong. asalnya adalah saudara sepupu
dengan Sau Ceng-in, Sau-supek dari Pak-cay. Meski guru
kalian telah mengkhianati perguruan, tapi jelek2 mereka
adalah murid Sau-supek, apapun juga kalian lebih rendah
seangkatan daripada kami, mana boleh kalian bersikap
kasar terhadap Jisuko (kakak perguruan kedua) kami?"
Sungguh Peng-say mendongkol dan geli pula. Orang2 ini
bukan saja salah sangka dirinya sebagai murid Pak-cay.
bahkan disangkanya cuma cucu murid Sau Ceng-in. Diam2
ia membatin: "Salah adik Leng. dia mengaku sebagai puteri
Sau Ceng-in, dengan demikian sebagai Piaukonya sekarang
aku berubah jadi murid keponakannya malah. Pantas si
kakek kecil itu bilang aku tidak sopan memanggil Leng-
moay padanya."
Nama Cin Yak-leng dan Sau Kim-leng memang ada
persamaan lafal pada kata terakhir, maka panggilan "Leng-
moay" Peng-say tadi disangka oleh Ciamtay Boh-ko dan
kedelapan orang ini sebagai memanggil Sau Kim-leng.
sungguh kebetulan juga salah paham ini.
Pada waktu si monyet berbicara, si kakek kecil telah
melompat turun dari kudanya dan mendekati kereta dan
berseru: "Sau-sumoay, guruku sangat prihatin ketika
mendengar dirimu diculik oleh Ciamtay-kongcu. serentak
beliau memerintahkan kami di bawah pimpinan Sau Peng-
lam, Sau-suheng. memburu kesini untuk manyelamatknn
dirimu. Syukur para kawan dari Bu-tong juga menerima
berita dan mendahului memburu kemari untuk mengatur
segala apa yang perlu, hasilnya Ciamtay-kongcu dapat
dipancing keluar, sayang para kawan Bu-tong-pay sama
gugur, namun si pengganas Ciamtay-kongcu juga dapat
dibinasakan, selama ini Sumoay tentu telah banyak
mengalami kesukaran."
"Ah, tidak apa2," kata Yak-leng di dalam kereta.
"Di dunia Kangouw saat ini tersiar kabar bahwa Sau-
supek telah muncul kembali, entah hal ini betul atau tidak,
untuk inilah guru kami ingin mengundang Sumoay agar
suka mampir ke Soh-hok-han di Huiciu," demikian kata si
kakek pula.
Peng-say terkejut, pikirnya: "Ah. kiranya mereka ini anak
murid Soh-hok Hancu dari Lam-han. sungguh tak tersangka
Soh-hok Hancu adalah saudara sepupu Leng-hiang Caycu,
jadi antara Lam-han dan Pak-cay ada hubungan
kekeluargaan, pantas mereka dapat melihat permainan
Siang-liu-kiam-hoat bergaya ilmu pedang Pak-cay''
”Tapi dari mana mereka tahu Ciamtay Boh-ko
membawa lari Sau Kim-leng?" demikian pikirnya pula.
"Jangan-jangan Sejak mula Yak-leng sudah mengaku
sebagai Sau Kim-lemg mengapa bisa terjadi begini? Apa
manfaatnya Yak-leng mengaku sebagai Sau Kim-leng?
Mungkinkah Leng-moay mengetahui Sau Kim-leng
sesungguhnya adik kandung Ciamtay Boh-ko, karena
simpatinya, maka dia sengaja memalsukan nona Sau? Dan
berita tentang digondolnya Sau Kim-leng oleh Ciamtay
Boh-ko jangan-jangan disiarkan sendiri oleh Sau Kim-leng?
Lalu apakah maksud tujuannya?"
Begitulah berbagai tanda tanya itu timbul dalam
benaknya.
Cin Yak-leng tidak menjawab pertanyaan si kakek kecil
tadi, ia hanya bersuara samar2 saja. Tampaknya si kakek
menjadi girang, disangkanya suara Yak-leng itu sebagai
mengiakan dan setuju untuk ikut pergi ke Soh-hok-han,
dengan tertawa ia lantas berkata: "Laksute, kau saja yang
mengendarai kereta ini, sekarang juga kita pulang ke
Huiciu."
Cepat si monyet tadi melompat turun dari kudanya dan
melompat ke atas kereta.
Di dalam kereta Yak-leng sendiri menjadi kelabakan.
Hakikatnya ia tidak tahu apa itu Soh-hok-han, lebih2 tidak
tahu siapa si kakek dan rombongannya itu, hanya dari
percakapan mereka tadi diketahui mereka ada hubungan
erat dengan Sau Kim-leng, bahkan menyebut padanya
sebagai Sumoay. Padahal dia cuma Sau Kim-leng
gadungan, dia bertindak demikian adalah demi keselamatan
Soat Peng-say, sebab dia harus pegang janjinya kepada
Liok-ma yang mengharuskan dia mengaku sebagai Sau
Kim-leng, jika dia melanggar janji, bisa jadi Liok-ma akan
mencari dan membunuh Peng-say, karena itulah sebegitu
jauh ia tetap mengaku sebagai Sau Kim-leng,
Sekarang didengarnya si kakek kecil itu hendak
membawanya ke Soh-Hok-han, dengan ragu2 ia bersuara
samar2. tak tersangka si kakek menyangka dia setuju dan
segera membawanya berangkat. Jika bertemu dengan
paman Sau Kim-leng, yaitu Sau Ceng-hong yang terkenal
dengan Soh-hok Hancu apakah kepalsuannya ini takkan
terbongkar? karena pipiran inilah, dia menjadi bingung dan
kelabakan di dalam kereta,
Syukurlah pada saat itu juga mendadak terdengar Peng-
say membentak: "Nanti dulu! Kalian telah salah mengenali
orang!"
"Kau bilang apa? Salah mengenali orang?" si kakek
menegas.
"Dia. . .dia bukan. . . ."
Belum lanjut ucapannya. Yak-leng menjadi kuatir, cepat
ia berseru: "Soat Peng-say, kau berani sembarangan
omong?!"
Peng-say tidak menyangka Yak-leng sedemikian
sungguh2 memalsukan diri Sau Kim-leng, ia menghela
napas dan berkata: "Leng-moay, buat apa kau meng. . . ."
"Apakah kau minta tak kugubris kau selamanya?" ancam
Yak-leng.
Melihat si nona terus menerus merintanginya, Peng-say
tidak berani membongkar rahasianya, ia lantas berkata:
"Leng-moay, selama sebulan ini apakah kau baik2 saja?"
Pertanyaan ini jelas bukan salam hormat biasa, dibalik
pertanyaaanya itu jelas Peng-say ingin tahu selama sebulan
ini apakah si nona telah dinodai Ciamtay Boh-ko atau
tidak.
Padahal selama sebulan ini, kuatir Cin Yak-leng berubah
pikiran dan melarikan diri, sejauh itu Ciamtay Boh-ko tidak
pernah mengganggu si nona, bahkan menjaga dan
membelanya secara murni sebagai seorang kakak, baik
makan maupan tinggal di hotel, selama itu Yak-leng
mendapat perlakuan yang sangat mewah.
Namun Cin Yak-leng tetap tidak pernah lupa kepada
Soat Peng-say, ia tidak tahu apakah benar Liok-ma telah
mengampuni jiwa anak muda itu? Iapun membayangkan
dirinya yang menyaru sebagai Sau Kim-leng, jika nanti
harus menikah dengan orang yang belum pernah
dikenalnya, apakah hidupnya takkan merana dan tersiksa?
Siapa tahu, pengorbanannya ini ternyata sia2 belaka,
dalam waktu sesingkat itu tahu2 Peng-say telah bergaul lagi
dengan gadis lain Meski didengarnya antara mereka terjadi
perang mulut tapi juga dapat diketahui hubungan mereka
sangat erat. Sungguh ia tidak menduga bahwa lelaki
ternyata tal dapat dipercaya hal ini membuat dingin
hatinya, Makin dipikir makin pedih dan juga merasakan
penasaran yang tak terhingga.
Karena itulah, dengan ketus ia lantas menjawab
pertanyaan Peng-say tadi: "Aku tidak ingin bicara
denganmu, boleh kau cari Soat Koh itu saja!"
Peng-say melengak, pikirnya, "Apa yang kau cemburu?
Tidakkah kau dengar Soat Koh telah kulukai dan telah
meninggalkan diriku dengan sakit hati."
Ia merasa ucapan Yak-leng itu agak keterlaluan tidak
tahu bahwa Yak-leng sebenarnya sangat berterima kasih
karena dia telah melukai Soat Koh demi
menyelamatkannya, betapapun ini suatu tanda anak muda
ini masih ingat padanya. Tapi kemudian ketika Soat Koh
berlari pergi, Peng-say telag berteriak pula agar nona itu
kembali untuk diberi penjelasan segala, hal inipun
menimbulkan rasa mendongkol Yak-leng.
Walaupun Peng-say tidak berhasil menahan kepergian
Soat Koh, tapi hal inipun dapat dirasakan oleh Cin Yak-
leng bahwa hubungan di antara Peng-say dengan nona itu
pasti tidak sederhana, karena itulah ia merasa sedih.
Si kakek kecil tadi sudah kenyang asam-garamnya
kehidupan manusia, sudah tentu dia dapat memahami
perasaan orang muda, ia menganggap tidaklah wajar Soat
Peng-say mencintai "Sau Kim-leng" yang tingkatannya
lebih tua, hal ini jelas tidak pantas. Tapi lantaran Cin Yak-
leng tampaknya juga suka kepada Soat Peng-say, maka si
kakek menjadi serba salah dan tak dapat berbuat apa2, ia
cuma menggeleng saja dan menggerutu: "Tidak pantas,
tidak pantas!"
"Memang tidak pantas!" si monyet tadi menambahkan.
"Jelas2 harus panggil bibi, tapi memanggil Leng-moay
malah."
Diam2 Peng-say membatin: "Kalau Leng-moay berkeras
mengaku sebagai Sau Kim-leng, biarlah akupun mengaku
sebagai mund Sau Ceng-in agar tidak di-olok2 mereka."
Karena pikiran itu, segera ia menjawab: "Siapa bilang dia
adalah bibi-guruku, Leng-moay adalah Sumoayku!"
Dengan sangsi si kakek kecil tadi bertanya: "Apakah
Kungfumu kau dapatkan dari ajaran nyonya Sau-supek?"
"Bukan, ilmu pedangku justeru kuperoieh dari Sau-supek
kalian," jawab Peng-say.
Kontan si monyet berteriak: "Omong kosong! Sau-supek
sudah menghilang sejak 27 tahun yang lalu, berapa usiamu,
masa kau sempat belajar pedang kepada pada Sau-supek"
Tapi si kakkek lantas berkata: "Jika demikian, jadi Sau-
supek memang betul tidak meninggal? Akhir2 ini di dunia
Kangouw tersiar berita muncul kembalinya Sau-supek, jadi
benar hal ini?"
"Memangnya kalian berharap Sau-supek kalian lekas
mati?" tanya Peng say.
"Sudah ....sudah tentu bukan begitu," jawab si kakek
dengan kurang senang. "Coba jawab, berapa lama Sau-
supek mengajarkan ilmu pedang padamu?"
"Rasanya tidak perlu kujawab pertanyaan ini," ujar Peng-
say.
"Di mana Sau-supek sekarang?" desak si kakek.
"Kau tanya padaku, lalu kutanya siapa?" jawab Peng-say
dengan lagak jenaka.
Kontan si monyet berteriak pula: "Persetan! Mana ada
mund tidak tahu di mana berada gurunya sendiri? Kukira
dia sengaja menipu kita, hakikatnya dia tidak pernah
melihat Sau-supek."
Di dalam hati Peng-say berkata: "Betul, aku memang
tidak pernah melihat Sau-supek kalian, cuma Siang-liu-
kiam-hoatku ini meski ajaran guruku, asal-usulnya memang
diperoleh dari Sau-supek kalian."
Agaknya si kakek juga tidak percaya sang paman guru
yang telah menghilang 27 tahun yang lalu itu dapat
menerima seorang murid yang masih begini muda. Tapi
kalau Sau Kim-leng diketahui adalah anak perempuan Sau-
supek, logikanya jika sang paman guru itu dapat menggauli
isterinya dan melahirkan anak dengan sendirinya juga ada
kemungkinan dapat menambah seorang murid.
Tentang Sau-hujin melahirkan anak perempuan setelah
lenyapnya sang suami memang merupakan suatu teka-teki
di dunia persilatan. Ada yang mengira Sau-hujin telah
berhubungan gelap dengan lelaki lain selama
menghilangnya sang suami. Ada juga yang tidak
sependapat, mereka memberi bukti kegiatan Sau-hujin yang
berusaha mencari sang suami, jelas Sau-hujin sangat setia
dan mencintai suaminya dan bukan tipe wanita yang tidak
tahan kesepian.
Bagi Sau Ceng-hong yaitu So-hok Hancu, dia
menyangsikan Sau Kim-leng memang betul adalah puteri
Sau Ceng-in, cuma dia juga tidak percaya bahwa Sau Ceng-
in belum mati, sebab dengan mata kepala sendiri ia
menyaksikan saudara sepupunya itu terluka parah dan tidak
mungkin dapat disembuhkan, makanya terus menghilang
dan mungkin juga sudah mati Tapi iapun kuatir jangan2
Sau Ceng-in memang belum mati dan karena itulah Sau
Kim-leng besar kemungkinan adalah puterinya.
Pendek kata, masing2 mempuyai dugaan dan
pendapatrya sendiri2, siapapun tidak dapat memberi
jawaban yang pasti.
Agaknya si kakek kacil itu sependapat dengan jalan
pikiran sang guru. Mendadak ia menubruk maju ke depan
Soat Peng-say.
Keruan Peng-gay kaget, cepat ia menghantam. Si kakek
mendengus, ia tangkis pukulan Peng-say, berbareng
tangannya menekan ke bawah dan mencengkeram
pergelangan tangan anak muda itu.
Sekuatnya Peng-say meronta, tapi tak terlepas, segera
tangan yang lain menghantam, tapi segera terpegang musuh
pula dan sukar bergerak, terasa tenaga lawan menyalur
masuk urat nadinya sehingga sekujur badan terasa pegal
linu.
"Masih selisih jauh kau, belum sesuai untuk mengaku
sebagai murid Sau-supek," kata si kakek. Sekali lepas
tangan, kontan Peng-say ter-huyung2 ke belakang, "bluk",
akhirnya ia jatuh terjengkang walaupun sudah berusaha
menegakkan tubuhnya.
Setelah jatuh, rasa pegal linu tadi serentak lenyap pula.
se-olah2 kalau tidak jatuh sisa tenaga musuh ditubuhnya
sukarlah dipunahkan.
"Betul tidak? Kubilang dia berdusta. dua jurus Jisuko saja
dia tidak tahan, mana mungkin dia murid Sau-supek?" seru
si monyet. "Menurut pendapatku, untuk menjadi cucu
murid Sau-supek saja dia belum memenuhi syarat."
"Bagaimana keadaanmu, Peng-ko?" tanya Yak-leng
dengan kuatir. .
"Jangan kuatir, Sau-sumoay," kata si kakek "Dia tidak
apa2, hanya kubanting jatuh saja." — Lalu ia berpaling
kepada si monyet: "Dia murid Sau-supek memang tiduk
keliru, hanya saja tidak mungkin murid ajaran langsung
Sau-supek."
Lelaki berdandan sebagai kuli atau pekerja kasar tadi
menimbrung: "Melihat gerak tubuhnya tadi tampaknya
lebih mirip murid Bu-tong pay."
"Leluhur Suhu dan Sau-supek memang berasal dan Bu
tong-pay, sebelum kita belajar Kungfu perguruan kita juga
diharuskan lebih dulu memupuk dasar Kungfu Bu-tong-pay,
kalau bocah ini mahir Kungfu Bu-tong-pay dan mahir pula
ilmu pedang Pak-cay, maka pasti tidak salahlah kalau dia
mengaku murid Sau-supek," setelah berhenti sejenak, lalu si
kakek menyambung pula: "Hendaknya Samsute tinggal
disini untuk membereskan jenazah kawan Bu-tong pay itu,
rombongan akan berangkat lebih dulu."
Yang bertubuh tinggi besar tadi mengiakan.
Kakek kecil itu lantas mencemplak keatas kudanya dan
berseru: "Hayolah berangkat!"
Segera si monyet menarik tali kendalinya dan melarikan
kuda kereta ke depan.
Setelah terbanting jatuh oleh si kakek, sejak tadi Peng-say
terus rebah tanpa bergerak. Bukannya terluka, hanya sedih
karena kalah secara mengenaskan begitu, ia malu untuk
berdiri. Setelah mendengar kereta itu sudah pergi barulah ia
melompat bangun.
Didengarnya suara Cin Yak-leng lagi berteriak teriak:
"Peng ko, Peng-ko! . .. . "
Hanya sebentar saja kereta itu sudah pergi jauh, sayup2
terdengar si kakek kecil sedang berkata; "Sau-sumoay,
tidaklah pantas kau panggil dia Peng-ko, dia kan angkatan
lebih muda dari padamu...."
Si tinggi besar yang ditinggalkan di situ lantas memanggil
serombongan kuli pelabuhan untuk membereskun jenazah
kawanan Tosu Bu-tong pay, sama sekali ia tidak
memperhatikan kepergian Soat Peng-say. Seperginya Soat
Peng-say, di dermaga lantas merapat sebuah kapal yang
berbentuk aneh, dari kapal laut itu turun belasan lelaki
berjubah putih dan seorang tua yang bertubuh pendek
gemuk
== 0O0dw0O0 ==
Kita ikuti dulu kepergian Soat Peng-say. Dia menuju ke
tempat parkir keretanya tadi, tapi keretanya sudah tak ada,
orang ditepi jalan bilang kereta itu telah dibawa pergi oleh
seorang nona setelah menyewa seorang kusir di situ.
Kereta berwarna emas itu memang milik Soat Koh,
kalau sudah dibawa pergi kan kebetulan. Sangu pemberian
Tio Tay-peng waktu Soat Peng-say turun gunung masih
cukup banyak, segera ia membeli seekor kuda terus
memburu ke arah selatan.
Selang tak lama, dapatlah dia menyusul rombongan anak
murid Lam-han tadi. Karena dia mengejar dengan
bernapsu. waktu dia melihat rombongan sasarannya,
merekapun melihat kedatangan Peng-say. Tapi Peng-say
tidak lantas mendekati mereka, ia bertahan dalam jarak
belasan tombak di belakang rombongan itu, bila mereka
berjalan cepat, iapun menyusul dengan cepat, jika mereka
lambat, iapun melambat.
Si kakek kecil ingin tahu apakah Soat Peng-say memang
sengaja hendak menguntit, ia suruh rombongannya berhenti
di tepi jalan.
Peng-say tidak takut maksudnya diketahui orang, orang
lain berhenti, iapun idem dito.
"Kemari kau!" panggil si kakek kecil.
Peng-say pikir kenapa takut, disuruh kesana ya turuti
saja, apa yang mesti ditakuti. Segera ia melarikan kudanya
mendekati rombongan itu.
"Kau hendak ke mana?" tanya si kakek.
"Ke Soh-hok-han di Huiciu, kebetulan sama arah dengan
tuan2," jawab Peng-say.
"Siapa yang mengundang kau ke sana?" tanya si kakek
pula.
"Tidak diundang siapa2, aku sendiri ingin kesana," jawab
Peng-say. "Konon penghuni Soh-hok-han di daerah selatan
sana kebanyakan adalah tokoh2 yang berbudi luhur,
tentunya bukan sarang penyamun atau ada perbuatan yang
perlu dirahasiakan sehingga tertutup bagi orang luar."
"Tamu yang berkunjung ke Soh-hok-han memang tidak
dilarang, tapi orang yang tidak berkepentingan dilarang
datang." ujar si kakek.
"Sedangkan orang yang cuma berkepandaian rendah
seperti kau memang tidak memenuhi syarat untuk menjadi
tamu Soh-hok-han," sambung si monyet.
Muka Peng say menjadi merah. katanya pula: "Tapi ada
urusan penting perlu kutemui Soh-hok Hancu. Pula kalian
bilang aku ini murid Pak-cay, dalam kedudukanku sebagai
mund Pak-cay mau kukunjungi Soh hok-han, tentunya
bukan orang yang tidak berkepentingan lag!?"
"Tapi Lam-han dan Pak-cay biasanya tiada hubungan,
setiap orang boleh mengunjungi Soh-hok-han, hanya anak
murid Pak-cay saja yang tidak boleh," kata si kakek.
Sialan, pikir Peng-say, ingin untung jadi buntung malah.
Jika tahu Lam-han dan Pak-cay tidak akur, tentu tadi
dirinya takkan mengaku sebagai murid Pak-cay.
Tapi si kakek kecil lantas berkata pula: "Ada urusan apa
hendak kau temui guruku? Jika betul urusannya memang
penting, mungkin akan diberi kelonggaran."
"Urusan penting memang ada, tapi bolehkah kukatakan
nanti saja." jawab Peng-say.
"Masa kau ada urusan? Urusan penting kentut!" omel si
monyet. "Huh, setiap orang tahu maksud tujuanmu
menyusul kemari tentu ingin membawa lari kau punya
Leng-moay."
Cin Yak-leng meringkuk di dalam kereta dan tetap tak
bisa berkutik, rupanya Hint-to yang ditutuk Ciamtay Boh-
ko itu belum lagi terbuka maklumlah, Tiam-hiat-hoat Tang-
wan memang lain daripada yang lain, kalau bukan anak
murid Tang-wan sendiri. sekalipun jago kelas tinggi seperti
si kakek kecil juga tidak mampu membukanya, terpaksa
harus menunggu berlalunya sang waktu agar Hiat to yang
tertutuk itu terbuka dengan sendirinya.
Bergirang juga Yak-leng demi mendengar Soat Peng-say
memburu tiba, tapi ia tidak berani minta tolong. Ia tahu
ilmu silat Peng-say hakikatnya bukan tandingan anak murid
Lam-han, kalau diteriaki agar menolongnya, bisa jadi akan
membikin celaka anak muda itu malah.
Sesungguhnya iapun tidak suka pergi ke Soh-hok-han. ia
kuatir sampai di sana rahasianya akan terbongkar. Diam2 ia
berharap, mengingat kakek kecil itu bilang Lam-han dan
Pak-cay sudah lama tiada hubungan, mungkin paman Sau
Kim-leng itu selama ini belum kenal wajah si nona, asalkan
nanti berlaku hati2, mungkin Sau Ceng-hong dapat
dikelabui. lalu dapatlah berdaya melarikan diri untuk
bertemu dengan Soat Peng-say dan keduanya dapat kabur
se-jauh2nya, ke tempat yang terasing dan hidup bersama
hingga tua.
Karena bayangan yang indah di masa depan ini, ia tidak
ingin Peng-say menyerempet bahaya lagi baginya, segera ia
berseru membujuknya: "Peng-ko, kau pulang saja,
tunggulah aku di rumah, aku pasti akan pulang untuk
bertemu dengan kau."
"Tidak.jika kau pergi ke Soh-hok-han, akupun pasti ikut
ke sana," kata Peng-say.
Dari ucapan Peng-gay yang tegas itu, Yak-leng merasa
anak muda itu bertekad akan "ringan sama dijinjing dan
berat sama dipikul", sungguh hatinya sangat terhibur.
Ia tidak tahu bahwa kepergian Soat Peng-say ke Soh-hok-
han selain ingin menjaga keselamatannya juga ada tugas
lain, yaitu ingin bertemu dengan Soh-hok Hancu untuk
menunaikan pesan mendiang ibunya sebelum wafat.
Kiranya waktu ibunya akan menghembuskan napas
terakhir telah meninggalkan pesan agar pada waktu Peng-
say genap berusia 20 tahun, kitab pusaka "Siang jing-pit-
lok" itu harus dikembalikan kepada pemiliknya, yaitu Sok-
hok Hancu dari Lam-han di Huiciu. Bahkan setelah kitab
itu dikembalikan, Peng-say disuruhnya mengangkat Soh-
hok Hancu sebagai guru.
Mengembalikan kitab dan mengangkat guru, kedua hal
inilah pesan tinggalan sang ibu sebelum wafat Padahal
Peng-say sudah berguru kepada Tio Tay-peng, ia tidak ingin
mengangkat guru lagi kepada Soh-hok Hancu, jadi pesan
sang ibu ini tak dapat lagi dilaksanakan, hanya tentang
kitab pusaka itu, harus dikembalikan dengan baik.
Karena usia Peng-say sekarang belum melebihi 20, soal
pengembalian kitab itu masih cukup waktu tapi sekarang
kebetulan terjadi persoalan Yak-leng ini, maka dia bertekad
akan pergi ke Lam-han sekalian.
Si kakek juga tidak merintangi setelah mendengar Peng-
say menyatakan tekadnya akan ikut ke Lam-han,
jengeknya: "Baiklah jika kau memarg ada urusan, tapi awas,
jangan main gila, jika berani sembarangan bertindak, jangan
kau salahkan kamj bertindak kejam."
Baru selesai si kakek bicara, mendadak dari belakang
serombongan orang berkuda datang dengan cepat, hanya
sekejap saja kereta mereka telah terkepung rapat.
Anak murid Lam-han sudah berpengalaman, mereka
tidak menjadi gugup, mereka melihat rombongan yang
datang ini semuanya berjubah putih dan menyandang
bungkusan panjang di punggung, jelas dalam bungkusan itu
tersembunyi senjata sebangsa golok atau pedang.
Setelah kereta terkepung, orang2 berseragam jubah putih
itu tetap diam saja, semuanya berwajah seram.
Si kakek kurus kecil lantas mendahului menyapa: "Cayhe
Kiau Lo-kiat, murid Soh-hok-han di Huiciu. Numpang
tanya, adakah sesuatu keperluan?"
Mendadak suara seorang setengah serak menanggapi:
"Hm, dengan nama Soh-hok-han kau kira akan membikin
orang takut?"
Para murid Lam-han semua terkesiap, pikir mereka:
"Mereka tidak takut kepada Soh-hok-han kita, jangan2
mereka sengaja hendak mencari perkara?"
Padahal Bu-lim-su-ki atau empat tokoh sakti dunia
persilatan sudah hampir ratusan tahun termashur di dunia
Kangouw, orang yang tidak gentar terhadap Soh-hok-han
boleh dikatakan terlalu sedikit.
Dengan prihatin Kiau Lo-kiat lantas berkata pula:
"Sudikah yang berbicara itu tampil ke muka?"
Mendadak dua penunggang kuda menyingkir ke
samping, di belakang mereka lantas muncul seorang
penunggang kuda lagi. Lantaran penunggang kuda itu
adalah siorang kakek gemuk dan pendek, sedangkan kedua
penunggang kuda di depannya tinggi besar, maka si kakek
hampir ter-aling2 seluruhnya.
Kakek itu memajukan kudanya ke depan, tiba2 kelihatan
di belakang punggung kuda tunggangannya itu bertumpang
tindih dua sosok mayat, satu gemuk dan satu kurus, satu
pendek dan satu jangkung yang gemuk pendek di atas, yang
jangkung tertindih di bawah.
"Samsute!"
"Samsuko!" serentak para murid Lam-han berteriak.
Di antara ketujuh murid Lam-han itu hanya Kiau Lo-
kiat saja yang menyebut "Samsute". Rupanya mayat si
jangkung itu adalah Sutenya yang ditinggalkan di Ciau-ciu-
wan untuk membereskan jenazah para Tosu Bu-tong-pay
itu.
Sungguh tidak kepalang duka dan gusar Kiau Lo-kiat
melihat Samsutenya dibinasakan orang, ia tidak pedulikan
lagi tokoh kosen darimana kakek pendek gemuk itu,
serentak ia melayang dari kudanya, kesepuluh jarinya
terpentang terus menubruk kakek gemuk itu.
Cepat sekali reaksi kakek itu, sebelah tangannya sempat
mendahului menampar ke depan, angin pukulan yang
dahsyat kontan menyampuk tubuh Kiau Lo kiat, terdengar
jeritan Kiau Lo-kiat, kontan ia melayang balik.
Murid Lam-han yang lain sama terkejut, mereka
menyangka Jisuko pasti tamat riwayatnya.
Tapi sungguh aneh, angin pukulan yang jelas maha
dahsyat itu ternyata membawa tenaga yang teratur
sedemikian jitunya, Kiau Lo-kiat hanya melayang kembali
dan duduk lagi di atas kudanya tanpa kurang apapun.
hanya mukanya berubah pucat saking kagetnya.
Tenaga pukulan yang aneh itu sungguh sukar
dibayangkan, yang hebat adalah setelah Kiau Lo-kiat
tergetar balik dan duduk kembali di atas kudanya, sama
sekali kudanya tidak terkejut, sama halnya Kiau Lo-kiat
mencemplak ke atas kudanya dengan pelahan2.
"Sambut!" bentak si kakek gemuk sambil mengangkat
mayat si jangkung. Meski oukup berat mayat itu, tapi
seenteng kertas mayat itu melayang ke arah Kiau Lo kiat.
Karena sudah tahu tenaga si kakek jauh di atas dirinya,
Kiau Lo-kiat tidak berani ayal, ia mengerahkan segenap
tenaganya dan menyambut jenazah Samsutenya.
Setelah mayat itu berada dalam rangkulannya, seketika
itu tidak terasa sesuatu, tapi sedikit lengah, mendadak Kiau
Lo-kiat terperosot ke bawah kuda bersama mayat dalam
rangkulannya itu.
Peng-say ter-heran2 menyaksikan itu. Begitu pula para
murid Lam-han yang lain juga melongo heran, mereka
mengira Jisuheng kurang hati2 sehingga terperosot ke
bawah.
Tapi cara jatuh Kiau Lo-kiat itu tampaknya juga bukan
terperosot karena kurang hati2. Dengan kepandaian Kiau
Lo-kiat, andaikan jatuh juga takkan terbanting dangan kaki
di atas seperti anak kecil jatuh terjengkang begitu?
Walaupun pantatnya kesakitan, tapi mendadak Kiau Lo-
kiat berteriak dengan tertawa girang: "Hai tidak mati,
Samsute tidak mati!"
Kiranya waktu tubuh si jangkung dirangkul olehnya,
dirasakan tubuh itu masih hangat, waktu jatuh ke tanah,
terasa pula napas si jangkung yang menyembur pada
samping lehernya membuatnya kerih.
Pada saat itulah dua penunggang kuda datang secepat
terbang, setiba di depan si kakek gemuk tadi, ternyata
mereka adalah dua pemuda kekar dan berdandan seperti
belasan orang yang lain Salah seorang yang lebih tua
memberi hormat dan berseru: "Suhu, Tecu dan Ci-kiat
datang menyambut kedatangan Suhu, tapi terlambat."
Kiau Lo-kiat kenal kedua orang ini, yang satu bernama
Ih Ci ho dan yang lain bernama Lo Ci-kiat. Keduanya
adalah murid kesayangan Ciamtay Cu-ih, ada lagi dua
saudara seperguruan mereka yang lain, yaitu Ji Ci-eng dan
Cian Ci-hiong, keempat orang berkunjung ke Tionggoan
pada lima tahun yang lalu dan telah mengumandangkan
nama kebesaran mereka. Di dunia persilatan mereka
terkenal sebagai "Eng-Hong Ho Kiat. Tsngwan-su siu" atau
empat ksatria muda dari Tang-wan.
Cuma sayang, meski nama mereka termashur, rata2
merekapun masih muda dan ganteng, tapi mereka pun
mempunyai cirinya, yaitu gemar main perempuan, secara
diam2 entah betapa banyak anak gadis dan perempuan
baik2 yarg telah dirusak oleh mereka. Hanya saja sedikit
orang yang mengetahui hal ini, Kiau Lo kiat juga
mendengar kabar demikian. maka dia rada memandang
hina kepada mereka,
Kini setelah mendengar kedua orang itu menyebut si
kakek sebagai "Suhu", segera ia. tahu kakek itulah Hong-
hoa Wancu Ciamtay Cu-ih sendiri. Pantas begitu lihay
tenaganya, herannya mengapa mendadak ia memimpin
anak buahnya berkunjung ke Tionggoan?
Padahal sejak pertemuan di Ki-lian-san 27 tahun yang
lalu, sepulangnya ke Tung-hay belum pernah lagi dia
menginjak Tionggoan, sekarang dia muncul lagi secara
mendadak, hal ini benar2 mencurigakan.
Sudah tentu Kiau Lo-kiat tidak tahu sebabnya Ciamtay
Cu-ih tidak berkunjung ke Tionggoan selama 27 tahun ini
adalah karena dia dilukai oleh ibu San Kim-leng sehingga
mengalami kelumpuhan, baru beberapa tahun terakhir ini
dia berbasil meyakinkan semacam ilmu penyembuhan dan
baru pulihlah kesehatannya. Setelah sakian lama mengeram
diluar lautan timur sana, ia menjadi ingin bergerak lagi ke
Tionggoan agar dunia persilatan Tionggoan tidak
melupakan tokoh sakti yang pernah malang melintang di
dunia Kangouw dahulu.
Melihat air muka Ciamtay Cu-ih kurang senang, Ih Ci-
ho dan Lo Ci-kiat mengira sang guru marah kepada mereka
karena sambutan mereka yang terlambat, hati mereka jadi
kebat-kebit.
"Mana Ci-eng dan Ci-hiong?" demikian Ciamtay Cu ih
bertanya.
Ci-ho dan Ci-kiat mengira sang guru akan lebih marah
kepada kedua Suheng yang tidak ikut datang menyambut
itu, untungnya ketidak datangnya kedua Suheng itu
memang ada alasannya, maka cepat Ci-ho memberi lapor:
"Kedua Suheng sedang merawat lukanya di Thay-san dan
tak dapat datang menyambut Suhu."
"Siapa yang melukai mereka? tanya Ciamtay Cu-ih
dengan gusar.
"Sau Peng-lam," tutur Ci-ho.
"Hah, Toa-suheng!" diam2 Kiau Lo-kiat dan lain2
mengeluh di dalam hati.
-oo0dw0oo-

Jilid 12
Karena sudah 27 tahun tidak menginjak daratan
Tionggoan, Ciamtay Cu-ih tidak tahu Lam-han telah
melahirkan seorang murid terkemuka dan bernama Sau
Peng-lam Ilmu silat Sau Peng lam boleh dikata tidak di
bawdh Bu-lim-su-ki pada 27 tahun yang lalu, dikalangan
anak murid Su-ki saat ini ia terhitung jago nomor satu.
"Hm, Sau Peng-lam itu kutu busuk macam apa,
darimana kutahu namanya?" jengek Ciamtay Cu-ih dengan
mendongkol'
Dia menghina Toa-suheng mereka, dengan sendirinya
Kiau Lo kiat dan rombongannya tidak senang, tapi mereka
pun tidak berani buka suara selain mendengarkan saja.
Cepat Ih Ci ho memberi penjelasan: "Sau Peng-lam
adalah anak Sau-cianpwe dan Lan-han, iapun murid
pertama Lam han."
"Omong kosong!" damperat Ciamtay Cu-ih sambil
melotot kearah Kiau Lo-kiat.
"Tecu tidak berani," cepat Ci-ho menjawab dengan
takut2.
"Isteri Sau Ceng-hong, Leng Tiong-cik, jelas2 mandul
dan tidak bisa punya anak, darimana mendadak bisa lahir
seorang anak?" kata Ciamtay Cu-ih.
"Konon Sau Peng-lam bukan anak kandungnya, tapi
anak angkat Sau-cianpwe," tutur Ci-ho.
"O, jika demikian masih bisa dimengerti," kata Ciamtay
Cu-ih sambil mengangguk. "Dan cara bagaimana kedua
Suheng kalian dilukai, berdasar sebab apa Sau Peng-lam
melukai mereka?"
"Sungguh menyakitkan hati jika diceritakan," tutur Ci-
ho. "Sebenarnya kedua Suheng juga tidak bersalah apa2
terhadap Sau Peng-lam. Kemarin dulu kedua Suheng
makan minum di restoran Cui-sian-ciu-lau di Thay-an,
begitu naik ke loteng restoran itu lantas terlihat Sau Peng-
lam sedang menenggak arak, kedua Suheng tidak
menghiraukan dia, tapi dia lantas mencaci maki, katanya
Tang-wan-su-siu adalah babi dan anjing. Tentu saja kedua
Suheng menjadi marah dan mendekatinya dan menegur.
Tak tersangka kedua Suheng mendadak diserang, dengan
dua kali depakan kedua Suheng terjungkal ke buwah loteng
dan terbanting dengan cukup keras, sampai sekarang kedua
Suheng belum lagi sanggup bangun. Coba Suhu, tidakkah
keterlaluan perbuatan Sau Peng-lam itu? Dia harus dihajar
adat, kalau perlu gurunya harus ditanyai mengapa
membiarkan muridnya berbuat se-wenang2."
Dia bicara dengan lantang, dia menyangka pasti akan
mendapat dukungan sang guru. Tak terduga sasaran
pelampias marah Ciamtay Cu-ih bukanlah Sau Peng-lam
melainkan Ci-ho sendiri, mendadak terdengar "plak-plok"
dua kali, kontan Ci-ho mendekap pipinya yang bengap, ia
menjadi bingung mengapa sang guru menamparnya, entah
begaimana dia salah omong?
Dengan gusar Ciamtay Cu-ih lantas mendamperat.
"Memangnya gemilang kejadian kedua Suhengmu itu
didepak orang hingga terjungkal? Nyaring benar cara
bicaramu se-akan2 kuatir tidak didengar orang lain? Hm,
dasar murid tidak becus, sia2 kuajar kalian!"
"Tapi. . .tapi, Suhu, kita harus mengadu kepada Sau-
cianpwe. . . ."
"Mengadu apa?" bentak Ciamtay Cu-ih sebelum lanjut
ucapan Ji Ci-ho, "Cara bagaimana harus kukatakan? Apa
aku harus bilang: "Sau Ceng-hong, dengan dua kali
depakan muridmu telah menjungkalkan dua muridku ke
bawah loteng. Begitu? Hm, dasar murid goblok, hanya bikin
malu saja!"
Ci-ho tidak berani bersuara lagi, diam2 ia membatin:
"Baru datang di Tionggoan sini, entah mengapa Suhu lantas
marah begitu?"
"Coba jawab," kata Ciamtay Cu-ih pula. Sudah dua
tahun Sutemu Boh-ko datang ke Tionggoan sini, kalian
tahu tidak?"
"Tecu tahu setelah menerima surat Suhu," jawab Ci-ho.
"Dan dimana orangnya?" bentak Ciamtay Cu-ih.
Tanpa terasa Peng-say, Kiau Lo-kiat dan lain-lain sama
memandang mayat yang tertaruh dibelakang punggung
kuda Ciamtay Cu-ih itu. Pikir2 mereka: "Aneh, kenapa
tanya? Bukankah mayat anakmu berada di situ?"
Kiranya mayat yang pendek gemuk dan melintang di
atas kuda Ciamtay Cu-ih itu tak-lain-tak-bukan adalah
jenazah Ciamtay Boh-ko.
Terdengar Ci-ho menjawab: "Begitu Tecu menerima
surat dari Suhu dahulu segara mencari berita jejak Sute, tapi
sejauh itu belum .... belum diketahui ...."
"Bukankah kusuruh kalian menjemputnya di darmaga
Ciau-ciu-wan?" bentak Ciamtay Cu-ih.
"Tecu berempat menunggu sampai sebulan lamanya di
Ciau-ciu-wan dan tidak melihat datangnya Sute," tutur Ci
ho pula. "Tecu pikir mungkin Sute telah mendarat melalui
pelabuhan lain, maka kami tidak menunggu lagi dan
sampai sekarang belum pernah bertemu dengan Boh-ko
Sute."
Padahal Cumtay Boh-ko tidak pernah mendarat melalui
pelabuhan lain. Dua tahun yang lalu dia mendarat di Ciau-
ciu-wan, dilihatnya keempat Suhengnya siap
menjemputnya di dermaga. Ia merasa akan terikat bila
tinggal bersama para Suheng itu, maka ia mendarat secara
diam2 Dengan bebas dan gembira dia pesiar selama dua
tahun. Betapa pun dia membawa sangu yang cukup, maka
segala kesenangan orang hidup telah dirasakannya semua.
Karena dia pesiar kesana dan kesini dengan sendirinya
sukar mencarinya bagi Ji Ci-ho dan lain2.
Ilmu silat Ciamtay Boh-ko memang lebih tinggi
dibandingkan keempat Suhengnya, tapi yang dipikirnya
hanya pesiar dan foya2, sama sekali tidak bergaul dengan
orang Bu-lim, sebab itulah tiada orang Kangouw yang tahu
bahwa putera kesayangan Tang-wan, salah seorang tokoh
sakti dunia persilatan saat ini berada di daratan Tionggoan.
Akhirnya hampir segenap pelosok Tionggoan telah
dikunjungi Ciamtay Boh-ko, tugas yang diberikan sang
ayah juga sudah dicapainya, yaitu membawa pulang Sau
Kim-leng ke Tang-hay. Selagi ia hendak berlayar pulang
itulah dia terbunuh di Ciau-ciu wan.
Begitulah Ciamtay Cu-ih lantas meraung gusar; "Kalian
orang mampus semua barangkali? Kalau ditunggu tidak
datang, kabarnya juga sukar dicari, mengapa kalian tidak
mencari orangnya pada setiap tempat?"
Padahal Ji Ci ho berempat juga lagi sibuk ber-foya2
sendiri, mana mereka sempat memikirkan Ciamtay Boh-ko
segala. Merekapun tahu Kungfu sang Sute jauh lebih tinggi
di atas mereka, dengan sendirinya tidak perlu kuatir akan
terjadi apa2 pada diri Sute itu. Mereka pikir besar
kemungkinan sang Sute tidak mau tinggal bersama mereka
dan lebih suka pesiar sendiri dengan bebas, maka mereka
pun tidak mencarinya lagi.
Maka Ci-ho tidak berani banyak omong, ia cuma
mengiakan: "Betul juga, sekarang para Sute sudah ikut
datang, orang banyak akan lebih mudah mencarinya. Muiai
besok akan kubawa Ci-kiat dan para Sute mencarinya
kesegenap pelosok, dalam Waktu sebulan tanggung dapat
menemukan Boh-ko Sute."
Dia mengira sang guru kangen kepada anaknya, maka
dia sengaja bicara mengikuti arah angin kehendak gurunya.
Mendadak Ciamtay Cu-ih mengangkat mayat Ciamtay
Boh-ko dibelakang terus disodorkan kepada Ci-ho sambil
membentak: "Ini lihatlah, siapa dia?"
Keruan Ci ho ketakutan dan merosot turun dari
kudanya, jeritnya: "Boh-ko Sute, siapa . . . .
siapa yang membunuh kau? Suheng bersumpah takkan
menjadi manusia jika tidak dapat membalas dendam
bagimu . . . . " lalu menangislah dia ter-guguk2.
Tindakannya ini ternyata manjur juga, Ciamtay Cu-ih
tidak marah lagi padanya. Merdadak sorot matanya yang
bengis menatap Lo Ci-kiat, se-akan2 rasa dendam kematian
anaknya itu akan dilampiaskan atas diri Ci-kiat.
Untung Ci kiat juga pintar melihat gelagat, cepat ia pun
melompat turun dari kudanya, ia merangkul kedua kaki
Ciamtay Boh-ko dan menangis ter-gerung2. entah cara
bagaimana, bisa juga dia memeras air matanya sehingga
bercucuran.
Anak murid Tang-wan yang lain juga tidak mau
ketinggalan, mereka sama menangis sedih. Tapi yang
benar2 berduka bagi sang guru yang kehilangan anak itu
paling2 cuma dua atau tiga orang.
Seketika ramailah suara orang menangis sehingga
Ciamtay Cu ih juga ikut pilu, air matanya juga berderai.
Dia cuma mempunyai seorang anak, betapa sedihnya
dapatlah dibayangkan. Mendadak sorot matanya yang
bengis itu beralih kepada para murid Lam-han.
Cepat Kiau Lo kiat berkata: "Bukan kami yang
membunuh anakmu, yang membunuhnya adalah seorang
perempuan muda."
Ciamtay Cu-ih sendiri sudah mencari tahu dengan jelas
kepada kuli pelabuhan tentang apa yang terjadi di sana,
maka iapun tahu siapa yang membunuh anaknya ia lantas
bertanya: "Bagaimana bentuk perempuan muda itu?"
Kuatir Ciamtay Cu-ih melampiaskan rasa murkanya
kepada mereka, terpaksa Kiau Lo kiat menguraikan bentuk
wajah Soat Koh.
"Kan masih ada seorang lelaki muda yang ikut
membunuh anakku?" tanya Ciamtay Cu-ih.
Betapapun rendahnya Kiau Lo kiat juga tidak nanti
menjual nyawa Soat Peng-say, maka ia menjawab dengan
menggeleng: "Wajahnya terlalu biasa. tiada sesuatu ciri
yang dapat dilukiskan."
Untung para kuli pelabuhan waktu itu hanya menonton
dari kejauhan sehingga tidak jelas bagaimana air muka Soat
Koh dan Peng-say, mereka hanya dapat menceritakan
dandanan Peng-say serta warna bajunya.
Sekarang sebelah pedang Peng-say telah direbut Soat
Koh, hanya tersisa sebilah pedang yang tersandang di
punggungnya, dandanannya sekarang tiada ubahnya seperti
ketiga murid Lan-han yang muda itu, betapapun Ciamtay
Cu-ih tidak pernah menyangka Peng-say dapat berada di
tengah anak murid Lam-han, sedangkan perhatiannya juga
cuma terpusat kepada si pembunuhnya dan tidak begitu
menghiraukan si pembantu.
Tegang juga Peng-say menghadapi keadaan demikian,
tak terduga Kiau Lo kiat cukup luhur budinya dan setia
kawan, Peng-say tidak dijualnya kontan.
Mendadak Ciamtay Cu-ih bertanya pula; "Perempuan
muda itu murid Pak-cay bukan?" Sudah pasti kuli
pelabuhan tidak ada yang tahu ilmu pedang apa yang
dimainkan Soat Koh, jelas pertanyaan ini timbul dari
rabaan Ciamtay Cu-ih sendiri.
Aneh juga dia dapat menduga ke arah sana, tidak nanti
dia bertanya tanpa sebab, pasti ada sesuatu yang
mendorongnya bertanya demikian,
Maka Kiau Lo-kiat lantas menjawab: "Melihat gaya ilmu
pedangnya memang mirip murid Pak-cay." Lalu dia
menunduk dan memandang Samsutenya, katanya
kemudian: "Mohon Cianpwe suka membuka Hiat-to
Samsute kami yang tertutuk ini."
Tadi, begitu Ciamtay Cu-ih mendarat, segera dilihatnya
mayat putera kesayangannya, juga dilihatnya murid Lam-
han yang jangkung itu sedang membereskan jenazah
kawanan Tosu, dalam gusarnya si jangkung terus
dibekuknya untuk ditanyai. Tapi si jangkung sangat keras
kepala, semakin diperlakukan kasar semakin tidak mau
bicara.
Ciamtay Cu-ih menyangka dia adalah pembunuhnya,
selagi ia hendak membunuhnya, untung ada penonton
dipinggir jalan memberitahu tentang apa yang terjadi tadi.
Apalagi setelah bergebrak segera diketahuinya si jangkung
adalah murid Lam-han, dengan sendirinya ia tidak mau
membunuh si jangkung dan mengikat permusuhan dengan
Sau Ceng-hong. Maka ia cuma menutuk Hiat-to yang
membuatnya pingsan, lalu dibawanya mengejar keini.
Kiau Lo-kiat merasa tidak mampu membuka Hiat-to
yang ditutuk oleh ilmu Tang-wan itu, terpaksa ia mohon
pertolongan kepada Ciamtay Cu-ih sendiri.
Tapi Ciamtay Cu-ih tidak menggubrisnya, ia bertanya
pula: "Kalau kau dapat melihat gaya ilmu pedang
perempuan muda itu, jelas pada waktu anakku terbunuh
kau pun berada di sana."
Diam2 Kiau Lo-kiat merasakan gelagat jelek, ia tidak
berani menjawab. Didengarnya Ciamtay Cu-ih berkata
pula: "Melihat pembunuhan kalian tidak turun tangan
menolong, kalian ini terhitung ksatria Kang-ouw macam
apa?"
Kiau Lo-kiat berusaha membela diri, katanya: "Puteramu
membunuhi kawanan Tosu Bu-tong-pay, tentunya Cianpwe
tahu hubungan erat Lam-han kami dengan Bu-tong pay,
dalam keadaan begitu apakah mungkin kami menolong
anakmu?"
Ciamtay Cu-ih tidak peduli, katanya: "Kalian tidak
menolong anakku, kalian harus dibunuh semua!"
Serentak anak murid Lam-han memprotes "Mana ada
aturan begitu?!"
"Peduli ada aturannya atau tidak? Pokoknya kalian harus
mati!" bentak Ciamtay Cu-ih. "Yang tidak ingin mati boleh
berlutut dan menyembah tiga kali kepada jenazah anakku,
akan kuhitung sampai tiga, siapa yang tidak menyembah
segera kubinasakan Nah, satu .... dua ... ."
Si monyet tidak tahan, teriaknya: "Labrak saja dia!"
Serentak anak murid Lam-han itu melompat turun dari
kuda masing2.
Ciamtay Cu-ih tidak perlu dibantu murid2nya, ia lantas
melompat turun dari kudanya, hanya satu-dua gebrak saja
seorang murid Lam-han yang muda telah dapat
dipegangnya terus didepak mencelat. Setiap kali seorang
dipegang, setiap kali pula dia tendang pergi. Hanya belasan
gebrak saja anak murid Lam-han itu sudah sama roboh di
sana sini, semuanya tercengkeram Hiat-to yang
membuatnya bisu serta ditendang satu kali.
Karena Ah-hiat atau Hiat to bisu tertutuk, dengan
sendirinya anak murid Lam-han tidak dapat berteriak dan
juga tak dapat bergerak. Maka tertawalah Ciamtay Cu-ih
ter-bahak2, katanya: "Toasuheng kalian telah mendepak
kedua muridku, sekarang kudepak kalian berdelapan, satu
orang satu kali, jadi kubayar empat kali lipat."
Habis berkata ia tambahi mendepak satu kali lagi kepada
si jangkung agar depakannya genap delapan kali. Habis itu
mendadak ia memandang kearah Soat Peng-say yang tidak
ikut turun bertempur itu. Kebat-kebit hati Peng say.
Untung Ciamtay Cu-ih hanya manggut2 saja dan
berkata: "Ehm, betapa pun kau ini memang lebih pintar,
tahu tidak dapat melawan lantas tidak mau ikut bertempur.
Tapi bisa juga lantaran takut mati, maka kau diam saja
Haha, jika betul kau takut mati, maka kau ini dapat
dianggap murid teladan Sau Ceng-hong!"
Tadi dia bilang akan menghitung sampai tiga, tapi kata
"tiga" itu tidak pernah diucapkan. Betapapun ia tidak nanti
menghitung sampai tiga, sebab kalau Kiau Lo-kiat dan
kawan2nya tetap tidak mau menyerah, tapi ia tidak berani
membunuh anak murid Sau Ceng-hong.
Dan kalau dia tidak berhitung sampai tiga, tentu iapun
tidak dapat menggertak akan membunuh Soat Peng-say
dengan alasan pemuda itu tidak menyembah.
Tiba2 Ciamtay Cu-ih tanya Ji Ci-ho: "Hari apa Wi Kay-
hou akan Kun-bun-se-jiu (cuci tangan di baskom emas)?"
"Menurut berita yang tersiar, Wi-cianpwe menetapkan
lusa sebagai hari baik bagi upacara Kim-bun-se-jiu beliau,"
jawab Ci-ho.
"Sudah lebih 27 tabun aku tidak berjumpa dengan dia,
bolehlah kalian ikut aku pergi memberi selamat
kepadanya," kata Ciamtay Cu-ih.
Segera Ci-ho mengangkat mayat Ciamtay Boh-ko dan
melompat keatas kuda, para saudara seperguruannya juga
lantas mencempak kekuda masing2 dan siap berangkat,
Diam2 Peng-say berharap mereka lekas pergi. Apabila
mereka sudah pergi, segera dirinya akan membawa lari Cin
Yak-leng dengan kereta kuda itu, tatkala mana anak murid
Lam-han tentu tak dapat merintanginya.
Tak terduga, mendadak Ciamtay Cu-ih berseru: "Ci-kiat,
kau mengendarai kereta itu."
Lo Ci-kiat melenggong, ia pikir jelas dirinya
menunggang kuda, mengapa disuruh mengendarai kereta?
Didengarnya Ciamtay Cu-ih membentak pula: "Dengar
tidak perintahku?" Cepat Ci-kiat melompat ketempat kusir
di atas kereta itu.
"Coba periksa dulu, adakah seorang nona di dalam
kereta itu?" tanya Ciamtay Cu-ih.
Ci-kiat menyingkap tirai dan melongok sekejap kedalam,
lalu katanya: "Ada."
"Baik," kata Ciamtay Cu-ih dengan mengangguk,
"Berangkat dulu!"
Segera Ci-kiat melarikan keretanya ke depan diikuti para
Sutenya.
Ciamtay Cu-ih berada paling belakang, ia berseru pula:
"Dengarkan para murid Sau Ceng-hong, kalian tidak
menolong jiwa anakku, apakah kalian sengaja hendak
merampas calon bininya jika dia sudah dibunuh orang?
Hm, kebetulan aku menyusul tiba sehingga rencana kalian
gagal total. Bini anakku akhirnya tetap menantuku. Meski
anakku sudah mati, betapa pun puteri Sau Ceng-in dari
Pak-cay ini harus tetap menjagai abu sembahyang anakku,
biarlah dia menjanda selama hidup." Habis berkata barulah
ia menyusul rombongannya.
Dengan sangat tenang Soat Peng-say menyaksikan kereta
itu dibawa pergi orang, ia menyadari dengan sedikit
kepandaian sendiri jelas tidak boleh sembarangan bertindak.
Sampai rombongan Ciamtay Cu-ih itu sudah pergi jauh ia
tetap diam saja disitu tanpa mengejar.
Ia tidak sanggup membuka Hiat to rombongan Kiau Lo
kiat yang ditutuk Ciamtay Cu-ih tadi tapi ia mengangkat
mereka satu persatu ke bawah pohon ditepi jalan, lalu
mengumpulkan kuda tunggangan mereka dan ditambat
menjadi satu, akhirnya ia berduduk dan berjaga di situ.
Ditunggunya sampai lama sekali, lambat-laun si
jangkung dapat bergerak sedikit demi sedikit, ia tahu Hiat-to
mereka sudah hampir terbuka dengan sendirinya dan tidak
perlu dijaga lagi, maka ia lantas mencemplak keatas
kudanya dan tinggal pergi.
Bukan maksudnya tidak menghiraukan lagi keselamatan
Cin Yak-leng, soalnya dia tahu tidak mampu melawan
Ciamtay Cu-ih. maka ia pikir harus berusaha menolongnya
dengan akal, betapapun Yak-leng harus diselamatkannya
dari cengkeraman Ciamtay Cu-ih,
Ucapan Ciamtay Cu-ih sebelum pergi itu membuat Peng-
say merasa bingung, ia tidak paham mengapa Ciamtay Cu-
ih memperlakukan puteri kandung sendiri dengan sekejam
itu, anak lelakinya sudah mati, tapi anak perempuannya
diharuskan menjanda selama hidup, sungguh terlalu aneh
dan sukar dimengerti.
Kesadisan demikian tidak berbahaya, untuk sementara
waktu Peng-say tidak perlu kuatir. jika Cin Yan-leng tidak
sudi mengaku sebagai Sau Kim-leng, itulah yang berbahaya.
Maklum, terhadap anak perempuan kandung sendiri
dengan sendirinya Ciamtay Cu-ih takkan membunuh atau
memperkosanya, tapi terhadap perempuan lain jelas tidak
ada jaminan. Sebab itulah bila Yak-leng menjelaskan
kepada Ciamtay Cu-ih bahwa dia sesungguhnya bukan Sau
Kim-leng, itu berarti malapetaka akan segera menimpanya.
Inilah yang menguatirkan Peng-say, tapi ia pikir Yak-
leng telah melarangnya membongkar rahasia
penyamarannya, jelas nona itupun takkan membuka rahasia
kepalsuannya sendiri. Untuk menolong Yak-leng dengan
akal harus dilakukan sebelum Ciamtay Cu-ih pulang ke
Tang-hay, jika dia sudah pulang kandang, tentu sukar untuk
turun tangan.
Menurut pendapat Peng-say, Ciamtay Cu-ih bersama
anak muridnya akan pergi ke tempat Wi Kay-hou untuk
memberi selamat, ditempat keramaian itu suasana tentu
cukup gaduh dan di situlah kesempatan paling baik untuk
menolong Cin Yak-leng.
Tentang Wi Kay-bou, orang ini memang sangat
termashur, dia adalah Sute Bok Jong-siong, satu di antara
Tiong-goan-sam-yu atau tiga sekawan dari Tionggoan yang
diberi julukan "Khim-lo" atau si kakek kecapi.
Bicara tentang Tionggoan-sam-lo, mereka adalah tiga
tokoh besar ilmu silat yang paling menonjol belasan tahun
terakhir ini, nama mereka tidak di baWah Bu-lim-su-ki,
ilmu silat mereka pun tidak lebih asor. Lebih2 anak murid
mereka juga sangat banyak, dalam hal kekuatan dan
pengaruh, kecuali Say-koan (satu di antara Bu-lim-su-ki),
ketiga Ki yang lain jelas tak dapat menandinginya.
Antara 20 tahun yang lalu, Tiong-goan-sam-yu berserikat
dengan Say-lam-ji-ki, yaitu kedua Ki dari Say (barat dan
Lam selatan) dan tersebutlah menjadi suatu keluarga besar
dengan peraturan dan disiplin yang ketat, persekutuan
mereka itu terkenal dengan manis "Ngo tay-lian-beng" atau
persekutuan lima besar.
Karena itulah, Say-lam-ji-ki serta Tiong-goan-sam-vu
semakun kuat dan berpengaruh, golongan atau aliran
manapun tidak ada yang berani meremehkan anak murid
lima besar itu. Maka Ngo-tay-lian-beng bolen dikatakan
sama dengan rajanva dunia persilatan, nama dan
pengaruhnya bahkan jauh di atas aliran Siau-lim dan Bu-
tong yang terkenal itu.
Pada waktu mengikat persekutuan, mestinya Tiong-goan
sam-yu dan Say-lam ji-ki bermaksud menarik pula Tang-pak
ji-ki (kedua Ki dan timur dan utara), tapi lantaran Tang-
wan berada jauh di lautan timur dan termasuk wilayah
negeri asing, untuk mengundangnya tidaklah mudah
Adapun mengenai Pak-cay. karena hilangnya Sau Ceng-in
anak muridnya juga bubar dan cari jalan keluar sendiri2,
yang tersisa hanya kaum wanita dan para budaknya, jika
mereka pun diajak masuk perserikatan, rasanya kurang
gemiiang, maka tanpa dipertimbangkan nama Pak-cay
lantas dicoret dari acara perundingan.
Wi Kay-hou sendiri tidak termasuk didalam Tiong-goan-
sam-yu, tapi ilmu silatnya sangat tinggi, dia tergolong
angkatan tua yang disegani didalam Ngo tay-lian-beng,
ditambah lagi keluarga Wi sangat kaya raya, setiap tindak-
tanduknya membawa pengaruh yang luas. Maka maksud
Wi Kay-hou akan Kin-bun-se-jiu atau cuci tangan di
baskom emas, artinya akan cuci tangan dan meninggalkan
dunia persilatan, sudah tentu hal ini akan merugikan Ngo-
tay lian-beng.
Setelah berita akan cuci tangannya Wi Kay-hou tersiar,
tentu saja dunia persilatan menjadi gempar, dengan
sendirinya pula setiap golongan dan aliran sama datang
mengucakan selamat pada hari yang ditentukan dan
ramainya tidak kepalang.
Pada waktu Soat Peng cay turun gunung, cukup jelas
juga Tio Tay-peng menceritakan segala sesuatu mengenai
keadaan dunia Kangouw, maka diketahuinya Wi Kay-hou
beralamat tinggal di kota Cujoan yang terletak dikaki
gunung Thay. Dirancang oleh Peng say pada hari
berlangsungnya upacara "cuci tangan" Wi Kay-hau, yaitu
pada saat yang paling ramai, kesempatan itu akan
digunakannya untuk menolong Cin Yak-leng
Soalnya Ciamtay Cu-ih dan muridnya sudah pernah
melihat Soat Peng-say, kalau anak muda ini tidak
menyamar, jangan harap akan dapat mendekati mereka
untuk menolong Cin Yak-leng. Sebab itulah sebelum masuk
kota Cujoan, lebih dulu ia menyamar sebagai seorang
bungkuk, mukanya ditempeli pula beberapa potong koyok,
rambutnya dibiarkan terurai, walaupun penyamarannya
kurang sempurna, tapi sudah bolehlah. Seumpama teman
lewat di depannya juga akan pangling.
Esoknya, setiba di dalam kota, di-mana2 terlihat tokoh
Bu-lim yang datang hendak menyampaikan selamat, karena
itulah hampir setiap hotel penuh terisi. Dengan susah payah
akhirnya Peng-say berhasil mendapatkan sebuah kamar
yang kotor di sebuah hotel kecil.
Petangnya ia ber-jalan2 mengelilingi kota. Mendadak
hujan turun dengan lebat. Dilihatnya di tepi jalan ada
sebuah rumah minum, cepat ia berlari masuk kesitu dan
minta dibuatkan teh serta beberapa macam makanan kecil.
Rumah minum itu penuh tamu dan ramai orang
membicarakan Wi Kay-hou yang mendadak
mengumumkan niatnya akan Kim-bun-se-jiu.
Peng-say tidak berminat mendengarkan obrolan orang
itu, dia asyik menyisir kuaci untuk menghilangkan rasa
kesal.
"He, bukankah itu Siausumoay?" demikian mendadak
suara seorang yang sudah dikenalnya berseru di
belakangnya.
Waktu Peng-say menoleh, benar juga, dilihatnya orang2
yang mengerumuni sebuah meja itu memang dikenalnya
semua. Ada Kiau Lo-kiat, si jangkung, lelaki berdandan
kuli, si saudagar yang membawa suipoa serta si kurus kecil
yang mirip kera, semuanya lengkap berada disitu.
Yang bicara itu adalah si monyet yang memang usil
mulut itu, terlihat dia sedang menggapai dan memanggil:
"Siausumoay! Siausumoay!"
Peng-say tidak berani memandangnya lebih lama, cepat
ia berpaling kembali. Diam2 ia merasa sangat kebetulan,
tidak disengaja tahu2 dirinya masuk di rumah minum yang
sama dan berduduk dimeja yang bertetangga dengan
mereka.
Sejenak kemudian, terdengar suara seorang anak
perempuan berseru dengan nyaring dan girang; "Ai, kiranya
kalian berada disini, mana Toasuko?"
Sekilas melirik, Peng-say melihat anak perempuan yang
lari masuk kehujanan itu berusia antara 16 tahun, cantik
molek dan menyenangkan.
"Siausumoay, berani benar kau, diam2 mengeluyur
keluar diluar tahu Suhu tanpa menghiraukan bahaya
ditengah jalan?!" demikian si monyet menegur.
"Ah, merasa kesal berdiam di rumah, maka kukeluar
mencari Toasuko, peduli bahaya ditengah jalan apa segala?"
jawab si nona cilik.
Si kera melelet lidah, katanya pula: "Wah, sunggub
hebat, demi mencari Toasuko, seorang nona kecil
menempuh perjalanan jauh sendirian. Sayang yang dicari
bukan aku si Kang Ciau-lin, kalau aku yang dicari, wah,
bisa semaput aku saking kegirangan."
Nona cilik itu melotot, katanya: "Huh, siapa mau
mencari Lak-kau-ji (si kera nomor enam) macam kau ini?
Kera hanya suka mengacau, mana bisa bekerja baik?"
"Wah, wah, dunia terbalik ini," seru si kera alias Kang
Ciau-lin. "Tidak panggil Laksuko (kakak-guru keenam), tapi
sebut diriku Lak-kau-ji. Ai, lebih baik kuletakkan jabatan
sebagai Suko."
"Habis, paman dan bibi serta para Suko sama memanggil
kau Lak-kau-ji, masa aku harus dikecualikan?" ujar si nona
dengan tertawa.
"Suhu dan Subo (ibu guru) memanggil demikian padaku
kan pantas, kelima Suko memanggilku begitu juga aku
terima, tapi Sute dan Sumoay juga memanggil begitu
padaku tanpa menghormati diriku sebagai Suko, lalu apa
artinya aku menjadi Laksuko kalian? Kan lebih baik
semuanya menyebut aku sebagai Siausute (adik-guru
terkecil) saja?"
"Aha, bagus," seru si nona dengan tertawa; "Aku
memang sudah bosan selalu dipanggil sebagai Siausumoay,
justeru tidak punya Siausute, lowongan ini memang perlu
diisi, akan kusambut dengan baik jika kau mau
mengisinya."
Hendaklah maklum bahwa Kang Ciau-lin alias si kera ini
memang suka berkelakar dengan nona cilik itu. Dia hendak
omong lagi, tapi Kiau Lo-kiat lantas berdehem dan berkata:
"Lak-kau-ji, kau sendiri tidak mempunyai wibawa sebagai
seorang Suko, mana Siausumoay mau tunduk padamu.
Salahmu sendiri jika kau disebut Lak-kau-ji."
Karena Ji-sukonya juga membela Siausumoay, Kang
Ciau-lin bisa melihat gelagat, ia melelet lidah dan tidak
bicara lagi.
Kiau Lo-kiat lantas tanya si nona cilik: "Siau-sumoay,
diam2 kau keluar, Suhu tahu tidak?"
"Kalau tahu kan namanya bukan keluar secara diam?,"
jawab si nona cilik.
"Bila Suhu mengetahui kau menghilang, beliau kan bisa
kelabakan?" ujar Kiau Lo-kiat.
Nona cilik itu adalah keponakan perempuan Leng Tiong-
cik. puteri Sau Ceng-hong. Namanya Leng Seng, pada
waktu berumur sepuluh, ia diantarkan ayahnya ke tempat
Sau Ceng-hong dan menyuruh Leng Seng mengangkat sang
paman sebagai guru.
Leng Tiong-cik sendiri mandul, tidak punya anak, meski
kemudian Sau Ceng-hong mengangkat seorang anak lelaki
dan diberi nama Sau Peng-lam, tapi sepuluh tahun yang
lalu Sau Peng-lam sudah tamat belajar dan meninggalkan
perguruan, hampir sepanjang tahun Sau Peng-lam
berkelana didunia Kangouw dan jarang berkumpul dengan
sang ayah angkat.
Selain isteri dan muridnya, Sau Ceng-hong tiada
mempunyai keturunan sehingga hidupnya terasa kesepian.
Dengan datangnya Leng Seng, meski cuma keponakan, tapi
lantaran anak dara itu sangat menyenangkan, pintar omong
dan mahir bicara, maka dia sangat disayang Sau Ceng-hong
melebihi anak kandung sendiri, bila tidak bertemu satu hari,
rasanya seperti kehilangan sesuatu.
Sekali ini diam2 Leng Seng meninggalkan Hui ciu dan
datang ke Soatang, untuk perjalanan ini saja makan waktu
20-an hari, jika Sau Ceng-hong tidak mengetahui kemana
perginya Leng Seng, selama 20 hari ini pasti kelabakan
setengah mati.
Begitulah dengan tertawa Leng Seng lantas menanggapi
ucapan Kiau Lo-kiat tadi: "Jangan kuatir Sudah kutingalkan
secarik surat dirumah, kukatakan akan mencari Tousuko di
Cujoan sini. Jika paman tahu tempat kepergianku, tentu
beliau tidak akan kuatir lagi." '
"Ah, belum tentu," ujar Kiau Lo-kiat. "Menurut
pendapatku begitu melihat surat yang kau tinggalkan, beliau
pasti akan menyusul kemari."
"Bukankah akhir2 ini paman sedang meyakinkan
semacam Kungfu yang maha lihay?" kata Leng Seng.
"Tapi kalau kau menghilang, mana Suhu dapat berlatih
Kungfu dengan tenang?" ujar Kiau Lo-kiat. "Kukira
semuanya pasti akan ditinggalkan untuk sementara dan
akan mencari kau lebih dulu."
Mendadak Kiau Lo-kiat teringat sesuatu, segera ia
bertanya: "Eh. darimana kau tahu jejak Toasuko sehingga
mencarinya kemari?"
"Meski Toasuko bersama kalian menuju ke Ciau-jiu-wan,
tapi ketika berangkat kudengar paman memberi pesan
kepada Toasuko agar mampir di Cujoan dan mewakilkan
beliau mengucapkan selamat kepada Wi-susiok yang akan
Kim-bun-se-jiu, malahan Suko sudah dibekali kado.
Menurut perhitunganku, besok lusa adalah hari upacara
Kim-bun-se-jiu Wi-susiok, maka setiba disini pasti dapat
kutemukan Toasuko."
"Dan sekarang sudah bertemu belum?" tanya Kiau Lo-
kiat.
"Kalau sudah bertemu tentu aku takkan kehujanan
hingga basah-kuyup begini," kata Leng Seng, "Justeru
sepanjang jalan tadi kucari keterangan mengenai Toasuko.
maka kehujanan."
"Ai, mengapa tidak ada orang yang sudi mencari diriku
dengan diguyur hujan," kata Kang Ciau-lin dengan
menyesal. "Agaknya pembawaan Toasuko memang berejeki
besar."
Si saudagar yang membawa suipoa ikut menimbrung:
"He, Lak-kau-ji, kau ini kagum atau iri kepada Toasuko?"
"Katakanlah iri, tapi apa dayaku?" ucap Kang Ciau-lin
sambil menyengir. "Selama hidup Siausumoay tak bakalan
menyukai Lak-kau-ji, yang disukai dia hanya Toa. . . ."
"Hayo omong lagi?!" hardik Leng Seng dengan muka
merah.
Seperti biasa Kang Ciu-lin melelet lidah dan menjawab:
"Tidak, tidak berani omong lagi!"
Diam2 Peng say merasa heran melihat keakraban anak
murid Lam-han itu, pikirnya: "Jisuko mereka yang bernama
Kiau Lo-kiat ini tampaknya sudah tua. sedikitnya 50 lebih.
Maka Toasuko mereka yang bernama Sau Peng-lam itu
pasti lebih tua daripada Kiau Lo-kiat. Sunggub aneh,
mengapa seorang anak dara berumur 16-17 tahun bisa
menyukai seorang kakek yang 30-40 tahun lebih tua dari
padanya?"
Didengarnya Kiau Lo-kiat lagi berkata: "Siau sumoay
tidak menemukan Toasuko, kami pun belum bertemu
dengan beliau, tampaknya Toasuko belum datang ke
Cujoan sini."
"Kalian tidak berada bersama Toasuko?" tanya Leng
Seng.
"Tiga hari yang lalu Toasuko berpisah dengan kami di
Thay-an," tutur Kiau Lo-kiat, "beliau pergi sendiri
menyampaikan selamat kepada Wi-susiok sedangkan kami
menuju ke Ciau-ciu-wan, sudah disepakati setelah upacara
Kim-bun-se-jiu Wi-susiok itu selesai, segera Toasuko akan
menyusul ke Ciau-ciu-wan untuk membantu kami. Tapi
kalau terbukti Ciamtay Boh-ko sudah berlayar pulang,
maka kami harus menyusul kesini untuk bertemu dengan
Toa-suko serta pergi bersama ke tempat Wi-susiok Toa-
suko menyatakan tiga hari sebelum upacara, setiap siang
hari dia pasti dapat ditemukan di Ciu-lau (restoran) kota ini.
Tapi hampir semua restoran sudah kami cari, tetap belum
menemukan Toasuko."
"Mengapa harus berada di Ciu-lau melulu?" omel Leng
Seng dengan kurang senang.
"Siausumoay," kata Kiau Lo-kiat dengan tertawa
"Tidakkah kau tahu, setiap hari Toasuko mesti minum arak,
kalau sehari tidak minum sepuluh atau dua puluh kati,
tentu rasanya tidak enak."
"Hanya inilah kebiasaannya yang jelek." kata Leng Seng
sambil berkerut kening.
"Meski gemar minum arak, tapi Toasuko tidak pernah
menelantarkan tugas. maka hobi minum arak ini pun tak
dapat dikatakan kebiasaan jelek," ujar Kiau Lo-kiat.
"Dan sekarang kalian menyusul kemari, apa ini berarti
Ciamtay Boh-ko sudah berlayar pulang?" tanya Leng Seng.
"Bukan," jawab Kiau Lo-kiat. "Ciamtay Boh-ko sudah
mati."
Leng Seng terkejut, tanyanya pula: "Dan bagaimana
dengan anak perempuan Sau-supek?"
"Dia jatuh di tangan Hong-hoa Wancu yang saat ini juga
memimpin anak muridnya kesini untuk mengucapkan
selamat kepada Wi-susiok," tutur Kiau Lo-kiat. "Maka kami
ingin cepat menemui Toasuheng untuk berunding dengan
beliau cara bagaimana akan menolong Sau-sumoay."
"O. jadi Ciamtay Cu-ih berada dikota ini? Lalu cara
bagaimana Sau-suci sampai jatuh di cengkeramannya?"
tanya Leng Seng pula.
Kiau Lo-kiat lantas menceritakan apa yang terjadi
kemarin. Kang Ciau-lin tidak mau ketinggalan, terkadang ia
pun menimbrung dan membumbui.
Dalam pada itu hujan tambah keras, tertampak seorang
penjual pangsit dengan pikulannya yang kehujanan
berteduh di bawah emper rumah minum itu.
Terdengar suara "tok-tok-tok", suara penjual pangsit
mengetuk kepingan kayunya, tertampak pula kepulan asap
dari kualinya.
Anak murid Lam-han itu memang sudah lapar, Kang
Ciau-lin segera mendahului berteriak: "He, penjual pangsit,
buatkan delapan atau sepuluh mangkuk, tambah telur!"
Si kakek penjual pangsit mengiakan, dibukanya tutup
kuali dan dilemparkaanya berpuluh biji pangsit mentah
kedalam air mendidih Tidak lama kemudian, empat
mangkuk pangsit lantas dihidangkan lebih dulu.
Dengan tertib si kera Kang Ciau-lin menyerahkan
mangkuk pertama kepada Jisuko Kiau Lo-kiat, mangkuk
kedua kepada Samsuko, si jangkung, Nio Hoat. Lalu ber-
turut2 diberikannya kepada lelaki berdandan sebagai kuli,
yaitu Sisuko Si Tay-cu dan kemudian si saudagar yang
membawa suipoa, Go-suko Ko Kin-beng.
Waktu pangsit lain diantarkan, mestinya mangkuk
kelima adalah bagian si kera sendiri, tapi disodorkannya
kepada Leng Seng dan berkata: "Siau-sumoay, silakan kau
makan dulu."
Kalau sejak tadi Leng Seng suka bertengkar dengan
Kang Ciau lin dan tidak menganggapnya sebagai Suheng,
sekarang dia lantas berdiri menyambut mangkuk pangsit
itu, katanya dengan hormat: "Terima kasih Laksuko."
Agaknya disiplin perguruan Lam-han sangat keras, se-
hari2 boleh bergurau sesukanya. tapi peraturan dan sopan
santun tetap harus dijaga.
Kiau Lo-kiat dan lain2 segera makan pangsit lebih dulu,
tapi Leng Seng menunggu sampai bagian Kang Ciau-lin
sudah siap barulah dimakan bersama
Sebabis makan pangsit, si jangkung yang bernama Nio
Hoat itu berkata: "Mungkin sebentar lagi Toasuko akan
sampai di Cujoan sini. Hujan masih lebat, hotel juga sukar
dicari, biarlah kita menunggunya dirumah minum ini.
Andaikan hari ini Toasuko tidak datang, besok juga pasti
datang. Bagaimana pendapat Jisuko?"
"Lalu di mana kita akan bermalam nanti?" jawab Kiau
Lo-kiat.
"Bila rumah minum ini tutup nanti, biarlah kita gunakan
meja sekedar sebagai tempat tidur dan lewatkan semalam
ini," ujar Nio Hoat. "Besok boleh kita bayar menurut sewa
hotel kepada pemilik rumah minum ini, kukira dia pasti
setuju."
Setelah berpikir, akhirnya Kiau Lo-kiat mengangguk
setuju,
"Jika demikian, kita harus mengawasi jalan raya, jangan
sampai Toasuko lewat begitu saja tanpa kita ketahui," kata
si kera.
"Kukira tidak perlu," ujar Gosuko Ko Kin-beng.
"Mengapa tidak perlu?" tanya si kera dengan terbelalak.
"Besok lusa kan hari cuci tangan Wi-susiok, hari ini atau
besok Toasuko pasti akan sampai di sini, begitu datang
tentu akan mengantarkan kado lebih dulu, untuk menuju ke
tempat kediaman Wi susiok harus melalui jalan ini, maka
kita harus pasang mata awasi, tentu dapat melihat Toasuko
jika beliau lalu disini."
"Usulmu memang betul, cuma kita tidak perlu repot,
betul tidak?" ucap Ko Kin-beng dengan tertawa sambil
memberi tanda ke arab Leng Seng.
Saat itu Leng Seng sedang memandang orang yang
berlalu lalang di tengah hujan, semangkuk pangsit baru
dimakannya setengah mangkuk.
Maka pahamlah Kang Ciau-lin akan maksud sang
Gosuko, dengan tertawa ia berseru: "Aha, memang betul.
Jika Siausumoay sudah mengawasi orang di jalanan,
sepasang matanya jauh lebih awas dari pada delapan
pasang mata kita. Lebih baik kita makan kuaci saja."
Sementara itu semangkuk pangsit sudah disapu habis, ia
lantas mulai menyisir kuaci pula.
Leng Seng menjadi kikuk karena ucapan si kera tadi, ia
tidak memandang keluar lagi, sisa pangsit setengah
mangkuk tidak dimakannya lagi, katanya: "Jisuko, berita
tentang Sau-suci dari Pak-cay diculik Ciamtay Boh-ko
mengapa tersiar sampai jauh ke Huiciu?"
Sejak tadi Peng-say memang heran mengenai hal ini,
pertanyaan Leng Seng sungguh sangat kebetulan baginya,
segera ia pasang kuping untuk mendengarkan.
Terdengar Kiau Lo-kiat bertutur: "Sebulan yang lalu
tersiar berita bahwa Sau-supek dari Pak-cay kembali
muncul di dunia Kangouw dan jejaknya terlihat di sekitar
Holam dan Hopak. Jarak antara Huiciu dengan Holam dan
Hopak sangat jauh, syukur anak murid Bu-tong tersebar di-
mana2, setiap orang tahu bubungan baik Lam-han kita
dengan Bu-tong, maka dalam waktu singkat kita pun
menerima berita merpati yang dikirim oleh murid Bu-tong
yang kebetulan berada di wilayah Holam dan Hopak.
Demi membuktikan berita itu, Suhu membalas surat dan
minta murid Bu-tong-pay yang berada di Soasay agar suka
datang ke Siau-ngo-tay-san tempat kediaman Sau-supek itu,
untuk menyelidiki kebenaran berita itu, sebab betul atau
tidak berita itu pasti diketahui oleh anak perempuan Sau-
supek. Tak terduga, beberapa hari kemudian datang pula
berita merpati dari Bu-tong-pay dan menyatakan Sau-
sumoay tidak berada di Leng hiang-cay, menurut
keterangan budak yang masih tinggal di Pak-cay, katanya
Sau-sumoay telah diculik Ciamtay Boh-ko dan akan
dipaksa menjadi isterinya."
Diam2 Peng-say mengangguk, pikirnya: "Yang diculik
Ciamtny Boh-ko itu adalah Yak-leng dan bukan Sau Kim-
leng, budak Pak-cay tentunya tahu juga hal ini. Mungkin
mereka sengaja memberitahukan begitu agar Lam-han
memberi pertolongan "
Apa pun juga Peng-say tetap tidak percaya bahwa Cin
Yak-leng secara sukarela mau mengaku sebagai Sau Kim
leng, ia menduga Yak-leng tentu dipaksa oleh Liok-ma
dengan ancaman yang sukar untuk ditolak sehingga mau-
tak-mau Cin Yak-leng tidak berani lagi mengakui asal-
usulnya sendiri.
Sebenarnya Peng-say sangat benci kepada Sau Kim-leng
yang lebih mementingkan keselamatan sendiri, ia tidak suka
menjadi isteri Ciamtay Boh-ko, tapi Cin Yak-leng yang
dikorbankan. Tapi sekarang setelah diketahui Pak-cay
sengaja menyiarkan berita penculikan itu agar Lam-han
memberi pertolongan, diam2 ia berterima kasih pula kepada
Sau Kim-leng.
Apalagi setelah dipikir ketika Ciamtay Boh-ko sampai di
Leng-hiang-cay. saat itu Sau Kim-leng mengiringi Pak-say
sendiri ke Ciok-leng-tong sehingga tidak mungkin sempat
memberi perintah kepada Liok-ma agar memaksa Cin Yak-
leng memalsukan dirinya. Maka besar kemungkinan
tindakan itu diambil oleh Liok-ma dan bukan atas kehendak
Sau Kim-leng.
Selagi berpikir, didengarnya Leng Seng berkata: "Jika
Tang-wan berbesanan dengan Pak-cay, kan baik juga,
kenapa kita mesti banyak urusan dan ikut campur?"
"Menurut budak Pak-cay, katanya Siocia mereka tidak
sudi menjadi isteri Ciamtay Boh-ko, maka terjadilah
penculikan itu," tutur Kiau Lo-kiat. "Sesuai peraturan Lam-
han kita yang harus membantu pihak yang lemah dan
memberantas pihak yang jahat, adalah layak jika kita
memberi pertolongan. mana boleh dikatakan kita banyak
urusan dan ikut campur urusan orang lain?"
"Diculik atau bukan, urusan Pak-cay kan tiada sangkut-
pautnya dengan kita," kata Leng Seng.
Diam2 Peng-say mendongkol, pikirnya, anak perempuan
secantik ini ternyata berhati kurang baik.
Terdengar Kiau Lo-kiat sedang berkata pula: "Antara
Pak-cay dan Lam-han kita sebenarnya sudah putus
hubungan sejuk kakek guru kita, anak muridnya juga saling
bermusuhan, urusan Pak-cay memang tidak ada sangkut-
pautnya dengan Lam-han kita. Tapi Pak-cay sekarang
hanya tertinggal Sau-sumoay sendiri, Suhu tidak sampai
hati tinggal diam, maka begitu menerima berita segera
beliau mengirim berita merpati dengan tipu-daya yang di
aturnya, anak murid Bu-tong-pay diminta menunggu di
Ciau ciu-wan untuk merintangi berlayarnya Ciamtay Boh-
ko, berbareng itu kita diperintahkan menuju ke Ciau-ciu-
wan pula. Tapi lantaran perjalanan jauh, setiba di tempat
tujuan kita sudah agak terlambat, sungguh harus disesalkan
korban kawan Bu-tong-pay yang jatuh itu. Hal ini belum
lagi diketahui Suhu, meski Ciamtay Boh-ko sudah mati,
bukan mustahil bila bertemu Ciamtay Cu-ih akan ditegur
pula oleh Suhu."
Sisuko Si Tay-cu ikut bicara: "Anaknya merampas gadis
orang, sang ayah bukan saja tidak bertindak, sebaliknya
malah membela anak sendiri dan mengharuskan anak gadis
orang lain menjanda bagi kematian anaknya. Huh, Ciamtay
Cu-ih itu manusia apa?"
Jangan dikira Si Tay-cu itu berdandan sebagai kuli dan
kelihatan kampungan. tapi pembawaannya sangat simpatik
dan berbudi luhur, segala kejahatan dipandangnya sebagai
musuh. Bicara punya bicara saking gemasnya ia terus
menggebrak meja. Kontan sebuah mangkuk pangsit
mencelat dan jatuh ke bawah meja.
Syukur Ko Kin-beng cepat bertindak, sebelah kakinya
sempat mencungkit sehingga mangkuk itu mencelat kembali
keatas, dengan enteng mangkuk itu lantas ditangkap oleh
Ko Kin-beng.
Pada saat itulah, se-konyong2 si kakek penjual pangsit
mendesis: "Awas, musuh datang, lekas pergi!"
Semua murid Lam-han terkejut demi mendengar ucapan
si penjual pangsit itu.
"Adakah Ciamtay Cu-ih?" tanya Ko Kin-beng. Tapi si
kakek penjual pangsit hanya memberi isyarat ke luar dan
tidak bicara, lalu ia ketok2 pula kepingan kayunya.
Serentak anak murid Lam-han sama memandang keluar,
tertampak di bawah hujan belasan orang sedang berlari
kemari, cepat langkah mereka, tapi hampir tidak bersuara.
Orang2 ini sama memakai mantel hujan, sesudah dekat
baru terlihat jelas, kiranya serombongan Nikoh.
Yang paling depan adalah seorang Nikoh tua bertubuh
sangat tinggi, dia berdiri di depan rumah minum, dengan
suara kasar ia kasar berteriak: "Sau Peng-lam,
menggelinding keluar sini!"
Melihat Nikoh tua itu, serentak Kiau Lo-kiat dan
kawan2nya berbangkit serta memberi hormat
Dengan suara lantang Kiau Lo-kiat menyapa: "Ting-yat
Susiok!"
Kiranya Nikoh tua itu bergelar Ting-yat Suthay, dia
adalah Sumoaynya Ting-sian Suthay, si Nikoh penyair dari
Tiong-goan-sam-yu.
Ting Sian Suthay adalah ketua Siong-san-pay di Holam,
Sumoaynya, yakni Ting Yat, juga memimpin sendiri suatu
kuil, yaitu ketua kuil Pek-hun-am (biara awan putih)
dilereng gunung Siong-san, selain berpengaruh di Siong-
san-pay sendiri, ia juga disegani didunia persilatan.
Terdengar dia berteriak-teriak pula dengan suara kasar,
"Di mana Sau Pek-lam bersembunyi, suruh dia keluar!"
Suaranya eras dan lebih kasar daripada kaum lelaki.
"Lapor Susiok, Sau-suheng tidak berada di sini,"
demikian Kiau Lo-kiat menjawab. "Sejak tadi Tecu sekalian
telah menunggunya disini, tapi Sau-suheng dan tetap belum
datang."
Begitulah dengan suara kasar ia berteriak pula tanpa
menghiraukan Kiau Lo-kiat: "Di mana Sau Peng-lam, suruh
dia lekas keluar!"Suaranya keras dan lebih kasar daripada
kaum lelaki.
"Lapor Susiok, Sau-suheng tidak berada disini," cepat
Kiau Lo-kiat menjawab. "Sudah sejak tadi Tecu sekalian
menunggu di sini, tapi Sau-suheng belum lagi muncul."
Mendengar itu, diam2 Peng-say menganggap Sau Peng-
lam itu benar2 orang yang suka cari gara2. Beberapa hari
yang lalu baru saja menghajar murid Ciamtay Cu-ih,
sekarang entah sebab apa telah membikin marah pula si
Nikoh tua ini.
Ting-yat memandang sekejap semua tamu di rumah
minum itu dan tidak melihat Sau Peng-lam yang dicarinya,
tiba2 sorot matanya hinggap pada diri Leng Seng, tanyanya:
"'Kau inikah Seng-ji? Baik2kah bibimu?"
Dengan tertawa Leng Seng menjawab: "Terima kasih
atas perhatian Susiok, bibi baik2 dan sehat2 saja. Susiok,
entah salah apa Toasuko hingga membikin marah
kepadamu? Biarlah kuberlutut menyembah untuk minta
maaf kepadamu. harap Susiok jangan marah lagi."
Habis berkata ia benar2 lantas berlutut dan hendak
menyembah. Namun Ting-yat keburu mencegahnya, lengan
jubahnya mengebas, seketika Leng Seng merasa suatu
tenaga yang tak kelihatan menolak tubuhnya sehingga tidak
mampu berlutut.
"Hm, disiplin Lam-han kalian makin hari makin kendur
dan membiarkan muridnya main gila di luaran," jengek
Ting-yat. "Bila urusan disini sudah beres, akan kupergi ke
Huiciu untuk menanyai guru kalian."
"Wah, jangan Susiok, janganlah engkau ke Sana," cepat
Leng Seng berkata: "Selama ini paman sangat keras
terhadap Toasuko, asalkan ada orang mengadu, Toasuko
bisa dihajar sampai mati oleh paman."
"Kalau binatang ini dihajar sampai mati akan lebih baik,"
ujar Ting-yat. "Dia telah membawa lari muridku yang
terkecil, mana boleh tidak kuadukan kepada gurumu."
Keterangan ini membuat para murid Lam-han sama
melengak kaget.
Lebih2 Leng Seng, saking cemas hampir saja ia
menangis, cepat ia berkata: "Susiok, kukira tidak mungkin,
betapa beraninya Toasuko juga tak nanti berani
mengganggu para Suci (kakak-guru) Siong-san-pay kalian.
Besar kemungkinan orang sengaja memfitnah dan
mengadu-domba."
"Kau berani membela dan membantah baginya?" teriak
Ting-yat gusar. "Gi-kong, coba ceritakan apa yang kau lihat
di Thay-an tempo hari.
Seorang Nikoh setengah baya lantas melangkah maju
dan berkata: "Di kota Thay-an Tecu melihat sendiri Sau
Peng-lam, Sau-suheng, berada bersama Gi-lim Sumoay
sedang minum arak di Cui-sian-lau, jelas kelihatan Gi-lim
Sumoay berada di bawah ancaman Sau-suheng hingga
terpaksa ikut minum arak, sikapnva kelihatan takut dan
susah."
Meski sudah dilapori hal ini, tidak urung Ting-yat
menjadi gusar pula demi mendengar lagi untuk kedua
kalinya, mendadak ia menggebrak meja sehingga beberapa
buah mangkuk pangsit sama mencelat dan jatuh
berantakan.
Para murid Lam-han kelihatan serba susah, diam2
merekapun menganggap perbuatan Toasuko mereka itu
keterlaluan. Kalau sang Toasuko menghajar anak murid
Ciamtay Cu-ih masih dapat dibenarkan karena murid Tang
wan memang terkenal busuk. Tapi mengapa seorang Nikoh
cilik juga diseretnya ikut minum arak di rumah makan,
betapa pun perbuatan ini tidaklah pantas dan tak dapat
dibenarkan.
Apalagi Nikoh muda ini adalah murid Siong-san-pay,
sedangkan watak Ting-yat Suthay terkenal sangat keras,
tentu urusan ini tak dapat diterimanya, bila persoalan ini
sampai diributkan, andaikan Toasuhengnya tidak dihajar
sampai mati oleh guru, sedikitnya juga akan dipecat dan
diusir. Air mata Leng Seng ber-linang2, ucapnya dengan
nada rada gemetar: "Susiok, kukira.. . .kukira Gi-kong Suci
telah .... salah lihat. . . ."
"Mana bisa kusalah lihat," jengek Gi-kong. "Gi-lim
Sumoay adalah saudara seperguruanku sendiri, masa aku
pangling? Bentuk Sau-subeng itu juga sangat mudah
dikenali, tidak nanti kusalah lihat."
"Jika begitu, mengapa tidak kau panggil Gi-lim Suci?
tanya Leng Seng.
"Aku tidak berani," jawab Gi-kong.
"Memangnya kau pun takut Toasuko kami menyeret kau
ikut minum sekalian?" kata Leng Seng.
Ucapan ini membuat geli semua orang. tapi tiada
seorang pun yang berani tertawa.
Segera Ting yat Suthay membentak: "Seng-ji, jangan
sembarangan omong!"
"Soalnya. masih ada seorang lagi yang berduduk
bersama mereka. aku tidak berani bertemu dengan orang
itu," tutur Gi-kong.
"Oo! Siapa dia?" tanda Leng Seng.
"Thio Yan-coan," jawab Gi-kong.
Serentak anak mund Lam-han sama bersuara kaget, para
tamu lain juga berubah pucat demi mendengar nama Thio
Yan-coan.
Kiranya Thio Yan-coan ini berjuluk "Ban-li-tok-heng"
atau jalan sendiri berlaksa li, artinya ke manapun dia selalu
beroperasi seorang diri. Dia memang seorang bandit yang
memusingkan kepala setiap orang Hek-to (kalangan hitam)
maupun Pek-to (golongan putih). Ilmu silat orang ini sangat
tinggi, ditambah lagi banyak tipu akalnya pergi datang
tanpa meninggalkan bekas. cara turun tangannya juga
sangat keji tanpa kenal kasihan, merampok, menculik,
memperkosa anak gadis, hampir segala macam kejahatan
dapat diperbuatnya.
Pernah beberapa kali tokoh2 Bu-lim bergabung bendak
menangkapnya, tapi dia selalu dapat menghilang atau
bersembunyi. Begitu orang2 yang hendak menangkapnya
itu bubar, lalu didatanginya orang itu satu persatu, ada yang
disergap ada yang diracuni, pokoknya semua orang yang
memusuhi dia itu telah dikerjainya dan terbunuh.
Yang paling merontokkan nyali orang, terutama kaum
wanitanya. ialah Thio Yan-coan ini gemar ia perempuan,
bila perlu main perkosa. Perempuan yang agak lumayan
parasnya hampir tidak yang dapat mempertahankan
kesuciannya jika jatuh ditangannya, sebab itulah orang Bu-
lim sama membencinya dan bila mungkin ingin
menumpasnya.
"Kau kenal keparat Thio Yan-coan itu, Gi-kong
sumoay?" tanya Kiau Lo-kiat tiba2.
"Orang itu memang mudah dikenal," tutur Gi-kong.
"Pada dahi kanan orang itu ada toh hijau berbulu, toh hijau
sebesar mata uang." Toh hijau berbulu memang merupakan
tanda pengenal khas Thio Yan-coan, hal ini boleh dikatakan
diketahui hampir setiap orang Kangouw. Orang suka bilang
Thian memang maha pengasih meski salah menciptakan
manusia maha jahat seperti Thio Yan-coan itu, tapi se-
tidak2nya pada muka orang jahat itu diberinya juga tanda
pengenal yang menyolok agar orang dapat ber-jaga2 bila
melihatnya. Jika mukanya bersih tanpa cacat seperti orang
biasa, mungkin orang yang menjadi korban keganasannya
akan berlipat ganda jumlahnya.
Begitulah Ting-yat Suthay lantas berteriak pula: "Coba,
Sau Peng-lam si binatang kecil ini ternyata bergaul dengan
bangsat semacam Thio Yan-coan itu. bukankah dia telah
terjerumus benar2 dan tiada obatnya lagi? Maka kalau guru
kalian tidak mau mengurusnya, jika kutemukan dia pasti
tidak kuampun, harus kupenggal kepalanya."
Setelah merandek sejenak, ia menyambung pula: "Hm,
orang takut kepada bangsat Ban-li-tok-heng Thio Yan-coan
itu, bila bertemu justeru akan kulabrak dia habis2an. Tapi
ketika kuterima laporan dan memburu kesana, ternyata Gi-
lim sudah dibawa pergi oleh mereka." Sampai di sini
suaranya berubah menjadi parau, dengan menyesal ia
berkata pula: "Ai, Gi-lim, anak ini, bagaimana ....
bagaimana jadinya nanti!"
Di antara murid Pek-hun-am ada yang menangis
pelahan, semuanya membayangkan nasib Gi-lim yang kecil
mungil dan lemah-lembut itu pasti tak terhindar dari
perbuatan jahat Thio Yan-coan.
Hati Kiau Lo kiat dan kawan2nya juga berdebar, pikir
mereka: "Melulu mengajak minum arak bersama Gi-lim
sehingga melanggar pantangan seorang Nikoh, perbuatan
Toasuko ini saja sudah melanggar tata-tertib perguruan,
apalagi dia bergaul pula dengan penjahat macam Thio Yan-
coan jelas dosanya lebih2 tak dapat diampuni."
Sejenak kemudian, berkatalah Kiau Lo-kiat: "Susiok
mungkin Sau-suheng juga baru bertemu dengan Thio Yan-
coan dan belum kenal baik, soalnya Sau-suheng memang
gemar minum arak, bisa jadi waktu itu dia sudah terlalu
banyak menenggak arak sehingga pikirannya kurang sadar
perbuatan orang mabuk tentu tak dapat dianggap. . . ."
Dia tahu Toasuheng itu tidak pernah mabuk betapa pun
arak yang diminumnya, dia bicara begitu hanya karena
ingin membela sang Suheng saja.
Dengan gusar Ting-yat berkata: "Betapapun dia mabuk
juga tetap ada dua-tiga bagian masih sadar, masa orang
macam dia tak dapat membedakan antara yang baik dan
busuk?"
Terpaksa Kiau Lo-kiat mengiakan, katanya: "Entah
sekarang Sau-suheng berada dimana, Sutit sekalian juga
sedang menunggu dan ingin bertemu dengan dia. Biarlah
kami minta maaf dulu kepada Susiok dan nanti akan kami
laporkan kepada Suhu biar memberi hukuman setimpal
kepada Toasuheng."
"Memangnya kau kira aku mau repot mengurusi Suheng
kalian?" ucap Ting-yat dengan gusar, sekali tangan terjulur,
mendadak pergelangan tangan Leng Seng dipegangnya.
Seketika Leng Seng merasa tangannya seperti
terbelenggu, ia menjerit kaget dan berseru: "He, Su. .
.Susiok. . . ."
"Kalian telah membawa lari Gi-lim, biar akupun
menawan seorang murid perempuan kalian sebagai
sandera, kalau Gi-lim sudah kalian lepaskan, segera aku
pun membebaskan Seng-ji," kata Ting-yat, lalu ia menyeret
Leng Seng keluar.
Leng Seng merasa separoh badan bagian atas kaku tak
bertenaga, tanpa kuasa ia diseret sehingga sempoyongan
dan ikut keluar rumah minum itu.
Cepat Kiau Lo-kiat dan Nio Hoat memburu maju dan
menghadang di depan Ting yat, dengan hormat Kiau Lo-
kiat berkata: "Ting-yat Susiok, yang bersalah adalah
Toasuheng kami dan tiada sangkut-pautnya dengan
Siausumoay, mohon Susiok sudi lepaskan. . . ."
"Baik, akan kulepaskan!" sela Ting-yat sambil melayang
maju.
Kontan Kiau Lo-kiat dan Nio Hoat merasa ditumbuk
oleh arus tenaga yang maha kuat, napas terasa sesak dan
tanpa kuasa tubuh terus mencelat ke belakang. Kiau Lo-kiat
menumbuk daun pintu sebuah toko disebelah sana,
sedangkan Nio Hoat mencelat kearah pikulan si penjual
pangsit.
Tampaknya pikulan penjual pangsit itu akan berantakan
diseruduk oleh tubuh Nio Hoat yang gede itu, mendadak si
kakek tukang pangsit menjulurkan sebelah tangannya
menahan dipunggung Nio Hoat sehingga No Hoat dapat
berdiri dengan tegak. Ting yat Suthay terkesiap, ia berpaling
dan melototi si tukang pangsit, serunya kemudian: "O,
kiranya kau!"
"Betul, aku!" jawab si tukang pangsit dengan tertawa.
"Ai, terlalu keras juga watak Suthay ini."
"Peduli apa?" omel Ting-yat.
-ooo0dw0ooo-

Jilid 13
PADA saat itulah dari jalan sana ada dua orang berlari
datang dengan membawa payung dan menenteng lampu
berkerudung. Begitu dekat mereka lantas berseru: "Adakah
disitu Sin-ni dari Siong-san-pay?"
Agaknya Ting-yat merasa senang disebut "Sin-ni" atau
Nikoh sakti, segera ia menjawab: "Ah, tidak berani. Ting-
yat dari Siong-san memang berada di sini. Dan siapa anda?"
Sesudah dekat, kelihatan kerudung lampu yang dibawa
kedua orang itu tertulis huruf '"Wi". Seorang diantaranya
lantas berkata: "Wanpwe diperintahkan oleb Suhu agar
mengundang Ting-yat Supek dan para Suci ke tempat
kediaman kami. Sebelum ini Wanpwe tidak tahu akan
kedatangan Supek sehingga tidak mengadakan
penyambutan, untuk ini harap Supek sudi memberi maaf." -
Habis berkata mereka lantas memberi hormat.
"Tidak perlu banyak adat," kata Ting-yat. "Apakah
kalian murid Wi-sute, Wi Kay-hou?"
"Betul, Wanpwe bernama Hiang Tay-lian dan ini Bi Oh-
gi Sute," jawab orang itu.
Watak Ting-yat suka disanjung, melihat Hiang Tay-lian
dan Bi Oh-gi sangat menghormat padanya, Ting-yat sangat
senang, katanya: "Baik, memang kami akan berkunjung ke
tempat kalian."
Lalu Hiang Tay-lian bertanya kepada No Hoat dan lain2:
"Dan anda ini? ...."
"Cayhe Nio Hoat dari Lam-han," jawab Nio-hoat.
"Ah, kiranya Nio-samko dari Lam-han." Seru Hiang
Tay-lian dengan gembira. "Sudah lama kudengar nama
kebesaran Nio-samko, silakan para hadirin ikut pergi
ketempat kami. Suhu sudah memberi pesan agar
menyambut para ksatria yang datang dari segenap penjuru.
lantaran banyaknya pengunjung sehingga tidak merata
penyambutan ini mohon para kawan suka memberi maaf
Hayolah silakan."
Sementara itu Kiau Lo-kiat sudah mendekat berkata:
"Sebenarnya kami ingin bergabung dulu dengan Toasuheng,
lalu berkunjung dan menyampaikan selamat kepada Wi-
susiok."
"O, anda tentunya Kiau-jisuko," kata Hiang Tay-lian,
"Suhu sering memuji para Suheng dari Lam-han betapa
lihay, bahkan Sau Peng-lam, Sau-suheng adalah ksatrianya
ksatria. Jika Sau-suheng datang. kan sama saja para Suheng
hadir lebih dulu."
Kiau Lo-kiat pikir Siausumoaynya jelas akan diseret
pergi oleh Ting-yat Suthay, melihat gelagatnya tidak
mungkin dilepaskan meski dimohon, terpaksa ikut pergi
saja sekalian agar dapat mengawasi keselamatan sang
Sumoay. Maka ia lantas mengiakan atas undangan Hiang
Tay-lian itu.
"Dan orang tua ini kau undang atau tidak?" tiba2 Ting-
Yat menuding sikakek tukang pangsit.
Hiang Tay-lian memandang si kakek sejenak, mendadak
ia ingat sesuatu, cepat ia memberi hormat dan berkata:
"Mungkin inilah Ho-supek dari Gan-tang-san? Ah, maaf,
jika kurang hormat. Silakan, silakan Ho-supek hadir juga."
Kiranya si kakek tukang pangsit ini bernama Ho Sam-jit,
tokoh Gan-tang-san dan selatan Ciat-kang.
Sejak kecil pekerjaan Ho Sam-jit adalah menjual pangsit,
setelah berhasil meyakinkan ilmu silat tetap tidak
meninggalkan pekerjaannya itu, dengan pikulan pingsit
itulah dia mengembara Kangouw, pikulan pangsit itu boleh
dikatakan "trade mark" nya Cuma penjual pangsit dimana2
ada, kalau tidak kenal, siapapun tidak tahu bahwa dia
seorang tokoh ilmu silat yang kosen. Tapi kalau jelas
penjual pangsit mahir ilmu silat, maka pasti bukan orang
lain kecuali Ho Sam-jit.
Begitulah Ho Sam-jit lantas bergelak tertawa dan berseru.
"Haha, bagus, memang aku ingin berkunjung ke tempat
kalian." Lalu ia masuk ke rumah minum tadi dan
membereskan mangkuk dan sumpit pangsit.
"Wanpwe tidak kenal, mohon Ho-cianpwe jangan
marah?" cepat Kiau Lo-kiat minta maaf.
"Ah, tidak apa2, masa marah." ujar Ho Sam-jit dengan
tertawa. "Kalian sudi makan pangsitku, adalah kalian
langgananku, masa aku marah2? Eh, delapan mangkuk
pangsit, satu mangkuk sepuluh duit jadi seluruhnya delapan
puluh duit." Sambil omong ia terus menyodorkan
tangannya untuk menerima pembayaran.
Kiau Lo-kiat merasa kikuk dan serba salah tidak
diketahui sikap He Sam-jit itu sungguh2 atau bergurau saja.
"Makan pangsit harus kasih uang, kan Ho Sam-jit tidak
bilang mau menjamu kalian?" ucap Ting-yat Suthay.
"Betul," kata Ho Sam-jit dengan tertawa." "Kita ini
penjaja kecilan, semuanya dijual secara kontan. biarpun
sobat anda atau sanak-pamili juga tidak boleh utang."
"Baik, baik, pasti kubayar," seru Kiau Lo-kiat cepat2
menghitung uang, iapun tidak berani membayar lebih, ia
bayar pas delapan puluh duit.
Setelah terima uang. Ho Sam-jit menjulurkan tangannya
pula kepada Ting-yat Suthay dan berkata; "Kau pecahkan
tiga buah mangkuk pangsit,seluruhnva 45 duit, hayo bayar!"
"Dasar pelit, orang perempuan juga kau peras." Omel
Ting-yat dengan tertawa. "Gi-kong. bayar!"
Gi-kong mengiakan dan lekas menyerahkan jumlah uang
yang disebut.
Semua uang itu dimasukkan ke bumbung bambu yang
terikat di pikulan, lalu Ho Sam-jit mengangkat pikulannya
dan berkata: "Hayo berangkat."
Sebelum pergi Hiang Tay-lian berkata kepada pemilik
rumah minum: "Hitung saja semua minuman tuan2 ini, Wi-
loya yang bayar nanti."
"Ah, kiranya tetamu Wi-loya, mana kami berani
menghitung dan menagih kepada Wi-loya, anggap saja
kami yang menjamu tetamu Wi-loya," kata si pemilik
rumah minum.
Maka Hiang Tay-lian lantas membawa para
undangannya ke rumah. Ting-yat tetap memegang tangan
Leng Seng dan berjalan dibelakang Hiang Tay-lian,
menyusul adalah Ho Sam-jit, anak murid Lam-han dan
Siong-san-pay ikut dari belakang.
"Biarlah aku pun ikut pergi bersama mereka, mungkin
dapat kuselundup ke tempat Wi Kay-hou," demikian pikir
Peng-say.
Maka cepat2 ia membereskan rekening minumnya, tanpa
menghiraukan hujan masih cukup lebat ia menyusur emper
rumah sepanjang jalan dan ikut dibelakang rombongan
Hiang Tay-lian tadi.
Setelah melintasi dua persimpangan jalan. terlihatlah di
depan sana ada sebuah bangunan megah empat buah lampu
besar berkerudung bergantung didepan pintu, belasan orang
yang membawa obor berdiri di sekitar situ, beberapa orang
lagi sibuk menyambut tamu
Setelah rombongan Ting-yat, Ho Sam-jit dan lain2 itu
musuk, menyusul masuk pula rombongan tamu lain dari
kedua arah jalan.
Dengan tabahkan hati Peng-say mendekati gedung itu,
kebetulan ada dua rombongan tamu sedang disongsong
kedalam oleh anak murid W Kay-hou yang bertugas
menyambut tamu itu, tanpa bersuara Peng say terus ikut
masuk kesana. Mungkin Peng say disangka tamu juga,
iapun disilakan masuk dengan bormat.
Begitu berada diruangan tamu yang luas itu terdengarlah
suara berisik ramai, kiranya diruang tamu itu sudah hadir
dua ratusan orang dan duduk di sana-sini sedang bicara dan
bercanda dengan bebas, hakikatnya tiada seorang pun yang
memperhatiken kedatangan Peng-say.
Lega hati Peng-say, pikirnya: "Ditengah orang banyak
begini, tentu tiada orang memperhatikan diriku. Asalkan
kutemukan rombongan Tang-wan tentu dapat kuselidiki
dimana beradanya adik Leng."
Ia lantas mendapatkan sebuah meja kecil di pojok, tidak
lama kemudian ada pelayan mengantarkan teh, makanan
kecil dan handuk panas. Setiap tamu mendapatkan
pelayanan yang sama dan cukup baik.
Dilihatnya para Nikoh Siong-san pay mengerumuni
sebuah meja di sisi kiri sana, sedangkan para murid Lam-
han mengitari meja di sekelah lain, si nona cilik Leng Seng
juga berduduk disana, tampaknya Ting-yat sudah
melepaskan dia. Tapi Ting-yat Suthay dan Ho Sam jit tidak
kelihatan.
Kebetulan juga, tidak jauh di sebelah sana lagi tampak
berduduk rombongan murid Tang-wan.
Murid Tang-wan terbagi mengitari dua meja, tapi tidak
nampak Cin Yak-leng, mungkin nona itu terkurung di suatu
tempat.
Agar dapat mendengar percakapan orang Tang-wan dan
mencari tahu tempat kurungan Cin Yak-leng Peng-say
sengaja berpindah ke sebelah sana. Kebetulan ada sebuah
meja kosong, cuma jaraknya agak jauh dengan rombongan
Tang wan, tapi berdekatan dengan murid Lam-han.
Terpaksa Peng-say duduk di situ. Apa yang dibicarakan
murid Tang wan itu tidak terdengar. sebaliknya semua
pembicaraan murid Lam-han dapat didengarnya dengan
jelas.
Terdengar Leng Seng sedang bertanya: "Mengapa tidak
tampak murid Bok Jong-siong, Bok-supek?"
"Konon Bok-supek dan Wi-susiok tidak akur meski
keduanya adalah saudara seperguruan," tutur Kiau Lo-kiat.
"Markas pusat Thay-san-pay justeru berada d atas Thay-san
yang terletak tidak jauh tapi tiada seorang pun murid Bok-
supek mengucapkan selamat kepada Wi-susiok."
"Kabarnya Wi-susiok tidak disukai oleh Suhengnya
sehingga meninggalkan Thay-san-pay, lantaran itulah Wi-
susiok memilih Kim-bun-se jiu mengasingkan diri, entah
betul tidak isyu yang tersiar ini?" kata si kera Kang Ciau-lin.
"Kau mendengar dari tempat minum bukan?" tanyaKiau
Lo-kiat. "Isyu ini sama sekali tidak betul. Bahwa Wi-susiok
tidak cocok dengan Bok-supek memang betul, tapi Khim-lo
(si kakek kecapi Bok supek bukanlah orang yang berjiwa
sempit tidak nanti dia mendesak sang Sute sehingga
meningggalkan perguruan. Bahwa Wi-susiok mendadak
menyatakan akan Kim-bun-se-jiu, hal ini pasti ada
alasannya yang kuat."
"Sebab apakah mereka tidak akur diantara sesama
saudara perguruan?" tanya Leng Seng.
"Konon. Wi-susiok tidak setuju Bok supek menjadi ketua
Thay-san-pay, sebaliknya Bok-supek anggap sang Sute
terlalu banyak duitnya, se-hari2 hanya menjadi hartawan
tanpa menghiraukan urusan di dalam Thay-san-pay Karena
pertentangan pendapat itulah, hubungan mereka pun
tambah lama tambah renggang," demikian tutur si kera.
"Hus, jangan sembarangan omong!" bentak Kiau Lo-kiat.
"Masa kusalah omong? Kan memang begitu?" ujar si
kera.
"Kalau tidak jelas duduknya perkara jangan
sembarangan omong," Kata Kiau Lo-kiat. "Persoalan itu
adalah urusan dalam Thay-san-pay sendiri, orang luar
jangan ikut mempersoalkannya."
Mendadak terdengar suara ribut diluar, penyambut tamu
berseru: "Ciangbunjin Yan-san-pay, Thian-bun Totiang
tiba!"
"Aha, Ciu-to," seru Peng-say tertahan.
Ciu-to atau Tosu arak adalah julukan Thian-bun
Totiang, yaitu salah satu di antara Tiong-goan-sam-yu, tiga
sekawan daerah Tionggoan. Yang dimaksudkan tiga
sekawan adalah Khim-lo, si kakek kecapi Bok Jong siong, si
Nikoh penyair, Ting-sian Suthay dan Ciu-to Thian-bun
Tojin.
Di jaman kuno, yang dimaksudkan daerah Tionggoan
adalah sekitar propinsi2 Soatang, Holam dan Hopak.
Thay-san terletak di Soatang. Yan-san terletak di Hopak
dan Siong-san terletak di Holam, karena ketiga gunung dan
ketiga aliran itu sama2 berada di wilayah Tionggoan,
kebetulan di antara ketua ketiga aliran itupun terkenal
sebagai penggemar kecapi, minum arak dan bersyair, di
antara mereka pun ada hubungan persababatan yang akrab,
maka orang Bu-lim lantas menyebut mereka sebagai Tiong-
goan-sam-yu.
Perawakan Thian-bun Totiang tinggi besar, sangat
gagah, mukanya merah seperti Kwan Kong. Mungkin
orang yang gemar minum arak kebanyakan bermuka
merah. Maka dari air mukanya saja orang akan segera tahu
akan hobinya.
Serentak semua hadirin sama berdiri, di mana Thian-bun
Tojin lewat, semua orang sama memberi hormat kepada
salah seorang tokoh besar dan gembong Ngo-tay-lian-beng
atau perserikatan lima besar ini.
Thian-bun Totiang langsung disambut masuk ke ruangan
dalam. Mungkin orang yang boleh masuk ke ruangan
dalam hanya tokoh pilihan saja.
Sesudah Thian-bun Totiang masuk, para tamu berduduk
kembali di tempat masing2. Dengan sendirinya Peng-say
juga ikut berdiri dan ikut terduduk lagi, begitu pula anak
murid Lam-han, Siong-san dan Tang wan.
Sesudah berduduk, terdengar Leng Seng berkata:
"Menurut pendapatku, paling baik Toasuko janganlah
datang kemari. Disini telah hadir tokoh2 Bu-lim sebanyak
ini, bila Toasuko sampai dituding dan didamperat Ting-yat
Susiok sehingga menimbulkan amarah umum, urusan tentu
bisa runyam."
"Tapi Toasuheng mewakilkan Suhu untuk
menyampaikan selamat kepada Wi-susiok, tak boleh tidak
dia pasti akan hadir," kata Kiau Lo-kiat dengan menyesal.
Para murid Lam-han menjadi sedih dan berkuatir bagi
Toasuheng mereka.
Tidak lama kemudian, diluar kembali terjadi kegaduhan.
Peng-say menyangka kedatangan tokoh besar lagi. Tapi
tunggu punya tunggu tidak didengarnya petugas
menyerukan nama tamu yang datang,
Waktu ia melongok kesana, mana ada tamu agung
segala, yang terlihat adalah beberapa orang berseragam
hijau dengan menggotong dua daun pintu sedang masuk
dengan ter-gesa2. Di atas daun pintu menggeletak dua
orang dengan ditutupi kain putih yang berlepotan darah.
Melihat itu, para tamu sama berkerumun kesana untuk
melihat. Segera terdengar seorang berkata: "Orang Yan-san-
pay!"
Padahal ketua Yan-san-pay, yaitu Thian-bun Totiang,
baru saja datang, hanya sebentar saja lantas disusul dengan
dua sosok mayat sehingga terasa se-olah2 Thian-bun Tojin
sengaja membawa mayat untuk mengucapkan selamat
kepada Wi Kay-hou.
"Wah, Te-coat Tojin dari Yan-san-pay terluka parah, ada
lagi seorang entah siapa?" demikian terdengar orang
bertanya.
Lalu yang lain menjawab: "Murid Thian-bun Totiang,
she Tang Apakah sudah meninggal?"
"Ya, meninggal," sahut yang bertanya tadi. "Coba lihat,
bacokan itu melukai dadanya hingga tembus ke punggung,
tentu saja mati."
Di tengah suara berisik itu, kedua tubuh yang mati dan
terluka itu telah digotong keruangan dalam. kesempatan itu
segera digunakan beberapa orang untuk ikut masuk.
Di ruangan tamu masih ramai orang membicarakan
kejadian itu.
"Te-coat Tojin adalah tokoh Yan-san-pay yang lihay,
siapa yang berani melukainya sedemikian rupa?"
"Orang yang sanggup melukai Te-coat Tojin dengan
sendirinya berilmu silat jauh lebih tinggi dan juga
pemberani, maka tidaklah perlu diherankan."
Begitulah di ruangan situ orang ramai membicarakan
peristiwa itu, lalu kelihatan Hiang Tay-lian keluar dengan
ter-buru2, ia mendekati tempat duduk anak murid Lam-han
dan berkata kepada Kiau Lo-kiat: "Kiau-suheng, Suhu
mengundang."
Kiau Lo-kiat mengiakan dan ikut Hiang Tay-lian ke
ruangan dalam.
Di ruangan tamu bagian dalam dilihatnya lima kursi
besar berjajar di tengah, empat buah kursi itu kosong, hanya
kursi keempat saja berduduk Thian-bun Tojin yang
bertubuh tinggi besar itu.
Kiau Lo-kiat tahu kelima kursi itu disediakan untuk
kelima ketua dari Ngo-tay lian-beng Ketua Say koan, Lam-
han, Tay-san dan Siong-san belum datang, makanya
kosong.
Di kedua samping berduduk belasan Bu-lim cianpwe
atau angkatan tua dunia persilatan, diantaranya terlihat
Ting-yat Suthay dari Siong-san-pay, Ciamtay Cu-ih dari
Tang-wan, Ho Sam-jit dari Gan-tang san.
Di bagian tuan rumah berduduk seorang lelaki setengah
umur bertubuh gemuk pendek dan berjubah sutera, melihat
potongannya orang akan segera tahu dia pasti seorang
hartawan. Dia bukan lain adalah tuan rumahnya, Wi Kay-
hou.
Lebih dulu Kiau Lo-kiat memberi hormat kepada tuan
rumah, lalu disembahnya pula Thian-bun Tojin,
Air muka Thian-bun Tojin tampak kalem, agaknya
menahan rasa gusar yang hampir meledak, mendadak ia
menepuk pegangan kursi dan membentak: "Mana Sau
Peng-lam?"
Suaranya sangat keras sehingga seperti bunyi guntur
menggelegar, para tamu di ruangan luar juga dapat
mendengarnya.
Tentu saja anak murid Lam-han sama melengak. Leng
Seng lantas berbisik kepada para Suhengnya. "Kembali
mereka menanyakan Toasuko."
Nio Hoat mengangguk tanpa bicara, selang sejenak
barulah ia mendesis: "Kita harus bersabar. Di sini
berkumpul ksatria dari segenap penjuru, jangan sampai
orang memandang hina kepada Lam-han kita."
Diam2 Peng-say juga berpikir: "Ai, si Sau tua (ia
maksudkan Sau Peng-lam yang disangkanya pasti lebih tua
daripada Kiau Lo kiat) ini memang suka cari gara2, di
mana2 dia membikin onar."
Dalam pada itu anak telinga Kiau Lo-kiat terasa
mendengung oleh karena suara bentakan Thian-bun yang
keras tadi, kaki terasa lemas, dia memang sedang
menyembah, sampai lama barulah ia dapat berbangkit. Lalu
menjawab: "Lapor Supek, Sau-suheng telah berpisah
dengan kami beberapa lama yang lalu, sudah disepakati
akan bertemu lagi disini dan bersama2 akan menyampaikan
selamat kepada Wi susiok, jika hari ini dia tidak datang,
kuyakin besok pasti akan tiba."
"Masa dia berani datang?" teriak Thian-bun dengan gusar
"Sau Peng-lam adalah murid ahli-waris Lam-han kalian,
betapa pun terhitung tokoh dari Beng-bun cing- pay
(perguruan ternama dan golongan baik), tapi untuk apa dia
bergaul dengan bangsat Thio Yam-coan yang namanya
terkenal busuk?"
"Setahuku, Toasuko tidak kenal Thio Yan-coan," jawab
Kiau Lo-kiat. "Memang biasanya Toasuko suka minum
arak, besar kemungkinan lantaran sama2 suka minum dan
secara kehetulan bertemu dirumah minum, lalu minum
bersama."
"Kau pun berani sembarangan mengoceh dan membela
sibangtat Sau Peng-lam itu?" teriak Thian-bun dengan
murka sambil berbangkit. "Sute, coba ceritakan, cara
bagaimana sampai kau terluka dan Sau Peng-lam itu kenal
Thio Yan-coan atau tidak?"
Kedua papan daun pintu tadi tertaruh di lantai, yang
sebelah terbujur sesosok mayat, sebelah lain berbaring
seorang Tojin, yaitu Te-coat Tojin dari Yan-san-pay.
wajahnya kelihatan pucat pasi, jenggotnya berlepotan darah
segar.
Jelas luka Te-coat Tojin tidak ringan, cuma dia sudah
mendapat obat luka "Thian-hiang-coat-siok. ciau" dari Ting-
yat Suthay, obat luka mujarab terkenal dari Siong-san-pay,
maka jiwanya sudah tidak berhalangan. Ia lantas
menjawab: "Pagi. . .pagi tadi, aku dan Tang-sutit berada di.
. . di Cui-sian-lau di kota Thay-an, disanalah kami bertemu
dengan Siu Peng-lam dan ... dan Thio Yan coan, lalu ada
lagi seorang. . . seorang Nikoh kecil. ..." bicara sampai
disini napasnya tampak ter-engah2 dan tidak sanggup
melanjutkan lagi.
Cepat Wi Kay-hou menyela: "Te-coat Suheng, tak perlu
kau bicara lagi, biarlah kututurkan kepada Kiau-Sutit
menurut apa yang kudengar dari uraianmu tadi." Lalu ia
berpaling kepada Kiau Lo-kiat dan menyambung: "Kiau-
hiantit, jauh2 kalian datang kemari untuk mengucapkan
selamaf kepadaku, untuk ini aku sangat berterima kasih
kepada kalian, terutama kepada Sau-suheng di rumah.
Mengenai diri Sau Peng-lam, Sau-sutit, entah cara
bagaimana dia berkenalan dengan si keparat Thio Yan-coan
itu, untuk ini kita masih harus menyelidiki duduknya
perkara yang sebenarnya. Apabila benar Sau-hiantit
bersalah, sebagai suatu keluarga besar dari Ngo-tay-lian-
beng, kita harus memberi nasihat se-baik2nya kepadanya. . .
."
"Memberi nasihat apa?" teriak Thian-bun dengan gusar.
"Harus bikin bersih pintu perguruan dan memenggal
kepalanya."
Melihat kemurkaan Thian-bun Tojin yang sukar ditahan
itu, Kiau Lo-kiat menjadi takut. Tapi demi nampak Ciantay
Cu-ih dan Ting-yat Suthay, yang satu cengar-cengir seakan
bergembira menyaksikan orang tertimpa bencana, seorang
lagi juga bersikap garang dan membantu pihak Thian-bun
Tojin Mau-tak-mau Kau Lo-kiat jadi mendongkol juga.
Pikirnya: "Toasuheng tidak hadir di sini, sebagai murid
tertua Lam-han tidak boleh kubikin malu nama baik Suhu."
"Cianpwe adalah sahabat baik guru kami, selama ini
Suhu kami tidak pernah memberi ampun kepada anak
muridnya sendiri yang jelas2 bersalah, di bawah guru yang
keras tidak nanti ada murid yang jahat." Kuatir Thian-bun
mendamperat lagi karena Kiau Lo-kiat mengadakan
pembelaan bagi Sau Peng-lam,
Maka cepat Wi Kay-hou menyela: "Ya, masakah kami
tidak tahu betapa kerasnya disiplin perguruan Sau-suheng?
Hanya saja perbuatan Sau-sutit sekali ini memang agak
keterlaluan."
"Untuk apa kau sebut dia Sutit? Sutit kentut!" kata
Thian-bun dengan gusar.
Habis berkata baru dirasakan ucapannya kurang sopan,
terutama di didepan Ting-yat Suthay, betapapun akan
merosotkan derajat sendiri sebagai seorang tokoh besar.
Tapi kata2 yang sudah telanjur keluar tak dapat ditarik
kenmbali, terpaksa ia hanya menarik napas dan duduk
kembali di kursinya.
"Wi-susiok," kata Kiau Lo-kiat. "Sebenarnya apa yang
terjadi, mohon Susiok suka memberi penjelasan."
"Menurut cerita Te-coat Tobeng tadi, pagi2 dia dan
murid Thian-bun Toheng, yaitu Tang Pek-seng, keduanya
pergi ke Cui-san-lou untuk minum arak," demikian tutur Wi
Kay-hou. "Begitu sampai di Ciu-lau itu segera terlihat tiga
orang sedang makan minum disitu. Ketiga orang itu ialah si
bangsat cabul Thio Yan-coan, Sau-sutit serta murid Ting-
yat Suthay, Gi-lim Siausuhu."
"Te-coat Toheng merasa cara mereka makan minum itu
sangat menyolok mata dan kurang senang. Sebenarnya dia
tidak kenal kepada ketiga orang itu, hanya dari pakaian
mereka dapat diketahui yang seorang adalah murid Lam-
han dan seorang lagi murid Siong-san. Hendaklah Ting-yat
Suthay jangan marah, jelas Gi-lim dipaksa orang sehingga
dia tak dapat disalahkan. Te-coat Toheng bilang Thio Yan-
coan itu seorang lelaki perlente berusia antara 30-an, mula2
tidak tahu siapa dia, tapi kemudian didengarnya Sau-sutit
bicara: 'Marilah, Thio-heng, kita habiskan satu cawan lagi.
Ginkangmu tersohor tiada bandingannya, tapi takaran
minum arak jelas kau bukan tandinganku'. -Jika orang itu
she Thio, konon Ginkangnya tiada bandingannya pula,
melihat bentuknya pastilah dia Ban-li-tok-heng Thio Yan-
coan dan tidak mungkin keliru lagi. Pada hal Te-coat To
heng adalah orang yang benci kepada kejahatan, melihat
tiga orang itu makan minum bersama satu meja, Te-coat
Toheng menjadi marah."
Diam2 Kiau Lo-kiat merasa kemarahan Tojin itu
memang beralasan, pikirnya: "Tiga orang minum arak
bersama, yang satu adalah penjahat cabul yang terkenal
busuk, seorang iagi Nikoh cilik yang masih polos, yang lain
adalah murid utama Lam-han kita, sesungguhaya memang
pandangan tidak sedap."
"Kemudian Te-coat Toheng mendengar Thio Yan-coan
itu berkata: 'Selama Thio Yan-coan malang melintang di
dunia, yang paling kupandang rendah adalah mereka yang
mengaku sebagai murid Beng-bun-ceng-pay segala. Sau-
heng, meski kau pun murid Lam-han, tapi jelas kau lain
daripada yang lain, hari ini aku dapat minum arak
bersamamu sungguh tidak sia2 hidupku ini. Marilah kita
coba2 berlomba minum. Kekuatanku minum arak
sedikitnya satu kali lipat lebih kuat daripadamu. Eh, Nikoh
cilik. kau harus mengiringi kami minum kalau tidak mau,
akan kucekoki kau. . . ."
Bicara sampai di sini, Kiau Lo-kiat memandang Wi Kay-
hou sekejap, lalu memandaog Te-coat pula dengan perasaan
sangsi.
Segera Wi Kay-hou paham apa yang diragukan orang,
ceput ia menambahkan: "Karena Te-coat Toheng terluka
parah, dengan sendirinya penuturannya tidak sejelas ini.
aku memang telah membumbuinya, tapi garis besarnya
memang demikian. Betul tidak, Te-coat Toheng?"
"Ya, be . . . .betul, betul," jawab Te-coat
"Waktu itu juga Te-coat Toheng tidak sabar lagi, segera
ia menggebrak meja dan mendamperat: 'Jadi kau ini Thio
Yan-coan? Setiap orang Bu-lim bertekad akan membunuh
kau, tapi kau malah menyebut namamu sendiri di sini,
apakab. kau sudah bosan hidup.'
"Agaknya keparat Thio Yan-coan itu sangat angkuh, dia
menjawab dengan ketus dan membikin marah Te-coat
Toheng, serentak Te-coat Toheng melolos senjata untuk
melabraknya. Mungkin terburu napsu ingin membinasakan
bangsat itu, setelah bertempur sekian lama, sedikit lengah,
akhir Te-coat Toheng terbacok dadanya. Melihat Susioknya
terluka, segera Tang-hiantit berusaha menolongnya, tapi
iapun terbunuh oleh Thio Yan-coan, ksatria muda harus
tewas di tangan jahanam, sungguh sayang. Tatkala mana
Sau Peng-lam hanya duduk saja di samping tanpa memberi
bantuan, sesama anggota Ngo-tay-lian-beng, sikapnya itu
harus disesalkan. Lantaran itulah maka Thian-bun Toheng
sangat marah,"
Dengan gusar Thian-bun menukas: "Tentang setia kawan
antara Ngo-tay-lian-beng, jelas hal ini diketabui oleh siapa
pun juga. Yang lebih penting orang persilatan seperti kita
ini betapa pun harus dapat membedakan antara yang baik
dan busuk tapi bergaul dengan .... bargaul dengan seorang
penjahat begitu. . ." saking gemasnya sehingga mukanya
yaog merah berubah menjadi kelam.
Pada saat itulah tiba2 terdengar seorang berseru di luar:
"Suhu, Tecu ingin memberi laporan!"
Thian-bun kenal itulah suara muridnya sendiri yang
bernama Ong Gun, cepat ia menjawab: "Ada urusan apa?
Masuk!"
Seorang lelaki gagah berumur 30-an tampak melangkah
masuk. lebih dulu ia memberi hormat kepada Wi Kay-hou,
lalu menghormati pula kepada Thian-bun dan berkata:
"Suhu, menurut berita yang dikirim Jio-jing Susiok, katanya
dia bersama anggota perguruan kita telah mencari jejak
kedua bangsat cabul Thio Yan-coan dan Sau Peng-lam di
sekitar Than-san, tapi tidak menemukan sesuatu
jejaknya...."
Mendengar Toa-suhengnya dimasukkan daftar sebagai
"penjahat cabul", diam2 Kiau Lo-kiat dan murid Lam-han
yang lain merasa tersinggung. Tapi Toasuheng mereka
memang betul bergaul dengan Thio Yan-coan, apa yang
bisa mereka bantah?
Terdengar Ong Gun tadi sedang menutur pula. "Tapi
diluar kota Cujoan telah diketemukan sesosok mayat, pada
dada mayat itu menancap sebilah pedang, itulah pedang si
penjahat cabul Sau Peng-lam."
"Mayat siapa itu?" tanya Thian-bun cepat.
Sorot mata Ong Gun beralih ke arah Ciamtay Cu-ih,
jawabnya: "Mayat seorang Suheng perguruan Ciamtay-
susiok, waktu itu kami tak mengenalnya, sesudah mayat
dibawa masuk kota barulah ada orang mengenalnya sebagai
Lo Ci-kiat, Lo-suheng. . . ."
"Ahhh!" Ciamtay Cu-ih berseru kaget sambil berbangkit.
"Jadi Ci-kiat? Di mana jenazahnya?"
"Di sini!" segera ada orang berteriak diluar.
Ciamtay Cu-ih benar2 seorang yang dapat menahan
perasaannya, meski mendengar berita duka itu secara
mendadak, yang mati itu pun salah seorang murid
kesayangan yang terkenal sebagai "Eng Hiong Ho Kiat",
tapi dia masih tetap tenang2 saja dan berkata pula: "Mohon
bantuan Hiantit, sukalah mayat itu digotong masuk
kemari!"
Ada orang mengiakan diluar, lalu dua orang menggotong
masuk sebuab papan, tertampak di bagian dada mayat itu
menancap sebilah pedang.
Pedang ini tertusuk melalui perut korbannya dan miring
keatas, pedang yang panjangnya tiga kaki (hampir satu
meter) itu hanya tersisa gagangnya yang hampir satu kaki
panjangnya itu, jadi ujung pedang hampir mencapai
tenggorokan korbannya. Jurus serangan dengan pedang
menusuk dari bawah ke atas begini, sungguh jarang terlihat
di dunia persilatan.
"Menurut berita Jin-jing Susiok," demikian Ong Gun
menutur pula, "untuk menemukan kedua bangsat cabul itu,
sebaiknya salah seorang Supek atau Susiok yang berada
disini suka membantu kesana."
"Aku saja?" serentak Ciamtay Cu-ih dan Ting-yat Suthay
berseru.
Tapi pada saat itu pula dari luar berkumandang suara
orang berseru: "Suhu, aku sudah kembali!" Suaranya halus
dan merdu.
Seketika air muka Ting-yat berubah, "Itu dia Gi-lim!
Hayolah menggelinding masuk!"
Pandangan semua orang lantas tertuju keluar pintu,
semua ingin tahu bagaimana bentuk Nikoh cilik yang jadi
gara2 karena minum arak bersama dengan dua penjahat
cabul di restoran besar itu.
Seketika terbeliak juga pandanaan semua orang. terlihat
Nikoh cilik ini memang lain daripada yang lain, lembut dan
cartik, sungguh keelokan yang cemerlang.
Meski usianya baru 16 atau 17 tahun, jelas memiliki
tubuh yang mempesona. walaupun memakai jubah pertapa
yang longgar, namun tidak dapat menutupi tubuhnya yang
indah itu.
"Ba .... bagus perbuatanmu!" kata Ting-yat dengan
menarik muka. "Cara bagaimana kau dapat pulang?"
"Suhu," kata Gi-lim sambil menangis, "Sekali ini hampir
saja ....hampir saja murid tidak dapat bertemu lagi dengan
engkau."
Dari suaranya yang lembut dan merdu itu, setiap orang
tentu akan merasa heran mengapa anak perempuan secantik
ini rela menjadi Nikoh?
Apalagi kedua tangannya yang memegangi ujung lengan
baju sang guru itu kelihatan putih halus. mau-tak-mau
membuat hati Ong Gun dan kedua anak muda yang
menggotong masuk mayat Lo Ci-kiat itu jadi terguncang.
Ciamtay Cu-ih hanya melirik sekejap saja kearah Gi-lim,
lalu pandangannya berpindah kepada pedang yang
menancap di tubuh Lo Ci-kiat itu, terlihat bagian gagang
pedang dekat mata pedang yang tajam itu terukir lima huruf
kecil "Lam-han Sau Peng-lam".
Ia berpaling ke arah Kiau Lo-kiat, dilihatnya pedang
yang tergantung di pinggangnya juga berbentuk sama
dengan untaian benang sutera hijau, Mendadak ia
mendekati Kiau Lo-kiat terus mencolok kedua matanya,
begitu cepat dan lihay serangannya, tahu2 jarinya sudah
menempel kelopak mata lawan.
Keruan Kiau Lo-kiat terkejut, cepat ia gunakan jurus
"Ki-hwe liau-thian" atau angkat obor menerangi langit, ia
berusaha menangkis sebisanya.
Tiba2 terdengar Ciamtay Cu-ih mendengus, tangannya
yang mencolok mata itu berputar dan tahu2 tangan Kiau
Lo-kiat sudah tertangkap, menyusul tangan yang lain
meraba kebawah, "sret", pedang Kiau Lo-kiat itu telah
dilolosnya.
Kiau Lo-kiat tak dapat berkutik karena tangannya
terpegang lawan, tahu2 ujung pedang sudah mengancam di
dadanya, ia terkejut dan berteriak: "Aku .... aku tidak
bersalah!"
Sekilas Ciamtay Cu-ih dapat membaca pada pedang
Kiau Lo-kiat itu pun terukir lima huruf yang berbunyi
"Lam-han Kiau Lo-kiat", bentuk huruf dan ukurannya
serupa dengan huruf yang terukir di pedang lain.
"Gerakan menusuk dari bawah keatas begini apakah
memang jurus serangan Lam-han-kiam-hoat kalian?" tanya
Ciamtay Cu-ih sambil mengancam perut Kiau Lo-kiat
dengan ujung pedang rampasannya itu.
Keringat dingin ber-ketes2 dari dahi Kiau Lo-kiat,
jawabnya dengan keder: "Didalam Lam-han kiam-hoat
kami tiada .... tiada terdapat jurus serangan begini."
Ciamtay Cu-ih memang lagi heran, serangan yang
mematikan Lo Ci-kiat itu jeias akibat tusukan pedang dari
bagian perut menembus ke atas dan hampir mencapai leher,
apakah serangan ini dilakukan Sau Peng-lam dengan
berjongkok, lalu menusuk dari bawah ke atas? Sesudah
membunuh mengapa pedang tidak dicabutnya, tapi sengaja
meninggalkan bukti senjata pembunuh ini?
"Supek ini harap maklum, jurus serangan Sau-toako itu
besar kemungkinan bukan Lam-han-kiam-hoat," demikian
mendadak Gi-lim menyela.
Dia tidak kenal Ciamtay Cu-ih, ia tidak tahu orang inilah
Hong-hoa-wancu, satu di antara Bu-lim-su-ki yang
termashur. Karena melihat usianya lebih tua daripada
gurunya, maka ia menyebutnya Supek. Ciamtay Cu-ih
berpaling, dengan air muka guram ia berkata kepada Ting-
yat: "Coba dengarkan, Suthay, dengan sebutan apa murid
anda memanggil bangsat itu?"
Dengan gusar Ting-yat menjawab: "Memangnya kau kira
aku tidak punya kuping sehingga perlu kau mengingatkan?"
Hendaklah diketahui bahwa watak Ting-pay Suthay ini
memang rada aneh, keras dan suka menang sendiri, salah
atau benar juga suka membela orang sendiri. Sudah jelas
diketahui muridnya bersalah, tetap dibelanya.
Sebenarnya ia pun gemas ketika didengarnya Gi-lim
menyebut Sau Peng-lam sebagai "Sau-toako", Jika Ciamtay
Cu-ih terlambat bicara sejenak, tentu dia sendiri akan
mendamperat Gi-lim. Tapi Ciam¬tay Cu-ih keburu
mendahului buka mulut maka ia berbalik membela
muridnya.
Dengan suara keras ia berteriak: "Apa salahnya dia
menyebut begitu? Apa pun kami adalah anggota Ngo-tay-
lian beng, jika saling panggil Suheng dan Sute kau tidak
perlu diherankan?"
Di balik ucapannya dia se-akan2 hendak bilang Tang-
wan kalian tidak termasuk dalam Ngo-tay-lian-beng,
hakikatnya kami memandang rendah kepadamu.
Sudah tentu Ciamtay Cu-ih dapat menangkap arti yang
terkandung didalam ucapan Ting-yat itu, segera ia balas
menjenyek: "Bagus, bagus! Jadi Sau Peng-lam itu jelas anak
murid Ngo-tay-lian-beng!?"
Habis bicara, mendadak tangan kirinya mendorong,
Kontan Kiau Lo-kiat tertolak ke sana dan "blang",
menumbuk dinding dengan keras.
Rasa gusar Ciamtay Cu-ih itu telah dilampiaskan diatas
diri Kiau Lo-kiat, keruan Kiau Lo-kiat yang tidak berdosa
harus menerima nasib, ia tertumbuk hingga kepala pusing
dan mata ber-kunang2, isi perut se-akan2 berjungkir-balik.
Sekuatnya kedua tangannya menahan dinding agar tidak
sampai jatuh terkulai tapi kedua kaki terasa lemas dan
hampir tak kuat berdiri lagi. Tapi sebisanya ia bertahan, ia
pikir, bila sampai ambruk, tentu nama baik perguruannya
akan tercemar.
Ting-yat Suthay lantas berkata. "Gi-lim, coba ceritakan.
cara bagaimana kau terjerat oleh mereka, ceritakan
sejelas2nya kepada gurumu." Lalu tangan Gi-lim
digandengnya dan diajak keluar.
Semua orang sama mafhum bilamana Nikoh cilik
secantik ini jatuh dalam cengkeraman penjahat cabul
semacam Thio Yan-coan itu, mustahil kesuciannya dapat
dipertahankan.
Dengan sendirinya seluk-beluk pengalamannya tidak
leluasa dibeberkan didepan orang banyak. Sebab itulah
Ting-yat Suthay sengaja membawa muridnya itu ke tempat
lain untuk ditanyai dengan se-jelas2nya.
Diluar dugaan, se-konyong2 bayangan orang berkelebat.
tahu2 Ciamtay Cu-ih sudah menghadang di depan Ting-yat
dan berkata: "Urusan ini menyangkut dua nyawa manusia,
maka diharap Gi-lim Siausuhu suka bicara disini saja." Ia
merandek sejenak, lalu menyambung pula. "Tang Pek-seng.
Ting hiantit juga anak murid Ngo-tay-lian-beng, dia
terbunuh oleh Sau Peng-lam, mengingat kalian sama2
anggota Ngo-tay-lian-beng, boleh jadi Yan-san-pay tidak
mengusutnya lebih lanjut. Tapi muridku Lo Ci-kiat ini, dia
tidak memenuhi syarat untuk bersaudara dengan penjahat
cabul macam begitu."
Tajam benar ucapan Ciamtay Cu-ih, secara langsung ia
tangkis ucapan Ting-yat tadi yang membela Gi-lim waktu
menyebut Sau-toako kepada Sau Peng-lam.
Watak Ting-yat memang keras dan aseran di hari2 biasa
saja sang Suci, yaitu Ting-sian Suthay juga suka mengalah
padanya, apalagi sekarang Ciamtay Cu-ih merintangi jalan
perginya. Seketika alisnya menegak demi mendengar kata2
Ciamtay Cu-ih.
Setiap orang yang kenal watak Ting-yat, begitu melihat
alisnya menegak, segera orang tahu Nikoh tua itu segera
akan main hantam. Padahal dia dan Ciamtay Cu-ih
tergolong jago kelas satu jaman ini, bilamana keduanya
mulai bergebrak, dalam waktu singkat tentu sukar
menentukan kalah dan menang, pula persoalan ini tentu
akan meluas dan sukar didamaikan.
Maka selaku tuan rumah cepat Wi Kay-hou melangkah
maju menengahi, katanya sambil menjura kepada kedua
tamunya: "Kedatangan kalian sama2 menjadi tamu
undanganku, apa pun yang terjadi hendaklah mengingat
pada diriku, janganlah bertengkar. Mungkin pelayanan
kami kurang sempurna, harap kalian jangan marah."
"Hahaha, sungguh lucu ucapan Wi-sute ini," jawab Ting-
yat dengan tertawa. "Aku marah kepada Hong-hoa-wancu,
apa sangkut-pautnya dengan kau? Dia melarang aku pergi.
aku justeru mau pergi. Jika dia tidak merintangi jalanku,
tentu tidak menjadi soal jika aku tetap tinggal di sini."
Ciamtay Cu-ih sudah lama tidak menginjak daerah
Tionggoan, tapi sejak dahulu ia tahu ilmu silat Ting-yat
sangat tinggi. pada 27 tahun yang lalu mungkin dia tidak
gentar padanya, tapi setelah terluka meski sekarang
kesehatan sudah pulih, namun kekuatannya tidak dapat
kembali seperti dahulu jangankan hendak menghadapi Ngo-
tay lian-beng, mungkin untuk mengalahkan Ting-yat saja
sukar. Apalagi kalau ribut dengan Ting-yat, tentu Ting-sian,
si Nikoh penyair takkan tinggal diam, bahaya dikemudian
hari tentu sukar dibayangkan. Karena itulah iapun bergelak
dan berkata:
"Yang kuharapkan adalah Gi-lim Siau-suhu suka
menceritakan pengalamannya agar didengar orang banyak,
memangnya Ciamtay Cu-ih ini orang macam apa, masa
berani merintangi jalan Pek-hun-amcu dari Siong san-pay?"
Habis berkata segera ia melompat kembali ketempat
duduknya tadi.
"Asal kau tahu saja," ucap Ting-yat, ia tarik tangan Gi-
lim dan berduduk kembali di tempatnya. Lalu bertanya
pula: "Coba ceritakan, apa yang terjadi kemudian setelah
kau tercecer dari rombongan kita?"
Ting-yat tahu Gi-lim masih muda belia dan hijau, ia
kuatir segala sesuatu yang membikin malu perguruannya
juga diceritakan begitu saja, maka cepat ia menambahkan:
"Bicaralah yang penting2 saja, yang tidak perlu tidak usah
diuraikan."
Gi-lim mengiakan, tuturnya: "Tecu tidak berbuat sesuatu
yang melanggar ajaran Suhu, yang Tecu harapkan adalah
Suhu dapat membinasakan jahanam Thio Yan-coan yang
menganiaya Tecu itu, ia. . ."
"Ya, kutahu, tidak perlu kau omong lagi," jawab Ting-yat
sambil mengangguk. "Pasti akan kubunuh Thio Yan-coan
dan Sau Peng-lam berdua bangsat itu. ..."
"Sau-toako juga?" Gi-lim menegas dengan heran. "Untuk
apa Suhu akan membunuh Sau-toako, dia kan ..."
mendadak ia menunduk dan menangis, ucapnya pula
dengan ter-guguk2: "Dia kan sudah . . .sudah mati?"
Semua orang sama terkejut. Dengan suara keras Thian-
bun Tojin bertanya: "Cara bagamana matinya? Siapa yang
membunuh dia?"
"Yakni orang ... orang jahat yang datang dari Tang-hay
ini!" jawab Gi-lim sambil menuding mayat Lo Ci-kiat.
Rasa gusar Thian-bun menjadi reda demi mendengar Sau
Peng-lam sudah mati.
Ciamtay Cu-ih juga merasa senang, pikirnya: "Kiranya
keparat Sau Peng-lam ini terbunuh oleh Ci-kiat. Jika
demikian. jadi mereka lebih gugur ber-sama2. Bagus, jelek2
Ci-kiat ini boleh juga, tidak percuma kutugaskan dia
mencari nama kedaerah Tionggoan ini." Mendadak ia
melototi Gi-lim dan menjengek: "Hm, memangnya hanya
Ngo-tay-lian-beng kalian yang orang baik, sedangkan Tang-
wan kami adalah orang jahat?"
"Aku .... aku tidak tahu, yang kumaksudkan bukan
Ciamtay supek, tapi kumaksudkan dia," ucap Gi-lim
dengan menangis sambil menunjuk mayat Lo Ci-kiat. Dia
mendengar gurunya menyebut kakek pendek gemuk ini
sebagai Hong-hoa-wancu, maka tahulah dia siapa sang
Supek ini.
Ting-yat balas melototi Ciamtay Cu ih, damperatnya:
"Untuk apa kau menakut-nakuti anak kecil? Jangan takut,
Gi-lim, betapa jahat orang ini, ceritakan saja seluruhnya.
Suhu berada disini, masa ada orang berani bikin susah
padamu."
"Cut-keh-lang tidak boleh bohong, apakah Siausuhu
berani bersumpah di depan Buddha?" kata Ciamtay Cu-ih
tiba2. Rupanya ia kuatir Ting-yat akan menyuruh Gi-lim
bercerita tentang ke-busukan Lo Ci-kiat. Sedangkan
muridnya itu sudah mati, tanpa bukti hidup, tentu orang
akan percaya pada cerita sepihak Gi-lim.
"Terhadap Suhu, tidak nanti aku berdusta," jawab Gi-
lim, ia terus berlutut dan berdoa: "Tecu Gi-lim akan
memberi laporan kepada Suhu dan para Supek dan Susiok,
Tecu berjanji takkan berdusta sepatah katapun, Buddha
maha sakti. tentu maklum akan ketulusan hati Tecu."
Mendengar ucapannya yang tulus dan khidmat,
kelihatannya juga menimbulkan rasa kasihan orang, maka
semua orang sama terharu kepada ucapannya itu.
Seorang Susing (sastrawan) berjenggot hitam sejak tadi
hanya mendengarkan disamping, sekarang tiba2 ia
menyela: "Setelah Siausubu bersumpah setulus ini, dengan
sendirinya semua orang percaya padamu,"
Kiranya orang itu she Bun, orang menyebutnya Bun-
siansing, namanya apa malah tiada yang tahu. Hanya
diketahui dia orang berasal dari selatan Siamsay, bersenjata
Boan-koan-pit, terhitung jago ahli Tiam-hiat.
Dalam pada itu suasana di ruangan tamu ini menjadi
hening, semua orang lama menantikan Gi-lim bercerita
lebih lanjut.
Sejenak kemudian, dengan pelahan barulah Gi-lim mulai
menutur pula: "Kemarin sore, kuikut Suhu dan para Suci ke
Thayan, di tengah jalan turun hujan lebat, karena kurang
hati2 kakiku terpeleset dan hampir jatuh, kaki dan tanganku
menjadi kotor setiba di kaki bukit, kupergi ke tepi sungai
untuk cuci tangan. Se-konyong2 kulihat didalam air sungai
di sampingku telah bertambah sebuah bayang orang lelaki.
Aku terkejut dan cepat berbangkit, namun punggungku
lantas terasa sakit, aku telah tertutuk oleh orang itu.
Sungguh aku sangat takut, aku ingin berteriak minta toiong,
namun tidak dapat bersuara lagi. Orang itu mengangkat
tubuhku dan membawaku ke sebuah goa. Disitu kulihat
jelas wajahnya. tampaknya dia tidak jahat, legalah hatiku.
Selang tak lama, kudengar para Suci sedang beeseru
mencari diriku dari berbagai jurusan. Tapi apa dayaku,
sama sekali aku tak dapat bergerak dan bersuura. 'Gi-lim,
dimana kau?' demikian kudengar para Suci memanggil
namaku. Orang itu hanya tertawa saja, dengan suara
tertahan ia berkata padaku: 'Jika mereka mencarimu ke sini,
segera kutangkap mereka sekalian.' Karena tidak
menemukan diriku, para Suci telah putar balik lagi kesana
dan akhirnya tak terdengar lagi suaranya. Orang itu lalu
membuka Hiat-toku. Segera kulari keluar gua, siapa tahu
gerak tubuh orang itu jauh lebih cepat dari padaku, baru
saja kuterjang keluar, tahu2 dia sudah menghadang di
depanku sehingga hampir saja kuseruduk dadanya. Dia ter-
bahak2 dan berkata: Hahaha, masa kau dapat kabur?'
-Cepat aku lompat mundur dan melolos pedang,. segera
ingin kutusuk dia, tapi lantas teringat olehku bahwa orang
ini tiada maksud mencelakai diriku, Cut-keh lang
mengutamakan welas-asih, mengapa harus kucelakai
jiwanya? Sebab itulah aku tidak jadi menusuknya, kataku:
"Mengapa kau rintangi diriku? Jika tidak menyingkir,
segera akan kutu. . . .kutusuk kau! Orang itu tertawa,
katanya: 'Baik juga hatimu, Siausuhu, kau tidak tega
membunuhku, bukan?' Aku menjawab: 'Aku tidak
bermusuhan apapun denganmu, untuk apa kubunuh kau?!"
Dengan tertawa orang itu berkata pula: 'Bagus jika begitu,
nah, duduklah, mari kita ber-cakap2.' 'Tidak, Suhu dan
para Suci sedang mencari diriku, pula, Suhu melarang
diriku bicara dengan sembarangan lelaki.' "Kata orang itu:
'Ah, kan sejak tadi kaupun sudah bicara denganku, bicara
sedikit dan bicara banyak kan tiada bedanya?'
Kataku: 'Lekas menyingkir, kau tahu betapa lihaynya
Suhuku? Jika beliau melihat sikapmu yang tidak sopan ini,
bisa jadi kedua kakimu akan ditabas kutung.'
Dengan tertawa ia menjawab: Jika kau yang hendak
membuntungi kakiku akan kuserahkan kakiku ini, Kalau
gurumu, ah, dia sudah tua. tidak cocok bagi seleraku."
"Diam!" bentak Ting-Yat mendadak. "Kata2 orang gila
begitu masa selalu kau ingat."
Dia tahu muridnya yang kecii ini masih polos dan ke-
kanak2an, sama sekali belum paham seluk-
beluk kehidupan manusia. Kata2 kotor yang diucapkan
bangsat cabul itu hakikatnya tak dipahaminya, sebab itulah
diuraikannya kembali seluruhnya seperti apa yang
didengarnya.
Tentu saja semua orang merasa geli, cuma rikuh
terhadap Ting-yat Suthay, maka tiada yang berani tertawa.
Rupanya Gi-lim penasaran karena diomeli sang guru,
dengan polos ia menjawab: "Bukan Tecu yang omong
begitu, tapi orang itulah!"
"Sudahlah. pokoknya kata2 gila yang tidak penting
begitu tidak perlu kau ceritakan, cukup ceritakan saja cara
bagaimana kau pergoki Sau Peng-lam," kata Ting-yat,
"Baiklah," jawab Gi-lim. "Sesudah pedangku terkutung
oleh orang itu.
"Pedangmu terkutung?" potong Ting-yat.
"Ya, dia juga omong macam2 lagi dan tetap tidak mau
membebaskan diriku. dia bilang aku. . . .bilang aku cantik
dan ingin tidur denganku. . . ."
"Tutup mulutmu!" bentak Ting-yat. "Anak kecil,
sembarangan omong, masa kata2 begitu juga kau ucapkan?"
"Bukan aku yang omong begitu, Suhu, tapi orang itu
yang omong dan akupun tidak tidur bersama dia."
"Diam!" bentak Ting-yat pula dengan lebih keras.
Salah seorang murid Tang-wan yang menggotong masuk
mayat Lo Ci-kiat tadi tidak dapat menahan rasa gelinya, ia
mengakak.
Ting-yat menjadi murka, disambarnya cangkir teh di atas
meja, air teh panas pada cangkir itu terus disiramkan kearah
murid Tang-wan itu.
Siraman ini menggunakan tenaga dalam Siong-san-pay,
cepat lagi jitu, karena tidak sempat mengelak, kontan air teh
yang panas itu menyiram mukanya, keruan murid Tang-
wan itu ber-kaok2 kesakitan.
Ciamtay Cu-ih mtnjadi gusar, damperatnya: "Apa2an
kau ini? Boleh omong masa tidak boleh tertawa. Sungguh
mau menang sendiri!"
"Ting-yat dari Siong-San-pay memang suka menang
sendiri, hal ini sudah berlangsung puluhan tahun, masa
baru sekarang kau tahu?" teriak Ting yat dengan melirik
hina. Segera ia angkat cangkir kosong itu dan hendak
dilemparkan ke arah Ciam-tay Cu-ih.
Tapi Ciamtay Cu-ih sama sekali tidak menggubrisnya.
sebaliknya dia malah membalik tubuh kesebelah sana.
Melihat orang yang sama sekali tidak gentar itu, diam2
Ting-yat berpikir dua kali, selama ini iapun tahu kelihayan
kungfu Tang wan yang termasuk diantara Bu-lim-su ki itu.
Pe-lahan2 ia menaruh kemkali cangkir teh itu, lalu berkata
kepada Gi-lim: "Ceritakan lagi, hal2 yang tidak penting
tidak perlu diuraikan."
Gi-lim mengiakan dan menutur pula:
"Suhu, betapapun orang itu tetap merintangi Tecu yang
bermaksud keluar dari gua itu. Sementara itu hari sudab
gelap, tidak kepalang rasa gelisah Tecu, mendadak kutusuk
dia. Bukan maksud Tecu hendak membunuhnya melainkan
cuma ingin menakuti saja. Tak terduga, mendadak tangan
orang itu meraih tiba, ia meraba . . . meraba tubuhku. Tecu
terkejut dan tahu2 pedangku sudah terampas olehnya.
Lihay amat Kungfu orang itu, dengan tangan kanan
memegang gagang pedang, tangan kiri memegang batang
pedang dengan ibu jari dan jari telunjuk, sekali tekuk
dengan pelahan, pletak, pedangku dipatahkannya sepotong
sepanjang satu dim."
"Dipatahkannya dengan jari pedangmu itu, hanya
sepanjang satu dim?" Ting-yat menegas.
"Ya," jawab Gi-lim.
Ting-yat dan Thian-bun Tojin saling pandang sekejap,
keduanya sama mafhum, jika Thio Yan-coan itu
mematahkan pedang pada bagian tengahnya, maka hal ini
tidak perlu dibuat heran. Tapi hanya dengan dua jari dan
dapat mematahkan sepotong kecil baja, maka tenaga
jarinya sungguh luar biasa.
Mendadak Thian-bun melolos pedang murid yang berdiri
disebelahnya, dengan ibu jari dan jari telunjuk ia tekuk
ujung pedang itu, "pletak", pedang itu patah sepotong kecil,
kira2 satu dim panjangnya, lalu ia bertanya: "Apakah begini
caranya?"
"Ah, kiranya Thian-bun Supek juga bisa," seru Gi-lim.
"Cuma bagian pedangnya yang patah itu terlebih rajin
daripada pedang Supek ini."
Thian-bun mendengus dan mengembalikan pedang itu
kepada muridnya, tangan lain yang memegang potongan
pedang patah itu mendadak digabrukkan meja, "crat",
potongan pedang patah sepanjang satu dim itu ambles rata
dengan permukaan meja.
"Wah, dengan Kungfu Supek yang hebat ini, kuyakin
orang jahat Thio Yan-coan itu pasti tidak bisa," seru Gi-lim
sambil berkeplok. Tapi mendadak wajahnya guram lagi, ia
menunduk dan menghela napas, katanya: "Ai, cuma sayang
waktu itu Supek tidak dapat membantu, kalau tidak, tentu
Sau-toako tidak sampai terluka parah."
"Terluka parah bagaimana? Bukankah kau tadi bilang dia
sudah mati?" tanya Thian-bun.
"Betul, lantaran Sau-toako terluka parah, makanya dia
kena dicelakai oleh si jahat Lo Ci-kiat itu," jawab Gi-lim.
Ciamcay Cu-ih kembali mendengus, ia mendongkol
karena Gi-lim menyebut Thio Yan-coan sebagai orang
jahat, menyebut muridnya juga orang jahat. Jadi anak
murid Tang-wan dipersamakan dengan bangsat cabul yang
terkenal sangat busuk itu.
Melihat mata Gi-lim mengembeng air mata, agaknya
setiap saat bisa menangis, maka tiada seorangpun yang
berani tanya padanya.
Sejenak kemudian, Gi-lim mengusap air matanya dengan
lengan baju, lalu bertutur pula dengan ter-sendat2:
"Orang jahat Thio Yan-coan itu terus memaksa diriku, ia
hendak menarik bajuku, segera kupukul dia, tapi kedua
tanganku jadi tertangkap malah olehnya. Pada saat itulah
diluar gua mendadak ada orang tertawa ter-babak2, suara
tertawanya aneh, setiap kali tertawa hahaha, lalu berhenti,
kemudian hahiha lagi.
Dengan bengis Thio Yan-coan lantas bertanya: 'S iapa itu
diluar?'
Tapi orang diluar gua itu tidak menjawabnya melainkan
cuma hahaha lagi dua kali. Segera Thio Yan-coan
mendamperat: 'Keparat, jika tahu gelagat hendaklah lekas
enyah sana. kalau tidak, bila Thio-toaya mengamuk, tentu
jiwamu bisa melayang!'
Orang di luar kembali tertawa hahaha lagi.
Thio Yan-coan tidak menghiraukannya, segera ia hendak
menarik bajuku pula, tapi orang di luar gua lantas tertawa
terlebih keras. Setiap kali orang itu tertawa, setiap kali pula
Thio Yan-coan menjadi gusar. Sungguh aku sangat
berharap orang itu akan menolong diriku. Akan tetapi
rupanya orang itupun tahu kelihayan Thio Yan coan dan
tidak berani masuk kedalam gua, ia masih tertawa saja di
luar. Tidak kepalang gemas Thio Yan-coan, mendadak ia
menutuk pula Hiat-toku dan segera melompat keluar. Tapi
orang diluar itu sudah bersembunyi lebih dulu, ubek2an
Thio Yan-coan mencarinya, tapi tidak bertemu, ia masuk
lagi ke dalam gua. Tapi baru saja dia berada disebelahku
orang tadi kembali ter-bahak2 lagi di luar. Aku merasa geli,
tanpa terasa akupun tertawa."
Ting-yat melototinya sekejap, katanya: "Apanya yang
menggelikan? Jiwamu sendiri terancam, masa kau masih
bisa tertawa?!"
Muka Gi-lim menjadi merah, jawabnya: "Ya, Tecu juga
merasa tidak pantas tertawa, tapi entah mengapa tanpa
terasa lantas tertawa begitu saja. Diam2 Thio Yan-coan
lantas berjongkok dan merunduk ke mulut gua. agaknya dia
akan segera menerjang keluar bila orang tadi bersuara lagi.
Tak tersangka orang diluar itu teramat cerdik, dia tidak
bersuara sedikitpun. Sedangkan Thio Yan-coan masih terus
menggeremet keluar, kupikir bila orang itu sampai
tertangkap, maka urusan bisa celaka. Maka waktu kulihat
Thio Yan-coan hampir menerjang keluar, segera aku
berteriak: "Awas, dia akan keluar!"
Tapi tahu2 suara tertawa orang itu berkumandang dari
kejauhan dan serunya: "Terima kasih! Tapi jangan kuatir,
dia tak dapat menyusul diriku. Ginkangnya tidak becus!"
Padahal semua orang tahu Thio Yan coan itu berjuluk
"Ban-li-lok-heng" atau berlaksa li selalu bersendirian, suatu
tanda betapa lihay Ginkangnya dan selama ini jarang ada
bandingannya. Sekarang orang itu berani menyatakan
Ginkang orang she Thio ini tidak becus, jelas maksud
tujuannya hanya ingin memancing kegusarannya.
Terdengar Gi-lim lagi menyambung ceritanya. se-
konyong2 si jahat Thio Yan-coan melompat balik
dicubitnya keras2, aku kesakitan dan menjerit, tapi secepat
kilat dia lantas melompat ke gua sambil berteriak: 'Keparat.
mari kita coba2 berlomba Ginkang!'
Dengan mencubit diriku supaya aku menjerit, agaknya
penjahat Thio Yan-coan sengaja hendak memancing
kedatangan orang luar itu.
Namun orang itu ternyata tidak mudah tertipu,
sebaliknya Thio Yan-coan sendiri yang terpedaya. Kiranya
orang itu sudah bersembunyi lebih dulu didekat gua, begitu
Thio Yan-coan melayang keluar diam2 ia lantas menyusup
kedalam gua. 'Hiat-to mana yang ditutuknya?' Kujawab:
'Koh-hiat dan Goan-tiau-hiat. Siapa anda?' 'Bicara lagi
nanti, kubuka dulu Hiat-tomu,' habis berkata lantas
mengurut kedua Hiat-to yang kusebutkan itu."
Diam2 Ting-yat berkerut kening. Ia pikir, lelaki dan
perempuan tidak boleh berdekatan, apalagi kau sudah
menjadi Nikoh. Goan-tiau-hiat terletak dan sekarang mesti
di-urut2 oleh seorang lelaki. betapapun hal ini kurang
pantas. Cuma waktu itu dalam keadaan gawat, Kalau Hiat-
to itu tidak dibuka, tentu sukar untuk lari dan akan
dicelakai bangsat Thio Yan-coan itu. Mengingat untung
ruginya ini, terpaksa ia pura2 tidak tahu dan tidak menegur.
Terdengar Gi-lim bercerita pula: "Tak terduga tenaga
tutukan Thio Yan coan itu sangat lihay, meski orang itu
telah mengurut sekuatnya. sampai sekian lama Hiat-to yang
tertutuk tetap tak dapat buyar. Sementara itu suara siulan
Thio Yan-coan sudah terdengar, agaknya dia telah putar
balik lagi. Dengan kuatir kukatakan kepada orang itu:
'Lekas lari, jika kepergok, bisa kau dibunuhnya.'
Dia menjawab: 'Ngo-tay-lian-beng, senapas
setanggungan, Siaumoay ada kesulitan kan pantas jika
kutolong?'
"Dia juga orang dari Ngo-tay-lian-beng?" tanya Ting-yat.
"Suhu, dia itulah Sau Peng-lam, Sau-toako!" jawab Gi-
lim.
"Ooo!" tanpa terasa Ting-yat, Thian-bun, Ciam-tay Cu-
ih, Ho Sam-jit, Bun-siansing, Wi Kay-hou dan lain2 sama
bersuara lega. Kim Lo-kiat juga menghela napas lega.
-ooo0dw0ooo-

Jilid 14
Diantara hadirin memang sudah ada yang menduga
orang yang diceritakan Gi-lim itu bisa jadi Sau Peng-lam,
tapi harus menunggu penjelasan Gi-lim sendiri barulah
dapat dipastikan.
Begitulah Gi-lim lantas menyambung pula:
"Mendengar suara suitan Thio Yan-coan itu makin
dekat. Sau-toako lantas minta maaf padaku dan mendadak
aku dipondongnya dan dibawa keluar gua, kami
bersembunyi ditengah semak2 rumput yang lebat. Baru
kami bersembunyi, segera terlihat Thio Yan-coan
menyusup kedalam gua. Dengan sendirinya dia tidak
menemukan diriku. dia mengamuk dan mencaci-maki,
banyak kata2nya yang sukar ditirukan, akupun tidak tahu
artinya. Lalu dia keluar lagi dengan pegang pedangku yang
hujan, bintang dan rembuian suram, dia tidak melihat kami,
tapi dia menaksir kami pasti tidak dapat lari jauh dan
mungkin bersembunyi disekitar situ, maka dia masih terus
membacok dan menabas. Satu kali sungguh sangat
berbahaya, pedangnya menyambar lewat diatas kepalaku,
hanya selisih satu-dua inci kepalaku hampir tertabas.
-Setelah membacok dan menabas sekian lama ia tetap
tidak berhasil, disertai caci-maki ia terus menuju kedepan
sambil masih terus membabat kian-kemari dengan
pedangnya. Se-konyong2 kurasakan ada barang cairan
menetesi mukaku, berbareng itu kucium bau anyirnya
darah. Dengan terkejut kutanya dengan suara tertahan:
'Apakah kau terluka?'
Sau-toako membekap mulutku, selang sejenak,
terdengar suara tabasan pedang Thio Yan-coan sudah
semakin menjauh barulah dia menjawab dengan lirih:
'Tidak berhalangan.'
-Dia lantas melepaskan tangannya yang mendekap
mulutku itu. Akan tetapi kurasakan tetesan darah pada
mukanya makin lama makin deras, aku menjadi kuatir,
kataku: 'Lukamu cukup parah, darah harus dihentikan dulu,
aku membawa obat luka Tbian-hiang toan-liok-ciau.' Dia
mendesis pula agar aku jangan bersuara keras2. Terpaksa
aku meraba lukanya. Pada saat itulah mendadak Thio Yan-
coan berlari balik lagi sambil berteriak: 'Aha, kiranya kalian
sembunyi disini, sudah kulihat, hayo lekas berdiri!'
Diam2 aku mengeluh karena menyangka tempat
sembunyi kami benar2 diketahui Thio Yan-coan, segera aku
bermaksud berdiri, tapi kaki tidak mau bergerak . . . ."
"Kau tertipu," sela Ting-yat. "Keparat she Thio itu hanya
main gertak saja, sebenarnya dia tidak melihat kalian."
"Memang betul. Suhu sendiri tidak berada disana,
darimana Suhu tahu?" tanya Gi-lim.
"Apa sukarnya menebak kejadian itu?" ujar Ting-yat,
"Jika dia benar2 melihat kalian, buat apa ber-gembor2,
cukup dia mendekati kalian dan sekali bacok
membinasakan Sau Peng-lam. Tampaknya bocah she Sau
itupun masih hijau dan mudah tertipu."
"Tidak, seperti Suhu, Sau-toako juga dapat menerkanya."
tutur Gi-lim "Mendadak ia mendekap mulutku karena
kuatir aku bersuara. Selang sejenak, Thio Yan-coan ber-
kaok2 lagi dan tetap tidak mendengar sesuatu suara, lalu dia
berpindah tempat dan membacoki rumput pula. Sesudah
jauh dia pergi, dengan suara tertahan Sau-toako berkata
padaku: 'Sumoay, jika kita dapat bertahan setengah jam
lagi, setelah jalan darahmu lancar kembali, dapatlah kubuka
Hiat-tomu yang tertutuk. Cuma kukuatir keparat she Thio
itu akan putar balik lagi dan mungkin akan kepergok. Maka
kita harus menyerempet bahaya, biarlah kita bersembunyi
saja di dalam gua. . . . ."
Bercerita sampai disini, tanpa terasa Bun-si-susing. Ho
Sam-jit, Wi Kay-hou dan lain sama2 bertepuk tangan
memuji.
"Bagus. berani dan cerdik!" seru Bun-si-siansing.
"Tapi aku menjadi takut, namun rasa kagumku kepada
Sau-toako saat itu sudah tiada taranya, jika dia
menghendaki begitu, kuyakin pasti tidak salah lagi. Maka
aku lantas mengiakan. Lalu aku dipondongnya pula dan
menyusup ke dalam gua. Dia menaruh diriku ditanah. Aku
berkata padanya: 'Di bajuku ada obat luka mujarab, boleh
ambil dan bubuhkan pada lukamu.'
Tapi dia menjawab: 'Kurang leluasa jika kuambil
sekarang. biarlah nanti saja bila kau sendiri sudah dapat
bergerak.'
-'Ia lantas melolos pedangnya dan memotong lengan
bajunya untuk membalut bahu kirinya yang terluka. Baru
sekarang kutahu. rupanya lantaran hendak melindungi
diriku, waktu bersembunyi ditengah semak2 rumput itu,
tabasan pedang Thio Yan-coan yang ngawur itu berhasil
mampir di bagian bahunya, namun begitu dia tetap tidak
bergerak dan tidak bersuara walapun dapat kubayangkan
dia pasti sangat kesakitan Waktu itu. Syukur dalam
kegelapan Thio Yan coan juga tidak mengetahui kejadian
itu. Aku merasa susah dan tidak mengerti, mengapa Sau-
toako bilang tidak leluasa mengambil obat dalam bajuku. . .
."
"Hm, jika begitu. jadi Sau Peng-lam itu adalah Cing-jin-
kun-cu (orang baik2 dan lelaki sejati)," dengus Ting yat
Suthay.
Terbelalak mata Gi-lim yang bening itu, ia merasa heran,
katanya: "Dengan sendirinya Sau-toako adalah orang baik
kelas satu Selamanya dia tidak kenal padaku, tapi tanpa
menghiraukan keselamatan sendiri dia tampil kemuka
menolong diriku."
Tiba2 Ciamtay Cu-ih menjengek: "Meski kau tidak kenal
dia, mungkin sebelumnya dia sudah pernah melihat kau,
kalau tidak masakah begitu bersemangat dia berusaha
menolong kau?"
Dibalik ucapannya itu se-akan2 hendak mengatakan
bahwa sebabnya Sau Peng-lam menolongnya dengan
mati2an adalah karena terpikat oleh kecantikan Gi-lim yang
luar biasa itu.
Gi-lim menjawab; "Tidak, Sau-toako sendiri mengaku
belum pernah melihat diriku. Tidak nanti Sau-toako
berdusta padaku, pasti tidak!"
Ucapannya sangat tegas dan pasti. meski suara tetap
lembut, tapi cukup meyakinkan. Diam2 Ciamtay Cu-ih
berpikir: "Sebabnya keparat Sau Peng-lam itu berbuat nekat
begitu, besar kemungkinan dia sengaja hendak bertempur
dengan Thio Yan coan agar namanya bisa tambah terkenal
di dunia Kang-ouw."
Terdengar Gi-lim bertutur pula: "Sesudah Sau-toako
membalut lukanya sendiri, lalu dia mengurut pula Hiat-
toku. Tidak lama kemudian, terdengar suara kresekan
diluar gua dan makin lama makin dekat, rupanya Thio
Yan-coan benar2 putar balik lagi dan masih terus
membabati rumput diluar sana. Tentu saja hatiku berdebar.
Terdengar dia masuk gua lagi terus berduduk tanpa
bersuara apa-pun. Sedapatnya aku bertahan, sampai
bernapas saja tidak berani. Mendadak aku merasa Hiat-to
yang diurut Sau-toako itu kesakitan, karena tidak ter-duga2,
aku menjerit tertahan. Maka celakalah sekali ini, Thio Yan-
coan lantas ter-bahak2 dan melangkah kearahku.
Sedangkan Sau-toako hanya berjongkok saja di samping,
tetap tidak bergerak dan tidak bersuara. Sambil melangkah
maju Thio Yan-coan berkata dengan tertawa: 'Ai, dombaku
sayang, kiranya kau masih bersembunyi di dalam gua ini?'
-Segera ia menjulurkan tangannya untuk meraih
tubuhku. Mendadak terdengar suara cret satu kali, dia telah
kena ditusuk oleh pedang Sau-toako. Sayang tusukan itu
tidak tepat mengenai tempat yang fatal, Thio Yan-coan
sempat melompat mundur dan melolos dalam kegelapan
segera ia membacok ke arah Sau-toako. Trang. pedang dan
golok beradu. mereka lantas saling gebrak. Setelah
bergebrak beberapa jurus dalam kegelapan lalu keduanya
sama2 melompat mundur. Dalam kegelapan yang sunyi.
suara napas mereka kedengaran dengan jelas. hatiku
ketakutan setengah mati."
"Berapa jurus Sau Peng-lam bergebrak dengan dia?"
tanya Thian-bun Tojin mendadak.
"Waktu itu Tecu dalam keadaan bingung sehingga tidak
tahu persis berapa lama mereka bergebrak," jawab Gi-lim.
"Kudengar Thio Yan-coan berkata dengan tertawa: "Aha,
kau ini murid Lam-han! Lam-han-kiam-hoat bukanlah
tandinganku. Eh, siapa namamu?' Sau-toako menjawab:
'Ngo-tay-lian-beng. senapas setanggungan. Baik Lam-han
maupun Siong-san semuanya akan membinasakan bangsat
cabul macam kau ini. . .' Belum habis ucapan Sau-toako
segera Thio Yan-coan menerjang maju lagi. Kiranya dia
sengaja memancing Sau-toako bersuara agar dapat
mengetahui tempatnya dengan persis.Beberapa gebrakan
lagi, mendadak Sau-toako menjerit, agaknya dia terluka
lagi. Dengan tertawa Thio Yan-coan berkata: 'Kan sudah
kukatakan Lam-han-kiam-hoat bukan tandinganku. biarpun
gurumu sendiri si Sau tua juga bukan tandinganku.'
Tapi Tau-toako tidak menggubris ocehannya. Sebabnya
Hiat-to yang diurut Sau-tosko tadi mendadak kesakitan,
rupanya karena Hiat-to itu telah terbuka dan sekarang
terasa sakit pula. Aku coba merangkak bangun dan
berusaha menemukan pedang buntung. Sau-toako
mendengar suaraku, dia berseru dengan girang: 'He. Hiat-
tomu sudah terbuka. lekas pergi!'
Aku menjawab: 'Suheng dari Lam-han, biarlah kubantu
kau melabrak orang jahat ini.'
Tapi Sau-toako malah mencegah, katanya: 'Tidak, lekas
kau pergi saja! Gabungan kita berdua juga tak dapat
mengalahkan dia.'
-Thio Yan-Coan tertawa, katanya: 'Bagus, asal kau tahu
saja, untuk apa kau mengantarkan nyawa percuma? Eh, aku
menjadi kagum kepada keperwiraanmu. siapa namamu?'
Dengan ketus Sau-toako menjawab: 'Jika kau tanya
siapa namaku yang terhormat, tentu tidak berhalangan akan
kuberitahukan. Tapi kau tanya secara kasar, tidak nanti
kukatakan padamu.' Lalu Sau-toako ber-kaok2 pula
mendesak aku agar lekas pergi, katanya kawan2 kita sama
berkumpul di Cu-joan, bila kulari kesini tentu orang jahat
itu tidak berani menggangguku lagi.
Tapi aku masih ragu. kataku: 'Jika kupergi lalu
bagaimana baiknya bila dia membunuhmu?"
-Sau-toako menjawab: 'Tidak, dia takkan membunuhku
kurintangi dia, hayolah kenapa tidak lekas pergi kau!'. . .
Aduh!
-Di tengah suara benturan senjata, agaknya Sau toako
terluka lagi. Dia tambah gelisah dan berteriak pula padaku:
'Lekas pergi, kalau tidak segera akan kumaki kau!'
-Tiba2 dapat kutemukan pedang buntung yang dibuang
Thio Yan-coan tadi. segera aku berseru: kita berdua
mengerubuti dia!'
Dengan tertawa Thio Yan coan berkata: 'Bagus, lihatlah
pertunjukan Thio Yan-coan seorang diri menempur dua
murid Lam-han dan Siong-san pay.'
-Mendadak Sau-toako benar2 mendamprat diriku:
'Nikoh cilik yang tidak tahu urusan, barangkali kau sudah
pikun, lekas lari kau, kalau tidak. bila kelak bertemu lagi
bisa kutempeleng kau!'
Dengan cengar cengir Thio Yan coan berkata:'NiKOh
cilik ini merasa berat meninggalkan aku, dia tak akan pergi.'
Sau-toako tambah gelisah, teriaknya gemas: 'Kau mau
pergi atau tidak?' Aku menjawab tegas: 'Tidak!'
-Sau-toako mengancam pula: 'Jika kau tidak pergi segera
akan kumaki gurumu si tua Ting-sian yang pikun itu
sehingga mendidik murid linglung macammu ini.'
-Aku menjelaskan: 'Ting-sian Supek bukan guruku.'
Dia lantas berkata pula, "O, jika begitu, akan kumaki
Ting-yat si tua pikun itu. . . .'
Ting-yat menarik muka karena namanya disinggung,
jelas dia sangat mendongkol.
Cepat Gi-lim menyambung: "Suhu, jangan marah,
ucapan Sau-toako adalah demi kebaikanku, ia tidak sengaja
memaki Suhu,
-Tecu menjawab; 'Aku sendiri yang pikundan bukan
ajaran Suhu!'. . .Diluar dugaan, se-konyong2 Thio Yan-
coan menubruk kearahku, aku terkejut dan menabas
serabutan dengan pedang buntung sehingga dia terdesak
mundur lagi.
-Sau-toako berseru pula padaku; 'Hayolah lekas pergi jika
kau tidak mengharapkan aku memaki gurumu, masih
banyak kata2 kurang sedap didengar akan kuhamburkan,
kau tidak takut?'
-Aku menjawab; 'Janganlah kau memaki, marilah kita
lari bersama saja!'. . .
-Tapi SWau-toako berkata; 'Tidak, lantaran kau berdiri
disitu, ilmu pedangku yang paling lihay menjadi terhalang
dan tak dapat kumainkan dengan leluasa. Tapi begitu kau
pergi, segera orang jahat ini dapat kubinasakan.'
-Thio Yan-coan ter-bahak2, katanya; 'Tampaknya baik
juga hatimu terhadap Nikoh cilik ini, cuma sayang,
namamu saja dia tidak tahu.'
-Kupikir ucapan orang jahat itu ada benarnya, segera
kukatakan; 'Suheng dari Lam-han, siapakah namamu?
Akan kukatakan kepada Suhu di Cu-joan nanti bahwa
engkau yang telah menyelamatkan jiwaku.'
- Sau-toako lantas berteriak; 'Lekas pergi, lekas! Untuk
apa omong ber-tele2 tanpa habis. Aku she Kiau, Kiau Lo-
kiat. . . ."
Mendengar sampai disini, Kiau Lo-kiat jadi melengak, ia
heran mengapa Toa-suheng memalsukan namanya?
Bun-siansing manggut2, katanya; "Sau Peng-lam benar2
hebat, berbuat bajik tidak perlu menonjolkan nama,
memang inilah jiwa ksatria sejati."
Tapi Kiau Lo-kiat berpendapat lain, ia tahu Toa-
suhengnya itu banyak tipu akalnya, tindakannya itu pasti
ada maksud lain. Sungguh harus disesalkan, Toa-suheng
yang pintar dan cerdas itu harus tewas ditangan Lo Ci-kiat
dari Tang-wan.
Dalam pada itu Ting-yat telah pandang Kiau Lo-kiat
sekejap, lalu bergumam sendiri: "Kurang ajar benar Sau
Peng-lam itu, dia berani memaki aku, Hm, besar
kemungkinan dia kuatir kuusut perbuatannya, maka sengaja
mengalihkan dosanya kepada orang lain."
Mendadak teringat sesuatu olehnya, ia melototi Kiau Lo-
kiat dan bertanya: "He, orang yang memaki diriku di gua itu
apa betul kau?"
Cepat Kiau Lo-kiat menjawab dengan hormat: "Buk ....
bukan, mana Tecu ber . . . . berani!"
Dengan tersenyum Wi Kay hou juga menengahi: "Ting-
yat Suthay, si Sau Peng-lam sengaja memalsukan nama
Sutenya, kukira memang beralasan. Kita tahu Kiau-sutit ini
berguru kepada Sau-suheng pada usia likuran, Waktu itu
Kiau-sutit sendiri sudah mahir ilmu-ilmu silat, meski
tingkatannya tergolong angkatan muda, tapi kini setelah
belajar 28 tahun kepada Sau-suheng, usianya sudah
terhitung lanjut, jenggotnya juga sudah panjang, untuk
menjadi kakek Gi-lim Sutit juga pantas."
Seketika pahamlah Ting-yat setelah mendengar
penjelasan Wi Kay-hou ini. Rupanya demi menjaga
kebersihan nama Gi-lim, maka Sau Peng-lam sengaja
memalsukan nama Kiau Lo-kiat.
Hendaklah maklum bahwa umur Sau Peng-lam baru 33
tahun. jadi jauh lebih muda daripada Kiau Lo-kiat.
Sebabnya dia menjadi Suheng dengan usia yang lebih muda
adalah karena dia masuk perguruan terlebih dulu.
Di dunia persilatan umumnya memang ada dua macam
aturan, bergantung kepada perguruan masing2. Ada yang
urutan Suheng dan Sute dihitung menurut usia, ada yang
berdasarkan dulu dan lamanya seseorang masuk perguruan.
Dan perguruan Lam-han menganut peraturan yang kedua
ini.
Pada waktu Sau Peng-lam mengangkat guru Sau Ceng-
hong, waktu itu dia baru berumur tiga tahun. Tidak lama
setelah masuk perguruan, Sau Ceng-hong melihat
pembawaan anak ini sangat bagus, pintar dan cerdiK, bakat
belajar silatnya sangat tinggi maka timbul hasrat Sau Ceng-
hong akan mengangkat sebagai murid ahli-waris.
Cuma keluarga Sau dari Lam-han juga serupa dengan
keluarga Sau dan Pak-cay, ada sebagian Kungfu keluarga
tidak boleh diajarkan kepada murid kecuali kepada anaknya
sendiri. Bila Sau Peng-lam hendak diangkat menjadi ahli-
waris, maka segenap kepandaian Sau Ceng-hong harus
diajarkan seluruhnya, dan bila seluruh kemahiran
Kungfunya harus diajarkan, maka Sau Peng-lam harus
diangkat menjadi anak,
Kebetulan Sau Peng-lam memang anak yatim piatu,
isteri Sau Ceng-hong, yaitu Leng Tiong cik, juga mandul!,
tidak dapat melahirkan. Setelah berpikir beberapa hari,
akhirnya Sau Ceng-hong memutuskan mengangkat Sau
Peng-lam sebagai anak. Dengan demikian hubungan antara
Sau Ceng-hong dan Sau Peng-lam dan guru-murid berubah
menjadi ayah anak.
Kiau Lo-kiat masuk perguruan dua tahun lebih belakang
daripada Sau Peng-lam. Waktu itu Peng-lam berusia lima
tahun meski sudah ada dasar Lwe-kang hasil latihan selama
dua tahun, namun Peng-lam tetap dianggap sebagai anak
kecil oleh Kiau Lo-kiat yang berguru dengan membekal
ilmu silat. Sekarang, setelah lewat 28 tahun, Kungfu Kiau
Lo-kiat berbalik jauh ketinggalan dibanding Sau Peng-lam
Pada permulaan masuk perguruan, sang Suhu menyuruh
Kiau Lo-kiat memanggil seorang anak kecil berumur lima
tahun sebagai Suheng, dalam hatinya betapapun merasa
kurang "sreg". Tapi sekarang ia menyadari memang bakat
pembawaan sendiri selisih jauh dibandingi dengan Sau
Peng-lam, malahan semakin berlatih semakin jauh
ketinggalan. Maka kini dia tidak canggung2 lagi memanggil
Suheng kepada Peng-lam.
Jika Sau Peng-lam ternyata lelaki yang masih muda, bila
Nikoh jelita ini berhasil lolos dan ditanya pengalamannya di
gua gelap itu, sekali akan menimbulkan desas-desus yang
merusak baiknya. Sebab ditengah gua yang gelap itu, kedua
orang tidak dapat melihat wajah masing2, Gi-lim tidak tahu
bagaimana bentuk penolongnya itu. jika menurut seperti
pengakuan Sau Peng-lam itu bahwa penolongnya bernama
Kiau Lo-kiat dari Lam-han,, padahal semua orang tahu Lo-
kiat sudah kakek2, maka orangpun takkan sangsi dan
berprasangka jelek.
Jadi tujuan Sau Peng-lam memalsukan nama Lo-kiat itu
jelas demi menjaga kebersihan nama Gi-lim serta
menegakkan kehormatan Siong-san-pay, berpikir demikian,
tersembul juga senyuman pada wajah Ting-yat, katanya
sambil manggut2: "Hm, boleh juga cara berpikir bocah itu.
Kemudian bagaimana, Gi-lim? Coba lanjutkan!"
Gi-lim lantas menyambung:
"Tatkala itu aku tetap ngotot dan tidak mau pergi,
kataku: 'Kiau-toako, Ngo-tay-lian-beng kita senapas
setanggungan engkau telah menyerempet bahaya demi
menyelamatkan diriku, sekarang mana boleh kutinggalkan
kau di sini? Jika Suhu tahu tindakanku yang tidak bijaksana
ini tentu aku bisa dibunuhnya. ..."
"Bagus bagus sekali," seru Ting-yat sambil berkeplok.
"Orang persilatan seperti kita ini jika tidak tahu rasa setia
kawan dan keluburan budi, maka lebih baik mati daripada
hidup. Dalam hal ini baik lelaki maupun perempuan tiada
perbedaannya."
Gi-lim lantas menyambung pula; "Namun Sau-toako
lantas mendamperat diriku malah, katanya; 'Kau Nikoh
cilik brengsek, disini kau hanya mengganggu saja sehingga
aku tidak dapat mengeluarkan Lam-han-kiam-hoat yang
tiada tandingannya dikolong langit ini, agaknya jiwaku
yang sudah tua ini ditakdirkan harus amblas ditangan Thio
Yan-coan ini. Aha, rupanya kau telah bersekongkol dengan
orang she Thio ini dan sengaja hendak bikin celaka padaku,
mungkin aku yang lagi sial, ditengah jalan ketemu Nikoh,
bahkan Nikoh brengsek, Nikoh konyol. Sia2 aku memiliki
Kungfu maha tinggi. percuma ilmu pedangku yang tiada
tandingannya ini, tapi apa daya, selama Nikoh sialan ini
berada disini tetap tak dapat kukembangkan. Baiklah, Thio
Yan-coan, silakan sekali bacok kau binasakan diriku saja,
hari ini aku mesti menerima nasib. . . ."
Gi-lim memang pintar bicara dan dapat menirukan kata2
orang lain, cuma sayang, suaranya yang nyaring dan lembut
itu sebaliknya harus menirukan kata2 Sau Peng-lam yang
kasar dan kotor, maka kedengarannya menjadi rada janggal
dan menggelikan.
Terdengar ia bercerita pula: "Meski kutahu
dampratannya padaku itu hanya pura2 saja, tapi mengingat
kepandaianku memang rendah dan tak dapat
membantunya, di gua yang sempit itu memang bisa jadi
merintangi gerak-geriknya sehingga tidak dapat
mengeluarkan Lam-han-kiam-hoatnya yang hebat. . . ."
"Hm, bocah itu sengaja membual, masa kau percaya?"
jengek Ting-yat. "Lam-han-kiam-hoat mereka paling2 juga
cuma begitu, masa dikatakan tiada tandingannya di kolong
langit ini?"
Tujuannya hanya menggertak saja agar Thio Yan-coan
itu takut dan mundur teratur," tutur Gi-lim pula. "Karena
dia terus memaki, terpaksa aku berkata: 'Kiau-toako,
baiklah aku akan pergi sampai bertemu pula.” Tapi dia
lantas memaki lagi 'Kau Nikoh sialan, bila ketemu Nikoh,
setiap judi pasti kalah Selamanya aku tidak kenal kau.
selanjutnya akupun takkan melihat kau. Selama hidupku
paling gemar berjudi, jika melihat Nikoh lantas kalah judi,
untuk apa kulihat kau lagi?' . . . . "
Ting-yat menjadi murka, mendadak ia gebrak meja dan
berdiri, teriaknya: "Anak keparat. Mestinya kau tusuk dia
hingga tubuhnya berlubang! Dan kenapa waktu itu kau
tidak cepat angkat kaki?"
"Tecu memang terus angkat kaki," jawab Gi-lim. "Begitu
keluar gua, segera kudengar suara keras beradunya senjata.
Kupikir bila Thio Yan-coan itu menang, tentu dia akan
mengejar dan menangkap diriku lagi. Sebaliknya jika 'Kiau-
toako' itu yang menang, sekeluarnya nanti dia akan melihat
diriku, padahal bila melihat Nikoh dia pasti akan kalah judi.
Karena itulah aku terus berlari secepatnya ingin kususul
Suhu dan minta engkau pergi kesana untuk membereskan
penjahat Thio Yan-coan itu."
Setelah merandek sejenak, mendadak Gi-lim bertanya:
"Suhu, kemudian Sua-toako mengalami nasib malang,
apakah disebabkan. . . disebabkan dia melihat diriku yang
mendatangkan sial baginya."
"Omong kosong!" teriak Ting-yat dengan gusar. "Masa
melihat Nikon, lantas kalah judi segala, semua itu hanva
omong kosong belaka, mana boleh dipercaya? Coba lihat,
semua orang yang hadir di sini melihat kita guru dan murid,
apakah merekapun akan sial?"
Semua orang sama merasa geli, tapi tiada satupun yang
berani tertawa.
Gi-lim lantas berkata pula: "Ya, betul juga. Tecu lantas
ber-lari2, paginva. sampailah Tecu di kota Thay-an, hatiku
rada tenang. kupikir besar kemungkinan dapat menemukan
Suhu di dalam kota. Siapa tahu, pada saat itu juga tahu2
Thio Yan-coan sudah menyusul tiba. Melihat dia, kakiku
jadi lemas, hanya beberapa langkah kuberlari lantas
tertangkap olehnya. Kupikir kalau dia dapat menyusul
diriku, maka kiau-toako dari Lam-han itu tentu sudah
terbunuh olehnya di gua sana. Aku menjadi berduka,
karena jalanan cukup ramai orang berlalu-lalang, orang she
Thio itu tidak berani bertindak kasar padaku, dia cuma
berkata: 'Asal kau ikut padaku, aku pun takkan
mengganggu kau. Tapi jika kau bandel dan tidak menurut
perkataanku, segera akan ku-belejeti pakaianmu hingga
telanjang bulat dan kupertontonkan kepada orang banyak.'
-Tentu saja aku ketakutan dan tidak berani membantah,
terpaksa kuikut masuk ke kota Setiba di depan restoran Cui-
sian-lau itu, dia berkata pula padaku: 'Siausuhu, kau mirip
dewi kayangan, disini adalah Cui-sian-lau (restoran dewa
mabuk), tempat cocok dengan orangnya. Marilah kita
keatas, marilah kita minum dan bergembira se-puas2nya.'
-Aku menjawab: 'Cut-keh-lang tidak boleh sembarangan
makan minum. itulah peraturan Pek-hua-am kami.'
'Ah, ada2 saja peraturan Pek-hun-am kalian? Sebentar
akan kusuruh kau melanggar pantangan lebih besar lagi.
Huh, peraturan suci dan pantangan apa segala, semuanya
cuma menipu orang saja. Gurumu!. . . ."
Sampai disini, dia melirik Ting-yat sekejap dan tidak
berani meneruskan.
"Ocehan orang jabht begitu tidak perlu kau tirukan," kata
Ting-yat. "Coba ceritakan bagaimana selanjutnya."
"Ya," jawab Gi-lim. "Kemudian kukatakan: "Ah, kau
sembarangan omong, guruku tidak pernah main sembunyi2
untuk minum arak dan makan daging. . . ."
Seketika tertawalah orang banyak.
Meski Gi-lim tidak menirukan ucapan "Thio Yan-coan,
tapi dari bantahannya itu jelas Thio Yan-coan sengaja
menuduh Ting-yat suka makan daging dan mihum arak
secara sembunyi2.
Tentu saja muka Ting-yat menjadi kelam, pikirnya:
"Anak ini benar2 terlalu polos, kalau bicara tidak kenal
pantangan segala."
Gi-lim telah menyambung pula: "Mendadak orang jahat
itu menarik bajuku dan berkata: "Hayo ikut masuk dan
mengiringi aku minum arak, kalau tidak mau segera
kurobek bajumu,'
Karena tidak sanggup melawan, terpaksa aku ikut dia
masuk ke restoran itu. Orang jahat itu lantas pesan arak dan
satapan. Dia benar2 orang busuk. kutegaskan aku tidak
makan barang berjiwa, dia justeru pesan daging sapi, daging
babi, daging ayam, semuanya serba daging. Dia malah
mengancam, jika aku tidak mau makan, segera dia akan
meng-koyak2 pakaianku.
Pada saat itulah. tiba2 seorang naik pula keloteng.
kulihat pinggangnya bergantung sebilah pedang, mukanya
pucat lesi, tubuhnya berlepotan darah. Tanpa permisi ia ikut
duduk di sisi meja itu. Tanpa bicara dia angkat awan arak
didepanku terus ditenggaknya hingga habis. Beruntun dia
menuang tiga cawan dan diminum, lalu dia menuang lagi
satu cawan berkata kepada Thio Yan-coan; 'Mari minum!'
Kepadaku iapun berkata: 'Silakan minum!' Ia sendiri lantas
menghabiskan pula isi cawannya.
-Dari suaranya segera kutahu siapa dia. Syukur dan
terima kasih kepada langit dan bumi, dia ternyata tidak
terbunuh oleh Thio Yan-coan, hanya badannya berlumuran
darah, agaknya lukanya tidak ringan akibat membela
diriku."
Gi-lim berhenti sejenak, lalu menyambung pula:
"Thio Yan-coan memandangnya dari atas kebawah, lalu
dari bawah keatas, kemudian berkata: O, kiranya kau!-
Orang itu menjawab: 'Ya aku!'
Thio Yan-coan mengacungkan ibu jarinya kedepan
orang itu dan berkata: 'Sungguh lelaki sejati.' Orang itupun
mengacungkan jempolnya kepada Thio Yan-coan dan
berkata: 'Sungguh permainan golok yang hebat!
Kedua orang lantas sama2 bergelak tertawa dan ber-
sama2 menenggak arak. Aku sangat heran semalam kedua
orang baru saja bertempur dengan sengit, mengapa
sekarang keduanya berubah menjadi kawan baik?
-Thio Yan-coan itu berkata kepada orang itu: 'Kau bukan
Kiau Lo-kiat. orang she Kiau itu sudah tua bangka, mana
bisa segagah dan seganteng kau ini!'
Orang itu menjawab dengan tertawa; 'Betul. aku
memang bukan Kiau Lo-kiat.'
-Mendadak Thio Yan-coan mengetuk meja dan berseru:
'Aha, kutahu, kau Sau Peng-lam dari Lam-han. Sudah lama
kudengar murid utama Lam-han gagah perwira dan berani
bertanggung jawab, tergolong tokoh nomor satu di dunia
Kangouw.'
Baru sekarang Sau-toako mengaku, katanya dengan
tertawa; 'Terima kasih atas pujianmu. Sau Peng-lam adalah
jago yang sudah keok di bawah tanganmu janganlah kau
tertawakan.'
Thio Yan-coan berkata pula; 'Tidak berkelahi tidak saling
kenal. Bagaimana kalau kita bersahabat saja? Jika Sau-heng
penujui Nikoh jelita ini, biarlah Cayhe mengalah dan
memberikannya padamu. Mengutamakan perempuan dan
meremehkan persahabatan kan bukan perbuatan kaum
kita?. . ."
"Bangsat!" maki Ting-yat dengan muka kelam: "Pantas
mampus. bangsat itu!"
Gi-lim menjadi sedih dan akan menangis, tuturnya pula:
"Suhu, mendadak Sau-toako memaki diriku, dia bilang:
'Muka Nikoh cilik ini pucat pasi, setiap hari hanya makan
sayur dan tahu melulu, pasti tidak akan menyenangkan.
Apalagi sudah pantanganku, bila melihat Nikoh aku lantas
marah, kalau bisa ingin kubunuh habis semua Nikoh
didunia ini!'
-Dengan tertawa Thio Yan-coan bertanya: 'Aneh,
mengapa begitu?'
Sau-toako menjawab: 'Bicara terus terang, aku ini
mempunyai hobi berjudi, bila berjudi lantas lupa daratan.
Kalau tangan lagi pegang kartu, biarpun kau tanya siapa
namaku mungkin aku pun lupa. Akan tetapi bila aku
melihat Nikoh. maka tidak bolehlah aku berjudi, sebab pasti
kalah. Jadi nikoh adalah lambang kesialan bagiku. Malahan
setiap murid Lam-han juga begini. Sebab itulah murid Lam-
han kami bila bertemu dengan para Supek dan Susiok serta
para Suci atau Sumoay dari Siong-san-pay, meski lahirnya
kami bersikap menghormat, tapi di dalam batin sama
mengeluh.
”akan sial!. . . ."
Ting-yat menjadi gusar, "plak", mendadak ia menampar
muka Kiau Lo-kiat yang berdiri tidak jauh di sebelahnya.
Pukulan cepat lagi keras, Kiau Lo kiat tidak keburu
menghindar, kontan ia merasa kepala pusing dan mata ber-
kunang2, hampir saja roboh terjungkal.
"Ah, Ting-yat Suthay," dengan tertawa Wi Kay-hou
membujuk, "mengapa engkau jadi marah2 begini? Demi
menolong muridmu, Sau-hiantit sengaja omong kosong
dengan Thio Yan-coan itu, mengapa ocehannya itu kau
anggap sunggguh2?"
"Kau bilang tujunnnya hendak menolong Gi-lim?" Ting-
yat menegas dengan melengak.
"Itulah tafsiranku," kata Wi Kay-hou. 'Betul tidak, Gi-lim
Sutit?"
Mata Gi-lim menjadi bawah pula, jawabnya: "Ya,
sesungguhnya Sau-toako sangat baik, hanya. . . hanya cara
bicaranya yang rada2 kasar dan kurang sopan. Karena Suhu
marah. Tecu tidak berani bercerita lagi."
"Bicara terus, satu katapun tak boleh kau lewatkan
ceritakan, harus kau ceritakan seluruhnya dengan lengkap,"
seru Ting-yat. "Ingin kutahu sesungguhnya dia bermaksud
baik atau busuk. Jika bocah itu benar2 seorang bajingan
tengik. biarpun dia sudan mati tetap aku akan membikin
perhitungan dengan si Sau tua."
Gi-lim menjadi ragu2 dan tidak berani bercerita pula.
"Hayo, bicaralah!" seru Ting-yat. "Ceritakan seluruhnya.
jangan kau menyembunyikan ucapan Baik atau buruk
kata2nya kan dapat kita bedakan dengan jelas?"
Gi-lim mengiakan, sambungnya: "Sau-toako berkata
pula: "Thio-heng, orang belajar silat seperti kita ini selama
hidup selalu mencari kehidupan diantara ujung senjata.
Walaupun orang yang berkepandaian tinggi selalu lebih
untung, tapi kalau dipikir secara mendalam sesungguhnya
juga bergantung kepada nasib, betul tidak? Jangan kau kira
Nikoh cilik ini kurus kecil seperti anak ayam begini,
seumpama dia benar-benar dewi kayangan yang baru turun
di bumi ini juga aku Sau Peng-lam takkan meliriknya
barang sekejap. Betapapun jiwa seorang lebih penting
daripada urusan lain. mengutamakan perempuan dan
meremehkan jiwa sendiri ter-lebih2 tolol. Karena itulah,
Nikoh cilik begini jangan se-kali2 kau menyentuhnya.
-Dengan tertawa Thio Yan-coan menjawab; 'Sau heng,
tadinya kusangka kau ini seorang lelaki yang tidak takut
kepada langit dan tidak gentar kepada bumi, mengapa
terhadap seorang Nikoh bisa mempunyai pantangan
sebanyak itu?'
Sau-toako berkata 'Ya, soalnya sudah sering aku
mengalami kesialan bila melihat Nikoh, karena
pengalaman, terpaksa aku harus percaya. Coba kau pikir,
semalam aku tanpa kurang sesuatu apapun, muka Nikoh
kecil ini belum sempat kulihat, baru suaranya saja kudengar
dan aku lantas terluka oleh tabasan golokmu, bahkan
jiwaku hampir melayang. Apakah ini bukan bukti nyata
Nikoh membikin sial diriku?'
-Thio Yan-coan ter-bahak2, katanya: 'Ya, memang betul
juga.'
Sau-toako lantas berkata pula: 'Maka dari itu, Thio-heng,
lebih baik kita jangan bicara, apalagi bertemu dengan
Nikoh, hendaklah lekas kau suruh Nikoh cilik ini enyah
saja, marilah kita minum berduaan se-puas2nya. Hendaklah
kau terima nasihatku, jangan kau sentuh dia jika tidak ingin
ketiban nasib buruk. Tiga racun di dunia ini hendaklah kau
hindari se-jauh2nya.'
Dengan heran Thio Yan-coan bertanya: "Apa itu tiga
racun didunia ini?'
Sau-toako kelihatan heran jawabnya: 'M asa tiga racun di
dunia ini tidak kau ketahui? -Kata orang: 'Nikoh warangan
kobra, ingin selamat jangan sentuh dia. Jadii Nikoh itu
racun pertama, kedua warangan dan ketiga baru kobra.
Untuk ini setiap murid lelaki Ngo-tay-lian-beng kami selalu
mengingatnya dengan baik2. . . ."
Sampai di sini, Ting-yat tidak tahan lagi, dengan gusar ia
menggebrak meja dan memaki: "Keparat!"
Kiau Lo-kiat sudah kapok, sejak tadi dia sudah berdiri
menjauhi, sekarang ia menyurut mundur pula karena kuatir
Nikoh tua itu menjadikan dia sebagai sasaran pelampiasan
pula.
Wi Kay-hou menyela dengan menghela napas:
"Sesungguhnya Sau-hiantit itu bermaksud baik, cuma
caranya sembarangan omong itu memang rada keterlaluan.
Namun harus dipikir kembali lagi, jika tidak bicara secara
sungguh2, rasanya tidaklah mudah jika dia ingin menipu
bangsat besar semacam Thio Yan-coan itu."
"Wi-susiok. jadi menurut pikiranmu, apa yang diucapkan
Sau-toako itu sengaja digunakannya untuk menipu orang
she Thio itu?" tanya Gi-lim.
"Kukira memang begitulah," kata Wi Kay-hou. "Mana
mungkin Ngo-tay-lian-beng mengpaarkan kata2 kasar itu
kepada anak muridnya? Jika betul ada pantangan begitu,
masakah aku mau mengundang Ting-yat Suthay dan para
Sutit ikut hadir pada upacaraku Kim-bun-se-jiu besok lusa?"
Keterangan Wi Kay-hou ini membuat reda rasa gusar
Ting-yat, namun dia masih mendengus dan memaki pula:
"Mulut busuk anak keparat itu entah ajaran manusia konyol
dari mana?"
Nyata, di balik ucapannya itu, ketua Lam-han yaitu guru
merangkap ayah angkat Sau Peng-lam itu jadi ikut
dimakinya.
Wi Kay-hou berkata pula: "Hendaklah Suthay jangan
Kesal. Soalnya ilmu silat Thio Yan-coan itu sangat lihay,
Sau-sutit merasa bukan tandingannya, sedangkan Gi-lim
Sutit berada dalam keadaan bahaya, terpaksa dia
mengarang berbagai kata2 untuk menipu jahanam itu agar
mau membebaskan Gi-lim Sutit "
"Apakah karena itu Thio Yan-coan lantas melepaskan
kau?" tanya Ting-yat sambil berpaling kearah Gi-lim.
"Tidak," jawab Gi-lim. "Thio Yan-coan kelihatan ragu2,
dia memandang padaku, lalu berkata: 'Terima kasih atas
nasihat Sau-heng, tentang Nikoh cilik ini, toh kita sudah
telanjur melihat dia, biarkan saja dia tetap tinggal disini'
Sau-toako menggerutu: 'Wah, lebih lama melihat dia,
lebih banyak pula sialnya.'
-Pada saat itulah mendadak seorang pemuda dimeja
sebelah melolos pedang terus melompat ke depan Thio
Yan-coan sambil membentak; "Jadi kau inilah Thio Yan-
coan?"
-Thio Yan-coan mengiakan dan bertanya ada apa?
Pemuda itu berkata pula: 'Akan kubunuh kau si bangsat
cabul ini'
Segera pedangnya menusuk, dari jurus pedangnya jelas
dia orang Yan-san-pay, ialah Suheng ini."
Sambil berkata dia tuding mayat yang menggeletak di
papan pintu itu. Sejenak kemudian ia menyambung pula:
"Thio Yan-coan tidak berdiri, dia miringkan tubuh
menghindarkan serangan Suheng dari Yan-san-pay ini dan
berkata: 'Sau-heng, orang ini dari Yan-san-pay, kau bantu
dia tidak?' Sau-toako menjawwab: 'Ngo-tay-lian-beng,
senapas setanggung. sudah tentu kubantu dia.'
Kata Thio Yan-coan: 'Biarpun kalian Lam-han, Yan-san
dan Siong-san bergabung menjadi satu juga bukan
tandinganku'
-'Bukan tandinganmu juga tetap akan kuhantam kau,'
sambil berkata Sau-toako lantas melolos pedang.
-Dalam pada itu Suheng dari Yan-san-pay ini sudah
menusuk tujuh atau delapan kali dan selalu dapat
dihindarkan Thio Yan-coan. Dia meludah dan mengejek
Sau-toako: 'Huh, Ngo-tay-lian-beng kami mana ada bangsat
cabul macam kau ini?'
Berbareng ia terus menusuk Sau-toako malah. Cepat
Sau-toako melompat kesamping, segera iapun angkat
pedangnya dan menusuk punggung Thio Yan-coan.
Waktu itu akupun melolos pedangku yang sudah patah
itu dan ikut mengerubuti Thio Yan-coan. Tapi penjahat ini
benar2 sangat lihay, dia hanya bergeliat sekali, tahu2
tangannya sudah bertambah sebilah golok. Lalu katanya
dengan tertawa: 'Duduk, silakan duduk, marilah minum
arak!'
Lalu goloknya dimasukkan kembali kesarungnya.
Ternyata entah kapan dada Suheng Yan-san-pay ini sudah
terkena golok musuh. darah segar tampak menyembur
keluar, dia melototi Thio Yan-coan dengan tubuh
sempoyongan, lalu roboh terkapar."
Bicara sampai disini, pandangan Gi-lim beralih kepada
Te-coat Tojin yang juga berbaring dipapan pintu itu, dan
katanya pula: "Susiok dari Yan-san-pay ini lantas melompat
kedepan Thio Yan-coan, sekali bentak, Susiok ini melolos
pedang dan menyerang dengan gencar. Sudah tentu ilmu
pedang Susiok ini sangat lihay. Tapi Thio Yan-coan masih
tetap berduduk di kursinya dan menangkis dengan
goloknya. Belasan kali Susiok ini menyarang dan belasan
kali ditangkis Thio Yan-coan yang tetap berduduk saja
tanpa berdiri."
Mau-tak mau air muka Thian-bun Tojin tampak guram,
tanyanya kepada Te-coat Tojin: "Sute, apakah betul bangsat
itu begitu lihay?"
Te-coat Tojin meaghela napas panjang, mukanya yang
memang pucat itu kini bertambah putih seperti mayat,
pelahan2 ia melengos ke samping tanpa menjawab.
Tidak menjawab berarti membenarkan secara diam2.
Jelas Te-coat mengakui kelihayan ilmu silat Thio Yan-coan.
Karena itu sorot mata semua orang beralih pula ke arah Gi-
lim dan ingin mendengarkan lanjutan ceritanya.
Gi-lim lantas menyambung: "Waktu itu mendadak Sau-
toako ayun pedangnya dan menusuk Thio Yao-coan. Tapi
Thio Yan-coan sempat putar goloknya untuk menangkis,
dia tergeliat dan akhirnya berbangkit."
"Apakah kau tidak keliru?" tanya Ting-yat. "Masa Te-
coat Totiang menusuknya belasan kali dan dia tetap
berduduk saja, sebaliknya Sau Peng-lam cuma menusuknya
satu kali lantas dapat memaksa dia berdiri?"
"Untuk itu Thio Yan-coan telah memberi penjelasan,"
jawab Gi-lim. "Dia bilang: 'Sau-heng, kau kuanggap sebagai
sahabat, jika kuterima seranganmu dengan tetap berduduk
berarti aku memandang rendah padamu. Meski ilmu silatku
lebih tinggi daripadamu, tapi kuhormati kepribadianmu, tak
peduli kalah atau menang aku harus merangkis seranganmu
dengan berdiri, tidak dapat dipersamakan dengan caraku
menghadapi si hidung kerbau (kata olok2 terhadap Tosu)
ini.'
-Sau-toako mendengus, katanya: 'Tidak perlu kau puji
diriku ' Segera dia menyerang tiga kali ber-turut2. Begitu
hebat serangannya sehingga sekujur badan Thio Yan-coan
se-akan2 terkurung oleh sinar pedangnya. . . ."
"Ehm, itulah hasil karya kebanggaan Sau-loji, yaitu apa
yang disebut 'Tiangkang-sam-tiap-long,
(gelombang Tiangkang bertumpuk tiga), kata Ting-yat
sambil manggut-manggut, "Konon ketiga serangan berantai
ini sangat lihay, serangan kedua lebih kuat daripada
serangan pertama dan serangan ketiga lebih lihay lagi
daripada serangan kedua. Lalu cara bagaimana bangsat she
Thio itu mematahkan serangan tersebut?"
Para hadirin juga tahu jurus serangan berantai
"Tiangkang-sam-tiap-long" dari Lam-han-kiam-hoat yang
lihay itu, merekapun ingin tahu cara bagaimana Thio Yan-
coan mematahkan serangan Sau Peng-lam itu.
Maka terdengar Gi-lim menyambung lagi: "Setiap kali
Thio Yan-coan menangkis satu jurus, setiap kali pula dia
mundur satu langkah sehingga ber-turut2 ia menyurut tiga
langkah ke belakang. Lalu ia berteriak memuji: 'Kiam-hoat
bagus!'
Dia berpaling kepada Te-coat Totiang dan bertanya;
'Hidung kerbau, kenapa kau tidak ikut mengerubut?'
-Kiranya Te-coat Susiok lantas berdiri menonton di
samping ketika Sau-toako mulai menyerang tadi. Dengan
dingin Te-coat Susiok menjawab: 'Aku adalah Cing-jin-
kuncu dari Yan-san-pay, mana sudi bergabung dengan
penjahat cabul macam dia?'
Aku tidak tahan dan ikut berseru: 'Te-coat Susiok, Sau-
suheng adalah orang baik, jangan kau salah sangka,'
-Te-coat Susiok tidak percaya padaku, dia mengejek:
'Orang baik? Hehe, ya, memang, dia orang baik yang
sekomplotan dengan Thio Yan-coan!'
-Baru habis ucapannya, se-konyong2 Te-coat Susiok
menjerit sambil mendekap dadanya sendiri, air mukanya
kelihatan sangat aneh, ya kaget, ya ngeri. Sedangkan Thio
Yan-coan lantas menyimpan kembali goloknya dan berkata:
'Duduk, silakan duduk, marilah minum arak lagi.-
-Dari sela2 jari Te-coat Susiok kulihat merembes keluar
darah segar, rupanya Te-coat Susiok telah terluka, entah
dengan cara bagaimana golok Thio Yan-coan telah berhasil
melukai dada Te-coat Susiok, padahal tidak kulihat orang
she Thio itu menyerang. Aku menjadi takut dan berseru:
'Jangan .... jangan membunuh orang!'
-Thio Yan-coan tertawa dan berkata: 'Jika si cantik
bilang jangan membunuh tentu takkan kubunuh dia '
Sambil mendekap lukanya Te-coat Susiok terus lari
pergi. Sau-toako bermaksud menyusulnya untuk menolong,
tapi Thio Yan-coan berkata pula: 'Sau-heng, silakan duduk
dan minum arak saja. Si hidung kerbau itu teramat angkuh,
matipun dia tidak sudi ditolong olehmu, untik apa kau cari
susah sendiri?'
-Sau-toaKo menggeleng sambil tertawa getir, beruntun ia
minum dua tiga cawan arak. Thio Yan-coan itu berkata
pula: 'Hidung kerbau tadi terhitung tokoh kelas terkemuka
di Yan-can-pay, bacokanku tadi cukup cepat, tapi dia
sempat menyurut mundur dua-tiga inci kebelakang sehingga
bacokanku tidak sampai menewwskan dia Jago di dunia ini
yang mampu lolos dari seranganku ini Te-coat Tojin
terhitung orang pertama, ternyata Kungfu Yan-san-pay
memang boleh juga. Tapi, Sau-heng, karena si hidung
kerbau ini tidak mampus, kelak tentu akan banyak
menimbulkan kesulitan bagimu.'
-Dengan tertawa Sau-toako lantas menjawab: 'Selama
hidupku hampir setiap hari ada kesulitan, peduli amat! Eh,
Thio-heng, caramu bergebrak denganku kiranya kau sengaja
bermurah hati padaku, padahal dengan jurus seranganmu
yang maha lihay ini jelas aku tidak mampu
menghindarnya.' -Dengan tertawa Thio Yan-coan
menjawab: 'Tadi aku memang bermurah hati sedikit, yakni
sebagai balas kebaikanmu yang tidak membunuhku di gua
sana semalam '
-Kuheran mendengar ucapanya itu. Jadi dalam
pertempuran mereka di gua sana semalam telah
dimenangkan oleh Sau-toako, tapi Sau-toako telah
mengampuni jiwa orang she Thio itu"
Mendengar sampai disini. semua orang merasa kurang
puas atas sikap Sau Peng-lam itu, mereka menganggap tidak
seharusnya Sau Peng-lam bermurah hati terhadap bangsat
cabul yang tak terampunkan itu.
Gi-lim menyambung pula: "Sau-toako lantas menjawab:
'Tidak. di gua sana semalam aku sudah bertempur sepenuh
tenaga. tapi kepandaianku jelas dibawahmu, mengapa kau
bilang aku bermurah hati padamu?',
Thio Yan-coan ter-bahak2, katanya; 'S emalam Nikoh
cilik ini bersuara waktu bersembunyi di dalam gua sehingga
dapat kutemukan dia, tapi kau diam saja dengan menahan
napas, sudah tentu sama sekali tak kuduga kau berani
sembunyi disitu. Ketika kupegang Nikoh cilik ini, segera
aku bermaksud mengerjai dia untuk merusak kesuciannya.
Jika kau tunggu lagi sejenak, bilamana aku sedang
terombang-ambing dan lupa daratan, sekali kau tusuk tentu
jiwaku bisa melayang. Kau bukan anak kecil, kukira kau
cukup dapat berpikir. Tapi kutahu kau adalah seorang lelaki
sejati, seorang ksatria yang berjiwa besar, kau tidak sudi
main sergap, sebab itulah pedangmu itu hanya menusuk
pelahan saja di bahuku.
-Sau-toako menjawab: 'M ana boleh kutunggu lagi, jika
kutunggu, bukankah Nikoh cilik ini akan kau nodai?
Biarpun aku akan sial jika ketemu nikoh, tapi apapun juga
Siong-san-pay adalah anggota Ngo-tay-lian-beng, kau bikin
susah anggota Ngo-tay-lian-beng kami. mana boleh
kutinggal diam.'
-Dengan tertawa Thio Yan-coan berkata: 'Biarpun begitu,
namun tusukanmu itu bila didorong lebih keras sedikit,
tentu lenganku akan terkutung mengapa kau cuma
menusuk pelahan, habis itu lantas ditarik kembali?'
-Sau-toiko menjawab:'Sebagai murid Lam-han mana
boleh kuserang secara gelap. Soalnya lebih dulu kau
membacok pundakku, maka kubalas tusuk bahumu, jadi
seri, lalu kita boleh bertanding lagi secara terangan,
siapapun tidak menarik keuntungan dari yang lain.'
-Thio Yan-coan ter-bahak2, katanya: 'Bagus bagus,
kujadikan kau sebagai sahabatku. Marilah kita habiskan
satu cawan!'
Kata Sau-toako: 'Ilmu silatku bukan tandinganmu, tapi
soal minum arak jelas kau bukan tandinganku.'
Agaknya Thio Yan-coan tidak mau kalah, jawabnya:
'Masa takaran minumku tak dapat melebihi kau? Eh, boleh
juga kita berlomba. Marilah, kita masing2 coba habiskan
dulu sepuluh mangkuk.'
-Sau-toako berkerut kening, katanya: 'Thio-heng, tadinya
kukira kaupun seorang jantan yang tidak suka menarik
keuntungan lebih daripada orang lain, makanya aku mau
bertanding minum arak dengan kau Tapi ternyata kau
bukan lelaki sebagaimana kuduga, sungguh aku sangat
kecewa.'
-Thio Yan-coan melirik Sau-toako, ia bertanya: 'Bilakah
kutarik keuntungan darimu?'
Sau-toako menjawab: 'Habis, sudah jelas kau tahu aku
jemu melihat Nikoh, bila melihat Nikoh perutku lantas
mual, cara bagaimana aku dapat minum arak, apalagi
berlomba minum dengan kau?'
-Kembali Thio Yan-coan bergelak tertawa, katanya: 'Sau-
heng, kutahu dengan segala daya-upayamu ingin kau
selamatkan Nikoh cilik ini. Akan tetapi ketahuilah, sudah
menjadi watakku yang gemar main perempuan melebihi
sayang pada nyawanya sendiri, sekali kupenujui Nikoh cilik
ini, apapun juga tak akan kulepaskan dia. Jika kau ingin
kubebaskan dia, maka hanya ada satu syarat.'
-Dengan tegas Sau-toako menjawab: 'Baik, katakan
syaratmu, mendaki gunung bergolok atau terjun kelautan
api, bila Sau Peng-lam berkerut kening jangan kau anggap
sebagai lelaki.'
Dengan tertawa Thio Yan-coan menuang dua mangkok
arak dan berkata: 'Silakan habiskan dulu arak ini dan segera
kukatakan padamu.'
-Sau-toako terus angkat semangkuk arak itu dan berseru:
'Baik, minum!'
Thio Yan-coan juga angkat mangkuk arak yang lain, ber-
sama2 mereka menghabiskan isi mangkuk masing2.
Dengan tertawa Thio Yan-coan lantas berkata: 'Sau-heng,
karena Cayhe sudah menganggap kau sebagai sahabat,
maka segala sesuatu juga harus menurut peraturan Kang-
ouw, yakni: 'isteri sahabat, tidak boleh diganggu. Nah, jika
kau berjanji akan menikahi Nikoh cilik ini. . . ."
Bertutur sampai disini, muka Gi-lim kelihatan merah
jengah, ia menunduk dan suaranya semakin lirih sehingga
hampir tidak terdengar.
Ting-yat menggebrak meja dan berteriak: "Ngaco belo!
Makin omong makin kotor. Lalu bagaimana?"
Dengan suara lirih Gi-lim menyambung lagi: "Thio Yan-
coan itu terus mengoceh tak keruan, katanya: "Seorang
lelaki sejati, sekali bicara tidak nanti dijilat kembali. Bila
kau berjanji akan menikahi dia, segera kubebaskan dia,
bahkan akan kuminta maaf padanya. Selain jalan ini, tidak
nanti kulepaskan dia'
-Sau-toako mendamperatnya: 'Cris, apa kau sengaja
hendak membuat diriku sial selama hidup? Sudahlah, soal
ini jangan kau singgung lagi.'
-Thio Yan-coan lantas membual macam2 lagi, katanya:
'bila rambutku dibiarkan tumbuh panjang kan bukan Nikoh
lagi. Dia mengoceh banyak kata2 gila lagi, aku mendekap
kuping dan tidak sudi mendengarkan.
-Sau toako juga lantas membentak. "Tutup mulut! Jika
kau sembarangan omong lagi, mau-tak-mau aku bertindak
Pokoknya, jika tidak kau lepaskan dia, biarlah kita
bertempur lagi mati2an.'
Thio Yan-coan tertawa, katanya: 'Kau bukan
tandinganku, bertempur hanya akan bikin jiwamu amblas.'
Tapi Sau-toako membantah, katanya: 'Jika bertempur
dengan berdiri aku memang bukan tandinganmu, tapi
bertempur dengan berduduk jelas kau bukan tandinganku.
..."
Dari penuturan Gi-lim tadi semua orang sudah tahu cara
bagaimana Thio Yan-coan berduduk menghadapi serangan
Te-coat Tojin yang lihay. dari sini dapat diketahui betapa
lihaynya dia bertempur sambil berduduk. Tapi sekarang Sau
Peng-lam justeru menyarankan bertempur dengan berduduk
pasti dapat mengalahkan Thio Yan-coan, jelas kata2 ini
hanya ingin memancing kemarahan lawan saja.
Ho Sam-jit manggut2, katanya: "Terhadap bangsat cabul
begitu kalau dapat memancingnya berjingkrak dan murka,
lalu mencari kesempatan untuk turun tangan, jalan ini
memang akal bagus."
"Akan tetapi Thio Yan-coan itu tidak menjadi marah
setelah mendengar ucapan Sau-toako itu," tutur Gi-lim
lebih lanjut. "Dia malah tertawa dan berkata: Sau-heng,
yang kukagumi adalah ketabahan dan jiwa ksatriamu, tapi
bukan ilmu silatmu.'
Kontan Sau-toako menjaWab: 'Dan yang kukagumi
adalah kecepatan golokmu jika bertempur dengan berdiri,
tapi bukan permainan golokmu dengan berduduk.'
"Thio Yan-coan ter-bahak2 pula, kataya, 'Dalam hal ini
ada yang tidak diketahui olehmu Waktu muda pernah
kakiku menderita penyakit dan selama dua tahun terpaksa
aku harus berlatih golok sambil berduduk. Jadi bertempur
dengan berduduk adalah kemahiranku. Tadi aku bergebrak
dengan si Tojin hidung kerbau itu degan berduduk bukan
karena aku menghina dia, soalnya aku memang sudah biasa
bertempur dengan berduduk, jadi malas untuk berdiri.
Untuk ini, jelas kau pun bukan tandinganku.'
-Sau-toako menjawab pula: 'Agaknya Thio-heng juga
tidak tahu akan diriku, bahwa kau berlatih ilmu golok
dengan berduduk selama dua tahun lantaran kau menderita
sakit pada kakimu, tapi tahukah kau bahywa dahulu setiap
hari aku berlatih lmu pedang dengan berduduk?. . . ."
Sampai di sini, pandangan semua orang sama tertuju
kearah Kiau Lo-kiat, semua orang ingin tahu apakah
ucapan Sau Peng-lam itu betul atau tidak? Maklumlah,
selama ini mereka tidak tahu apakah diantara ilmu silat
Lam-han yang terkenal itu terdapat Cara latihan dengan
berduduk seperti apa yang dikatakan Sau Peng-lam?
Terpaksa Kiau Lo-kiat menggeleng dan berkata: Toa-
suheng sengaja menipu dia, didalam perguruan kami sama
sekali tidak terdapat cara berlatih demikian."
"Ya, Thio Yan-coan juga tidak percaya," tukai Gi-lim.
"Dia menegas: 'Apakah betul ucapan Sau-heng ini? Wah,
rasanya aku menjadi ingin belajar kenal dengan ilmu
pedang Lam-han yang bernama ilmu pedang. . . . ilmu
pedang apa, Sau-heng?,
-Sau-toako tertawa, jawabnya: 'Sesungguhnya ilmu
pedungku ini bukan ciptaan guruku melainkan hasil
pemikiranku sendiri.'
Mendengar ini, air muka Thio Yan-coan seketika
berubah, katanya: 'O. kiranya demikian. Wah. bakat Sau-
heng sungguh sangat mengagumkan'. . . ." "
Semua orang maklum apa sebabnya Thio Yan-coan
sangat tertarik oleh keterangan Sau Peng-lam itu. Sebab
bukan sesuatu pekerjaan mudah untuk menciptakan sejurus
ilmu pukulan atau ilmu pedang kalau tidak memiliki
Kungfu maha tinggi dan mempunyai pengetahuan yang
luas serta kecerdasan luar biasa, tidak nanti dapat
menciptakan sesuatu jurus baru atau membuat aliran
tersendiri.
Diam2 Kiau Lo-kiat jadi berpikir: "Wah, kiranya diam2
Toa-suheng telah menciptakan sejurus ilmu pedang baru,
mengapa dia tidak pernah lapor kepada Suhu? Apakah dia
ingin mendirikan perguruan tersendiri dan melepaskan diri
dari Lam-han?"
Didengarnya Gi-lim menyambung pula: "Sau-toako
tertawa dan berkata: 'Ah, ilmu pedang yang berbau busuk
masa kau kagumi?'
Thio Yan-coan sangat heran dan bertanya: 'Bau busuk
apa maksudmu?'
-Akupun sangat heran, paling2 ilmu pedangnya
dikatakan jelek, masa dibilang bau busuk? Tapi Sau-toako
lantas menjelaskan: 'Terus terang kukatakan, setiap pagi
hari, bila aku kebelakang untuk buang air besar, ketika
berjongkok didalam kakus itulah, aku merasa sebal melihat
kawanan lalat terbang kian kemari. Maka pedang kuangkat
dan kugunakan menusuki kawanan lalat. Semula tusukan
pedangku selalu meleset, tapi lama2 menjadi jitu, setiap
pedangku bergerak si lalat lantas jatuh. Lambat-laun dari
gerakan menusuk lalat itu dapatlah kupikirkan sejurus ilmu
pedang. Cuma waktu memainkan pedang itu selamanya
kuberjongkok dalam kakus, sebab itulah kukatakan berbau
busuk.'
-Aku merasa geli oleh ceritanya itu. Sau-toako memang
jenaka, bisa saja dia berlatih pedang cara aneh begitu.
Sebaliknya air muka Thio Yan-coan menjadi kelam setelah
mendengar keterangan Sau-toako itu, katanya: 'Sau-heng,
kuanggap kau sebagai sahabat, tapi uraianmu ini kurasakan
terlalu menghina, memangnya kau anggap Thio Yan-coan
ini sebagai lalat didalam kakus itu? Baik. akan kubelajar
kenal dengan ilmu .... ilmu pedang. . . . !"
Sampai disini, diam2 semua orang mengangguk. Mereka
tahu, pertandingan diantara jago silat kelas tinggi tidaklah
boleh lengah dan gelisah, Cara bicara Sau Peng-lam itu
sengaja hendak memancing kemarahan pihak lawan.
Sekarang Thio Yan-coan benar2 dibikin marah, jadi
langkah pertamanya sudah berhasil.
"Lalu bagaimana?" Ting-yat bertanya.
"Sau-toako tertawa," tutur Gi-lim, "Katanya: 'Caranya
kulatih ilmu pedangku ini hanya karena iseng saja dan tiada
maksud tujuan hendak kugunakan untuk mengadu
kepandaian dengan orang lain, maka janganlah Thio-heng
salah paham, betapapun aku tidak berani mengangap Thio-
heng sebagai lalat didalam kakus.'
-Aku merasa geli mendengar dia menyebut lalat didalam
kakus, tanpa terasa aku tertawa Thio Yan-coan menjadi
gusar, golok diloloskan dan ditaruh di atas meja, katanya;
'Baik. sekarang boleh kita mulai bertarung dengan
berduduk.'
-Diam2 aku merasa kuatir melihat sorot matanya yang
buas itu, jelas orang she Thio itu tidak kenal ampun lagi dan
bermaksud membunuh Sau-toako. Tapi Siu-toako tetap
tenang2 saja. katanya dengan tertawa: "Main senjata
dengan berduduk jelas kau bukan tandinganku. Padahal
kita baru saja bersahabat, kenapa mesti cekcok pula.
Apalagi seorang lelaki sejati tidak nanti kutarik keuntungan
dari sahabat sendiri dengan mengandalkan Kungfu
kemahiran sendiri'
-Tapi Thio Yan-coan menjawab: 'Aku sendiri yang ingin
bertanding dan takkan kutuduh kau menarik keuntungan
atas diriku.'
'O, jadi Thio-heng bertekad harus bertanding?'
'Ya, harus!' jawab Thio Yan-coan.
-'Bertanding sambil berduduk' Sau-toako menegas.
-'Ya, bertanding dengan tetap berduduk.' jawab Thio
Yan-coan.
"Akhirnya Sau-toako berkata: "Baik, jika demikian, kita
harus menetapkan suatu peraturan. Sebelum kalah-menang
diketahui, barang siapa berdiri lebih dulu akan kuanggap
kalah.'
Tanpa pikir Thio Yan-coan menjawab; 'Betul, sebelum
kalah atau menang diketahui, barang siapa berdiri lebih
dulu dianggap kalah.'
"Sau-toako lantas bertanya pula: 'Dan bagaimana bagi
yang kalah?'
'Terserah padamu.' jawab Thio Yan-coan. Sau-toako
termenung, katanya: 'Baiklah, bagi yang kalah, pertama,
kelak bila melihat Nikoh cilik ini tidak boleh lagi berkata
kasar dan bersikap kurang sopan padanya, tapi harus
memberi hormat dan menyapa: 'Siau-suhu, Tecu Thio Yan-
coan menyampaikan salam hormat.'
"Thio Yan-coan mengomel: 'Huh, darimana kau tahu
aku yang bakal kalah? Jika kau yang kalah. lalu
bagaimana?-
Sau-toako menjawab: 'Aku-pun begitu. Pokoknya. siapa
yang kalah harus menjadi cucu murid Tingyat Losuthay
atau menjadi murid Nikoh kecil ini.'
Suhu, coba bayangkan. jenaka bukan Sau-toako itu?
Masa mereka bertanding sendiri, yang kalah harus menjadi
murid Siong-san-pay dan mana boleh kuterima mereka
sebagai murid."
-ooo0dw0ooo-

Jilid 15
Bicara sampai disini, tersembul senyumannya yang
hambar, Sejak tadi dia merasa sedih dan menangis, Kini
terunjuk senyumannya sehingga menambah kecantikannya.
"Lelaki bangor begitu, segala kata apapun dapat
diucapkan mereka, masa kau sangka sungguh2," ujar Ting-
yat, "Kukira tujuan Sau Peng-lam itu hanya ingin
memancing marah Thio Yan-coan Lalu cara bagaimana
orang she Thio itu menjawabnya?"
"Thio Yan-coan menjadi ragu2 meiihat sikap Sau-toako
yakin pasti menang itu," tutur Gi-lim. "Maka Sau-toako
memancing lagi: 'Bagaimana,jika kau merasa pasti kalah
dan tidak ingin menjadi murid Siong-san-pay, maka
bolehlah kita batalkan pertandingan ini.'
-Dengan gusar Thio Yan-coan menjawab: 'Omong
kosong! Baik. jadi, barang siapa kalah dia harus
mengangkat Nikoh cilik ini sebagai guru!'
Cepat aku berseru: "He, tidak boleh jadi! Aku tidak mau
menerima kalian sebagai murid. Kungfuku rendah, lagi pula
guruku juga tidak mengizinkan. Setiap orang Siong-san-pay
kami adalah Nikoh, mana boleh ....'
-Tapi Sau-toako lantas memotong ucapanku, katanya:
'Itulah keputusan hasil kompromi kami, mau atau tidak
harus kau terima dan jangan banyak omong, lalu dia
berpaling dan berkata pula kepada Thio Yan-coan: 'Dan
kedua, barang siapa kalah, dia harus angkat golok dan
sekaii potong, jadilah dia sebagai Thaykam.'
Suhu, entah apa artinya sekali potong dengan golok
lantas menjadi Thaykam?"
Pertanyaan ini membikin semua orang sama tertawa,
mereka anggap Nikoh cilik ini benar2 hijau pelonco dan
tidak tahu seluk beluk orang hidup. Thaykam adalah orang
kasim, orang kebiri, dayang keraton. Arti sekali potong
dengan golok lantas menjadi Thaykam ialah yang kalah
harus mengebiri dirinva sendiri.
Ting-yat juga merasa geli meiihat kepolosan anak
muridnya itu, tapi dia hanya tersenyum saja dan menjawab:
"Ah, itupun kata2 kasar kaum bergajul. JiKa tidak tahu,
tidak perlu kau tanyakan."
"O, kiranya bukan kata2 baik," ucap Gi-lim. "Sehabis
mendengar ucapan Sau-toako itu, Thio Yan-coan lantas
melototi Sau-toako dan bertanya: 'Memangnya kau yakin
pasti akan menang?'
Sau-toako menjawab: "Ya, pasti! Bila bertempur dengan
berdiri, di dunia ini nomor urutanku adalah ke-39. tapi
kalau bertempur dengan berduduk, nomor urutanku ialah
ke 2!'
-Tampaknya Thio Yan-coan sangat heran oleh
keterangan Sau-toako ini, ia tanya: 'O, kau cuma nomor 2
lantas siapa yang nomor satu,"
Sau-toako menjawab: 'Yang nomor satu ialah Mo-kau-
kaucu (ketua agama) Tonghong Put-pay!'. .."
Air muka semua orang sama berubah demi mendengar
Gi-lim menyebut "Mo-kau-kaucu Tong-hong Put-pay".
Agaknya Gi-lim juga merasakan suasana diruangan
besar ini mendadak berubah aneh, ia menjadi heran dan
juga takut, ia menyangka ucapannya tadi ada yang keliru,
maka cepat ia tanya: "Suhu, apakah ucapanku tadi ada yang
tidak benar?"
"Jangan kau sebut lagi nama orang ini," kata Ting-yat,
"Kemudian bagaimana jawaban Thio Yan-coan.
Dia lantas mengangguk dan berkata: "Baik, jika kau
bilang jago nomor satu ialah Tonghong-kaocu, akupun
setuju. Cuma kau mengaku nomor dua, kukira agak tertalu
besar bualanmu. Memangnya kau dapat melebihi ayahmu.
Sau-siansing"
Sau-toako menjawab: 'Yang kumaksudkan kan
bertanding sambil berduduk? Jika bertempur dengan berdiri,
ayahku memang menduduki urutan keenam. Aku sendiri
ke-39. jelas selisih sangat jauh dengan beliau.'
-Thio Yan-coan mengangguk, katanya: 'O , kiranya
demikian. Lantas aku nomor berupa jika bertempur dengan
berdiri? Siapa pula yang memberikan nomor urutan itu?'
Sau-toako menjawab sambil Setengah berbisik, katanya:
'Wah, inilah rahasia besar. Karena persahabatan kita,
biarlah kukatakan terus terang, tapi jangan kau katakan
pula kepada orang lain, kalau tidak, bisa jadi dunia
persilatan akan terjadi pergolakan hebat.... Tiga bulan yang
lalu, kelima Ciangbunjin Ngo-tay-lian beng kami
berkumpul di Soh-hok-han dan membicarakan tokoh Bu-
lim masa kini. Saking gembiranya dalam ber-bincang2 itu,
kelima Ciangbunjin lantas memberikan daftar urutan para
tokoh dunia sekarang. Terus terang, Thio-heng, kelima guru
kami itu sangat benci kepada kepribadianmu, kau dicaci-
maki habis2an dan tidak laku satu peserpun. Tapi bicara
mengenai ilmu silatmu, mengenai Kungfumu, semuanya
merasa kepandaianmu masih boleh juga. Kalau bertempur
dengan berdiri menurut urutan di dunia persilatan sekarang
ini kau terhitung jago nomor 13."
Serentak Thian-bun Tojin dan Ting-yat Suthay berkata:
"Si Sau Peng-lam itu sermbarangan mengoceh, mana
pernah terjadi pertandingan begitu?"
"O, kiranya Sau-toako cuma membohongi dia," kata Gi-
lim "Thio Yan-coan itu tampaknya juga setengah percaya
setengah tidak. Dia berkata: 'Para ketua Ngo tay-lian-beng
adalah pimpinan dunia persilatan masa kini, bisa
mendapatkan pujian mereka sungguh akupun merasa
bangga. Bahwa, diriku diberi nomor urutan ke-13, haha,
aku harus berterima kasih. Eh, Sau-heng, apakah di depan
kelima Ciangbunjin itu kaupun mempertunjukkan kau
punya ilmu pedang kakus yang berbau busuk itu? Kalau
tidak, mengapa mereka memberi kau kau nomor dua?'
-Sau-toako tertawa dan menjawab; 'Tentang ilmu pedang
kakus ini memang kurang sopan jika kumainkan di depan
umum, apalagi harus kuperlihatkan di depan kelima
Ciangbunjin. Gaya ilmu pedang berbau busuk ini tidak
pantas dilihat, namun sangat lihay. Pernah kubicara dengan
tokoh terkemuka dari Ma-kau dan mereka pun mengakui di
dunia ini selain Tonghong-kaucu sendiri tiada orang lain
lagi yang mampu menandingi diriku. Hanya saja, Thio-
heng, persoalannya harus dipikirkan kembali, meski ilmu
pedangku ini sangat hebat, kecuali kugunakan menusuk
lalat waktu berak, sesungguhnya sukar dipraktekkan. Habis,
coba kau bayangkan, bilamana benar2 bertempur, siapakah
yang mau bertanding denganku sambil berduduk?
Seumpama kita sudah berjanji akan bertandig dengan
berduduk, bilamana nanti kau kalah, bisa jadi dari malu kau
menjadi gusar, lalu mendadak berdiri. Padahal kau jago
nomor 13 jika bertempur dengan berdiri maka dengan
mudah dapat kau bunuh diriku yang jago nomor dua jika
bertempur sambil berduduk. Maka dari itu, kau ini jago
nomor 13 tulen, sebaliknya aku ini jago nomor dua cuma
nama kosong belaka.'
-Thio Yan-coan mendengus, katanya: 'Hm, Sau-heng,
mulutmu ini memang pintar bicara Dari mana pula kau
tahu bahwa bertempur dengan berduduk aku pasti kalah,
darimana pula kau tahu dari malu aku akan menjadi gusar,
lalu berdiri dan membunuhmu?'
Sau-toako menjawab: 'Asakan kau berjanji setelah kalah
kau takkan membunuhku, maka syarat kedua tentang
menjadi Thaykam boleh kita batalkan, supaya kau tidak
sampai putus turunan dan berdosa kepada leluhurmu. Nah,
tidak perlu banyak bicara lagi, marilah kita mulai
bergebrak!'
-Habis berkata, kontan Sau-toako menjungkir-balikkan
meja sehingga mangkuk piring berantakan. Kedua orang
lantas duduk berhadapan, yang satu memegang golok dan
yang lain memegang pedang. -'Hayolah mulai! Siapa yang
berdiri lebih dulu, siapa yang mengangkat pantat lebih dulu
meningggalkan kursinya, dia dianggap kalah?' seru Sau-
toako. 'Baik, ingin kulihat siapa yang akan berdiri lebih
dulu!'jawab Thio Yan-coan."
Gi-lim berbenti sejenak, lalu menyambung pula: "Baru
saja mereka mau bergebrak, tiba2 Thio Yan-coan melirik
sekejap ke arahku dan mendadak tertawa ter-bahak2,
katanya: 'Sau heng, sudahlah, aku menyerah saja. Rupanya
diam2 kau menyembunyikan teman dan sengaja hendak
membikin susah padaku, bila kita sudah ,ulai bertanding,
temanmu terus mengganggu, atau nikoh cilik ini meng-kili2
dibelakangku kan mungkin aku akan terpaksa berbangkit.'
-Sau-toako tertawa, katanya: 'Tidak, kujamin tak ada
orang ketiga yang ikut campur pertandingan kita ini, Nikoh
cilik, apakah kau menghendaki aku kalah bertanding?'
-Aku menjawab: 'Sudah tentu kuharapkan kau menang,
kau jago nomor dua jika bertempur dengan berduduk,
manabisa kalah.'
Sau-toako mengangguk, katanya: 'Bagus, jika begitu
silakan kau pergi saja, makin cepat makin baik, makin jauh
makin baik! Sialan, jika ditunggui seorang pere mpuan
gundul begini, tanpa bertempur saja aku sudah kalah.'
-Tanpa menunggu tanggapan Thio Yan-coan kontan
pedang Sau-toako lantas menusuknya. Thio Yan-coan
menangkis dan balas menyerang sambil berkata: 'Hebat,
sungguh akal bagus caramu menolong si Nikoh cilik ini.
Sau-heng, kau benar2 seorang pencinta yang baik hati.
Cuma pertaruhanmu ini terlalu besar dan juga terlalu
berbahaya bagimu.'
-Waktu itu barulah aku paham, kiranya maksud Sau-
toako bertanding dengan berduduk dan barang siapa
bangkit lebih dulu dianggap kalah, tujuannya adalah untuk
menyelamatkan diriku agar aku sempat melarikan diri.
Agar tidak dianggap kalah Thio Yan-coan tidak dapat
meninggalkan kursinya dengan sendirinya dia tak sempat
menawan diriku."
Mendengar sampai disini, diam2 semua orang merasa
gegetun atas usaha Sau Peng-lam dengan susah payah itu.
Ilmu silatnya tak dapat mengungguli Thio Yan-coan, selain
mengalahkan dia dengan akal memang tiada jalan lain
untuk menolong Gi-lim.
"Tentang pencinta segala, semua itu kata2 kasar.
selanjutnya jangan kau sebut dan jangan kau pikir," kata
Ting-yat.
Gi-lim menunduk, jawabnya: "O, kiranya kata2 itupun
tidak baik. Tahulah Tecu sekarang."
"Kesempatan baik itu mestinya kau gunakan untuk
angkat kaki bukan? Jika Thio Yan-coan berhasil membunuh
Sau Peng-lam, tentu kau tak dapat kabur," kata Ting-yat
pula.
"Ya, Sau-toako juga terus mendesak, terpaksa aku
memberi hormat kepadanya dan berkata: "Terima kasih
atas pertolongan Sau-suheng. Habis itu aku lantas
meninggalkan tempat itu. Tapi baru sampai diujung tangga.
mendadak kudengar Thio Yan-coan membentak: 'Kena!'
Waktu aku menoleh. dua titik darah muncrat pada
mukaku. Kiranya pundak Sau-toako telah terkena golok.
Terlihat Thio Yan-coan lagi tertawa dan berkata:
'Bagaimana ilmu pedang jago nomor dua di dunia ini,
kukira juga cuma begini saja!'
Sao-toako menjawab: 'Sebelum Nikoh itu pergi, mana
bisa kukalahkan kau? Ai, agaknya memang sudah
ditakdirkan aku mesti mengalami petaka ini.'
-Kupikir Sau-toako jemu kepada Nikoh, jika kutinggal
lagi disitu mungkin akan membikin celaka jiwanya.
Terpaksa kuturun dari loteng restoran itu. Setiba dibawah,
kudengar dering nyaring beradunya senjata, kembali
terdengar Thio Yan-coan membentak: 'Kena!'
Tentu saja aku terkejut dan berkuatir, kuyakin Sau-toako
pasti terluka pula. Tapi aku tidak berani naik lagi keloteng,
terpaksa aku berputar kebelakang dan melompat keatas
wuwungan restoran itu, dari situ aku mengintip ke bawah
melalui jendela. Kulihat Sau-toako masih terus bertempur
dengan sengit meski tubuhnya sudah berlepotan darah
segar, sebaliknya Thio Yan-coan sama sekali tidak terluka.
Tidak lama kemudian, kembali Thio Yan-coan membentak
dan lengan kiri Sau-toako terbacok lagi satu kali. Ia lantas
menarik goloknya, katanya dengan tertawa: 'Sau-heng,
seranganku ini sengaja kuberi kelonggaran!'
-Sau-toako menjawab dengan tertawa: 'Dengan
sendirinya kutahu. Jika bacokanmu agak keras, tentu
lenganku ini sudah buntung!'
Coba, Suhu, dalam keadaan begitu Sau-suheng masih
dapat tertawa. Maka Thio Yan-coan berkata pula: 'Dan
pertarungan ini dilanjutkan tidak?'
Dengan tegas Sau-toako menjawab: 'Sudah tentu
diteruskan, kalah atau menang kan belum jelas, siapapun
belum ada yang berdiri.'
-Thio Yan-coan itu membujuk: 'Kukira lebih baik kau
mengaku kalah saja dan berdirilah. Biarlah kita batalkan
segala perjanjian tadi dan kau tidak perlu mengangkat guru
kepada Nikoh cilik itu'
Namun Sau-toako tidak mau terima. jawabnya: 'Tidak
bisa. Seorang lelaki sejati, sekali sudah bicara tidak nanti
dijilat kembali.'
-Thio Yan-coan berkata: 'Sudah banyak lelaki kepala
batu di dunia ini, tapi orang seperti Sau-heng baru sekarang
untuk pertama kalinya kulihat. Baik, anggaplah kita seri,
tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah.
Bagaimana? kalau kita sudahi pertandingan ini?'
-Sau-toako tertawa dan memandangi dia tanpa bersuara.
Darah segar bercucuran dari luka yang memenuhi
tubuhnya. Mendadak Thio Yan-coan membuang goloknya.
baru saja dia mau berbangkit, sekonyong2 teringat olehnya
bila berdiri akan berarti kalah. makanya tubuhnya cuma
bergeliat sedikit, Lalu berduduk kembali sehingga belum
sampai berbangkit dari kursinya. Dengan tertawa Sau-toako
berkata: 'Thio-heng, kau sungguh sangat cerdik!. . . ."
Mendengar sampai disini, tanpa terasa semua orang
sama menghela napas menyesal, semuanya merasa sayang
bagi usaha Sau Peng-lam.
Gi-lim lantas menyambung pula: "Thio Yan-coan
menjemput kembali goloknya dan berkata: 'Awas, Sau-
heng, akan kumainkan golok kilat. Bila terlambat sebentar
lagi mungkin Nikoh cilik itu akan kabur dan sukar disusul.'
Aku menjadi gemetar mendengar dia akan mengejar
diriku. Akupun kuatir Sau-toako akan dicelakai olehnya,
aku menjadi bingung. Tiba2 teringat olehku sebabnya Sau-
toako bertempur mati2an dengan orang jahat itu adalah
demi menolong diriku. Jika sekarang kubunuh diri didepan
mereka, maka urusan akan menjadi beres dan Sau-toako
tidak akan ikut menjadi korban.
-Segera aku melolos pedangku yang patah itu, selagi aku
hendak melompat masuk kesana, mendadak kulihat Sau-
toako tergeliat, orangnya berikut kursinya jatuh terguling,
kulihat tangan Sau-toako menahan lantai dan berusaha
merangkak bangun dengan kursi yang masih menindih
tubuhnya. Tapi lantaran lukanya cukup parah, seketika dia
tak dapat berbangkit.
-Thio Yan-coan sangat senang, katanya dengan tertawa:
'Bagaimana. jago nomor dua bertempur sambil berduduk,
lalu jago nomor berapa jika merangkak?'
Sambil bicara dan bergelak tertawa terus berdiri.
-Mendadak Sau-toako ter-bahak2, katanya: 'Aha, kau
'kalah!'
Thio Yan-coan tertawa dan menjaWab: 'Kau sendiri
sudah kalah sedemikian rupa, masa kau bilang aku yang
kalah?'
Sambil mendekam di lantai Sau-toako bertanya: 'Coba
jawab, bagaimana menurut perjanjian kita?'
-Thio Yan-coan menjawab: 'Kita sudah berjanji akan
bertempur dengan berduduk, barang siapa berdiri lebih
dulu, bila pantat meninggalkan kursinya lantas dianggap ....
dianggap. . . . dianggap . . 'sampai beberapa kali dia
menyebut dianggap dan tak dapat menyambung. Baru
sekarang dia menyadari telah terjebak. Dia sendiri sudah
berdiri, sebaliknya Sau-toako sejak tadi belum pernah
berdiri, bahkan kursi juga masih menempel ditubuhnya,
meski keadaannya rada runyam, tapi menurut perjanjian
jelas Sau-toako yang menang."
Serentak semua orang bersorak dan tertawa gembira.
Hanya Ciamtay Cu-ih saja yang mendengus, katanya: "Hm,
bocah bergajul itu sengaja main akal bulus dengan bangsat
cabul semacam Thio Yan-coan itu, apakah tidak membikin
malu kaum Beng-bun-cing-pay kita?"
"Akal bulus apa katamu?" damperat Ting-yat dengan
gusar. "Seorang lelaki sejati boleh adu akal dan tidak perlu
adu kekuatan. Memangnya Hong hoa-wan kalian ada
ksatria muda yang berbudi luhur begitu?"
Rupanya ia sangat berterima kasih kepada Sau Peng-lam
setelah mengikuti cerita Gi-lim tadi, tanpa menghiraukan
keselamatan sendiri Peng-lam telah menjaga nama baik
Siong-san-pay serta menyelamatkan kesucian Gi-lim. Maka
rasa marahnya semula kepada Sau Peng-lam kini sudah
melayang ke-awang2.
Ciamtay Cu-ih menjengek pula: "Hm, ksatria muda ahli
merangkak yang hebat!"
Dengan murka Ting-yat menjawab: "Apakah Hong-hoa-
wan kalian. . . ."
Belum lanjut ucapannya, cepat Wi Kay-hou menyela,
katanya kepada Gi-lim: "Lalu bagaimana Siausuhu, Thio
Yan-coan mengaku kalah atau tidak?"
Gi-lim menutur pula: "Thio Yan-coan berdiri dengan
melenggong, seketika ia merasa bingung dan dia tidak tahu
apa yang harus dikatakannya. Sau-toako lantas berseru:
'Siau-sumoay dari Siong-san-pay, turunlah kemari,
bahagialah kau mendapatkan murid baru!'
Kiranya dia sudah tahu sejak tadi persembunyianku di
atas rumah. Meski orang she Thio itu terkenal jahat, tapi
apa yang pernah dikatakannya tidak diingkarinya, waktu itu
dengan mudah mestinya dia dapat membunuh Sau-toako,
habis itu baru membekuk lagi diriku. Tapi semua ini tidak
dilakukannya, dia malah berseru padaku: 'Dengarkan, nona
cilik, lain kali bila kau berani bertemu lagi denganku. sekali
tabas segcea akan kubinasakan kau.'
-Memangnya aku tidak sudi menerima orang jahat begitu
sebagai murid, ucapannya itu sudah tentu kebetulan bagiku.
Habis bicara Thio Yan-coan lantas menyimpan goloknya
terus melangkah pergi. Baru sekarang aku berani melompat
turun, kubangunkan Sau-toako dan membububi lukanya
dengan obat, kuhitung luka diseluruh tubuhnya berjumlah
18 tempat."
Mendadak Ciamtay Cu-ih menyeletuk; "Selamat, Ting-
yat Suthay, selamat!"
"Selamat apa?" tanya Ting-yat dengan heran.
"Selamat padamu karena kau baru saja menerima
seorang cucu murid yang termashur," kata Ciamtay Cu-ih.
Keruan Ting-yat menjadi murka, ia menggebrak meja
dan hendak melabrak orang.
Tapi Thian-bun Tojin keburu mencegah. katanya:
"Ciamtay-sicu, kukira tidak boleh kau omong begitu.
Antara Su-ki dan Sam-yu kita mana boleh berkelekar iseng
begini?"
Karena merasa bersalah, pula merasa segan terhadap
Thian-bun Tojin, maka Ciamtay Cu-ih melengos kesana
dan pura2 tidak dengar.
Gi-lim lantas menyambung lagi ceritanya: "Sehabis
kububuhi obat pada luka Sau-toako, tiba2 tangga loteng
berbunyi, naiklah dua orang yang kukenal sebagai murid
Hong-hoa-wan, satu diantaranya ialah si jahat Lo Ci-kiat
ini. Dia memandang padaku, lalu memandang pula Sau
toako, akhirnya aku lagi yang ditatapnya dengan sikap yang
kurang sopan. Sau-toako melototi orang she Lo itu,
mendadak ia tanya padaku: 'Sumoay, apakah kau tahu
Kungfu apa yang menjadi andalan Hong hoa-wan?'
-Aku menjawab tidak tahu, sebab Kungfu Hong-hoa-wan
kabarnya sangat banyak. Sau-toako berkata pula: "Kungfu
andalan Hong-hoa-wan memang sangat banyak, tapi satu
diantaranya yang paling terkenal ialah .... Hehe, agar tidak
menyakitkan hati, biarlah tidak kukatakan.'
-Habis berkata ia melirik sekejap kearah Lo Ci kiat.
Karena itulah Lo Ci-kiat lantas mendekati Sau-toako dan
membentak: 'Kungfu apa? Coba sebutkan!'
Dengan tertawa Sau-toako berkata: 'Sebenarnya tidak
ingin kukatakan, apakah kau sengaja memaksa kukatakan?
Baiklah, Kungfu itu adalah jurus yang disebut belibis
hinggap ditanah pasir dengan pantat lebih dulu!'
"Lo Ci-kiat menggebrak meja dan membentak: 'Omong
kosong! Tidak ada jurus belibis jatuh dengan pantat lebih
dulu segala! Ngaco belo!'
Sau-toako tertawa dan menjawab: 'Itulah jurus andalan
Tang-wan kalian. masa tidak pernah kau-dengar. Apa kau
ingin tahu? Coba kau membalik tubuhmu, biar
kupertunjukkan jurus tersebut!'
-Rupanya Lo Ci-kiat tahu Sau-toako sengaja hendak
menyindirnya, segera ia menjotos. Mestinya Sau-toako
hendak mengelak, tapi dia sudah terlalu banyak kehilangan
darah, tenaganya sangat lemah, baru bergerak segera dia
jatuh terduduk lagi, Jotosan lawan dengan tepat mengenai
hidungnya sehingga mencucurkan darah pula. . . Segera Lo
Ci-kiat hendak menghantam lagi, tapi dapat kutangkis,
kataku: 'Jangan kau serang orang yang terluka parah,
memangnya terhitung orang gagah macam apa tindakanmu
ini?'
Lo Ci-kiat lantas memaki: Nikoh cilik, rupanya kau
terpikat oleh bangsat cilik yang ganteng ini ya? Hayo,
menyingkir, kalau tidak, nanti kaupun kuhajar!'
-Aku menjawab: 'Kutahu kau ini murid Tang-wan, kau
berani menghina diriku, pasti akan kulaporkan kepada
gurumu Hong-hoa-wancu.'
-Dia menjawab dengan cengar-cengir: 'Huh; kau sendiri
tidak patuh pada peraturan suci, setiap orang dapat
menghajar kau!'
Berbareng sebelah tangannya terus meraih diriku, cepat
kutangkis, tak terduga dia cuma memancing saja, tangan
yang lain mendadak mencolek pipiku sambil bergelak
tertawa. Gusar dan dongkol aku, beruntun kuserang tiga
kali dan semuanya dapat dihindarkan olehnya.
-Tiba-tiba Sau-toako berkata padaku: 'Sumoay, tidak
perlu kau gubris dia, biar kuatur tenagaku sebentar lagi dan
segalanya akan beres.'
Kulihat air muka Sau-toako pucat lesi. Pada saat itulah
Lo Cia-kiat berlari maju hendak memukulnya lagi. Tapi
mendadak sebelah kaki Sau-toako mendepak dan tepat
mengenai bokongnya. Karena depakan yang cepat lagi jitu
itu. Lo Ci-kiat tidak dapat berdiri tegak lagi, ia jatuh
terguling ke bawah loteng.
-Dengan suara pelahan Sau-toako berkata padaku:
Sumoay, inilah jurus paling diandalkan Hong-hoa-wan
mereka, namanya belibis hinggap di padang pasir dan jatuh
dengan pantat lebih dulu. Coba lihat, cara jatuhnya tadi
mirip nama jurus itu bukan?
-Aku hendak tertawa. tapi melihat wajahnya kian lama
kian pucat, aku menjadi kuatir, kataku: 'Hendaklah kau
istirahat sebentar dan jangan bicara.'
Kulibat lukanya mengalirkan darah lagi, jelas
depakannya tadi terlalu kuat menggunakan tenaga sehingga
lukanya pecah lagi.
-Dalam pada itu Lo Ci-kiat yang terguling kebawah
loteng itu telah berlari ke atas loteng lagi, kini dia sudah
membawa sebilah golok melengkung ia membentak: 'Kau
ini Sau Peng-lam dari Lam-han bukan?'
Sau-toako menjawab dengan tertawa: 'Murid Tang-wan
yang pamer jurus jatuh dengan bokong lebih dulu, termasuk
anda sudah berjumlah tiga orang. Pantas .... pantas . . . .'
-Sambil bicara ia terus ter-batuk2. Kukuatir Lo Ci-kiat
mencelakai dia, maka akupun melolos pedang dan berjaga
disamping. Lo Ci-kiat lantas bicara kepada temannya: 'Le-
sute, kau layani Nikoh cilik ini.'
Temannya mengiakan, dengan golok melengkung segera
dia membacok diriku. Terpaksa kutangkis dengan pedang,
Disebelah sana Lo Ci-kiat juga melancarkan serangan
gencar terhadap Sau-toako. Sekuatnya Sau-toako
menangkis, keadaannya cukup gawat. Bseerapa jurus lagi,
pedang Sau-toako terbentur jatuh. Segera golok Lo Ci-kiat
mengancam di dada Sau-toako dan mengejek dengan
tertawa: 'Asalkan kau panggil kakek tiga kali padaku, segera
kuampuni jiwamu.'
-Sau-toako tertawa, jawabnya: 'Baik, akan kupanggil,
sesudah itu, kau harus mengajarkan jurus. . . .jurus belibis
jatuh dengan pantat lebih dulu padaku. . . .' Belum habis
ucapannya, si jahat Lo Ci-kiat ini terus mendorong
goloknya dan menancap di dada Sau-toako, hati orang jahat
ini sungguh amat keji dan kejam. . . ."
Bercerita sampai disini, air mata Gi-lim lantas berderai
membasahi kedua pipinya. Dengan tersendat ia
menyambung pula: "Mel. . . melihat keadaan Sau-toako itu.
segera kuterjang kesana hendak mencegahnya, namun
golok melengkung Lo Ci-kiat itu sudah menikam dada Sau-
toako . . ."
Seketika semua orang sama bungkam. suasana menjadi
hening.
Ciamtay Cu-ih merasa sorot mata orang banyak tertuju
kearahnya dengan penuh rasa benci dan gusar serta
menghina. Dia ingin bicara sesuatu, tapi tidak tahu apa
yang yang harus dikatakan.
Selang sejenak barulah dia berucap: "Ceritamu ini kukira
tidak seluruhnya benar dan tidak sejujurnya. Kau bilang Lo
Ci-kiat telah membunuh Sau Peng-lam, tapi mengapa Ci-
kiat meninggal pula di tangan bocah she Sau itu?"
"Setelah tertikam goloknya, Sau-toako tertawa." tutur Gi-
lim pula. "Dia lantas membisiki aku;
'Siausumoay, ada .... ada suatu rahasia besar akan
kuceritakan padamu. Kau tahu jurus pedang nomor satu
didunia, yaitu Siang-liu-kiam-hoat, kitab .... kitab pusaka
ilmu pedang itu ber.... berada di . . . . makin lirih suaranya
sehingga akupun tidak mendengar, hanya kelihatan
bibirnya saja ber-gerak2 dan entah apa yang dikatakan. . . ."
Tujuan Ciamtay Cu-ih mengirim keempat muridnya,
yaitu "Eng Hiong Ho Kiat", kedaerah Tionggoan,
maksudnya ingin mencari tahu sumber berita mengenai
Siang-liu-kiam-hoat ilmu pedang nomor satu di dunia itu.
Jika di Tionggoan betul muncul ilmu pedang tersebut, maka
mereka diwajibkan segera memberi laporan.
Sekarang ia sendiri mendengar Gi-lim menyinggung
Siang-liu-kiam-hoat, tentu saja ia terkesiap, seketika ia
menjadi tegang, tanyanya: "Di .. .dimana. . . ."
Maklum, sejak tersiarnya berita tentang Siang-liu-kiam-
hoat nomor satu di dunia, sejak itu hampir setiap orang
persilatan sama menaruh perhatian terhadap jejak kitab
pusaka ilmu pedang itu, siapapun ingin menemukan kitab
itu dan menjadi jago pedang nomor satu di dunia.
Hanya saja selama berpuluh tahun cuma berita itu saja
yang tersiar, tapi belum pernah terbukti Siang-liu-kiam-hoat
muncul di dunia persilatan, maka lama2 orangpun sama
melupakannya dan menganggapnya sebagai isyu belaka.
Tapi Ciamtay Cu-ih tahu Siang-liu-kiam-hoat itu benar2
ilmu pedang keluarga Sau dari Pak-cay dan bukan omong
kosong belaka. Selama 27 tahun ini tidak pernah dia
melupakan jejak Siang-liu-kiam- boh meski dia jauh berada
dilautan timur sana, Sekarang mendadak terdengar
beritanya, maka iapun ingin tahu dan bertanya dimana
beradanya kitab pusaka itu. Tapi segera teringat olehnya
bilamana terang2an ia ikut bertanya tentang kitab pusaka
itu, hal ini sama artinya dirinya juga mengincar kitab
pusaka yang dianggap cuma isyu oleh orang lain itu.
Sebab itulah dia tidak lantas bertanya lebih lanjut, diam2
ia hanya berharap Gi-lim yang masih hijau itu akan
bercerita terus terang rahasia apa yang didengarnya. asalkan
dirinya mengetahui jejak kitab pusaka itu. maka tidak sulit
baginya untuk memastikan pemilik kitab itu masih hidup
atau sudah mati.
Jadi yang diperhatikan olehnya sesungguhnya bukan
dimana beradanya Siang-liu-kiam-hoat melainkan mati-
hidupnya Sau Ceng-in dari Pak-cay.
Semua orang tidak memperhatikan gerak-gerik Ciamtay
Cu-ih, merekapun tidak peduli cerita Gi-lim tentang Siang-
liu-kiam-boh segala, sebab mereka menganggap hal itu
cuma isyu, cuma desas-desus cuma omong-kosong belaka,
di dunia ini hakikatnya tidak ada Siang-liu-kiam-hoat,
Mereka cuma menduga sebabnya Sau Peng-lam menyebut
Siang-liu-kiam-boh sebelum ajalnya itu pasti mempunyai
maksud tujuan tertentu.
Betul juga, segera terdengar Gi-lim bercerita pula:
"Ketika mendengar Sau-toako bicara tentang ilmu pedang
nomor satu di dunia, Lo Ci-kiat jadi ketarik dan ingin tahu.
ia mendekati Sau-toako dan berjongkok, ia ingin
mendengarkan kitab pusaka itu berada dimana. Diluar
dugaan mendadak Sau-toako menyambar pedangnya yang
terjatuh dilantai itu, terus dicobloskan ke perut Lo Ci kiat. .
. .Kontan orang jahat she Lo itu terjungkal, kaki dan
tangannva berkelejotan, dan tidak dapat bangun lagi.
Kiranya Sau-toako dapat menyelami ketamakan orang yang
mengincar Siang-liu-kiam-boh, maka ia sengaja memancing
si jahat she Lo itu kedekatnya, lalu membunuhnya untuk
melampiaskan sakit hatinya. . . ."
Habis bercerita, Gi-lim menjadi lemas lunglai, ia
bergeliat dan jatuh pingsan. Cepat Ting-yat menahan
pinggang Gi-lim dan memandang Ciamtay Cu-ih dengan
menndelik.
Semua orang sama terdiam, semuanya sama
membayangkan betapa mendebarkan pertarungan yang
terjadi di Cui-sian-lau itu.
Dalam pandangan Thian-bun Tojin, Bun-sian-sing, Ho
Sam-jit dan lokoh2 kelas tinggi, sudah tentu ilmu silat Sau
Peng-lam, Lo Ci-kiat dan lain2 mungkin tiada sasuatu yang
istimewa, tapi apa yang terjadi dalam pertarungan sengit itu
sangat ngeri dan jarang terjadi didunia Kangouw. Apalagi
kejadian itu dk's ahkan o!eh seorang N'koh jilita se-bagai Gi
litr, je'as nada seiuatu yang sengajn di-besar2kan atau di-
bumbu2i.
Thian-bun Tojin lantas tanya Te-coat Tojin; "Sute,
setelah terluka, lalu kau kemana?"
"Maksudku hendak lari ke bawah loteng untuk mencari
bala bantuan guna menumpas bangsat cabul itu," tutur Te-
coat, "Tapi lantaran lukaku terlalu parah. setiba dibawah
aku lantas jatuh tersungkur dan tidak dapat bergerak lagi."
"Jika demikian, jadi kau pun menyaksikan sendiri apa
yang terjadi itu?" tanya Thian-bun.
"Ya, Sau Peng-lam dan Lo Ci-kiat sama2 berhati keji dan
bertindak kejam, akhirnya keduanya gugur bersama," jawab
Te-coat Tojin.
Sorot mata Ciamtay Cu-ih lantas beralih ke arah Kiau
Lo-kiat. dengan muka guram ia mendengus: "Kiau-hiantit,
beberapa hari yang lalu Sau Peng-lam telah melukai Ci-eng
dan Ci-hiong, pagi tadi dia membinasakan Ci-kiat pula di
tempat yang sama. Sesungguhnya Tang-wan kami ada
permusuhan apa dengan Lam-han kalian sehingga tanpa
sebab musabab Suhengmu selalu mencari perkara kepada
anak murid Tang-wan kami?"
Kiau Lo-kiat menggeleng, jawabnya: "Entah, Tecu tidak
tahu. Semua itu adalah sengketa pribadi antara Sau-
toasuheng dengan Lo-suheng dari Tang-wan kalian, sama
sekali tiada sangkut-pautnya dengan hubungan baik antara
Tang-wan dan Lam-han."
Walaupun begitu, dalam hati Kiau Lo-kiat berpikir besar
kemungkinan Toa-suheng mengetahui tindak-tanduk anak
murid Tang-wan yang tidak pantas, makanya Toa-suheng
menjadi marah dan sengaja hendak menghajar mereka.
Sudah tentu kuatir bikin marah Ciamtay Cu-ih, maka apa
yang dipikirnya itu tidak berani dikatakannya.
Ciamtay Cu-ih lantas mendengus: "Hm, tidak ada
sangkut-paut apa, mengapa kau mengelakkan tanggung-
jawab. . . ."
Belum habis ucapannya, mendadak terdengar suara
gedubrakan, daun jendela disebelah kiri mendadak
terpentang didobrak orang, lalu melayang masuk satu
orang.
Para hadirin adalah jago2 kelas tinggi dan dapat
memberi reaksi dengan cepat, begitu melihat sesuatu, segera
mereka menyingkir kesamping dan siap siaga.
Belum lagi terlihat jelas siapa orang yang melayang
masuk itu, "brak", kembali melayang masuk pula satu
orang. Keduanya terus mendekam di lantai dan tidak
bergerak.
Dari pakaian mereka yang serba putih jelas mereka
adalah anak murid Tang-wan. Di bagian bokong mereka
jelas kelihatan ada bekas di depak oleh kaki.
Terdengar di luar jendela ada orang berseru lantang:
"Inilah gaya belibis hinggap di padang pasir dan jatuh
dengan pantat lebih dulu!"
Secepat terbang Ciamtay Cu-ih terus melayang keluar
jendela disertai dengan suatu pukulan dahsyat, sebelah
tangannya menolak ambang jendela, ttubuhnya terus
melayang ke atap rumah, dengan sebelah kaki berdiri ditepi
emper, berpuluh tombak disekelilingnya dapat dilihat
dengan jelas.
Akan tetapi suasana sunyi senyap. hujan rintik2, malam
kelam, tiada nampak bayangan seorangpun, ia pikir orang
ini tentu sembunyi disekitar sini, tidak mungkin dalam
waktu sekejap ini menghilang tanpa bekas. Ia menyadari
orang ini pasti lawan tangguh, segera ia lolos golok
melengkung, dengan gerak cepat ia mengitar satu keliling
gedung keluarga Wi ini.
Waktu itu kecuali Thian-bun Tojin yang menjaga gengsi
dan tetap berduduk ditempatnya, yang lain seperti Ting-yat
Suthay, Ho Sam-jit, Bun-siansing dan tokoh2 lain serentak
juga ikut melompat keluar. mereka sempat melihat seorang
tua berjubah putih bertubuh pendek gemuk sedang
meluncur dengan cepat dalam kegelapan, begitu cepat
sehingga mirip sejalur bayangan putih berkelebat di
kejauhan. Diam2 mereka sangat kagum terhadap Ginkang
Ciamtay Cu-ih yang tinggi dan tidak malu sebagai salah
satu tokoh Su-ki yang terkenal itu.
Meski sangat cepat Ciamtay Cu-ih memeriksa sekitar
kediaman keluarga Wi itu, hampir setiap pelosok telah
ditelitinya. Sesudab mengitar satu keliling, lalu dia
melompat masuk kembali keruangan tamu tadi. Dilihatnya
kedua muridnya masih meringkuk dilantai, pada pantat
mereka masih terlihat jelas bekas kaki yang membikin matu
Hong hoa-wan dari Tang wan itu.
Segera Ciamtay Cu-ih meraih salah seorang itu sehihgga
rebah telentang, dilihatnya orang ini adalah muridnya yang
bernama Sun Ci-cun, sedang seorang lagi ialah Ko Ci-
thong.
Dia menepuk Hiat-to Sun Ci-cun, lalu bertanya: "Kau
dikerjai siapa tadi?"
Sun Ci cun ingin bicara, tapi sukar mengeluarkan suara.
Ciamtay Cu ih terkejut. Caranya membuka Hiat-to yang
tertutuk itu sudab hampir menggunakan tenaga dalam yang
penuh, tapi Hiat-to Sun Ci-cun ternyata beium lagi terbuka,
maka dapat diketahui tenaga tutukan lawan terlebih kuat
dari pada dirinya.
Biarpun perawakan Ciamtay Co-ih pendek gemuk, tapi
semangat tempurnya sangat kuat, setelah mengetahui
sedang menghadapi musuh lihay, dia tidak menjadi keder,
sebaliknya bertambah semangat.
Diam2 ia mengerahkan tenaga dalam sendiri dan
disalurkan ke Leng-tay-hiat di punggung Ci-cun. Selang
sebentar lagi, pelahan2 Ci-cun mulai dapat bersuara: "Su ....
Suhu . . . ."
Ciamtay Cu-ih tidak menjawabnya, ia menyalurkan
tenaga dalamnya lebih lanjut. Akhirnya dapatlah Ci-cun
bicara dengan jelas: "Suhu, Tecu tidak tahu siapa lawan
itu."
"Dimana kalian dikerjai dia?" tanya Ciamtay Cu-ih.
"Tecu dan Ko-sute sedang buang air diluar sana,
mendadak Tecu merasa punggung kesemutan dan begitulah
kami telah dikerjai oleh keparat jahanam itu,"' tutur Ci-cun.
"Hus, orang adalah tokoh kelas tinggi dunia persilatan,
jangan sembarangan memaki!" damperat Ciamtay Cu-ih.
Terpaksa Ci-cun mengiakan dan tidak berani bersuara
lagi.
Seketika Ciamtay Cu-ih tidak dapat meraba orang
macam apakah pihak lawan. Waktu ia berpaling, dilihatnya
Thian-bun Tojin tenang2 saja seperti tidak mau tahu
terhadap apa yang terjadi, Mendadak terpikir olehnya: "Ah,
jangan2 orang itu berada di tengah orang banyak diruangan
pendopo?"
Segera ia mengajak Ci-cun ke ruangan besar, dilihatnya
orang lagi ramai membicarakan kematian seorang murid
Yan-san-pay dan seorang murid Tang-Wan. Semua orang
lantas bungkam demi nampak munculnya Ciantay Cu-ih.
Sorot mata Ciamtay Cu-ih yang tajam itu menyapu
pandang wajah setiap orang. Yang hadir disitu semuanya
adalah jago angkatan muda, meski tidak banyak yang
dikenalnya, tapi dari dandanan mereka hampir sebagian
besar diketahuinya dari golongan atau aliran mana. Ia
menduga diantara jago angkatan muda ini pasti tiada yang
memiliki tenaga dalam sekuat itu, apabila orang itu
mencampurkan diri disini tentu akan kelihatan menyolok.
Se-konyong2 sorot matanya yang tajam berhenti pada
diri satu orang.
Bentuk orang ini agak janggal dan memuakkan. Entah
sakit bisul atau sebab lain, mukanya tertempel beberapa
potong koyok, punggungnya menonjol, jelas seorang
bungkuk.
Mendadak Ciamtay Cu-ih teringat kepada satu orang, Ia
terkejut. Pikirnya: "Apakah mungkin dia? Konon orang ini
mengasingkan diri jauh di utara yang dingin sana dan tidak
pernah masuk ke Tionggoan, juga tiada sesuatu hubungan
dengan Ngo-tay-lian-beng, mengapa dia bisa hadir di
tempat Wi Kay-hou ini? Tapi kalau bukan dia, di dunia
persilatan kan tiada orang bungkuk lain yang berbentuk
seperti ini? Wah, jika betul dia, rasanya sukar dilayani."
Pandangan semua orang serentak juga beralih kesana
mengikuti tatapan Ciamtay Cu-ih. Beberapa orang yang
berusia agak lanjut dan berpengalaman segera bersuara
heran.
Wi Kay-hou juga lantas tampil kedepan dan memberi
hormat kepada orang bungkuk itu, katanya: "Maaf, sama
sekali Cayhe tidak tahu kehadiran anda sehingga tidak
melakukan penyambutan selayaknya."
Padahal si bungkuk itu sama sekali bukan tokoh kosen
dunia persilatan segala, dia tak-lain-tak-bukan ulah Soat
Peng-say. Dia menyamar sebagai orang bungkuk, tapi
kuatir dikenal orang Tang-wan, maka sejak tadi dia selalu
memencilkan diri dibelakang orang banyak dengan
menunduk.
Sekarang pandangan orang banyak sama terpusat
kepadanya, seketika Peng-say serba susah, cepat ia
berbangkit dan membalas hormat Wi Kay-hou, katanya;-
"Ah, mana Cayhe berani menerima penghormatan sebesar
ini."
Wi Kay-hou tahu tokoh bungkuk yang disegani itu
berasal dari daerah utara, tapi logat orang ini jelas orang
dan daerah Tionggoan. Umurnya juga tidak cocok, diam2
ia menjadi curiga.
Tapi iapun tahu tindak-tanduk tokoh bungkuk itu
selamanya sukar diraba, maka dia masih tetap bersikap
hormat dan berkata: "Cayhe Wi Kay-hou, mohon tanya
siapa nama anda yang terhormat?"
Melihat orang sudah berusia lanjut, juga tergolong Bu-
lim cianpwe atau angkatan tua dunia persilatan, tapi
sedemikian menaruh hormat kepada dirinya, betapapun
Peng-say merasa rikuh, dengan gugup ia menjawab: ' O,
Cayhe she Soat."
"Apakah Soat artinya salju?"' tanya Wi Kay-hou.
"Betul, betul, Soat artinya salju." jawab Peng-say.
Jawaban ini membuat beberapa orang bersuara kaget
pula. Sebab tokoh bungkuk yang tinggal di daerah utara
yang dingin dan sepanjang tahun diliputi salju itu memang
she Soat.
Orang she Soat tidak banyak, sekarang diketahui Peng-
say mengaku she Soat, bentuknya juga bungkuk dan
bermuka jelek, segera orang menyangka dia ini benar2
tokoh bungkuk dari utara itu.
Tapi setelah Wi Kay-hou memancingnya lebih cermat,
diketahuinya usia Peng-say selisih terlalu jauh dengan tokoh
yang terkenal itu, rasanya tidak mungkin si tokoh itu
sendiri, andaikan ada hubungannya, paling2 juga cuma
angkatan mudanya.
Maka dia lantas bertanya: "Cara bagaimana anda
menyebut Say-pak-beng-to Soat-tayhiap? Apakah beliau itu
angkatan tua anda?"
Karena Ciamtay Cu-ih masih menatapnya dengan sikap
garang Peng-say kuatir penyamarannya diketahui, bilamana
hal ini terjadi, lalu setelah ditanya dan diketahui pula
dirinya bukan anak murid Lam-han, besar kemungkinan
Ciamtay Cu-ih akan mendesak pula pengakuan Kiau Lo-
kiat tentang siapa yang ikut membunuh anaknya, dan kalau
Kiau Lo-kiat mengaku, maka dirinya bisa celaka.
Dalam keadaan kepepet begini dilihatnya Wi Kay-hou
sangat menghormat kepada pendekar besar yang juga she
Soat itu, diam2 Peng-say merasa akan lebih aman jika
untuk sementara dirinya mengikuti arah angin saja agar
penyamarannya tidak diketahui Ciamtay Cu-ih, maka dia
lantas menjawab pertanyaan Wi Kay-hou tadi.
"Kau tanya tentang Say-pak-beng-to Soat-tayhiap? Hehe,
beliau memang boleh dikatakan angkatan tua kami!"
Karena tidak menemukan orang lain yang mencurigakan
di ruangan ini, Ciamtay Cu-ih menduga orang yang
mengerjai kedua muridnya itu pasti si bungkuk ini. Jika
menghadapi Say-pak-beng-to (si unta sakti dari utara) Soat
Ko-hong sendiri, mungkin dirinya harus berpikir dua kali,
tapi orang ini hanya angkatan muda keluarga Soat, kenapa
mesti takut padanya. Apalagi dia yang mencari perkara
lebih dulu kepada Tang-wan,
Sebagai satu di antara Su-ki yang disegani, selama hidup
Ciamtay Cu-ih tidak pernah tunduk kepada siapapun juga,
sekarang iapun tidak rela Tang-wan dihina orang. Segera ia
mendengus: "Hong-hoa-wan dan Soat-siansing dari Say-pak
selamanya tiada sesuatu sengketa apapun, entah sebab apa
anda telah meaghajar muridku yang tak becus ini?"
Menghadapi Ciamtay Cu-ih, Peng-say jadi ingat orang
ini sengaja menyuruh anaknya berbuat se-wenang2, bahkan
menyuruhnya menikahi puterinya sendiri, perbuatan
demikian tiada ubahnya seperti hewan, seketika darah
bergolak di rongga dada Peng say, saking gemasnya segera
ia hendak memakinyi sebagai hewan. Tapi segera teringat
lagi akibatnya jika dirinya bertindak ceroboh, mungkin
gagal menolong adik Leng, sebaliknya jiwa sendiripun akan
melayang disini.
Karena tidak tahu apa maksud ucapan Ciamtay Cu-ih
tadi, tapi iapun mengikuti nada orang dan menjawab:
"Anakmu sendiri berbuat jahat, muridmu pasti juga bukan
orang baik2. Selama hidup Say-pak-beng-to Soat-cianpwe
suka melakukan kebajikan, menumpas kaum lalim dan
membantu kaum lemah. Aku yang menjadi angkatan muda
beliau dengan sendirinya juga ingin mewakilkan beliau
untuk memberi hajaran kepada muridmu."
Tidak kepalang gusar Ciamtay Cu-ih sehingga mukanya
merah padam.
Sedangkan Wi Kay-hou bertambah yakin Soat Peng-say
pasti anak murid Soat Ko-hong, setelah mendengar
jawabannya itu, ia menjadi kuatir Ciamtay Cu-ih akan
menyerang Soat Peng-say, akibatnya tentu akan
mendatangkan pembalasan Soat Ko-hong yang terkenal
sukar dilayani itu. Maka cepat ia menengahi, katanya:
"Ciamtay-wancu dan Soat-heng, kalian berkunjung kemari,
dengan sendirinya kalian adalah tamu agungku. Hendaklah
kalian ingat diriku dan sudilah minum secawan
perdamaian. Hayo ambilkan arak!"
Segera kaum pelayan mengiakan dan menuangkan arak!
Sudah tentu Ciamtay Cu-ih tidak gentar terhadap si
bungkuk muda ini, tapi teringat kepada macam2 tindakan
keji Soat Ko-hong seperti yang tersiar di dunia kangouw,
betapapun ia sungkan untuk bermusuhan dengan orang
begitu. Akan tetapi ketika arak disodorkan oleh pelayan, ia
tidak lantas menerimanya, ia ingin tahu dulu bagaimana
sikap lawan.
Sebaliknya Soat Peng-say juga sangat gemas terhadap
Ciamtay Cu-ih, terutama bila ingat orang ini mengharuskan
adik Leng menjanda selama hidup bagi anaknya, meski dia
jeri terhadap kepandaian orang, namun hal ini tidak
mengurangi rasa bencinya kepada Ciamtay Cu-ih.
Karena itulah iapun memandang Ciamtay Cu-ih dengan
melotot, iapun tidak menerima arak yang disodorkan
kepadanya. Malahan mestinya dia ingin memaki orang, tapi
terpengaruh oleh wibawa Ciamtay Cu-ih, ia tidak berani
bersuara.
Mendadak Ciamtay Cu-ih menjengek: "Eh, marilah kita
berkawan . ..." berbareng itu secepat kilat dia jabat sebelah
tangan Soat Peng-say.
Cepat Peng-say meronta, tapi tidak terlepas, segera ia
merasakan tangannya kesakitan, tulang telapak tangan
sampai bunyi berkeliutan, rasanya akan hancur teremas.
Tapi Ciamtiy Cu-ih tidak lagi mengerahkan tenaga
remasannya, maksudnya cuma hendak membikin Soat
Peng-say kesakitan dan minta ampun saja. Tak terduga
Peng-say memang anak bandel. biarpun sakitnya merasuk
tulang, namun karena bencinya terhadap Ciamtay Cu-ih,
biar matipun dia tidak sudi minta ampun, Maka sama sekali
ia tidak bersuara,, ia hanya meringis kesakitan dan tetap
bertahan.
Wi Kay hou dapat melihat butiran keringat sebesar
kedelai menghiasi dahi Soat Peng-say, namun anak muda
ini masih tetap bertahan tanpa bersuara, diam2 iapun
kagum terhadap kekerasan hati Peng-say. Segera ia
bermaksud melerai.
Tapi sebelum dia bersuara, se-konyong2 seseorang
berseru dengan suara melengking tajam! "Ciamtay-wancu,
kenapa kau iseng dan merecoki anak Soat Ko-hong?!"
Waktu semua orang berpaling, terlihatlah di depan pintu
berdiri seorang bungkuk pendek gemuk.
Muka orang bungkuk ini penuh panu, banyak pula toh
hijau dan berbulu, mukanya sungguh jelek, tubuhnya
gemuk dan sangat pendek, ditambah lagi punggungnya
yang menggunung, dipandang dari jauh mirip satu biji
bakpao raksasa.
Kebanyakan hadirin tidak pernah melihat muka asli Soat
Ko-hong. Sekarang pendatang ini memberitahukan
namanya sendiri dan cocok dengan potongannya yang aneh
itu, maka terkesiap juga orang banyak.
Yang lebih hebat lagi, si bungkuk yang buntak ini
tampaknya sangat lambat gerak-geriknya tapi entah cara
bagaimana, tahu2 dia telah menggelinding kesamping Soat
Peng-say.
Sambil menepuk pundak Peng-say, dengan tertawa ia
berkata. "Anak baik, cucu sayang, kau telah membual bagi
kakek, bahwa kakek suka menumpas yang lalim dan
menolong kaum lemah, semua obrolanmu itu sungguh
sangat menyenangkan hatiku!"
Tapi ia terkejut karena tepukannya tidak membuat
pegangan Ciamtay Cu-ih terlepas. Maka sembari bicara
dengan Soat Peng-say ia terus mengerahkan tenaga
dalamnya, waktu dia menepuk lagi untuk kedua kalinya,
sekarang telah digunakan tenaga sepenuhnya.
Pandangan Peng-say menjadi gelap, darah terasa
bergolak dan hampir saja tertumpah keluar, sebisanya dia
bertahan dan menelan kembali darah yang akan membanjir
keluar itu.
Tangan Ciamtay Cu-ih sekarang juga merasa kesakitan
dan tidak sanggup menjabat lebih erat lagi, terpaksa ia lepas
tangan dan mundur selangkah, pikirnya: "Keji amat hati
orang bungkuk ini, demi untuk menggetar lepas tanganku,
dia tidak segan2 menimbulkan luka dalam anak-buahnya
sendiri."
Tapi Soat Peng-say lantas bergelak tertawa, katanya
kepada Ciamtay Cu-ih: "Haha, tampaknya Kungfu Hong-
hoa-wan kalian juga cuma begini saja, kalau dibandingkan
Soat-cianpwe ini sungguh selisih sangat jauh, kukira lebih
baik kau angkat guru saja kepada Soat-cianpwe dan
mungkin kau akan tambah pandai. . . ."
Sebenarnya luka dalam Soat Peng-say cukup parah,
waktu bicara, isi perutnya serasa berjungkir balik tak
keruan, sekuatnya ia selesaikan ucapannya dan tubuhpun
ter-huyung2.
Ciamtay Cu-ih berkata: "Baik, kau suruh aku belajar
kepada Soat-siansing, saranmu ini memang sangat baik.
Kau sendiri adalah anak murid Soat siansing,
kepandaianmu tentu juga sangat tinggi biarlah kubelajar
kenal dulu dengan kau."
Dengan ucapannya itu secara langsung dia menantang
Soat Peng-say, sebagai seorang tokoh ternama, dengan
sendirinya Soat Ko-hong tidak dapat ikut campur.
Soat Ko-hong lantas menyurut mundur dua tindak,
katanya dengan tertawa; "Eh. cucuku sayang, kukira
kepandaianmu masih terlalu cetek, jelas kau bukan
tandingan Hong hoa-wancu, begitu gebrak tentu kau bisa
dibinasakan olehnya. Padahal kakek sudah terlanjur sayang
kepada cucu ganteng seperti kau ini, jika terbunuh tentu
sukar mencari cucu yang lain. Begini saja, kau berlutut dan
menyembah serta panggil kakek padaku dan mintalah agar
kakek turun tangan bagimu."
Soat Peng-say memandang Ciamtay Cu-ih sekejap, lalu
memandang Soat Ko-hong pula. Pikirnya: "Jika benar harus
kuhadapi orang she Ciamtay ini, bisa jadi sekali gebrak saja
aku akan terbunuh lalu cara bagaimana dapat kuselamatkan
adik Leng? Sebaliknya, seorang lelaki gagah perwira mana
boleh tanpa alasan menyebut orang bungkuk ini sebagai
kakek, aku terhina tidak menjadi soal, tapi leluhur juga ikut
terhina, itulah yang tidak boleh terjadi. Sekali aku
menyembah padanya, itu berarti aku telah minta
perlindungan kepada Say-pak-beng-to lalu selamanva sukar
lagi bagiku untuk mengangkat namaku sendiri."
Karena pikirannya bergolak, tubuh Peng-say menjadi
gemetar.
"Hm. kukira kau memang pengecut!" demikian Ciamtay
Cu-ih mengejek pula, "Maka lebih baik kau menyembah
dan mobon bantuan orang, kan tidak menjadi soal
bagimu?"
Lamat2 ia dapat melihat hubungan Soat Peng-say dan
Soat Ko-hong rada2 luar biasa, jelas bukan anggota
keluarga sendiri, buktinya Peng-say cuma menyebut tokoh
bungkuk itu sebagai "Cianpwe" dan tidak menggunakan
panggilan lain. Sebab itulah ia sengaja memancingnya
dengan kata2 yang menusuk perasaan, asalkan Soat Peng-
say tidak tahan dan maju sendiri untuk menghadapi dia,
maka urusan menjadi mudah diselesaikan.
Pikiran Peng-say juga sedang bekeria, teringat olehnya
selama lebih sebulan ini, sejak di Siau-ngo-tay-san dirinya
dikalahkan Liok-ma, ber-turut2 ditemui pula tokoh2 kelas
tinggi, kepandaian sendiri sesungguhnya selisih sangat jauh
dibandingkan anak murid Su-ki maupun Sam-yu, jelas
untuk menolong adik Leng bukanlah pekerjaan yang
mudah. Tapi teringat olehnya cerita sejarah di jaman
permulaan dinasti Han, sebelum masa jayanya Han Sin
pernah dihina orang dengan disuruh merangkak lewat
selangkangan, tapi dia rela melakukannya dan akhirnya
malah mendapat pahala dan jadilah dia panglima yang tak
terkalahkan dan berhasil ikut membangun dinasti Han yang
jaya itu.
Seorang lelaki sejati, jika tidak sabar terhadap soal kecil,
tentu akibatnya akan mengacaukan urusan besar. Asalkan
kelak dapat berjaya dan menonjol, apa halangannya
sekarang mendapatkan sedikit hinaan?
Karena pikiran itulah, mendadak ia membalik tubuh
terus berlutut kepada Soat Ko-hong, disembahnya tokoh
bungkuk itu, katanya: "Kakek, kelakuan Ciamtay Cu-ih ini
tiada ubahnya seperti hewan, setiap orang Bu-lim wajib
membunuhnya. Untuk itu hendaklah kakek menegakkan
keadilan dan menumpas orang jahat ini bagi dunia
Kangouw.
Perbuatan Soat Peng-say ini benar2 diluar dugaan
siapapun juga termasuk Soat Ko-bong dan Ciamtay Cu-ih,
tiada seorangpun yang menyangka anak muda yang keras
kepala ini mau tunduk dan menyembah kepada orang.
Hendaklah dimaklumi bahwa setiap orang persilatan
pada umumnya mengutamakan nama dan kehormatan,
biarpun di-sayat2 juga tidak mau tunduk, apalagi dihina di
depan umum.
Tadinya semua orang mengira si bungkuk muda ini
adalah cucu Soat Ko-hong, umpama bukan cucu sungguh2,
mungkin juga cucu murid atau cucu keponakan dan
sebagainya. Hanya Soat Ko-hong sendiri yang tahu anak
muda ini tiada sangkut-paut sedikitpun dengan dirinya.
Namun Ciamtay Cu-ih dapat melihat ketidak beresan
diantara hubungan Soat Ko-hong dan Soat Peng-say itu,
hanya saja ia tidak dapat menerka dengan pasti huhungan
sesungguhnya antara kedua orang itu, namun didengarnya
panggilan "kakek" yang diucapkan Peng-say itu terasa
sangat dipaksakan. ia menduga mungkin anak muda itu
takut mati, maka terpaksa memanggil kakek kepada si
bungkuk untuk minta perlindungan.
Begitulah Soat Ko-hong lantas bergelak tertawa dan
berseru: "Hahahaha! Cucu sayang, bagaimana, apakah kita
benar2 hendak main2?"
Kedengarannya dia bicara kepada Soat Peng-say, tapi dia
berkata sambil menghadapi. Ciamtay Cu-ih, jadi ucapannya
"cucu sayang" itu se-akan2 ditujukan kepada tokoh Tang-
wan itu.
Keruan Ciamtay Cu-ih tambah murka, ia tahu
pertarungan ini bukan saja menyangkut mati-hidupnya
sendiri, bahkan juga menyangkut jaya dan runtuhnya Hong-
hoa-wan. Maka diam2 ia menghimpun tenaga dan siap
siaga, ia tertawa hambar dan berkata: "Rupanya Soat-
siansing ada maksud pamer ilmu saktinya di depan orang
banyak, agar semua orang dapat menambah pengalaman,
terpaksa kuiringi kehendak Soat-siansing."
Dari tepukan Soat Ko-hong tadi Ciamtay Cu-ih sudah
tahu tenaga dalam si bungkuk terlebih kuat daripada
dirinya, bahkan kelihatan sangat keras, sekali dilontarkan
sukar ditahan lagi dan pasti akan terus melanda lawan
seperti gugur gunung dahsyatnya. Maka diam2 Ciamtay
Cu-ih mengambil keputusan dalam serarus jurus pertama
hanya akan bertahan saja tanpa menyerang, akan
ditunggunya bilamana kekuatan musuh sudah mulai lemah
baru dia akan melancarkan serangan balasan.
Sesungguhnya ilmu silat Hong-hoa-wan di lautan timur
juga berasal dari Tionggoan, mengutamakan kelunakan
untuk mengatasi kekerasan, maka dalam hal kesabaran
Ciamtay Cu-ih cukup tahan uji. Ia pikir asalkan dapat
bertanding sama kuatnya dengan tokoh bungkuk ini, maka
nama baik Hong-hoa-wan dapatlah ditegakkan kembali dan
berjaya seperti 27 tahun yang lalu. Ia menduga bila si
bungkuk tak dapat merobohkan lawannya, akhirnya tentu
akan gelisah dan menyerang secara ceroboh, apabila
pertarungan sudah melebihi ratusan jurus, bukan mustahil
akan dapat ditemukan lubang2 kelemahan si bungkuk,
tatkala mana dapatlah dia merobohkan lawan tersebut
dengan mudah.
Rupanya maksud kedatangannya kedaratan Tionggoan
ini salah satu tujuannya ialah ingin menegakkan nama
Hong-hoa-wan. Maklumlah sudah 27 tahun dia
mengasingkan diri, pada umumnya orang Bulim sudah
melupakan dia. Di dunia persilatan sekarang orang hanya
memuja Sam-yu Ji-ki atau Tiga serangkai dan dua tokoh
sakti, yaitu apa yang sekarang bergabung di dalam Ngo tay-
lian-beng atau persekutuan lima besar ini. Terhadap Ji-ki
atau dua tokoh sakli yang lain, meski diketahui Ciamtay
Cu-ih masih hidup dilautan bebas sana, tapi dianggap sudah
menghilang seperti halnya Sau Ceng-in dari Pak-cay.
Nama "Say-pak-beng-to" atau si untu sakti dari utara,
memang tidak segemilang Sam-yu dan Ji-ki, tapi dalam
pandangnn tokoh2 angkatan tua, ilmu silat si makhluk aneh
ini bahkan diatas kelima tokoh besar itu. Apabila sekarang
Ciamtay Cu-ih dapat mengalahkannya sejurus-dua, maka
harga diri Ciamtay Cu-ih pasti akan menanjak dan tiada
seorangpun yang berani meremehkan dia.
Soat Ko-hong sendiri juga sedang me-nimang2
lawannya, ia lihat perawakan Ciamtay Cu-ih kurus kecil
seperti badan anak kecil, kalau ditimbang mungkin tidak
ada 80 kati. tapi berdirinya ternyata begitu tegak dan kukuh
seperti bukit yang tak tergoyahkan, sikapnya yang kereng
jelas menampilkan gaya seorang guru besar suatu aliran
tersendiri, jelas betapa tinggi Lwekang si kakek kecil ini
tidak boleh dipandang enteng. Maka diam2 Soat Ko-hong
merasa waswas, betapapun si bungkuk tidak boleh
terjungkal ditangan seorang kakek kecil begini. Karena
itulah dia tidak berani sembarangan melancarkan serangan,
tapi mengawasi lawan dengan cermat.
Begitulah kedua orang pendek itu saling menatap dengan
prihatin, senyuman mereka sudah lenyap dan pertarungan
sengit segera akan terjadi.
Thian-bun Tojin, Ting-yat Suthay dan lain2 sama tidak
suka kepada Ciamtay Cu-ih. sebab pada 27 tahun yang lalu,
pada masa jayanya Ciamtay Cu-ih, boleh dikatakan di mata
tokoh Tang-wan itu tidak merasakan adanya Tionggoan-
samyu, anak murid tiga serangkai itupun sering dihinanya.
Tapi sekarang jaman telah berubah, Sam-yu dan Ji-ki telah
bersekutu dan memimpin dunia persilatan, namun Ciamtay
Cu-ih sama sekali tidak memberikan salam atau kata2
pujian lain, dalam pandangannya se-olah2 persekutuan lima
besar itu telah merosotkan harga diri Bulim-suki dahulu.
Mengenai pribadi Soat Ko-hong, namanya sangat busuk
di dunia persilatan. Meski dia tidak melakukan kejahatan
dan memusuhi Ngo-tay-lian-beng, tapi hampir semua tokoh
utama kelima besar itu lama memandang Soat Ko-hong
sebagai manusia rendah dan tidak sudi berkumpul dengan
dia.
Sebab itulah, bagaimana hasil dari pertarungan antara
Ciamtay Cu-ih dan Soat Ko-hong ini bukan soal bagi
mereka. Bahkan dalam hati Thian-bun Tojin dan Ting-yat
Suthay berharap semoga pertarungan kedua orang itu
berlangsung dengan sengitnya, kalau keduanya mampus
bersama malahan kebetulan bagi mereka.
Hanya Wi Kay-hou saja yang mempunyai hubungan
yang rada akrab dengan Ciamtay Cu-ih, di samping itu
iapun tuan rumahnya, maka sedapatnya ia ingin mencegah
pertarungan kedua orang itu.
Akan tetapi kedua orang itu adalah tokoh yang punya
harga diri, barang siapa mundur lebih dulu berarti kalah.
Walaupun keduanya juga menyadari pertarungan ini tanpa
tujuan berarti, cuma keduanya sudah kadung sama ngotot
sehingga mau-tak-mau harus saling gebrak.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 16
Pada saat pertarungan sudah hampir berlangsung itulah.
se-konyong2 seorang melompat keluar dari belakang meja
dan "bluk" jatuh di lantai. Belum lagi semua orang tahu
jelas apa yang terjadi "bluk", kembali seorang menerobos
keluar lagi dan terbanting di lantai. Keduanya sama
menggeletak tengkurap dan tak berkutik.
Walaupun muka kedua orang itu tidak kelihatan jelas,
tapi keduanya sama memakai seragam putih dan bagian
pantat masing2 ada cap kaki. Menyusul terdengar suara
seorang anak perempuan berteriak dengan nyaring: "Itulah
kepandaian andalan Tang-Wan yang disebut jatuh dengan
pantat lebih dulu!"
Tentu saja Ciamtay Cu-ih sangat gusar, sekali berpaling,
tanpa peduli siapa yang bicara itu, terus saja ia melompat
kesana menurut arah datangnya suara tadi, dilihatnya
seorang anak perempuan berbaju hijau berdiri disamping
meja, tanpa pikir lengan anak perempuan itu terus
dicengkeramnya.
"Aduh, mak!" teriak anak perempuan itu dan
menangislah dia.
Ciamtay Cu-ih terkejut Saking gusarnya oleh ucapannya
yang menghina tadi, ia sangka kedua muridnya telah
dikerjai pula oleh dara cilik ini, tanpa pikir ia terus
mencengkeramnya dengan keras, ketika dara cilik itu
menjerit dan menangis barulah ia ingat orang hanya anak
perempuan yang masih kecil, tindakannya ini tentu akan
menurunkan derajatnya sebagai Hong-hoa-wancu, maka
cepat ia lepas tangan.
Tak tersangka anak perempuan itu makin keras
menangisnya, bahkan terus ber-teriak2: "Lenganku patah,
lenganku patah! Uuhhh! Kau mematahkan lenganku. . . ."
Hong-hoa-wancu Ciamtay Cu-ih sudah pernah
menghadapi pertempuran sengit dan sering mengalami
pertarungan dahsyat, tapi adegan runyam begini belum
pernah dialaminya. Apalagi sorot mata beratus orang sama
tertuju kepadanya dengan sikap yang tidak suka, seketika
mukanya merah, dengan bingung ia membujuk anak dara
itu: "Diam, jangan menangis, jangan menangis, tanganmu
tidak apa2, tidak patah."
"Patah, sudah patah!" seru dara cilik itu dengan
menangis. "Huk-huk, orang tua memukul anak kecil, tidak
tahu malu. Uuhhh. sakit. . . . sakit. ..."
Usia anak perempuan ini kira2 baru 11 atau 12'tahun,
berbaju hijau muda, kulit badannya putih bersih, mukanya
bulat telur, cantik menyenangkan, setiap orang pasti
bersimpati padanya. Maka beberapa orang lantas berteriak:
"Terlalu si pendek itu, hajar saja dia! Ya, mampuskan tua
bangka kecil yang tidak tahu malu itu!"
Ciamtay Cu-ih merasa serba susah. menghadap
kemarahan orang banyak, ia tidak berani menanggapi,
terpaksa ia membujuk pula si anak kecil, "Maaf adik cilik,
jangan nmenangis, tidak apa2, coba kuperiksa tanganmu,
bagian mana yang sakit?" Sambil berucap ia terus hendak
menggulung lengan baju anak perempuan itu.
Tapi anak itu lantas berteriak: "Tidak, jangan menyentuh
diriku. O, ibu, tua bangka pendek ini telah mematahkan
lenganku!"
Selagi Ciamtay Cu-ih merasa bingung, tiba2 dari
kerumunan orang banyak tampil kemuka seorang lelaki
berjubah putih. ialah Ji Ci-ho, salah seorang murid
kesayangan Ciamtay Cu-ih, "Anak kecil jangan cengeng
dan pura2." kata Ci-ho kepada dara cilik itu. "Tangan
guruku sama sekali tidak menyentuh dirimu, manabisa
lenganmu dipatahkan olehnya?"
"Uuhhhh! ibu, ada orang jahat hendak memukul aku
lagi!" teriak anak perempuan itu.
Ting-yat menjadi gusar, segera ia melangkah maju terus
menampar kemuka Ci-ho sambil membe