Anda di halaman 1dari 4

Terdapat dua pilihan terapi pad tonsillitis yaitu: 2,4

a. Terapi mulut (terapi lokal) ditujukan kepada hygiene mulut dengan berkumur atau
obat isap.
b. Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa tidak berhasil.

Gambar tonsilitis kronis :

Terapi operatif Adenotonsilektomi


Tonsilektomi didefinisikan sebagai operasi pengangkatan seluruh tonsil palatina.
Tonsiloadenoidektomi adalah pengangkatan tonsil palatina dan jaringan limfoid di nasofaring
yang dikenal sebagai adenoid atau tonsil faringeal.5
Tonsilektomi merupakan prosedur yang paling sering dilakukan dalam sejarah
operasi. Pada dekade terakhir, tonsilektomi tidak hanya dilakukan untuk tonsilitis berulang,
namun juga untuk berbagai kondisi yang lebih luas termasuk kesulitan makan, kegagalan
penambahan berat badan, overbite, tounge thrust, halitosis, mendengkur, gangguan bicara dan
enuresis. 5
Pada pertengahan abad yang lalu, mulai terdapat pergeseran dari hampir tidak adanya
kriteria yang jelas untuk melakukan tonsilektomi menuju kriteria yang lebih tegas dan jelas.
Selama ini telah dikembangkan berbagai studi untuk menyusun indikasi formal yang ternyata
menghasilkan perseteruan berbagai pihak terkait. Dalam penyusunannya ditemukan kesulitan
untuk memprediksi kemungkinan infeksi di kemudian hari sehingga dianjurkan terapi
dilakukan dengan pendekatan personal dan tidak berdasarkan peraturan yang kaku. American
Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery telah mengeluarkan rekomendasi resmi
mengenai tindakan tonsilektomi yang merupakan kesepakatan para ahli. 5
Tonsilektomi telah dilakukan oleh dokter THT, dokter bedah umum, dokter umum
dan dokter keluarga selama lebih dari 50 tahun terakhir. Namun, dalam 30 tahun terakhir,
kebutuhan akan adanya standarisasi teknik operasi menyebabkan pergeseran pola praktek
operasi tonsilektomi. Saat ini di Amerika Serikat tonsilektomi secara ekslusif dilakukan oleh
dokter THT. 5
Tingkat komplikasi, seperti perdarahan pascaoperasi berkisar antara 0,1-8,1% dari
jumlah kasus. Kematian pada operasi sangat jarang. Kematian dapat terjadi akibat komplikasi
bedah maupun anestesi. Tantangan terbesar selain operasinya sendiri adalah pengambilan
keputusan dan teknik yang dilakukan dalam pelaksanaannya5

Indikasi Tonsilektomi

Indikasi tonsilektomi dulu dan sekarang tidak berbeda, namun terdapat perbedaan
prioritas relatif dalam menentukan indikasi tonsilektomi pada saat ini. Dulu tonsilektomi
diindikasikan untuk terapi tonsilitis kronik dan berulang. Saat ini, indikasi yang lebih utama
adalah obstruksi saluran napas dan hipertrofi tonsil. 5
Untuk keadaan emergency seperti adanya obstruksi saluran napas, indikasi
tonsilektomi sudah tidak diperdebatkan lagi (indikasi absolut). Namun, indikasi relatif
tonsilektomi pada keadaan non emergency dan perlunya batasan usia pada keadaan ini masih
menjadi perdebatan.
The American Academy of Otolaryngology – head and Neck surgery Clinical
Indicators Compendium menetapkan:1
1. Serangan tonsillitis lebih dari tiga kali pertahun walaupun telah mendapatkan terapi
yang adekuat.
2. Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan gangguan
pertumbuhan orofasial.
3. Sumbatan jalan nafas yang berupa hipertrofi tonsil dengan sumbatan jalan nafas,
sleep apnea, gangguan menelan.
4. Rhinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, abses peritonsil yang tidak berhasil
hilang dengan pengobatan.
5. Napas bau yang tidak berhasil dengan pengobatan.
6. Tonsillitis berulang yang dicurigai oleh bakteri grup A Streptococcus β hemolitikus.
7. Hipertrofi tonsil yang dicurigai adanya keganasan.
8. Otitis media efusa / otitis media supuratif.

Kontra Indikasi 2
a. Radang akut.
b. Penyakit penyakit perdarahan : leukemia, hemophilia, hemoragia diastesa, dan
anemia.
c. Keadaan umum penderita lemah / jelek atau sakit berat.
d. Penyakit2 sistemik yang tidak terkendali seperti DM, dan Penyakit jantung
e. Status asmatikus.

Indikasi Adenoidektomi 2
1. sumbatan :
a. sumbatan hidung yang menyebabkan bernapas melalui mulut
b. sleep apnea
c. gangguan menelan
d. gangguan berbicara
e. kelainan bentik wajah dan gigi (adenoid face)
2. infeksi
a. adenoiditis berulang / kronik
b. otitis media efusi berulang / kronik
c. otitis media akut berulang
3. kecurigaan neoplasma jinak / ganas

Komplikasi 2
1. Perdarahan :
a. perdarahan primer : terjadi pada waktu operasi sedang berjalan atau kurang dari
24 jam setelah operasi.
b. Perdarahan sekunder: terjadi pada waktu lebih dari 24 jam setelah operasi
2. Infeksi : karena sterilitas yang kurang diperhatikan, lebih lebih terjadi luka terbuka
selesai operasi
3. komplikasi karna akibat trauma alat alat saat operasi, missal terangkat uvula,
sobeknya pilar pilar laring
4. sakit pasca operasi
5. komplikasi tyerhadap paru, misalnya adanya aspirasi darah  aspirasi pneumoni.