Anda di halaman 1dari 6

Takwa Terhadap Shalat*

‫ت َأْعَماِلَنا َمْن‬ ِ ‫سَنا َوَسّيَئا‬ِ ‫ل ِمنْ ُشُرْوِر َأْنُف‬ ِ ‫سَتْغِفُرُه َوَنُعْوُذ ِبا‬
ْ ‫سَتِعْيُنُه َوَن‬
ْ ‫حَمُدُه َوَن‬ْ ‫ل َن‬ِ ِ‫حْمَد‬ َ ‫ِإّن اْل‬
‫حّمًدا‬ َ ‫ل َوَأْشَهُد َأّن ُم‬ ُ ‫ي َلُه َأْشَهُد َأْن َل ِإلَه ِإّل ا‬ َ ‫ل َهاِد‬ َ ‫ضِلْل َف‬ ْ ‫ضّل َلُه َوَمْن ُي‬ ِ ‫ل ُم‬ َ ‫ل َف‬ ُ ‫َيْهِدِه ا‬
‫َعْبُدُه َوَرُسْوُلُه‬
.‫ساٍن ِإَلى َيْوِم الّدْين‬ َ ‫حاِبِه َوَمْن َتِبَعُهْم ِبِإْح‬َ‫ص‬ ْ ‫حّمٍد َوَعلى آِلِه ِوَأ‬ َ ‫صّل َوَسّلْم َعلى ُم‬ َ ّ‫َاللُهم‬
‫سِلُمْوَن‬ْ ‫ل َحّق ُتَقاِتِه َوَل َتُمْوُتّن ِإّل َوَأْنُتْم ُم‬ َ ‫َياَأّيَها اّلَذْيَن آَمُنْوا اّتُقوا ا‬
‫ث ِمْنُهَما‬ ّ ‫س َواِحَدٍة َوَخَلَق ِمْنَها َزْوَجَها َوَب‬ ٍ ‫س اّتُقْوا َرّبُكُم اّلِذي َخَلَقُكْم ِمْن َنْف‬ ُ ‫َياَأّيَها الَنا‬
‫ل َكاَن َعَلْيُكْم َرِقْيًبا‬ َ ‫ساَءُلْوَن ِبِه َوْاَلْرَحامَ ِإّن ا‬ َ ‫ل اَلِذي َت‬ َ ‫ساًء َواّتُقوا ا‬ َ ‫ِرَجاًل َكِثْيًرا َوِن‬
‫صِلْح َلكُْم َأْعَماَلُكْم َوَيْغِفْرَلُكْم ذُُنْوَبُكْم َوَمْن‬ ْ ‫ل َوُقْوُلْوا َقْوًل َسِدْيًدا ُي‬ َ ‫َياَأّيَها اّلِذْيَن آَمُنْوا اّتُقوا ا‬
… ‫ َأّما َبْعُد‬،‫ل َوَرُسْوَلُه َفَقْد َفاَز َفْوًزا َعِظْيًما‬ َ ‫ُيِطِع ا‬
‫ َوَشّر‬،‫صّلى ال َعَلْيِه َوَسّلَم‬ َ ‫حّمٍد‬ َ ‫ى ُم‬ ُ ‫ى َهْد‬ ِ ‫ َوَخْيَر اْلَهْد‬،‫ل‬ ِ ‫با‬ ُ ‫ث ِكَتا‬ ِ ‫حِدْي‬ َ ‫ق اْل‬ َ ‫صَد‬ْ ‫َفِأّن َأ‬
.‫ضلََلِة ِفي الّناِر‬َ ‫ َوُكّل‬،‫لَلًة‬ َ‫ض‬ َ ‫حَدَثٍة ِبْدَعٌة َوُكّل ِبْدَعٍة‬ ْ ‫ َوُكّل ُم‬،‫حَدَثاُتَها‬ ْ ‫ْاُلُمْوِر ُم‬
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah,
Bertakwalah kepada Allah  dengan takwa yang sebenar-benarnya. Sesungguhnya manusia kini
tengah terjebak di dalam timbunan kesibukan dunia yang materialistik dengan berbagai masalah
rohani yang ditimbulkan oleh nafsunya. Manusia kini sangat membutuhkan sesuatu yang bisa
menghibur perasaannya, melepaskan beban penderitaannya, dan membangkitkan perasaan
tentram di dalam hati dan perasaan tenang di dalam jiwa, jauh dari kesulitan, kegelisahan, dan
keresahan. Manusia tidak bisa menemukan hal itu di luar naungan Islam dan ibadah-ibadahnya
yang agung. Padahal Islam dan ibadah-ibadahnya merupakan terapi rohani yang mutlak ampuh
dan tidak tergantikan oleh terapi materi. Ketahuilah, bahwa ibadah yang memiliki pengaruh
terbesar dalam hal itu ialah shalat, baik shalat fardhu maupun shalat sunnah. Allah  berfirman,
ْ ْ ‫يا أيا اَّلين آمنوا ا‬
ۚ ‫صَلِة‬ ‫وال‬
َّ َ ‫ب‬
ِ ‫ص‬
َّ ‫بال‬
ِ ‫نوا‬ ‫عي‬
ُ َِ ‫ت‬‫س‬ ُ َ َ ِ َ ُّ َ َ
“Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (QS.Al-
Baqarah :153)

ْ ْ ْ ْ ْ
ۗ ‫كِر‬
َ ُ َ َ َ ِ َ َ ‫صَلَة َت‬
‫ن‬‫م‬ ‫ل‬ ‫وا‬ ِ ‫ء‬‫شا‬ ‫ح‬ ‫ف‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫ن‬ ‫ع‬ ‫ى‬
ٰ ‫ن‬ َ ّ ‫صَلَة ۖ ِإ ّ َن ال‬
َ ّ ‫َوأ َِقِم ال‬
“Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan
mungkar.” (QS. Al-Ankabut :45)
Nabi  pernah bersabda kepada Bilal , ‘‘Bangkitlah hai Bilal, hiburlah kami dengan Shalat.’’

“Dan setiap kali dirundung masalah, beliau selalu melaksanakan shalat.”

Shalat adalah komunikasi antara hamba dengan Penciptanya. Berdiri di hadapan Allah  dalam
shalat memiliki efek yang sangat besar dalam memperbaiki jiwa manusia, bahkan seluruh
masyarakat manusia.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,


Shalat adalah tiang agama Islam dan garis pemisah antara kufur dan iman. Posisi shalat dalam
Islam seperti posisi kepala bagi tubuh. Bila manusia tidak bisa hidup tanpa kepala, begitu pula
agama tidak bisa tegak tanpa shalat. Jika masalahnya sedemikian penting dan krusial maka satu
hal yang sangat menyesakkan dada dan menyakitkan hati ialah bahwa di antara orang-orang yang
mengaku Islam masih ada orang-orang yang hidup di tengah-tengah kaum muslimin, tetapi
meremehkan dan menyepelekan shalat. Bahkan terkadang lebih parah dari itu. Laa haula wala
quata illa billah!

Akankah mereka berhenti bersikap seperti itu sebelum mereka ditimpa murka Allah, dikepung
azab Allah atau dijemput maut?

Saudara-saudaraku yang rajin shalat, berbahagialah dengan shalat. Bergembiralah bila Allah 
melapangkan dada anda untuk melaksanakan kewajiban yang agung ini. Selamat buat anda yang
akan menerima balasan dan anugerah dari Allah , baik di dunia maupun di Akhirat. Karena
telah melaksanakan kewajiban agama yang agung ini.

Ketahuilah bahwa shalat yang diterima oleh Allah  harus memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun,
wajib-wajib, dan adab-adab tertentu. Di samping itu, banyak masalah penting dan kesalahan yang
berkembang luas seputar kewajiban ini yang harus diketahui dan dipraktikkan oleh orang-orang
yang shalat. Di dalam Musnad Ahmad disebutkan, ‘‘Orang yang paling buruk pencuriannya
ialah orang yang mencuri sebagian dari shalatnya.’’

Yang dimaksud dengan mencuri di dalam shalat ialah tidak menyempurnakan rukuknya,
sujudnya dan khusyuknya. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang selesai shalat akan
dicatat dari shalatnya sebesar 25 persen, atau 20 persen, hingga 10 persen saja. Peringatan ini
agar setiap muslim yang shalat memperhatikan shalatnya, sehingga ia tidak kehilangan pahala
dan mendapatkan siksa.

Berikut ini adalah hal-hal singkat yang perlu mendapat perhatian dalam masalah ini.

Pertama, bersuci lahir dan batin. Bersuci adalah syarat besar bagi sahnya shalat. Shalat tidak sah
tanpa bersuci. Maka setiap orang yang menunaikan shalat harus memperhatikan dengan sungguh-
sungguh urusan bersuci dan wudlu`nya. Ia tidak boleh meremehkan hal itu. Juga tidak boleh
berlebihan dalam menyikapinya hingga sampai ke tingkat waswas. Salah satu hal yang sangat
disesalkan dalam soal ini yaitu sebagian orang awam tidak memberikan perhatian secukupnya
terhadap masalah wudlu dan bersuci. Bahkan ada yang melakukan tayammum di dekat air atau
sebenarnya bisa mencari air. Ini adalah kecerobohan yang nyata.
Kedua, memperhatikan waktu masuknya shalat. Hal ini termasuk syarat sah shalat yang penting.
Melaksanakan shalat sebelum masuk waktunya menyebabkan shalat kita tidak sah. Demikian
pula bila melaksanakan shalat tetapi waktunya telah selesai. Namun kebanyakan orang tidak
memahami masalah ini.

Ketiga, menghadap kiblat. Ini juga termasuk syarat sah shalat yang penting. Orang yang berada di
Masjidil Haram harus menghadap ke arah Ka’bah secara tepat. Sebagian orang ternyata tidak
memahami masalah ini atau meremehkannya.

Keempat, menutup aurat. Ini juga termasuk syarat sah shalat yang penting. Sebagian orang lalai
dalam masalah ini, seperti memakai pakaian yang transparan, atau celana ketat yang bisa
memperlihatkan warna kulitnya. Hal ini perlu diperhatikan. Wanita di dalam shalat harus
menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajahnya, jika berada di antara lelaki yang bukan mahramnya
atau berada di masjid yang berpotensi dilihat oleh kaum lelaki, maka kondisi semacam ini ia
wajib menutupi wajahnya. Dan ia harus datang ke masjid dengan pakaian yang sederhana,
tertutup rapat, tidak bersolek dan tidak memakai parfum, agar ia bisa pulang ke rumahnya dengan
membawa pahala, bukan dosa.

Kelima, memperhatikan kerapian shaf (barisan). Dalam riwayat yang shahih disebutkan bahwa
Nabi  merapikan sendiri barisan-barisan yang ada, bahkan perhatian beliau sangat tegas. Dalam
sebuah hadits Rasulullah  bersabda,
“Kalian benar-benar merapikan barisan kalian, atau Allah benar-benar akan membuat wajah-
wajah kalian berselisih.” (Muttafaqun 'Alaihi)

ْ
Keenam, khusyu' sebagai inti dan ruh shalat. Allah  berfirman,

ْ ْ ْ ْ ْ
﴾٢﴿‫خاِشُعون‬
َ َ ‫تم‬ِ ِ ‫ن ُه ِف َصَل‬ ِ َ ّ ‫﴾ا‬١﴿‫َقد أ َفَلح الُمؤِمُنوَن‬
‫لي‬
َ َ
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, ( Yaitu ) orang-orang yang khusyu'
dalam shalatnya.” (QS. Al-Mukminun :1-2)

Setiap orang yang melaksanakan shalat, harus menjaga kekhusyukan dan kehadiran hatinya
secara terus-menerus. Dan harus melakukan upaya-upaya yang bisa membantunya untuk itu, dan
mewaspadai hal-hal yang merusak kekhusyukannya. Jangan sampai ada perasaan malas, berat,
tertekan, kesal dan sekedar melepas kewajiban shalat. Jangan pula disertai main-main, gerak-
gerik, tengak-tengok, miring kiri dan kanan, cepat atau tergesa-gesa.

Tuma'ninah adalah salah satu rukun shalat yang tidak boleh ditinggalkan. Kini banyak orang
yang meremehkannya akibat lemahnya iman, dan tamaknya perasaan duniawi di dalam jiwa.
Nabi  bersabda kepada orang yang melaksanakan shalat secara buruk, karena tergesa-gesa dan
tidak thuma’ninah,
“Kembalilah lalu shalatlah. Karena sesungguhnya kamu belum shalat.’’ (Muttafaqun 'Alaihi)

Ketujuh, yang juga perlu diperhatikan ialah kewajiban mengikuti imam. Rasulullah  bersabda,
“Sesungguhnya imam itu diadakan untuk diikuti.” (Muttafaqun 'Alaihi)
Makmum tidak boleh lebih maju dari imam atau mendahului gerakan imam. Hal itu bisa
menyebabkan shalat tertolak atau batal. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah  dinyatakan bahwa
Rasulullah  bersabda,
‘‘Tidaklah salah seorang di antara kamu merasa takut apabila ia mengangkat kepalanya sebelum
imam bahwa Allah akan menjadikan kepalanya sebagai kepala keledai atau menjadikan
wujudnya sebagai wujud keledai?!” (Muttafaqun 'Alaihi)

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Tidak sah shalat orang yang mendahului imamnya.”

Perkara yang demikian gawat dan sangsinya seperti itu seharusnya mendapat perhatian yang
serius dari setiap orang yang melaksanakan shalat. Dan kondisi di lapangan para makmum dalam
kaitan ini sangat memperhatinkan dan menyedihkan. Allahul Musta’an.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,


Bertakwalah kepada Allah  dalam urusan kita pada umumnya dan shalat kita pada khususnya.
Seseorang memperoleh bagiannya dari Islam sesuai kadar shalatnya. Marilah kita berfikir tentang
kondisi kita sendiri. Apa yang akan kita peroleh bila kita meremehkan seluruh syi’ar Islam,
terutama shalat? Sesungguhnya umat yang orang-orangnya tidak mau berdiri di hadapan Allah
dalam shalat untuk meminta anugerah dan kebaikan dariNya, benar-benar pantas untuk tidak
mampu berdiri kokoh pada momen-momen kebaikan, persatuan, kemenangan dan kekuatan.
Karena semua itu hanya bisa datang dari Allah semata. Maka, apabila kita memperbaiki
hubungan kita dengan Allah, niscaya Allah akan memperbaiki hubungan kita dengan sesama
manusia.

Sesungguhnya kehancuran dan kemunduran peradaban yang terjadi di berbagai belahan bumi,
berpangkal pada kejatuhan anak-anaknya di lembah-lembah pelanggaran hukum dan keengganan
melaksanakan kewajiban yang paling wajib, yaitu shalat.

Hanya Allah, Dzat yang pantas kita minta untuk memperbaiki kondisi umat Islam di mana saja,
memberi mereka pemahaman yang benar tentang agamanya, menjadikan ummat ini sebagai
penjaga syi’ar-syi’ar agama dan penegak tiang agama sebaik-baiknya.
.‫حِكْيِم‬َ ‫ت َوالّذْكِر اْل‬ ِ ‫ َوَنَفَعِنْي َوِإّياُكْم ِبَما ِفْيِه ِمَن اْلآَيا‬،‫باَرَك ال ِلْي َوَلُكْم ِفي اْلُقْرآِن اْلَكِرْيِم‬
‫ َفاْسَتْغِفُرْوُه ِإّنُه ُهَو‬،‫ب‬
ٍ ‫سِلِمْيَن ِمْن ُكّل َذْن‬ ْ ‫ساِئِر اْلُم‬
َ ‫ل ِلْي َوَلُكْم َوِل‬ َ ‫َأُقْوُل َقْوِلْي هذا َوَأْسَتْغِفُر ا‬
‫اْلَغُفْوُر الّرِحْيُم‬
Khutbah Kedua

‫ت َأْعَماِلَنا َمْن‬
ِ ‫سَنا َوَسّيَئا‬
ِ ‫ل ِمنْ ُشُرْوِر َأْنُف‬
ِ ‫سَتْغِفُرُه َوَنُعْوُذ ِبا‬
ْ ‫سَتِعْيُنُه َوَن‬
ْ ‫حَمُدُه َوَن‬
ْ ‫ل َن‬
ِ ِ‫حْمَد‬َ ‫ِإّن اْل‬
‫حّمًدا‬َ ‫ل َوَأْشَهُد َأّن ُم‬
ُ ‫ي َلُه َأْشَهُد َأْن َل ِإلَه ِإّل ا‬َ ‫ل َهاِد‬ َ ‫ضِلْل َف‬ْ ‫ضّل َلُه َوَمْن ُي‬ ِ ‫ل ُم‬َ ‫ل َف‬
ُ ‫َيْهِدِه ا‬
،‫َعْبُدُه َوَرُسْوُلُه وبعد‬
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Bertakwalah kepada Allah . Bersungguh-sungguhlah dalam mendirikan shalat. Karena shalat
adalah cahaya di muka bumi dan simpanan di atas langit. Iqamah (mendirikan) berarti
melaksanakan secara sempurna dan penuh perhatian, lebih tinggi daripada sekedar melaksanakan
shalat.

Sesungguhnya tanggung jawab orang-orang yang shalat benar-benar besar. Baik terhadap diri
sendiri dalam bentuk perhatian yang sungguh-sungguh, atau terhadap orang lain dengan
menyampaikan perintah dan nasihat kepada mereka tentang shalat. Para imam masjid juga
memikul amanah. Mereka harus melaksanakan dengan cara memberikan perhatian yang serius
terhadap shalat dan memberikan pemahaman tentang hukum-hukum dan hikmahnya sesuai
dengan sabda Nabi ,
“Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat.” (HR.Bukhari)

Juga harus ada kerjasama antara para imam dan para makmum. Di mana masing-masing
melaksanakan misinya untuk mewujudkan hasil-hasil yang diharapkan, dengan izin Allah.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,


Satu catatan penting dalam masalah ini, yaitu masalah-masalah yang longgar dan menjadi
perbedaan pendapat di antara para ulama besar, terutama masalah-masalah yang disunnahkan
atau dianjurkan. Hal itu sama sekali tidak patut menjadi pemicu perpecahan, perseteruan, dan
permusuhan di antara sesama muslim. Juga tidak patut disikapi dengan keras atau ditolak dengan
tegas. Hal ini tidak bertentangan dengan komitmen terhadap Sunnah.

Bertakwalah kepada Allah  dan pahamilah hukum-hukum agama anda secara mendalam.

‫سِليًم‬
ْ ‫صّلوا َعَلْيِه َوَسّلُموا َت‬
َ ‫صّلوَن َعَلى الّنِبّي َيآَأّيَها اّلِذيَن َءاَمُنوا‬ َ ‫لِئَكَتُه ُي‬
َ ‫ِإّن الَ َوَم‬
،‫يى آلِ ِإْبَراِهْييَم‬ ‫ َوَعَلي‬،‫ت َعَلى ِإْبَراِهْيَم‬ َ ‫صّلْي‬ َ ‫ َكَما‬،‫حّمٍد‬ َ ‫ َوَعَلى آِل ُم‬،‫حّمٍد‬ َ ‫صّل َعَلى ُم‬ َ ‫اللهُّم‬ّ
،‫ت َعَلى ِإْبَراِهْيييَم‬َ ‫ َكَما َباَرْك‬،‫حّمٍد‬ َ ‫ َوَعَلى آِل ُم‬،‫حّمٍد‬ َ ‫ اللُّهمّ َباِرْك َعَلى ُم‬.‫جْيٌد‬ ِ ‫ك َحِمْيٌد َم‬ َ ‫ِإّن‬
.‫جْيٌد‬
ِ ‫ك َحِمْيٌد َم‬ َ ‫ ِإّن‬،‫َوَعَلى آِل ِإْبَراِهْيَم‬
‫سَنا َوِإْن َلْم َتْغيِفيْر َلَنا َوَتْرحَْمَنييا‬ َ ُ‫ َرّبَنا َظَلْمَنا َأْنف‬،‫ت‬ِ ‫سِلَما‬ ْ ‫سِلِمْيَن َواْلُم‬
ْ ‫اللهُّم اْغيِفيْر ِلْلُم‬ ّ
.‫ب الّناِر‬َ ‫سَنًة َوِقَنا َعَذا‬
َ ‫سَنًة َوِفي اْلآِخَرِة َح‬ َ ‫ َرّبَنا آِتَنا ِفي الّدْنَيا َح‬،‫خاِسِرْيَن‬ َ ‫َلَنُكوَنّن ِمَن اْل‬
.‫ف َواْلِغَنى‬ َ ‫ك اْلُهَدى َوالّتَقى َواْلَعَفا‬ َ ‫سَأُل‬
ْ ‫اللهُّم ِإّنا َن‬
ّ
.‫ك‬َ ‫خِط‬
َ‫ي‬ ‫يِع َسي‬ ‫ك َوَجِمْيي‬ َ ‫جاَءِة ِنْقَمِت‬
َ ‫ك وَُف‬ َ ‫حّوِل َعاِفَيِت‬ َ ‫ك َوَت‬َ ‫ك ِمْن َزَواِل ِنْعَمِت‬ َ ‫اللهُّم ِإّنا َنُعْوُذ ِب‬
ّ
.‫ب اْلَعاَلِمْيَن‬
ّ ‫حْمُد ل َر‬ َ ‫َوآِخُر َدْعَواَنا َأِن اْل‬
* Sumber: http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatkhutbah&id=233. Dikutip dari Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan
Setahun Edisi pertama, ElBA Al-Fitrah, Surabaya. Dengan beberapa penyesuaian.