Anda di halaman 1dari 15

1

‫خذ عقيدتك من القرآن و السنة‬


Al-Ustadz Muhammad Jamîl Zainu
(Penyunting : Debby Nasution)

Bab I. Hak Allâh Atas Manusia


Dari Penulis Kitab :
1. Tanya : Untuk apakah Allâh menciptakan kita.?
Jawab : Allâh menciptakan kita untuk ber’ibadah kepada-Nya dengan tidak
menyekutukan sesuatupun kepada-Nya, dalilnya firman Allâh Ta’ala :

٦٥ - ‫اْلنْس اَِّْل لِيَ ْعبُ ُد ْو ِن‬


ِْ ‫اْلِ َّن و‬
َ ْ ‫ت‬ ُ ‫َوَما َخلَ ْق‬
َ
Artinya : Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka
ber’ibadah kepada-Ku. [QS Adz-Dzariyat/51 : 56].
Penjelasan :
1, Melalui ayat ini Allâh Ta’ala mengenalkan sifat Rubbubiyyah-Nya “Sebagai
Pencipta Jin & Manusia” dan selanjutnya menegaskan tujuan diciptakan
keduanya untuk “ber-’Ibadah – Menyembah – Mengabdi” kepada-Nya.
2, Kata “Menciptakan - ‫ ” خلق‬artinya : “Mengadakan sesuatu dari yang tidak
ada”. Ini merupakan perbuatan Allâh yang luar biasa, yang ditetapkan menjadi
salah satu dari nama-nama Allâh : “Al-Khaliq" - ‫ ألخخخخخخخلخخخق‬artinya “Yang Maha
Pencipta”.
3, Jin diciptakan-Nya dari Nyala Api [QS Ar-Rahman/55 : 15]; diciptakan sebelum
Manusia [QS Al-Hijr/15 : 27]; Jin tidak tahu yang ghaib [QS Saba’/34 : 14]; Jin ada
yang iman dan ada yang kafir [QS Al-Jin/72 : 11] dan Iblis (la’natullâh ‘alaihi)
berasal dari golongan Jin [QS Al-Kahfi/18 : 50].
4, Manusia “Al-Ins” : ‫ أالنس‬-- ialah makhluk berikut setelah Jin yang diciptakan
Allâh. Dia diciptakan dari “Tanah Kering dan Tanah Hitam” [QS Al-Hijr/15 : 26;

‫خذ عقيدتك من القرآن و السنة‬/M Jamil Zainu/bab 1/Penjelasan : Toto S


2

Al-mu’minun/23 : 12]. Dia diproses lewat Air Mani [QS Al-Mu’minun/23 : 12-14].
Dan dia adalah makhluk yang paling indah [QS At-Tin/95 : 4].*1
*1 : Diambil dari Makalah Tujuan Penciptaan Manusia Menurut Al-Qur-
ânulkarîm; oleh Debby Nst.

Dari Penulis Kitab :


Dan sabda Rasûlullâh saw.:

)‫(متفق عليه‬... ‫اهلل َعلَى الْعِبَ ِاد أَ ْن يَ ْعبُ ُد ْوهُ َوَْل يُ ْش ِرُك ْوا بِِه َشْيئًا‬
ِ ‫ ح ُّق‬...
َ
Artinya : “Haq Allâh atas hamba-Nya ialah : Mereka harus ber’ibadah kepada-
Nya, dan mereka tidak boleh menyekutukan sesuatupun kepada-Nya
[Muttafaqun ‘alaih].

Penjelasan :
1, Hadits ini menegaskan haq Allâh sebagai ‫“ ألخلق‬Yang Maha Pencipta” DIA
meminta dari hamba-Nya untuk ber’Ibadah kepada-Nya dan dengan “melarang
syirik sedikitpun”.
‘Ibadah dari segi bahasa ialah :
‫اعةُ َو التَّ َذلُّ ُل‬
َ َّ‫ الط‬- Ta’at dan Merendahkan diri
[Tafsir Surat Al-Fatihah; oleh Debby Nst]
Syirik ialah : memalingkan ‘Ibadah kepada selain Allâh, sikap itu yang menjadi
sumber hancurnya (rusak) ‘amal seseorang dan membuat pelakunya dimasukan
ke dalam neraka. [QS Al-An-‘am/6 : 88]
2, Allâh Ta’ala akan menghapus segala ‘amal seseorang yang berbuat syirik,
sebagaimana firman-Nya :

‫ك َولَتَ ُُونَ َّن ِم َن‬ ِ َ ِ‫ك وإِ ََل الَّ ِذين ِمن قَبل‬ ِ ‫ولََق ْد أ‬
ِ‫ُوحي إ‬
َ ‫ك لَئ ْن أَ ْشَرْك‬
َ ُ‫ت لَيَ ْحبَطَ َّن َع َمل‬ ْ ْ َ َ َ ‫ي‬
َْ‫ل‬ َ َ
‫ين‬ِ
‫ر‬ ِ ‫اْل‬
‫اس‬
َ َْ

‫خذ عقيدتك من القرآن و السنة‬/M Jamil Zainu/bab 1/Penjelasan : Toto S


3

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang


sebelummu, ‘Jika kamu mempersekutukan (Allâh), niscaya akan hapuslah
amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-
Zumar [39]: 65)

Berikut ini hadits Nabi saw berisi dialog antara Allâh Ta’ala dan seorang
penghuni neraka. Dari Anas bin Malik ra, Rasûlullâh saw bersabda:
‫ض ِم ْن‬ ِ
ِ ‫ك َما ِف اْلَْر‬ َ َ‫ لَ ْو أَ َّن ل‬: ‫قول اهللُ تَ َع َاَل ِلَ ْه َو ِن أَ ْه ِل النَّا ِر َع َذابًا يَ ْوَم الْقيَ َام ِة‬
ُ َ‫ي‬
، ‫ك أَ ْه َو َن ِم ْن َه َذا‬
َ ‫ت ِمْن‬ ‫د‬
ْ ‫ر‬ َ
‫أ‬ : ‫ول‬ ُ ‫ق‬ُ ‫ي‬ ‫ف‬
َ ، ‫م‬ ‫ع‬ ‫ن‬
َ : ‫ل‬ُ ‫و‬ ‫ق‬
ُ ‫ي‬ ‫ف‬
َ ‫؟‬ ِِ‫َشي ٍء أَ ُكْنت تَ ْفتَ ِدي ب‬
‫ه‬
ُ َ َ َْ ْ َ َ ْ
‫ت َّإْل أَ ْن تُ ْش ِرَك ِب‬ َ ‫ فَأَبَْي‬، ‫ َّأْل تُش ِرَك ِب َشْيئًا‬: ‫آد َم‬ َ ‫ب‬ ِ ‫ُْل‬ ُ ‫ت ِف‬ َ ْ‫َوأَن‬
Artinya : “Dikatakan kepada seorang penduduk neraka yang paling ringan
adzabnya di hari kiamat, ‘Andai engkau memiliki semua yang ada di bumi
apakah engkau akan menebus dengannya (agar keluar dari neraka)? Ia
menjawab, ‘Ya.’ Maka Allâh berfirman, ‘Sungguh Aku menghendaki darimu
yang lebih mudah dari hal itu, sejak engkau masih didalam tulang sulbi Adam,
yaitu engkau tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, namun engkau
enggan, dan engkau menyekutukan-Ku” (Hr. Bukhari no. 6557, Muslim no. 2805).
[From <https//muslim.or.id/29755-seluk-beluk-neraka.html>]

Dari Penulis Kitab :


2. Tanya : Apakah ‘Ibadah itu.?
Jawab : ‘Ibadah adalah isim (nama) bagi segala sesuatu yang disukai Allâh
berupa ucapan dan perbuatan, yang seperti : berdo’a, shalat, khusyu’ dan lain-
lain.
Firman Allâh Ta’ala :

‫ي‬ ِ ِّ ‫قُل اِ َّن ُ ََلِِت ونُس ُِي وََْمياي وَمََ ِاِت لِّٰل ِه ر‬
٢٥١ - َ ْ ‫ب الْ ّٰعلَم‬َ ْ ََ َ َ ْ ُ َْ َ ْ
Artinya : “Katakanlah : sesungguhnya shalatku, ‘ibadahku, hidup dan matiku
(hanyalah) untuk Allâh Rabbul-‘âlamîn. [QS. Al-An’âm/6 : 162].

‫خذ عقيدتك من القرآن و السنة‬/M Jamil Zainu/bab 1/Penjelasan : Toto S


4

Penjelasan :
1, Allâh memerintahkan kepada Nabi-Nya menyelisihi sikap ber’ibadah kaum
musyrik Makkah. Mereka menyembah selain Allâh dan menyembelih (hewan)
menyebut selain nama-Nya. Dan selanjutnya menegaskan shalat hanya untuk
Allâh dan menyembelih atas nama-Nya semata. Sebagaimana disebutkan surat
Al-Kautsar ayat 2. [Tafsir Ibnu Katsir]
2, Memahami makna “hidup dan matiku untuk Allâh” sebagaimana hadits Nabi
saw :
Dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah yang berkata, “Tatkala kami duduk-
duduk di sisi Rasûlullâh tiba-tiba ada seorang pemuda yang keluar dari jalan
bukit. Ketika kami memperhatikannya maka kamipun berkata, “Kalau saja
pemuda ini menggunakan kekuatan dan masa mudanya untuk berjihad di jalan
Allâh?!”
Apa yang kami ucapkan ternyata didengar oleh Rasûlullâh saw dan Beliau pun
bersabda :
‫ َوَم ْن َس َعى َعلَى‬،‫يل اللَّ ِه إِْل َم ْن قُتِ َل ؟ َم ْن َس َعى َعلَى َوالِ َديْ ِه فَِفي َسبِ ِيل اللَّ ِه‬
ُ
ِ‫وَما َسب‬
َ
ِ ُ‫ ومن سعى م َُاثِرا فَِفي سبِ ِيل الطَّاغ‬،‫اهلل‬
.‫وت‬ ِ ‫ِعيالِِه فَِفي سبِي ِل‬
َ ً ُ َ َ ْ َ َ َْ َ
“Memangnya jihad di jalan Allâh itu hanya yang terbunuh (dalam perang) saja?
(padahal) Siapa saja yang bekerja untuk menghidupi orang tuanya maka dia di
jalan Allâh, siapa yang berkerja menghidupi keluarganya maka dia di jalan
Allâh, tapi siapa yang bekerja untuk bermewah-mewahan (memperbanyak
harta) maka dia di jalan thaghut.” [HR Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath
jilid 4 hal. 284, no 4214]

Hadits dengan redaksi lain (kalimat akhirnya):


‫َوَم ْن َس َعى َعلَى نَ ْف ِس ِه لِيُعِ َّف َسا فَِفي َس بِ ِيل اهللِ َوَم ْن َس َعى َعلَى التَّ َُاثُِر فَ ُس َو ِف َس بِ ِيل‬
ِ َ‫الشَّيط‬
‫ان‬ ْ
“Siapa yang bekerja menghidupi dirinya sendiri agar terhormat (tidak meminta-
minta) maka dia di jalan Allâh, dan siapa yang bekerja untuk memperbanyak
harta maka dia di jalan setan.” [HR Ath-Thabarani dishahihkan oleh Al-Albani
dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 2232 dan 3248].
From <http//fimadani.com/mencari-nafkah-adalah-jihad-di-jalan-Allâh/>
‫خذ عقيدتك من القرآن و السنة‬/M Jamil Zainu/bab 1/Penjelasan : Toto S
5

Dari Penulis Kitab :


Rasûlullâh saw. bersabda : Telah berfirman Allâh Ta’ala :

‫ (حديث قدس روه‬... ‫ت َعلَ ِيه‬ ِ َ ِ‫ب إ‬ ٍ ِ ِ َ ِ‫وما ت َقَّرب إ‬


ْ ‫َل َمَّا افْ تَ َر‬
ُ ُ َّ َّ ‫َح‬
َ ‫َل َعْبدي ب َش يء أ‬
َّ َ َ َ َ
.)‫البخاري‬
Artinya : “Dan tidak bertaqarrub (mendekat) hamba-Ku kepada-Ku dengan
sesuatu yang Aku sukai melainkan apabila ia melaksanakan segala sesuatu yang
Aku wajibkan kepada-Nya...” [Hadits Qudsi, Riwayat Al-Bukhârî]

Penjelasan :
1, Pendekatan (Qurban) seorang hamba kepada Allâh, sebagaimana
diungkapkan oleh Al-Imâm Ibnul-Atsîr :

‫لصالِ ِح‬ ِّ ‫ب بِا‬


َّ ‫الذ ْك ِر َو الْ َع َم ِل ا‬ ِ ِِ ِ ِ
َ ‫اَلْ ُمَر ُاد ب ُقْرب الْ َعْبد م َن اهلل تَ َع َاَل اَلْ ُقْر‬
Artinya : “Dan yang dimaksud dengan dekatnya seorang hamba dari Allâh
Ta’ala ialah dekat dengan dzikir dan ‘amal shâlih”

ِ ِ ِ ِ ِ‫َن َذل‬ ِ َُ ‫الذ ِت و الْم‬


َ ‫ َواهللُ يَتَ َع َاَل َع ْن َذل‬.‫َا َس ِام‬
‫ك‬ َ َّ ‫ان ِل‬
ْ ‫ك م ْن ُ َفات ْال‬ َ َ َّ ‫ب‬ ُ ‫َْل قُ ْر‬
‫َّس‬
ُ ‫َو يَتَ َقد‬
Artinya : “Bukan dekatnya Dzât (Allâh) dan Tempat; karena hal itu merupakan
sifat jasmani (makhluk). Dan Allâh memuliakan Diri-Nya dari hal seperti itu dan
juga mensucikan Diri-Nya”

‫ب نِ َع ِم ِه َو أَلْطَافِ ِه ِمْنهُ َو بِِّرِه َو إِ ْح َس انِِه إِلَْي ِه َو‬ ‫ر‬ ‫ق‬


ُ
ُ ْ َْ َ
ِ ‫اهلل ِمن الْعب‬
‫د‬ ِ ‫والْمراض بِ ُقر ِب‬
ْ ُ َُ َ
‫ض َم َو ِاهبِ ِه َعلَْي ِه‬ ‫ي‬ ‫ف‬
َ
ُ ْ َ ُ ‫و‬ ‫ه‬ ‫د‬َ ‫ن‬
ْ ‫ع‬ ِ ‫تَراد‬
ِ ‫ف ِمنَنِ ِه‬
َُ
Artinya : “Dan yang dimaksud dekatnya Allâh dari seorang hamba, ialah
dekatnya berbagai nikmat-Nya serta pertolongan dan taufiq dari-Nya, dan

‫خذ عقيدتك من القرآن و السنة‬/M Jamil Zainu/bab 1/Penjelasan : Toto S


6

kebajikan-Nya serta kebaikan-Nya kepadanya (hamba), serta berturut-turut


kebajikan-Nya disisi-Nya serta berlimpah pemberian-Nya atasnya (hamba)”
(An-Nihâyah fî Gharîbil Hadîts Wal-Atsar jilid IV hal.32)
[Diambil Makalah Makna Qurban; oleh Debby Nst]
2, Seorang hamba diminta mendekati Allâh dengan cara memenuhi hak-Nya
melalui ‘ibadah-‘ibadah wajib dan tanpa berbuat syirik sedikitpun. Selain itu
wajib memenuhi hak (kewajiban) lainnya seperti hak orang tua, hak kerabat,
hak orang miskin dll, sebagaimana firman Allâh [QS An-Nisa/4 : 36].
3, Setiap hamba yang menerima perintah Allâh akan menjadi 3 (tiga) Tingkatan,
sebagaimana tertulis dalam kitab-Nya [QS Fathir/35 : 32].

Dari Penulis Kitab :


3. Tanya : Bagaimana cara kita ber’ibadah kepada Allâh..?
Jawab : Dengan cara melaksanakan apa yang Allâh dan Rasul-Nya perintahkan
kepada kita. Allâh Ta’ala berfirman :

َّ ‫يّٰاَيُّ َسا الَّ ِذيْ َن اّٰ َمنُ ْوا اَ ِطْي عُوا ّٰاللهَ َواَ ِطْي عُوا‬
٣٣ - ‫الر ُس ْوَل َوَْل تُْب ِطلُ ْوا اَ ْع َمالَ ُُ ْم‬
Artinya :”Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allâh dan taatlah
kepada Rasul, dan janganlah kalian merusak ‘amal-‘amal kalian” [QS
Muhammad/47 : 33].
Penjelasan :
1, Ta’at kepada Allâh dan Ta’at kepada Nabi saw menjadi dasar syarat
diterimanya ‘amal ‘ibadah. Ta’at dengan pengertian sesuai ketentuan (ada
perintahnya) dengan niyat ikhlash dan ikutan yang sempurna.
2, Maksud “Jangan merusak ‘amal-‘amal kalian” ialah dengan dosa-dosa besar
dan perbuatan keji [Ibnu Katsir]. Sebagaimana dalam dua ayat berikut ini :

‫إِ ْن ََْتتَنِبُوا َكبَائَِر َما تُْن َس ْو َن َعْنهُ نُ َُفِّْر َعْن ُُ ْم َسيِّئَاتِ ُُ ْم َونُ ْد ِخْل ُُ ْم ُم ْد َخ ًَل َك ِرمًا‬

‫خذ عقيدتك من القرآن و السنة‬/M Jamil Zainu/bab 1/Penjelasan : Toto S


7

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu
mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu
yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (QS. An-
Nisa’: 31)

‫ك َو ِاس ُع الْ َم ْغ ِفَرِة‬


َ َّ‫ش إَِّْل اللَّ َم َم إِ َّن َرب‬ ِ ‫اْل ِْْث والْ َفو‬
‫اح‬
َ َ َ ِْ ‫ر‬ِ‫الَّ ِذين ََيتَنِبو َن َكبائ‬
ََ ُْ َ
“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang
selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabbmu maha luas
ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 32).

Al-lamam yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah dosa-dosa kecil. Ini berarti
dosa kecil dapat terhapus di antaranya karena menjauhi dosa-dosa besar.
Pengertian al-lamam lainnya adalah dosa yang telah diperbuat seseorang baik
dosa besar maupun dosa kecil lalu ia bertaubat darinya. (Lihat At-Tashil li Ta’wil
At-Tanzil – Tafsir Juz’u Adz-Dzariyat, hlm. 188. Juga lihat Ad-Durr Al-Mantsur fi
At-Tafsir bi Al-Ma’tsur, 14:36-41)
From <https//belajarislam.com/tuntunan/hadits/5-dosa-besar-al-kabair-yang-harus-dijauhi/>

Dari Penulis Kitab :


Dan Rasûlullâh saw bersabda :

)‫ (رواه مسلم‬..ٌّ‫س َعلَْي ِه أ َْمُرنَا فَ ُس َو َرد‬ ‫ي‬َ‫ل‬ ‫َل‬


ً ‫م‬ ‫ع‬
َ ْ َ َ َ َْ
َ ‫ل‬‫م‬ِ ‫من ع‬
Artinya : “Dan siapa saja yang ber-‘amal tanpa petunjukku maka ‘amal itu
ditolak”..[HR. Muslim].
Penjelasan :
1, Hadits diatas menegaskan bahwa segala ‘ibadah mesti sesuai dengan perintah
Nabi saw. ‘Ibadah yang dimaksud antara lain Shalat, Shaum, Haji/’Umrah, Dzikir,
Zakat, Qurban. (dan ‘ibadah lainnya).
Sebuah Hadits Nabi saw tentang ‘ibadah Qurban :
Beliau saw bersabda,

‫خذ عقيدتك من القرآن و السنة‬/M Jamil Zainu/bab 1/Penjelasan : Toto S


8

‫الص َلَِة‬
َّ ‫ك قَ ْب َل‬
َ ‫ َوَم ْن نَ َس‬، ‫ك‬
َ ‫ُّس‬
ُ ‫اب الن‬
َ َُ
َ ‫ك نُ ُس َُنَا فَ َق ْد أ‬ َ ‫ُ لَّى‬
َ ‫ُ َلَتَنَا َونَ َس‬ َ ‫َم ْن‬
ِ َّ ‫فَِإنَّه قَبل‬
ُ‫ك لَه‬
َ ‫ َوْلَ نُ ُس‬، ‫الصَلَة‬ َْ ُ
Artinya : “Siapa yang shalat seperti shalat kami dan menyembelih kurban seperti
kurban kami, maka ia telah mendapatkan pahala kurban. Barangsiapa yang
berkurban sebelum shalat Idul Adha, maka itu hanyalah sembelihan yang ada
sebelum shalat dan tidak teranggap sebagai kurban.”
Abu Burdah yang merupakan paman dari Al Bara’ bin ‘Azib dari jalur ibunya
berkata,

‫َن الْيَ ْوَم يَ ْوُم أَ ْك ٍل‬


َّ ‫ت أ‬ ِ َّ ‫ فَِإ ِّْ نَس ُْت َش اتِى قَبل‬، ‫ول اللَّ ِه‬
ُ ْ‫ َو َعَرف‬، ‫الص َلَة‬ َْ ُ َ َ ‫يَا َر ُس‬
ِ ِ
‫ت‬ُ ْ‫ت َش اتى َوتَغَدَّي‬ ُ َْ ‫ فَ َذ‬، ِ ‫ت أَ ْن تَ ُُو َن َش اتى أ ََّوَل َما يُ ْذبَ ُح ِ بَْي‬ ْ ‫ َوأ‬، ‫َو ُش ْر ٍب‬
ُ ‫َحبَْب‬
َّ ‫قَ ْب َل أَ ْن آتِ َى‬
‫الصَلََة‬
“Wahai Rasûlullâh, aku telah menyembelih kambingku sebelum shalat Idul
Adha. Aku tahu bahwa hari itu adalah hari untuk makan dan minum. Aku senang
jika kambingku adalah binatang yang pertama kali disembelih di rumahku. Oleh
karena itu, aku menyembelihnya dan aku sarapan dengannya sebelum aku
shalat Idul Adha.”
Rasûlullâh saw pun bersabda,

‫ك َشاةُ ََلْ ٍم‬


َ ُ‫َشات‬
“Kambingmu hanyalah kambing biasa (yang dimakan dagingnya, bukan
kambing kurban).” (HR. Bukhari no. 955)

Dari Penulis Kitab :


4. Tanya : Apakah kita ber-‘ibadah kepada Allâh dengan rasa takut dan
berharap.?
Jawab : Benar, kita harus seperti itu, karena Allâh Ta’ala berfirman :
‫حها و ْادع ُْوهُ َخ ْو ًفا َّو َطمعً ا اِنَّ رحْ م َ ه‬
ِٰ ‫ت‬
‫ّللا‬ َ َ َ َ َ ِ ‫ض َبعْ دَ ِاصْ ََل‬ِ ْ‫َو َال ُت ْفسِ ُد ْوا فِى ْاالَر‬
َ ‫َق ِريْبٌ م َِّن ْالمُحْ سِ ِني‬
٦٥ - ‫ْن‬
‫خذ عقيدتك من القرآن و السنة‬/M Jamil Zainu/bab 1/Penjelasan : Toto S
9

Artinya : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan)


dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap.
Sesungguhnya rahmat Allâh sangat dekat kepada orang yang berbuat
kebaikan.” [QS Al-A’râf/7 : 56]

Penjelasan :
1, Berdo’a merupakan salah satu ‘ibadah dan itu hanya boleh ditujukan kepada
Allâh semata. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allâh Ta’ala :
‫ه‬ ‫وَّ اَنَّ ْالم هس ه‬
ِ ٰ ‫لِل َف ََل َت ْدع ُْوا َم َع‬
‫ّللا اَ َح ًدا‬ ِ ٰ ِ َ‫جد‬
ِ َ
Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allâh. Maka janganlah kamu
menyembah apa pun di dalamnya selain Allâh [QS Jin/72 : 18]

Qatadah berkata : “Orang Yahudi dan Nasrani ketika memasuki Gereja atau Kuil,
mereka menyekutukan Allâh Ta’ala, Maka Allâh memerintahkan Nabi-Nya untuk
mengesakan-Nya semata” [Ibnu Katsir]

Memanjatkan do’a ialah ibadah yang dicintai oleh Allâh Ta’ala, dan tidak ada
sesuatupun yang lebih dimuliakan-Nya selain do’a, sebagaimana dalam sebuah
hadits,
Dari Abî Hurairah dari Nabi saw :
ِ ‫الدع‬ ِ
‫اء‬ َ ُّ ‫يس َش ْي ٌء أَ َك َرَم َعلَى اهلل تَ َعا لَى م َن‬
َ َ‫ل‬
Artinya : Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allâh, dari selain do’a.
[HR Ahmad, At-Tirmidzî, Ibnu Mâjah dan Al-Bukhârî dalam “Adabul-mufrad”;
Syarah Ushul Ats-Tsalatsa oleh Muhammad bin Hasan, hal 193]

Do’a atau permohonan yang disampaikan (seseorang) kepada Allâh adalah


sebuah wujud dari cita-cita atau keinginan. Dan manusia yang paling mulia cita-
citanya adalah orang mu’min, yaitu mereka yang mempunyai cita-cita terhadap
kehidupan dunia dan akhiratnya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allâh
Ta’ala :

ِ ِ ّٰ ْ ِ‫وِمْن سم َّمن يَّ ُقو ُل ربَّنَا اّٰتِنَا ِ الدُّنْيا حسنَةً َّو‬


َ ‫اْلخَرِة َح َسنَةً َّوقنَا َع َذ‬
‫اب النَّا ِر‬ ََ َ َ ْ ْ ُْ َ

‫خذ عقيدتك من القرآن و السنة‬/M Jamil Zainu/bab 1/Penjelasan : Toto S


10

Artinya : “Dan di antara mereka ada yang berdo’a, “Ya Rabb kami, berilah
kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari
adzab neraka.” [QS Al-Baqarah/2 : 201]
(Tafsir Tematik Metoda Mencapai Kebahagiaan Dunia dan Akhirat; Debby Nst,
hal 13).

2, Firman Allâh di Surat Al-A’râf/7 : 56, diantaranya menyatakan “etika berdo’a”


di hadapan Allâh. Yakni berdo’a dengan rasa takut dan harapan, yakni takut
terhadap apa yang ada disisi-Nya berupa siksa (adzab) yang menyakitkan dan
berharap memperoleh apa yang ada disisi-Nya berupa ganjaran pahala yang
besar. [Tafsir Ibnu Katsir]
Allâh Ta’ala telah memberikan contoh seorang hamba yang berdo’a
bersungguh-sungguh dengan rasa harap dan cemas diantaranya adalah nabi
Zakariyya as., yang disebutkan dalam firman-Nya :
ِ ِ‫وَزَك ِريَّا ا‬
َ ْ ‫ت َخْي ُر الْ ّٰوِرث‬
‫ي‬ َ ْ‫ن فَ ْرًدا َّواَن‬
ْ
ِ‫ب َْل تَ َذ ْر‬
ِّ ‫ر‬ ‫ه‬
َ َ ‫ب‬
‫ر‬
َّ ‫ى‬ ‫اد‬
ّٰ ‫ن‬
َ ‫ذ‬
ْ َ
89. Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “Ya Rabb-
ku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan
Engkaulah ahli waris yang terbaik.
ْ ِ ‫ُلَ ْحنَا لَهُ َزْو َاهُ اِنَّ ُس ْم َكانُ ْوا يُ ّٰس ِرعُ ْو َن‬
‫اْلَْي ّٰر ِت‬ ْ َ‫استَ َجْب نَا لَهُ َوَوَهْب نَا لَهُ ََْي ّٰي َوا‬
ْ َ‫ف‬
ِِ
‫ي‬َ ْ ‫َويَ ْدعُ ْونَنَا َرغَبًا َّوَرَهبًا َوَكانُ ْوا لَنَا ّٰخشع‬
90. Maka Kami kabulkan (doa)nya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya,
dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu
bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami
dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk
kepada Kami. [QS Al-Anbiya/21 : 89-90]

Catatan : Kata ‫َرغَبًا‬ maksudnya : “meminta, merendah dan mengharap dengan


sepenuh hati dan penuh cinta. Dan kata ‫َرَهَ َ َبًَ َ َا‬ ialah : “rasa takut, sehingga
menjauh dari yang di takuti”

‫خذ عقيدتك من القرآن و السنة‬/M Jamil Zainu/bab 1/Penjelasan : Toto S


11

Dari Penulis Kitab :


Dan Rasûlullâh saw bersabda :

)‫ (رواه أبو داود بسند صحيح‬.‫ار‬ َّ ‫َع ْوُذ بِ ِه ِم َن‬


ِ ‫الن‬ ُ ‫ َو أ‬, َ‫َسأَ ُل اهللُ اْل َجَّنة‬
ْ‫أ‬
Artinya : “Aku selalu memohon sorga kepada Allâh, dan aku pun selalu
berlindung kepada-Nya dari neraka” [HR. Abû Dâwud, dengan sanad shohih].

Penjelasan :
1, Allâh Ta’ala telah menginformasikan sifat orang beriman, mereka yang dalam
setiap do’anya mengharapkan Sorga dan terhindar dari Neraka sebagaimana
telah disebutkan dalam Firman-Nya QS Albaqarah/2 : 201. Dan Allâh juga telah
menjanjikan kepada orang mu’min laki-laki dan perempuan sorga sebagaimana
dalam surat At-taubah/9 ayat 72 :

‫ت ََْت ِر ْي ِم ْن ََْتتِ َسا ْاْلَنْ ّٰسُر ّٰخلِ ِديْ َن فِْي َسا َوَم ّٰس ُِ َن‬ ِ ِ
ٍ ‫ّٰت ا ّٰن‬
َ ‫ي َوالْ ُم ْؤمن‬
ِِ ّٰ
َ ْ ‫َو َع َد اللهُ الْ ُم ْؤمن‬
ِ ّٰ
‫ك ُه َو الْ َف ْوُز الْ َع ِظْي ُم‬ َ ‫ُ َوان ِّم َن الل ِه اَ ْكبَ ُر ّٰذل‬
ْ ‫ت َع ْد ٍن َوِر‬ ِ ‫طَيِّبةً ِف ا ّٰن‬
َ ْ َ
Artinya : “Allâh menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan
perempuan, surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di
dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga ‘Adn. Dan keridaan Allâh
lebih besar. Itulah kemenangan yang agung”.

2, Masuk surga dan selamat dari neraka merupakan puncak tertinggi dari
“hasanah fîl-âkhirat” atau “Kebahagiaan di Akhirat”. Mengenai hal ini Allâh
Ta’ala telah berfirman :

‫ُكُ ُّل َنْس َذىا قََُِٕةُ اْل َم ْو ِ ۗ َوِاَّن َمُا تَُووَّ ْو َن اُ ُج ْوَرُك ْم َي ْوَم اْل َِ َي َمُ ِة ۗ وَ َم ْن ُز ْح ِزَح َع ِن الَّنُ ِار‬
‫الد ْنَيىا ِا َّّل َمتَاعُ اْل ُغ ُرْوِر‬ُّ ُ‫واُ ْد ِخ َل اْل َجَّنةَ وَََ ْد وَ َاز ۗ و َما اْل َح َيوة‬
َ َ
Artinya : “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari
Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan
dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh
kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu. [QS Ali
Imran/3:185].

‫خذ عقيدتك من القرآن و السنة‬/M Jamil Zainu/bab 1/Penjelasan : Toto S


12

3, Sebuah hadits Nabi saw memberikan gambaran kesenangan di akhirat


dibanding kesenangan di dunia sbb :

‫صُ ُ ُ ُ ُ ُ ُُب َعُهُ ِو ْي اْلَيم َوْلَي ْن ُُر بِ َمُا‬ َّ ِ ِ


ْ ُ‫َمُا َملَُ ُل الُ ُُّد ْنَيُا و ْي ا ْ خ َ ِرة َِّل َملَُ ُل َمُا َي ْج َعُ ُل أَ َحُ ُد ُك ْم أ‬
ُ‫َي ْر ِج ُعه‬
Artinya : “Tidak ada perumpamaan dunia dibanding dengan akhirat kecuali
seperti salah seorang kalian yang mencelupkan telunjuknya ke dalam laut, maka
henndaklah ia melihat dengan apa yang kembali”
[HR Ibnu Mâjah juz II hal 1376].
Maksud hadits ini ialah : Apabila seseorang mencelupkan telunjuknya ke dalam
laut kemudian mengangkatnya, maka telunjuk itu akan meneteskan air. Nah,
setetes air itulah perumpamaan dunia dengan segala kenikmatannya.
Sedangkan lautan itu, merupakan perumpamaan kenikmatan akhirat, sebuah
perbedaan yang amat jauh.
[diambil dari buku : Tafsir Tematik Metode mencapai Kebahagiaan Dunia dan
Akhirat, hal 81-82; Debby Nasution].

4, Allâh Ta’ala dan Nabi Nya Muhammad saw telah menyampaikan kabar
mengenai Makanan dan Minuman Penduduk Neraka:
Minuman penduduk neraka adalah --air yang mendidih dan nanah--. Allâh Ta’ala
berfirman,

َ ُ‫َال َي ُذوق‬
‫ون فِي َها َبرْ ًدا َو َال َش َرابًا إِ َّال َحمِيمًا َو َغسَّا ًقا‬
“mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat)
minuman, selain air yang mendidih dan nanah” (QS. An Naba’/78 : 24-25).

Allâh Ta’ala juga berfirman,

‫َو ُسقُوا َماء َحمِيمًا َف َق َّط َع أَمْ َعاء ُه ْم‬


“Mereka (penghuni neraka) diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga
memotong usus-usus mereka” (QS. Muhammad/47 : 15).

‫خذ عقيدتك من القرآن و السنة‬/M Jamil Zainu/bab 1/Penjelasan : Toto S


13

Diantara makanan penduduk neraka adalah buah zaqqum. Allâh Ta’ala


berfirman:
ْ ْ ِ ‫ُط‬ ُ ‫الز ُّقوم َط َعا ُم ْاْلَثِيم َك ْال ُمه ِْل َي ْغلِي فِي ْالب‬
ِ ‫ون َك َغليِ ال َحم‬
‫ِيم‬ ِ ِ َّ ‫إِنَّ َش َج َر َة‬
“Sesungguhnya pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa. (Ia)
sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air
yang amat panas” (QS. Ad-Dukhan: 43-46).

Rasûlullâh saw bersabda mengenai sifat buah zaqqum,


ْ ‫وم َق َط َر‬
ْ َ‫ت في دار ال ُّد ْن َيا ْل ْف َسد‬ ْ َّ‫لَ ْو أن‬
‫أهل الدنيا‬
ِ ‫ت على‬ ِ ‫الز ُّق‬
َّ ‫قطر ًة من‬
‫َم َع ِاي َش ُه ْم‬
“Kalaulah saja setetes dari buah zaqqum menetes di dunia, niscaya akan
menimbulkan kerusakan terhadap kehidupan penduduk dunia” (HR. At Tirmidzi
no. 2585, ia berkata, “hasan shahih”).

Dari Penulis Kitab :


5. Tanya : Apakah yang dimaksud dengan Ihsan dalam ber’ibadah .?
Jawab : Ihsan adalah merasakan adanya pengawasan Allâh di dalam ber’ibadah.
Firman Allâh Ta’ala :

٨١٢ - ٰ ‫ َوتَقَلُّبَ َك فِى‬٨١٢ - ‫ىك ِحي َن تَقُو ُم‬


‫الس ِج ِدي َن‬ َ ‫ الَّ ِذي يَ ٰر‬-
Artinya : (218) “(Dia) Yang selalu melihatmu ketika engkau berdiri (shalat), (219)
“dan (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud.
[QS Asy-Syu’arâ/26 : 218-219]

Penjelasan :
1, Ihsan merupakan tingkatan tertinggi dalam beragama, yaitu penghayatan di
dalam hati adanya pengawasan Allâh di dalam ber’ibadah. “Ar-Raqîb” adalah
salah satu nama Allâh yang berarti “Yang Maha Mengawasi”. Nama Allâh yang
maha agung itu ada tertulis di tiga ayat al-Qurân yaitu : QS An-Nisa/4 : 1; QS Al-
Ahzab/33 : 52 dan QS Al-Maidah/5 : 117.
2, Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat An-Nisa/4 ayat 1, beliau
menjelaskan bahwa makna ar-Raqîb adalah Dzat Yang Maha Mengawasi semua
perbuatan dan keadaan manusia”[Tafsir Ibnu Katsir 1/596].

‫خذ عقيدتك من القرآن و السنة‬/M Jamil Zainu/bab 1/Penjelasan : Toto S


14

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata: “ar-Raqîb adalah Dzat Yang Maha


Memperhatikan dan Mengawasi semua hamba-Nya ketika mereka bergerak
(beraktifitas) maupun ketika mereka diam, (mengetahui) apa yang mereka
sembunyikan maupun yang mereka tampakkan, dan (mengawasi) semua
keadaan mereka”["Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 90)]
From <https//muslim.or.id/3994-ar-raqiib-yang-maha-mengawasi.html>

Telah ber-firman Allâh Ta’ala :

‫ّللا َوه َُو َم َع ُه ْم ا ِْذ ُي َب ِّي ُت ْو َن َما َال‬‫ه‬


ِ ٰ ‫اس َو َال َيسْ َت ْخفُ ْو َن م َِن‬
ِ ‫يَّسْ َت ْخفُ ْو َن م َِن ال َّن‬
ً ‫حي‬
‫ْطا‬ ٰ ‫ان ه‬
ِ ‫ّللاُ ِب َما َيعْ َملُ ْو َن ُم‬ َ ‫ضى م َِن ْال َق ْو ِل َو َك‬ ‫َيرْ ه‬
Artinya : “Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat
bersembunyi dari Allâh, karena Allâh beserta mereka, ketika pada suatu malam
mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridhai-Nya. Dan Allâh
Maha Meliputi terhadap apa yang mereka kerjakan”. [QS An-Nisa/4 : 108].

Dari Penulis Kitab :


Dan Rasûlullâh saw bersabda :

َ ‫اإلحْ َسانُ أَنْ َتعْ بُدَ ّللا َكأ َ َّن َك َت َراهُ َفإِنْ لَ ْم َت ُكنْ َت َراهُ َفإِ َّن ُه َي َر‬
‫ (رواه‬... ‫اك‬ ِ ...
)‫مسلم‬
Artinya : ...”Ihsan ialah jika engkau ber’ibadah kepada Allâh seolah-olah engkau
melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia
melihatmu”... [HR. Muslim].

Penjelasan :
1, Ibnu Rajab dalam kitabnya yang berjudul Jaami’ul-‘Ulum wal-Hikam (1/126)
saat mensyarah hadits ini berkata:
“Dan perkataan Beliau saw tentang penafsiran al-ihsaan : ‘engkau beribadah
kepada Allâh seakan-akan engkau melihat-Nya....dst.’; mengisyaratkan bahwa
seorang hamba beribadah kepada Allâh dengan sifat ini, yaitu ia merasakan
kedekatan Allâh, merasa ada di hadapan Allâh seolah-olah melihat-Nya. Hal itu
menghasilkan rasa takut, segan, dan mengagungkan-Nya sebagaimana terdapat
riwayat Abu Hurairah : ‘Hendaknya engkau takut kepada Allâh seakan-akan
engkau melihat-Nya’. [*1] Keadaan seperti itu juga menghasilkan ketulusan

‫خذ عقيدتك من القرآن و السنة‬/M Jamil Zainu/bab 1/Penjelasan : Toto S


15

dalam beribadah serta berusaha keras untuk memperbaiki, melengkapi, dan


menyempurnakannya”.
*1 Diriwayatkan oleh Muslim no. 10, Ishaaq bin Rahawaih dalam Musnad-nya
no. 167, dan Ibnu mandah dalam Al-Limân, 1/152.
From <http//abul-jauzaa.blogspot.com/2014/02/makna-ihsan.html>

2, Mari bersama kita memperhatikan firman Allâh berikut ini mengenai nabi
Daud as di surat Saba’/34 ayat 10-11 :

َ ‫ي َم َع ٗه َوالط َّ ْي َر ۚ َواَلَ َّنا لَ ُه ا ْل‬


‫ح ِد ْي َد‬ ْ ِ‫ال اَ ِوب‬ ۗ‫ض ا‬
ُ َ‫ًل ٰيجِب‬ ْ ‫َولَق َْد ٰاتَ ْي َنا َد ٗاو َد ِم َّنا َف‬
Artinya : “Dan sungguh, Telah Kami berikan kepada Dâwûd karunia dari Kami.
(Kami berfirman), “Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah
berulang-ulang bersamanya (Dâwûd),” dan Kami telah melunakkan besi
untuknya,”

‫ص ْير‬
ِ َ‫ملُ ْونَ ب‬
َ ‫ما تَ ْع‬ ْ ِ‫ح ۗا اِن‬
َ ِ‫ي ب‬ ‫صالِ ا‬
َ ‫ملُ ْوا‬
َ ‫اع‬
ْ ‫الس ْر ِد َو‬
َّ ‫سبِ ٰغتٍ َّو َق ِد ْر فِى‬
ٰ ‫ل‬
ْ ‫م‬
َ ‫اع‬
ْ ‫ن‬ِ َ‫ا‬
Artinya : “Buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan
kerjakanlah kebajikan (‘amal sholeh). Sungguh, Aku Maha Melihat apa yang
kamu kerjakan.”

‫خذ عقيدتك من القرآن و السنة‬/M Jamil Zainu/bab 1/Penjelasan : Toto S