Anda di halaman 1dari 13

“PERKEMBANGAN KURIKULUM DI INDONESIA

SEBELUM DAN SESUDAH OTONOMI DAERAH”

Mata Kuliah : Telaah Kurikulum dan Buku Teks

Dosen Pengampu :

Dra. Effi Aswita Lubis, M.Pd, M.Si

Choms Gary GT Sibarani, SE, SPd, M.Si, Ak, CA

Disusun Oleh : KELOMPOK 4

1. Marrysabell Natalita Sitepu 7193342026

2. Kristina Sihombing 7191142010

3. Cindy Nelly Mariska Sinaga 7193342017

DIK B REGULER

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2020
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah
yang berjudul Perkembangan Kurikulum di Indonesia Sebelum dan Sesudah
Otonomi Daerah dengan baik. Penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen
pengampu Bapak Choms Gary GT Sibarani, SE, SPd, M.Si, Ak, CA dan Ibu Dra.
Effi Aswita Lubis, M.Pd, M.Si sebagai dosen mata kuliah “Telaah Kurikulum dan
Buku Teks.
Penulis telah berusaha dengan segenap tenaga dan pikiran, tetapi karena
kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang masih sangat terbatas maka
kerendahan hati penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,
baik isi, susunan maupun tata bahasa. Walaupun demikian harapan penulis agar
makalah ini bermanfaat bagi pihak- pihak yang membacanya.
Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari semua pihak demi kesempurnaan tulisan ini. Penulis
berharapmakalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi penulis maupun
pembaca.

Medan, 17 Oktober 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................ii

Daftar Isi ...................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .....................................................................................1


B. Rumusan Masalah ................................................................................1
C. Tujuan ..................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN

A. Kurikulum Sebelum Otonomi Daerah .................................................2


B. Kurikulum Setelah Otonomi Daerah ...................................................5

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ..........................................................................................9
B. Saran ....................................................................................................9

DAFTAR PUSTAKA

iii
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan kurikulum di Indonesia sebenarnya didasari oleh
perkembangan endidikan yang ada dinegara Indonesia itu sendiri.Pada zaman
belanda telah berdiri beberapa sekolah yang telah memiliki kurikulum.
Seiring dengan berjalannya waktu kurikulum di Indonesia juga mengalami
perubahan.

Dimulai dari pendidikan yang ada dizaman belanda dimana kurikulumnya


masih bercirikan misi penjajahan belanda. Hingga perkembangan kurikulum
setelah kemerdekaan bangsa Indonesia sampai saat ini. Ada beberapa periode
yang akan dikemukakan mengenai perkembangan kurikulum yang ada
dinegeri kita ini.

B. Rumusan Masalah
 Bagaimana kurikulum di Indonesia Sebelum Otonomi Daerah?
 Bagaimana kurikulum di Indonesia Sesudah Otonomi Daerah?

C. Tujuan
 Mengetahuai Perkembangan Kurikulum di Indonesia Sebelum dan
Sesudah Otonomi Daerah
2

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kurikulum Sebelum Otonomi Daerah


Perkembangan kurikulum sebelum era otonomi daerah terdiri atas :
Kurikulum 1947, Kurikulum 1964, Kurikulum 1968, Kurikulum 1973
( Proyek Perintis Sekolah Pembangunan), Kurikulum 1975, Kurikulum 1984,
Kurikulum 1994, dan Kurikulum SMK 1999 (Kurikulum 1994 yang
disempurnakan).

a.   Kurikulum 1947


Kurikulum 1947 merupakan kurikulum pertama yang lahir pada
masa kemerdekaan, memakai istilah leer plan (Bahasa Belanda), yang
artinya rencana pelajaran. Disebut dengan nama Rentjana Pelajaran
Terurai Sekolah Dasar. Rasionalnya, pada waktu itu, pendidikan di
Indonesia maasih dipengaruhi oleh sistem pendidikan kolonial Belanda
dan Jepang sehingga dapat dikatakan hanya meneruskan yang pernah
digunakan sebelumnya. Asas pendidikan adalah pancasila. Rencana
Pelajaran Terurai sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda.
Oleh karena itu, suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam
semangat juang merebut kemerdekaan. Menurut Sutarto dkk, (2013)
pendidikan sebagai development, bertujuan untuk membentuk karakter
manusia Indonesia yang merdeka, berdaulat, dan sejajar dengan bangsa
lain di muka bumi.

b.   Kurikulum 1964


Pada tahun 1964, pmerintah menyempurnakan kurikulum 1947
dengan nama Rentjana Pendidikan Sekolah Dasar 1964. Rasionalnya,
pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan
akademik serendah-rendahnya  jenjang Sekolah Dasar sehingga
pengajaran dipusatkan pada program  Pancawardhana yang meliputi
pengembangan  daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Hamalik,
dalam Sutarto, dkk, 2013). Mata pelajaran diklasifikasi dalam lima
kelompok bidang studi, yaitu moral, kecerdasan, emosional/artistik,
keterampilan, dan jasmani. Pendidikan dasar (Sekolah Dasar) lebih
menekankan pada pengetahuyan dan kegiatan praktis (fungsional).
3

c.  Kurikulum 1968


Pada tahun 1968, pemerintah menyempurnakan kurikulum 1964
dengan kurikulkum baru yang diberi nama Kurikulum 1968.
Rasionalnya, kurikulum 19 dicitrakan sebagai produk Orde Lsamas
(Tualeka,2013), perlu perubahan struktur kurikulum pendidikan, dari
Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar,
dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari
perubahan orientasi pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Kurikulum 1968 bertujuan membentuk menjadi manusia Pancasila sejati,
kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan
jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan
diarahkan pada kegiatan memperingati kecerdasan dari keterampilan,
serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.

d.  Kurikulum 1973 ( Proyek Perintis Sekolah Pembangunan)


Pada tahun 1973 pemerintah mengadakan Proyek Perintis Sekolah
Pmbangunan (PPSP) diseluruh IKIP negeri di Indonesia, sebagai sekolah
laboratorium. Dengan adanya PPSP,  sebelum kebijakan di bidang
pendidikan didesiminasikan secara nasional, terlebih dahulu
diterapkan/dirintis secara terbatas (pilot projek) di sekolah-sekolah
laboratorium. Oleh karena itu, kemudian dikembangkan Kurikulum PPSP
1973. Rasionalnya, untuk meningkatkan mutu pendidikan, proses belajar-
mengajar perlu menerapkan sistem belajar tuntas dan maju berkelanjutan
melalui sistem modul (Soedijarto, 1975). Hasil dari rintisan ini sangat
menggembirakan, namun oleh pengembilan kebijakan pada waktu itu,
dianggap terlalu mahal biayanya sehingga tidak layak untuk
didesiminasikan secara nasional.

e.  Kurikulum 1975


Pada tahun 1975, pemerintah mengembangkan kurikulum 1975.
Rasionalnya, menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efesien dan
efektif, yang dipengaruhi oleh pengaruh konsep di bidang manajemen,
yaitu management by objective (MBO) yang terkesan pada waktu itu.
Setiap guru harus menyusun Prosedur Pengembangan Sistem
Intruksional (PPSI), yang di dalamnya antara lain berisi tujuan
intruksional umum dan tujuan intruksional khusus (Hasibuan, 2010).
Guru ketika akan mengajar harus menjabarkan PPSI ke dalam satuan
pelajaran (satpel) secara lebih rinci.
f.   Kurikulum 1984
4

Pada tahun 1984, pemerintah menyempurnakan Kurikulum 1975


menjadi Kurikulum 1984. Rasionalnya, yang belajar adalah peserta didik
sehingga yang harus aktif adalah peserta didiknya, bukan gurunya.
Sebelumnya kecenderungan peserta didik belajar dengan  cara didikte
oleh gurunya. Maka, dalam Kurikulum 1984 peserta didik harus belajar
melakukan sendiri, mencari tahu sendiri, dari berbagai sumber belajar
yang relavan yang ada di sekitarnya. Dengan mencari tahu sendiri,
peserta didik akan merasakan sendiri dan mengalami sendiiri.
Pengalaman yang diperolehnya diharapkan akan tersimpan dalam
memori otaknya sehingga dalam waktu puluhan tahun pengalaman yang
dioperolehnya tetap akan diingatnya. Oleh karena itu, pada kurikulum
1984 dikembangkan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (Depdikbud,
1984) atau Student Active Learning, yang mengusung proses skill
approach (pendekatan keterampilan proses). Artinya, apabila prosesnya
dialami sendiri oleh peserta didik maka secara otomatis pengalam yang
diperolenya tetap akan diingatnya dalam waktu puluhantahun sekalipun.
Dengan kata lain, produknya akan dikuasainya dengan baik.

g.  Kurikulum 1994


Pada tahun 1994, kurikulum 1984 disempurnakan menjadi
Kurikulum 1994. Rasionalnya, menyusuaikan ketentuan Undung-undang
Nomer 2 tahun 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional (UU tentang
SPN No. 2 Tahun1989 ). salah satu amanah dalam UU tentang SPN No.
2Tahun 1989, yaitu perubahan pembagian waktu pelajaran, dari sistem
semester ke sistem caturwulan.
Dengan sistem caturwulan, yang pembagian waktunya dalam satu
tahun menjadi tiga periode, hasil belajar (rapor) peserta didik dapat lebih
cepat diketahui oleh orang tuanya dapat memberikan perhatian lebih dini
dan lebih intensif kepada putra-puterinya. Perubahan lainnya, Kurikulum
1994, lebih menekankan pada pemahaman konsep dan keterampilan
menyelesaikan soal dan pemecahan masalah (Depdikbud, 1994).

h.  Kurikulum 1999 (Kurikulum 1994 yang Disempurnakan)


Pada tahun 1999, Kurikulum 1994 untuk Sekolah Menengah
Kejurusan (SMK) diubah menjadi kurikulum 1999 (Kurikulum 1994
yang disempurnakan), yang berbasis kompetensi. Pembelajaran bukan
hanya mengembangkan pengetahuan (kognitif) semata-mata, melaikan
juga harus mengembangkan keterampilan (psikomotor)dan sikap
(afektif). Oleh karena itu, disebut dengan istilah Berbasis Kompertensi
(Depdikbud). Lulusan SMK diharapkan bukan hanya memiliki
5

pengetahuan semata-mata, melaikan juga harus terampil menerapkan


pengetahuannya dan memiliki sikap sesuai jenis pekerjaannya.

B. Kurikulum Sesudah Otonomi Daerah


Pengembangan kurikulum setelah era otonomi daerah terdiri atas : Kurikulum
2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi), Kurikulum 2006 (Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan yang berbasis Kompetensi), Kurikulum 2013 (Kurikulum
yang menekankan pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara 
holistik, juga berbasis kompetensi).

A.   Kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi)


Kurkulum berbasis kompetensi merupakan seperangkat rencana dan
pengatuan tentang kompetensi yang dibakukan dan cara pencapaiannya
disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan daerah (Depdiknas, 2003). Pada
kurikulum ini, pemerintah menyusun ketentuan umum, standar kompetensi
bahan kajian, standar kompetensi mata pelajaran, dan pedoman pelaksanaan
kurikulum. Pemerintah daerah dan satuan pendidikan menyusun petunujuk
teknis, silabus, dan persiapan mengajar (Depdiknas, 2003b).
Rasional dikembangkannya kurikulum 2004 antara lain
diberlakukannya UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, dan
Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan Pemerintah
dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom. Acuan pengembangan
kurikulum 2004 adalah sistem pendidikan Nasional, era globalisasi, wajib
belajar 9 tahun, standar pelayanan minimal, dan teori kurikulum. (Depdiknas,
2003).
Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi berlandasakan pada
fungsi dan tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang tercantum dalm UU
No. 20 Tahun 2003 tentang SNP. Pendidikan berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak, serta peradaban, bangsa yang bermatabat
dalam rabgka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berlmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta
bertanggung jawab.
Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi mempertimbangkan
prinsip-prinsip berikut (Depdiknas, 2003b):
6

1)      Keimanan, budi pekerti luhur, dan nilai-nilai budaya


2)      Penguatan integritas nasional
3)      Keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestetika.
4)      Kesamaan memperoleh kesenpatan
5)      Perkembangan pengetahuan dan teknologi informasi.
6)      Pngembangan kecakapan hidup
7)      Belajar sepanjang hayat
8)      Berpusat pada anak
9)      Pendekatan menyeluruh dan kemitraan.

Implikasinya bahwa sekolah diberi kesempatan untuk mengembangkan


komponen-komponen kurikulum yang sesuai dengan kondisi sekolah dan
kebutuhan peserta didiknya. Selain itu, perubahan lain yang sangat signifikan
adalah pengembangan kurikulum yang semula lebih berbasis materi menjadi
kurikulum berbasis kompetensi (Depdiknas, 2003)
Kurikulum ini berlaku tidak lama karena harus disesuaikan dengan
peraturan perundang-undangan yang baru, yaitu UU No 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang kemudian dijabarkan dalam
ketentuan lebih lanjut dalam Perturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, Kurikulum 2004 yang juga disebut
sebagai Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan kurikulum pertama di
era otonomi daerah, era desentralisasi pendidikan. Pada era sebelumnya,
pendidikan bersifat sentralistik sesuai dengan pengelolaan pemerintah pada
saat itu yang artinya adalah semua urusan pendidikan merupakan kewenangan
Pemerintah, dikembangkan dan ditetapkan oleh Pemerintah. Pada era
otonomi daerah, sebagian kewenangan Pemerintah dilimpahkan kepada
pemerintah daerah dan satuan pendidikan. Manajemen pengembangan
kurikulumnya bersifat sentralistik-desenrtalistik.

B.   Kurikulum 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)


Kurikulum KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan
dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP  Sendiri dari tujuan
pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur, muatan KTSP, kalender
pendidikan, dan silabus. Pada kurikulum ini, pemerintah menetapkan Standar
Nasional Pendidikan , Badan Standar Nasional Pendidikan menyusun
7

Panduan Penyusunan KTSP, sedangkan setiap satuan pendidikan menyusun


KTSP mengacu pada Standar Nasional Pendidikan dan Panduan Penyusunan
KTSP.
Pengembangan KTSP yang beragam mengacu pada standar nasional
pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. SNP
terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan,
sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan.
Dua dari delapan SNP tersebut yaitu standar isi (SI) dan Standar Kompetensi
Lulusan (SKL) yang merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam
mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan.
Rasional dikembangkannya Kurikulum 2006, yang juga disebut sebagai
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Antara lain diberlakukannya
UU No 20 Tahun 2003 yang kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam PP No
19 Tahun 2003. Dalam PP No 19 Tahun 2005 tidak disebut-sebut lagi tentang
Kurikulum Nasional, yang ada KTSP yaitu kurikulum operasional yang
disusun dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. (Depdiknas,
2005).
KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh
sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan
standar isi, serta panduan penyususnan kurikulum yang dibuat oleh Badan
Standar Nasional Pendidikan, kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-
prinsip berikut (Depdiknas, 2006):
1)      Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan
kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
2)      Beragam dan terpadu
3)      Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan seni
4)      Relevan dengan kebutuhan kehidupan
5)      Menyeluruh dan berkesinambungan
6)      Belajar sepanjang hayat
7)      Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Kurikulum 2006 yang juga disebut
dengan istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan juga
berbasis kompetensi, merupakan kurikulum kedua era otonomi daerah yang
embrionya adalh Kurikulum 2004. Manajemen Kurikulumnya bersifat
sentralistik-desentralistik.
8

C. Kurikulum 2013 (Kurikulum Yang Menekankan Pengembangan


Pengetahuan, Keterampilan, Dan Sikap Secara Holistik).
Rasional dikembangkannya kurikulum 2013 antara lain
diberlakukannya PP No 5 Tahun 2010 tentag Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional Tahun 2010-2014 (Perpres No 5 Tahun 2010ntentang
RPJMN 2010-2014) yang ada pada sektor pendidikan yang harus
disempurnakan, dua diantarannya adalah Metodologi dan Kurikulum.
Pada kurikulum 2013, pemerintah menetapkan Standar Nasional
Pendidikan, Kerangka Dasar, dan Struktur Kurikulum, Silabus, dan Pedoman
Implementasi Kurikulum, sedangkan setiap satuan pendidikan seperti halnya
pada Kurikulum 2006, juga menyususn KTSP, kecuali Dokumen 2 yang
berupa silabus setiap mata pelajaran sudah disusun oleh pemerintah, guru
tinggal mengopi dan menyusunnya menjadi satu kesatuan KTSP yang utuh.
Silabus dipakai acuan guru untuk menyusun RPP.
Kurikulum 2013 menekankan pengembangan kompetensi pengetahuan,
keterampilan, dan sikap peserta didik secara holistik. Kompetensi itu ditagih
dalam rapot dan merupakan penentu kenaikan kelas dan kelulusan peserta
didik. Kompetensi pengetahuan peserta didik dikembangkan meliputi
mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasiagar
menjadi pribadi yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya
dan berwawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban.
Kompetensi keterampilan peserta didik yang dikembangkan meliputi
menamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, dan mencipta
agar memjadi pribadi yang berkemampuan pikir dan tindak yang efektif dan
kreatif dalam ranak konkret dan abstrak. Kompetensi sikap peserta didik yang
dikembangkan meliputi menerima, menjalankan, menghargai, menghayati,
berakhlak mulia, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi
secara efektif dengan lingkungan sosial, alam sekitar, serta dunia dan
peradabannya (Kemdikbud, 2013 f).
Kurikulum 2013 dikembangkan dengan karakteristik diantaranya
sebagaiberikut (Kemdikbud, 2013):
1)      Mengembangkan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu,
kreatifitas, kerja sama denngan kemampuan intelektual dan psikomotorik
secara seimbang,
2)      Mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta
menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat,
3)      Kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasi kompetensi
dasar, dimana semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran
dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam
kompetensi inti.
9

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Perkembangan kurikulum sebelum era otonomi daerah terdiri atas:


Kurikulum 1947, Kurikulum 1964, Kurikulum 1968, Kurikulum 1975,
Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, dan Kurikulum SMK 1999 (Kurikulum
1994 yang disempurnakan).
2. Pengembangan kurikulum setelah era otonomi daerah terdiri atas:
Kurikulum 2014 (Kurikulum Berbasis Kompetensi), Kurikulum 2006
(Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang berbasis Kompetensi),
Kurikulum 2013 (Kurikulum yang menekankan pengembangan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap secara  holistik, juga berbasis kompetensi).

B. Saran

Dengan adanya bahasan materi tentang pengembangan kurikulum di era


ontomi daerah khususnya di negeri tercinta kita yaitu Indonesia kita sebagai
warga negera Indonesia dapat mengetahui tahapan-tahapan kurikulum dan
mengapa kurikulum mengalami perubahan dari masa-kemasa atau mengalami
pergantian, dan apa  landasan yuridis perubahan itu. Dengan isi makalah ini
juga diharapkan dapat membantu calon guru khususnya untuk bagaimana
menerapkan kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintahan nasional.
10

DAFTAR PUSTAKA

Widyastono, Herry. 2014. Pengembangan Kurikulum di Era Otonomi


Daerah.Jakarta : Bumi Aksara.

Anda mungkin juga menyukai