Anda di halaman 1dari 10

PROPOSAL KOMUNIKASI Peran Humas

Posted by mahesaputraw pada Juli 16, 2010

1. Latar Belakang Masalah

Sistem demokrasi yang diadopsi dalam kepemerintahan Negara Republik Indonesia telah menjadikan
setiap warga negara, berhak menyampaikan aspirasi dengan berbagai cara, tentunya sesuai dengan
koridor hukum yang telah di atur dalam Undang – Undang Negara Republik Indonesia  Nomor 9 Tahun
1998 Pasal 2 Tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat Di Muka Umum yaitu:

1. Setiap warga negara, secara perorangan atau kelompok, bebas menyampaikan pendapat sebagai
perwujudan hak dan tanggung jawab berdemokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara.
2. Penyampaian pendapat di muka umum dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang
ini.

Dalam Bab IV Pasal 9 Undang – Undang tersebut juga telah mengatur bentuk- bentuk dana tata cara
penyampaiannya yaitu:

1. Bentuk penyampaian pendapat di muka urnum dapat dilaksanakan dengan:

a. Unjuk rasa atau demonstrasi

b. Pawai

c. Rapat umum, dan

d. Mimbar bebas

1. Penyampaian pendapat di muka umum sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilaksanakan di


tempat-tempat terbuka untuk umum kecuali :
1. Di lingkungan Istana Kepresidenan, tempat ibadah. instalasi militer, rumah sakit,
pelabuhan udara atau laut, stasiun kereta api. terminal angkutan darat, dan obyek-obyek
vital nasional;
2. Pada hari besar nasional.
2. Pelaku atau peserta penyampaian pendapat di muka umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilarang membawa benda-benda yang dapat membahayakan keselamatan umum.

Namun penyampaian pendapat di muka umum yang banyak dipilih untuk  lakukan oleh beberapa elemen
masyarakat  adalah dengan cara demonstrasi, baik dari kalangan mahasiswa, aktivis, LSM, masyarakat
umum, maupun pelajar,  karena di anggap aksi ini paling ampuh dalam menyampaikan aspirasi.

Dalam pelaksanaannya demonstrasi juga dilakukan dengan berbagai cara, ada aksi damai yang hanya
melakukan orasi, long march, dan bahkan tak dapat dipungkiri hingga terjadi aksi demonstrasi anarkis
dengan melakukan pengerusakan, pemukulan dan aksi – aksi kekerasan lainya, Mantan Hakim Agung DR
Henry P Panggabean SH MS, dalam sebuah pemberitaan website www.liputan6.com ketika menanggapi
perihal meninggalnya ketua DPRD Sumatera Utara dikarenakan aksi demo anarkis yang terjadi di DPRD
Sumatera Utara, mengatakan demonstrasi anarkis terjadi di karenakan beberapa hal yaitu:
1. Masa demonstran kurang tertib
2. Massa demonstran terprovokasi oleh pihak – pihak yang tidak bertanggung jawab.
3. Massa demonstran merasa mendapat perlakuan buruk dari pihak kemanan yang menjaga jalannya
aksi
4. Tidak terjalin komunikasi yang baik antara massa demonstran dengan pihak atau instansi yang di
demo.

Walau kebebasan menyampaikan pendapat dimuka umum berhak mendapatkan perlindungan seperti yang
telah di tetapkan dalam Undang – Undang Nomor 9 Tahun 1998 bab III Pasal 5 yang berbunyi:

Warga Negara yang menyampaikan pendapat di muka umum berhak untuk :

a. Mengeluarkan pikiran secara bebas

b. Memperoleh perlindungan hukum

Namun pada pasal 6 dalam Undang – Undang tersebut juga di sebutkan  hal – hal yang harus diperhatikan
yaitu:

a. Menghormati hak-hak dan kebebasan orang lain

b. Menghormati aturan-aturan moral yang diakui umum

c. Mentaati hukum dan ketentuan peraturan perundang – undangan yang berlaku

d. Menjaga dan menghormati keamanan dan ketertiban umum dan

e. Menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa.

Dengan demikian apapun alasannya tentu saja aksi – aksi anarkis tidak dapat dibenarkan di Negara
hukum, hal ini tentu saja menjadi PR tersendiri untuk tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia,
seperti yang telah terjadi pada tanggal 8 Maret 2010 sebagaimana yang telah di beritakan media masa
Riau Mandiri edisi 10 Maret 2010, yang telah menyebutkan terjadi bentrokan antara masa HMI cabang
Pekanbaru dengan satuan Pasukan Anti Huru Hara di halaman Mapolda Riau yang telah mengakibatkan
baik dari pihak kepolisian maupun dari masa HMI mengalami cidera.

Ketua Presedium Korp Alumni HMI Pekanbaru Jenewar dalam edisi pemberitaan yang sama mengatakan,
hal seperi ini tentu saja dapat dihindari jika polisi tidak melakukan tindakan represif dalam mengatasi
demo HMI di Polda Riau, namun dalam pemberitaan tersebut juga di sebutkan bahwa hal ini terjadi
disebabkan massa HMI yang telah mencoba memancing emosi anggota Samapta dengan cara
mengoyang-goyang pagar besi pintu masuk utama Mapolda Riau.

Dengan demikian melihat point-point di atas penulis menyimpulkan permasalahan ini semakin di telisik
semakin membingungkan hal ini disebabkan kedua belah pihak merasa telah melakukan segala
sesuatunya sesuai prosedur.

Hal ini tentunya menjadi tugas yang tidak mudah untuk diselesaikan, tim yang menangani kasus ini dari
Mapolda Riau tentu melibatkan semua jajaran di kepolisaian yang mempunyai peran, tidak terkecuali
Bidang Humas Polda Riau

Menurut Rex Harlow, dalam bukunya dasar-dasar public relation definisi humas adalah fungsi


manajemen yang khas dan mendukung pembinaan, pemeliharaan jalur bersama antara organisasi dengan
publiknya, menyangkut aktivitas komunikasi, pengertian, penerimaan, dan kerjasama; melibatkan
manajemen dalam menghadapi persoalan/permasalahan, membantu manajemen untuk mampu
menanggapi opini publik; mendukung manajemen dalam mengikuti dan memanfaatkan perubahan secara
efektif; bertindak sebagai peringatan dini dalam mengantisipasi kecenderungan penggunaan penelitian
serta teknik komunikasi yang sehat dan etis sebagai sarana utama.

Dari definisi tersebut mengandung unsur-unsur utama sebagai berikut :

1. Merupakan fungsi manajemen.

2. Mendukung pembinaan, pemeliharaan jalur bersama antara organisasi dengan publiknya.

3. Menyangkut aktivitas komunikasi agar terjadi saling pengertian, penerimaan dan kerjasama.

4. Melibatkan manajemen dalam menghadapi persoalan.

5. Membantu manajemen untuk mampu menanggapi opini publik.

6. Mendukung manajemen dalam mengikuti dan memanfaatkan perubahan secara efektif.

7. Bertindak sebagai peringatan dini.

Dari unsur-unsur utama di atas menunjukan adanya hubungan kait mengait secara holistik. Hubungan
saling keterkaitan ini merupakan proses berkesinambungan di dalam fungsi humas yang integral dengan
manajemen organisasi dalam upaya mencapai tujuan bersama dan sasaran utama organisasi. Kemudian
berdasarkan unsur-unsur tersebut dapat dirumuskan fungsi humas sebagai berikut :

1. Menunjang aktivitas utama manajemen dalam mencapai tujuan bersama (fungsi melekat pada
manajemen lembaga/organisasi).

2. Membina hubungan yang harmonis antara badan/organisasi dengan publiknya yang merupakan
khalayak sasaran.

3. Mengidentifikasi segala sesuatu yang berkaitan dengan opini, persepsi dan tanggapan masyarakat
terhadap badan/organisasi yang diwakili atau sebaliknya.

4. Melayani keinginan publiknya dan memberikan sumbang saran kepada pimpinan manajemen demi
tujuan dan manfaat bersama.

5. Menciptakan komunikasi dua arah timbal balik, dan mengatur arus informasi, publikasi serta pesan dari
badan/organisasi ke publiknya atau sebaliknya, demi tercapainya citra positif bagi kedua belah pihak.

Dari rumusan fungsi humas kemudian dirangkum peranan humas dalam suatu organisasi menjadi empat
kategori :

1. Penasehat ahli (Expert Prescriber)

2. Fasilitator komunikasi (Communication facilitator)

3. Fasilitator proses pemecahan masalah (Problem solving process fasilitator)

4. Teknisi komunikasi (Communication technician)


Berdasarkan Surat Keputusan No. Pol: Skep/54/X/2002 tanggal 17 Oktober 2002 pasal 16 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Polda Riau, maka tugas pokok Bidang Humas Polda Riau adalah
menyelenggarakan fungsi hubungan masyarakat melalui pengelolaan dan penyampaian
pemberitaan/informasi serta kerjasama/kemitraan dengan media massa dalam rangka pembentukan opini
masyarakat yang positif bagi pelaksanaan tugas Polri.

Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut, Bidang Humas Polda Riau menyelenggarakan fungsi :

1. Pembinaan fungsi Humas dalam lingkungan Polda Polda Riau


2. Penyelenggaraan Penerangan Umum yang meliputi pengelolaan dan penyampaian informasi
termasuk kerjasama/kemitraan dengan media massa berikut komponennya dalam rangka
membentuk opini masyarakat bagi kepentingan pelaksanaan tugas Polri
3. Penyelenggaraaan penerangan satuan dalam rangka pemerataan informasi di lingkungan Polri
4. Penyelenggaraan peliputan, monitoring, produksi dan dokumentasi, semua informasi pemberitaan
yang berkaitan dengan tugas Polri.
5. Melaksanakan kegiatan hubungan kemitraan dengan media massa guna mendukung tugas-tugas
Polda Riau.
6. Melaksanakan Monitoring dan Anev opini publik serta counter opini  dari pemberitaan media
massa untuk mengetahui kualitas citra Polri dalam melaksanakan tugas pembinaan Kamtibmas di
Ibukota pekanbaru dan sekitarnya.
7. Memproduksi bahan-bahan kehumasan guna menunjang efektifitas kegiatan Bidang Hubungan
Masyarakat Polda Riau.
8. Memanfaatkan mekanisme kegiatan Bidang Hubungan Masyarakat Polda Riau, termasuk
menjalin hubungan lintas sektoral untuk menjamin efektivitas pelaksanaan tugas.

Secara definitif Humas adalah suatu fungsi manajemen yang bertujuan menjembatani antara institusi
dengan stakeholder baik luar maupun dalam. Apa pun yang terjadi di organisasi humas harus tahu. Humas
harus mengetahui segala kebijakan yang lalu, sedang dan akan diberlakukan organisasi, seperti itulah
idealnya Bagian Humas Polda Riau.

Jadi, humas sebagai juru bicara harus mengetahui segala kebijakan pimpinan, latar belakang kebijakan
yang diambil dan tujuan yang diharapkan. Setiap kebijakan publik yang diambil itu dapat
diimplementasikan dengan baik, sangat membutuhkan dukungan publik. Tapi bagaimana publik mau
mendukung, kalau tidak mengetahui maksud kebijakan tersebut.

Dengan demikian melihat latar belakang permasalahan di atas penulis merasa tertarik untuk melakuka
penelitian yang berjudul ”Peranan Humas Polda Riau Dalam Kasus Demonstrasi Masa HMI Cabang
Pekanbaru”

1. 2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis menyimpulkan masalah Bagaimanakah peranan
Humas Polda Riau dalam  kasus demonstrasi masa HMI cabang Pekanbaru.

1. 3. Identifikasi masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah di kemukakan maka dapat di identifikasikan masalah sebagai
berikut:

1. Bagaimana peranan Humas Polda Riau dalam kasus demonstrasi massa HMI cabang Pekanbaru?
2. Apa faktor –  faktor pendukung dan penghambat yang sering dihadapi Humas Polda Riau ketika
berperan dalam kasus demonstrasi masa HMI cabang Pekanbaru.

1. 4. Tujuan dan Manfaat Penelitian

4.1 Tujuan Penelitian

Adapun latar belakang dan perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas maka penulis menetapkan
tujuan penelitan sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui bagaimana Peranan humas Polda Riau dalam kasus demonstrasi masa HMI
cabang Pekanbaru.
2. Untuk mengetahui faktor –  faktor pendukung dan penghambat yang sering dihadapi Humas
Polda Riau ketika berperan dalam kasus demonstrasi masa HMI cabang Pekanbaru.

4.2 Manfaat Penelitian

1. Manfaat Akademis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi dalam hal penerapan teori–teori tentang penelitian
dibidang ilmu komunikasi, khususnya tentang Humas.

1. Manfaat Praktis

Adapun manfaat praktis dari penelitian ini adalah sebagai persyaratan menempuh gelar S-1, dan sebagai
referensi bagi para mahasiswa maupun umum yang hendak melakukan penelitian yang lebih mendalam.

1. 5. Tinjauan Pustaka

5.1 Pengertian Komunikasi

Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang
(komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran bisa berupa gagasan, informasi, opini, dan lain-
lain yang muncul dari benaknya. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keragu-raguan,
kekhawatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan, dan sebagainya yang timbul dari lubuk hati (Effendy,
2005:11).

Proses komunikasi dapat diartikan sebagai ‘transfer informasi” atau pesan-pesan dari pengirim pesan dan
kepada pengirim pesan. Tujuan dari proses komunikasi adalah tercapainya saling pengertian antara kedua
belah pihak. Peran komunikasi sangat penting bagi manusia, sesuai dengan fungsi komunikasi yang
bersifat persuasif, edukatif dan informatif. Tanpa komunikasi tidak ada proses interaksi antar manusia.

Barelson dan Stainer (dalam Ruslan, 2003:17) mendefinisikan komunikasi sebagai penyampaian


informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya dengan menggunakan lambang-lambang atau
kata-kata, gambar, bilangan, grafik dan lain sebagainya. Kegiatan atau proses penyampaian biasanya
dinamakan dengan komunikasi.

Pendapat lain mengenai definisi komunikasi yaitu Laswell, bahwa komunikasi memiliki lima unsur,
diantaranya:
1. Komunikator (comunicator, source, sender).
2. Pesan (message).
3. Media ( channel).
4. Komunikan (communicator, communicate, receiver, recipient).
5. Efek (effect, impact, influence) (dalam Effendy, 2002:9).

Berdasarkan paradigma Laswell diatas, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator
kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. Proses komunikasi pada hakekatnya
adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang atau yang disebut sebagai komunikator
kepada orang lain yang disebut komunikan.

5.2 Pengertian Humas

Public Relation yang ditejemahkan menjadi hubungan masyarakat ( Humas ) mempunyai dua pengertian
yaitu :

1. a. Humas dalam artian sebagai tekhnik komunikasi atau technique of communication.


2. Humas sebagai metode komunikasi atau method of communication ( Abdurrahman, 1993: 10)

Konsep public relations sebenarnya berkenaan dengan kegiatan penciptaan pemahaman melalui


pengetahuan dan melalui kegiatan – kegiatan tersebut akan muncul perubahan yang berdampak ( jefkins,
2004:2 )

Public relations adalah fungsi manajemen yang membangun dan mempertahankan hubungan yang baik
dan bermanfaat antara organisasi dengan publik yang mempengaruhi kesuksesan dan kegagalan
oraganisasi tersebut ( Cutlip, 2006 , p. 5).

Senada dengan pendapat di atas Public Relation merupakan fungsi manajemen untuk mencapai suatu
target terntu yang sebelumnya sudah mempunyai program kerja yang jelas dan rinci,mencari fakta,
merencanakan, mengkomunikasikan, hingga mengevaluasi hasil – hasil apa yang telah dicapainya.   
( Ruslan, 2005, p.5 ).

Menurut Edwar I. Bernays seorang pelopor humas di Amerika serikat dalam bukunya Public Relation
(1952) yang dikutip oleh Hamdan Adnan, Hafid Cengara mengatakan 3 aspek hubungan masyarakat yaitu
memberi informasi kepada masyarakat, mengajak masyarakat untuk mengubah sikap dan perilaku mereka
dan memerlukan usaha-usaha untuk menyatukan sikap dan tindakan satu lembaga atau organisasi dengan
publiknya, atau sebaliknya dalam kamus terkenal “Webster International Dictionary” dijelaskan bahwa
praktek hubungan masyarakat untuk promosi, membina hubungan baik antara kelompok individu dengan
public tertentu atau masyarakat umum melalui penyebaran informasi yang mudah dipahami, saling
pengertian dan hubungan baik yang dicapai antara individu, organisasi, instansi dengan publik mereka,
menggunakan metode untuk mencapai hubungan yang baik, ilmu pengetahuan untuk menjalin hubungan
baik dan saling menguntungkan tenaga terampil untuk melaksanakan pekerjaan.

Prinsip dasar Public Relation, Akurasi, cepat, sigap, dengan senang hati, terus terang memperhatikan
kepentingan umum. ( Ivy Lee: 1960 ).

Pekerjaan dan tugas Public Relations menurut Cutlip, Center dan Broom          ( 2006, p.39 – 41 )
memiliki pekerjaan dan tugas sebagai berikut:

1. Menulis dan mengedit : Menyusun rilis berita dalam bentuk cetakan atau siaran, cerita feature,
newsletter untk karyawan dan stakeholder eksternal, korespondensi, pesa website dan pesan
media online lainya, laporan tahunan dan shareholder, pidato, brosur, film dan scripts slideshow,
artikel publikasi perdagangan, iklan intitusional, dan materi pendukung teknis lainya.
2. Hubungan Media dan Penempatan Media: Mengontak media massa baik cetak maupun elektronik
dan merespons permintaaan oleh media, memeverifikasi berita, dan membuka akses ke sumber
otoritatif.
3. Riset: Mengumpulkan Informasi tenang opini publik, tren, isu yang sedang muncul, iklim politik
dan peraturan perundangan, liputan media, opini kelompok kepentingan dan pandangan –
pandangan lain berkenaan dengan stakeholder organisasi.
4. Acara Spesial : Mengatur dan mengelola konferensi pers.

5.3 Pengertian Peran

Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai
kedudukannya dalam, suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari
luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasi
sosial tertentu. (Kozier Barbara, 1995:21).

Abu Ahmadi [1982] mendefinisikan peran sebagai suatu kompleks pengharapan manusia terhadap
caranya individu harus bersikap dan berbuat dalam situasi tertentu berdasarkan status dan fungsi
sosialnya.

Robert Linton (1936), seorang antropolog, telah mengembangkan  Teori Peran. Teori Peran
menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang
ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama
yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurut teori ini, seseorang yang
mempunyai peran tertentu misalnya sebagai dokter, mahasiswa, orang tua, wanita, dan lain sebagainya,
diharapkan agar seseorang tadi berperilaku sesuai dengan peran tersebut.

Istilah peran dalam “Kamus Besar Bahasa Indonesia” mempunyai arti pemain sandiwara (film), tukang
lawak pada permainan makyong, perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang
berkedudukan di masyarakat. ( 2005,854 ).

Ketika istilah peran digunakan dalam lingkungan pekerjaan, maka seseorang yang diberi (atau
mendapatkan) sesuatu posisi, juga diharapkan menjalankan perannya sesuai dengan apa yang diharapkan
oleh pekerjaan tersebut. Karena itulah ada yang disebut dengan role expectation. Harapan mengenai peran
seseorang dalam posisinya, dapat dibedakan atas harapan dari si pemberi tugas dan harapan dari orang
yang menerima manfaat dari pekerjaan/posisi tersebut.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peranan yang dimaskud dalam lingkup kerja kepolisian
khususnya bidang humas, adalah melakukan perannya sebagai humas seseuai dengan ketentuan yang
telah di atur.

5.4 Pengertian Tujuan

Locke mengusulkan model kognitif, yang dinamakan teori tujuan, yang mencoba menjelaskan hubungan-
hubungan antara niat/intentions (tujuan-tujuan) dengan perilaku. Teori ini secara relatif lempang dan
sederhana. Aturan dasarnya ialah penetapan dari tujuan-tujuan secara sadar. Menurut Locke, tujuan-
tujuan yang cukup sulit, khusus dan yang pernyataannya jelas dan dapat diterima, akan menghasilkan
unjuk-kerja yang lebih tinggi daripada tujuan-tujuan yang taksa, tidak khusus, dan yang mudah dicapai.
Teori tujuan, sebagaimana dengan teori keadilan didasarkan pada intuitif yang solid. Penelitian-penelitian
yang didasarkan pada teori ini menggambarkan kemanfaatannya bagi organisasi.
Manajemen Berdasarkan Sasaran (Management By Objectives =MBO) menggunakan teori penetapan
tujuan ini. Berdasarkan tujuan-tujuan, secara berurutan, disusun tujuan-tujuan untuk divisi, bagian sampai
satuan kerja yang terkecil untuk diakhiri penetapan sasaran kerja dalam kurun waktu tertentu.

Penetapan tujuan juga dapat ditemukan dalam teori motivasi harapan. Individu menetapkan sasaran
pribadi yang ingin dicapai. Sasaran-sasaran pribadi memiliki nilai kepentingan pribadi (valence) yang
berbeda-beda.

Proses penetapan tujuan (goal setting) dapat dilakukan berdasarkan prakarsa sendiri, dapat seperti MBO,
diwajibkan oleh organisasi sebagai satu kebijakan.

1. 6. Metode Penelitian

6.1  Lokasi penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kepolisian Daerah Provinsi Riau. Adapun alsan penulis mengambil lokasi
di Kepolisian Daerah Provinsi Riau Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis kemukan di
atas.

6.2   Jenis dan Sumber Data

Menurut Lofland dan Lofland dalam Moleong (2002:112) sumber data dalam penelitian kualitatif


adalah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.

Kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau diwawancarai merupakan sumber data utama,
sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis atau melalui perekaman video/audio tapes,pengambilan
foto atau film.Pencatatan sumber data utama melalui wawancara atau pengamatan berperan serta
merupakan hasil usaha gabungan dari kegiatan melihat, mendengar, dan bertanya (Moleong, 2002:113).

Untuk meperolah data maka penulis menggunakan berbagai sumber data antara lain:

a. Informan

Informan dalam penelitian ini adalah, Kepala bidang Humas Kepolisian daerah Riau beserta
perangkatnya.

b. Dokumen

Guba dan Linkoln dalam Moleong (2002:161) mendefinisikan dokumen ialah setiap bahan tertulis
ataupun film, dan biasanya dibagi atas dokumen resmi dan dokumen pribadi.

Dokumen ini dilakukan dengan maksud untuk mengumpulkan data yang berupa arsip-arsip yang
berkaitan dengan tugas dan tanggungjawab setiap kelompok sebagai aparatur Pemerintah, sebagai
pelaksana program dan juga pendukung hasil wawancara, termasuk di dalamnya adalah arsip yang
berkaitan dengan rincian kewenangan yang wajib untuk dilaksanakan oleh humas polda Riau, arsip desain
organisasi Humas Polda Riau.

6.3  Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian ini maka digunakan metode pengumpulan
data sebagai berikut:
a. Metode Wawancara

Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang
diperoleh sebelumnya. Tehnik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara
mendalam. Wawancara mendalam (in–depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk
tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan
atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana
pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu,percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu
pewawancara (interviewer) atau yang mengajukan pertanyaan, dan yang diwawancarai (interviewee),atau
yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2002:137).

Tujuan dari wawancara disini adalah untuk mencari informasi dari responden tentang pelaksanaan tugas
serta peranan bidang humas kepolisan daerah Riau.

Ada bermacam-macam cara pembagian jenis wawancara yang dikemukakan dalam kepustakaan,
diantaranya dikemukakan oleh Patton (dalam Moleong, 1980:197) dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan dua model wawancara yaitu:

1        umum wawancara, yaitu jenis wawancara yang mempunyai karakteristik sebagai berikut:

 pewawancara membuat kerangka dan garis besar pokok-pokok yang dinyatakan dalam proses
wawancara,
 Penyusun pokok-pokok itu dilakukan sebelum wawancara dilakukan,
 Pokok-pokok yang yang dirumuskan tidak perlu ditanyakan secara berurutan,
 Penggunaan dan pemilihan kata-kata untuk wawancara dalam hal tertentu tidak perlu dilakukan
sebelumnya,
 Petunjuk wawancara hanya berisi petunjuk secara garis besar tentang proses dan isi wawancara
untuk menjaga agar pokok-pokok yang direncanakan dapat tercakup seluruhnya.

2        Wawancara baku terbuka, yaitu jenis wawancara yang menggunakan seperangkat pertanyaan baku.

1. Metode Observasi

Metode ini diartiakan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak
pada objek penelitian (Rachman Maman,1999:77). Observasi dilakukan untuk mengamati tentang
keberadaan pelaksanaan pembangunan  desa, aspek kebutuhan sarana dan prasarana, aspek perkiraan
kebutuhan biaya dalam melaksanakan kewenangan minimal dalam satu tahun.

Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek,
perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan peneliti melakukan observasi adalah
untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk
membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek
tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut.

Bungin (2007: 115) mengemukakan beberapa bentuk observasi yang dapat digunakan dalam penelitian
kualitatif, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur, dan observasi kelompok tidak
terstruktur.
 Observasi partisipasi (participant observation) adalah metode pengumpulan data yang digunakan
untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan dimana observer atau
peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden.
 Observasi tidak berstruktur adalah observasi yang dilakukan tanpa menggunakan guide observasi.
Pada observasi ini peneliti atau pengamat harus mampu mengembangkan daya pengamatannya
dalam mengamati suatu objek.
 ·Observasi kelompok adalah observasi yang dilakukan secara berkelompok terhadap suatu atau
beberapa objek sekaligus.

c. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah suatu cara untuk memperoleh data melalui peninggalan tertulis seperti arsip-
arsip dan termasuk juga bukubuku tentang pendapat, teori, dalil atau hukum-hukum dan lain-lain yang
berhubungan dengan masalah penelitian (Rachman Maman, 1999:96). Dengan demikian untuk
melengkapi data dalam penelitian penulis, maka penulis mengambil beberapa dokumen yang berkaitan
dengan hal tersebut dibawah ini:

 Arsip yang berkaitan dengan aspek rincian kewenangan yang wajib untuk dilaksanakan oleh
Bidang Humas Kepoliasn Daerah Riau.
 Aspek desain organisasi humas Kepolisian Daerah Riau

6.4  Metode Analisis Data

Dalam menganalisis data, penulis menggunakan metode analisis data kualitatif yaitu suatu proses
penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial
dan masalah manusia.

Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari
pandangan informan, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15). Bogdan dan
Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian
yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku
yang diamati.

Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penggunaan metode analisis kualitatif yang penulis gunakan
yaitu mengupayakan suatu penelitian dengan cara menggambarkan secara sistematis, faktual dan akurat
mengenai fakta dari suatu peristiwa serta sifat-sifat tertentu.