Anda di halaman 1dari 24

Perbedaan nawacita jilid II dengan jilid I yang dibahas 9 sekjen

koalisi Jokowi
enin, 6 Agustus 2018 16:02Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah

Para Sekjen parpol koalisi


pendukung Jokowi. ©2018 Merdeka.com

Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily mengatakan pertemuan 9 sekjen koalisi partai
pendukung Jokowi akan membahas rumusan Nawacita jilid II. Ace mengungkapkan perbedaan
orientasi pembangunan Nawacita jilid I dan II. Menurutnya, Nawacita II akan menitikberatkan
pada penguatan aspek sumber daya manusia (SDM). Berbeda dengan Nawacita jilid I yang
berorientasi pada pembangunan infrastruktur.

"Salah satunya adalah dengan bagaimana lima tahun ke depan lebih dititikberatkan pada aspek
manusianya, SDM-nya," kata Ace di Kompleks Parlemen, Senayan,Jakarta, Senin (6/8).

Ace menuturkan, orientasi pembangunan manusia di Nawacita jilid II telah dilakukan di


pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Contohnya, alokasi anggaran yang lebih besar untuk program-
program sosial, seperti program keluarga harapan (PKH).

"Misalnya orientasi anggaran diberikan secara lebih besar kepada manusianya. Program keluarga
harapan yang ada di Kementerian Sosial kita dorong sedemikian rupa supaya lebih bagus,"
jelasnya.
Program kedua yang dikuatkan oleh pemerintah adalah Kartu Indonesia Pintar (KIP). Pihaknya
ingin mengarahkan 'bonus' demografi bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas
pendidikan Indoensia agar bisa bersaing dengan negara lain pada 2030.

"Itu kan sebenarnya upaya yang serius untuk bagaimana merumuskan kembali nawacita bukan
hanya pada aspek infrastruktur tetapi juga pada aspek manusianya," papar Ace.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR ini menyebut program PKH di era Jokowi berbeda dengan
program bantuan langsung tunai era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Perbedaannya yakni
PKH langsung diberikan kepada manusianya. Kedua, PKH akan disesuaikan dengan program
pembangunan desa.

"Kita juga diamanatkan bagaimana program desa menurut UU Desa, ini lebih berorientasi
kepada jantung rakyatnya. Tidak pada misalnya kalau kita lihat program-program seperti BLT
itu lebih kepada rakyatnya," ucapnya.

Dia mencontohkan, uang dari program BLT yang diberikan kepada masyarakat digunakan untuk
memenuhi kebutuhan sehari-sehari. Sementara di program PKH, anggaran akan dialokasikan
untuk pendidikan, kenaikan nutrisi gizi, kemudian kebutuhan dasar masyarakat.

"Ketika orang mendapatkan bantuan dari pemerintah, itu lebih kepada Rp 300 ribu per bulan, itu
sebetulnya tidak bisa memenuhi unsur dasar dari kebutuhan dasar rakyat," klaim Ace.

Bedanya lagi, uang dari pemerintah tidak bisa dibelanjakan di tempat sembarangan. Sebab, lanjut
Ace, pemerintah telah menyiapkan e-warung untuk membelanjakan uang PKH tersebut.
"Karena ada warung-warung khusus yang digunakan untuk membelanjakan dana PKH tersebut.
Ada e-warung yang disiapkan pemerintah," terangnya.

Dengan sistem ini, pemerintah bisa mengontrol pemakaian uang PKH untuk kebutuhan yang
semestinya. "Misalnya uang tersebut digunakan untuk beli beras, uang itu dipergunakan untuk
biaya pendidikan, uang itu dipergunakan kenaikan nutrisi gizi masyarakat,"
Beda Nawacita Jilid I dan II yang akan Ditawarkan Jokowi
 

Sembilan sekjen partai-partai pendukung Jokowi akan bertemu melakukan konsolidasi


pemenangan Pilpres 2019. Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily mengatakan, salah satu
materi yang akan dibahas adalah orientasi pembangunan Nawacita jilid I dan II.

Menurutnya, Nawacita II akan menitikberatkan pada penguatan aspek sumber daya manusia
(SDM). Hal ini berbeda dengan Nawacita jilid I yang berorientasi pada pembangunan
infrastruktur.

Salah satunya adalah dengan bagaimana lima tahun ke depan lebih dititikberatkan pada aspek
manusianya, SDM-nya," kata Ace di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/8/2018).

Ia menuturkan, orientasi pembangunan manusia di Nawacita jilid II telah dilakukan di


pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Contohnya, melalui alokasi anggaran yang lebih besar untuk
program-program sosial, seperti program keluarga harapan (PKH).

"Misalnya orientasi anggaran diberikan secara lebih besar kepada manusianya. Program keluarga
harapan yang ada di Kementerian Sosial kita dorong sedemikian rupa supaya lebih bagus,"
jelasnya.
Daftar Lengkap Paket Kebijakan Ekonomi I hingga XIV

Akhirnya pemerintah hari ini merilis Paket Kebijakan Ekonomi ke-XIV. Sedianya paket ini
akan diumumkan Rabu 9 November 2016. Namun hari itu bertepatan dengan pengumuman
hasil hitung cepat Pemilihan Presiden Amerika Serikat yang dimenangkan oleh Donald J
Trump.
Mengingat euforia kemenangan Trump menyita perhatian dunia, maka pemerintah urung
mengumumkannya kemarin sore. Hari ini adalah hari yang dinilai tepat untuk mengumumkan
Paket Kebijakan Ekonomi ke-XIV.
Berikut ini daftar lengkap paket kebijakan ekonomi I hingga XIV, seperti dirangkum Okezone,
Kamis (10/11/2016).
Paket Kebijakan Jilid I
Memiliki tiga fokus, pertama mendorong daya saing industri nasional melalui deregulasi,
debirokratisasi, serta penegakan hukum dan kepastian usaha. Kedua, mempercepat proyek
strategis nasional dengan menghilangkan berbagai hambatan, sumbatan dalam pelaksanaan dan
penyelesaian proyek strategis nasional, dan yang ketiga meningkatkan investasi di sektor
properti.
Paket Kebijakan Jilid II
Berupa deregulasi dan debirokratisasi peraturan untuk mempermudah investasi, baik PMDN
maupun PMA. Seperti kemudahan lahayan investasi 3 jam, tax allowance dan tax holiday lebih
cepat, pembebasan PPN untuk alat transportasi, insentif fasilitas di kawasan pusat logistik
berikat, insentif pengurangan pajak bunga deposito, perampingan izin sektor kehutanan.
Paket Kebijakan Jilid III
Isinya melengkapi paket kebijakan I dan II. Namun paket ini mencakup penurunan tarif listrik
dan harga BBM serta gas. Kedua, perluasan penerima KUR. Ketiga, penyederhanaan izin
pertanahan untuk kegiatan penanaman modal.
Paket Kebijakan Jilid IV
Mengatur mengenai penetapan formulasi penetapan UMP yang bertujuan untuk membuka
lapangan kerja seluas-luasnya dan meningkatkan kesejahteraan pekerja.
Paket Kebijakan Jilid V
Berisi mengenai revaluasi aset untuk perusahaan BUMN serta individu. Selain itu juga
menghilangkan pajak berganda untuk REIT.
Paket Kebijakan Jilid VI
Memuat soal insentif untuk kawasan ekonomi khusus (KEK), pengelolaan sumber daya air dan
penyederhanaan izin impor bahan baku obat dan makanan oleh BPOM.
 
Paket Kebijakan Jilid VII
Mengatur soal kemudahan mendapatkan izin investasi, keringanan pajak untuk pegawai industri
padat karya, dan kemudahan mendapatkan sertifikat tanah.
Pakat Kebijakan Jilid VIII
Mencakup 3 paket, yang pertama one map policy, kedua mempercepat pembangunan kilang
minyak untuk meningkatkan produksi kilang nasional, yang ketiga adalah pemberian insentif
bagi jasa pemeliharaan pesawat.
Paket Kebijakan Jilid IX
Mengatur soal percepatan pembangunan infrastruktur tenaga listrik, stabilisasi harga daging,
dan peningkatan sektor logistik desa-kota.
Paket Kebijakan Jilid X
Terdapat 10 poin penting yang diharapkan mampu memperbaiki peringkat kemudahan berbisnis
Indonesia (EODB). Pertama kemudahan dalam memulai usaha, kemudahan pendirian
bangunan, ketiga pendaftaran properti, keempat pembayaran pajak, kelima akses perkreditan,
keenam penegakan kontrak dengan mengatur penyelesaian gugatan sederhana, ketujuh
penyambungan listrik, kedelapan perdagangan lintas negara, kesembilan penyelesaian
permasalahan kepailitan, dan sepuluh perlindungan terhadap investor minoritas.
Paket Kebijakan Jilid X
Terdapat 10 poin penting yang diharapkan mampu memperbaiki peringkat kemudahan berbisnis
Indonesia (EODB). Pertama kemudahan dalam memulai usaha, kemudahan pendirian
bangunan, ketiga pendaftaran properti, keempat pembayaran pajak, kelima akses perkreditan,
keenam penegakan kontrak dengan mengatur penyelesaian gugatan sederhana, ketujuh
penyambungan listrik, kedelapan perdagangan lintas negara, kesembilan penyelesaian
permasalahan kepailitan, dan sepuluh perlindungan terhadap investor minoritas.
Mengatur soal KUR yang diorientasikan ekspor dan dana investasi real estate, prosedur waktu
sandar dan inap barang di pelabuhan (dwelling time) dan pengembangan industri farmasi serta
alat kesehatan.
Paket Kebijakan Jilid XII
Mengatur soal mendorong pertumbuhan UKM dengan memberikan kemudahan memulai usaha.
Paket Kebijakan XIII
Menitik beratkan pada mempercepat penyediaan rumah untuk masyarakat berpenghasilan
rendah dengan harga yang terjangkau. Caranya dengan menyederhanakan sekaligus mengurangi
regulasi dan biaya pengembangan untuk membangun rumah.
Paket Kebijakan XIV
Mengenai peta jalan (roadmap) mengenai perdagangan berbasis elektronik (e-
commerce). Roadmap ini diterbitkan guna mencapai tujuan sebagai negara digital ekonomi
terbesar di Asia Tenggara di 2020. Ada delapan aspek pengaturan mengenai roadmap e-
commerce  meliputi pendanaan, perpajakan, perlindungan konsumen, pendidikan dan SDM,
logistik, infrastruktur komunikasi, kemanan siber dan pembentukan manajemen pelaksana.
Puncak Bonus Demografi 2030, Indonesia Harus Siapkan Manusia Hebat

 Indonesia akan mendapat anugerah bonus demografi selama rentang waktu 2020- 2035, yang
mencapai puncaknya pada 2030.
Pada saat itu jumlah kelompok usia produktif (umur 15-64 tahun) jauh melebihi kelompok usia
tidak produktif (anak-anak usia 14 tahun ke bawah dan orang tua berusia 65 ke atas). Jadi,
kelompok usia muda kian sedikit, begitu pula dengan kelompok usia tua. Bonus demografi ini
tercermin dari angka rasio ketergantungan (dependency ratio ), yaitu rasio antara kelompok usia
yang tidak produktif dan yang produktif. Pada 2030 angka rasio ketergantungan Indonesia akan
mencapai angka terendah, yaitu 44%.
Artinya, pada tahun tersebut rasio kelompok usia produktif dengan yang tidak produktif
mencapai lebih dari dua kali (100/44). Singkatnya, selama terjadi bonus demografi tersebut
komposisi penduduk Indonesia akan didominasi oleh kelompok usia produktif yang bakal
menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi kita. Negara-negara maju seperti Jepang,
Kanada, atau negara-negara Skandinavia tak lagi produktif karena kelompok usia produktifnya
terus menyusut.

Mereka telah menjadi manusia-manusia hebat yang betul-betul mampu membawa Indonesia
mencapai masa kejayaan. Manusia-manusia hebat semacam: Zuckerberg, Jobs, atau Musk. Jadi,
kemampuan kita SEKARANG mempersiapkan manusia-manusia hebat selama 15 tahun ke
depan akan menentukan keberhasilan kita dalam memanfaatkan celah kesempatan (window of
opportunity ) dari bonus demografi.
Kalau tahun-tahun puncak bonus demografi kita isi dengan manusia-manusia bodoh, lemah,
pengeluh, pembebek, benalu, dan kecanduan narkoba, sudah pasti kita menyia-siakan
kesempatan yang hadir sekali dalam sejarah setiap bangsa ini. Pertanyaannya lagi, apakah kita
sudah mempersiapkan mereka? Belum! Hingga detik ini tak ada sedikit pun urgensi nasional
untuk mempersiapkan manusia-manusia hebat guna menghadapi tantangan ”tahuntahun emas”
bonus demografi.
Skills of the 21 Century

Misalnya dalam skill dan kompetensi. Tony Wagner (2008) mengidentifikasi ada tujuh
skills yang menjadi penentu kesuksesan anak pada abad 21. Tujuh skills tersebut adalah: 1.
Criticalthinking& problemsolving 2. Collaboration across networks & leading by influence 3.
Agility & adaptability 4. Initiative& entrepreneurialism 5. Effective oral & written
communication 6. Accessing& analyzinginformation 7. Curiosity & imagination Pertanyaannya,
apakah tujuh skills itu sudah diajarkan di sekolah-sekolah kita? Barangkali beberapa sekolah
khusus sudah mengajarkannya.
Namun, 99,9% lebih sekolah-sekolah kita tidak mengenalnya. Umumnya sekolah-sekolah kita
sibuk mengajarkan anak didik untuk menghafal dan menyelesaikan soal-soal ujian. Dengan
sistem pendidikan berbasis industrial, sekolah-sekolah kita justru secara sistematis membonsai
kekritisan berpikir, kreativitas, dan daya cipta. Akhirnya sistem ini menciptakan sosok-sosok
pembebek yang defisit daya imajinasi, daya kreasi, dan passion untuk mengubah dunia. Sebut
saja mereka: Generasi Penghafal.
#GenerasiPencipta

Untuk bisa memanfaatkan peluang bonus demografi, anakanak kita yang kini berusia
belasan tahun harus menempa dirinya menjadi sosok generasi masa depan yang saya sebut:
#GenerasiPencipta. Merekalah yang nanti menjadi penentu nasib bangsa, apakah akan menjadi
bangsa besar atau sebaliknya, tetap menjadi negara miskin dan terbelakang. Generasi Pencipta
memiliki empat kualitas personal yang saya sebut 4-C: curiosity, critical thinking, collaboration,
dan creating. Beginilah anak Indonesia masa depan yang bisa mengeksplorasi dan
memanfaatkan bonus demografi menjadi sumber keunggulan bersaing bangsa.
Pertama, curiosity, anak Indonesia harus memiliki daya imajinasi tanpabatas,
rasakeingintahuantak terhingga, dan kemauan luar biasa untuk mengeksplorasi ide-ide
perubahan karena ini adalah awal dari sebuah penciptaan. Kedua, critical thinking, anak
Indonesiaharusberpikirkritisdalam merespons setiap masalah yang ada di sekitarnya dan selalu
berupaya untuk menemukan solusi-solusi untukmenyelesaikannya. Ketiga, collaboration , anak
Indonesia harus menghargai keberagaman, melihat setiap masalah dengan pendekatan
multidisiplin, dan menyelesaikan masalah dengan kolaborasi dan kerja tim sehingga terwujud
solusi komprehensif.
Keempat, creating, anak Indonesia harus memiliki daya cipta, semangat membara untuk
berinovasi, dan bernyali besar untuk mengubah dunia. Bonus demografi adalah kesempatan
yang terjadi hanya sekali dalam sejarah sebuah bangsa. Untuk menyongsong itu, bangsa ini
harus membangun sebuah model pendidikan yang mampu mengubah Generasi Penghafal
menjadi #GenerasiPencipta.
Era Revolusi Industri 4.0, Saatnya
Generasi Millennial Menjadi Dosen
Masa Depan
SELASA, 30 JANUARI 2018 | 10:31 WIB

JAKARTA – Arus globalisasi sudah tidak terbendung masuk ke Indonesia. Disertai dengan
perkembangan teknologi yang semakin canggih, dunia kini memasuki era revolusi industri 4.0,
yakni menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain
sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation. Menghadapi tantangan tersebut,
pengajaran di perguruan tinggi pun dituntut untuk berubah, termasuk dalam menghasilkan dosen
berkualitas bagi generasi masa depan.
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir
menjelaskan, berdasarkan evaluasi awal tentang kesiapan negara dalam menghadapi revolusi
industri 4.0 Indonesia diperkirakan sebagai negara dengan potensi tinggi. Meski masih di bawah
Singapura, di tingkat Asia Tenggara posisi Indonesia cukup diperhitungkan. Sedangkan terkait
dengan global competitiveness index pada World Economic Forum 2017-2018, Indonesia
menempati posisi ke-36, naik lima peringkat dari tahun sebelumnya posisi ke-41 dari 137 negara.
“Tetapi jika dibandingkan dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand, kita masih di bawah.
Tahun ini global competitiveness index Thailand di peringkat 32, Malaysia 23, dan Singapura
ketiga. Beberapa penyebab Indonesia masih kalah ini karena lemahnya higher education and
training, science and technology readiness, dan innovation and business sophistication.
Inilah yang perlu diperbaiki supaya daya saing kita tidak rendah,” tutur Nasir dalam
konferensi pers di Gedung D Kemenristekdikti, Jakarta, Senin (29/1).
Nasir mengungkapkan, saat ini sasaran strategis Kemenristekdikti dianggap masih relevan
sehingga perubahan hanya dilakukan pada program dan model layanan yang lebih banyak
menyediakan atau menggunakan teknologi digital (online). Kendati demikian, kebijakan
pendidikan tinggi pun harus disesuaikan dengan kondisi revolusi industri 4.0. Menurut dia,
terdapat perubahan kebijakan dan program yang terkait dengan sumber daya iptek dikti,
kelembagaan, pembelajaran dan kemahasiswaan, serta riset dan pengembangan juga inovasi.
“Perubahan dalam bidang sumber daya sangat penting, meliputi pengembangan kapasitas dosen
dan tutor dalam pembelajaran daring. Jadi dosen ini perannya juga sebagai tutor. Kemudian
pengembangan infrastruktur MOOC (Massive Open Online Course), teaching industry, dan e-
library yang sebenarnya sudah berjalan,” papar Nasir.
Berkaitan dengan sumber daya, Nasir menambahkan, pada era ini Dosen memiliki tuntutan lebih,
baik dalam kompetensi maupun kemampuan untuk melakukan kolaborasi riset dengan profesor
kelas dunia. Nantinya, akan disusun kebijakan terkait izin tinggal para profesor asing yang akan
melakukan kolaborasi dengan Dosen di perguruan tinggi Indonesia.
“Presiden Joko Widodo memberikan arahan setidaknya ada 1.000 profesor kelas dunia yang
dapat berkolaborasi, tetapi kami punya target 200 profesor. Tetapi untuk mewujudkannya perlu
ada aturan terkait izin tinggalnya. Jadi izin tinggalnya bukan izin kerja tetapi dalam kolaborasi
untuk meningkatkan pendidikan tinggi Indonesia. Masa tinggalnya sesuai dengan masa kontrak
yang ditetapkan, bisa dua sampai tiga tahun. Terkait itu, kami sudah berkomunikasi dengan
Kementerian Ketenagakerjaan,” sebutnya.
Kondisi Dosen Indonesia saat ini sendiri masih didominasi oleh generasi baby boomers dan
generasi X yang merupakan digital immigrant. Sementara mahasiswa yang dihadapi merupakan
generasi millennial atau digital native. Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti pun
berupaya menambah dosen dari generasi millennial, salah satunya melalui program Pendidikan
Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU), yakni program beasiswa percepatan
S-2 dan S-3 bagi lulusan S-1 dalam kurun waktu empat tahun. Program PMDSU sendiri
setidaknya sudah melahirkan dua dosen muda berkualifikasi Doktor, yaitu Grandprix (24 tahun)
dan Suhendra Pakpahan (29 tahun). Bahkan, keduanya mampu menerbitkan lebih dari lima
publikasi internasional terindeks Scopus.
“PMDSU ini merupakan sebuah terobosan yang kami lakukan guna menyediakan SDM
masa depan Indonesia yang berkualitas dengan cara membangun role model pendidik dan
peneliti yang ideal sekaligus menumbuhkan academic leader di perguruan tinggi, serta bekerja
sama dengan komunitas keilmuan dalam merumuskan kompetensi inti keilmuan,” ucap Direktur
Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas)
Kemenristekdikti di Medan, belum lama ini.
Tantangan lain yang dihadapi dalam rangka memenuhi kebutuhan dosen berkualitas adalah
menjaring lulusan terbaik perguruan tinggi untuk menjadi dosen. Pasalnya di era revolusi
industri 4.0, profesi dosen semakin kompetitif. Setidaknya terdapat lima kualifikasi dan
kompetensi dosen yang dibutuhkan, meliputi (1) educational competence, kompetensi
berbasis Internet of Thing sebagai basic skill di era ini; (2) competence in research, kompetensi
membangun jaringan untuk menumbuhkan ilmu, arah riset, dan terampil
mendapatkan grant internasional; (3) competence for technological commercialization, punya
kompetensi membawa grup dan mahasiswa pada komersialisasi dengan teknologi atas hasil
inovasi dan penelitian; (4) competence in globalization, dunia tanpa sekat, tidak gagap terhadap
berbagai budaya, kompetensi hybrid, yaitu global competence dan keunggulan memecahkan
national problem; serta (5) competence in future strategies, di mana dunia mudah berubah dan
berjalan cepat, sehingga punya kompetensi memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di
masa depan dan strateginya, dengan cara joint-lecture, joint-research, joint-publication, joint-
lab, staff mobility dan rotasi, paham arah SDG’s dan industri, dan lain sebagainya.
Selain bidang sumber daya iptek dikti, imbuh Nasir, pada bidang kelembagaan kebijakan
baru meliputi Peraturan Menteri (Permen) tentang Standar Pendidikan Tinggi Jarak Jauh (PJJ),
fleksibilitas dan otonomi kewenangan kepada unit untuk mendorong kreativitas dan inovasi,
serta memberi kesempatan untuk beroperasinya universitas unggul dunia di Indonesia. Untuk
bidang pembelajaran dan kemahasiswaan, perubahan dilakukan dengan reorientasi kurikulum
untuk membangun kompetensi era revolusi industri 4.0 berikut hibah dan bimbingan teknisnya,
dan menyiapkan pembelajaran daring dalam bentuk hybrid atau blended learning melalui
SPADA-IdREN. Sedangkan pada bidang riset dan pengembangan serta penguatan inovasi
perubahan yang dilakukan meliputi penerapan teknologi digital dalam pengelolaan riset,
harmonisasi hasil riset dan penerapan teknologi melalui Lembaga Manajemen Inovasi, serta
mendorong riset dan inovasi di dunia usaha atau industri dengan pemberian insentif fiskal
maupun non fiskal.
“Perguruan tinggi asing yang akan masuk Indonesia ini sudah mengantre. Kita jangan melihat
sebagai ancaman tetapi peluang. Kemenristekdikti mengatur melalui Permen terkait izin
perguruan asing tersebut, termasuk penetapan lokasi, program studi yang dibuka, bahkan
mewajibkan untuk bekerja sama dan berkolaborasi dengan perguruan dalam negeri.
Jokowi: Hasil Rembuk Nasional 2017 Bisa Jadi Nawacita Kedua

Jakarta - Dewan Rembuk Nasional 2017 memberikan beberapa rekomendasi kepada Presiden
Joko Widodo. Jokowi mengatakan rekomendasi tersebut bisa saja jadi Nawacita kedua.

Ada 12 bidang dalam rembuk yang dibacakan dan diserahkan oleh Dewan Rembuk Nasional
2017 kepada Jokowi. Hasil rembuk ini adalah masukan untuk pemerintahan ke depan setelah tiga
tahun berjalan.

"Ini (hasil Rembuk Nasional) mungkin bisa kita pakai untuk Nawacita yang kedua," kata Jokowi
saat menghadiri Rembuk Nasional 2017 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin
(23/10/2017).

Jokowi mengatakan, melalui program unggulan yang baik, dia ingin membawa Indonesia ke arah
kemajuan.

"Kita ingin membawa negara kita Indonesia ke gerbang kemajuan, mengobarkan semangat, ide,
gagasan pada kemajuan negara dan bangsa," katanya.

Ada 12 rekomendasi yang disampaikan oleh Dewan Rembuk Nasional 2017 kepada Jokowi.
Rekomendasi tersebut terbagi dalam beberapa bidang.

Adapun rekomendasi di bidang Polhukam, yakni:

1. Jelang tahun politik yang akan dimulai tahun depan, perwujudan Nawacita harus tetap jadi
prioritas. Untuk itu, seluruh penyelenggara negara diharapkan selalu konsisten, berkomitmen,
dan fokus dalam mengawal Nawacita serta menghindari kegaduhan yang terindikasi, terstruktur,
agar terjaga kohesi dan keharmonisan demi kepentingan bangsa dan negara.

2. Di bidang pertahanan, akselerasi Minimum Essential Forces menjadi kebutuhan. Tentunya ini
harus disertai dengan akuntabilitas yang terukur agar setiap rupiah yang dibelanjakan negara
dimanfaatkan baik-baik. Pembinaan prajurit TNI yang profesional, terlatih, dan terjamin
kesetiaannya. Postur pertahanan juga dapat berkontribusi positif terhadap upaya Indonesia
sebagai poros maritim dunia.

3. Indonesia tidak bisa mengabaikan perubahan cepat yang terjadi dalam dunia internasional saat
ini. Terorisme dan peredaran narkoba transnasional menjadi bentuk ancaman asimetris di
berbagai penjuru dunia. Oleh karena itu, Indonesia harus lebih aktif terlibat di PBB dan forum-
forum internasional lainnya. Partisipasi aktif tersebut juga diharapkan mampu mengoptimalkan
upaya perlindungan terhadap para WNI, khususnya para TKI di luar negeri.

4. Masalah Papua harus diselesaikan secara komprehensif melalui pendekatan kesejahteraan.


Kita harap bahwa penguatan SDM di Papua dalam formulasi, implementasi, dan evaluasi
kebijakan pembangunan di Papua dapat meningkatkan rasa saling percaya.

5. Program e-KTP harus diselesaikan. Pendataan WN penting bagi kelancaran pembangunan dan
pelaksanaan pilkada, pileg dan pilpres yang akan datang.

6. Penegakan hukum, kita harus tetap memprioritaskan kepastian hukum. Peran KPK dalam
pemberantasan korupsi harus diperkuat. Tumpang tindih kewenangan antarlembaga harus
dihindari. Untuk penanggulangan korupsi secara efektif, maka sinergi antarlembaga menjadi
kunci keberhasilan. Dan tidak kalah pentingnya komitmen atas penegakan hak asasi manusia
juga harus tetap terlaksana demi kualitas demokrasi dan perkuat komitmen kita untuk
menghadirkan kembali negara dalam menjaga kebinekaan Indonesia
UMP dan UMK Sumatera Utara 2018

Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Utara 2018

Gubernur Sumatera Utara Erry Nuradi dalam SK Gubsu Nomor 188.44/575/KPTS/2017


menetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Utara pada 2018 sebesar Rp 2.132.188.
UMP Sumatera Utara naik 8,71% dari angka UMP 2017. Dasar penetapan UMP 2018 sudah
mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) No.78/2015 tentang Pengupahan

PROVINS KETERANGAN
I
201 201 Persentas SK
7 8 e Gubernu
Kenaikan r SUMATER  Rp                                  Rp          9  Surat Keputusan
(%) A UTARA     1.961.354 % Gubernur Nomor
2.132.18 188.44/575/KPTS/
8 7 

Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) Sumatera Utara 2018

Surat Keputusan Gubernur Sumatera Utara mengenai UMP 2018 menjadi acuan dalam
penyusunan dan penetapan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) yang ada di Sumatera Utara
untuk tahun 2018.

Berikut adalah daftar Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) Sumatera Utara 2018 :

PROVINSI KABUPATEN / KOTAMADYA  UMK 2018

Sumatera Utara Kota Medan  Rp           2.749.074

  Kabupaten Deli Serdang  Rp           2.720.100

  Kabupaten Asahan  Rp           2.401.172

  Kota Binjai  Rp           2.230.597

  Kabupaten Dairi  Rp           2.136.260

  Kabupaten Humbang Hasundutan  Rp           2.153.182

  Kabupaten Karo  Rp           2.619.234

  Kabupaten Labuhan Batu  Rp           2.469.891

  Kabupaten Labuhanbatu Selatan  Rp           2.500.330

  Kabupaten Labuhanbatu Utara  Rp           2.447.714


  Kabupaten Langkat  Rp           2.312.670

  Kabupaten Mandailing Natal  Rp           2.296.250

  Kabupaten Nias  Rp           2.217.476

  Kota Padang Sidempuan  Rp           2.283.000

  Kota Pematang Siantar  Rp           2.133.977

  Kabupaten Samosir  Rp           2.249.428

  Kabupaten Serdang Bedagai  Rp           2.447.714

  Kabupaten Batu Bara  Rp           2.722.640

  Kota Tanjungbalai  Rp           2.407.733

  Kabupaten Tapanuli Selatan  Rp           2.476.505

  Kabupaten Tapanuli Utara  Rp           2.169.233

  Kabupaten Tapanuli Tengah  Rp           2.414.949

  Kabupaten Toba Samosir  Rp           2.276.521

  Kabupaten Gunung Sitoli  Rp           2.220.757

  Kabupaten Padang Lawas  Rp           2.333.860

  Kabupaten Padang Lawas Utara  Rp           2.361.120

  Kabupaten Tebing Tinggi  Rp           2.164.991

  Kota Sibolga  Rp           2.562.563

Daftar Lengkap Upah Minimum Provinsi UMP 2018


Posted by Nilo Catur+
Di tahun 2018 ini, seluruh provinsi di Indonesia yang totalnya berjumlah 34 provinsi akan
memberlakukan Upah Minimum Provinsi (UMP) yang baru. Kementerian Tenaga Kerja
(Kemanker) telah menetapkan kenaikan Upah Minimum Provinsi ditahun 2018 naik sebesar
8,71%. Pemerintah dimasing-masing provinsi pun telah mengumumkan UMP dari daerah
masing-masing.
Seperti dikutip dari liputan6, menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri mengatakan bahwa dari
laporan yang diterimanya, seluruh provinsi telah menetapkan UMP sesuai dengan ketentuan
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2018 tentang Pengupahan.
Dari total 34 provinsi, ada 5 provinsi yang presentase kenaikan UMP nya diatas 8,71% atau lebih
tinggi dari pada yang ditentukan Kementrian Ketenagakerjaan. 5 provinsi tersebut adalah Papua
Barat dengan 10,14%, Nusa Tenggara Barat 11,88%, Nusa Tenggara TImur 8,85%, Maluku
15,44% dan Maluku Utara sebesar 17,4%. Hal tersebut terjadi karena dari ke lima provinsi
tersebut belum mencapai angka Kebutuhan Layak Hidup (KLH). Berikut adalah daftar lengkap
UMP 2018:

Daftar Lengkap UMP Tahun 2018

PROVINSI UMP 2017 UMP 2018 Kenaikan

Nangroe Aceh D Rp 2.500.000 Rp 2.717.750 8,71%

Sumatera Utara Rp 1.961.354 Rp 2.132.188 8,71%

Sumatera Barat Rp 1.949.284 Rp 2.119.067 8,71%

Bangka Belitung Rp 2.534.673 Rp 2.755.443 8,71%

Kepulauan Riau Rp 2.358.454 Rp 2.563.875 8,71%

Riau Rp 2.266.722 Rp 2.464.154 8,71%


Jambi Rp 2.063.948 Rp 2.243.718 8,71%

Bengkulu Rp 1.737.412 Rp 1.888.741 8,71%

Sumatera Selatan Rp 2.388.000 Rp 2.595.995 8,71%

Lampung Rp 1.908.447 Rp 2.074.673 8,71%

Banten Rp 1.931.180 Rp 2.099.385 8,71%

DKI Jakarta Rp 3.355.750 Rp 3.648.035 8,71%

Jawa Barat Rp 1.420.624 Rp 1.544.360 8,71%

Jawa Tengah Rp 1.367.000 Rp 1.486.065 8,71%

Jawa Timur Rp 1.388.000 Rp 1.508.894 8,71%

Yogyakarta Rp 1.337.645 Rp 1.454.154 8,71%

Bali Rp 1.956.727 Rp 2.127.157 8,71%

Nusa Tenggara Barat Rp 1.631.245 Rp 1.825.000 11,88%

Nusa Tenggara Timur Rp 1.525.000 Rp 1.660.000 8,85%

Kalimantan Barat Rp 1.882.900 Rp 2.046.900 8,71%

Kalimantan Selatan Rp 2.258.000 Rp 2.454.671 8,71%

Kalimantan Tengah Rp 2.227.307 Rp 2.421.305 8,71%

Kalimantan Timur Rp 2.339.556 Rp 2.543.331 8,71%

Kalimantan Utara Rp 2.358.000 Rp 2.559.903 8,71%

Gorontalo Rp 2.030.000 Rp 2.206.813 8,71%

Sulawesi Utara Rp 2.598.000 Rp 2.824.286 8,71%


Sulawesi Tengah Rp 1.807.775 Rp 1.965.232 8,71%

Sulawesi Tenggara Rp 2.002.625 Rp 2.177.052 8,71%

Sulawesi Selatan Rp 2.435.625 Rp 2.647.767 8,71%

Sulawesi Barat Rp 2.017.780 Rp 2.193.530 8,71%

Maluku Rp 1.925.000 Rp 2.222.220 15,44%

Maluku Utara Rp1.975.152 Rp 2.320,803 17,4%

Papua Rp 2.663.646 Rp 2.895.650 8,71%

Papua Barat Rp 2.421.500 Rp 2.667.000 10,14%

Undang Undang, Jaminan dan Jenis Perlindungan Tenaga Kerja

Pengertian Tenaga Kerja, Undang Undang dan Jenis Perlindungan -


Dalam pasal 1 angka 2 Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang
ketenagakerjaan disebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan
pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja, guna menghasilkan barang atau jasa
untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat.
Tenaga kerja merupakan modal utama serta pelaksanaan dari pembangunan masyarakat
pancasila. Tujuan terpenting dari pembangunan masyarakat tersebut adalah kesejahteraan rakyat
termasuk tenaga kerja. Tenaga kerja sebagai pelaksana pembangunan harus di jamin haknya,
diatur kewajibannya dan dikembangkan daya gunanya. Dalam peraturan Menteri Tenaga Kerja
Nomor: PER-04/MEN/1994 pengertian tenaga kerja adalah setiap orang yang bekerja pada
perusahaan yang belum wajib mengikuti program jaminan social tenaga kerja karena adanya
pentahapan kepesertaan.
Bentuk perlindungan tenaga kerja di Indonesia yang wajib di laksanakan oleh setiap pengusaha
atau perusahaan yang mempekerjakan orang untuk bekerja pada perusahaan tersebut harus
sangat diperhatikan, yaitu mengenai pemeliharaan dan peningkatan kesejahteraan di maksud
diselenggarakan dalam bentuk jaminan social tenaga kerja yang bersifat umum untuk
dilaksanakan atau bersifatdasar, dengan bersaskan usaha bersama, kekeluargaan dan kegotong
royongan sebagai mana yang tercantum dalam jiwa dan semangat Pancasila dan Undang-Undang
Dasar 1945.
Jaminan pemeliharaan kesehatan merupakan jaminan sebagai upaya penanggulangan dan
pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan, dan/atau
perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. Pemeliharaan kesehatan dimaksudkan untuk
meningkatkan produktivitas tenaga kerja sehingga dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya dan
merupakan upaya kesehatan dibidang penyembuhan. Oleh karena itu upaya penyembuhan
memerlukan dana yang tidak sedikit dan memberatkan jika dibebankan kepada perorangan, maka
sudah selayaknya diupayakan penanggulangan kemampuan masyarakat melalui program jaminan
social tenaga kerja. Para pekerja dalam pembangunan nasional semakin meningkat, dengan
resiko dan tanggung jawab serta tantangan yang dihadapinya. Oleh karena itu kepada mereka
dirasakan  perlu untuk diberikan perlindungan, pemeliharaan, dan peningkatan kesejahteraannya
sehingga menimbulkan rasa aman dalam bekerja.

Adapun syarat-syarat keselamatan kerja antara lain :

1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan


2. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran
3. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan
4. Memberikan kesempatan atau jalan penyelamatan diri waktu kebakaran atau kejadian-
kejadian lain yang berbahaya
5. Memberikan pertolongan pada kecelakaan
6. Memberi alat-alat perlindungan diri pada pekerja
7. Memperoleh penerangan yang cukp dan sesuai
8. Menyelanggarakan suhu dan lembab udara yang baik
9. Memeliharaan kebersihan, kesehatan dan ketertiban

B.    Jenis Perlindungan Kerja

Secara teoritis dikenal ada tiga jenis perlindungan kerja yaitu sebagai berikut :  Zaeni Asyhadie,
Hukum Kerja (Hukum Ketenagakerjaan Bidang Hubungan Kerja), Jakarta, Raja Grafindo
Persada, 2007, hal 78
1. Perlindungan sosial, yaitu suatu perlindungan yang berkaitan dengan usaha
kemasyarakatan, yang tujuannya untuk memungkinkan pekerja/buruh mengenyam dan
mengembangkan kehidupannya sebagaimana manusia pada umumnya, dan khususnya
sebagai anggota masyarakat dan anggota keluarga. Perlindungan sosial disebut juga
dengan kesehatan kerja.
2. Perlindungan teknis, yaitu jenis perlindungan yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk
menjaga agar pekerja/buruh terhindar dari bahaya kecelakaan yang ditimbulkan oleh alat-
alat kerja atau bahan yang dikerjakan. Perlindungan ini lebih sering disebut sebagai
keselamatan kerja. 
3. Perlindungan ekonomis, yaitu suatu jenis perlindungan yang berkaitan dengan usaha-
usaha untuk memberikan kepada pekerja/buruh suatu penghasilan yang cukup guna
memnuhi keperluan sehari-hari baginya dan keluarganya, termasuk dalam hal
pekerja/buruh tidak mampu bekerja karena sesuatu diluar kehendaknya. Perlindungan
jenis ini biasanya disebut dengan jaminan sosial.

Ketiga jenis perlindungan di atas akan di uraikan sebagai berikut :

1.    Perlindungan Sosial atau Kesehatan Kerja

 Kesehatan kerja sebagaimana telah dikemukakan di atas termasuk jenis perlindungan sosial
karena ketentuan-ketentuan mengenai kesehatan kerja ini berkaitan dengan sosial
kemasyarakatan, yaitu aturan-aturan yang bermaksud mengadakan pembatasan-pembatasan
terhadap kekuasaan pengusaha untuk memperlakukan pekerja/buruh ”semaunya” tanpa
memperhatikan norma-norma yang berlaku, dengan tidak memandang pekerja/buruh sebagai
mahluk Tuhan yang mempunyai hak asasi.
Karena sifatnya yang hendak mengadakan ”pembatasan” ketentuan-ketentuan perlindungan
sosial dalam UU No. 13 Tahun 2003, Bab X Pasal 68 dan seterusnya bersifat ”memaksa”, bukan
mengatur. Akibat adanya sifat memaksa dalam ketentuan perlindunga sosial UU No. 13 Tahun
2003 ini, pembentuk undang-undang memandang perlu untuk menjelaskan bahwa ketentuan
yang berkaitan dengan perlindungan sosial ini merupakan ”hukum umum” (Publiek-rechtelijk)
dengan sanksi pidana. Hal ini disebabkan beberapa alasan berikut : Ibid, hal 80

 Aturan-aturan yang termuat di dalamnya bukan bermaksud melindungi kepentingan


seorang saja, melainkan bersifat aturan bermasyarakat.
 Pekerja/buruhIndonesia umumnya belum mempunyai pengertian atau kemampuan untuk
melindungi hak-haknya sendiri.

Jadi, jelasnya kesehatan kerja bermaksud melindungi atau menjaga pekerja/buruh dari
kejadian/keadaan hubungan kerja yang merugikan kesehatan dan kesusilaannya dalam hal
pekerja/buruh melakukan pekerjaannya. Adanya penekanan ”dalam suatu hubungan kerja”
menunjukkan bahwa semua tenaga kerja yang tidak melakukan hubungan kerja dengan
pengusaha tidak mendapatkan perlindungan sosial sebagaimana ditentukan dalam Bab X UU No
13 Tahun 2003.
2.    Perlindungan Teknis Atau Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja termasuk dalam apa yang disebut perlindungan teknis, yaitu perlindungan
terhadap pekerja/buruh agar selamat dari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh alat kerja atau
bahan yang dikerjakan.
Berbeda dengan perlindungan kerja lain yang umumnya ditentukan untuk kepentingan
pekerja/buruh saja, keselamatan kerja ini tidak hanya memberikan perlindungan kepada
pekerja/buruh, tetapi kepada pengusaha dan pemerintah.

 Bagi pekerja/buruh, adanya jaminan perlindungan keselamatan kerja akan menimbulkan


suasana kerja yang tentram sehingga pekerja/buruh dapat memusatkan perhatian pda
pekerjaannya semaksimal mungkin tanpa khawatir sewaktu-waktu akan tertimpa kecelakaan
kerja.
 Bagi pengusaha, adanya pengaturan keselamatan kerja di dalam perusahaannya akan
dapat mengurangi terjadinya kecelakaan yang dapat mengakibatkan pengusaha harus
memberikan jaminan sosial.
 Bagi pemerintah (dan masyarakat), dengan adanya dan ditaatinya peraturan keselamatan
kerja, maka apa yang direncanakan pemerintah untuk mensejahterakan masyrakat akan tercapai
dengan meningkatnya produksi perusahaan baik kualitas maupun kuantitas. Ibid, hal 84

Dasar pembicaraan masalah keselamatan kerja ini sampai sekarang adalah UU No 1 Tahun 1970
tentang keselamatan kerja. Namun, sebagian besar peraturan pelaksanaan undang-undang ini
belum ada sehingga beberapa peraturan warisan Hindia Belanda masih dijadikan pedoman dalam
pelaksanaan keselamatan kerja di perusahaan. Peraturan warisan Hindia Belanda itu dalah
sebagai berikut : Ibid, hal 84

 Veiligheidsreglement, S 1910 No. 406 yang telah beberapa kali dirubah, terakhir dengan
S. 1931 No. 168 yang kemudian setelah Indonesia merdeka diberlakukan dengan Peraturan
Pemerintah No. 208 Tahun 1974. Peraturan ini menatur tentang keselamatan dan keamanan di
dalam pabrik atau tempat bekerja.
 Stoom Ordonantie, S 1931 No. 225, lebih dikenal dengan peraturan Uap 1930.
 Loodwit Ordonantie, 1931 No. 509 yaitu peraturan tentang pencegahan pemakaian timah
putih kering

3.    Perlindungan ekonomis atau Jaminan Sosial

Penyelenggara program jaminan sosial merupakan salah satu tangung jawab dan kewajiban
Negara untuk memberikan perlindungan sosial ekonomi kepada masyarakat. Sesuai dengan
kondisi kemampuan keuangan Negara, Indonesia seperti halnya berbagai Negara berkembang
lainnya, mengembangkan program jaminan sosial berdasarkan funded social security, yaitu
jaminan sosial yang didanai oleh peserta dan masih terbatas pada masyarakat pekerja di sektor
formal.
Jaminan sosial tenaga kerja adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan
berupa uang sebagai pengganti sebagian penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan
sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja,
sakit, hamil, bersalin, hari tua dan meninggal dunia.
Indonesia, Undang-undang Jaminan SosialTenagakerja, No, 3 Tahun 1992 Pasal 10.
Dari pengertian diatas jelaslah bahwa jaminan sosial tenaga kerja adalah merupakan
perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang ( jaminan kecelakaan kerja,
kematian, dan tabungan hari tua ), dan pelyanan kesehatan yakni jaminan pemeliharaan
kesehatan.
Jaminan sosial tenaga kerja yang diatur dalam Undang – Undang Nomor. 3 Tahun 1992
adalah :  Lalu Husni, Pengantar hukum ketenaga kerjaan indonesia, ( Jakarta : PR Raja
Grafindo Persada, 2003 ), hal 122
Merupakan hak setiap tenaga kerja yang sekaligus merupakan kewajiban dari majikan. Pada
hakikatnya program jaminan soisal tenaga kerja dimaksud untuk memberikan kepastian
berlangsungnya arus penerimaan penghasilan keluarga yang sebagian yang hilang.
Disamping itu program jaminan sosial tenaga kerja mempunyai beberapa aspek antara lain : 
Indonesia, (Undang-undang jaminan soail tenaga kerja, 3 Tahun 1992.)

 Memberikan perlindungan dasar untuk memenuhi kebutuhanhidup minimal bagi tenaga


kerja beserta keluarganya.

 Merupakan penghargaan kepada tenaga kerja mendidik kemandirian pekerja sehingga


pekerja tidak harus meminta belas kasihan orang lain jika dalam hubungan kerja terjadi resiko –
resiko seperti kecelakaan kerja, sakit, hari tua dan lainnya.

C.    Jenis – Jenis Jaminan Sosial tenaga kerja

1.    Jaminan Kecelakaan Kerja

Kecelakaan Kerja maupun penyakit akibat kerja maerupakan resiko yang dihadapi oleh tenaga
kerja yang melakukan pekerjaan. Untuk menanggulangi hilangnya sebagian atau seluruh
penghasilannya yang diakibatkan oleh kematian atau cacat karena kecelakaan kerja baik fisik
maupun mental, maka perlu adanya jaminan kecelakaan kerja.
 
 
2.    Jaminan Kematian
Tenaga kerja yang meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja akan mengakibatkan
terputusnya penghasilan, dan sangat berpengaruh pada kehidupan sosial ekonomi bagi keluarga
yang ditinggalkan. Oleh karena itu, diperlukan jaminan kematian dalam upaya meringankan
beban keluarga baik dalam bentuk biaya pemakaman maupun santunan berupa uang.
 
3.    Jaminan hari Tua
Hari tua dapat mengkibatkan terputusnya upah karena tidak lagi mapu bekerja. Akibat
terputusnya upah tersebut dapat menimbulkan kerisauan bagi tenaga kerja dan mempengaruhi
ketenaga kerjaan sewaktu masih bekerja, teruma bagi mereka yang penghasilannya rendah.
Jaminan hari tua memberikan kepastian penerimaan yang dibayarkan sekaligus dan atau berkala
pada saat tenaga kerja mencapai usia 55 ( lima puluh lima ) tahun atau memnuhi persyaratan
tersebut.

4.    Jaminan Pemeliharaan Kesehatan


Pemeliharaan kesehatan dimaksudkan unutk meningkatkan produktivitas tenaga kerja sehingga
dapat melaksankan rugas sebaik-baiknya dan merupakan upaya kesehatan dibidang
penyembuhan ( kuratif ).
Oleh karena, upaya penyembuhan memerlukan dana yang tidak sedikit dan memberatkan jika
dibebankan kepada perorangan, maka sudah selayaknya diupayakan penggulangan kemampuan
masyarakat melalui program jaminan sosial tenaga kerja.
Disamping itu pengusaha tetap berkewajiban mengadakan pemeliharaan kesehatan tenaga kerja
yang meliputi upaya peningkatan (promotif), pencegahan (oreventif), penyembuhan (kuratif),
dan pemulihan (rehabilitatif).