Anda di halaman 1dari 31

Menelusuri jejak-jejak situs kerajaan Mataram Islam

A. Sejarah Singkat Dinasti Mataram Islam Awal.

Berbeda dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Indonesia yang bersifat


maritim, kerajaan Mataram bersifat agraris. Kerajaan yang beribu kota di
pedalaman Jawa ini banyak mendapat pengaruh kebudayaan Jawa Hindu baik
pada lingkungan keluarga raja maupun pada golomngan rakyat jelata.
Pemerintahan kerajaan ini ditandai dengan perebutan tahta dan perselisihan
antaranggota keluarga yang sering dicampuri oleh Belanda. Kebijaksanaan
politik pendahulunya sering tidak diteruskan oleh pengganti-penggantinya.
Walaupun demikian, kerajaan Mataram merupakan pengembang kebudayaan
Jawa yang berpusat di lingkungan keraton Mataram. Kebudayaan tersebut
merupakan perpaduan antara kebudayaan Indonesia lama, Hindu-Budha, dan
Islam.

Banyak versi mengenai masa awal berdirinya kerajaan Mataram berdasarkan


mitos dan legenda. Pada umumnya versi-versi tersebut mengaitkannya dengan
kerajaan-kerajaan terdahulu, seperti Demak dan Pajang. Menurut salah satu
versi, setelah Demak mengalami kemunduran, ibukotanya dipindahkan ke
Pajang dan mulailah pemerintahan Pajang sebagai kerajaan. Kerajaan ini terus
mengadakan ekspansi ke Jawa Timur dan juga terlibat konflik keluarga dengan
Arya Penangsang dari Kadipaten Jipang Panolan. Setelah berhasil menaklukkan
Aryo Penangsang, Sultan Hadiwijaya (1550-1582), raja Pajang memberikan
hadiah kepada 2 orang yang dianggap berjasa dalam penaklukan itu, yaitu Ki
Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Ki Ageng Pemanahan memperoleh tanah di
Hutan Mentaok dan Ki Penjawi memperoleh tanah di Pati.

Pemanahan berhasil membangun hutan Mentaok itu menjadi desa yang


makmur, bahkan lama-kelamaan menjadi kerajaan kecil yang siap bersaing
dengan Pajang sebagai atasannya. Setelah Pemanahan meninggal pada tahun
1575 ia digantikan putranya, Danang Sutawijaya, yang juga sering disebut
Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Sutawijaya kemudian berhasil memberontak
pada Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya wafat (1582) Sutawijaya mengangkat
diri sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati. Pajang
kemudian dijadikan salah satu wilayah bagian daari Mataram yang beribukota
di Kotagede. Senapati bertahta sampai wafatnya pada tahun 1601.

Selama pemerintahannya boleh dikatakan terus-menerus berperang


menundukkan bupati-bupati daerah. Kasultanan Demak menyerah, Panaraga,
Pasuruan, Kediri, Surabaya, berturut-turut direbut. Cirebon pun berada di
bawah pengaruhnya. Panembahan Senapati dalam babad dipuji sebagai
pembangun Mataram.

Senapati digantikan oleh putranya, Mas Jolang, yang bertahta tahun 1601-
1613. Maas Jolang lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Seda Krapyak.
Pada masa pemerintahannya, dibangun taman Danalaya di sebelah barat
kraton. Panembahan Seda Krapyak hanya memerintah selama 12 tahun Ia
meninggal ketika sedang berburu di Hutan Krapyak.

Selanjutnya bertahtalah Mas Rangsang, yang bergelar Sultan Agung


Hanyakrakusuma. Di bawah pemerintahannya (tahun 1613-1645) Mataram
mengalami masa kejayaan. Ibukota kerajaan Kotagede dipindahkan ke Kraton
Plered. Sultan Agung merupakan raja yang menyadari pentingnya kesatuan di
seluruh tanah Jawa. Daerah pesisir seperti Surabaya dan Madura ditaklukkan
supaya kelak tidak membahayakan kedudukan Mataram. Ia pun merupakan
penguasa lokal pertama yang secara besar-besaran dan teratur mengadakan
peperangan dengan Belanda yang hadir lewat kongsi dagang VOC (Vereenigde
Oost Indische Compagnie). Kekuasaan Mataram pada waktu itu meliputi
hampir seluruh Jawa, dari Pasuruan sampai Cirebon. Sementara itu VOC telah
menguasai beberapa wilayah seperti di Batavia dan di Indonesia Bagian Timur.

Di samping dalam bidang politik dan militer, Sultan Agung juga mencurahkan
perhatiannya pada bidang ekonomi dan kebudayaan. Upayanya antara lain
memindahkan penduduk Jawa Tengah ke Kerawang, Jawa Barat, di mana
terdapat sawah dan ladang yang luas serta subur. Sultan Agung juga berusaha
menyesuaikan unsur-unsur kebudayaan Indonesia asli dengan Hindu dan
Islam. Misalnya Garebeg disesuaikan dengan hari raya Idul Fitri dan hari
kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sejak itu dikenal Garebeg Puasa dan Garebeg
Mulud. Pembuatan tahun Saka dan kitab filsafat Sastra Gendhing merupakan
karya Sultan Agung yang lainnya.

Sultan Agung meninggal pada tahun 1645 dengan meninggalkan Mataram


dalam keadaan yang kokoh, aman, dan makmur. Ia diganti oleh putranya yang
bergelar Amangkurat I. Amangkurat I tidak mewarisi sifat-sifat ayahnya.
Pemerintahannya yang berlangsung tahun 1645-1676 diwarnai dengasn
banyak pembunuhan/kekejaman. Pada masa pemerintahannya ibukota
kerajaan Mataram dipindahkan ke Kerta.

Pada tahun 1674 pecahlah Perang Trunajaya yang didukung para ulama dan
bangsawan, bahkan termasuk putra mahkota sendiri. Ibukota Kerta jatuh dan
Amangkurat I (bersama putra mahkota yang akhirnya berbalik memihak
ayahnya) melarikan diri untuk mencari bantuan VOC. Akan tetapi sampai di
Tegalarum, (dekat Tegal, Jawa Tengah) Amangkurat I jatuh sakit dan akhirnya
wafat.

Ia digantikan oleh putra mahkota yang bergelar Amangkurat II atau dikenal


juga dengan sebutan Sunan Amral. Sunan Amangkurat II bertahta pada tahun
1677-1703. Ia sangat tunduk kepada VOC demi mempertahankan tahtanya.
Pada akhirnya Trunajaya berhasil dibunuh oleh Amangkurat II dengan bantuan
VOC, dan sebagai konpensasinya VOC menghendaki perjanjian yang berisi:
Mataram harus menggadaikan pelabuhan Semarang dan Mataram harus
mengganti kerugian akibat perang.

Oleh karena Kraton Kerta telah rusak, ia memindahkan kratonnya ke Kartasura


(1681). Kraton dilindungi oleh benteng tentara VOC. Dalam masa ini
Amangkurat II berhasil menyelesaikan persoalan Pangeran Puger (adik
Amangkurat II yang kelak dinobatkan menjadi Paku Buwana I oleh para
pengikutnya). Namun karena tuntutan VOC kepadanya untuk membayar ganti
rugi biaya dalam perang Trunajaya, Mataram lantas mengalami kesulitan
keuangan. Dalam kesulitan itu ia berusaha ingkar kepada VOC dengan cara
mendukung Surapati yang menjadi musuh dan buron VOC.

Hubungan Amangkurat II dengan VOC menjadi tegang dan semakin


memuncak setelah Amangkurat II mangkat (1703) dan digantikan oleh
putranya, Sunan Mas (Amangkurat III). Ia juga menentang VOC. Pihak VOC
yang mengetahui rasa permusuhan yang ditunjukkan raja baru tersebut, maka
VOC tidak setuju dengan penobatannya. Pihak VOC lantas mengakui Pangeran
Puger sebagai raja Mataram dengan gelar Paku Buwana I. Hal ini
menyebabkan terjadinya perang saudara atau dikenal dengan sebutan Perang
Perebutan Mahkota I (1704-1708). Akhirnya Amangkurat III menyerah dan ia
dibuang ke Sailan oleh VOC. Namun Paku Buwana I harus membayar ongkos
perang dengan menyerahkan Priangan, Cirebon, dan Madura bagian timur
kepada VOC.

Paku Buwana I meninggal tahun 1719 dan digantikan oleh Amangkurat IV


(1719-1727) atau dikenal dengan sebutan Sunan Prabu , dalam
pemerintahannya dipenuhi dengan pemberontakan para bangsawan yang
menentangnya, dan seperti biasa VOC turut andil pada konflik ini, sehinggga
konflik membesar dan terjadilah Perang Perebutan Mahkota II (1719-1723).
VOC berpihak pada Sunan Prabu sehingga para pemberontak berhasil
ditaklukkan dan dibuang VOC ke Sri Langka dan Afrika Selatan.

Sunan Prabu meninggal tahun 1727 dan diganti oleh Paku Buwana II (1727-
1749). Pada masa pemerintahannya terjadi pemberontakan China terhadap
VOC. Paku Buwana II memihak China dan turut membantu memnghancurkan
benteng VOC di Kartasura. VOC yang mendapat bantuan Panembahan
Cakraningrat dari Madura berhasil menaklukan pemberontak China. Hal ini
membuat Paku Buwana II merasa ketakutan dan berganti berpihak kepada
VOC. Hal ini menyebabkan timbulnya pemberontakan Raden Mas Garendi yang
bersama pemberontak China menggempur kraton, hingga Paku Buwana II
melarikan diri ke Panaraga. Dengan bantuan VOC kraton dapat direbut kembali
(1743) tetapi kraton telah porak poranda yang memaksanya untuk
memindahkan kraton ke Surakarta (1744).
Hubungan manis Paku Buwana II dengan VOC menyebabkan rasa tidak suka
golongan bangsawan. Dengan dipimpin Raden Mas Said terjadilah
pemberontakan terhadap raja. Paku Buwana II menugaskan adiknya,
Pangeran Mangkubumi, untuk mengenyahkan kaum pemberontak dengan janji
akan memberikan hadiah tanah di Sukowati (Sragen sekarang). Usaha
Mangkubumi berhasil. Tetapi Paku Buwana II mengingkari janjinya, sehingga
Mangkubumi berdamai dengan Raden Mas Said dan melakukan
pemberontakan bersama-sama. Mulailah terjadi Perang Perebutan Mahkota III
(1747-1755).

Paku Buwana II dan VOC tak mampu menghadapi 2 bangsawan yang didukung
rakyat tersebut, bahkan akhirnya Paku Buwana II jatuh sakit dan wafat
(1749). Namun menurut pengakuan Hogendorf, Wakil VOC Semarang saat
sakratul maut Paku Buwana II menyerahkan tahtanya kepada VOC. Sejak saat
itulah VOC merasa berdaulat atas Mataram. Atas inisiatif VOC, putra mahkota
dinobatkan menjadi Paku Buwana III (1749).

Pengangkatan Paku Buwana III tidak menyurutkan pemberontakan, bahkan


wilayah yang dikuasai Mangkubumi telah mencapai Yogya, Bagelen, dan
Pekalongan. Namun justru saat itu terjadi perpecahan anatara Mangkubumi
dan Raden Mas Said. Hal ini menyebabkan VOC berada di atas angin. VOC lalu
mengutus seorang Arab dari Batavia (utusan itu diakukan VOC dari Tanah
Suci) untuk mengajak Mangkubumi berdamai.

Ajakan itu diterima Mangkubumi dan terjadilah apa yang sering disebut
sebagai Palihan Nagari atau Perjanjian Giyanti (1755). Isi perjanjian tersebut
adalah: Mataram dibagi menjadi dua. Bagian barat dibagikan kepada Pangeran
Mangkubumi yang diijinkan memakai gelar Hamengku Buwana I dan
mendirikan kraton di Yogyakarta. Sedangkan bagian timur diberikan kepada
Paku Buwana III.

Mulai saat itulah Mataram dibagi dua, yaitu Kasultanan Yogyakarta dengan
raja Sri Sultan Hamengku Buwana I dan Kasunanan Surakarta dengan raja Sri
Susuhunan Paku Buwana III.
Menelusuri jejak-jejak situs kerajaan Mataram Islam

Pertapaan Kembang Lampir

Kembang Lampir merupakan petilasan Ki Ageng Pemanahan yang terletak di


Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul. Tempat ini
merupakan pertapaan Ki Ageng Pemanahan ketika mencari wahyu karaton
Mataram. Ki Ageng Pemanahan merupakan keturunan Brawijaya V dari
kerajaan Majapahit. Dalam bertapa itu akhirnya ia mendapat petunjuk dari
Sunan Kalijaga bahwa wahyu karaton berada di Dusun Giring, Desa Sodo,
Kecamatan Paliyan, Gunung Kidul. Untuk itu ia diperintahkan oleh Sunan
Kalijaga untuk cepat-cepat pergi ke sana. Sampai di Sodo ia singgah ke rumah
kerabatnya, Ki Ageng Giring.

Diceritakan bahwa di tempat itu Ki Ageng Giring dan Pemanahan "berebut"


wahyu karaton yang disimbolkan dalam bentuk degan (kelapa muda).
Barangsiapa meminum air degan itu sampai habis, maka anak keturunannya
akan menjadi raja Tanah Jawa. Konon degan tersebut merupakan simbol
persetubuhan dengan seorang puteri. Dalam perebutan wahyu tersebut Ki
Ageng Pemanahan yang berhasil memenangkannya. (Lihat rubrik: Makam Ki
Ageng Giring).

Untuk dapat sampai ke tempat pertapaan ini pengunjung harus melewati anak
tangga permanen yang telah dibangun. Adapun denah kompleks Kembang
Lampir berbentuk angka 9 (sembilan). Hal ini sebagai tanda bahwa kompleks
itu dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwana IX. Bangunan yang ada di
sana antara lain : Bangunan induk sebagai tempat penyimpanan pusaka
"Wuwung Gubug Mataram dan Songsong Ageng Tunggul Naga" serta dua buah
Bangsal Prabayeksa di kanan dan di kiri. Menurut jurukunci, Surakso Puspito,
sebagai penghormatan kepada para pepundhen Mataram di kompleks itu juga
dibangun beberapa patung antara lain : Panembahan Senapati dan Ki Ageng
Pemanahan, serta Ki Juru Mertani.
PINTU GERBANG:
Gerbang ini merupakan satu-satunya jalan untuk naik menuju Bangsal Prabayeksa.

KOMPLEKS KEMBANG LAMPIR:


Kembang Lampir dibangun di atas sebuah bukit dan dikelilingi pagar.
Kalau kita berada di Bangsal Prabayeksa, maka kita dapat menikmati
keindahan pemandangan di desa Giri Sekar tersebut.
KETATNYA BIROKRASI:
Situs sejarah Mataram ini sebenarnya sangat menarik untuk dikunjungi para peneliti,
sejarawan, pelajar, dan wisatawan umum. Hanya sayang birokrasi yang ditetapkan
jurukunci sangat ketat sehingga hanya orang-orang yang dapat memenuhi persyaratan
tertentu
(misalnya harus membawa kembang telon 'tiga jenis', minyak wangi, dan kemenyan)
saja yang diijinkan masuk ke tempat ini.

PENDAPA PEZIARAH :
Pendapa peziarah tampak dari bawah.
Pada tempat inilah para pengunjung diwajibkan berdoa dan memohon sesuatu seperti:
murah rezeki, naik pangkat, disukai atasan, dan sebagainya melalui perantaraan Ki Ageng
Pemanahan.
Pengunjung yang tidak mampu berdoa sendiri bisa minta bantuan supaya didoakan oleh
jurukunci,
selanjutnya jurukunci akan memberitahu kepada peziarah tentang
wangsit, wisik, sanepa yang didapat dari Ki Ageng.
Tempat Pemujaan Kembang Lampir
Menelusuri jejak-jejak situs kerajaan Mataram Islam

Situs Makam Ki Ageng Giring

Makam Ki Ageng Giring III merupakan makam pepunden Mataram yang


diyakini oleh sementara masyarakat sebagai penerima wahyu Karaton
Mataram. Makam kuna itu terletak di Desa Sada, Kecamatan Paliyan,
Kabupaten Gunung Kidul, atau sekitar 6 kilometer ke arah barat daya dari kota
Wanasari.

Menurut Mas Ngabehi Surakso Fajarudin yang menjabat jurukunci makam


Giring, disebutkan bahwa Ki Ageng Giring adalah salah seorang keturunan
Brawijaya IV dari Retna Mundri, yang hidup pada abad XVI. Dari
perkawinannya dengan Nyi Talang Warih melahirkan dua orang anak, yaitu
Rara Lembayung dan Ki Ageng Wanakusuma yang nantinya menjadi Ki Ageng
Giring IV.

Pencarian wahyu Keraton Mataram itu konon atas petunjuk Sunan Kalijaga
kepada Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Giring disuruh
menanam sepet (sabut kelapa kering), yang kemudian tumbuh menjadi pohon
kelapa yang menghasilkan degan (buah kelapa muda). Sedangkan Ki Ageng
Pemanahan melakukan tirakat di Kembang Semampir (Kembang Lampir),
Panggang, Gunung Kidul.

Menurut wisik 'bisikan gaib' yang didapat, air degan milik Ki Ageng Giring itu
harus diminum saendhegan (sekaligus habis) agar kelak dapat menurunkan
raja. Oleh karenanya Ki Ageng Giring berjalan-jalan ke ladang terlebih dulu
agar kehausan sehingga dengan demikian ia bisa menghabiskan air degan
tersebut dengan sekali minum (saendhegan). Namun sayang, ketika Ki Ageng
Giring sedang di ladang, Ki Ageng Pemanahan yang baru pulang dari bertapa
di Kembang Lampir singgah di rumahnya, dalam keadaan haus ia meminum
air kelapa muda itu sampai habis dengan sekali minum.

Betapa kecewa dan masygulnya perasaan Ki Ageng Giring melihat kenyataan


itu sehingga dia hanya bisa pasrah, namun ia menyampaikan maksud kepada
Ki Ageng Pemanahan agar salah seorang anak turunnya kelak bisa turut
menjadi raja di Mataram. Dari musyawarah diperoleh kesepakatan bahwa
keturunan Ki Ageng Giring akan diberi kesempatan menjadi raja tanah Jawa
pada keturunan yang ke tujuh.

Versi lain menyebutkan bahwa Ki Ageng Giring ketika tirakat memperoleh


Wahyu Mataram di Kali Gowang. Istilah gowang konon berasal dari suasana
batin yang kecewa (gowang) karena gagal meminum air degan oleh karena
telah kedahuluan Ki Ageng Pemanahan. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa
kesempatan menjadi raja Mataram pupus sudah, tinggal harapan panjang
yang barangkali bisa dinikmati pada generasi ke tujuh.

Hal itu berarti setelah keturunan Ki Ageng Pemanahan yang ke-6, atau
menginjak yang ke-7, ada kemungkinan bagi keturunan Ki Ageng Giring untuk
menjadi raja. Apakah Pangeran Puger menjadi raja setelah 6 keturunan dari
Pemanahan ? Kita lihat silsilah di bawah ini.

Puger menjadi raja Mataram setelah mengalahkan Amangkurat III. Jika angka
6 dianggap perhitungan kurang wajar, yang wajar adalah 7, maka dapat
dihitung Raden Mas Martapura yang bertahta sekejap sebelum tahtanya
diserahkan ke Raden Mas Rangsang (Sultan Agung). Jadi pergantian keluarga
berlangsung setelah 7 raja keturunan Ki Ageng Pemanahan.

Bukti bahwa Puger memang keturunan Giring dapat dilihat dalam Babad Nitik
Sultan Agung. Babad ini menceritakan bahwa pada suatu ketika parameswari
Amangkurat I, Ratu Labuhan, melahirkan seorang bayi yang cacat. Bersamaan
dengan itu isteri Pangeran Arya Wiramanggala, keturunan Kajoran, yang
merupakan keturunan Giring, melahirkan seorang bayi yang sehat dan
tampan. Amangkurat mengenal Panembahan Kajoran sebagai seorang pendeta
yang sakti dan dapat menyembuhkan orang sakit. Oleh karena itu puteranya
yang cacat dibawa ke Kajoran untuk dimintakan penyembuhannya. Kajoran
merasa bahwa inilah kesempatan yang baik untuk merajakan keturunannya.
Dengan cerdiknya bayi anak Wiramanggala-lah yang dikembalikan ke
Amangkurat I (ditukar) dengan menyatakan bahwa upaya penyembuhannya
berhasil.
Sudah ditakdirkan bahwa Amangkurat III, putera pengganti Amangkuat II
berwatak dan bernasib jelek Terbukalah jalan bagi Pangran Puger untuk
merebut tahta. Sumber lain menceritakan silsilah Puger sebagai berikut:

Dengan demikian, benarlah bahwa pada urutan keturunan yang ke-7


keturunan Ki Ageng Giring-lah yang menjadi raja, meskipun silsilah itu diambil
dari garis perempuan. Namun ini cukup menjadi dalih bahwa Puger alias Paku
Buwana I adalah raja yang berdarah Giring.

PINTU GERBANG:
Inilah pintu gerbang kompleks makam Ki Ageng Giring III
di Desa Sada, Paliyan, Gunung Kidul.
Makam ini selalu ramai dikunjungi peziarah pada malam Jumat,
khususnya malam Jumat Kliwon.
PINTU MASUK KEDUA:
Setelah para peziarah memasuki pintu gerbang,
mereka akan melewati makam para pengikut Ki Ageng Giring
yang berada di luar tembok.
Makam Ki Ageng Giring sendiri berada di dalam tembok
yang dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwana IX.
Para peziarah dilarang memakai alas kaki jika memasuki kompleks ini.
BATU NISAN:
Di sinilah Ki Ageng Giring III dimakamkan.
Para peziarah dilarang mendekati batu nisan,
mereka hanya diperbolehkan berdoa di luar ruangan cungkup.
Pada umumnya para peziarah memohon agar diberi pangkat dan derajat.

KOMPLEKS MAKAM KI AGENG SUKADANA:


Sekitar 2 kilometer arah tenggara Makam Ki Ageng Giring III
terdapat kompleks makam Ki Ageng Sukadana.
Oleh sebagian penduduk, Ki Ageng Sukadana diyakini sebagai
nama lain dari Ki Ageng Giring II atau ayah dari Ki Ageng Giring III.
Berbeda dengan makam Ki Ageng Giring III, makam ini terlihat tidak terawat.
Cungkup Ki Sukadana terletak paling ujung.
BATU NISAN KI SUKADANA:
Sama dengan Ki Ageng Giring III, makam ini selalu ramai dikunjungi para peziarah.
Di tempat ini peziarah diperbolehkan masuk cungkup dan berdoa di sisi batu nisan.

SENDANG PITUTUR:
Sendang ini terdapat di utara (sekitar 3 kilometer) dari makam Ki Ageng Sukadana.
Menurut legenda penduduk setempat, sendang ini sering
dipakai mandi Ki Ageng Sukadana ketika ia masih hidup.
Menelusuri jejak-jejak situs kerajaan Mataram Islam

Situs Plered

Situs Plered merupakan bekas ibukota Mataram masa pemerintahan Sultan


Agung.. Keraton Plered dapat dikatakan sudah tidak bersisa. Kini hanya
menjadi nama kalurahan dan kecamatan di wilayah Kabupaten Bantul.

Di Plered ini juga terdapat Segarayasa, berasal dari kata segara (Laut) dan
yasa (buatan) atau laut buatan. Secara harafiah diartikan sebagai telaga
buatan. Konon dibuat oleh Sultan Agung untuk memenuhi permintaan Sang
Permaisuri yang mempunyai keinginan agar dibuatkan laut yang mirip laut
selatan. Permintaan ini dipenuhi dengan membuat telaga buatan di dekat
Sungai Opak, tidak jauh dari Karaton Mataram yang waktu itu berada di
Plered. Kini Segarayasa diabadikan sebagai nama desa di wilayah Kecamatan
Plered, Kabupaten Bantul.

TINGGAL NAMA: Keraton Plered tinggal nama, namun nama itu diabadikan
menjadi nama dusun, desa, dan kecamatan di wilayah Kabupaten Bantul.
Seperti yang terlihat di foto, Keputren tempat para puteri Mataram
bersemanyam kini menjadi nama dusun.
TAMBAK SEGARAYASA: Bekas-bekas tambak/bedheng Segarayasa masih
dapat ditemukan di kawasan Segarayasa, Plered, Bantul, Yogyakarta.
SUMUR GUMULING: Merupakan sumur kuno peninggalan kerajaan Mataram
di Plered. Sampai sekarang sumur ini ramai dikunjungi peziarah yang meyakini
berkah dari air sumur.
Menelusuri jejak-jejak situs kerajaan Mataram Islam

KERATON MATARAM KARTA

Karta, Kerta, atau Charta adalah nama sebuah dusun di wilayah Kalurahan
Plered, Kecamatan Plered, Kabupaten Bantul, Yogyakarta (kurang lebih 4
kilometer arah selatan dari Kotagede). Karta dulunya adalah sebuah nama
kompleks Keraton Mataram (setelah Mataram Kotagede). Keraton Mataram
Karta dibangun oleh Sultan Agung. Waktu pembangunan keraton ini tidak
diketahui dengan pasti. Akan tetapi mengingat Sultan Agung naik tahta sekitar
tahun 1614-an, maka pada abad itulah kira-kira Karta dibangun. Ketika
pembangunan Keraton Kerta dilakukan, Sultan Agung untuk sementara masih
tinggal di dalam keraton ayah dan neneknya, yaitu di Kotagede.

Peninggalan-peninggalan Keraton Kerta dapat dikatakan sangat minim.


Peninggalan yang minim itu pun tidak begitu banyak membantu untuk
memperkirakan bagaimanakah kira-kira bentuk Keraton Kerta pada zamannya.
Benda peninggalan yang dapat ditemukan di sana hanya berupa dua buah
umpak/alas tiang yang terbuat dari batu andesit, sisa batuan berbentuk
persegi yang diduga merupakan salah satu komponen batur. Umpak tersebut
berbentuk prisma terpancung. Jumlah umpak tersebut semula adalah empat
buah. Satu buah dibawa ke Taman Sari Yogyakarta dan digunakan sebagai
alas tiang/umpak Masjid Saka Tunggal yang ada di kompleks Taman Sari
Yogyakarta. Sedangkan umpak yang satu lagi berada di Desa Trayeman,
Bantul.

Pada sisi selatan umpak-umpak tersebut terdapat struktur batu putih yang
membujur ke arah timur-barat (sekarang sudah tidak kelihatan bekas-
bekasnya). Selain peninggalan-peninggalan tersebut, ada lagi peninggalan
yang lain yang berupa kompleks makam lama dan sisa-sisa masjid agung
Kerta.
Menelusuri jejak-jejak situs kerajaan Mataram Islam

Parangkusuma

Pantai Parangkusuma merupakan kawasan sakral kerajaan Mataram, di sana


terdapat batu yang konon merupakan tempat pertemuan antara Kanjeng Ratu
Kidul dan Panembahan Senapati berikut raja-raja Mataram penerusnya. Di
tempat inilah Senapati pernah bertapa untuk meminta bantuan Ratu Kidul
dalam memperbesar kerajaannya.

Parangkusuma pada saat ini masih sering dipergunakan sebagai tempat untuk
meditasi atau nenepi oleh masyarakat yang ingin memanjatkan
doa/permintaan, khususnya setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon.
Pada malam 1 Sura tempat ini penuh sesak didatangi para peziarah dari
berbagai kota untuk melakukan sesaji dan ziarah terhadap Ratu Kidul.

CEPURI PARANGKUSUMA: Cepuri ini di dalamnya terdapat 2 buah batu tempat pertemuan
antara Panembahan Senapati dengan Kanjeng Ratu Kidul. Untuk masuk ke cepuri, peziarah
harus meminta izin terlebih dahulu kepada juru kunci. Apabila juru kunci tidak ada di tempat
peziarah cukup menabuh kentongan yang ada di pintu masuk cepuri sebagai isyarat
memanggil kedatangan juru kunci.
SELA GILANG: Inilah 2 buah batu tempat pertemuan antara Senapati dan Ratu Kidul, tempat
ini sangat disakralkan.

KOMPLEKS CEPURI: Di sekitar cepuri terdapat gugusan batu karang yang hampir menjadi fosil,
batu tersebut termasuk tempat yang disakralkan.
Menelusuri jejak-jejak situs kerajaan Mataram Islam

Kotagede

Kotagede terletak 10 Km arah tenggara dari Kota Yogyakarta. Di tempat ini


kita dapati berbagai macam perhiasan dan interior yang terbuat dari perak.
Kota kuno itu adalah bekas ibukota Kerajaan Mataram yang awalnya dibuka
oleh Ki Ageng Pemanahan abad 16 M. Kotagede merupakan jembatan yang
menghubungkan antara tradisi Hindu - Budha dan Islam, hal itu terlihat pada
peninggalan kuno kompleks masjid makam Panembahan Senopati beserta
keluarganya.

Sisa-sisa peninggalan Kerajaan Mataram berupa pintu gerbang masuk komplek


Makam Kotagede yang berbentuk gapura paduraksa dan pohon beringin tua
yang masih tumbuh kokoh sampai sekarang. Bangunan model paduraksa itu
telah dikenal sejak masa Majapahit.

Masyarakat Kotagede yang mayoritas beragama Islam dikenal mempunyai


etos kerja yang tinggi, mereka berdagang dan membuat kerajinan tangan dari
perak. Kemampuan berdagang ini meruapakan warisan turun temurun. Orang
Kalang pada masa kejayaan Mataram di Kotagede menjadi konglomerat-
konglomerat pribumi yang hebat. Kejayaan Kotagede di masa lampau masih
dapat disaksikan hingga sekarang. Ukir-ukiran yang dipahatkan pada kerangka
bangunan rumah-rumah orang Kalang menunjukkan kemewahan pada
zamannya.

Di makam Kotagede sumere para pepundhen Mataram antara lain : Ki Ageng


Pemanahan, Panembahan Senopati, Penembahan Sedo Krapayak, Kanjeng
Ratu Kalinyamat, Kanjeng Ratu Retno Dumilah, Nyai Ageng Nis, Panembahan
Joyoprono, Nyai Ageng Mataram, Nyai Ageng Pati, Nyai Ageng Juru Mertani
dan lain-lain..

Jika pembaca menghendaki informasi lebih lengkap, silahkan membaca buku:


Tim Peneliti Lembaga Studi Jawa, Kotagede Pesona dan Dinamika Sejarahnya,
(Lembaga Studi Jawa, 1997).
GERBANG MAKAM KOTAGEDE: Inilah gerbang masuk makam Kotagede, di sini nampak
perpaduan unsure bangunan Hindu dan Islam.

MASJID MAKAM KOTAGEDE: Sebagai kerajaan Islam, Mataram memiliki banyak peninggalan
masjid kuno, inilah masjid di komplek makam Kotagede yang bangunannya bercorak Jawa.

BANGSAL DUDA: Di sinilah tempat peziarah mendapatkan informasi dari jurukunci makam
yang berasal dari Kraton Surakarta dan Kraton Yogyakarta. Di tempat ini jugalah peziarah
menanggalkan pakaiannya untuk berganti pakaian peranakan jika hendak memasuki komplek
makam.

RUMAH KALANG: Rumah orang Kalang yang tampak kemegahannya.


KALANG OBONG: Upacara tradisional kematian orang Kalang, upacara ini seperti Ngaben di
Bali, tetapi kalau upacara Kalang Obong ini bukan mayatnya yang dibakar melainkan pakaian
dan barang-barang peninggalannya.

KERAJINAN PERAK: Perak Kotagede sangat terkenal hingga ke mancanegara, kerajinan ini
warisan dari orang-orang Kalang.
PENJUAL KIPO: Makanan tradisional ini sangat khas dan hanya ada di Kotagede, terbuat dari
kelapa, tepung, dan gula merah.
MENELUSURI JEJAK-JEJAK SITUS KERAJAAN MATARAM ISLAM

Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri

Pajimatan Imogiri merupakan makam raja-raja Mataram (Surakarta dan


Yogyakarta) yang terletak 17 kilometer ke arah selatan dari Kota Yogyakarta
melalui Jalan Pramuka - Imogiri. Di kawasan itu bagi warga masyarakat
disediakan lapangan parkir yang terletak di sebelah barat gerbang masuk
sebelum naik tangga. Sedangkan bagi kerabat istana dan tamu VIP disediakan
parkir di bagian atas mendekati makam sehingga tidak perlu meniti tangga.
Mitos setempat menyatakan bahwa barang siapa bisa menghitung jumlah
tangga secara benar (jumlahnya ada 345 anak tangga) maka cita-citanya akan
terkabul. Tata cara memasuki makam di tempat itu sama dengan di Astana
Kotagede, dimana setiap pengunjung diharuskan memakai pakaian tradisonil
Mataram, pria harus mengenakan pakaian peranakan berupa beskap berwarna
hitam atau biru tua bergaris-garis, tanpa memakai keris, atau hanya memakai
kain/jarit tanpa baju. Sedangkan bagi wanita harus mengenakan kemben.

Perlu diketahui bahwa selama berziarah pengunjung tidak diperkenankan


memakai perhiasan. Bagi para peziarah yang tidak mempersiapkan pakaian
dimaksud dari rumah bisa menyewa pada abdi dalem sebelum memasuki
komplek makam. Bagi kerabat istana khususnya putra-putri raja ada
peraturan tersendiri, pria memakai beskap tanpa keris, puteri dewasa
mengenakan kebaya dengan ukel tekuk, sedangkan puteri yang masih kecil
memakai sabuk wolo ukel konde.

Menurut buku Riwayat Pasarean Imogiri Mataram, Makam Imogiri memang


sejak awal telah disiapkan oleh Sultan Agung dengan susah payah. Diceritakan
Sultan Agung yang sakti itu setiap Jumat sholat di Mekkah, dan akhirnya ia
merasa tertarik untuk dimakamkan di Mekkah. Namun karena berbagai alasan
keinginan tersebut ditolak dengan halus oleh Pejabat Agama di Mekkah,
sebagai gantinya ia memperoleh segenggam pasir dari Mekkah. Sultan Agung
disarankan untuk melempar pasir tersebut ke tanah Jawa, dimana pasir itu
jatuh maka di tempat itulah yang akan menjadi makam Sultan Agung. Pasir
tersebut jatuh di Giriloyo, tetapi di sana Pamannya, Gusti Pangeran Juminah
(Sultan Cirebon) telah menunggu dan meminta untuk dimakamkan di tempat
itu. Sultan Agung marah dan meminta Sultan Cirebon untuk segera meninggal,
maka wafatlah ia. Selanjutnya pasir tersebut dilemparkan kembali oleh Sultan
Agung dan jatuh di Pegunungan Merak yang kini menjadi makam Imogiri.

Raja-raja Mataram yang dimakamkan di tempat itu antara lain : Sultan Agung
Hanyakrakusuma, Sri Ratu Batang, Amangkurat Amral, Amangkurat Mas, Paku
Buwana I, Amangkurat Jawi, Paku Buwana II s/d Paku Buwana XI. Sedangkan
dari Kasultanan Yogyakarta antara lain : Hamengku Buwana I s/d Hamengku
Buwana IX, kecuali HB II yang dimakamkan di Astana Kotagede. (Lihat:
Skema Makam Raja-raja Mataram di Imogiri).

Skema
Makam Raja-raja Imogiri. (terlampir untuk di scan)

MENITI TANGGA: Untuk mencapai makam para Raja Mataram peziarah harus meniti tangga
naik sebanyak 345 buah, mereka percaya kalau berhasil menghitung dengan tepat maka
permohonan yang disampaikan kepada Raja akan dikabulkan.
MASJID MAKAM IMOGIRI: Segera setelah masuk ke komplek makam Imogiri peziarah akan
menjumpai masjid yang dipakai abdi dalem dan pengunjung untuk sholat.

GAPURA SUPIT URANG: Merupakan gerbang masuk ke komplek makam, bentuknya


menyerupai gapura di Bali, di samping masing-masing kaki tangga menuju ke gapura terdapat
pendopo tempat para peziarah menantikan saat gerbang besar dibuka.
GENTHONG: Di sebelah dalam gapura Supit Urang, masih ada sebuah gerbang besar yang
bangunannya bergaya zaman peralihan Hindu Jawa ke Islam, di dekatnya terdapat beberapa
genthong air besar, dua buah diantaranya di papan nama bertulisakan: Kyai Mendung dari
Ngerum dan Nyai Siem dari Siam.

GERBANG KOMPLEK MAKAM RAJA SURAKARTA: Inilah pintu masuk ke komplek Makam
raja-raja Kasunanan Surakarta.
GERBANG KOMPLEK MAKAM RAJA YOGYAKARTA: Inilah pintu masuk ke komplek Makam
raja-raja Kasultanan Yogyakarta.