Anda di halaman 1dari 11

DENTAL SITE TEACHING

PULPOTOMI VITAL GIGI 74 DENGAN DIAGNOSA


PULPITIS REVERSIBLE

Oleh :
Zakiya Chaleda Zia
1841412044
Dosen Pembimbing :
drg. Puji Kurnia, MDSc, Sp. KGA

DEPARTEMEN PEDODONSIA
RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PENDIDIKAN
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS ANDALAS
2020
A. Studi Literatur

Pulpotomi adalah Pengambilan pulpa yang telah mengalami infeksi di


dalam kamar pulpa dan meninggalkan jaringan pulpa dibagian radikular.

Pulpotomi dapat dibagi 3 bagian :

1. Pulpotomi vital.

2. Pulpotomi devital / mumifikasi / devitalized pulp amputation.

3. Pulpotomi non vital / amputasi mortal.

Keuntungan dari pulpotomi :


1) Dapat diselesaikan dalam waktu singkat satu atau dua kali kunjungan.
2) Pengambilan pulpa hanya di bagian korona hal ini menguntungkan karena
pengambilan pulpa di bagian radikular sukar, penuh ramikasi dan sempit.
3) Iritasi obat – obatan instrumen perawatan saluran akar tidak ada.
4) Jika perawatan ini gagal dapat dilakukan pulpektomi.

Pulpotomi Vital
Pulpotomi vital atau amputasi vital adalah tindakan pengambilan jaringan pulpa
bagian koronal yang mengalami inflamasi dengan melakukan anestesi, kemudian
memberikan medikamen di atas pulpa yang diamputasi agar pulpa bagian radikular tetap
vital.
Indikasi :
1) Tidak ada nyeri spontan ataupun terus menerus
2) Tidak ada kelainan patologis pulpa klinis maupun rontgenologis.

3) Kondisi dimana sebaiknya ektraksi gigi dihindari, misalnya pada pasien hemofilia
atau pasien dengan kelainan perdarahan.
4) Gigi sulung dan gigi tetap muda vital, tidak ada tanda – tanda gejala peradangan
pulpa dalam kamar pulpa.

1
5) Terbukanya pulpa saat ekskavasi jaringan karies / dentin lunak prosedur pulp
capping indirek yang kurang hati – hati, faktor mekanis selama preparasi kavitas
atau trauma gigi dengan terbukanya pulpa.
6) Gigi masih dapat dipertahankan / diperbaiki dan minimal didukung lebih dari 2/3
panjang akar gigi.

Kontraindikasi :
1. Pada anak-anak dengan penyakit jantung bawaan atau imunosupresi
2. Gigi dengan diagnosa pulpitis irreversible
3. Rasa sakit spontan dan juga rasa sakit terutama bila diperkusi maupun palpasi.
4. Ada mobiliti yang patologik.
5. Terlihat radiolusen pada daerah periapikal, kalsifikasi pulpa, resorpsi akar interna
maupun eksterna.
6. Keadaan umum yang kurang baik, di mana daya tahan tubuh terhadap infeksi sangat
rendah.
7. Perdarahan yang berlebihan setelah amputasi pulpa.

Pulpotomi vital umunya dilakukan pada gigi sulung dan gigi permanen muda.
Pulpotomi gigi sulung umunya menggunakan formokresol atau glutaradehid. Pada gigi
dewasa muda dipakai kalsium hidroksid. Kalsium hidroksid pada pulpotomi vital gigi
sulung menyebabkan resorpsi interna. Berdasarkan penelitian, menurut Finn keberhasilan
pulpotomi vital formokresol 97% secara rontgenologis dan 82% secara histologis. Reaksi
formokresol terhadap jaringan pulpa yaitu membentuk area yang terfiksasi dan pulpa di
bawahnya tetap dalam keadaan vital. Pulpotomi vital dengan formokresol hanya
dilakukan pada gigi sulung dengan singkat dan bertujuan mendapat sterilisasi yang baik
pada kamar pulpa.
Obat yang dipakai formokresol dari formula Buckley :
- Formaldehid 19%
- Kresol 35%
- Gliserin 15%
- Aquadest 100

2
Formokresol :
Formokresol dapat mengkoagulasi protein sehingga bakterisid yang kuat dan
kaustik. Pemakaian formokresol pada pulpotomi tidak merangsang pembentukan dentinal
bridge atau calcific barrier, tetapi jaringan pulpa akan membentuk zona fiksasi yang
bersifat keras, tahan terhadap autolysis dan merupakan barrier terhadap serangan bakteri
yang menuju ke apikal. Pemakaian formokresol pada pulpotomi vital selama 5 menit.
Pada pulpa yang mengalami peradangan kronis jaringan pulpa seharusnya perdarahan
akan berhenti dalam 3 – 5 menit setelah diletakkan formokresol.

Bahan yang biasa digunakan untuk mengisi kanal adalah: zinc oxide and eugenol,
pasta iodoform dan pasta Ca(OH)2. Kriteria utama pengisian bahan yang akan digunakan
pada gigi sulung yaitu harus teresorpsi bersamaan dengan resorpsi akar gigi, sehingga tidak
mengganggu erupsi gigi permanen.

Zinc Oxide Eugenol (Znoe)

Zinc oxide-eugenol dikembangkan sebagai alternatif dari segel berbasis gutta-percha


(sealant chloropercha dan eucapercha) karena mereka tidak memiliki stabilitas dimensi
setelah pengaturan. ZnOE merupakan salah satu bahan pengisi saluran akar yang banyak
digunakan untuk gigi sulung. Penelitian yang dilakukan oleh Hashieh menunjukkan efek
yang menguntungkan dari ZnOE. Jumlah ZnOE yang dilepaskan pada zona periapikal segera
setelah pengisian adalah 10-4 dan menurun menjadi 10-6 setelah 24 jam, dan mecapai 0 setelah
1 bulan.

Kelebihan:

➢ Mudah didapatkan,

➢ Biaya relatif murah,

➢ Mempunyai efek antimikroba yang baik,

➢ Tidak sitotoksik untuk sel-sel yang berkontak langsung ataupun tidak langsung,

➢ Plastisitasnya baik,

➢ Tidak toksisitas,

➢ Merupakan materi radiopak,

3
➢ Memiliki anti inflamasi dan analgesik yang baik.

➢ Tidak menyebabkan diskolorisasi pada gigi.

Kekurangan:

➢ Dapat mengiritasi jaringan periradicular tulang dan menyebabkan nekrosis tulang dan
cementum.

➢ Jika pengisiannya berlebih dapat mengiritasi jaringan sehingga menyebabkan inflamasi.

➢ Tingkat resorpsi lambat, dan mengubah jalan erupsi gigi permanen.

Pulpotomi Devital (Mumifikasi = Devitalized Pulp Amputation)

Pulpotomi devital atau mumifikasi adalah pengembalian jaringan pulpa yang terdapat
dalam kamar pulpa yang sebelumnya di devitalisasi, kemudian dengan pemberian pasta
anti septik, jaringan dalam saluran akar ditinggalkan dalam keadaan aseptik. Untuk
bahan devital gigi sulung dipakai pasta para formaldehid.

Indikasi :

1. Gigi sulung dengan pulpa vital yang terbuka karen karies atau trauma.
2. Pada pasien yang tidak dapat dilakukan anestesi.
3. Pada pasien yang perdarahan yang abnormal misalnya hemofili.
4. Kesulitan dalam menyingkirkan semua jaringan pulpa pada perawatan
pulpektomi terutama pada gigi posterior.
5. Pada waktu perawatan pulpotomi vital 1 kali kunjungan sukar dilakukan karena
kurangnya waktu dan pasien tidak kooperatif.

Kontra indikasi

1. Kerusakan gigi bagian koronal yang besar sehingga restorasi tidak mungkin
dilakukan.
2. Infeksi periapikal, apeks masih terbuka.
3. Adanya kelainan patologis pulpa secara klinis maupun rontgenologis.

4
Pulpotomi Non Vital (Amputasi Mortal) Definisi :

Amputasi pulpa bagian mahkota dari gigi yang non vital dan memberikan medikamen /
pasta antiseptik untuk mengawetkan dan tetap dalam keadaan aseptik.

Tujuan

Mempertahankan gigi sulung non vital untuk space maintainer

Indikasi

1)  Gigi sulung non vital akibat karies atau trauma.

2)  Gigi sulung yang telah mengalami resorpsi lebih dari 1/3 akar tetapi masih
diperlukan sebagai space maintainer.

3)  Gigi sulung yang telah mengalami dento alveolar kronis.

4)  Gigi sulung patologik karena abses akut, sebelumnya abses harus dirawat dahulu.

B. Data Pasien
Nama :X
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 6 tahun

C. Data Medik Umum

Penyakit Jantung : Tidak Ada

Diabetes : Tidak Ada

Hemophilia : Tidak Ada

Penyakit Lainnya : Tidak Ada

Alergi Obat : Tidak Ada

Alergi Makanan : Tidak Ada

D. Pemeriksaan Subjektif

5
1. Chief Complain
Pasien datang dengan keluhan gigi geraham kiri atas dan ingin ditambal.

2. Present Illness
Pasien menyadari gigi berlubang sejak 6 bulan yang lalu, gigi tersebut sakit saat
makanan masuk dan ketika di keluarkan sakitnya hilang dan belum pernah sakit
spontan.
3. Post Dental History
Pasien menyikat gigi 1 x sehari ketika mandi pagi. Pasien belum pernah mendapatkan
perawatan dari dokter gigi. Memiliki kebiasaan mengunyah satu sisi yaitu sebelah
kanan.
4. Post Medical History
Pasien tidak pernah dirawat dirumah sakit dan tidak sedang mendapatkan perawatan
dari dokter. Pasien tidak mengkonsumsi obat-obatan jangka panjang.
5. Family History
Ayah : tidak dicurigai memiliki penyakit sistemik
Ibu : tidak dicurigai memiliki penyakit sistemik

6. Social History
Pasien seorang siswa SD kelas 1, sehari-hari pasien tinggal bersama orang tua dan
saudara. Anak ke 3 dari 4 bersaudara. Konsumsi sayuran kurang. Istirahat cukup.

Gambaran klinis gigi 65

6
Elemen gigi : Karies Oklusal dentin terbuka ( site 1 size 3)

Perkusi :(-)

Palpasi :(-)

Termal : (+)

Tes bur : ( + ) ngilu

Mobility :(-)

Tidak terdapat pembengkakan di sekitar gigi

E. Pemeriksaan Penunjang (Radiografi)

Pada gigi 65 terdapat gambaran radiolusen pada bagian oklusal mahkota gigi
yang terlihat hingga selapis tipis diatas tanduk pulpa. Jumlah akar tiga buah, tidak
terdapat gambaran radiolusen pada bagian periapikal, yang menandakan tidak ada
kerusakan pada jaringan periapikal. Resorpsi akar kurang dari 1/3 akar pada gigi 65.

F. Diagnosis

Berdasarkan keluhan subjektif, pasien merasakan gigi geraham kiri atas berlubang
sejak 6 bulan yang lalu. Gigi tersebut belum pernah sakit tiba-tiba. sakit apabila pasien
makanan masuk kedalam lubang tersebut dan ketika dikeluarkan rasa sakit hilang.
Dari pemeriksaan objektif terlihat adanya karies gigi dibagian oklusal dengan
konsistensi lunak saat disondasi, karies sudah mencapai selapis tipis diatas pulpa, adanya
respon pulpa saat tes termal (+), perkusi (-) dan tes bur (+) ngilu dan berdasarkan rontgen
foto terlihat adanya karies selapis tipis diatas tanduk pulpa dan tidak adanya kelainan pada
periapikal gigi. Sehingga dapat ditegakan diagnosa yaitu pulpitis reversible.

G. Rencana Perawatan
1. Pulpotomi gigi 65
2. Restorasi pasca endodonti : SSC (Stainless Steel Crown)

H. Prognosis

7
Good prognosis, tidak terdapat fraktur horizontal maupun vertikal pada akar
gigi. Pasien kooperatif untuk datang berulang dan oral hygine pasien cukup baik.
I. Penatalaksanaan Alat dan bahan

Alat Bahan
Diagnostic set Pumice
Saliva ejector Cotton pellet
Brush Cotton roll
Spuit 1 cc Anestesi topikal
Ekskavator Pehakain
Round diamond bur Aquadest
Bur diamendo Formokresol
Spuit irigasi Kasa steril
Glass lab Zno
Instrumen plastis Eugenol
Semen spatel GIC lining
Caviton

GIC restorative

J. Penatalaksanaan

Kunjungan I
1. Ro-foto.

2. Siapkan instrument dan bahan.


3. Lakukan oral profilaksis dengan pumice dan brush dengan handpiece lowspeed,
keringkan mukosa
4. Isolasi gigi dengan cotton roll dan saliva ejector
5. Aplikasikan anestesi topikal dengan cotton pellet, kemudian lakukan anastesi infiltrasi
untuk meredakan rasa sakit pada bagian bukal dan palatal.
6. Ekskavasi jaringan karies dengan menggunakan ekskavator.
7. Buang atap pulpa dengan menggunakan round diamond bur. Masukkan kedalam bagian
yang terbuka dan gerakan ke mesial dan distal dengan menggunakan bur diamendo
seperlunya untuk membuang atap kamar pulpa.
8. Perluas bagian oklusal dari kavitas sepanjang seluruh permukaan oklusal untuk
memberikan jalan masuk yang mudah ke kamar pulpa.

8
9. Buang pulpa bagian korona. Hilangkan pulpa bagian korona dengan ekskavator tajam
atau dengan round bur. Hemostatis diperoleh dengan meletakkan cotton pellet steril pada
dasar kamar pulpa.
10. Irigasi dengan aquadest untuk membersihkan dan mencegah masuknya sisa-sisa dentin
kedalam jaringan pulpa bagian radikular. Hindari penggunaan semprotan udara.
11. Pendarahan sesudah amputasi pulpa segera dikontrol dengan cotton pellet yang dibasahi
aquadest, letakkan kapas di atas pulp stump selama 3-5 menit. Sesudah itu kapas diambil
secara hati-hati. Hindari pekerjaan kasar karena pulp stump sangat peka dan dapat
menyebabkan pendarahan kembali.
12. Dengan kapas steril yang sudah dibasahi formokresol, kemudian orifis saluran akar
ditutup selama 5 menit . Harus diingat bahwa kapas kecil yang dibasahi dengan
formokresol jangan terlalu basah, dengan meletakkan kapas tersebut pada kasa steril agar
formokresol yang berlebihan tadi dapat diserap.
13. Setelah 5 menit, kapas tadi diangkat, pada kamar pulpa akan terlihat warna coklat tua
atau kehitam – hitaman akibat proses fiksasi oleh formokresol.
14. Aduk zinc oxide dan eugenol hingga konsistensi pasta dan aplikasikan pasta hingga
1/3 kamar pulpa.
15. Aplikasikan GIC lining dan tutup dengan tambalan sementara.

Gambar. Langkah-langkah Perawatan Pulpotomi Formokresol. 1. Buang atap kamar


pulpa dengan bur bulat, 2. Buang pulpa di kamar pulpa dengan bur bulat. 3.
Pemberian formokresol selama 5 menit untuk mengatasi pendarahan. 4. Pengisian
kamar pulpa dengan campuran fletcer dengan eugenol,

Kunjungan II

9
1. Setelah 1 minggu tanyakan apakah ada keluhan dari pasien, lakukan tes perkusi,
palpasi, mobility, dan tes thermal.
2. Jika tidak ada keluhan, bongkar tambalan sementara
3. Lakukan persiapan pemasangan restorasi akhir ssc, yaitu dengan pembuatan core
build up menggunakan gic restorative.

DAFTAR PUSTAKA

1. Hartman, Henri. 2018. The Effectivenness Of One Visit Vital Pulpotomy In Primary
Teeth. Journal Of Medicine And Health. Vol 2 no 1.
2. Henny. 2009. Pulpotomi Sebagian Gigi Insisivus Sentralis Atas Desidui Pasca Trauma
pada Anak usia 3 tahun. MIKGI, 2(1).
3. Moursi, 2012. Clinical Cases in Pediatric Dentistry, Wiley-Blackwell : A John Wiley &
Sons, Inc., Publication
4. Trieska A, Arlette SPP. 2018. Biodentine pada pulpotomi vital gigi sulung : laporan
kasus. Indonesian Journal of Pediatric. Vol 1 no 2.
5. Welburi R, Duggal MS, Hosey MT. 2005. Paediatric Dentistry. 3rd ed. Oxford :
University Press

10