Anda di halaman 1dari 2

Nama : Robiatun Adawiyah

Nim : 07011181722029
Dosen : Zailani Surya Marpaung, S.SOS., MPA

EVOLUSI PEMBAYARAN LISTRIK

Era globalisasi dan informasi yang didukung oleh pesatnya perkembangan teknologi,
menuntut masyarakat untuk bergerak cepat menyelesaikan berbagai urusan bisnis. Masyarakat
juga memperoleh begitu banyak kemudahan dalam transaksi ekonomi. Salah satu pengaruh
paling signifikan dari datangnya era globalisasi dan pekembangan teknologi informasi dan
komunikasi yang sangat pesat itu adalah penggunaan sistem pembayaran nontunai. Kini,
instrumen atau alat pembayaran ini semakin inovatif, praktis, aman, dan efisien serta mudah
digunakan masyarakat.

Dari waktu ke waktu, alat pembayaran pun terus mengalami evolusi dalam berbagai
bentuk, antara lain, yang sudah sangat memasyarakat, yaitu kartu kredit, kartu anjungan tunai
mandiri (ATM) atau kartu debet, karena penggunaannya semakin praktis dan aman.masa depan,
tren pembayaran nontunai dipastikan akan meningkat pesat, seiring dengan semakin tingginya
aktivitas perekonomian lintas negara. Pergerakan investasi sudah tidak lagi mengenal batas ruang
dan waktu. Uang pun akhirnya tidak lagi punya rumahnya sendiri, karenaaliran dana bergerak
cepat dari satu negara ke negara lain, dan dari satu kota ke kota lain.

Sistem pembayaran merupakan salah satu pilar penopang stabilitas sistem keuangan yang
telah berkembang pesat seiring dengan perkembangan teknologi. Di sisi lain, perkembangan
teknologi juga telah mendorong berkembangnya alat pembayaran. Menurut Direktur Departemen
Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono, evolusi inovasi digital dan
teknologi finansial merupakan perubahan besar yang fundamental dan tidak bisa terabaikan.
(Baca Juga: Mengenal Perusahaan Fintech yang Terdaftar di OJK (Bagian III)).

Pada mulanya, Erwin menjelaskan alat pembayaran yang dikenal adalah sistem barter
antar barang yang diperjualbelikan. Sistem ini lazim digunakan di era pra modern. Hal ini oleh
beberapa ahli sejarah dikategorikan sebagai pertemuan uang. “Pertemuan itu (barter-red)
mungkin setara dengan penemuan api. Karena dia memiliki sumbangan yang sangat besar bagi
peradaban,” ujarnya dalam Seminar Hukum Dan Teknologi Finansial, Universitas Indonesia,
Senin, (23/4). Dalam perkembangannya, mulai dikenal satuan tertentu yang memiliki nilai
pembayaran yang lebih dikenal dengan uang. Hingga saat ini uang masih menjadi salah satu alat
pembayaran utama yang berlaku di masyarakat. (Baca Juga: Tinjauan Terhadap Larangan
Penggunaan Virtual Currency Bitcoin dalam Sistem Pembayaran di Indonesia (AILRC)).

Selanjutnya, Erwin menuturkan alat pembayaran terus  berkembang dari alat pembayaran
tunai (cash based) ke alat pembayaran non tunai (non cash) seperti alat pembayaran berbasis
kertas (paper based), misalnya, cek, bilyet giro, nota debit atau kredit. Penyelenggara jasa sistem
pembayaran ini adalah Bank Penerbit dan Bank Penerima. “Kita sudah bergerak di sini kita
masih paper based,” ujarnya.
Kemudian, lanjutnya, pergerakan sistem pembayaran berubah menjadi platform. Platform
ini yang akan ada banyak sekali digitalisasi finansial. Dan terakhir menjadi virtual currency.
(Baca Juga: Begini Pandangan Akademisi Soal Pelarangan Bitcoin).