Anda di halaman 1dari 7

TUGAS MAKALAH DISFAGIA

Diajukan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Asuhan Gizi Kondisi Khusus
Dosen Pengampu Yenny Moviana, MND

Disusun oleh:
Kelompok 11

Muthi Aghnia (P1733112426)


Restu Aprilia Dwi Puteri (P1733112432)
Sarah Rizki Nurhanifa (P1733112437)
Ulfah Nurul Hikmah (P1733112443)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG


PROGRAM STUDI GIZI DAN DIETETIKA
PROGRAM SARJANA TERAPAN
2020
1.1 Pengertian Disfagia
Keluhan kesulitan menelan (disfagia) merupakan salah satu gejala
kelainan atau penyakit di orofaring dan esophagus. Keluhan ini timbul bila
terdapat gangguan gerakan otot-otot menelan dan gangguan transportasi
makanan dari rongga mulut ke lambung. Disfagia merupakan terganggunya
proses perpindahan bolus makanan dari mulut ke lambung (Soepardi, 2014).
Disfagia dapat disebabkan oleh tersumbatnya lumen esofagus (disfagia
mekanik), gangguan neuromuskular pada proses menelan (disfagia motorik),
gangguan jiwa atau emosi (globus histerikus), dan trauma pada traktus
aerodigestif akibat laringektomi atau faringolaringektomi.

1.2 Epidemiologi disfagia


Prevalensi disfagia pada dewasa paling banyak diatas 50 tahun yakni sekitar 7
– 22 % populasi. Disfagia berhubungan dengan penuaan dan semakin
meningkatnya umur harapan hidup maka pasien usia tua dengan disfagia akan
makin meningkat. Faktor resiko kejadian disfagia sangat banyak antara lain
peningkatan usia, refluks asam, stroke, kanker kepala dan leher, trauma
kepala, sklerosis lateral amyotropik, palsy pseudobulbar, penyakit alzheimer
dan myastenia gravis. Etiologi paling banyak adalah stroke yaitu sekitar 81 %,
kanker kepala leher 45%. Berdasarkan penyebabnya, disfagia dibagi atas
disfagia mekanik, motorik dan oleh karena gangguan emosi.

1.3 Fisiologi Menelan dan Patofisiologi Disfagia


Menelan merupakan suatu mekanisme transportasi cairan/ zat padat dari
rongga mulut, faring, esofagus, hingga ke lambung. Proses menelan terbagi
menjadi 3 fase yaitu fase oral, fase faring, dan fase esofagus. Adanya
gangguan fungsional dan koordinasi pada elemen tersebut dapat
menyebabkan disfagia. Gangguan pada proses menelan dapat digolongkan
tergantung fase menelan yang dipengaruhinya.

Pada fase Oral terjadi proses mengunyah dan bercampurnya makanan


dengan saliva, sehingga terbentuk bolus. Kemudian terjadi pemindahan bolus
makanan yang dibentuk dari mulut hingga ke faring. Gangguan pada fase oral
biasanya disebabkan oleh gangguan pengendalian lidah. Gejalanya adalah
terdapat banyak sisa makanan di gusi dan pipi, makanan/cairan keluar dari
mulut saat makan, sekresi saliva berlebih.
Pada fase Faringeal dimulai ketika bolus makanan menyentuh arkus
faring anterior dan refleks menelan segera terjadi. Gejalanya adalah menelan
tampak terhambat/sulit, keluhan rasa lekat pada tenggorokan, batuk/tersedak
saat makan, suara menjadi parau dan tampak terengah-engah saat makan.
Pada fase Esofageal berlangsung tanpa disadari atau secara refleks.
Fase ini dimulai dengan terjadinya relaksasi, kemudian bolus didorong
kebawah oleh gerak peristaltik hingga bolus mencapai lambung. Gejalanya
adalah keluhan rasa sangkut di tenggorokan, heart burn, refluks makanan ke
tenggorokan/mulut.

1.3 Faktor Keberhasilan Mekanisme Menelan


1. Ukuran bolus makanan
2. Diameter Lumen esophagus yang dilalui bolus
3. Kontraksi peristaltik esophagus
4. Fungsi spingter esophagus bagian atas dan bagian bawah
5. Kriteria otot-otot rongga mulut dan lidah.

1.4 Diagnosis
 Anamnesis :
 Postur tubuh saat makan yang terganggu
 Hanya makan makanan tertentu
 Lebih menyukai cairan yang lebih kental
 Makan lebih dari 30 menit

 Pemeriksaan fisik
 Pemeriksaan tanda-tanda vital ; frekuensi pernafasan, frekuensi denyut
jantung, pemeriksaan suara nafas dan jantung.
 Pemeriksaan fisik umum ; wajah (hipoplasia mandibula), rongga mulut
9fungsi refleks oral, pergerakan bibir, rahang), rongga hidung (polip/benda
asing) sampai dengan pemeriksaan saraf kranial.
 Pemerikasaan penunjang pada kondisi tertentu menggunakan
Videofluoroscopic Swallow Study (VFSS) disertai Flexible Endoscopic
Evaluation of Swallowing (FEES).

1.5 Klasifikasi Disfagia


Klasifikasinya berdasarkan lokasi, dikelompokkan kedalam 2 kelompok
besar.
 Disfagia Orofaringeal
Disfagia Orofaringeal timbul dari kelainan di rongga mulut, faring dan
esofagus. Bisa disebabkan oleh penyakit parkinson, stoke, kelainan
neurologis, xerostomia, oculopharingeal muscular dystropy, Infeksi, obat-
obatan (sedatif,antikejang,antihistamin). Apabila tidak diobati, disfagia dapat
menyebabkan Pneumonia aspirasi, malnutrisi atau dehidrasi.
Gejala :
• Kesulitan menelan (termasuk ketidakmampuan mengenali makanan)
• Kesukaran meletakkan makananan didalam mulut
• Ketidakmampuan mengontrol makanan dan air liur didalam mulut
• Kesukaran untuk mulai menelan
• Batuk dan tersedak saat menelan
• Penurunan BB
• Perubahan kebiasaan makan
• Pneumonia berulang
• Regurguitas nasal
• Perubahan suara (suara basah/parau)

 Disfagia Esophageal

Disfagia esofangeal rimbul dari kelainan di korpus esofagus, sfingter


esofagus bagian bawah atau kardia gaster. Biasanya disebabkan oleh
struktur esofagus, esofagheal rings and web, akhalasia, skleroderma,
kelainan motilitas.
Gejala :

• Makanan tertahan beberapa saat setelah ditelan

• Regurguitas oral/faringeal
• Perubahan kebiasaan makan

• Pneumonia berulang

1.6 Disfagia pada Cerebral Palsy


Disfagia pada cerebral palsy erupakan kondisi neurologis yang di
sebabkan oleh cedera pada otak yang terjadi sebelum perkembangan otak
sempurna yang menyebabkan gangguan motorik. Gangguan motorik tersebut
mengakibatkan gangguan pemberian makanan, gangguan mengunyah, tidak
dapat menelan, refleks menjadi hiperaktif, dan ketidakmampuan untuk
mengontrol saat makan sehingga penderita dapat mengalami gizi buruk

1.7 Tatalaksana diet pada Cerebral Palsy


a. Gangguan menelan

Menelan adalah proses neuromuskular kompleks, makanan dari mulut


akan melewati faring dan esofagus ke dalam perut. Problem dysphagia
(kesulitan menelan) ini harus ditangani secara multidisiplin : tim terapi wicara,
rehabilitasi medik dll. Berhubungan dengan perubahan sistem saraf pusat
atau perifer, yang menyebabkan kesulitan dalam tahap menelan. Sebagai
konsekuensi dari perubahan ini kita mungkin menemukan dehidrasi,
malnutrisi, obstruksi saluran napas dan pneumonia.

b. Tujuan diet

1. Memperbaiki status gizi

2. Memenuhi kebutuhan energi dan protein yang meningkat untuk


mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh

3. Menurunkan resiko tersedak

c. Rekomendasi diet

1. Rute dapat melalui oral, NGT, atau campuran

2. Bentuk makanan cair, lumat, atau lunak

3. Energi tinggi +20% dari kebutuhan normal

4. Protein 2 gr / kgBB
5. Lemak 25% dari kebutuhan energi

6. Cukup vitamin dan mineral (vit. A, C, B12, D, folat, kalsium, fosfor)

7. Porsi makan kecil tapi sering

8. Penggunaan alat makan khusus sesuai kondisi anak. Misal : Anak


dengan gigitan kuat, pertimbangkan memilih sendok plastik yg kuat .
DAFTAR PUSTAKA
1. Trisnawaty, Indah.dkk (2016). Gambaran disfagia pada anak dan
karakteristiknya. Laporan Penelitian. Departemen Ilmu Penyakit Telinga.
FKUI; Jakarta. ORLI Vo. 46 No. 2
2. Kurniawan, M. Anastasia (2014). Dukungan Nutrisi Enteral pada Pasien
Stroke dengan Disfagia. Serial kasus. FKUI;Jakarta.
3. Sugiarto F. Asupan Makan Dan Status Gizi Anak Dengan Palsi Serebralis
[Internet]. Program Pendidikan Sarjana Kedokteran Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro; 2012. Available from:
https://core.ac.uk/download/pdf/11735853.pdf
4. Prawitasari T. THE 2ND PEDIATRIC NUTRITION AND METABOLIC
UPDATE Nutrition and Metabolic in Special Condition : Practice and
Future Trends. Gultom LC, Tanjung MC, Sidiartha IGL, editors. Ikatan
Dokter Anak Indonesia; 2018.
5. MENGATASI KESULITAN MAKAN PADA ANAK CP [Internet]. Available
from:https://drive.google.com/file/d/1ZCZgDbYFSoSPyGQGqiFecgRJn4kK
TPWR/view
6. Wahyuni, L.K. 2014. Anatomi fungsional dan fisiologi proses menelan.
Tatalaksana Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi : Kesulitan makan pada
anak. Jakarta ; Perdosri h. 16-39.
7. Soetikno, Rista D. 2007. Pencitraan Disfagia. Radiologi, FK Universitas
Pajajaran/ RSUP.DR.HASAN SADIKIN. Bandung
8. Nayoan C. R. 2017. Gambaran Penderita Disfagia Yang Menjalani
Pemeriksaan Fiberoptic Endoscopic Evaluation Of Swallowing Di Rsup
Dr.Kariadi Semarang Periode 2015 – 2016. Departemen IK THT-KL
Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako / KSM RSU Tadulako Palu.
Jurnal Kesehatan Tadulako Vol.3 No.2