Anda di halaman 1dari 3

TUGAS KULIAH 4

HUKUM KESEHATAN DI RUMAH SAKIT

Nama Dosen : R Fresley Hutapea, SH., MH., MARS

Nama Mahasiswa : Romy Widjaja

NIM : 20190309035

Program : Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) Universitas Esa Unggul

Angkatan VIII kelas B

TUGAS :

1. Masalah –masalah dalam penyelengaraan rumah sakit di Indonesia


2. Tanggapan anda tentang persyaratan menjadi pimpinan rumah sakit sesuai
permenkes No : 971 tahun 2008 standar kompetensi pejabat
Terangkan.
JAWABAN:

Soal No.1
a) Persyaratan ijin operasional rumah sakit yang sangat njelimet
b) Masih ada rumah sakit yang terlambat memperpanjang ijin operasional rumah sakit
c) Surat ijin praktik dokter yang lebih dari 3 tempat, misalnya pada beberapa
spesialisasi tertentu yang masih dianggap langka di suatu wilayah
d) Masih ada rumah sakit yang mempekerjakan tenaga kesehatan tanpa ijin ataupun
surat ijin praktiknya sudah kadaluarsa
e) Masih banyak rumah sakit yang tidak sesuai kelas jika dilihat dari standarisasi
f) Masih ditemukan pimpinan rumah sakit (direktur RS) yang masih merangkap jabatan
di rumah sakit lain
g) Masih ada perdebatan tentang persyaratan direktur RS yang berpihak pada tenaga
medis saja
h) Kompetensi direktur RS yang masih belum dianggap mumpuni dalam hal
pengelolaan rumah sakit
i) Hasil reviu RS yang masih belum sesuai harapan dari RS
Soal No.2
Kebijakan yang dirasakan terjadi “pemihakan” kepada Tenaga Medis dimulai dengan
terbitnya UU No 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit, kemudian disusul dengan terbitnya
Peraturan Menteri Kesehatan No 971 Tahun 2009 sebagai peraturan turunan dari Undang –
undang tentang Rumah Sakit, sedangkan untuk proses akreditasi maka pemerintah khususnya
Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) menerbitkan Surat Edaran No864/SE/KARS/VIII/2017
tentang Persyaratan Mutlak Kelulusan Akreditasi Rumah Sakit dimana dalam poin satu (1)
disebutkan syarat mutlak seorang Direktur Rumah Sakit adalah dari Tenaga Medis (dr/drg)
yang kemudian melanjutkan ke jenjang pendidikan lanjutan (S2) dengan
kemampuan/keahlian di bidang perumahsakitan
Dalam aturan-aturan hukum seperti yang disebutkan diatas tidak terdapat alasan atau
dasar penjelasan satupun, yang dapat menjelaskan secara rinci, mengapa harus tenaga medis
yang menjadi pucuk pimpinan dari sebuah rumah sakit, hal ini seakan menafikan kemampuan
dari tenaga kesehatan yang lainnya, dikhawatirkan hal ini akan menimbulkan “sekat-sekat
profesi” seperti dalam penelitian Ong (1989) menyebutkan pemimpin organisasi pelayanan
kesehatan harus dapat mencari titik temu serta berupaya menghilangkan dikotomisasi baik
antara tenaga medis dengan tenaga kesehatan lain, ataupun juga dengan tenaga non
kesehatan, sehingga kemampuan mengorganisasi sangat diperlukan disini

Seharusnya pemerintah lebih arif dalam menilai bahwa jumlah kebutuhan tenaga
medis masih belum merata di wilayah Indonesia, sehingga dikhawatirkan jika mereka dengan
kualifikasi Dokter/Dokter Gigi dijadikan sebagai direktur dapat berdampak langsung dalam
pelayanan kesehatan terhadap masyarakat, sehingga seharusnya peran dari tenaga medis
lebih didorong sebagai tenaga fungsional, bukan malah ditarik menjadi tenaga
struktural sebagai Direktur rumah Sakit
Jika dilihat dari Permenkes No 971/MENKES/PER/XI/2009 tentang Standar
Kompetensi Pejabat Struktural Kesehatan,, dimana memuat Standar Kompetensi Pejabat
Struktural yang terdiri dari Kompetensi Dasar yang meliputi Integritas, Kepemimpinan,
Perencanaan, Penganggaran, Pengorgaisasian, Kerjasama dan Fleksibel (Pasal 5), Kompetensi
Bidang yang meliputi Orietasi Pada Pelayanan, Orientasi pada Kualitas, Berpikir Analitis,
Berpikir Konseptual, Keahlian Teknikal, Manajerial, Profesional dan Inovasi (Pasal 6),
kompetensi Khusus, meliputi Pendidikan, Pelatihan dan Pengalaman Jabatan (Pasal 7),
sehingga seperti yang saya uraikan dalam aturan Permenkes No 971/MENKES/XI/ 2009 ini
saya tidak menemukan sesuatu hal “pembeda” sehingga pemerintah mengharuskan Direktur
Rumah Sakit harus seorang Tenaga Medis, karena baik Kompetensi Dasar, Kompetensi Bidang
maupun dalam Kompetensi Khusus, dalam Permenkes ini merupakan suatu syarat yang lazim
harus dipenuhi oleh seorang pimpinan organisasi apapun tidak hanya Rumah Sakit

Sehingga dari hasil analisa permasalahan yang telah saya jelaskan, saya berkesimpulan
bahwa tidak ada suatu perbedaan yang mendasar jika Direktur Rumah Sakit dijabat baik oleh
tenga medis atau tenaga kesehatan yang lainnya, sehingga harusnya aturan yang mengatur
tentang penetapan seorang direktur rumah sakit dari tenaga medis haruslah dicabut, dalam
artian bukan menjadi jaminan jikalau renaga medis menjadi Direktur Rumah Sakit, maka
otomatis kualitas manajerial akan lebih baik dibandingkan jika dijabat oleh Tenaga Kesehatan
lainnya.