Anda di halaman 1dari 12

PEMBELAJARAN DARI KEGAGALAN PENANGANAN

KAWASAN PLG SEJUTA HEKTAR MENUJU

PENGELOLAAN LAHAN GAMBUT

BERKELANJUTAN

Henny Realita Riani

Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik

Universitas Lambung Mangkurat

Abstrak

Keberadaan lahan gambut semakin dirasakan peran pentingnya terutama dalam


menyimpan lebih dari 30 persen karbon terrestrial, memainkan peran penting
dalam siklus hidrologi serta memelihara keanekaragaman hayati. Lahan gambut
dianggap sebagai lahan bermasalah karena mempunyai sifat marginal dan
dihadapkan pada beberapa kendala apabila dikembangkan sebagai lahan
pertanian. Kebakaran lahan gambut hampir terjadi setiap tahun dengan petani
penyebab dari kondisi rawan kebakaran yang erat kaitannya dengan agrofisik
lahan dan lingkungan termasuk pranata hidrologi dan aspek social ekonomi yang
terkait dengan pemilihan lahan, kebijakan pemerintah, norma-norma yang
berkembang termasuk persepsi petani tentang lahan gambut. Berbagai
pengalaman dalam pengelolaaan lahan gambut telah dikembangkan dalam
berbagai cara dan juga memberikan hasil yang berbeda. Di beberapa tempat yang
memiliki pengelolaan gambut yang baik telah menghasilkan dampak positif
terhadap lingkungan dan pertumbuhan ekonomi, sedangkan pada kasus-kasus
pengelolaan yang buruk, memberikan dampak negatif terhadap lingkungan
ekonomi dan juga kehidupan manusia. Oleh karena itu, untuk dapat
menghilangkan perspektif negative bahwa pembukaan lahan untuk pertanian akan
merusak gambut disebabkan oleh keterbatasan pemahaman terhadap karakteristik
gambut itu sendiri dan pemanfaataan lahan gambut untuk pertanian membuktikan
tingkat keberhasilan yang tinggi di lahan pertanian tradisional, perkebunan dan
HTI, diperlukan master plan tata ruang kawasan untuk memilih kawasan
konservasi dan kawasan budidaya.

Kata Kunci : Lahan Gambut, Pemanfaatan Lahan Gambut, Master Plan

Abstract
The presence of peat land had felt increasingly particularly important role
in saving more than 30 percent of terrestrial carbon, and plays an important role in
the hydrological cycle and to maintain biodiversity. The peat lands are considered
as problematic because it has a marginal nature and faced with several obstacles,
if they developed as agricultural land. Peat fire almost occurred every year by
farmer’s causes of fire-prone condition closely related to land and environment
agro physical institutions including hydrology, and social aspects that related to
economic land selection, government policies, the norms that developed,
including perceptions of farmers of peat lands. Various experiences in
management peat lands have been developed in various ways and also provide
different results. In some places that have good turf management have produced a
positive impact on the environment and economic growth, Because of that, in to
reduce the case of management, negative impacts on the economic environment
as well as human life. Therefore, in order to eliminate the negative perspective
that land clearing for agriculture will damage the turf caused by the limited
understanding of the characteristics of the peat itself and utilization peat lands for
agriculture is proving a high success rate in the traditional agricultural land,
plantations and pulpwood, it’s required the master plan the area to choose layout
of conservation areas and cultural areas.

Key words : peat lands, utilization peat lands, master plan

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Lahan gambut yang tersusun dari bahan tanah organik berupa sisa-sisa
jaringan tumbuh-tumbuhan mempunyai peranan penting dalam penyimpanan
karbon dan sekaligus memberikan manfaat bagi keanekaragaman hayati, pengatur
tata air, dan pendukung kehidupan masyarakat. Luas lahan gambut di Indonesia
merupakan 87% dari seluruh luas gambut di Asia Tenggara atau 52,4% dari
seluruh lahan gambut di daerah tropik. Lahan gambut di Indonesia tersebar di
Sumatra (41,1%), Kalimantan (33,8%), Irian Jaya (23,0%), Sulawesi (1,6%) serta
Halmahera dan Seram (0,5%). Di Kalimantan, lahan gambut terdapat di wilayah
pantai Propinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan
serta sebagian kecil pantai Kalimantan Timur.Lahan gambut dianggap sebagai
lahan bermasalah karena mempunyai sifat marginal dan dihadapkan pada
beberapa kendala apabila dikembangkan sebagai lahan pertanian, antara lain:
rendahnya bearing capacity yang menyukarkan tanaman dalam menjangkarkan
akarnya secara kokoh; daya hantar hidrolik secara horizontal sangat besar tetapi
secara vertikal sangat kecil sehingga menyulitkan mobilitas ketersediaan air dan
hara tanaman; bersifat mengkerut tak balik (irreversible) sehingga menurunkan
daya retensi air dan peka terhadap erosi yang mengakibatkan mudahnya hara
tanaman tercuci; serta terjadinya penurunan permukaan tanah setelah dilakukan
pengeringan atau dimanfaatkan untuk budidaya tanaman. Pemanfaatan lahan
gambut untuk usaha pertanian memerlukan pengetahuan dan teknologi khusus
karena sifatnya yang khas dan berbeda dengan lahan-lahan lain pada umumnya.
Pola tradisonal yang telah lama dikembangkan petani di lahan gambut
perlu dipelajari untuk menghindari kegagalan dalam mengalihkan lahan gambut
menjadi lahan pertanian yang produktif dan berkelanjutan. Komunitas petani
lahan gambut di berbagai kawasan di Indonesia yang telah menggeluti usahatani
dan berinteraksi dengan lahan gambut selama ratusan tahun telah banyak
menghasilkan kearifan lokal yang selaras dengan kaidah keseimbangan dan
kelestarian alam. Potensi kearifan lokal ini bisa dikembangkan dan digunakan
untuk membantu dan memacu usaha pemerintah dalam meningkatkan produksi
pertanian dan kesejahteraan petani di lahan gambut. Pengetahuan ilmiah yang
diramu dengan pengenalan dan pemahaman terhadap fenomena alam melalui
penelusuran informasi versi masyarakat pengguna di lahan gambut diharapkan
mampu membuka wawasan yang dapat menjadi bahan pertimbangan untuk
mendayagunakan lahan gambut secara baik dan lestari.
Hasil studi Puslitanak (2005), bahwa luas lahan gambut di Kalimantan
Tengah mencapai 3.01 juta ha atau 52.2% dari seluruh luasan gambut di
Kalimantan. Gambut di Kalimantan Tengah tersebut 1/3 nya merupakan gambut
tebal (ketebalan ≥3 meter). Berdasarkan tipe kedalaman, estimasi distribusi lahan
gambut di Kalimantan Tengah meliputi: sangat dangkal/sangat tipis mencapai
75,990 ha (3%); sedangkal/tipis mencapai 958,486 ha (32%); sedang mencapai
462,399 ha (15%); dalam/tebal mencapai 574,978 ha (19%); sangat dalam/sangat
tebal mencapai 661,093 ha (22%) dan dalam sekali/tebal sekali mencapai 277,694
ha (9%).
Deposit karbon (C) yang terkandung dalam lahan gambut di Kalimantan
Tengah diperkirakan sebesar 6.35 giga ton (GT) atau setara karbon hasil
pembakaran bahan bakar minyak di Amerika Serikat selama satu tahun. Jumlah
ini merupakan deposit terbesar di Pulau Kalimantan, yaitu sekitar 56.34% dari
deposit karbon di lahan gambut Kalimantan. Dari deposit karbon tersebut,
diperkirakan defosit terbesarterdapat di Kabupaten Pulang Pisau (2.7 giga ton),
Kabupaten Katingan (1.5 giga ton), Kabupaten Kapuas (1.1 giga ton), dan
selebihnya di kabupaten-kabupaten lainnya.
Mengingat pentingnya lahan gambut di Kalimantan Tengah secara
ekonomis maupun secara ekologis, maka pengelolaan dan pemnafaatannya harus
dilakukan secara hati-hati dengan berupaya mendapatkan manfaat secara optimal
namun dengan tetap mempertahankan fungsi ekologisnya. Hal ini karena
pengelolaan lahan gambut berkelanjutan akan menentukan banyak hal yang
berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat di Kalimantan Tengah dan
kepentingan nasional maupun dunia internasional akan pembangunan
berkelanjutan.
Untuk menunjang pembangunan berkelanjutan maka pengembangan
pertanian pada lahan rawa gambut memerlukan perencanaan yang cermat dan
teliti, penerapan teknologi yang sesuai, dan pengelolaan yang tepat. Konservasi
dan optimalisasi pemanfaatan lahan rawa gambut sesuai dengan karakteristiknya
memerlukan informasi mengenai tipe karakteristik dan penyebarannya.

Batasan Masalah
Makalah ini dibatasi pada pembahasan mengenai pemanfaatan dan
pengelolaan lahan gambut yang ada di Kalimantan Tengah.
Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan dan
pengelolaan lahan gambut di Kalimantan Tengah, serta melihat aspek-aspek yang
terkait dengan hal tersebut.
Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penulian makalah ini adalah
berupa kajian pustaka, pencarian data di internet dan pemikiran yang di dapatkan
dari pengalaman dan study di Fakultas Teknik Lingkungan UNLAM Banjarbaru
yang berkaitan dengan topik yang ditulis.. Hal ini dimaksudkan untuk menambah
referensi penulisan makalah ini guna meyakinkan pembaca dari isi makalah ini.

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Gambut
Gambut adalah jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa
tetumbuhan yang setengah membusuk; oleh sebab itu, kandungan bahan
organiknya tinggi. Tanah yang terutama terbentuk di lahan-lahan basah ini disebut
dalam bahasa Inggris sebagai peat; dan lahan-lahan bergambut di berbagai
belahan dunia dikenal dengan aneka nama seperti bog, moor, muskeg, pocosin,
mire, dan lain-lain. Istilah gambut sendiri diserap dari bahasa daerah Banjar.
Sebagai bahan organik, gambut dapat dimanfaatkan sebagai sumber
energi. Volume gambut di seluruh dunia diperkirakan sejumlah 4 trilyun m³, yang
menutupi wilayah sebesar kurang-lebih 3 juta km² atau sekitar 2% luas daratan di
dunia, dan mengandung potensi energi kira-kira 8 milyar terajoule.
Gambut terbentuk dari akumulasi bahan organik yang berasal dari sisa-sisa
jaringan tumbuhan/vegetasi alami pada masa lampau. Tanah gambut biasanya
terbentuk di daerah cekungan atau depresi di belakang tanggul sungai yang selalu
jenuh air karena drainasenya terhambat, sehingga proses dekomposisi terjadi
sangat lambat.
Lahan gambut mempunyai fungsi yang sangat penting dalam tata air
kawasan sebab gambut bersifat seperti busa yang dapat menyerap kelebihan air
dimusim hujan sehingga mencegah banjir dan melepaskan kandungan airnya
secara perlahan dimusim kemarau. Rawa gambut juga menjadi tempat berlindung
berbagai spesies langka, seperti Harimau Sumatera, Orang utan, ikan Arowana,
dan Buaya Sinyulong. Selain itu, berbagai jenis kayu yang memiliki nilai
ekonomis tinggi juga dapat ditemukan di rawa gambut, antara lain Ramin
( Gonystylus sp), Kayu putih ( Melaleuca sp), Jelutung ( Dyera costulata ) dan
Meranti rawa ( Shorea sp.). Sehingga, fungsi-fungsi tersebut menyebabkan lahan
gambut merupakan aset yang sangat penting bagi pembangunan nasional.
Lahan gambut merupakan lahan yang berasal dari bentukan gambut
beserta vegetasi yang terdapat diatasnya terbentuk di daerah yang topografinya
rendah, dan bercurah hujan tinggi atau di daerah yang suhunya sangat rendah.
Tanah gambut mempunyai kandungan bahan organik yang tinggi (>12% C.
karbon) dan kedalaman gambut minimum 50 cm. Tanah gambut diklasifikasikan
sebagai Histosol dalam sistem Klasifikasi FAOUnesco (1994) yaitu yang
mengandung bahan organik lebih tinggi daripada 30 persen, dalam lapisan setebal
40 cm atau lebih, dibagian 80 cm teratas profil tanah.
Gambut merupakan sumberdaya alam yang banyak memiliki kegunaan
antara lain untuk budidaya tanaman pertanian maupun kehutanan, dan akuakultur,
selain juga dapat digunakan untuk bahan bakar, media pembibitan, ameliorasi
tanah dan untuk menyerap zat pencemar lingkungan.

Lahan Gambut di Transilavania

Pengertian Tanah Gambut


Tanah gambut adalah tanah-tanah yang jenuh air, tersusun dari bahan
tanah organik berupa sisa-sisa tanaman dan jaringan tanaman yang telah melapuk
dengan ketebalan lebih dari 50 cm. Dalam sistem klasifikasi taksonomi tanah,
tanah gambut disebut Histosols (histos, tissue: jaringan) atau sebelumnya bernama
Organosols (tanah tersusun dari bahan organik). Tanah gambut selalu terbentuk
pada tempat yang kondisinya jenuh air atau tergenang, seperti pada cekungan-
cekungan daerah pelembahan, rawa bekas danau, atau daerah depresi/basin pada
dataran pantai di antara dua sungai besar, dengan bahan organik dalam jumlah
banyak yang dihasilkan tumbuhan alami yang telah beradaptasi dengan
lingkungan jenuh air. Penumpukan bahan organik secara terusmenerus
menyebabkan lahan gambut membentuk kubah (peat dome). Aliran air yang
berasal dari hutan gambut bersifat asam dan berwarna hitam atau kemerahan
sehingga di kenal dengan nama ‘sungai air hitam’. Di Kalimantan, ada beberapa
spesies indikator yang mencirikan suatu hutan rawa gambut, antara lain ramin
(Gonystylus bancanus), suntai (Palaquium burckii), semarum (Palaquium
microphyllum), terentang (Camnosperma auriculata), dan meranti rawa (Shorea
spp.).

Pembentukan Lahan Gambut


Gambut terbentuk tatkala bagian-bagian tumbuhan yang luruh terhambat
pembusukannya, biasanya di lahan-lahan berawa, karena kadar keasaman yang
tinggi atau kondisi anaerob di perairan setempat. Tidak mengherankan jika
sebagian besar tanah gambut tersusun dari serpih dan kepingan sisa tumbuhan,
daun, ranting, pepagan, bahkan kayu-kayu besar, yang belum sepenuhnya
membusuk. Kadang-kadang ditemukan pula, karena ketiadaan oksigen bersifat
menghambat dekomposisi, sisa-sisa bangkai binatang dan serangga yang turut
terawetkan di dalam lapisan-lapisan gambut.
Lazimnya di dunia, disebut sebagai gambut apabila kandungan bahan
organik dalam tanah melebihi 30%; akan tetapi hutan-hutan rawa gambut di
Indonesia umumnya mempunyai kandungan melebihi 65% dan kedalamannya
melebihi dari 50cm. Tanah dengan kandungan bahan organik antara 35–65% juga
biasa disebut muck.
Pertambahan lapisan-lapisan gambut dan derajat pembusukan (humifikasi)
terutama bergantung pada komposisi gambut dan intensitas penggenangan.
Gambut yang terbentuk pada kondisi yang teramat basah akan kurang
terdekomposisi, dan dengan demikian akumulasinya tergolong cepat,
dibandingkan dengan gambut yang terbentuk di lahan-lahan yang lebih kering.
Sifat-sifat ini memungkinkan para klimatolog menggunakan gambut sebagai
indikator perubahan iklim di masa lampau. Demikian pula, melalui analisis
terhadap komposisi gambut, terutama tipe dan jumlah penyusun bahan
organiknya, para ahli arkeologi dapat merekonstruksi gambaran ekologi di masa
purba.
Pada kondisi yang tepat, gambut juga merupakan tahap awal pembentukan
batubara. Gambut bog yang terkini, terbentuk di wilayah lintang tinggi pada akhir
Zaman Es terakhir, sekitar 9.000 tahun yang silam. Gambut ini masih terus
bertambah ketebalannya dengan laju sekitar beberapa milimeter setahun. Namun
gambut dunia diyakini mulai terbentuk tak kurang dari 360 juta tahun silam; dan
kini menyimpan sekitar 550 Gt karbon.

Ciri-ciri Lahan Gambut


Menurut Radjagukguk (2003) lahan gambut tropika yang terdapat di
Indonesia dicirikan oleh antara lain :
1. Biodiversitas (keragaman hayati) yang khas dengan kekayaan keragaman flora
dan fauna.
2. Fungsi hidrologisnya, yakni dapat menyimpan air tawar dalam jumlah yang
sangat besar. Satu juta lahan gambut tropika setebal 2 m ditaksir dapat
menyimpan 1,2 juta m3.
3. Sifatnya yang rapuh (fragile) karena dengan pembukaan lahan dan drainase
(reklamasi) akan mengalami pengamblesan (sub-sidence), percepatan
Peruraian dan resiko pengerutan tak balik (irreversible) serta rentan terhadap
bahaya erosi.
4. Sifatnya yang praktis tidak terbarukan karena membutuhkan waktu
5000-10.000 tahun untuk pembentukannya sampai mencapai ketebalan
maksimum sekitar 20 m, sehingga taksiran laju pelenggokannya adalah
1 cm/ 5 tahun, di bawah vegetasi hutan73
5. Bentuk lahan dan sifat-sifat tanahnya yang khas, yakni lahannya berbentuk
kubah keadaannya yang jenuh atau tergenang pada kondisi alamiah serta
tanahnya mempunyai sifat-sifat fisika dan kimia yang sangat berbeda dengan
tanah-tanah mineral.

Sifat-sifat Fisika Lahan Gambut


Kerapatan lindak atau bobot isi (bulk density-BD) gambut berkisar antara
0,05-152 Tim Sintesis Kebijakan 0,30 g/cm3. Tanah gambut dengan kandungan
bahan organik (> 38% C-organik) lebih dari 65% mempunyai kerapatan lindak
untuk gambut fibrik 0,11-0,12 g/cm3, untuk hemik 0,14-0,16 g/cm3, dan untuk
saprik 0,18-0,21 g/cm3. Bila kandungan bahan organik antara 30-60%, kerapatan
lindak untuk hemik adalah 0,21-0,29 g/cm3 dan saprik 0,30-0,37 g/cm3.
Nilai kerapatan lindak sangat ditentukan oleh tingkatan pelapukan /
dekomposisi bahan organik dan kandungan mineral. Porositas gambut yang
dihitung berdasarkan kerapatan lindak dan bobot jenis berkisar antara 75 - 95%.
Jika tanah gambut dibuka dan mengalami pengeringan karena drainase maka
gambut akan ’kempes’ atau mengalami subsidence sehingga terjadi penurunan
permukaan tanah. Bila tanah gambut mengalami pengeringan yang berlebihan,
koloid gambut menjadi rusak dan terjadi gejala kering tak balik (irreversible
drying). Gambut berubah seperti arang dan tidak mampu lagi menyerap hara dan
menahan air, sehingga pertumbuhan tanaman dan vegetasi menjadi kerdil dan
merana.

Sifat-sifat Kimia Lahan Gambut


Secara kimiawi, tanah gambut umumnya bereaksi masam (pH 3,0-4,5).
Gambut dangkal mempunyai pH lebih tinggi (pH 4,0-5,1) daripada gambut dalam
(pH 3,1-3,9). Kandungan basa (Ca, Mg, K dan Na) dan kejenuhan basa rendah.
Kandungan Al pada tanah gambut umumnya rendah sampai sedang, dan
berkurang dengan menurunnya pH tanah. Kandungan N total termasuk tinggi,
namun umumnya tidak tersedia bagi tanaman karena rasio C/N tinggi. Kandungan
unsur mikro, khususnya Cu, Bo dan Zn, sangat rendah, namun kandungan besi
(Fe) cukup tinggi. Kadar abu merupakan petunjuk yang tepat untuk mengetahui
tingkat kesuburan alami gambut. Pada umumnya gambut dangkal (<1 m) yang
terdapat di bagian tepi kubah mempunyai kadar abu sekitar 15%, bagian lereng
dengan kedalaman 1-3 m berkadar sekitar 10%, sedangkan di pusat kubah yang
lebih dari 3 m berkadar <10% bahkan <5%.
Ketebalan gambut ikut menentukan tingkat kesuburan tanah. Pada gambut
dangkal, pembentukan lapisan gambut dipengaruhi oleh luapan banjir sungai
sehingga lebih subur daripada gambut yang lebih dalam. Bila tanah bergambut (20
cm) sampai gambut sedang (180 cm) ditanami padi, hasil gabah makin merosot
seiring makin tebalnya gambut. Makin
tebal gambut, kandungan abu makin rendah, kandungan Ca dan Mg menurun dan
reaksi tanahnya lebih masam.

Pemanfaatan Lahan Gambut


Gambut Untuk Pertanian
Pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian termasuk
perkebunan dan tanaman industri tergolong sangat rawan,
terutama jika dilaksanakan pada gambut tebal di daerah
pedalaman (disebut gambut pedalaman). Gambut pedalaman
dimanfaatkan untuk pengembangan komoditi-komoditi diatas,
maka mengharuskan adanya upaya menyesuaikan kondisi air
lahan atau mengeringkan lahan dengan cara membuat saluran
drainase atau kanal. Sedangkan untuk jenis gambut pantai di
daerah pasang surut, pembuatan drainase atau kanal ditujukan
untuk menyalurkan air ke bagian dalam (beberapa kilometer dari
tepi sungai atau laut). Tanpa membuat saluran drainase atau
kanal pada gambut pedalaman, dipastikan hanya jenis pohon asli
setempat (ramin, meranti rawa, jelutung, gemor, dll) yang bisa
tumbuh dalam kondisi jenuh air atau daerah yang dominan
basah.
Dibalik pembuatan drainase yang menyebabkan
penurunan air tanah, maka terjadi perubahan suhu dan
kelembaban di lapisan gambut dekat permukaan, sehingga
mempercepat proses pelapukan dan permukaan gambut
semakin menurun. Limin et al. (2000) melaporkan bahwa
penurunan permukaan lahan gambut di daerah Kalampangan
(eks UPT Bereng Bengkel) paling sedikit 1-3 cm tiap tahun. Limin
(1998) menyatakan walaupun pelapukan bahan organik tersebut
menghasilkan hara bagi tanaman, pelapukan juga menghasilkan
asam organik yang berpengaruh lebih kuat dan dapat
menyebabkan keracunan bagi tanaman.
Pembuatan saluran drainase atau kanal-kanal melintasi
lapisan gambut tebal, tampaknya belum banyak diketahui oleh
banyak pihak akan berdampak negatif jangka panjang. Contoh
nyata adalah proyek PLG sejuta hektar yang mulai dibangun
tahun 1996.
Dengan program kanalisasi yang mencincang habis
hamparan gambut diantara 4 sungai besar (Sabangau, Kahayan,
Kapuas dan Barito), sejak itu pula terjadi perubahan drastis
neraca air pada 4 (empat) daerah aliran sungai (DAS) tersebut,
sehingga kawasan eks PLG merupakan penghasil asap terbesar
di Kalimantan Tengah.
Selain itu, kerugian besar telah diderita oleh masyarakat
asli setempat akibat perubahan ekosistem, karena usaha
tradisional yang telah diandalkan sebagai sumber pendapatan
tetap mengalami penurunan produktivitas hingga hilang (tidak
dapat diusahakan lagi).

Konservasi dan PelestarianLingkungan di Kawasan Lahan Rawa Gambut


Menurut Keppres No.32/1990 tentang Kawasan Lindung dan Undang-
undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang (UUTR), serta petunjuk
penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional - RTRWN, kawasan tanah
gambut dengan ketebalan 3 m atau lebih, yang terdapat di bagian hulu sungai dan
rawa, ditetapkan sebagai kawasan lindung bergambut.
Perlindungan terhadap kawasan ini dilakukan untuk mengendalikan
hidrologi wilayah, berfungsi sebagai penambat air dan pencegah banjir, serta
melindungi ekosistem yang khas di kawasan tersebut. Kubah gambut dengan
ketebalan lebih dari 3 m merupakan satu kesatuan dengan bagian tepinya yang
dangkal (ketebalan kurang dari 3 m). Oleh karena itu, pembukaan lahan gambut di
bagian tepi, meskipun tidak melanggar Keppres No 32/ 1990, akan berdampak
buruk bagi kubah gambut karena kegiatan di lahan gambut dangkal, misalnya
pertanian, sulit untuk tidak melakukan pembakaran dalam penyiapan lahan.
Pembakaran untuk penyiapan lahan sering kali lepas kendali sehingga api
menjalar ke wilayah kubah gambut dan menimbulkan kebakaran hebat. Di
samping itu, drainase yang berlebihan juga menyebabkan gambut menjadi
kekeringan dan mudah terbakar pada musim kemarau. Pengelolaan lahan rawa
gambut perlu menerapkan pendekatan konservasi, yang meliputi perlindungan,
pengawetan, dan peningkatan fungsi dan manfaat.
Oleh karena itu, berdasarkan fungsinya wilayah rawa dibedakan ke dalam:
(1) kawasan lindung, (2) kawasan pengawetan, dan (3) kawasan reklamasi untuk
peningkatan fungsi dan manfaat. Kawasan lindung dan pengawetan disebut juga
kawasan nonbudi daya, sedangkan kawasan reklamasi disebut kawasan budi daya.
Wilayah rawa yang termasuk sebagai kawasan lindung adalah: (1) kawasan
gambut sangat dalam, lebih dari 3 m; (2) sempadan pantai; (3) sempadan sungai;
(4) kawasan sekitar danau rawa; dan (5) kawasan pantai berhutan bakau.
Kawasan pengawetan atau kawasan suaka alam adalah kawasan yang
memiliki ekosistem yang khas dan merupakan habitat alami bagi fauna dan/atau
flora tertentu yang langka serta untuk melindungi keanekaragaman hayati.
Kawasan ini diusulkan untuk dipertahankan tetap seperti aslinya atau dipreservasi
dengan status sebagai kawasan non-budi daya.
Lahan gambut, terutama gambut sangat dalam di sekitar suatu hutan suaka
alam mendapat prioritas untuk dijadikan kawasan preservasi. Demi
pengamanankawasan preservasi ditetapkan antara dua sungai dengan batas-batas
alami yang lahan non gambut dan ketebalan gambut kurang dari 3 m. Peraturan
Pemerintah No.27 tahun 1991 bertujuan mengatur ekosistem lahan rawa gambut
sebagai kawasan tampung hujan dan sumber air. Sebagai sumber air, rawa
(gambut) pedalaman sangat menentukan keadaan air daerah pinggiran atau
hilirnya.
Oleh karena itu, rawa di hulu sungai rawa atau rawa pedalaman perlu
dipertahankan sebagai kawasan non-budi daya, yang berfungsi sebagai kawasan
penampung hujan dan merupakan “danau” sumber air bagi daerah pertanian di
sekitarnya. Kawasan penampung hujan sebaiknya berada pada lahan gambut.
Gambut memiliki daya menahan air yang tinggi, 300- 800% bobotnya, sehingga
daya lepas airnya juga besar. Gambut dalam (lebih dari 3m), telah dinyatakan
sebagai kawasan non-budi daya dengan luas minimal 1/3 dari luas total lahan
gambut di wilayah daerah aliran sungai tersebut. Banjir merupakan kendala yang
perlu diatasi, terutama dalam pengelolaan rawa lebak. Rawa lebak dalam dapat
dimanfaatkan sebagai penampung luapan banjir.

METODE PENELITIAN

Menindak lanjuti kegagalan penanganan kawasan pengembangan lahan


gambut maka dalam budi daya pertanian diarahkan untuk pengembangan sistem
usaha tani agribisnis berbasis sumber daya lahan, berdasarkan pendekatan
agroekosistem dengan dukungan inovasi teknologi dan kelembagaan.
Pengembangan kawasan budi daya harus ditujukan untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi wilayah dan mewujudkan keseimbangan pertumbuhan
antarwilayah, dengan tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan dalam
memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada. Sasaran akhir adalah
peningkatan produksi dan kesejahteraan petani serta perbaikan dan kelestarian
lingkungan. Sasaran tersebut ditempuh melalui pengelolaan lahan dan air,
peningkatan produktivitas, efisiensi produksi atau nilai tambah produk, dan sistem
produksi yang berkelanjutan (Suriadikarta 2003).
Untuk mencapai pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan, diperlukan
master plan tata ruang kawasan untuk memayungi semua kegiatan sebelum
langkah operasional dilaksanakan. Pelaksanaannya harus memperhatikan aspek
sosial budaya dan teknis. Selanjutnya, untuk mencapai sasaran yang diharapkan,
pelaksanaan kegiatan harus berpedoman pada peta jalan (road map)
pengembangan gambut berkelanjutan.
Keppres No. 32 tahun 1990 dan Undang-undang No. 21 tahun 1992
tentang penataan ruang kawasan bergambut menetapkan kawasan bergambut
dengan ketebalan 3 m atau lebih, yang letaknya di bagian hulu sungai dan rawa,
ditetapkan sebagai kawasan lindung, yang berfungsi sebagai penambat air dan
pencegah banjir, serta melindungi ekosistem yang khas di kawasan tersebut.
Peraturan ini perlu diberlakukan lebih efektif lagi, disertai sanksi yang tegas bagi
yang melanggarnya agar lahan rawa gambut dapat dimanfaatkan secara
berkelanjutan dan tidak berdampak buruk bagi lingkungan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Lahan rawa gambut merupakan suatu alternative untuk menggantikan


lahan pertanian di Kalimantan yang telah mengalami konversi untuk pemukiman
dan industri. Pemberdayaan lahan rawa gambut yang merupakan lahan marginal
harus dilandasi dengan kajian yang cermat dan penerapan teknologi yang sesuai,
agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dan tidak menurunkan kualitas
lingkungan. Pengembangan lahan gambut dianggap mendesak untuk
mengantisipasi kekurangan bahan pangan dan pengembangan bahan bakar nabati.
Hutan rawa gambut tropika di Kalimantan memiliki keanekaragaman
hayati dan merupakan sumber plasma nutfah yang potensial. Lahan rawa gambut
mempunyai nilai konservasi yang tinggi dan fungsi-fungsi lain seperti fungsi
hidrologi, cadangan karbon, dan keanekaragaman hayati yang penting untuk
kenyamanan lingkungan. Oleh karena itu, pengelolaannya perlu menerapkan
pendekatan konservasi.
Berdasarkan fungsinya, lahan rawa gambut dibedakan ke dalam kawasan
lindung, kawasan pengawetan, dan kawasan reklamasi. Kawasan lindung dan
pengawetan disebut juga kawasan preservasi atau non-budi daya, sedangkan
kawasan reklamasi sebagai kawasan budi daya. Lahan gambut dengan ketebalan
lebih dari 3 m termasuk dalam kawasan non-budi daya, dan sebaiknya tidak
dibuka untuk pengembangan pertanian.
Menurut Keppres No.32 tahun 1990, kawasan lahan rawa gambut dengan
ketebalan 3 m atau lebih yang terdapat pada bagian hulu sungai dan rawa,
ditetapkan sebagai kawasan lindung bergambut, dan ditujuan untuk
mengendalikan hidrologi wilayah, sebagai penambat air dan pencegah banjir.
Lahan gambut sangat dangkal (<50 cm) dapat digunakan untuk sawah, gambut
dangkal <200 cm untuk tanaman palawija dan hortikultura, serta gambut sedang
(2-<3 m) untuk perkebunan seperti kelapa sawit, karet dan sagu, dengan
perencanaan dan penerapan teknologi yang sesuai.

KESIMPULAN
Berdasarkan karakteristik tanah gambut, permasalahan yang timbul akibat
kekeliruan pengelolaan lahan gambut, maka beberapa kesimpulan berikut
diharapkan dapat dijadikan bahan dalam menetapkan pemanfaatan gambut.
1. Pemanfaatan gambut untuk pertanian, terutama lapisan gambut tebal sangat
bermasalah dan memerlukan biaya tinggi.
2. Untuk dapat mengelola lahan gambut secara berkelanjutan, diperlukan master
plan tata ruang kawasan untuk memilah kawasan konservasi dan kawasan budi
daya.
3. Sistem usaha tani di lahan rawa gambut memerlukan rehabilitasi jaringan tata
air makro dan mikro, serta tanggul pengendali banjir untuk mengatur
kebutuhan air pada musim tanam dan banjir pada musim hujan.
4. Untuk meningkatkan produktivitas tanah gambut untuk tanaman pangan,
sayuran, buah-buahan, dan tanaman perkebunan, ameliorasi tanah dan
pemupukan sangat diperlukan.
5. Keppres No. 32/1990 perlu direvisi, terutama yang menyangkut kawasan
konservasi dan kelestarian lahan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Gambut
http://id.wikipedia.org/wiki/Gambut
Diakses pada tanggal 5 Maret 2010

Erlangga, 2008. Pemanfaatan Lahan Gambut


http://elank37.wordpress.com/2008/03/21/pemanfaatan-lahan-gambut/
Diakses pada tanggal 5 Maret 2010

Limin, Sudiwo H. 2006, Pemanfaatan Lahan Gambut Dan Permasalahannya


http://webdocs.alterra.wur.nl/internet/peatwise/docs/phase3/Reports/Pema
nfaatan%20lahan%20gambut%20dan%20permasalahannya.pdf
Diakses pada tanggal 3 Maret 2010

Suriadikarta, Didi Ardi. 2009. Pembelajaran Dari Kegagalan Penanganan


Kawasan Plg Sejuta Hektar Menuju Pengelolaan Lahan Gambutberkelanjutan
http://124.81.86.180/publikasi/ip024091.pdf
Diakses pada tanggal 3 Maret 2010

Yanti, Rina, DKK. Persepsi Petani Tentang Lahan Gambut Dan Pengelolaannya
http://balittra.litbang.deptan.go.id/lokal/Kearipan-8%20Yanti.pdf
Diakses pada tanggal 5 maret 2010