Anda di halaman 1dari 10

TUGAS PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN

UPAYA REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN DALAM


PEMULIHAN KUALITAS LINGKUNGAN

OLEH :
MUHAMMAD NIDZAR
H1E108041

DOSEN
NOPI STIYATI P, Ssi, MT

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2010
ABSTRAK

Populasi manusia yang semakin meningkat, menyebabkan kebutuhan manusia


juga semakin meningkat. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya manusia
memerlukan sumber daya alam untuk diolah. Pada zaman sekarang ini
pengolahan sumber daya alam sampai pada penebang hutan. Kebutuhan manusia
akan kebuuthan kayu untuk pembangunan sering tidak sejalan dengan kegiatan
kehutanan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan, seperti perubahan
bentang alam dan dapat menyebabkan bencana alam yang tidak langsung
dirasakan tetapi akan terjadi setelah beberapa tahun kemudian.
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pengelolaan kualitas lingkungan memang perlu perhatian lebih,


karena jika sesuatu kualitas lingkungan baik maka akan terjadi lah keselarasan
antara alam dengan makhluk hidup yang hidup didalamnya. Banyak dampak
negatif atau krisis lingkungan yang melanda negeri kita sehingga siapa pun akan
terkena dampaknya, semisal polusi udara yang tejadi di Jakata dan longsor yang
sekarang lagi banyak terjadi makanya diperlunya rehabilitasi hutan.
Indonesia menempati urutan 3 dari segi luasan hutan setelah negeri
kongo dan brasil, itu merupakan aset negara yang harus dijaga dan dilestarikan
sehingga dapat bertahan dengan lama. Hutan tropis ini merupakan hutan yang
unik dan memiliki biodiversitas yang sangat tinggi.
Hutan bukan hanya sekumpulan individu pohon, tetapi
merupakansuatumasyarakat tumbuhan yang kompleks, yang terdiri selain dari
pohon juga semak, tumbuhan bawah, jasad renik tanah, dan hewan lainnya.
Berbagai komponen penyusun hutan tersebut satu sama lain terkait dalam
hubungan ketergantungan. Untuk dapat dikategorikan sebagai hutan, sekelompok
pohon-pohon harus mempunyai tajuk-tajuk yang cukup rapat dan berlapis, dan
menghasilkan tumpukan bahan organik/serasah yang sudah terurai maupun
belum, di atas tanah mineral. Terdapat unsur-unsur lain yang berasosiasi, antara
lain tumbuhan yang lebih kecil dan berbagai bentuk kehidupan fauna.

Batasan Masalah

Makalah ini membahas tentang proses, aplikasi dan keuntungan dari


fungsi hutan dalam pengelolaan kualitas lingkungan terhadap beberapa kasus
yang terjadi.

Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata
kuliah pengelolaan lingkungan dan dimana mahasiswa diharapkan dapat
memahami konsep dalam mengelola kualitas lingkungan agar kualitas
lingkungannya tetap dapat berfungsi sebagaimana peruntukannya dan dapat
menerapkannya dikehidupan nyata.

Metode Penulisan

Dalam penulisan makalah ini, digunakan teori kajian pustaka yang berasal
dari buku yang menunjang pembahasan tentang pengelolaan kualitas lingkungan.
Selain itu juga berasal dari referensi-referensi di internet yang tentunya
memberikan informasi-informasi tambahan yang terbaru. Sumber – sumber
tersebut kemudian dikumpulkan dan menjadi analisis untuk pembahasan masalah.
TINJAUAN PUSTAKA

Pengelolaan Kualitas Lingkungan

Kegiatan pengelolaan lingkungan termasuk pencegahan,


penanggulangan kerusakan dan pencemaran serta pemulihan kualitas lingkungan
telah menuntut dikembangkannya berbagai perangkat kebijaksanaan dan program
serta kegiatan yang didukung oleh sistem pendukung pengelolaan lingkungan
lainnya. Sistem tersebut mencakup kemantapan kelembagaan, sumberdaya
manusia dan kemitraan lingkungan, di samping perangkat hukum dan
perundangan, informasi serta pendanaan. Sifat keterkaitan (interdependensi) dan
keseluruhan (holistik) dari esensi lingkungan telah membawa konsekuensi bahwa
pengelolaan lingkungan, termasuk sistem pendukungnya tidak dapat berdiri
sendiri. Akan tetapi terintegrasi, menjadi roh, dan bersenyawa dengan seluruh
pelaksanaan pembangunan di semua sektor (Nasution, 2008).
Pembangunan yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat tidak dapat terhindarkan dari penggunaan sumberdaya alam, namun
eksploitasi sumberdaya alam yang tidak mengindahkan kemampuan dan daya
dukung lingkungan mengakibatkan merosotnya kualitas lingkungan. Banyak
faktor yang menyebabkan kemerosotan kualitas lingkungan serta kerusakan
lingkungan yang dapat diidentifikasi dari pengamatan di lapangan, oleh sebab itu
dalam makalah ini dicoba diungkap secara umum sebagai gambaran potret
lingkungan hidup, khususnya dalam hubungannya dengan pengelolaan lingkungan
hidup di era otonomi daerah.
Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memerlukan sumberdaya
alam, yang berupa tanah, air dan udara dan sumberdaya alam yang lain yang
termasuk ke dalam sumberdaya alam yang terbarukan maupun yang tak
terbarukan. Namun demikian harus disadari bahwa sumberdaya alam yang kita
perlukan mempunyai keterbatasan di dalam banyak hal, yaitu keterbatasan tentang
ketersediaan menurut kuantitas dan kualitasnya. Sumberdaya alam tertentu juga
mempunyai keterbatasan menurut ruang dan waktu. Oleh sebab itu diperlukan
pengelolaan sumberdaya alam yang baik dan bijaksana.
Keberadaan sumberdaya alam, air, tanah dan sumberdaya yang lain menentukan
aktivitas manusia sehari-hari. Kerusakan sumberdaya alam banyak ditentukan
oleh aktivitas manusia. Banyak contoh kasus-kasus pencemaran dan kerusakan
lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia seperti pencemaran udara,
pencemaran air, pencemaran tanah serta kerusakan hutan yang kesemuanya tidak
terlepas dari aktivitas manusia, yang pada akhirnya akan merugikan manusia itu
sendiri (Anonim, 2008).
Tipe-tipe hutan di Indonesia berkisar dari hutan-hutan Dipterocarpaceae
dataran rendah yang selalu hijau di Sumatera dan Kalimantan, sampai hutan
monsun musiman dan padang savanna di Nusa Tenggara serta hutan non
Dipterocarpaceae dataran rendah dan kawasan sub-alpin dan alpin di Papua.
Indonesia juga memiliki hutan Mangrove seluas 3,7 juta hektar dan merupakan
hutan mangrove terluas di dunia

Hutan-hutan tersebut telah memberikan andil yang cukup besar


terhadap Pembangunan dan Perekonomian Indonesia selama tigapuluh dekade
terakhir ini, namun demikian akankah hutan-hutan yang dimiliki Indonesia masih
memberikan sumbangan yang serupa terhadap kehidupan makhluk di bumi ini
dimasa yang akan datang (Kusmana, 2002).
Hutan adalah sumberdaya alam yang multifungsi. Dalam kaitannya
dengan efek pemanasan global hutan mengurangi kadar CO2 di udara dan
memperangkapnya dalam bentuk biomassa hutan. Hutan klimaks ada dalam
keseimbanagan dinamik yang tidak lagi berfungsi mengurangi kadar CO2. Jika
dilakukan penebangan dengan cara yang benar, misalnya dengan tebang pilih
yang mengikuti aturan, kerusakan yang terjadi adalah minimum. Pohon ditempat
yang ditebang itu dipicu untuk tumbuh. Nisbah fotosintesis dan respirasi (P/R)
naik sampai tercapai lagi keseimbangan. Oleh karena itu, jika penebangan
dilakukan dengan baik akan menguntungkan dalam usaha penangkalan
pemanasan global.
Reboisasi dan penghijauan dengan membuat hutan tanaman dengan
jenis yang tumbuh cepat, penyerapan CO2 akan berjalan cepat. Karbon yang
tersimpan dalam biomassa hutan tanaman akan lebih besar daripada biomassa
dalam hutan yang rusak. Apabila hutan yang rusak itu telah menjadi padang
rumput. Dengan demikian hutan tanaman itu akan membantu dalam penurunan
kadar CO2 di udara. Akan tetapi pada umumnya biomassa hutan tanaman itu lebih
rendah jumlah karbon yang tersimpan dalam hutan alam primer yang semula ada
di tempat tersebut. Dengan demikaian hutan tanaman sulit untuk dapat
sepenuhnya mengembalikan kadar CO2 udara pada tingkat seperti hutan klimaks,
walaupun diproduksi bahan awet dari hutan tanaman. Apabila 8 hutan tanaman
dapat mengalihkan para peladang menjadi non-peladang, hutan yang rusak yang
semula dipakai untuk perladangan akan dapat pulih secara alamiah. Dahlan (1989)
Upaya rehabilitasi hutan di Indonesia sangat diperlukan untuk
kelestariannya, sehingga dapat menguntungkan dalam beberapa bidang.

Keberhasilan program reboisasi dan rehabilitasi lahan akan dapat


meningkatkan produktivitas lahan dan kualitas lingkungan terutama dalam aspek:
1. Fungsi hidrologi
2. Fungsi perlindungan tanah
3. Stabilitas iklim mikro
4. Penghasil O2, dan penyerap gas-gas pencemar udara
5. Potensi sumberdaya pulih yang dapat dipanen
6. Pelestarian sumberdaya plasma nutfah
7. Perkembangbiakan ternak dan satwa liar
8. Pengembangan kepariwisataan dan rekreasi
9. Menciptakan kesempatan kerja
10. Penyediaan fasilitas pendidikan
Hal-hal yang penting dicermati dalam kaitan dengan peningkatan kualitas
lingkungan adalah :
1. Pemilihan jenis pohon yang ditanaman dalam GN RHL harus
memperhitungkan faktor geoklimatologi wilayah daerah sasaran, terutama yang
menyangkut curah hujan, kesesuaian tempat tumbuh jenis yang ditanam, tingkat
transpirasi dan erosivitas tempat tumbuh.
2. Khusus untuk daerah perkotaan atau industri diutamakan dipilih jenis-jenis
yang mampu menyerap dan menjerap gas-gas polutan.
3. Perlu adanya pengaturan teknik penanaman baik secara horizontal maupun
vertikal, sehingga dapat meningkatkan secara optimal tujuan penghijauan dalam
mencegah bahaya erosi dan banjir
4. Keberadaan pohon dan tegakan hutan tidak secara otomatis mencegah
terjadinya erosi dan sedimentasi, justru peranan serasah dan tumbuhan bawah
sangat besar dalam mencegah terjadinya bahaya erosi dan sedimentasi.
5. Di daerah bermusim atau kering tumbuhan selain mempunyai ukuran dan
bentuk daun yang khas juga mempunyai ciri menggugurkan daun (meranggas).
Oleh karena itu dalam penghijauan dapat dipilih jenis-jenis yang menggugurkan
daun. Jika digunakan pohon yang tidak menggugurkan daun perlu dilakukan
pemangkasan. Hasil pemangkasan dapat untuk kayu bakar atau makan ternak atau
untuk mulsa yang dapat mengurangi penguapan
6. Untuk menjaga keseimbangan lingkungan terutama dalam tata air dan tanah
dalam rangka mencapai tujuan rehabilitasi lahan di setiap DAS perlu dilakukan
penelitian tentang neraca air. Dengan neraca air tersebut intesitas pengelolaan di
setiap DAS dapat dilakukan dengan tetap

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan oleh para staf pengajar kehutanan IPB Bandung,
pada tahun 1999 – 2005. ara. Berdasarkan data dari Departemen Kehutanan RI,
luas lahan sangat kritis dan lahan kritis pada akhir Pelita VI (awal tahun
1999/2000) seluas 23.242.881 ha terdiri dari 35 % dalam kawasan hutan dan 65 %
luar kawasan hutan. Deforestasi hutan di Indonesia telah terjadi sejak tahun 1950,
namun sejak tahun 1970-an deforestasi menjadi semakin besar dimana era
penebangan hutan secara komersial dimulai secara besar-besaran. Antara tahun
1970-an dan 1990-an, laju deforestasi diperkirakan antara 0,6 dan 1,2 juta ha
( Sunderlin dan Resosudarmo, 1996 dalam FWI/GFW, 2001).
Lebih lanjut, berdasarkan pemetaan hutan pada tahun 1999 oleh
Pemerintah Indonesia menyimpulkan bahwa laju deforestasi rata-rata dari tahun
1985-1997 mencapai 1,7 juta ha. Pulau-pulau yang mengalami deforestasi
terbesar dalam kurun waktu tersebut adalah Sulawesi, Sumatera, Kalimanatan,
yang secara keseluruhan kehilangan tutupan lahannya lebih dari 20 % (GoI/World
Bank, 2000). Jika laju deforestasi berlangsung dengan kecepatan seperti tahun
1997 dan tidak ada usaha-usaha rehabilitasi, maka hutan dataran rendah non rawa
akan lenyap dari Sumatera pada tahun 2005 dan Kalimantan setelah tahun 2010
(Holmes, 2000, dalam FWI/GFW, 2001) pertambangan tersebut.
Beberapa penelitan menunjukkan bahwa penebangan hutan dapat
meningkatkan aliran permukaan antara 6 – 971 %, sehingga penambahan luas
hutan akan mnegurangi aliran air. Segera setelah penebangan aliran air naik
dengan tajam, setelah hutan tumbuh kembali aliran air pun menurun lagi.
Di daerah beriklim sedang setiappengurangan 10 % hutan konifer
menambah aliran air 40 mm/tahun. Di derah tropika setiap 1 % pengurangan luas
hutan menaikkan aliran air 4,5 mm/tahun
Dengan reboisasi dan penghijauan lahan kritis, laju evapotranspirasi dan
air simpanan meningkat. Reboisasi dan penghijuan yang berhasil akan
menurunkan aliran air permukaan tetapi sekaligus meningkatkan air simpanan
dalam tanah. Namun kenyataan yang ada rebosisasi dan penghijauan seringkali
tidak hanya menurunkan aliran air tetapi juga mengurangi air simpanan, karena
adanya evapotranspirasi dan intersepsi oleh tajuk hutan. Hasil reboisasi di
beberapa Negara menunjukkan bahwa penurunan aliran air bervariasi antara 28-
197 %.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Permasalah lingkungan yang sering terjadi adalah ulah manusia sendiri.


Sudah diketahui bahwa, penebangan liar secara terbuka berpotensi menimbulkan
kerusakan lahan, antara lain terjadinya perubahan sifat tanah, munculnya lapisan
bahan induk yang produktivitasnya rendah, timbulnya lahan masam dan garam-
garam yang dapat meracuni tanah yang berada disekitar, rusaknya bentang alam,
serta terjadinya erosi dan sedimentasi. Tanah hasil penebangan pada kegiatan
kehutanan akan mengurangi daya resap air yang akan berdampak pada
pengelolaan kualitas lingkungan .
Hutan adalah sumberdaya alam yang multifungsi. Dalam kaitannya
dengan efek pemanasan global hutan mengurangi kadar CO2 di udara dan
memperangkapnya dalam bentuk biomassa hutan. Hutan klimaks ada dalam
keseimbanagan dinamik yang tidak lagi berfungsi mengurangi kadar CO2. Jika
dilakukan penebangan dengan cara yang benar, misalnya dengan tebang pilih
yang mengikuti aturan, kerusakan yang terjadi adalah minimum. Pohon ditempat
yang ditebang itu dipicu untuk tumbuh. Nisbah fotosintesis dan respirasi (P/R)
naik sampai tercapai lagi keseimbangan. Oleh karena itu, jika penebangan
dilakukan dengan baik akan menguntungkan dalam usaha penangkalan
pemanasan global.

Reboisasi dan penghijauan dengan membuat hutan tanaman dengan jenis


yang tumbuh cepat, penyerapan CO2 akan berjalan cepat. Karbon yang tersimpan
dalam biomassa hutan tanaman akan lebih besar daripada biomassa dalam hutan
yang rusak. Apabila hutan yang rusak itu telah menjadi padang rumput. Dengan
demikian hutan tanaman itu akan membantu dalam penurunan kadar CO2 di
udara. Akan tetapi pada umumnya biomassa hutan tanaman itu lebih rendah
jumlah karbon yang tersimpan dalam hutan alam primer yang semula ada di
tempat tersebut. Dengan demikaian hutan tanaman sulit untuk dapat sepenuhnya
mengembalikan kadar CO2 udara pada tingkat seperti hutan klimaks, walaupun
diproduksi bahan awet dari hutan tanaman. Apabila 8 hutan tanaman dapat
mengalihkan para peladang menjadi non-peladang, hutan yang rusak yang semula
dipakai untuk perladangan akan dapat pulih secara alamiah

Tanaman yang memiliki ketahanan yang tinggi terhadap pencemaran


debu semen dan kemampuan yang tinggi dalam menjerap (adsorpsi) dan
menyerap (absorpsi) debu semen adalah : mahoni, bisbul, tanjung, kenari, meranti
merah, kere payung dan payung hitam. Sedangkan duwet, medang lilin dan
sempur kurang baik digunakan sebagai tanman untuk penghijauan di kawasan
industri pabrik semen. Ketiga jenis tanaman ini selain agak peka terhadap debu
semen, juga memiliki kemampuan yang rendah dalam menjerap dan menyerap
partikel semen (Irawati, 1991)
Hutan adalah sumberdaya alam yang multifungsi. Dalam kaitannya
dengan efek pemanasan global hutan mengurangi kadar CO2 di udara dan
memperangkapnya dalam bentuk biomassa hutan. Hutan klimaks ada dalam
keseimbanagan dinamik yang tidak lagi berfungsi mengurangi kadar CO2. Jika
dilakukan penebangan dengan cara yang benar, misalnya dengan tebang pilih
yang mengikuti aturan, kerusakan yang terjadi adalah minimum. Pohon ditempat
yang ditebang itu dipicu untuk tumbuh. Nisbah fotosintesis dan respirasi (P/R)
naik sampai tercapai lagi keseimbangan. Oleh karena itu, jika penebangan
dilakukan dengan baik akan menguntungkan dalam usaha penangkalan
pemanasan global.
Reboisasi dan penghijauan dengan membuat hutan tanaman dengan jenis
yang tumbuh cepat, penyerapan CO2 akan berjalan cepat. Karbon yang tersimpan
dalam biomassa hutan tanaman akan lebih besar daripada biomassa dalam hutan
yang rusak. Apabila hutan yang rusak itu telah menjadi padang rumput. Dengan
demikian hutan tanaman itu akan membantu dalam penurunan kadar CO2 di
udara. Akan tetapi pada umumnya biomassa hutan tanaman itu lebih rendah
jumlah karbon yang tersimpan dalam hutan alam primer yang semula ada di
tempat tersebut. Dengan demikaian hutan tanaman sulit untuk dapat sepenuhnya
mengembalikan kadar CO2 udara pada tingkat seperti hutan klimaks, walaupun
diproduksi bahan awet dari hutan tanaman. Apabila 8 hutan tanaman dapat
mengalihkan para peladang menjadi non-peladang, hutan yang rusak yang semula
dipakai untuk perladangan akan dapat pulih secara alamiah
Tanaman yang memiliki ketahanan yang tinggi terhadap pencemaran
debu semen dan kemampuan yang tinggi dalam menjerap (adsorpsi) dan
menyerap (absorpsi) debu semen adalah : mahoni, bisbul, tanjung, kenari, meranti
merah, kere payung dan payung hitam. Sedangkan duwet, medang lilin dan
sempur kurang baik digunakan sebagai tanman untuk penghijauan di kawasan
industri pabrik semen. Ketiga jenis tanaman ini selain agak peka terhadap debu
semen, juga memiliki kemampuan yang rendah dalam menjerap dan menyerap
partikel semen.

KESIMPULAN

Hutan di Indonesia memang sangat berlimpah hingga mencapai urutan


tiga dunia sebelum brazil dan republik kongo. Hutan-hutan tersebut
telah memberikan andil yang cukup besar terhadap Pembangunan dan
Perekonomian Indonesia selama tigapuluh dekade terakhir ini, namun demikian
akankah hutan-hutan yang dimiliki Indonesia masih memberikan sumbangan yang
serupa terhadap kehidupan makhluk di bumi ini dimasa yang akan datang
Masalah yang penting berkaitan dengan hutan dan rehabilitasi lahan
adalah
banjir. Resiko di DAS yang berhutan menjadi kecil karena mempunyai koefisien
air larian yaitu 0,001-0,1 (ratio antara aliran air permukaan dan aliran air dasar).
Selain faktor geologi dan curah hujan, hutan mempunyai peranan dalam
terjadinya tanah longsor. Pengaruh hutan tersebut dilakukan oleh akar-akar pohon,
faktor lain adalah berkurangnya presipitasi efektif (netto) karena intersepsi.
Besarnya pengaruh tebang habis dan konstruksi jalan terhadap tanah longsor.
Pengaruh hutan terhadap air dan erosi sangat kompleks ada yang
menguntungkan tetapi ada yang merugikan, sehingga perlu ada petimbangan
manfaat dan resiko, sehingga dalam reboisasi hutan perlu diminalkan resikonya
dan ditingkatkan manfaatnya.
Pengelolaan kualitas lingkungan penting dilakukan, kegiatan tersebut
meliputi pencegahan, penanggulangan kerusakan dan pencemaran serta pemulihan
kualitas lingkungan. Kegiatan pertambangan dapat menimbulkan kerusakan
lingkungan seperti perubahan bentang alam, terjadinya erosi dan sedimentasi,
serta dapat menimbulkan tanah asam yang dapat menyebabkan penurunan
kesuburan tanah. Perlu dilakukan kegiatan reklamasi atau revegetasi kegiatan
pasca penambangan untuk pengelolaan kualitas lingkungan. Tanaman lamtoro dan
turi tersebar hingga diseluruh wilayah Indonesia dan mudah pemeliharaannya
serta dapat meningkatkan kesuburan tanah sehingga baik ditanam pada tanah
bekas tambang batu bara. Seresah dan cacing tanah digunakan dalam peningkatan
kesuburan tanah karena dapat terdekomposisi dengan mudah. Penambahan
serasah atau serasah dan cacing tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah pada
tanah bekas tambang, hal ini dilihat dari pertumbuhan tanaman yaitu
bertambahnya tinggi, diameter batang dan jumlah daun.

DAFTAR PUSTAKA

Andre. 2009. Sifat Kimia Tanah


http://boymarpaung.wordpress.com/2009/02/19/sifat-kimia-tanah/
Diakses tanggal 11 Maret 2010.

Anonim1. 2008. Pembangunan Berklelanjutan, Lingkungan Hidup dan Otonomi


Daerah.
http://geo.ugm.ac.id/archives/125
Diakses tanggal 11 Maret 2010.

Anonim2. 2009dampak .penebangan hutan


Diakses tanggal 11 Maret 2010.

Fitriani, Diana. 2007. Teknologi Ucg (Underground Coal Gasification) Sebagai


Pengelolaan Batubara Ramah Lingkungan.
http://anafio.multiply.com/reviews/item/2
Diakses tanggal 11 Maret 2010.

Harun, Rochajat. 2009. Manfaat Tanah.


http://tmo-sumberagung.blogspot.com/2009/05/manfaat-cacing-tanah.html
Diakses tanggal 11 Maret 2010.

Nasution B dkk. 2008. Dilema Pengelolaan Lingkungan di Era Otonomi Daerah


http://www.analisadaily.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=46511:dilema-pengelolaan-lingkungan-
di-era-otonomi-daerah--bagian-pertama-dari-dua-tulisan-
&catid=78:umum&Itemid=139
Diakses tanggal 11 Maret 2010.

Sofyan, H. 2009. Dampak Lingkungan Ekspoitasi penebangan hutan


http://haniyahsofyan.blogspot.com/2009/11/dampak-lingkungan-ekspoitasi-
tambang.html
Diakses tanggal 11 Maret 2010.