Anda di halaman 1dari 28

KONSENSUS

PENGELOLAAN DIABETES MELITUS DI


INDONESIA
1998

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Pendahuluan
Diagnosis
Klasifikasi Gambar
Pengelolaan Gambar 1.
Penyulit DM Langkah-langkah Diagnostik DM
Pencegahan DM Gambar 2.
Penyuluhan Skema Pengelolaan DM tipe 2
Masalah Khusus Gambar 3.
Daftar Singkatan Algoritma Pengobatan Hipertensi pada DM
Penandatangan Konsensus

[kembali ke menu utama]

KATA PENGANTAR

Kegunaan suatu konsensus pengelolaan ialah kesatuan pendapat tentang


penanganan masalah, dalam hal ini masalah kesehatan penting : diabetes
melitus.
Pasien diabetes di manapun tinggalnya di Indonesia, akan diobati dengan
cara yang sama, karena pasienlah yang menjadi subyek terpenting konsensus
ini.
Ada beberapa alasan untuk memperbaharui konsensus pengelolaan yang
telah digunakan sejak tahun 1993.
1. Perubahan kriteria diagnosis. Berbeda dengan batas normal
lama kadar glukosa puasa (140 mg/dl plasma vena), batas
baru ialah 126 mg/dl sesuai dengan usul ADA untuk
mendiagnosis pasien sedini mungkin. Pencantuman kriteria
ini mendahului keputusan WHO.

2. Perkembangan obat baru. Suatu kelas obat pengendali


kadar glukosa seperti inhibitor glukosidase alfa (acarbose)
perlu dimasukkan dalam perbendaharaan obat untuk
diabetes. Demikian pula sulfonilurea generasi ketiga dan
teknologi farmasi baru GITS.

Dalam konsensus baru ini bab pencegahan (primer, sekunder dan tersier)
semakin penting dan pilar penyuluhan mengalami perkembangan pesat.

Berbagai kemudahan dalam pemantauan kadar glukosa darah dan alat


suntik insulin meningkatkan kemandirian pasien.

Bertambahnya prevalensi diabetes di tingkat nasional maupun global pada


dasawarsa menjelang dan sesudah tahun 2000 mensyaratkan keterlibatan
seluruh jajaran medis. Karena itu PERKENI dan cabang-cabangnya harus
memperbanyak pelatihan untuk menerapkan konsensus pengelolaan diabetes di
tingkat pelayanan kesehatan primer, suatu kegiatan yang sudah dimulai sejak
tahun 1996.

Setidak-tidaknya untuk pencegahan sekunder telah dihasilkan anak-anak


konsensus pengelolaan diabetes* berupa pedoman untuk masalah yang lebih
khusus, yaitu :

1. Konsensus pengelolaan dislipidemia pada diabetes melitus di Indonesia


2. Konsensus diagnosis dan penatalaksanaan diabetes melitus gestasional

Pedoman untuk penatalaksanaan hipertensi telah dicantumkan sebagai bab


terpisah. Sumbangan pemikiran dari spesialis lain sangat berperan dan sangat
dihargai.

Walaupun petunjuk praktis untuk perencanaan makan sudah tersedia,


masih perlu dikembangkan pedoman untuk hidangan dengan kandungan
karbohidrat 70 – 75 %. Hidangan ini tetap harus mampu memenuhi persyaratan
gizi seimbang untuk kebutuhan pasien semiurban dan pedesaan.

Bila diabetes melitus diyakini sebagai salah satu penyakit degeneratif akibat
perubahan gaya hidup, pencegahan primer merupakan conditio sine qua non. Ini
berarti bahwa anggota PERKENI harus mengajak masyarakat awam untuk
menempuh cara hidup sehat. Peran sebagai komunikator perlu dikembangkan di
samping peran sebagai dokter.
Semoga Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia 1998
menjadi tonggak baru di bidang kesehatan negara tercinta ini.

Denpasar 24 Oktober 1998

PB PERKENI

Prof. Dr. Supartondo, SpPD-KE


Ketua Umum

[Daftar Isi]

PENDAHULUAN

Dari berbagai penelitian epidemiologis di Indonesia didapatkan prevalensi


DM sebesar 1,5 - 2,3% pada penduduk usia lebih dari 15 tahun, bahkan pada
suatu penelitian epidemiologis di Manado didapatkan prevalensi DM 6,1%.
Penelitian yang dilakukan di Jakarta membuktikan adanya kenaikan prevalensi.
Prevalensi DM pada daerah urban di Jakarta meningkat dari 1,7% pada tahun
1982 menjadi 5,7% pada tahun 1993. Demikian pula prevalensi DM di Ujung
Pandang (daerah urban), meningkat dari 1,5% pada tahun 1981 menjadi 2,9%
pada tahun 1998. Walaupun demikian, prevalensi DM di daerah rural ternyata
masih rendah. Di Tasikmalaya didapatkan prevalensi DM sebesar 1,1%, sedang
di Kecamatan Sesean suatu daerah sangat terpencil di Tanah Toraja didapatkan
prevalensi DM hanya 0,8% (11 penderita di antara 1310 penduduk umur > 30
tahun). Di daerah Jawa Timur, perbedaan urban rural ini tidak begitu tampak. Di
Surabaya pada penelitian epidemiologis yang dikerjakan di Puskesmas
perkotaan pada tahun 1991 yang mencakup 13460 penduduk, didapatkan
prevalensi sebesar 1,43%, sedang di daerah rural pada suatu penelitian yang
mencakup 1640 penduduk (1989) juga didapatkan prevalensi yang hampir sama
yaitu 1,47%.

Diabetes melitus dapat menyerang warga segala lapisan umur dan sosial
ekonomi. Di Indonesia saat ini penyakit DM belum menempati skala prioritas
utama pelayanan kesehatan walaupun sudah jelas dampak negatifnya, yaitu
berupa penurunan kualitas SDM, terutama akibat penyulit menahun yang
ditimbulkannya.

Berdasarkan pola pertambahan penduduk seperti saat ini, diperkirakan


pada tahun 2020 nanti akan ada sejumlah 178 juta penduduk berusia di atas 20
tahun dan dengan asumsi prevalensi DM sebesar 4% akan didapatkan 7 juta
pasien DM, suatu jumlah yang sangat besar untuk dapat ditangani sendiri oleh
dokter spesialis/ subspesialis. Beban serupa tampak lebih nyata lagi kalau dilihat
angka Mc Carthy dan Zimmet (1993) yang memperkirakan jumlah pasien
diabetes di dunia akan mencapai 306 juta jiwa pada tahun 2020. Di kawasan
Asean didapatkan pola peningkatan serupa. Jumlah pasien DM tipe 2 pada
tahun 1995 diperkirakan 8,5 juta orang, akan meningkat menjadi 12,3 juta pada
tahun 2000 dan 19,4 juta pada tahun 2010. Semua pihak, baik masyarakat
maupun pemerintah, harus ikut serta dalam usaha menanggulangi masalah DM
ini. Tentu saja program untuk mencegah dan menanggulangi timbulnya ledakan
DM ini harus sudah dimulai dari sekarang.

Dalam strategi pelayanan kesehatan bagi pasien DM, yang seyogyanya


diintegrasikan ke dalam pelayanan kesehatan primer, peran dokter umum sangat
penting. Kasus diabetes melitus sederhana tanpa penyulit dapat dikelola dengan
tuntas oleh dokter umum. Apalagi kalau kemudian kadar glukosa darah ternyata
dapat terkendali baik dengan pengelolaan di tingkat pelayanan kesehatan
primer. Tentu saja harus ditekankan pentingnya tindak lanjut jangka panjang
pada para pasien tersebut. Pasien yang potensial akan menderita penyulit DM
perlu secara periodik dikonsultasikan kepada dokter ahli terkait ataupun kepada
tim pengelola DM pada tingkat lebih tinggi di rumah sakit rujukan. Kemudian
mereka dapat dikirim kembali kepada dokter yang biasa mengelolanya. Demikian
pula pasien DM yang sukar terkendali kadar glukosa darahnya, pasien DM
dengan penyulit, apalagi penyulit yang potensial fatal, perlu dan harus ditangani
oleh instansi yang lebih mampu dengan peralatan yang lebih lengkap, dalam hal
ini Pusat DM di Fakultas Kedokteran/ Rumah Sakit Pendidikan/RS Rujukan
Utama.

Untuk mendapatkan hasil pengelolaan yang tepat guna dan berhasil guna
bagi pasien DM dan untuk menekan angka penyulit, diperlukan suatu standar
pelayanan minimal bagi pasien DM. Penyempurnaan dan revisi berkala standar
ini perlu disesuaikan dengan kemajuan-kemajuan ilmu mutakhir, kondisi dan
masukan dari para pengelola DM, sehingga dapat diperoleh manfaat yang
sebesar-besarnya bagi pasien DM.

Diabetes melitus adalah penyakit menahun yang akan diderita seumur


hidup, sehingga yang berperan dalam pengelolaannya tidak hanya dokter,
perawat dan ahli gizi, tetapi lebih penting lagi keikutsertaan pasien sendiri dan
keluarganya. Penyuluhan kepada pasien dan keluarganya akan sangat
membantu meningkatkan keikutsertaan mereka dalam usaha memperbaiki hasil
pengelolaan DM. Karena itu perlu dibentuk perkumpulan pasien diabetes, yang
tentu akan sangat membantu meningkatkan pengetahuan mereka tentang DM
dan memikirkan kepentingan mereka sendiri semaksimal mungkin.

Panduan ini berisikan standar pengelolaan bagi pasien DM yang


merupakan hasil kesepakatan para pakar DM di Indonesia yang mulai dirintis PB
PERKENI sejak pertemuan bulan Februari 1993 di Jakarta. Revisi dan
penyempurnaan buku panduan ini merupakan salah satu tugas yang
diamanatkan oleh kongres PERKENI ke-4 IV di Ujung Pandang tahun 1997
kepada para pakar pengelola DM yang tergabung dalam PERKENI.

Mengingat sebagian besar pasien DM adalah kelompok DM tipe 2,


konsensus pengelolaan ini terutama disusun bagi pasien DM tipe 2, sedang
untuk kelompok DM tipe 1 dan DM tipe lain serta pengelolaan diabetes pada
kehamilan dibicarakan dalam buku panduan tersendiri.

[Daftar Isi]

DIAGNOSIS

Diagnosis DM harus didasarkan atas pemeriksaan kadar glukosa darah,


tidak dapat ditegakkan hanya atas dasar adanya glukosuria saja. Dalam
menentukan diagnosis DM harus diperhatikan asal bahan darah yang diambil
dan cara pemeriksaan yang dipakai. Untuk diagnosis DM, pemeriksaan yang
dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa dengan cara enzimatik dengan bahan
darah plasma vena. Untuk memastikan diagnosis DM, pemeriksaan glukosa
darah seyogyanya dilakukan di laboratorium klinik yang terpercaya (yang
melakukan program pemantapan kendali mutu secara teratur). Untuk memantau
kadar glukosa darah dapat dipakai bahan darah kapiler.

Saat ini banyak dipasarkan alat pengukur kadar glukosa darah cara reagen
kering yang umumnya sederhana dan mudah dipakai. Hasil pemeriksaan kadar
glukosa darah memakai alat-alat tersebut dapat dipercaya sejauh kalibrasi
dilakukan dengan baik dan cara pemeriksaan dilakukan sesuai dengan cara
standar yang dianjurkan, terutama untuk memantau kadar glukosa darah. Secara
berkala, hasil pemantauan dengan cara reagen kering perlu dibandingkan
dengan cara konvensional.

A. Pemeriksaan Penyaring

Pemeriksaan penyaring yang khusus ditujukan untuk DM pada penduduk


umumnya (mass-screening=pemeriksaan penjaring) tidak dianjurkan karena di
samping biaya yang mahal, rencana tindak lanjut bagi mereka yang positif belum
ada. Bagi mereka yang mendapat kesempatan untuk pemeriksaan penyaring
bersama penyakit lain (general check up), adanya pemeriksaan penyaring untuk
DM dalam rangkaian pemeriksaan tersebut sangat dianjurkan. Pemeriksaan
penyaring berguna untuk menjaring pasien DM, TGT (toleransi glukosa
terganggu), dan GDPT (glukosa darah puasa terganggu), sehingga kemudian
dapat ditentukan langkah yang tepat untuk mereka. Peran aktif para pengelola
kesehatan sangat diperlukan agar deteksi DM dapat ditegakkan sedini mungkin
dan pencegahan sekunder dapat segera diterapkan.

Pemeriksaan penyaring perlu dilakukan pada kelompok dengan salah satu


faktor risiko untuk DM, yaitu:

kelompok usia dewasa tua (> 45 tahun)


kegemukan {BB (kg)> 120% BB idaman atau IMT > 27 (kg/m2)}
tekanan darah tinggi (> 140/90 mmHg)
riwayat keluarga DM
riwayat kehamilan dengan BB lahir bayi > 4000 gram
riwayat DM pada kehamilan
dislipidemia (HDL < 35 mg/dl dan atau Trigliserida > 250 mg/dl).
pernah TGT atau GDPT

Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan melalui pemeriksaan kadar glukosa


darah sewaktu, kadar glukosa darah puasa, kemudian dapat diikuti dengan Tes
Toleransi Glukosa Oral (TTGO) standar (lihat skema langkah-langkah diagnostik
DM).

Untuk kelompok risiko tinggi yang hasil pemeriksaan penyaringnya negatif,


pemeriksaan penyaring ulangan dilakukan tiap tahun, sedangkan bagi mereka
yang berusia > 45 tahun tanpa faktor risiko, pemeriksaan penyaring dapat
dilakukan setiap 3 tahun.

Pasien dengan Toleransi Glukosa Terganggu dan Glukosa Darah Puasa


Terganggu merupakan tahapan sementara menuju DM. Setelah 5-10 tahun
kemudian 1/3 kelompok TGT akan berkembang menjadi DM, 1/3 tetap TGT dan
1/3 lainnya kembali normal.

Adanya TGT sering berkaitan dengan resistensi insulin. Pada kelompok


TGT ini risiko terjadinya aterosklerosis lebih tinggi daripada kelompok normal.
TGT sering berkaitan dengan penyakit kardiovaskular, hipertensi dan
dislipidemia.
Tabel 1. Kadar glukosa darah sewaktu* dan puasa* sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM (mg/dl)

Bukan DM Belum pasti DM DM

Kadar glukosa darah sewaktu


plasma vena < 110 110 - 199 ≥
darah kapiler < 90 90 - 199 200

200

Kadar glukosa darah puasa


plasma vena < 110 110 - 125 ≥
darah kapiler < 90 90 - 109 126

110

* metoda enzimatik

B. Langkah-langkah untuk Menegakkan Diagnosis Diabetes Melitus

Diagnosis klinis DM umumnya akan dipikirkan bila ada keluhan khas DM


berupa poliuria, polidipsia, polifagia, lemah, dan penurunan berat badan yang
tidak dapat dijelaskan sebabnya. Keluhan lain yang mungkin dikemukakan
pasien adalah kesemutan, gatal, mata kabur dan impotensia pada pasien pria,
serta pruritus vulvae pada pasien wanita. Jika keluhan khas, pemeriksaan
glukosa darah sewaktu > 200 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis
DM. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah puasa > 126 mg/dl juga digunakan
untuk patokan diagnosis DM. Untuk kelompok tanpa keluhan khas DM, hasil
pemeriksaan glukosa darah yang baru satu kali saja abnormal, belum cukup kuat
untuk menegakkan diagnosis klinis DM. Diperlukan pemastian lebih lanjut
dengan mendapatkan sekali lagi angka abnormal, baik kadar glukosa darah
puasa > 126 mg/dl, kadar glukosa darah sewaktu > 200 mg/dl pada hari yang
lain, atau dari hasil tes toleransi glukosa oral (TTGO) yang abnormal.

Cara pelaksanaan TTGO (WHO 1985) :

Tiga (3) hari sebelumnya makan seperti biasa


kegiatan jasmani secukupnya, seperti yang biasa dilakukan
puasa semalam, selama 10 - 12 jam
kadar glukosa darah puasa diperiksa
diberikan glukosa 75 gram (orang dewasa) atau 1,75 gram/Kg BB anak,
dilarutkan dalam air 250 ml, dan diminum selama/dalam waktu 5 menit
diperiksa kadar glukosa darah 1 (satu) jam dan 2 (dua) jam sesudah beban
glukosa; selama pemeriksaan subyek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak
merokok.

Untuk kemudahan, PERKENI hanya menganjurkan pemeriksaan kadar glukosa


darah pada jam ke-2 saja. Alasan untuk kemudahan ini disarankan juga oleh
ADA, yang bahkan juga memakai hasil pemeriksaan kadar glukosa darah puasa
³ 126 mg/dl untuk kriteria diagnosis.
Kriteria diagnostik Diabetes Melitus*

1. Kadar glukosa darah sewaktu (plasma vena) ≥ 200 mg/dl

Atau

2. Kadar glukosa darah puasa (plasma vena) ≥ 126 mg/dl


Puasa berarti tidak ada masukan kalori sejak 10 jam terakhir

Atau

3. Kadar glukosa plasma ≥ 200 mg/dl pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram pada TTGO**

* Kriteria diagnostik tersebut harus dikonfirmasi ulang pada hari yang lain, kecuali untuk keadaan khas hiperglikemia dengan
dekompensasi metabolik akut, seperti ketoasidosis, berat badan yang menurun cepat.
** Cara diagnosis dengan kriteria ini tidak dipakai rutin di klinik
Untuk penelitian epidemiologis pada penduduk dianjurkan memakai kriteria diagnostik kadar glukosa darah puasa.
Untuk DM Gestasional juga dianjurkan kriteria diagnostik yang sama (Lihat Buku Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus
Gestasional).

Gambar 1. Langkah-langkah Diagnostik DM

[Daftar Isi]

KLASIFIKASI

Klasifikasi DM yang dianjurkan oleh PERKENI adalah yang sesuai dengan


anjuran klasifikasi DM American Diabetes Association (ADA) 1997.

Klasifikasi Etiologis Diabetes Meli-tus (ADA 1997)

1. Diabetes tipe 1. (destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin


absolut) :

- Autoimun
- Idiopatik

2. Diabetes tipe 2. (bervariasi mulai yang terutama dominan resistensi insulin


disertai defisiensi insulin relatif sampai yang terutama defek sekresi insulin
disertai resistensi insulin)

3. Diabetes tipe Lain

A. Defek genetik fungsi sel beta:


- Maturity-Onset Diabetes of the Young (MODY) 1,2,3.
- DNA mitokondria

B. Defek genetik kerja insulin

C. Penyakit eksokrin pankreas

- pankreatitis
- tumor/pankreatektomi
- pankreatopati fibrokalkulus

D. Endokrinopati

- akromegali
- sindrom Cushing
- feokromositoma
- hipertiroidisme

E. Karena obat/zat kimia

- vacor, pentamidin, asam nikotinat


- glukokortikoid, hormon tiroid
- tiazid, dilantin, interferon alfa dan lain-lain.

F. Infeksi

- Rubella kongenital, Cyto-MegaloVirus (CMV)

G. Sebab imunologi yang jarang

- antibodi anti insulin

H. Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM

- sindrom Down, sindrom Klinefelter, sindrom Turner, dan lain-lain

4. Diabetes Melitus Gestasional (DMG)

[Daftar Isi]

PENGELOLAAN

A. Tujuan
Jangka pendek : menghilangkan keluhan/gejala DM dan mempertahankan rasa
nyaman dan sehat.

Jangka panjang : mencegah penyulit, baik makroangiopati, mikroangiopati


maupun neuropati, dengan tujuan akhir menurunkan morbiditas dan mortalitas
DM.

Cara : menormalkan kadar glukosa, lipid, insulin.

Mengingat mekanisme dasar kelainan DM tipe 2 adalah terdapatnya faktor


genetik, resistensi insulin dan insufisiensi sel beta pankreas, maka cara-cara
untuk memperbaiki kelainan dasar tersebut harus tercermin pada langkah
pengelolaan.

Kegiatan :
- mengelola pasien secara holistik
- mengajarkan perawatan mandiri

B. Hal-hal yang Perlu Dilakukan pada Pengelolaan Pasien DM

1. Pada pertemuan pertama :

a. Anamnesis-keluhan dan gejala hiperglikemia maupun keluhan dan gejala


komplikasi

b. Pemeriksaan jasmani lengkap


- TB, BB, TD, rabaan nadi kaki
- Tanda neuropati dicari
- Pemeriksaan keadaan kaki, kulit, kuku
- Pemeriksaan visus

c. Pemeriksaan penunjang yang harus dilakuan, tergantung fasilitas yang


tersedia.
- Hb, leukosit, LED, hitung jenis leukosit.
- Glukosa darah puasa dan sesudah makan
- Urin rutin
- Albumin serum
- EKG
- Kreatinin
- Foto paru
- SGPT
- Funduskopi
- Lipid : Kolesterol total, Kolesterol HDL, Trigliserida
- Albumin urin kuantitatif 24 jam/ mikroalbuminuria
- HbA1c (opsional pada pertemuan pertama)

d. Penyuluhan sepintas mengenai:

1. Apakah penyakit DM itu


2. Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM
3. Penyulit DM
4. Perencanaan makan
5. Kegiatan jasmani
6. Obat berkhasiat hipoglikemik dan hipoglikemia
7. Perawatan kaki

2. Secara berkala

Menurut kebutuhan : pemeriksaan kadar glukosa darah puasa dan 2 jam


sesudah makan

Tiap tiga (3) bulan :


- HbA1c

Tiap tahun :
- Pemeriksaan jasmani lengkap
- Albumin urin, sedimen urin
- Kreatinin
- SGPT
- Lipid
- EKG
- Funduskopi

Idealnya semua pasien DM mendapat kesempatan dan perlakuan yang sama


pada semua tingkat pengelola kesehatan, baik primer, sekunder, maupun tersier.
Namun mengingat keterbatasan yang ada pada berbagai tingkat pengelola
kesehatan, macam dan jumlah pemeriksaan penunjang yang diperiksa
disesuaikan dengan fasilitas yang ada. Demikian pula tingkat pelayanan yang
diberikan disesuaikan dengan kapasitas dan fasilitas yang ada. Penyuluhan dan
pencegahan primer dapat dikerjakan pada semua tingkat pengelola kesehatan.

C. Pilar utama pengelolaan DM

1. Penyuluhan
2. Perencanaan makan
3. Latihan jasmani
4. Obat berkhasiat hipoglikemik
Pada dasarnya pengelolaan DM tanpa dekompensasi metabolik dimulai dengan
pengaturan makan disertai dengan kegiatan jasmani yang cukup selama
beberapa waktu (4 - 8 minggu). Bila setelah itu kadar glukosa darah masih belum
memenuhi kadar sasaran metabolik yang diinginkan, baru diberikan obat
hipoglikemik oral (OHO) atau suntikan insulin sesuai dengan indikasi. Dalam
keadaan dekompensasi metabolik, misalnya ketoasidosis, DM dengan stres
berat, berat badan yang menurun dengan cepat, insulin/obat berkhasiat
hipoglikemik dapat segera diberikan.

Pemantauan kadar glukosa darah bila dimungkinkan dapat dilakukan sendiri di


rumah, setelah mendapat pelatihan khusus untuk itu.

1. Penyuluhan (Edukasi Diabetes)

Penyuluhan untuk rencana pengelolaan sangat penting untuk


mendapatkan hasil yang maksimal. Edukasi diabetes adalah pendidikan
dan pelatihan mengenai pengetahuan dan ketrampilan bagi pasien
diabetes, yang bertujuan menunjang perubahan perilaku untuk
meningkatkan pemahaman pasien akan penyakitnya, yang diperlukan
untuk mencapai keadaan sehat optimal, dan penyesuaian keadaan
psikologik serta kualitas hidup yang lebih baik. Edukasi merupakan bagian
integral dari asuhan perawatan pasien diabetes. Pembicaraan lebih lanjut
mengenai penyuluhan dapat dilihat pada bab khusus penyuluhan.

2. Perencanaan makan

Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang


seimbang dalam hal karbohidrat, protein, dan lemak, sesuai dengan
kecukupan gizi baik sebagai berikut :
Karbohidrat 60 - 70%
Protein 10 - 15%
Lemak 20 - 25%
Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stres
akut dan kegiatan jasmani untuk mencapai dan memper tahankan berat
badan idaman.

Untuk penentuan status gizi, dipakai Body Mass Index (BMI) = Indeks
Massa Tubuh (IMT).

BB (kg)
BMI = IMT = ------------------
{TB (m)}2

IMT normal Wanita = 18,5 - 22,9 kg/m2

IMT normal Pria = 20 - 24,9 kg/m2


Untuk kepentingan klinik praktis, dan menghitung jumlah kalori, penentuan
status gizi memanfaatkan Rumus Broca, yaitu:

BB idaman = (TB – 100) – 10%

Status gizi :

- Berat Badan kurang = < 90% BB idaman


- Berat Badan normal = 90 - 110% BB idaman
- Berat Badan lebih = 110 - 120% BB idaman
- Gemuk = > 120% BB idaman

Jumlah kalori yang diperlukan dihitung dari berat badan idaman


dikalikan kebutuhan kalori basal (30 Kkal/kg BB untuk laki-laki dan 25
Kkal/kg BB untuk wanita). Kemudian ditambah dengan kebutuhan kalori
untuk aktivitas (10 - 30%; untuk atlet dan pekerja berat dapat lebih banyak
lagi, sesuai dengan kalori yang dikeluarkan dalam kegiatannya), koreksi
status gizi (gemuk dikurangi, kurus ditambah) dan kalori yang diperlukan
untuk menghadapi stres akut (infeksi, dan sebagainya) sesuai dengan
kebutuhan. Untuk masa pertumbuhan (anak dan dewasa muda) serta ibu
hamil, diperlukan perhitungan tersendiri (lihat konsensus DM tipe 1 dan
konsensus DM gestasional).

Makanan sejumlah kalori terhitung, dengan komposisi tersebut di


atas dibagi dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%), siang (30%) dan
sore (25%) serta 2-3 porsi (makanan ringan, 10 - 15%) di antaranya.
Pembagian porsi tersebut sejauh mungkin disesuaikan dengan kebiasaan
pasien untuk kepatuhan pengaturan makanan yang baik. Untuk pasien
DM yang mengidap pula penyakit lain, pola pengaturan makan
disesuaikan dengan penyakit penyertanya. Perlu diingatkan bahwa
pengaturan makan pasien DM tidak berbeda dengan orang normal,
kecuali jumlah kalori dan waktu makan yang terjadwal. Untuk kelompok
sosial ekonomi rendah, makanan dengan komposisi karbohidrat sampai
70 - 75% juga memberikan hasil yang baik.

Jumlah kandungan kolesterol < 300 mg/hari. Diusahakan lemak dari


sumber asam lemak tidak jenuh dan menghindari asam lemak jenuh.

Jumlah kandungan serat ± 25 g/hari, diutamakan serat larut.

Pasien DM dengan tekanan darah yang normal masih diperbolehkan


mengkonsumsi garam seperti orang sehat, kecuali bila mengalami
hipertensi, harus mengurangi konsumsi garam.

Pemanis buatan dapat dipakai secukupnya. Gula sebagai bumbu


masakan tetap diizinkan. Pada keadaan kadar glukosa darah terkendali,
masih diperbolehkan untuk mengkonsumsi sukrosa (gula pasir) sampai
5% kalori.

Untuk mendapatkan kepatuhan terhadap pengaturan makan yang


baik, adanya pengetahuan mengenai bahan penukar akan sangat
membantu pasien.

3. Latihan Jasmani

Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3 - 4 kali seminggu) selama


kurang lebih 30 menit, yang sifatnya sesuai CRIPE (continuous,
rhythmical, interval, progressive, endurance training). Sedapat mungkin
mencapai zona sasaran 75 - 85% denyut nadi maksimal (220 - umur),
disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penyakit penyerta.

Sebagai contoh olahraga ringan adalah berjalan kaki biasa selama 30


menit, olahraga sedang adalah berjalan cepat selama 20 menit dan
olahraga berat misalnya jogging.

4. Obat Berkhasiat Hipoglikemik

Jika pasien telah menerapkan pengaturan makan dan kegiatan


jasmani yang teratur namun pengendalian kadar glukosa darahnya
belum tercapai (lihat sasaran pengendalian glukosa darah),
dipertimbangkan pemakaian obat berkhasiat hipoglikemik
(oral/suntikan).

4.1. Obat Hipoglikemik Oral (OHO)

Pada umumnya dalam menggunakan obat hipoglikemik oral, baik


golongan sulfonilurea, metformin maupun inhibitor glukosidase alfa,
harus diperhatikan benar fungsi hati dan ginjal. Tidak dianjurkan
untuk memberikan obat-obat tersebut pada pasien dengan
gangguan fungsi hati atau ginjal.

Sulfonilurea : Obat golongan ini mempunyai efek utama


meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas. Oleh sebab
itu merupakan pilihan utama untuk pasien dengan berat badan
normal dan kurang, namun masih boleh diberikan kepada pasien
dengan berat badan lebih. Untuk menghindari risiko hipoglikemia
yang berkepanjangan, pada pasien usia lanjut obat golongan
sulfonilurea dengan waktu kerja panjang sebaiknya dihindari.

Biguanid (Metformin) : Obat golongan ini mempunyai efek utama


mengurangi produksi glukosa hati di samping juga efek
memperbaiki ambilan glukosa perifer. Obat golongan ini terutama
dianjurkan dipakai sebagai obat tunggal pada pasien gemuk.
Biguanid merupakan kontraindikasi pada pasien dengan gangguan
fungsi ginjal dan hati, serta pasien-pasien dengan kecenderungan
hipoksemia (misalnya pasien dengan penyakit serebro
kardiovaskular).
Obat biguanid dapat memberikan efek samping mual. Untuk
mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan bersamaan atau
sesudah makan.

Inhibitor Glukosidase Alfa (Acarbose) : Obat golongan ini


mempunyai efek utama menurunkan puncak glikemik sesudah
makan.
Terutama bermanfaat untuk pasien dengan kadar glukosa
darah puasa yang masih normal. Biasanya dimulai dengan dosis 2
kali 50 mg setelah suapan pertama waktu makan. Jika tidak
didapati keluhan gastrointestinal, dosis dapat dinaikkan menjadi 3
kali 100 mg. Pada pasien yang menggunakan acarbose jangka
panjang perlu pemantauan faal hati dan ginjal secara serial,
terutama pasien yang sudah mengalami gangguan faal hati dan
ginjal.

4.2. Insulin

Indikasi penggunaan insulin pada DM - tipe 2 :

- ketoasidosis, koma hiperosmolar dan asidosis laktat


- stres berat (infeksi sistemik, operasi berat)
- berat badan yang menurun dengan cepat
- kehamilan/DM gestasional yang tidak terkendali dengan
perencanaan makan.
- tidak berhasil dikelola dengan OHO dosis maksimal atau ada
kontra indikasi dengan OHO.

Tabel 2. Mekanisme Kerja, Efek Samping Utama dan Pengaruh terhadap HbA1c

Cara kerja utama Efek samping utama Pengaruh terhadap HbA1c

Sulfonilurea Meningkatkan sekresi insulin BB naik 1,5-2,5%


Hipoglikemia

Metformin Menekan produksi glukosa hati Diare, dispepsia, asidosis laktat 1,5-2,5%

Inhibitor Menghambat absorpsi glukosa Flatulens, tinja lembek 0,5-1,0%


glukosidase alfa

Insulin Menekan produksi glukosa hati, stimulasi Hipoglikemia, BB naik Potensial normal
pemanfaatan glukosa
Tabel 3. Obat Hipoglikemik Oral

Obat Dosis awal Dosis maksimal Pemberian sehari yg


dianjurkan
Golongan Sulfonilurea*

Glibenklamid 15-20 mg
2,5 mg 1-2 kali

Gliklasid 240 mg
80 mg 1-2 kali

Glikuidon 120 mg
30 mg 2-3 kali

Glipisid 20 mg
5 mg 1-2 kali

Glipisid GITS 20 mg
5 mg 1 kali

Glimepirid** 6 mg
1 mg 1 kali

Klorpropamid 500 mg
50 mg 1 kali

Golongan Biguanid

Metformin*** 2500 mg
500 mg 1-3 kali
#
Golongan inhibitor glukosidase alfa

Acarbose 300 mg
50 mg 3 kali

* diberikan kurang lebih 30 menit sebelum makan


** dapat diberikan sesaat sebelum makan
*** diberikan sebelum makan. Untuk mengurangi efek samping mual dapat diberikan bersama maupun
sesudah makan
# diberikan segera setelah suapan pertama waktu makan

Tabel 4. Jenis dan lama kerja insulin

Jenis Awitan Puncak Lama kerja


kerja (jam) kerja (jam) (jam)
Insulin kerja 0,5 - 1 2-4 5-8
pendek
Insulin kerja 1-2 4 - 12 8 - 24
menengah
Insulin kerja 2 6 - 20 18 - 36
panjang
Insulin 0,5 - 1 2 - 4 dan 6 8 - 24
campuran -12
Pada umumnya pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan
dosis rendah, untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan kadar
glukosa darah pasien. Kalau dengan sulfonilurea atau metformin sampai dosis
maksimal ternyata sasaran kadar glukosa darah belum tercapai, perlu dipikirkan
kombinasi 2 kelompok obat hipoglikemik oral yang berbeda (sulfonilurea +
metformin atau metformin + sulfonilurea, acarbose + metformin atau
sulfonilurea). Kombinasi OHO dosis kecil dapat pula digunakan untuk
menghindari efek samping masing-masing kelompok obat. Dapat pula diberikan
kombinasi ketiga kelompok OHO bila belum juga dicapai sasaran yang
diinginkan, atau ada alasan klinik di mana insulin tidak memungkinkan untuk
dipakai.

Kalau dengan dosis OHO maksimal baik sendiri-sendiri ataupun secara


kombinasi sasaran glukosa darah belum tercapai, dipikirkan adanya kegagalan
pemakaian OHO. Pada keadaan demikian dapat dipakai kombinasi OHO dan
insulin (lihat skema pengelolaan DM).

Ada berbagai cara kombinasi OHO dan insulin (OHO + insulin kerja cepat 3
kali sehari, OHO + insulin kerja sedang pagi hari, OHO + insulin kerja sedang
malam hari). Yang banyak dipergunakan adalah kombinasi OHO dan insulin
malam hari mengingat walaupun dapat diperoleh keadaan kendali glukosa darah
yang sama, tetapi jumlah insulin yang diperlukan paling sedikit pada kombinasi
OHO dan insulin kerja sedang malam hari.

Cara Penyuntikan Insulin

Insulin umumnya diberikan dengan suntikan di bawah kulit (subkutan). Pada keadaan
khusus diberikan intramuskular atau intravena secara bolus atau drip. Insulin dapat diberikan
tunggal (satu macam insulin kerja cepat, kerja menengah atau kerja panjang), tetapi dapat juga
diberikan kombinasi insulin kerja cepat dan kerja menengah, sesuai dengan respons individu
terhadap insulin, yang dinilai dari hasil pemeriksaan kadar glukosa darah harian. Untuk
menyuntik insulin kombinasi kerja cepat dan menengah atau panjang, diperlukan teknik khusus
untuk mencampur kedua macam insulin tersebut dalam satu semprit. Lokasi penyuntikan juga
harus diperhatikan benar, demikian pula mengenai rotasi tempat suntik. Apabila diperlukan,
sejauh sterilitas penyimpanan terjamin, semprit insulin dapat dipakai lebih dari satu kali (sampai
satu minggu) oleh pasien yang sama. Jarum suntik dapat dipakai sampai dirasakan tidak nyaman
lagi.

Harus diperhatikan benar konsentrasi insulin (U40, U100). Dianjurkan dipakai konsentrasi
yang tetap (U40 atau U100), tidak berganti-ganti, dengan semprit yang sesuai (semprit U40 untuk
insulin U40, semprit U100 untuk insulin U100).

Hipoglikemia dan Cara Mengatasinya


Terjadinya hipoglikemia terutama pada usia lanjut merupakan suatu hal yang harus dihindari,
mengingat konsekuensi yang ditimbulkannya, yang dapat fatal atau menyebabkan kemunduran
bermakna pada pasien. Pada setiap pasien DM dengan kesadaran menurun kemungkinan
hipoglikemia harus selalu dipikirkan dan diantisipasi. Perbaikan kesadaran pada DM usia lanjut
sering lebih lamban. Hipoglikemia paling sering disebabkan oleh sulfonilurea dan insulin.
Hipoglikemia akibat sulfonilurea juga dapat berlangsung lama, sehingga harus diawasi benar
sampai semua obat habis diekskresi, yang kadang memerlukan waktu lama (24-36 jam, bahkan
mungkin lebih pada pasien dengan gagal ginjal kronik).

Gejala hipoglikemia terdiri dari gejala adrenergik (berdebar, banyak keringat, gemetar, rasa
lapar) dan gejala neuroglikopenik (pusing, gelisah, kesadaran menurun sampai koma).

Semua pasien DM yang mendapat obat hipoglikemik oral atau insulin harus mendapat
penyuluhan yang memadai mengenai gejala hipoglikemia dan cara mengatasinya. Demikian pula
keluarganya.

Jika dicurigai ada hipoglikemia harus segera dilakukan pengelolaan hipoglikemia (dari
memberikan air manis, minuman yang mengandung gula murni, berkalori, bukan gula pemanis,
sampai suntikan glukosa 40% intravena atau glukagon bila diperlukan). Dalam menghadapi
pasien tidak sadar, pemberian gukosa 40% intravena merupakan tindakan darurat yang harus
pertama kali diberikan kalau pengelola tidak yakin bahwa kasus tersebut bukan kasus
hipoglikemia.

Harus diingatkan lagi bahwa pada orang tua, pulihnya kesadaran dapat lebih lamban.
Demikian pula pasien yang mendapat obat hipoglikemik sulfonilurea dengan masa kerja panjang.
Apa lagi pada pasien DM yang juga disertai penyulit gangguan fungsi ginjal.

D. Kriteria Pengendalian

Untuk dapat mencegah terjadinya komplikasi kronik, diperlukan


pengendalian DM yang baik. DM terkendali baik tidak berarti hanya kadar
glukosa darahnya saja yang baik, tetapi harus secara menyeluruh kadar glukosa
darah, status gizi, tekanan darah, kadar lipid dan HbA1c seperti tercantum pada
tabel 4.

Untuk pasien berumur > 60 tahun, sasaran kadar glukosa darah lebih tinggi
dari pada biasa (puasa < 150 mg/dl dan sesudah makan < 200 mg/dl), demikian
pula kadar lipid, tekanan darah, dan lain-lain, mengacu pada batasan kriteria
pengendalian sedang.

Hal ini dilakukan mengingat sifat-sifat khusus pasien usia lanjut dan juga
untuk mencegah kemungkinan timbulnya efek samping dan interaksi obat .

Tabel 4. Kriteria Pengendalian DM


Baik Sedang Buruk

Glukosa darah puasa (mg/dl) 80 - 109 110 - 139 ≥ 140


Glukosa darah 2 jam (mg/dl) 110 - 159 160 - 199 ≥ 200
Hb A1c (%) 4 - 5,9 6-8 >8

Kolesterol total (mg/dl) < 200 200 - 239 ≥ 240


Kolesterol LDL (mg/dl) tanpa PJK < 130 130 - 159 ≥ 160

< 100 100 - 129 ≥ 130


denganPJK

Kolesterol HDL (mg/dl) > 45 35 - 45 < 35

Trigliserida (mg/dl) tanpa PJK < 200 200 - 249 ≥ 250


< 150 150 – 199 ≥ 200
denganPJK

BMI = IMT wanita 18,5 - 22,9 23 - 25 > 25 atau < 18,5


20 - 24,9 25 - 27 > 27 atau < 20
pria

Tekanan darah (mmHg) < 140/90 140 - 160/ 90 - 95 > 160/95

Gambar 2. Skema Pengelolaan DM tipe 2

[Daftar Isi]

PENYULIT DM

Dalam perjalanan penyakit DM, dapat terjadi penyulit akut dan menahun.

A. Penyulit akut :
- ketoasidosis diabetik
- hiperosmolar non ketotik
- hipoglikemia

B. Penyulit menahun

1. Makroangiopati:
- Pembuluh darah jantung (penyakit jantung kororner)
- Pembuluh darah tepi
- Pembuluh darah otak (stroke)

2. Mikroangiopati:
- retinopati diabetik
- nefropati diabetik
3. Neuropati

4. Rentan infeksi, seperti misalnya tuberkulosis paru, ginggivitis,


dan infeksi saluran kemih

5. Kaki diabetik (gabungan 1 sampai dengan 4)

Untuk penatalaksanaan penyulit ini seringkali diperlukan kerja sama dengan


bidang/disiplin ilmu lain.

Hipertensi dan dislipidemia merupakan faktor risiko penting penyulit


makroangiopati, oleh sebab itu hipertensi dan dislipidemia harus dicari dan
diobati dengan sebaik-baiknya (lihat bab Masalah Khusus).

[Daftar Isi]

PENCEGAHAN DM

A. Pencegahan Primer

Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan pada orang-orang yang


termasuk kelompok risiko tinggi, yakni mereka yang belum menderita, tetapi
berpotensi untuk menderita DM (lihat halaman 4). Tentu saja untuk pencegahan
primer ini harus dikenal faktor-faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya DM
dan upaya yang perlu dilakukan untuk menghilangkan faktor-faktor tersebut.

Penyuluhan sangat penting perannya dalam upaya pencegahan primer.


Masyarakat luas melalui lembaga swadaya masyarakat dan lembaga sosial
lainnya harus diikutsertakan. Demikian pula pemerintah melalui semua jajaran
terkait seperti Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan perlu memasukkan upaya pencegahan primer DM dalam program
penyuluhan dan pendidikan kesehatan. Sejak masa prasekolah hendaknya telah
ditanamkan pengertian tentang pentingnya kegiatan jasmani teratur, pola dan
jenis makanan yang sehat, menjaga badan agar tidak terlalu gemuk, dan risiko
merokok bagi kesehatan.

B. Pencegahan Sekunder

Maksud pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat


timbulnya penyulit dengan tindakan deteksi dini dan memberikan pengobatan
sejak awal penyakit. Deteksi dini dilakukan dengan pemeriksaan penyaring,
namun kegiatan tersebut memerlukan biaya besar. Memberikan pengobatan
penyakit sejak awal berarti mengelola DM dengan baik agar tidak timbul penyulit
lanjut DM.

Dalam mengelola pasien DM, sejak awal sudah harus diwaspadai dan
sedapat mungkin dicegah kemungkinan terjadinya penyulit menahun.
Penyuluhan mengenai DM dan pengelolaannya memegang peran penting untuk
meningkatkan kepatuhan pasien berobat.

Sistem rujukan yang baik akan sangat mendukung pelayanan kesehatan primer
yang merupakan ujung tombak pengelolaan DM. Melalui langkah-langkah yang
disebutkan di atas diharapkan dapat diperoleh hasil yang optimal, apalagi bila
ditunjang pula dengan adanya tatacara pengobatan baku yang akan menjadi
pegangan bagi para pengelola.

C. Pencegahan Tersier

Kalau kemudian penyulit menahun DM ternyata terjadi juga, maka


pengelola harus berusaha mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut dan
merehabilitasi pasien sedini mungkin, sebelum kecacatan tersebut menetap.
Sebagai contoh aspirin dosis rendah (80 - 325 mg) dapat dianjurkan untuk
diberikan secara rutin bagi pasien DM yang sudah mempunyai penyulit makro-
angiopati.

Pelayanan kesehatan yang holistik dan terintegrasi antar disiplin terkait


sangat diperlukan, terutama di rumah sakit rujukan, baik dengan para ahli
sesama disiplin ilmu seperti ahli penyakit jantung dan ginjal, maupun para ahli
dari disiplin lain seperti dari bagian ilmu penyakit mata, bedah ortopedi, bedah
vaskular, radiologi, rehabilitasi medis, gizi, podiatri dan lain sebagainya.

[Daftar Isi]

PENYULUHAN

Penyuluhan bagi pasien DM tidak hanya dilakukan oleh dokter yang


mengobati, tetapi juga oleh segenap jajaran terkait dengan pengelolaan DM,
seperti perawat penyuluh, pekerja sosial, ahli gizi, dan sebagainya sesuai
dengan bidang keahlian masing- masing. Tentu saja penataran/penyuluhan
berkala bagi para penyuluh juga sangat penting untuk setiap saat dapat
menyegarkan dan memperbaiki materi penyuluhan yang mereka berikan kepada
para pasien DM. Dalam menjalankan tugasnya tenaga kesehatan dalam bidang
diabetes memerlukan suatu landasan empati, yaitu kemampuan untuk ikut
merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.

Prinsip yang perlu diperhatikan pada proses edukasi diabetes adalah:

berikan dukungan dan nasehat yang positif dan hindari terjadinya kecemasan
berikan informasi secara bertahap, jangan sekaligus
mulailah dengan hal yang sederhana, baru kemudian yang lebih sulit
gunakan alat bantu dengar pandang
lakukan pendekatan dengan mengatasi masalah dan lakukanlah simulasi
berikan pengobatan sesederhana mungkin agar kepatuhan lebih baik
lakukan kompromi dan negosiasi agar tujuan pengobatan dapat diterima
jangan memaksakan tujuan pengobatan kita
lakukan motivasi, berikan penghargaan dan diskusikanlah hasil pemeriksaan
laboratorium

A. Penyuluhan untuk Pencegahan Primer

Penyuluhan untuk pencegahan primer harus diberikan kepada:

1. Kelompok masyarakat risiko tinggi:

Masyarakat perlu ditingkatkan kepeduliannya bahwa DM merupakan


suatu problem kesehatan masyarakat dan dapat dicegah dengan
mengendalikan kegemukan dan meningkatkan kegiatan jasmani, terutama
pada individu dengan risiko tinggi.

• Perencana kebijakan kesehatan :

Perencana kebijakan kesehatan perlu memahami dampak sosio -


ekonomik penyakit ini dan betapa pentingnya peran penyuluhan dalam
penatalaksanaan DM, sehingga kemudian dapat diambil langkah-langkah
untuk meningkatkan fasilitas pelayanan kesehatan bagi pasien DM.

Materi penyuluhan :
Faktor-faktor yang berpengaruh pada timbulnya DM dan usaha untuk
mengurangi faktor risiko tersebut.

B. Penyuluhan untuk Pencegahan Sekunder


Yang disuluh adalah kelompok pasien DM, terutama yang baru. Penyuluhan
dilakukan pada pertemuan pertama dan perlu sering diulang serta ditekankan
kembali pada setiap kesempatan pertemuan berikutnya.

Materi yang disuluhkan pada tingkat pertama adalah :


- Diabetes : apakah itu DM
- Penatalaksanaan DM secara umum
- Obat-obat untuk menurunkan kadar glukosa darah (tablet dan insulin)
- Perencanaan makan dengan menggunakan bahan makanan penukar
- DM dan kegiatan jasmani

Materi penyuluhan pada tingkat lanjutan adalah :


- Mengenal dan mencegah penyulit akut DM
- Pengetahuan mengenai penyulit menahun DM
- Penatalaksanaan DM selama menderita penyakit lain
- Makan di luar rumah
- Rencana untuk kegiatan khusus
- Penelitian dan pengetahuan masa kini dan teknologi mutakhir tentang DM
- Pemeliharaan kaki

C. Penyuluhan untuk Pencegahan Tersier

Penyuluhan diberikan kepada pasien yang sudah mengidap penyulit menahun


DM.

Materi yang disuluhkan:


- maksud, tujuan dan cara pengobatan pada penyulit menahun DM.
- upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan
- kesabaran dan ketaqwaan untuk dapat menerima dan memanfaatkan keadaan
hidup dengan penyulit menahun

[Daftar Isi]

MASALAH KHUSUS

A. DM – Tipe 2 dan Ibadah Puasa

Pasien yang cukup terkendali dengan pengaturan makan saja tidak mengalami
kesulitan kalau berpuasa.
Pasien yang cukup terkendali dengan OHO dosis tunggal juga tidak
mengalami kesulitan untuk berpuasa. OHO diberikan saat berbuka puasa.
Untuk yang terkendali dengan OHO dosis terbagi, pengaturan dosis obat
diberikan sedemikian sehingga dosis sebelum berbuka lebih besar dari pada
dosis sahur.
Untuk pasien DM tipe 2 yang menggunakan insulin, dipakai insulin kerja
menengah yang diberikan saat berbuka saja.
Untuk pasien yang harus menggunakan insulin dosis multipel dianjurkan untuk
tidak berpuasa dalam bulan Ramadhan

B. DM dan Hipertensi

Pengelolaan hipertensi pada DM tipe 2

1. Indikasi Pengobatan :

Bila TD Sistolik > 140 mmHg


TD Diastolik > 90 mmHg

Pada Hipertensi Sistolik :


TD sistolik > 140 mmHg
TD diastolik < 90 mmHg

2. Sasaran (target penurunan) Tekanan Darah

Dewasa (> 18 tahun) :


tidak hamil < 130/85 mmHg
hamil 120/80 mmHg

Hipertensi sistolik :
- TD sistolik > 180 -> < 160 mmHg
- TD sistolik 160 - 179 -> diturunkan 20 mmHg

3. Pengelolaan

a. Pengobatan non-farmakologis

Modifikasi gaya hidup, antara lain : penurunan BB, olah


raga, mengurangi/menghentikan rokok, alkohol, garam,
dan lain-lain.

b. Pengobatan farmakologis

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih obat anti hipertensi (OAH).
- pengaruh OAH terhadap profil lipid
- pengaruh OAH terhadap resistensi insulin
Daftar OAH lini pertama (disusun menurut abjad):- Antagonis kalsium
- Diuretik
- Inhibitor ACE
- Penghambat alfa

4. Catatan

a. Pada penderita dengan mikroalbuminuria dilaporkan


inhibitor ACE merupakan OAH lini pertama terpilih.
Antagonis kalsium golongan non-dihidropiridin
dilaporkan juga dapat mengurangi mikroalbuminuria
b. Diuretik dapat digunakan secara hati-hati dengan dosis
rendah. Penggunaan diuretik dosis tinggi dapat
memperburuk intoleransi glukosa
c. Pengobatan hipertensi harus diteruskan walaupun
sasaran sudah tercapai. Bila tekanan darah dapat
dikendalikan, setelah satu tahun dosis dapat dicoba
diturunkan secara bertahap.

Gambar 3. Algoritma Pengobatan Hipertensi pada DM

C. Dislipidemia pada PADA DM

Dislipidemia baru diobati kalau memang bukan sekunder


akibat DM. Pemberian obat hipolipidemia dipertimbangkan bila
kadar glukosa darah sudah normal, namun kadar lipid darah
masih tetap abnormal walaupun pasien sudah menjalani
perencanaan makan rendah lemak selama 3 - 6 bulan. Untuk
pasien DM yang disertai PJK, tenggang waktu dapat lebih
singkat bergantung pada penilaian klinis oleh dokter yang
mengelolanya.

Selanjutnya dapat dilihat pada buku Konsensus


Pengelolaan Dislipidemia pada DM.

D. Aspirin pada DM

Aspirin dosis rendah (80 - 325 mg) dapat dianjurkan untuk


diberikan secara rutin bagi pasien DM yang sudah mempunyai
penyulit makrovaskular. Untuk pencegahan primer, Aspirin
hanya diberikan pada pasien DM yang mempunyai satu atau
lebih faktor risiko terjadinya penyulit makrovaskular.

[Daftar Isi]

DAFTAR SINGKATAN

ADA American Diabetes Association


BB Berat Badan
BMI Body Mass Index
DM Diabetes Mellitus
EKG Elektro Kardio Gram
GDPT Glukosa Darah Puasa Terganggu
GDP Glukosa Darah Puasa
GDS Glukosa Darah Sewaktu
HDL High Density Lipoprotein
IDF International Diabetes Federation
IMT Indeks Massa Tubuh
LDL Low Density Lipoprotein
LED Laju Endap Darah
OAD Obat Anti Diabetik
OAH Obat Anti Hipertensi
OHO Obat Hipoglikemik Oral
PJK Penyakit Jantung Koroner
PERKENI Perkumpulan Endokrinologi Indonesia
SGPT Serum Glutamic Pyruvic Transaminase
ST Sasaran Metabolik Tercapai
STT Sasaran Metabolik Tidak Tercapai
TB Tinggi Badan
TD Tekanan Darah
TGT Toleransi Glukosa Terganggu
TTGO Tes Toleransi Glukosa Oral
WHO World Health Organization

[Daftar Isi]

PENANDATANGAN KONSENSUS NASIONAL


PENGELOLAAN DIABETES MELITUS DI INDONESIA 1998
1. PROF.Dr. KADRI
2. Dr. SJAFII PILIANG
3. Dr. NUR ASJIAH
4. PROF. Dr. SJAFRIL SJAHBUDDIN
5. Dr. ASMAN MANAF
6. Dr. H.R. SURASMO P.
7. PROF.Dr. UTOYO SUKATON
8. PROF. Dr. SUPARTONDO
9. PROF. Dr. SLAMET SUYONO
10. PROF. DR. Dr. A. BOEDISANTOSO R.

11. Dr. AINAL IKRAM


12. Dr. PUDJI RAHARDJO
13. Dr. WIGUNO PRODJOSUDJADI, PHD
14. MURNI I.D. PRAKOSO, SKM, MSc
15. Dr. MARZUKI SURYAATMADJA
16. Dr. JOSE R.L. BATUBARA
17. Dr. SARWONO WASPADJI
18. Dr. SIDARTAWAN SOEGONDO
19. Dr. PRADANA SOEWONDO
20. PROF. DR. Dr. SRI HARTINI K.S. KARIADI

21. PROF. DR. Dr. JOHAN S. MASJHUR


22. Dr. AGUSTA Y.L. ARIFIN
23. Dr. RULLY M.A. ROESLI
24. PROF.DR.Dr.R.R.J.SRI DJOKOMOELJANTO
25. DR. Dr. DHARMONO
26. PROF. DR. Dr. SUJONO ASWIN
27. PROF. Dr. H.A. HUSAIN ASDIE
28. Dr. PAULUS WIYONO, PhD
29. Dr. BUDI SANTOSO
30. PROF.DR.Dr.ASKANDAR TJOKROPRAWIRO

31. Dr. HENDROMARTONO


32. DR. Dr. ARI SUTJAHJO
33. Dr. HANS TANDRA
34. Dr. DJOKO WAHONO SOEATMADJI
35. Dr. AHMAD RUDIANTO
36. Dr. DWI SUTANEGARA
37. Dr. KETUT SUASTIKA
38. PROF. Dr. JOHN M.F. ADAM
39. Dr. HARSINEN SANUSI
40. PROF. Dr. ALEX ROBERT SUMUAL

[Daftar Isi]
Sumber: Buku Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus di
Indonesia 1998 Perkumpulan Endokrinologi Indonesia.