Anda di halaman 1dari 38

BATUAN-BATUAN DI BUMI (JENIS DAN TERBENTUKNYA)

Bagian luar bumi tertutupi oleh daratan dan lautan dimana


bagian dari lautan lebih besar daripada bagian daratan. Akan
tetapi karena daratan adalah bagian dari kulit bumi yang dapat
kita amati langsung dengan dekat maka banyak hal-hal yang
dapat pula kita ketahui dengan cepat dan jelas. Salah satu
diantaranya adalah kenyataan bahwa daratan tersusun oleh
beberapa jenis batuan yang berbeda satu sama lain. Dari jenisnya
batuan-batuan tersebut dapat digolongkan menjadi 3 jenis
golongan. Mereka adalah : batuan beku (igneous rocks), batuan
sediment (sedimentary rocks), dan batuan metamorfosa/malihan
(metamorphic rocks). Batuan-batuan tersebut berbeda-beda
materi penyusunnya dan berbeda pula proses terbentuknya.

Batuan beku atau sering disebut igneous rocks adalah


batuan yang terbentuk dari satu atau beberapa mineral dan
terbentuk akibat pembekuan dari magma. Berdasarkan teksturnya
batuan beku ini bisa dibedakan lagi menjadi batuan beku plutonik
dan vulkanik. Perbedaan antara keduanya bisa dilihat dari besar
mineral penyusun batuannya. Batuan beku plutonik umumnya
terbentuk dari pembekuan magma yang relatif lebih lambat
sehingga mineral-mineral penyusunnya relatif besar. Contoh
batuan beku plutonik ini seperti gabro, diorite, dan granit (yang
sering dijadikan hiasan rumah). Sedangkan batuan beku vulkanik
umumnya terbentuk dari pembekuan magma yang sangat cepat
(misalnya akibat letusan gunung api) sehingga mineral
penyusunnya lebih kecil. Contohnya adalah basalt, andesit (yang
sering dijadikan pondasi rumah), dan dacite
Batuan sediment atau sering disebut sedimentary
rocks adalah batuan yang terbentuk akibat proses pembatuan atau
lithifikasi dari hasil proses pelapukan dan erosi yang kemudian
tertransportasi dan seterusnya terendapkan. Batuan sediment ini
bias digolongkan lagi menjadi beberapa bagian diantaranya
batuan sediment klastik, batuan sediment kimia, dan batuan
sediment organik. Batuan sediment klastik terbentuk melalui
proses pengendapan dari material-material yang mengalami
proses transportasi. Besar butir dari batuan sediment klastik
bervariasi dari mulai ukuran lempung sampai ukuran bongkah.
Biasanya batuan tersebut menjadi batuan penyimpan hidrokarbon
(reservoir rocks) atau bisa juga menjadi batuan induk sebagai
penghasil hidrokarbon (source rocks). Contohnya batu
konglomerat, batu pasir dan batu lempung. Batuan sediment kimia
terbentuk melalui proses presipitasi dari larutan. Biasanya batuan
tersebut menjadi batuan pelindung (seal rocks) hidrokarbon dari
migrasi. Contohnya anhidrit dan batu garam (salt). Batuan
sediment organik terbentuk dari gabungan sisa-sisa makhluk
hidup. Batuan ini biasanya menjadi batuan induk (source) atau
batuan penyimpan (reservoir). Contohnya adalah batugamping
terumbu.

Batuan sedimen dibedakan oleh jenis zat pengangkutnya, yaitu :

1. Batu sediman aeolis : batuan hasil proses pengangkutan


oleh angin
2. Batu sediman aluvial : batuan hasil proses pengangkutan
dan pembentukan oleh air yang mengalir. Contoh : delta di
muara sungai
3. Batu sediman marin : batuan hasil proses pengangkutan
dan dibentuk oleh air laut. Contoh : sand-dune di pantai
4. Batu sediman glasial : batuan hasil proses pengangkutan
dan pembentukan oleh gletser atau es yang mengalir

Batuan metamorf atau batuan malihan adalah batuan


yang terbentuk akibat proses perubahan temperature dan/atau
tekanan dari batuan yang telah ada sebelumnya. Akibat
bertambahnya temperature dan/atau tekanan, batuan sebelumnya
akan berubah tektur dan strukturnya sehingga membentuk batuan
baru dengan tekstur dan struktur yang baru pula. Contoh batuan
tersebut adalah batu sabak atau slate yang merupakan perubahan
batu lempung. Batu marmer yang merupakan perubahan dari batu
gamping. Batu kuarsit yang merupakan perubahan dari batu
pasir.Apabila semua batuan-batuan yang sebelumnya terpanaskan
dan meleleh maka akan membentuk magma yang kemudian
mengalami proses pendinginan kembali dan menjadi batuan-
batuan baru lagi.
Proses-proses tersebut berlangsung sepanjang waktu baik di
masa lampau maupun masa yang akan datang. Kejadian alam dan
proses geologi yang berlangsung sekarang inilah yang
memberikan gambaran apa yang telah terjadi di masa lampau
seperti diungkapkan oleh ahli geologi “JAMES HUTTON” dengan
teorinya “THE PRESENT IS THE KEY TO THE PAST”
PELAPUKAN BATUAN

Pelapukan atau weathering (weather) merupakan perusakan


batuan pada kulit bumi karena pengaruh cuaca (suhu, curah hujan,
kelembaban, atau angin). Karena itu pelapukan adalah penghancuran
batuan dari bentuk gumpalan menjadi butiran yang lebih kecil bahkan
menjadi hancur atau larut dalam air. Pelapukan dibagi dalam tiga
macam, yaitupelapukan mekanis, pelapukan kimiawi, dan pelapukan
biologis.
1. Pelapukan Mekanis

Pelapukan mekanis atau sering disebut pelapukan fisis adalah


penghancuran batuan secara fisik tanpa mengalami perubahan
kimiawi. Penghancuran batuan ini bisa disebabkan oleh akibat
pemuaian, pembekuan air, perubahan suhu tiba-tiba, atau perbedaan
suhu yang sangat besar antara siang dan malam. Untuk lebih jelasnya
bagaimana perubahan itu, perhatikan baik-baik berikut ini:
a. Akibat pemuaian
b. Akibat Pembekuan Air
c. Akibat perubahan Suhu tiba-tiba
d. Perbedaan Suhu yang besar antara Siang dan Malam
2. Pelapukan Kimiawi

Pelapukan kimiawi adalah pelapukan yang terjadi akibat


peristiwa kimia. Biasanya yang menjadi perantara air, terutama air
hujan. Tentunya Anda masih ingat bahwa air hujan atau air tanah
selain senyawa H2O, juga mengandung CO2 dari udara. Oleh karena
itu mengandung tenaga untuk melarutkan yang besar, apalagi jika air
itu mengenai batuan kapur atau karst.
Batuan kapur mudah larut oleh air hujan. Oleh karena itu jika Anda
perhatikan pada permukaan batuan kapur selalu ada celah-celah yang
arahnya tidak beraturan. Hasil pelapukan kimiawi di daerah karst biasa
menghasilkan karren, ponor, sungai bawah tanah, stalagtit, tiang-tiang
kapur, stalagmit, atau gua kapur.
3. Pelapukan Biologis

Mungkin Anda pernah melihat orang sedang memecahkan batu.


Batu yang besar itu dihantam dengan palu menjadi kerikil-kerikil kecil
yang digunakan untuk bahan bangunan. Atau mungkin Anda pernah
melihat burung atau binatang lainnya membuat sarang pada batuan
cadas, lama kelamaan batuan cadas itu menjadi lapuk. Dua ilustrasi ini
merupakan contoh pelapukan biologis.
Pelapukan biologis atau disebut juga pelapukan organis terjadi akibat
proses organis. Pelakunya adalah mahluk hidup, bisa oleh tumbuh-
tumbuhan, hewan, atau manusia. Akar tumbuh-tumbuhan bertambah
panjang dapat menembus dan menghancurkan batuan, karena akar
mampu mencengkeram batuan. Bakteri merupakan media penghancur
batuan yang ampuh. Cendawan dan lumut yang menutupi permukaan
batuan dan menghisap makanan dari batu bisa menghancurkan
batuan tersebut
SIKLUS BATUAN (ROCK CYCLE)

Sebelumnya kita sudah tahu bahwa di bumi ada tiga jenis batuan
yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Ketiga
batuan tersebut dapat berubah menjadi batuan metamorf tetapi
ketiganya juga bisa berubah menjadi batuan lainnya. Semua batuan
akan mengalami pelapukan dan erosi menjadi partikel-partikel atau
pecahan-pecahan yang lebih kecil yang akhirnya juga bisa membentuk
batuan sedimen. Batuan juga bisa melebur atau meleleh menjadi
magma dan kemudian kembali menjadi batuan beku. Kesemuanya ini
disebut siklus batuan atau ROCK CYCLE.
Semua batuan yang ada di permukaan bumi akan mengalami
pelapukan. Penyebab pelapukan tersebut ada 3 macam:

1. Pelapukan secara fisika: perubahan suhu dari panas ke dingin


akan membuat batuan mengalami perubahan. Hujan pun juga dapat
membuat rekahan-rekahan yang ada di batuan menjadi berkembang
sehingga proses-proses fisika tersebut dapat membuat batuan pecah
menjadi bagian yang lebih kecil lagi.
2. Pelapukan secara kimia: beberapa jenis larutan kimia dapat
bereaksi dengan batuan seperti contohnya larutan HCl akan bereaksi
dengan batu gamping. Bahkan air pun dapat bereaksi melarutan
beberapa jenis batuan. Salah satu contoh yang nyata adalah “hujan
asam” yang sangat mempengaruhi terjadinya pelapukan secara kimia.

3. Pelapukan secara biologi: Selain pelapukan yang terjadi akibat


proses fisikan dan kimia, salah satu pelapukan yang dapat terjadi
adalah pelapukan secara biologi. Salah satu contohnya adalah
pelapukan yang disebabkan oleh gangguan dari akar tanaman yang
cukup besar. Akar-akar tanaman yang besar ini mampu membuat
rekahan-rekahan di batuan dan akhirnya dapat memecah batuan
menjadi bagian yang lebih kecil lagi.

Setelah batuan mengalami pelapukan, batuan-batuan tersebut akan


pecah menjadi bagian yang lebih kecil lagi sehingga mudah untuk
berpindah tempat. Berpindahnya tempat dari partikel-partikel kecil ini
disebut erosi. Proses erosi ini dapat terjadi melalui beberapa cara:

1. Akibat grafitasi: akibat adanya grafitasi bumi maka pecahan batuan


yang ada bisa langsung jatuh ke permukaan tanah atau menggelinding
melalui tebing sampai akhirnya terkumpul di permukaan tanah.

2. Akibat air: air yang melewati pecahan-pecahan kecil batuan yang


ada dapat mengangkut pecahan tersebut dari satu tempat ke tempat
yang lain. Salah satu contoh yang dapat diamati dengan jelas adalah
peranan sungai dalam mengangkut pecahan-pecahan batuan yang
kecil ini.

3. Akibat angin: selain air, angin pun dapat mengangkut pecahan-


pecahan batuan yang kecil ukurannya seperti halnya yang saat ini
terjadi di daerah gurun.

4. Akibat glasier: sungai es atau yang sering disebut glasier seperti


yang ada di Alaska sekarang juga mampu memindahkan pecahan-
pecahan batuan yang ada.

Pecahan-pecahan batuan yang terbawa akibat erosi tidak dapat


terbawa selamanya. Seperti halnya sungai akan bertemu laut, angin
akan berkurang tiupannya, dan juga glasier akan meleleh. Akibat
semua ini, maka pecahan batuan yang terbawa akan terendapkan.
Proses ini yang sering disebut proses pengendapan. Selama proses
pengendapan, pecahan batuan akan diendapkan secara berlapis
dimana pecahan yang berat akan diendapkan terlebih dahulu baru
kemudian diikuti pecahan yang lebih ringan dan seterusnya. Proses
pengendapan ini akan membentuk perlapisan pada batuan yang sering
kita lihat di batuan sedimen saat ini.

Pada saat perlapisan di batuan sedimen ini terbentuk, tekanan


yang ada di perlapisan yang paling bawah akan bertambah akibat
pertambahan beban di atasnya. Akibat pertambahan tekanan ini, air
yang ada dalam lapisan-lapisan batuan akan tertekan sehingga keluar
dari lapisan batuan yang ada. Proses ini sering disebut kompaksi. Pada
saat yang bersamaan pula, partikel-partikel yang ada dalam lapisan
mulai bersatu. Adanya semen seperti lempung, silika, atau kalsit
diantara partikel-partikel yang ada membuat partikel tersebut
menyatu membentuk batuan yang lebih keras. Proses ini sering
disebut sementasi. Setelah proses kompaksi dan sementasi terjadi
pada pecahan batuan yang ada, perlapisan sedimen yang ada
sebelumnya berganti menjadi batuan sedimen yang berlapis-lapis.
Batuan sedimen seperti batu pasir, batu lempung, dan batu gamping
dapat dibedakan dari batuan lainnya melalui adanya perlapisan,
butiran-butiran sedimen yang menjadi satu akibat adanya semen, dan
juga adanya fosil yang ikut terendapkan saat pecahan batuan dan fosil
mengalami proses erosi, kompaksi dan akhirnya tersementasikan
bersama-sama.

Pada kerak bumi yang cukup dalam, tekanan dan suhu yang ada
sangatlah tinggi. Kondisi tekanan dan suhu yang sangat tinggi seperti
ini dapat mengubah mineral yang dalam batuan. Proses ini sering
disebut proses metamorfisme. Semua batuan yang ada dapat
mengalami proses metamorfisme. Tingkat proses metamorfisme yang
terjadi tergantung dari:

1. Apakah batuan yang ada terkena efek tekanan dan atau suhu yang
tinggi.
2. Apakah batuan tersebut mengalami perubahan bentuk.

3. Berapa lama batuan yang ada terkena tekanan dan suhu yang
tinggi.

Dengan bertambahnya dalam suatu batuan dalam bumi, kemungkinan


batuan yang ada melebur kembali menjadi magma sangatlah besar. Ini
karena tekanan dan suhu yang sangat tinggi pada kedalaman yang
sangat dalam. Akibat densitas dari magma yang terbentuk lebih kecil
dari batuan sekitarnya, maka magma tersebut akan mencoba kembali
ke permukaan menembus kerak bumi yang ada. Magma juga
terbentuk di bawah kerak bumi yaitu di mantle bumi. Magma ini juga
akan berusaha menerobos kerak bumi untuk kemudian berkumpul
dengan magma yang sudah terbentuk sebelumnya dan selanjutnya
berusaha menerobos kerak bumi untuk membentuk batuan beku baik
itu plutonik ataupun vulkanik.

Kadang-kadang magma mampu menerobos sampai ke permukaan


bumi melalui rekahan atau patahan yang ada di bumi. Pada saat
magma mampu menembus permukaan bumi, maka kadang terbentuk
ledakan atau sering disebut volcanic eruption. Proses ini sering disebut
proses ekstrusif. Batuan yang terbentuk dari magma yang keluar ke
permukaan disebut batuan beku ekstrusif. Basalt dan pumice (batu
apung) adalah salah satu contoh batuan ekstrusif. Jenis batuan yang
terbentuk akibat proses ini tergantung dari komposisi magma yang
ada. Umumnya batuan beku ekstrusif memperlihatkan cirri-ciri berikut:

1. Butirannya sangatlah kecil. Ini disebabkan magma yang keluar ke


permukaan bumi mengalami proses pendinginan yang sangat cepat
sehingga mineral-mineral yang ada sebagai penyusun batuan tidak
mempunyai banyak waktu untuk dapat berkembang.

2. Umumnya memperlihatkan adanya rongga-rongga yang terbentuk


akibat gas yang terkandung dalam batuan atau yang sering disebut
“gas bubble”.

Batuan yang meleleh akibat tekanan dan suhu yang sangat tinggi
sering membentuk magma chamber dalam kerak bumi. Magma ini
bercampur dengan magma yang terbentuk dari mantle. Karena letak
magma chamber yang relatif dalam dan tidak mengalami proses
ekstrusif, maka magma yang ada mengalami proses pendinginan yang
relatif lambat dan membentuk kristal-kristal mineral yang akhirnya
membentuk batuan beku intrusif. Batuan beku intrusif dapat
tersingkap di permukaan membentuk pluton. Salah satu jenis pluton
terbesar yang tersingkap dengan jelas adalah batholit seperti yang ada
di Sierra Nevada – USA yang merupakan batholit granit yang sangat
besar. Gabbro juga salah satu contoh batuan intrusif. Jenis batuan
yang terbentuk akibat proses ini tergantung dari komposisi magma
yang ada. Umumnya batuan beku intrusif memperlihatkan cirri-ciri
berikut:

1. Butirannya cukup besar. Ini disebabkan magma yang keluar ke


permukaan bumi mengalami proses pendinginan yang sangat lambat
sehingga mineral-mineral yang ada sebagai penyusun batuan
mempunyai banyak waktu untuk dapat berkembang.

2. Biasanya mineral-mineral pembentuk batuan beku intrusif


memperlihatkan angular interlocking.

Proses-proses inilah semua yang terjadi dimasa lampau, sekarang, dan


yang akan datang. Terjadinya proses-proses ini menjaga
keseimbangan batuan yang ada di bumi.

ATLAS CEKUNGAN BATUAN SEDIMEN DI CEKUNGAN


SUMATERA BAGIAN SELATAN

Wilayah Nusantara dikenal


mempunyai 62 cekungan yang diisi
oleh batuan sedimen berumur Tersier.
Sekitar 40 % dari seluruh cekungan
berada di daratan (onshore). Ke 62
cekungan tersebut tersebar di Pulau
Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan
Papua. Cekungan berumur Pratersier kebanyakan ditemukan di
wilayah Indonesia Bagian Timur, dan kebanyakan sulit ditarik batasnya
dengan cekungan berumur Tersier, karena umumnya ditindih
(overlain) oleh cekungan berumur Tersier.
Hampir semua cekungan batuan sedimen di Indonesia sangat
berpotensi mengandung sumber daya migas, batubara dan serpih
minyak (oil shale). Namun, batasan stratigrafi, sedimentologi, tektonik
& struktur maupun dinamika cekungan semua formasi pembawa
potensi sumber daya belum terakomodasi dan tergambar dalam
bentuk atlas.

Geologi Cekungan Sumatera Selatan adalah suatu hasil kegiatan


tektonik yang berkaitan erat dengan penunjaman Lempeng Indi-
Australia, yang bergerak ke arah utara hingga timurlaut terhadap
Lempeng Eurasia yang relatif diam. Zone penunjaman lempeng
meliputi daerah sebelah barat Pulau Sumatera dan selatan Pulau Jawa.
Beberapa lempeng kecil (micro-plate) yang berada di antara zone
interaksi tersebut turut bergerak dan menghasilkan zone konvergensi
dalam berbagai bentuk dan arah. Penunjaman lempeng Indi-Australia
tersebut dapat mempengaruhi keadaan batuan, morfologi, tektonik
dan struktur di Sumatera Selatan. Tumbukan tektonik lempeng di
Pulau Sumatera menghasilkan jalur busur depan, magmatik, dan busur
belakang.

Cekungan Sumatera Selatan terbentuk dari hasil penurunan


(depression) yang dikelilingi oleh tinggian-tinggian batuan Pratersier.
Pengangkatan Pegunungan Barisan terjadi di akhir Kapur disertai
terjadinya sesar-sesar bongkah (block faulting). Selain Pegunungan
Barisan sebagai pegunungan bongkah (block mountain) beberapa
tinggian batuan tua yang masih tersingkap di permukaan adalah di
Pegunungan Tigapuluh, Pegunungan Duabelas, Pulau Lingga dan Pulau
Bangka yang merupakan sisa-sisa tinggian "Sunda Landmass", yang
sekarang berupa Paparan Sunda. Cekungan Sumatera Selatan telah
mengalami tiga kali proses orogenesis, yaitu yang pertama adalah
pada Mesozoikum Tengah, kedua pada Kapur Akhir sampai Tersier
Awal dan yang ketiga pada Plio-Plistosen. Orogenesis Plio-Plistosen
menghasilkan kondisi struktur geologi seperti terlihat pada saat ini.
Tektonik dan struktur geologi daerah Cekungan Sumatera Selatan
dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu, Zone Sesar Semangko,
zone perlipatan yang berarah baratlaut-tenggara dan zona sesar-sesar
yang berhubungan erat dengan perlipatan serta sesar-sesar Pratersier
yang mengalami peremajaan.

Dengan telah tersedianya buku Stratigrafi Leksikon Indonesia,


dan hasil-hasil penelitian yang mencakup tataan, tektonik dan
dinamika cekungan serta karakter batuan sedimen di Cekungan
Sumatera Selatan, maka perlu dibuat suatu rangkuman data dan
informasi serta keterangan aspek geologi yang ditampilkan berupa
buku dalam bentuk atlas.

Semua data primer dan sekunder tentang geologi di Cekungan


Sumatera Selatan yang akan dihimpun, dikompilasi dan di-digit
dimaksudkan untuk dapat dirangkum dalam bentuk beberapa peta dan
keterangan secara jelas dan ringkas, terutama semua data dan
informasi tentang geologi (stratigrafi, sedimentologi, tektonik dan
struktur serta dinamika cekungan, konfigurasi batuan dasar, sumber
daya batuan sedimen, dll). Evaluasi data yang tersedia diharapkan
dapat menemukan dan mendeliniasi sub-cekungan kecil lainnya yang
belum pernah diketahui sebelumnya. Tujuan utamanya adalah,
tersedianya buku atlas cekungan batuan sedimen tersebut agar dapat
di gunakan sebagai acuan awal dalam tindak lanjut penelitian,
penyelidikan, kajian dan eksplorasi sumber daya geologi.

Rencana penyusunan buku atlas cekungan batuan sedimen akan


diawali di Cekungan Sumatera Selatan dan akan dilaksanakan dalam
waktu 12 bulan yang meliputi terutama Propinsi Jambi dan Sumatera
Selatan. Pada tahap awal, yakni tahun 2007 terdiri atas Sub-cekungan
Jambi dan Palembang Tengah. Diharapkan, seluruh wilayah Nusantara,
secara bertahap akan dibuat buku atlas cekungan batuan sedimennya.
Pekerjaan ini akan memberikan luaran berupa satu paket buku
maupun CD-format Atlas Cekungan batuan sedimen di Sumatera
Selatan (Sub-cekungan Jambi dan Palembang Tengah, Sumatera
Selatan). Penampilan buku ini berupa peta-peta topografi, geografi,
peta geologi, peta struktur dan tektonik, peta distribusi batuan dan
peta geofisika anomaly gayaberat berskala 1: 50.000; 1: 100.000; 1 :
250.000; 1 : 500.000; 1: 1.000.000 atau sampai 5.000.000, yang juga
mencakup penampang/profil geologi, stratigrafi, geologi, geofisika,
korelasi formasi dan keterangan tentang sifat serta karakter setiap
formasi batuan. Bilamana lanjut pekerjaan, hasilnya dapat dibuat
menjadi data base untuk GIS di masa mendatang.

Dengan demikan, secara berkesinambungan, semua cekungan


batuan sedimen di daratan (onshore) seluruh wilayah Indonesia dapat
ditampilkan berupa buku dalam bentuk atlas. Pembuatan Atlas ini,
akan mengacu Atlas Geologi yang telah di buat oleh Puslitbang Geologi
(2000) dan juga Atlas Geologi Jepang, (Geological Survey of Japan,
1983).
Kelengkapan data dan informasi yang akan dimuat di dalam
buku atlas cekungan batuan sedimen ini secara terus menerus akan
dapat di mutakhirkan (updated). Buku atlas ini merupakan modal awal
yang penting dalam melakukan berbagai perencanaan strategis bagi
kelanjutan pembangunan sesuai tugas dan fungsi Pusat Survei
Geologi. Hasil pekerjaan ini diharapkan dapat bermanfaat secara
langsung oleh para ahli kebumian, pengelola pertambangan dan
kalangan industri.

BATUAN PIROKLASTIK (BATUAN UNIK)

Selain batuan metamorf, sedimen dan batuan beku terdapat satu

lagi jenis batuan yang sangat unik yaitu batuan piroklastik, Kenapa

disebut batuan yang unik ?. Hal ini dikarenakan secara genetis,


kelompok batuan ini lebih dekat dengan batuan ekstrusif, tetapi secara

deskriptif dan cara terjadinya memperlihatkan ciri (struktur dan

tekstur) yang mirip dengan kelompok batuan sedimen klastik.

Kelompok batuan ini di definisikan sebagai batuan yang dihasilkan

(secara langsung) oleh aktifitas erupsi secara eksplosif dari gunung

api. Karena mempunyai sifat yang unik, maka terminologi yang

digunakan untuk pemerian batuan ini juga khusus.

Batuan piroklastik sangat berbeda teksturnya dengan batuan


beku, apabila batuan beku adalah hasil pembekuan langsung dari

magma atau lava, jadi dari fase cair ke fase padat dengan hasil akhir

terdiri dari kumpulan kristal, gelas ataupun campuran dari kedua-

duanya. Sedangkan batuan piroklastik terdiri dari himpunan material

lepas-lepas (dan mungkin menyatu kembali) dari bahan-bahan yang

dikeluarkan oleh aktifitas gunung api, yang berupa material padat

berbagai ukuran (dari halus sampai sangat kasar, bahkan dapat

mencapai ukuran bongkah). Oleh karena itu klasifikasinya didasarkan

atas ukuran butir maupun jenis butirannya.

Pengamatan petrografi dari batuan piroklastik ini sangat

terbatas, oleh karena itu sangat di anjurkan, untuk mempelajari

dengan baik dari kelompok batuan piroklastik ini harus dilakukan

pengamatan di lapangan, karena keterbatasan yang dimiliki bila hanya

dilakukan pengamatan mikroskopi saja. ( Yuwono, 2002)

Contoh dari batuan piroklastik yaitu :

Tuff, Pumis, dan Obsidian


MEKANIKA BATUAN

Laboratorium memfokuskan pada analisa respon batuan


terhadap medan gaya oleh suatu medium dari lingkungan fisika nya,
untuk pemahaman terhadap ilmu mekanika batuan harus didahului
dengan pemahaman tentang mekanika itu sendiri, yaitu ilmu mekanika
translasi, rotasi, statika maupun dinamika gaya-gaya terhadap sebuah
benda padat.Selanjutnya dua keadaan dimana sebuah benda tidak
akan bergerak secara tranlasi maupun rotasi adalah bahwa nilai
perubahan kecepatan linier dan angular benda terhadap waktu harus
sama dengan nol. Hal ini akan cukup menjamin terwujudnya keadaan
dimana besar resultan gaya-gaya tersebut sama dengan nol. Keadaan
demikian dikatakan bahwa benda dalam keadaan kondisi
keseimbangan statik, keadaan inilah yang merupakan kerangka umum
atau dasar dalam kajian mekanika batuan.

Adapun respon dari gaya tersebut dalam bentuk deformasi atau


strain ( yaitu perbandingan antara deformasi dengan dimensi awal ),
sedangkan medium yang dimaksud bisa berupa medium elastik
maupun non elastik, akan tetapi pada umumnya analisa yang
dilakukan lebih banyak untuk jenis batuan sedimen seperti batu pasir
atau batuan gamping yang bersifat elastik, dengan demikian analisa
yang dilakukan lebih mengutamakan pada kasus deformasi elastik
saja, karena untuk banyak hal data mengenai deformasi elastik inilah
yang banyak dibutuhkan oleh berbagai kegiatan.

Berdasarkan kepada hasil deformasi yang dilakukan dengan uji


kompresi dan frekwensi maka dapat digolongkan menjadi dua macam
hasil pengujian yaitu : pengujian statis dimana deformasi yang terjadi
sangat kecil dan frekwensi nya sangat tinggi sedangkan untuk
pengujian dinamis deformasi yang terjadi mencapai maksimum atau
dalam arti sampai mencapai kekuatan maksimum dari batuan yang
diujinya tetapi frekwensi nya nol. Dari hasil pengujian berdasarkan
pada uji kompresi maupun frekwensi maka di laboratorium mekanika
batuan dapat melakukan pengujian :

UCS ( Uniaxial Compressive Strength) yaitu suatu aktifitas yang


dilakukan untuk menguji kekuatan batuan dengan pembebanan
sampai batas kekuatan maksimal dari batuannya itu sendiri.
CPV( Compressibilitas Pore Volume) yaitu suatu aktifitas yang
dilakukan untuk menguji perubahan fraksi pore volume dengan adanya
perubahan satuan tekanan.
Acoustic Velocity yaitu suatu aktifitas yang dilakukan untuk menguji
kecepatan suatu gelombang yang dilewatkan kedalam batuan
sehingga dengan diketahui panjang dari batuan nya itu sendiri akan di
peroleh waktu tempuh penjalaran gelombang. Adapun kece patan
gelombang yang diperoleh yaitu kecepatan gelombang primer ( Vp )
dan kecepatan gelombang sekunder ( Vs ).
Dalam pengertian secara fisik sifat-sifat elastik dari suatu batuan
menghasilkan parameter- parameter sendiri dan memiliki arti sendi-
sendiri dan parameter-parameter.

Aplikasi mekanika batuan di dalam perminyakan antara lain:

• Di bidang pemboran bisa untuk melakukan uji kestabilan


lubang bor.
• Di bidang produksi bisa untuk melakukan uji butiran pasir
yang ikut terproduksi; untuk melakukan uji pemecahan batuan dengan
tekanan hidraulic.
• Di bidang reservoir bisa untuk menganalisa indikasi yang
berkaitan dengan porositas dan saturasi fluida yang ada didalamnya.

Laboratorium ini dilengkapi dengan peralatan-peralatan mutahir


seperti

• Triaxial Compressive Strength Tester


• Pore Volume Compressibility Tester
• Acoustic Velocity

dan peralatan lainnya untuk mengukur parameter batuan.


NASA BERENCANA ANGKUT BATUAN MARS

18/05/2010 21:54
Liputan6.com, California: Dalam misi mencari tanda kehidupan lain
di luar angkasa, Badan Antariksa Amerika Serikat atau NASA
berencana membawa bebatuan dan sampel tanah dari Planet Mars
yang dikirimkan ke bumi. Demikian dikatakan juru bicara NASA di
California, Selasa (18/5).

Juru bicara menambahkan bebatuan dan sampel tanah Mars akan


dianalisa guna mencari jejak fosil bakteri asing ataupun petunjuk
adanya unsur kimia maupun biologis sehingga mampu menjabarkan
kehidupan di sana. Namun, karena dampak krisis ekonomi, NASA akan
menggandeng Badan Antariksa Eropa guna bekerja sama dalam
proyek penelitian yang diperkirakan memakan biaya sebanyak US$ 10
miliar atau sekitar Rp 90 triliun.

Selama beberapa dekade terakhir, NASA meneliti beberapa unsur air


yang ditemukan di bebatuan lapuk, deposit mineral serta dataran
Arktik. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi tanda-tanda
kehidupan makhluk asing di luar angkasa.(ADI/ANS/AP)

PERGERAKAN MASSA BATUAN

Pergerakan massa batuan ataupun tanah terjadi ketika kekuatan


yang mendorong ke bawah di lereng lebih besar dibandingkan dengan
kekuatan yang menahannya. Dua faktor yang berpengaruh dan
menentukan apakah massa batuan atau tanah ini tetap diam atau
bergerak adalah gravitasi dan friksi. Gravitasi mendorong untuk
bergerak sedangkan friksi menahan untuk tidak bergerak.

Beberapa proses alami serta proses buatan dalam menyebabkan


kondisi lereng menjadi curam yang mengakibatkan massa batuan atau
tanah lebih mudah untuk bergerak. Proses alami itu adalah proses
patahan, proses lipatan, erosi tebing sungai dan erosi pantai.
Penambangan, pemotongan lereng untuk pembuatan jalan dan
penimbunan sampah misalnya, termasuk proses akibat aktivitas
manusia yang menyebabkan lereng menjadi curam dan tidak stabil.

BATUAN SEBAGAI BAHAN INDUK TANAH

Batuan adalah material alam yang tersusun atas kumpulan (agregat)


mineral baik yang terkonsolidasi maupun yang tidak terkonsolidasi
yang merupakan penyusun utama kerak bumi serta terbentuk sebagai
hasil proses alam. Batuan bisa mengandung satu atau beberapa
mineral. Sebagai contoh ada yang disebut sebagai monomineral rocks
(batuan yang hanya mengandung satu jenis mineral), misalnya
marmer, yang hanya mengandung kalsit dalam bentuk granular,
kuarsit, yang hanya mengandung mineral kuarsa. Di samping itu di
alam ini paling banyak dijumpai batuan yang disebut polymineral rocks
(batuan yang mengandung lebih dari satu jenis mineral), seperti granit
atau monzonit kuarsa yang mengandung mineral kuarsa, feldspar, dan
biotit.

Atas dasar cara terbentuknya, batuan dapat dibedakan menjadi 3


kelompok,yaitu:

1. batuan beku : sebagai hasil proses pembekuan atau kristalisasi


magma
2. batuan sedimen : sebagai hasil proses sedimentasi
3. batuan metamorf : sebagai hasil proses metamorfisme

BATUAN DARI LANGIT

PADA suatu ketika di 1953 warga Pendrikan, Semarang, Jawa


Tengah, dikejutkan keberadaan 'sumur tiban', yakni sumur yang tiba-
tiba saja muncul setelah malam sebelumnya terjadi kilasan cahaya
bersuara di langit Semarang. Pada waktu itu penulis hanya tertarik
akan keberadaan batuan kecil, seperti kaca berkilat, yang ditemukan
penduduk setempat. Desau dan bisik berkembang ke arah mana pun
kecuali ke arah pengetahuan. Beberapa tahun kemudian ketika penulis
mulai mempelajari ilmu astronomi dasar teringat lagi kepada peristiwa
tersebut. Dengan bingkai pengetahuan barunya kejadian 1953 itu
rupanya dapat didudukkan dalam bingkai pengejawantahan yang lebih
sempit, yakni adanya meteor jatuh dan kebetulan mengenai akuifer
dangkal sehingga menimbulkan pancaran air. Peristiwa yang sama
terjadi pada 1970-an tatkala alm Santosa Nitisastro, pada waktu itu
menjadi Kepala Planetarium DKI, memimpin ekspedisi ke Pasuruan,
Jawa Timur, untuk mencari meteorit yang dikabarkan menimpa
tersebut, setelah ada ledakan udara yang berkilat. Perolehan yang
beliau dapat meyakinkan bahwa meteor telah merambah langit malam
di atas Pasuruan sehingga menimbulkan sensasi cerita mulai dari
kabar dewata sampai kepada serangan tersembunyi.

Beberapa hari yang lalu kejadian serupa berlangsung di Jakarta dan


baik pihak Lapan maupun kepolisian telah menerangkan sumber
batuan yang menimpa rumah penduduk. Kita masih menunggu hasil
analisis komposisi kimiawi jenis meteor apa yang menimpa wilayah
tersebut. Dari bentuk luarnya, hitam berkilat hasil sentuhan efek
aerodinamik memperlihatkan batuan tersebut adalah meteorit--yakni
sisa meteor--pengembara dalam tata surya kita, yang kebetulan
menyilang perjalanan Bumi, menyentuhnya dan, karena gaya tarik
Bumi, memasuki angkasa Bumi. Kecepatan 25 kilometer tiap detiknya
membuat badan meteor itu panas dan gas yang terkungkung pada
kulit meteor tereksitasi menimbulkan cahaya.

Sebelum lanjut ada baiknya untuk meluruskan terminologi baku


mengenai batuan yang jatuh dari langit itu. Meteoroid adalah objek
pengembara yang beredar mengedar mengelilingi Matahari, baik yang
berujud batuan, debu berbalut es, ataupun segumpal es, dalam
lintasannya yang oblong (berbentuk elips lonjong). Objek tersebut
dalam perjalanannya kadang kala berdekatan atau menyilang
perjalanan Bumi. Dalam keadaan kritis seperti ini objek tersebut tidak
bisa lain kecuali menuruti kehendak gaya tarik Bumi, memasuki
angkasanya, dan menjadi panas. Itu bisa dimengerti karena kecepatan
dalam luar hampa di luar Bumi bisa mencapai 15-50 kilometer tiap
sekon. Dengan tiba-tiba dia harus tergosok oleh lapisan angkasa Bumi
pada ketinggian 100-200 kilometer di atas sana. Kerapatan angkasa
Bumi, beberapa ribu kali lebih mampat daripada ruang hampa di
sekitarnya, bertindak sebagai pengerem dan mengubah energi kinetik
pendatang menjadi panas. Panas yang belum seberapa itu cukup
untuk membuat segumpal gas (bagaimanapun kecilnya), selongsong
es, dan materi yang peka pemanasan menyemburkan energi dalam
bentuk cahaya. Keadaan seperti itulah yang kita sebut meteor yang
kilasan cahaya menyentakkan kita dari kekaguman melihat
ketenangan malam berbintang.

Dalam literatur Jawa (dan Nusantara) meteor memperoleh julukan


kolektif bintang alihan (bintang berpindah atau bintang jatuh). Kilatan
meteor hanya berlangsung beberapa detik saja--karena debu dan
batuan kecil, beberapa miligram, musnah teruapkan atau terbakar
pada langit tinggi sebelum sempat mencapai permukaan Bumi. Hanya
sebagian batuan, kerikil, atau debu berdimensi agak besar dan
berbobot mencapai ordo berat beberapa gram atau lebih, dan
berdimensi beberapa sentimeter sampai ukuran meter, mampu
mencapai permukaan Bumi--itulah yang secara teknis diberi nama
meteorit. Keberadaannya di Bumi sampai sebelum penjelajahan
antariksa berawak atau tak berawak merupakan percontohan autentik
kimiawi benda luar Bumi. Kita belum membicarakan asal usul mereka,
tetapi untuk keperluan klasifikasi didapati tiga golongan besar
meteorit. Meteorit jenis aerolit-silikat (tak ubahnya seperti karang yang
ditemui di Bumi), meteorit jenis siderit, metalik, dan jenis tektit,
terutama mengandung nikel dan besi. Ketiganya mempunyai dimensi
yang terentang dari ordo kerikil kecil sampai ukuran gajah bengkak,
bahkan beberapa bisa lebih besar. Karakter umumnya adalah
permukaan mengilat akibat gosokan aerodinamik, tetapi asal usul dari
tempat yang bersuhu tinggi dan bertekanan besar.

Itu menunjuk kepada muasal mereka materi adi, jladren (Jawa) tata
surya, yang karena suatu sebab tidak dapat menyatu dengan anggota
tata surya yang mapan (yakni planet dan satelit) atau menjadikan diri
kompak, luruh akibat pemanasan semburan radiasi ultraviolet Matahari
yang ganas dan kemudian karena proses pendinginan. Keberadaan
unsur silikon, besi, nikel, dan sulfur dalam meteorit menunjuk kepada
sentuhan masa lampau jladren tata surya yang diperkaya hasil ledakan
bintang panas para generasi Matahari. Evolusi bintang besar dan
panas mampu menghasilkan elemen lebih berat dari helium dan pada
masa ketidakseimbangan dinamik bintang itu elemen hasil reaksi
nuklir terlempar keluar memperkaya materi antarbintang (termasuk
materi asal, jladren, tata surya kita). Meteorit metalik yang jatuh dapat
memberi hikmat tidak hanya dia memberi tahu sejarah tata surya di
masa lalu, tetapi juga pada seni dan budaya. Mereka yang meminati
sejarah mengetahui keampuhan dan keelokan keris ciptaan para empu
agung di masa lalu terletak pada pamornya. Pamor itu diperoleh dari
acuan material meteorit yang terpoles atau teraduk pada keris,
menyebabkan kekuatan fisik (tentu saja dipercaya sebagai kekuatan
spiritual yang terpancar darinya). Yang menarik untuk dipelajari ialah
bagaimana empu kita di masa lalu meluluhkan elemen meteorit ke
dalam acuannya. Tanur bersuhu tinggi diperlukan agar terjadi
pencampuran yang sempurna.

Berbeda dengan kedua macam meteorit lainnya, tektit tidak banyak


ditemui di permukaan Bumi—-bahkan dapat dikatakan terkandung ke
dalam wilayah yang tidak luas. Tektit diduga berasal semburan
Gunung Tycho di permukaan bulan 4-5 miliar tahun yang lalu ketika
ada meteorit raksasa menimpa bulan. Semburan itu menghasilkan
aliran debu (tektit) yang terlempar menuruti lintasan tertentu dan
yang kebetulan mengarah ke Bumi. Pada 1970-an seorang astronom
John O'Keefe melancarkan teori bahwa tektit yang terkumpul banyak di
Kepulauan Bangka-Belitung, Indonesia, adalah sebagian dari hasil
semburan Tycho. Arah kedatangan tektit di Bangka (sebelum diaduk-
aduk) menunjukkan asal titik yang konvergen. Almarhum Prof Sartono
(geolog ITB) pernah mengatakan kepada penulis bahwa kerapatan
tektit di Bangka Belitung memang tinggi dan tidak ditemui di wilayah
vulkanik lain di Indonesia. Oleh karena itu, boleh jadi teori O'Keefe
benar dan apakah kebenaran itu dapat kita manfaatkan untuk
penyelenggaraan hidup di abad 21 ini?

Adakah kaitan antara asteroid, komet, dan meteoroid? Ketiga anggota


tata surya ini merupakan kawanan yang dapat dikatakan terbuang dari
'kumpulannya'-—dalam arti garis edarnya tidak sepola, sestabil,
dengan garis edar planet dan satelit yang kukuh dan mapan. Dari
lintasan meteoroid dapat diindra bahwa sebagian bertautan dengan
lintasan menyimpang kelompok asteroid. Asteroid adalah batuan kecil
atau kerikil besar—diduga berjumlah 100.000 buah, tetapi yang
terdaftar lintasannya dengan kecermatan tinggi baru
8.000—menghuni wilayah luas di antara lintasan Planet Mars dan
Planet Jupiter. Anggota asteroid yang terbesar diberi nama Ceres,
ditemui secara kebetulan oleh astronom Piazi (1801) ketika
mempelajari bintang lemah cahaya. Dia melihat ada objek berpindah
cepat di antara bintang—dan dengan itu dapat diketahui bahwa
Ceres terletak hanya 2,8 kali lebih jauh daripada jarak Matahari-Bumi.
Garis tengah Ceres kurang dari 20 kilometer. Asteroid menggerombol,
berduyun bagai kawanan lebah mengitari matahari dan sesekali
menyenggol kawanannya untuk keluar dari lingkungannya.
Sekumpulan yang tersenggol (oleh gaya gravitasi) lalu menempuh
hidup barunya mengikuti lintasan baru yang mengarah ke Matahari.
Dalam perjalanannya seperti itulah ada yang menyilang lintasan Bumi.
Sebelum masuk ke pengaruh gravitasi Bumi mereka memperoleh
julukan meteoroid (seperti sudah diterangkan). Ukuran beragam
asteroid ada yang besar, ordo beberapa kilometer, tetapi juga ada
yang kecil.

Kadang kala Bumi harus menerima mereka yang perjalanannya


tersesat ke arah Bumi. Pada 6 Oktober 2008 buat pertama kali
perjalanan asteroid yang tersasar dapat diikuti dengan teleskop dan
lintasannya (ditentukan dengan bantuan komputer cepat) dapat
dicermati sebelum asteroid itu menyentuh tanah. Setidaknya 26
observatorium di Amerika, Eropa, dan Afrika serta lembaga yang
bertautan padu mengikuti dan memperbaiki elemen lintasan. Pada
mulanya asteroid itu (nomor klasifikasi 2008 TC3) diamati Kowalski,
seorang astronom di Bukit Lemont, Arizona, AS, menjelang fajar ketika
dia akan pulang dari pengamatan. Tampak oleh sebuah titik menyala
pada layar komputernya. Segera dia tahu bahwa ada benda aneh dan
dengan cepat (beberapa menit kemudian) dia dapat memastikan
lintasan benda aneh tersebut. Tidak kalah pentingnya ialah sarana
komunikasi yang dalam beberapa saat saja dia berhasil
membangunkan minat banyak pengamat dan memberitahunya bahwa
benda aneh itu pasti dalam perjalanannya menuju Bumi. Lembaga
yang bersangkutan di seantero Amerika dan Eropa (yang sudah siang)
segera diberi tahu. Dengan kecepatan tinggi dapat segera diketahui
bahwa dalam 13 jam mendatang Bumi akan kedatangan sebuah
asteroid (dengan identitas 2008TC3). Jadi, 13 jam sebelum asteroid
menyentuh permukaan Bumi secara dramatik puluhan pengamat, buat
pertama kali, mempersiapkan diri menanti kedatangan asteroid. Iterasi
dan umpan balik pada akhirnya, 10 jam sebelum count down dapat
dipastikan bahwa pendaratan asteroid akan terjadi di wilayah pasir tak
bertuan (dekat perbatasan Sudan Mesir), jauh dari apa pun juga, pada
pukul 02.45.28 dengan kecermatan 15 sekon. NASA mengumumkan
sebelum mendarat akan diperoleh pertunjukan cahaya saat terakhir
asteroid menggesek angakasa Bumi. Karena ekspedisi ke tempat
terpencil itu tak mungkin dilakukan dalam tempo 10 jam, pihak Jet
Propulsion Laboratory minta bantuan semua pesawat terbang yang
akan melintasinya tidak hanya hati=hati, tetapi juga melihat gejala
warna-warni akhir kehidupan asteroid. Dari kokpit pesawat KLM, pilot
de Poorte yang menerbangi trayek Johanesburg ke Amsterdam
mengamati peristiwa tersebut 45 menit sebelum kejadian pada jarak
1.400 kilometer. Semua lampu dia perintahkan untuk diredupkan. Dari
pesawat itu dilaporkan 2008TC3 menyentuh angkasa Bumi dengan
kecepatan 124.000 kilometer tiap sekon (yang ternyata merupakan
rerata dari banyak kejadian meteoroid). Tumbukan dengan angkasa
memanaskan dan menguapkan selubung batuan, menceraikan
material permukaan dari badan asteroid. Tumbukan dengan Bumi
berlangsung. Lebih dramatik lagi adalah hasil pengamatan mata
elektronik satelit pengindra milik AS yang mencatat lemparan ledakan
sebesar 2 kiloton TNT (kira-kira sepersepuluh pancaran energi bom
atom di Hiroshima). Baru pertama kali itulah kedatangan asteroid
diikuti dengan saksama melalui kerja sama antarnegara. Ledakan yang
timbul memang besar, tetapi tidak ada korban manusia karena jatuh di
wilayah antah berantah. Penulis tidak dapat membayangkan jika
asteroid dengan daya ledak 1/10 daya letak bom atom Hiroshima jatuh
di Jakarta.

Di zaman prasejarah asteroid besar memang pernah menimpa Teluk


Meksiko. Peristiwa 65 juta tahun yang lalu itu baru diketahui pada
abad ke 20, ketika didapati lapisan iridium yang tersebar di Teluk
Yucatan sampai meliput wilayah 180 kilometer. Debu yang terkepul ke
angkasa kuno Meksiko mengambang beberapa tahun di angkasa Bumi
yang masih tunapenduduk (karena saat itu nenek moyang kita baru
belajar berjalan tegak). Namun, dampaknya terasa bagi dinosaurus
yang berdarah dingin—-dia tidak bisa bertahan hidup karena
kekurangan cahaya Matahari yang terhadang oleh lapisan tebal debu
dan kerikil dampak letusan itu. Peristiwa itu merambah, bermetastase,
dengan punahnya dinosaurus, tetapi mendorong kelahiran mamalia
yang kini merasa aman, menguasai Bumi tanpa takut kepada dino.

Oleh Bambang Hidayat Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

BATUAN BULAN

ANTARIKSA

Saat ini, sumber pasokan hanyalah dari


meteorit-meteorit Bulan yang langka, tanah
yang dibawa roket-roket penyelidik Soviet,
dan 382 kilogram puing yang dibawa para
astronot Apollo kurun 1969-1972. NASA menyimpan sebagian besar
dari 1.500-an batuan Bulan di Houston, meminjamkan 400 sampel
setiap tahun untuk penelitian dan pameran.

Presiden Nixon dan Ford memberikan cindera mata keping batuan


Bulan sebesar kacang polong kepada 134 negara, 50 negara bagian,
dan Puerto Rico. Bagi warga yang berminat, lelang adalah pilihan legal
—jika yang dilelang bukan milik pemerintah AS.

Di Balai Lelang Sothesby pada 1993, sebuah sampel dari Soviet


mencapai harga sekitar 442,5 juta rupiah. Di e-Bay, sebuah potongan
meteorit dapat mencapai 400 ribu sampai satu miliar rupiah
tergantung ukuran, kualitas, dan keasliannya.

Juga ada pasar gelap. Menurut penyelidik NASA Joseph Gutheinz,


batuan dari roket Apollo dikira telah hilang muncul kembali dengan
harga sekitar lima miliar rupiah. ”Batuan ini semakin bernilai seiring
bertambahnya waktu.”

__________
Sepotong batu Bulan yang beratnya 133 gram di kantor pusat National
Geographic merupakan pinjaman dari NASA.

BATUAN METAMORFOSIS
Batu ini merupakan batuan metamorfosis yang ditemukan di
bagian hulu dari daerah tangkapan air waduk Sempor, Kabupaten
Kebumen. Hal ini bisa menandakan bahwa pada jaman dahulu, daerah
ini merupakan gunungapi purba atau mempunyai sumber panas bumi
yang dangkal. Padahal berdasarkan peta geologi, daerah ini berupa
batuan napalt atau yang biasanya merupakan batuan bawah laut.

Mungkin saja ketika daerah ini berada di bawah laut, dekat


dengan panas bumi yan kemudian mengalami pengangkatan. Namun
teori atau dugaan lain bisa berupa gunungapi purba yang dpaat dilihat
dari kenampakan bentang lahan dari hasil citra satelit.

PESONA BATU-BATUAN BERUSIA JUTAAN TAHUN

SEMPAT ‘ditampar' Krismon 1998 tidak membuat Asep Suhendra


beralih dari usaha kerajinan batu alam yang ditekuninya sejak tahun
90-an. Walhasil, berkat ketekunan dan keuletannya Asep berhasil
bertahan bahkan telah melakukan ekspor ke berbagai Negara.
"Sempat oleng ketika dihantam krismon, maklum kita menggunakan
produk impor seperti amplas dan gergaji. Amplasnya dari Jepang,
produk local belum ada," ungkap Asep.
Tekad Asep untuk tetap menekuni usaha kerajinan batu alam
tersebut bukan sekadar bisnis semata, namun ada alasan lain di balik
itu yakni mempertahankan kebanggaan keluarga. Usaha ini memang
telah turun temurun ditekuni keluarga Asep yang tinggal di Sukabumi,
Jawa Barat. Ayahnya sendiri memulai itu dari tahun 1950-an kemudian
diteruskan Asep dan saudara-saudaranya. Sedang Asep sendiri
‘resminya' memegang usaha tersebut tahun 1990. "Makanya saya
berjuang agar bisa eksis. Meski sempat jatuh, saya berusaha bangun
lagi. Modalnya adalah kesabaran dan ketekunan, alhamdullilah saya
bisa eksis lagi," lanjutnya.

Menurut Asep peluang berkembangnya kerajinan batu-batu


alam, masih terbuka lebar. Bahkan prospek ekspor sangat baik karena
penyuka kerajinan ini kebanyakan justru dari luar seperi Eropa,
Amerika, bahkan belakangan Asia dan Timur Tengah ikut
memburunya. Sayangnya ‘pemain' pribumi di bidang ini tidak terlalu
banyak. Sebaliknya, peluang ini ditangkap oleh orang-orang asing,
namun mereka terbentur dengan izin usaha.

"Untuk mendapatkan izin berusaha di sini (Indonesia) mereka


mengambil cara menikahi wanita pribumi. Ini memang salah satu
tantangan bagi pengusaha pribumi. Umumnya mereka dating dengan
modal besar, peralatan lengkap. Sedang pengusaha pribumi bisanya
terbentur dalam hal permodalan dan peralatan," papar Asep panjang
lebar. "Kebanyakan dari Korea dan Thailand. Di Tangerang Jawa Barat
saja, ada sekitar 20 pengusaha asing berbisnis di bidang ini,"
tambahnya.

Meski demikian, Asep mengaku tidak takut. Meski pengusaha


pribumi modalnya tidak sebesar asing, namun tetap saja dalam
kreativitas ada keunggulan tersendiri. Batu-batu alam itu bisa dibentuk
menjadi macam-macam kebutuhan, dari souvenir, perlengkapan
rumah tangga hingga meubel.

Selain model, daya tarik batu alam adalah batu itu sendiri yang
telah digosok sedemikian rupa sehingga memunculkan warna asli batu
tersebut. Warna-warna alamiah dari batu yang berusia jutaan tahun
itulah yang konon amat disukai oleh wisatawan Eropa, khususnya.
Namun belakangan wisatawan Asia bahan Timur Tengah pun mulai
memburunya. "Belakangan saya mendapat langganan ekspor ke
Taiwan, Jepang dan Arab Saudi. Buat saya ini pertanda baik dibanding
tahun 2007 lalu yang agak lesu," katanya.

Material kerajinan batu alam macam-macam, di antaranya fosil


kayu, jaster, kristal, giok, dll. Umur batu-batuan ini jutaan tahun yang
kemudian digosok untuk memunculkan aneka warna. Karenanya meski
kita melihat kerajinan batu-batu alam ini beraneka warna, itu bukan
karena cat melainkan memang warna alami batu. "Untuk
menggosoknya kami gunakan diamond dari Jepang, produk local
belum ada. Hasilnya benar-benar bagus, batu menjadi halus dan warna
alaminya muncul terang," kata Asep yang mempekerjakan 20 orang
perajin tetap.

Ditipu Buyer Asing

Sebagai pengusaha yang sudah belasan tahun bergelut di bidang


ini, tentunya sudah memiliki pengepul sendiri yang memasok batu-
batuan tersebut. Umumnya kata Asep, batu-batuan juga kayu fosil
didapat dari pegunungan sekitar Lebak, Banten, Jawa Barat, Garut
selatan, Tasikmalaya selatan, Jambi, Lampung bahkan hingga
Kalimantan. Sejauh ini kata Asep, dirinya tak pernah kesulitan dalam
pengadaan material. "Tapi sekarang yang sedang ‘in' alias popular
adalah batu bacan dari Ambon. Harganya sekitar Rp 10 juta perkg.
Karena harganya yang relative mahal, ya, pembelinya hanya orang
tertentu saja. Umumnya konsumen membeli fosil kayu, selain harga
terjangkau juga unik. Perkg paling mahal Rp 60.000, paling murah Rp
5000 tergantung mutu fosil kayunya," jelasnya seraya menambahkan,
hitungan perkg itu bila konsumen membeli dalam partai besar minimal
20 ton.

Seperti umumnya pengusaha, maka Asep pun memiliki


segudang kisah suka-duka dalam menggeluti usahanya. Salah satu
yang tak dilupakannya adalah tertipu buyer asing. Ketika itu si buyer
asing memesan dua container, namun hanya membayar satu
container dengan alasan pengiriman satu container tidak diterimanya,
alias salah alamat. "Wah,..mana mungkin? Dua container itu dikirim
dengan alamat yang sama, masak satu nyampe, yang lain tidak.
Nilainya sekitar Rp 110 juta. Tapi ya sudah, meski rugi tapi saya tidak
perpanjang lagi masalah itu. Kejadian itu merupakan pelajaran untuk
lebih berhati-hati dalam bertransaksi dengan buyer asing," ungkapnya.

Lalu bagaimana dengan pembeli dari Indonesia? Menurut Asep,


tidak banyak hanya orang-orang tertentu yang umumnya penyuka seni
saja yang tertarik membeli kerajinan batu alam. Selain itu, juga
tergantung kondisi ekonomi Indonesia. "Menjual kerajinan batu, kan,
tidak sama seperti berdagang sembako. Makanya hasilnya pun tak
bisa rutin. Jadi menggeluti bisnis ini perlu kesabaran dan ketalenan,"
katanya.

Melihat respon pasar di luar lebih baik, Asep berencana


mengikuti pameran kerajinan di luar negeri. Persiapan sudah dimulai,
termasuk membuat aneka kreasi dari batu alam. ***tokoh