Anda di halaman 1dari 3

Kromatografi Lapis Tipis

Oleh: Sohibul Himam Haqiqi


2008

Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi campuran


menjadi komponen-komponennya. Seluruh bentuk kromatografi berkerja
berdasarkan prinsip ini.
Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran berdasarkan
perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu.
Pada kromatografi, komponen-komponennya akan dipisahkan antara dua
buah fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam akan menahan
komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat
komponen campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam
akan tertinggal. Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase
gerak akan bergerak lebih cepat.
Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan,
atau kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas).
Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-
komponen yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang
berbeda bergerak pada laju yang berbeda
Proses kromatografi juga digunakan dalam metode pemisahan
komponen gula dari komponen non gula dan abu dalam tetes menjadi
fraksi-fraksi terpisah yang diakibatkan oleh perbedaan adsorpsi, difusi dan
eksklusi komponen gula dan non gula tersebut terhadap adsorbent dan
eluent yang digunakan (Hongisto dan Heikkila, 1977; Kantasubrata, 1993;
Schneider, 1987).

FASE DIAM

Pelaksaanan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis


tipis silika atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau
logam atau plastik yang keras.
Jel silika (atau alumina) merupakan fase diam. Fase diam untuk
kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang mana
dapat berpendar flour dalam sinar ultra violet.Fase gerak merupakan
pelarut atau campuran pelarut yang sesuai.
Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah alumina-aluminium
oksida. Atom aluminium pada permukaan juga memiliki gugus -OH. Apa
yang kita sebutkan tentang jel silika kemudian digunakan serupa untuk
alumina.

FASE GERAK

Dalam kromatografi, eluent adalah fasa gerak yang berperan


penting pada proses elusi bagi larutan umpan (feed) untuk melewati fasa
diam (adsorbent). Interaksi antara adsorbent dengan eluent sangat

1
menentukan terjadinya pemisahan komponen. Oleh sebab itu pemisahan
komponen gula dalam tetes secara kromatografi dipengaruhi oleh laju alir
eluent dan jumlah umpan.
Eluent dapat digolongkan menurut ukuran kekuatan teradsorpsinya
pelarut atau campuran pelarut tersebut pada adsorben dan dalam hal ini
yang banyak digunakan adalah jenis adsorben alumina atau sebuah lapis
tipis silika. Penggolongan ini dikenal sebagai deret eluotropik pelarut.
Suatu pelarut yang bersifat larutan relatif polar, dapat mengusir pelarut
yang relatif tak polar dari ikatannya dengan alumina (jel silika).
(Kantasubrata, 1993).

Kecepatan gerak senyawa-senyawa ke atas pada lempengan itu


tergantung pada:
Bagaimana kelarutan senyawa dalam pelarut. Hal ini bergantung
pada bagaimana besar atraksi antara molekul-molekul senyawa
dengan pelarut.
Bagaimana senyawa melekat pada fase diam, misalnya jel silika.
Hal ini tergantung pada bagaimana besar atraksi antara senyawa
dengan jel silika.

Anggaplah bercak awal pada alumina mengandung dua senyawa,


yang satu dapat membentuk ikatan hidrogen, dan yang lainnya hanya
dapat mengambil tiap-tiap bagian interaksi van der Waals yang lemah.
Senyawa yang dapat membentuk ikatan hidrogen akan melekat
pada jel silika lebih kuat dibanding senyawa lainnya. Kita mengatakan
bahwa senyawa ini terjerap lebih kuat dari senyawa yang lainnya.
Penjerapan merupakan pembentukan suatu ikatan dari satu substansi
pada permukaan.
Penjerapan bersifat tidak permanen, terdapat pergerakan yang
tetap dari molekul antara yang terjerap pada permukaan jel silika dan
yang kembali pada larutan dalam pelarut.
Dengan jelas senyawa hanya dapat bergerak ke atas pada
lempengan selama waktu terlarut dalam pelarut. Ketika senyawa dijerap
pada jel silika-untuk sementara waktu proses penjerapan berhenti-dimana
pelarut bergerak tanpa senyawa. Itu berarti bahwa semakin kuat senyawa
dijerap, semakin kurang jarak yang ditempuh ke atas lempengan.
Dalam contoh yang sudah kita bahas, senyawa yang dapat
membentuk ikatan hidrogen akan menjerap lebih kuat daripada yang
tergantung hanya pada interaksi van der Waals, dan karenanya bergerak
lebih jauh pada lempengan.

Bagaimana jika komponen-komponen dalam campuran dapat


membentuk ikatan-ikatan hidrogen?

Terdapat perbedaan bahwa ikatan hidrogen pada tingkatan yang


sama dan dapat larut dalam pelarut pada tingkatan yang sama pula. Ini
tidak hanya merupakan atraksi antara senyawa dengan jel silika. Atraksi
antara senyawa dan pelarut juga merupakan hal yang penting-hal ini akan

2
mempengaruhi bagaimana mudahnya senyawa ditarik pada larutan keluar
dari permukaan silika.
Bagaimanapun, hal ini memungkinkan senyawa-senyawa tidak
terpisahkan dengan baik ketika anda membuat kromatogram. Dalam
kasus itu, perubahan pelarut dapat membantu dengan baik-termasuk
memungkinkan perubahan pH pelarut.

Daftar Pustaka

Anonymus. Kromatografi Lapis Tipis. http://www.chem-is-


try.org/?sect=belajar
Kurniawan, Yahya. Pengaruh Jumlah Umpan Dan Laju Alir Eluen
Pada Pemisahan Sukrosa Dari Tetes Tebu Secara Kromatografi.
http://www.unej.ac.id/fakultas/mipa/jid/vol5no1/yahya.pdf
Anonymus. Kromatografi. http://id.wikipedia.com/ Kromatograf.htm
Kantasubrata, Julia. Warta Kimia Analitik Edisi Juli 1993. Situs
Web Resmi Pusat Penelitian Kimia LIPI